Senin, 16 Feb 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

500 Buku Bonita Hikayat Sang Raja Untuk Ahli Waris

Pekanbaru, 23 Desember 2020. Penyerahan 500 buku Bonita "Hikayat Sang Raja" karya penulis sekaligus wartawan detikcom, Alm. Haidir Anwar Tanjung dilakukan Kementerian LHK kepada Ahli Waris penulis di aula Gajah Balai Besar KSDA Riau pada Senin siang, 21 Desember 2020. Penyerahan dilakukan oleh Sekretaris Ditjen KSDAE, bapak Tandya Tjahjana didampingi Tenaga Ahli Menteri Bidang Komunikasi Digital dan Media Sosial, ibu Afni Zulkifli serta Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono. Ahli waris yang menerima diwakili oleh adik almarhum yaitu Banda Haruddin Tanjung (jurnalis Okezone) dan anak kedua almarhum bernama Fikih Nauli Tanjung. Penyerahan juga dihadiri oleh beberapa rekan jurnalis almarhum, termasuk jurnalis senior sekaligus editor buku tersebut yaitu bapak Sahnan Rangkuti "Penyerahan buku ini, merupakan amanah Menteri LHK, Ibu Siti Nurbaya Bakar yang memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil karya almarhum tentang konservasi satwa liar, dan merupakan sebuah penghargaan atas karya abadi almarhum. Kedepannya buku tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat terutama untuk edukasi konservasi secara umum maupun secara khusus konservasi Harimau Sumatera di bumi nusantara ini agar keberadaan satwa liar tidak selalu dianggap musuh oleh masyarakat" ungkap Tandya dalam sambutannya. Dalam kesempatan yang sama, ibu Afni Zulkifli selaku Tenaga Ahli Menteri Bidang Komunikasi Digital dan Media Sosial juga rekan almarhum Haidir Anwar Tanjung menyampaikan bahwa "Kehadiran kami di sini, menyampaikan pesan ibu Menteri. Kami bangga”. Setelah diserahkan, buku-buku tersebut resmi menjadi hak ahli waris. Dari pihak keluarga, buku tersebut akan ada yang diserahkan ke perpustakaan dan kampus sebagai literatur pendidikan. Sumber : Direktorat Jenderal KSDAE dan Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Cerita Praktik Lapangan Mahasiswa Unkhair dan Siswa SMK Kehutanan di TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 16 Desember 2020. Sejak bulan Oktober lalu, sebanyak satu siswa SMK Kehutanan Makassar melakukan kegiatan magang atau praktik lapangan di kantor Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Satu bulan setelahnya disusul oleh 15 orang mahasiswa Pertanian Program Studi Kehutanan Universitas Khairun, Ternate yang juga melaksanakan kegiatan praktikum lapangan di Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Kegiatan magang ini telah selesai dilaksanakan seiring dengan presentasi hasil praktikum lapangan kemarin (15/12). Mahasiswa beserta siswa tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok 1 yang ditempatkan di Resort Tayawi, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Weda dan kelompok 2 yang ditempatkan di Resort Ake Jawi, SPTN III Subaim. Kedua kelompok tersebut masing-masing didampingi oleh Kepala Resort dan petugas Resort lainnya. Kegiatan yang dilaksanakan selama praktikum antara lain inventarisasi flora dan fauna, yaitu inventarisasi pohon dan palem serta inventarisasi burung. selain itu, mereka juga menghitung nilai ekonomi sumber air yang terdapat didalam kawasan serta melakukan inventarisasi dan manfaat tanaman obat. Hasil-hasil praktikum tersebut dipresentasikan pada hari Selasa, 15 Desember 2020 di Gedung Pusat Informasi Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Presentasi hasil akhir tersebut dihadiri oleh Kepala Balai TNAL, Kepala Subag TU, Kepala SPTN Wilayah I Weda, Kepala Resort dan ASN Balai TNAL. Dalam presentasi tersebut, mahasiswa didampingi oleh Ketua Program Studi dan Dosen Pembimbing. Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata menyampaikan terima kasih telah menjadikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai tempat praktikum bagi mahasiswa, dimana mahasiswa akan lebih mengenal potensi keanekaragaman hayati di daerahnya juga membantu dalam informasi data-data praktikum tersebut. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polhut Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

Peningkatan Pelayanan Wisata, BTN Meru Betiri Tes Covid Secara Berkala

Jember, 14 Desember 2020. Mengantisipasi merebaknya kasus baru pada klaster perkantoran dan pembukaan destinasi wisata di wilayah Jember dan Banyuwangi, Balai Taman Nasional Meru Betiri menggelar tes swab dan rapid masal kepada seluruh pegawai. Tes swab dilakukan pada 51 orang, dengan prioritas pada pegawai di Kantor Balai dan pegawai yang berkaitan langsung dengan pelayanan wisata. Sedangkan tes rapid dilakukan pada 75 orang lainnya. Tes ini dilakukan bergiliran selama 2 hari, tanggal 14 s/d 15 Desember 2020. Kepala Balai TN Meru Betiri, Maman Surahman menyatakan bahwa tes ini merupakan salah satu wujud kepedulian TN Meru Betiri dalam pencegahan penyebaran Covid-19 serta peningkatan pelayanan wisata. "Tes masal ini merupakan respon cepat kita agar penyebaran Covid-19 dapat terdeteksi secara dini, ini juga bagian dari perhatian kita yg serius terhadap resiko nyata dari aktivitas bekerja di kantor yg harus dikelola secara hati-hati selama pandemi." ungkapnya. Kepala Balai juga menyatakan bahwa tes ini juga sudah disertai langkah tindak lanjut yang dipersiapkan dalam hal terdapat hasil swab yang positif diantara pegawai yang dites, meliputi perlakuan isolasi/perawatan, tracing lanjutan, selain itu setiap pegawai juga diberikan peralatan pribadi pendukung protokol kesehatan berupa masker medis, alat makan personal, hand sanitizer dll. "Aktifitas kita d kantor dan lapangan harus betul-betul disertai penerapan protokol kesehatan yg ketat. 3M yaitu Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan, harus benar-benar dijalankan dengan disiplin" tegas Maman. Dari hasil tes rapid, diperoleh data 6 orang dengan hasil reaktif dan akan dilanjutkan dengan tes SWAB. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Artikel

