Senin, 21 Sep 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Jewel Orchid, Penghuni Lembabnya Lantai Hutan Tambora

Bima, 7 Juni 2022. Jewel Orchid, mungkin sebagian orang masih belum familiar dengan nama ini. Namun, bagi pecinta anggrek, nama ini sudah tidak asing lagi. Jenis anggrek yang dengan nama unik ini tidak berbentuk permata atau memiliki bunga yang spektakuler. Nyatanya anggrek ini berukuran mini dan hampir tidak nampak di lantai hutan yang lembab. Lalu apa yang jadi daya tarik dari dari anggrek ini? berdasarkan beberapa literatur dan perjumpaan di lapangan, kemungkinan yang menjadi daya pikat anggrek ini adalah bagian daunnya. Anggrek ini memiliki persebaran yang luas di Indonesia, mulai dari pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Maluku dan Nusa Tenggara. Biasanya tumbuhan ini di temukan di hutan hujan tropis atau hutan musim pada ketinggian 200 hingga 1000 meter mdpl. Sedangkan di Tambora, tumbuhan ini dapat di jumpai di hutan tropis baik di Doropeti atau Pancasila. Secara kasat mata tumbuhan ini cukup tersembunyi di lantai hutan. Anggrek tersterial dengan daun 4 hingga 6 helai daun. Daun berbentuk bulat telur hingga bulat berwarna gelap seperti hijau beludru dengan berurat merah atau merah muda di dekat pangkal. Bunga anggrek ini memang tidak sebesar dan semenarik anggrek di pasaran. Namun jika kita perhatikan lebih detai bunganya sangat unik. Bunga mekar di musim peralihan atara hujan dan kemarau, berwarna putih yang tegak dengan ukuran 8" [2 cm], panjang 6" [sampai 15 cm], bunga 1 sampai 14 dengan perbungaan segitiga-bulat telur, berurat tunggal, dengan daun pelindung berbulu. Anggrek merupakan bagian dari kekayaan hayati di Tambora. pelestarian hutan merupakan hal yang pasti untuk memastikan anggrek ini tetap lestari dan dapat dipelajari keberadaanya oleh generasi yang akan datang Sumber : Balai Taman Nasional Tambora
Baca Artikel

Ranger Goes To School Balai TN Komodo Menginspirasi Kancah Internasional

Labuan Bajo, 31 Mei 2022. Program Ranger Goes to School Balai Taman Nasional Komodo dipresentasikan Pengendali Ekosistem Hutan Pertama Balai Taman Nasional Komodo, Muhammad Ikbal Putera, pada acara 2nd Asia Parks Congress pada tanggal 24 – 29 Mei 2022 di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Ikbal selaku koordinator pengajar Ranger Goes to School meyakini bahwa dalam mengelola kawasan Taman Nasional Komodo tidak dapat dilakukan tunggal oleh lulusan ilmu kehutanan ataupun hanya pegawai Balai Taman Nasional Komodo, namun juga perlu melibatkan bidang keilmuan lain dan para pemangku kepentingan lain di Labuan Bajo. Selain itu, program Ranger Goes to School ini juga dipercaya menginsiprasi mantan Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno, yang mencetuskan program ‘KSDAE Mengajar’ pada tahun 2022 yang semestinya diselenggarakan di seluruh UPT Taman Nasional/BBKSDA/BKSDA se-Indonesia. Program ini sendiri mulai dilaksanakan sejak Januari 2022 dan diperkirakan akan selesai pada Juni 2022 mengikuti periode belajar mengajar siswa menengah atas/kejuruan di Indonesia. Program ini telah diujicobakan pada 2 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 1 Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Manggarai Barat. Jumlah siswa yang mendapatkan pengajaran ‘Pendidikan Konservasi Taman Nasional Komodo’ ini mencapai 427 siswa dengan frekuensi pengajaran sebanyak 15 kelas dalam 3 sekolah setiap minggunya. Program ini dirancang dengan memuat 12 sub mata ajar dan 2 kali ujian, menjadikan program ini berbeda dengan program pendampingan kependidikan yang biasanya dilakukan. Jumlah pengajar yang tergabung dalam program Ranger Goes to School adalah sebanyak 21 orang yang terdiri dari 15 orang pejabat fungsional binaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Pengendali Ekosistem Hutan, Penyuluh Kehutanan, dan Polisi Kehutanan), 4 orang praktisi bidang bidang kepariwisataan, 1 orang praktisi bidang bisnis dan kewirausahaan, serta 1 orang chef professional. Menjadi pembicara pertama di panggung yang dirancang dengan gaya menyerupai Ted X Talks, Ikbal memulai pemaparan dengan menceritakan identitas dan pengalaman diri, memperkenalkan Taman Nasional Komodo ke muda mudi dunia, lalu mulai menunjukan wajah para pengajar Ranger Goes to School satu per satu di hadapan seluruh audiens. Berbagai potret kegiatan belajar mengajar di kelas ditunjukan dan segala capaian program Ranger Goes to School juga disampaikan dalam kesempatan singkat ini. Sebagai penutup, Ikbal meminta waktu khusus kepada penyelenggara untuk memutarkan video singkat Ranger Goes to School yang dibuatnya bersama penyunting video di Balai Taman Nasional Komodo, Dimitri Hanzalla (Polisi Kehutanan Pemula) beserta rekan-rekan pengajar dalam program ini. Audiens sangat tertarik dan terinspirasi setelah mendengarkan paparan program Ranger Goes to School dari Ikbal. Pertanyaan banyak diajukan oleh muda mudi yang hadir dan banyak para pemangku kepentingan yang ingin mempelajari lebih lanjut program tersebut dan berniat melakukannya di negaranya masing-masing. Setidaknya seorang guru Sekolah Dasar dari Malaysia sangat tertarik dan ingin mengundang para pengajar Ranger Goes to School untuk memberikan materi kepada siswa-siswinya secara virtual. Hal ini tentu membuat para pengajar Ranger Goes to School terharu dan bangga bahwa kegiatan pendampingan kependidikan yang dilaksanakan dengan usaha keras selama empat bulan terakhir dapat didengar oleh muda mudi dari negara lain dan mendapatkan apresiasi tinggi bahwa memang program seperti ini penting dan perlu dilakukan. Para pengajar Ranger Goes to School berharap bahwa setelah selesai empat bulan kegiatan belajar mengajar, program ini dapat dikembangkan lebih sistematis dan terencana kedepannya. Salah satu capaian selanjutnya adalah mengompilasi seluruh sub mata ajar menjadi satu kesatuan modul ajar. Modul tersebut nantinya akan diadvokasi ke Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mendapatkan reviu dan persetujuan untuk dijadikan muatan lokal bagi pelajar tingkat SMA/SMK di Kabupaten Manggarai Barat. Jika disetujui, maka para pengajar Ranger Goes to School dapat fokus mengadakan Training of Trainers (ToT) guru-guru SMA/SMK di Kabupaten Manggarai Barat untuk mengajarkan modul ajar yang telah disusun baik. Para pengajar sangat berharap bahwa partisipasi koordinator pengajar Ranger Goes to School di kegiatan ini dapat memberikan semangat dan teladan bagi insan muda KLHK lain untuk turut berkarya di kancah internasional. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Avatar BBTNGGP Mengenal Bioprospeksi BTNGC

