Sabtu, 10 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Rimbawan Bangkit, Semangat Lestari untuk Ibu Pertiwi Ditegakkan

Sidoarjo, 20 Mei 2025. Pagi yang tenang penuh sarat makna di Plaza Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, genderang kebangkitan nasional bergema tak hanya dalam upacara bendera, tapi juga dalam tekad para penjaga hutan negeri ini, rimbawan Jawa Timur. Dalam balutan semangat 117 tahun Hari Kebangkitan Nasional (20/05/2025), Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, memimpin langsung upacara sebagai Inspektur, memaknai kebangkitan bukan sekadar seremoni melainkan sebuah ikrar berkelanjutan menjaga tanah, hutan, dan masa depan bangsa. Upacara yang digelar tepat pukul 08.00 WIB ini tak hanya menjadi penghormatan pada sejarah perjuangan bangsa. Namun juga sebagai pengingat bagi rimbawan, bahwa tugas mereka bukan hanya soal hutan, kehutanan dan konservasi, tapi juga tentang mempertahankan jati diri bangsa di tengah krisis iklim dan perubahan zaman. Sambutan Menteri Komunikasi dan Digital, yang dibacakan dalam upacara, juga memperkuat makna peringatan ini. Bahwa kebangkitan adalah proses terus-menerus yang menuntut keberanian menghadapi tantangan modern, termasuk krisis pangan, polarisasi global, hingga transformasi digital. Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan harus bersandar pada kemanusiaan, keberlanjutan, dan keadilan. Seluruh barisan peserta, mulai dari personel BBKSDA Jatim, Dinas Kehutanan Provinsi Jatim, hingga Balai Pengelolaan DAS Brantas, berdiri tegak, mengumandangkan lagu perjuangan dan mengheningkan cipta bagi para pejuang bangsa. Namun di mata seorang rimbawan, upacara ini lebih dari sekadar penghormatan, ini adalah pengingat bahwa setiap batang pohon yang mereka lindungi adalah warisan, setiap langkah patroli di hutan adalah bentuk cinta tanah air yang nyata. Sebagaimana akar pohon menembus bumi dengan perlahan tapi pasti, demikian pula kebangkitan bangsa harus tumbuh dari nilai-nilai dasar keberanian, ketulusan, dan keberlanjutan. Di tengah zaman yang berubah cepat, para rimbawan tidak hanya menjaga hutan, mereka menjaga harapan. Dirgahayu Hari Kebangkitan Nasional ke-117. Dari hutan yang sunyi hingga mimbar upacara yang khidmad, Indonesia bangkit dalam diam, tumbuh dalam hijau, dan melangkah menuju masa depan yang adil dan lestari. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Apresiasi Untuk Kolaborasi PT Suparma Tbk dan Kebun Binatang Surabaya dalam Aksi Cinta Satwa dan Alam

Surabaya, 18 Mei 2025. Di tengah deru kota dan keramaian akhir pekan, secercah harapan bagi alam dan satwa liar tumbuh di jantung Surabaya. Sebuah gerakan bernama “Caring Animal & Earth” digelar oleh PT Suparma Tbk di Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya, Minggu (18/5). Ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa melampaui batas-batas bisnis dan menjadi denyut nadi budaya korporasi. Dalam atmosfer hangat dan penuh semangat, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir langsung, menyatukan langkah dengan Direksi PT Suparma Tbk, manajemen PDTS KBS, serta ratusan karyawan dan keluarga besar perusahaan. Bukan sekadar seremoni, kehadiran para pemangku kepentingan ini adalah sinyal kuat bahwa konservasi adalah urusan bersama, bukan beban sekelompok kecil pemerhati alam. Sejalan dengan semangat “Communication as Conservation Solution” sebagaimana tercetus oleh Nur Patria Kurniawan, Kepala BBKSDA Jatim, kegiatan ini dirancang untuk menjembatani antara manusia, satwa, dan bumi tempat mereka berbagi ruang hidup. Aksi konkret yang dilakukan berupa penyerahan tempat sampah demi tata kelola sampah yang lebih baik di zona edukasi satwa, penanaman sekitar 700 bibit pohon sebagai perisai hijau kota, dan sesi edukasi konservasi bagi anak-anak, para pewaris masa depan bumi. Lebih dari itu, kegiatan family gathering mempererat simpul-simpul emosional antara manusia dan lingkungannya. Ada tawa, ada makna, dan ada kesadaran baru yang tumbuh, bahwa keberlangsungan hidup satwa liar dan hutan bukan hanya isu konservasi, tetapi fondasi dari keberlanjutan peradaban. Langkah-langkah kecil ini barangkali belum mengubah dunia. Namun di balik setiap bibit pohon yang ditanam dan setiap hati anak yang disentuh lewat edukasi, ada masa depan yang lebih hijau sedang disemai. Sinergi ini merupakan wujud nyata upaya membangun kolaborasi lintas sektor. Dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat bersatu dalam satu tekad, menjaga warisan hayati Nusantara agar tetap lestari. Dari Surabaya, untuk Indonesia, dan untuk bumi yang lebih layak huni. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat

Inspektur Upacara membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital di peringatan Hari Kebangkitan Nasional Ke 117 Medan, 21 Mei 2025. Hari Kebangkitan Nasional Ke 117 Tahun 2025 kembali diperingati jajaran UPT Kementerian Kehutanan lingkup Provinsi Sumatera Utara bersama dengan jajaran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara dalam sebuah upacara di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, pada Selasa (20/5). Peringatan yang mengusung tema “Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat” diperingati secara sederhana tanpa mengurangi maknanya dan berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Bertindak sebagai Inspektur Upacara Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS HL) Wampu Sei Ular, Sigit Budi Nugroho, S.Si., M.Sc., yang membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid. Menteri Komunikasi dan Digital mengingatkan bahwa 117 tahun yang lalu ditengah keterbatasan dan tekanan kolonialisme, lahirlah sebuah kesadaran yang menyalakan api perubahan bahwa kemajuan hanya mungkin dicapai bila kita bangkit berdiri di atas kekuatan kita sendiri. Namun kebangkitan itu bukanlah sebuah peristiwa yang selesai dalam satu masa. Kebangkitan adalah ikhtiar yang harus hidup. Menteri yang akrab dipanggil dengan nama Meutya Hafid, lebih lanjut menyampaikan bahwa Indonesia sedang menapaki jalur pembangunan yang tidak semata berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan setiap kebijakan membuka ruang bagi kemajuan yang adil dan merata. Sebuah ikhtiar besar agar pembangunan yang megah tetap berpijak kokoh pada kepentingan rakyat. Dalam momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini, kita mengukuhkan kembali arah perjalanan bangsa. Dan dalam semangat itu, pemerintah telah menetapkan Asta Cita sebagai Kompas utama Kebangkitan Nasional. “Mari kita jaga kebangkitan ini dengan semangat yang sama seperti akar pohon yang menembus tanah. Perlahan tapi pasti, tak selalu terlihat namun kokoh menopang kehidupan. Karena sesungguhnya, kebangkitan yang paling kokoh adalah kebangkitan yang tumbuh perlahan, berakar dalam nilai-nilai kemanusiaan dan berbuah pada keadilan serta kesejahteraan yang dirasakan bersama,” ujar Meutya Hafid diakhir sambutannya yang dibacakan Pembina Upacara. Sumber : HM. Parlindungan Sinaga, S.Kom. (Pranata Komputer Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Merawat Kehumasan Serta Komunikasi Lebih Profesional dan Humanis

