Jumat, 9 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Menembus Alas Ireng, Harapan itu Bernama Sigogor

Ponorogo, 15 Juni 2025. Di balik ketenangan Cagar Alam Gunung Sigogor, sekelompok rimbawan berjalan di tumpukan serasah. Bukan untuk berburu, bukan pula untuk rekreasi. Mereka datang dengan misi mulia, menjaga nadi kehidupan benteng terakhir yang tersisa di jantung alam Jawa Timur. Dalam rentang waktu empat hari, dari 10 hingga 13 Juni 2025, tim Smart Patrol BBKSDA Jatim menembus lanskap berkabut di dua blok utama, Sigombal dan Ngesep, yang terbagi menjadi enam grid pengamatan. Ini bukan patroli biasa. Ini adalah bentuk nyata komitmen negara terhadap perlindungan keragaman hayati yang kian terdesak oleh ruang dan waktu. Di Blok Sigombal dan Blok Ngesep, para petugas menemukan mosaik flora endemic dan langka yang masih bertahan di cekungan-cekungan lembab lereng Sigogor. Dari Dodonaea viscosa yang menyimpan kisah adaptasi abadi, hingga anggrek tanah Calanthe sp. yang mekar dalam sunyi, hanya disaksikan mata mereka yang bersedia menyusuri jalan terjal dan berlumut. Sementara dari balik semak dan kanopi, suara alam masih terdengar lantang. Tulum tumpuk Megalaima javanica berkicau di antara batang suren, dan elang hitam Ictinaetus malayensis membelah langit dengan sayap lebar, seakan menjadi penjaga langit Sigogor. Mereka tidak sendiri. Kijang Muntiacus muntjak tampak melintas, dan Lutung jawa Trachypithecus auratus mengintip dari dahan tinggi, simbol bahwa alam masih memiliki denyut, walau sayup. Lebih dari sekadar catatan observasi, patroli ini juga menjadi konfirmasi penting, tidak ditemukan adanya gangguan kawasan maupun aktivitas pelanggaran hukum. Lima pal batas yang ditemukan nomor 47, 26, 28, 315, dan 316 masih utuh dan berdiri kokoh, seperti menandai wilayah kedaulatan ekosistem yang masih terlindungi. Ini adalah kisah tentang harapan. Tentang mereka yang memilih berjalan menembus rimba bukan karena kemewahan, tapi karena panggilan nurani. Karena di setiap langkah rimbawan, tersembunyi janji untuk masa depan yang lebih lestari. Kegiatan ini juga menjadi istimewa karena kehadiran langsung Kepala Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Gatot Kuncoro Edi, yang turut serta mendampingi patrol dari awal hingga akhir. Di tengah semak dan langkah panjang, beliau memberikan semangat yang menginspirasi seluruh tim bahwa “Rimbawan baik di hutan maupun di kota tetap semangat dan hati gembira” tegasnya. Kegiatan Smart Patrol ini merupakan bagian dari strategi konservasi aktif BBKSDA Jatim dalam mendeteksi dini ancaman dan memantau populasi flora-fauna di kawasan konservasi. Data dan temuan dari kegiatan ini akan menjadi landasan pengambilan keputusan berbasis sains dalam pengelolaan Cagar Alam Sigogor ke depan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Nadi Ekonomi Hutan, Ketika Angka Transaksi Menjadi Cermin Konservasi

Surabaya, 12 Juni 2025. Di balik derap langkah penyuluh kehutanan yang setiap hari menembus batas-batas tapak dan pedukuhan, tersimpan data-data yang kini menjadi denyut nadi baru bagi ekonomi kelompok tani hutan (KTH), Nilai Transaksi Ekonomi (NTE). Dalam sebuah forum intensif bertajuk Bimbingan Teknis Penginputan NTE bagi Penyuluh Kehutanan di Jawa Timur, harapan akan kemajuan berbasis data kembali digemakan, dibalut dengan tantangan klasik di ranah teknis dan struktural. Forum strategis ini digelar atas undangan resmi Pusat Penyuluhan Kehutanan (PUSLUH), dalam hal ini Balai Besar KSDA Jawa Timur dihadiri oleh Imam Talkah dan Eka Heryadi, yang membawa mandat untuk membuka jalan bagi keberadaan KTH binaan BBKSDA Jatim agar dapat ikut serta dalam skema digitalisasi NTE melalui aplikasi SIMLUH. Ekonomi Hutan di Era Asta Cita Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa kehadiran Biaya Operasional Penyuluh (BOP) bukan hanya bentuk dukungan, namun juga energi pendorong bagi penyuluh kehutanan untuk membina KTH secara lebih intensif dan berdampak. Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Kehutanan menyampaikan bahwa arah pembangunan kehutanan kini tidak lagi semata pada fungsi ekologis, melainkan juga sebagai penyangga kedaulatan pangan dan energi, sesuai dengan program nasional Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Komoditas seperti aren, misalnya, kini dilihat tidak hanya sebagai sumber nira, tapi juga sebagai energi masa depan yang ramah lingkungan. Melalui program seperti WEMISYU (Webinar Kamis Penyuluhan Kehutanan), para penyuluh didorong untuk terus mengembangkan kapasitasnya sebagai ujung tombak konservasi berbasis masyarakat. Digitalisasi dan Tantangan Lapangan Salah satu misi utama kegiatan ini adalah mendorong penginputan NTE secara real-time dan akurat oleh penyuluh kehutanan ASN. Namun, kendala yang dihadapi masih cukup kompleks. Di antaranya adalah belum teregistrasinya 16 KTH binaan BBKSDA Jatim pada sistem Dinas Kehutanan Provinsi, serta keterbatasan akses akun SIMLUH bagi penyuluh PPPK. Data yang dimasukkan ke dalam sistem tidak hanya berfungsi sebagai pelaporan administratif, tetapi juga sebagai indikator langsung produktivitas kawasan hutan dan keberhasilan pendampingan KTH. NTE bukan sekadar angka, tapi wajah ekonomi kerakyatan dari tapak hutan. NTE Tinggi, PR Besar Data menunjukkan bahwa capaian NTE Jawa Timur sudah menyentuh angka Rp 530 miliar, tertinggi nasional, namun baru 29,62% dari target ambisius Rp1,8 triliun pada tahun 2025. Beberapa faktor penyebabnya antara lain belum teregistrasinya KTH, belum meratanya kepemilikan akun SIMLUH, dan adanya KTH yang belum memiliki omzet. Kepala Pusat Penyuluhan Kementerian Kehutanan pun mengingatkan bahwa capaian data harus dilihat dalam konteks progres, bukan euforia. Konsistensi pelaporan, validitas data, dan kualitas pendampingan menjadi satu paket yang harus digenjot untuk memastikan peran penyuluh bukan sekadar formalitas birokrasi. Mendorong Registrasi, Menyalakan Asa Menanggapi belum terealisasinya registrasi 16 KTH binaan BBKSDA Jatim, langkah koordinatif telah dilakukan dengan Admin Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Muhammad Nur Syamsi. Harapannya, dalam lima hari kerja ke depan, KTH tersebut dapat segera memperoleh nomor registrasi sehingga NTE-nya bisa diinput secara resmi dan legal. Namun, PR lainnya tetap terbentang, memastikan semua penyuluh, baik PNS maupun PPPK, mendapatkan akun SIMLUH agar dapat menjalankan perannya secara optimal dan profesional. NTE Bukan Sekadar Angka Data bukan sekadar urusan administrasi, ia adalah cermin perjuangan di lapangan. Di balik NTE, ada tetes keringat penyuluh yang mengantar bibit, menyulut semangat petani hutan, dan membangun rantai ekonomi dari akar. Ketika NTE menjadi ukuran, maka kerja keras dari lapangan mesti dipastikan terukur dan dihargai. BBKSDA Jatim terus berkomitmen menjadi bagian dari arus besar ini, menjaga agar ekosistem tetap lestari, dan masyarakat hutan turut sejahtera. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kisah Rimbawan Muda dan Desa yang Bangkit di Pesisir Selatan Jember

