Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Ngobrol Santai Konservasi Dalam Rangka HCPSN 2020

Jakarta, 5 November 2020 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta Bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menyelenggarakan Ngonser atau ngobrol santai konservasi dalam rangka Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) pada tanggal 5 November 2020. Acara yang digelar secara daring tersebut mengambil tema “Mangrove Rumah bagi Puspa dan Satwa” serta diikuti oleh 30 peserta yang meliputi para pemerhati puspa dan satwa dari berbagai daerah. “Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional ini menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita,” jelas Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Jakarta Ida Harwati pada saat membuka acara Ngonser. Ida menambahkan terkait tema yang diusung dalam Ngonser kali ini yaitu tentang arti penting ekosistem mangrove. Bahwa mangrove merupakan rumah bagi aneka ragam puspa dan satwa yang harus dijaga kelestariannya. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem paling produktif di bumi. Di Jakarta masih terdapat gugusan hutan mangrove yang berada di Kelompok Hutan Angke Kapuk yang terdiri dari Suaka Margasatwa Muara Angke, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, dan Hutan Lindung. Kawasan hutan mangrove di wilayah Provinsi DKI Jakarta seluas 576,608 Ha menjadi kawasan yang memiliki nilai penting di kawasan jakarta sehingga, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui BKSDA Jakarta menaruh perhatian besar untuk melestarikan ekosistem mangrove tersebut. BKSDA Jakarta bersama YKAN dan para pemangku kepentingan lainnya melalui platform Mangrove Ecosystem Restoration Alliances (MERA) selalu aktif mengajak seluruh elemen masyarakat untuk peduli upaya pelestarian ekosistem mangrove. “Ekosistem mangrove yang sehat mendukung produktivitas perikanan, memberikan sumber pendapatan, perlindungan, serta berkontribusi pada ketahanan pangan dan sosial,” pungkas Muhammad Imran Amin, selaku Direktur Program MERA YKAN. Sumber: Balai KSDA DKI Jakarta
Baca Artikel

Menjaga Asa Kepedulian Terhadap Satwa Liar

Beberapa jenis satwa liar penyerahan masyarakat ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 5 Nopember 2020 - Kepedulian masyarakat Sumatera Utara terhadap satwa liar, semakin hari semakin baik. Dalam pemberitaan yang diekspose di media website Balai Besar KSDA Sumatera Utara, terlihat tingginya animo masyarakat yang menyerahkan satwa liar, khususnya jenis yang dilindungi, kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, untuk nantinya direhabilitasi dan dilepasliarkan (release) kembali ke habitatnya. Tercatat sedikitnya ada 30 ekor satwa liar berbagai jenis yang diserahkan sepanjang bulan Januari 2020 sampai dengan Oktober 2020. Ragam jenis tersebut diantaranya : Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) sebanyak 8 ekor, Kucing Hutan/Kucing Kuwuk (Felis bengalensis) 11 ekor, Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) 4 ekor, Kakatua Jambul Kuning (Cacatua galerita) 2 ekor, Elang Bondol (Haliastur indus) 1 ekor, Nuri Maluku 1 ekor, Elang Laut Dada Putih (Haliaeetus leucogaster) 1 ekor, Binturong (Arctistis binturong) 1 ekor dan Trenggiling (Manis javanica) 1 ekor. Masyarakat yang terpanggil dan peduli ini tidak hanya berada di Kota Medan saja, tetapi juga menyebar di beberapa kota/kabupaten di Propinsi Sumatera Utara, seperti : Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi, Kota Pematangsiantar dan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan. Warga yang menyerahkan satwa kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dari keterangan yang dikumpulkan, pada umumnya masyarakat awalnya tak mengetahui bila satwa peliharaannya tersebut termasuk jenis dilindungi. Namun setelah mendapat pencerahan baik dari warga lainnya, lembaga mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera maupun dari berbagai media informasi termasuk diantaranya media website Balai Besar KSDA Sumatera Utara, mendorong warga untuk secara sukarela menyerahkan satwa-satwa tersebut. Meningkatnya kepedulian warga tersebut menjadi catatan penting dalam memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) Tahun 2020, yang biasa diperingati setiap tanggal 5 Nopember setiap tahunnya. Pendekatan edukasi (pendidikan) dan awarness (penyadaran) menjadi solusi yang efektif. Bentuk kepedulian masyarakat selama ini, juga merupakan buah dari edukasi dan awarness. Sosialisasi yang intens tentunya akan menjangkau masyarakat lebih luas lagi. Untuk itu ke depan perlu dikemas model-model edukasi yang interaktif dan menarik, sehingga mendorong warga bukan hanya dengan sukarela menyerahkan satwa liar peliharaannya, tetapi juga menjadikan mereka sebagai mediator untuk menumbuhkan kepedulian warga lainnya. Pendekatan-pendekatan ini perlu dilakukan secara komprehensif dan kolaboratif, dengan melibatkan berbagai komponen yang bukan hanya dari instansi pemerintah terkait, melainkan juga mengikut sertakan komunitas/lembaga-lembaga nirlaba yang konsern dengan pelestarian satwa liar, dan juga berbagai media baik cetak, elektronik, on-line maupun media sosial. Kiranya peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional Tahun 2020 ini menjadi momentum penting untuk terus menerus menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa “manifestasi (bentuk) mencintai satwa liar bukanlah dengan cara meninabobokkannya dalam sebuah sangkar, memberinya kenyamanan dan kenikmatan yang semu, karena cara-cara ini akan menjadikannya terkekang, tersiksa dan tidak berkembang. Tapi mari cintai lah satwa liar dengan memberinya kebebasan hidup di habitatnya, sehingga dia akan bertumbuh serta berkembang biak dengan baik secara alami” Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Data) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

