Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Adakah Dampak La Nina Dalam Konservasi Penyu?

Jakarta, 30 Januari 2021. Apakah La Nina memberikan efek negatif terhadap konservasi penyu di Taman Nasional (TN) Kepulauan Seribu? Pada bulan Januari 2021 ini, Syafei, salah satu petugas di Seksi Pengeloaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Pulau Harapan, menemukan fenomena yang jarang dijumpai yaitu satu sarang telur penyu sisik di Pulau Kayu Angin Bira terendam air laut. Selama 3 tahun terakhir tidak pernah terjadi hal seperti ini. Sebanyak 200 butir telur dipindahkan oleh petugas Balai TN Kepulauan Seribu ke Pelestarian Semi Alami Penyu di Pulau Harapan. Berdasarkan pengamatan petugas, masih terdapat harapan bahwa telur-telur tersebut dapat menetas. Saat ini, daratan Pulau Kayu Angin Bira bagian barat tergerus oleh hempasan ombak laut dikarenakan musim angin barat. Dikutip dari Kompas.com pada 5 Januari 2021, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta agar masyarakat bersiap terhadap adanya gangguan dari anomali fenomena La Nina di Indonesia pada periode musim tahun 2021. Kepala BMKG, Dwikorita, menyampaikan selain sisi manfaatnya, bahwa La Nina lebih dipandang sisi negatifnya saja yang berdampak pada bencana hidrometeorologi. Pemantauan BMKG terhadap indikator laut dan atmosfer menunjukkan suhu permukaan laut samudra pasifik ekuator bagian tengah dan timur mendingin -0,5 sampai -1,5oC selama 3 bulan berturut-turut diikuti oleh penguatan angin pasat. Angin pasat merupakan jenis angin yang berhembus dari daerah sub tropis ke daerah tropis. Salah satu dampak angin pasat adalah terjadinya kerusakan pada alam. Sebagai tambahan, mengutip dari laman ditjenppi.menlhk.go.id, variabilitas juga terjadi pada muka air laut akibat fenomena La-Nina dan gelombang badai (storm surges). Terjadinya peningkatan permukaan air laut akan berdampak pada masyarakat pesisir dan daerah dataran rendah di seluruh dunia dengan timbulnya fenomena banjir, erosi pantai dan perendaman, serta hilangnya pulau-pulau kecil. Tak terkecuali bagi pulau-pulau sangat kecil yang ada di sekitar Taman Nasional Kepulauan Seribu. Sumber : Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu Foto : Syafei ; Teks: Endang Tatang Hidayat (PEH)
Baca Artikel

Penguatan Kapasitas Kelompok Mitra Balai TN Gunung Merbabu

Boyolali, Desember 2020. Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu gelar Penguatan Kapasitas Kelompok Mitra yang ditujukan kepada kelompok Sayekti Mbangun Projo Desa Ketundan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang dan Kelompok Margo Mulyo Tani yang berasal dari Desa Ngadirojo, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Garuda Kopeng, Kab. Semarang pada tanggal 15 September 2020 yang lalu sudah mengikuti prosedur kesehatan Covid-19, dimana semua peserta dan panitia diwajibkan memakai masker, mencuci tangan, melakukan pengukuran suhu tubuh dan menjaga jarak. Tema penguatan kapasitas kali ini budidaya tanaman obat tradisional. Materi lainnya mengenai Kebijakan Kemitraan Konservasi di TN Gunung Merbabu disampaikan oleh Kepala Balai TN Gunung Merbabu Ibu Ir.Junita Pardjanti, M.T dan materi mengenai tanaman obat tradisional disampaikan oleh Ibu Serafina Suhartini, S.TP - Koordinator Badan Penyuluhan Pertanian Getasan dan Ibu Susiatik Penyuluh Pertanian Getasan. Kedua kelompok tertarik dengan budidaya tanaman obat tradisinal berupa jenis jahe emprit dikarenakan jenis tersebut kaya manfaat, adaptif dengan ketinggian lokasi Zona Tradisional yang dikerjasamakan dan memiliki pasar yang menjanjikan. Penguatan kapasitas mitra merupakan bentuk pemenuhan kewajiban Balai TN Gunung Merbabu dalam hal pembinaan terhadap mitra konservasi. Kedua kelompok tersebut telah menjalin kerjasama dengan Balai TN Gunung Merbabu dalam bentuk budidaya tradisional di Zona Tradisional yang dituangkan dalam bentuk perjanjian kerjasama sejak tahun 2018. Balai TN Gunung Merbabu berharap adanya kolaborasi pengelolaan Zona Tradisional dengan kelompok masyarakat dapat mewujudkan pengelolaan TN Gunung Merbabu yang lestari dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Sumber : Birgitta Pritta, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Artikel

Observasi Serangan Jamur pada Tukik

Jakarta, 30 Januari 2021. Kematian dan serangan jamur pada tukik ternyata menjadi permasalahan Pelestarian Penyu Semi Alami di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Pulau Kelapa, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Tercatat sebanyak 3 ekor tukik terserang jamur sejak 1 Januari 2021. Pada awal tahun 2021 bersamaan dengan rampungnya renovasi pelestarian penyu semi alami di SPTN Wilayah I, serta perbaikan sistem air mengalir pada kolam-kolam tukik, berdampak baik pada tidak adanya kematian tukik. Bak gayung bersambut, kekhawatiran kami tentang masalah jamur ini ternyata menjadi bahan penelitian Hani’atun Nurfajriyah, seorang mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro yang sedang melakukan penelitian tentang jamur pada tukik di TN Kepulauan Seribu. Hani mengambil sampel jamur pada tubuh tukik dan pasir di dalam sarang telur penyu aktif yang berada di Pulau Yu Barat. Hasil sementara menunjukkan koloni jamur yang menempel pada bagian tubuh tukik adalah seragam, sedangkan koloni jamur yang ditemukan pada pasir di sarang penyu adalah lebih beragam. Saat ini sedang dilakukan inokulasi jamur di Laboratorium Terpadu Universitas Diponegoro, Semarang guna mendapatkan pemurnian dan identifikasi jenis jamur. Sumber : Isai Yudisarta - Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional WIlayah I Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Artikel