Jember, 12 Juni 2025. Siapa sangka bahwa kambing bisa menjadi pintu masuk konservasi? Di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, sebuah kelompok masyarakat membuktikan bahwa menjaga hutan tak selalu bermula dari hutan itu sendiri, kadang, ia tumbuh dari kandang sederhana, rumput liar, dan semangat warga yang tak ingin kehilangan alam di sekitarnya. Balai Besar KSDA Jawa Timur, Kamis silam (12/6), melalui Bidang KSDA Wilayah III, bersama petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 14 Jember dan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Nusa Barung, melaksanakan monitoring kelompok desa binaan sekaligus pendampingan intensif kepada Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2024, Rimbawan Muda BBKSDA Jatim. Kegiatan ini menyasar Kelompok Masyarakat Putra Lestari, penerima bantuan konservasi pada tahun 2024 yang kini menunjukkan kemajuan mencolok. Berawal dari 16 ekor kambing Caligesing Kepala Hitam hasil bantuan konservasi, kelompok ini telah berhasil mengembangkan populasi menjadi 22 ekor, dengan 5 indukan sedang bunting. Namun yang paling penting, bukan soal jumlah ternak, melainkan tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa menjaga alam bisa dilakukan lewat peningkatan ekonomi, bukan pengrusakan. Kelompok ini bahkan telah menyatakan komitmennya untuk ikut menjaga Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, sebuah kawasan konservasi penting yang menjadi habitat berbagai jenis satwa endemik di pesisir selatan Jawa Timur. Namun, kemajuan itu belum sepenuhnya mulus. Monitoring juga mencatat adanya tantangan serius, seperti terbatasnya ruang kandang dan minimnya fasilitas penyimpanan pakan. Solusi berbasis komunitas pun disusun, seperti pengadaan mesin pencacah rumput, serta sistem perguliran ternak untuk anggota secara bergiliran, memperkuat aspek tanggung jawab dan pemerataan manfaat. Rimbawan Muda, Penjaga Masa Depan Kegiatan ini menjadi panggung awal bagi rimbawan muda untuk belajar memahami denyut konservasi yang sesungguhnya. Bukan di balik meja, bukan dalam rapat teknis, tetapi langsung di tengah masyarakat, mendengarkan, membimbing, dan menyusun solusi berbasis kebutuhan nyata di lapangan. Rimbawan muda hari ini harus menjadi lebih dari sekadar petugas kehutanan. Mereka harus mampu menjadi jembatan antara ekosistem dan ekonomi, antara perlindungan alam dan kehidupan warga. Mereka harus peka membaca jejak satwa, sekaligus bijak mendengar suara warga. Di balik deru angin selatan dan kabut yang menggantung di hutan Nusa Barung di seberang lautan, generasi baru penjaga alam sedang ditempa, belajar bahwa konservasi bukan hanya soal kawasan, tetapi tentang hubungan. Hubungan antara manusia, satwa, tanah, air, dan harapan. Apa yang terjadi di Desa Kepanjen adalah miniatur ideal dari masa depan konservasi di Indonesia, konservasi berbasis masyarakat, ditopang oleh rimbawan yang progresif dan berdaya pikir ekologis. Dari 16 kambing dan sepetak kandang, lahirlah semangat kolaborasi. Dan dari semangat itulah, hutan di Pulau Nusa Barung dan mungkin di kawasan konservasi lain akan tetap hidup. Bukan hanya karena dijaga petugas, tapi karena ada warga dan rimbawan yang memilih untuk peduli. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kolaborasi Hijau untuk Probolinggo Lebih Lestari

Probolinggo, 10 Juni 2025. Di tengah padatnya denyut kota dan geliat kehidupan urban, sebuah oase harapan tumbuh di Kampung Gaharu, Kota Probolinggo. Sekolah Konang Indonesia bersama Komunitas Warga Perum Kerinci Asri dan berbagai elemen masyarakat melaksanakan aksi penanaman pohon gaharu (Aquilaria spp) sebagai bagian dari program penghijauan kota yang tak hanya menyejukkan lanskap, tapi juga menyimpan potensi besar sebagai penyerap karbon dan pelindung keanekaragaman hayati. Kegiatan penanaman ini turut dihadiri oleh Walikota Probolinggo, perwakilan CDK Lumajang Wilker Probolinggo, BPDLH FOLU, Perhutani KPH Probolinggo, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota dan Kabupaten Probolinggo, tokoh masyarakat, serta siswa dari MAN 1, 2, dan 3 Probolinggo. Kolaborasi lintas sektor ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan dalam membangun masa depan ekologis yang lebih baik. Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo, Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir dalam kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap upaya konservasi jenis tumbuhan bernilai tinggi, sekaligus sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim berbasis alam. Pohon gaharu yang selama ini dikenal karena nilai ekonominya, kini digalakkan untuk ditanam dalam skala perkotaan, memberi makna baru sebagai pohon penyeimbang ekosistem dan penyimpan karbon. Penanaman pohon bukan hanya menambah ruang hijau kota, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat. Selain berfungsi sebagai peneduh dan penyegar udara kota, gaharu juga menyimpan potensi ekologis sebagai bagian dari jasa lingkungan, terutama dalam kerangka pengembangan karbon forest (carbon stock) dan nilai konservasi di wilayah perkotaan. Penanaman ini diharapkan menjadi titik awal menuju Kota Probolinggo yang lebih resilien, lestari, dan ramah terhadap iklim. Langkah hijau yang dilakukan hari ini bukanlah sebuah kegiatan seremonial semata. Ia adalah bagian dari narasi besar tentang bagaimana manusia, alam, dan ruang hidup bisa berjalan berdampingan secara harmoni. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Rimbawan Muda BBKSDA Sumut, Energi Baru Untuk Konservasi

