Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Konsultasi Publik Desain Tapak Pengelolaan Pariwisata di TWA Pelaihari

Pelaihari, 6 Oktober 2021 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) melaksanakan Konsultasi Pablik Desain Tapak pengelolaan Taman Wisata Alam (TWA) Pelaihari di Sinar Hotel Pelaihari Kabupaten Tanah Laut. Hasil diskusi konsultasi publik menghasilkan beberapa poin yang menjadi topik pembahasan, yakni mengenai status kawasan dan karcis/tiket yang sering menjadi kendala dalam pembagian hasil. "Status kawasan TWA Pelaihari merupakan kawasan konservasi milik negara yang tidak dapat menjadi hak milik, akan tetapi dapat dikelola sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pihak swasta bisa berinvestasi membangun sarana prasarana pendukung wisata melalui Ijin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA). Dalam pengelolaan karcis/tiket disesuaikan dengan kondisi dilapangan agar bisa terpenuhi kewajiban iuran PNBP, restribusi daerah serta imbalan atas sarana dan jasa wisata yang ada" ungkap Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Mirta Sari, S. Hut, MP. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. yang menjadi narasumber pertama dalam Konsultasi Publik ini, menyampaikan bahwa TWA Pelaihari harus dikelola secara bersama-sama, sinergitas antar sektor menjadi hal yang penting dalam meningkatkan pengelolaan TWA Pelaihari, potensi pantai yang menjadi salah satu primadona wisata di Tanah Laut harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Penyusunan Desain Tapak menjadi salah satu akses bagi stakeholders untuk dapat berinvestasi dalam pengelolaan TWA Pelaihari baik dari instansi pemerintah maupun pihak swasta sesuai dengan tata letak kelola wisata pada ruang publik dan ruang usaha yang telah disusun pada dokumen Desain Tapak, tambah Dr. Mahrus. Asisten II Dr. Ahmad Hairin dalam arahannya juga menyampaikan agar konsultasi publik ini dapat menjadi ajang tukar informasi dan diskusi dalam rangka peningkatan performance dari TWA Pelaihari dan pelibatan para pihak. Pemda Tanah Laut siap mendukung pengembangan TWA Pelaihari bersama Dinas-Dinas terkait, termasuk dukungan kebijakan dan dana. Senada dengan pembicara lainnya, Kepala Bidang Destinasi Wisata, Arif Setyawan, ST. menyambut baik adanya konsultasi pablik TWA Pelaihari ini, mereka berharap adanya akses dalam pengelolaan pariwisata di kawasan konservasi agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam pengelolaan wisata. Arif yang juga sebagai Narasumber kedua menyampaikan bahwa Dinas Pariwisata sangat mendukung dan juga siap untuk memfasilitasi sarana dan prasarana pendukung wisata di TWA Pelaihari selama ada payung hukum yang dapat diakses dalam pengembangan wisata di dalam kawasan konservasi. Acara dibuka oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Dr. Ir. H. Akhmad Hairin, MP yang mewakili Bupati Tanah Laut dan dihadiri beberapa stakeholder diantaranya, BAPPEDA, Dinas Pariwisata, Dinas PMPTSP, Dinas PRKPLH, Camat Panyipatan, Polsek Panyipatan, BPC HIPMI Tanah Laut, Pemerintah Desa Batakan serta Kelompok Maju Bersama Desa Batakan. (ryn) Sumber : Hendar Wibawa - Polhut Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Budidaya Jamur Desa Hutapadang

Panyabungan, 6 Oktober 2021. Balai TN Batang Gadis memberikan pelatihan Budidaya Jamur Tiram di Desa Hutapadang, Resort 5 Alahan Kae, selama 2 hari pada tanggal 25-26 September 2021. Pemberdayaan masyarakat pada daerah penyangga kawasan konservasi juga merupakan salah satu upaya pembangunan masyarakat sekitar kawasan yang berbasis konservasi, dengan tujuan utama meningkatkan sumber daya manusia menuju kesejahteraan dan mutu kehidupan yang lebih baik serta hidup harmonis dengan kawasan konservasi dan alam sekitarnya. Kegiatan diikuti Kelompok Tani Aek Siondop Desa Hutapadang dengan narasumber Bapak Timbul Rahayu, pembudidaya jamur tiram di Panyabungan. Beliau merupakan pemasok jamur untuk café dan rumah makan di wilayah panyabungan dan sekitarnya, juga memiliki kelompok pendampingan budidaya jamur tiram. Peserta mengikuti sesi latihan baik materi dan praktek dengan hasil pelatihan terjadinya peningkatan pengetahuan peserta dengan nilai 75%, dari yang tidak memiliki pengetahuan apapun tentang jamur sampai dapat mengetahui kegunaan, penyiapan media tanam, menginokulasi dan melakukan pengemasan hasil panen budidaya jamur. Pelatihan ini didasarkan pada keberadaan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) sebagai pendukung utama yang bersentuhan langsung dengan kawasan, masalah ekonomi selalu menjadi alasan rusaknya sebuah kawasan konservasi. Untuk itu upaya peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan adalah suatu hal yang menjadi prioritas untuk dilakukan, sehingga tekanan dan interaksi masyarakat dengan hutan dapat diminimalisasi, sekaligus masyarakat/desa dapat menjadi perisai penyangga bagi kawasan dari pihak luar. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Spanduk Edukasi Di Dua Desa Penyangga TN Batang Gadis

