Senin, 16 Feb 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Ngobrol Asyik Konservasi Di TWA Sungai Dumai

Pekanbaru, 16 Maret 2021 - Memperingati Hari Bhakti Rimbawan ke 38, Balai Besar KSDA Riau bersama Fauna & Flora International (FFI) Indonesia Programme mengadakan Diskusi Konservasi yang diikuti Kepala Balai Besar KSDA Riau bapak Suharyono, Walikota Dumai yang diwakili staf ahli bapak haji Erizal, wakil anggota DPRD Dumai bapak Edison, Wakapolresta Dumai bapak E. Sitinjak, Kejari Dumai diwakili bapak Agung Nugroho dan Lembaga Adat Melayu Riau di Dumai bapak Hamka. Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono menjelaskan fungsi hutan dan peruntukannya. Terutama Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai, yang merupakan kawasan konservasi yang masuk dalam kategori kawasan pelestarian alam. TWA Sungai Dumai dalam arah pengelolaannya didorong untuk mendukung bidang wisata alam khususnya di kota Dumai. Sebagaimana dari fungsi TWA, di tempat ini dapat dibangun sarana prasarana wisata alam namun dengan tetap tidak merubah bentang alam serta fungsi kawasan sebagai areal konservasi. Kawasan ini juga mempunyai peranan penting bagi keseimbangan lingkungan terutama iklim mikro dan tata air, dimana salah satunya adalah mencegah ilfiltrasi air laut. Sehingga ketersediaan air muka tanah tetap terjaga. Dukungan dari berbagai pihak akan lebih menguatkan fungsi kawasan konservasi yang terletak di jantung kota Dumai dan tentunya juga menunjang ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat setempat. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Road to HKAN 2021, BBKSDA Sumut Mengenang Kader Konservasi Yang Telah Berpulang (Part 1)

Medan, Maret 2021. Balai Besar KSDA Sumatera Utara berkabung, salah seorang kader konservasi alam terbaik binaan Balai Besar KSDA Sumut, Ibu Jenny Riany Lucya Berutu, telah berpulang menghadap sang Pencipta, pada Sabtu 13 Maret 2021. (Alm.) Ibu Jenny bukanlah yang pertama, ada 6 kader konservasi lainnya yang juga telah lebih dahulu dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Bertepatan dengan Road To HKAN 2021, dalam 2 tulisan kami akan mengenang 7 kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang telah mendahului menghadap Pencipta, sebagai bentuk apresiasi atas karya-karya dan perjuangan mereka yang luar biasa guna membumikan dan melestarikan konservasi alam. Untuk tulisan pertama ini, kami tampilkan 3 sosok kader konservasi. (Alm.) Ibu Jenny Riani Lucya Berutu, sosok kader konservasi yang dikenal sangat aktif dalam aktifitas penanaman pohon di berbagai kegiatan penghijauan yang bukan hanya di perkotaan melainkan juga di kawasan pantai khususnya di areal hutan mangrove. Selain itu, Ibu Jenny juga aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di beberapa kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, seperti di Kabupaten Dairi, Karo, Langkat, Deli Serdang dan Asahan. Beliau juga dikenang sebagai salah satu yang pertama kali mengelola bank sampah di Kota Medan. Dalam perbincangan dengan tim penulis semasa hidupnya, beliau ingin sekali melakukan banyak kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi upaya pelestarian alam dan lingkungan hidup serta terus ingin memberdayakan masyarakat. Namun Yang Maha Kuasa menentukan lain, Ibu Jenny telah menyelesaikan tugasnya dan saat ini beristirahat di tempat keabadian. Sekalipun beliau sudah berpulang, tetapi karya dan semangatnya akan tetap dikenang. (Alm.) Bapak Drs. Nakum Sujono, sosok kader konservasi pejuang yang gigih dengan tanpa melihat usia sebagai kendala untuk berkarya di bidang konservasi alam. Di usia senja beliau giat menghijaukan lingkungan dengan tanaman-tanaman langka melalui lembaga yang didirikannya Kelompok Penghijau Tanah Gersang dan Pelestari Tanaman Buah Langka (KPTG). Tidak sekedar menanam dan melestarikan, tetapi beliau juga aktif mengkampanyekan/ mensosialisasikannya melalui acara yang diasuhnya “Warung Kambiata” di salah satu radio swasta di Kota Medan. Buah dari kerja kerasnya tersebut , Pak Nakum (biasa dipanggil), menerima berbagai penghargaan, seperti Kader Konservasi Terbaik Tingkat Nasional Tahun 1995 yang menerima piala langsung dari Presiden RI Kedua, Soeharto, pada Pekan Penghijaun dan Konservasi Alam (PPKAN) di Banda Aceh, Penyuluh Kehutanan Swadaya Teladan Tingkat Nasional Tahun 1996 dari Menteri Kehutanan, serta Nominator (Unggulan) Peraih KEHATI Award 2001 Kategori “Citra Lestari Kehati” dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Tepat pada tanggal 25 Februari 2002, Pak Nakum berpulang menghadap sang Pencipta. Atas jasa-jasanya di Bidang Konservasi dan Pelestarian Lingkungan Hidup, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2002, Gubernur Sumatera Utara memberikan penghargaan kepada keluarga almarhum. (Alm). Pendeta Edy Anthoni Tondang, sosok kader konservasi alam yang berlatar belakang tokoh agama yaitu pendeta yang melayani di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Melalui tugas pelayanannya, beliau menyampaikan pesan-pesan konservasi alam kepada umat/jemaatnya. Selain itu beliau juga mengembangkan areal khusus yang dijadikannya sebagai kawasan hutan Bukit Hermon di Pematangsiantar. Di lokasi Bukit Hermon ini bukan hanya diperuntukkan untuk kegiatan wisata religi semata, tetapi juga ditujukan untuk mengedukasi pengunjung agar peduli lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon di areal yang telah disediakan, dengan menyiapkan bibit-bibit tanaman. Pak Anthoni Tondang pernah juga menjadi wakil rakyat (anggota dewan) di DPRD Simalungun. Namun pada tanggal 6 Desember 2020 yang lalu, beliau menghadap sang Pencipta. Meskipun secara fisik beliau tidak lagi ada di tengah-tengah kita, namun karyanya tetap dikenang baik oleh jemaatnya maupun masyarakat yang telah menyaksikan dan merasakan langsung karyanya. Sumber : Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara : Ida Marni, Samuel Siahaan, SP dan Evansus Renandi Manalu
Baca Artikel