Hasil Akhir Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Ada Di Lapangan (Bukan Di Atas Kertas)

Jakarta, 28 Januari 2021. Pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia telah dilakukan sejak masa Pemerintahan Kolonial Belanda berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Timur. Namun demikian, Pemerintah Indonesia memulai pengelolaan kawasan konservasi secara aktif pada tahun 1980-an. Selama hampir empat dekade tersebut, pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia, secara formal belum pernah dilakukan evaluasi secara komprehensif. Evaluasi sebagai bagian dari siklus pengelolaan menjadi salah satu kunci penerapan sistem pengelolaan yang adaptif. Pengelolaan kawasan konservasi diharapkan mampu beradaptasi dalam rangka merespon dinamika sesuai dengan kondisi lingkungan terkini. Selain itu, melalui aktifitas evaluasi, pengelolaan kawasan konservasi diharapkan mampu meningkatkan akuntabilitas, transparansi, keterbukaan, pelibatan parapihak, kerjasama dan berbagi pengetahuan, yang akan bermanfaat bagi pengelolaan kawasan konservasi. Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia secara terprogram dimulai pada tahun 2015, dimana dalam Renstra Kementerian LHK 2015 – 2019 mencantumkan Jumlah kumulatif kawasan konservasi yang memiliki nilai efektivitas pengelolaan minimal 70 pada tahun 2019 sebanyak 260-unit sebagai Indikator Kinerja Utama Kementerian LHK. Dalam melakukan penilaian efektivitas pengelolaan, metode yang digunakan adalah dengan mengadaptasi Management Effectiveness Tracking Tool (METT), dimana dalam implementasinya didasari oleh Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem No. P.12/KSDAE/SET/KUM.1/12/2017 tentang Pedoman Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi. Metode tersebut terdiri dari laporan kemajuan situs kawasan konservasi, data ancaman kawasan konservasi, enam elemen penilaian (context, planning, input, process, output, outcome), dan diterjemahkan dalam tiga puluh pertanyaan, dan lembar rekomendasi. Sepanjang tahun 2015 – 2019 telah dilakukan penilaian efektivitas pengelolaan pada 422-unit dari total 554-unit kawasan konservasi yang ada di seluruh Indonesia. Apabila dihitung dari seluruh kawasan (dari 554 unit kawasan), nilai rata-rata efektivitas pengelolaan KK tahun 2019 adalah 50,12%. Hasil penilaian efektivitas tersebut menginformasikan bahwa ancaman dominan terhadap kawasan antara lain: perburuan satwaliar, pembalakan kayu, kegiatan wisata alam, dan perambahan. Pada tahun 2020 dilakukan penilaian efektivitas pengelolaan terhadap 132-unit kawasan konservasi yang belum pernah dinilai pada periode 2015 – 2019 untuk dijadikan baseline pengitungan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi tahun 2020 - 2024. Sampai dengan akhir 2020 telah dilakukan penilaian pada 551-unit kawasan (terdapat tiga kawasan yang tidak dapat dilakukan penilaian), dengan hasil nilai rata-rata 60,23%. Hasil penilaian sampai dengan Tahun 2020 tersebut telah ditetapkan melalui SK Dirjen KSDAE No: SK.4/KSDAE/KK/KSA.1/1/2021 tentang Penetapan Nilai Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi sampai dengan Tahun 2020. SK.4 Penetapan Nilai Efektivitas Pengelolaan KK sampai dengan tahun 2020 (Click SK). Untuk penilaian efektivitas pada periode 2021 s/d 2024, saat ini sedang dibahas metode dan tata cara penilain yang akan ditetapkan dalam Peraturan Menteri LHK dan Perdirjen KSDAE. Salah satu catatan penting yang perlu mendapat perhatian dalam penyusunan metode dan tata cara penilaian adalah bahwa, metode penilaian ke depan adalah metode yang mampu mengadaptasi karakter pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia dan meminimalkan gab antara hasil penilaian dan kondisi faktual di lapangan. Hal ini untuk memastikan bahwa hasil akhir ada di lapangan, bukan di atas kertas. Sumber : Direktorat Kawasan Konservasi Foto by Simon Onggo - Biro Hubungan Masyarakat KLHK
Baca Artikel

CPNS BBKSDA Sumut Ikuti Pembekalan Menteri LHK

Medan, 28 Januari 2021. Sekretariat Jenderal Kementerian LHK melalui Biro Kepegawaian melaksanakan pembekalan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) lingkup Kementerian LHK formasi tahun 2019 secara daring, pada Rabu 27 Januari 2021. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. didampingi Kepala Bagian Tata Usaha Teguh Setiawan, S.Hut., MM, Kepala Sub Bagian Umum Imelda Kamayanti, SH., beserta 4 (empat) orang CPNS Polhut masing-masing : Budi Satria Sihite, S.Hut., Farid Ali, S.Hut., Dani Roy Sitanggang, S.Hut. dan Eral Jantua Gurning, S.Hut., turut mengikuti pembekalan tersebut di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Pembekalan diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. Dalam arahannya Siti Nurbaya mengingatkan agar Aparatur Sipil Negara (ASN) senantiasa bersikap objektif, terbuka, integritas dan akuntabel. Prinsip profesional harus ditanamkan dalam diri ASN, yaitu integritas (pahami segala sesuatu berdasarkan ketentuan/aturan yang ada) dan akuntabel (bertanggung jawab/bertanggung gugat, yaitu mampu memberikan alasan-alasan yang terukur atas apa yang dikerjakan/dilakukan). “Di lapangan, ASN sebagai on the street birokrat, dimana tanpa menunggu perintah atasan, dapat mengambil keputusan dan kebijakan. Tentunya yang dapat dipertanggungjawabkan serta segera dilaporkan kepada atasannya,” ujar Siti Nurbaya. Selanjutnya Siti Nurbaya juga mengingatkan bahwa ASN berfungsi sebagai administrasi yang memberikan masukan-masukan kepada atasan, disamping juga sebagai artikulasi kebijakan kepentingan yang mampu menyampaikan pesan-pesan dengan baik kepada masyarakat. Kegiatan pembekalan ini juga diikuti seluruh Kepala Balai/Balai Besar dan juga pejabat eselon I lingkup Kementerian LHK. Sumber : Imelda Kamayanti Harahap, SH. - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Sang Penjaga Naga: Pengenalan Surga Tersembunyi Dunia