Cibodas, 6 Juni 2022. Kuningan, 3-4 Juni 2022. Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) belajar mengenal bioprospeksi ke Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada tanggal 3-4 Juni 2022. Rombongan BBTNGGP yang dipimpin Plt. Kepala Balai Besar TNGGP, Wasja, S.H. diterima langsung oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha TNGC, Didik Sujianto, S.H., M.H. PEH BBTNGGP akan belajar di Resort Pengawetan Mandirancan dan Resort Pemanfaatan Lamping Kidang, yang berada dibawah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kuningan. Di Resort Pengawetan Mandirancan, PEH BBTNGGP diajak mempelajari proses pembuatan pupuk serbuk/cair organik dengan bahan baku bakteri dan cendawan yang berasal dari perakaran serta bagian tumbuhan hutan seperti kaliandra, bambu, kemlandingan gunung, cantigi, dan anggrek. Bakteri dan cendawan ini sebelumnya telah dilakukan uji laboratorium di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB, yang menjalin kerjasama dengan pihak TNGC sehingga dapat diketahui jenis-jenis bakteri dan cendawan yang baik untuk tanah maupun tumbuhan, yaitu kelompok bakteri PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) yang berfungsi untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, bakteri PGMJ yang berfungsi sebagai antifrost (ketahanan pada suhu dingin), cendawan Lecanicilium sp. yang berfungsi sebagai pengendali kutu kebul, dan cendawan Chaetomium sp. yang berfungsi sebagai ketahanan terhadap kekeringan. Saat ini, pupuk yang telah diproduksi secara terbatas ini telah dimanfaatkan secara gratis oleh para petani yang tinggal di daerah penyangga, sehingga asas-asas kemanfaatan keberadaan kawasan TNGC bagi masyarakat pinggir hutan begitu terasa. Cukup menarik, karena biaya produksi pupuk ini terbilang hemat, namun manfaatnya bisa mendukung kegiatan pertanian sehat bagi desa penyangga. Selanjutnya PEH BBTNGGP diajak mengunjungi destinasi kedua, yaitu Resort Pemanfaatan Lamping Kidang. Selain difungsikan untuk pengelolaan wisata terpadu, dilokasi ini juga terdapat aktivitas pemberdayaan masyarakat berupa pengolahan limbah kotoran hewan (KoHe) sapi menjadi pupuk yang dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian. Teknik pengolahan KoHe seperti ini tentunya menjadi pengetahuan sangat berharga mengingat kondisi daerah penyangga di TNGGP hampir sama dengan daerah penyangga TNGC, yang apabila diaplikasikan dapat mengurangi limbah dan bernilai ekonomis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Plt. Kepala Balai Besar TNGGP berharap melalui kegiatan ini para fungsional PEH semakin terpacu dan termotivasi untuk selalu berinovasi dan mengimplementasikannya dalam mendukung tugas sehari-hari. Salam Lestari Sumber : Agus Deni, S.Si. - PEH Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Foto : Agus Deni, S.Si.
Baca Artikel

