Sabtu, 30 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Burung Bubut Penghuni desa Penyangga TN Batang Gadis

Panyabungan, 10 Juni 2021. Burung Bubut ini sering dijumpai di desa-desa penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) dengan suaranya yang khas. Sebagian besar masyarakat tidak asing dengan keberadaan Burung bubut besar ini dikarenakan habitat dari burung ini yang tergolong cukup luas. Sebut saja areal perkebunan, semak belukar sekitar pemukiman, tepi hutan, semak tepi sungai hingga hutan mangrove. Burung ini sekali waktu terlihat melompat diantara semak dan pohon dengan terbang rendah dalam mencari makan. Makanannya sendiri berupa ulat, kumbang, kadal, katak, tikus dan berbagai jenis serangga lainnya sehingga burung ini dapat menjadi predator alami beberapa jenis hama pertanian. Semoga selalu lestari di alam. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Penguatan Fungsi Kemitraan Konservasi TWA Sungai Dumai

Pekanbaru, 9 Juni 2021 - Balai Besar KSDA Riau melakukan penandatangan perjanjian kerjasama dengan mitra konservasi Kelompok Tani Hutan Meranti Sejahtera pada Rabu, 9 Juni 2021. Penandatanganan dilakukan Kepala Balai Besar, bapak Suharyono dengan Ketua Kelompok yaitu bapak Junaedi. Kerjasama dilakukan selama 5 tahun dan monitoring akan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Areal kerjasama seluas 30 ha meliputi blok rehabilitasi kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai, Wilayah Kelurahan Mundam, Kec. Medang Kampai, Kota Dumai. Kelompok Tani Hutan Meranti Sejahtera adalah mitra konservasi yang dibentuk dari masyarakat sekitar kawasan konservasi TWA Sungai Dumai. Langkah ini merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk melakukan penyelamatan kawasan dengan kegiatan pemulihan ekosistem yang melibatkan masyarakat setempat. Dimana masyarakat menjadi ujung tombak penyelamatan kawasan hutan yang lestari, mewujudkan sinergi dengan ruang lingkup kegiatan meliputi penyiapan bibit, penanaman jenis pohon endemik asli dan jenis pohon multi manfaat serta pemeliharaan tanaman. Semoga dengan keterlibatan masyarakat sekitar kawasan dalam upaya pelestarian hutan yang bersinergi, akan lebih terjaga hutan tersisa untuk kehidupan saat ini dan nanti. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Pendampingan Kelompok Mutiara Dusun Kukusan Desa Pasir Panjang