Amalia Meutia, M.Psi, Kepala Humas, Protokoler dan Promosi USU memaparkan materi tentang kehumasan Medan, 20 Mei 2025. Peran kehumasan pada satu institusi sangat penting dan krusial, karena gambaran baik buruknya institusi termasuk pemerintah, merupakan cerminan aktualisasi dari kehumasannya. Oleh karena itu Balai Besar KSDA Sumatera Utara terinspirasi untuk meningkatkan kapasitas jajarannya melalui kegiatan Rapat Koordinasi dan Penguatan Kehumasan Lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Jumat (16/5) di ruang rapat Balai besar KSDA Sumatera Utara. Kegiatan ini menampilkan narasumber praktisi kehumasan, yaitu Amalia Meutia, M.Psi. Kepala Humas, Protokoler dan Promosi Universitas Sumatera Utara (USU), dihadiri langsung Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., pejabat struktural lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara serta seluruh pegawai baik melalui off-line maupun on-line. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara berharap melalui peningkatan kapasitas ini akan memberi energi positif dalam peningkatan peran kehumasan Balai Besar KSDA Sumatera Utara agar lebih baik dan profesional lagi kedepannya. Narasumber Amalia Meutia dalam awal paparannya menerangkan peran strategis humas pemerintah tidak hanya berperan sebagai dokumenter tetapi juga penjaga narasi dan reputasi, sehingga harus berpikir strategis dan komunikatif yang mampu membaca situasi dan merancang strategi komunikasi sejak awal, memiliki kemampuan menyederhanakan pesan-pesan yang rumit dengan mengubah bahasa teknis (ilmiah) menjadi pesan yang bisa dipahami setiap orang serta menjadi perpanjangan tangan empati dimana humas tidak hanya menyampaikan data tetapi juga menyampaikan kepekaan dan kepedulian. Sederhananya menurut Amalia, kompetensi humas itu krusial karena humas adalah wajah, suara dan penjaga kepercayaan publik. Ada beberapa keterampilan teknis yang harus dimiliki oleh humas, diantaranya menulis siaran pers dan naskah narasi dengan jelas, lugas serta berdampak, kemudian berbicara dengan baik dan mengolah informasi menjadi konten visual berupa infografis, video pendek, reels atau tiktok instansi. “Humas bukan kerja individu, tapi kerja tim, untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk menyusun rencana komunikasi tahunan dan agenda media, mengolah anggaran secara efisien dan berkoordinasi lintas bidang serta mitra ekternal (media, komunitas, stakeholder),” ujar Amalia. Humas juga harus mampu mengolah krisis komunikasi, yaitu : peristiwa rumor atau informasi berasal dari internal dan eksternal, yang membawa pengaruh buruk terhadap reputasi dan dapat mengancam kelangsungan hidup atau keberadaan institusi “Terhadap krisis perlu diingat bukan hanya benar atau salah, tapi seberapa besar dampaknya terhadap opini publik. Itu sebabnya penanganannya harus cepat, tepat dan strategis. Ketika krisis terjadi maka yang dilakukan adalah mengakui dan tidak menyangkalnya, memberi respon yang cepat dengan menggelar koferensi pers, serta jangan menutup diri ataupun bungkam sebaliknya melakukan komunikasi secara terbuka ” ujar Amalia mengakhiri paparannya. Di sesi berikutnya, disajikan materi tentang Komunikasi Pelayanan Birokrasi, yang disampaikan Juliana I. Saragih, M.Psi., psikolog dan dosen USU. Juliana memaparkan komponen komunikasi yang efektif itu adalah 58 % bahasa tubuh, 35 % intonasi suara dan 7 % kata-kata. Dalam berkomunikasi yang perlu disiapkan : mengenali topik komunikasi (pembicaraan), menjabarkan isi topik tersebut, dan mengambil kesimpulan dari topik dimaksud. Juliana I. Saragih, M.Psi. narasumber tentang Komunikasi Pelayanan Birokrasi Dibahas juga peran petugas birokrasi yang merupakan wajah birokrasi, penyalur informasi dan sebagai penghubung atau jembatan antara warga dengan pemerintah, sehingga perannya menjadi penting dalam pelayanan publik. Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab tersebut harus memperhatikan prinsip : responsive (tanggap terhadap kebutuhan warga), transparan (prosedur dan aturan jelas), adil dan inklusif (tidak diskriminatif), professional (sopan, sabar, prosedural) dan akuntabel (bertanggung jawab penuh). Tantangan pelayanan yang akan dihadapi di lapangan adanya keterbatasan pemahaman dimana warga belum paham birokrasi, sikap penolakan berupa resistensi terhadap peraturan baru, akses yang terbatas sebagai konsekwensi dari wilayah terpencil dan budaya lokal, serta ekspektasi yang tidak sesuai karena masyarakat menginginkan di luar aturan. Simulasi komunikasi pelayanan birokrasi Untuk mendapatkan gambaran tentang komunikasi pelayanan birokrasi, dilakukan juga simulasi yang diperankan langsung oleh sesama pegawai bagaimana memberi pelayanan informasi kepada warga yang membutuhkan, dengan memperhatikan prinsip-prinsip kesopanan, etika dan humanis. Melalui simulasi tersebut diharapkan menjadi referensi dalam menerapkan pelayanan birokrasi sehari-hari. Kegiatan Rapat Koordinasi dan Penguatan Kehumasan lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara berakhir sudah, namun ada keinginan besar yang diharapkan dari pertemuan ini, yaitu tindak lanjut dan aplikasinya di lapangan dalam menata serta merawat kehumasan Balai Besar KSDA Sumatera Utara agar lebih baik serta profesional. Semoga saja ini dapat diwujudkan. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Modal Dasar Menuju Kegiatan dan Anggaran BBKSDA Sumut 2025

