Senin, 16 Feb 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Balai Besar Tana Bentarum Ajak Masyarakat Anggota KPP Studi Banding Pengelolaan Ekowisata

Putussibau, 6 April 2021 - Dalam upaya peningkatan pengelolaan pariwisata alam serta untuk menambah wawasan masyarakat di wilayah Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) bekerjasama dengan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) selenggarakan kegiatan studi banding di 3 lokasi: (1) BKSDA Jawa Barat-TN Gunung Ciremai-TN Gunung Merapi; (2) BKDSA Sumatra Utara-TN Gunung Leuser; dan (3) BKSDA Nusa Tenggara Barat-TN Gunung Rinjani. Kegiatan study banding direncanakan selama 6 (enam) hari dimana pesertanya merupakan masyarakat dari Kelompok Pengelola Pariwisata (KPP) yang berasal dari Desa di Wilayah TNBK dan TNDS berjumlah 12 (dua Belas) orang yang didampingi oleh 6 (enam) orang pegawai Balai Besar TaNa Bentarum. Sebelum keberangkatan menuju Jakarta, tim studi banding diberikan pembekalan langsung oleh Kepala Balai Besar TaNa Bentarum. “Agar semua tim dapat memanfaatkan studi banding ini sebaik-baiknya, pelajari semua bentuk pengelolaan ekowisata di masing-masing destinasi pada lokasi studi banding dan selalu menerapkan protokol kesehatan selama pelaksanaan study banding untuk menghidari terinfeksi Covid-19 “, ujar Arief Mahmud. Setelah tiba di Jakarta, peserta studi banding mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan diberi pengarahan langsung oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE). “ Pengembangan dalam menggali potensi wisata diperlukan waktu yang cukup lama, seperti halnya pada waktu saya ditugaskan di Taman Nasional Leuser mengembangkan potensi wisata Tangkahan, saat ini Tangkahan menjadi potensi wisata yang bernilai ekonomis tinggi khususnya bagi masyarakat,” ungkap Ir. Wiratno, M. SC. “ Kita perlu mendorong pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat, jadikan masyarakat sebagai pelaku utama dalam mengelola potensi sumber daya alam khususnya pemanfaatan jasa lingkungan bidang pengembangan ekowisata alam di masing-masing destinasi yang ada di Betung Kerihun maupun Danau Sentarum,” tambahnya. Sumber: Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Artikel

Penguatan Kapasitas MPA di SM Kuala Lupak dan Pulau Kaget

Sungai Telan Besar, 1 April 2021 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melalui Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru guna menghadapi musim kemarau 2021 melaksanakan penguatan kapasitas Masyarakat Peduli Api (MPA) Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak dan Pulau Kaget di Kantor Desa Sungai Telan Besar. Keberadaan Kelompok MPA merupakan salah satu komponen pendukung yang sangat penting dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan sehingga perlu diberikan pembinaan atau penguatan kapasitas terkait upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan khususnya pada kawasan konservasi secara rutin dan berkesinambungan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan terhadap kelompok MPA yang telah dibentuk oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan pada Tahun 2020 sebanyak 30 (tiga puluh) orang terdiri dari 15 (lima belas) orang masyarakat Desa Sungai Telan Besar dan 15 (lima belas) orang masyarakat Desa Tabunganen Muara. Adapun materi yang diberikan berupa kesiagsiagaan kejadian Karhutla, peran serta masyarakat (pembukaan lahan tanpa bakar), penguatan kelembagaan MPA, pengenalan peralatan pemadaman, simulasi dasar pemadaman, dan juga praktek pemadaman lanjutan. Kepala Balai Kalsel Dr. Mahrus mengatakan bahwa dengan adanya kegiatan pembinaan Kelompok Masayarakat Peduli Api ini diharapkan agar kelompok MPA secara sukarela peduli terhadap upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan khususnya pada kawasan SM Kuala Lupak dan Pulau Kaget. Pembinaan ini bertujuan untuk menguatkan kelembagaan dan meningkatkan kapasitas MPA dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta sebagai upaya antisipasi bahaya kebakaran menjelang musim kemarau. Lebih lanjut Dr. Mahrus juga menyampaikan pentingnya menjaga Kawasan Konservasi dan Mandat Pengendalian Kebakaran Hutan Bagi UPT Ditjen KSDAE berdasarkan PERMENLHK No. P.8/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja UPT Konservasi Sumber Daya Alam yaitu salah satunya Pengendalian kebakaran hutan di Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata Alam dan Taman Buru. Kegiatan Pembinaan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat serta merangsang tumbuhnya inisiatif masyarakat dalam pelestarian ekosistem lingkungan kawasan konservasi. Sebagai informasi, kegiatan dihadiri Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru M. Ridwan Effendi, S.Hut M.Si, Kepala Resort SM.Kuala Lupak dan SM. Pulau Kaget Ahmad Barkati serta Urusan Pengendalian Kebakaran Hutan Suparni, S.Hut. Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Sungai Telan Besar Bapak Amberin yang mengucapkan terima kasih kepada Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan karena telah menunjuk pihaknya untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut dan siap mendukung BKSDA Kalimantan Selatan dalam upaya pencegahan kebakaran di kawasan konservasi SM. Kuala Lupak. Acara ini dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. (ryn) Sumber: Suparni, S.Hut - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Pemberdayaan Masyarakat di Taman Nasional Batang Gadis