29 CPNS baru siap mengabdi di Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 12 Juni 2025. Fachri Afif Maulana, A.Md.Ak. itulah namanya, menjadi salah satu CPNS baru di Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Pria kelahiran Medan, 17 November 2000 ini mendapat kesempatan bergabung sebagai rimbawan Balai Besar KSDA Sumatera Utara setelah lulus menjalani berbagai tes masuk CPNS Kementerian Kehutanan pada tahun 2024 yang lalu. Alumni Politeknik Negeri Medan ini tertarik dengan dunia kehutanan, khususnya konservasi alam bermula dari keaktifannya mengikuti kegiatan pencinta alam, dan bergabung dengan organisasi mapala di kampusnya MAPAGRATWA. Semakin sempurna kecintaannya ketika menjalani PKL sebagai bagian tugas kuliahnya, di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Medan. Fachri yang dinyatakan lulus SKB pada bulan Januari 2025, dengan jabatan Pranata Keuangan APBN Terampil, bertekat ingin mengabdi dan melayani di Balai Besar KSDA Sumatera Utara sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Berbeda dengan Fachri, Lasria Romauli Marselina Sianturi, wanita kelahiran Dairi, 20 Maret 1991, mengungkapkan rasa syukur dan sukacitanya bisa bergabung di Balai Besar KSDA Sumatera Utara, karena dari 4 kali tes CPNS yang pernah diikutinya Lasria selalu gagal dan tes yang kelima kali ini merupakan kesempatan terakhir baginya, namun disitu pula keberuntungan diraihnya. Beberapa kali tes CPNS di beberapa kementerian dicobanya tidak pernah berhasil, ternyata Kementerian Kehutanan menjadi jodoh baginya untuk berkarier. Alumni D3 Teknik Informatika Universitas Sumatera Utara ini, dengan jabatan Pranata Komputer terampil, juga menyatakan keinginannya untuk bekerja dan memberi pelayanan yang terbaik sebagai pengabdian kepada negara serta keinginannya membahagiakan keluarga (suami dan sepasang buah hatinya). Fachri dan Lasria, merupakan dua dari 29 orang CPNS baru yang ditempatkan di Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Ke 29 CPNS ini disebarkan di Seksi Konservasi Wilayah pada Bidang KSDA Wilayah, dengan rincian Bidang KSDA Wilayah I sebanyak 9 orang, Bidang KSDA Wilayah II sebanyak 6 orang, Bidang KSDA Wilayah III sebanyak 12 orang dan Bagian Tata Usaha sebanyak 2 orang. Pembinaan dan pembekalan oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara didampingi Kepala Bagian tata Usaha Berdasarkan sebaran jabatan, ada sebanyak 2 orang sebagai Medik Veteriner Ahli Pertama, 6 orang Pelatih dan Perawat Satwa Liar, 6 orang PEH Pemula, 3 orang PEH Terampil, Penyuluh Kehutanan Terampil sebanyak 3 orang, Polhut Pertama 6 orang, Polhut Pemula 1 orang, Pranata Keuangan APBN Terampil 1 orang dan Pranata Komputer Terampil sebanyak 1 orang. Ke 29 orang CPNS sebelum menjalankan tugas, mendapat pembinaan dan pembekalan dari Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP.,M.Env. pada Senin (2/6) di ruang rapat Balai besar KSDA Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara didampingi Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Bidang KSDA Wilayah I, Kepala Bidang KSDA Wilayah II dan Kepala Bidang Teknis, dalam bimbingannya menyampaikan selamat datang dan selamat bergabung di Kementerian Kehutanan, khususnya di UPT Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Novita Kusuma Wardani berharap kepada CPNS baru dapat segera beradaptasi di wilayah kerjanya masing-masing. “Nikmati tugas di lapangan, jangan cengeng dan mengeluh, hadapi tantangan sebagai peluang untuk berkreasi dan berinovasi, asah terus kemampuan dan ketrampilan serta jangan pernah berhenti untuk belajar,” ujar Novita dalam arahannya. Usai menerima pembekalan, ke 29 rimbawan muda ini akan melaksanakan tugas di tempatnya masing-masing sesuai dengan arahan dari Kepala Bidang KSDA Wilayah. Selamat bertugas… selamat berkarya dan berkreasi untuk konservasi alam yang lebih baik lagi kedepannya…. Salam konservasi. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Harapan Baru Mamalia Bersisik Di Lereng Welirang