Pertama Mengikuti Asia Parks Congress, Begini Cerita PEH Balai TN Komodo

Labuan Bajo, 31 Mei 2022. Pengendali Ekosistem Hutan Pertama Balai Taman Nasional Komodo, Muhammad Ikbal Putera, menghadiri acara 2nd Asia Parks Congress pada tanggal 24 – 29 Mei 2022 di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Ikbal sebelumnya mengikuti seleksi untuk mendapatkan sponsor penuh dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) World Commission on Protected Areas (WCPA) dimana tersedia sponsor penuh untuk memberangkatkan sembilan orang pemuda/pemudi pilihan dari seluruh wilayah Asia ke Kota Kinabalu Malaysia. Setelah mengikuti serangkaian seleksi, dinyatkan bahwa Ikbal terpilih diantara sembilan individu tersebut dan mulai mendapatkan pembekalan. Kegiatan 2nd Asia Parks Congress merupakan salah satu acara akbar di Asia yang mempertemukan para jagawana (park rangers), pimpinan instansi pemerintahan, pimpinan perusahaan swasta, akademisi dan peneliti ternama, praktisi dari berbagai LSM dalam dan luar negeri, masyarakat adat dan lokal (indigenous and local community) dan mahasiswa dari Asia dan belahan dunia lain untuk hadir mengikuti sebuah rangkaian lokakarya yang diselenggarakan secara intensif. Para pemangku kepentingan yang hadir diharapkan dapat saling bertukar ilmu pengetahuan dan wawasan bidang konservasi serta pengalaman kerja untuk kemudian digunakan menyusun agenda kawasan lindung (protected areas agenda) bagi wilayah Asia untuk 10 tahun ke depan. Kegiatan 2nd Asia Parks Congress mengusung tema “Parks for Nature and People” dengan menekankan nilai hubungan antara alam dan masyarakat. 1st Asia Parks Congress diselenggarakan pertama kali di Sendai, Jepang pada tanggal 13 – 17 November 2013. Kegiatan 1st Asia Parks Congress dengan tema “Parks Connect” ini sukses dilaksanakan dengan jumlah partisipan mencapai 800 orang dari 40 negara di Asia dan dunia. Adapun topik khusus yang dibahas dan diangkat kongres pertama antara lain: penanganan bencana alam di kawasan konservasi, perubahan iklim, dinamika biodiversitas, pengembangan dan kesejahteran masyarakat berkelanjutan, dan penanganan permasalahan di kawasan konservasi dan kawasan lindung. Hal yang menjadi pembeda antara 1st Asia Parks Congress dengan kegiatannya yang kedua adalah penambahan topik ‘indigenous people and local community’ dan ‘youth forum’. 2nd Asia Parks Congress mengangkat dua topik khusus tersebut dan menekankan urgensi kedua hal tersebut kepada para pemangku kepentingan bidang konservasi di Asia dan belahan dunia lain. IUCN dan sebagian besar negara- negara Asia meyakini bahwa keberlangsungan masa depan pengelolaan kawasan konservasi bergantung penuh pada seberapa baiknya sebuah negara ataupun organisasi menyiapkan generasi muda untuk memimpin dan menjalin komunikasi serta kolaborasi dengan masyarakat adat serta lokal dalam mempertahankan kelestarian alam dan lingkungan. Pelaksanaan kegiatan Asia Parks Congress dijadwalkan untuk diselenggarakan setiap 5 tahun sekali, sebelum pelaksanaan World Parks Congress kembali diadakan dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Rangkaian kegiatan 2nd Asia Parks Congress terdiri dari plenarry sessions, diskusi kelompok terpumpun, acara tambahan (side events) dan hiburan, serta kunjungan lapang (excursions) ke destinasi ternama sesuai dengan ketertarikan masing-masing peserta. Setidaknya terdapat enam diskusi kelompok terpumpun dengan berbagai tema, diantaranya Working Group 1: Nature-based Solutions for Health and Well-being, Working Group 2: Governance of Protected and Conserved Areas, Working Group 3: Connectivity and Transboundary Conservation, Working Group 4: Effective Protected and Conservation Areas, Working Group 5: Economic and Financial Sustainability of Protected and Conserved Areas, dan Working Group 6: Urban Conservation and New Generation. Peserta dapat memilih kelompok kerja yang menjadi ketertarikannya masing-masing dimana dalam setiap kelompok peserta akan mengikuti setidaknya 13 – 15 paparan penelitian/capaian proyek. Peserta juga diperbolehkan untuk berpindah dari satu kelompok kerja ke kelompok kerja lain untuk menambah diversifikasi ilmu pengetahuan. Ikbal mewakili Balai Taman Nasional Komodo memilih untuk mengikuti kelompok kerja 2 dan 4 sebagai minat pembelajarannya pada kegiatan ini dan memilih Kinabalu National Park sebagai tujuan studi banding dalam acara ini. Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Lukita Awang Nistyantara, mendukung penuh stafnya menimba ilmu pengetahuan dan pengalaman pada kegiatan 2nd Asia Parks Congress di Malaysia. Kepala Balai Taman Nasional Komodo memberikan kesempatan bagi jajaran stafnya untuk dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas diri pegawai baik melalui kegiatan pengelolaan di dalam kawasan yang menggunakan APBN ataupun kegiatan eksternal yang diselenggarakan oleh pihak ketiga atau negara lain selama hal tersebut memberikan kontribusi dan manfaat langsung bagi pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo saat ini dan kedepanya. Ikbal Putera merasa bangga dapat terpilih diantara kesembilan muda mudi terbaik dunia. Dari kesembilan muda mudi kategori ‘young professionals’ tersebut, tiga orang diantaranya berasal dari Indonesia, satu orang dari Singapura, tiga orang dari India, dan 2 orang dari Malaysia. Kesembilan muda mudi ini berhasil membuat gebrakan program/kegiatan yang menghasilkan dampak besar bagi pengelolaan kawasan konservasi di negaranya masing-masing. Kesembilan muda mudi ini juga merupakan anggota terbaru IUCN’s WCPA dan diharapkan dengan bergabungnya kesembilan young professionals ini jejaring hubungan kerja antar negara-negara, khususnya di Asia, dapat diperkuat kedepannya. Ikbal berharap agar staf muda di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat terus berkembang maju dan menjadi insan progresif dengan mengikuti berbagai kegiatan kepemudaan profesional baik di dalam maupun luar negeri. Ikbal berpendapat bahwa “Studi banding konkrit diperlukan oleh muda mudi dalam kementerian ini, tanpa diberikan kesempatan untuk melihat pengelolaan konservasi di kawasan lain, akan sangat sulit bagi anak muda untuk dapat berkembang, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif guna mendukung pengelolaan kawasan konservasi Indonesia di masa depan”. Ikbal sangat bersyukur mendapatkan izin dan dukungan penuh dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo untuk menimba ilmu pada kegiatan ini. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

BBKSDA Sulsel Maknai Hari Lingkungan Hidup Sedunia Dengan Pelepasliaran Satwa dan Menanam Pohon

Makassar, 06 Juni 2022 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan langkah nyata penyelamatan satwa dan alam melalui pelepasliaran satwa dan penanaman pohon, Senin (6/6) di kantor Balai Besar dan 3 kawasan konservasi. Satwa yang dilepasliarkan berupa 9 (sembilan) ekor Ular Sanca Kembang (Phyton reticulatus) dan satu ekor Tarsius (Tarsius sp.) Sedangkan untuk kegiatan menanam pohon, Kepala Balai Besar KSDA Sulsel bersama jajarannya menanam pohon Gaharu (Aquilaria sinensis), Ketapang (Terminalia catappa) dan Kayu Putih (Melaleuca leucadendra) di halaman Kantor Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan pada hari Senin, 6 Juni 2022. Memaknai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, tidak hanya dengan perayaan peringatan namun lebih terasa dengan melakukan kegiatan nyata yang bermanfaat bagi manusia dan alam, seperti melepasliarkan satwa dan menanam pohon. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Pejabat Struktural dan staf, setelah melaksanakan apel pagi, melakukan penanaman pohon di halaman kantor Balai Besar KSDA Sulsel. “Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak harus diperingati dengan hal besar, lakukan kegiatan kecil mulai dari lingkungan tempat tinggal atau kerja, dimana kegiatan tersebut bermanfaat bagi alam dan manusia”, ujar Ir. Jusman dalam arahan apel pagi Senin, 06 Juni 2022. Selain menanam pohon, BBKSDA Sulsel juga melakukan pelepasliaran satwa. Pelepasliaran satwa dilakukan pada tanggal 3 Juni 2022 sebagai kegiatan road to world environment day. Satwa yang dilepasliarkan di 3 (tiga) kawasan konservasi, yang meliputi Kabupaten Luwu Timur dan Kota Palopo, terdiri dari 1 ekor Tarsius (Tarsius sp.) di Cagar Alam Kalaena, 8 ekor Ular Sanca Kembang (Phyton reticulatus) di Cagar Alam Faruhumpenai dan 4 ekor Ular Sanca Kembang (Phyton reticulatus) di Taman Wisata Alam (TWA) Nanggala III, Kota Palopo. Tarsius yang dilepasliarkan di Cagar Alam Kalaena, sebelumnya dievakuasi oleh tim WRU Seksi Konservasi Wilayah II di Manggala Agni Daops Malili. Laporan keberadaan tarsius berasal dari postingan grup Facebook, tentang adanya satwa liar dilindungi jenis Tarsius yang ikut terjebak dalam jerat ayam hutan yang dilakukan oleh salah satu warga Malili di sekitar hutan daerah Ussu. Tarsius yang termasuk satwa dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018, bersifat nocturnal dimana habitatnya adalah hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, serta di pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, dan Peleng. Inisiatif peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga dilakukan oleh petugas di lapangan, tepatnya pada tanggal 5 Juni 2022, petugas Resor Bone mengikuti kegiatan pembersihan pesisir pantai dan hutan mangrove serta penanaman mangrove di Kelurahan Waetuo Kecamatan Tante Riattang Timur. Kegiatan ini diprakarsai oleh Dinas Lingkungan Hidup Bone dan melibatkan organisasi kepemudaan, antara lain adik-adik Pramuka utusan kwartir cabang dan utusan Saka Wanabakti, dengan jumlah peserta sebanyak 300 orang. Sebagai informasi, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan maksud untuk meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan bumi. Karena kita hanya memiliki satu bumi maka menjaga dan merawat lingkungan sekitar adalah tanggung jawab bersama. Pelepasliaran satwa dan penanaman pohon adalah salah satu bentuk upaya Balai Besar KSDA Sulsel dalam menjaga dan merawat bumi. Ekosistem yang terjaga menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang bermanfaat bagi peradaban manusia dan bumi. Sebagai contoh melepaskan ular ke alam bertujuan agar dapat berperan dalam proses ekologi, karena ular mempunyai peran penting dalam rantai makanan dan lingkungan. Selain itu juga untuk mengendalikan tikus atau hama. Jadikan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai langkah awal untuk melakukan hal-hal baik bagi bumi. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Belajar Budidaya Lebah Madu di Rumah Kang Aam Hasanudin