BKSDA Kalimantan Selatan Tingkatan Kapasitas Kemitraan Konservasi Guna Pemulihkan Ekosistem di SM Kuala Lupak

Tabunganen, 4 Maret 2021 – Upaya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kalimantan Selatan dalam meningkatkan kapasitas kelompok kemitraan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak dilaksanakan di kantor Kecamatan Tabunganen. Tujuan dari kegiatan ini yaitu agar kekompakan kelompok tani tetap terjaga. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan didampingi oleh Camat, Kapolsek, Komandan Rayon Militer (Danramil) Tabunganen, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II, perwakilan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Kalimantan, Kepala Desa Kuala Lupak, Kepala Desa Sungai Telan Besar, serta anggota Kelompok Kemitraan Konservasi Suka Maju dan Mandiri Bersama. Namun, sebagian peserta yang hadir dibatasi demi mematuhi dan melaksanakan protokol kesehatan Covid-19. Dalam sambutannya, Camat Tabunganen Khairani, S.AP, MA mengapresiasi BKSDA Kalimantan Selatan yang telah banyak membantu masyarakat khususnya desa yang berada disekitar SM Kuala Lupak dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui kegiatan kemitraan konservasi. Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc selaku Kepala Balai Kalimantan Selatan didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si dan Kepala Resort KSDA SM Kuala Lupak Ahmad Barkati berharap dengan adanya kegiatan peningkatan kapasitas kelompok kemitraan konservasi ini dapat meningkatkan kesejahteraan dan memberikan konstribusi terhadap desa. Susanto, S.Hut selaku pemateri ”Dukungan dan Peran BPSKL dalam Kemitraan konservasi di Wilayah Kalimantan.” sekaligus mewakili Kepala BPSKL Wilayah Kalimantan juga menyampaikan harapannya dalam diskusi kelompok kemitraan agar adanya kemudahan dalam usaha meningkatkan ekonomi masyarakat dengan dukungan semua pihak. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan.
Baca Artikel

Bakti Rimbawan BKSDA Sultra Kepada Purna Bakti

Kendari, 16 Maret 2021. Memperingati Hari Bakti Rimbawan Tahun 2021 ke 38, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tenggara (BKSDA Sultra) mengadakan acara ramah tamah dengan Purna Bakti Rimbawan. Acara berlangsung di Aula BKSDA Sultra dengan hikmat dan sesuai standar protokol covid 19 yang dimulai dengan menyanyikan lagu Mars Rimbawan. Ini merupakan bentuk apresiasi BKSDA Sultra kepada para pegawai yang telah purna tugas atas dedikasi, loyalitas dan pengabdiannya selama bertahun-tahun hingga akhir masa baktinya sebagai ASN Kementerian LHK khususnya BKSDA Sultra. Kepala BKSDA Sultra Sakrianto Djawie, SP.,M.Si. mengatakan acara ini dilakukan untuk menghargai atas jasa para purna bakti rimbawan dalam mendedikasikan kerja mereka selama puluhan tahun untuk menjaga dan melestarikan kawasan kita. Bapak Djamaludin AP selaku perwakilan purna bakti rimbawan juga menyampaikan rasa terima kasih dan diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dari BKSDA Sultra kepada purna bakti rimbawan. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tenggara
Baca Artikel