Labuan Bajo, 25 Januari 2021. Awal tahun 2021 menjadi awal bagi kami untuk mengabdi sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Balai Taman Nasional Komodo. CPNS Balai Taman Nasional Komodo tahun 2020 beranggotakan lima orang yang berasal dari berbagai daerah, diantaranya adalah Yovi Septia bekerja sebagai Calon Penyuluh Kehutanan, Banu Widyanarko sebagai Calon Polisi Kehutanan Pertama, Firman Nuralam Suryadi sebagai Calon Polisi Kehutanan Pelaksana, Dinda Hamasiya Karima Khash sebagai Calon Pengendali Ekosistem Hutan Pertama dan Agitha Putri BR Bangun sebagai Calon Polisi Hutan Pelaksana. Bekerja di ‘surga tersembunyi dunia’ mengharuskan kami untuk mempelajari berbagai hal dengan cepat terkait administrasi dan pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo. Setelah kami melaporkan diri ke Kepala Balai Taman Nasional Komodo di minggu pertama Bulan Januari, kami menerima Surat Perintah Melaksanakan Tugas atau SPMT dari Urusan Kepegawaian sebagai bukti bahwa kami telah memenuhi komitmen kerja sebagai CPNS Balai Taman Nasional Komodo. Balai Taman Nasional Komodo sangat serius mempersiapkan para anggota barunya dengan menyelenggarakan kegiatan pengenalan pengelolaan kawasan selama lebih kurang 14 hari kerja. Kegiatan pengenalan ini mencakup kuliah di dalam kelas, kuliah daring, dan pengenalan lapangan yang disampaikan oleh para pejabat fungsional yang ahli di masing-masing bidang. Dalam proses pelaksanaannya, kegiatan ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Pelaksanaan kegiatan pengenalan dimulai pada minggu kedua dengan mengunjungi dan mempelajari setiap urusan di lingkup ketatausahaan meliputi Urusan Kepegawaian, Urusan Administrasi dan Persuratan, Urusan Evaluasi, Pelaporan, Pemantauan, Kehumasan, dan Perpustakaan’, ‘Program, Anggaran, Kerjasama, dan Pelayanan’, ‘Urusan Kerumahtanggaan’, Urusan Perlengkapan’, dan ‘Urusan Keuangan’. Kami juga diberikan materi terkait pengelolaan dan struktur organisasi masing-masing SPTN wilayah di Taman Nasional Komodo serta melaksanakan praktik pembuatan Surat Perintah Tugas (SPT) serta melakukan penginputan berbagai data Resort based-management ke situs web SIDAK. Tak hanya itu, di sela-sela hari libur kami juga diberikan kesempatan untuk mengunjungi salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Komodo, yaitu Desa Golo Mori yang terletak di barat daya Pulau Flores. Secara administratif, desa ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Kecamatan Komodo, NTT. Dengan jarak kurang lebih 70 Km dari Labuan Bajo, kami menempuh 2 jam perjalanan untuk mencapai tujuan. Masih adanya aktivitas pasar barter, pembuatan kopi secara tradisional dan pembuatan anyaman tikar dari daun pandan menjadi keunikan tersendiri yang dimiliki Desa Golo Mori. Keunikan lainnya yang dapat dijumpai yaitu Desa Golo Mori memiliki ekosistem yang lengkap dimulai dari ekosistem pantai, hutan pegunungan, perbukitan hingga persawahan. Disini sesekali juga masih bisa ditemukan satwa Komodo bila beruntung, sehingga tidak heran bahwa Desa Golo Mori dijadikan tempat penyelenggaraan kegiatan Asean Summit 2023 dan KTT G-20. Di minggu terakhir, kami juga berkesempatan diikutsertakan untuk membantu proses penyusunan dokumen Grand Design Sistem Pengendaian Intern Pemerintah (SPIP) Balai Taman Nasional Komodo tahun 2021 secara daring. Hal ini merupakan sebuah kesempatan dan kehormatan berharga untuk kami sebagai anggota baru untuk dapat berkontribusi secara penuh dalam penyusunan dokumen tersebut. Setelah menyelesaikan ujian pengenalan yang meliputi ujian tertulis dan praktik, kegiatan pengenalan bagi CPNS Balai Taman Nasional Komodo akhirnya ditutup dengan arahan dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan masing-masing Kepala Seksi PTN Wilayah. Seluruh rangkaian pembinaan CPNS Balai Taman Nasional Komodo Tahun 2020 terkait sistem pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo ini merupakan bekal yang sangat berharga bagi kami untuk dapat mempelajari dinamika pekerjaan yang ada di Balai Taman Nasional Komodo sehingga kedepannya kami lebih siap dan maksimal dalam berkontribusi untuk kemajuan Taman Nasional Komodo. Sumber : Banu Widyanarko, S.Si. dan Dinda Hamasiya Karima Khash, S.Si. Balai Taman Nasional Komodo
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Laksanakan Peduli Kasih COVID-19 Dalam Rangka Natal 2020