Sikerei di Desa Matotonan

Padang, 11 Desember 2020. Desa Matotonan merupakan salah satu desa yang sebagian wilayah administrasi berada di dalam kawasan Taman Nasional Siberut. Masyarakat Desa Matotonan merupakan kelompok masyarakat yang masih memegang dan menjaga kelestarian adat istiadat Suku Mentawai hingga saat ini. Dalam proses sosial sehari-hari, keberadaan Sikerei menjadi salah satu bagian yang tak dapat dihilangkan dan dipisahkan, terlebih dalam hal pelaksanaan ritul-ritual kepercayaan, adat istiadat, pengobatan dan lainnya. Hal ini menjadikan sosok Sikerei menarik untuk diketahui dan dipahami. Untuk menjadi seorang Sikerei ada banyak hal yang harus dipenuhi. Hal-hal tersebut antara lain syarat-syarat menjadi Sikerei, tahapan menjadi seorang Sikerei dan pantangan “kei-kei “ bagi seorang Sikerei. Belakangan ini jumlah pertambahan Sikerei di Desa Matotonan kian berkurang. Hal ini disebabkan beberapa hal, seperti kurangnya ketertarikan kaum muda yang sudah mengalami perkembangan zaman, sulitnya syarat yang harus dipenuhi dan adanya kebiasaan berpantang bagi seorang Sikeri yang memiliki sangsi besar sehingga ditakuti oleh para kaum muda. Di satu sisi hal ini menjadi tantangan bagi sosial masyarakat adat, mengingat Sikerei merupakan bagian dari kekayaan adat yang dimiliki masyarakat Mentawai terkhusus Desa Matotonan. Dirunut dari sejarahnya, masyarakat Desa Matotonan mempercayai bahwa Si Kerei berawal dan diperkenalkan oleh seorang leluhur yang bernama Simalinggai, yang kemudian diturunkan kepada Sipageta sabbau. Dilihat dari sumber katanya, Sikerei berasal dari kata Si Kerei yang berarti dia yang berasal dari SAREREKEIT HULU (Sarereiket hulu merupakan nama sebuah kampung). Dalam pemahaman masyarakat umum Sikerei identik dengan makhluk halus. Bagi mereka para Sikerei adalah kelompok orang-orang yang ahli melakukan komunikasi dengan mahluk halus. Proses komunikasi antara seorang Sikerei dengan mahluk halus disebut dengan bahasa ”buimajojo ukkui”, bahasa ini hanya dapat dipahami oleh para Sikerei. Dicermati dari arti katanya, buimajojo ukkui bermakna jangan tergesa-gesa dengan kepercayaan pada mahluk halus pada saat melakukannya. Penetapan seseorang menjadi Sikerei bersumber dari tiga cara, yakni: kemauan diri sendiri, perintah dari orang tua dan leluhur, dan karena sakit (dalam keyakinan mereka ini adalah bentuk panggilan dari roh para leluhur untuk menjadi seorang Sikerei). Terkhusus bagi mereka yang ditunjuk oleh leluhur/orang tua dan mereka yang disembuhkan penyakit tertentunya oleh Sikerei, mereka wajib untuk menjadi Sikerei dan harus memenuhi syarat dan proses-prosesnya. Mereka meyakini apabila hal tersebut tidak dijalankan dan dipatuhi, akan datang kutukan dan malapeta yang menimpa orang tersebut. Berbeda dibandingkan mereka yang menjadi Sikerei karena keinginanya sendiri, yang bersangkutan cukup hanya menjalankan aturan-aturan serta menghindari pantangan-pantanyannya (kei-kei). Adapaun pantangan-pantangan (kei-kei) yang wajib dijauhkan oleh seorang Sikerei yakni, selama dalam proses Kerei tidak boleh bersetubuh bahkan dengan istri, tidak boleh makan sembarang waktu (ada aturan waktu sesuai ritual), tidak boleh memakan owa Mentawai (Bilou atau Simabilau) dan ikan panjang (belut). Untuk menjadi seorang Sikerei, seseorang harus melaksanakan upacara adat atau yang disebut dengan Lia, sebelum sampai kepada pelaksanaan upacara tersebut, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syaratnya tersebut antara lain, seorang calon Sikerei harus memiliki banyak ternak babi yang dipelihara, memiliki umur minimal 40 tahun, sanggup mematuhi aturan Kerei dan menjahui pantangannya yakni kei-kei. Selanjutnya setelah syarat- syarat tersebut terpenuhi, ada proses yang disebut kerei yang juga harus dipenuhi oleh seorang calon Sikerei. Pelaksanaan Kerei diawali dengan Menyagu (mengolah sagu), kemudian Luluplup, Ulainok, Ugettek, Uogbug, dan diakhiri dengan pasigabah iba. Dalam pelaksanaan tahapan-tahapan tersebut ada beberapa alat-alat yang digunakan. Alat-alat yang digunakan tersebut adalah kabit (proses pembuatannya disebut dengan panaslah), Salipak dan Bakluh, Talatak, Tetekuk, Luat, Singenyet, Sibodhag, Lai-lai, Lekkau, Sabot Kerei, Sineibag dan Ngalou. Sumber: Christovorus Sintong Situmorang, S.Hut - PEH Balai Taman Nasional Siberut
Baca Artikel

Membunyikan Data dari Tapak

Bogor, 1 Desember 2020. Hari pertama pada bulan terakhir di Tahun 2020 menjadi cukup istimewa. Bertempat di kantor PIKA, beberapa orang lintas sektoral berkumpul dengan semangat perubahan untuk belajar menjadi lebih baik. Selain perwakilan dari setiap direktorat lingkup Ditjen KSDAE, hadir juga dalam diskusi perwakilan dari akademisi (IPB dan Oxford University) serta NGO (WCS dan Sintas Indonesia). Berawal dari keprihatinan akan banyaknya data yang telah dikumpulkan rekan di lapangan berpuluh tahun lamanya di berbagai ruang dan tempat. Maka PIKA mengajukan diri untuk memulai mengumpulkan informasi yang masih terserak tadi. Bagaimanapun, inilah identitas kita (KSDAE, red) sebagai pemangku kawasan. Boleh jadi, terselip didalamnya mutiara yang begitu berharga. Cukup menarik Ketika pemahaman dari lintas sektoral mencoba beradu argumen, sesekali diisi perdebatan yang sedikit memanas, namun tetap dengan semangat yang sama. Mencapai satu kesepahaman untuk memperbaiki diri. Hingga akhirnya ide didalam kepala, informasi diatas kertas, mulai menemukan bentuknya. Dibungkus dengan konsep “Pengelolaan Inventarisasi Keanekaragaman Hayati Nasional”, tim di Bogor mencoba merekonstruksi aktivitas peluh teman-teman di lapangan. Puluhan ribu informasi keragaman hayati yang dikelola oleh Ditjen KSDAE dirangkai dalam sebuah peta yang menggambarkan betapa saat ini kita bekerja, benar-benar di lapangan. Puzzle informasi masih terus disempurnakan hingga akhirnya dapat digambarkan dalam bentuk peta sebaran penguasaan wilayah dan kekayaan jenis hayati di Indonesia. Sumber : M. Misbah Satria Giri Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Baca Artikel