Catatan Baru, Beluk Jampuk Ada Di Cagar Alam Pulau Sempu

Sidoarjo, 12 Maret 2021. Yaak .. yaak .. yaak … bunyi riuh Kangkareng perut-putih tiba-tiba memecahkan keheningan Cagar Alam Pulau Sempu, 9 Maret 2021. Saat itu tim Resort Konservasi Wilayah 21 Pulau Sempu Balai Besar KSDA Jawa Timur usai melakukan patroli rutin di Blok Pasir Putih dan hendak kembali ke Blok Waru-waru, tempat awal memulai patroli. Keriuhan itu mengundang tim untuk mendekati beberapa pohon besar yang ada di depan. Nampaknya beberapa Kankareng gusar dan berusaha mengusir sesuatu yang belum terlihat jelas. Tak menyia-nyiakan waktu, moncong-moncong kamera diarahkan ke sekitar tajuk pohon tersebut, untuk mencari tahu apa sebenarnya yang membuat para kangkareng resah. Tak berapa lama hasil jepretan Hari Purnomo membuahkan hasil sebuah penampakan baru. Setelah mencocokkan data dengan aplikasi burungnesia, ternyata keriuhan dan hasil jepretan mempertegas adanya Beluk Jampuk. Wajah sumringah terlihat jelas di wajah hari, karena dari database jenis aves di cagar alam ini belum pernah dijumpai burung hantu jenis ini. Bahkan beberapa kegiatan penelitian, eksplorasi, hingga inventarisasi satwa liar beberapa tahun sebelumnya, juga belum mencatat adanya perjumpaan dengan salah satu jenis burung pemangsa dari keluarga Strigidae ini. Pun demikian Buku Keanekaragaman Jenis Burung Di Cagar Alam Pulau Sempu yang dirilis Januari 2020, belum mencantumkannya juga. Meski berstatus konservasi resiko rendah (least concern), namun data perjumpaan yang terlapor pada burungnesia baru ada 10 tempat perjumpaan di Pulau Jawa dan Sumatera. Bagi Cagar Alam Pulau Sempu sendiri, perjumpaan ini tentu semakin mengukuhkan tentang betapa tingginya keanekaragaman hayati yang ada pada cagar alam seluas 877 hektar tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur Narasi : Agus Irwanto, Foto : Hari Purnomo
Baca Artikel

100 Bibit Mahoni Ramaikan Apel Penanaman Hari Bakti Rimbawan Papua Barat

Manokwari, 12 Maret 2021. "Mari Jaga Hutan, Maka Hutan Jaga Kita" begitu kutipan dari Gubernur Papua Barat yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, Hendrik Runaweri, saat apel Penanaman peringatan Hari Bakti Rimbawan ke 38, di kompleks perkantoran pemerintah daerah provinsi Papua Barat, Jumat, 12/3. Sebanyak 100 bibit Mahoni (Swietenia macrophylla), Tanjung (Mimusops elengi) dan Trembesi (Samanea saman) ditanam peserta dari UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan lingkup Provinsi Papua Barat (Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, BPHP Wilayah XVI, BPKH Wilayah XVII, BPDASHL Remu-Ransiki, Gakkum LHK Wilayah Maluku-Papua, BPPLHK, BPPIHKL Wilayah Maluku-Papua Bidang Wilayah II BBKSDA Papua Barat, SMK Kehutanan Manokwari), Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat, dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia. Kadis juga menyampaikan agar sebagai rimbawan sudah menjadi kewajiban moral untuk menjaga dan melestarikan alam tempat kita berpijak. “Tugas kita menyeimbangkan lingkungan, mari saling mendukung, apa yang kita lakukan sekarang kita jaga bersama. Kita hijaukan bumi, birukan langit demi kehidupan saat ini dan anak cucu kita akan datang, jangan kita tinggalkan mereka air mata tapi kita tinggalkan mereka mata air." Hari Bakti Rimbawan diperingati setiap tanggal 16 Maret yang tahun ini sudah ke 38 tahun, merupakan momentum para Rimbawan Indonesia untuk kembali menegaskan bahwa seorang rimbawan wajib menjaga dan melestarikan hutan dan lingkungannya. Tema yang diangkat dalam peringatan Hari Bakti Rimbawan tahun ini, “Terus Berbakti di Tengah Pandemi untuk Lingkungan dan Hutan Lestari”, menjadi gambaran nyata sikap rimbawan yang mampu terus menjaga semangat untuk tetap melangkah berjuang bersama menjaga Indonesia, lingkungan dan hutan lestari. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar dalam paparannya pada kegiatan workshop virtual Hari Bakti Rimbawan ke 38, 12/3, berpesan bahwa dalam rangka memutus rantai covid 19, ASN KLHK harus menjadi teladan dalam menerapkan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas). Walaupun suasana yang sulit seperti ini, kebahagian sekaligus kebanggaan tetap dirasakan melihat Rimbawan KLHK masih tetap beraktivitas dengan tujuan mulia yaitu bekerja, berkarya dan berbakti ditingkat tapak secara meluas untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keberlajutan hutan lestari kita Indonesia. Kita, rimbawan sepakat bahwa lingkungan dan hutan yang lestari harus dijaga kelestariaannya agar alam ini tetap mampu menyediakan kebutuhan hidup bagi seluruh kehidupan, manusia, hewan, tumbuhan, mengatur keseimbangan ekologi untuk mewujudkan kualitas hidup manusia. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Artikel

