Sabtu, 10 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Harlah Pancasila 2025: Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya

Medan, 3 Juni 2025. Jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kehutanan lingkup Provinsi Sumatera Utara bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara menggelar upacara peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Medan, Sumatera Utara, Senin (2/6). Mengusung tema “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya”. Peringatan ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengaplikasikannya dalam setiap aspek kehidupan. Upacara peringatan Harlah Pancasila ini berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env, bertindak sebagai inspektur upacara dan membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi. Kepala BPIP menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang lahirnya rumusan dasar negara, tetapi juga untuk meneguhkan kembali komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila bukan sekedar dokumen historis atau teks normatif yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945. Ia adalah jiwa bangsa, pedoman hidup bersama, serta bintang penuntun dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Pancasila menjadi rumah besar bagi keberagaman Indonesia. Pancasila menjadi alat pemersatu lebih dari 270 (dua ratus tujuh puluh) juta jiwa dengan latar belakang suku, agama, ras, budaya dan bahasa yang berbeda. Perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu. Sila pertama hingga sila kelima terkandung prinsip-prinsip yang menuntun kita untuk membangun bangsa dengan semangat gotong-royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Pemerintah telah menetapkan Asta Cita sebagai delapan agenda prioritas menuju Indonesia Emas 2045, dan salah satu yang paling fundamental dalam Asta Cita tersebut adalah memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia. Kemajuan ekonomi tanpa pondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan. Kemajuan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi. Oleh karena itu melalui Asta Cita, kita dipanggil untuk melakukan revitalisasi nilai Pancasila dalam segala dimensi kehidupan. Seluruh elemen bangsa dari pusat hingga daerah, dari pejabat hingga masyarakat, dari tokoh agama hingga pemuda, memiliki peran untuk menjadi pelaku utama pembumian pancasila. Peringatan Hari Lahir Pancasila harus menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa berada di tangan kita oleh karena itu Pancasila harus tetap menjadi jiwa dalam setiap denyut nadi pembangunan. “Marilah kita terus bergotong-royong, menjaga persatuan, menghargai perbedaan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan. Jadikan Pancasila sebagai sumber inspirasi dalam berkarya, berbangsa dan bernegara”. Demikian bunyi pidato penutup Kepala BPIP yang dibacakan oleh Inspektur Upacara. Sumber : Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pembinaan dan Penyegaran Masyarakat Mitra Polhut di Sekitar Cagar Alam Sungai Lulan dan Sungai Bulan

Tanjung Seloka, 29 Mei 2025 – Sebagai bentuk komitmen dalam pelestarian kawasan konservasi, kegiatan Pembinaan dan Penyegaran Kelompok Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Cagar Alam Sungai Lulan dan Sungai Bulan telah sukses dilaksanakan. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat semangat, serta kerja sama antara MMP dan pengelolaan kawasan dalam menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati. Kegiatan pembinaan dan penyegaran kelompok Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dari Desa Labuan Mas, Desa Tanjung Serudung, dan Desa Tanjung Seloka Utara telah sukses dilaksanakan pada akhir Mei bertempat di Kantor Kecamatan Pulau Laut Selatan. Acara ini dihadiri oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Darwin, S.Hut.T, Kepala Resort Cagar Alam Sungai Lulan dan Sungai Bulan, staf kecamatan. Semoga kegiatan ini semakin memperkuat peran aktif MMP dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi kita bersama. Sumber: M. Fattah Al Qifari - PEH Seksi Konservasi Wilayah Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Rayakan HUT ke 7, GRAS Gelar Aksi Pelestarian Lingkungan Dengan PALH SMAN 2 Medan