Mojokerto, 10 Juni 2025. Di bawah langit yang mulai temaram di lereng Gunung Pundak, siluet seekor Trenggiling jantan melangkah pelan, tubuh mungilnya berlapis sisik yang memantulkan cahaya senja. Dalam hening malam yang lembap dan penuh kehidupan, satwa malam yang nyaris punah ini kembali ke pelukan hutan yang menjadi habitat aslinya, membawa harapan baru bagi konservasi satwa bersisik yang kian terdesak oleh perburuan dan hilangnya hutan. Pelepasliaran Trenggiling (Manis javanica) yang dilaksanakan pada Selasa malam, pukul 18.21 WIB, menjadi titik penting dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati di Jawa Timur. Satwa tersebut dilepasliarkan oleh tim Matawali Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, UPT Taman Hutan Raya Raden Soerjo, dan Kepala Cabang Dinas Kehutanan (CDK) lingkup DInas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, dengan melibatkan Pengendali Ekosistem Hutan RKW 09 Mojokerto dan calon Polisi Kehutanan BBKSDA Jatim. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pelepasan satwa, tetapi penanda penting atas kolaborasi lintas institusi dalam melindungi spesies yang kini tergolong Critically Endangered menurut Daftar Merah IUCN. Trenggiling, mamalia bersisik, kini nyaris tak bersuara di tengah kepungan ancaman perdagangan ilegal dan kerusakan habitat. Dari Jalan Raya Padusan ke Jantung Hutan Pundak Kisah satwa ini dimulai dua hari sebelumnya, saat seorang warga bernama Kukuh Hadi Wiyono, atau Mas Kukuh, menemukan seekor trenggiling terluka di tepi jalan raya wisata Air Panas Padusan, tepat di depan Villa Asia, Kecamatan Pacet, Mojokerto. Dengan naluri cinta alam yang tulus, Mas Kukuh sempat merawatnya. Namun, kesadarannya akan status hukum trenggiling sebagai satwa dilindungi membuatnya memutuskan untuk menyerahkan hewan tersebut secara sukarela kepada pihak Polsek Pacet. Setelah diterima oleh Babinsa Polsek Pacet, Sdr. Achmad Sodiq, satwa ini segera ditangani secara medis oleh tim Matawali BBKSDA Jatim. Sebelum kembali ke habitatnya, satwa ini menjalani pemeriksaan morfologis dan perilaku oleh tim BBKSDA Jatim, serta diberi tagging dengan kode 991003001460244. Prosedur ini dilakukan untuk memantau keberadaan dan kondisi satwa pasca pelepasliaran, guna memastikan trenggiling dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan alaminya. Gunung Pundak, Rumah yang Masih Menjanjikan Lokasi pelepasliaran di kawasan Loka Wiyata Surya, Gunung Pundak dalam kawasan TAHURA Raden Soerjo, Desa Claket, Kecamatan Pacet dipilih secara cermat berdasarkan studi ekologi. Wilayah ini memiliki tutupan hutan yang masih lebat, ketersediaan pakan alami seperti semut dan rayap yang melimpah, serta perlindungan alami dari tekanan manusia. Dalam suasana pembinaan CPNS 2024 Dinas Kehutanan Jawa Timur yang berlangsung di kawasan tersebut, pelepasliaran dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Para petugas, termasuk Calon Polisi Kehutanan dan PEH muda dari BBKSDA Jatim, menyaksikan dengan takzim saat trenggiling itu melangkah ke rimbunnya hutan, menghilang perlahan dalam kegelapan yang mengharukan. Melindungi Satwa, Menjaga Masa Depan Trenggiling bukan sekadar satwa unik yang bersisik. Ia adalah simbol keseimbangan ekosistem. Dengan memakan ribuan semut dan rayap per malam, trenggiling membantu menjaga ekosistem hutan dari ledakan populasi serangga yang bisa merusak pepohonan dan tanah. Namun, manfaat ekologis ini tak mampu melindunginya dari jerat pasar gelap. Dagingnya diklaim sebagai makanan eksotis, dan sisiknya dipercaya memiliki khasiat medis, sebuah mitos yang telah menggerus populasi mereka di seluruh Asia. Satu Pelepasliaran, Seribu Harapan Kegiatan ini menjadi bukti bahwa konservasi bukan sekadar kerja teknis, melainkan gerakan moral yang harus dilakukan bersama. Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan generasi muda harus menjadi bagian dari solusi untuk memastikan bahwa satwa seperti trenggiling tidak hanya tersisa di buku pelajaran atau museum. Dengan setiap langkah mungil yang diambil trenggiling malam itu, terselip harapan bahwa hutan-hutan Jawa Timur masih menjadi rumah yang aman bagi mereka. Dan bahwa di tengah gempuran zaman, masih ada manusia-manusia yang memilih untuk menjaga, bukan menguasai alam. (dna) Sumber: Fadhli Dzil Fikri – Calon Polisi Kehutanan PemulaBalai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Visit To School di SMPN 1 Pulau Laut Timur

Pulau Laut Timur, 5 Juni 2025 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan Visit To School di SMPN 1 Pulau Laut Timur untuk melakukan edukasi terkait materi konservasi hutan. Kegiatan ini diawali dengan sambutan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Bapak Suwandi, S.Hut., M.A., dilanjutkan dengan pembukaan acara oleh Kepala Sekolah SMPN 1 Pulau Laut Timur Bapak Herry Amiarso, S.Pd. Kemudian dilanjutkan presentasi materi konservasi hutan yang disampaikan oleh Penyuluh Kehutanan Sarah Damayanti Nasution, S.Hut dan Pengendali Ekosistem Hutan Maulinda, S.Hut materi yang disampaikan meliputi dasar-dasar konservasi, flora dan fauna yang dilindungi dan pentingnya menjaga hutan. Seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas manusia yang semakin intensif, banyak sumber daya alam mengalami kerusakan dan penurunan kualitas secara drastis. Konservasi menjadi salah satu solusi penting untuk menghadapi tantangan ini. Konservasi merupakan upaya pelestarian sumber daya alam agar dapat digunakan secara berkelanjutan tanpa merusak atau menghabiskannya. Perlindungan flora dan fauna dilakukan untuk mencegah kepunahan, menjaga keseimbangan ekosistem, dan melestarikan keanekaragaman hayati. Flora dan fauna yang dilindungi adalah spesies tumbuhan dan hewan yang terancam punah karena perburuan liar, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat. Hukum dan aturan terdapat pada PP. No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) – Perjanjian internasional yang melarang perdagangan ilegal flora dan fauna yang terancam punah. Menjaga hutan bukan sekadar tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat. Hutan memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan iklim, melestarikan keanekaragaman hayati, dan mendukung kehidupan jutaan manusia yang bergantung padanya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi generasi muda untuk meningkatkan kesadaran dan pentingnya Konservasi serta fungsi hutan, jangan biarkan kehancuran menjadi bagian dari cerita kita. (Ryn) Sumber: Sarah Damayanti N., S.Hut. - Penyuluh SKW III Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Mendengarkan Bisikan Gua Nglirip

