Senin, 21 Sep 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Pesona Wisata Curug Cibogo

Cibodas, 22 April 2022. Ada yang pernah dengar atau tahu nama Curug Cibogo? Kata curug itu berasal dari dari bahasa sunda yang artinya air terjun, sedangkan Cibogo itu adalah nama tempatnya. Curug Cibogo berada di wilayah administratif kecamatan Cisarua Bogor Jawa Barat, di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Jarak menuju Curug Cibogo dari exit tol Gadog Bogor adalah ± 20 KM, sedangkan akses jalannya sudah di aspal, sebagian jalan cor dan ± 200 meter jalan makadam. Dengan kondisi akses jalan tersebut, bisa menggunakan kendaraan roda 2 atau roda 4, tapi ke lokasi ini tidak ada kendaraan umum ya gaesss. Berada pada ketinggian ±1200 mdpl, kawasan ini memiliki udara yang sejuk dan sangat menyegarkan kulit. Di sekitar lokasi pintu masuk wisata Curug Cibogo pengunjung akan dimanjakan dengan hamparan kebun teh yang menyejukan mata. Untuk menuju air terjun kita akan berjalan sejauh ± 250 meter melalui jalan setapak yang tertata rapih dan bersih, lebih jauh, kita akan masuk ke dalam hutan hujan tropis dengan beraneka ragam jenis tumbuhan, disini kita dapat menikmati suara khas alam, kicauan burung, gemericik air, dan suara serangga. Jauh dari kebisingan dan udara yang bebas polusi bisa menjadi tempat terapi (healing forest). Healing forest atau terapi hutan tengah menjadi tren dunia sebagai cara baru memulihkan stres, baik fisik maupun mental. Dalam penelitian Matther P. White yang dipublikasikan jurnal Scientific Report volume 9 edisi 12 Juni 2019 terbukti bahwa tegakan pohon, ekosistem hutan, dan alam terbuka bisa memulihkan kesehatan fisik dan mental. Penelitian White mempopulerkan istilah “forest bathing” yang diserap dari istilah Jepang “shinrin-yoku”. Istilah ini dikenalkan oleh Qing Li, Presiden Kelompok Pengobatan dari Hutan di Tokyo, dalam bukunya “Shinrin-Yoku: The Art and Science of Forest Bathing. Menurut dia berjalan di bawah hutan dan menjumpai kehijauan alam adalah faktor penting dalam memerangi penyakit di tubuh dan pikiran. Di era Pandemi Covid-19 kita harus memiliki daya tahan tubuh yang kuat agar terhindar dari paparan virus ini. Setelah menikmati sensasi berada di bawah tegakan hutan dan menyusuri jalan melalui tepian sungai yang berbatu berair jernih kita tiba di lokasi Curug Cibogo. Curug ini memiliki ketinggian ± 17 meter dan di bawahnya terdapat kolam yang dapat digunakan bagi sobat petualang untuk berendam merasakan sejuknya air jatuhan dari air terjun tersebut. Selain jatuhan air dari air terjun kita juga dapat melihat jatuhan air dari rembasan air yang keluar dari bebatuan di tebing sekitar curug. Pemandangan ini menjadi keindahan tersendiri yang dapat kita nikmati. Di lokasi curug, pengelola juga menyediakan bangku dari potongan kayu untuk beristirahat sambil menikmati makanan. Tapi jangan kawatir, bagi yang tidak membawa bekal, sebelum masuk ke areal wisata ada pilihan makanan ringan dan minuman di Kafe Alam. Kafe Alam ini merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh kelompok masyarakat. Selain itu juga terdapat tempat ibadah, MCK dan gazebo untuk tempat beristirahat. Di era pandemi ini tempat wisata alam dijadikan untuk menghilangkan sejenak kejenuhan dari rutinitas sehari-hari. Berwisata ke alam terbuka sepertinya menjadi salah satu pilihan yang menarik. Tapi, jangan lupa ya tetap jaga prokes, kebersihan dan keindahan, hal ini juga demi kenyamanan kita bersama. Buang sampah pada tempat yang sudah disediakan dan jangan melakukan vandalisme. Salam Konservasi. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Ade Frima Nurcahya Intan, S.Hut. Dok : Ayi Rustiadi, S.Si.
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Berikan Edukasi Konservasi pada Mahasiswa ULM