Nervilia, Anggrek Tanah Penyambut Hujan di Dorocanga, TN Tambora

November 2020. Hujan memang datang terakhir di wilayah Dorocanga, bahkan seakan hanya lewat saja tanpa diam sejenak. Tidak ada yang menyangkalnya, karena kenyataanya memang demikian. Jika di sisi barat atau bagian barat gunung Tambora sudah sering hujan, Dorocanga masih kerontang sebagian. Saat hujan mulai menyentuh tanah, bahkan itu masih lama juga, butuh beberapa kali hujan agar airnya dapat menyentuh lantai hutan. Saat air hujan mulai menyentuh lantai hutan Dorocanga banyak tumbuhan yang menyambutnya. Mulai dari biji kesambi yang menyumbul dari dalam tanah hingga anggrek tanah liar mulai menampakkan kehadirannya. Perlu ketelitian untuk menjumpainya, karena tidak semua titik dapat dijumpai jenis anggrek tanah ini. Pada beberapa bagian hutan musim yang ada di wilayah Dorocanga apakah jenis ini sudah menampakkan diri? jawabannya belum. Di beberapa titik yang dahulu pernah dijumpai masih tidak menampakkan wujudnya. Bahkan daun atau kuncup bunga saja belum menampakkan wujudnya. Mungkin karena air hujan belum benar-benar sampai di lantai hutan. Siapakah gerangan yang mulai muncul di hutan wilayah Dorocanga dalam bulan-bulan awal musim hujan ini? Nervilia crociformis, anggrek tanah yang menampakkan wujudnya saat ini. Jenis ini merupakan herba teresterial yang membentuk koloni. Tumbuhan steril terdiri dari satu daun saja. Sedangkan tumbuhan subur atau fertil pada awalnya merupakan perbungaan terminal, kemudian daun tunggal akan muncul dari pangkal batang. Daun jenis ini berupa daun soliter apikal, merunduk, tegak di atas tanah, membulat, lebar 4-7 cm, hijau tua, licin, dengan 10 urat menjalar, tepi berliku dengan ujung tumpul. Bunga berupa kelompok terminal, berdaging, dan gagang bunga memanjang pada buah. Bunga berombak, berbentuk bintang berwarna hijau dengan labellum berwarna putih. Jenis ini sulit terlihat karena berada di lantai hutan dan sering tersamarkan oleh seresah. Dengan lama mekar hanya beberapa hari saja, untuk menjumpai jenis ini harus di saat dan waktu yang tepat. Agar menjumpainya saat sedang mekar sempurna. Hutan Dorocanga masih menyediakan tempat tumbuh yang baik untuk jenis ini. Dengan menjaga dan melestarikan hutan yang ada, berbagai jenis tumbuhan masih dapat kita jumpai. Semoga kedepannya hutan tambora tetap terjaga dengan baik agar kekayaan jenis baik satwa atau tumbuhan dapat terjaga dan lestari. Sumber : Samsul Maarif - PEH Balai Taman Nasional Tambora
Baca Artikel

Tambora Menyambut Tamu Jauh dari Bumi Utara

Di belahan bumi utara, satwa liar harus menyesuaikan diri dengan kondisi musim yang ada di sana. Musim dingin memaksa mereka untuk menyesuaikan diri, jika hewan besar melakukan hibernasi, beberapa hewan lain melakukan migrasi ke belahan bumi lain yang lebih hangat. Seperti burung-burung migran yang bermigrasi dari belahan bumi utara (China, Mongolia, dan Wilayah Arktik) menuju wilayah tropis yang lebih hangat. Jika kunjungan wisatawan mancanegara saat ini masih terdampak oleh covid-19, tidak begitu dengan kunjungan burung migran dari belahan bumi utara. Bulan-bulan ini belahan bumi utara sedang memasuki musim dingin, sehingga mereka melakukan migrasi. Burung migran ini melalui perjalanan yang panjang dari tempat berkembang biak mereka ke wilayah tropis seperti indonesia. Burung-burung migran beberapa dijumpai di wilayah Tambora. Jika musim sebelumnya teramati Cerek Asia / Oriental Plover (Charadrius veredus), musim ini dijumpai pula Cerek Krenyut (Pluvialis fulva). Cerek Asia (Charadrius veredus) memiliki ukuran sedang (25 cm). Cerek Asia yang tidak dalam masa berkembang biak memiliki ciri bagian atas tubuh berwarna cokelat, wajah dan sisi dada kecoklatan, dan perut putih, serta kaki jenjang berwarna kuning. Sedangkan Cerek krenyut (Pluvialis fulva) berukuran sedang (25 cm) dengan ciri-ciri untuk burung tidak dalam masa berbiak dan remaja yaitu bagian atas tubuh berbintik-bintik coklat dengan coretan keemasan di punggung dan kepala mereka, dan perut berwarna putih pucat. Biasanya di indonesia di jumpai di gosong lumpur, gosong pasir, maupun sawah yang dekat dengan pantai. Jenis ini berkembang biak di beberapa bagian Mongolia, Rusia dan China dan bermigrasi ke belahan bumi selatan setiap tahun ke wilayah Indonesia, Papua Nugini, dan Australia. Di Tambora burung ini di jumpai di savanna yang berada di sekitar pos 1 jalur pendakian Dorocanga. Mereka dijumpai sedang mencari makan di sekitar jalur pendakian dengan sekali-kali terbang berputar. Biasanya mudah di jumpai saat pagi atau sore hari dan dijumpai dalam kelompok. Taman Nasional Tambora memang tidak memiliki pantai, lokasi yang umumnya di singgahi burung migran jenis ini, namun terdapat savanna yang cukup luas untuk tempat singgah sembari mencari makan, apalagi saat hujan mulai turun, pakan tersedia melimpah di hijaunya rumput yang baru tumbuh. Semoga Tambora menjadi rumah singgah yang nyaman, sehingga tamu (burung migran) yang datang tidak kapok dan dapat berkunjung dengan aman. Sumber : Samsul Maarif - PEH Balai Taman Nasional Tambora
Baca Artikel

Ada Apa Dengan Buaya ?