Panyabungan, 6 April 2021. Sebagai salah satu fungsi kawasan konservasi yaitu pemanfaatan, Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) turut memberikan manfaat bagi masyarakat desa penyangga. Salah satunya yaitu memberikan bantuan pemberdayaan masyarakat. Tujuannya adalah untuk membantu perekonomian masyarakat yang ke depannya membantu masyarakat keluar dari ketergantungan terhadap hutan sehingga kawasan tetap lestari dan masyarakat sejahtera. Awal pemberian bantuan dimulai tahun 2013, pada saat itu pemberian bantuan secara langsung kepada desa melalui Kepala Desa dan jenis bantuan ditentukan oleh Kepala Desa yang disesuaikan terhadap kebutuhan masyarakat desa. Sistem pemberian seperti ini berlangsung hingga tahun 2017. Mulai tahun 2018 pemberian bantuan melalui kelompok masyarakat, karena itu perlu adanya monitoring sehingga dapat diukur keberhasilan pemberian bantuan tersebut terhadap kesejahteraan masyarakat dan meminimalisir kerusakan hutan. Dan saat ini, bantuan ekonomi produktif ini bukan saja dapat berdaya guna tetapi diharapkan dapat menjadi produk unggulan dari desa yang diberi bantuan sehingga bantuan bukan saja berbentuk barang tetapi dapat berupa pelatihan demi meningkatkan sumber daya masyarakat desa. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Wisata Gua di Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Sofifi, 5 April 2021. Pulau Halmahera menyimpan beragam kekayaan alam. Tidak hanya hasil dari bahan mineral dan hutan. Memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi membuat Kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) menjadi salah satu kawasan konservasi di Indonesia yang menjadi tujuan bagi para peneliti dan pecinta wisata alam. Selain terkenal dengan surga burung di Indonesia, kawasan TNAL ini juga memiliki potensi geodiversity berupa bentang alam karst. Khususnya bagi Anda yang suka akan wisata alam dan menerobos rimbunnya hutan belantara. Tidak perlu mengeluarkan uang puluhan jutaan Rupiah untuk dapat menikmatinya, karena di Maluku Utara juga masih banyak tempat-tempat wisata yang eksotis tapi masih jarang dikunjungi kebanyakan orang, seperti wisata susur gua yang berada di Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Secara artian luas, gua adalah cerukan ke dalam atau rongga yang terbentuk secara alami oleh erosi air atau faktor alam lainnya. Menurut penjelasan dari International Union of Speleogoly (IUS), gua adalah setiap ruangan bawah tanah yang berbentuk lorong dan dapat ditelusuri atau dimasuki manusia. Kawasan resort Akejawi merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata yang terletak di Desa Akejawi, Kecamatan Wasilei Selatan, Kabupaten Halmahera Timur. Kawasan resort Akejawi adalah kawasan dengan bentangan alam karst terbesar dan memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara. Hampir semua jenis gua bisa ditemukan di kawasan ini. Wilayah TNAL terletak di tiga kabupaten dan satu kota yakni Kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Tengah dan Kota Tidore Kepulauan. Kawasan konservasi ini, memiliki luas mencapai 167.319,32 ha. Balai TNAL pekan ini telah selesai melaksanakan kegiatan survei dan Inventarisasi Gua di kawasan resort Akejawi, pada 25 Maret hingfa 4 April 2021 kemarin. Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, T. Heri Wibowo menyampaikan bahwa "Kegiatan survei dan inventarisasi Gua di kawasan karst yang berada di resort Akejawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata bertujuan untuk memetakan sebaran gua-gua yang terdapat di Resort Akejawi dan mengidentifikasi jenis-jenis gua yang yang berada dikawasan tersebut". Heri juga menambahkan "Output dari kegiatan ini juga, bukan hanya sekadar memetakan dan mengetahui sebaran dan jenis-jenis gua, tetapi hasil dari kegiatan ini juga sebagai bahan dan data awal guna pertimbangan untuk menjadikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai bagian dari Geopark Nasional. Mengingat kawasan resort akejawi memiliki potensi sebaran karst terbesar serta memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara". Selain melibatkan tim speleologi dari Taman Nasional Aketajawe Lolobata, kegiatan ini, kami juga melibatkan tim ahli dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia Maluku Utara, yaitu Bung Dedy Arief yang juga sebagai ketua IAGI Malut, Tambah Heri. Heri bilang, Terdapat 51 gua yang telah ditemukan dikawasan resort Akejawi dan sebagian sudah teridentifikasi dan telah dipetakan. "Saya berharap kawasan ini kedepan akan dikembangkan menjadi destinasi wisata favorit khususnya wisata alam minat khusus yaitu susur gua (caving) di Provinsi Maluku Utara dan juga nantinya akan berdampak positif kepada masyarakat sekitar kawasan TNAL. Menurut ketua ikatan ahli geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara, Dedy Arief menyampaikan bahwa, "sesuai hasil observasi dan inventarisasi kawasan karst Resort Akejawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata, memiliki ragam morvologi endokarst (stalaktit, stalakmit, flowstone, pilar, tirai, Chamber, sungai bawah tanah, jendela karst, terowongan dan jembatan alam) dan eksokarst terdiri dari Polje, menara karst dan uvala yang sangat layak untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata minat khusus dan bagian dari Geopark Nasional. Disampingi itu, sumber air tanah dari karst juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih di Desa Akejawi dan sekitarnya", tambah Dedy. Bagi anda penikmat wisata alam, wajib mengunjungi kawasan ini. Untuk menuju ke kawasan resort akejawi, aksesnya bisa terbilang sangat mudah. Dari Sofifi menuju ke Desa Akejawi bisa di tempuh dengan kendaraan bermotor, dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam stengah. Untuk wisatawan yang tidak memiliki peralatan untuk caving, tidak perlu khawatir karena di Taman Nasional Aketajawe Lolobata juga menyediakan peralatan atau perlengkapan khusus caving lengkap dengan guide profesional yang siap memandu anda menyusuri setiap sudut kawasan karst di resort Akejawi. Tunggu apa lagi sobat hijau, ayo datang dan nikmati pesona alamnya serta rasakan sensasi petualangan menyusuri gua-gua di Resort Akejawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sumber : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