Panyabungan, 6 Oktober 2021. Balai Taman Nasional Batang Gadis (BTNBG) memasang spanduk larangan perburuan dan perdagangan satwa dilindungi pada tanggal 23-24 September 2021 di 2 (dua) desa penyangga kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Spanduk dipasang pada jalan menuju kawasan TNBG di Desa Hutabargot Nauli dan Desa Sayur Maincat, Kecamatan Hutabargot. Petugas Balai TNBG juga membagikan aturan tentang satwa dilindungi seperti UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konsevasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Koordinasi juga dilakukan petugas Balai TNBG dengan Bapak Camat Hutabargot untuk mensosialisasikan peraturan tentang jenis satwa yang dilindungi dengan membagikan aturan P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tersebut kepada semua Kepala Desa yang masuk dalam wilayah kecamatan ini. Dengan pemasangan spanduk dan sosialisasi peraturan ini diharapkan memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran bersama akan pentingnya kelestarian satwa dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Belajar Memanen Madu Sialang di TN Tesso Nilo

Lubuk Kembang Bunga, 6 Oktober 2021. 20 s.d 02 Oktober 2021 - Dua kelompok mahasiswa magang dari Universitas Riau Program Studi Kehutanan melaksanakan kegiatan berupa pengamatan pemanenan madu sialang dan inventarisasi flora di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga Balai TNTN dari tanggal 20 September hingga 2 Oktober 2021. Sebanyak 13 (tiga belas) mahasiswa/i dibagi menjadi dua kelompok yang dipandu dan didampingi lamgsung oleh petugas dari Balai TN Tesso Nilo. Para mahasiswa diajak untuk ikut serta, mengetahui dan mengamati proses pemanenan madu secara tradisional langsung dengan memanjat pohon sialang. Mahasiswa mengikuti keseluruhan proses panen madu secara tradisional dengan antusias, terlebih lagi kegiatan ini termasuk ke dalam kearifan lokal desa penyangga yang masyarakat luar jarang untuk bisa menyaksikan secara langsung. Usai mengikuti acara panen madu mahasiswa juga menginventarisasi beragam jenis flora yang ada di kawasan TN Tesso Nilo. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Balai TN Batang Gadis Koordinasi Kerja ke Kantor Bupati Mandailing Natal

Panyabungan, 6 Oktober 2021. Sinergitas pengelolaan kawasan secara kolaboratif penting dilakukan untuk pengelolaan kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) yang lebih baik. Kali ini Kepala Balai TNBG Ir. Sahdin Zunaidi, M.Si ke menyambangi Kantor Bupati Mandailing Natal, Rabu silam (15/9) untuk wujud nyata koordinasi kerja secara kolaboratif. Kunjungan ini disambut baik Bapak Bupati Mandailing Natal Bapak H.M Ja’far Sukhairi Nasution dan Wakil Bupati Mandailing Natal Ibu Atika Azmi Utammi Nasution , B.App.Fin.,M.Fin. Beberapa poin penting disampaikan Kepala Balai TNBG pada koordinasi kerja kali ini, antara lain sebagai bentuk koordinasi tentang pengelolaan kawasan Taman Nasional Batang Gadis, penyampaian potensi flora fauna yang ada dikawasan TNBG karena merupakan biodiversity yang harus dijaga dan dilestarikan bersama-sama serta memberikan apresiasi terhadap Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal yang terus memberikan dukungan terhadap pengembangan ekowisata desa penyangga TNBG. Peningkatan juga terus dilakukan untuk terus menambah minat wisatawan berkunjung, sehingga akan memberikan dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar desa penyangga TNBG. Kunjungan dan penyampaian informasi dari Kepala Balai TNBG didampingi Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kotanopan dan Kepala SPTN Wilayah III Muarasoma. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Konsistensi Jagawana Dalam Kegiatan Riset Satwa Liar Di Tepi Barat Pulau Komodo