KTH Kupu Kupu Kampung Susweni Merajut Noken, Lestarikan Budaya Papua

Manokwari, Oktober 2020. Pendampingan Kelompok Tani Hutan (KTH) merupakan proses dalam penyuluhan kehutanan dalam rangka pembinaan KTH yang dilakukan secara terus- menerus sehingga mencapai kemandirian dan kesejahteraan kelompok. Pendampingan KTH menjadi penting untuk dilakukan dalam kegiatan pembangunan kehutanan. Dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan konservasi TWA Gunung Meja, Balai Besar KSDA Papua Barat mendorong peningkatan kesejahteraan masayarakat melalui pemberian Bantuan Usaha Ekonomi Produktif tahun anggaran 2020 kepada Desa Binaan di Manokwari melalui Kelompok Tani Hutan, salah satu diantaranya yaitu KTH Kupu Kupu Kampung Susweni di Manokwari. Mengenal lebih jauh, KTH Kupu Kupu kampung Susweni merupakan organisasi yang dibentuk sebagai wadah kegiatan penyuluhan kehutanan terhadap kelompok tani binaan Balai Besar KSDA Papua Barat yang berada di daerah penyangga kawasan konservasi TWA Gunung Meja. KTH Kupu Kupu terletak di kampung Susweni yang merupakan salah satu desa penyangga kawasan konservasi TWA Gunung Meja yang dibentuk pada agustus 2018 di Manokwari. Anggota KTH Kupu Kupu Susweni saat ini berjumlah 20 orang dan merupakan masyarakat yang tinggal menetap di kampung Susweni dimana mayoritas masyarakatnya merupakan suku Meyakh. Suku Meyakh merupakan salah satu kelompok suku yang tergabung dalam suku besar Arfak. Sebagian lainnya merupakan masyarakat pendatang yang berasal dari Buton, Jawa dan Sulawesi. Masyarakat kampung susweni memiliki mata pencaharian yang cukup beragam yaitu sebagai petani, pedagang, pegawai negeri dan karyawan swasta. Sebagian besar masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai petani dengan hasil tani berupa sayur-sayuran seperti sawi, kangkung, terong, rica/cabe dan buah-buahan seperti rambutan dan langsat. Selain bertani, beberapa masyarakat kampung memiliki kemampuan membuat kerajinan tangan khas papua yaitu noken. Noken adalah kerajinan tangan khas suku Papua yang berbentuk tas, terbuat dari benang yang dipilin dengan teknik tertentu sehingga menjadi jaring yang berfungsi sebagai kantong multifungsi. Sejak desember 2012, noken khas masyarakat papua telah resmi tercatat dalam daftar warisan kebudayaan tak benda UNESCO. Masyarakat Papua di Manokwari mengenal 2 (dua) jenis noken yang dibedakan berdasarkan jenis benangnya yaitu noken yang terbuat dari serat tumbuhan jenis nenas, melinjo, anggrak, dan akar-akan tanaman dan noken yang terbuat dari benang polycherry, yang disebut juga noken benang toko. Saat ini banyak pengrajin noken yang telah menggunakan benang polycherry sebagai bahan dasar noken hal ini disebabkan karena benang polycherry lebih mudah didapatkan, namun tidak sedikit juga pengrajin yang memproduksi noken serat tumbuhan. Uniknya, variasi-variasi yang terdapat pada noken menunjukkan daerah atau suku tertentu dimana noken itu berasal. Umumnya masyarakat papua menggunakan noken sebagai tas untuk menyimpan barang-barang bawaan hasil kebun berupa sayur-sayuran dan buah-buahan, menggendong bayi maupun hewan ternak babi hal ini karena bentuk noken yang elastis yang dapat menyesuaikan dengan barang bawaan. Masyarakat kampung Susweni memiliki keterampilan untuk membuat noken dari bahan serat nenas, serat melinjo dan benang polycherry. Proses pembuatan noken dari bahan serat nenas dan melinjo memerlukan proses pengerjaan yang lebih lama dibandingkan dengan benang polycherry hal ini dikarenakan bahan baku serat nenas dan melinjo perlu diolah terlebih dahulu sehingga menjadi helaian-helaian benang yang selanjutnya dilakukan pemintalan, yaitu 2 helaian benang diletakkan di bagian paha kaki sambil digulung menggunakan tangan sampai semua bagian tergulung menjadi benang yang lebih tebal kemudian dianyam. Proses penganyaman benang serat nenas dan melinjo masih dilakukan secara tradisional yaitu menggunakan tangan tanpa menggunakan jarum, sedangkan proses penganyaman noken benang polycherry menggunakan jarum anyam hakpen. Noken yang dibuat dari serat tumbuh-tumbuhan berwarna polos, untuk menambah keindahan sehingga tampak bervariasi, biasanya masyarakat kampung Susweni memberikan pewarnaan pada noken sebagai sentuhan akhir. Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami yang berasal dari bagian biji dan daun tumbuh-tumbuhan jenis tertentu atau pewarna tekstil yang tahan lama. Warna-warna yang digunakan adalah warna-warna terang yang dipadukan sedemikian rupa sehingga tampak indah dipandang mata. Selain memiliki nilai budaya, saat ini noken menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi karena memiliki kegunaan seperti kantong dan cinderamata. Di Papua dan Papua Barat noken meruapakan salah satu benda yang digunakan sebagai simbol selamat datang, selamat jalan ataupun sebagai pemberian hadiah kepada kerabat. Noken banyak dijual di pasar-pasar tradisional, toko-toko souvenir atau pun di depan rumah-rumah masyarakat yang membuat noken. Noken yang dijual memiliki ukuran dan model yang beravariasi mulai dari ukuran kecil hingga besar dengan harga yang berbeda di setiap ukurannya. Noken berbahan dasar serat tumbuhan dijual dengan harga mulai dari Rp. 150.000,00 dan noken benang polycherry dijual dengan harga mulai dari Rp. 100.000,00. Hingga kini KTH Kupu Kupu kampung susweni terus memproduksi noken serat nenas, serat melinjo dan benang polycherry, dengan adanya produksi noken oleh KTH diharapkan KTH dapat mengembangkan warisan budaya noken sebagai salah satu hasil kerajinan tangan bangsa Indonesa di tanah Papua dan dapat meningkatkan kesejahteraan anggota KTH. Sumber : Meyanti Toding Buak, S.Si - Calon Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Artikel

KEE Taima Benteng Biodiversity

Palu, 2 November 2020. Kali ini Balai KSDA Sulawesi Tengah akan memperkenalkan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang menjadi habitat burung maleo dan penyu. Kawasan ini terletak di Desa Taima Kec. Bualemo Kab. Banggai Prov. Sulawesi Tengah yang berjarak lebih kurang 150km dari Kota Luwuk dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan tempuh diperkirakan 2,5 jam hingga 3 jam. Sepanjang perjalanan mata kita akan disuguhkan pemandangan indah Teluk Poh dan berbagai aktivitas masyarakat desa. Ekosistem esensial adalah kawasan dengan ekosistem yang berada diluar kawasan konservasi baik yang merupakan tanah hak maupun bukan hak. Yang secara ekologis penting bagi konservasi keanekaragaman hayati, yang karena potensi keanekaragaman hayatinya atau karena merupakan penghubung dua atau lebih kawasan konservasi atau habitat spesies penting atau merupakan penyangga kawasan konservasi yang secara teknis tidak atau belum dapat ditetapkan sebagai kawasan konservasi dan dikelola seperti atau untuk tujuan mendukung konservasi keanekaragaman hayati. Keberadaan konservasi tersebut menjadi unik dan khas karena memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi, akan tetapi berada diluar sistem kawasan konservasi, baik kawasan suaka alam ataupun kawasan pelestarian alam. Namun ekosistem tersebut juga menghadapi tekanan yang sangat tinggi dengan berbagai kompleksitas dalam pengelolaan, sehingga perlu didorong upaya konservasinya. Kronologi Penetapan KEE Taima Sejalan dengan Inpres No. 3 Tahun 2010 tentang Pembangunan yang berkelanjutan, KEE Taima merupakan salah satu pembangunan yang berkelanjutan yang proses identifikasi dan inventarisasi didukung oleh Direktorat Jenderal KSDAE, BKSDA Sulawesi Tengah, Dinas Kehutanan Prov. Sulawesi Tengah, Pemerintah Daerah Kab. Banggai, Insatansi terkait, Akademisi, Organisasi Lingkungan Hidup, serta masyarakat setempat. Kronologis pengelolaan Kawasan Ekosistem Esesensial (KEE) di Desa Taima Kec. Bualemo Kab. Banggai adalah sebagai berikut : Begitu besarnya dukungan dari pemerintah, OLH maupun masyarakat terhadap KEE Taima dengan harapan KEE Taima sebagai benteng Biodiversity agar tetap lestari dan kita semua dapat menjaga alam yang merupakan warisan terbesar yang hakiki untuk generasi kita. Sumber : I Nyoman Ardika - Polhut Pelaksana Lanjutan dan Siti Wulandari - PEH Pelaksana Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Artikel

Inovasi Penetasan Telur Burung Maleo

Mitos tentang telur Burung Maleo (Macrocephalon maleo M?ller, 1846) yang tidak dapat ditetaskan di luar habitat telah terbantahkan dengan ditemukannya cara melaksanakan penetasan telur burung maleo dengan menggunakan inkubator dengan daya tetas yang tinggi yaitu di atas 70% (Tanari, 2007). Memanfaatkan inovasi tersebut, BKSDA Sulawesi Tengah bersama PT. Donggi Senoro LNG dan PT. Panca Amara Utama, melakukan kerjasama pelestarian Burung Maleo di Kabupaten Banggai Propinsi Sulawesi Tengah diluar habitat alaminya. Telur Burung Maleo yang berasal dari luar kawasan konservasi Sulawesi Tengah yang habitatnya terancam baik secara alami maupun oleh predator, serta hasil sitaan atau penyerahan, selanjutnya dibawa ke lokasi kerjasama PT. Donggi Senoro LNG dan PT. Panca Amara Utama untuk ditetaskan melalui inkubator. Cara penetasan ini efektif dan digunakan sebagai cara untuk memperbanyak anakan Burung Maleo yang siap di lepas kembali ke alam/habitat Burung Maleo (restocking). Tahap Penetasan Telur Burung Malao Gambar 1. Inkubator yang digunakan (kiri), Telur yang menetas dalam inkubator (kanan) Tahap Pemeliharaan Anak Burung Maleo Gambar 2. Anak maleo dalam induk buatan Pelepasan Burung Maleo ke Habitat Insitu Burung Maleo yang dipelihara dalam kandang penangkaran sekitar satu bulan, dilepas kembali ke alam, tujuannya adalah menambah populasi Burung Maleo di habitat. Burung Maleo dilepas ke Suaka Margasatwa (SM) Bakiriang Kabupaten Banggai Propinsi Sulawesi Tengah. Sampai dengan tahun 2019, PT. Donggi Senoro LNG telah melakukan pelepasliaran (restocking) Burung Maleo hasil penetasan inkubator sebanyak 100 ekor, sedangkan PT. Panca Amara Utama telah melepasliarkan Burung Maleo hasil penetasan inkubator sebanyak 165 ekor. Pelepasliaran tersebut berkontribusi terhadap peningkatan populasi satwa terancam punah prioritas sesuai The IUCN Red List of Threatened Species sebesar 10% dari baseline data tahun 2013. Gambar 3. Pelepasliaran Burung Maleo hasil penetasan Inkubator ke Suaka Margasatwa Bakiriang Kabupaten Banggai. Penelitian Pelaksanaan penelitian dilakukan di Area Konservasi Burung Maleo PT. Donggi Senoro LNG dan PT. Panca Amara Utama. Penelitian dilakukan dari Universitas Tadulako yaitu mahasiswa Strata Satu dan Mahasiswa Pasca Sarjana. Penelitian pada SM Bakiriang yakni melihat jenis-jenis pohon yang ada di area Tanjung Bakiriang dan potensi pakan Maleo di alam. Sedangkan penelitian yang dilaksanakan pada area konservasi Maleo PT. Donggi Senoro LNG dan PT. Panca Amara Utama dilaksanakan uji coba kembali penetasan dengan melihat berapa aspek korelasi antar bobot telur dan lama inkubasi, morfometri telur dan morfologi maleo serta uji coba penggunaan hormon reproduksi untuk membedakan jenis kelamin yang dihubungkan dengan morfologi. "Upaya penetasan telur Burung Maleo dengan inkubator hanyalah dilakukan untuk mengamankan telur Burung Maleo yang terancam. Sejatinya Burung Maleo berkembang biak di habitat alaminya." Penulis:
Baca Artikel