Labuan Bajo, 9 Juni 2021. Balai Taman Nasional Komodo melakukan pendampingan Kelompok Mutiara di Dusun Kukusan untuk budidaya rumput laut sebagai upaya mata pencaharian tambahan. Kegiatan ini diinisiasi Dusun Kukusan sejak bulan November 2020 dengan pendampingan Fahri Ikhlas (Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Komodo) bersama dengan tim pada tanggal 7 – 8 Juni 2021. Kelompok Mutiara dikoordinir oleh Zainudin (Kepala Dusun Kukusan) dengan jumlah anggota sebanyak 12 orang. Masing-masing anggota setidaknya memiliki satu petak area budidaya rumput laut dengan ukuran 4 x 6 meter. Rumput laut dapat dipanen setiap 45 hari sekali dan menghasilkan 500 – 1000 Kg rumput laut kering dengan harga jual berkisar antara Rp11.000 – Rp15.000 per kilogram. Dalam satu kali musim panen, anggota Kelompok Mutiara dapat menghasilkan 6000 Kg rumput laut kering dengan pendapatan bruto mencapai Rp66.000.000,00 – Rp90.000.000,-. Pelaksanaan budidaya rumput laut di alam sangat dinamis dan tidak terlepas dari adanya risiko gangguan. Bentuk-bentuk gangguan yang dapat mempengaruhi kesehatan tumbuh rumput laut diantaranya adalah aktivitas mencari makan (foraging) penyu dan ikan baronang serta serangan penyakit kutu putih. Kurangnya pengetahuan masyarakat dalam menangani gangguan tersebut khususnya serangan penyakit kutu putih menjadi alasan Tim mendatangkan juga narasumber ahli guna menyampaikan tata cara penanganan penyakit kutu putih dan cara menjaga kualitas rumput laut pasca panen. Narasumber ahli merekomendasikan masyarakat untuk melakukan hal-hal diantaranya: (1) membuat kalender musiman agar terhindar dari serangan penyakit kutu putih yang cenderung terjadi saat musim kemarau, (2) memotong bagian rumput laut yang terkena gejala serangan kutu putih (misalkan: adanya bintik hitam) dan mengangkat rumput laut ke daratan selama satu malam, (3) membuat model penjemuran gantung untuk menjaga kualitas rumput laut, (4) membuat bibit dari rumput laut yang telah berusia 30 hari dan memaksimalkan penggunaan bibit hanya 3 kali pembibitan, dan (5) memahami karakteristik pasang surut air laut dan kandungan substrat dasar kaitannya dengan kesesuaian pemilihan jenis rumput laut tertentu. Balai Taman Nasional Komodo menargetkan adanya pelatihan pengolahan rumput laut lebih lanjut bagi Kelompok Mutiara dan masyarakat Dusun Kukusan agar nilai jual rumput laut yang dihasilkan dapat ditingkatkan dan tidak hanya fokus pada penjualan rumput laut dalam kondisi kering saja. Selain itu, Balai Taman Nasional Komodo juga berencana untuk melakukan pendampingan dan pembentukan kelompok rumput laut di Pulau Rinca, khususnya di Dusun Bajo, Dusun Beringin Baru, Dusun Beringin Jaya, dan Dusun Komodo, kedepannya. Pendampingan masyarakat ini dilakukan Balai Taman Nasional Komodo sebagai bentuk upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan tak hanya dilakukan di Dusun Kukusan. Berbeda dengan Dusun Bajo, Dusun Beringin Baru, Dusun Beringin Jaya, Dusun Komodo, dan Dusun Kerora yang lokasinya berada di dalam kawasan, Dusun Kukusan merupakan salah satu dusun di Desa Pasir Panjang yang berada di luar kawasan Taman Nasional Komodo. Total kepala keluarga yang ada di Dusun Kukusan mencapai 65 Kepala Keluarga dengan mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan. Sebagian besar masyarakat di sekitar Kabupaten Manggarai Barat yang menggantungkan diri pada industri pariwisata kembali berprofesi menjadi nelayan akibat pandemi COVID-19. Maraknya perubahan profesi ini menyebabkan tingginya persaingan antar nelayan dalam mencari ikan yang dapat berdampak negatif pada kelestarian populasi jenis ikan maupun ekosistem perairan Taman Nasional Komodo. Sebagai informasi, kegiatan ini juga melibatkan Yosefina Dewi Soleman dan Ferawati (Penyuluh Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Manggarai Barat), Djunius Buky (Kepala SPTN Wilayah I), Aliifatus Syahiidah (Pengendali Ekosistem Hutan Pertama), Ikhwan Syahri (Polisi Kehutanan Pertama), serta Gunardi dan Muhamad Fajrin (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Kampung Rinca) dan dilakukan secara tatap muka langsung serta tetap memperhatikan pemberlakuan protokol kesehatan. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Ikhwan Syahri, S.Hut dan Fahri Ikhlas, S.Hut. Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Pelibatan Masyarakat Desa Penyangga melalui Nota Kesepakatan Konservasi Di SM Pelaihari

Tanjung Dewa, 3 Juni 2021 – Setelah Nota Kesepakatan dengan Desa Penyangga di Kecamatan Jorong beberapa waktu lalu, kali ini Penandatangan Nota Kesepakatan Konservasi untuk lingkup Kecamatan Panyipatan di aula Kantor Desa Tanjung Dewa Kecamatan Panyipatan. Nota kesepakatan tersebut dibuat antara Balai KSDA Kalimantan Selatan dengan tiga desa penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Ketiga desa tersebut adalah: Desa Kandangan Lama, Desa Batakan dan Desa Tanjung Dewa. Penyusunan Rencana Pemberdayaan Masyarakat (RPM) selama 5 (lima) tahun juga disusun sebagai arah program pemberdayaan masyarakat pada desa penyangga kawasan konservasi yang merupakan rangkaian dari kegiatan Fasilitasi Kesepakatan Konservasi. Adapun poin-poin kesepakatan konservasi dalam nota yang telah ditandatangani tersebut, antara lain adalah sebagai berikut: Dalam diskusi pembahasan nota kesepakatan, Kepala Dinas Perhubungan Tanjung Dewa memberikan masukan terkait jasa wisata penyeberangan Pulau Datu diharapkan agar selalu sesuai dengan SOP agar safety untuk pengunjung / wisatawan yang ingin berwisata religi selalu terjaga. Camat Panyipatan pun menambahkan bahwa adanya nota kesepakatan ini menjadi langkah awal untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat desa yang melakukan aktivitas di dalam kawasan konservasi. Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. menyampaikan bahwa tujuan nota kesepakatan konservasi ini adalah sebagai salah satu solusi untuk melibatkan masyarakat dalam menjaga kawasan konservasi sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat ketiga desa dan memperoleh manfaat secara bersama-sama terutama adanya kepastian hukum dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan pada kawasan konservasi TWA Pelaihari dan SM Pelaihari. Sebagai informasi, penandatanganan nota kesepakatan ini dihadiri oleh ketiga kepala desa. Kegiatan penandatanganan disaksikan oleh Camat Panyipatan Bapak Agus Setiyo, S.STP., M.M, Kapolsek Panyipatan, Kepala Posramil Kecamatan Panyipatan, Danpos Angkatan Laut Panyipatan, Kepala UPT Dinas Perhubungan Laut Tanjung Dewa, Kelompok Tani Lestari dan masyarakat Desa Tanjung Dewa, Desa Batakan dan Desa Kandangan Lama. (ryn) Sumber : Nadya Arta Uly Siagian, S.H - Polhut Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Nota Kesepakatan Konservasi Pulau Suwangi di TWA Pulau Burung dan Pulau Suwangi