Labuan Bajo, 1 Oktober 2021. Taman Nasional Komodo merupakan habitat bagi satwa kunci kakatua kecil jambul kuning dengan nama ilmiah Cacatua sulphurea occidentalis. Burung ini memiliki bulu yang indah dengan lengkingan suara yang cukup nyaring sebagai bentuk komunikasi dengan sesamanya. Kakatua hidup berkelompok dan biasanya menggunakan pepohonan dengan ketinggian > 10 meter untuk beraktivitas, termasuk tidur dan bersarang. Kakatua Kecil Jambul Kuning termasuk ke dalam kategori “Terancam Punah” berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species. Merujuk kepada status kelangkaan populasi satwa tersebut, Balai Taman Nasional Komodo berkomitmen untuk giat melaksanakan pendataan populasi kakatua kecil jambul kuning di Taman Nasional Komodo secara berkelanjutan. Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan monitoring populasi kakatua kecil jambul kuning di tujuh lokasi lembah, antara lain: Poreng, Loh Baes, Loh Sebita, Loh Lawi, Banu Nggulung, Sok Keka, dan Sok Pure. Kali ini monitoring dilaksanakan di lembah Sok Pure dan Sok Keka yang termasuk ke dalam wilayah kerja Resort Loh Wenci – Sape pada tanggal 22 – 28 September 2021. Kegiatan monitoring ini dikoordinir oleh Kepala Resort Loh Wenci – Sape (Rawuh Pradana) bekerjasama dengan Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Komodo (Ande Kefi dan Dinda Hamasiya Karima Khash) sebagai bentuk supervisi kegiatan teknis monitoring populasi satwa liar di dalam kawasan. Monitoring populasi kakatua kecil jambul kuning ini juga secara rutin dilakukan oleh petugas di tingkat tapak mengacu pada pola kerja Resort- Based Management (RBM) yang berlangsung di Balai Taman Nasional Komodo. Pengamatan rutin oleh petugas di tingkat tapak dimaksudkan untuk memperkuat kontinuitas data yang diperoleh berdasarkan monitoring populasi periodik yang diselenggarakan setiap tahunnya. Metode yang digunakan dalam monitoring populasi kakatua kecil jambul kuning adalah Vantage Point dimana burung kakatua dihitung dari titik pengamatan dengan ketinggian tertentu. Metode ini memudahkan pengamat untuk dapat melakukan perhitungan populasi burung kakatua secara akurat menyesuaikan dengan kontur dan landskap ekosistem di Taman Nasional Komodo. Monitoring populasi kakatua kecil jambul kuning dilakukan selama 7 (tujuh) hari dengan 2 kali pengulangan (pagi: 05:00 – 07:00 dan sore: 17:00 – 18:30) setiap harinya. Nilai estimasi populasi diperoleh berdasarkan pada angka sensus populasi tertinggi setiap waktu pengamatan harian. Tim juga melakukan survei pohon pakan dan pohon sarang kakatua kecil jambul kuning. Jenis- jenis pohon pakan yang disurvei antara lain: Gebang (Corypha utan), Asam (Tamarindus indica), Klumpang (Sterculia foetida), Nita (Sterculia oblongata), Nunang (Cordia dichotoma), Kesambi (Schleichera oleosa) dan Kelor (Moringa pterygosperma). Sedangkan untuk pohon sarang sendiri hanya terpantau pada pohon gebang yang sudah mati di wilayah Resort Loh Wenci – Sape. Estimasi populasi kakatua kecil jambul kuning di lembah Sok Pure dan Sok Keka pada tahun 2021 berturut-turut adalah + 90 ekor + 40 ekor. Berdasarkan data 5 tahun terakhir (2015, 2017- 2020), populasi kakatua kecil jambul kuning di lembah Sok Pure antara lain: + 62 ekor (2015), 84 ekor (2017), 49 ekor (2018), 73 ekor (2019), dan 92 ekor (2020). Sementara populasi kakatua di lembah Sok Keka (2015, 2017 – 2020) berkisar antara + 33 ekor (2015), 12 ekor (2017), 12 ekor (2018), 27 ekor (2019), dan 60 ekor (2020). Monitoring populasi kakatua tahun 2016 hanya diselenggarakan di 2 lokasi, yaitu: Loh Sebita dan Loh Baes karena dinamika penganggaran pengelolaan tahunan. Monitoring kakatua kecil jambul kuning di Sok Keka dan Sok Pure tahun 2021 turut melibatkan jurnalis Vera Bahali sebagai representasi awak media. Hal ini merupakan terobosan baru bagi Balai Taman Nasional Komodo dengan memberikan kesempatan bagi awak media untuk lebih memahami teknis pengelolaan kawasan dan pola kerja jagawana di tingkat tapak. Monitoring populasi ini kontinu dilakukan setiap tahunnya sebagai bentuk upaya pelestarian satwa kunci kakatua kecil jambul kuning oleh Balai Taman Nasional Komodo. Data yang dihasilkan dari kegiatan monitoring tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan yang krusial bagi penyempurnaan pengelolaan satwa liar di Taman Nasional Komodo serta turut memberikan kontribusi praktik keilmuan dari tingkat tapak bagi the body of knowledge ilmu pengetahuan di dunia. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Rawuh Pradana, S.H. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Aksi Resort Loh Wau Relokasi Telur Penyu Di Pulau Lengah