Bapak Mansur, Pejuang Konservasi Burung Maleo

Bapak Mansur, merupakan salah satu sosok pejuang konservasi burung maleo di Sulawesi Tengah. Di usianya yang sudah hampir mencapai 67 tahun dengan kondisi mata yang sudah tidak sehat, beliau masih saja mendedikasikan dirinya dalam pelestarian burung maleo. Sejak tahun 1985, Bapak Mansur sudah menjadi petugas penangkaran burung maleo di kawasan Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop. Beliau mempunyai kemampuan untuk mendeteksi keberadaan telur burung maleo, meskipun juga banyak tersebar “lubang tipuan” yang dibuat oleh burung maleo di saat burung betina mau bertelur. Setiap tahunnya Bapak Mansur mampu menetaskan sendiri sekitar lebih dari 400 butir telur maleo setiap tahunnya dan kemudian dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop. Pada saat ini kondisi pantai peneluran burung maleo di Suaka Margasatwa Burung Maleo sudah mulai rusak akibat gelombang pasang yang terjadi di akhir Oktober ini. Sudah beberapa hari belakangan ini burung maleo tidak nampak turun ke tempat pantai peneluran seperti biasanya. Meskipun demikian, tidak menyurutkan semangat Bapak Mansur beserta anaknya (Kiflan Mansur) yang juga mengikuti jejak sang ayah untuk tetap ke lokasi peneluran. Mereka berjalan kaki ke lokasi peneluran yang terbilang cukup jauh jaraknya demi merawat anak maleo yang sudah menetas yang saat ini berjumlah kurang lebih 104 ekor yang berada di kandang pemeliharaan. Bapak Mansur memiliki dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan pekerjaannya, terbukti dengan penghargaan Kalpataru yang diterima pada tahun 2004 karena dianggap memiliki jasa melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Semoga akan banyak Mansur-Mansur yang lain…yang mengikuti dedikasi dan totalitas beliau dalam pelestarian lingkungan, khususnya pelestarian burung maleo yang merupakan hewan yang dilindungi dan juga meruapakan maskot Provinsi Sulawesi Tengah. Salam Lestari… Sumber : Amelia - Tim Humas Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Artikel

Keberadaan Taman Nasional Batang Gadis sebagai Habitat yang ideal bagi Tapirus indicus

Mandailing Natal, 14 Oktober 2020. Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) adalah binatang herbivora yang memiliki bentuk tubuh seperti babi, telinga yang mirip badak dan moncongnya yang panjang mirip trenggiling, tubuhnya berwarna hitam dan putih sementara lenguhannya lebih mirip suara burung daripada binatang mamalia. Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) merupakan hewan yang soliter, kecuali pada musim kawinnya. Aktivitasnya lebih banyak pada malam hari (nokturnal). Aktivitas makan biasanya dilakukan sambil tetap terus berpindah dalam jalur yang berpindah-pindah. Jangkauan jelajah tapir sangat luas karena mereka cenderung berjalan jauh untuk menemukan lokasi yang kaya garam mineral. Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) memakan dedaunan muda di sepanjang hutan atau pinggiran sungai. Kondisi Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) yang ada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis bisa dianggap relatip aman karena masih banyak ditemukan keberadaan Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) diberbagai titik dikawasan tersebut dilihat dari hasil pemasangan kamera trap yang dilakukan oleh petugas Taman Nasional Batang Gadis serta banyaknya temuan-temuan berupa feses dan tapak Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) . Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) di Taman Nasional Batang Gadis belum pernah ditemukan mati akibat dari serangan predator lain sehingga dapat dikatakan binatang ini berkembang secara alami dikawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis. Jumlah Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) di Taman Nasional Batang Gadis belum bisa diprediksi karena belum ada sistem penghitungan yang valid tentang jumlah individunya akan tetapi selama proses pemasangan kamera trap sampai dengan sekarang Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) selalu menampakkan dirinya. Berdasarkan Hasil perhitungan dengan metode kelimpahan jenis relatif atas dasar dari Hasil kamera trap yang di pasang di 5 lokasi (3 Seksi pengelolaan Taman Nasional), gabungan kamera trap permanen dan non permanen, Jumlah kamera trap sebanyak 43 kamera trap, Asumsi perjumpaan (waktu) minimal satu jam/individu dengan tahun pemasangan yaitu tahun 2018-2019 menunjukkan bahwa kelimpahan relatif (%) di SPTN Wil. I 3,21 % , SPTN Wil. II 11,111 % dan SPTN Wil. III 10.965 %. Sehingga total kelimpahan relatif Tapir (Tapirus indicus) di kawasan Taman Nasional Batang Gadis mencapai 25, 286 %. dan tentunya perhitungan tersebut belum termasuk dari temuan-temuan feses dan tapak serta gabungan dari hasil kamera trap tahun-tahun sebelumnya. Keberadaan Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) Sejak tahun 2013 - 2020 pemasangan kamera trap, Satwa liar Tapir (Tapirus indicus) di Kawasan Taman Nasional Batang Gadis selalu tertangkap kamera trap baik kamera trap permanen maupun non permanen selain itu. Hasil adanya Tapir (Tapirus indicus) pada kamera trap serta temuan-temuan feses dan tapak nya menunjukkan bahwa Taman Nasional Batang Gadis benar merupakan salah satu habitat dari satwa liar Tapir (???????????????????????????? ????????????????????????????) sehingga perlu sekali pengelolaan lebih lanjut untuk mempertahankan ekosistem/habitatnya agar dapat bertahan hidup. Sumber: Ifham Fuadi Rambe S.Hut - PEH MUDA Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Sajian Festival TN/TWA Masih Bisa Dinikmati Hingga Oktober 2020

Bogor , 29 September 2020. Kabar gembira bagi masyarakat yang belum sempat menyaksikan virtual Festival Taman Nasional/Taman Wisata Alam 2020. Walaupun secara resmi sudah ditutup pada tanggal 26 September lalu, namun masyarakat masih bisa melihat-melihat sajian yang ditawarkan para peserta festival. Caranya adalah, bagi yang belum mendaftar buka alamat website https://festivaltamannasionaltwa.com dan memasukkan alamat email serta passwordnya. Sedangkan bagi yang sudah pernah mendaftar, tinggal membuka alamat website tersebut dan masuk pada menu login, tentunya harus ingat passwordnya ya. Pengunjung festival dapat menuju menu BOOTH untuk melihat-lihat sajian dari peserta festival yang dikemas dalam bentuk video, foto-foto dan dokumen yang menampilkan keindahan alam, flora-fauna, kearifan lokal dan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Pada menu dokumen, kita bahkan dapat mengunduh informasi yang kita perlukan. Bagi para penggemar bird watching dapat berkunjung ke booth Taman Nasional Kelimutu. Taman nasional yang terletak di Ende, Nusa Tenggara Timur ini memiliki keanekaragaman jenis burung yang sangat indah, salah satunya Garugiwa. Burung ini diyakini oleh masyarakat suku Lio, sebagai jelmaan arwah leluhur mereka. Burung ini sekalin berkicau, mengeluarkan 17 jenis macam suara. Mengagumkan bukan? Jika beruntung, kita dapat melihat dan mendengar suaranya. Oh iya, saat ini sudah dimulai migrasi burung dari benua lain ke Indonesia, terutama ke daerah lahan basah seperti di Taman Nasional Danau Sentarum dan Rawa Aopa. Jadi, pengamatan burung pun sudah mulai dilakukan oleh para pemerhati burung. Beberapa taman nasional menampilkan kehidupan suku tradisional yang tinggal di sekitar taman nasional dan masih melestarikan warisan leluhurnya dalam menjaga alam seperti yang ditampilkan di booth Taman Nasional Kelimutu (suku Lio), Taman Nasional Kayan Mentarang dan Taman Nasional Bentarum (suku Dayak), Bagi yang hobi snorkling dan menyelam dapat berkunjung ke booth Taman Nasional Bali Barat atau ke Taman Wisata Alam Lasolo di Sulawesi Tenggara. Untuk yang suka tantangan, Taman Wisata Alam Bukit Kelam di Kalimantan Barat, mengajak pengunjung ke puncak Bukit Kelam melalui via ferrata. Tantangannya adalah, pengunjung harus memanjat tangga besi agar sampai di puncak bukit batu yang terbesar di Indonesia ini dengan ketinggian hampir 600 meter. Informasi tentang protokol kesehatan yang diterapkan oleh pengelola taman nasional dan taman wisata alam bagi para pengunjung, juga menjadi salah satu informasi penting yang dapat diperoleh di festival ini. Nah, buat yang masih penasaran, ini dia taman nasional dan taman wisata alam, peserta Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam 2020. 1. Taman Nasional Bali Barat 2. Taman Nasional Batang Gadis 3. Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum 4. Taman Nasional Boganinani Wartabone 5. Taman N asional Gunung Ciremai 6. Taman Nasional Matalawa 7. Taman Nasional Kelimutu 8. Taman Nasional Kepulauan Seribu 9. Taman Nasional Kutai 10. Taman Nasional Meru Betiri 11. Taman Nasional Kayan Mentarang 12. Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai 13. Taman Nasional Tanjung Puting 14. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango 15. Taman Wisata Alam Teluk Lasolo 16. Taman Wisata Alam Tirta Rimba Air Jatuh 17. Taman Wisata Alam Mangolo 18. Taman Wisata Alam Padamarang 19. Taman Wisata Alam Baning 20. Taman Wisata Alam Bukit Kelam 21. Taman Wisata Alam Ansuansang 22. Taman Wisata Alam Gunung Dungan 23. Taman Wisata Alam Sungai Liku 24. Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing 25. Taman Wisata Alam Gunung Melintang 26. Taman Wisata Alam Gunung Gamping 27. The Kalimantan Tropical Forest Conservation Act Kalimantan Seru banget kan? Tunggu apalagi. Yuk kita berselancar diFestival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam,persembahan dari Direktorat Jenderal KSDAE, KementerianLingkungan Hidup dan Kehutanan. Untuk mendapatkan infoterkini, yuk follow akun instagramnya @ayoketamannasional_official ya. Sumber : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konsevasi (PJLHK)
Baca Artikel