Banjarbaru, 19 April 2022 – Balai KSDA Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “Peran Taman Safari Indonesia dalam Pelestarian Satwa di Indonesia”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa (19/04/2022) secara daring dan luring yang dimoderatori oleh Dr. Abdi Fitria, S.Hut, M.P., Dosen Fakultas Kehutanan ULM. Menurut Dr. H. Kissinger, S.Hut., M.Si. selaku Dekan Fakultas Kehutanan ULM, “Kami mengundang berbagai institusi yang berkaitan dengan konservasi secara insitu maupun exsitu. Taman Safari merupakan salah satu bentuk model pengelolaan bisnis konservasi.” tuturnya dalam sambutan. Pemilik dan Pengelola Taman Safari Indonesia (TSI) Drs. Jansen Manansang, M.Sc., menjadi pembicara dalam kuliah umum ini. Pemaparan bermula dari penjelasan “Who We Are” pengenalan Taman Safari Indonesia yang mengembangkan strategi-strategi untuk konservasi satwa langka di Indonesia. TSI telah mengembangkan penangkaran satwa dilindungi dengan koleksi 300 spesies dan 6000 ekor satwa, dengan bukti keberhasilan 170 kelahiran pada tahun 2020-2021. “Hewan pertama kali dipelihara untuk koleksi raja-raja, suplai pakan, satwa pekerja, tenaga pembantu dalam medan perang atau hiburan. Inilah awal mula zoo eksis”. Ungkap Jansen. Zoo modern mulai dibangun pada abad 19 – ‘Zoological Society of London’ oleh Sir Stamford Raffles pada tahun 1826 dengan tujuan untuk penelitian ilmiah. “Seiring berjalannya waktu, beberapa negara di dunia telah beralih dari zoo konvensional menjadi zoo modern, kemudian berkembang model open zoo-habitat satwa yang terbuka. Sementara ini TSI sudah berkembang lebih dari itu. Kami sudah sampai pada model wildlife park.” Terang Jansen. Lebih lanjut Jansen menjelaskan, “Dengan 4 pilar utama Taman Safari, yaitu konservasi, edukasi, riset, dan rekreasi, TSI bertumbuh dengan paradigma baru sebagai lembaga konservasi untuk pelestarian satwa langka berkelanjutan. Implementasi dari itu semua adalah bahwa TSI berperan sebagai pusat penangkaran satwa liar, sebagai rujukan riset satwa, serta sebagai pusat rehabilitasi satwa liar.” Pada akhir pemaparannya, Jansen menjelaskan keberhasilan Taman Safari dalam penyelamatan beberapa satwa langka seperti Gajah, Harimau Sumatera, Badak, Komodo, Curik Bali, dan banyak satwa lain yang telah berhasil dikembangbiakkan dan direstock ke habitatnya. Pertanyaan-pertanyaan seputar pelestarian satwa, kesejahteraan satwa serta pemberdayaan ekonomi masyarakat yang ditujukan kepada pembicara menandai antusias peserta kuliah umum. Kuliah Umum ditutup oleh Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc selaku Kapala BKSDA Kalsel, yang menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada pihak TSI maupun Fahutan ULM atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk edukasi konservasi pada generasi muda, transfer ilmu langsung dari ahlinya. Selanjutnya tidak menutup kemungkinan bagi ULM untuk menjalin kerja sama dengan TSI untuk riset atau kegiatan lain yang memungkinkan.” Pungkas Mahrus. (ryn) Sumber : Titik Sundari, S.Hut - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Rekonstruksi Rangka Komodo ‘Jesica’ Dan ‘Mr. X’

Labuan Bajo, 18 April 2022. Populasi biawak komodo di Taman Nasional Komodo mengalami dinamika yang berbeda dari waktu ke waktu. Dinamika populasi ini berada pada rentang stabil yang disebabkan oleh adanya faktor mortalitas (kematian) dan natalitas (kelahiran) alami. Sebagai studi kasus, terdapat dua individu komodo yang telah dipantau secara longitudinal yakni: komodo betina bernama ‘Jesica’ (28 tahun) dan komodo jantan bernama ‘Mr. X’ (perkiraan usia antara 26 – 29 tahun). Nama-nama ini diberikan oleh ranger Balai Taman Nasional Komodo guna memudahkan petugas dalam mengamati karakteristik khas dari masing-masing satwa yang tinggal pada wilayah pengelolaan resort-resort tertentu. ‘Jesica’ dan ‘Mr. X’ ditemukan mati alami di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. ‘Jesica’ ditemukan mati akibat faktor usia lanjut pada tanggal 20 Mei 2020 di Resort Loh Buaya, begitupun juga dengan ‘Mr. X’ yang ditemukan mati akibat faktor usia lanjut di Resort Loh Liang tanggal 8 Mei 2021. Komodo dengan usia lanjut biasanya mengalami kemunduran tingkat kesehatan dikarenakan sulit untuk berkompetisi mencari makan jika dibandingkan dengan komodo remaja/dewasa lainnya. Hal ini membuat komodo usia lanjut mengurus dan mengalami defisiensi nutrisi sehingga semakin memperkecil kemampuannya untuk menyergap satwa mangsa. Ranger Balai Taman Nasional Komodo segera mengevakuasi kedua kadaver komodo ‘Jesica’ dan ‘Mr. X’ dengan menguburkannya dalam keadaan utuh di masing-masing resort yang menjadi tempat tinggalnya. Kadaver dibiarkan terdekomposisi secara alami selama lebih dari satu tahun, namun lokasi kuburnya dibuatkan pagar pembatas dan dipantau secara rutin oleh ranger agar tidak diganggu oleh satwa liar lainnya. Kedua kadaver komodo ini kelak akan digunakan sebagai bahan interpretasi pada Pusat Informasi di Resort Loh Buaya Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Tim ranger Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan rekonstruksi rangka kadaver ‘Jesica’ dan ‘Mr. X’ pada tanggal 11 – 30 Maret 2022 di Resort Loh Liang dan Resort Loh Buaya. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan dukungan tenaga ahli rekonstruksi rangka satwa yaitu: Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc. (Dosen Laboratorium Sistematika Hewan, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada) dan F.X. Sugiyo Pranoto, S.Si. (Teknisi Museum Biologi, Universitas Gadjah Mada). Tim ranger yang mengoordinir kegiatan rekonstruksi rangka komodo antara lain Yunias Jackson Benu (PEH Mahir), Novita Yanti Sidabutar (Polhut Ahli Pertama), dan Ayatullah Buathi (Polhut Ahli Pertama) bekerjasama dengan Petrus Cornelius Paulus Laa (PEH Terampil), Muhammad Iqbal Prayogo (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Liang), Marselinus Helmanto (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Buaya), dan beberapa masyarakat Kampung Komodo dan masyarakat Kampung Rinca. Dalam teknis pelaksanaannya, kegiatan ini turut didampingi oleh tim peneliti dari Yayasan Komodo Survival Program yang dalam jadwal bersamaan sedang melakukan pemasangan camera traps pada beberapa titik lokasi di kedua resort tersebut. Tahapan yang dilaksanakan pada kegiatan rekonstruksi rangka yaitu penggalian, pembersihan rangka, pengurutan letak/posisi rangka, dan penyusunan rangka. Penggalian kadaver satwa (ekskavasi) dilakukan selama 1-2 hari pada masing-masing titik kubur. Proses penggalian dan pembersihan kadaver di Resort Loh Liang lebih mudah dibandingkan dengan pekerjaan di Resort Loh Buaya dikarenakan tekstur tanah pada titik kubur di Resort Loh Liang cenderung berpasir. Selanjutnya, tim melakukan pencucian seluruh bagian rangka menggunakan air sabun guna membersihkannya dari tanah, pasir dan sisa lemak yang menempel pada tulang. Setelah dicuci, rangka tersebut dijemur dibawah panas matahari sembari dilakukan pengurutan letak/posisi rangka untuk memudahkan proses rekonstruksi setelahnya. Proses penjemuran dimaksudkan untuk mengeringkan rangka dari sisa air dan sabun untuk meminimalisir munculnya jamur pada rangka. Tahapan penyusunan rangka ‘Jesica’ dan ‘Mr. X’ dimulai dari merekonstruksi tulang rahang bawah, tulang tengkorak, tulang belakang, tulang rusuk, dan ruas tulang belakang. Setelah menyatukan tulang belakang dan tulang rusuk, dilanjutkan dengan penyusunan bagian tungkai depan dan tungkai belakang. Pada saat tim menyusun rangka tulang belakang tepatnya pada bagian ekor komodo ‘Mr. X’, diketahui bahwa 6 – 7 ruas tulang belakang hilang. Hal ini besar kemungkinan disebabkan oleh adanya gangguan satwa liar lain yang menggali titik kubur komodo ‘Mr. X’. Sebagai bentuk aksi pamungkas dalam kegiatan rekonstruksi rangka ini, Tim Balai Taman Nasional Komodo melakukan pemeriksaan tulang pada bagian tengkorak dan pelvis menggunakan alat Computarized Tomography (CT Scan) di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo yang bertujuan untuk melihat kemungkinan posisi kelenjar bisa (venom) pada area rahang dan mengamati perbedaan struktur tulang antara komodo jantan dan betina. Hasil pemeriksaan CT Scan diserahkan oleh dr. Rai (Pengawas Lab Radiologi Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo) untuk kemudian dianalisa lebih lanjut oleh tim Balai Taman Nasional Komodo dan para tenaga ahli. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar kegiatan rekonstruksi rangka komodo ini dapat memberikan pengalaman dan informasi baru bagi para ranger Balai Taman Nasional Komodo serta turut memberikan kontribusi positif bagi ilmu pengetahuan dan pendidikan di dunia, khususnya terkait anatomi satwa biawak komodo. Kegiatan rekonstruksi rangka komodo pertama kali dilakukan pada tahun 2000 oleh tim Balai Taman Nasional Komodo bersama dengan Universitas Gadjah Mada. Komodo jantan tersebut dulu ditemukan mati karena usia lanjut di wilayah kerja Resort Loh Sebita pada Bulan September 1998. Rangka komodo tersebut masih terpasang kuat sebagai obyek interpretasi pada lobi kantor Balai Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Ahli Pertama - Novita Yanti Sidabutar, S.Hut. (+6281210396563) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Balai TN Komodo Mengikuti Pelatihan Strategic Visitor Flow