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara didampingi Kepala Bagian Tata Usaha saat pembukaan Rapat Koordinasi Medan, 19 Mei 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menggelar rapat koordinasi pelaksanaan kegiatan dan anggaran tahun 2025 yang dilakukan di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Kamis (15/5). Rapat ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., dihadiri pejabat struktural serta pegawai lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara baik secara off-line maupun on-line. Di awal rapat, disampaikan paparan tentang Evaluasi Sistem Pengelolaan Keuangan dan POK oleh Tim keuangan dan Program, yang disampaikan oleh Yasinta Pritama, S.E., M.Si., menjelaskan tentang siklus pengelolaan keuangan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dimulai dari penganggaran, kemudian berlanjut ke pelaksanaan anggaran dan diakhiri dengan pelaporan serta pertanggung jawaban anggaran. Usai pemaparan dan diskusi, dilanjutkan paparan materi dari narasumber KPPN II Medan pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Riswanto Sembiring, Kepala Seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal, tentang Evaluasi IKPA Satker BBKSDA Sumut. Narasumber menjelaskan bahwa Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) ditetapkan berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : PER-5/PB/2024 tentang Petunjuk Teknis Penilaian Kinerja Pelaksanaan Anggaran Tahun 2024. Riswanto Sembiring narasumber dari KPPN II Medan Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh KPPN II Medan, capaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Balai Besar KSDA Sumatera Utara sampai dengan bulan April 2025, nilai akhir yang diperoleh sebesar 97,26 dan ini masuk dalam kategori Sangat Baik. Riswanto Sembiring dalam paparannya juga menjelaskan tentang Indikator Revisi DIPA yang digunakan untuk mengukur kualitas perencanaan anggaran kementerian negara/lembaga/ unit eselon I/satuan kerja (satker) yang dihitung berdasarkan frekwensi revisi DIPA dalam rentang semesteran dan tidak bersifat kumulatif. Revisi yang diperhitungkan adalah 14 jenis revisi pagu tetap yang disahkan oleh Kementerian Keuangan yang tidak mengakibatkan perubahan pagu di satuan kerja. Usai penjelasan tentang Evaluasi IKPA Satker BBKSDA Sumut, dilanjutkan dengan Sosialisasi digital payment masih oleh Riswanto Sembiring didampingi stafnya Nurul Sakinah, yang membahas tentang Cashless Society. Sejatinya Cashless Society sudah dilakukan sejak tahun 2019 dengan menerapkan penggunaan virtual account, kartu kredit pemerintah (KKP) dan digipay. Nurul Sakinah, staf KPPN II Medan ikut memberi penjelasan Virtual Account mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 183/PMK.05/2019 tentang Pengelolaan Rekening Pengeluaran Milik Kementerian Negara/Lembaga. Sedangkan Kartu Kredit Pemerintah mengacu kepada Peratauran Menteri Keuangan Nomor : 196/PMK.05/2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 196/PMK.05/2018 tentang Tata cara Pembayaran dan Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah. Dan Digipay diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : PER-7/pb/2022 tentang Penggunaan Uang Persediaan Melalui Digipay Pada Satuan Kerja Kementerian Negara/Lembaga Selain itu diperkenalkan juga CMS (Cash Management System) yaitu sistim aplikasi dan informasi saldo, transfer antar rekening pembayaran penerimaan negara dan utilitas, maupun fasilitas-fasilitas lain dalam pelaksanaan transaksi perbankan secara realtime online. CMS merupakan fitur yang wajib disediakan oleh bank dari pembukaan VA pengeluaran (PMK 183/2019 Pasal 9 ayat (4). CMS bersama dengan kartu debit dan KKP mendoron Cashless society khususnya di lingkup pemerintahan. Manfaat yang didapatkan dari CMS ini adalah : transaksi dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, mengurangi resiko keamanan penggunaan uang tunai, mengurangi peluang terjadinya moral hazard dan memudahkan monitor dan pelaporan transaksi keuangan. Dengan pembekalan serta pencerahan yang diberikan oleh narasumber berkompeten dari KPPN II Medan, diharapkan menjadi modal dasar dalam melaksanakan kegiatan dan anggaran 2025 di lingkup Balai besar KSDA Sumatera Utara. Seluruh peserta mendapatkan pemahaman sebagai bekal sehingga apa yang direncanakan dapat direalisasikan dengan baik dan benar. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Edukasi Konservasi Orangutan Menyasar Mahasiswa

Padangsidimpuan, 19 Mei 2025. Ajang kolaborasi satu panggung Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan yang bersinergi bersama mitra NGO Center For Orangutan Protection (COP) semakin intens, seperti kegiatan kuliah umum yang baru-baru ini dilaksanakan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS), tepatnya pada Kamis, (8/5) Hadir dalam Kuliah Umum yang pertama kali dilakukan untuk mengedukasi generasi muda, khususnya dari kalangan mahasiswa, antara lain Muhammad Darwis M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan, Ketua Program Studi Biologi Jalilah Azizah, M.Pd, kemudian Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan Susilo Ari Wibowo, S.Hut., M.Sc serta Tim Center For Orangutan Protection (COP). Kuliah umum ini mengusung tema “Konservasi Orangutan” Dalam sambutannya Rektor UMTS menyampaikan pentingnya Mahasiswa UMTS khususnya Program Studi Biologi memahami fungsi hutan sebagai salah satu habitat satwa liar terutama Orangutan dan upaya pelestariannya mengingat kampus UMTS dan mahasiswanya banyak berasal dari daerah habitat Orangutan. Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan Susilo Ari Wibowo, S.Hut.,M.Sc., sebagai pembicara dalam kuliah Umum tersebut memperkenalkan Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan sebagai salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang bertugas sebagai otoritas pengelola keanekaragaman hayati perpanjangan tangan Kementerian Kehutanan di tingkat tapak. Susilo Ari Wibowo juga menyampaikan pesan moral kepada mahasiswa sebagai generasi muda aktor perubahan, agar memiliki komitmen dan berkontribusi dalam menjaga dan melestarikan kawasan hutan, keanekaragaman hayati baik di dalam maupun di luar kawasan hutan (areal preservasi) sesuai amanat UU Nomor 32 Tahun 2024 yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi ekologisnya guna mendukung fungsi penyangga kehidupan dan kelangsungan hidup sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Juga diharapkan ikut berperanserta dalam upaya konservasi Orangutan khususnya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang merupakan satwa kunci, dengan status diambang kepunahan jika tidak segera dilestarikan. Selain itu mahasiswa Biologi diajak untuk mengimplementasikan ilmu yang ditimba selama di bangku kuliah dalam bentuk karya nyata, seperti aktif dalam upaya pelestarian sumber daya alam hayati, keragaman spesies dan genetik. Dalam kesempatan yang sama mitra NGO Center For Orangutan Protection (COP) selain menyampaikan materi kuliah “Konservasi Orangutan” juga mengajak mahasiswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok membahas isu-isu peredaran dan penyalahgunaan satwa, hal ini bertujuan untuk membuka wawasan mahasiswa agar memiliki pengetahuan, pemahaman dan mampu membedakan perilaku yang salah dalam memperlakukan satwa. Strategi eduksi melalui kuliah umum secara kolaborasi antara Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, mitra COP, civitas akademik dan mahasiswa ini merupakan bentuk aksi perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya secara simultan pada setiap komponen, baik di tingkat genetik, spesies maupun ekosistem karena sudah mencakup pihak-pihak yang berwenang dalam pengamanan terhadap tindak kejahatan sumber daya alam hayati. Selain itu juga tindakan pengelolaan keanekaragaman hayati untuk mencegah terjadinya kerusakan, kehilangan maupun kepunahan, khususnya terhadap satwa Orangutan. Sebagaimana diketahui Orangutan merupakan salah satu satwa dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/ SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Kegiatan edukasi akan terus digiatkan dengan menyasar seluruh elemen masyarakat, guna mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya menyelamatkan dan melestarikan satwa endemik dan satwa kunci kebanggaan Sumatera Utara Orangutan Tapanuli. Sumber : Irwan Hanfi, S.Hut., M.M. (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

