Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

HKAN 2020 Akan Menjadi Momentum Reaktivasi Kawasan Konservasi

Pada akhir tahun 2019, ujian terhadap peradaban manusia memasuki babak baru dengan munculnya episentrum wabah virus corona di Wuhan yang dikenal dengan Covid-19. Seiring dengan kemampuan penyebarannya hingga melanda seluruh dunia, World Health Organization (WHO) kemudian menyatakannya sebagai global pandemic pada tanggal 11 Maret 2020. Sejalan dengan penetapan status global ini, seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, terus berupaya menanggulangi wabah Covid-19. Bahkan, pemerintah Indonesia telah mengkonsentrasikan sumber daya negara untuk menahan laju infeksi Covid-19 dan kematian manusia yang diakibatkannya sampai dengan ditemukannya vaksin. Pada akhirnya, kejadian pandemi ini telah membawa peradaban manusia ke dalam sebuah dimensi baru kehidupan yang mengharuskan cara hidup baru yang dikenal dengan istilah adaptasi kebiasaan baru (AKB), agar dapat beradaptasi dan bertahan dalam situasi pandemi yang belum berakhir.Pandemi Covid-19 ini tidak hanya mengakibatkan krisis di bidang kesehatan saja, namun juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, terutama di bidang ekonomi, termasuk sektor pariwisata alam. Upaya reaktivasi kawasan konservasi pada bulan Juli 2020 yang bersamaan dengan skenario masa transisi dan pemulihan yaitu Juli hingga Desember, jumlah pengunjung ke kawasan konservasi (suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam) diprediksi hanya akan mencapai 50% dibandingkan dengan tahun 2019, kecuali pada bulan Juli yang diasumsikan sama dengan Maret 2019 atau lebih landai (Direktorat PJLHK, 2020). Berdasarkan data dan proyeksi Direktorat PJLHK (2020), nilai ekonomi sektor pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam yang hilang akibat pandemi Covid-19 selama tahun 2020 adalah Rp1,5 trilyun hingga Rp1,9 trilyun. Oleh karena itu, reaktivasi kawasan konservasi untuk mendukung kegiatan pariwisata alam mengusung konsep forest for healing yang berakar kuat dari sikap hidup dan budaya living with nature yang tidak mengedepankan jumlah pengunjung (mass tourism), namun justru quality tourism yang mengedepankan inovasi untuk menambah durasi kunjungan dan kemanfaatannya dari aspek kemanusiaannya dan kelestarian alamnya. Seiring dengan optmisme yang sedang dibangun, living with nature merupakan salah satu cara pemulihan yang potensial dilakukan. Kawasan konservasi dengan pariwisata alamnya menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia untuk dapat pulih pasca Covid-19 dalam tatanan baru (new normal). Matthew Silverstone (dalam buku Blinded bu Science pada 2014) menyebutkan bahwa berwisata dengan mengaktifkan interaksi panca indera dengan elemen alam, terbukti mampu meningkatkan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan spiritual, memberikan energi dan ketenangan. Pemulihan mental dan fisik individu dan masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan forest for healing di kawasan konservasi.Dengan demikian, pentingnya memulihkan kehidupan dan peradaban manusia yang harmoni dengan alam dalam rangka menyongsong era baru (new normal) pasca pandemi Covid-19 ini akan menjadi semangat dalam peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2020. Hal ini tentu sejalan dengan HKAN sebagai momentum keteladanan dan aksi nyata memasyarakatkan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia. Semangat HKAN ini diawali 