Labuan Bajo, 1 Oktober 2021. Balai Taman Nasional Komodo mengadakan kegiatan relokasi telur penyu di wilayah kerja Resort Loh Wau Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III pada Kamis silam (23/9). Kegiatan relokasi telur penyu mandiri ini dikoordinir oleh Kepala Resort Loh Wau (Ikhwan Syahri) bersama 2 anggota Resort Loh Wau (Muhlas dan Asry) bersama 4 orang mahasiswa dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (Bunga Cinta Evangelin dan Mohammad Rizqi Afreza) dan Politeknik Elbajo Commodus (Nevasius Antur dan Adelgonda Tasina Naul). Adapun latar belakang yang menekankan pentingnya pelaksanaan relokasi telur penyu di Pulau Lengah, antara lain: pencurian telur oleh oknum masyarakat, tumpang tindih telur penyu antar sarang yang berdekatan, posisi sarang yang terpengaruh signifikan pasang surut air laut, dan belum tersedianya data dan informasi terbarukan terkait satwa penyu di Taman Nasional Komodo. Tim relokasi perlu melakukan pengamatan pesisir pantai sebelum melakukan pemindahan telur penyu ke sarang semi alami di Resort Loh Wau. Tim perlu terlebih dulu mengidentifikasi status sarang telur penyu (pasif/aktif) untuk dapat memperkirakan keberadaan telur di dalam sarang tersebut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim karena indukan penyu memiliki kecenderungan membuat sarang kamuflase untuk mengelabui predator yang berusaha memangsa telur-telur penyu. Lokasi yang pertama yang menjadi area pengamatan tim relokasi adalah Pantai Teluk Loh Wau. Pada lokasi ini kami hanya menemukan jejak segar indukan penyu, namun tidak berhasil menemukan keberadaan sarang telur penyu tersebut. Tim kemudian memutuskan untuk beranjak ke lokasi kedua yaitu Pulau Lengah. Pulau Lengah merupakan pulau kecil dengan pesisir pantai sempit yang memiliki tingkat kepadatan sarang penyu yang tinggi. Tim menemukan setidaknya 8 sarang penyu baik aktif maupun pasif di pesisir pantai Pulau Lengah. Tim akhirnya berhasil menemukan telur penyu setelah menggali salah satu sarang aktif dengan tipe sarang tengah yang berjarak 5-meter dari pepohonan. Kami memindahkan telur-telur tersebut dengan sangat hati-hati ke dalam bak sampah plastik berukuran 25 cm x 25 cm yang sebelumnya sudah diisi dengan pasir pantai dari sekitar sarang penyu tersebut. Tim berhasil merelokasi 59 dari 116 butir telur penyu hijau (Chelonia mydas) yang ditemukan dengan keliling rata-rata + 14 cm dan berat rata-rata + 40 gram. Sebanyak 57 butir telur ditemukan sudah dalam kondisi rusak karena alam. Tim meletakan telur tersebut ke dalam sarang semi alami yang berada di Resort Loh Wau. Merujuk kepada Rencana Pelaksanaan Kegiatan Monitoring Sarang Bertelur Penyu Balai Taman Nasional Komodo (2021), suhu sarang semi alami dipantau secara periodik dengan melakukan pengukuran sebanyak 4 kali dalam sehari, antara lain pada pukul 06:00, 12:00, 18:00, dan 24:00. Pencatatan suhu sarang dilakukan setiap hari selama masa inkubasi (+ 60 hari) sampai dengan menetas. Hal ini dilakukan petugas untuk dapat memperkirakan probabilitas jenis kelamin tukik yang akan menetas dengan kemungkinan kelahiran jantan pada suhu < 29oC, sedangkan kelahiran betina pada suhu sarang > 29oC. Adapun suhu rata- rata sarang semi alami di Resort Loh Wau berkisar antara 29-30 Celsius. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Bunga Cinta Evangelin (Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung) | Penyuting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Ecoedutourism Bersama Petugas Resort Kampung Kerora TN Komodo

Labuan Bajo, 1 Oktober 2021. Resort Kampung Kerora Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo konsisten melakukan pengayaan jenis mangrove dan edukasi bersama mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (Bunga Cinta Evangelin dan Mohammad Rizqi Afreza) dan Politeknik Elbajo Commodus (Adelgonda Tasina Naul dan Nevasius Antur). Inisiasi ini dipimpin oleh Kepala Resort Kampung Kerora (Banu Widyanarko) dan Anggotanya (Suwendi Iskandar Bubang). Kegiatan pengayaan jenis mangrove yang dilakukan meliputi aktivitas pengumpulan, penanaman, dan pemeliharaan bibit. Resort Kampung Kerora berhasil mengumpulkan bibit mangrove sebanyak +250 anakan dari Pulau Bero pada tanggal 1 September 2021. Pulau Bero adalah salah satu pulau penting yang termasuk ke dalam wilayah kerja Resort Kampung Kerora karena merupakan habitat alami burung kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea occidentalis). Pulau Bero memiliki pemandangan nan indah yang dikelilingi oleh vegetasi mangrove yang sehat dan cukup rapat. Keberadaan ekosistem mangrove sangat perlu dijaga karena tidak hanya berperan sebagai pelindung wilayah pesisir, namun juga sebagai tempat bersarang dan sumber pakan bagi burung kakatua kecil jambul kuning. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong petugas Resort Kampung Kerora untuk terus melakukan upaya pengayaan jenis mangrove di wilayah kerjanya. Aktivitas berikutnya yang dilakukan adalah penanaman 250 bibit mangrove di sekitar area Resort Kampung Kerora. Penanaman ini utamanya dilakukan sebagai upaya rehabilitasi hutan guna mencegah abrasi di wilayah pesisir pantai Kampung Kerora. Petugas juga mengajarkan mahasiswa mengidentifikasi jenis dan manfaat mangrove, menjelaskan metode penanaman, serta pemeliharaan mangrove langsung di alam berdasarkan pengalaman lapangan. Hal ini merupakan pembelajaran baru bagi mahasiswa pariwisata karena berbicara pariwisata bukan hanya memikirkan bagaimana caranya mendatangkan wisatawan, namun juga mempertimbangkan nilai edukasi sebagai luaran penting bagi kelompok wisatawan tersebut. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Adelgonda Tasina Naul (Mahasiswa Politeknik Elbajo Commdous) | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Monitoring Dan Pendampingan Kelompok Desa Binaan – Desa Gunung Melintang