Batang Gadis di Bumi Mandailing

Panyambungan, 30 Maret 2021 - Batang Gadis sebagai wilayah administratif sudah muncul sebagai wilayah kabupaten sejak awal Indonesia merdeka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, wilayah (yang saat ini dikenal sebagai Kabupaten) Mandailing Natal dibentuk menjadi Kabupaten Batang Gadis dengan ibukotanya Kotanopan. Kabupaten ini dipimpin oleh Bupati Raja Junjungan Lubis, kemudian Fachruddin Nasution. Dengan beberapa pertimbangan pula, ibukota Kabupaten yang semula Kotanopan dipindahkan ke Panyabungan. Pada tahun 1950, terjadi lagi perubahan wilayah administrasi pemerintahan. Kabupaten Batang Gadis digabungkan dengan Kabupaten Angkola dan Kabupaten Padang Bolak_ed ke (/menjadi_ed) Kabupaten Tapanuli Selatan (Nasution, 2014). Pada tahun 1999, kabupaten ini kembali berdiri dengan nama Mandailing Natal (Madina). Saat ini, Batang Gadis selain menjadi nama taman nasional, juga dipakai menjadi nama oleh satu desa, yaitu Desa Batang Gadis di Kecamatan Panyabungan Barat. Satu kecamatan di pantai barat Mandailing Natal juga memakai nama ini, yaitu Kecamatan Muara Batang Gadis. Dalam bahasa Mandailing, Batang mengacu pada arti ‘badan’ sungai yang besar. Oleh karena itu, selain Batang Gadis, sungai-sungai besar di wilayah ini juga serupa menggunakan kata ‘batang’, seperti : Batang Natal, Batang Parlampungan, Batang Angkola, dan Batang Batahan. Nama Gadis pada Batang Gadis, sejauh ini diketahui berasal dari dua kisah simbolisasi. Kisah pertama menyebutkan, bahwa sungai ini berhulu di Gunung Kulabu di wilayah adat Mandailing Julu, mengumpulkan air dari Batang Pungkut dan Aek Mais, melintas Kotanopan, Tambangan, hingga ke Panyabungan, kota keramaian di wilayah adat Mandailing Godang. Batang Gadis bertemu padu dengan Batang Angkola di Kecamatan Siabu, menembus rimbun hutan hingga akhirnya sampai ke pantai barat Sumatera, melaut di Singkuang. Dari puncak-puncak Bukit Barisan, Batang Gadis akan terlihat meliuk-liuk indah. Berbelok di sela bukit, lurus menembus lembah hutan dan dolok (gunung). Keindahan jalurnya inilah yang diibaratkan seperti seorang gadis yang menari, sehingga sungai terpanjang di Bumi Mandailing ini disebut sebagai (sungai) Batang Gadis. Kisah kedua berhubungan erat dengan sosiohistoris masyarakat yang mendiami tepiannya. Orang Mandailing memiliki hubungan erat dengan sungai. Selain pemukiman yang seringkali berjajaran dengan alur sungai, keberadaan sumber air untuk kehidupan adalah asal muasalnya. Sebagai masyarakat agraris, masyarakat Mandailing membutuhkan sungai sebagai sumber pengairan sawah dan perladangan. Sebagai pusat penyebaran agama Islam, sungai menjadi sumber air untuk bersuci (thoharoh), sehingga masjid-masjid seringkali dibangun di pinggiran sungai. Selain itu, tepian sungai juga menjadi pusat aktivitas domestik, mencuci dan berbersih yang umumnya dilakukan oleh kaum ibu dan anak-anak gadis. Karena Batang Gadis melintasi banyak pemukiman mulai dari Mandailing Julu sampai ke Mandailing Godang, hingga ke kampung masyarakat Pesisir di pantai barat, maka sungai ini sangat dikenal oleh seluruh masyarakat Mandailing. Setiap hari di setiap perkampungan yang dilewati, aek godang (air/sungai besar) ini diramaikan anak-anak gadis yang mencuci, mengambil air, ataupun membersihkan bahan makanan untuk dimasak. Dari situlah, menurut versi kisah ini, muncul sebutan bagi sungai ini menjadi Batang Gadis. Sumber : BTN Batang Gadis
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Riau Gelar Evaluasi Kesesuain Fungsi (EKF) Kawasan Konservasi di Kepulauan Riau

Pekanbaru, 29 Maret 2021 - Balai Besar KSDA Riau melaksanakan kegiatan Evaluasi Kesesuain Fungsi (EKF) pada tanggal 24 sd 25 Maret 2021. Upaya untuk menentukan status fungsi salah satunya dilakukan melalui EKF berdasarkan permen P.49/Menhut/2014 tentang Tatacara Pelaksanaan Evaluasi Kesesuaian Fungsi KSA/KPA. Terdapat 5 kawasan konservasi yang di kelola Balai Besar KSDA Riau. Salah satunya Pulau Batam yang memiliki 2 kawasan konservasi sedangkan 3 kawasan lainnya berada di Pulau Bintan. Ketiga kawasan yang ada di Bintan ini statusnya masih dalam katagori Kawasan Suaka Alam (KSA) atau Kawasan Pelestarian Alam (KPA) Gunung Kijang dengan luas 462 Ha, KPA/KSA Gunung Lengkuas dengan luas 689 Ha dan KSA/KPA Sungai Pulai dengan luas 71 Ha. Kawasan ini telah ada sejak tahun 1986 melalui Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tahun 1986. Suharyono selaku Kepala Balai Besar KSDA Riau membuka acara tersebut secara resmi. Acara dihadiri oleh semua tim terpadu sesuai dengan SK yang telah ditetapkan Kementerian LHK yaitu dari Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) ditjen KSDAE, Direktorat Kawasan Konservasi (KK) ditjen KSDAE, Balai Besar KSDA Riau, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Kepulauan Riau, Bapenlitbang Provinsi Kepulauan Riau, Camat Gunung Kijang, Camat Bintan Timur, pemerintahan Desa Gunung Kijang, pemerintahan Kelurahan Gunung Lengkus dan KPHP unit IV Bintan. Kemudian, acara dilanjutkan dengan kunjungan lapangan pada ketiga kawasan KSA/KPA tersebut dan melakukan diskusi untuk menggali informasi-informasi lain dari tim yang hadir sekaligus diskusi untuk penetapan rekomendasi tim. Dokumen yang disusun akan ditindaklanjuti dengan menyampaikannya ke kementerian melalui Direktorat Jenderal KSDAE. Sumber : Balai Besar KSDA Riau.
Baca Artikel

Mayora Group Dukung BBTNGGP Wujudkan “Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo”