Medan, 19 November 2020. Buaya (Crocodylus sp.) belakangan ini menjadi salah satu satwa liar yang kerap kali disorot/diliput oleh sejumlah media, baik media cetak maupun media on-line. Tentunya berkaitan dengan kasus konflik antara warga dengan buaya. Dari data yang penulis kumpulkan, hasil liputan/pemberitaan media cetak menunjukkan bahwa tingkat konflik manusia dengan buaya sepanjang bulan Januari s.d November 2020, khusus di Provinsi Sumatera Utara, relatif cukup tinggi. Tidak kurang 9 kasus konflik telah terjadi dan tersebar di beberapa kabupaten/kota, seperti : kota Medan (2 kasus), kabupaten Labuhanbatu Utara (2 kasus), kabupaten Langkat (1 kasus), kota Tanjung Balai (1 kasus), kabupaten Labuhanbatu (1 kasus), kabupaten Tapanuli Selatan (1 kasus) dan kabupaten Mandailing Natal (1 kasus). Kondisi ini menunjukkan bahwa buaya menjadi sosok yang menakutkan dan mengancam kehidupan masyarakat. Tingginya kuantitas serta kualitas konflik, setidaknya juga ingin menunjukkan bahwa habitat dan kehidupan buaya mulai terusik/terganggu. Terusiknya habitat disebabkan oleh beragam aktivitas manusia, khususnya yang berada di sekitar perairan baik tawar maupun payau, serta makin berkurangnya sumber pakan di alam, tentunya menjadi faktor utama yang mendorong dan memaksa buaya memasuki areal permukiman warga untuk mencari dan mencukupi kebutuhan akan pakannya. Ketika ternak warga tidak ada ditemukan, maka manusialah yang kemudian menjadi target sasarannya. Akhirnya konflik pun tak ter-elakkan dan biasanya akan jatuh korban diantara kedua belah pihak (manusia dan buaya). Tidak ada jalan lain, konflik harus dicegah dan dihindari. Agar konflik ini tidak terjadi lagi, maka perlu dilakukan upaya komprehensif (menyeluruh) dalam penanganan permasalahan yang ada. Ada beberapa hal yang menjadi catatan penulis dan perlu untuk disikapi/ditindak lanjuti. Pertama, penataan lingkungan perairan yang disinyalir sebagai habitat buaya, menjadi prioritas dalam penanganan permasalahan. Areal-areal perairan tertentu yang diduga, atau patut diduga, sebagai lokasi habitat maupun home range (jalur jelajah) buaya, harus dihindari penggunaan serta pemanfaatannya oleh masyarakat sekitar. Masyarakat sebaiknya diarahkan dan didorong untuk membuat fasilitas sanitasi (MCK = Mandi, Cuci, Kakus) sendiri, atau membangun fasilitas sanitasi umum di lingkungannya, dengan tanpa menggunakan atau berhubungan dengan sungai, danau maupun rawa. Pengadaan fasilitas sanitasi ini juga tentunya penting dalam mengedukasi masyarakat guna membudayakan pola hidup sehat. Kedua, menyiapkan masyarakat dalam mengantisipasi konflik, dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan tanggap darurat manakala buaya memasuki perkampungan. Penanganan konflik semaksimal mungkin diupayakan tidak menimbulkan korban, baik dipihak masyarakat maupun pada satwa buaya. Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya diberikan pendidikan dan keterampilan menjadi pawang-pawang buaya, yang sewaktu-waktu siap untuk diberdayakan. Ketiga, membuat pengumuman/sosialisasi, himbauan atau papan larangan di sekitar lokasi yang dianggap rawan konflik dengan buaya, sehingga masyarakat akan waspada dan berhati-hati bila berada atau melintasi lokasi tersebut. Upaya-upaya penanganan sebagaimana diuraikan di atas, tidak akan berjalan bila tidak ada sinergitas dari semua pihak, baik instansi pemerintah terkait maupun masyarakat. Oleh karena itu kerjasama yang baik akan sangat membantu dalam mencegah dan menanggulangi terjadinya konflik diwaktu-waktu yang akan datang. Kita tentunya sepakat, bila masyarakat membutuhkan suasana kehidupan yang tenang di lingkungannya tanpa ada rasa takut dan cemas. Sebaliknya juga, kita perlu tetap mempertahankan dan menjaga keberadaan satwa buaya agar tetap lestari, karena buaya juga punya hak hidup yang sama dengan manusia. Dan perlu diingat pula, bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, telah menetapkan beberapa jenis dari buaya, seperti : Buaya Muara (Crocodylus porosus), Buaya Siam (Crocodylus siamensis) dan Buaya Air Tawar Irian (Crocodylus novaeguineae), sebagai jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Akhirnya, hidup yang damai diantara sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, menjadi impian dan idaman kita bersama. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia dimuka bumi ini, maka manusia diberikan tanggung jawab yang lebih untuk mewujudkannya... Sumber : Evansus Renandi Manalu - Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Berbagi Ilmu Pengetahuan dan Senyuman Untuk Masyarakat Kampung Isenebuai