Reaktivasi 72 Kawasan Konservasi Alam Dilakukan Secara Bertahap

Bogor, 26 September 2020. Pandemi Covid-19 ini tidak hanya mengakibatkan krisis di bidang kesehatan saja, namun juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, terutama di bidang ekonomi, termasuk sektor pariwisata alam. Upaya reaktivasi kawasan konservasi pada bulan Juli 2020 yang bersamaan dengan skenario masa transisi dan pemulihan yaitu Juli hingga Desember, jumlah pengunjung ke kawasan konservasi (suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam) diprediksi hanya akan mencapai 50% dibandingkan dengan tahun 2019, kecuali pada bulan Juli yang diasumsikan sama dengan Maret 2019 atau lebih landai (Direktorat PJLHK, 2020). Berdasarkan data dan proyeksi Direktorat PJLHK (2020), nilai ekonomi sektor pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam yang hilang akibat pandemi Covid-19 selama tahun 2020 adalah Rp1,5 trilyun hingga Rp1,9 trilyun.Oleh karena itu, reaktivasi kawasan konservasi untuk mendukung kegiatan pariwisata alam mengusung konsep forest for healing yang berakar kuat dari sikap hidup dan budaya living with nature yang tidak mengedepankan jumlah pengunjung (mass tourism), namun justru quality tourism yang mengedepankan inovasi untuk menambah durasi kunjungan dan kemanfaatannya dari aspek kemanusiaannya dan kelestarian alamnya. Seiring dengan optmisme yang sedang dibangun, living with nature merupakan salah satu cara pemulihan yang potensial dilakukan. Kawasan konservasi dengan pariwisata alamnya menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia untuk dapat pulih pasca Covid-19 dalam tatanan baru (new normal). Matthew Silverstone (dalam buku Blinded bu Science pada 2014) menyebutkan bahwa berwisata dengan mengaktifkan interaksi panca indera dengan elemen alam, terbukti mampu meningkatkan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan spiritual, memberikan energi dan ketenangan. Pemulihan mental dan fisik individu dan masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan forest for healing di kawasan konservasi. Reaktivasi 72 kawasan konservasi dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Menteri LHK Nomor SK.261/MENLHK/KSDAE/KSA.0/6/2020 tanggal 23 Juni 2020 dan Surat Edaran Dirjen KSDAE Nomor SE.9/KSDAE/PJLHK/KSA.3/6/2020 tanggal 23 Juni 2020 tentang tentang Kebijakan Reaktivasi Secara Bertahap di Kawasan TN, TWA, dan SM dalam Kondisi Transisi Akhir COVID-19 (New Normal), dengan pertimbangan sebagai berikut : Sedangkan untuk Reaktivasi II dan III diselenggarakan berdasarkan Surat Dirjen KSDAE. Pada tahap persiapan reaktivasi, UPT Ditjen KSDAE melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait dan masyarakat setempat, melakukan simulasi pembukaan kawasan untuk wisata alam, menetapkan batasan pengunjung harian berdasarkan Daya Dukung dan Daya Tampung, dan lain sebagainya. Sedangkan kawasan yang telah melakukan reaktivasi kegiatan wisata alam diterapkan aturan protokol kesehatan bagi pengunjung, antara lain wajib menggunakan masker, mencuci tangan serta mematuhi tanda batas antar pengunjung, menjaga jarak, tidak berkerumun. Pengecekan suhu badan dilakukan oleh pengelola dan apabila dijumpai pengunjung yang suhu tubuhnya diatas 36 derajat Celcius maka tidak diperbolehkan masuk ke dalam kawasan. Inilah prinsip kehati-hatian yang dilakukan, agar tidak terjadi penyebaran Covid-19 di kawasan konservasi. Dan, pada kawasan yang telah dibuka jika terdapat indikasi adanya penyebaran virus Covid-19, maka akan dilakukan penutupan dan dibuka kembali jika keadaan sudah normal kembali. Kegiatan yang telah dilakukan UPT Ditjen KSDAE dalam rangka reaktivasi kegiatan wisata alam antara lain: Berikut daftar 72 kawasan konservasi yang telah dibuka untuk wisata alam Mengingat pandemik Covid-19 yang masih melanda Indonesia, maka dihimbau agar para masyarakat yang akan berkunjung ke taman nasional dan taman wisata alam memastikan bahwa tempat yang dikunjungi sudah resmi dibuka, mematuhi aturan termasuk protokol kesehatan yang ditetapkan pengelola. Sumber : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi
Baca Artikel

Tilik keanekaragaman Avifauna di Wilayah Resort Kopeng Taman Nasional Gunung Merbabu