Batulicin, 8 Juni 2021 – Seksi Konservasi Wilayah III Balai KSDA Kalimantan Selatan melakukan kegiatan Nota Kesepakatan Konservasi dan Pembentukan Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Batulicin Kecamatan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. Kegiatan ini menjadi jembatan bagi BKSDA Kalsel dan masyarakat untuk saling membantu dalam menjaga kawasan hutan. Pada acara ini Lurah Batu Licin Bapak Said Ahmad mengharapkan semoga kegiatan seperti ini dapat terus berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat karena ini salah satu kegiatan penting yang akan menambahkan pendapatan masyarakat, dan juga semoga kelompok yang telah dibentuk bisa berjalan dengan lancar untuk bisa menjadi contoh di tempat lain. Nota kesepakatan konservasi dan Pembentukan Kelompok membuka peluang bagi masyarakat mendapat bantuan dari instansi lain namun tetap harus didampingi dan diawasi oleh pihak Resort dan Seksi Konservasi Wilayah III. Dalam kesempatan ini Dr. Mahrus menyampaikan bahwa kegiatan ini akan menjadi salah satu pelibatan masyarakat dalam mengelola kawasan konservasi untuk dapat terus menjaga kelestarian Flora dan Fauna yang ada di wilayah Batulicin khususnya Pulau Suwangi. BKSDA akan memberikan akses kawasan kepada masyarakat dengan syarat tidak menebang pohon tetapi boleh mengambil hasil hutan bukan kayu dan jasa wisata. Lahan yang sudah sejak lama dikelola tetap milik negara tapi masih bisa diambil manfaatnya oleh masyarakat setempat yang telah turun temurun tinggal di kawasan tersebut. Mendengar paparan dari Kepala Balai, anggota masyaraka Pulau Suwangi antusias untuk mengelola bersama karna mereka paham akan pentingnya kawasan untuk keberlangsungan kehidupan. Jangan ada penembakan burung, kancil dan penebangan liar nanti hutan kita gundul kata Bapak Abdul Muin selaku masyarakat sekitar saat sesi diskusi. Beliau juga meminta kepada pihak BKSDA untuk menindak jika ada pihak pihak yang melakukan kegiatan ilegal. Bapak H. Sarwani selaku ketua RT di Pulau Suwangi juga menambahkan saat kelompok pemberdayaan maayarakat nanti berjalan beliau ingin melakukan kegiatan gotong royong di pualu Suwangi dalam 1 bulan sekali, dan ini menjadi kegiatan yang sangat diperbolehkan oleh BKSDA namun dengan syarat tidak membakar. Berbagai kegiatan didalam kelompok nanti harus didampingi oleh tim dari BKSDA. Setelah diskusi dengan masyarakat, Ibu Gina bersama masyarakat berdiskusi kembali mengenai pembentukan Kelompok pemberdayaan masyarakat dan telah disepakati bersama Nama Kelompok serta struktur pengurus. Nama Kelompok Sipatuo; Ketua: Andi Afrizen; Sekertaris: Abdul Muin; dan Bendahara: Hatijah. Diharapkan setelah pembentukan kelompok ini usaha mereka berjalan lancar sehingga bisa menambah pendapatan masyarakat. Sebagai informasi, acara ini dihadiri oleh Lurah Batulicin Bapak Said Ahmad. Sp, Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, Kepala SKW III Nikmat Hakim Pasaribu, SP, M.Sc, dan didampingi oleh penyuluh dari KPH Kusan Ibu Gina Yulinda, S.Hut dan Kepaka Resort TWA Pulau Burung dan Pulau Suwangi (TWA Busuwa) M. Tejar serta tokoh masyarakat Pulau Suwangi RT. 09.(ryn) Sumber : Maulinda, S.Hut - Staf Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Peningkatan Kapasitas Kelompok Binaan BBTN Teluk Cenderawasih di Masa Pandemi