Medan – 2 Juni 2025. Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), sebuah organisasi kelompok pencinta alam (KPA) di bawah binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7 terbentuknya organisasi tersebut dengan melakukan sosialisasi aksi pelestarian lingkungan kepada anggota sispala PALH SMAN 2 Medan, pada Selasa (27/5). Founder/Ketua Umum GRAS Nurhabli Ridwan, mengatakan rangkaian kegiatan HUT GRAS tahun ini dilaksanakan secara sederhana, pagi hari ketua GRAS melakukan donor darah di mobil unit transfusi darah PMI Kota Medan, siang harinya mendatangi SMAN 2 Medan untuk sosialisasi aksi pelestarian lingkungan, salah satunya sosialisasi konservasi lebah madu, tanam pohon, aksi bersih dan berakhir dengan pemberian 1 kotak/stup mini toping benih lebah madu klanceng (Trigona laeviceps) untuk dibudidayakan oleh pengurus dan anggota sispala PALH SMAN 2 Medan. Ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peduli lingkungan yang sering GRAS laksanakan, dan melalui kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan serta generasi mendatang. Terlebih lebah madu klanceng spesies T. laeviceps (biasa disebut ‘levi’) yang diberikan, bisa menjadi langkah konservasi karena merupakan lebah yang sangat bermanfaat untuk tanaman dan hutan, berperan sebagai penyerbuk, menghasilkan madu dan propolis, serta membantu mengendalikan hama. Oleh karena itu, pemanfaatan T. laeviceps dapat menjadi solusi dalam meningkatkan produktivitas tanaman dan konservasi hutan. Dengan adanya lebah klanceng juga meningkatkan kesadaran pelajar akan pentingnya lebah bagi ekosistem, memberikan manfaat bagi kesehatan dan ekonomi lingkungan. GRAS merupakan organisasi non-profit dengan dasar sukarelaan (volunteerism) para anggotanya, merupakan organisasi kepemudaan yang bergerak dalam bidang sosial, bencana dan jelajah alam konservasi. Pada 27 Mei 2018 secara resmi GRAS didirikan di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara oleh 4 orang pemuda yang memiliki kesamaan kegemaran akan berkegiatan sosial, bencana dan jelajah alam konservasi yaitu Nurhabli Ridwan, Salman Naiborhu, Amd. Kom , Tommy Afandi, SP dan Mukhlis Azhar Pane. GRAS berasaskan musyawarah, kekeluargaan, kemandirian dan solidaritas yang kuat, secara tidak langsung juga diperuntukkan sebagai wadah ataupun tempat berkumpul bagi para rimbawan maupun masyarakat pemuda - pemudi agar dapat mengembangkan bakat serta kemampuan yang bersifat positif dibidangnya. GRAS juga sebagai sarana untuk meningkatkan kreativitas generasi masyarakat pemuda - pemudi yang aktif dan kreatif serta berkualitas guna terciptanya kader sosial, bencana dan jelajah alam konservasi serta lingkungan hidup yang benar-benar tangguh dalam menangani masalah-masalah yang terjadi disekitar alam serta lingkungan hidup dan kehutanan. Dalam 7 tahun usianya tentu tidaklah mudah, berbagai tantangan serta rintangan menjadi bagian dari dinamika yang dihadapi para anggota. Namun, dengan semangat pantang menyerah dan dukungan yang solid di antara anggota, GRAS telah banyak melakukan kegiatan positif diantaranya : Mengadakan aksi penanaman pohon di lereng terjal daerah rawan longsor di CA/TWA Sibolangit, melakukan sosialisasi mitigasi bencana dan konservasi di sekolah-sekolah wilayah kota Medan, membuat sarana budidaya tanaman vetiver, membuat sarana budidaya maggot BSF, konservasi budidaya lebah madu klanceng (Trigona laeviceps) dan kegiatan lainnya. Selain itu, GRAS juga mengikuti berbagai kegiatan baik di tingkat nasional maupun kabupaten dan provinsi diantaranya : mengikuti kegiatan Gladian Nasional Pencinta Alam se Indonesia ke XIV Tahun 2018 di Sumatera Barat, mengikuti latihan gabungan navigasi darat se Sumatera ke 1 tahun 2019 di hutan Rimbang Baling Riau, mengikuti kegiatan kemah konservasi BBKSDA Sumut tahun 2019, menjadi narasumber pelatihan pemandu wisata alam susur goa (Caving) Dinas Pariwisata Kabupaten Karo tahun 2019, menjadi instruktur Pendidikan Dasar Mapala Swarna Bhumi Universitas Labuhan Batu (ULB) tahun 2021, mengikuti peningkatan kapasitas Kader Konservasi binaan BBKSDA Sumut tahun 2021, mengikuti pelatihan Jurnalistik Fotografi BBKSDA Sumut tahun 2024, dan kegiatan lainnya. Dari beberapa kegiatan yang telah dilakukan dan diikuti oleh GRAS, terdapat prestasi yang telah diraih para anggota delegasi GRAS dalam mengikuti berbagai kegiatan, diantaranya : Juara 3 Duta Konservasi Alam Balai Besar KSDA Sumatera Utara (2019), Juara Harapan II Lomba Foto Lingkungan Gerakan Pilah Sampah Nasional Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019, Duta Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih (Pepelingasih) Kemenpora Tahun 2020, Wisudawan Terbaik Pendidikan Green Leadership Indonesia Batch 1 (2021) yang menerima penghargaan langsung dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. di Jakarta dan prestasi lainnya. Tahun 2025 GRAS terpilih sebagai penerima manfaat layanan dana masyarakat untuk lingkungan Bacth 2 yang diseleksi oleh tim FOLU RBC 2 & 3 Kementerian Kehutanan. Nurhabli mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota GRAS dan semua pihak yang selama ini telah mendukung kegiatan GRAS. Semua prestasi yang diperoleh, tidak terlepas dari dukungan, pembinaan dan pendampingan yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara selaku pembina KPA GRAS di bidang konservasi alam dan lingkungan hidup. Nurhabli Ridwan yang juga Kader Konservasi Alam (KKA) binaan BBKSDA Sumut menambahkan, pada 25-26 Juni 2025 nanti GRAS juga akan melaksanakan kegiatan Camp Edukasi Biodiversity and Cleanup Movement di CA/TWA Sibolangit. Kegiatan ini merupakan sebuah program pelatihan gerakan lingkungan hidup dan kehutanan bagi kaum muda pelajar sumatera utara yang diselenggarakan oleh GRAS dengan anggaran layanan dana masyarakat untuk lingkungan (Small Grant) Periode ke 2 yang ada di BPDLH Kementerian Kehutanan. Kegiatan ini akan berkolaborasi dengan BBKSDA Sumut, Genetika FP UISU, Alumni pendidikan Green Leadership Indonesia dan Green Ambassador Green Youth Movement (GYM) Sumatera Utara. Direncanakan akan diikuti 100 peserta pelajar SMP dan SMA Sederajat Provinsi Sumatera Utara, yang akan menjadi kader muda konservasi alam serta duta konservasi. Rangkaian kegiatan dimulai dengan edukasi lingkungan hidup dan kehutanan, orientasi kawasan hutan di lanjut penanaman pohon, aksi bersih dan berakhir dengan pengukuhan Duta Konservasi. Program ini merupakan wadah bagi generasi muda untuk bertukar pengetahuan dalam melakukan perlindungan, pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan. Ketua Sispala PALH SMAN 2 Medan, Malkia Valentino Saragih mengucapkan selamat ulang tahun GRAS ke 7 tahun, terima kasih sudah sharing ilmu konservasi. Semoga GRAS semakin aktif dalam kegiatan konservasi dan edukasi lingkungan, serta terus menjadi contoh bagi generasi muda dalam menjaga alam Indonesia khususnya Sumatera Utara, memberikan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian lingkungan dan mengukir prestasi yang membanggakan. Sumber: Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam / KPA GRAS) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Cegah Forestry Crime, BBKSDA Sumut Koordinasi Ke Polresta Padangsidimpuan

Padangsidimpuan, 28 Mei 2025. Tindak kejahatan kehutanan (Forestry Crime) merupakan tindak pidana yang terjadi di sektor kehutanan, salah satunya melalui perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar. Salah satu upaya pencegahan dan untuk menekan laju tindak kejahatan kehutanan terutama peredaran ilegal tumbuhan dan satwa liar adalah melalui kolaborasi dengan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Salah satu hambatan dalam pencegahan/penanganan tindak pidana adalah keterbatasan sumber daya manusia. Untuk itu Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Ph.D telah menandatangani MoU dengan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, M.Si. Melalui kolaborasi ini, POLRI yang memiliki jaringan sampai ke pelosok desa dan tingkat tapak akan membantu Kementerian Kehutanan dalam menjaga hutan dari Kebakaran hutan dan lahan serta kejahatan terhadap satwa dilindungi. Sebagai respon dari MoU tersebut, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III telah melaksanakan silaturahmi dan koordinasi dengan Kepolisian Resor Kota Padangsidimpuan, Kamis 22 Mei 2025. Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Susilo Ari Wibowo, S. Hut., M.Sc beserta jajarannya menyampaikan perlunya dukungan dari Kepolisian Resor Padangsidimpuan untuk mencegah dan menekan laju peredaran illegal tumbuhan dan satwa liar terutama jenis-jenis yang dilindungi melalui upaya penegakan hukum maupun kolaborasi melalui platform media sosial untuk mengedukasi masyarakat. Kapolresta Padangsidimpuan, AKBP Dr.Wira Prayatna, SH, S. IK, MH menyambut baik kunjungan Kepala Bidang KSDA Wilayah III beserta jajarannya dan siap mendukung upaya pencegahan peredaran ilegal tumbuhan dan satwa liar, penegakan hukum serta mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam kepemilikan tumbuhan dan satwa liar. Sumber : Irwan Hanafi, S.Hut., MM. - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pendapatan Meningkat, Masyarakat Lindungi Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Sibolangit

