Minggu, 11 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Dorong Konservasi Inklusif Lewat Pelatihan Urban Farming di Perguruan Tinggi

Surabaya, 23 April 2025. Sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi konservasi yang inklusif dan adaptif, Balai Besar KSDA Jawa Timur kembali hadir menjangkau generasi muda melalui kegiatan Pendampingan Pelatihan Urban Farming di lingkungan akademik. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 23 April 2025, di FISIP Universitas Bhayangkara (UBHARA) Surabaya, dalam rangka memperingati Hari Bumi 2025. Bekerja sama dengan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korda Jawa Timur dan FISIP UBHARA, BBKSDA Jatim memberikan penguatan materi tentang konservasi keanekaragaman hayati berbasis masyarakat sebagai bagian dari pendekatan pelestarian yang bersifat kolaboratif dan aplikatif. “Pendekatan konservasi tidak bisa lagi eksklusif. Kita harus hadir di ruang-ruang sosial, termasuk kampus, dengan bahasa yang membumi dan cara yang relevan bagi generasi muda,” ungkap Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda BBKSDA Jatim yang bertindak sebagai narasumber sekaligus pendamping dalam pelatihan tersebut. Pelatihan yang diikuti oleh 15 mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi ini mengangkat tema pertanian kota (urban farming) sebagai bentuk kemandirian pangan sekaligus aksi konkret konservasi ekosistem mikro di wilayah perkotaan. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan konsep urban farming, strategi kewirausahaan hijau, serta pemanfaatan ruang pekarangan untuk produksi pangan lokal. Sebagai simbol gerakan pelestarian, dilakukan pula penyerahan bibit tanaman markisa dari BBKSDA Jatim dan FK3I kepada mahasiswa. Bibit ini akan ditanam di kebun percobaan UBHARA dan dijadikan sarana pembelajaran berkelanjutan dalam program kewirausahaan berbasis lingkungan. Kepala BBKSDA Jawa Timur, melalui kegiatan ini, menegaskan pentingnya pendekatan edukatif dan lintas sektor dalam upaya konservasi. “Kami percaya bahwa generasi muda adalah mitra strategis. Dengan memahami pentingnya keberlanjutan, mereka dapat menjadi penggerak perubahan yang menjaga harmoni antara manusia dan alam,” ujarnya dalam pernyataan resminya. Pelatihan ini menandai komitmen BBKSDA Jatim untuk terus membuka ruang partisipasi publik, terutama di kalangan akademisi, dalam pelestarian keanekaragaman hayati dan penguatan ketahanan ekosistem melalui praktik ramah lingkungan. Sumber: Aminudin Cimin - Humas FK3I Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Satwa dari Balerejo

Madiun, 21 April 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), bersama mitra Jaga Satwa Indonesia (JSI), menggelar sosialisasi peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sekitar pukul tujuh malam, peserta dari 15 desa di Kecamatan Balerejo – Kabupaten Madiun mulai memenuhi kursi. Agenda utama malam itu membedah peran masyarakat dalam perlindungan satwa, serta bagaimana menghadapi konflik yang kian sering terjadi antara manusia dan satwa liar. Drs. Pudji Wahju Widodo, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Dapil XI, hadir sebagai fasilitator. Ia menyebut kegiatan semacam ini penting untuk membangun kesadaran warga akan pentingnya konservasi berbasis aturan. Pemateri dari Bidang KSDA Wilayah Madiun menyampaikan tiga pokok bahasan. Tugas dan fungsi BBKSDA Jatim, dasar hukum konservasi, serta penanganan konflik dan evakuasi satwa. Diskusi berjalan hangat. Sejumlah warga bertanya soal prosedur penanganan satwa yang masuk ke permukiman dan peran mereka sebagai pelapor awal kejadian. Di akhir sesi, para peserta tak sekedar pulang membawa pengetahuan hukum, tapi juga kesadaran bahwa menjaga satwa bukan hanya tugas petugas, melainkan juga kewajiban bersama. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun
Baca Artikel

Kisah Daeng Usman dan Beka, Penjaga Langit Masakambing

Masakambing, 24 April 2025. Di sebuah rumah sederhana yang menghadap rimbun pohon pidada dan debur ombak kecil di kejauhan, seorang lelaki paruh baya menyipitkan mata menatap langit. Di atasnya, terbang bebas dua ekor Beka atau Kakatua Kecil Jambul Kuning yang dulu ia rawat dengan tangan sendiri. Hari itu, 8 April 2025, adalah hari yang tak akan pernah ia lupakan. Namanya Usman Daeng Mangung, tapi di kalangan pegiat konservasi ia dikenal sebagai “Daeng Usman”, penjaga alam dari Pulau Masakambing, Sumenep. Sejak tahun 2012, ia menjadi mitra setia Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dalam upaya melestarikan burung ikonik ini, salah satu spesies terancam punah yang hanya tersisa di beberapa titik kecil Indonesia, salah satunya di pulau kecil ini. “Burung itu bukan milik saya. Tapi mereka bagian dari hidup saya,” ucap Daeng Usman lirih namun mantap. Dua burung yang kini telah lepas liar itu, seekor betina yang diselamatkan pada Oktober 2024, dan jantan pada November 2024. Mereka menjalani hari-hari krusial di halaman rumah Daeng Usman, yang sejak lama dijadikan lokasi kandang rehabilitasi. Di tangan dan hatinya, mereka belajar kembali mengenali alam, angin laut, suara hutan, dan keberanian untuk terbang tinggi. Setiap hari, Daeng Usman membuka kandang perlahan, membiarkan mereka menjelajah, kembali, dan pergi lagi. Ia mengenali kebiasaan mereka tidur di pohon jambu, lalu perlahan beralih ke jati, kelapa, hingga akhirnya bergabung dengan kawanan liar di mangrove seberang kandang. Semua terekam jelas di benaknya, tanpa perlu catatan. “Yang penting mereka bahagia di sana,” katanya, menunjuk rimbun hijau yang jadi rumah baru dua sahabat kecilnya. Lebih dari satu dekade, Daeng Usman tak hanya jadi penjaga kandang. Ia adalah penghubung antara manusia dan alam, antara kebijakan konservasi dan kearifan lokal. Ia mengajar anak-anak di kampungnya untuk mengenal dan mencintai burung, memperingatkan warga agar tak mengganggu pohon-pohon sarang, serta menjadi mata dan telinga bagi petugas BBKSDA Jatim yang datang dari jauh. Konservasi sejati, ternyata lahir bukan hanya dari teknologi atau ilmu pengetahuan, namun juga dari hati yang setia menjaga. Dari rumah-rumah kecil di pulau terpencil, dari manusia-manusia seperti Daeng Usman yang tak pernah lelah mencintai. Kini, langit Masakambing kembali berwarna. Tidak hanya oleh jambul kuning yang menari di angin, tetapi oleh harapan yang tumbuh dari dedikasi satu orang, satu rumah, dan satu pulau yang menolak melupakan satwa-satwa yang hampir sirna. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sosialisasi Satwa Liar Orangutan Sumatera, Upaya Mitigasi Konflik