Sukaresmi, 27 Maret 2021. Salah satu mitra Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group) memiliki komitmen dalam pemulihan ekosistem selama 5 (lima) tahun terakhir. Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Besar TNGGP Wahju Rudianto, S.Pi., M.Si. melalui Kabid PTN Wilayah III pada pembukaan kegiatan penanaman pohon bersama PT. Tirta Fresindo Jaya Plant Cimande yang dihadiri Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, Kepolisian Sektor (Polsek) Megamendung, Polsek Caringin, Pemerintah Kecamatan Caringin, jajaran pimpinan dan staf PT. Tirta Fresindo Jaya (PT. TFJ) Plant Cimande, serta desa dan tokoh masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Perjalanan kerjasama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan PT. Tirta Fresindo Jaya selama 5 tahun dari tahun 2017. Kerjasama ini menaungi 2 plant dari PT. TFJ yaitu Plant Cimande dan Ciherang dimana masing-masing telah menanam 2.000 pohon pada 4,5 hektar total 4.000 pohon pada 9 hektar Zona Rehabilitasi di wilayah Resort PTN Tapos. Khusus untuk PT. TFJ Plant Cimande menanam sebanyak 2.000 pohon pada luasan 4,5 hektar di Blok Hutan Arca, Resort PTN Tapos, Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang PTN Wilayah III. Lokasi tersebut masuk ke dalam administratif Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor dan merupakan areal yang masuk dalam target pemulihan ekosistem TNGGP tahun 2020-2024 jenis pohon yang dipilih dalam penanaman diantaranya: manglid (Manglieta glauca BI.), janitri (Elaeocarpus ganitrus), rasamala (Altingia excelsa), pulai/ lame (Alstonis scholaris), dan huru (Machilus rimota). Sesuai rencana pelaksanaan program, hingga akhir kerjasama telah tertanam 20.000 pohon pada luasan 40 hektar. Berdasarkan data yang dihimpun oleh TNGGP, dari tahun 2017-2021 lokasi yang sudah tertanami sebagai berikut: Blok Panyusuhan (2 hektar), Blok Pasir Pogor (6,5 hektar), Blok Arca (12,5 hektar), Blok Ciketereg (14 hektar), dan Pasir Benyeng (5 hektar). “Kami menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas komitmen dan kontribusi pihak Mayora Group dalam pengelolaan TNGGP dimana salah satunya pada pemulihan ekosistem hutan” tutur Kepala Bidang PTN Wilayah III TNGGP kembali. PT. Tirta Fresindo Jaya-Plant Cimande dalam sambutannya yang diwakili oleh Grup Departement Head, Yoki Isra menuturkan bahwa perusahaan memiliki komitmen untuk ikut serta dalam upaya penyelamatan lingkungan. Selain perwakilan TNGGP dan PT. TFJ Plant Cimande, Kepala Kepolisian Sektor Megamendung menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya yang dilakukan oleh TNGGP dan mitra dalam penyelamatan hutan mengingat Kecamatan Megamendung tergolong pada area rawan bencana longsor. Desa Sukaresmi tergolong pada area rawan bencana longsor dengan topografi curam dan pemukiman masyarakat padat. Kegiatan pemulihan ekosistem ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat yaitu Kelompok Tani Hutan Arca Domas Pangrango dan Masyarakat Mitra Polhut RPTN Tapos pada tahun 2021. Eksistensi kedua mitra ini memberikan warna dalam pengelolaan wisata. Kelompok tersebut memiliki inisiatif dalam pengembangan wisata pada Zona Pemanfaatan di Blok Arca. Saat ini masyarakat telah melakukan pengembangan paket wisata di luar kawasan TNGGP dengan mengusung wisata syariah. Selain kegiatan pemulihan ekosistem, TNGGP bersama PT. TFJ Plant Cimande juga memiliki komitmen dalam pemberdayaan masyarakat. Setelah selesainya aktifitas penanaman, pada Bulan April 2021 segera dilaksanakan pelatihan budidaya lebah madu bagi masyarakat anggota KTH Arcadomas serta MMP. Sebagai informasi, dalam Rencana Pemulihan Ekosistem Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) tahun 2020-2024 terdapat sekitar 604 hektar yang yang ditargetkan untuk dipulihkan kondisinya dalam beberapa tingkat kerusakan. Dari luasan tersebut 291 hektar (48,15%) diantaranya merupakan kategori rusak sedang dengan jenis vegetasi hutan tanaman damar, puspa, ekaliptus, pinus, kayu manis, dan kaliandra yang sebelumnya dikelola oleh Perhutani, serta kawasan lainnya berupa kebun campuran, belukar tua, dan hutan sekunder. Hutan dengan jenis vegetasi tersebut dikategorikan sebagai ekosistem terdegradasi mengingat bukan merupakan jenis asli setempat. Skema pembiayaan pemulihan ekosistem tersebut antara lain dilakukan melalui program RHL (Ditjen PDASHL) program pemulihan ekosistem (Ditjen KSDAE) serta kontribusi dari mitra Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Semoga cita-cita TNGGP “Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo” atau hutan lestari masyarakat sejahtera dapat segera terwujud. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Bidang PTN Wilayah III-Balai Besar TNGGP Foto : Ayi Rustiadi dan Fahmi Ardian Afif
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Sumut Bahas Perjanjian Kerja Sama Dengan Kodam I Bukit Barisan