Sibolangit 2 Juni 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui petugas Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe dan Petugas Resort Cagar Alam/Taman Wisata Alam (CA/TWA) Sibolangit melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan pemberian bantuan usaha ekonomi produktif tahun 2024 kepada 2 desa yang ada di sekitar CA dan TWA Sibolangit, yaitu Desa Sembahe dan Desa Batu Mbelin, Selasa silam (27/5). Kelompok Tani di Desa Sembahe pada tahun 2024 telah menerima bantuan usaha berupa 21 ekor domba, mesin pengolahan kotoran domba dan angkong. Hingga saat ini ternak domba tersebut sudah berkembang biak menjadi 24 ekor. Anggota kelompok tani sudah merasakan manfaat dari bantuan yang diberikan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara, kotoran domba sudah diolah menjadi pupuk organik dan dimanfaatkan oleh anggota kelompok tani untuk pemupukan lahan pertanian mereka. Berdasarkan hasil monitoring petugas, domba yang dikelola kelompok dalam kondisi sehat dan sudah dilakukan pemberian obat cacing. Petugas mengunjungi peternakan domba di Desa Sembahe Pupuk Organik Yang Berasal dari Kotoran Domba Selanjutnya tim melaksanakan monitoring kelompok tani di Desa Batu Mbelin. Pada 2024, kelompok tani ini telah menerima bantuan ekonomi produktif berupa peralatan pertanian. Bantuan yang diberikan berupa mesin babat 15 buah, pompa elektrik 10 buah dan cangkul 15 buah. Berdasarkan hasil monitoring, alat pertanian tersebut dipergunakan oleh anggota kelompok secara bergantian. Hingga saat ini jumlah peralatan pertanian kelompok tani masih lengkap dan bagus. Petugas memeriksa kondisi mesin babat, pompa elektrik dan cangkul Menurut testimoni pengurus dan anggota kelompok tani hutan, bantuan yang diberikan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara sangat bermanfaat dan memberikan nilai ekonomi bagi anggota kelompok tani. Harapan bersama dengan adanya bantuan ini dapat menjadi pengingat bagi kelompok untuk terus menjaga kawasan konservasi yang ada di sekitar desanya yaitu kawasan CA danTWA Sibolangit. Sumber: Suparman, SP (Kepala Resort CA/TWA Sibolangit) dan Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tingkatkan Sinergitas Perlindungan Kawasan Konservasi, BBKSDA SumutJalin Silaturahmi Dengan KODIM 0212 TS

Padangsidimpuan, 28 Mei 2025. Kementerian Kehutanan telah menandatangani MoU bersama Tentara Nasional Indonesia pada Rabu, 12 Februari 2025. Melalui nota kesepahaman ini akan memperkuat kolaborasi dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, perlindungan hutan dan penegakan hukum kehutanan. Sebagai tindak lanjut nota kesepahaman ini, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III melaksanakan kunjungan ke Markas Kodim 0212 TS di Padangsidimpuan, Kamis 22 Mei 2025. Pada kunjungan ini, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan (Susilo Ari Wibowo, S. Hut., M.Sc) memaparkan situasi dan kondisi kawasan konservasi di wilayah kerja, keterbatasan SDM dan kendala-kendala yang dihadapi di tingkat tapak. Melalui kunjungan ini, Kepala Bidang KSDA Wilayah III mengharapkan terjalinnya sinergitas dan komunikasi dengan KODIM 212 TS sehingga upaya perlindungan, pengamanan kawasan konservasi dan ekosistemnya serta penanganan konflik satwa yang sering terjadi dapat ditanggulangi. Letkol Arm Delli Yudha Nurcahyo, SE.,MM selaku Dandim 0212 TS menyambut baik kunjungan ini dan siap mendukung serta berkolaborasi dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dandim 0212 TS juga menyampaikan perlunya dilakukan kolaborasi dalam rangka memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat apabila terjadi interaksi negatif dengan satwa liar sehingga kerugian materil, apalagi sampai jatuh korban dapat dihindari. Menanggapi kesiapan Dandim 0212 TS tersebut, Kepala Bidang dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang Siti Wahyuna, SP menyampaikan apresiasi dan berkomitmen untuk terus menjalin komunikasi dengan DANDIM 0212 TS untuk membahas hal-hal teknis di lapangan kedepannya. Sumber : Irwan Hanafi, S.Hut., MM. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Rimbawan Mengajar Beraksi di Depan 600 Siswa MAN I Kediri