Pematangsiantar, 4 Juni 2022. Kang Aam Hasanudin, begitulah panggilan akrabnya, merupakan pemilik Rumah Madu Kang Aam yang telah menggeluti dunia budidaya lebah madu sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) di Bantarujeg, Majalengka. Beternak, khususnya lebah madu, sudah menjadi hobinya. Hingga kini meskipun telah merantau ke Sumatera dan menetap di kota Pematangsiantar, hobinya tersebut tetap digelutinya. Sebagai rimbawan (Staf Teknisi) pada Balai Penelitian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, Pematangsiantar, Kang Aam Hasanudin juga memotivasi dan mengajak siapa saja untuk mencoba membudidayakan lebah madu. Seiring berjalannya waktu, peternakan lebah madunya berkembang pesat begitupun dengan edukasi yang diberikan kepada masyarakat juga membuahkan hasil yang baik dan positif. Setiap bulannya, peternakan lebah madu Kang Aam mampu menghasilkan 100 sampai 200 kilogram madu. Kesuksesannya menjadikan Rumah Madu kang Aam sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat maupun kelompok/komunitas penghobi yang ingin belajar tentang budidaya lebah madu. Ilmu dan pengalaman inilah yang juga dibagikan kang Aam Hasanudin kepada Kelompok Tani Huta Dolok dari Desa Rahutbosi, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara (Cagar Alam Dolok Saut) yang menyambangi kediamannya pada, Kamis 2 Juni 2022. Kehadiran 10 orang anggota Kelompok Tani Huta Dolok yang didampingi oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudito, S.Hut, ME., beserta staf adalah dalam rangka kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelompok Masyarakat melalui Pelatihan Budidaya Lebah Madu. Peningkatan kapasitas kelompok masyarakat ini masih merupakan rangkaian Kegiatan Fasilitasi Pemberdayaan Masyarakat Desa di Sekitar Kawasan Konservasi Lingkup Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Tahun 2022, dimana Kelompok Tani Huta Dolok salah satu kelompok masyarakat yang akan mendapatkan Dana Bantuan Ekonomi Produktif Tahun Anggaran 2022 dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Bapak Seno Pramudito, S.Hut, ME., dalam arahannya menyampaikan, bahwa pemberdayaan masyarakat sebagai kunci perlindungan kawasan adalah dengan mengurangi atau mengatur pola aktivitas masyarakat di dalam hutan. Dengan berkurangnya frekuensi aktivitas masyarakat di hutan maka akan mengurangi bahaya kerusakan hutan. Jika pemberdayaan tersebut berjalan lancar dan sesuai target maka tidak mustahil lambat laun masyarakat akan merubah pola hidup mereka menjadi lebih baik dan tidak lagi menggantungkan hidup mereka dengan hutan. Masih menurut Seno Pramudito, keberhasilan pemberdayaan masyarakat dapat diukur dengan adanya peningkatan kesejahteraan mayarakat dan perubahan pola pikir masyarakat tersebut. Jika tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan menurun dengan adanya aktivitas pemberdayaan masyarakat maka niscaya tingkat ancaman terhadap hutan konservasi akan berkurang. “Dengan adanya pelatihan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, diharapkan kedepan masyarakat akan semakin mampu mengenali potensi diri, mampu mengenali potensi disekitarnya dan mampu memanfaatkan potensi sumberdaya alam disekitarnya untuk meningkatkan kesejahteraan dengan tetap meningkatkan kualitas sumberdaya alam,” ujar Seno mengakhiri penjelasannya. Pengurus dan anggota Kelompok Tani Huta Dolok yang mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas ini, menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada Balai besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, atas dukungan serta kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk belajar dalam pengelolaan budidaya lebah madu dari peternak lebah madu yang telah berhasil dan sukses. Kesempatan ini sangat penting dan berharga yang nantinya akan mereka terapkan di tempatnya. Sumber : Lisbeth Manurung, S.Hut.- Penyuluh Kehutanan Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara.
Baca Artikel