30 tahun yang lalu dengan lahirnya UNdang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dengan mengusung tema "Nagara Rimba Nusa: Merawat peradaban Menjaga Alam", maka penyelenggaraan HKAN tahun 2020 di Taman Nasional Kutai, Provinsi Kalimantan Timur ini diharapkan dapat menjadi titik awal kebangkitan bangsa Indonesia yang harmoni dengan alam pasca pandemi global Covid-19. Hal ini juga untuk mendukung Provinsi Kalimantan Timur sebagai calon Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru pada lahan seluas +256.142 ha (berada di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara) yang mengusung tema Nagara Rimba Nusa yang diterjemahkan dalam konsep forest city dalam konteks living with nature dalam rancangan pembangunannya. Pandemi COVID-19 saat ini tidak hanya mengakibatkan krisis di bidang kesehatan saja, namun juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, terutama di bidang ekonomi, termasuk sektor pariwisata alam. Berdasarkan data dan proyeksi Direktorat PJLHK (2020), nilai ekonomi sektor pariwisata alam di suaka margasatwa (SM), taman nasional (TN) dan taman wisata alam (TWA) yang hilang akibat kejadian pandemi COVID-19 selama tahun 2020 adalah Rp. 1,5 trilyun hingga Rp. 1,9 trilyun. Saat ini, setelah sebelumnya sejak 16 Maret 2020 seluruh kawasan konservasi ditutup akibat pandemi COVID-19, secara bertahap sebanyak 72 TN/TWA/SM telah reaktivasi untuk kunjungan wisata alam dengan menerapkan tata kelola kunjungan wisata alam yang lebih baik lagi, penerapan kuota kunjungan, protokol kunjungan wisata alam dan protokol kesehatan serta berpihak kepada masyarakat sekitar untuk menggerakkan roda perekonomian sekitar kawasan konservasi. Untuk menghindari terjadinya euforia berlebihan yang dapat membahayakan obyek dan daya tarik wisata alam akibat aktivitas pariwisata alam yang tidak terkendali (mass tourism), maka reaktivasi kawasan konservasi (SM, TN dan TWA) yang sedang dilakukan untuk mendukung kegiatan pariwisata alam adalah wisata konservasi yang mengusung konsep forest for healing yang berakar kuat dari sikap hidup dan budaya living with nature. Konsep tersebut tidak mengedepankan jumlah kunjungan (mass tourism) namun justru quality tourism yang mengedepankan inovasi untuk menambah durasi kunjungan dan kemanfaatannya dari aspek kemanusiaannya dan kelestarian alamnya. Dengan demikian, HKAN tahun 2020 menjadi momentum reaktivasi kawasan konservasi sebagai destinasi wisata alam dan Taman Nasional Kutai akan menjadi representasi bagaimana Forest for Healing dapat dilakukan dalam kerangka kebangkitan Indonesia pasca Covid-19 untuk mendukung persiapan Provinsi Kalimantan Timur sebagai IKN yang baru. Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020! Sumber: Direktorat PJLHK
Baca Artikel

Edelweis Kelimutu

Kamis, 10 September 2020 - Mungkin tidak banyak sobat yang menyadari kalau di wilayah pegunungan TN Kelimutu juga tumbuh bunga Edelweis. Edelweis yang tumbuh di Kelimutu adalah jenis Anaphalis longifolia yang merupakan perdu kecil dengan tinggi berkisar 70 cm, tumbuh di daerah terbuka seputaran kawasan pegunungan di Jawa sampai Nusa Tenggara. Bunga cantik ini biasa dilambangkan sebagai simbol cinta abadi (deep love and devotion). Tumbuhan yang dilindungi ini saat ini sedang dikembangkan sebagai plasma nutfah dan dibudidayakan di desa penyangga oleh Balai TN Kelimutu. Pengembangan Edelweis di Kelimutu mulai dilakukan sejak tahun 2018 dengan melakukan studi banding ke TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dilanjutkan dengan pelatihan budidaya Eldeweis di Ende oleh petugas TNBTS kepada petugas Balai TN Kelimutu. Setelah itu dilakukan ujicoba dan terus berkembang hingga sekarang telah membuat beberapa produk dan telah dialih ajarkan kepada masyarakat sekitar TN Kelimutu. Pada tahun 2020 ini Balai TN Kelimutu melakukan pembibitan dan pembangunan kebun demplot Edelweis seluas 0,22 Ha bersama kelompok masyarakat Tuke Du, Desa Pemo yang merupakan salah satu desa binaan terkait pengembangan souvenir dan kuliner di areal wisata TN Kelimutu. Lokasi kebun Eldeweis berada di lintasan jalan wisata ke Danau Kelimutu dari gerbang loket Kelimutu. Saat ini kebun Edelweis telah mulai ditata sebagai alternatif objek wisata di TN Kelimutu, berfoto ria disini dengan latar Gunung Kelibara akan memberikan kesan taman surga pegunungan untukmu. Saat ini TN Kelimutu terus mengembangkan produk Edelweis hasil budidaya ini menjadi produk-produk souvenir untuk peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Beberapa produk yang mulai dibuat berupa buket, gantungan kunci, bingkai, dll. Diharapkan produk-produk Edelweis ini terus berkembang termasuk juga kegiatan budidayanya sehingga memberikan kelestarian manfaat bagi masyarakat dan ekosistem serta meningkatkan daya tarik wisata di TN Kelimutu. Sumber: Balai TN Kalimutu
Baca Artikel

Pejuang Konservasi : Berawal dari Sampah Plastik, kini Menjadi Kebun Mangrove Seluas 2 Hektar

Wakatobi, 9 September 2020. Jiwa konservasi memang bisa datang dari siapa saja, tak memilih siapa dan dimana. Ialah Justan, pejuang konservasi dari batas laut pulau Kaledupa, Taman Nasional Wakatobi yang tak bisa diabaikan perjuangannya. Hanya berbekal kantong plastik bekas yang ia cari di sekitar perumahan kini telah membuahkan hasil menjadi ladang mangrove seluas 2 hektar. Lahir dan dibesarkan dari Suku Bajo (Bajau) yang bermukim di atas laut, serta memiliki watak yang keras, tak membuat jiwa konservasi itu memudar. Kerusakan mangrove yang semakin lama semakin banyak dirasakan akibatnya oleh masyarakat sekitar, nelayan kepiting tak lagi mendapatkan hasil seperti sebelumnya, tangkapan ikan mulai berkurang, dan yang paling terasa pasokan air tawar dalam sumur resapan tak lagi mampu mencukupi kebutuhan masyarakat desa. Atas dasar keprihatinan tersebut ia mulai bergerak mencoba menggali kembali fungsi tanaman mangrove itu sendiri. Selalu ada jalan buat mereka yang mau berjuang, mungkin begitulah kata yang tepat untuk usaha-usaha justan dalam melindungi lahan mangrove di Desa Horuo Kecamatan Kaledupa. Bukan perkara mudah tentunya mengubah pola pikir masyarakat yang berpendapat bahwa mangrove "hanya sebagai tanaman biasa tanpa mengenali manfaatnya". Memulai perjalanan upaya pelestarian ekosistem mangrove sendiri, tak membuat semangatnya luntur. Ia mulai mengumpulkan buah mangrove yang jatuh di sekitar pesisir desa Horuo saat air surut, kemudian ditanam di dalam plastik bekas dan disimpan di bawah rumah panggung miliknya. Mudah? Tentu tidak, mungkin bagi mereka yang hidup di darat budidaya bukan perkara sulit. Tapi bagi mereka yang bermukin di atas laut butuh usaha extra untuk membuat pembibitan walau hanya 1 batang mangrove. Pembibitan ini dilakukan berbulan-bulan, berbagai sindiran ia peroleh karena sibuk mengurusi pembibitan mangrove yang dianggap tidak menghasilkan apa-apa, tapi ia tak patah semangat dan mulai menanam disepanjang pesisir Desa Horuo. Mengajak orang lain untuk melakukan