Burung Sempidan Biru Sumatra TN Batang Gadis

Panyabungan, 10 Maret 2021. Taman Nasional Batang Gadis menangkap keberadaan Sampidan biru Sumatra (Lophura ignita rufa) melalui hasil kamera trap di satu lokasi hutan dengan beberapa titik pemasangan kamera trap. Sejauh pemasangan kamera trap yang telah dilaksanakan tercatat baru tahun 2018 dan 2020, kamera trap menunjukkan keberadaan si burung dengan paras cantik ini. Pada tahun 2018, 4 kamera berhasil menangkap burung ini dengan total poto sebanyak 30 poto dari 8 kamera trap yang dipasang, sementara tahun 2020 ini, kamera hanya menangkap 1 video dari 5 kamera yang dipasang. Hilangnya hutan dan kerusakan habitat menjadi penyebab populasi alami burung ini semakin terancam. Meski IUCN mencatat status keterancaman Sempidan biru berada di Near Threatened (NT). Sebagai informasi, Sempidan biru dibagi menjadi 3 sub-species, yaitu: Lophura ignita ignita (Lesser Bornean Crested Fireback) yang tersebar di Kalimantan dan Pulau Bangka, Lophura ignita nobilis (Greater Bornean Crested Fireback) tersebar di Kalimantan dan Lophura ignita macartneyi (Delacour’s Crested Fireback) yang tersebar di Sumatera bagian tenggara. Satu sub-spesies lainnya, Lophura ignita rufa (Malay Crested Fireback) kini ditetapkan sebagai spesies tersendiri dengan nama Lophura rufa. Burung ini dulunya termasuk salah satu subspesies Sempidan Biru Lophura ignita yang tersebar luas di Kalimantan hingga pulau Bangka. Namun, kini ditetapkan sebagai spesies terpisah. Jenis unggas ini termasuk famili Phasianidae dengan ciri-ciri untuk yang jantan berjambul hitam; kulit muka biru; tunggir coklat berangan; ekor berwarna dua, sedangkan yang betina bulu utama coklat; kulit muka biru; bagian bawah bersisik putih. Unggas ini mengkonsumsi dedaunan, biji-bijian dan serangga. Tersebar luas di Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaya hingga pulau Sumatera dengan hutan primer dataran rendah yang tak terganggu. Burung ini jarang ditemukan pada ketinggian 1000 mdpl. Perbedaan antara Sempidan biru di Sumatera (Lophura ignita rufa) dan di Kalimantan (Lophura ignita nobilis) terletak pada ekor, kalau di Sumatera bagian ekornya berwarna putih dan hitam, sedangkan yang di Kalimantan bagian ekornya berwarna kuning dan hitam. Sumber : Ifham Fuadi Rambe - PEH Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Mengintip Penggiat Bibit Mangrove Kader Konservasi Binaan BBKSDA Sumut

Langkat, 9 Maret 2021. Seberapa berpengaruhnya pandemi Covid-19 terhadap aktivitas/ kegiatan kader konservasi, mendorong pembina kader konservasi Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Ida Marni dan Samuel Siahaan, SP. mengintip kegiatan beberapa kader konservasi khususnya di Kabupaten Langkat. Ternyata geliat kader konservasi tidak terdampak dengan pandemi covid-19, seperti apa geliatnya, mari ikuti kisahnya berikut ini. Adalah Mhd. Said, kader konservasi, kelahiran 1969, yang sejak kecil sampai saat ini hidup dilingkungan hutan mangrove, tepatnya di Kecamatan Secanggang, berdampingan dengan kawasan SM. Karanggading/Langkat Timur Laut. Kondisi hutan mangrove di sekitar lingkungannya rusak dengan berbagai aktivitas, seperti : perambahan, penebangan liar, pembuatan dapur arang dan tambak ikan/udang, serta dampak negatif yang timbul, kemudian membentuknya menjadi sosok yang peduli dengan penyelamatan kawasan dan ekosistem mangrove. Sejak itu, Mhd. Said mulai menggalakkan kegiatan pelestarian kawasan mangrove baik secara swadaya maupun kerjasama dengan instansi pemerintah guna mengembalikan fungsi hutan mangrove. Said juga ikut berperan serta menggerakkan masyarakat sebagai pendamping Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk menanam mangrove termasuk menyediakan bibit bakau Saat ini Said mengelola kegiatan pembibitan bakau di Desa Selotong, di areal seluas 5000 m² dengan kapasitas produksi bibit 600.000 batang. Kemudian di Desa Tanjung Ibus seluas 6000 m² dengan kapasitas bibit 800.000 batang bibit bakau. Sedangkan untuk penanaman mangrove di kawasan konservasi Suaka Margasatawa Karanggading /Langkat Timur Laut, areal penggunaan lain (APL), hutan produksi (HP) dan hutan lindung (HL) yang telah dilakukan bersama kelompok dampingannya seluas ± 5000 Ha., dan telah memproduksi bibit bakau sebanyak 7,5 juta bibit kurun waktu tahun 2003-2021. Kader konservasi berikutnya adalah Burhan yang juga binaan Mhd. Said, aktif dalam komunitas Kelompok Konservasi Kukam Hijau (K3H). Kegiatan utama Burhan adalah penghijauan di Desa Pasar VI Kuala Mencirim Kecamatan Sei Bingai. Pertama kali melakukan kegiatan penghijauan pada tanggal 18 Nopember 2013, saat menjabat Kepala Desa. Penghijauan ini dilakukan karena di desanya terjadi krisis pohon dan krisis air terutama Dusun VI Sri Rejo dan Dusun V Dame Rejo akibat dari adanya aktivitas tambang pasir iIlegal di bantaran sungai kukam dan Lahan HGU PTPN II. Aksi penanaman pohon yang dilakukannya bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Sumut, Balai Pengelolaan DAS Wampu Sei Ular, perguruan tinggi Pelita Bangsa Binjai, SMK Tunas Pelita dan Masyarakat Desa Pasar VI Kuala Mencirim, dengan sasaran penanaman jalan desa, tanggul irigasi serta bantaran sungai. Gerakan penghijauan dengan penanaman pohon juga dilakukannya di lahan kritis tambang pasir illegal. Burhan bersama rekan-rekan komunitasnya terus melakukan penanaman lanjutan walaupun kala itu ada intimidasi dan teror yang mereka terima dari oknum-oknum preman dan oknum aparat. Dengan sabar dan tekun serta menggandeng berbagai pihak, kini telah berhasil merawat dan menjaga tanaman lebih kurang 120 jenis pohon/tanaman/tumbuhan. Berkat kegiatan penghijauan tersebut, kini air sudah mudah diperoleh, kicauan burung sudah bisa didengar dan tentunya semakin hijaunya lahan yang dulunya kritis seluas ± 10 ha. Saat ini berbagai komunitas, sekolah, serta pejabat pemerintah sudah meninjau lokasi ini dan melaksanakan berbagai kegiatan. Di setiap kunjungan, Burhan selalu menyuluh pentingnya menanam pohon. Kader konservasi yang terakhir dikunjungi adalah Purnama Ginting penggiat konservasi yang beralamat di Desa Garunggang, Kecamatan Kuala, aktif dalam kegiatan Konservasi di sekitar dan di Taman Nasional Gunung Leuser khususnya Resort Bekancan dari tahun 2010 sampai sekarang. Beberapa aktivitas lainnya yang dilakukannya seperti mendirikan Lembaga Pariwisata Simelir Erdilo di Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat yang kini wisata alamnya berkembang sangat pesat. Selain itu, melakukan kegiatan reboisasi lahan dengan penanaman tanaman produktif seluas 150 Ha di Dusun Sigamang, Desa Belinteng, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat pada Tahun 2011 – 2014, penyuluhan kepada masyarakat, dan bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser aktif membagi bibit pohon hutan serta tanaman produktif seperti mahoni, sengon, durian, pokat, mangga dan aren kepada masyarakat Langkat Hulu dari tahun 2013 sampai sekarang. Saat ini Purnama yang aktif sebagai Kepala Desa Garunggang, menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan seluruh potensi alam menjadi objek wisata dan mengedukasi masyarakat Desa Garunggang untuk mengganti tanaman sawit menjadi tanaman produktif dengan target 150 Ha, dimana 15 Ha telah terealisasi. Demikianlah geliat beberapa kader konservasi yang meskipun kondisi pandemi covid-19, namun semangat untuk berbuat bagi kelestarian alam dan lingkungan tidak terdampak bahkan tetap membara dengan terus melakukan karya-karya nyata. Semoga ini menjadi inspirasi bagi kita untuk terus berbuat yang terbaik bagi alam. Sumber : Ida Marni dan Samuel Siahaan, SP., Staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Selamat, BBKSDA Papua Raih Prestasi di KPKNL Jayapura Awards 2021