Berakhirnya Probation Period CPNS Balai TN Komodo

Labuan Bajo, 1 Juni 2022. Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Balai Taman Nasional Komodo Tahun 2021 akhirnya rampung menyelesaikan kegiatan Penguatan Kompetensi Teknis Bidang Tugas (PKTBT) selama 15 hari kerja pada tanggal 31 Mei 2022 lalu. Calon Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan wajib mengikuti rangkaian PKTBT sebagai bentuk awal masa percobaan kerja (probation period) di satuan kerjanya masing-masing. PKTBT sendiri merupakan bagian dari rangkaian Pelatihan Dasar CPNS berupa pelatihan singkat yang wajib diikuti oleh seluruh CASN lingkup KLHK. Adapun materi yang diberikan diintegrasikan satu dengan yang lain mengacu kepada beban pekerjaan umum pada satuan kerja KLHK dimana Calon Pegawai Negeri Sipil dituntut untuk dapat adaptif, berpikir kritis, inovatif dan kreatif dalam memandang sebuah tanggung jawab kerja yang diberikan. Materi yang diberikan terdiri dari dua tema yaitu: administratif dan substantif serta diajarkan langsung oleh para pejabat struktural dan fungsional pada satuan kerjanya masing-masing. Calon Pegawai Negeri Sipil Balai Taman Nasional Komodo Tahun 2021 memulai kegiatan PKTBT pada tanggal 9 - 31 Mei 2022 yang diawali dengan pembukaan dan penyampaian arahan oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo kepada empat orang Calon Pegawai Negeri Sipil Balai Taman Nasional Komodo yaitu Muhamad Dzulfiansyah/Polisi Kehutanan Pemula, Rias/Pengendali Ekosistem Hutan Pemula, Rijckar Gideon Sambite/Polisi Kehutanan Pemula, dan Valerianus Rahmat/Pengendali Ekosistem Hutan Pemula. Materi kemudian dilanjutkan oleh Dwi Putro Sugiarto (Kepala Sub Bagian Tata Usaha) membahas mengenai tugas dan fungsi organisasi Balai Taman Nasional Komodo. Adapun materi yang selanjutnya diberikan kepada CPNS antara lain: pengelolaan kepegawaian, pengelolaan administrasi umum dan persuratan, pengelolaan Barang Milik Negara (BMN), pengelolaan administrasi keuangan, serta tugas dan fungsi jabatan fungsional masing-masing. Materi pengelolaan kepegawaian (16 JPL) disampaikan oleh Kresensia Boo (Koordinator Urusan Kepegawaian/Pengendali Ekosistem Hutan Muda) dan Jujur Yulina D. Manalu (Analis Kepegawaian Mahir). Materi pengelolaan kepegawaian meliputi penatausahaan administrasi pegawai serta penjelasan rinci mengenai komponen hak dan kewajiban setiap pegawai. Calon Pegawai Negeri Sipil juga diberikan tugas praktik membuat contoh kenaikan gaji berkala dan melakukan rekapitulasi absensi dalam rangka menentukan besaran tunjangan kinerja setiap pegawai. Selanjutnya adalah materri pengelolaan administrasi umum dan penatausahaan persuratan yang dibawakan oleh Issabella Maharani (Koordinator Urusan Administrasi Umum dan Persuratan/Pengendali Ekosistem Hutan Pertama). Materi mengenai tata naskah dinas diajarkan selama dua hari kerja (16 JPL) dengan memberikan pemahaman kepada CPNS terkait pengertian tata naskah dinas, jenis-jenis naskah dinas, format yang digunakan dalam membuat naskah dinas, kewenangan pejabat penandatanganan naskah dinas, penyusunan dan tata cara persuratan. Materi praktik yang diberikan adalah membuat contoh surat tugas dan surat undangan. Materi selanjutnya adalah materi substantif mengenai tugas dan fungsi jabatan fungsional masing-masing. CPNS dengan jabatan fungsional Polisi Kehutanan Pemula mendapatkan materi dari Julizar Riduan (Kepala Satuan Polisi Kehutanan BTN Komodo/Polisi Kehutanan Pertama), sementara untuk jabatan fungsional Pengendali Ekosistem Hutan memperoleh materi Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Pertama). Adapun teori substantif yang diberikan adalah terkait dengan Peraturan Perundang-Undangan Jabatan Fungsional, Tugas dan Fungsi Jabatan, Standar Kompetensi, dan Jenjang Karir dalam Jabatan. CPNS Pengendali Ekosistem Hutan Pemula mendapatkan tugas praktik dari pengampu materi PEH berupa penulisan siaran pers, pelibatan dalam program Ranger Goes to School, dan pembuatan poster untuk media sosial. Materi berikutnya adalah pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) yang diajarkan selama dua hari kerja (16 JPL) yang dibawakan oleh Jamzam Jamaludin (Koordinator Urusan Perlengkapan). Materi terkait pengelolaan BMN diberikan kepada CPNS agar pegawai baru memahami aturan perundang-undangan terkait Pengelolaan BMN, dan mempelajari teknis pengadaan serta pengaturan barang persediaan. Materi terakhir dalam rangkaian PKTBT adalah pengelolaan administrasi keuangan. Pengelolaan keuangan ini dibawakan oleh Masda Susi Linar Limbong (Koordinator Keuangan/Analis Pengelolaan Keuangan APBN Pertama) bersama dengan staf Urusan Keuangan lainnya yaitu Nurlaila Aravah Ivon (Bendahara), Astuti (Penata Administrasi Keuangan), dan Sahrudin (Tenaga Pembantu Penata Administrasi Keuangan PNBP). Pelaksanaan pemberian materi terkait dengan peraturan perundang undangan terkait pengelolaan keuangan, struktur dan mekanisme pengelolaan keuangan, berkas pertanggungjawaban keuangan. Setelah rangkain pemberiaan materi selesai, para peserta menyusun laporan hasil kegiatan PKTBT dan membuat bahan presentasi laporan kegiatan PKTBT. Kegiatan tersebut didampingi oleh para koordinator Jabatan Fungsionalnya masing-masing, baik Koordinator Jabfung POLHUT dan Koordinator Jabfung PEH. Kegiatan penyusunan laporan dan bahan presentasi ini dilaksanakan selama dua hari. Pada hari terakhir pelaksanaan Kegiatan PKTBT, para peserta mempresentasikan laporan kegiatan PKTBT dari pukul 09.00 wita sampai selesai. Penutupan PKTBT dilangsungkan pada pukul 15.00 WITA di Lobi Kantor Balai Taman Nasional Komodo. Penutupan dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan strutkural dan pengampu materi PKTBT CPNS Balai Taman Nasional Komodo Tahun 2021. Calon Pegawai Negeri Sipil Balai Taman Nasional Komodo Tahun 2021 merasa telah belajar banyak dalam 15 hari kerja mengikuti rangkaian pembelajaran dalam PKTBT. Keempat peserta optimis bahwa ilmu dan keterampilan yang diperoleh dari PKTBT dapat dipertajam kembali dan menjadi bekal awal sembari menyambut diselenggarakannya pendidikan dan pelatihan Prajabatan CPNS mendatang. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Pemula - Rijckar Gideon Sambite (+6281240142462) dan Polisi Kehutanan Pemula - Muhamad Dzulfiansyah (+6281342182214) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Peneliti BRIN Eksplorasi Biji dan Kajian Habitat di Cagar Alam Pulau Sempu