Kuta Gugung, 24 April 2025. Pada bulan Januari 2025 hingga pertengahan April 2025 terdapat beberapa kali perjumpaan satwa Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dengan masyarakat Desa Kuta Gugung. Satwa Orangutan Sumatera tersebut dijumpai oleh masyarakat desa yang berkebun di sekitar Hutan Desa milik Desa Kuta Gugung. Kabar baiknya, selama perjumpaan hingga saat ini belum ada interaksi negatif (konflik) yang terjadi antara masyarakat dengan satwa Orangutan tersebut. Orangutan yang mucul hanya sekedar berayun di pohon dan tidak mengganggu kegiatan perkebunan masyarakat, dan masyarakat juga tidak melakukan tindakan yang mengusik satwa liar tersebut. Namun untuk memberi edukasi kepada masyarakat serta mencegah terjadinya interaksi negatif, pada Kamis (17/4) Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang bersama dengan lembaga mitra Tim HOCRU OIC, menggelar kegiatan sosialisasi terkait pengenalan jenis satwa liar dilindungi terutama jenis satwa Orangutan Sumatera di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, yang dihadiri Kepala Desa dan masyarakat Desa Kuta Gugung Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Tuahman Raya, S.Sos. memaparkan tentang pengenalan jenis satwa liar dilindungi dan pengelolaannya, sedangkan dari Tim HOCRU OIC menyampaikan pengenalan Orangutan Sumatera dan penanganan konflik manusia dan satwa Orangutan. Sebanyak 20 orang masyarakat desa terutama yang berkebun di sekitar hutan desa diundang untuk mendiskusikan terkait satwa Orangutan Sumatera yang belakangan ini terlihat muncul beberapa kali. Beberapa hal penting yang disampaikan kepada masyarakat Desa Kuta Gugung terkait keberadaan satwa Orangutan Sumatera, agar masyarakat tidak menganggu satwa tersebut seperti melempar satwa dengan benda-benda, karena pada dasarnya orangutan tidak agresif namun apabila merasa terancam maka dapat melakukan tindakan seperti mematahkan ranting dan melemparkan ke arah masyarakat. Selain itu, tidak memberi makan orangutan karena akan menimbulkan perubahan perilaku nantinya, serta segera melaporkan ke petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara apabila terjadi interaksi negatif dengan satwa tersebut. Hasil diskusi dari kegiatan sosialisasi ini adalah, bahwa Orangutan Sumatera yang cenderung muncul di Desa Kuta Gugung, keberadaannya dipertahankan serta tidak perlu di evakuasi/relokasi. Namun bila satwa ini melakukan pergerakan hingga ke kebun dan pemukiman sampai mengganggu, maka akan segera ditindaklanjuti dengan relokasi. Kepala Desa Kuta Gugung berharap dilakukan observasi lebih lanjut terhadap satwa Orangutan tersebut apakah hanya satu ekor saja atau lebih dan apa penyebab satwa ini bisa keluar hingga ke hutan desa. Pihak desa menyatakan siap membantu bila diperlukan. Selanjutnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara akan melakukan kegiatan patroli di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk dan tetap siaga menerima laporan bila terjadi penampakan satwa Orangutan Sumatera tersebut. Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menjaga Asa, 4 Green Ambassador Sumatera Utara Merawat Bumi

Medan, 22 April 2025. Green Ambassador merupakan sebutan bagi para alumni pendidikan Green Youth Movement (GYM) yang diinisiasi oleh Institut Hijau Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui simpul belajar di UPT lingkup KLHK dan Dinas Lingkungan Hidup kabupaten/kota di 36 Provinsi. Pada GYM angkatan 2, sebanyak 4.461 siswa/siswi terpilih di 36 provinsi telah menyelesaikan program pendidikan dasar gerakan lingkungan hidup bagi remaja yang duduk di bangku kelas 2 SMA sederajat. Mereka belajar selama 3 bulan (Juli s/d September 2024), dan dilantik sebagai Green Ambassador pada 3 Oktober 2024 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. Selanjutnya, Green Ambassador ini didorong untuk menjadi duta lingkungan hidup dan kehutanan serta duta keadilan iklim. Meskipun belum menjadi satu gerakan signifikan yang dapat menumbuhkan budaya ramah lingkungan dalam komunitas atau masyarakat, terutama untuk generasi muda, namun dalam kurun waktu 5 bulan, keinginan dan usaha untuk berbuat konkret dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup mulai tumbuh sehingga perlu disediakan wadah bagi generasi muda ini guna mewujudkannya. Dalam pengamatan Koordinator Daerah Green Youth Movement Angkatan 2 Sumatera Utara, sedikitnya ada 4 sosok Green Ambassador GYM Angkatan 2 Sumatera Utara yang berkreasi dan menginspirasi generasi muda, khususnya kalangan pelajar SMA, melalui berbagai kegiatan konservasi alam dan lingkungan hidup secara mandiri. Dody Christian Saragih Merupakan siswa SMAN 6 Pematang Siantar, tercatat berprestasi sebagai Juara 4 Duta Kreatif Pelajar Sumatera Utara Tahun 2024. Dody yang lahir di Jakarta pada 9 Juni 2008, mengenal kegiatan konservasi alam pertama kali dari media sosial, berupa konten-konten yang memberikan informasi dan edukasi tentang kesadaran akan lingkungan dan permasalahan sampah. Pada tahun 2024, ia aktif mengikuti organisasi OSIS di sekolahnya menangani bidang kebersihan. Giatnya di OSIS menjadi jalan baginya terpilih sebagai utusan/wakil sekolah mengikuti program pendidikan Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 di tahun yang sama. Melalui GYM Angkatan 2 ini, wawasan pemikirannya pun tentang konservasi alam dan ingkungan hidup menjadi lebih luas dan berkembang. Berbagai ragam ilmu dan pengetahuan diperolehnya. Dody akhirnya menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh generasi muda untuk alam dan lingkungan hidup. Berbekal pengetahuan yang diperolehnya tersebut, Dody percaya diri membawakan pidato tentang Penekanan Lingkungan di Era Arus Globalisasi dan Kemajuan Teknologi 2024, pada Grand Final Duta Kreatif Pelajar Suatera Utarat di Medan. Di tahun 2025, ia menjadi mentor di komunitas Grow Bareng yang menyebarkan informasi dan pengetahuan mengenai lingkungan hidup kepada pelajar se-Indonesia. Lalu dipercaya menjadi koordinator kebersihan SMAN 6 Pematang Siantar. Dan sampai saat ini, ia terus aktif di media sosial untuk memberikan edukasi, motivasi dan penyadaran kepada masyarakat luas akan kondisi lingkungan yang kritis serta mengajak untuk ikut berperan aktif menyelamatkan bumi dan lingkungan. Meilani Aldira Cen Meilani merupakan siswi SMA Dharma Bakti Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang, terpilih menjadi The Best Favorite Media Sosial pada event Medan Model Hunt 2024. Ia seorang model muda berprestasi yang lahir di Lubuk Pakam, pada 16 Mei 2008. Awal mengenal konservasi alam dan lingkungan hidup saat duduk di bangku sekolah dasar. Ia mendengarkan gurunya menjelaskan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan melestarikan sumber daya alam. Sejak itu, ia menjadi lebih peduli dengan lingkungan hidup dan berusaha untuk melakukan hal-hal yang dapat membantu melestarikannya. Pada tahun 2024, Meilani menjadi ketua pelaksana volunteer SFH ke SLB-C Santa Lucia dalam komunitas ruang mengabdi, dan di tahun yang sama ia mengikuti program pendidikan Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 di Simpul Belajar Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Deli Serdang. Saat mengikuti pendidikan GYM ia melakukan sosialisasi dan edukasi tentang sampah kepada siswa SMPN 1 Lubuk Pakam. Di tahun 2025 Meilani melakukan aksi bersih-bersih di bank sampah Lubuk Pakam dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional se-Kabupaten Deli Serdang. Sampai saat ini masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang ia ikuti yang memberi dampak bagi lingkungan hidup. Noorhaslinda Linda, demikian panggilan akrabnya, merupakan siswi SMA Swasta YAPIM BIRU- BIRU Kabupaten Deli Serdang, menjadi pembina organisasi GEDS (Green Environment Driving School) di lingkungan sekolahnya. Linda lahir di Kerinci pada 24 Juni 2008. Ia mengenal konservasi lingkungan hidup bermula dari keaktifannya sebagai anggota pramuka di SMPN 6 Kerinci. Selanjutnya ia mengikuti program pendidikan Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 pada tahun 2024. Saat mengikuti pendidikan GYM tersebut, Linda membuat program patroli kebersihan lingkungan sekolah dan ia terpilih menjadi ketua panitia acara Pekan Generasi Hijau GYM Sumatera Utara yang bertajuk “Get That Green Glow”. Dalam berbagai kesempatan, Linda selalu menekankan kepada teman-temannya, bahwa sebagai generasi muda sangat diperlukan peransertanya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama mereka yang tinggal dekat dengan aliran sungai yang sering membuang sampah sembarangan. Melalui sosialisasi dan edukasi itu tentunya diharapkan dapat membangun kesadaran serta kepedulian warga guna mengurangi permasalahan sampah di aliran sungai. Markus Moreno Malau Markus merupakan siswa SMA Swasta Primbana Medan dan alumni Pendidikan Pelajar Penggerak Angkatan ke 2 Tahun 2025. Ia lahir di Kabanjahe pada 26 Februari 2008. Awal mengenal konservasi dimulai dari mengikuti program pendidikan Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 tahun 2024. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan, diantaranya memberikan edukasi kepada siswa sekolah dalam upaya mengurangi limbah berbahaya bagi lingkungan serta melakukan praktek memanfaatkan sampah sebagai kerajinan dan melakukan penanaman pohon. Markus juga pernah ikut dalam kegiatan Kaum Muda Menanam 2 di Pantai Mangrove Nipah, Kabupaten Serdang Bedagai, mengikuti penanaman pohon di daerah aliran sungai Deli Kecamatan Medan Marelan dan mengikuti kegiatan aksi bersih dalam rangka memperingati Hari Sampah Nasional tahun 2025 di sungai Kanal Kecamatan Medan Marendal. Selain itu, ia juga merupakan semi finalis Duta Pelajar Sumatera Utara pada tahun 2024, Semi finalis Duta Anti Narkoba pada tahun 2024 dan masih banyak lagi kegiatan yang ia ikuti. Demikianlah sosok 4 anak muda kreatif Green Ambasador jebolan GYM Angkatan 2 Sumatera Utara yang sudah berbuat dan menginspirasi bagi generasi muda. Ada pesan moral penting yang disampaikan mereka, yaitu : Mari mulai perubahan dari diri sendiri melalui hal-hal sederhana, kemudian lakukan dan sebarkan benih-benih kebaikan kepada lingkungan sekitar, maka percayalah akan tercipta dan tumbuh kesadaran kolektif atas lingkungan dan bumi kita. Selamat Hari Bumi 2025. Sumber : Nurhabli Ridwan ( Kader Konservasi Alam / KPA GRAS ) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kisah Pengendali Ekosistem Hutan dan Upaya Sunyi Konservasi Satwa di Gresik