aksi yang serupa tentu tak semudah melakukannya sendiri, berbagai upaya untuk memberikan sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat ia coba lakukan, mulai dari mengajak orang-orang terdekat seperti Baharudin dan Alim untuk ikut serta menjaga ekosistem akhirnya membuahkan hasil. Bersama-sama, mereka mulai mengumpulkan gelas plastik bekas minuman yang kemudian disulap menjadi polybag yang ditanami dengan bibit mangrove. Bersama beberapa masyarakat dari Desa Horuo dan Mantigola yang didampingi oleh Balai Taman Nasional Wakatobi dibentuklah suatu forum, yang diberi nama Forum Kemitraan nelayan Horuo Mantigola. Melalui forum inilah justan dan anggota kelompok lainnya aktif menyuarakan gerakan pelarangan penebangan mangrove kepada masyarakat desa, dan aktif melakukan penanaman mangrove walau tanpa dukungan biaya dari pihak manapun. Melihat aksi nyata dari masyarakat Desa Horuo dan Desa Mantigola dalam menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove Balai Taman Nasional Wakatobi mencoba membuat perjanjian kerjasama dengan Forum Kemitraan Nelayan Horuo Mantigola untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat sebagai upaya dalam melestarikan lingkungan. Dengan adanya perjanjian kerjasama ini, Balai Taman Nasional Wakatobi memberikan berbagai dukungan kepada forum kemitraan nelayan horuo mantigola berupa bantuan pengadaan polybag. Selain dari segi ekologi, balai taman nasional wakatobi juga memberikan bantuan modal untuk peningkatan usaha ekonomi produktif berupa pembangunan keramba budidaya ikan bobara dan keramba lobster mutiara. Kini, usaha justan dan forum kemitraan nelayan horuo mantigola telah membuahkan hasil lebih kurang sekitar 2 hektar lahan di pesisir desa Horuo, zona pemanfaatan lokal taman nasional wakatobi sptn 2 kaledupa telah ditanami mangrove yang dirawat dan dijaga bersama-sama. Namun, perjuangan tak berakhir sampai disini usaha pembibitan terus berjalan hingga saat ini puluhan ribu bibit mangrove siap tanam disiapkan dan bisa didistribukan kepada lembaga maupun masyarakat yang dibutuhkan. Usaha tak pernah menghianati hasil bukan? Semoga perjuangan Forum Kemitraan Nelayan Horuo Mantigola dapat memberikan berbagai manfaat baik secara ekologi maupun ekonomi, dan dapat menjadi percontohan bagi masyarakat lainnya. Sumber : Prima Sagita, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Artikel

Jumpa Pertama Masyarakat Suku Kanume

Tahun 2010 adalah fase dimana kehidupan saya sepenuhnya berubah 1800, hal itu terjadi dikarenakan saya lulus ujian pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada Departemen Kehutanan. Jabatan saya adalah Calon Penyuluh Kehutanan Ahli dengan penempatan di Unit Pelaksana Teknis Balai Taman Nasional (TN) Wasur. Sesuai instruksi dalam Surat Perintah Tugas, maka saya meninggalkan Kota Yogyakarta menuju Kota Rusa julukan bagi Kota Merauke, sebuah kota kecil di ujung timur paling bawah pada peta Kepulauan Papua. Hari demi hari saya lalui bersama-sama dengan rekan-rekan CPNS angkatan tahun 2009 dengan selalu rajin berkantor di Kantor Balai TN Wasur. Sekitar dua hingga tiga bulan bekerja di Kantor Balai TN Wasur, kemudian turun surat perintah dari Kepala Balai TN Wasur untuk mendistribusikan saya dan beberapa rekan CPNS angkatan 2009 ke Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah lingkup Balai TN Wasur. Kawasan TN Wasur dibagi menjadi tiga pengelolaan wilayah yaitu SPTN Wilayah 1 Agrindo dengan luas wilayah kelola 86.269,948 