Baserah, 2 Oktober 2021 – Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) bersama dengan Kepala Resort Onangan Nilo dan PPNPN Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Baserah melakukan pendampingan kelompok Desa Binaan di Desa Gunung Melintang pada tanggal 27 – 29 September 2021. Kegiatan tersebut untuk mengetahui informasi terkini terkait perkembangan kegiatan kelompok desa binaan serta kendala/permasalahan yang dihadapi. Desa Gunung Melintang merupakan salah satu desa yang berbatasan dengan kawasan TN Tesso Nilo dan juga menjadi salah satu dari 7 desa prioritas dalam program kemitraan konservasi pemberdayaan masyarakat. Sampai dengan saat ini di Desa Gunung Melintang telah terbentuk 3 kelompok tani hutan (KTH) binaan TN Tesso Nilo yaitu : Petugas Balai TNTN memonitoring dan mengevaluasi program yang telah berjalan dengan memberikan arahan serta solusi kepada permasalahan atau kendala yang dihadapi. Hasil pemberdayaan masyarakat KTH di Desa Gunung Melintang diperoleh hasil bahwa kegiatan telah terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan kemitraan konservasi yang akan dilanjutkan dengan pendampingan secara intensif dalam upaya pemecahan permasalahan kelompok. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Nelayan Pulau Jinato Selamatkan Whale Shark

Benteng - Kepulauan Selayar, 2 Oktober 2021. Hanya berselang sehari dari perjumpaan hiu paus oleh petugas Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate, pada tanggal 1 Oktober 2021 nelayan dari Pulau Jinato kembali melakukan penyelamatan hiu paus (Whale shark) di perairan sebelah Selatan Pulau Jinato. Hiu paus ini tanpa sengaja terjaring pada jaring bagang kapal nelayan. Selama ini nelayan bagang di Taman Nasional Taka Bonerate telah teredukasi dengan baik, sehingga mereka tidak akan mencelakai/menangkap/membunuh Whale shark yang menghampiri kapal bagang mereka. Kehadiran Whale shark ini menjadi penanda bahwa di sekitar perairan tersebut ikannya masih banyak dan menjadi berkah buat nelayan. Mari bersama menjaga kelestarian hiu paus. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Hiu Paus, Si Totol Kharismatik Kembali Terlihat di Taman Nasional Taka Bonerate

Benteng - Kepulauan Selayar, 2 Oktober 2021. Tim Inventarisasi Daya Dukung dan Daya Tampung Ekowisata Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate secara tidak sengaja bertemu dengan biota laut kharismatik dalam perjalanannya menuju dive spot Taka Mallori. Tim sangat beruntung karena bertemu dengan seekor Hiu Paus (Rhincodon typus) yang merupakan spesies ikan hiu terbesar. Bahkan, dua orang dari Tim berkesempatan berenang dan menyelam bersama dengan biota tersebut (30/9). Hiu Paus yang ditemui oleh Tim merupakan seekor hiu paus jantan dengan ukuran lebih kurang 8 Meter, menurut Saleh Rahman, M.Sc selaku ketua Tim, beberapa nelayan melaporkan bahwa selama bulan September, hiu tersebut mulai terlihat kembali saat mereka memasang jaring di malam hari, bermain dan mencari makan di sekitar jaring nelayan dengan jumlah 2 (dua) sampai dengan 5 (lima) ekor. Kemunculan hiu paus di kawasan TN Taka Bonerate bukan kali ini saja. Tahun lalu, 2 ekor hiu paus dengan ukuran 4 (empat) sampai dengan 5 (lima) meter juga dilaporkan muncul di kawasan TN Taka Bonerate oleh staf Balai TN Taka Bonerate. Apakah beberapa hiu paus yang muncul lagi tahun ini merupakan hiu paus yang sama dengan yang muncul tahun lalu, tentunya dibutuhkan survei dan penelitian lebih lanjut, yang jelas, kemunculan hiu paus ini menandakan bahwa kawasan TN Taka Bonerate sangatlah menarik bagi biota laut kharismatik ini. Sumber : Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks & video: Saleh Rahman – PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks editor: Khoirul Anam – PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Dedikasi Petugas Resort Kampung Kerora Dalam Upaya Rehabilitasi Mangrove Bersama Anak-Anak