Labuan Bajo, 19 April 2022. Balai Taman Nasional Komodo berpartisipasi dalam pelatihan Strategic Visitor Flow (SVF) yang diselenggarakan oleh Politeknik Elbajo Commodus bekerjasama dengan SUSTOUR Project Swisscontact Indonesia – Denpasar pada tanggal 18 – 19 April 2022 di Labuan Bajo. SVF merupakan sebuah landasan pemikiran yang diperoleh berdasarkan analisa pasar yang dapat digunakan dalam proses perencanaan, dapat menghubungkan antara jejaring arus persediaan dan permintaan pasar, serta mampu menjelaskan fenomena sosial yang dapat mempengaruhi dan menentukan pola perilaku wisatawan. Berdasarkan Baggio dan Scaglione (2017), SVF merupakan sebuah instumen penelitian yang digunakan untuk menganalisa, mengelola, dan memasarkan sebuah destinasi. SVF digunakan untuk memahami travel principles dari sudut pandang permintaan pasar, melihat pergerakan wisatawan secara visual dan mengetahui dampak yang dihasilkan dari sebuah arus kunjungan wisata sehingga memudahkan pengelola untuk menentukan prioritas intervensi oleh setiap pemangku kepentingan. Pelatihan SVF terdiri dari empat modul yaitu: (1) Keberlanjutan dalam pariwisata, (2) Visitor Flow: teori dan praktik, (3) Visitor Flow: peta dan tabel, dan (4) Analisa Dampak: impact wheel. Keempat modul dibawakan secara bergantian oleh dosen prodi ekowisata Politeknik Elbajo Commodus dan program officer SUSTOUR Project Swisscontact Indonesia – Denpasar. Sebagai pengantar materi menuju pembahasan SVF, narasumber memulai brainstorming mengenai pentingnya sebuah negara memiliki Sustainable Tourism Observatory (STO). STO merupakan sebuah kerangka pikiran (framework) dimana menunjuk pihak ketiga sebagai pengamat aktivitas pariwisata yang turut berperan dalam mendukung upaya-upaya monitoring dan pelaporan pengelolaan pariwisata pada suatu daerah. Kerangka pikiran ini dibuat oleh UNWTO dan diadopsi oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Perencanaan pengembangan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) semestinya memiliki STO untuk meningkatkan kualitas pemantauan dan pelaporan, namun saat ini belum terbentuk. Indonesia saat ini memiliki lima STO yang telah disahkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Pelatihan SVF ini menggunakan pengelolaan destinasi model St. Gallen yang berupaya memvisualisasikan pergerakan wisata berbasiskan data spasial. Jika sebuah destinasi telah mempelajari arus kunjungan wisatawan, maka setidaknya terdapat lima pertanyaan yang dapat diketahui, yaitu (a) siapa yang mengunjungi destinasi? (b) apa yang memotivasi wisatawan untuk berkunjung? (c) apa yang dilakukan oleh wisatawan? (d) apa yang harus dilakukan agar wisatawan mendapatkan pelayanan yang lebih baik? dan (e) bagaimana mempengaruhi wisatawan untuk berkunjung dengan lebih baik?. Arus kunjungan wisatawan ke sebuah destinasi dipengaruhi oleh motivasi baik dari faktor dalam (push factor) dari psikologi manusia maupun dari faktor eksternal (pull factor) yang dimiliki oleh sebuah destinasi. Putera (2019) menyatakan bahwa arus kunjungan wisatawan oleh karena motivasi ‘social recognition’ dirasakan paling banyak oleh wisatawan dari Asia, khususnya Indonesia, sedangkan motivasi learning and excitement dirasakan paling banyak oleh wisatawan dari Eropa, Australia, dan Amerika Utara. Pengelola destinasi yang memahami akan fenomena sosial ini akan lebih mudah merancang kebijakan pariwisata yang akurat dan tepat sasaran. Narasumber meminta para peserta untuk menentukan SVF pada destinasi-destinasi unggulan di Kabupaten Manggarai Barat berdasarkan arus kunjungan/motivasi wisatawan yang berbeda. Setiap destinasi dapat memiliki lebih dari satu SVF karena pull factor yang ditawarkan oleh setiap destinasi pun berbeda. Wakil dari Balai Taman Nasional Komodo berhasil mengidentifikasi setidaknya 5 SVF di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Lima SVF tersebut antara lain: (1) Social Recognition Seekers, (2) Adventure Tourists, (3) Sunset Seekers, (4) Rural Tourism Enthusiasts A, dan (5) Rural Tourism Enthusiasts B. Sebagai contoh, untuk SVF Social Recognition Seekers, wisatawan memiliki motivasi tertinggi untuk pengakuan sosial dimana kepuasaan maksimal akan diperoleh jika wisatawan dapat berfoto klasik bersama dengan obyek pada daya tarik utama ataupun melakukan swafoto aerial berlatarkan panorama ekosistem di dalam kawasan. Dokumentasi tersebut diunggah dalam media sosial dan kepuasaan seketika terpenuhi (Putera, 2019). Rute perjalanan SVF ini memerlukan waktu kunjungan selama dua hari satu malam (2H1M) yang meliputi destinasi: Pulau Kelor, Pulau Kalong Rinca, obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) Padar Selatan, Long Beach Padar, ODTWA Loh Liang, dan Pink Beach Komodo. Mayoritas wisatawan yang besar kemungkinan melakukan SVF ini adalah wisatawan domestik (Indonesia). Peserta juga diajarkan untuk dapat mengidentifikasi dampak kunjungan wisata terhadap keutuhan ekosistem di dalam Taman Nasional Komodo. Identifikasi dampak dilakukan menggunakan instrumen impact wheel dengan 18 indikator merujuk pada tiga dimensi pariwisata (People, Profit, Planet). Peserta diajarkan bagaimana untuk menentukan tingkat keparahan yang ditimbulkan pada masing-masing indikator dengan membubuhkan keterangan pada nilai scoring yang telah ditentukan (1: kurang bagus, 2: sedang, dan 3: sangat bagus). Peserta juga dapat menentukan apakah aktivitas SVF yang dilakukan menimbulkan dampak negatif atau positif pada setiap indikator yang dinilai. Pada akhir sesi, peserta diminta untuk mempresentasikan SVF yang telah dibuat dan menjelaskan impact wheel-nya dihadapan seluruh narasumber dan peserta dari kelompok lain. Implementasi SVF bagi pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo sangatlah penting. Jika ranger Balai Taman Nasional Komodo mampu mengidentifikasi SVF dan berhasil menentukan impact wheel dari aktivitas SVF yang dilakukan dalam kawasan, maka kemungkinan munculnya dampak negatif dapat dimitigasi dan dampak positif dapat dipertajam. Dengan adanya kajian ini, implementasi kebijakan ekowisata kaitannya dengan infrastruktur dan penerapan aturan lainnya tidak ditentukan secara subyektif, namun dikaji baik secara ilmiah. Penelitian analisa motivasi wisatawan sangat diperlukan dalam pengelolaan taman nasional di Indonesia. Seusai pelatihan, wakil Balai Taman Nasional Komodo yang mengikuti kegiatan ini akan melakukan pelatihan ulang SVF kepada para ranger di kantor Balai Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Dukung Pemberdayaan Masyarakat SM Bukit Rimbang Bukit Baling Dengan Kerja Sama