Ha, SPTN Wilayah 2 Ndalir dengan luas wilayah kelola 139.190,352 Ha, dan SPTN Wilayah 3 Wasur dengan luas wilayah kelola 205.964,82 Ha. Penugasan ke level wilayah merupakan tugas yang sangat menantang bagi saya dan rekan-rekan saat itu, karena saya dan rekan-rekan yang biasa bekerja dan berkumpul bersama di Kantor Balai TN Wasur harus mulai menentukan arah karir dengan mengikuti perintah dan arahan dari masing-masing Kepala SPTN. Ketiga wilayah pengelolaan SPTN tersebut memiliki karakteristik masyarakat yang berbeda, baik dari segi kesukuan, perilaku, sifat, dan taraf pendidikan masyarakatnya. Saya mendapat penempatan tugas dari Kepala Balai TN Wasur saat itu untuk bergabung dalam tim SPTN Wilayah 3 Wasur. Tugas pertama saya saat itu adalah melakukan inventarisasi sosial ekonomi dan budaya masyarakat di Kampung Yanggandur. Kampung Yanggandur didominasi oleh masyarakat Suku Kanume, dimana Suku Kanume merupakan pemilik ulayat terluas di dalam kawasan TN Wasur dengan pengakuan kepemilikan ulayat seluas 305.710,676 Ha. Potensi yang dimiliki oleh Kampung Yanggandur adalah buah kemiri, buah merah, minyak kayu putih, dan lain sebagainya. Saya bersama kedua rekan saya yang merupakan Calon Polisi Kehutanan menginap selama lima hari di rumah Kepala Kampung Yanggandur. Pagi hari hingga sore hari kami bertiga melakukan anjangsana door to door (dari rumah ke rumah) warga Kampung Yanggandur untuk melakukan survei potensi sosial ekonomi masyarakat dengan panduan tallysheet yang sudah saya rancang sendiri. Kami melakukan survei di hampir semua rumah warga, namun tak semua warga bisa kami jumpai saat itu karena warga Kampung Yanggandur sudah beranjak pergi masuk ke hutan sejak pagi untuk mencari satwa buruan sebagai bahan makanan keluarga mereka. Kami juga mendapati salah seorang warga yang sedang mabuk ketika kami mengunjungi rumahnya untuk melakukan survei dan dengan suara keras warga tersebut berbicara tidak tentu arah sehingga kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan dengannya. Saya juga bertemu dengan seorang bapak tua yang dijuluki Ondo Afi, Ondo Afi semacam julukan bagi seseorang yang dituakan dan dianggap mampu menyembuhkan berbagai penyakit secara adat/tradisional Suku Kanume. Ondo Afi saat itu yang saya jumpai adalah Bapak Kasimirus Sanggra. Saya juga bertemu dengan seorang Polisi Adat yang bernama Bapak Yulius Gelambu. Polisi Adat merupakan penegak hukum adat di Kampung Yanggandur, apabila ada warga Kampung Yanggandur yang melanggar hukum adat maka Polisi Adat akan membawa warga tersebut untuk disidang secara adat agar mendapatkan vonis hukuman secara adat. Saya juga bertemu dengan Bapak Pascalis Kaize yang merupakan salah seorang pemilik dusun di wilayah Kampung Yanggandur. Pada suatu saat nanti, Bapak Pascalis Kaize akan menjadi local guide yang mendampingi 12 turis asing dari Negara Rusia yang datang mengunjungi TN Wasur. Ondo Afi, Kepala Kampung Yanggandur (Yeremias Ndimar), dan Pascalis Kaize Secara umum saya menilai masyarakat Suku Kanume yang berdomisili di Kampung Yanggandur memiliki sifat keramahan dan mudah untuk diajak berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Kampung Yanggandur pada akhirnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem sebagai Desa Binaan Balai TN Wasur pada tahun 2016. Dengan produk unggulan utama yaitu minyak kayu putih yang pada saat itu ada sekitar tiga warga pendatang yang menetap di Kampung Yanggandur yang kemudian mereka bertiga menjadi penggerak