Kediri, 22 Mei 2025. Dengan slogan “Sehari Mengajar, Selamanya Cinta Lingkungan”, Rimbawan Mengajar memberikan pengetahuan tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati (kehati) dan habitatnya kepada 600 siswa dan siswi MAN I Kediri. Kegiatan ini sekaligus untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei dan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional atau International Day for Biodiversity, pada tanggal 22 Mei 2025. Rimbawan Mengajar dilaksanakan selama dua hari, yaitu tanggal 21-22 Mei 2025. Pada hari pertama, tim Rimbawan Mengajar SKW I Kediri memberikan pendidikan lingkungan kepada 300 siswa kelas X, sedangkan hari kedua pembelajaran dilakukan untuk 300 siswa kelas XI. Pembukaan acara dilaksanakan oleh perwaikilan Kepala Sekolah MAN I Kediri dengan didampingi oleh beberapa guru. Materi yang disampaikan dalam pendidikan lingkungan untuk siswa ini disesuaikan dengan tema dari Hari Kehati tersebut, yaitu “Harmony with nature and sustainable development” atau “Harmoni dengan alam dan pembangunan berkelanjutan”. Tema tersebut menunjukkan bahwa kedua aspek tersebut, alam dan pembangunan, harus sejalan dan saling mendukung. Pengenalan tentang profil Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur dan tupoksinya disampaikan sebelum materi utama pembelajaran. Profil tersebut disampaikan langsung oleh Kepala SKW I Kediri, Dr. Ruky Umaya, S.Hut., M.Si. Tujuan dari pengenalan tersebut adalah untuk mengenalkan kembali tentang BBKSDA Jatim yang masih dianggap satu rumpun dengan Perhutani, Dinas Kehutanan, maupun Dinas Lingkungan Hidup oleh sebagian masyarakat. Materi-materi inti yang disampaikan adalah tentang hutan, ekosistem hutan, dan keanekaragaman hayati. Setiap pemberian materi selalu diberikan tentang fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan manusia. Siswa-siswi diberikan simulasi agar lebih mendalami materi yang diberikan. Contoh simulasi yang diberikan adalah simulasi tentang manfaat yang diberikan oleh hutan jika kondisinya masih bagus dan kerugian yang didapatkan bagi pembangunan dan kehidupan sekitarnya jika hutan tersebut rusak, seperti terjadinya bencana banjir. Sebelum sesi diskusi dan tanya jawab, para siswa diajak untuk menonton film animasi tentang rusaknya hutan akibat perburuan burung yang berjudul “Sabda Alam”. Siswa diminta memberikan pendapat dan kesan dan pesan tentang film tersebut setelah selesai ditonton. Siswa kelan X dan XII dapat menjelaskan dengan baik dan memberikan pernyataan agar satwa liar tidak diburu dan ditangkap, tetapi dibiarkan dan dijaga keberadaannya di habitat alaminya. Sesi diskusi dan tanya jawab sangat menyenangkan. Para siswa memberikan tanggapan dan pertanyaan yang baik, diantaranya adalah bagaimana peran pemerintah dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan habitatnya. Para siswa yang aktif dalam memberikan tanggapan, memberikan pertanyaan, dan menjawab pertanyaan diberikan hadiah berupa souvenir menarik dari BBKSDA Jawa Timur. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra Polhut Ahli Pertama SKW I Kediri - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Alat Termanfaatkan Dengan Baik, Kawasan Konservasi Pun Terjaga

Sidikalang, 28 Mei 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe dan Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pemberian bantuan usaha ekonomi produktif pada 3 desa yang telah diberi bantuan pada tahun 2024 lalu, pada tanggal 22 s.d. 23 Mei 2025. Kegiatan ini dilaksanakan pada kelompok tani yang berada di desa sekitar kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike, TWA Deleng Lancuk dan SM. Siranggas. Kegiatan monitoring ini dilakukan guna melihat perkembangan bantuan yang diberikan kepada kelompok tani, kendala dan permasalahan yang mungkin terjadi hingga efektifitas bantuan dalam meningkatkan pendapatan anggota kelompok khususnya dan masyarakat desa pada umumnya. Kelompok Tani Lomba Maju, Desa Prongil yang berbatasan dengan TWA Danau Sicike-cike sebelumnya mendapatkan alat handtraktor dan mesin babat dan hingga saat ini masih digunakan oleh kelompok. Alat handtraktor yang digunakan untuk mengolah lahan pertanian di sawah sangat membantu kegiatan kelompok tani sampai masa tanam padi sawah pada bulan Februari yang lalu. Kemudian handtraktor darat saat ini juga sedang digunakan oleh masyarakat desa. Adanya alat handtraktor ini bermanfaat dan mengefisiensikan waktu serta biaya dalam mengolah lahan persawahan sehingga diharapkan dapat berkesinambungan dengan memelihara alat tersebut. Adapun perawatan dilakukan dengan menggunakan uang kas kelompok yang sebelumnya dikumpulkan dari hasil penggunaan alat tersebut. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang sedang mencoba menggunakan handtraktor Kelompok Tani Rebbak Nduma, Desa Majanggut II yang berbatasan dengan SM Siranggas mendapatkan bantuan berupa 2 unit alat handtraktor dan mesin semprot portable. Hingga saat ini alat tersebut masih digunakan dan juga dalam kondisi yang baik serta terawat. Ketika dijumpai, Ketua Kelompok Tani mengatakan alat handtraktor digunakan dalam mengelola lahan yang rencananya akan ditanami cabai. Selanjutnya Kelompok Tani Hutan Lestari Desa Kuta Gugung yang berbatasan dengan TWA Deleng Lancuk mendapatkan bantuan alat handtraktor dan mesin babat. Alat tersebut telah dimanfaatkan oleh anggota kelompok dan juga diluar anggota kelompok. Saat ditemui, Ketua Kelompok Tani Hutan Lestari menyampaikan Laporan perkembangan pengelolaan kas dari hasil penggunaan alat handtraktor dan mesin babat kepada pihak BBKSDA Sumatera Utara sebagai informasi sekaligus bentuk pertanggungjawaban atas alat yang telah diberikan. Adanya bantuan yang telah diberikan Balai Besar KSDA Sumatera Utara menurut testimoni dari seluruh pengurus dan anggota kelompok tani hutan sangat dirasakan manfaatnya dan memberikan nilai ekonomi bagi kelompok tani khususnya dan masyarakat desa pada umumnya. Hingga saat ini belum ada kendala dalam pemanfaatan bantuan tersebut. Harapan bersama dengan adanya bantuan ini dapat menjadi pengingat bagi kelompok khususnya untuk menjaga kawasan konservasi yang ada di sekitar desanya yaitu kawasan SM Siranggas, TWA Danau Sicike-cike dan TWA Deleng Lancuk. Sumber : Hafsah Purwasih - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tak terbatas Dimensi Ruang, Gemakan pentingnya konservasi satwa liar

Madiun, 26 Mei 2025. Upaya pelibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian satwa liar dan habitatnya kembali digaungkan. Minggu pagi, (25/5), sebanyak 13 desa di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, berkumpul di The Sun Hotel, Madiun. Mereka hadir dalam kegiatan Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang difasilitasi oleh Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Drs. Pudji Wahju Widodo melalui Ormas Budhi Luhur, Madiun. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dalam hal ini diwakili Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun bersama mitra konservasi Jaga Satwa Indonesia (JSI), menjadi narasumber dalam kegiatan ini. Mereka menyampaikan tiga hal penting yaitu tugas dan fungsi BBKSDA Jatim, regulasi terkait konservasi sumber daya alam, serta tata cara penanganan interaksi negatif dan evakuasi satwa liar. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membumikan kembali semangat konservasi hingga ke akar rumput. Tokoh-tokoh masyarakat yang hadir berasal dari wilayah penyangga kawasan hutan di lereng Gunung Wilis, wilayah yang kerap menjadi medan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. "Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam upaya konservasi, tetapi aktor utama yang memahami hak dan kewajiban dalam melindungi alam," ujar Agustinus Krisdijanto Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun dalam paparannya. Dengan pendekatan dialogis dan partisipatif, kegiatan ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra non-pemerintah dalam menjaga keanekaragaman hayati Jawa Timur yang kian terdesak oleh aktifitas manusia. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