Buku adalah jendela ilmu pengetahuan dan kegiatan membaca buku merupakan suatu cara untuk membuka jendela tersebut agar kita bisa memperoleh banyak ilmu pengetahuan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang-orang yang telah berusia lanjut. Sadar akan hal itu Penyuluh Kehutanan bersama staff Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah 3 Yembekiri Melaksanakan kegiatan “Berbagi buku bersama Masyarakat Kampung Isenebuai”. Diharapkan melalui kegiatan tersebut “Berbagi Ilmu Pengetahuan dan Berbagi Senyuman” dapat tersalurkan untuk masyarakat kampung Isenebuai. Buku yang dibagikan merupakan donasi dari pegawai Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Sebanyak 30 Masyarakat yang terdiri dari orang tua dan remaja di kampung Isenebuai menerima buku yang berisi berbagai materi menarik yang dapat menambah pengetahuan serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi buku yang dibagikan berupa resep-resep masakan, cara pembuatan pupuk kompos, renungan rohani, kiat-kiat bertani, budidaya, dll. Metode yang digunakan dalam membagikan buku kepada masyarakat adalah dengan menggunakan metode anjangsana (melakukan kunjungan kerumah masyarakat secara langsung). Alasan pemilihan metode anjangsana adalah untuk menghindari kerumunan massa akibat pandemi covid-19. Buku tidak hanya dibagikan kepada orang tua, namun juga dibagikan kepada anak-anak yang sebagian besar masih bersekolah. Hal ini bertujuan agar ilmu pengetahuan dapat dirasakan oleh berbagai usia. Sebanyak 32 anak menerima buku yang berisi materi pembelajaran sekolah seperti kumpulan ujian nasional, atlas dunia, dll. Yang tentunya sangat bermanfaat bagi mereka. Namun metode yang digunakan dalam membagikan buku kepada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Metode yang digunakan adalah dengan metode diskusi kelompok (pengumpulan massa). Hal ini disebabkan pada saat akan melaksanakan pembagian buku secara anjangsana, banyak anak-anak yang tidak berada dirumah, sehingga dikhawatirkan banyak anak yang tidak menerima buku secara langsung. Pembagian buku secara langsung bertujuan agar pesan dan motivasi yang ingin disampaikan oleh tim pelaksana kepada adik-adik agar semakin giat membaca juga dapat tersampaikan secara langsung. Meskipun pembagian buku menggunakan metode diskusi (Pengumpulan massa), tim pelaksana sudah mempertimbangkan dan menjaga keamanan kondisi lapangan dari covid-19 dengan sangat baik sebelum pelaksanaan dimulai. Kegiatan berjalan dengan lancar, masyarakat yang terdiri dari orang dewasa, remaja maupun anak-anak merasa sangat senang dan diharapkan kedepannya perlu dilaksanakan kegiatan lanjutan untuk lebih meningkatkan minat baca masyarakat terutama anak-anak yang merupakan generasi penerus masa depan. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Friska Gressia Sianturi, S.Hut (Calon Penyuluh Kehutanan Pertama)
Baca Artikel

Ngobrol Santai Konservasi Dalam Rangka HCPSN 2020

Jakarta, 5 November 2020 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta Bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menyelenggarakan Ngonser atau ngobrol santai konservasi dalam rangka Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) pada tanggal 5 November 2020. Acara yang digelar secara daring tersebut mengambil tema “Mangrove Rumah bagi Puspa dan Satwa” serta diikuti oleh 30 peserta yang meliputi para pemerhati puspa dan satwa dari berbagai daerah. “Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional ini menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita,” jelas Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Jakarta Ida Harwati pada saat membuka acara Ngonser. Ida menambahkan terkait tema yang diusung dalam Ngonser kali ini yaitu tentang arti penting ekosistem mangrove. Bahwa mangrove merupakan rumah bagi aneka ragam puspa dan satwa yang harus dijaga kelestariannya. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem paling produktif di bumi. Di Jakarta masih terdapat gugusan hutan mangrove yang berada di Kelompok Hutan Angke Kapuk yang terdiri dari Suaka Margasatwa Muara Angke, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, dan Hutan Lindung. Kawasan hutan mangrove di wilayah Provinsi DKI Jakarta seluas 576,608 Ha menjadi kawasan yang memiliki nilai penting di kawasan jakarta sehingga, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui BKSDA Jakarta menaruh perhatian besar untuk melestarikan ekosistem mangrove tersebut. BKSDA Jakarta bersama YKAN dan para pemangku kepentingan lainnya melalui platform Mangrove Ecosystem Restoration Alliances (MERA) selalu aktif mengajak seluruh elemen masyarakat untuk peduli upaya pelestarian ekosistem mangrove. “Ekosistem mangrove yang sehat mendukung produktivitas perikanan, memberikan sumber pendapatan, perlindungan, serta berkontribusi pada ketahanan pangan dan sosial,” pungkas Muhammad Imran Amin, selaku Direktur Program MERA YKAN. Sumber: Balai KSDA DKI Jakarta
Baca Artikel

Menjaga Asa Kepedulian Terhadap Satwa Liar

Beberapa jenis satwa liar penyerahan masyarakat ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 5 Nopember 2020 - Kepedulian masyarakat Sumatera Utara terhadap satwa liar, semakin hari semakin baik. Dalam pemberitaan yang diekspose di media website Balai Besar KSDA Sumatera Utara, terlihat tingginya animo masyarakat yang menyerahkan satwa liar, khususnya jenis yang dilindungi, kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, untuk nantinya direhabilitasi dan dilepasliarkan (release) kembali ke habitatnya. Tercatat sedikitnya ada 30 ekor satwa liar berbagai jenis yang diserahkan sepanjang bulan Januari 2020 sampai dengan Oktober 2020. Ragam jenis tersebut diantaranya : Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) sebanyak 8 ekor, Kucing Hutan/Kucing Kuwuk (Felis bengalensis) 11 ekor, Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) 4 ekor, Kakatua Jambul Kuning (Cacatua galerita) 2 ekor, Elang Bondol (Haliastur indus) 1 ekor, Nuri Maluku 1 ekor, Elang Laut Dada Putih (Haliaeetus leucogaster) 1 ekor, Binturong (Arctistis binturong) 1 ekor dan Trenggiling (Manis javanica) 1 ekor. Masyarakat yang terpanggil dan peduli ini tidak hanya berada di Kota Medan saja, tetapi juga menyebar di beberapa kota/kabupaten di Propinsi Sumatera Utara, seperti : Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi, Kota Pematangsiantar dan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan. Warga yang menyerahkan satwa kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dari keterangan yang dikumpulkan, pada umumnya masyarakat awalnya tak mengetahui bila satwa peliharaannya tersebut termasuk jenis dilindungi. Namun setelah mendapat pencerahan baik dari warga lainnya, lembaga mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera maupun dari berbagai media informasi termasuk diantaranya media website Balai Besar KSDA Sumatera Utara, mendorong warga untuk secara sukarela menyerahkan satwa-satwa tersebut. Meningkatnya kepedulian warga tersebut menjadi catatan penting dalam memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) Tahun 2020, yang biasa diperingati setiap tanggal 5 Nopember setiap tahunnya. Pendekatan edukasi (pendidikan) dan awarness (penyadaran) menjadi solusi yang efektif. Bentuk kepedulian masyarakat selama ini, juga merupakan buah dari edukasi dan awarness. Sosialisasi yang intens tentunya akan menjangkau masyarakat lebih luas lagi. Untuk itu ke depan perlu dikemas model-model edukasi yang interaktif dan menarik, sehingga mendorong warga bukan hanya dengan sukarela menyerahkan satwa liar peliharaannya, tetapi juga menjadikan mereka sebagai mediator untuk menumbuhkan kepedulian warga lainnya. Pendekatan-pendekatan ini perlu dilakukan secara komprehensif dan kolaboratif, dengan melibatkan berbagai komponen yang bukan hanya dari instansi pemerintah terkait, melainkan juga mengikut sertakan komunitas/lembaga-lembaga nirlaba yang konsern dengan pelestarian satwa liar, dan juga berbagai media baik cetak, elektronik, on-line maupun media sosial. Kiranya peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional Tahun 2020 ini menjadi momentum penting untuk terus menerus menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa “manifestasi (bentuk) mencintai satwa liar bukanlah dengan cara meninabobokkannya dalam sebuah sangkar, memberinya kenyamanan dan kenikmatan yang semu, karena cara-cara ini akan menjadikannya terkekang, tersiksa dan tidak berkembang. Tapi mari cintai lah satwa liar dengan memberinya kebebasan hidup di habitatnya, sehingga dia akan bertumbuh serta berkembang biak dengan baik secara alami” Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Data) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