Gresik, 10 April 2025. Di sudut tak terduga dari kota industri, di mana hutan telah digantikan oleh beton dan aspal, sekelompok kecil penjaga alam bekerja dalam diam. Kamis pagi, 10 April 2025, menjadi hari penting bagi Fajar Dwi Nur Aji seorang Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda dari Balai Besar KSDA Jawa Timur. Bersama tiga rekannya, ia bertugas di wilayah Bidang KSDA II Gresik, sebuah kawasan yang jauh dari hutan lebat, namun tetap menjadi medan penting dalam perjuangan konservasi satwa liar. Hari itu, mereka menerima penyerahan tiga satwa liar dari UPT. Pemadam Kebakaran Kabupaten Gresik. Seekor Trenggiling (Manis javanica) dan dua ekor Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) diserahkan dalam kondisi hidup, hasil penyelamatan dari pemukiman warga. Penyerahan dilakukan oleh Sulyono, S.E., M.M., Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan, menandai kolaborasi yang jarang terlihat tapi sangat bermakna antara pemadam kebakaran dan konservasionis. Bagi Fajar dan timnya, momen ini bukan sekadar serah terima satwa. Namun gambaran nyata dari bentuk konservasi eks situ. Dalam dunia di mana hutan menyempit dan manusia merangsek ke ruang liar, menjaga kehidupan bukan hanya dilakukan di dalam kawasan hutan lindung, tapi juga di kota-kota, pasar-pasar, bahkan halaman rumah warga. BBKSDA Jatim, melalui unit Wildlife Rescue Unit (WRU) dalam program Matawali, menjadi garda depan dalam upaya ini. Satwa yang diserahkan akan melalui proses penanganan medis, rehabilitasi, dan seleksi pelepasliaran. Trenggiling, salah satu mamalia paling diburu di dunia, dan terdaftar dalam Appendiks I CITES adalah simbol dari betapa gentingnya situasi keanekaragaman hayati kita. Sementara Sanca Kembang, meski tak dilindungi secara nasional, tetap menjadi indikator penting kesehatan ekosistem. “Di sini kami bekerja jauh dari hutan, tapi tetap untuk hutan,” ujar Fajar, sembari mengamati trenggiling itu menggulung dirinya dalam ketakutan. "Setiap satwa yang kami selamatkan adalah bagian dari ekosistem yang lebih besar dan jika kita kehilangan satu, kita akan kehilangan banyak," tambahnya. Kegiatan ini juga dilakukan oleh Penyuluh Kehutanan Pemula, Ferdinan Sabastian, yang turut memastikan proses edukasi dan dokumentasi berjalan dengan baik. Penyerahan yang berlangsung secara sukarela ini menunjukkan satu hal penting. Konservasi tak hanya butuh keahlian, tapi juga empati dan kolaborasi lintas profesi. Di tengah panasnya kota Gresik, bukan hanya air yang disemprotkan untuk memadamkan api. Tapi juga ada harapan yang diselamatkan. Ada kehidupan liar yang diberi kesempatan kedua. Sumber: Ego Lion Sakty - Pengendali Ekosistem Hutan Pemula Balai Besar KSDA Jawa Timur Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Baca Artikel