Tuban, 7 Juni 2025. Di balik rimbun dedaunan tua dan akar yang menjerat bumi, Cagar Alam Gua Nglirip tak hanya menyimpan dongeng masa lalu. Ia menyimpan kehidupan, bernafas dalam senyap, bergerak dalam bayang, dan berbicara dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka yang bersedia berjalan pelan, mendengarkan, dan membaca jejak. Pada 3–4 Juni 2025, sebuah tim kecil berjalan menyusuri denyut jantung kawasan ini, tak hanya dengan langkah, tapi dengan ilmu, keberanian, dan hati. Di tengah mereka berdiri Tri Wahyu Widodo, Pengendali Ekosistem Hutan, sang mata rimba, sang pembaca makna alam. Dari Bojonegoro, tim berangkat dengan sepeda motor, menembus perbukitan dan jalanan tanah hingga tiba di Pos RKW 04. Dari sana, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki. Sunyi menyambut, dan rimba membuka gerbangnya, bukan kepada sembarang orang, tapi kepada mereka yang datang dengan niat menjaga. Tri Wahyu Widodo, lebih dari sekadar petugas, ia adalah penjaga pengetahuan. Di tangannya, sehelai daun tak sekadar hijau, melainkan potongan sejarah ekosistem. Setiap kicauan burung, setiap suara ranting patah, dibacanya seperti kalimat dalam buku tua yang tak semua orang bisa pahami. Dengan mata tajam dan napas teratur, ia berjalan bersama mengamati keanekaragaman hayati di grid 03 hingga 06. Bersamanya, tim gabungan dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II, Resort Konservasi Wilayah (RKW) 04, Polisi Kehutanan, Penyuluh Kehutanan dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), menyatu dalam langkah yang sama, menjaga kehidupan. Jejak yang Tak Terucap, Tapi Terlihat Hutan memberi tanda-tanda ketika Seekor Cinenen pisang melompat cepat dari semak, Madu Sriganti menghisap nektar terakhir sebelum senja dan Wiwik Kelabu memecah keheningan dengan nyanyian serak yang seolah datang dari masa lalu. Kadalan birah, Cekakak jawa, Bondol jawa, Kutilang, hingga Ular tali picis dan Kongkang kolam, satu per satu menunjukkan bahwa kawasan ini masih terjaga. Tri Wahyu dan tim mencatat semuanya, tidak hanya dengan pena, tapi dengan pengalaman dan kecintaan yang sudah terpatri selama bertahun-tahun di dunia konservasi. Ia menyentuh batang pohon Jati, Sengon, Kepuh, Kedoya, dan mengukur tinggi serta kelilingnya. Ia mengenali Cincau hijau, Sambiloto, Katuk, dan Rawe hanya dari bentuk daunnya yang menari pelan ditiup angin senja. Setiap spesies yang ia temui bukan sekadar nama, tapi bagian dari lanskap yang harus tetap dijaga kelestariannya. Simfoni Sunyi Konservasi Sementara Polhut mengawal jalur, memastikan tak ada jejak pelanggaran hukum, Penyuluh Kehutanan menyampaikan makna hutan kepada mitra dari desa, menjadikan konservasi bukan hanya tugas negara, tapi bagian dari jiwa masyarakat. Tak ditemukan satu pun pelanggaran hukum. Semua pal batas masih tegak berdiri, seolah menyapa dengan diam, mengucapkan terima kasih kepada mereka yang datang bukan untuk mengambil, tapi menjaga. Dan di tengah semuanya, Tri Wahyu Widodo berdiri sebagai mata dan telinga hutan. Ia membaca, mencatat, dan menyampaikan isi hati alam liar kepada manusia modern yang kerap lupa cara mendengarkan. Mungkin tak banyak orang yang tahu nama-nama burung kecil itu. Atau peduli akan diameter batang pohon yang disusuri garis ukur. Tapi bila suatu hari nanti, anak-anak kita masih bisa mendengar cekakak sungai bersahutan di senja Gua Nglirip, itu karena ada mereka yang berjalan di hari ini, dalam diam, dalam sunyi, demi sebuah kehidupan yang terus berdenyut di dalam hutan. Gua Nglirip memang penuh misteri. Tapi tak ada misteri yang lebih dalam dari kerja sunyi para penjaga alam, yang memilih berjalan jauh agar kehidupan tetap dekat. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Perdagangan Kayu Sonokeling Dan Sarang Walet Bojonegoro Tembus Pasar Dunia, Tapi Kini Terancam Gagal Ekspor!

Bojonegoro, 6 Juni 2025. Di balik dinding pabrik dan gudang ekspor yang tampak biasa di Kabupaten Bojonegoro, tersimpan kisah perdagangan dua komoditas alam yang bernilai tinggi, kayu Sonokeling dan sarang burung walet. Komoditas ini bukan hanya sekadar barang dagangan, melainkan menjadi bagian dari jaringan global yang membawa nama Indonesia ke pasar ekspor internasional. Namun, siapa sangka, meski sudah mengantongi izin resmi, dua perusahaan besar asal Bojonegoro ini kini terancam gagal ekspor! Perdagangan Legal di Ambang Krisis Dalam kegiatan monitoring pada Rabu (5/6), tim Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro - Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menemukan fakta menarik, CV. Sono Prima dan UD. Delapan Seputnik adalah pelaku usaha yang sah dan memiliki izin lengkap. CV Sono Prima memegang izin pengedar luar negeri untuk kayu Sonokeling (Dalbergia latifolia), kayu eksotis yang masuk dalam Appendix II CITES, sementara UD. Delapan Seputnik memiliki izin ekspor sarang burung walet (Collocalia fucipaga) dari Dirjen KSDAE. Keduanya memiliki jejak ekspor yang membanggakan. CV. Sono Prima bahkan menyuplai bahan baku untuk perusahaan musik ternama Yamaha Jakarta, sementara sarang walet dari UD. Delapan Seputnik pernah terbang jauh hingga ke konsumen Asia Timur. Masalah muncul saat kebijakan kenaikan tarif impor dari Presiden Amerika Serikat mulai berlaku. Imbasnya langsung terasa, ekspor mandek, neraca perdagangan menurun, dan aktivitas produksi jadi terancam stagnan. Menanggapi hal tersebut akhirnya mereka menunda kegiatan ekspor. Pelaku Usaha Desak Percepatan Layanan Dalam pertemuan itu, para pelaku usaha menyampaikan uneg-uneg yang jarang terdengar publik, mereka butuh kecepatan pelayanan ekspor. Bukan hanya soal izin, tapi soal waktu, karena dalam bisnis ekspor, satu hari keterlambatan bisa berarti kehilangan pasar. BBKSDA Jatim Hadir untuk Menjaga Keseimbangan Melalui kegiatan monitoring ini, BBKSDA Jatim berupaya menjaga keseimbangan antara pengawasan konservasi dan dukungan terhadap ekonomi legal berbasis sumber daya alam hayati. Legal, terpantau, dan berkelanjutan, itulah yang menjadi tujuan utama. Hadirnya petugas BBKSDA Jatim tidak hanya mengawasi, tapi juga mendengar dan mendorong solusi bersama dimana perlindungan dan pemanfaatan harus berjalan seimbang. Apakah perdagangan alam Indonesia mampu bertahan di tengah guncangan kebijakan global? Satu hal pasti, tanpa kecepatan layanan dan sinergi antar pihak, kayu dan walet bukan lagi komoditas unggulan, melainkan simbol peluang yang hilang.(dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Rimbawan Mengajar di Universitas Sumatera Utara