Pekanbaru, 19 April 2022 - Untuk optimalisasi kinerja di bidang konservasi, Balai Besar KSDA Riau berprinsip #konservasitakmungkinsendiri. Selalu membuka diri dan berkoordinasi dengan berbagai pihak merupakan upaya yang selalu dilakukan. Seperti pada Selasa (12/4) di ruang rapat Harimau kantor Balai Besar KSDA Riau dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kepala Balai Besar KSDA Riau dan Ketua Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Konservasi Alam (YAPEKA) tentang penguatan fungsi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara berkelanjutan melalui dukungan pemberdayaan masyarakat di Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling. Penandatanganan dilakukan oleh plt. Kepala Balai Besar KSDA Riau, ibu Fifin Arfiana Jogasara dan Ketua-CEO YAPEKA, bapak Akbar Ario Digdo. Kerja sama ini untuk mendukung pemerintah dalam pelestarian SM Bukit Rimbang Bukit Baling melalui pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan Bukit Rimbang Bukit Baling berupa dukungan kegiatan penguatan kelembagaan dan dukungan kegiatan perlindungan dan pengamanan serta keanekaragaman hayati yang akan dilakukan selama 5 tahun ke depan atau sampai dengan tahun 2026. Dengan ditandatanganinya perjanjian kerjasama ini akan menguatkan fungsi kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling melalui pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan sekaligus bersama sama berupaya meningkatkan perekonomian dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga hutan konservasi yang tersisa. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Komitmen Penanganan Konflik Manusia dan Satwa Liar Dengan Kerja Sama