Rahmat Abidin, Menyulam Harapan dari Kambing dan Konservasi Nusa Barong

Jember, 17 April 2025. Dalam dunia konservasi, tidak semua pahlawan membawa senjata. Sebagian dari mereka membawa buku catatan, semangat pantang menyerah, dan kemampuan mendengar denyut kehidupan masyarakat di pinggiran hutan. Rahmat Abidin, Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama dari Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi Balai Besar KSDA Jawa Timur, adalah satu dari mereka, bergerak senyap, tapi berdampak nyata. Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Jember, berada tepat palang pintu kawasan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barong. Desa ini menjadi salah satu garda terdepan penjaga kawasan konservasi yang rawan terganggu oleh aktivitas manusia. Tapi Rahmat tahu, penjagaan tidak bisa hanya lewat larangan dan patroli, ia harus tumbuh dari dalam kesadaran masyarakat itu sendiri. Melalui pendekatan yang sabar dan berkelanjutan, Rahmat mendampingi Kelompok Masyarakat Putra Lestari, kelompok nelayan yang rawan kehilangan penghasilan saat musim ombak pasang. Atas fasilitasi Rahmat, kelompok ini mendapat bantuan senilai Rp 40 juta dari Balai Besar KSDA Jawa Timur, yang kemudian diwujudkan dalam 16 ekor kambing Kaligesing. Dari sinilah cerita berubah. Kini, populasi kambing telah berkembang menjadi 23 ekor, dengan dua indukan bunting yang menandai keberlanjutannya. Nilai ekonomi anak kambing telah mencapai Rp 14 juta, tapi nilai sosial dan ekologis dari program ini jauh lebih besar. Kepercayaan masyarakat mulai tumbuh, bahwa mereka menjadi bagian penting dari benteng konservasi Nusa Barong. Peran Rahmat tidak hanya sebagai penghubung program dan penerima. Ia menjadi mentor, penyemangat, bahkan juru damai ketika sempat terjadi perbedaan pandangan dalam kelompok. Ia hadir dalam diskusi kecil di bale-bale bambu, mendampingi pencatatan keuangan, bahkan turun langsung ke kandang kambing, memastikan manajemen berjalan sesuai rencana. “Tugas kami bukan hanya memberi bantuan, tapi mengubah pola pikir, bahwa hidup berdampingan dengan kawasan konservasi bukan beban, tapi anugerah,” tutur Rahmat, di tengah kunjungannya ke kandang kelompok. Dengan ketelatenan dan keteguhan seorang penyuluh seperti Rahmat Abidin, program pemberdayaan tidak hanya berjalan, tapi tumbuh dan berbuah. Dan dari desa kecil di pesisir selatan ini, lahirlah harapan besar, bahwa konservasi yang hidup adalah konservasi yang tumbuh bersama manusia. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA JawaTimur Bidang KSDA Wilayah 3 Jember
Baca Artikel

Pejuang Kilometer, Kartini Rimba di Sudut Madiun

Madiun, 21 April 2025. Di balik deru kendaraan yang menembus hutan dan pemukiman, Rahma Widyanti berdiri sebagai simbol keberanian perempuan dalam konservasi. Satu-satunya Kepala Resort perempuan di Balai Besar KSDA Jawa Timur, ia tak hanya menjaga satwa, tapi juga menyeimbangkan cinta, tugas, dan pengorbanan. Saat sebagian besar orang terlelap dalam kehangatan rumah, Rahma Widyanti justru berada di tengah jalan sunyi, lampu kendaraan menembus gelap, menuju laporan konflik satwa yang masuk dari pinggiran Magetan. Di kursi belakang mobilnya, tergeletak kotak evakuasi, jaring tangkap, dan peta wilayah. Bukan untuk pencitraan, bukan untuk penghargaan, melainkan untuk satu kata, pengabdian. Sejak tahun 2019, Rahma dipercaya memimpin Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Madiun di bawah Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Saat ini, ia menjadi satu-satunya perempuan yang bertahan menjadi Kepala Resort di BBKSDA Jatim. Namun, status itu bukan kebanggaan yang membuatnya angkuh, justru menjadi sebuah tanggung jawab yang ia emban dengan hati. Dalam dunia konservasi yang didominasi laki-laki, Rahma hadir sebagai Kartini masa kini yang menembus batas-batas ruang, medan, dan waktu. Wilayah kerjanya luas, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Magetan, hingga Ngawi. Empat kabupaten-kota yang tak memiliki kawasan konservasi in-situ seperti cagar alam atau suaka margasatwa. Tapi justru menyimpan kekayaan hayati yang tersebar di luar kawasan, di balik tembok kebun binatang mini, taman wisata, kandang penangkaran, hingga pemukiman padat. Ia menyebutnya sebagai "konservasi dalam keramaian". “Wilayah kami bisa dijangkau kendaraan, seberapa jauh pun,” kata Rahma. Maka dari itu, mereka menjuluki diri sebagai "Pejuang Kilometer" karena pekerjaan mereka bukan tentang tinggal di satu pos, tapi menjelajah dan menjangkau. Setiap langkah Rahma adalah keputusan. Sebagai seorang ibu dengan anak kecil, dan seorang istri yang terpisah jarak dari suami, hidupnya adalah arena kompromi yang tak selalu adil. Kadang, konflik satwa datang saat ia sedang menidurkan anak. Kadang, evakuasi satwa memaksanya pulang tengah malam dengan tubuh letih dan batin gamang. “Tugas ini memang pilihan. Tapi tidak boleh ada yang benar-benar dikorbankan,” ucapnya lirih. Kalimat itu mengendap dalam, menyiratkan kesunyian seorang Kartini yang tak banyak diceritakan. Namun di balik kesulitan itu, ada kebahagiaan kecil namun bermakna besar. Seperti ketika seekor satwa berhasil dievakuasi tanpa terluka, atau saat warga yang semula menolak akhirnya bersedia melepaskan satwa peliharaan liar ke alam. Rahma menyebutnya “kemenangan sunyi”, karena tidak selalu mendapat sorotan, namun berdampak nyata. Di Hari Kartini ini, Rahma Widyanti bukan sedang memperjuangkan emansipasi dalam pidato, tapi dalam langkah nyata di lapangan. Ia adalah gambaran Kartini masa kini, yang mengenakan seragam rimbawan, memegang alat dokumentasi satwa, dan berani mengambil keputusan dalam sunyi. Dunia konservasi bukan milik laki-laki saja. Alam pun tak membedakan siapa yang melindunginya, asal dilakukan dengan cinta dan kesungguhan. Dan di tengah medan berat itulah, Rahma tetap berjalan, dengan langkah pasti seorang perempuan, seorang ibu, dan seorang pemimpin “Pejuang Kilometer”. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pemkab Tebo Dukung Balai TN Bukit Tigapuluh Selesaikan Aktivitas Perambahan Kawasan TNBT oleh Kelompok SAD