(update) Avifauna di kawasan TNGMb Keanerakagaman burung di Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) termasuk kategori tinggi dengan persebaran individu merata dari perbatasan hutan sampai ke puncak Gunung Merbabu. Menjelang akhir triwulan ke-3 tahun ini, potensi kehati burung di kawasanTNGMb bertambah lagi. Data burung (avifauna) yang terkumpul dan didokumentasikan sebelumnya (Burung-burung Merbabu 2018: 106 jenis) dan tambahan jenis baru hasil survei petugas TNGMb sampai triwulan ke-2 tahun 2020: 6 jenis yaitu kehicap ranting, sikatan cina, sikatan biru-putih, sikatan sisi-gelap, takur ungkut-ungkut, dan ciung-batu siul maka total 112 jenis burung. Tambahan jenis baru di triwulan ke-3 dijumpai 3 jenis di kawasan utara Gunung Merbabu yang berada di wilayah Resort Kopeng yaitu Cipoh kacat Aegithina tiphia, Srigunting batu Dicrurus paradiseus dan Meninting besar Enicurus leschenaulti, yang telah memperbarui database avifauna TNGMb menjadi 115 jenis burung saat ini. Wilayah Resort Kopeng Resort Kopeng secara administratif berada di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Luas kawasan hutan yang menjadi wilayah kerja Resort Getasan sebesar 1.357,21 Ha. Desa penyangga kawasan TNGMb yang termasuk ke dalam wilayah Resort Kopeng terdiri dari 3 desa, yaitu Desa Tajuk, Desa Kopeng dan Desa Batur atau terdiri dari 23 dusun yang berbatasan langsung dengan TNGMb. Potensi wisata alam di wilayah Resort Kopeng cukup beragam dan lengkap, baik wisata yang dikelola oleh kelompok masyarakat lokal, swasta, dan pengelola TNGMb. Obyek wisata tersebut antara lain : jalur pendakian Thekelan, jalur pendakian Cuntel, Wisata alam Kalipasang, Wisata Umbul Songo, Kopeng Treetop, Gedong Pass, Watu Telu Hill, dan Downhill. Kegiatan wisata yang dapat beroperasi saat pandemi Covid ini baru obyek wisata yang dikelola pihak swasta (IUSPWA) yaitu Kopeng Treetop dengan pembatasan kuota pengunjung dan penerapan protokol kesehatan yang dievaluasi secara rutin. Pengawasan terhadap aktivitas wisata juga dilakukan bersama tim satgas covid desa maupun kecamatan. Tilik keanekaragaman Avifauna Resort Kopeng Kurun waktu Februari – September 2020 ini hasil pengamatan dan catatan perjumpaan jenis avifauna di wilayah Resort Kopeng oleh petugas Resort Kopeng sedikitnya telah terkumpul 54 jenis burung dengan dokumentasi foto lengkap. Sebagian besar perjumpaan berada di obyek wisata Umbul Songo, kemudian beberapa dari wilayah Watu Telu, Kalipasang, spot Cuntel, spot Thekelan dan perbatasan hutan-lahan pertanian. Diperoleh jenis burung sebagai berikut : No Nama Indonesia Nama Ilmiah No Nama Indonesia Nama Ilmiah 1 Alap-alap sapi Falco moluccensis 28 Kehicap ranting * Hypothymis azurea 2 Alap-alap kawah Falco peregrinus 29 Kekep babi Artamus leucorynchus 3 Anis gunung Turdus poliocephalus 30 Kepudang kuduk hitam Oriolus chinensis 4 Anis siberia Zoothera sibirica 31 Kepudang-sungu jawa Coracina javensis 5 Ayam-hutan Hijau Gallus varius 32 Kerak kerbau Acridotheres javanicus 6 Bentet kelabu Lanius schach 33 Kicuit batu Motacilla cinerea 7 Bondol jawa Lonchura leucogastroides 34 Kipasan ekor-merah Rhipidura phoenicura 8 Bondol peking Lonchura punctulata 35 Layang-layang asia Hirundo rustica 9 Burung cabai-jawa Dicaeum trochileum 36 Meninting besar * Enicurus leschenaulti 10 Burung-gereja erasia Passer montanus 37 Pelanduk semak Malacocincla sepiaria 11 Burung-madu sriganti Cinnyris jugularis 38 Sepah gunung Pericrocotus miniatus 12 Caladi tilik Denrocopos moluccensis 39 Sepah kecil Pericrocotus cinnamomeus 13 Caladi ulam Denrocopos analis 40 Sikatan belang Ficedula westermanni 14 Cekakak jawa Halycon cyanoventris 41 Sikatan biru-putih * Cyanoptila cyanomela 15 Cekakak sungai Todiramphus chloris 42 Sikatan cina * Cyanoptila cumatilis 16 Ceret gunung Horornis vulcanius 43 Sikatan mugimaki Fidecula mugimaki 17 Cica-kopi melayu Pomatorhinus montanus 44 Sikatan sisi-gelap * Muscicapa sibirica 18 Cica-koreng jawa Megalurus palustris 45 Sikep-madu asia Pernis ptilorhynchus 19 Cinenen jawa Orthotomus sepium 46 Srigunting batu * Dicrurus paradiseus 20 Cinenen pisang Orthotomus sutorius 47 Srigunting kelabu Dicrurus leucophaeus 21 Cipoh kacat * Aegithina tiphia 48 Takur ungkut-ungkut * Psilopogon haemacephalus 22 Ciung batu-siul * Myophonus caeruleus 49 Tekukur biasa Spilopelia chinensis 23 Ciung-batu kecil-sunda Myophonus glaucinus 50 Uncal loreng Macropygia unchall 24 Cucak kutilang Pycnonotus aurigaster 51 Walet linchi Collocalia linchi 25 Elang hitam Ictinaetus malaiensis 52 Walik kepala-ungu Ptilinopus porphyreus 26 Kacamata biasa Zosterops melanurus 53 Wiwik lurik Cacomantis sonneratii 27 Kapasan kemiri Lalage nigra 54 Wiwik uncuing Cacomantis sepulcralis Sebanyak 9 jenis (dari 54) terdapat catatan jenis baru dan perjumpaan yang menarik di triwulan ke-3 tahun 2020 ini untuk keluarga Dicruridae atau srigunting yaitu srigunting batu, yang melengkapi jenisnya di TNGMb bersama srigunting kelabu. Perjumpaan terbaru pada akhir bulan September 2020 adalah jenis meninting besar dari keluaga Muscicapidae, yang belum pernah ada catatan perjumpaan sebelumnya di TNGMb baik di lereng selatan dan lainnya. Meninting besar merupakan burung yang terbatas (tidak umum) dijumpai, hidupn di sungai dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 1.400 mdpl. Burung lincah, tidak pernah istirahat. Makanan berupa serangga, kumbang, jangkrik air, springtrail dan ulat. Artikel selengkapnya : Tilik Keanekaragaman Avifauna di Wilayah Resort Kopeng TN Gunung Merbabu Sumber : Jarot Wahyudi, S.Hut, M.URP - Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Artikel

Mengupas Taman Nasional Kutai dan Sejarahnya

“Setelah sudah maka Aji Batara Agung Dewa Sakti pun berkumpullah laki-istri. Maka putri itu pun mengidamlah ia hendak baturan lulu sumpitan. Maka Aji laki itu pun pergilah menyumpit lulu ke Kutai. Maka tiada mendapat lulu yang lain. Hanya tupai saja seekor makan buah petai. Lalu disumpitnya maka kenalah tupai itu, gugur ke tepian mampi. Maka dikelilinginyalah benua itu. Maka bunyi Aji itu, "Terlalu baik negeri ini. Baiklah aku pindah ke negeri ini, berbuat negeri di sini." Maka tanah itulah tempat Aji itu berdiri menyumpit tupai itu, tanah itulah yang bernama Kutai, karena tanah itu tinggi sendirinya.” Dari sejumlah rangkain acara yang meramaikan peringatan puncak HKAN 2020, salah satunya adalah talkshow yang mengupas sejarah Taman Nasional Kutai, yang digelar pada Selasa siang, 15 September 2020. Yang menari, talkshow ini menghadirkan narasumber yaitu Sejarawan Konservasi Alam Indonesia, Pandji Yudhistira, Muhammad Sarip, Masyarakat Sejarawan Cabang Kalimantan Timur, dan mantan Kepala Balai Taman Nasional Kutai sebelumnya, yaitu Tandya Tjahjana, Asep Sugiharta, dan Erly Sukrismanto. Sejarah Taman Nasional Kutai pada talkshow ini diceritakan oleh Pandji Yudhistira secara komprehensif, bagaimana awal mula pembentukan Taman Nasional Kutai yang merupakan usulan dari Perhimpunan Konservasi Alam Hindia Belanda dimana usulan ini merupakan hasil dari penelitian botani di Kalimantan untuk melindungi Orangutan, kera hidung Panjang, Badak, dan Banteng. Kemudian usulan tersebut disetujui oleh Direktur Urusan Ekonomi Hindia Belanda, yang kemudian dibentuklah Suaka Margasatwa Kutai Timur. Pandji juga menceritakan tentang Sultan Kutai ke-20, Sultan Aji Muhammad Parikesit, yang menghibahkan tanah hutan Kerajaan Kutai untuk dijadikan Suaka Margasatwa Kutai Timur seluas 300.000 hektar merupakan peran penting dalam pembentukan Suaka Margasatwa Kutai Timur. Asal mula nama Kutai yang ternyata merupakan kombinasi dari kata “tupai”, “petai”, “pantai”, dan “kumpai/alang-alang” yang dijelaskan oleh Muhammad Sarip, yang menyampaikan tentang Literasi Sejarah Kutai. Para narasumber diantaranya adalah mantan kepala balai Taman Nasional Kutai, yaitu Tandya Tjahjana, Asep Sugiharta, dan Erli Sukrismanto bergantian bercerita tentang pengalamannya dalam mengelola Taman Nasional Kutai, mulai dari karakteristik hingga permasalahan yang terdapat di Taman Nasional Kutai. Salah satu narasumber yaitu Erly Sukrismanto menceritakan permasalahan yang dihadapi saat menjabat sebagai Kepala Balai Taman Nasional Kutai. Ia menjelaskan bahwa pada saat ditugaskan untuk memimpin TN Kutai, kepala balai sebelumnya yaitu Asep Sugiharta menyampaikan permasalahan perambahan atau pendudukan secara illegal di Kawasan konservasi yang sangat pelik. “70.000 penduduk atau separuh dari penduduk Kaltim tinggal di Kawasan taman nasional. Persoalan ini sangat berat. Karena ini persoalan hukum, maka saya menghadap pak Raffles Pandjaitan meminta agar masalah TN Kutai menjadi masalah nasional karena tidak cukup ditangani oleh kepala balai. Saya berterima kasih kepada pak Asep Sugiarta karena telah dengan beraninya memberangus sekitar 45 saw mill yang berada di Kawasan TN Kutai. Masalah TN Kutai digabungkan dengan masalah perambahan lain di TN Gn Leuser dan TN Gn Halimuan Salak. Ada beberapa persoalan yang selesai, namun ada juga yang masih belum selesai.” Papar Erly. Selain menyelesaian masalah, Erly Sukrismanto juga memaparkan kegiatan-kegiatan yang ia inisiasi untuk memajukan Taman Nasional Kutai di bawah kepemimpinanya antara lain dengan melakukan revitalisasi Saka Wana Bakti yang ternyata disambut sangat baik oleh generasi muda, tidak saja yang berada di Bontang namun juga dari Banjarbaru. “Masyarakat dan anak-anak muda di Kaltim merupakan SDM yang potensial. Terbukti, Saka Wana Bhakti yang ia aktifkan lagi dapat menjadi juara pada Pertiwana,” tuturnya. Program lain yang ia inisiasi adalah menjadikan TN Kutai dan TN Khao Yai di Thailand sebagai Sister Park, melakukan ekspedisi di dalam Kawasan taman nasional selama 21 hari dari selatan ke utara yang menjadi cikal bakal zonasi . melakukan kerjasama dengan Indianapolis Zoo untuk membuat habitat ideal bagi orangutan seluas 100 hektar di prevab. Salah satu usulan menarik dari peserta HKAN 2020,Zulkarnain (perwakilan pemuda yang menjadi utusan dari Balai TN Bentarum) adalah agar ada Kawasan konservasi yang menghubungkan TN Betung Kerihun dan TN Kayan Mentarang yang direspon baik oleh Asep Sugiharta. “Penambahan Kawasan konservasi ini sangat dimungkinkan, karena di area tersebut memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, namun harus diusulkan secara bottom up melalui propinsi. Pilihan Kawasan konservasi apakah akan sebagai Taman Buru, Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Wisata Alam atau Cagar Alam. Usulan tersebut nantinya akan dikaji oleh KLHK. Namun demikian, harus ada perangkat-perangkat lain yang harus disiapkan untuk pengembangannya.” Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020! Sumber: Direktorat PJLHK
Baca Artikel