Jayapura, 9 Maret 2021 – BBKSDA Papua raih peringkat ketiga pada penghargaan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jayapura Awards 2021 sebagai kategori Tertib Revaluasi BMN (Barang Milik Negara) tahun anggaran 2020. Penghargaan tersebut diberikan kepada para pengguna layanan KPKNL Jayapura yang loyal dan berprestasi melalui zoom meeting pada Selasa, 9 Maret 2021. Dalam pertemuan tersebut, KPKNL menuturkan bahwa terdapat 4 kriteria penilaian dalam kategori Tertib Revaluasi BMN. Pertama, komunikatif dalam koordinasi dengan tim revaluasi BMN. Kedua, ketepatan waktu pengumpulan form-form pendataan. Ketiga, kerapian dan kelengkapan data dalam penyusunan form pendataan. Keempat, jumlah Nomor Urut Pendaftaran (NUP). Tim BMN BBKSDA Papua menjelaskan, bahwa di semua satker tengah diperiksa kembali aset tetap terhadap BMN berupa tanah dan gedung bangunan. Proses pengumpulan data BMN di lingkup BBKSDA Papua telah dimulai sejak akhir 2019 lalu. Tahapannya cukup panjang, mulai penyiapan berkas-berkas administrasi penilaian, penyusunan LHIP (Laporan Hasil Inventarisasi dan Penilaian), sampai terbit BAR IP (Berita Acara Rekonsiliasi Inventarisasi dan Penilaian). “Bentuknya formulir-formulir, yang kita isi lalu diserahkan ke KPKNL Jayapura. Di situ mencatat, misalnya suatu aset diperoleh dari mana, tahun berapa, letaknya di mana, ukurannya berapa, digunakan untuk apa. Ya, data-data semacam itu yang kita lengkapi.” Ujar tim BMN BBKSDA Papua Edward Sembiring selaku Kepala BBKSDA Papua, menyampaikan terima kasih kepada KPKNL Jayapura atas sinergi yang telah terjalin dengan baik selama ini. Beliau juga mengungkapkan apresiasi kepada tim BMN BBKSDA Papua yang telah berupaya memenuhi semua data dukung untuk diserahkan ke KPKNL Jayapura. “Selamat kepada tim BMN BBKSDA Papua yang telah meraih KPKNL Award 2021. Semoga ini menjadi titik semangat baru, dan ke depannya dapat bekerja lebih maksimal lagi,” ungkap Edward. Sumber : BBKSDA Papua
Baca Artikel