Nabire, 9 Juni 2021. Pantai Sowa merupakan salah satu destinasi wisata favorit yang ada di Kampung Sima, Kabupaten Nabire yang sebagian besar wilayahnya dikelola oleh Kelompok Binaan Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah I Nabire Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) juga terkena efek dari pandemi ini. Ditutupnya aktivitas pariwisata di wilayah ini mengakibatkan menurunnya sumber pendapatan masyarakat secara drastis sehingga membuat masyarakat pesimis dan semakin khawatir untuk bertahan di sektor ini. Semenjak aktivitas wisata telah dibuka kembali, masyarakat mulai membenahi usahanya dibidang pariwisata. Balai Besar TNTC (BBTNTC) sebagai pengelola kawasan TNTC memberikan angin segar dengan melaksanakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Kelompok Binaan Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah I Nabire pada tanggal 20 – 21 Mei 2021 di Gedung Serbaguna Resort Sowa Kwatisore (RSK). Pelatihan terdiri dari pelatihan cara memasak masakan modern dan cara mengatur cottage. Ini sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman anggota kelompok binaan khususnya di Kampung Sima dan Kwatisore terkait pengelolaan ekowisata. Selain itu, juga memberikan motivasi dan kepercayaan diri masyarakat terhadap sektor pariwisata dengan target yaitu Kelompok Ekowisata Guraja Indah (Sima) dan Kelompok Ekowisata Hiu Paus (Kwatisore), dimana setiap kelompok mengirimkan perwakilan dari masing-masing divisi untuk mendapatkan pelatihan. Narasumber Fany Aledela yang didatangkan dari Manokwari, merupakan salah satu staff hotel di Manokwari menyampaikan cara mengolah bahan makan secara modern yang dipraktekkan langsung . Makanan modern yang diolah diantaranya salad buah, jus jeruk, ikan asam manis dan sup asparagus. Adapun dasar pemilihan masakan tersebut karena bahan-bahan tersebut mudah di dapatkan di Nabire. Sekilas pembuatan masakan terlihat gampang dan umum, namun pada prakteknya ada beberapa detail yang harus di perhatikan, sehingga hasil akhirnya terlihat lebih memuaskan. Untuk materi Penataan Cottage, masyarakat diarahkan langsung ke Cottage yang ada di RSK dan diberikan pengetahuan serta pemahaman tentang barang dan alat yang ada di dalam kamar, kemudian tata cara penyusunan dan desain interior kamar-kamar di Cottage yang akan digunakan sebagai kamar tamu di RSK. Diharapkan anggota kelompok binaan nantinya lebih mandiri, mampu membuat makanan yang lebih modern, dan nantinya dapat melayani wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Pantai Sowa dan sekitarnya. Sumber : Rolf Geffken Situmeang – Penyuluh Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Artikel

Pasang Camera Trap, BBKSDA Riau Pantau Konflik Satwa Liar di Teluk Meranti

Pekanbaru, 9 Juni 2021 - Seksi Konservasi Wilayah I Balai Besar KSDA Riau bersama PT. RAPP Estate Teluk Meranti dan masyarakat setempat turun ke lokasi untuk penanggulangan konflik satwa liar yang terjadi di Dusun Sangar, Desa Pulau Muda, Kec. Teluk Meranti, Kab. Pelalawan pada tanggal 5-6 Juni 2021. Upaya yang dilakukan dengan menambah 2 unit camera trap di sekitaran TKP yang sebelumnya sudah terpasang camera trap di sekitar lokasi, namun belum juga menemukan tanda – tanda atau jejak terbaru dari satwa tersebut. Masyarakat menyadari bahwa terjadinya konflik satwa liar dimungkinkan akibat sudah berkurangnya sumber makanan dan habitatnya sehingga satwa harus keluar untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, Tim juga melakukan sosialisasi penanganan konflik satwa liar kepada masyarakat bersama RT setempat. Tim juga menghimbau agar untuk sementara warga tidak beraktivitas di malam hari dan tidak anarkis terhadap satwa liar apalagi untuk satwa liar yang dilindungi dan meminta masyarakat untuk membersihkan lahan dan kebun mereka agar satwa liar tidak memasuki areal tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Balai Besar TaNa Bentarum, Gelar Psikotes Bagi Calon Pemegang Senjata Api