SEMISEL, Edukasi Satwa Ala TWSL Probolinggo

Probolinggo, 26 Mei 2028. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama lembaga konservasi Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) melakukan edukasi pengelolaan keanekaragaman hayati kepada mitra lingkungan dan pecinta satwa di Kota Probolinggo. 26 Mei 2025. Edukasi ini dikemas dalam bentuk talkshow “kegiatan semisel” (seminggu di TWSL) 2025, agar lebih ramah, gampang dipahami, serta diterima oleh mitra lingkungan dan pecinta satwa. Pada edukasi ini mitra lingkungan dan pecinta satwa diajak untuk sama - sama berperan aktif bila mengetahui adanya perburuan dan perdagangan satwa liar illegal. Tidak jarang otak dari perburuan dan perdagangan illegal merupakan warga dari perkotaan karena mereka memiliki akses pasar dan punya sumberdaya, masyarakat sekitar hutan hanya sebagai eksekutor saja. Peserta edukasi diajak untuk bersama - sama peduli dengan melakukan pendekatan persuasif bila mengetahu ada orang terdekatnya yang menjadi pelaku utama perburuan dan perdagangan. Mitra lingkungan dan pecinta satwa yang ingin memelihara satwa diperbolehkan, tetapi harus diurus terlebih dahulu izinya. Izin tersebut bisa berupa perizinan berusaha penangkaran bila untuk tujuan komersil dan persetujuan penangkaran untuk tujuan non komersil. Dalam memelihara satwapun tidak boleh asal - asalan, wajib memperhatikan kesejahteraan satwa (animal walfare) sehingga satwa bebas dari rasa lapar, haus dan takut dan dapat mengekspresikan perilakunya seperti di alam liar. Masyarakatpun dihimbau untuk tidak memiliki satwa liar dilindungi atau bagian - bagiannya tanpa izin karena dapat dikenakan sanksi pidana minimal 3 tahun penjara sesuai Undang – Undang Nomor 32 tahun 2024. Zoonosis Satwa liar seringkali merupakan pembawa penyakit tanpa disadari oleh manusia. Satwa yang carrier penyakit biasanya tidak terlihat sakit, tetapi apabila ada kontak dengan satwa lain atau manusia bisa terjadi menyebakbkan infeksi atau bermutasi menjadi virus baru. Banyak zoonosis yang menular ke manusia berasal dari satwa seperti tubercolusis, rabies, flu burung. Oleh karenanya bila akan handling satwa maka handler wajib memimalkan resiko penularan zoonosis dengan menggunakan alat pelengkap handling, seperti sarung tangan, masker dan disarankan menggunakan pakaian tertutup bila tidak ada APD serta membersihkan diri setelah handling satwa untuk memutus rantai penularan zoonosis. Seringkali warga Kota Probolinggo mendapati satwa yang masuk ke rumah, seperti ular, musang dan monyet. Hal yang harus dilakukan oleh warga adalah melapor ke BBKSDA Jatim atau mitra BKSDA seperti damkar dan DLH Kota Probolinggo. Selanjutnya akan dibantu untuk proses evakuasi satwa tersebut. Saat ini juga telah tersedia layanan call center BBKSDA Jatim maupun layanan 112 Kota Probolinggo. Veve Ivana Pramesti, Penyuluh Kehutanan Ahli Muda pada Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo – BBKSDA Jatim
Baca Artikel

Melihat Dukungan Sistem Konservasi di Pulau Bawean

Bawean, 26 Mei 2025. Sebagai bagian dari upaya penguatan sistem pendukung konservasi di wilayah kerja, I Ketut Catur Marbawa, S.Hut., M.Si., Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar KSDA Jawa Timur, melakukan kunjungan kerja ke Pulau Bawean pada tanggal 22–24 Mei 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk memantau secara langsung pelaksanaan kegiatan pengelolaan keuangan, administrasi, serta kebutuhan sarana prasarana yang mendukung operasional konservasi di Resort Konservasi Wilayah (RKW) Bawean, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya. Pulau Bawean merupakan habitat alami rusa bawean (Axis kuhlii), satwa endemik yang menjadi prioritas konservasi nasional. Oleh karena itu, keberadaan sistem tata usaha yang baik dan terintegrasi sangat penting untuk memastikan efektivitas perlindungan satwa liar dan habitatnya. “Kegiatan konservasi tidak bisa dilepaskan dari sistem administrasi dan tata kelola yang andal. Di wilayah terpencil seperti Bawean, kita harus memastikan semua lini berjalan sinkron dari penganggaran, pelaporan, hingga dukungan logistik lapangan,” ujarnya dalam pertemuan bersama petugas RKW Bawean. Selama tiga hari di Bawean, beliau meninjau kondisi fasilitas kantor resort, mendiskusikan tantangan teknis di lapangan. Evaluasi sistem kerja berbasis transparansi dan akuntabilitas menjadi fokus utama kunjungan ini. Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam membangun tata kelola organisasi yang adaptif dan responsif terhadap dinamika konservasi, termasuk di wilayah pulau kecil yang menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati Indonesia. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Sulawesi Selatan Tingkatkan Kapasitas Patroli Konservasi Lewat Pelatihan SMART Patrol