SMART PATROL Perairan TN Taka Bonerate: Pantau Illegal Fishing dan Kesehatan Terumbu Karang

Jinato, 19 Mei 2025 – Personil Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato, Balai Taman Nasional Taka Bonerate kembali menunjukkan komitmen dalam menjaga kelestarian kawasan perairan Taman Nasional Taka Bonerate. Selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (17-18 Mei 2025), tim melakukan Smart Patrol menggunakan Kapal Motor (KM) Manggala Tirta II. Rute Patroli dan Hasil Pemantauan Tim menyusuri sejumlah titik strategis, mulai dari Perairan Jinato, Taka Lantigiang, Taka Rajuni, hingga Spot Dive Ibel Orange. Tak ketinggalan, wilayah seperti Bunging Tinabo, Taka Tumbor, dan Taka Sepe juga menjadi fokus patroli. Hasilnya? Kabar baik. Tidak ditemukan aktivitas destructive dan illegal fishing atau pelanggaran lain yang terdeteksi. Namun, tim mencatat sejumlah aktivitas nelayan yang berkegiatan di kawasan, seperti kapal pancing tonda, ulur, gurita, hingga bagan. Di Taka Sepe, tim melakukan pemeriksaan mendetail terhadap lima kapal. "Semua dokumen lengkap," jelas Sandi salah satu personil. Kapal-kapal tersebut berasal dari Polassi, Kayuadi, dan Galessong, dengan alat tangkap beragam, mulai dari bubu hingga jaring lanra. Kehidupan Laut yang Masih Bersahabat Selain memantau aktivitas manusia, tim juga mencatat kehadiran satwa laut. Seekor burung dara laut terlihat di Perairan Tinabo, sementara tiga ekor lainnya dijumpai di Taka Sepe. Waspada Pemutihan Karang Merespons laporan kenaikan suhu air laut, tim tak hanya berpatroli di permukaan. Mereka turun ke bawah laut di Spot Dive Ibel Orange untuk memeriksa kondisi terumbu karang. Hasilnya, suhu air masih stabil di 29°C—masih dalam batas normal. Namun, dua koloni karang terlihat mengalami pemutihan. Kabar gembiranya, ikan Napoleon, salah satu spesies dilindungi, masih bisa dijumpai di lokasi tersebut. Tindak Lanjut Tim berencana meningkatkan frekuensi patroli dengan pelibatan masyarakat, terutama di titik-titik rawan. "Kami juga akan berkoordinasi dengan nelayan setempat untuk memastikan praktik penangkapan ikan tetap ramah lingkungan," pungkas Kepala Balai, William Tengker. Ini dilakukan dengan harapan untuk menjaga keindahan dan kelestarian Taman Nasional Taka Bonerate. Sumberl: Resor Lantigiang Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilaah II Jinato - Balai Taman Nasional Taka Bonerate Editor : AsriTo' - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Adendum PKS BBKSDA Sumut dan YPBMM Disepakati

Usai penandatanganan Adendum PKS Medan, 14 Mei 2025. Setelah terbitnya Memorandum Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : M.44/KSDAE/ PK/KSA.01/4/2025 tanggal 30 April 2025 Hal Permohonan Persetujuan Adendum Perjanjian Kerja Sama antara Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan Yayasan Persamuhan Bodhicitta Mandala Medan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara pun kemudian menindaklanjutinya dengan menggelar rapat pembahasan Adendum PKS dimaksud, pada Jumat (9/5), bertempat di Kantor YPBMM Jl. Selam No. 23 Medan. Rapat dihadiri Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., Ketua Pembina YPBMM Kuslan Nyanaprathama, Kepala Bidang Teknis Ir. Bresman Marpaung, Kepala Bagian Tata Usaha Andar Abdi Saragih, S.Pd., M.Si., Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Elfina Rosinta Dewi, S.Hut., M.IL., staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan melalui zoom meeting hadir dari Direktorat Perencanaan Konservasi serta Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik. Perjanjian Kerja Sama sebelumnya tertuang di surat Nomor: PKS.4469/K.3/TU/PK/9/2021 dan Nomor: 080/YPBMM/IX/2021 tanggal 14 September 2024 tentang Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Ada beberapa pasal yang di Adendum dari PKS tersebut, diantaranya perubahan judul yang sebelumnya Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara kemudian berubah menjadi : Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Pengembangan Konservasi Gajah Jinak di Aek Nauli Elephant Conservation Camp. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara memimpin rapat pembahasan Adendum PKS Selanjutnya Tujuan Kerja Sama (Pasal 1) dari yang semula adalah dalam rangka mendukung PIHAK KESATU meningkatan kapasitas dan peran serta berbagai pihak terkait Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun Dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat Di Bidang KSDA Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menjadi dalam rangka mendukung PIHAK KESATU dalam meningkatan kapasitas dan peran serta berbagai pihak terkait Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun Dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat Di Bidang KSDA Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Pengembangan Konservasi Gajah Jinak di Aek Nauli Elephant Conservation Camp. Bagian lain yang di Adendum yaitu pasal-pasal yang mengatur tentang Ruang Lingkup PKS, Letak Area Kerja Sama dan Ketentuan Tambahan. Dalam pembahasan Adendum tersebut turut memberikan masukan dan saran dari Direktorat Perencanaan Konservasi serta Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik. Usai pembahasan Adendum PKS dilanjutkan dengan pembahasan RPP. Ketua Pembina YPBMM memberikan tanggapan terhadap pembahasan Adendum PKS Rapat pembahasan Adendum PKS berjalan dengan baik dilandasi semangat bersama untuk melaksanakan dan merealisasikan apa yang telah disepakati dan dituangkan dalam perjanjian kerja sama. Di akhir rapat dilakukan penandatanganan Adendum Perjanjian Kerja Sama oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env. dan Ketua Pembina YPBMM Kuslan Nyanaprathama. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pohon Aren Menjadi Saksi Cinta Sejati