warga masyarakat Kampung Yanggandur dalam menggerakan roda usaha penyulingan minyak kayu putih. Sebagian besar para pencari dan pemungut daun kayu putih adalah para kaum ibu-ibu Suku Kanume yang secara berkelompok melakukan perjalanan masuk ke dalam dusun (area vegetasi) yang ditumbuhi jenis pohon Asteromyrthus symphiocarpa yang dipungut daunnya untuk disuling agar menghasilkan minyak kayu putih. Kaum bapak-bapak Suku Kanume biasanya lebih gemar untuk berburu satwa liar seperti babi hutan, kasuari, wallaby, dan rusa. Kaum bapak-bapak biasanya diikuti dan dibantu oleh sekawanan anjing pemburu peliharaan mereka yang sangat setia kepada tuannya. Perburuan tradisional yang dilakukan oleh kaum bapak-bapak Suku Kanume dengan menggunakan busur, panah, tombak, dan terkadang juga menggunakan parang panjang dengan label Tramontina. Ateng seorang pendatang yg menjadi penyuling MKP Selama tiga hari bersama Kepala Kampung Yanggandur dan juga berinteraksi dengan warga masyarakat Suku Kanume, membuat saya saat itu yakin bahwa saya pasti bisa melakukan kegiatan penyuluhan kehutanan dengan warga masyarakat Kampung Yanggandur dan bahkan warga masyarakat di kampung-kampung yang lain. Saya juga sempat mempelajari bahasa lokal / bahasa Suku Kanume yang merupakan bahasa sehari-hari yang biasa digunakan oleh mereka. “Nameye yekinem” yang berarti selamat pagi, “Nameye koncopor” yang berarti selamat siang, “Nameye baror” yang berarti selamat sore, “Nameye mi” yang berarti selamat malam, dan masih banyak lagi kosa kata yang telah dipelajari dan dicatat oleh saya. Dan semenjak pertemuan pertama dengan masyarakat Suku Kanume yang berdomisili di Kampung Yanggandur tersebut merupakan permulaan yang baik bagi kisah perjalanan karir saya sebagai Penyuluh Kehutanan sampai sekarang. (EH). Sumber : Eka Heryadi, S.Hut./Penyuluh Kehutanan Muda Balai TN Wasur
Baca Artikel

Budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun) Masyarakat Yende

Menginjakkan kaki pertama kali di daerah yang belum pernah didatangi sebelumnya sudah pasti akan banyak pertanyaan yang timbul, rasa penasaran bahkan tak jarang muncul perasaan was-was terhadap daerah tersebut. Seperti halnya saya sebagai CPNS yang akan ditempatkan di wilayah kerja Papua Barat tepatnya di Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) dengan SK Penempatan di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah IV Roon. Setiap daerah atau wilayah tertentu tidak lepas dari adanya masyarakat yang mendiaminya. Pulau Roon, sebuah pulau kecil yang berada di Timur Indonesia tepatnya di Distrik Roon Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Pulau yang merupakan bagian dari wilayah kerja BBTNTC ini yakni SPTN Wilayah IV Roon menyimpan berbagai sumber daya alam yang sangat penting sehingga harus dijaga kelestariannya. Perjalanan menuju ke pulau ini hanya bisa ditempuh menggunakan transportasi laut yang biasa disebut kapal cepat dengan lama perjalanan 6 jam. Ketibaan pertama kali di pulau ini memberikan kesan yang sangat memuaskan. Laut jernih dengan langit biru bagai atap dan lantai yang tak terpisahkan. Belum lagi hijau pepohonan mempercantik pemandangan. Inilah Pulau Roon, keindahannya bagai surga di Barat Papua. Distrik Roon terdiri dari beberapa kampung dan pulau-pulau kecil tak berpenghuni. Kampung-Kampung tersebut terletak di Pulau Roon dan salah satunya terdapat Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih yaitu di Kampung Yende. Sebelumnya, tidak pernah terlintas di