Elang Jawa di Langit Sore Sarongge

Cianjur, 8 Maret 2021. Resort PTN Sarongge Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Gedeh, Bidang PTN Wilayah I Cianjur Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) bersama-sama dengan personil PEH Bidang PTN I Cianjur melakukan kegiatan monitoring populasi elang Jawa tahap I tahun 2021 (04/03/2021) dan berhasil memonitor 1 (satu) individu elang Jawa muda di salah satu blok Resort Sarongge. Saat pengamatan, elang Jawa tersebut bertengger pada pohon Tunggeureuk (Castanopsis tunggurut) dengan jarak pengamatan sekitar 30 meter. Selama kurang lebih hampir 1 jam dari pkl. 09.45 sampai 10.45 WIB, berhasil diamati perilakunya seperti menyelisik, mengawasi sekitarnya, mengawasi buruannya bahkan sampai buang kotorannya dan berhasil didokumentasikan dalam bentuk video. Selain temuan elang Jawa muda tersebut, juga sempat dijumpai 1 (satu) individu elang Jawa dewasa di blok yang sama berdasarkan informasi dari mahasiswa Universtas Negeri Jakarta (UNJ) yang didampingi oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Resort PTN Sarongge Sdr. Encep. Blok ini merupakan salah satu site monitoring elang Jawa di Resort Sarongge, namun monitoring secara intensif dilakukan juga di blok lainnya. Dengan termonitornya elang Jawa di Sarongge ini, merupakan salah satu indikator bahwa kondisi kawasan di wilayah Resort PTN Sarongge khususnya dan wilayah TNGGP pada umumnya baik. Keberadaan elang Jawa pada suatu habitat dapat menunjukkan bahwa ekosistem masih baik. Sebagai pemangsa puncak dalam rantai makanan, elang Jawa dapat berperan untuk mengatur jumlah binatang lain yang menjadi mangsanya di alam, dengan demikian di dalam ekosistem elang Jawa berfungsi sebagai makhluk yang mampu mempertahankan keseimbangan alam. Elang Jawa juga dapat menjadi indikator kebersihan dan mutu lingkungan. Pada lingkungan yang tercemar elang Jawa merupakan jenis satwa sangat rentan bahkan yang pertama tersingkir atau bahkan menghilang. Polusi apapun akan langsung meracuni elang Jawa dan atau menghambat proses pembiakannya. Elang Jawa termasuk salah satu burung pemangsa yang dilindungi. Sejarah mencatat bahwa status perlindungan elang Jawa di Indonesia dimulai sejak tahun 1970 melalui Surat Kepmentan Nomor 421/Kpts/Um/8/1970 yang diterbitkan pada tanggal 26 Agustus 1970. Karena langka dan terancam punah maka elang Jawa mendapat perlindungan tambahan dalam pasal 21 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 dengan sanksi hukuman denda sebesar Rp. 100 juta dan hukuman kurungan maksimal lima tahun. Diperkuat lagi dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1993 pada tanggal 10 Januari 1993 yang menetapkan elang Jawa sebagai burung nasional dan lambang spesies langka. Pada perlindungan tingkat Internasional elang Jawa termasuk dalam daftar CITES Lampiran II, yang melarang seluruh perdagangan international tanpa adanya ijin. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks dan Foto: Asep Hasbilah - PEH Bidang PTN Wilayah I Cianjur, BBTNGGP
Baca Artikel

BBTN Kerinci Seblat Apel Siaga Penanggulangan Karhutla

Merangin, 8 Maret 2021. Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) berpartisipasi pada apel kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tahun 2021 di lapangan apel Polres Merangin. Apel dipimpin Wakil Bupati Merangin Bpk. Mashuri yang dihadiri juga oleh Kapolres Merangin, Kodim Sarko, Kajari Merangin, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), BPBD, OPD Kabupaten Merangin antara lain Damkar, SatPol PP, UPTD KPHP Merangin, Manggala Agni Daops Sumatera XIII, berikut jajaran, personil dan tamu undangan. Sebagai antisipasi dini terhadap kebakaran hutan dan lahan, Bupati Merangin menyampaikan agar semua pihak mengutamakan keselamatan dalam segala kegiatan; melarang kegiatan pembukaan perkebunan dengan cara membakar lahan; melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang dampak kebakaran hutan dan lahan dan melakukan kesiapsiagaan personil dan peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Tak hanya apel dan pengarahan, Bupati juga melakukan pengecekan personil dan peralatan pemadam kebakaran yang dimiliki oleh Polres Merangin, Damkar, Daops, BBTNKS, dan KPHP Merangin. Diharapkan sinergi antar pihak dan instansi bersama dengan seluruh masyarakat dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Merangin. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Artikel