Labuan Bajo, 30 September 2021. Suwendi Iskandar Bubang, petugas Resort Kampung Kerora Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo, mendedikasikan dirinya dalam upaya rehabilitasi ekosistem mangrove di Kampung Kerora. Upaya rehabilitasi mangrove yang dimulai sejak bulan Juni 2021 sampai dengan sekarang mendapatkan dukungan penuh dari Kepala Resort Kampung Kerora (Banu Widyanarko) dan Kepala Balai Taman Nasional Komodo (Lukita Awang Nistyantara). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk perwujudan langsung resort-based management (RBM) di tingkat tapak oleh salah satu petugas Resort Kampung Kerora. Tahapan aksi rehabilitasi ini dimulai dari pengumpulan bibit berbagai jenis mangrove langsung dari alam sekitar Resort Kampung Kerora. Setidaknya terdapat lima jenis bibit mangrove yang berhasil dikumpulkan oleh Wendi, diantaranya: Bakau Kurap (Rhizophora mucronata), Bakau Kecil (Rhizophora stylosa), Bakau Minyak/Bakau Kacang (Rhizophora apiculata), Putut (Bruguiera gymnorhiza), dan Tangar (Ceriops sp.). Wendi dapat membedakan morfologi mangrove berdasarkan observasi lapangan yang kontinyu dalam kesehariannya di tingkat tapak. Wendi menyampaikan bahwa mangrove jenis R. mucronata memiliki rangkaian bunga berjumlah 4 – 8, daunnya lebih besar, dan buahnya lebih panjang. Sedangkan mangrove jenis R. stylosa memiliki rangkaian bunga berjumlah 9 – 16, R. apiculata memiliki 2 rangkaian bunga, dan B. gymnorhiza memiliki 1 kelopak bunga dengan warna merah menyala. Wendi berhasil mengumpulkan 2872 bibit mangrove dari alam selama kurang lebih empat bulan masa pengumpulan yang dilakukan secara mandiri bersama anak-anak Kampung Kerora. Bibit yang telah dikumpulkan kemudian disemaikan pada persemaian semi alami untuk mendapatkan tindakan silvikultur seperti pemeliharaan dan persiapan pra-penanaman agar persentase tumbuh atau probabilitas hidup anakan mangrove lebih tinggi. Sebanyak 572 bibit disemaikan di persemaian semi alami dan 2300 bibit sudah ditanam di pesisir pantai Kerora dengan persentase keberhasilan tumbuh mencapai 57.87%. Hal yang paling mempengaruhi persentase tumbuh adalah gangguan teritip pada wilayah pasang surung air laut yang menyebabkan anakan mangrove seringkali mati karena tertutup permukaan kulit luarnya. Wendi selalu melibatkan anak-anak Kampung Kerora dalam menjalankan aksi rehabilitasi mangrovenya. Hal ini Wendi lakukan semata-mata sebagai bentuk pendidikan konservasi sejak dini untuk anak-anak agar kedepannya generasi yang akan datang dapat lebih mencintai serta peduli terhadap lingkungan, khususnya lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Anak-anak Kampung Kerora begitu antusias mengikuti aksi rehabilitasi karena tidak hanya dapat bermain bersama teman sebayanya namun juga dapat berkesempatan untuk belajar langsung dari alam. Ancaman perubahan iklim nyata dampaknya, termasuk bagi Kampung Kerora di Pulau Rinca. Sosok pejuang lingkungan seperti Wendi perlu direplikasi agar upaya rehabilitasi dapat dilaksanakan secara masif di lokasi-lokasi lain. Mari sama-sama berikan kontribusi langsung untuk alam karena sekecil apapun upayamu untuk alam pasti akan ada balasannya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. dan Suwendi Iskandar Bubang Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Mencoba Jelajahi TWA Sibolangit Dengan Sepeda Gunung

Sibolangit, 1 Oktober 2021. Sudah pernahkah anda merasakan sensasi menjelajahi kawasan konservasi dengan sepeda gunung ? Kalau belum, datanglah ke Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Sambil menikmati keindahan potensi kawasan, dengan mengayuh sepeda juga memberi kebugaran dan menyehatkan tubuh. TWA Sibolangit terus berbenah dan berinovasi untuk bersiap menjadi salah satu objek wisata alam unggulan di provinsi Sumatera Utara. Berbagai upaya dilakukan termasuk menjalin kerjasama dengan berbagai kelompok, satu diantaranya adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wisata Alam Sibolangit Berseri (WASB). Sebagai kelompok binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, sejak pertama kali terbentuk tahun 2017, Pokdarwis WASB telah menunjukkan kontribusi dan peran aktifnya dalam mempromosikan keberadaan kawasan TWA Sibolangit. Oleh karena itu, ketika kelompok ini mengajukan usul pengadaan/penyediaan sarana transportasi sepeda untuk mendukung kegiatan wisata di TWA. Sibolangit, Balai Besar KSDA Sumatera Utara pun menyambut baik usulan tersebut. Setelah melalui pembahasan bersama, akhirnya diputuskan bahwa Balai Besar KSDA Sumatera Utara memberikan bantuan 11 unit Sepeda Gunung Polygon Type Cascade 4 dan Helm Sepeda Gunung Polygon Type Bold, yang pengadaannya melalui kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Desa Sekitar Kawasan Konservasi, khususnya CA/TWA Sibolangit. Penyerahan bantuan dilaksanakan pada Senin, 20 September 2021 di TWA Sibolangit, diserahkan langsung oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH., mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, kepada Ketua Pokdarwis WASB Adil Salomo Tarigan, disaksikan Kepala Resort CA/TWA Sibolangit Samuel Siahaan, SP. Selanjutnya pasca diterimanya sepeda gunung, pada Minggu 25 Sepember 2021, anggota Pokdarwis langsung menjajal traking di dalam kawasan TWA Sibolangit sepanjang 3,2 km. dan jalan di Desa Sibolangit, sambil mempromosikan wisata bersepeda di TWA Sibolangit. Harapannya kedepan, sebelas unit sepeda gunung yang dikelola oleh Pokdarwis WASB ini nantinya bermanfaat sebagai sarana pendukung kegiatan wisata alam bagi pengunjung yang ingin menikmati panorama dan keindahan kawasan TWA Sibolangit sembari berolahraga, serta bermanfaat juga dalam meningkatkan perekonomian masyarakat desa, khususnya yang tergabung dalam Pokdarwis WASB. Sumber : Samuel Siahaan, S.P. - PEH Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Peran Dokter Hewan Dalam Manajemen Konservasi Satwa Liar Di TN Komodo