Maros, 22 Mei 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan dan Penyegaran SMART Patrol pada tanggal 20 hingga 22 Mei 2025 bertempat di Hotel Grand Town, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Pelatihan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam menerapkan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool), sebuah sistem pemantauan berbasis data yang memungkinkan pengumpulan dan analisis informasi secara sistematis guna mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif. Selama tiga hari, peserta dibekali materi konseptual dan teknis dari berbagai narasumber, termasuk Yogi Satriyo Wibowo dari Fauna & Flora International Indonesia Programme (FFI's IP), Muhammad Asad dan Fajar Dewangga dari Direktorat Konservasi Kawasan Kementerian Kehutanan, serta Nurhidayat Abbas dan Hamka tenaga teknis dari BBKSDA Sulsel. Hari pertama diisi dengan penguatan pemahaman konseptual tentang manajemen data keanekaragaman hayati dan peran SMART Patrol sebagai alat pemantauan dan edukasi di lapangan. Hari kedua fokus pada praktik penggunaan aplikasi SMART Mobile dan SMART Desktop, termasuk sesi sinkronisasi dan analisis data lapangan. Kegiatan hari kedua ditutup dengan penyusunan draft Standar Operasional Prosedur (SOP) SMART Patrol dan rancangan SK Tim Kerja BBKSDA Sulsel yang dipandu oleh Muhammad Rasul, S.H., M.H. Hari ketiga pelatihan diakhiri dengan post test untuk mengukur tingkat pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hasil dan Tindak Lanjut Melalui pelatihan ini, peserta mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya pengelolaan kawasan konservasi berbasis data yang akurat dan terkini. SMART Patrol dipahami tidak hanya sebagai alat patroli, tetapi juga sebagai perangkat multifungsi yang mendukung kegiatan inventarisasi, observasi, penyuluhan, hingga dokumentasi konservasi. Selain itu, peserta juga berhasil menguasai keterampilan teknis dalam pengoperasian perangkat lunak SMART dan menyusun rencana implementasi sistem tersebut di wilayah kerja masing-masing. Sebagai tindak lanjut, SMART Patrol akan diintegrasikan dalam seluruh kegiatan lapangan di lingkup BBKSDA Sulsel, dengan penyesuaian model data sesuai karakteristik ekologis tiap kawasan. Dukungan infrastruktur digital dan legalitas melalui SOP serta SK Tim menjadi langkah penting untuk mewujudkan sistem yang berkelanjutan dan operasional. Komitmen untuk Keanekaragaman Hayati Dalam momentum Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, pelatihan ini menegaskan komitmen BBKSDA Sulsel untuk mengadopsi pendekatan konservasi berbasis teknologi dan data yang akurat dan terkini, sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati Sulawesi Selatan secara berkelanjutan. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP.13/K.8/TU/Humas/5/2025) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Pererat Kerjasama,YOSL-OIC Sambangi Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan

Padangsidimpuan, 27 Mei 2025. Mengawali masa kerja di Balai Besar KSDA Sumatera Utara pada Bidang KSDA Wilayah III, Kepala Bidang Susilo Ari Wibowo, S. Hut.,M.Sc menerima kunjungan lembaga mitra kerja sama Orangutan Information Center (OIC) di Kantor Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, pada Kamis 22 Mei 2025. Hadir dalam kunjungan silaturrahmi tersebut mewakili Manajemen OIC, Tim Human Orangutan Conflict Respon Unit (HOCRU), yang menyampaikan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan OIC di wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan. Dalam pertemuan tersebut Ketua Tim HOCRU memaparkan beberapa penanganan interaksi negatif dengan Orangutan terutama Orangutan Tapanuli dan konflik-konflik satwa lainnya di berbagai tempat, kegiatan patroli pengamanan hutan bersama dengan personil Bidang KSDA Wilayah III. Selain itu juga, HOCRU menjelaskan beberapa kegiatan lainnya di lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, seperti pembuatan demplot agroforestry di desa, pemulihan ekosistem serta kebun pekarangan. Dalam suasana komunikasi yang hangat dan dipenuhi canda tersebut, Kepala Bidang mengutip salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan OIC pada Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, tepatnya Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara terkait tertentuknya Desa Mandiri Konflik yang merupakan forum desa dalam merespon kejadian konflik Orangutan di Kabupaten Tapanuli Utara, Kepala Bidang mengapresiasi strategi yang dilakukan OIC dalam upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan dengan melibatkan masyarakat, hal ini akan menumbuhkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap jenis mamalia yang dilindungi ini. Kepala Bidang berpesan jika ada rencana kegiatan pembentukan desa mandiri konflik kedepannya, kiranya dapat dibentuk di wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, yang juga rawan terjadinya konflik Orangutan. Menanggapi hal tersebut Tim HOCRU menjelaskan pembentukan Desa Mandiri Konflik (Kelompok Mitigasi Interaksi Negatif) di Kabupaten Tapanuli Utara tepatnya di Desa Dolok Saut, Dolok Sanggul dan Desa Lobu Sihim, ini merupakan program kerja OIC pada tahun 2023, yang bertujuan untuk memandirikan masyarakat dalam menghadapi kejadian konflik, menilai tingkat ancaman serta tindakan sementara sebelum petugas yang berwenang tiba di lokasi konflik. Kunjungan OIC ke Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan mendorong peningkatan kerjasama dan kolaborasi dalam perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati serta ekosistemnya, khususnya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang merupakan salah satu satwa dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1 /6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi sebagaimana diubah dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6 /2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, yang populasinya udah sangat memperihatinkan di alam. Sumber : Irwan Hanafi, S.Hut., MM. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pantau Hutan dengan SMART Patrol, Resor Pattunuang Jumpai Serangga Tongkat Endemik