Pemberian bantuan oleh Kepala BBKSDA Sumatera Utara Dr.Ir.Hotmauli Sianturi, M.Sc.For Medan, 20 Januari 2021 - Natal ditengah pandemi mengajarkan kita akan Kasih Tuhan yang tidak terbatas dan menyadarkan bahwa SIAPAKAH KITA DI DUNIA INI? yang tidak punya kemampuan menghindari virus covid-19 yang melanda seluruh dunia. Momen perayaan Natal ditengah pandemi Tahun 2020 akibat virus corona covid-19 tidak berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Suasana dan nuansanya sungguh berbeda, namun perayaan natal tidak mengurangi makna natal yang sesungguhnya. Secara khusus Balai KSDA Sumatera Utara yang didukung perayaan Natal dengan cara berbagi melalui kegiatan Pelayanan Kasih Peduli Covid-19, dengan membagikan kebutuhan pangan (sembako), masker dan handsanitizer kepada orang yang membutuhkannya. Pemberian bantuan kebutuhan pangan ditujukan kepada pegawai honorer Balai Besar BKSDA Sumatera Utara yang diserahkan langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr.Ir.Hotmauli Sianturi, M.ScFor diikuti Kepala Sub Program dan Kerja Sama Elvina Simanjuntak, S.Hut,MIL pada tanggal 19 januari 2021. Sedangkan pemberian bantuan kebutuhan pangan kepada perawat di RSU Mitra Medika Medan diserahkan langsung oleh Kepala Perencanaan, Pemanfaatan dan Pengawetan Amenson Girsang, S.P. Selanjutnya para pegawai Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan aksi peduli kasihnya di jalanan dengan membagikan masker dan handsanitizer kepada saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Pemberian bantuan peduli kasih kepada sauda-saudara kita di jalanan oleh pegawai BBKSDA Sumatera Utara Tak lupa juga bantuan peduli kasih covid diserahkan kepada saudara kita yang lagi mengalami covid Sdr. Dohar, dimana bantuan berupa pangan dan vitamin langsung diserahkan kepada ibunda doharman (Pegawai Balai Gakkum Wilayah Sumatera) oleh Elvina Simanjuntak, S.Hut, MIL. Penyerahan bantuan kepada ibunda Dohar yang mengalami covid-19 Untuk perayaan Natal lingkup Kementerian LHK, Sesuai Surat Ketua Panitia Natal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor:01/PanNatal2020/KLHK/01/2021 tentang Permohonan Dukungan Bakti Sosial dan Perayaan Natal 2020 KLHK bahwa perayaan ibadah Natal umat kristiani lingkup Kementerian LHK akan dilaksanakan pada tanggal 29 Januari 2021 mendatang secara hybrid (tatap muka dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan dan virtual). Kepala BBKSDA Sumut mengajak, khususnya seluruh pegawai kristiani di lingkup BBKSDA Sumut untuk mengikuti natal virtual tersebut. Selamat Natal bagi Seluruh Umat Kristiani di dunia dan Selamat Tahun Baru 2020, semoga kita dapat menghadapi pandemi ini dan dimampukan melewatinya dengan ucapan syukur dan sukacita yang berasal dari pada Tuhan kita. Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara Teks: Inggrid R Tarihoran, S.Hut, Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama
Baca Artikel

500 Buku Bonita Hikayat Sang Raja Untuk Ahli Waris

Pekanbaru, 23 Desember 2020. Penyerahan 500 buku Bonita "Hikayat Sang Raja" karya penulis sekaligus wartawan detikcom, Alm. Haidir Anwar Tanjung dilakukan Kementerian LHK kepada Ahli Waris penulis di aula Gajah Balai Besar KSDA Riau pada Senin siang, 21 Desember 2020. Penyerahan dilakukan oleh Sekretaris Ditjen KSDAE, bapak Tandya Tjahjana didampingi Tenaga Ahli Menteri Bidang Komunikasi Digital dan Media Sosial, ibu Afni Zulkifli serta Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono. Ahli waris yang menerima diwakili oleh adik almarhum yaitu Banda Haruddin Tanjung (jurnalis Okezone) dan anak kedua almarhum bernama Fikih Nauli Tanjung. Penyerahan juga dihadiri oleh beberapa rekan jurnalis almarhum, termasuk jurnalis senior sekaligus editor buku tersebut yaitu bapak Sahnan Rangkuti "Penyerahan buku ini, merupakan amanah Menteri LHK, Ibu Siti Nurbaya Bakar yang memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil karya almarhum tentang konservasi satwa liar, dan merupakan sebuah penghargaan atas karya abadi almarhum. Kedepannya buku tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat terutama untuk edukasi konservasi secara umum maupun secara khusus konservasi Harimau Sumatera di bumi nusantara ini agar keberadaan satwa liar tidak selalu dianggap musuh oleh masyarakat" ungkap Tandya dalam sambutannya. Dalam kesempatan yang sama, ibu Afni Zulkifli selaku Tenaga Ahli Menteri Bidang Komunikasi Digital dan Media Sosial juga rekan almarhum Haidir Anwar Tanjung menyampaikan bahwa "Kehadiran kami di sini, menyampaikan pesan ibu Menteri. Kami bangga”. Setelah diserahkan, buku-buku tersebut resmi menjadi hak ahli waris. Dari pihak keluarga, buku tersebut akan ada yang diserahkan ke perpustakaan dan kampus sebagai literatur pendidikan. Sumber : Direktorat Jenderal KSDAE dan Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Cerita Praktik Lapangan Mahasiswa Unkhair dan Siswa SMK Kehutanan di TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 16 Desember 2020. Sejak bulan Oktober lalu, sebanyak satu siswa SMK Kehutanan Makassar melakukan kegiatan magang atau praktik lapangan di kantor Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Satu bulan setelahnya disusul oleh 15 orang mahasiswa Pertanian Program Studi Kehutanan Universitas Khairun, Ternate yang juga melaksanakan kegiatan praktikum lapangan di Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Kegiatan magang ini telah selesai dilaksanakan seiring dengan presentasi hasil praktikum lapangan kemarin (15/12). Mahasiswa beserta siswa tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok 1 yang ditempatkan di Resort Tayawi, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Weda dan kelompok 2 yang ditempatkan di Resort Ake Jawi, SPTN III Subaim. Kedua kelompok tersebut masing-masing didampingi oleh Kepala Resort dan petugas Resort lainnya. Kegiatan yang dilaksanakan selama praktikum antara lain inventarisasi flora dan fauna, yaitu inventarisasi pohon dan palem serta inventarisasi burung. selain itu, mereka juga menghitung nilai ekonomi sumber air yang terdapat didalam kawasan serta melakukan inventarisasi dan manfaat tanaman obat. Hasil-hasil praktikum tersebut dipresentasikan pada hari Selasa, 15 Desember 2020 di Gedung Pusat Informasi Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Presentasi hasil akhir tersebut dihadiri oleh Kepala Balai TNAL, Kepala Subag TU, Kepala SPTN Wilayah I Weda, Kepala Resort dan ASN Balai TNAL. Dalam presentasi tersebut, mahasiswa didampingi oleh Ketua Program Studi dan Dosen Pembimbing. Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata menyampaikan terima kasih telah menjadikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai tempat praktikum bagi mahasiswa, dimana mahasiswa akan lebih mengenal potensi keanekaragaman hayati di daerahnya juga membantu dalam informasi data-data praktikum tersebut. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polhut Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