Tebo, 21 April 2025. Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) mengikuti pertemuan penyelesaian aktivitas perambahan kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Wilayah kerja Resor Suo-suo oleh Kelompok Suku Anak Dalam (SAD) yang difasilitasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Tebo di Ruang Rapat Sekda Tebo. Kegiatan ini diinisiasi oleh Balai TNBT bersama mitra PT. Lestari Asri Jaya (LAJ) untuk melibatkan Pemerintah Kabupaten Tebo dalam proses penyelesaian aktivitas perambahan. Pertemuan dihadiri oleh Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Tebo yaitu: Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Perkebunan, Kepala Bagian Sumber Daya Alam (SDA), Kasat Intelkam Polres Tebo, Pasi Intelijen Kodim 0416/Bute, KPHP Unit IX Tebo Barat, KPHP Unit X Tebo Timur, Ketua Lembaga Adat Melayu Jambi (LAMJ) Tebo, Camat Sumay, Kapolsek Sumay, Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanggulangan Konflik, PT. Lestari Asri Jaya, Komunitas Konservasi Indonesia WARSI dan Pendamping SAD Wilayah Sumay. Awal mula bahwa perambahan terjadi sejak bulan Mei 2024, saat tim patroli menemukan bukaan kawasan di jalur 6 (enam) Jalan koridor Desa Semambu di dalam kawasan TNBT pada zona rehabilitasi yang dilakukan oleh Suku Anak Dalam dari Tumenggung Hasan yang berjumlah sekitar 15 orang. Berbagai upaya penyelesaian permasalahan telah dilakukan sejak bulan Mei mulai pendekatan secara persuasif dan sosialisasi. Pada Oktober 2024, Balai TNBT dengan dukungan mitra PT. Lestari Asri Jaya (LAJ) melakukan pertemuan penyelesaian aktivitas perambahan yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa Semambu, namun hal itu masih belum membuahkan hasil. Koordinasi dengan multi pihak juga terus dilakukan seperti Dinas Sosial dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Tebo serta Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Tebo. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan dukungan dan peran serta para pihak dalam menyikapi permasalahan ini. Proses panjang yang telah dilakukan, pada tanggal 16 April 2025, bertempat di Kantor Bupati Tebo tercapai kesepakatan penyelesaian aktivitas perambahan kawasan TNBT yang dilakukan oleh Kelompok Suku Anak Dalam (SAD). Dalam sambutannya, Bapak Gebyar Andyono, S.Si., M..Si selaku Kepala Balai TNBT menyampaikan bahwa “selama ini SAD mendapatkan akses penuh untuk memasuki Kawasan TNBT untuk mengambil Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti damar, jernang, ikan, buah semangkok, rotan, madu dan berbagai jenis buah-buahan hutan lainnya namun tidak dalam bentuk penebangan pohon atau penguasaan lahannya. Kami berharap permasalahan ini dapat dilihat secara objektif dan kami mengharapkan dukungan Pemerintah Kabupaten Tebo dan peserta yang hadir dalam menyikapi permasalahan ini sehingga mendapatkan solusi yang komprehensif” ujarnya. Seluruh peserta yang hadir sepakat bahwa “Kelompok SAD harus menghentikan aktivitas perambahan dan meninggalkan lokasi serta bersedia mengelola areal pencadangan penghidupan yang telah disediakan oleh PT. LAJ seluas 21.15 Ha”. Apabila kelompok SAD tidak bersedia meninggalkan lokasi, maka Balai TNBT akan melakukan tindakan represif sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. Poin kesepakatan ini senada dengan rekomendasi yang ditawarkan oleh Balai TNBT dalam paparan Bapak Hendra Koswandi, S.Hut, M.Si selaku Kepala SPTN Wilayah I Tebo Tengah. “Balai TNBT bersama mitra PT. LAJ berkomitmen akan melakukan pendampingan dan pelatihan dalam mengelola areal penghidupan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan SAD” ujarnya. Komitmen ini mendapatkan dukungan dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Tebo. Bupati Tebo melalui Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Tebo (Bapak Sugiyarto, S.P) selaku pimpinan rapat menyampaikan bahwa pentingnya menjaga keutuhan kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh sebagai sistem penyangga kehidupan sehingga upaya penanganan perambahan yang telah dilakukan oleh Balai TNBT selama ini harus didukung oleh Pemerintah Kabupaten Tebo. “Kita sepakat bahwa permasalahan ini harus diselesaikan dengan mengedepankan metode persuasif melalui pendampingan namun apabila upaya ini tidak berhasil, perlu dipertimbangkan upaya represif berupa penegakan hukum sesuai dengan aturan perundangan sebagai bentuk efek jera kepada pelaku. Langkah ini penting demi kepentingan kawasan TNBT sebagai kawasan konservasi yang harus dijaga dan dipertahankan keberadaannya,” ujarnya. Langkah selanjutnya Balai TNBT bersama dengan mitra PT. LAJ, Dinas Sosial dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Tebo akan melakukan kunjungan ke lokasi perambahan dan menegaskan poin kesepakatan kepada kelompok SAD yang merupakan pelaku perambahan. Melalui langkah ini diharapkan aktivitas perambahan dapat diatasi secara efektif dan fungsi kawasan dapat dipulihkan demi terjaganya keseimbangan alam dan ekosistem. Sumber : Darmanto Ambarita - Polhut SPTN Wilayah I Tebo Tengah, Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Artikel

Kader Konservasi Ikut Inisiasi Giat Tanam Pohon di Acara Halal Bihalal

Galang, 15 April 2025. Masih dalam suasana hari raya Idul Fitri 1446 Hijriyah, saat bulan syawal masyarakat Indonesia memiliki tradisi halal bihalal. Kegiatan halal bihalal biasanya berupa pertemuan untuk menjalin silaturahmi dan saling bermaafan. Sembari bersilaturahmi Redy Fans Club (RFC) bersama Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) melakukan tanam 1 pohon jambu bol (Syzygium malaccense) dan 20 rumpun akar wangi (Vetiveria Zizanioides L.) di Desa Kotangan, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, pada Jumat (11/4). Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Deli Serdang, H Timur Tumanggor, S.Sos M.AP, mewakili Wakil Bupati Kabupaten Deli Serdang Lom Lom Suwondo, SS., ikut serta menanam pohon didampingi Pembina RFC P. Rudiyanto, SE dan Founder GRAS Nurhabli Ridwan (kader konservasi alam Sumatera Utara) yang juga relawan muda RFC. Pada kesempatan tersebut, Sekda Kabupaten Deli Serdang menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Wakil Bupati Deli Serdang karena pada waktu yang bersamaan menghadiri rapat dengan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution guna membahas rencana sekolah rakyat gratis yang akan di bangun di Deli Serdang. Timur Tumanggor juga menyampaikan salam dari Bupati Deli Serdang, dr H Asri Ludin Tambunan yang pada waktu bersamaan mendampingi Menteri Sosial, Saifullah Yusuf di Tebing Tinggi. Dalam sambutannya Timur Tumanggor menyatakan, bahwa kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang mempererat jalinan silaturahmi, melainkan pula sebagai bentuk nyata dari kepedulian sosial terhadap sesama, khususnya kepada anak-anak yatim-piatu, dhuafa dan para pewakaf. Selain itu juga, melalui kegiatan menanam pohon memberi kontribusi luar biasa bagi kepentingan umat, sekaligus mengajak warga untuk peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ini adalah wujud kepedulian sosial yang patut kita apresiasi dan teladani. Sementara itu, Ketua Dewan Pembina RFC P. Rudiyanto, SE menyampaikan kegiatan ini diadakan oleh keluarga besar Redy Fans Club (RFC) dengan agenda halal bihalal, pemberian tali asih kepada anak yatim/dhuafa, pemberian penghargaan kepada pewakaf tanah masjid se-kecamatan Galang dan di tutup dengan menanam pohon yang diinisiasi oleh relawan muda yang tergabung dalam RFC. RFC juga mendukung program-program yang telah buat oleh pemerintahan Kabupaten Deli Serdang untuk masyarakat khususnya program sosial dan program lingkungan hidup di Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan ini turut dihadiri Wakapolsek Galang Iptu Simarmata, Babinsa Serda Sarifudin, Kepala KUA Kecamatan Galang, Mualim Ichanul Arifin MPd, Camat Galang Drs Syahdin Setia Budi Pane, Kepala Desa Kotangan, Eka Maya Saputra, Toko Agama Ustadz Daiman S.Pdi, seluruh pengurus BKM se Kecamatan Galang, dan warga Desa Kotangan. Bagi founder GRAS, Nurhabli Ridwan yang merupakan Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan juga relawan muda RFC, kegiatan ini sangat bermanfaat karena selain bersilaturahmi juga menggugah dan mengajak masyarakat ikut peduli akan konservasi lingkungan melalui gerakan tanam pohon. Diharapkan usai kegiatan ini, masyarakat menjaga dan merawat tanaman-tanaman tersebut, bahkan memperbanyak koleksi tanaman, sehingga desa nantinya bukan hanya asri dan indah tetapi juga menjadi lingkungan yang sehat. Pohon yang ditanam dalam kegiatan ini merupakan hasil pembibitan yang dilakukan secara mandiri oleh Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) bermitra dengan Redy Fans Club (RFC). Bibit pohon yang ada saat ini diantaranya bibit vetiver, rambutan, dan jambu bol. Khusus bibit vetiver, dikembangkan karena memberi banyak manfaat, seperti memiliki fungsi yang baik dalam mencegah terjadinya erosi tanah dimana akarnya dapat menahan gerusan erosi. Kemudian, akar vetiver dapat diolah menjadi berbagai macam bentuk kerajinan yang unik dan menarik secara langsung tanpa ditenun terlebih dahulu, seperti pembuatan souvenir sehingga mempunyai nilai ekonomis. Selain itu, minyak akar wangi (vetiver oil) sebagai salah satu jenis minyak atsiri yang diekstrak dari bagian akar tanaman akar wangi memiliki manfaat yang luas, seperti digunakan dalam parfum, kosmetik, sabun wangi, anti inflamasi, pencegah serangga, anti bakteri, dan bahan pembuatan insektisida. Beragam manfaat yang bisa didapatkan menjadi alasan utama untuk membudidayakannya sebagai upaya kegiatan konservasi lingkungan dan mitigasi bencana. Sumber : Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam / KPA GRAS) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Sumatera Utara Gelar Halal Bihalal dan Sarasehan Bersama Rimbawan Senior