Medan, 26 Maret 2021 - Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama Komando Daerah Militer (KODAM) I Bukit Barisan melakukan pembahasan draft Perjanjian Kerja Sama tentang Pembangunan Strategis Yang Tidak Dapat Dielakkan Berupa Pemanfaatan Kawasan Untuk Areal Latihan Militer Resimen Induk Daerah Militer (RINDAM) I Bukit Barisan Di Cagar Alam (CA)/Taman Wisata Alam (TWA) Dolok Tinggi Raja Sumatera Utara, pada Rabu 24 Maret 2021, di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Perjanjian Kerja Sama ini merujuk kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.85/Menhut-II/2014 jo. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.44/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.85/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Kerja Sama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Selain itu juga didasarkan kepada surat Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : S.899/KSDAE/PIKA/KSA.0/10/2020 tanggal 23 Oktober 2020, hal Persetujuan Kerja Sama Pemanfaatan Kawasan Untuk Areal Latihan Militer RINDAM I/Bukit Barisan di CA. Dolok Tinggi Raja Sumatera Utara. Rapat dipimpin oleh Teguh Setiawan, S.Hut., MM. selaku Kepala Bagian Tata Usaha mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dalam rapat tersebut membahas poin-poin penting dari draft Perjanjian Kerja Sama (PKS), yang meliputi : tujuan dari PKS, ruang lingkup, hak dan kewajiban, status aset, jangka waktu dan perpanjangan kerja sama, berakhirnya kerja sama serta monitoring, evaluasi dan pelaporan PKS. Rapat ini dihadiri pejabat dari KODAM I Bukit Barisan, seperti : Letkol Artileri Medan (ARM) Masturi - Staf Perencanaan Kodam, Letkol Kavaleri (KAV) Edwin - Slogdam I/BB, Mayor Corps Zeni (CZI) Borkat MS- Zidam I/BB, Mayor Corps Hukum (CHK) M. Bilal, SH.-Kumdam I/BB, Mayor Corps Zeni (CZI) Joko S.-Slogdam I/BB dan Mayor Infanteri (INF) Widhitama-Sopsdam I/BB. Sedangkan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara turut dihadiri oleh Kepala Bidang Teknis Ir. Irzal Azhar, M.Si., Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Seno Pramudita, S.Hut., M.E., Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L., dan Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Amenson Girsang, SP. Demi menerapkan protokol kesehatan, rapat bukan hanya dilakukan secara off-line tetapi juga dilakukan on-line (virtual) dengan melibatkan dari Direktorat PIKA Ditjen KSDAE diwakili Jujuwiyono, Sekretariat Ditjen KSDAE diwakili Adam Bahtiar dan Rini, serta dari RINDAM I/Bukit Barisan diwakili Mayor Arhanud (ARH) Sugianto. Setelah pembahasan PKS selesai, peserta rapat sepakat pula untuk kelanjutannya dalam mempersiapkan penyusunan turunan dari PKS, yaitu Rencana Pelaksanaan Program (RPP), Rencana Kegiatan Lima Tahun (RKL) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara.
Baca Artikel

Gelar Forum Konsultasi Publik, BKSDA Sumatera Selatan Bahas RPJP TN Gunung Maras

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan 1 dari 2 wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel). Di Provinsi ini, BKSDA Sumsel mengelola 3 kawasan konservasi yaitu TWA Gunung Permisan, TWA Jering Menduyung, dan TN Gunung Maras. Ketiganya ditetapkan status fungsinya sejak tahun 2016, sehingga sampai dengan saat ini fokus pengelolaan termasuk dalam hal perencanaan kawasan, seperti yang dilakukan pada hari ini, Kamis (25/3) di kota Pangkalpinang melalui kegiatan “Konsultasi Publik Rencana Penyusunan Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Nasional (TN) Gunung Maras periode 2021-2030”. Kegiatan ini dibuka oleh Ujang Wisnu Barata selaku Kepala BKSDA Sumsel, dengan dihadiri sebanyak 30 orang dari unsur pemerintahan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Bangka Barat, Kecamatan dan Desa sekitar TN Gunung Maras, UPT Kementerian LHK lingkup Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Universitas Bangka Belitung, Yayasan ALOBI, Kelompok Pecinta Alam setempat serta turut hadir Ketua Komisi III DPRD Kepulauan Bangka Belitung. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber, Rudijanta Tjahja Nugraha, perwakilan dari Direktorat Kawasan Konservasi dengan materi “Menetapkan Nilai Penting Kawasan dalam Rangka Pengelolaan” Martini selaku perwakilan dari Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga menambahkan materi “Perspektif Taman Nasional (TN) Gunung Maras dalam Perencanaan Pembangunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. Adapun pembahasan draf RPJP oleh Tim Penyusun beserta diskusi, dan ditutup dengan penandatanganan berita acara Konsultasi Publik. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan.
Baca Artikel