Malang, 2 Juni 2022 – Balai Besar KSDA Jawa Timur (Resort Konservasi Wilayah 21 Pulau Sempu), tanggal 27 Mei 2022 sampai dengan 2 Juni 2022 menerima tim Peneliti dari Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya dan Kehutanan – BRIN (Kebun Raya Bogor). Kedatangan tim yang beranggotakan 4 orang tersebut dalam rangka penelitian “Eksplorasi biji dan kajian habitat jenis tumbuhan di Cagar Alam Pulau Sempu”. Sebelum datang ke Cagar Alam Pulau Sempu tim peneliti telah mengurus SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) dan Izin Akses Sumber Daya Genetik di Balai Besar KSDA Jawa Timur. Menurut: Dodo ketua tim peneliti, bahwa penelitian ini dilatar belakangi adanya, informasi keanekaragaman spesies dan koleksi dari pulau-pulau kecil di Indonesia masih sangat kurang. Inventarisasi tumbuhan di pulau kecil di sekitar Pulau Jawa akan melengkapi daftar spesies rekaman baru sekaligus mengkonfirmasi keberadaan spesies langka yang sudah hampir punah di Pulau Jawa seperti Dipterocarpus littoralis, Shorea javanica, dan Anisoptera costata. Terpilihnya Pulau Sempu, sebagai lokasi penelitian karena Pulau seluas 877 ha ini sebagai kawasan Cagar Alam sesuai dengan SK. GB Nomor: 46 Stbld No. 69 tanggal 15 Maret 1928, merupakan pulau kecil dengan keanekaragam hayati yang cukup tinggi, mempunyai karakteristik hidrologi, serta kekayaan flora dan fauna yang khas. Selain itu Pulau Sempu mempunyai keunikan dengan lima tipe ekosistem berbeda yang saling terkait satu sama lain yaitu ekosistem hutan tropis dataran rendah, ekosistem hutan mangrove, ekosistem hutan pantai, ekosistem danau dan ekosistem karst. Adapun tujuan penelitian ini: 1). Menggoleksi spesies tumbuhan sebanyak minimal 22 nomor koleksi biji tumbuhan asli, endemik atau langka di Cagar Alam Pulau Sempu. 2). Memperoleh minimal 5 paket data mikroklimat habitat 5 spesies target untuk diaplikasikan dalam pengembangan metode perkecambahan. Metode penelitian: untuk pengoleksian biji tumbuhan target dengan jelajah. Untuk pengambilan data populasi dan habitat spesies target menggunakan metode purposive sampling dengan survey awal menjelajahi kawasan, mencari populasi spesies tersebut. Untuk area dengan ukuran populasi terbesar dilakukan pengambilan data di dalam plot-plot studi berukuran 5x5 m2 meliputi: pH tanah, suhu, kelembaban, kemiringan, ketinggian, ketebalan serasah, naungan dan intensitas cahaya. Penelitian eksplorasi biji dan kajian habitat jenis tumbuhan selama 6 hari memperoleh hasil berupa material buah/ biji dan herbarium sejumlah 28 jenis tumbuhan antara lain: Lempeni (Ardisia humilis); Akar air (Arytera sp).; Malaman (Allophylus cobbe); Kalak tiripan akar (Artobotris hexapetalus); Api-api (Avicennia alba); Popoan (Buchanania arborescens); Besole (Cydenanthus excelsus); Kacangan (Derris scandens); Kayu hitam (Diospyros ferrea); Setese (Flacourtia indica); Mundu (Garcinia dulcis); Lamer/mareme (Glochidion arborescens); Jambu kete Glochidion littorale; Jati pasir (Guettarda speciosa); Tanjang (Heritiera littoralis); Waru laut Hibiscus tiliaceus; Triwulan (Maranthes corymbosa); Tutu lancur (Macaranga tanarius); Delek jambu (Memecylon caeruleum); Kendarahan (Myristica teysmannii); Nyampo kete (Nauclea havilandii); Hulu ongko (Paratocarpus venenosa); Sogo (Peltophorum pterocarpum); Kalak (Polyalthia laterflora); Polong (Sophora tomentosa); Joho (Terminalia bellirica); Laban (Vitex pinnata); Jombok (Xylocarpus moluccensis). Hasil penelitian ini penting sebagai bahan rekomendasi dalam upaya-upaya konservasi khususnya tumbuhan langka terancam di Pulau Jawa dan pulau-pulau di sekitarnya. Upaya konservasi in-situ tumbuhan perlu dipadukan dengan konservasi ex-situ agar dapat berpacu dengan waktu mencegah kepunahan spesies tumbuhan. Konservasi in-situ sudah dilakukan di taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam dan taman hutan raya yang berfungsi untuk konservasi alam, perlindungan flora dan fauna, preservasi habitat dan pemanfaatan keanekaragaman hayati serta ekosistem secara berkelanjutan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Untuk konservasi ex-situ tumbuhan dilakukan kebun raya sebagai lembaga konservasi yang berperan mengkoleksi dan menanam spesies tumbuhan terpilih dilengkapi dengan data dokumentasi dan registrasi. Konservasi ex-situ dalam bentuk kebun raya dapat menjadi cadangan penting bagi konservasi in-situ dan menjadi sumber material untuk kegiatan-kegiatan konservasi meliputi perbanyakan, domestikasi dan reintroduksi. Sumber: Hari Purnomo – Polisi Kehutanan Madya Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Komisi II DPRD Pelalawan Ajak Seluruh Elemen Peduli Konflik Gajah

Lubuk Kembang Bunga, 27 Mei 2022 – Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo beserta dengan jajaran melakukan pendampingan kepada Komisi II DPRD Pelalawan Bapak Sunardi, S.H yang sedang melaksanakan kunjungan lapangan ke Dusun Lubuk Belalang Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Jumat (27/5). Kunjungan lapangan ini dilaksanakan dalam rangka upaya penanganan dan penyelesaian konflik gajah liar di Dusun Lubung Belalang Desa Lubuk Kembang Bunga Kecamatan Ukui. Dalam kunjungan ini, Kepala Balai dan DPRD Pelalawan telah sepakat membentuk Tim Terpadu Lintas stakeholder dalam penanganan gajah liar yang terjadi. Tim terpadu ini nantinya akan menginventarisir potensi konflik serta mengawal dan menangani kejadian. Untuk menyelesaikan permasalah ini, Kepala Balai menyampaikan dalam pelaksanaannya perlu kerja sama, soliditas dan sinergitas antara pemerintah pusat, daerah serta seluruh elemen masyarakat. Kunjungan lapangan bersama dan pertemuan ini diharapkan dapat berimbas baik untuk penyelesaian konflik gajah kedepannya. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Melihat Bekal PKTBT CPNS dan PPPK Balai TN Tesso Nilo

Pangkalan Kerinci, 31 Mei 2022 – Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) menggelar presentasi akhir hasil kegiatan Penguatan Kompetensi Teknis Bidang Tugas (PKTBT) 6 orang CPNS dan PPPK, Selasa (31/5) di kantor Balai TN Tesso Nilo. Presentasi di pimpin oleh Kepala Balai juga dihadiri beberapa pegawai Balai TN Tesso Nilo. Masing – masing CPNS dan PPPK memaparkan materi dan ilmu praktek yang sudah diperoleh selama PKTBT berlangsung. PKTBT CPNS dan PPPK Balai TN Tesso Nilo telah dilaksanakan mulai dari tanggal 9 - 31 Mei 2022. PKTBT ini dilaksanakan untuk memberikan penguatan kompetensi teknis umum administratif dan kompetensi teknis substantif sesuai dengan tugas jabatan dari masing-masing CPNS dan PPPK. Dalam pelaksanaannya, CPNS dan PPPK telah melakukan orientasi di semua urusan lingkungan Balai TN Tesso Nilo. “PKTBT yang telah dilaksanakan diharapkan dapat memberi pembekalan secara mendalam untuk para CPNS dan PPPK untuk bekerja dan melaksanakan tugas di Balai TN Tesso Nilo” tutup Kepala Balai TN Tesso Nilo. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Mendukung TWA Sibolangit, BBKSDA Sumut Giat Meningkatkan Kapasitas Pokdarwis