Mengenal Masyarakat Suku Marind di Kampung Kolam

Distrik Muting, 12 September 2020 - Kampung Kolam merupakan salah satu kampung yang berada di dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM) Danau Bian. SM Danau Bian merupakan salah satu Kawasan Suaka Alam (KSA) yang berada di bawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Papua Bidang Wilayah 1 Merauke. Kampung Kolam termasuk dalam wilayah administrasi Distrik Muting, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik Tahun 2019 disebutkan bahwa luas Kampung Kolam yaitu 72,30 Km2. Cara menuju ke Kampung Kolam dengan menggunakan moda transportasi darat dan air. Apabila berangkat dari Kota Merauke maka bisa menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat untuk menuju ke dermaga perahu di Distrik Muting. Dari Distrik Muting menuju ke Kampung Kolam dengan menggunakan perahu bermesin tempel atau dengan speedboat. Perjalanan dari Kota Merauke menuju Distrik Muting dengan moda transportasi darat memakan waktu sekitar 3,5 jam, sedangkan perjalanan dari Distrik Muting menuju ke Kampung Kolam dengan moda transportasi air memakan waktu sekitar 3,5 – 4 jam. Total jarak yang harus ditempuh dari Kota Merauke menuju ke Kampung Kolam melalui Distrik Muting yaitu 305 Km (BPS, 2019). Jumlah Kepala Keluarga di Kampung Kolam yaitu 91 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 313 Jiwa. Mata pencaharian utama masyarakat Kampung Kolam adalah nelayan perikanan darat yang kesehariannya menangkap ikan di Danau Bian. Jenis ikan yang ditangkap oleh masyarakat antara lain ikan mujair (Oreochromis mossambicus), ikan kakap (Lates calcarifer), ikan gabus/gastor (Channa striata), ikan mata bulan (Megalops cyprinoides), dan ikan betik (Anabas testudineus). Sebagian besar masyarakat Kampung Kolam memiliki perahu kayu dengan mesin ketinting/mesin tempel sebagai tenaga pendorong perahunya. Perahu menjadi satu-satunya alat transportasi bahkan alat angkut barang dan hasil panen masyarakat baik dari Kampung Kolam ke Distrik Muting atau sebaliknya. Di Kampung Kolam terdapat pendatang etnis Sulawesi (Daeng) yang dapat mengolah ikan gastor menjadi ikan asin. Ikan gastor diperoleh dari masyarakat Kampung Kolam yang menjual kepada Daeng tersebut. Masyarakat Kampung Kolam kadang kala melakukan perburuan satwa liar seperti rusa, babi hutan, dan kasuari dengan cara jerat. Hasil buruan hanya untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga dan saat akan mengadakan acara adat kedukaan atau syukuran panen raya dan pernikahan. Masyarakat Kampung Kolam merupakan masyarakat dominan Suku Marind Degh yang terdiri dari marga-marga Mahuze, Kaize, Ndiken, Zohe, dan Basik-Basik. Marga Kaize terbagi lagi menjadi Sub Marga Keinat dan Baibuk, dimana marga Kaize Keinat merupakan marga yang tertua. Beberapa fasilitas umum yang terdapat di Kampung Kolam yaitu Gereja Khatolik St. Stefanus, Sekolah Dasar (SD) YPPK St. Lukas, Puskesmas Pembantu, dan Balai Kampung Kolam. Terdapat 5 orang tenaga pengajar (Guru) yang terdiri dari 1 orang guru yang berstatus PNS yang sekaligus merangkap sebagai Kepala Sekolah SD YPPK st. Lukas dan 4 guru yang berstatus sebagai guru kontrak, sedangkan jumlah siswa/i SD yaitu sebanyak 60 siswa. Kampung Kolam merupakan kampung yang belum merdeka dari gelap gulita, karena sumber listrik di Kampung Kolam hanya mengandalkan tenaga surya (solar cell) dan mesin diesel yang berada di ujung kampung, namun kondisinya saat ini sudah rusak dan karena masalah kelangkaan bahan bakar solar untuk mesin diesel. Hanya beberapa warga saja yang bisa menikmati cahaya lampu dan memutar musik di malam hari dikarenakan memiliki mesin genset/generator pribadi. Hampir semua rumah warga Kampung Kolam terbuat dari papan kayu, namun fasilitas umum seperti sekolah merupakan bangunan semi permanen. Rumah masyarakat tersebut merupakan bantuan dari pemerintah daerah beberapa tahun yang lalu. Masyarakat Kampung Kolam mengharapkan adanya perubahan kehidupan yang lebih baik termasuk kemudahan aksesibilitas dari Kampung Kolam menuju ke Distrik Muting dan sebaliknya, agar mereka bisa lebih menghemat waktu, tenaga, dan biaya dalam menjual dan memasarkan hasil bumi/panenan dan hasil tangkapan perikanan ke luar Kampung Kolam. Sumber: Balai Besar KSDA Papua Penulis: 1. Emainda Hentriasa, S.Hut. (Calon Penyuluh Kehutanan BBKSDA Papua Bidang Wilayah 1 Merauke); 2. Eka Heryadi, S.Hut. (Koordinator Penyuluh TN Wasur/Ketua Tim Sosekbud Kampung Kolam);
Baca Artikel

Clara Sumarwati : “Manfaatkan Waktu dan Apa yang Ada di Sekitarmu Untuk Menggapai Cita-Citamu”

Demikian pesan yang disampaikan Clara Sukmawati, kepada para peserta peringatan puncak Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2020 di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai, Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur. Clara diakui sebagai Srikandi Indonesia bahkan Asia Tenggara pertama yang berhasil menggapai puncak Everest pada 26 September 1996 saat usia 29 tahun. Wanita terlahir 6 Juli 1967 di Jogyakarta, saat itu masih menjadi mahasiswa Atmajaya dan tergabung di resimen mahasiswa.Pendakiannya ke salah satu the Seven Summit of the World merupakan ke dua kalinya. “Modal saya adalah nekad yang saya peroleh dari menjadi pelatih taekwondo dan bantuan pemerintah melalui koppasus dan KSAD TNI”, ungkapnya. Clara berhasil mendaki Everest pada tahun 1996, sebelumnya pernah gagal berangkat karena badai 1993. Dengan bantuan Sherpa dari Nepal sebanyak 5 orang Clara berhasil mendaki Everest diketinggian 8848 mdpl, meskipun hanya 10 menit bertahan di puncak yang saat itu suhunya dibawah 16 derajat celsius. Sebelum ke Everest Clara juga melakukan pendakian di beberapa gunung di Taman Nasional Indonesia seperti Rinjani, Semeru, Merapi-Merbabu, dan gunung Gede Pangrango. Clara menuturkan bahwa persiapan yang ia lakukan sebelum mendaki Everest antara lain niat,disiplin yang ketat, latihan fisik yang keras dan teratur seperti berlari, berenang, naik tangga yang dilakukan selama 5 jam sehari di Senayan, serta tekad dan mental yang kuat untuk mencapai apa yang diinginkan.“Kalau mau pergi kita seperti pindahan rumah, harus dipersiapkan dengan baik”, tegasnya. Menurut Clara, ia mengenal gunung-gunung di Indonesia dan juga di luar negeri termasuk Everest, dari pelajar Ilmu Pengetahuan Sosial waktu ia masih duduk di Sekolah Dasar. “Saya ngga tahu dengan kurikulum sekarang, apakah para pelajar dikenalkan dengan 54 Taman Nasional yang ada di Indonesia?”. Pengalaman Ateng, demikian sebutan Clara diantara teman-temannya, dituangkan ke dlam buku setebal 450 halaman berjudul Indonesia Menjejak Everest – Membuka Dokumen Sejarah Pendakian Clara Sumarwati. Sumber: Direktorat PJLHK
Baca Artikel

Sudah kenal dengan ikon HKAN 2020?