CPNS Balai Besar KSDA Sumatera Utara Laksanakan Presentasi PKTBT

Medan, 24 Maret 2021. Setelah lebih 2 (dua) bulan menjalani pembekalan (peningkatan kapasitas), CPNS Tahun 2019 Balai Besar KSDA Sumatera Utara Formasi Polhut-Ahli Pertama, melaksanakan Presentasi Penguatan Teknis Bidang Tugas (PKTBT), pada Selasa 23 Maret 2021, bertempat di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Teguh Setiawan, S.Hut., MM., dalam sambutan dan arahannya menyampaikan bahwa kegiatan Presentasi PKTBT merupakan tahapan yang harus dijalani oleh CPNS sebelum terjun langsung ke lapangan. Presentasi ini memaparkan tentang pengetahuan apa saja yang diperoleh selama mengikuti pembekalan. Akhir dari PKTBT ini nantinya, CPNS akan membuat laporan kegiatan secara pribadi untuk selanjutnya diproses oleh kepegawaian Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Adapun keempat CPNS yang mengikuti presentasi, masing-masing : Budi Satria Sihite, S.Hut., Polhut Ahli Pertama pada Seksi Konservasi Wilayah I Bidang KSDA Wilayah I, Farid Ali, S.Hut., Polhut Ahli Pertama pada Seksi Konservasi Wilayah III Bidang KSDA Wilayah II, Dany Roy Putra Sitanggang, S.Hut., Polhut Ahli Pertama pada Seksi Konservasi Wilayah V Bidang KSDA Wilayah III dan Eral Jantua Gurning, S.Hut., Polhut Ahli Pertama pada Seksi Konservasi Wilayah VI Bidang KSDA Wilayah III. Dipenutup kegiatan presentasi, Teguh Setiawan mengingatkan agar CPNS di dapat segera beradaptasi dengan lingkungan kerjanya masing-masing, menjalankan pekerjaan dengan baik, sabar, ikhlas dan jujur. “Jadilah agen muda yang memberi perubahan dan dampak positif bagi lingkungan kerja,” ujar Teguh Setiawan, mengakhiri arahannya. Presentasi ini turut dihadiri Kepala Sub Bagian Umum Imelda Kamayanti Harahap, SH., Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Andoko Hidayat, S.Hut., MP., Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan Suyono, SH., M.Si. dan Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Amenson Girsang, SP. Sumber : Evansus Renandi Manalu - Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Launching Kawasan Wisata Pattunuang, Dirjen KSDAE Puji Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Maros, 22 Maret 2021. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE), Wiratno, membuka secara resmi Kawasan Wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) pada Sabtu, 20 Maret 2021. Kawasan wisata ini menyuguhkan panorama karst berpadu sungai yang mengalir sepanjang tahun. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sendiri memiliki kekayaan alam berupa ekosistem karst yang sangat unik nan langka. Lanskap menawan dengan keanekaragaman hayati yang melimpah. Panorama bukit kapur dengan beragam potensinya sangat potensial menjadi objek wisata alam. Kepala Balai Taman Nasonal Bantimurung Bulusaraung, Yusak Mangetan menyampaikan "Kami telah melakukan pengembangan fasilitas wisata di Kawasan Wisata Pattunuang secara besar-besaran pada kurun waktu 2018 s.d 2020. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan pemasukan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” pungkas Yusak. “Fasilitas yang kami bangun di antaranya Sanctuary Tarsius Fuscus, Via Ferrata, Sky Camp, dan Sky Walk. Kami juga membangun jembatan gantung menuju via ferrata. Termasuk membenahi area berkemah di Bisseang Labboro,” tambah Yusak. Dalam sambutannya, Wiratno mengapresiasi kinerja Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. “Saya salut dengan kinerja Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang mampu mengembangkan kawasan wisatanya melalui intervensi pembiayaan yang berasal dari SBSN. Semoga Kawasan Wisata Pattunuang mampu menjadi primadona masyarakat Sulawesi Selatan.” Menurut Dirjen KSDAE, apa yang dilakukan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraug ini adalah wujud kemandirian ekonomi yang tetap memerhatikan budaya-budaya setempat. Hal ini sejalan dengan nawacita Presiden Republik Indonesia untuk membangun Indonesia mulai dari pinggiran. Karenanya tak heran jika pengembangan Pattunuang juga menggandeng masyarakat sekitar dalam pengelolaannya ke depan. Lebih lanjut Wiratno juga mengajak kita untuk menjaga kelestarian alam. “Alam dan makhluk hidup lainnya telah Tuhan ciptakan terlebih dahulu. Kemudian datanglah manusia seolah menjadi penguasa. Raja hutan bukan lagi harimau, melainkan manusia. Karena manusia begitu serakah, memakan segalanya,” ujar Wiratno, Dirjen KSDAE dalam sambutannya. Ia memberi perumpaan bahwasanya manusialah penyebab kerusakan alam. Karenanya jika bumi ingin tetap ramah, manusia harus menyadarinya. Manusia harus memahami bahwa ia juga adalah tamu, dan harus turut menjaga kelestarian alam. Dirjen KSDAE juga memberikan sejumlah penghargaan kepada Kelompok masyarakat desa binaan, penggiat konservasi, mitra kerja serta champion konservasi untuk petugas taman nasional. Sedikitnya 100 undangan hadir pada peresmian kawasan wisata Pattunuang yang berlangsung di lokasi terbuka ini dengan undangan yang berasal dari mitra taman nasional, pemerintah setempat, dan sejumlah tokoh masyarakat. Fasilitas yang telah terbangun menjadi sarana mempermudah wisatawan menikmati alam Pattunuang. Bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat dengan primata terkecil di dunia, mereka bisa mengunjungi sanctuary. Mengenal lebih dekat dengan salah satu satwa endemik Sulawesi Selatan, Tarsius fuscus. Bagi penikmat petualang memanjat tebing via ferrata adalah jawabannya. Pattunuang menyediakan beragam spot foto kece yang instagramable. Bisa bergaya di Bislab Suspension Bridge, berpose di menara jalan trail dengan latar belakang karst tak kalah serunya. Jalan trail di sisi Sungai Pattunuang juga begitu menariknya. Pokoknya Pattunuang patutlah dikunjungi. Dirjen KSDAE bersama rombongan juga berkesempatan mengunjungi perpustakaan dan depo arsip Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kedua fasilitas ini berada di gedung Pusat Informasi Bantimurung. Gedung berlantai dua yang merupakan hibah dari JICS untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pusat informasi ini berada di Kawasan Wisata Bantimurung. Semoga dengan berkembangnya Kawasan Wisata Pattunuang memberi dampak positif. Tak hanya PNBP yang meningkat, namun juga terbukanya lapangan kerja bagi warga sekitar. Pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan wisata. Sebagai informasi, pelaksanaan peresmian kawasan wisata ini menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Panitia melakukan pengecekan suhu tubuh, menyiapkan sarana cuci tangan, dan hand sanitizer. Panitia acara juga selalu mengingatkan untuk selalu menjaga jarak. Sumber: Ramli dan Taufiq Ismail – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Artikel

Menyusuri Jejak Sang Penjaga Arwah

Ende, 22 Maret 2021. Garugiwa atau Kancilan Flores merupakan satwa ikon di logo Taman Nasional (TN) Kelimutu. Garugiwa merupakan burung yang menurut kepercayaan masyarakat suku Lio merupakan burung penjaga arwah Danau Kelimutu dan masyarakat dilarang untuk membunuh burung ini karena akan mendapat musibah atau kecelakaan. Sosok burung arwah juga misterius karna ukurannya yang kecil dan jarang terlihat dengan kasat mata sehingga banyak Pengunjung ke Taman Nasional Kelimutu semakin penasaran dengan keberadaannya. Untuk mendengar suara kicauan burung arwah hanya bisa dinikmati sekitar pukul 06.00-10.00 pagi, suara Burung arwah juga cukup unik karna memiliki kurang lebih 15 jenis suara kicauan. Menjaga agar tetap lestari, Balai TN Kelimutu melakukan Kegiatan Survey Populasi dan Persebaran Garugiwa atau Kancilan Flores di Kawasan Taman Nasional Kelimutu yang dilakukan tanggal 15 s/d 21 Maret 2021. Hal ini bertujuan untuk memperbarui data dugaan ukuran populasi burung Garugiwa atau Kancilan Flores beserta sebarannya di dalam Kawasan Taman Nasional Kelimutu, juga tersedianya data yang dapat mendukung upaya pengelolaan kawasan konservasi dan meningkatkan nilai konservasi Kawasan TN Kelimutu. Mari sama-sama menjaga agar keberadaan burung Arwah ini tetap lestari. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Artikel