Pekanbaru, 19 April 2022 - Kembali terukir dukungan untuk pelestarian satwa liar dari pemerintah daerah untuk Balai Besar KSDA Riau. Pada Kamis, 14 Maret 2022, Tim Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kab. Indragiri Hilir hadir di kantor Balai Besar KSDA Riau untuk melakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara Balai Besar KSDA Riau dengan DPKP Kab. Indragiri Hilir. Tim diterima oleh Plt. Kepala Balai Besar KSDA Riau, ibu Fifin Arfiana Jogasara dan pejabat Struktural lingkup Balai Besar KSDA Riau. Dilanjutkan dengan penandatanganan kesepakatan bersama oleh plt Kepala Balai Besar KSDA Riau dan Kepala Dinas DPKP Kab. Inhil, bapak Eddiwan Shasby. Kesepakatan bersama ini merupakan komitmen kedua pihak untuk bekerja bersama terkait penanganan konflik manusia dan satwa liar di Kabupaten Indragiri Hilir yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan dan penanganan paska konflik manusia dengan satwa liar. Dengan adanya kesepakatan bersama ini akan terwujud optimalisasi kinerja di bidang konservasi dan meningkatnya kelestarian serta penyelamatan satwa liar. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Pantau Pergerakan Satwa Liar, Tim Flying Squad TN Tesso Nilo Kerahkan 9 Mahout dan 5 Gajah Jinak

Lubuk Kembang Bunga, 19 April 2022 – Akhir pekan kemarin, 9 Mahout Flying Squad bersama 5 ekor gajah jinak TN Tesso Nilo melangsungkan patroli pencegahan konflik satwa di areal Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (16/04). Gajah jinak yang ikut serta dalam kegiatan patroli tersebut diantaranya adalah Gajah Rahman, Lisa, Ryu, Imbo dan Rimbani. Team Flying squad TN Tesso Nilo rutin lakukan patroli satwa dan kawasan hutan untuk memantau pergerakan satwa liar yang keluar dari kawasan hutan TN Tesso Nilo ke areal pemukiman masyarakat. Pada patroli satwa kali ini adapun temuan team flying squad TN Tesso Nilo di dalam kawasan hutan adalah jejak gajah liar yang keluar dari kawasan hutan diperkirakan 1 ekor mengarah ke pemukiman masyarakat. Namun saat tim menelusuri lebih jauh, tim tidak menemukan keberadaan gajah liar. Tim Flying squad TN Tesso Nilo mengungkapkan untuk kedepannya patroli satwa akan lebih dirutinkan lagi untuk meminimalisir dan mencegah konflik satwa. Sumber : Balai TN Tesso Nilo
Baca Artikel

Aksi Kolaboratif TN Tesso Nilo dan Polres Pelalawan Tindak Kepemilikan Lahan Dalam Kawasan

Air Hitam Bagan Limau, 19 April 2022 – Bergerak bersama, Balai Taman Nasional Tesso Nilo dan Polres Pelalawan turun ke kawasan Resort Air Hitam Bagan Limau Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga (12/04). Aksi kolaboratif tim gabungan ini bertujuan untuk melakukan penindakan hukum terhadap kepemilikan lahan kebun dengan skala besar oleh oknum masyarakat di dalam kawasan TN Tesso Nilo. Melalui pergerakan kecil ini, tim gabungan yang terdiri dari Balai TN Tesso Nilo dan Polres Pelalawan melakukan tindakan hukum. Dimulai dengan mengamankan mandor kebun dan 1 orang pekerja kebun yang berada di dalam kawasan. Dua orang yang diamankan tersebut akan digunakan untuk menguak fakta-fakta hukum yang dibutuhkan. Tim mengungkapkan selanjutnya kasus kepemilikan lahan ini akan dikembangkan lebih dalam untuk segera diselesaikan. Sumber : Balai TN Tesso Nilo
Baca Artikel

Memerangi Illegal Wildlife Trade Dengan Kerja Sama

Medan, 18 April 2022. Sebagai tindak lanjut arahan Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) melalui suratnya No. S.119/KSDAE/KKHSG/KSA2/2/2022 tanggal 25 Februari 2022, perihal Penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UPT KSDAE dengan UPT Badan Karantina Pertanian, maka pada Senin 18 April 2022 telah dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Plt. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan UPT Badan Karantina Pertanian lingkup Sumatera Utara, masing-masing : Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan-Bandara Kuala Namu, dan Kepala Balai Karatina Pertanian Tanjung Balai, bertempat di ruang rapat Balai besar KSDA Sumatera Utara. PKS ini diadakan dalam rangka memerangi illegal wildlife trade khususnya di wilayah Sumatera Utara, sekaligus juga menindaklanjuti Kesepekatan Bersama antara Dirjen KSDAE dan Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian. PKS akan mengatur pengawasan dan pengendalian pemasukan serta pengeluaran tumbuhan dan satwa liar (TSL), sumber daya genetik, produk rekayasa genetik, dan jenis asing invasif di Sumatera Utara. Sehingga dengan adanya PKS diharapkan akan menekan laju illegal wildlife trade keluar masuk Wilayah Sumatera, yang pada akhirnya akan terjaga kelestarian tumbuhan dan satwa liar (TSL) di Sumatera Utara khususnya. Ruang lingkup dari perjanjian kerja sama ini, meliputi : pengembangan mekanisme komunikasi dan koordinasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), penyediaan sarana dan prasarana, penyediaan data dan informasi, serta sinergi pelaksanaan penegakan hukum. Selanjutnya para pihak sepakat memegang kode etik untuk menjaga kerahasiaan segala data, informasi dan keterangan yang diperlukan berdasarkan pelaksanaan perjanjian, kecuali informasi yang sifatnya sudah diketahui umum atau sepatutnya diketahui oleh umum atau dikategorikan sebagai informasi yang terbuka untuk umum berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Perjanjian Kerja Sama ini berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung dari tanggal ditandatanganinya PKS dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan para pihak. Setelah ditandatangani PKS ini harapannya adalah menurunnya aktivitas illegal wildlife trade di Sumatera Utara. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Polhut BBKSDA Sulsel Latih Komunitas Sahabat Alam