KTH Kupu Kupu Kampung Susweni Merajut Noken, Lestarikan Budaya Papua

Manokwari, Oktober 2020. Pendampingan Kelompok Tani Hutan (KTH) merupakan proses dalam penyuluhan kehutanan dalam rangka pembinaan KTH yang dilakukan secara terus- menerus sehingga mencapai kemandirian dan kesejahteraan kelompok. Pendampingan KTH menjadi penting untuk dilakukan dalam kegiatan pembangunan kehutanan. Dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan konservasi TWA Gunung Meja, Balai Besar KSDA Papua Barat mendorong peningkatan kesejahteraan masayarakat melalui pemberian Bantuan Usaha Ekonomi Produktif tahun anggaran 2020 kepada Desa Binaan di Manokwari melalui Kelompok Tani Hutan, salah satu diantaranya yaitu KTH Kupu Kupu Kampung Susweni di Manokwari. Mengenal lebih jauh, KTH Kupu Kupu kampung Susweni merupakan organisasi yang dibentuk sebagai wadah kegiatan penyuluhan kehutanan terhadap kelompok tani binaan Balai Besar KSDA Papua Barat yang berada di daerah penyangga kawasan konservasi TWA Gunung Meja. KTH Kupu Kupu terletak di kampung Susweni yang merupakan salah satu desa penyangga kawasan konservasi TWA Gunung Meja yang dibentuk pada agustus 2018 di Manokwari. Anggota KTH Kupu Kupu Susweni saat ini berjumlah 20 orang dan merupakan masyarakat yang tinggal menetap di kampung Susweni dimana mayoritas masyarakatnya merupakan suku Meyakh. Suku Meyakh merupakan salah satu kelompok suku yang tergabung dalam suku besar Arfak. Sebagian lainnya merupakan masyarakat pendatang yang berasal dari Buton, Jawa dan Sulawesi. Masyarakat kampung susweni memiliki mata pencaharian yang cukup beragam yaitu sebagai petani, pedagang, pegawai negeri dan karyawan swasta. Sebagian besar masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai petani dengan hasil tani berupa sayur-sayuran seperti sawi, kangkung, terong, rica/cabe dan buah-buahan seperti rambutan dan langsat. Selain bertani, beberapa masyarakat kampung memiliki kemampuan membuat kerajinan tangan khas papua yaitu noken. Noken adalah kerajinan tangan khas suku Papua yang berbentuk tas, terbuat dari benang yang dipilin dengan teknik tertentu sehingga menjadi jaring yang berfungsi sebagai kantong multifungsi. Sejak desember 2012, noken khas masyarakat papua telah resmi tercatat dalam daftar warisan kebudayaan tak benda UNESCO. Masyarakat Papua di Manokwari mengenal 2 (dua) jenis noken yang dibedakan berdasarkan jenis benangnya yaitu noken yang terbuat dari serat tumbuhan jenis nenas, melinjo, anggrak, dan akar-akan tanaman dan noken yang terbuat dari benang polycherry, yang disebut juga noken benang toko. Saat ini banyak pengrajin noken yang telah menggunakan benang polycherry sebagai bahan dasar noken hal ini disebabkan karena benang polycherry lebih mudah didapatkan, namun tidak sedikit juga pengrajin yang memproduksi noken serat tumbuhan. Uniknya, variasi-variasi yang terdapat pada noken menunjukkan daerah atau suku tertentu dimana noken itu berasal. Umumnya masyarakat papua menggunakan noken sebagai tas untuk menyimpan barang-barang bawaan hasil kebun berupa sayur-sayuran dan buah-buahan, menggendong bayi maupun hewan ternak babi hal ini karena bentuk noken yang elastis yang dapat menyesuaikan dengan barang bawaan. Masyarakat kampung Susweni memiliki keterampilan untuk membuat noken dari bahan serat nenas, serat melinjo dan benang polycherry. Proses pembuatan noken dari bahan serat nenas dan melinjo memerlukan proses pengerjaan yang lebih lama dibandingkan dengan benang polycherry hal ini dikarenakan bahan baku serat nenas dan melinjo perlu diolah terlebih dahulu sehingga menjadi helaian-helaian benang yang selanjutnya dilakukan pemintalan, yaitu 2 helaian benang diletakkan di bagian paha kaki sambil digulung menggunakan tangan sampai semua bagian tergulung menjadi benang yang lebih tebal kemudian dianyam. Proses penganyaman benang serat nenas dan melinjo masih dilakukan secara tradisional yaitu menggunakan tangan tanpa menggunakan jarum, sedangkan proses penganyaman noken benang polycherry menggunakan jarum anyam hakpen. Noken yang dibuat dari serat tumbuh-tumbuhan berwarna polos, untuk menambah keindahan sehingga tampak bervariasi, biasanya masyarakat kampung Susweni memberikan pewarnaan pada noken sebagai sentuhan akhir. Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami yang berasal dari bagian biji dan daun tumbuh-tumbuhan jenis tertentu atau pewarna tekstil yang tahan lama. Warna-warna yang digunakan adalah warna-warna terang yang dipadukan sedemikian rupa sehingga tampak indah dipandang mata. Selain memiliki nilai budaya, saat ini noken menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi karena memiliki kegunaan seperti kantong dan cinderamata. Di Papua dan Papua Barat noken meruapakan salah satu benda yang digunakan sebagai simbol selamat datang, selamat jalan ataupun sebagai pemberian hadiah kepada kerabat. Noken banyak dijual di pasar-pasar tradisional, toko-toko souvenir atau pun di depan rumah-rumah masyarakat yang membuat noken. Noken yang dijual memiliki ukuran dan model yang beravariasi mulai dari ukuran kecil hingga besar dengan harga yang berbeda di setiap ukurannya. Noken berbahan dasar serat tumbuhan dijual dengan harga mulai dari Rp. 150.000,00 dan noken benang polycherry dijual dengan harga mulai dari Rp. 100.000,00. Hingga kini KTH Kupu Kupu kampung susweni terus memproduksi noken serat nenas, serat melinjo dan benang polycherry, dengan adanya produksi noken oleh KTH diharapkan KTH dapat mengembangkan warisan budaya noken sebagai salah satu hasil kerajinan tangan bangsa Indonesa di tanah Papua dan dapat meningkatkan kesejahteraan anggota KTH. Sumber : Meyanti Toding Buak, S.Si - Calon Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Artikel