Peningkatan Pelayanan Wisata, BTN Meru Betiri Tes Covid Secara Berkala

Jember, 14 Desember 2020. Mengantisipasi merebaknya kasus baru pada klaster perkantoran dan pembukaan destinasi wisata di wilayah Jember dan Banyuwangi, Balai Taman Nasional Meru Betiri menggelar tes swab dan rapid masal kepada seluruh pegawai. Tes swab dilakukan pada 51 orang, dengan prioritas pada pegawai di Kantor Balai dan pegawai yang berkaitan langsung dengan pelayanan wisata. Sedangkan tes rapid dilakukan pada 75 orang lainnya. Tes ini dilakukan bergiliran selama 2 hari, tanggal 14 s/d 15 Desember 2020. Kepala Balai TN Meru Betiri, Maman Surahman menyatakan bahwa tes ini merupakan salah satu wujud kepedulian TN Meru Betiri dalam pencegahan penyebaran Covid-19 serta peningkatan pelayanan wisata. "Tes masal ini merupakan respon cepat kita agar penyebaran Covid-19 dapat terdeteksi secara dini, ini juga bagian dari perhatian kita yg serius terhadap resiko nyata dari aktivitas bekerja di kantor yg harus dikelola secara hati-hati selama pandemi." ungkapnya. Kepala Balai juga menyatakan bahwa tes ini juga sudah disertai langkah tindak lanjut yang dipersiapkan dalam hal terdapat hasil swab yang positif diantara pegawai yang dites, meliputi perlakuan isolasi/perawatan, tracing lanjutan, selain itu setiap pegawai juga diberikan peralatan pribadi pendukung protokol kesehatan berupa masker medis, alat makan personal, hand sanitizer dll. "Aktifitas kita d kantor dan lapangan harus betul-betul disertai penerapan protokol kesehatan yg ketat. 3M yaitu Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan, harus benar-benar dijalankan dengan disiplin" tegas Maman. Dari hasil tes rapid, diperoleh data 6 orang dengan hasil reaktif dan akan dilanjutkan dengan tes SWAB. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Artikel

Sikerei di Desa Matotonan

Padang, 11 Desember 2020. Desa Matotonan merupakan salah satu desa yang sebagian wilayah administrasi berada di dalam kawasan Taman Nasional Siberut. Masyarakat Desa Matotonan merupakan kelompok masyarakat yang masih memegang dan menjaga kelestarian adat istiadat Suku Mentawai hingga saat ini. Dalam proses sosial sehari-hari, keberadaan Sikerei menjadi salah satu bagian yang tak dapat dihilangkan dan dipisahkan, terlebih dalam hal pelaksanaan ritul-ritual kepercayaan, adat istiadat, pengobatan dan lainnya. Hal ini menjadikan sosok Sikerei menarik untuk diketahui dan dipahami. Untuk menjadi seorang Sikerei ada banyak hal yang harus dipenuhi. Hal-hal tersebut antara lain syarat-syarat menjadi Sikerei, tahapan menjadi seorang Sikerei dan pantangan “kei-kei “ bagi seorang Sikerei. Belakangan ini jumlah pertambahan Sikerei di Desa Matotonan kian berkurang. Hal ini disebabkan beberapa hal, seperti kurangnya ketertarikan kaum muda yang sudah mengalami perkembangan zaman, sulitnya syarat yang harus dipenuhi dan adanya kebiasaan berpantang bagi seorang Sikeri yang memiliki sangsi besar sehingga ditakuti oleh para kaum muda. Di satu sisi hal ini menjadi tantangan bagi sosial masyarakat adat, mengingat Sikerei merupakan bagian dari kekayaan adat yang dimiliki masyarakat Mentawai terkhusus Desa Matotonan. Dirunut dari sejarahnya, masyarakat Desa Matotonan mempercayai bahwa Si Kerei berawal dan diperkenalkan oleh seorang leluhur yang bernama Simalinggai, yang kemudian diturunkan kepada Sipageta sabbau. Dilihat dari sumber katanya, Sikerei berasal dari kata Si Kerei yang berarti dia yang berasal dari SAREREKEIT HULU (Sarereiket hulu merupakan nama sebuah kampung). Dalam pemahaman masyarakat umum Sikerei identik dengan makhluk halus. Bagi mereka para Sikerei adalah kelompok orang-orang yang ahli melakukan komunikasi dengan mahluk halus. Proses komunikasi antara seorang Sikerei dengan mahluk halus disebut dengan bahasa ”buimajojo ukkui”, bahasa ini hanya dapat dipahami oleh para Sikerei. Dicermati dari arti katanya, buimajojo ukkui bermakna jangan tergesa-gesa dengan kepercayaan pada mahluk halus pada saat melakukannya. Penetapan seseorang menjadi Sikerei bersumber dari tiga cara, yakni: kemauan diri sendiri, perintah dari orang tua dan leluhur, dan karena sakit (dalam keyakinan mereka ini adalah bentuk panggilan dari roh para leluhur untuk menjadi seorang Sikerei). Terkhusus bagi mereka yang ditunjuk oleh leluhur/orang tua dan mereka yang disembuhkan penyakit tertentunya oleh Sikerei, mereka wajib untuk menjadi Sikerei dan harus memenuhi syarat dan proses-prosesnya. Mereka meyakini apabila hal tersebut tidak dijalankan dan dipatuhi, akan datang kutukan dan malapeta yang menimpa orang tersebut. Berbeda dibandingkan mereka yang menjadi Sikerei karena keinginanya sendiri, yang bersangkutan cukup hanya menjalankan aturan-aturan serta menghindari pantangan-pantanyannya (kei-kei). Adapaun pantangan-pantangan (kei-kei) yang wajib dijauhkan oleh seorang Sikerei yakni, selama dalam proses Kerei tidak boleh bersetubuh bahkan dengan istri, tidak boleh makan sembarang waktu (ada aturan waktu sesuai ritual), tidak boleh memakan owa Mentawai (Bilou atau Simabilau) dan ikan panjang (belut). Untuk menjadi seorang Sikerei, seseorang harus melaksanakan upacara adat atau yang disebut dengan Lia, sebelum sampai kepada pelaksanaan upacara tersebut, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syaratnya tersebut antara lain, seorang calon Sikerei harus memiliki banyak ternak babi yang dipelihara, memiliki umur minimal 40 tahun, sanggup mematuhi aturan Kerei dan menjahui pantangannya yakni kei-kei. Selanjutnya setelah syarat- syarat tersebut terpenuhi, ada proses yang disebut kerei yang juga harus dipenuhi oleh seorang calon Sikerei. Pelaksanaan Kerei diawali dengan Menyagu (mengolah sagu), kemudian Luluplup, Ulainok, Ugettek, Uogbug, dan diakhiri dengan pasigabah iba. Dalam pelaksanaan tahapan-tahapan tersebut ada beberapa alat-alat yang digunakan. Alat-alat yang digunakan tersebut adalah kabit (proses pembuatannya disebut dengan panaslah), Salipak dan Bakluh, Talatak, Tetekuk, Luat, Singenyet, Sibodhag, Lai-lai, Lekkau, Sabot Kerei, Sineibag dan Ngalou. Sumber: Christovorus Sintong Situmorang, S.Hut - PEH Balai Taman Nasional Siberut
Baca Artikel