Labuan Bajo, 25 September 2021. Salah satu peran dokter hewan dalam manajemen konservasi adalah mengidentifikasi dan mempelajari penyakit pada satwa liar. Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan Universitas Nusa Cendana berkomitmen untuk mempelajari manajemen konservasi aspek bidang kedokteran hewan dengan terjun langsung ke lapangan dalam rangka Praktek Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Komodo. Minimnya informasi mengenai identifikasi dan distribusi penyakit pada komodo menjadi latar belakang kuat mahasiswa melaksanakan kegiatan PKL pada kawasan konservasi in-situ. Kegiatan PKL ini dilaksanakan pada tanggal 12 – 21 September 2021 di Resort Loh Wau Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo. Salah satu bentuk aktivitas yang dilaksanakan adalah melakukan pengambilan sampel feses untuk mengidentifikasi probabilitas kemunculan endoparasite gastrointestinal pada biawak komodo. Mahasiswa bersama dengan Kepala Resort Loh Wau (Ikhwan Syahri) melakukan pengambilan dan mengamati feses melalui mikroskop. Berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan 3 jenis parasit yaitu Dipylidium sp., Diphyllobothrium sp., dan Trichuris sp. Parasit ini berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan pada komodo seperti gangguan penyerapan nutrisi dan anemia. Ketiga jenis cacing ini juga berpotensi menyebabkan zoonosis dimana penyakit dapat menular dari hewan kepada manusia atau sebaliknya, sehingga berpotensi membahayakan petugas lapangan maupun masyarakat yang terkontaminasi. Meskipun demikian, zoonosis hanya dapat terjadi jika manusia melakukan kontak langsung dengan hewan ataupun kotorannya. Untuk mencegah terjadinya infeksi zoonosis pada manusia, petugas perlu memastikan tingkat higienitas dan sanitasi saat bekerja di tingkat tapak. Peran Dokter Hewan sangatlah krusial dalam pengelolaan kawasan konservasi, khususnya bagi keberlangsungan hidup biawak komodo. Masih diperlukannya pendalaman kajian penyakit satwa liar pada komodo oleh para mahasiswa kedokteran hewan kedepannya. Bagi mahasiswa kedokter hewan yang ingin bekerja langsung dengan biawak komodo dapat mendaftarkan diri sebagai Pengendali Ekosistem Hutan di Balai Taman Nasional Komodo melalui pembukaan Calon Pegawai Negeri Sipil Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan setiap tahunnya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: 1) Nofriani RW. Ndun, S.K.H.; 2) Frits Benyamin H. Francis, S.K.H.; 3) Selviani T. Dangur, S.K.H.; 4) Rochy J. Akal, S.K.H.; dan 5) Pedro CY. Nope, S.K.H. Mahasiswa PKL Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Kader Konservasi BBKSDA Sumut Siap Gaungkan Konservasi di Lingkungan Masyarakat

Medan, 1 Oktober 2021. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyerahkan SK Kader Konservasi di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Kamis silam (30/9). Ada dua surat keputusan yang diserahkan, Pertama SK : Nomor 227/K.3/BIDTEK/KSA/7/2021 tanggal 31 Juli 2021 tentang Penetapan Kader Konservasi Alam, terhadap 4 orang masing-masing yakni Esron Tarigan, Sastrawan Meliala, Herman Ginting, Paksa Barus dan Marheni Simanjuntak. Keempat kader konservasi tersebut melakukan kegiatan aktif di bidang konservasi di Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan seperti penyelamatan tumbuhan langka, penyuluhan, penanaman pohon di lahan kritis, pemanfaatan jasa lingkungan dan objek wisata alam di lahan masyarakat dan kampanye air bersih di pemukiman. Kedua, SK Nomor 230/K.3/BIDTEK/KSA/2021 tanggal 23 Juli 2021 tentang Penetapan Kader Konservasi Alam, untuk 10 orang masing-masing Purnama Ginting, Bahagia Sembiring, Joko Pradipto, Sondarken Sembiring, Ramadana PA, Mariani Br.Sembiring, Indah Chairina Lubis S.Pd, Candi Surbakti, Raja .N Ginting dan Adytia Syahputra Parlindungan Daulay. Kesepuluh kader konservasi ini aktif melakukan kegiatan konservasi di Kabupaten Langkat seperti penyelamatan satwa dan habitatnya, penyuluhan, penanaman pohon di lahan kritis dan menginisiasi pemanfaatan jasa lingkungan dan objek wisata alam, menaman tanaman produktif menggantikan tanaman sawit dan melaksanakan kemah konservasi selama 5 tahun berturut-turut. Penyerahan SK dilakukan oleh Plt. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Ir. Irzal, M.Si kepada perwakilan kader dan juga dihadiri oleh Kepala Seksi Pelayanan dan Pemanfatan Suyono, S.H, M.Si beserta staf Seksi Pelayan dan Pemanfaatan. Dengan ditetapkannya sebagai kader konservasi lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, diharapkan kedepannya para kader konservasi ini, semakin giat dalam melakukan kegiatan-kegiatan konservasi dan ekosistem yang positif di lingkungan masyarakat. Aksi kegiatan para kader konservasi sungguh mulia dan semoga semakin banyak kader-kader konservasi yang mengikuti langkah mereka di bidang konservasi alam dan ekosistem. Salam Konservasi. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara (Inggrid R Tarihoran, S.hut - Penyuluh Kehutanaan dan Sri Rohana Edukatianty, S.P - Pengendali Ekosistem Ekosistem)
Baca Artikel