Makassar, 15 April 2022 – Polisi Kehutanan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan menjadi narasumber dalam Peningkatan Kapasitas “Pendidikan Literasi dan Kelas Jurnalisme Dasar” yang diinisiasi Komunitas Sahabat Alam Binaan Flora Fauna Internasional Project Karst Maros Pangkep. Komunitas Sahabat Alam Binaan Flora dan Fauna Internasional Project Karst Maros Pangkep melaksanakan “Pendidikan Literasi dan Kelas Jurnalisme Dasar” pada Jumat 15 April 2022. Hadir sebagai pemateri 2 (dua) orang staf Polisi Kehutanan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dengan judul materi “Partisipasi Masyarakat dalam Menjaga Kawasan dan Tindakannya dalam Kegiatan Konservasi dan Restorasi Kehati”. Kegiatan dilaksanakan di Kawasan Arkeologi Leang-Leang Kabupaten Maros dengan jumlah peserta 10 orang dan berasal dari berbagai komunitas pemuda yang tergabung dakan Komunitas Sahabat Alam. Peningkatan kapasitas ini merupakan komitmen Kerjasama antara Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dengan Flora Fauna Internasional Project Karst Maros Pangkep sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Tahunan tahun 2022. Arif Project Manager Karst Maros Pangkep menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia bidang konservasi pada instansi terkait dan masyarakat melalui program/ kegiatan fasilitasi pelatihan, workshop, sosialisasi penyadartahuan terkait perdagangan satwa liar dan pembentukan kelompok patrol partisipatif. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dimana peserta dapat langsung bertanya saat pemateri menyampaikan. Materi diawali dengan “Brainstorming” melalui studi kasus terkait penebangan hutan secara illegal serta konflik satwa liar dan manusia. Peserta dapat memilih satu dari dua kasus yang diberikan dan menyampaikan opini sesuai dengan peran yang dipilih. Dimana peserta dapat berperan sebagai petugas lapangan yakni Polisi Kehutanan, mitra terkait seperti Masyarakat Mitra Polhut, Masyarakat Peduli Api dan LSM ataupun sebagai tokoh masyarakat. Pendapat yang disampaikan peserta sangat beragam dan menggambarkan bahwa konsep konservasi telah dipahami oleh anggota komunitas. Selain brainstorming dan diskusi kegiatan diselingi dengan pertanyaan dari pemateri, peserta yang berhasil menjawab mendapatkan hadiah menarik. Antusiasme peserta tergambar dari pertanyaan yang diajukan dan diskusi yang berjalan dengan menarik. Hasil akhir dari kegiatan peningkatan kapasitas ini adalah tersusunnya draft buku yang merupakan kumpulan reportase yang dilakukan peserta kegiatan sebagai bahan media penyadartahuan tentang nilai penting Kawasan karst. “Besar harapan kami bahwa materi yang disampaikan hari ini dapat meningkatkan keterampilan peserta dalam memproduksi pengetahuan dan mengorganisir agenda penyadartahuan konservasi karst bagi masyarakat”, jelas Azhiman salah satu pemateri. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Patroli Rutin Pengamanan Kawasan di SPTN Wilayah II Baserah

Baserah, 19 April 2022 – Petugas SPTN Wilayah II Baserah kembali melaksanakan kegiatan Patroli Pengamanan di SPTN Wilayah II Baserah. Patroli pengamanan dilakukan berdasarkan informasi terdapat aktifitas illegal di dalam kawasan hutan alam TN Tesso Nilo (14/04). Berbagai tantangan yang ditemukan dihadapi petugas dalam melaksanakan patroli ini diantaranya, kondisi jalan yang terputus. Selain itu hujan yang mengguyur kawasan beberapa hari terakhir membuat kondisi jalan sulit untuk dilalui. Tantangan tersebut tidak menjadi kendala oleh petugas, karena petugas tetap melaksanakan patroli dan melaksanakan sosialisasi dan persuasi kepada masyarakat didalam kawasan. Walaupun saat ini hujan cukup sering mengguyur kawasan, namun petugas tetap pengingatkan kepada masyarakat secara persuasif dengan mendatangi masyarakat untuk menjaga dan melestarikan hutan serta tidak melakukan pembakaran terhadap kawasan hutan. Di sela-sela kegiatan patroli, tim juga melakukan pemasangan plang dan penaburan benih sebanyak 2 Kg di areal bekas kebakaran seluas lebih kurang 3 Ha. Sumber : Balai TN Tesso Nilo
Baca Artikel

BBKSDA Riau Gandeng Mitra Lestarikan Gajah Sumatera

Pekanbaru, 19 April 2022 - Satu lagi upaya optimalisasi kinerja di bidang konservasi dilakukan Balai Besar KSDA Riau dengan menggandeng pihak lain dalam perjanjian kerja sama. Kali ini, Rabu, 13 April 2022, di ruang rapat Harimau Balai Besar KSDA Riau dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara plt. Kepala Balai Besar KSDA Riau, ibu Fifin Arfiana Jogasara dengan Ketua Yayasan Rimba Satwa (RSF), bapak Zulhusni Syukri tentang Penguatan Fungsi Keanekaragaman Hayati Melalui Pelestarian Gajah Sumatera di Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja Dan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil Provinsi Riau. Kerja sama ini untuk mendukung pemerintah dalam upaya pengawetan fauna Gajah Sumatera pada sub populasi Giam Siak Kecil dan sub populasi Balai Raja meliputi dukungan mitigasi konflik dan dukungan pembinaan habitat melalui pengkayaan pakan gajah yang akan dilakukan mulai tahun 2022 sampai dengan tahun 2026. Dengan ditandatanganinya perjanjian kerja sama ini, pelestarian satwa liar dilindungi terutama gajah sumatera dapat dilakukan secara optimal. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Persiapan Rencana Translokasi Gajah Liar “Dodo” dan “Kesang”