BBKSDA Papua Pantau Terus Penanganan Karhutla

Merauke, 7 Maret 2021 – Balai Besar KSDA Papua melalui Bidang Konsevasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Merauke telah melakukan patroli rutin baik untuk pencegahan maupun pemadaman karhutla. Pada tahun 2020, patroli karhutla berlangsung di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Dolok bagian utara, Suaka Margasatwa Pulau Pombo, dan Suaka Margasatwa Pulau Komolom. Tim patroli karhutla terdiri dari pegawai Bidang KSDA Wilayah I Merauke, anggota Resort Kimaam, dan anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Gariyaka. Tim patroli karhutla melaporkan bahwa tahun 2020 tidak terdapat titik api di tiga kawasan Suaka Margasatwa. Namun, mereka mendapati titik api serta sisa kebakaran hutan dan lahan seluas sekitar satu hektar di kawasan penyangga Suaka Margasatwa Pulau Dolok bagian utara. Titik api dan sisa kahutla tersebut tepatnya di Kampung Mambun, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke. Tim patroli juga mengumpulkan masyarakat setempat dan memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga kawasan dari karhutla. Sementara pada titik-titik api yang tersisa, tim memadamkannya menggunakan ranting-ranting pohon. Namun demikian, beberapa titik api masih terpantau di bagian selatan Suaka Margasatwa Pulau Dolok. Beberapa lokasi rawan kebakaran di bagian selatan tersebut masih sulit dijangkau oleh petugas. Itu karena akses yang sulit dari Distrik Kimaam, yang merupakan pangkalan petugas Resort Kimaam, BBKSDA Papua. Sebagai informasi, Papua memiliki riwayat panjang tentang kebakaran hutan dan lahan. Papua masih termasuk 10 besar dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Bahkan Papua merupakan salah satu dari tiga provinsi dengan karhutla terluas di Indonesia pada tahun 2020. Di antara titik rawan karhutla di Papua adalah Kabupaten Merauke, yang menduduki posisi pertama dalam jumlah titik panas hingga tahun 2020. Padahal Merauke akan menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan PON XX, yang rencananya digelar pada Oktober hingga November 2021. Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823 9802 9978
Baca Artikel

Kepak Sayap Sang Garuda di Lereng Gunung Pangrango

Cibodas, 5 Maret 2021. Elang Jawa sang garuda, menampakkan dirinya saat tim Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) melakukan giat patroli kawasan pada awal bulan Maret 2021 di Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Cisarua, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Perjumpaan satwa ini sering dijadikan indikasi masih terjaganya lingkungan di sekitarnya, karena karakteristik elang Jawa cukup sensitif terhadap perubahan lingkungan. Selain itu, perjumpaan elang Jawa di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diduga terkait dengan kesesuaian habitatnya, seperti ketersediaan pakan (prey) serta tutupan lahan yang masih baik. Momen ini pun tidak disia-siakan tim untuk menangkap gambar satwa tersebut. Kepala Resort PTN Cisarua, Ayi Rustiadi, bergegas mengambil kamera, membidikan fokus dan memotretnya. Namun, posisinya masih terlalu jauh dari "Sang Garuda". Salah satu anggota tim patroli lainnya, Ilham Syahida Rohman mencoba mendekatinya agar mendapatkan foto yang lebih baik. Dan akhirnya berhasil mengabadikan momen langka tersebut. Kegiatan monitoring populasi elang Jawa dilakukan secara berkala di TNGGP, namun masih diperlukan time series data yang lebih panjang dan pengambilan contoh yang lebih luas untuk dapat mengetahui data populasi yang lebih akurat. Pada sisi lain, kegiatan penelitian yang melibatkan akademisi maupun peneliti masih sangat jarang. Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu burung pemangsa endemik pulau Jawa dengan status terancam punah (IUCN, 2017). Satwa ini termasuk tiga spesies yang menjadi satwa prioritas di TNGGP untuk ditingkatkan populasinya selain owa Jawa dan macan tutul Jawa. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks & foto oleh: Ayi Rustiadi (@ayiexxx) dan Ilham Syahida Rohman (@duraliem_muda)
Baca Artikel

“Menengok” Kemitraan Konservasi Bagian Dari Pemulihan Ekosistem Di TWA Bukit Kaba