Semarak Hari Bakti Rimbawan Ke-38, BKSDA Sumsel Lakukan Penanaman Dan Penyuluhan

Palembang, 20 Maret 2021. Bulan Maret ini memiliki hari peringatan besar bagi Rimbawan di seluruh penjuru tanah air, yaitu Hari Bakti Rimbawan 16 Maret 2021 yang merupakan peringatan ke-38 dengan arti 38 tahun sudah kita melaksanakan selebrasi sebagai wujud syukur, bakti terhadap alam dan negara. Pesan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno, yang disampaikan melalui Amanat Kepala Balai pada Apel Peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-38 lingkup Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel), “Konservasi adalah jalan hidup yang dipilihkan Tuhan. Jadi kita hanya wajib melaksanakannya dengan sebaiknya-baiknya. Dengan kerja tuntas, kerja ikhlas, dan kerja keras” Pada peringatan tahun ini, yang juga merupakan rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2021, dimana lokasi puncak kegiatan peringatan HKAN tahun 2021 adalah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di area Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Kupang dan Pantai Lasiana. Kedua calon lokasi tersebut letaknya merupakan satu hamparan yang saling berhubungan. Dalam kegiatan tersebut, BKSDA Sumsel melaksanakan 2 kegiatan, yaitu penanaman pohon dan penyuluhan pengelolaan sampah rumah tangga. Kegiatan dilaksanakan di Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu Palembang dan sekitarnya, pada Sabtu (20/3) dengan melibatkan seluruh staf Balai KSDA Sumsel yang berdomisili di Palembang dan perwakilan Dharma Wanita Persatuan BKSDA Sumsel, serta Pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam PT Indosuma Putra Citra. Dalam prosesnya, seluruh kegiatan dapat berjalan dengan baik dan menaati anjuran protokol kesehatan. PENANAMAN POHON Kegiatan penanaman pohon dilaksanakan di Blok Pemanfaatan TWA Punti Kayu dengan jumlah bibit sebanyak 150 batang. Jenis yang ditanam terdiri atas tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan seperti ketapang (Terminalia catappa), mahoni (Swietenia mahagoni), sengon (Paraserianthes falcataria), jelutung (Dyera costulata), salam (Syzigium polyanthum), dan nangka (Artocharpus heterophyllus). PENYULUHAN PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA Kegiatan penyuluhan dilaksanakan di Kelurahan Srijaya dengan peserta para ibu rumah tangga wilayah setempat yang dikoordinir Dharma Wanita Persatuan BKSDA Sumsel. Ketua Dharma Wanita Persatuan BKSDA Sumsel menyampaikan apresiasi atas semangat dan partisipasi aktif peserta penyuluhan serta mendorong upaya sinergi pengelolaan sampah rumah tangga agar meningkatkan nilai manfaatnya. Selanjutnya, dalam rangka optimalisasi pengelolaan sampah rumah tangga, BKSDA Sumsel turut menyampaikan dukungan melalui penyediaan tong sampah yang diserahkan langsung oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan BKSDA Sumsel. Sumber : Julita Pitria – Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Artikel

Semangat Hari Bakti Rimbawan Bersama BKSDA Sulteng

Palu, 18 Maret 2021. Balai KSDA Sulawesi Tengah telah melakukan serangkaian kegiatan untuk memeriahkan Hari Bakti Rimbawan. Hari Bakti Rimbawan merupakan salah satu momen istimewa bagi para rimbawan di seluruh Indonesia. Momen hari bakti rimbawan tersebut dapat membangkitkan semangat dan motivasi serta kecintaan para rimbawan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan. Rangkaian kegiatan diantaranya mengadakan kegiatan pendidikan konservasi anak dengan mengadakan lomba mewarnai dengan objek hewan atau satwa yang dilindungi/endemik sulawesi bagi anak-anak dari keluarga besar Balai KSDA Sulawesi Tengah dan lomba domino yang dilaksanakan di Seksi Konservasi Wilayah II Poso tepatnya di wilayah Taman Buru (TB) Landusa Tomata dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Puncak peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-38, BKSDA Sulteng mengikuti upacara bendera yang dilaksanakan di beberapa titik. Di Kota Palu upacara bendera dilasanakan di Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah yang dipimpin oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah. Di Kantor Balai KSDA Sulawesi Tengah seluruh karyawan karyawati mengikuti upacara bendera secara virtual dan pada Seksi Konservasi Wilayah II Poso, dipusatkan di TB Landusa Tomata yang dipimpin langsung oleh Bapak Iksan Tengkow, S.H. Upacara yang dilaksanakan di TB Landusa Tomata dihadiri Danramil Mori Atas, Kapolsek Mori Atas, Ka Pospol Polairud, Camat Mori Atas, Kepala Desa yang berbatasan dengan kawasan, Anggota Pramuka, Dharma Wanita BKSDA Sulteng, Polhut, PEH, Penyuluh, MMP dan tenaga kontrak. Selain melaksanakan upacara bendera, juga dilakukan penanaman pohon sebanyak 60 bibit terdiri dari mahoni, jabon dan kopi. Kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi bahaya kebakaran hutan dan penyadartahuan jenis-jenis satwa liar yang dilindungi undang-undang dan pemberian produk gula merah hasil pemberdayaan masyarakat kepada seluruh peserta upacara. Pemberian produk gula aren merupakan wujud pendampingan kelompok yang terus menerus untuk membantu memasarkan produk hasil pemberdayaan masyarakat di Desa Owini dan Desa Bancea pada acara-acara yang diselenggarakan oleh Balai KSDA Sulawesi Tengah. Kepala SKW II Poso, Bapak Iksan Tengkow, S.H yang langsung membagikan produk gula aren kepada peserta upacara antara lain Kapolsek Mori Atas, Kecamatan Mori Atas dan Pemerintah Desa yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Taman Buru Landusa Tomata. Sumber : Tim Humas Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Artikel