Pengantin yang berbahagia Nagori Purba Tongah, 14 Mei 2025. Jumat, 9 Mei 2025, menjadi hari sangat spesial bagi pasangan Eko Rahmadi dan Triani yang menjalani Akad Nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purba. Hari itu, kedua pengantin ini menerima hadiah bibit pohon Aren dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resor Cagar Alam (CA) Martelu Purba pada Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran. Bibit pohon Aren menjadi saksi dari cinta sejati dua anak manusia yang berikrar untuk membentuk mahligai rumah tangga. Senyum bahagia terpancar dari wajah Triani, warga Nagori Tongah, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun yang merupakan buffer zone kawasan CA. Martelu Purba, dan Eko Rahmadi, warga Desa Cikampak, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, tidak jauh dari kawasan TWA. Holiday Resor, saat menerima kado spesial ini yang diserahkan langsung Kepala Resor CA. Martelu Purba Alharis Ruhidi, S.P., M.Si. dan Kepala KUA Kecamatan Purba Jumono S.Ag., disaksikan Penyuluh Agama Eko Putra Sari (yang juga anggota Masyarakat Mitra Polhut Nagori Purba Tongah) serta keluarga kedua belah pihak. Pesan-pesan dan bimbingan nikah yang disampaikan Kepala Resor CA. Martelu Purba baik kepada pengantin, keluarga pengantin maupun masyarakat yang hadir, menekankan bahwa perubahan iklim yang terjadi antara lain berdampak pada terjadinya pemanasan global yang memaksa kita untuk berupaya Menghijaukan Bumi (Green Earth) dan Membirukan Langit (Blue Sky) sehingga terwujud kesejukan dan udara bersih. Ini dapat dilakukan antara lain dengan upaya penanaman pohon aren (Arenisasi). Pasangan pengantin menerima bibit pohon Aren dari Kepala Resort CA. Martelu Purba dan Kepala KUA Kecamatan Purba Aren (Arenga pinnata), yang dikenal juga dengan nama lain Enau, merupakan pohon kehidupan yang memiliki aneka ragam manfaat, seperti : air niranya, buah kolang kalingnya, serat ijuknya, dan tulang daunnya, sehingga dikenal sebagai MPTS (Multi Purpuse Tree Species). Salah satu potensi keanekaragaman hayati (biodiversity) di Cagar Alam Martelu Purba adalah tumbuhan aren, yang hampir bisa dijumpai pada seluruh bagian kawasan, dan bahkan sudah sebagai sumber bibit. Presiden RI Prabowo Subianto, dalam rangka swasembada pangan dan energi telah menargetkan 2 juta lahan hutan aren untuk bahan baku energi alternatif non fosil berupa bioethanol, dengan demikian bisa menutupi ketergantungan impor energi berbahan baku fosil. Tahun 2025, Presiden melalui Kementerian Kehutanan mencanangkan gerakan penanaman aren seluas 300.000 hektar lahan. Saat ini Resort CA. Martelu Purba menginisiasi pengembangan demplot mini budidaya pembibitan Aren endemik Cagar Alam Martelu Purba. Kedepan program pemberian bibit pohon Aren kepada pengantin akan terus digalakkan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat melalui rumah-rumah ibadah, seperti gereja, masjid, dan lain-lain. Pemberian pohon sebagai bagian dari rangkaian pernikahan memiliki makna simbolis dan bermanfaat. Pohon mencerminkan berbagai karakter diantaranya : mengakar kuat (bila cinta menjadi akarnya, maka fondasi pernikahan akan kuat dan diberkati), mandiri, tangguh dan umur panjang. Selain itu juga menjadi simbol komitmen kepada lingkungan. Ekspektasinya melalui program pemberian bibit pohon Aren oleh Resort CA. Martelu Purba dapat meningkatkan kesadaran maupun kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan alam, serta dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya bagi pengantin yang merawat pohon tersebut dengan baik. Akhirnya, Selamat buat pasangan Eko Rahmadi dan Triani, semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warahmah. Salam lestari ….. Sumber : Alharis Ruhidi, S.P., M.Si. (Analis Konservasi Kawasan/Kepala Resor CA. Martelu Purba) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Ada Lebih dari 200 Jenis Burung Migran Singgah di Indonesia

Kediri, 10 Mei 2025. Saat musim dingin di belahan Bumi utara dimulai, burung-burung akan bersiap menjelajah belahan bumi lainnya yang beriklim tropis untuk mencari makan yang disebut dengan migrasi datang atau autumn. Tujuan utamanya adalah bertahan hidup. Begitu pula sebaliknya, saat musim dingin selesai, mereka akan kembali ke daerah asalnya untuk berkembang biak yang disebut migrasi balik atau spring. Mereka akan melewati Samudra dan benua. Pengembaraan ini dilakukan oleh beragam jenis burung, mulai dari burung yang hidupnya di lantai hutan seperti Paok, jenis yang hidup di pantai seperti trinil-trinilan, jenis yang hidup di laut seperti dara-laut. Hingga jenis yang menguasai angkasa seperti Sikep-madu Asia. Perjalanan dari lokasi berbiak ke lokasi tujuan atau wintering terjadi pada bulan September sampai November. Burung-burung akan tiba di belahan Bumi Selatan atau tempat mencari makan pada bulan November sampai dengan Maret, selanjutnya mereka akan kembali ke tempat asalnya untuk berbiak. Burung migran menggunakan medan magnet bumi, posisi bintang dan matahari, serta bentang alam sebagai penunjuk jalan mereka. Selama perjalanan, burung-burung pengembara tersebut harus dapat melewati beragam rintangan mulai dari cuaca sampai perburuan. Perjalanan yang sangat jauh ini juga dapat mengakibatkan kelelahan hingga kematian bagi sang burung. Indonesia menjadi salah satu negara tropis yang disinggahi oleh burung-burung migran dengan jalur terbang Asia Timur – Australasia atau EAAF (East Asian – Australasian Flyway). Jalur ini memiliki luas area sekitar 85 juta km 2 yang mencakup 22 negara. Dari 500 jenis burung yang melewati jalur terbang tersebut, lebih dari 200 jenis burung migran istirahat dan mencari makan di seluruh habitat di negeri kita tercinta ini. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan telah membuat peraturan perundangan untuk melindungi sebagian burung-burung migran dan mengajak para pihak untuk bersama-sama dalam upaya konservasinya melalui KNKBBH (Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur diberikan amanah sebagai koordinator pulau Jawa dalam kemitraan tersebut. Beragam kegiatan seperti monitoring burung migran dan kampanye pelestariannya telah dilakukan. Salah satu kegiatan monitoring burung migran dilindungi yang dilakukan adalah monitoring terik asia Glareola maldivarum di lahan pertanian dan perkotaan di Kabupaten Tulungagung dan Kediri. Ribuan hingga puluhan ribu individu terik asia dapat mencari makan dengan baik di lokasi tersebut. Bahkan lebih dari empat ribu individu bertahan selama dua minggu di lahan pertanian Kabupaten Tulungagung. Mereka telah bersahabat dengan para petani. Fenomena tahunan ini diperingati oleh seluruh dunia sebagai “Hari Burung Migran Sedunia” atau WMBD (World Migratori Bird Day). Hari istimewa bagi burung migran ini dilaksanakan setiap minggu kedua pada bulan Mei dan Oktober. Tema tahun ini adalah “Shared Spaces: Creating Bird-Friendly Cities and Communities” atau “Berbagi ruang dengan menciptakan kota dan komunitas yang ramah bagi burung”. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra, Polhut Ahli Pertama pada SKW I Kediri – BBKSDA Jatim
Baca Artikel