Ya, dialah orangutan morio (Pongo pygmaeus morio) yang tinggal di dalam Kawasan Taman Nasional Kutai dan merupakan salah satu dari tiga sub spesies orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). Ciri fisik yang khas yaitu warna bulunya yang lebih gelap dibanding orang utan pada umumnya. Sebaran habitatnya yaitu dari Sabah sampai ke selatan mencapai Sungai Mahakam di Provinsi Kalimantan Timur (Dephut, 2007) . Hutan hujan tropis dipterocarpaceae campuran dataran rendah sebagai habitat yang disukai orangutan morio. Satwa endemik kalimantan ini statusnya critically endangered atau terancam punah berdasarkan IUCN Red List, maka keberadaanya perlu kita lindungi dan lestarikan. Logo HKAN 2020 ini mempunyai makna seperti berikut : Dari tahun ke tahun, logo HKAN akan berubah seiring dengan perubahan lokasi peringatan. Ini dimaksudkan, agar masyarakat semakin mengenal kekhasan dan keunikan masing-masing taman nasional dan taman wisata alam baik flora-faunanya, lanskapnya maupun sosial budaya masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Tapi jangan lupa, selain logo yang berubah setiap tahun, ada juga logo HKAN yang secara nasional dipergunakan dan tidak berubah sepanjang tahun. Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020! Sumber: Direktorat PJLHK
Baca Artikel

Mengenal Flora dan Fauna Taman Nasional Kutai

Taman Nasional Kutai merupakan kawasan pelestarian alam yang terletak di Propinsi Kalimantan Timur dan mewakili ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dengan ketinggian 0-400 mdpl. Tipe vegetasi yang terdapat di kawasan ini adalah tipe hutan dataran rendah yang didominasi oleh ulin (Eusideroxylon zwageri), meranti (Shorea sp) dan kapur (Dryobalanops sp), hutan rawa yang didominasi oleh tumbuhan perupuk (Lophopethalum sp), hutan mangrove yang didominasi oleh Rhizophora mucronata, R. apiculata, Sonneratia alba, S. caseolaris dan lain-lain, hutan kerangas dan hutan pantai. Kekayaan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya menjadikan kawasan ini sebagai kawasan yang penting untuk perlindungan flora dan fauna. Kawasan Taman Nasional Kutai pertama kali diusulkan oleh seorang ahli geolog asal Belanda yang bernama H. Witkamp dengan luas kurang lebih 2 juta hektar. Salah satu alasan utama kawasan ini ditunjuk sebagai taman nasional adalah karena keanekaragaman hayati yang tinggi, baik keanekaragaman hayati tingkat genetik, spesies maupun ekosistem. Lebih dari 1.200 jenis tumbuhan hidup di kawasan ini, dengan tumbuhan khas yaitu ulin (Eusideroxylon zwageri) dan 8 dari 10 genus famili Dipterocarpaceae di dunia, yaitu: Anisoptera sp., Cotylelobium sp., Dipterocarpus sp., Dryobalanop ssp., Hopea sp., Parashorea sp., Shorea sp. dan Vatica sp. Selain kekayaan flora, Taman Nasional Kutai juga memiliki beragam jenis fauna. Kawasan ini memiliki 80% dari seluruh jenis burung di Borneo yaitu sebanyak 380 jenis, baik burung penetap maupun burung migran yang singgah pada musim tertentu. Terdapat 8 jenis enggang atau rangkong. Selain itu juga terdapat jenis burung endemik Kalimantan yaitu paok kepala-biru (Hydrornis baudii) yang menjadi salah satu indikator Taman Nasional Kutai sebagai Daerah Penting bagi Burung. Selain itu juga terdapat lebih dari separuh jenis mamalia Borneo yaitu sebanyak 80 jenis dan di antaranya adalah 11 dari 13 jenis primata Borneo, termasuk orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik Kalimantan yaitu bekantan (Nasalis larvatus). Orangutan yang hidup di Taman Nasional Kutai adalah Pongo pygmaeusmorio yang merupakan salah satu sub spesies orangutan Kalimantan dan hanya hidup di bagian timur Pulau Kalimantan. Beberapa jenis mamalia lainnya yang terdapat di Taman Nasional Kutai diantaranya adalah banteng (Bos javanicus), rusa sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus kanchil), beruang madu (Helarctos malayanus), trenggiling (Manis javanicus), macan dahan (Neofelis diardi). Puluhan jenis reptilia termasuk buaya muara (Crocodylus porosus), 195 jenis kupu-kupu termasuk jenis Troides helena, Troides amphrysus, dan Trogonoptera brookiana yang dilindungi, 32 jenis semut, 25 jenis katak, serta ratusan jenis serangga dan satwa lainnya yang belum teridentifikasi hidup di kawasan ini. Sumber: Direktorat PJLHK
Baca Artikel