Putussibau, 8 Juni 2021. Sebagai upaya pengurusan administrasi pemegang senjata api Non Organik TNI/Polri, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) menggelar Tes Psikologi (Psikotes) bagi calon Pemegang Senpi Non Organik TNI/Polri. Peserta pelatihan berjumlah 40 orang terdiri dari Pejabat Struktural dan Fungsional Polisi Kehutanan Balai Besar TaNa Bentarum, yang difasilitasi Bagian Psikologi Biro SDM POLDA Kalbar yang dipimpin oleh Kabbagpsikologi AKBP Abdur Rosid, S.Ag., M.H. “Kami sangat mengapresiasi pihak Balai Besar TaNa Bentarum yang tertib dalam pengurusan administrasi senjata api” ungkap Abdul Rosid. “Psikotes ini dilakukan untuk mengetahui dan mengukur kepribadian bagi calon pemegang senjata api serta sebagai salah satu syarat dalam memperoleh ijin penguasaan pinjam pakai senjata api” tambahnya. Kegiatan Psikotes dibuka langsung Kepala Balai Besar TaNa Bentarum Ir. Arief Mahmud, M.Si. “Senjata api merupakan bagian dari sarpras perlindungan dan pengamanan kawasan hutan, sehingga seorang Fungsional Polisi Kehutanan harus benar-benar memahami prosedur penggunaan senjata api” pungkasnya. Sumber : Ade Arief - Polhut Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Artikel

“Operasi Sampah” Rasa Kampanye

Cibodas, 9 Juni 2021. ”Hutan itu rumah kita, kalau kotor kita ga akan betah, tidak akan merasa nyaman”, ujar Agus salah satu volunteer yang pagi itu berkumpul bersama ratusan peserta operasi bersih (opsih) lainnya. Pada tanggal 2 Juni 2021, di depan kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) berkumpul perwakilan Volunteer Gunung Gede Pangrango (GPO dan Montana), pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam/ IUPJWA (Koperasi Surya Kencana Mandiri Sejahtera dan Koperasi Cantigi Wisata Sejahtera), Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Gunung Putri dan Cibodas, Kelompok Tani Hutan (KTH) Sukatani dan Universitas Parahiyangan Bandung, serta masyarakat pelaku usaha jasa wisata yang ada di sekitar kawasan. Antusias dan semangat peserta opsih, jelas menunjukan masih tingginya kepedulian masyarakat terhadap Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, seperti yang disampaikan salah satu peserta, “Saya datang bukan sekedar untuk munguti sampah, tapi ini aktualisasi cinta saya pada Gede Pangrango.” Budaya bersih memang terus dikampanyekan oleh Balai Besar TNGGP bersama para mitra. ISO 14001-2015 tentang Sistem Manajemen Lingkungan sudah lama diterapkan namun kesadaran wisatawan khususnya pendaki gunung masih terus harus digugah dan disegarkan. Lihat saja hasil opsih, sampah yang diturunkan sebanyak 828 Kg untuk jalur Gunung Putri dan 292,5 Kg untuk jalur Cibodas dengan total sampah yang diperoleh 1.120,5 Kg (1 Ton lebih). Sampah tersebut terdiri dari plastik, botol bekas air minum kemasan, dan kaleng yang berasal dari bekas limbah pengunjung. Padahal salah satu kewajiban para pendaki adalah membawa kembali sampahnya ketika turun. Kepala Balai Besar TNGGP pada saat pelepasan peserta secara simbolis, menyampaikan pentingnya menumbuhkan kesadaran dan budaya hidup bersih bagi wisatawan, khususnya pendaki. Budaya bersih sebagai salah satu bagian dari eduwisata TNGGP akan terus ditekankan sampai kita tidak perlu lagi ada kegiatan opsih, karena tidak ada lagi sampah. Kegiatan selama dua hari (2 – 3 Juni 2021) yang melibatkan para mitra, tercatat sebanyak 142 orang merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2021. Masih dalam rangkain acara tersebut pada tanggal 5 - 6 Juni 2021 bersama Universitas Parahiyangan digaungkan kembali Kampanye Pendaki Cerdas, harapannya TNGGP dapat menjadi jalur pendakian taman nasional pertama yang bebas sampah, ZERO WASTE! Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks: Darwin Dok: Tim Operasih Bersih
Baca Artikel