Medan, 5 Juni 2025. Rimbawan mengajar merupakan langkah konkrit sebagai implementasi dari Perjanjian Kerjasama antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA SU) dengan Dekan Universitas Sumatera Utara. Samuel Siahaan, sebagai perwakilan dari BBKSDA SU menyampaikan 3 materi pembelajaran yaitu: Jasa Lingkungan Sebagai Penyedia Jasa Wisata Alam, Jasa Lingkungan Hutan Sebagai Perlindungan Budaya (Cultural) dan Jasa Lingkungan Hutan Sebagai Penyedia Jasa Hidrologis. Kegiatan rimbawan mengajar dilaksanakan selama 3 hari. 2 pertemuan dilaksanakan secara luring di Kampus USU Bekala, Simalingkar A, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara dan 1 Sesi daring melalui Zoom yang diikuti oleh Mahasiwa Fakultas Kehutanan USU Kelas A dan B semester 2. Pertemuan Pertama dengan Topik “Jasa Lingkungan Hutan sebagai Penyedia Jasa Wisata Alam” diikuti oleh 30 Mahasiswa, selanjutnya Pertemuan Kedua dengan Topik “Jasa Lingkungan Hutan sebagai Perlindungan Budaya (Cultural) diikuti oleh 37 Mahasiswa dan pertemuan kegiata melalui Zoom dengan Topik “Jasa Lingkungan Hutan sebagai Penyedia Jasa Hidrologis” diikuti sejumlah 77 Mahasiswa. Pada setiap pertemuan, narasumber menyampaikan materi dalam bentuk power point dan video-video Kegiatan. Pada setiap sesi mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk bertanya seputar topik yang disampaikan dengan didampingi oleh Dosen Pengampu untuk mempertajam setiap topik yang disampaikan. Semoga dengan kegiatan praktisi mengajar ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran strategis jasa lingkungan hutan sebagai penyedia jasa lingkungan wisata alam, perlindungan budaya (cultural) dan penyedia jasa hidrologis. Pemahaman ini tidak hanya penting secara akademis, tetapi juga menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yang berkelanjutan di bidang kehutanan dan khususnya pengelolaan konservasi sumber daya alam dan ekosistem secara lestari dan berkelanjutan. Sumber: Samuel Siahaan, S.P-PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Puspa Pesona di Tengah Rimba Bawean

Bawean, 10 Juni 2025. Di pertengahan Mei 2025, saat lembab dan sunyi menyelimuti hutan Cagar Alam Pulau Bawean, langkah saya dan tim SMART Patrol Balai Besar KSDA Jawa Timur terhenti oleh sebuah penampakan yang memukau. Dari batang pohon tua yang menjulang, menggantung anggun sekumpulan bunga putih dengan mahkota bersemu kuning. Tak salah lagi, itulah Phalaenopsis amabilis, sang Anggrek Bulan, puspa pesona bangsa Indonesia. Temuan ini bukan hanya kebetulan alam. Ia adalah pengingat bahwa di tengah keterisolasian Pulau Bawean yang berada di Laut Jawa, kehidupan liar masih menari dengan keanggunannya sendiri, menolak dilupakan. Sebagai puspa pesona yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 4 Tahun 1993, Anggrek Bulan mendampingi dua puspa lainnya, Melati (puspa bangsa) dan Padma Raksasa (puspa langka). Namun di alam bebas, keberadaan Anggrek Bulan semakin jarang terlihat akibat degradasi habitat, eksploitasi ilegal, dan perubahan iklim. Cagar Alam Pulau Bawean, Rumah Sunyi Sang Puspa Cagar Alam Pulau Bawean merupakan benteng terakhir bagi banyak jenis flora dan fauna endemik, termasuk Rusa Bawean (Axis kuhlii). Namun tak banyak yang tahu bahwa hutan primer di pulau ini juga menyimpan permata epifit seperti Anggrek Bulan. Tumbuh di batang pohon besar, Phalaenopsis amabilis tidak mencederai inangnya. Ia hanya menggenggam kulit kayu, menyerap kelembaban dari udara, dan menyambut sinar pagi di sela kanopi hutan. Dalam patroli yang kami lakukan, koloni Anggrek Bulan yang mekar sempurna itu hadir seperti lukisan hidup, kelopaknya bersih seputih awan, seolah menggantung antara bumi dan langit. Ia adalah keindahan yang lahir dari kesunyian dan keseimbangan. Konservasi, Dari Dokumentasi Menuju Tindakan Nyata Penemuan ini memberi harapan sekaligus tanggung jawab. Balai Besar KSDA Jawa Timur terus mendorong penguatan konservasi berbasis data dan pengamatan lapangan. Patroli berbasis SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) menjadi instrumen penting untuk tidak hanya mencatat kehadiran satwa liar, tetapi juga flora seperti Anggrek Bulan. Kami yakin bahwa konservasi bukan hanya menyelamatkan spesies, tetapi juga menjaga cerita, warisan, dan harmoni. Maka dokumentasi seperti ini menjadi langkah kecil namun bermakna dalam melindungi puspa pesona bangsa di tempat ia semestinya berada, di alam liar, bebas, dan utuh. Simfoni Hening dari Bawean Anggrek Bulan tidak tumbuh di kebisingan. Ia mekar dalam senyap, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk manusia. Di Cagar Alam Pulau Bawean, ia menunjukkan bahwa keindahan tak selalu harus dijemput, kadang ia justru menanti, diam-diam, di pelataran hutan yang lestari. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Di Balik Kabut, Anggrek Liar dan Kijang Menjaga Kesunyian Gunung Sigogor