Persiapan Uji Coba Pesawat Amfibi Seaplane di Makassar: Langkah Awal Tingkatkan Konektivitas Wisata Sulsel

Makassar, 10 Mei 2025 — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) bersama instansi terkait bersinergi mempersiapkan uji coba operasional pesawat amfibi seaplane sebagai upaya meningkatkan konektivitas transportasi wisata di wilayah kepulauan. Pertemuan persiapan digelar Jumat (9/5) di Aula Mataram, Lantai 1 Kantor KSOP Utama Makassar, Jl. Satando No.55, dengan melibatkan akademisi, pejabat daerah, dan perwakilan instansi maritim serta pariwisata. Kepala Balai TN Taka Bonerate, Bapak William Tengker, S.H., M.Hum, hadir didampingi Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Koordinator Polhut, dan mitra Wildlife Conservation Society (WCS). Agenda utama membahas rencana demo pendaratan, lepas landas, manuver, dan sandar seaplane di perairan Dermaga Pelabuhan Utama Makassar. Dukungan dari Kepala Balai TN Taka Bonerate Kepala Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate, Bapak William Tengker, S.H., M.Hum, yang turut hadir dalam pertemuan, menyambut positif rencana pengoperasian seaplane. "Ini adalah momentum penting untuk mempercepat aksesibilitas ke Taka Bonerate tanpa mengabaikan prinsip konservasi. Kami berharap seaplane tidak hanya menjadi penghubung wisata, tetapi juga mendukung pemantauan ekosistem laut dan edukasi lingkungan," ujarnya. Taka Bonerate: Gerbang Wisata Internasional Dalam sambutan tertulis Gubernur Sulsel yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan, Andi Muhammad Yasir, ditekankan bahwa seaplane akan difokuskan untuk melayani kawasan Taka Bonerate di Kepulauan Selayar. “Atol terbesar ketiga di dunia ini akan menjadi gerbang internasional. Seaplane adalah solusi transportasi yang dinanti untuk mengatasi keterbatasan akses menuju destinasi wisata unggulan ini,” ujarnya. Yasir berharap persiapan ini menghasilkan rencana matang dan terkoordinasi, mengingat proyek ini vital bagi pengembangan pariwisata Sulsel. Paparan KSOP Makassar oleh Kepala Bidang Lalu Lintas Perhubungan Laut, Libertinus, menguraikan integrasi rute seaplane dengan ekosistem transportasi laut seperti Tol Laut. “Konektivitas ini akan mempercepat distribusi logistik sekaligus membuka akses wisata ke daerah terpencil,” jelasnya. Rencana rute mencakup lintasan strategis yang menghubungkan Makassar dengan kabupaten kepulauan seperti Selayar, Bulukumba, dan Sinjai. Dukungan Penuh dari Bupati dan Instansi Kepala KSOP Capt. Sahattua P Simatupang, M.M., M.H., CGCAE, menegaskan uji coba ini adalah langkah awal merealisasikan potensi wisata Sulsel. “Selama ini, kendala aksesibilitas ke Selayar dan Taka Bonerate menghambat pertumbuhan wisata. Seaplane akan menjadi terobosan untuk menjawab tantangan itu,” tegasnya. Pertemuan ini dihadiri empat bupati: Bulukumba, Selayar, Pangkep, dan Sinjai, serta perwakilan Dinas Pariwisata dan Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP). Kolaborasi multisektor ini diharapkan tak hanya memuluskan uji coba, tetapi juga membuka investasi baru di sektor transportasi dan pariwisata. Dengan dukungan akademisi dan lembaga konservasi proyek seaplane diharapkan berjalan berkelanjutan, memadukan kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Sumber: Agusriadi - Koordinator Polhut Balai TN Taka Bonerate Editor : Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Membumikan Orangutan Tapanuli Di Momen Hardiknas 2025

Sipirok, 9 Mei 2025. Setelah sukses menggelar kegiatan edukasi konservasi kepada pelajar di beberapa sekolah di Kota Pinang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, pada Kamis (17/4) yang lalu, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V Sipirok pada Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan Bersama dengan lembaga mitra kerjasama Centre for Orangutan Protection (COP) kembali menggelar giat edukasi konservasi ke beberapa sekolah di Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kali ini SMK Negeri 1 Arse dan SD Negeri 100403 Arse Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan yang pertama kali dikunjungi, pada Selasa (6/5). Di SMK Negeri 1 Arse kegiatan diikuti oleh 30 orang peserta dan di SDN 100403 Arse diikuti oleh 50 orang peserta dan seluruhnya didampingi oleh guru pendamping. Di kedua sekolah tersebut diberikan pengetahuan dan informasi tentang pengenalan beberapa satwa liar yang dilindungi, diantaranya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Sumatera Utara punya keunikan tersendiri, karena memiliki 2 jenis Orangutan yang hidup dan berkembang biak (endemik) Sumatera Utara, yaitu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Tapanuli. Keduanya juga merupakan satwa kunci bersama dengan beberapa satwa liar lainnya, seperti Harimau Sumatera dan Gajah. Khusus Orangutan Tapanuli teridentifikasi sebagai spesies baru pada tahun 2017, dan penemuan ini diumumkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada bulan November 2017. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan perbedaan genetik antara Orangutan Tapanuli dengan Orangutan Sumatera dan Orangutan Kalimantan. Kepada peserta juga diuraikan tentang ciri-ciri fisik, perilaku, habitat, populasi serta arti penting keberadaan satwa ini dalam ekosistem kawasan. Saat ini satwa liar yang hidup di kawasan Ekosistem Batang Toru berada pada status sangat terancam punah (Critically Endangered) sehingga perlu upaya perlindungan agar tetap lestari. Salah satu upaya untuk menyelamatkannya adalah melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi terutama kepada generasi muda. Kegiatan edukasi dilanjut ke Sekolah MTs Negeri 1 Tapanuli Selatan, Desa Sialagundi, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan dan SD Negeri 100410 Arse, pada Kamis (8/5), dengan materi dan pembahasan yang sama. Edukasi konservasi ini juga merupakan rangkaian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2025, yang mengusung tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua”, yang menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam mewujudkan pendidikan berkualitas bagi seluruh masyarakat. Tema ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk bekerja sama dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Semua kegiatan berjalan dengan lancar, pihak sekolah yang dikunjungi menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara serta Centre for Orangutan Protection (COP) atas kegiatan yang positif ini dan berharap ada kegiatan lanjutan secara rutin. Sumber : Tim Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Peringati Hari Bumi Sedunia: Penanaman Pohon dan Rehabilitasi Kawasan SM Asam-Asam