Rimbawan Senior Ir.K.R.T. H. Darori Wonodipuro, M.M., IPU hadir dalam acara Halal Bihalal yang digelar Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 15 April 2025. Masih dalam suasana perayaan Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggelar acara Halal Bihalal, pada Minggu (13/4), bertempat di Ruang Serbaguna Rahmat International Wildlife Museum & Gallery, jln. S.Parman No. 309, Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan. Halal Bihalal yang mengusung tema “Dengan Semangat Idul Fitri Kita Kuatkan Korsa Rimbawan Untuk Konservasi Alam Berkelanjutan” dihadiri kepala-kepala UPT Kementerian Kehutanan lingkup Provinsi Sumatera Utara, mitra kerja dari lembaga swadaya masyarakat (NGO) serta mitra kerja dari lembaga konservasi. Yang menjadi spesial dari acara Halal Bihalal kali ini adalah kehadiran Rimbawan Senior Ir. K.R.T. Darori Wonodipuro, M.M., IPU., yang berkenan berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan peserta, berkaitan dengan profesi tugas yang saat ini diemban yaitu sebagai anggota Komis IV DPR RI. Dalam paparan awalnya, Pak Darori, nama yang akrab dipanggil, menguraikan pengalaman kerja selama 23 tahun di Provinsi Sumatera Utara, yang bermula dari pegawai honorer dan berkat ketekunannya berhasil meniti karir mencapai puncaknya sebagai Kepala Dinas dan Kepala Kantor Wilayah Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Kesuksesan dan keberhasilannya di tingkat Provinsi Sumatera Utara ini menjadi entry poin untuk berkarya di Kementerian Kehutanan. Posisi/jabatan Direktur Jenderal (Dirjen) dibeberapa UPT Kementerian Kehutanan pun pernah dijalaninya. Sampai akhirnya sebelum memasuki masa purnatugas, Darori pun mengundurkan diri sebagai PNS dan ingin melanjutkan kariernya di bidang politik. Dengan kerendahan hati, Darori menegaskan bahwa Sumatera Utara lah yang menempanya selama 23 tahun sehingga bisa sukses sampai sekarang ini. Selain itu, menurutnya lagi, nasib seseorang bisa dirubah hanya dengan 3 prinsip, yaitu : doa, usaha dan silaturahmi. Ketiga prinsip ini yang dipegang teguh dalam menjalani aktivitas dan kehidupannya. “Ada Hadist : Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Hadist ini menekankan pentingnya menjadi pribadi yang berguna dan memberikan manfaat kepada sesama. Manusia yang bermanfaat itu adalah yang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan digunakan untuk membantu orang lain, serta bersikap peduli dan mau berbagi kebaikan dengan sesama,” ujar Darori. Usai purnatugas dini, Darori mencoba peruntungan menjadi anggota DPR RI melalui Partai Gerindra, partai yang dipimpin Jenderal Prabowo Subianto (Presiden RI). Nasib baik berada di pihaknya, usahanya berhasil membawanya ke senayan, dan sampai saat ini Darori menjadi anggota DPR RI di Komisi IV, yang membidangi pertanian, lingkungan hidup, kehutanan, kelautan dan perikanan, perkebunan, pertanian dan bulog. Sebagai anggota Komisi IV, Darori mengawal penyusunan serta pengawasan regulasi yang membidangi kehutanan, seperti : Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (PPPH) yang telah dirubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja, serta Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 yang telah dirubah menjadi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. “Saat ini DPR RI dan Pemerintah akan membahas Peraturan Pemerintah sebagai peraturan pelaksana dari Undang-undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Peraturan Pemerintah ini penting dan nantinya akan menjadi pedoman dan panduan dalam penerapan undang-undang tersebut. Oleh karena itu, mari kita semua yang hadir saat ini dari berbagai elemen untuk memberikan masukan-masukan, kami sangat mengharapkan adanya saran dan masukan guna menyempurnakan peraturan tersebut,” himbau Darori. Acara yang penuh keakraban dan kekeluargaan ini pun akhirnya usai. Tamu dan undangan tidak pulang dengan sia-sia, tetapi membawa asa motivasi dan inspirasi untuk menjalani kehidupan lebih bersemangat serta memberi dampak atau manfaat bagi sesama maupun bagi lingkungan. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Komisi IV DPR RI Kunjungan Kerja Ke BBKSDA Sumatera Utara