Ponorogo, 7 Juni 2025. Di balik lapisan kabut tipis yang menggantung di hutan pegunungan, Gunung Sigogor menyimpan sebuah dunia yang tak banyak diketahui manusia. Di sinilah, pada ketinggian lebih dari seribu empat ratus meter di atas permukaan laut, waktu berjalan lambat, dan kehidupan liar berbisik di antara batang-batang pohon tua. 2-5 Juni 2025, para penjaga rimba dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06 - Seksi Konservasi Wilayah II, Balai Besar KSDA Jawa Timur, menapaki jalan sunyi menuju jantung Cagar Alam Gunung Sigogor dalam misi SMART Patrol selama empat hari. Bukan sekadar patroli biasa, ini adalah perjalanan ke dalam nadi kehidupan liar yang terus berdetak diam-diam di Blok Cengger, pada Grid 6, 13, dan 14. Langkah-langkah kaki mereka menyibak dedaunan basah dan jalur setapak yang nyaris dilupakan. Di sepanjang perjalanan, mereka menjumpai jejak-jejak flora purba, Riwono (Smilax zeilanica) yang merambat sunyi, Rotan (Calamus sp) yang menjulur tajam namun anggun, dan Nyampuh (Pygeum parviflorum) yang tegak menjaga tebing. Daftar itu tak berhenti, pohon Pasang, Cemara Gunung, dan Kemaduh berdiri seperti penjaga tua kawasan, menyimpan suara angin dan waktu. Namun yang paling memukau adalah kehadiran anggrek liar. Mereka tak berteriak, tak menampakkan diri dengan gegap gempita. Mereka hanya tumbuh, dalam diam, di batang tua yang berlumut, menyerap kabut dan kelembaban pagi. Bulbophyllum, Vanda, Dendrobium, Pholidota, Eria, Polystachya, dan Oberonia adalah nama-nama indah yang hidup sebagai epifit, membentuk lukisan hidup yang tak mungkin dibuat ulang oleh tangan manusia. Di antara hening dan sejuknya hutan, para petugas juga menjumpai Kijang (Muntiacus muntjak) yang lari menyibak semak, Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang melompat lincah di antara tajuk pohon, dan Takur Tohtor (Psilopogon armillaris) yang melantunkan lagu pagi. Tak ketinggalan, jamur dari marga Ganoderma dan Russula mewakili dunia mikro yang juga hidup menepi namun penting. Dua pal batas kawasan (Pal 60 dan 61) ditemukan dalam kondisi utuh dan tidak ada tanda-tanda gangguan. Tak satu pun jejak perambahan atau pelanggaran hukum ditemukan. Sigogor, untuk saat ini, masih aman. Tapi hutan tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menanti, siapa yang datang, penjaga atau perusak. Patroli ini bukan sekadar kewajiban. Ia adalah bentuk kesetiaan manusia kepada alam yang tak pernah meminta lebih selain dihormati. Di Gunung Sigogor, kehidupan tumbuh perlahan dan para penjaga rimba berjalan dalam hening, memastikan semuanya tetap seperti itu. Smart Patrol tidak hanya mendata spesies, ia membaca nafas hutan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pembekalan CPNS dan Pemantapan PNS Balai TN Taka Bonerate: Sosialisasi Aplikasi dan Pengisian SKP

Pulau Selayar, 5 Juni 2025. Sebanyak 26 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Kehutanan yang ditempatkan pada Balai Taman Nasional Taka Bonerate mengikuti kegiatan pembekalan sekaligus pemantapan bagi seluruh PNS di lingkungan balai tersebut. Kegiatan ini difokuskan pada Sosialisasi Pengenalan Aplikasi dan Pengisian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), dilaksanakan secara hybrid di Ruang Pertemuan Balai TN Taka Bonerate (04/06). Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Usman, bertindak sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, ia menjelaskan tata cara pengoperasian aplikasi serta mekanisme pengisian SKP secara tepat dan akurat. Di akhir acara, Usman mengingatkan pentingnya mematuhi tenggat waktu pengisian SKP. Bagi CPNS, pengisian dimulai sejak Juni sesuai dengan Surat Perintah Melaksanakan Tugas (SPMT), dengan batas akhir 15 Juli 2025. Sementara bagi PNS, batas pengumpulan bukti laporan kegiatan Triwulan I berakhir pada 5 Juni 2025. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta dalam menyusun target kinerja serta mendorong disiplin dalam pelaporan. Dengan demikian, seluruh pegawai dapat berkontribusi optimal bagi pengelolaan kawasan konservasi Taka Bonerate. Sumber: Asri PEH Ahli Muda/Humas - Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Pelatihan Pemandu Lokal TN Gandang Dewata, Tingkatkan Kompetensi dan Kesadaran Konservasi

Makassar, 03 Juni 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) menyelenggarakan Pelatihan Interpretasi Keanekaragaman Hayati (Kehati) bagi Pemandu Lokal Taman Nasional Gandang Dewata (TNGD) pada tanggal 26–28 Mei 2025 di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Pelatihan diikuti oleh berbagai elemen pemandu wisata dan komunitas ekowisata seperti Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Sulawesi Barat, Ekowisata Batu Bulan, Ekowisata Orong Sisiku, Kelompok Pecinta Alam (KPA) Quarlez, KPA Mamasa Pelang Buana, serta Pemandu Lokal Malino Gowa. Pelatihan Interpretasi Kehati bagi pemandu lokal TNGD menghadirkan berbagai narasumber berkompeten: Maipa Dia Pati (Balai Besar KSDA Sulsel) membahas pengelolaan TNGD dan perizinan pemandu pendakian. Ibrahim Paotonan (Dinas Pariwisata Mamasa) menyampaikan strategi ekowisata daerah. Akademisi Universitas Sulawesi Barat, Muh. Syarif dan Yulsan Demma Semmu, memaparkan keanekaragaman hayati serta identifikasi flora-fauna endemik. Sementara itu, tim Klik Hijau, Dr. Anis Kurniawan dan Dr. Irfan Palippui, memberikan pelatihan teknik interpretasi wisata alam. Seluruh sesi dipandu oleh drh. Nur Fadhilah Pardan dari BBKSDA Sulsel. Peningkatan Kapasitas dan Kesadaran Konservasi Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman para pemandu dalam menjelaskan kondisi ekosistem dan keanekaragaman hayati TNGD kepada pengunjung melalui pendekatan interpretasi yang komunikatif dan edukatif. Para peserta tidak hanya mempelajari tentang flora dan fauna endemik, tetapi juga tentang cara menyampaikan kepada wisatawan dengan menarik dan penuh makna. Mereka belajar dari para ahli, akademisi, praktisi wisata alam, hingga penggiat lingkungan, tentang pentingnya menjadi pemandu yang mampu menginspirasi dan mengedukasi. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran dan semangat pelestarian alam pemandu lokal, sekaligus mendorong wisata berbasis konservasi yang mampu memberikan pengalaman wisata yang bermakna bagi pengunjung. Hasilnya, lahir pemandu-pemandu yang tidak hanya mengenal jalur pendakian, tetapi juga memahami nilai konservasi alam. Karena melestarikan bukan hanya soal alam, tapi juga tentang masa depan wisata alam yang berkelanjutan. Rencana Tindak Lanjut Sebagai upaya mendukung keberlanjutan program pelatihan interpretasi keanekaragaman hayati bagi pemandu lokal, dirancang tindak lanjut strategis berupa pendampingan perizinan usaha mandiri, sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian, studi banding ke taman nasional yang telah sukses menerapkan pemanduan profesional, serta pelatihan Search and Rescue (SAR) guna meningkatkan kesiapsiagaan pemandu lokal. Tingginya partisipasi peserta dalam pelatihan ini mencerminkan semangat dan komitmen bersama untuk mengembangkan wisata alam yang bertanggung jawab di kawasan TNGD. Bersama kita melangkah menuju masa depan TNGD yang lestari dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar kawasan. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP.17/K.8/TU/Humas/6/2025) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Menata Pengelolaan Obyek Wisata di TWA Malino