Pekanbaru, 19 April 2022 – Balai Taman Nasional Tesso Nilo hadiri rapat rencana translokasi gajah liar Dodo dan Kesang di kantor Balai KSDA Riau (13/04). Rapat ini dihadiri pula oleh Perwakilan dari Direktorat KKHSG. Selain itu, turut hadir pula perwakilan BKSDA Jambi, BKSDA Sumatera Selatan, dan Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo yang mengikuti rapat secara virtual. Dari rapat ini disepakati rencana translokasi dua gajah liar ini akan dilakukan setelah hari raya Idul Fitri yang akan datang. Gajah tersebut akan ditranslokasikan dari Kabupaten Indragiri Hulu ke wilayah kerja BKSDA Sumatera Selatan tepatnya di Padang Sugihan. Sebelumnya juga akan dipasang radio collar pada kedua gajah tersebut. Balai TN Tesso Nilo sendiri nantinya akan dilibatkan dalam evakuasi, dimana mahout dan gajah jinak Flying Squad TN Tesso Nilo akan membantu proses translokasi gajah liar Dodo dan Kesang tersebut. Sumber : Balai TN Tesso Nilo
Baca Artikel

Verifikasi Calon Mitra Konservasi Taman Wisata Alam Danau Towuti

Makassar, 18 April 2022. Verifikasi atau pengecekan kelayakan terhadap kelompok masyarakat yang mengajukan permohonan kerjasama kemitraan konservasi di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Danau Towuti dilakukan oleh Tim Teknis Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan bersama dengan Tim Universitas Andi Djema Palopo secara serempak di empat desa penyangga yakni Desa Timampu, Desa Pekaloa, Desa Tokalimbu dan Desa Loeha pada tanggal 14 April 2022. TWA Danau Towuti terletak di Kabupaten Luwu Timur, di ujung timur laut Provinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Tenggara. Selama ini masyarakat yang tinggal di sekitar danau, telah memanfaatkan kawasan TWA sebagai jalur transportasi penghubung antar desa dan juga sebagai sumber penghidupan sehari-hari yakni dengan mengambil hasil alam berupa ikan Buttini, ikan Pangkilang, ikan Nila serta udang Lame. Ketergantungan masyarakat terhadap Danau Towuti inilah yang mendorong mereka mengajukan permohonan kerjasama dalam pengelolaan kawasan konservasi TWA Danau Towuti secara berkelanjutan. Ketua kelompok calon mitra konservasi Desa Tokalimbo, Hasbi Yunus menjelaskan “setiap hari warga pergi ke danau untuk mengambil ikan. Ada yang menggunakan jaring maupun tombak. Hasil penjualan ikan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ikan Pangkilang diambil siang hari, sedang untuk ikan Nila diambil saat bulan mati sampai 18 hari kemudian”. Proses verifikasi oleh tim teknis menggunakan metode wawancara dengan anggota kelompok. Seperti mengecek apakah yang bersangkutan benar telah memanfaatkan kawasan danau, dalam hal ini mengambil ikan untuk mencukupi kebutuhan sehari hari. Selain itu, juga dilakukan pengecekan administrasi antara lain: kecocokan kriteria calon mitra harus merupakan masyarakat setempat (dibuktikan dengan KTP dan KK), bukan Aparatur Sipil Negara, serta memastikan bahwa lokasi pengambilan ikan berada di blok tradisional. Dari peta penataan blok yang dibawa, masyarakat memastikan bahwa mereka mengambil ikan sesuai dengan peta yang ditunjukkan. Kegiatan verifikasi kemitraan ini dilaksanakan berdasarkan Peraturan Dirjen KSDAE Nomor: P.6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi pada KSA dan KPA. Masyarakat juga diminta untuk membuat pernyataan tidak memperluas lokasi pengambilan ikan dan tidak mengubah fungsi kawasan. Hasil proses verifikasi, semua permohonan kerjasama dari masyarakat calon mitra konservasi dinyatakan layak untuk diproses lanjut ke tahap berikutnya. Kegiatan berakhir setelah berita acara verifikasi ditandatangani oleh masing-masing ketua kelompok, tim verifikasi serta diketahui oleh perangkat desa setempat. Setelah proses verifikasi selesai, tahapan selanjutnya adalah penyusunan naskah perjanjian kerjasama. Namun, sebelum dilakukan penandatanganan perjanjian kerjasama kemitraan konservasi, berkas pengajuan kemitraan konservasi beserta dengan berita acara verifikasi dan naskah perjanjian kerjasama dikirim terlebih dahulu ke Direktorat Teknis untuk mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal KSDAE Kementerian LHK. Setelah mendapat persetujuan, baru kemudian Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dapat melakukan penandatangan naskah perjanjian kerjasama dengan Ketua Kelompok yang mengajukan kemitraan konservasi. Perjanjian kerjasama tersebut akan berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang kembali berdasarkan hasil evaluasi. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Tangani Konflik Gajah Liar di Desa Bukit Mas - Besitang