Balai Besar TaNa Bentarum Gelar Pelatihan Operator Radio

Putussibau, 7 Juni 2021. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) menggelar Pelatihan Operator Radio Komunikasi yang diikuti 40 orang peserta yang berasal dari Bidang Teknis Konservasi, Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN), Seksi PTN dan Resort Pengelolaan lingkup Balai Besar. Kegiatan dilaksanakan selama satu hari dengan Narasumber Firdaus Hendri dari ORARI (Organisasi Amatir Radio Indonesia) Sintang yang kegiatannya meliputi teori dan praktek lapangan. “Alat komunikasi sangat penting dalam menunjang pengelolaan kawasan taman nasional. Dalam rangka mengantisipasi dan menghadapi bencana seperti kebakaran hutan, alat komunikasi sangatlah mutlak diperlukan sebagai sarana penyampaian informasi baik pada saat terjadi ataupun pasca kejadian. Sebab, dalam penanggulangan bencana kebakaran hutan, diperlukan informasi yang cepat, tepat dan akurat agar tidak terjadi keterlambatan dan kesalahan informasi sehingga dapat meminimalisir dampak kerugian dari bencana kebakaran” ungkap Arief Mahmud dalam sambutan pembukaan acara. “ Dalam rangka Pengendalian Kebakaran Hutan kita menerapkan strategi Early Warning System (EWS), sehingga peran radio komunikasi menjadi sangat penting dan vital dalam mendukung upaya engendalian kebakaran hutan, sehingga upaya deteksi dini pencegahan kebakaran hutan di kawasan TNBK dan TNDS menjadi lebih efektif dan efisien” tambahnya. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kemampuan dan kompetensi managerial maupun teknis bagi operator radio komunikasi lingkup Balai Besar TaNa Bentarum, dengan harapan mampu menghasilkan tenaga operator yang handal, terampil dan siap didayagunakan untuk kepentingan penyampaian informasi dalam menunjang pengelolaan kawasan TNBK dan TNDS melalui jaringan radio komunikasi. Sumber : Ade Arief, S.Hut - Polhut Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Artikel

Kesepakatan Konservasi di 4 Desa Penyangga SM Pelaihari Tanah Laut

Jorong, 2 Juni 2021 – Upaya menjaga dan melindungi kawasan konservasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat, sebagai langkah awal untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat yang melakukan aktifitas di dalam kawasan konservasi di Suaka Margasatwa (SM) Pelaihari Kabupaten Tanah Laut, maka BKSDA Kalimantan Selatan menginisiasi adanya Nota Kesepakatan antara BKSDA Kalimantan Selatan dengan desa-desa yang menjadi penyangga kawasan S.M Pelaihari Tanah Laut. Nota kesepakatan tersebut dibuat antara BKSDA Kalimantan Selatan dengan empat desa penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan S.M Pelaihari Tanah Laut. Keempat desa tersebut adalah: Desa Alur, Desa Jorong, Desa Sabuhur dan Desa Swarangan. Penandatanganan nota kesepakatan ini merupakan bagian dari rencana pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan dalam jangka lima tahun kedepan. Tujuannya adalah tercapainya kesepakatan konservasi antara BKSDA Kalimantan Selatan dengan Desa-Desa yang menjadi kawasan penyangga S.M Pelaihari Tanah Laut. Hal-hal yang dimuat dalam Nota Kesepakatan yang telah ditandatangani tersebut, antara lain adalah sebagai berikut : Pada saat acara penandatanganan nota keepakatan ini dihadiri oleh keempat kepala desa dan para tokoh masyarakat dan kelompok pemberdayaan dari Desa Sabuhur, Desa Swarangan, Desa Alur dan Desa Jorong. Acara penandatanganan nota kesepakatan ini turut juga dihadiri dan disaksikan oleh Camat Jorong dan Koramil Jorong. Dalam sambutannya Bapak M. Alfan Rosidi Anwar ,S.STP selaku Camat Jorong sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini sebagai sebuah progress dari komunikasi intens yang selama ini dilakukan oleh pihak BKSDA Kalimantan Selatan dengan desa-desa yang menjadi kawasan penyangga S.M Pelaihari. Tak lupa pula, Bapak M. Alfan Rosidi Anwar dalam kesempatan tersebut juga menghimbau agar bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan lahan, mengingat Kalimantan Selatan pada umumnya telah memasuki musim kemarau. Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, Bapak Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. mengungkapkan dalam sambutannya bahwa tujuan utama dari penandatanganan nota kesepakatan ini adalah untuk memberikan landasan hukum bagi masyarakat yang berkegiatan dengan melakukan pemanfaatan di dalam kawasan S.M Pelaihari. “Tujuan penandatanganan nota kesepakatan ini adalah agar masyarakat dapat beraktivitas pada blok-blok yang sudah ditentukan dan tidak melanggar peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.”ucapnya. Ditambahkan pula oleh beliau bahwa inti dari penandatanganan nota kesepakatan ini adalah dalam rangka pelibatan masyarakat dalam menjaga kawasan konservasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan dan terjaganya keseimbangan alam pada kawasan S.M Pelaihari Tanah Laut. (ryn) Sumber : Badrul Arifin, S.Hut - PEH Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Dumai

Pekanbaru, 7 Juni 2021. Balai Besar KSDA Riau yang diwakili Kepala Bidang Teknis, bapak M. Mahfud menghadiri peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Pertamina RU II Dumai pada hari Sabtu, 5 Juni 2021. Yang menggembirakan adalah dalam rangkaian acara, terdapat pelepasliaran satwa ke kawasan Parta Seroja Eco Park Bukit Datuk. Kawasan ini merupakan salah satu hutan primer yang tersisa di Kota Dumai, dengan luas 56 ha. Adapun satwa yang dilepasliarkan adalah Kura2 Matahari = 2 ekor, Tupai Tiga Warna = 2 ekor, Burung Srindit = 20 ekor dan Burung Pleci = 20 ekor. Semoga dapat memperkaya fauna yang ada di kawasan Parta Seroja Eco Park sehingga kawasan ini makin asri dan berbagai satwa yang ada di muka bumi ini makin lestari. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