Makassar, 27 Mei 2025 – Balai Besar KSDA Sulsel bersama para pihak mengadakan rapat dengan agenda Tindak Lanjut Pengelolaan Obyek Wisata di Taman Wisata Alam (TWA) Malino. Rapat dihadiri oleh Sekretaris Disparbud Kab.Gowa, Perseroda Kab. Gowa, DPRD Gowa, Kepala Desa Manimbahoi bersama Direktur Bumdes. Rapat dibuka oleh Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, dan dilanjutkan dengan pemaparan profil TWA Malino dan Tata Kelola Perizinan Pariwisata Alam di Kawasan Konservasi. TWA Malino dengan luas 6.814,58 Ha memiliki potensi wisata alam yang cukup tinggi berupa lanskap pegunungan yang indah, hutan pinus serta air terjun, menjadikan TWA Malino merupakan salah satu aset penting wisata alam Kab. Gowa. Dari hasil diskusi yang berkembang diperoleh beberapa kesimpulan antara lain, Hutan Pinus TWA Malino yang dikelola oleh Disparbud Gowa diarahkan untuk diajukan permohonan Perizinan Berusaha Pengusahaan Sarana Wisata Alam (PB-PSWA) melalui Badan Usaha (Perseroda) sambil menunggu proses pengesahan desain tapak. PB-PSWA merupakan izin usaha yang diberikan bagi penyediaan fasilitas sarana serta pelayanannya yang diperlukan dalam kegiatan pariwisata alam. Sementara itu, Bumdes Tanralili Raya diarahkan untuk diajukan Perizinan Berusaha Penyedia Jasa Wisata Alam (PBPJWA) khususnya Jasa Perjalanan Wisata. Disparbud Gowa, Bumdes Tanralili dan Perseroda merespon baik arahan tindak lanjut perizinan tersebut. “Kita akan terus melakukan sinkronisasi agar tercipta keseimbangan ekologi, legalitas, kolaborasi dan sinergitas dalam pengelolaan kawasan konservasi”, kata Sekretaris Disparbud. Pengajuan PBPSWA dan PBPJWA diharapkan dapat berkontribusi dalam peningkatan ekonomi masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya hutan yang ada. Para pihak terkait sepakat untuk terus berkolaborasi dalam meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Peningkatan nilai PNBP diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan infrastruktur pariwisata sekaligus mendukung upaya-upaya konservasi. PNBP dapat pula digunakan untuk mendukung kegiatan masyarakat sekitar TWA Malino, seperti pelatihan dan pengembangan ekonomi lokal, sekaligus dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi lingkungan melalui pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP. 15 /K.8/TU/Humas/5/2025) Call Center BBKSDA Sulsel:08114600883
Baca Artikel

Cegah Aksi Perambahan,Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan Giatkan Sosialisasi

Padangsidimpuan, 3 Juni 2025. Kerusakan kawasan hutan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan, semakin rendah kondisi sosial ekonominya maka akan semakin tinggi ketergantungannya terhadap kawasan hutan. Fakta ini mendorong perlunya dilakukan upaya-upaya untuk mencegah semakin luasnya kerusakan hutan akibat perambahan masyarakat. Salah satu upaya untuk menekan laju kerusakan hutan akibat perambahan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Barumun, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang pada Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, baru-baru ini melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat Desa Matondang, Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Padang Lawas, yang dilaksanakan di Gedung MDA Desa Matondang (Senin, 26 Mei 2025), dihadiri oleh Kepala Desa Matondang, Sekretaris Camat Ulu Barumun, Danpos Koramil 08 Barumun Kodim 0212 TS dan jajaran Resor Barumun III. Dalam paparannya Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang, Siti Wahyuna, SP. mengingatkan masyarakat agar tidak membuka kawasan SM. Barumun untuk kegiatan pertanian perkebunan, karena hal tersebut akan mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan Kawasan Suaka Alam. Merambah hutan dan melakukan aktivitas ilegal di dalam kawasan SM. Barumun merupakan tindakan melawan hukum seperti tertuang dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 50 Pasal 3, ataupun Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya terutama dalam pasal 19 ayat 1 dan 2, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 11 (sebelas) tahun dan pidana denda paling sedikit kategori III dan paling banyak kategori VII. Kegiatan sosialisasi ini merupakan salah satu langkah dalam memberikan edukasi sekaligus himbauan kepada masyarakat mengingat tingginya ancaman gangguan terhadap kawasan konservasi, seperti perambahan hutan, pemungutan hasil hutan kayu maupun non kayu, pembakaran hutan dan kegiatan ilegal lainnya yang menyebabkan penurunan fungsi kawasan konservasi dan berimbas pada rusaknya habitat flora maupun fauna. Oleh karena itu sosialisasi ini penting digiatkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kawasan konservasi sekaligus menambah pengetahuan masyarakat terkait regulasi kehutanan agar keutuhan kawasan konservasi dapat dipertahankan. Sumber: Irwan Hanafi, S. Hut., MM (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 193–208 dari 1.990 publikasi