Bukit Mas, 16 April 2022. Petugas Resort KSDA Aras Napal 242 SKW II Stabat Bidang KSDA Wilayah I Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) menerima laporan warga tentang terjadinya konflik dengan satwa liar, Rabu (13/4), dimana satwa jenis Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrae) memasuki perladangan/ kebun milik masyarakat (sdr. R.Silalahi) di Dusun Pardomuan Nauli, Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. BBKSDA Sumut melalui petugas Resort KSDA Aras Napal 242 segera meresponnya dengan melakukan pengecekan ke lokasi tempat kejadian Setibanya di lokasi, petugas menemukan jejak gajah yang cukup banyak dan sisa-sisa kotoran berserakan. Selain itu terdapat sejumlah tanaman yang tumbang dan tercabut akibat dimakan gajah. Bahkan pondok milik R. Silalahi yang berada di kebun tidak luput dari kerusakan. Pada saat ini sebagian areal perkebunan/perladangan sudah tidak dikelola lagi akibat seringnya dimasuki satwa gajah. Ladang milik R. Silalahi seluas 200 Ha, berbatasan langsung dengan kawasan hutan Taman Nasional (TN) Gunung Leuser. Terdapat sejumlah akses keluar masuk gajah dari hutan TN Gunung Leuser. Hasil ploting koordinat, bahwa lokasi berada di dalam kawasan hutan produksi terbatas (HPT) namun telah dikonversi menjadi perkebunan milik masyarakat dengan jenis tanaman campuran berupa kelapa sawit dan jeruk. Di lokasi yang sama juga pernah terjadi perkelahian sesama gajah yang mengakibatkan salah satu dari gajah tersebut mati. Peristiwa kekerasan ini terjadi pada tanggal 22 Maret 2021 yang lalu. Kemudian petugas melakukan sosialisasi dan edukasi penanganan awal berupa pemasangan jeduman dan suara petasan. Mengingat lokasi berada di dalam kawasan hutan Negara dengan status HPT, petugas menyarankan, upaya mitigasi harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku berupa penghalauan dengan suara ledakan dan menanam jenis tanaman yang tidak disukai gajah, seperti lemon. Yang menjadi catatan penting dan perlu diperhatikan, bahwa selama kawasan HPT yang telah dikonversi menjadi perkebunan dan perladangan tidak dilakukan upaya restorasi, maka konflik dengan satwa liar tidak dapat dihindari dan akan terus berlangsung, mengingat areal tersebut merupakan habitat dan daerah jelajah satwa liar jenis Gajah. Sumber : Seksi Konservasi Wilayah II Stabat-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Memantau Tingkat Kesehatan Karang TN Komodo

Labuan Bajo, 16 April 2022. Tim selam Balai Taman Nasional Komodo memantau tingkat kesehatan karang di dalam kawasan Taman Nasional Komodo bersama Persatuan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM) yang dilaksanakan pada tanggal 4 – 10 Oktober 2021 silam di 10 lokasi acak. Pemantauan tingkat kesehatan karang idealnya diselenggarakan setiap dua tahun sekali untuk bisa melihat adanya perubahan kondisi fisik pada lokasi pengamatan yang ditentukan. Pengambilan data kesehatan terumbu karang dimulai dari pengamatan visual gambaran umum kondisi fisik perairan dan pesisir di sekitar lokasi kegiatan monitoring. Pengamatan visual tersebut meliputi pencatatan deskripsi dan pemotretan kondisi terumbu karang. Pengamatan visual dilakukan dengan memotret terumbu karang menggunakan metode underwater photo transect (UPT) dalam kuadran berukuran 58 x 44 cm yang diletakan apda meter ke-1, ke-2, ke-3, sampai dengan meter ke-50. Kuadran diletakan berselang-seling yakni angka ganjil dan genap berada di atas rol meter. Rol meter atau garis transek dipasang sejajar dengan garis pantai pada lereng terumbu (tubir) pada kedalaman 7-15 meter. Sementara, untuk tutupan bentik dasar tim menggunakan point intercept transect (PIT) untuk mengukur persentase penutupan karang. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata persentase karang hidup tahun 2019 pada 12 lokasi stasiun pengamatan adalah sebesar 30,84%. Sedangkan persentase karang hidup pada tahun 2021 pada 10 lokasi stasiun pengamatan adalah sebesar 30,91%. Terjadi peningkatan sebesar 0,7% pada tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2019. Hal ini menggambarkan bahwa kondisi terumbu karang di perairan Taman Nasional Komodo secara umum masuk kategori cukup sehat/baik. Hal yang perlu diperhatikan adalah tingginya persentase unstable substrat yaitu ruble (pecahan karang) yang mencapai 21,41% dan pasir sebesar 3,72%. Tingginya substrat ruble berpotensi memperlambat proses pemulihan karang apabila terjadi degradasi ataupun kerusakan lainnya pada ekosistem terumbu karang tersebut. Larva karang akan mengalami kesulitan untuk menempel pada media tumbuh mengakibatkan proses pertumbuhan menjadi terhambat. Selain itu, banyaknya ditemukan tutupan ruble mengindikasikan bahwa pernah terjadi kerusakan terumbu karang di masa lampau akibat adanya gangguan fisik, seperti pemboman ataupun akibat pembuangan jangkar kapal tepat atau di sekitar ekosistem terumbu karang. Meskipun demikian, Balai Taman Nasional Komodo berkomitmen dan konsisten melaksanakan upaya pemantauan dan rehabilitasi terumbu karang di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Hal ini tentu memberikan jaminan bahwa ekosistem terumbu karang di dalam wilayah pengelolaan Balai Taman Nasional Komodo dapat terpantau dengan baik. Namun, bukan berarti ekosistem terumbu karang dapat dijaga oleh Balai Taman Nasional Komodo seorang diri, semua pemangku kepentingan baik itu pelaku usaha wisata, wisatawan, dan masyarakat dalam kawasan harus sama-sama menjaga kelestarian dan keutuhan ekosistem tersebut secara berkelanjutan. Jika kolaborasi antar seluruh pemangku kepentingan terus terjalin harmonis, maka tingkat kesehatan terumbu karang akan kian membaik selama tidak terjadi perubahan kualitas lingkungan (suhu dan kekeruhan air) yang signifikan. Balai Taman Nasional Komodo akan melaksanakan pemantauan tingkat kesehatan karang pada tahun 2023 bersama mitra kedepannya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Mahir - Ande Kefi, S.ST. (+6282242707977) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)

Menampilkan 2.001–2.016 dari 2.606 publikasi