Maros, 26 Mei 2025. Hari itu, Kamis, 22 Mei 2022, saya cukup senang. Mengapa? Karena bisa berjumpa dengan sepasang serangga penghuni asli Sulawesi. Sepasang serangga tongkat. Warnanya cukup menyilaukan dengan hampir seluruh tubuhnya berwarna hijau muda menyala. Barangkali bisa disebut hijau metalik. Hanya bagian kepala yang berwarna hijau tua serta bagian punggung terdapat warna kuning yang tidak begitu lebar. Saat terbang, nampak sayapnya pun berwarna hijau, namun lebih keabu-abuan. Namun seketika ia hinggap sayap lebar kemudian tertutup dengan rapi. Saat berjumpa, kami sedang melakukan pemantauan kondisi kawasan hutan di Karaenta, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Secara administrasi hutan ini berada di Desa Labuaja, Cenrana, Maros. Kami sedang berpatroli. Memantau kerawanan wilayah kami sembari mengeksplorasi potensinya. Tim menggunakan aplikasi SMART Patrol untuk merekam datanya. Memudahkan untuk mencatat dan merekapnya, kelak untuk bahan laporan. Ketika melintas di bawah naungan pohon yang tertutup, saya kemudian terkesima dengan serangga yang terbang. Seketika saya mengenalinya. Mengenalnya karena pernah berjumpa dengannya sebelumnya. Namun saya tidak ingat nama latinnya. Saya hanya tahu bahwa serangga tersebut adalah serangga endemik Sulawesi. Karena itu tim kemudian juga penasaran dengannya. Mengikuti arah terbangnya. Saat hinggap di lantai hutan kami kemudian menyapanya. Menelisiknya lebih dekat. Ukurannya saya kira tidak lebih dari sejengkal. Tim tak mengganggunya. Hanya mengamati dari dekat. Tak lupa secara bergantian memotretnya dengan ponsel pintar masing-masing. Tentunya dengan salah dua telepon seluler dengan aplikasi Smart yang telah terbenam di sana. Kami berjumpa pada habitat hutan karst. Batu cadas khas hutan karst di mana-mana. Tim melintas di antara menara karst yang menjulang. "Ada anaknya dia gendong," ujar Fadli, kawan sesama tim patroli. Sebagai admin aplikasi ia pun dengan cekatan memasukkan data perjumpaan. Saya kemudian memandunya dengan pengetahuan yang saya miliki perihal satwa ini. Karena belum paham namanya latin si serangga, saya memintanya menuliskan keterangan serangga tongkat, endemik Sulawesi. Pada format isian Smart Patrol kami, spesies ini belum tersedia. Karena itu admin memasukkannya sebagai perjumpaan tambahan. Pada saat di lokasi kegiatan, signal masih cukup tersedia. Karena itu, Saya juga sempat mengirimkan foto serangga tersebut kepada seorang kawan untuk membantu mengidentifikasinya. Namun sayang, ia juga tidak hapal nama latinnya. Ia hanya merekomendasikan seseorang untuk bisa membantu mengidentifikasinya. Namun karena signal kurang bersahabat, saya mengurungkan niat untuk mengidentifikasinya lebih lanjut. Ketika memiliki waktu luang, saya kemudian mengontak Davis Damaledo, peneliti muda serangga batang. Namanya melejit setelah berhasil menemukan serangga tongkat jenis baru di Kupang, NTT. Davis kemudian mengidentifikasi serangga kami. Nama latinnya: Calvisia hippolyte dan menambahkan keterangan bahwa serangga tersebut hanya hidup di Pulau Sulawesi. Untuk meyakinkan saya berselancar ria, hingga membawa saya pada website iNaturalist. Benar saja, serangga ini baru dua lokasi pernah dijumpai yakni di Sulawesi bagian selatan dan bagian tengah. Tak nampak dari peta dunia, spesies ini pernah dikabarkan dijumpai di belahan dunia lainnya. Hal ini meneguhkan bahwa sang serangga adalah satwa asli Sulawesi alias endemik. Menurut Hennemann (2021) sebaran serangga ini hanya terbatas di 3 provinsi. Ketiga provinsi tersebut adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Habitat di Sulawesi Selatan ia sebutkan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan menyebutkan wilayah administratif Kabupaten Maros. Diskusi saya dengan Davis berlanjut. "Apakah dua ekor serangga ini adalah induk dan anak ataukah mereka sepasang?" Saya menuliskan tanya dengan penasaran. "Mereka sepasang, jantan yang berukuran kecil," balasnya. Padahal sebelumnya saya menduga bahwa yang berukuran setengah lebih kecil dari ukuran betina adalah sang anak. Jadinya saya awalnya hampir tak percaya. Mereka ternyata sedang memadu kasih saat kami berjumpa. Beruntung kami tak banyak mengganggunya sehingga mereka tetap berpelukan saat kami mengamatinya dari dekat. Begitu pun saat kami kembali melintasi lokasi perjumpaan awal, kami tak menemukannya lagi. Mereka telah terbang. Mereka telah kembali beraktivitas seperti sedia kala. Mudah-mudahan mereka terus beranak-pinak. Meneruskan generasinya. Ada banyak pertanyaan perihal satwa ini. Mereka memakan apa di alam. Apakah mereka hanya mengunyah dedaunan ataukah juga ia mengincar buah. Begitu pun perannya di alam, seperti apa? Yang jelas, mereka adalah bagian dari alam. Setidak-tidaknya dengan melihat ukuran dan kerapuhannya. Serangga tongkat ini adalah mangsa bagi burung dan reptil di alam liar. "Kami berharap teman-teman Polhut, Penyuluh, dan PEH lebih sering ke lapangan agar lebih memahami kondisi taman nasional kita. Mengeksplorasi, memantau, dan melindungi dari segala ancaman," pesan Heri Wibowo, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, saat kami jumpai. Semoga suatu saat bisa kembali berjumpa dengannya. Termasuk partisipasi tim lain agar terus memantau populasinya di alam. Sumber: Taufiq Ismail Al Pharepary - PEH Balai TN Bantimurung Bulusaraung Daftar Pustaka Hennemann, F. H. (2021). Stick insects of Sulawesi, Peleng and the Sula Islands, Indonesia—a review including checklists of species and descriptions of new taxa (Insecta: Phasmatodea). Zootaxa, 5073(1), 1–189. https://doi.org/10.11646/zootaxa.5073.1.1
Baca Artikel