BBKSDA Riau Bersama BRGM Bantu Kelompok Masyarakat Sekitar SM Giak Siak Kecil

Pekanbaru, 7 Juni 2021 - Tim Resort Duri Balai Besar KSDA Riau dan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melakukan pendampingan sekaligus sosilaisasi kepada Kelompok Masyarakat Desa Tasik Serai dan Tasik Serai Timur. Kegiatan yang dilakukan pada hari Selasa, 1 Juni 2021, Tim menanyakan kepada masyarakat terkait jenis bantuan yang akan diberikan kepada masing-masing kelompok masyarakat. Kedua kelompok masyarakat tersebut memilih bantuan berupa ternak sapi. Tim memeriksa proposal dari masing-masing kelompok masyarakat dan memberikan arahan tentang kelengkapan dari proposal tersebut. Seperti biasa, Tim juga mengajak masyarakat agar bersama-sama menjaga dan melestarikan kawasan konservasi Suaka Masrgasatwa (SM) Giam Siak Kecil untuk kepentingan bersama, baik saat ini maupun dimasa-masa yang akan datang. Karena jika tidak terjaga maka dapat menimbulkan bencana terutama bagi masyarakat sekitarnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Wakil Bupati Lampung Timur dan Plt. Kepala Balai TNWK ajak

Lampung Timur, 6 Juni 2021 - Wakil Bupati Lampung Timur Azwar Hadi bersama dengan Plt. Kepala Balai Taman NasionalWayKambas (TNWK) dan rombongan komunitas sepeda melakukan dialog tentang pengembangan objek wisata , hal itu dilakukan di Rest area wisata Desa Labuhanratu VI, Kecamatan Labuhan ratu, Minggu (6/6/2021). Sebelum melakukan dialog, rombongan komunitas sepeda bersama Wakil Bupati Lampung Timur lebih dulu bersepeda sejauh 20 kilo meter dengan melintasi pinggir hutan TNWK dan disertai pelepasliaran belasan ekor burung ke alam. Wakil Bupati Lampung Timur Azwar Hadi mengatakan, setelah di lakukan cek lokasi rest area yang awalnya dibangun sebagai objek wisata, pada 2018 lalu namun sampai saat ini belum berjalan optimal, sementara pemerintah daerah setempat akan menggerakkan objek wisata tersebut guna memajukan perekonomian masyarakat. Hasil dari dialog kata Azwar Hadi rest area perlu pembenahan beberapa insfratruktur umum terutama soal aliran listrik, yang akan digunakan sebagai penggerak penerangan dan penggerak air bersih. "Lah ini tadi saya cek listrik tidak hidup, air di semua toilet tidak fungsi karena tidak ada air, persoalannya tidak ada arus listrik," ucap Azwar Hadi. Azwar meminta sejumlah OPD yang bersangkutan harus memperhatikan kondisi semua objek wisata yang ada di Lampung Timur yang kiranya bisa menarik simpati pengunjung. "Memang kondisi masih Covid 19 namun kita tetap berbenah dan merencanakan program kedepan untuk memajukan wisata Lampung Timur, namun tetap waspada memperhatikan protokol kesehatan. Sementara itu, Plt. Kepala Balai TNWK Amri, SH. M. Hum. menegaskan Balai TNWK siap mendukung program pemerintah Kabupaten Lampung Timur terkait wisata terutama wisata yang ada di pinggir hutan, Amri juga siap bekerja sama untuk mendatangkan beberapa gajah jinak jika rest area ini sudah siap dioperasikan, gajah jinak bisa dinikmati pengunjung rest area yang ada di Labuhan Ratu VI. Kita buat konsep Lembaga Konservasi sehingga pihak ketiga dapat memanfaatkan gajah-gajah yang ada di Pusat Latihan Gajah Way Kambas. Namun Kepala Balai berharap, warga penyangga khususnya Desa Labuhanratu VI bisa turut serta menjaga dan melestarikan hutan dan satwa yang ada, artinya warga penyangga diminta jangan melakukan kegiatan ilegal dalam hutan konservasi. "Mudah mudahan Rest area yang kedepannya akan dioperasikan ini bisa membantu ekonomi masyarakat," terang Amri. Kepala Desa Labuhan ratu VI, Prayitno mengatakan jika progress pemerintah Lampung Timur benar akan menghidupkan rest area maka akan disambut gembira oleh masyarakat sekitar, karena warga Labuhan ratu VI bisa mencari rejeki dengan menjual kuliner dan kerajinan tangan, Prayit juga berharap masyarakat dapat memanfaatkan kotoran gajah untuk pupuk kompos dan bahan souvenir (pot bunga/media tanam). Prayit mengatakan dihadapan Wakil Bupati Lampung Timur, ada sebagian warganya yang dibina melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk mengelola berbagai kerajinan tangan yang berbahan baku dari batok kelapa dan bambu. "Souvenirnya macam macam, dari penghias ruangan rumah, peralatan dapur hingga souvenir kecil gantungan kunci," papar Prayitno. Sumber : Balai TN Way Kambas
Baca Artikel