Ir. Panggah Susanto, M.M. Wakil Ketua Komisi IV memimpin pertemuan Medan, 14 April 2025. Komisi IV DPR RI melakukan Kunjungan Kerja Reses Masa Sidang II Tahun Sidang 2024-2025 di Sumatera Utara, dimana salah satu tujuannya adalah Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Rabu (9/4), dengan agenda peninjauan dan diskusi bersama pemangku kepentingan di bidang konservasi dan perlindungan satwa. Sebagaimana surat dari Wakil Ketua DPR RI, ada sebanyak 16 orang dari Komisi IV DPR RI yang melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Utara, yaitu : Ir. Panggah Susanto, MM (Wakil Ketua Komisi IV/F-PG), Dr. H. Abdul Kharis Almasyhari, SE., M.Si. (Wakil Ketua/F-PKS), Mayjen TNI. Mar. (Purn.) Sturman Panjaitan, SH. (Anggota/F-PDIP), Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S (Anggota/F-PDIP), Edoardus Kaize, S.S (Anggota/F-PDIP), Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si. (Anggota/F-PG), Eko Wahyudi (Anggota/F-PG), Dr. Ir. Hj. Endang S. Thohari, Dess, M.Si. (Anggota/F-Gerindra), Dr. H. Azikin Solthan, M.Si. (Anggota/F-Gerindra). Selanjutnya Arif Rahman (Anggota/F-Nasdem), Cindy Monica Salsabila Setiawan, SM. (Anggota/F-Nasdem), Dr. Daniel Johan, SE., MM. (Anggota/F-PKB), Hindun Anisah (Anggota/F-PKB), Ajbar, SP. (Anggota/F-PAN), Drs. H. Guntur Sasono, M.Si. (Anggota/F-Demokrat) dan Ellen Ester Pelealu, SE. (Anggota/F-Demokrat). Rombongan Komisi IV DPR RI disambut Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Nunuk Anugrah, S.Hut., M.Sc. mewakili Direktur Jenderal KSDAE, dan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Direktur Penindakan Pidana Kehutanan, Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum Rudianto Saragih Napitu, S.Si., M.Si, Deputi Bidang Karantina Hewan, Badan Karantina Indonesia (Barantin) Sriyanto, Kepala Balai Besar Karantina Sumatera Utara N. Prayatno Ginting, para Kepala UPT Kementerian Kehutanan lingkup Provinsi Sumatera Utara serta mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Sambutan selamat datang disampaikan Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Nunuk Anugrah, S.Hut., M.Sc. mewakili Direktur Jenderal KSDAE Pertemuan berupa diskusi membahas tentang Penanganan dan Penegakkan Hukum Perdagangan Satwa Liar Dilindungi, dipandu Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ir. Panggah Susanto, M.M. Seluruh anggota Komis IV DPR RI mendengarkan paparan yang disampaikan oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., yang menguraikan tentang tugas pokok dan fungsi Balai Besar KSDA Sumatera Utara dimana salah satunya adalah melaksanakan pengawasan dan pengendalian peredaran spesies dan genetik tumbuhan dan satwa liar baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi. Lebih lanjut Novita Kusuma Wardani juga menjelaskan peran Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam pengendalian perdagangan tumbuhan dan satwa liar dilindungi yang dilakukan dalam bentuk : perizinan penangkaran tumbuhan dan satwa liar dilindungi (sampai saat ini ada 13 unit dan 3 masih dalam proses), perizinan lembaga konservasi (ada 11 lembaga konservasi), kerja sama pengawetan dan penyelamatan tumbuhan dan satwa liar (dilakukan oleh 4 lembaga konservasi khusus : BNWS, YEL, OIC dan COP), Pusat Penyelamatan Satwa (di Sibolangit, ANECC dan PLG Holiday Resort) serta 5 Resort yang mengawasi peredaran tumbuhan dan satwa liar di pelabuhan udara dan laut. Suasana diskusi “Upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara secara garis besar terdiri dari patroli pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar, koordinasi dengan instansi terkait serta sosialisasi dalam rangka penyadartahuan tumbuhan dan satwa liar kepada masyarakat” ujar Novita Kusuma Wardani. Sementara itu, Kepala Balai Besar Karantina Sumatera Utara, N. Prayetno Ginting menegaskan bahwa Balai Besar Karantina siap mendukung bersinergi dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam upaya penegakkan hukum terhadap perdagangan illegal tumbuhan dan satwa liar. Sebagai bagian dari pengawasan perlintasan, Balai Besar Karantina memiliki peran strategis dalam mencegah keluar masuknya specimen dilindungi secara illegal. Komisi IV DPR RI mengapresiasi langkah-langkah dan upaya-upaya konkrit yang sudah dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam penanganan dan penegakkan hukum perdagangan satwa liar dilindungi khususnya di Provinsi Sumatera Utara. Berharap kedepannya kinerja yang positif ini ditingkatkan lagi dan perlu terus dibangun kolaborasi dengan instansi teknis daerah dalam menangani berbagai permasalahan. Akhir diskusi dan kunjungan ditandai dengan penyerahan cendera mata antara Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI dengan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Sinergi Taman Nasional Taka Bonerate dan Polda Sulsel Perkuat Penegakan Hukum di Laut

Makassar, 11 April 2025 — Kolaborasi antara manusia dan alam adalah kunci menjaga keberlanjutan ekosistem. Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TN Taka Bonerate) dan Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel), Jumat (11/4), menunjukkan komitmennya melalui penyusunan draft Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk mengatasi destructive dan illegal fishing di kawasan konservasi laut tersebut. Pertemuan digelar di Aula Pullajiantah Biro Operasi Polda Sulsel, menandai langkah konkret penegakan hukum berbasis sinergi yang dihadiri oleh Kabag Kerma/Kepala Bagian Kerjasama Biro Operasi Polda Sul Sel, Paur Pakat Kerma/ Pengatur Panitia Kerjasama, Bidang Hukum Polda, Dit. Polairud Polda, Itwasda/ Inspektorat Pengawasan Daerah Polda, Setum/Sekretariat Utama Polda, Pengatur I Hukum Polda, BA.Sekretariat Utama Polda, Pengatur Umum Polda, BA.Operasi Polda dan dari pihak Balai TN Taka Bonerate dihadiri oleh Kepala Balai, Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (SPTN) Wil.I Tarupa, Kepala SPTN Wil. II Jinato, Koordinator Polhut dan Mitra WCS-IP. Mengapa TN Taka Bonerate Istimewa? TN Taka Bonerate, salah satu dari 7 taman nasional laut di Indonesia, adalah cagar biosfer dunia dengan luas 530.765 hektar. Kawasan ini ditetapkan sebagai aset strategis nasional sejak 1992, tetapi ancaman illegal fishing dan praktik penangkapan merusak (destructive fishing) terus menggerogoti keanekaragaman hayatinya. "Kami tidak bisa bekerja sendirian. Butuh dukungan penegakan hukum dari Polri, terutama Polairud, untuk patroli dan pemberantasan aktivitas ilegal," tegas Ali Bahri, S.Sos., M.Si, Kepala Balai TN Taka Bonerate. Substansi Kerja Sama: Patroli Hingga Pertukaran Data Draft PKS yang telah final mengatur: "Kerja sama ini bukan sekadar formalitas. Kami siapkan personel dan sarana, termasuk kapal patroli, untuk mendukung penegakan hukum," jelas AKBP Amiruddin, S.H., M.H, Kabag Kerjasama Polda Sulsel. Proses Penandatanganan Segera Dilakukan Draft PKS ini telah final dan direncanakan akan ditandatangani secepatnya dalam bulan ini, menunggu kepulangan Direktur Polairud Polda Sulsel dari Mabes Polri di Jakarta. Langkah ini menunjukkan keseriusan kedua belah pihak untuk segera mengimplementasikan kerjasama tersebut. Dasar Hukum dan Tantangan PKS ini mengacu pada revisi UU No. 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada 17 Februari 2025 tentang Sinergitas Tugas dan Fungsi Dibidang Pembangunan Kehutanan. Tantangan utamanya adalah luasnya wilayah dan keterbatasan sumber daya. Namun, kolaborasi ini diharapkan menjadi model pengelolaan kawasan laut berkelanjutan. Apa yang Bisa Dipelajari? Catatan Penutup Laut bukan sekadar sumber ikan, tapi warisan untuk generasi mendatang. Langkah Balai TN Taka Bonerate dan Polda Sulsel ini patut diapresiasi—dan dengan rencana penandatanganan yang akan segera dilakukan, komitmen ini semakin nyata. Sumber: Asri - Humas Balai Taman Nasional Taka Bonerate Sumber Foto : Polda SulSel dan Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang Kembali Membuka Diri