Membunyikan Data dari Tapak

Bogor, 1 Desember 2020. Hari pertama pada bulan terakhir di Tahun 2020 menjadi cukup istimewa. Bertempat di kantor PIKA, beberapa orang lintas sektoral berkumpul dengan semangat perubahan untuk belajar menjadi lebih baik. Selain perwakilan dari setiap direktorat lingkup Ditjen KSDAE, hadir juga dalam diskusi perwakilan dari akademisi (IPB dan Oxford University) serta NGO (WCS dan Sintas Indonesia). Berawal dari keprihatinan akan banyaknya data yang telah dikumpulkan rekan di lapangan berpuluh tahun lamanya di berbagai ruang dan tempat. Maka PIKA mengajukan diri untuk memulai mengumpulkan informasi yang masih terserak tadi. Bagaimanapun, inilah identitas kita (KSDAE, red) sebagai pemangku kawasan. Boleh jadi, terselip didalamnya mutiara yang begitu berharga. Cukup menarik Ketika pemahaman dari lintas sektoral mencoba beradu argumen, sesekali diisi perdebatan yang sedikit memanas, namun tetap dengan semangat yang sama. Mencapai satu kesepahaman untuk memperbaiki diri. Hingga akhirnya ide didalam kepala, informasi diatas kertas, mulai menemukan bentuknya. Dibungkus dengan konsep “Pengelolaan Inventarisasi Keanekaragaman Hayati Nasional”, tim di Bogor mencoba merekonstruksi aktivitas peluh teman-teman di lapangan. Puluhan ribu informasi keragaman hayati yang dikelola oleh Ditjen KSDAE dirangkai dalam sebuah peta yang menggambarkan betapa saat ini kita bekerja, benar-benar di lapangan. Puzzle informasi masih terus disempurnakan hingga akhirnya dapat digambarkan dalam bentuk peta sebaran penguasaan wilayah dan kekayaan jenis hayati di Indonesia. Sumber : M. Misbah Satria Giri Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Baca Artikel

Nervilia, Anggrek Tanah Penyambut Hujan di Dorocanga, TN Tambora

November 2020. Hujan memang datang terakhir di wilayah Dorocanga, bahkan seakan hanya lewat saja tanpa diam sejenak. Tidak ada yang menyangkalnya, karena kenyataanya memang demikian. Jika di sisi barat atau bagian barat gunung Tambora sudah sering hujan, Dorocanga masih kerontang sebagian. Saat hujan mulai menyentuh tanah, bahkan itu masih lama juga, butuh beberapa kali hujan agar airnya dapat menyentuh lantai hutan. Saat air hujan mulai menyentuh lantai hutan Dorocanga banyak tumbuhan yang menyambutnya. Mulai dari biji kesambi yang menyumbul dari dalam tanah hingga anggrek tanah liar mulai menampakkan kehadirannya. Perlu ketelitian untuk menjumpainya, karena tidak semua titik dapat dijumpai jenis anggrek tanah ini. Pada beberapa bagian hutan musim yang ada di wilayah Dorocanga apakah jenis ini sudah menampakkan diri? jawabannya belum. Di beberapa titik yang dahulu pernah dijumpai masih tidak menampakkan wujudnya. Bahkan daun atau kuncup bunga saja belum menampakkan wujudnya. Mungkin karena air hujan belum benar-benar sampai di lantai hutan. Siapakah gerangan yang mulai muncul di hutan wilayah Dorocanga dalam bulan-bulan awal musim hujan ini? Nervilia crociformis, anggrek tanah yang menampakkan wujudnya saat ini. Jenis ini merupakan herba teresterial yang membentuk koloni. Tumbuhan steril terdiri dari satu daun saja. Sedangkan tumbuhan subur atau fertil pada awalnya merupakan perbungaan terminal, kemudian daun tunggal akan muncul dari pangkal batang. Daun jenis ini berupa daun soliter apikal, merunduk, tegak di atas tanah, membulat, lebar 4-7 cm, hijau tua, licin, dengan 10 urat menjalar, tepi berliku dengan ujung tumpul. Bunga berupa kelompok terminal, berdaging, dan gagang bunga memanjang pada buah. Bunga berombak, berbentuk bintang berwarna hijau dengan labellum berwarna putih. Jenis ini sulit terlihat karena berada di lantai hutan dan sering tersamarkan oleh seresah. Dengan lama mekar hanya beberapa hari saja, untuk menjumpai jenis ini harus di saat dan waktu yang tepat. Agar menjumpainya saat sedang mekar sempurna. Hutan Dorocanga masih menyediakan tempat tumbuh yang baik untuk jenis ini. Dengan menjaga dan melestarikan hutan yang ada, berbagai jenis tumbuhan masih dapat kita jumpai. Semoga kedepannya hutan tambora tetap terjaga dengan baik agar kekayaan jenis baik satwa atau tumbuhan dapat terjaga dan lestari. Sumber : Samsul Maarif - PEH Balai Taman Nasional Tambora
Baca Artikel