Masih Misteri, BBKSDA Riau Pasang Camera Trap di Lokasi Konflik Satwa Liar

Pekanbaru, 5 Juni 2021 - Mitigasi konflik satwa liar di Desa Teluk Binjai, Kec.Teluk Meranti, Kab. Pelalawan dilakukan Tim Resort Kerumutan Utara (Teluk Meranti) Balai Besar KSDA Riau pada Selasa, 1 Juni 2021. Berawal dari laporan warga Dusun Tanjung Mentangor, Desa Teluk Binjai, Kec.Teluk Meranti, Kab.Pelalawan yang menyampaikan kehilangan ternaknya yang diduga dimangsa satwa liar. Di lokasi TKP, Tim menemukan bekas jejak satwa yang berkeliaran di dekat kandang itik/bebek yang tidak jauh dari rumah warga. Berdasarkan keterangan dari warga, satwa liar tersebut sudah memangsa itik/bebek sebanyak 5 ekor pada hari Sabtu, 29 Mei 2021 dan sebelumnya juga sudah memangsa 1 ekor ayam serta membawa sangkar ayam tersebut ke semak-semak tidak jauh dari rumah warga. Warga sekitar sudah merasa takut dan resah sehingga meminta pihak terkait untuk menangani permasalahan ini. Tim memberikan himbauan kepada warga agar tetap tenang, berhati-hati, meningkatkan kewaspadaan dan jangan keluar rumah sendiri di waktu magrib dan malam hari. Tim menyampaikan kepada warga jangan ada yang melakukan tindakan anarkis kepada satwa yang dilindungi Undang Undang. Saat ini, Tim telah memasang camera trap di sekitar lokasi tersebut untuk memastikan satwa jenis apa, berapa jumlahnya dan kondisinya guna penanganan lebih lanjut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Revitalisasi Ekonomi Masyarakat Di Sekitar SM Kerumutan

Pekanbaru, 5 Juni 2021 - Balai Besar KSDA Riau bersama Tim Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) telah melakukan kegiatan pendampingan verifikasi proposal dan rencana lokasi usaha revitalisasi ekonomi masyarakat yang merupakan program dari BRGM pada hari Kamis - Minggu, 27- 30 Mei 2021. Program dari BRGM bersama Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Pangkalan Kerinci, Balai Besar KSDA Riau akan dilakukan di 4 desa yang berada di sekitar kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan. Nama kelompok tani hutan (KTH) program revitalisasi ekonomi tersebut adalah KTH Tuah Bersama, Desa Pulau Gelang, Kec.Kuala Cenaku, Kab.Indragiri Hulu dengan ketua kelompok Sdr.Khairudin, beranggotakan 15 orang dengan usaha budidaya ikan patin menggunakan sistem bioflok. KTH Kerumutan Lestari, Desa Redang, Kec.Rengat Barat, Kab.Indragiri Hulu dengan ketua kelompok yaitu Sdr Budi Eriadi, beranggotakan 15 orang dengan usaha budidaya ikan patin menggunakan sistem kolam. KTH Tasik Bertuah, Desa Mak Teduh, Kec.Kerumutan, Kab.Pelalawan dengan ketua kelompok yaitu Sdr Zaini, beranggotakan 15 orang dengan usaha ternak sapi Bali. Dan yang terakhir KTH Punak Lestari Baru, desa Teluk Binjai, Kec.Teluk Meranti, Kab.Pelalawan dengan ketua kelompok yaitu Sdr.Tamzirin, beranggotakan 15 orang dengan usaha ternak kambing lokal. Tim BRGM telah melakukan verifikasi semua proposal kelompok dan kedua belah pihak juga sepakat menandatangani surat kesepakatan rincian anggaran biaya untuk masing masing usaha. Balai Besar KSDA Riau dan BRGM berharap kelompok ini dapat meningkatan kesejahteraan hidupnya dan mengurangi ketergantungan terhadap hutan (lahan gambut) terutama di sekitar kawasan SM Kerumutan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 2.161–2.176 dari 2.311 publikasi