Jakarta, 5 Maret 2021. Tim Direktorat Kawasan Konservasi yang dipimpin Kepala Subdit Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi Dr. U. Mamat Rahmat, S.Hut, MP mengadakan kunjungan ke beberapa kelompok tani yang tergabung dalam kemitraan konservasi di Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba yang merupakan salah satu wilayah kerja Seksi Konservasi Wil. I Curup Balai KSDA Bengkulu. Kedatangan tim dari Direktorat KK untuk bimbingan teknis pemulihan ekosistem serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan kemitraan konservasi khususnya pemulihan ekosistem. Sebelum kunjungan ke lokasi kemitraan konservasi, dilaksanakan bimbingan teknis pemulihan ekosistem di kantor Balai KSDA Bengkulu melalui tatap muka dan virtual dengan rekan-rekan di seksi wilayah. Bimbingan teknis dibuka langsung oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu. Dalam arahannya, Kepala Balai KSDA Bengkulu menyampaikan bahwa saat ini terdapat 9 kelompok tani yang tergabung dalam kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem di TWA Bukit Kaba yang berada di dua Kabupaten yaitu 4 kelompok berada di Kabupaten Kepahiang (Desa Sukasari dan Desa Bandung Jaya) dan 5 kelompok berada di Kabupaten Rejang lebong (Desa IV Suku Menanti). Kemitraan koservasi dalam rangka pemulihan ekosistem di TWA Bukit Kaba dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama (PKS) dan sudah ditindaklanjuti dengan penyusun Rencana Pelaksanan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) pada tahun 2019. Kunjungan tim Direktorat KK disambut hangat oleh kelompok tani, mereka menaruh harapan adanya bimbingan dan arahan dari pusat untuk memaksimalkan kegiatan pemulihan ekosistem di areal kerja tanaman kopi yang mereka garap. Hal ini didasari atas, belum maksimalnya pertumbuhan jenis tanaman hutan yang ditanam. Berbekal dari bibit yang diperoleh dari BPDAS dan BPTH bibit-bibit yang ditanam ternyata tidak semua dapat tumbuh dengan baik. Terdapat jenis-jenis tanaman yang tidak cocok pada lokasi Garapan kelompok tani. Disamping itu adanya keinginan kelompok tani untuk menanam dengan jenis tanaman hutan lainnya terutama dengan jenis MPTS untuk mengganti tanaman yang tidak cocok pada areal tersebut. Dalam arahannya, Kepala Subdit PEKK menyampaikan, agar selalu memonitor bibit-bibit yang ditanam, jika tidak dapat tumbuh dengan baik atau mati harus dicatat dan dievaluasi dan penyulamannya diganti dengan bibit lain yang cocok dan mudah beradaptasi. Disamping itu Kabusidt PEKK juga menyampaikan kelompok tani tetap harus konsisten denga isi PKS yang telah disepakati dimana komitmen tidak akan memperluas areal Garapan dan membantu petugas dalam perlindungan hutan. Sementara itu dalam upaya pemberdayaan masyarakat, Balai KSDA Bengkulu diharapkan lebih intensif berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya seperti dinas pertanian, dinas peternakan, dinas UMKM, litbang dsb bagaimana bisa memaksimalkan produktifitas pertanian kelompok masyarakat sekitar TWA Bukit Kaba Pihak Balai KSDA Bengkulu menyampaikan dengan adanya kemitraan konservasi, masyarakat yang tadinya main “kucing-kucingan” dengan petugas sekarang sudah mau bekerja sama dengan petugas lapangan ikut membantu dalam perlindungan hutan di TWA Bukit Kaba. Bahkan baru-baru ini masyarakat turut mengusir perambah yang masuk ke TWA Bukit Kaba. Terlepas dari belum maksimalnya pelaksanaan kemitraan konservasi di TWA Bukit Kaba yang baru berjalan 2 tahun, Balai BKSDA Bengkulu tetap berkomitmen untuk berinovasi dan mencarikan solusi terbaik dalam upaya mensejahterakan masyarakat sekitar dan melestarikan hutan TWA Bukit Kaba. Sumber : Resi Diniyanti - PEH Muda Direktorat Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Melihat Sejauh Mana Efektivitas Pengelolaan TN Kerinci Seblat

Sungai Penuh, 04 Maret 2021. Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) didukung oleh FFI – IP menyelenggarakan kegiatan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (METT) Lingkup Balai Besar TNKS di Hotel Grand Kerinci tanggal 4-5 Maret 2021. Kegiatan penilaian efektivitas pengelolaan ini merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan untuk melihat sejauh mana pengelolaan TNKS yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan pengelolaan kawasan yang telah ditetapkan. BBTNKS memperoleh nilai METT 79 dan dari hasil penilaian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan perbaikan yang perlu dilakukan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Metode penilaian yang digunakan pada kegiatan ini yaitu menggunakan METT (Management Effectiveness Tracking Tool) dimana terdapat 6 elemen penilaian yang dievaluasi yaitu konteks, perencanaan, input, proses-proses, output, dan hasil akhir sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : P.12/KSDAE/SET/KUM.1/12/2017 tentang Pedoman Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi. Kegiatan ini turut dihadiri beberapa mitra antara lain FFI– IP, Pemerintahan Daerah, ICS, Lingkar Institute, FP II, dan PIU Sumatran Tiger Project Lanscape TNKS. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Artikel

Menggemaskan, Si Mata Belok Menampakkan Diri di Resort Camp Leakey

Pangkalan Bun, 4 Maret 2021 – Mengawali bulan Maret 2021, kabar datang dari staf Resort Camp Leakey (Sdr. M. Arief dan Sdr. Imam) yang bertatap muka langsung dengan satwa yang dikenal pemalu dan senang menjelajah kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) dimalam hari. Penjelajah malam hari itu dikenal dengan nama Tarsius (Cephalopachus bancanus borneanus). Tarsius Kalimantan merupakan endemik Kalimantan dan keberadaannya saat ini dikategorikan rentan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Tarsius juga merupakan salah satu dari 25 spesies primata yang paling terancam punah di dunia. Spesies menggemaskan ini termasuk sulit dijumpai di kawasan TNTP karena kelincahan dan aktif pada malam hari sehingga menjadi suatu anugerah alam ketika dapat melihatnya secara langsung. Pada tanggal 16 Februari 2021, kisah kedua staf Resort Camp Leakey yang tidak sengaja bertemu dengan salah satu penghuni nocturnal di Kawasan TNTP ini ketika sedang melakukan patroli malam di sekitar kawasan Resort Camp Leakey. Moment yang tak biasa tersebut langsung didokumentasikan dalam bentuk foto dan video dengan smartphone pribadi mereka. Data perjumpaan satwa langka ini juga tak lupa mereka input pada aplikasi SITANPAN. Kokohnya vegetasi dan hijaunya rimbunan dedaunan di kawasan TNTP membuat satwa kecil dan menggemaskan ini betah untuk tinggal. Penting terjaganya kelestarian ekosistem di Kawasan TNTP agar nantinya kita tak hanya melihat foto dan gambarnya saja, namun masih tetap melihat mereka aman di alam. Sumber: Balai TN Tanjung Puting

Menampilkan 1.969–1.984 dari 2.046 publikasi