Tambora Menyambut Tamu Jauh dari Bumi Utara

Di belahan bumi utara, satwa liar harus menyesuaikan diri dengan kondisi musim yang ada di sana. Musim dingin memaksa mereka untuk menyesuaikan diri, jika hewan besar melakukan hibernasi, beberapa hewan lain melakukan migrasi ke belahan bumi lain yang lebih hangat. Seperti burung-burung migran yang bermigrasi dari belahan bumi utara (China, Mongolia, dan Wilayah Arktik) menuju wilayah tropis yang lebih hangat. Jika kunjungan wisatawan mancanegara saat ini masih terdampak oleh covid-19, tidak begitu dengan kunjungan burung migran dari belahan bumi utara. Bulan-bulan ini belahan bumi utara sedang memasuki musim dingin, sehingga mereka melakukan migrasi. Burung migran ini melalui perjalanan yang panjang dari tempat berkembang biak mereka ke wilayah tropis seperti indonesia. Burung-burung migran beberapa dijumpai di wilayah Tambora. Jika musim sebelumnya teramati Cerek Asia / Oriental Plover (Charadrius veredus), musim ini dijumpai pula Cerek Krenyut (Pluvialis fulva). Cerek Asia (Charadrius veredus) memiliki ukuran sedang (25 cm). Cerek Asia yang tidak dalam masa berkembang biak memiliki ciri bagian atas tubuh berwarna cokelat, wajah dan sisi dada kecoklatan, dan perut putih, serta kaki jenjang berwarna kuning. Sedangkan Cerek krenyut (Pluvialis fulva) berukuran sedang (25 cm) dengan ciri-ciri untuk burung tidak dalam masa berbiak dan remaja yaitu bagian atas tubuh berbintik-bintik coklat dengan coretan keemasan di punggung dan kepala mereka, dan perut berwarna putih pucat. Biasanya di indonesia di jumpai di gosong lumpur, gosong pasir, maupun sawah yang dekat dengan pantai. Jenis ini berkembang biak di beberapa bagian Mongolia, Rusia dan China dan bermigrasi ke belahan bumi selatan setiap tahun ke wilayah Indonesia, Papua Nugini, dan Australia. Di Tambora burung ini di jumpai di savanna yang berada di sekitar pos 1 jalur pendakian Dorocanga. Mereka dijumpai sedang mencari makan di sekitar jalur pendakian dengan sekali-kali terbang berputar. Biasanya mudah di jumpai saat pagi atau sore hari dan dijumpai dalam kelompok. Taman Nasional Tambora memang tidak memiliki pantai, lokasi yang umumnya di singgahi burung migran jenis ini, namun terdapat savanna yang cukup luas untuk tempat singgah sembari mencari makan, apalagi saat hujan mulai turun, pakan tersedia melimpah di hijaunya rumput yang baru tumbuh. Semoga Tambora menjadi rumah singgah yang nyaman, sehingga tamu (burung migran) yang datang tidak kapok dan dapat berkunjung dengan aman. Sumber : Samsul Maarif - PEH Balai Taman Nasional Tambora
Baca Artikel

Ada Apa Dengan Buaya ?