pikiran saya tentang keadaan dan perilaku masyarakat di kampung ini. Bahkan sempat terlintas apakah masyarakat di sana akan menerima saya dengan baik? Bagaimana adat istiadat di sana? Sesampainya di Kampung Yende, sayapun mencoba beradaptasi dengan masyarakat Kampung Yende. Hal tidak terduga pada saat memasuki kampung ini adalah semua orang yang dijumpai menyapa dengan ramah, senyum, sopan dan santun. Sikap ini selalu saya jumpai setiap kali bertemu dengan orang-orang di kampung tersebut. Saya tidak memiliki kesulitan untuk berinteraksi dengan mereka bahkan saya diijinkan dari rumah ke rumah untuk bertamu dan berbagi cerita dengan bapak-bapak, mama-mama (sapaan akrab untuk ibu-ibu) dan anak-anak sekolah. Tugas pertama yang harus saya kerjakan adalah melakukan sosialisasi mengenai satwa yang dilindungi di TNTC. Tentunya saya harus membangun komunikasi yang baik dengan organisasi yang ada di Kampung Yende agar kegiatan yang saya rencanakan berjalan dengan lancar. Sosilisasi yang pertama ini dilakukan kepada Kelompok Mama-Mama Kampung Yende. Bahagia rasanya dapat berinteraksi langsung dan berbagi cerita bersama mama-mama yang sudah tentu lebih banyak tau tentang keberadaan satwa seperti penyu, kima dan duyung yang hampir punah. Sesuatu yang unik saya jumpai adalah pada setiap kegiatan, ada yang wajib disajikan yaitu pinang. Saya sendiri akhirnya sempat mencoba makan pinang karena belajar dari kebiasaan masyarakat di kampung ini. Masalah yang saya temukan namun tidak begitu berpengaruh yaitu sebagian besar dari masyarakat mengalami kesulitan membaca sehingga pada saat saya membagikan materi dalam bentuk leaflet ataupun poster, sebagian orang tidak terlalu paham. Untuk mengatasi masalah tersebut, saya memaksimalkan sosialisasi secara oral dan lebih banyak diskusi atau sesi tanya jawab. Perlahan saya juga mempelajari beberapa kata dalam bahasa daerah mereka misalnya “tete ruga” yang berarti penyu. Hal ini perlu dilakukan agar komunikasi lebih lancar dan terbuka. Sangat menyenangkan berbagi ilmu dengan mama-mama karena mereka begitu antusias dalam menerima materi. Tidak hanya kepada orang tua, anak sekolah juga menjadi target sosialisasi untuk menanamkan pengetahuan sejak dini tentang keberadaan TNTC dan pentingnya melestarikan lingkungan. Oleh karena itu, selang sehari setelah melakukan sosialisasi kepada mama-mama, saya juga melakukan sosialisasi kepada siswa-siswi SD YPK Yende kelas 4, kelas 5 dan kelas 6. Awalnya perasaan was-was timbul kalau-kalau mereka tidak mau menerima dengan baik. Akan tetapi pada kenyataannya anak-anak sangat antusias dalam menerima materi. Pelan-pelan saya menjelaskan tentang materi dan diselingi dengan games serta pemutaran video terkait materi sosialisasi. Dari pengalaman pertama berinteraksi dengan anak-anak di Distrik Roon, mereka belum mengetahui tentang TNTC dan tidak memahami apa itu konservasi sehingga sangat diperlukan sosialisasi lanjutan. Sosialisasi Pertama kali Kepada Siswa-Siswi SD YPK Yende Sosialisasi di Kampung Yende merupakan sosialisasi pertama yang saya lakukan setelah beberapa hari menginjakkan kaki di SPTN IV Roon dan tugas pertama saya di BBTNTC. Rasa senang dan bangga bisa beradaptasi dengan baik dengan masyarakat di Kampung Yende. Semoga hubungan baik yang telah terbangun dapat bertahan sampai akhir. Sumber: Krisensia Yayuk Mangguali, S.Hut (Calon Penyuluh Kehutan Pertama) Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Menampilkan 1.985–1.989 dari 1.989 publikasi