Tanah Laut, 6 Mei 2025 – Memperingati Hari Bumi Sedunia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan melalui Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari melaksanakan kegiatan penanaman dan rehabilitasi kawasan di Suaka Margasatwa Asam-Asam, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk memulihkan kawasan hutan yang mengalami kerusakan dan degradasi, serta sebagai bagian dari upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Kurang lebih sebanyak 1.000 bibit pohon ditanam di area yang telah teridentifikasi sebagai lahan kritis. Beberapa jenis bibit pohon yang ditanam antara lain : Belangeran (Shorea balangeran), Pulai (Alstonia scholaris), Gelam (Melaleuca leucadendron), Ketapang (Terminalia catappa), Kasturi (Mangifera casturi) dan beberapa spesies lokal lainnya. Jenis-jenis ini dipilih karena memiliki nilai ekologis tinggi, mendukung restorasi ekosistem dan berpotensi sebagai pakan satwa liar. Kegiatan ini dihadiri beberapa instansi dan mitra BKSDA Kalimantan Selatan, antara lain: Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (KPH Tanah Laut), TNI/POLRI, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kab. Tanah Laut, Daops. Manggala Agni Kalimantan VI/Tanah Laut, Politeknik Negeri Tanah Laut, Forkopimcam Jorong, Desa penyangga sekitar kawasan SM Asam-Asam dan Mitra Swasta yang ada di sekitar kawasan SM Asam-Asam. Dalam sambutannya, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari, Bapak Agus Erwan yang hadir mewakili kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan menyampaikan bahwa kegiatan penanaman ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan bersama dalam menjaga kawasan konservasi dan memperbaiki fungsi ekologis habitat satwa liar. “Kami ingin memastikan bahwa peringatan Hari Bumi tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi langkah nyata dalam upaya pemulihan ekosistem. Rehabilitasi kawasan konservasi seperti SM Asam-Asam merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang pelestarian keanekaragaman hayati,” ujar Bapak Agus Erwan. “Kegiatan penanaman ini merupakan momentum penting untuk menegaskan kembali komitmen kita terhadap bumi. Untuk menjaga kelestarian kawasan SM Asam-Asam kami tidak bisa sendiri, kami juga membutuhkan dukungan dari Bapak dan Ibu sekalian. Rehabilitasi ini tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan akan masa depan yang lebih hijau dan sehat,” tutupnya. Selain penanaman pohon, kegiatan juga diisi dengan penyerahan plakat penghargaan kepada Mitra BKSDA Kalimantan Selatan atas dukungannya dalam upaya rehabilitasi kawasan SM Asam-Asam. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sarasehan yang diisi diskusi tentang pentingnya konservasi hutan dan satwa liar. Melalui kegiatan ini, BKSDA Kalimantan Selatan berharap upaya pemulihan ekosistem di Suaka Margasatwa Asam-Asam dapat berjalan optimal dan berkelanjutan, serta melibatkan lebih banyak partisipasi masyarakat di masa mendatang. (Ryn) Sumber: Badrul Arifin, S.Hut - PEH SKW I Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Tingkatkan Pengelolaan Kawasan dan Wisata di Taka Bonerate: Strategi Baru Digodok dalam Rapat Penting

Benteng - Kepulauan Selayar, 9 Mei 2025. Kawasan Taman Nasional (TN) Taka Bonerate siap menghadapi transformasi pengelolaan dan pengembangan wisata! Dalam rapat strategis yang digelar baru-baru ini, seluruh pimpinan wilayah hadir untuk membahas langkah-langkah konkret guna meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan serta mendongkrak kunjungan wisata, khususnya di Resor Tinabo. Rapat ini dihadiri langsung oleh Kepala Balai TN Taka Bonerate beserta jajaran pimpinan, termasuk Ka. Sub Bag TU, Ka. SPTN Wilayah 1 Tarupa, dan Ka. SPTN Wilayah 2 Jinato. Setiap perwakilan resor memaparkan kondisi terkini wilayahnya, mulai dari profil resor, jumlah anggota, potensi kawasan, hingga tantangan yang dihadapi di lapangan (06/05). Salah satu sorotan utama adalah pentingnya kelengkapan data gangguan kawasan. "Data yang akurat dan terupdate sangat krusial untuk menyusun strategi penanganan yang tepat," tegas Kepala Balai William Dodie Taulu Tengker. Selain itu, sektor wisata juga menjadi fokus utama, dengan upaya peningkatan kunjungan wisatawan, terutama di Pos Jaga Resor Tinabo yang memiliki potensi besar. Dengan langkah ini, TN Taka Bonerate berkomitmen untuk memperkuat pengawasan dan perlindungan kawasan sekaligus memaksimalkan potensi ekowisata. Masyarakat dan pelaku wisata dapat menantikan pengalaman berkunjung yang lebih baik, didukung oleh tata kelola kawasan yang lebih profesional dan berkelanjutan. Bagi Anda yang peduli terhadap kelestarian Taka Bonerate atau ingin berkontribusi dalam pengembangan wisata, saatnya terlibat! Dukung upaya pelestarian dengan mematuhi aturan kawasan dan sebarkan pesan wisata yang bertanggung jawab. Kunjungi Resor Tinabo dan nikmati keindahan alam yang memesona sambil mendukung ekonomi lokal! Segera saksikan perubahan positif di Taka Bonerate – bersama kita wujudkan pengelolaan kawasan yang lebih baik dan wisata yang berkembang!
Baca Artikel