KEE Taima Benteng Biodiversity

Palu, 2 November 2020. Kali ini Balai KSDA Sulawesi Tengah akan memperkenalkan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang menjadi habitat burung maleo dan penyu. Kawasan ini terletak di Desa Taima Kec. Bualemo Kab. Banggai Prov. Sulawesi Tengah yang berjarak lebih kurang 150km dari Kota Luwuk dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan tempuh diperkirakan 2,5 jam hingga 3 jam. Sepanjang perjalanan mata kita akan disuguhkan pemandangan indah Teluk Poh dan berbagai aktivitas masyarakat desa. Ekosistem esensial adalah kawasan dengan ekosistem yang berada diluar kawasan konservasi baik yang merupakan tanah hak maupun bukan hak. Yang secara ekologis penting bagi konservasi keanekaragaman hayati, yang karena potensi keanekaragaman hayatinya atau karena merupakan penghubung dua atau lebih kawasan konservasi atau habitat spesies penting atau merupakan penyangga kawasan konservasi yang secara teknis tidak atau belum dapat ditetapkan sebagai kawasan konservasi dan dikelola seperti atau untuk tujuan mendukung konservasi keanekaragaman hayati. Keberadaan konservasi tersebut menjadi unik dan khas karena memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi, akan tetapi berada diluar sistem kawasan konservasi, baik kawasan suaka alam ataupun kawasan pelestarian alam. Namun ekosistem tersebut juga menghadapi tekanan yang sangat tinggi dengan berbagai kompleksitas dalam pengelolaan, sehingga perlu didorong upaya konservasinya. Kronologi Penetapan KEE Taima Sejalan dengan Inpres No. 3 Tahun 2010 tentang Pembangunan yang berkelanjutan, KEE Taima merupakan salah satu pembangunan yang berkelanjutan yang proses identifikasi dan inventarisasi didukung oleh Direktorat Jenderal KSDAE, BKSDA Sulawesi Tengah, Dinas Kehutanan Prov. Sulawesi Tengah, Pemerintah Daerah Kab. Banggai, Insatansi terkait, Akademisi, Organisasi Lingkungan Hidup, serta masyarakat setempat. Kronologis pengelolaan Kawasan Ekosistem Esesensial (KEE) di Desa Taima Kec. Bualemo Kab. Banggai adalah sebagai berikut : Begitu besarnya dukungan dari pemerintah, OLH maupun masyarakat terhadap KEE Taima dengan harapan KEE Taima sebagai benteng Biodiversity agar tetap lestari dan kita semua dapat menjaga alam yang merupakan warisan terbesar yang hakiki untuk generasi kita. Sumber : I Nyoman Ardika - Polhut Pelaksana Lanjutan dan Siti Wulandari - PEH Pelaksana Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Artikel

Inovasi Penetasan Telur Burung Maleo

Mitos tentang telur Burung Maleo (Macrocephalon maleo M?ller, 1846) yang tidak dapat ditetaskan di luar habitat telah terbantahkan dengan ditemukannya cara melaksanakan penetasan telur burung maleo dengan menggunakan inkubator dengan daya tetas yang tinggi yaitu di atas 70% (Tanari, 2007). Memanfaatkan inovasi tersebut, BKSDA Sulawesi Tengah bersama PT. Donggi Senoro LNG dan PT. Panca Amara Utama, melakukan kerjasama pelestarian Burung Maleo di Kabupaten Banggai Propinsi Sulawesi Tengah diluar habitat alaminya. Telur Burung Maleo yang berasal dari luar kawasan konservasi Sulawesi Tengah yang habitatnya terancam baik secara alami maupun oleh predator, serta hasil sitaan atau penyerahan, selanjutnya dibawa ke lokasi kerjasama PT. Donggi Senoro LNG dan PT. Panca Amara Utama untuk ditetaskan melalui inkubator. Cara penetasan ini efektif dan digunakan sebagai cara untuk memperbanyak anakan Burung Maleo yang siap di lepas kembali ke alam/habitat Burung Maleo (restocking). Tahap Penetasan Telur Burung Malao Gambar 1. Inkubator yang digunakan (kiri), Telur yang menetas dalam inkubator (kanan) Tahap Pemeliharaan Anak Burung Maleo Gambar 2. Anak maleo dalam induk buatan Pelepasan Burung Maleo ke Habitat Insitu Burung Maleo yang dipelihara dalam kandang penangkaran sekitar satu bulan, dilepas kembali ke alam, tujuannya adalah menambah populasi Burung Maleo di habitat. Burung Maleo dilepas ke Suaka Margasatwa (SM) Bakiriang Kabupaten Banggai Propinsi Sulawesi Tengah. Sampai dengan tahun 2019, PT. Donggi Senoro LNG telah melakukan pelepasliaran (restocking) Burung Maleo hasil penetasan inkubator sebanyak 100 ekor, sedangkan PT. Panca Amara Utama telah melepasliarkan Burung Maleo hasil penetasan inkubator sebanyak 165 ekor. Pelepasliaran tersebut berkontribusi terhadap peningkatan populasi satwa terancam punah prioritas sesuai The IUCN Red List of Threatened Species sebesar 10% dari baseline data tahun 2013. Gambar 3. Pelepasliaran Burung Maleo hasil penetasan Inkubator ke Suaka Margasatwa Bakiriang Kabupaten Banggai. Penelitian Pelaksanaan penelitian dilakukan di Area Konservasi Burung Maleo PT. Donggi Senoro LNG dan PT. Panca Amara Utama. Penelitian dilakukan dari Universitas Tadulako yaitu mahasiswa Strata Satu dan Mahasiswa Pasca Sarjana. Penelitian pada SM Bakiriang yakni melihat jenis-jenis pohon yang ada di area Tanjung Bakiriang dan potensi pakan Maleo di alam. Sedangkan penelitian yang dilaksanakan pada area konservasi Maleo PT. Donggi Senoro LNG dan PT. Panca Amara Utama dilaksanakan uji coba kembali penetasan dengan melihat berapa aspek korelasi antar bobot telur dan lama inkubasi, morfometri telur dan morfologi maleo serta uji coba penggunaan hormon reproduksi untuk membedakan jenis kelamin yang dihubungkan dengan morfologi. "Upaya penetasan telur Burung Maleo dengan inkubator hanyalah dilakukan untuk mengamankan telur Burung Maleo yang terancam. Sejatinya Burung Maleo berkembang biak di habitat alaminya." Penulis:
Baca Artikel