Baderan, 8 April 2025. Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang atau yang lebih dikenal dengan Gunung Argopuro, akhirnya kembali membuka akses pendakian kepada publik per 8 April 2025. Setelah dua bulan di tutup sementara, sebagai langkah mitigasi potensi cuaca ekstrem yang dilaporkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kini kawasan yang membentang di wilayah Kabupaten Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, dan Jember ini menyambut para pendaki dengan wajah yang segar pasca pemulihan ekosistem. Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam surat edarannya Nomor SE.3/K2/BIDTEK.1/KSA.4.2/B/2/2025 menegaskan bahwa penutupan sementara sejak 18 Februari lalu dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi bahaya hujan deras dan angin kencang. Sekaligus sebagai momentum pemulihan alami kawasan hutan pegunungan yang menjadi habitat sejumlah satwa dilindungi, termasuk Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Rusa Timor (Cervus timorensis), dan Merak Hijau (Pavo muticus). Dalam lanskap yang dibentuk oleh letusan vulkanik purba dan ditenun oleh kabut yang turun setiap senja, Dataran Tinggi Yang bukan sekadar jalur pendakian, ia adalah naskah alam yang terus ditulis ulang oleh waktu, cuaca, dan kehidupan liar di dalamnya. Pembukaan kembali kawasan ini tetap disertai imbauan kehati-hatian bagi pengunjung. Pihak BBKSDA Jatim senantiasa mengingatkan pentingnya mengikuti prosedur pendakian dan larangan aktivitas yang merusak kawasan. Dengan dibuka kembalinya akses ini, harapannya adalah adanya jalinan relasi yang lebih harmonis antara manusia dan alam, dimana petualangan berpijak pada kesadaran, dan jejak meninggalkan cerita, bukan luka. Untuk informasi lebih lanjut dan prosedur pendakian, masyarakat diimbau untuk mengikuti pengumuman resmi dari Balai Besar KSDA Jawa Timur serta berkoordinasi dengan petugas lapangan pada titik akses pintu masuk pendakian di Baderan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Suka Duka Pengendali Ekosistem Hutan di Garis Terdepan Konservasi

Sidoarjo, 30 Maret 2025. Di bawah rimbunnya hutan tropis yang menyimpan sejuta misteri, para Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) berjuang tanpa kenal lelah. Mereka bukan hanya pengawas ekosistem, tetapi juga benteng terakhir yang melindungi keanekaragaman hayati Indonesia dari ancaman perburuan liar, perusakan habitat, hingga perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa. Namun, di balik tugas mulia itu, tersimpan kisah suka dan duka yang jarang diketahui publik. Matahari baru saja menyemburatkan cahayanya di balik kanopi hutan ketika sekelompok PEH memulai perjalanan mereka. Berbekal peralatan seadanya, mereka menembus medan berat, melewati sungai deras, mendaki tebing curam, dan berjibaku dengan lebatnya hutan hujan. Bagi mereka, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa untuk menjaga kelestarian alam. "Kadang kami harus menginap di tengah hutan berhari-hari. Tidur beralaskan tanah, makan seadanya, dan selalu waspada terhadap ancaman hewan buas atau cuaca ekstrem. Namun, melihat anak harimau yang kembali ke habitatnya atau burung langka yang masih berkicau di dahan, semua lelah itu terbayar lunas," ujar seorang Endro Setiawan yang telah mengabdi lebih dari satu dekade. Namun, tugas mereka bukan hanya soal memantau hutan. PEH ditempat lain juga terlibat dalam monitoring pasar burung, penangkaran satwa liar, hingga menertibkan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa dilindungi. Berhadapan langsung dengan pelaku perdagangan ilegal bukanlah hal yang mudah. "Ada momen di mana kami harus menghadapi ancaman dari oknum yang merasa terganggu dengan kehadiran kami. Tapi tugas kami jelas: melindungi alam dan memastikan hukum berjalan," tambahnya. Dampak dari kerja keras para PEH bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Tanpa mereka, keseimbangan ekosistem bisa terganggu, yang berujung pada bencana ekologis seperti banjir, tanah longsor, dan kepunahan spesies kunci. Selain itu, mereka juga berkontribusi besar dalam menjaga sumber daya alam yang menjadi aset strategis bangsa, baik dari sisi ekologi maupun ekonomi. Lebih dari itu, keberadaan PEH membantu pemerintah dalam mengedukasi masyarakat sekitar kawasan hutan agar lebih sadar akan pentingnya konservasi. "Kami sering melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada warga agar mereka menjadi mitra konservasi, bukan ancaman bagi hutan," kata Mbak Ning seorang PEH senior yang bertugas di Jawa Timur. Di tengah tantangan yang semakin besar, para Pengendali Ekosistem Hutan tetap berdiri tegak sebagai garda terdepan perlindungan alam. Mereka bukan hanya pelindung hutan, tetapi juga penjaga masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. Sebab tanpa hutan yang lestari, kehidupan kita pun akan kehilangan keseimbangan. Sungguh, tugas mereka bukan sekadar profesi, tetapi pengabdian untuk bumi dan generasi mendatang. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sungai Kolbu: Sumber Kehidupan di Argopuro yang Perlu Dijaga

Baderan, 7 April 2025. Di jantung Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, di tengah hamparan savana Sikasur yang luas, tersembunyi sebuah sumber kehidupan yang telah mengalir selama berabad-abad: Cagar Alam Sungai Kolbu. Terletak di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut, kawasan ini bukan hanya penopang ekosistem pegunungan, tetapi juga warisan alam yang keberlanjutannya kini bergantung pada kesadaran manusia. Mata Air Murni di Puncak Jawa Sungai Kolbu telah ditetapkan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1919 melalui Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 83 Stbl. 1919 No. 392. Dengan luas hanya 18,782 hektare, kawasan ini memiliki peran yang jauh lebih besar daripada ukurannya yang mampu menjadi penjaga siklus air pegunungan dan menopang kehidupan di sekitarnya. Dikelilingi oleh hutan cemara dan padang savana, Sungai Kolbu menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna khas, seperti merak hijau, Rusa timor, kijang, dan berbagai sepesies lainnya. Kandungan mineral dalam airnya pun tinggi, menjadikannya sumber air yang bernilai ekologis tinggi. Namun, ancaman terhadap kelestariannya semakin nyata. Aktivitas pendaki yang tidak bertanggung jawab, termasuk penggunaan air Sungai Kolbu untuk mandi dan mencuci, dapat mencemari kawasan ini. Limbah sabun dan deterjen, meskipun terlihat sepele, dapat mengganggu keseimbangan ekosistem sungai, merusak vegetasi riparian, dan mengancam organisme air. Menjaga Mata Air, Menjaga Ekosistem Sebagai bagian dari kawasan konservasi, Sungai Kolbu adalah cagar alam dan sungai kolbu tidak diperuntukkan untuk aktivitas seperti mandi atau mencuci, melainkan harus diperlakukan sebagai sumber air yang dilindungi. Kerusakan yang terjadi di area ini dapat berdampak luas, tidak hanya bagi keanekaragaman hayati di sekitar Sungai Kolbu, tetapi juga bagi masyarakat di hilir yang bergantung pada aliran air dari pegunungan. Sebagai pendaki dan pecinta alam, ada beberapa langkah bijak yang bisa dilakukan untuk menjaga kelestarian Sungai Kolbu: Warisan yang Harus Dijaga Cagar Alam Sungai Kolbu adalah lebih dari sekadar persinggahan di jalur pendakian Argopuro. Ini adalah warisan alam yang perlu dijaga agar tetap lestari untuk generasi mendatang. Setiap tetes airnya adalah penopang kehidupan, dan kelestariannya bergantung pada kepedulian kita semua. Mandi di Sungai Kolbu mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi apakah itu sebanding dengan risiko mencemari sumber kehidupan? Jangan biarkan jejak kita menghapus jejak kehidupan di Sungai Kolbu ! Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 257–272 dari 1.990 publikasi