Sinergi TN Taka Bonerate & Pemda Selayar: Kolaborasi Wujudkan Pariwisata & Perikanan Berkelanjutan

Benteng, Kepulauan Selayar, 08 Mei 2025 – Beberapa hari lalu, Rumah Jabatan Bupati Kepulauan Selayar menjadi saksinya sebuah meeting of minds yang menjanjikan masa depan lebih baik untuk Taman Nasional Taka Bonerate. Kepala Balai TN Taka Bonerate, Bapak William Dodie Taulu Tengker, S.H., M.Hum., beserta jajarannya bersilaturahim dengan Bupati Selayar, H. Muhammad Natsir Ali, didampingi mitra strategis seperti WCS-IP dan HNSI Selayar. Pertemuan ini bukan sekadar formalitas, melainkan starting point kolaborasi nyata antara konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Dari Sambutan Hangat ke Aksi Nyata Bupati Natsir Ali menyambut hangat kedatangan rombongan, menegaskan komitmennya untuk bersinergi. “Potensi perikanan dan pariwisata di Taka Bonerate adalah hidden gem yang harus dikelola secara bertanggung jawab,” ujarnya. Apalagi, beliau sangat antusias mendukung rencana pembangunan check point di kawasan TN untuk memastikan tata kelola perikanan berkelanjutan. “Ini harus segera direalisasikan,” tegasnya. William Dodie, dalam kesempatan itu, menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemda. “Sinergi antara Balai TN dan Pemda Selayar adalah kunci. Dari sektor pariwisata hingga perikanan, kita bisa ciptakan model pengelolaan yang inclusive dan berkelanjutan,” paparnya. Kenapa Kolaborasi Ini Penting? Taka Bonerate bukan cuma tentang keindahan bawah laut atau hamparan atol terbesar ketiga di dunia. Kawasan ini adalah living lab dimana ekosistem, ekonomi, dan masyarakat harus seimbang. Dengan check point perikanan, misalnya, kita bisa: Dengan semangat gotong royong, targetnya jelas: Selayar maju, TN Taka Bonerate terjaga, masyarakat sejahtera. Sumber: Andi Firman Ali Safaat - Humas Balai TN Taka Bonerate Editor : Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Sungai Maro dan Kehidupan Yang Mengalir

Bentang Alam Sungai Maro (Foto : Anugrah Dwi Widyanto A.Md) Merauke, 8 Mei 2025. Di ujung timur Nusantara, tepatnya di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, mengalir sebuah sungai yang memiliki peran sangat penting bagi masyarakat setempat dan ekosistem sekitarnya. Sungai Maro atau yang lebih dikenal dengan nama Kali Maro merupakan aliran air besar yang membentang dari perbatasan timur laut dengan Papua Nugini hingga bermuara langsung ke Laut Arafura. Sungai ini bukan hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga sebagai sumber kehidupan, sejarah, dan identitas budaya yang melekat kuat bagi masyarakat. Sungai Maro memiliki panjang aliran yang luas dan lingkungan yang masih relatif alami, menjadikannya salah satu ekosistem air tawar yang kaya dan vital di Papua Selatan. Selain menyediakan habitat alami bagi ribuan makhluk hidup, Sungai Maro juga berperan sebagai penyangga utama ekosistem yang mendukung kelangsungan berbagai spesies. Di antara kekayaan hayati ini, siluk irian (Scleropages jardini) ikan endemik Papua yang memiliki nilai ekologis dan menjadi salah satu spesies yang paling mencolok. Siluk Irian Teridentifikasi di Wilayah Sungai Maro (Foto : Muhammad Yunus, S.AP) Bagi masyarakat adat dan penduduk setempat, Sungai Maro lebih dari sekadar bentang alam, ia adalah sumber kehidupan yang tak terpisahkan dari keseharian. Aktivitas tradisional seperti menjala, memancing, dan menangkap ikan telah menjadi bagian dari budaya yang terus hidup. Aktifitas Masyarakat sekitar Sungai Maro (Foto : Anugrah Dwi Widyanto A.Md) Hubungan yang erat dengan Sungai Maro memperkuat identitas budaya masyarakat setempat dimana setiap generasi belajar untuk menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan penuh rasa hormat, menjadikan sungai ini sebagai simbol kehidupan dan keberlanjutan budaya yang terus tumbuh dalam harmoni dengan alam. Bagi mereka, Sungai Maro adalah bagian dari kehidupan yang harus dilestarikan, bukan hanya untuk keberlanjutan ekonomi, tetapi juga untuk menjaga kelangsungan kearifan yang telah ada sejak lama. Keunikan geografis Sungai Maro juga membuatnya memiliki peran penting dalam konservasi alam. Sungai ini berfungsi sebagai batas alam antara Taman Nasional Wasur dan kawasan pemukiman penduduk. Sebagai penghubung antara habitat alami dan kawasan konservasi, Sungai Maro berperan penting dalam menjaga integritas taman nasional dari intrusi dan perambahan. Akses yang sulit menyusuri aliran Sungai Maro secara tidak langsung membantu menjaga ekosistem tetap lestari dan mengurangi aktivitas yang berlebihan. Landscape Sungai Maro dari Foto Udara (Foto : Anugrah Dwi Widyanto A.Md) Meski terlihat utuh, Sungai Maro kini menghadapi beragam ancaman yang dapat merusak keseimbangan ekosistemnya, mulai dari pencemaran air yang berasal dari limbah rumah tangga, dan perubahan tata guna lahan, serta potensi pembangunan infrastruktur yang tidak berwawasan lingkungan dimana menjadi tantangan bagi kelestarian sungai dan kehidupan masyarakat disekitarnya. Melihat betapa pentingnya peran Sungai Maro bagi kehidupan, budaya, dan kelestarian alam di wilayah Merauke, sudah sepatutnya kita semua bersama-sama menjaga dan merawatnya. Ekosistem Sungai Maro bukan hanya warisan alam yang tak ternilai, tetapi juga fondasi kehidupan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Mari kita tingkatkan kepedulian, mulai dari hal kecil seperti tidak membuang sampah ke sungai, mendukung kebijakan pelestarian, hingga menghormati kearifan lokal yang telah menjaga keseimbangan alam sejak lama. Bersama, kita bisa menjadi penjaga alam yang bertanggung jawab demi masa depan yang berkelanjutan dan harmonis. Sungai Maro bukan ko punya, melainkan titipan bersama yang wajib kitong jaga. Sumber : Anugrah Dwi Widyanto A.Md. - Balai Taman Nasional Wasur

Menampilkan 225–240 dari 1.990 publikasi