Bapak Mansur, Pejuang Konservasi Burung Maleo

Bapak Mansur, merupakan salah satu sosok pejuang konservasi burung maleo di Sulawesi Tengah. Di usianya yang sudah hampir mencapai 67 tahun dengan kondisi mata yang sudah tidak sehat, beliau masih saja mendedikasikan dirinya dalam pelestarian burung maleo. Sejak tahun 1985, Bapak Mansur sudah menjadi petugas penangkaran burung maleo di kawasan Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop. Beliau mempunyai kemampuan untuk mendeteksi keberadaan telur burung maleo, meskipun juga banyak tersebar “lubang tipuan” yang dibuat oleh burung maleo di saat burung betina mau bertelur. Setiap tahunnya Bapak Mansur mampu menetaskan sendiri sekitar lebih dari 400 butir telur maleo setiap tahunnya dan kemudian dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop. Pada saat ini kondisi pantai peneluran burung maleo di Suaka Margasatwa Burung Maleo sudah mulai rusak akibat gelombang pasang yang terjadi di akhir Oktober ini. Sudah beberapa hari belakangan ini burung maleo tidak nampak turun ke tempat pantai peneluran seperti biasanya. Meskipun demikian, tidak menyurutkan semangat Bapak Mansur beserta anaknya (Kiflan Mansur) yang juga mengikuti jejak sang ayah untuk tetap ke lokasi peneluran. Mereka berjalan kaki ke lokasi peneluran yang terbilang cukup jauh jaraknya demi merawat anak maleo yang sudah menetas yang saat ini berjumlah kurang lebih 104 ekor yang berada di kandang pemeliharaan. Bapak Mansur memiliki dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan pekerjaannya, terbukti dengan penghargaan Kalpataru yang diterima pada tahun 2004 karena dianggap memiliki jasa melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Semoga akan banyak Mansur-Mansur yang lain…yang mengikuti dedikasi dan totalitas beliau dalam pelestarian lingkungan, khususnya pelestarian burung maleo yang merupakan hewan yang dilindungi dan juga meruapakan maskot Provinsi Sulawesi Tengah. Salam Lestari… Sumber : Amelia - Tim Humas Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Artikel

Keberadaan Taman Nasional Batang Gadis sebagai Habitat yang ideal bagi Tapirus indicus

Mandailing Natal, 14 Oktober 2020. Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) adalah binatang herbivora yang memiliki bentuk tubuh seperti babi, telinga yang mirip badak dan moncongnya yang panjang mirip trenggiling, tubuhnya berwarna hitam dan putih sementara lenguhannya lebih mirip suara burung daripada binatang mamalia. Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) merupakan hewan yang soliter, kecuali pada musim kawinnya. Aktivitasnya lebih banyak pada malam hari (nokturnal). Aktivitas makan biasanya dilakukan sambil tetap terus berpindah dalam jalur yang berpindah-pindah. Jangkauan jelajah tapir sangat luas karena mereka cenderung berjalan jauh untuk menemukan lokasi yang kaya garam mineral. Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) memakan dedaunan muda di sepanjang hutan atau pinggiran sungai. Kondisi Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) yang ada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis bisa dianggap relatip aman karena masih banyak ditemukan keberadaan Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) diberbagai titik dikawasan tersebut dilihat dari hasil pemasangan kamera trap yang dilakukan oleh petugas Taman Nasional Batang Gadis serta banyaknya temuan-temuan berupa feses dan tapak Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) . Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) di Taman Nasional Batang Gadis belum pernah ditemukan mati akibat dari serangan predator lain sehingga dapat dikatakan binatang ini berkembang secara alami dikawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis. Jumlah Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) di Taman Nasional Batang Gadis belum bisa diprediksi karena belum ada sistem penghitungan yang valid tentang jumlah individunya akan tetapi selama proses pemasangan kamera trap sampai dengan sekarang Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) selalu menampakkan dirinya. Berdasarkan Hasil perhitungan dengan metode kelimpahan jenis relatif atas dasar dari Hasil kamera trap yang di pasang di 5 lokasi (3 Seksi pengelolaan Taman Nasional), gabungan kamera trap permanen dan non permanen, Jumlah kamera trap sebanyak 43 kamera trap, Asumsi perjumpaan (waktu) minimal satu jam/individu dengan tahun pemasangan yaitu tahun 2018-2019 menunjukkan bahwa kelimpahan relatif (%) di SPTN Wil. I 3,21 % , SPTN Wil. II 11,111 % dan SPTN Wil. III 10.965 %. Sehingga total kelimpahan relatif Tapir (Tapirus indicus) di kawasan Taman Nasional Batang Gadis mencapai 25, 286 %. dan tentunya perhitungan tersebut belum termasuk dari temuan-temuan feses dan tapak serta gabungan dari hasil kamera trap tahun-tahun sebelumnya. Keberadaan Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) Sejak tahun 2013 - 2020 pemasangan kamera trap, Satwa liar Tapir (Tapirus indicus) di Kawasan Taman Nasional Batang Gadis selalu tertangkap kamera trap baik kamera trap permanen maupun non permanen selain itu. Hasil adanya Tapir (Tapirus indicus) pada kamera trap serta temuan-temuan feses dan tapak nya menunjukkan bahwa Taman Nasional Batang Gadis benar merupakan salah satu habitat dari satwa liar Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) sehingga perlu sekali pengelolaan lebih lanjut untuk mempertahankan ekosistem/habitatnya agar dapat bertahan hidup. Sumber: Ifham Fuadi Rambe S.Hut - PEH MUDA Balai Taman Nasional Batang Gadis

Menampilkan 2.017–2.032 dari 2.046 publikasi