Resort Kampung Kerora Berhasil Menetaskan Telur Penyu Hasil Relokasi Dari Pulau Muang Bersama Masyarakat

Labuan Bajo, 25 September 2021. Taman Nasional Komodo merupakan habitat alami bagi dua jenis penyu yang ada di dunia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Kedua jenis penyu ini hidup bebas dan tersebar di hampir seluruh wilayah Taman Nasional Komodo, termasuk Pulau Muang. Pulau Muang merupakan sebuah pulau kecil yang dikelilingi pantai berbentuk cekungan dengan luas 34.27 Ha yang masuk ke dalam wilayah pengelolaan Resort Kampung Kerora Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Pulau ini tidak berpenghuni dan menjadi salah satu titik peneluran penyu terpadat pada lingkup wilayah Pulau Rinca. Pulau Muang berada di perbatasan wilayah Taman Nasional Komodo bagian tenggara yang berjarak sangat dekat dengan Pulau Flores. Pulau Muang seringkali mendapatkan gangguan karena lokasinya berada di perbatasan wilayah terluar yang dilalui banyak kapal masyarakat. Salah satu bentuk gangguan yang terjadi di Pulau Muang adalah pencurian telur penyu oleh oknum tidak bertanggungjawab. Kepala Resort Kampung Kerora (Banu Widyanarko) dan anggotanya (Suwendi Iskandar Bubang) bekerjasama dengan warga Kampung Kerora (Nurdin) untuk melakukan relokasi telur-telur penyu dari Pulau Muang. Relokasi ini dimaksudkan untuk memastikan tukik dapat menetas tanpa gangguan manusia sekaligus sebagai cara untuk mempelajari perkembangan embrio penyu secara intensif. Telur penyu yang direlokasi akan dipindahkan ke sarang semi buatan yang sudah disiapkan di area kerja Resort Kampung Kerora. Pada tanggal 3 Juli 2021, tim berangkat menuju Pulau Muang untuk melakukan survei lokasi sarang bertelur penyu. Setidaknya terdapat 62 titik sarang baik sarang pasif maupun aktif di pantai sebelah barat Pulau Muang. Tim memutuskan untuk merelokasi sarang tipe bawah yang berada di bibir pantai karena rentan terhadap gangguan baik dari pasang surut air laut maupun dari gangguan manusia. Tim berhasil menemukan setidaknya 123 butir telur dan bergegas melakukan pengukuran dimensi telur serta sarang. Setelah pengukuran selesai dilakukan, seluruh telur direlokasi pada sarang semi buatan. Setelah + 60 hari masa inkubasi telur tepatnya pada tanggal 4 September 2021, sebanyak 85 tukik berhasil menetas pada hari pertama penetasan dan 20 tukik pada hari kedua penetasan. Sebanyak 105 butir telur berhasil menetas dengan tingkat keberhasilan sebesar 85.37%. Hal ini merupakan prestasi bagi Resort Kampung Kerora karena relokasi ini adalah kali pertama tim melakukan upaya pelestarian penyu berkolaborasi dengan masyarakat. Resort Kampung Kerora berharap upaya pelestarian penyu ini dapat menjadi atraksi ecoedutourism potensial di Kampung Kerora kedepannya. Tim juga melibatkan mahasiswa magang dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung dan Politeknik Elbajo Commodus Labuan Bajo dalam kegiatan relokasi telur penyu. Balai Taman Nasional Komodo berkomitmen penuh mendukung peningkatan kualitas ilmu pengetahuan dan pendidikan dengan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung di alam. Kami berharap pengalaman ini dapat meningkatkan rasa kecintaan mahasiswa terhadap penyu dan memberikan gambaran bagi mahasiswa mengenai ragam pengelolaan Taman Nasional Komodo secara umum. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Banu Widyanarko, S.Si. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.

Menampilkan 1.985–2.000 dari 2.305 publikasi