Semarak Hari Kehati Internasional 2025 di Rumah Pintar Meranti

Kegiatan edukasi di Rumah Pintar (Resor CA. Martelu Purba) Matelu Purba, 26 Mei 2025. Hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun 2025 kembali diperingati. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Planet Bumi adalah rumah berbagai makhluk hidup. Tahun ini tema yang diusung bertajuk “Harmony with Nature and Sustainable Development” artinya Harmoni dengan Alam dan Pembangunan Berkelanjutan. Tema tersebut menekankan hubungan manusia dengan alam. Sekaligus pentingnya pembangunan yang berkelanjutan. Tak ingin melewati momen penting ini, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Cagar Alam (CA) Martelu Purba pada Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran menggelar kegiatan edukasi kepada generasi muda kalangan pelajar dari SDN 091349 Tigarunggu, Dusun Bayu Tongah, Nagori Purba Tongah, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Kegiatan dilakukan di 2 tempat/lokasi, yaitu : di SDN 091349 Tigarunggu diikuti oleh sebanyak 225 orang pelajar, dan di Rumah Pintar Meranti (CA. Martelu Purba) sebanyak 12 orang siswa/siswi. Kegiatan di SDN 091349 Tigarunggu dikemas dalam model Bina Cinta Alam berupa edukasi tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kepala Resor CA Martelu Purba (Alharis Ruhidi, S.P.,M.Si) memberikan penyadaran tentang arti penting melindungi keanekaragaman hayati dengan terlebih dahulu menjelaskan apa itu keanekaragaman hayati, kenapa harus peduli dan menyayanginya, serta bagaimana caranya. Beberapa keanekaragaman hayati pun diperkenalkan menjadi bahan pemantik bagi siswa untuk menumbuhkan keingintahuannya. Kegiatan edukasi kepada 225 orang pelajar di SDN 091349 Tigarunggu Selesai dari SDN 091349 Tigarunggu, kegiatan edukasi berlanjut di Rumah Pintar Meranti, khusus kepada perwakilan 12 orang siswa dengan membagikan print-out 10 jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi, guna mengenali nama dan jenisnya. Agar lebih mendalami pengetahuan serta pemahaman terhadap pengenalan kehati tersebut dilakukan diskusi. Melalui diskusi pembelajaran pun semakin menarik dan dinamis. Segala keingintahuan dicurahkan dan dibahas secara bersama sambil mencari bahan referensi/rujukan yang ada di koleksi perpustakaan Rumah Pintar Meranti. Rumah Pintar Meranti merupakan ruangan khusus yang disediakan di Kantor Resort CA. Martelu Purba sebagai tempat untuk membaca buku, belajar sekaligus berdiskusi. Pertama kali beroperasi di akhir tahun 2023 dengan sarana prasarana yang ada, diantaranya 15 unit meja lipat, puzzel/alas duduk (6 Kotak @ 26 unit), dan 42 judul buku (10 judul terbitan National Geographic). Pendirian rumah pintar ini dilatarbelakangi keberadaan kawasan hutan Cagar Alam Martelu Purba yang berkedudukan di ibu kota Kecamatan Purba, sehingga banyak lapisan masyarakat yang lalu lalang dan bisa berinteraksi langsung dengan kawasan. Kondisi ini menjadi peluang/kesempatan yang sangat besar guna meningkatkan literasi khususnya tentang konservasi kepada masyarakat, terutama yang berdomisili di sekitar (daerah penyangga/buffer zone) kawasan. Sasaran utama dalam upaya peningkatan literasi ini adalah generasi muda yang sedang menempuh pendidikan di sekolah-sekolah formal serta kelompok-kelompok pemuda seperti karang taruna, muda mudi gereja, dan Himpunan Mahasiswa Simalungun (SIMAPSI). Pendirian Rumah Pintar Meranti ini dimaksudkan untuk meningkatkan literasi masyarakat khususnya generasi muda. Sedangkan tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat khususnya generasi muda tentang arti penting konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan kondisi ini, keberadaan Kawasan Hutan Cagar Alam Martelu Purba diharapkan mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Sampai saat ini agenda rutin yang dilakukan secara berkala di Rumah Pintar Meranti adalah mengundang siswa-siswi sekolah-sekolah formal seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta kelompok-kelompok pemuda seperti karang taruna, muda mudi gereja, dan Himpunan Mahasiswa Simalungun (SIMAPSI) untuk belajar dan berdiskusi. Selain itu, sehari-harinya Rumah Pintar Meranti juga terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat yang berminat menambah literasi khususnya tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional Tahun 2025 sudah berakhir. Pihak sekolah SDN 091349 Tigarunggu mengapresiasi kegiatan yang sangat positif dan mengedukasi ini serta berharap agar kegiatan serupa menjadi program rutin guna lebih meningkatkan wawasan pengetahuan serta karakter siswa yang berwawasan konservasi alam. Masukan dan saran dari pihak sekolah ini menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan kedepannya. Resort CA. Martelu Purba tetap berkomitmen dalam mengembangkan program edukasi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem baik kepada generasi muda maupun kepada masyarakat umum lainnya guna memupuk kepedulian wargauntuk ikut menjaga dan melestarikan kawasan konservasi beserta keanekaragaman hayatinya. Sumber : Alharis Ruhidi, S.P., M.Si. (Analis Konservasi Kawasan/Kepala Resor CA. Martelu Purba) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Momentum Perkuat Kelembagaan IPKI Untuk Perlindungan dan Pengamanan SDH

Medan, 23 Mei 2025. Ikatan Polisi Kehutanan Indonesia (IPKI) Wilayah Sumatera Utara sukses menyelenggarakan Kongres di Aula Lt. III Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara, pada Selasa 20 Mei 2025. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya memperkuat kelembagaan dan peran IPKI sebagai garda terdepan dalam perlindungan dan pengamanan sumber daya hutan. Salah satu agenda utama dalam kongres ini adalah pemilihan Kepengurusan IPKI Wilayah Sumatera Utara Periode 2024–2027, menggantikan Kepengurusan sebelumnya periode 2013 s/d 2016 yang telah berakhir masa jabatannya. Konggres ini diikuti oleh 68 peserta yang hadir dari 80 peserta yang diundang, terdiri dari 6 perwakilan Sekretariat pada wilayah Sumatera Utara yaitu : Pengurus IPKI Pusat, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Taman Nasional Batang Gadis, Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera Utara, Bidang Wilayah III Stabat Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser dan Seksi Wilayah I Balai Dalkarhut Sumatera Utara Kongres berlangsung secara demokratis dan penuh semangat kebersamaan. Para peserta yang merupakan anggota IPKI dari berbagai instansi kehutanan di wilayah Sumatera Utara turut memberikan aspirasi dan dukungan bagi kemajuan organisasi. Hasil dari Kongres telah terpilih Kepengurusan IPKI Wilayah Sumatera Utara Periode 2024-2027, dengan pengurus inti Ketua : Herwin Hermawan, SP. M.H., Sekretaris : Ani, SP., Bidang Keuangan : Mea Fitri Kartika Sari, S.Hut., dan Muhammad Alfin Ridho Putroaji, S.Hut. Kepengurusan dilengkapi dengan beberapa bidang, yaitu : Bidang Umum dan Advokasi, Bidang Humas dan Informasi, Bidang Organisasi dan Pengembangan Profesi, Bidang Kerjasama dan Kemitraan, Bidang Usaha dan Koperasi, serta Dewan Pertimbangan. Dengan terpilihnya kepengurusan baru ini diharapkan mampu membawa semangat baru dalam meningkatkan profesionalisme, integritas, dan soliditas Polisi Kehutanan menghadapi tantangan pengelolaan hutan ke depan. Selamat bekerja kepada Pengurus IPKI Wilayah Sumatera Utara Periode 2024-2027.. Sumber : HM. Parlindungan Sinaga, S.Kom. (Pranata Komputer Ahli Pertama)- Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 209–224 dari 1.990 publikasi