Sibolangit, 2 Juni 2022. Untuk menunjang kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit sebagai salah satu objek wisata konservasi alam unggulan di Sumatera Utara, Balai Besar KSDA Sumatera Utara tak henti-hentinya melakukan berbagai upaya, seperti pada Selasa, 31 Maret 2022, telah dilaksanakan Kegiatan Peningkatan Kapasitas Masyarakat Sekitar Kawasan Konservasi Dalam Rangka Ekowisata, kepada kelompok masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wisata Alam Sibolangit Berseri (WASB). Kelompok ini sudah terbentuk sejak tahun 2017 yang lalu dan menjadi binaan Balai Besar KSDA Sumatera dalam pengembangan wisata alam Peningkatan kapasitas pokdarwis kali ini menghadirkan 2 narasumber yang sudah ahli dan berkopeten di bidangnya, yaitu Purnama Ginting, pengelola wisata alam Jendela Bambu Leuser (JBL) di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat dan Aman Hamonangan Siregar, penggiat Komunitas Sepeda di Sumatera Utara (Enduro Sumatera). Acara yang dihadiri 30 orang peserta, dibuka langsung oleh Kepala Desa Sibolangit, Samiran Ketaren, didampingi perangkat desa yaitu BPD dan LKMD Desa Sibolangit. Dalam sambutannya, Samiran Ketaren menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dan perhatian Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang secara terus menerus membina dan mendampingi masyarakatnya melalui pokdarwis guna mendorong kegiatan Wisata Alam di TWA Sibolangit serta di Desa Sibolangit, meskipun menghadapi berbagai tantangan dan rintangan dalam pengembangan kelompok. Masih menurut Samiran Ketaren, Desa Sibolangit sebagai jalur lintas wisata Medan Berastagi layak untuk dijadikan sebagai tujuan wisata karena memiliki berbagai potensi wisata yang unik dan menarik sehingga perlu dikembangkan, seperti wisata religi dimana Sibolangit merupakan pusat penginjilan pertama bagi masyarakat suku Karo, wisata budaya, wisata derek berupa panorama alam dan lintasan pipa air PDAM Tirtanadi sejak dahulu, dan tentunya TWA Sibolangit yang memiliki sejarah panjang konservasi sejak Tahun 1914 sebagai Kebun Raya Sibolangit. Narasumber pertama, Purnama Ginting, dalam paparannya menyampaikan bahwa sarana prasarana yang sudah ada saat ini di TWA Sibolangit sudah cukup memadai. Yang perlu ditambahkan seperti papan arah, spot berphoto, papan informasi, penataan bagian depan pintu gerbang masuk dan beberapa sarana lainnya. Yang terpenting menurut Purnama Ginting, pelaksanaannya nyata di lapangan, saatnya untuk berbenah dan dibutuhkan aksi langsung. Bahkan dalam waktu dekat ini, Purnama akan segera membantu masyarakat membangun wisata di Desa Sibolangit sebagaimana yang sudah dilakukannya di Kabupaten Langkat. Tak lupa pula Purnama Ginting, yang juga mantan Kepala Desa Garunggang, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat, menghimbau Pemerintah Desa melalui Kepala Desa Sibolangit, untuk mengakomodir dana pembangunan wisata melalui APB Desa. Narasumber kedua Aman Hamonangan Siregar, menyampaikan materi wahana bersepeda di TWA Sibolangit. TWA Sibolangit yang berada tidak jauh dari kota Medan hanya 3 km, merupakan lokasi yang sangat tepat untuk dijadikan wahana bersepeda mengingat bentang alam dan keasrian yang masih terjaga. Dibentuknya wahana bersepeda yang bisa dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa akan mengurangi bentuk kecelakaan, meningkatkan pendapatan bagi lingkungan sekitar serta upaya mendorong adanya kegiatan konservasi. Salah satu pengembangan dan pengelolaan wisata bersepeda kelak di TWA Sibolangit, menurut Aman, adalah pumping track, yaitu wahana bersepeda yang mengandalkan teknik memompa untuk membuat laju sepeda semakin kencang. Khusus di Sumatera Utara belum banyak lokasi seperti ini, sehingga membuat daya tarik akan semakin tinggi bagi para pesepeda. Track yang bisa dinikmati mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa serta tidak membutuhkan lahan yang luas dan bisa tetap mempertahankan pepohonan yang ada untuk memperindah track. Tidak lupa juga Aman memperagakan cara mempergunakan sepeda gunung dan pemeliharaanya. Peragaan dan pemeliharaan ini perlu dilakukan untuk kelangsungan pengelolaan 11 (sebelas) unit sepeda gunung oleh Pokdarwis Wisata Alam Sibolangit Berseri yang telah diserahkan Balai Besar KSDA Sumatera tahun 2021 lalu, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi dalam rangka peningkatan ekonomi masyarakat. Sedangkan di sesi diskusi peserta yang hadir mengharapkan seluruh anggota Pokdarwis mengajak bergotong royong bersama dalam membangun wisata di TWA Sibolangit dan Desa Sibolangit, serta berharap kehadiran para narasumber kembali kelak membantu dan menyemangati masyarakat dalam mengembangkan wisata Sibolangit. Sumber : Samuel Siahaan - PEH Pertama dan Kepala Resort Konservasi Wilayah CA/TWA Sibolangit, BBKSDA Sumut
Baca Artikel