Mengenal Taman Nasional Kutai, Tuan Rumah Peringatan Puncak HKAN 2020

Bukan tanpa alasan taman nasional yang berada di Provinsi Kalimantan Timur ini ditetapkan sebagai tuan rumah peringatan puncak HKAN tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Nilai strategis Taman Nasional Kutai menjadikannya menyandang predikat sebagai "Megaecological Infrastructure". Bagaimana tidak, formasi Ulin di dalam taman nasional ini diakui sebagai yang terluas di Indonesia (Sawitri dan Adelia, 2016). Selain itu, Taman Nasional Kutai sebagai satu-satunya taman nasional di Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu perwakilan hutan hujan tropis yang tersisa yang memiliki peran sangat penting tidak hanya sebagai water reservoir, tetapi juga sebagai genetic reservoir untuk menyuplai sumber daya genetik dan sumber cadangan benih yang tinggi (Moeliono dan Purwanto, 2008) serta menjadi rumah bagi populasi spesies endemik yaituorangutan, Pongo pygmaeus morio, yang populasinya berada dalam kondisi kritis (Lee et.al., 2019). "Discover the secret of Borneo lowland rainforest" demikian slogan yang disematkan untuk mengggambarkan hutan hujan dataran rendah Kalimantan yang berada di dalam Kawasan Taman Nasional Kutai, yang harus dijelajahi sehingga dapat mengetahui kekayaan di dalamnya. Keunikan-keunikan ini menjadi alasan bagi Taman Nasional Kutai menjadi salah satu tujuan wisata tidak hanya di tingkat lokal. Buku/situs Lonely Planet yang menjadi rujukan bagi para traveller seluruh dunia bahkan merekomendasikan Taman Nasional Kutai sebagai salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Berikut adalah obyek dan daya Tarik wisata alam, yang ditawarkan oleh Taman Nasional Kutai : Merupakan objek wisata alam di Taman Nasional Kutai yang secara administratif berada di Kabupaten Kutai Timur dan berlokasi di tepi Sungai Sangatta, batas utara Taman Nasional Kutai. Objek wisata yang lokasinya cukup tersembunyi ini merupakan habitat orangutan sub spesies morio (Pongo pygmaeusmorio) yang hanya dijumpai di Kalimantan bagian timur. Orangutan morio memiliki bulu berwarna coklat kehitaman dengan rahang paling besar dan otak paling kecil. Orangutan ini mampu bertahan pada kondisi yang ekstrem, seperti kemarau yang panjang, pakan yang terbatas dan pergerakan yang kurang. Keberadaan orangutan liar di habitat aslinya ini telah menarik minat banyak wisatawan untuk mengunjungi kawasan ini, khususnya wisatawan mancanegara. Objek wisata ini juga merupakan stasiun penelitian orangutan yang lebih dikenal dengan nama Kamp Kakap. Karena keberadaan orangutan morio liar ini hanya dapat dijumpai di Taman Nasional Kutai, maka slogan objek wisata alam Prevab adalah "Let's get closer to morio". Selain pengamatan orangutan yang menjadi atraksi utama objek wisata alam Prevab, wisatawan juga dapat menikmati keindahan pemandangan hutan hujan tropis dataran rendah yang merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa dan pohon-pohon berukuran besar. Berbagai jenis burung banyak dijumpai di kawasan ini, di antaranya dalah beberapa jenis enggang (Bucerotidae), luntur (Trogonidae), dan paok (Pittidae), termasuk paok kepala-biru (Hydrornis baudii) yang merupakan burung endemik Kalimantan. Selain itu, berbagai jenis serangga unik juga dapat ditemui di kawasan ini, salah satunya adalah lanternfly (Fulgoridae). Wisata jelajah malam juga menjadi atraksi yang banyak diminati wisatawan. Dalam wisata jelajah malam ini, wisatawan akan diajak untuk menikmati suasana hutan pada malam hari dan terutama untuk melihat aktivitas laba-laba tarantula. Objek wisata alam Sangkima berada di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Kutai Wilayah I Sangatta dan secara administratif berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur. Kawasan ini cukup banyak dikunjungi wisatawan karena aksesibilitasnya yang cukup mudah. Terletak di km 38 jalan poros Bontang – Sangatta, lokasi ini dapat dicapai dengan transportasi darat.Potensi wisata yang ada di Sangkima antara lain adalah hutan alam dengan berbagai tumbuhan terutama ulin (Eusideroxylon zwageri) dan dari famili Dipterocarpaceae, serta berbagai jenis satwa liar terutama jenis burung seperti kangkareng perut-putih (Anthracocereos albirostris), srigunting (Dicrurus spp.), dan sempidan biru (Lophura ignita). Kupu-kupu Idea hypermnestra (paper kite butterfly) yang berwarna putih bertotol hitam, sangat mudah ditemui sedang melayang dengan pelan dan sangat anggun. Untuk pengamatan satwa, selain perlu ketepatan waktu pengamatan, wisatawan juga harus dapat menjaga ketenangan hutan selama penjelajahan. Daya tarik lainnya di Sangkima adalah petualangan jelajah hutan. Kawasan wisata ini memiliki beberapa objek daya tarik wisata, baik yang alami maupun buatan. Pohon ulin raksasa yang diperkirakan berumur 1.000 tahun dan memiliki diameter 2,49 meter merupakan atraksi utama yang dapat ditemukan setelah menyusuri boardwalk sepanjang kurang lebih 900 m. Pohon ulin raksasa tersebut diperkirakan merupakan pohon ulin tertua di dunia. Karena itulah, slogan objek wisata alam Sangkima ini adalah "The wonder of giant ironwood".Untuk mengelilingi kawasan wisata alam Sangkima sepanjang 4 km, wisatawan harus melewati trek wisata serta sungai dan tebing yang dapat dilintasi dengan meniti jembatan yang konstruksinya dikondisikan dapat bergoyang, seperti jembatan gantung dan jembatan sling. Canopy trail dan rumah pohon merupakan atraksi wisata lainnya yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Saat berkunjung di pagi hari, wisatawan akan disambut nyanyian merdu burung remetuk laut (Gerygone sulphurea), suara ribut burung cekakak sungai (Todiramphus chloris), dan riuhnya burung-burung penghuni mangrove lainnya. Suasana syahdu hutan mangrove saat air pasang tinggi, ramainya monyet ekor panjang yang sedang mencari makan berupa kepiting di antara perakaran mangrove saat air laut surut, anggunnya burung bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) dan elang bondol (Haliastur indus) yang terbang melayang-layang saat udara panas, serta rombongan burung kuntul yang melintasi perairan untuk pulang ke sarang saat senja hari, akan menjadi kenangan indah bagi wisatawan. Dari menara pandang, wisatawan juga dapat menikmati indahnya kawasan mangrove dan laut di sekitar Bontang Mangrove Park.Bontang Mangrove Park menyediakan fasilitas berupa aula berkapasitas 150-200 orang dan lapangan luas bagi wisatawan yang ingin melakukan kegiatan dengan peserta yang cukup banyak. Gazebo-gazebo sepanjang jalur wisata juga bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati hutan mangrove bersama keluarga dan sahabat. Selain itu, bumi perkemahan yang telah ditata rapi akan menjadikan kegiatan berkemah di Bontang Mangrove Park lebih menyenangkan.Dengan konsep edukasi yang diusung dalam pengelolaan Bontang Mangrove Park, maka wisatawan yang berkunjung ke Bontang Mangrove Park akan selalu diajarkan untuk menghargai alam, seperti menjaga ketenangan di dalam hutan, meminta wisatawan untuk bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing dengan membawa kembali sampah ke luar hutan, tidak merusak tumbuhan di dalam hutan, dan tidak memberi makan satwa agar tidak mengubah perilaku satwa tersebut. Selain melimpahnya kekayaan keanekaragaman hayati, Taman Nasional Kutai juga memiliki potensi kawasan bukit kapur/gamping/karst yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Di kawasan Taman Nasional Kutai, pada beberapa kawasan jelas menunjukkan sisa batuan karst, yaitu mempunyai 11 sungai bawah tanah, bahkan pada beberapa gua terdapat anak sungai yang menghilang masuk ke batu gamping. Kawasan karst Taman Nasional Kutai termasuk dalam karst Kandolo. Karst Kandolo mempunyai bentangan utara-selatan, namun arah guanya tidak serta merta memanjang utara-selatan. Puncak-puncak bukit gamping yang merupakan gugusan karst Kandolo tersebut relatif berbukit landai dan tidak membentuk tebing-tebing karst yang curam. Ekosistem gua-gua di Kandolo banyak dibantu oleh masih baiknya hutan-hutan di wilayah perikarsnya. Bukit karst Kandolo tidak mempunyai gua-gua yang luas. Gua yang besar adalah Gua Lubang Angin dan Gua Sampe Marta. Selain menjadi tempat hidup bagi kelelawar, walet dan satwa-satwa gua lainnya, gua-gua karst tersebut juga berfungsi sebagai penyimpan air. Untuk kegiatan wisata penelusuran gua, saat ini hanya Gua Lubang Angin dan Gua Sampe Marta yang boleh dikunjungi oleh wisatawan. Sedangkan gua-gua yang lain hanya diizinkan untuk kegiatan penelitian. Gua Lubang Angin berada di Resor Teluk Pandan dan lokasinya cukup jauh. Wisatawan yang ingin berkunjung ke gua Lubang Angin harus berjalan kaki sekitar 4 jam dari Jalan Poros Bontang-Sangatta saat musim hujan. Saat musim kemarau, perjalanan bisa ditempuh dengan mengendarai motor dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Topografi menuju gua tersebut bervariasi, namum umumnya landai. Gua ini merupakan gua dengan lorong-lorong cukup besar dengan kedalaman lorong hingga 219 meter. Selain itu gua ini juga memiliki banyak lubang muara, sehingga angin berhembus dengan baik di dalam gua. Sebagian besar gua sudah dalam kondisi tidak aktif dan menjadi fosil, namun pada tingkat terbawah gua terdapat aliran sungai bawah tanah dengan debit kecil yang diperkirakan berasal dari Sungai Teluk Pandan. Pada lorong utama dijumpai sebuah stalagmit besar yang masih hidup. Stalagmit ini masih terus mendapat suplai air yang menetes dari stalagtit di atasnya.Gua Sampe Marta juga terdapat di Resor Teluk Pandan. Lokasi gua tersebut sekitar 12 km dari jalan poros Bontang - Sangatta. Topografi menuju gua berbukit-bukit pendek, namun cukup curam untuk dilalui kendaraan. Sebelum memasuki gua, wisatawan harus berjalan kaki menyusuri aliran sungai yang berbatu-batu dan mengalir dari dalam gua. Sepanjang dinding gua banyak dijumpai kelelawar. Pada pintu utama terdapat aliran air dari dalam gua. Aliran air tersebut terdapat hampir di seluruh lorong gua Sampe Marta. Kedalaman air sungai di dalam gua bervariasi di setiap lorong dan ada yang mencapai 50 cm. Bentuk lorong gua yang sempit, serta adanya ornamen gua yang berukuran besar mengakibatkan wisatawan harus menunduk dan berjalan jongkok di beberapa bagian lorong untuk melanjutkan ke lorong berikutnya. Pintu keempat gua Sampe Marta berjarak 330 meter dari pintu utama dan jarak ini merupakan panjang keseluruhan lorong. Selamat Hari Konservasi Alam 2020! Sumber: Direktorat PJLHK

Menampilkan 1.969–1.984 dari 1.989 publikasi