Penerapan 9 Nilai Dasar Rimbawan di BKSDA Maluku

Ambon, 16 Maret 2021. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku – Bapak Danny H. Pattipeilohy, S.Pi., M.Si dan pegawai melaksanakan upacara peringatan Hari Bakti Rimbawan Tahun 2021 dengan tema “Terus Berbakti di Tengah Pandemi untuk Lingkungan dan Hutan Lestari” secara virtual melalui zoom. Dalam sambutannya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan – Ibu Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc selaku inspektur upacara menyampaikan bahwa harapannya seluruh rimbawan yang tersebar di seluruh Indonesia agar tetap memegang 9 nilai dasar rimbawan, yaitu Jujur, Tanggungjawab, Ikhlas, Disiplin, Visioner, Adil, Peduli, Kerjasama, dan Profesional. Selain itu, seiring perkembangan teknologi, harapannya agar seluruh pegawai KLHK yang awalnya bekerja lambat menjadi cepat, bekerja manual menjadi digital, dan yang awalnya bekerja biasa menjadi luar biasa. Sumber : Gries E.N – PEH Balai KSDA Maluku
Baca Artikel

Road to HKAN 2021, BBKSDA Sumut Mengenang Kader Konservasi Yang Telah Berpulang (Part 2)

Medan, 18 Maret 2021. Bila edisi kemarin “Mengenang Kader Konservasi Yang Telah Berpulang” menampilkan 3 sosok kader konservasi mewakili generasi tua, kali ini sosok yang ditampilkan adalah mewakili generasi muda yang energik dan kreatif. (Alm.) Saiful Bahri, sosok kader konservasi yang dikenal aktif dalam memperjuangkan Ekowisata Tangkahan. Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc., dalam bukunya “Wisata Intelektual Catatan Perjalanan 2005-2020”, menulis “selama 3 tahun membenahi Taman Nasional Gunung Leuser, terjadilah Kongres Rakyat Pedesaan Batas Leuser di Sumatera Utara di Tangkahan, suatu tempat di pinggir hutan Leuser di Kabupaten Langkat. Suatu momentum untuk mendorong komunikasi asertif dan kerjasama dalam menyelesaikan berbagai persoalan illegal loging, perambahan, perburuan satwa dan konflik satwa yang tidak berkesudahan. Inisiator kongres adalah Alm. Saiful Bahri. Ia salah satu pemikir muda sangat brillian...” Perjuangan panjang tak kenal lelah memang akhirnya membawa hasil. Saat ini Ekowisata Tangkahan telah berkembang pesat dan menjadi salah satu tujuan utama wisata konservasi alam di Provinsi Sumatera Utara. Tugas telah ditunaikan dengan baik oleh Saiful Bahri. Tepat pada tanggal 6 Agustus 2017, Saiful Bahri kembali menghadap sang Pencipta. Karya monumental Ekowisata Tangkahan akan menjadi catatan sejarah sebagai pengingat si pemikir muda brillian. (Alm.) Jamaludin, merupakan kader konservasi yang menetap di Desa Karang Gading, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat. Sosok anak muda yang tergerak hatinya untuk mengkonservasi kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut, melalui kegiatan pembibitan dan penanaman serta pengembangan pemanfaatan tanaman obat Tidak hanya itu, Jamaluddin juga melakukan pendampingan terhadap peneliti maupun mahasiswa dan aktif dalam mengedukasi masyarakat sekitar untuk peduli serta ikut menjaga keberadaan kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Luat agar tetap lestari. Disaat perjuangan belum selesai, sekitar tahun 2016, Jamaludin dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Meskipun Jamaludin saat ini telah tiada, namun semangat konservasi yang ditularkannya tidak akan pernah pudar dan ia akan tetap dikenang. (Alm.) Saor P. Hutapea, S.Hut., sosok anak muda yang ditempa dari organisasi mahasiswa pencinta alam di salah satu perguruan tinggi di Simalungun, Sumatera Utara, tempat dia menempuh dan menyelesaikan pendidikannya. Dunia pendidikan inilah yang kemudian membentuk karakternya menjadi pembina bagi generasi muda pencinta alam, di lingkungan kampus maupun sekolah-sekolah. Sebagai penggiat konservasi, Saor (panggilan akrabnya) juga aktif dalam berbagai kegiatan rehabilitasi hutan. Semangat mudanya kerap mengusik nurani konservasinya untuk melakukan rehabilitasi baik secara individu maupun melalui kelompok-kelompok binaannya. Tapi tepat pada tanggal 27 Mei 2020, segala aktifitasnya pun berakhir sudah. Beliau menghadap sang Pencipta. (Alm.) Lailan Syahri Ramadhan, merupakan kader konservasi yang aktif bergerak di lembaga-lembaga konservasi swadaya masyarakat (LSM/NGO). Lailan juga merupakan tokoh penting yang menggerakkan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesai (FK3I) Tingkat Provinsi Sumatera Utara. Beliau wafat pada tanggal 11 Januari 2021 yang lalu. Berpulangnya 7 kader konservasi terbaik Sumatera Utara menghadap sang Pencipta, menyiratkan pesan : dibalik duka, ada rasa bangga masyarakat Sumatera Utara karena memiliki sosok kader konservasi yang memberi pembelajaran dan pencerahan tentang memaknai hidup dengan karya-karya nyata dibidang konservasi alam dan lingkungan hidup, yang manfaatnya dapat dirasakan langsung. Kader-kader terbaik ini juga memberi teladan bagaimana berbuat totalitas bagi alam dan masyarakat dengan tulus ikhlas, serta bersedia mengorbankan segalanya bukan hanya pikiran, tetapi juga waktu dan tenaga, dengan sukarela dan tanpa pamrih. Berkarya sampai akhir hayat demi konservasi alam yang lestari, itulah moto yang tertanam di dalam kepribadian mereka. Ke 7-nya bukan hanya sebagai pelaku sejarah, tetapi lebih daripada itu merupakan tokoh-tokoh inspiratif yang bisa menjadi motivasi khususnya bagi generasi muda. Beristirahatlah dalam keabadian pahlawan konservasi......semangat mu akan tetap hidup di dalam sanubari kami. Sumber : Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara : Idan Marni, Samuel Siahaan, SP dan Evansus Renandi Manalu

Menampilkan 1.953–1.968 dari 2.046 publikasi