Medan, 19 November 2020. Buaya (Crocodylus sp.) belakangan ini menjadi salah satu satwa liar yang kerap kali disorot/diliput oleh sejumlah media, baik media cetak maupun media on-line. Tentunya berkaitan dengan kasus konflik antara warga dengan buaya. Dari data yang penulis kumpulkan, hasil liputan/pemberitaan media cetak menunjukkan bahwa tingkat konflik manusia dengan buaya sepanjang bulan Januari s.d November 2020, khusus di Provinsi Sumatera Utara, relatif cukup tinggi. Tidak kurang 9 kasus konflik telah terjadi dan tersebar di beberapa kabupaten/kota, seperti : kota Medan (2 kasus), kabupaten Labuhanbatu Utara (2 kasus), kabupaten Langkat (1 kasus), kota Tanjung Balai (1 kasus), kabupaten Labuhanbatu (1 kasus), kabupaten Tapanuli Selatan (1 kasus) dan kabupaten Mandailing Natal (1 kasus). Kondisi ini menunjukkan bahwa buaya menjadi sosok yang menakutkan dan mengancam kehidupan masyarakat. Tingginya kuantitas serta kualitas konflik, setidaknya juga ingin menunjukkan bahwa habitat dan kehidupan buaya mulai terusik/terganggu. Terusiknya habitat disebabkan oleh beragam aktivitas manusia, khususnya yang berada di sekitar perairan baik tawar maupun payau, serta makin berkurangnya sumber pakan di alam, tentunya menjadi faktor utama yang mendorong dan memaksa buaya memasuki areal permukiman warga untuk mencari dan mencukupi kebutuhan akan pakannya. Ketika ternak warga tidak ada ditemukan, maka manusialah yang kemudian menjadi target sasarannya. Akhirnya konflik pun tak ter-elakkan dan biasanya akan jatuh korban diantara kedua belah pihak (manusia dan buaya). Tidak ada jalan lain, konflik harus dicegah dan dihindari. Agar konflik ini tidak terjadi lagi, maka perlu dilakukan upaya komprehensif (menyeluruh) dalam penanganan permasalahan yang ada. Ada beberapa hal yang menjadi catatan penulis dan perlu untuk disikapi/ditindak lanjuti. Pertama, penataan lingkungan perairan yang disinyalir sebagai habitat buaya, menjadi prioritas dalam penanganan permasalahan. Areal-areal perairan tertentu yang diduga, atau patut diduga, sebagai lokasi habitat maupun home range (jalur jelajah) buaya, harus dihindari penggunaan serta pemanfaatannya oleh masyarakat sekitar. Masyarakat sebaiknya diarahkan dan didorong untuk membuat fasilitas sanitasi (MCK = Mandi, Cuci, Kakus) sendiri, atau membangun fasilitas sanitasi umum di lingkungannya, dengan tanpa menggunakan atau berhubungan dengan sungai, danau maupun rawa. Pengadaan fasilitas sanitasi ini juga tentunya penting dalam mengedukasi masyarakat guna membudayakan pola hidup sehat. Kedua, menyiapkan masyarakat dalam mengantisipasi konflik, dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan tanggap darurat manakala buaya memasuki perkampungan. Penanganan konflik semaksimal mungkin diupayakan tidak menimbulkan korban, baik dipihak masyarakat maupun pada satwa buaya. Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya diberikan pendidikan dan keterampilan menjadi pawang-pawang buaya, yang sewaktu-waktu siap untuk diberdayakan. Ketiga, membuat pengumuman/sosialisasi, himbauan atau papan larangan di sekitar lokasi yang dianggap rawan konflik dengan buaya, sehingga masyarakat akan waspada dan berhati-hati bila berada atau melintasi lokasi tersebut. Upaya-upaya penanganan sebagaimana diuraikan di atas, tidak akan berjalan bila tidak ada sinergitas dari semua pihak, baik instansi pemerintah terkait maupun masyarakat. Oleh karena itu kerjasama yang baik akan sangat membantu dalam mencegah dan menanggulangi terjadinya konflik diwaktu-waktu yang akan datang. Kita tentunya sepakat, bila masyarakat membutuhkan suasana kehidupan yang tenang di lingkungannya tanpa ada rasa takut dan cemas. Sebaliknya juga, kita perlu tetap mempertahankan dan menjaga keberadaan satwa buaya agar tetap lestari, karena buaya juga punya hak hidup yang sama dengan manusia. Dan perlu diingat pula, bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, telah menetapkan beberapa jenis dari buaya, seperti : Buaya Muara (Crocodylus porosus), Buaya Siam (Crocodylus siamensis) dan Buaya Air Tawar Irian (Crocodylus novaeguineae), sebagai jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Akhirnya, hidup yang damai diantara sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, menjadi impian dan idaman kita bersama. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia dimuka bumi ini, maka manusia diberikan tanggung jawab yang lebih untuk mewujudkannya... Sumber : Evansus Renandi Manalu - Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Berbagi Ilmu Pengetahuan dan Senyuman Untuk Masyarakat Kampung Isenebuai

Buku adalah jendela ilmu pengetahuan dan kegiatan membaca buku merupakan suatu cara untuk membuka jendela tersebut agar kita bisa memperoleh banyak ilmu pengetahuan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang-orang yang telah berusia lanjut. Sadar akan hal itu Penyuluh Kehutanan bersama staff Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah 3 Yembekiri Melaksanakan kegiatan “Berbagi buku bersama Masyarakat Kampung Isenebuai”. Diharapkan melalui kegiatan tersebut “Berbagi Ilmu Pengetahuan dan Berbagi Senyuman” dapat tersalurkan untuk masyarakat kampung Isenebuai. Buku yang dibagikan merupakan donasi dari pegawai Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Sebanyak 30 Masyarakat yang terdiri dari orang tua dan remaja di kampung Isenebuai menerima buku yang berisi berbagai materi menarik yang dapat menambah pengetahuan serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi buku yang dibagikan berupa resep-resep masakan, cara pembuatan pupuk kompos, renungan rohani, kiat-kiat bertani, budidaya, dll. Metode yang digunakan dalam membagikan buku kepada masyarakat adalah dengan menggunakan metode anjangsana (melakukan kunjungan kerumah masyarakat secara langsung). Alasan pemilihan metode anjangsana adalah untuk menghindari kerumunan massa akibat pandemi covid-19. Buku tidak hanya dibagikan kepada orang tua, namun juga dibagikan kepada anak-anak yang sebagian besar masih bersekolah. Hal ini bertujuan agar ilmu pengetahuan dapat dirasakan oleh berbagai usia. Sebanyak 32 anak menerima buku yang berisi materi pembelajaran sekolah seperti kumpulan ujian nasional, atlas dunia, dll. Yang tentunya sangat bermanfaat bagi mereka. Namun metode yang digunakan dalam membagikan buku kepada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Metode yang digunakan adalah dengan metode diskusi kelompok (pengumpulan massa). Hal ini disebabkan pada saat akan melaksanakan pembagian buku secara anjangsana, banyak anak-anak yang tidak berada dirumah, sehingga dikhawatirkan banyak anak yang tidak menerima buku secara langsung. Pembagian buku secara langsung bertujuan agar pesan dan motivasi yang ingin disampaikan oleh tim pelaksana kepada adik-adik agar semakin giat membaca juga dapat tersampaikan secara langsung. Meskipun pembagian buku menggunakan metode diskusi (Pengumpulan massa), tim pelaksana sudah mempertimbangkan dan menjaga keamanan kondisi lapangan dari covid-19 dengan sangat baik sebelum pelaksanaan dimulai. Kegiatan berjalan dengan lancar, masyarakat yang terdiri dari orang dewasa, remaja maupun anak-anak merasa sangat senang dan diharapkan kedepannya perlu dilaksanakan kegiatan lanjutan untuk lebih meningkatkan minat baca masyarakat terutama anak-anak yang merupakan generasi penerus masa depan. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Friska Gressia Sianturi, S.Hut (Calon Penyuluh Kehutanan Pertama)

Menampilkan 1.953–1.968 dari 1.989 publikasi