Bentuk Instrumen Untuk Pemanfaatan Sumber Daya Alam Lestari

Padang, 31 Mei 2022. Penempatan dan pengoperasian jaringan transmisi SUTT 150 kv eksisting yang melintasi kawasan Suaka Margasatwa (SM) Barisan, Cagar Alam (CA) Batang Pangean II, Taman Wisata Alam (TWA) Air Putih Kelok 9, Balai KSDA Sumatera Barat dan PT.PLN (Persero) UIP3B Sumatera melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahun 2022 pada Senin (30/5) di Ruang rapat kantor PT. PLN (Persero) UPT Padang. Penandatanganan ini dilakukan oleh Kepala BKSDA Sumbar atas nama Dirjen KSDAE dengan Manajer Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Padang atas nama General Manajer (GM) PT. PLN (Persero) UIP3B Sumatera. Acara penandanganan ini juga dihadiri oleh perwakilan Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi (RKK) secara hybrid. Kerja sama ini terjalin untuk menjamin terwujudnya keutuhan, kelestarian dan manfaat kawasan, serta meminimalkan dampak negatif baik langsung maupun tidak langsung sebagai akibat penempatan dan pengoperasian jaringan transmisi SUTT 150 kv yang melintasi kawasan konservasi. Ruang lingkup dari kerjasama ini meliputi pemeliharaan dan operasional jaringan transmisi, perlindungan dan pengamanan kawasan, pengawetan flora dan fauna, peningkatan peran dan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan, penguatan kelembagaan, serta perencanaan, monitoring dan evaluasi, serta pelaporan. Areal Kerja Sama terdiri dari 42 unit tower, total panjang jaringan ± 12,53 Km berada di SM Barisan, CA Batang Pangean II dan TWA Air Putih Kelok 9. Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, Ardi Andono menegaskan bahwa PKS merupakan salah satu instrumen bagi pelaksanaan kegiatan perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dan berharap kelestarian kawasan konservasi yang merupakan kekayaan alam milik bangsa dapat dipertahakan dan diwariskan kepada generasi mendatang tanpa kehilangan nilai dan kemanfaatannya, sementara itu Manager PT PLN (Persero) UPT Padang Taufik Fahrudin mengharapkan PKS ini dapat bermanfaat dan menjamin ketersedian listrik dan keutuhan kawasan konservasi khususnya yang melintasi kawasan konservasi. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Artikel

Melihat Hasil Penguatan Kompetensi Teknis Bidang Tugas CPNS BKSDA Maluku

Ambon, 31 Mei 2022. Seluruh CPNS Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku melaksanakan presentasi akhir kegiatan Penguatan Kompetensi Teknis Bidang Tugas (PKTBT), Selasa (31/5). Kegiatan tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 9 -30 Mei 2022. Presentasi ini dibuka oleh Kepala Balai KSDA Maluku - Bapak Danny H. Pattipeilohy, S.Pi., M.Si yang juga dihadiri oleh Kasubag TU, Kepala SKW I, II, dan PLT. Kepala SKW III beserta para pengajar CPNS lingkup BKSDA Maluku. Dalam sambutannya, Bapak Danny menyampaikan bahwa kegiatan PKTBT ini merupakan sarana belajar bagi bara CPNS tahun 2022 untuk mengetahui tata kelola organisasi dan tupoksi seluruh jabatan fungsional dan pelaksana di Balai KSDA Maluku. Sumber: Tim Media BKSDA Maluku
Baca Artikel

Edukasi TSL Dilindungi di Halmahera Timur

Halmahera Timur, 30 Mei 2022. Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ternate Balai KSDA Maluku, Bapak Abas Hurasan, S.Hut melaksanakan sosialisasi tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi di Gedung Serbaguna, Desa Nyaolako, Kec. Wasile Tengah, Kab. Halmahera Timur (Haltim), Rabu (25/5/22). Aksi sosialisasi ini merupakan inisiasi dari Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Sorong, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Materi yang disampaikan pada kesempatan ini adalah terkait konservasi ikan dilindungi oleh Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong dan terkait pelestarian satwa langka untuk keseimbangan ekosistem oleh Bapak Abas Hurasan (SKW I Ternate - BKSDA Maluku). Usai pemaparan kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Kegiatan ini memberikan dampak yang cukup signifikan bagi peserta mengingat setelah kegiatan, terdapat masyarakat yang menyerahkan 2 ekor Nuri Kalung Ungu (Eos squamata) kepada SKW 1 Ternate dan SPTN 3 untuk direhabilitasi sebelum dilepasliarkan. Kegiatan ditutup dengan penyerahan poster berupa jenis-jenis satwa/biota yang dilindungi kepada Kepala Dinas Pariwisata, Sekcam Wasile Tengah dan Kepala Desa beserta penandatanganan Berita Acara. Turut hadir pada kegiatan Kadis Pariwisata Kab. Haltim, perwakilan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, LPSPL SORONG, PSDKP TERNATE, DKP MALUT, Dinas Pariwisata Kab. Halmahera Timur, Sekcam Wasile Tengah dan beberapa perwakilan desa yg ada di wilayah Kec. Wisile Tengah. Sumber : Abas Hurasan, S.Hut - Kepala SKW I Ternate Balai KSDA Maluku
Baca Artikel

Pembinaan Forum Wisata Alam Pangrango

Bogor, 30 Mei 2022. Dino Darussalam, satu dari 30 pegiat wisata alam di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) area Bogor, beruntung mendapatkan pembinaan penguatan kompetensi Teknik Pemanduan Wisata Alam dan Teknik Dasar Pertolongan Pertama pada Kecelakan Pengunjung. Kedua materi tersebut disampaikan pada acara Pembinaan Forum Wisata Alam Pangrango yang diselenggarakan Bidang Pengelolaan Taman Nasioanl (PTN) Wilayah III Bogor, Balai Besar TNGGP bekerja sama dengan pengurus Forum Wisata Pangrango di Gunung Geulis Campsite, Megamendung (25/05/2022). Forum ini dibentuk oleh BBTNGGP pada November 2020 untuk menghimpun para pegiat wisata alam lingkup Bidang PTN Wilayah III Bogor. Peserta yang hadir merupakan para pemegang/ pemohon izin serta calon pemegang Perizinan Berusaha Pengusahaan Sarana Jasa Lingkungan Wisata Alam (PB-PSWA), baik perorangan, Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan BBTNGGP, koperasi, lembaga terkait, kepala seksi, kepala resort, dan staf lingkup Bidang PTN Wilayah III Bogor. Kang Sofyan Arief Fesa, seorang pemandu gunung sekaligus salah seorang pengurus Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) menjelaskan teori dan praktek bagaimana seorang pemandu melakukan “Itinerary & Safety Briefing”, langkah menerima tamu, sikap tubuh, peralatan dasar yang harus disiapkan, melakukan assessment kondisi fisik tamu, teknik berjalan selama melakukan pemanduan, menangani keluhan dan menyelesaikan konflik, serta peran dan tanggungjawab pemandu. Terdapat 5 prinsip wisata alam, yaitu konservasi, partisipasi masyarakat, ekonomi, edukasi, dan wisata. Selanjutnya disampaikan juga bahwa pelaku wisata alam harus mengikuti perkembangan dan perubahan permintaan pasar. Hal lain yaitu bagaimana seorang pemandu harus dapat mengajak tamunya untuk menghargai adat dan budaya masyarakat setempat. Selanjutnya dr. Siswo P. Putranto, Sp.F., S.H., MH.Kes., yang dikenal sebagai salah seorang dokter gunung membagi pengalamannya kepada seluruh peserta, bagaimana sikap dan tanggung jawab seorang penolong, jenis-jenis kecelakaan yang biasa terjadi di gunung serta masing-masing langkah pertolongannya, peralatan minimal yang harus dibawa seorang pemandu, peralatan penyelamatan, serta teknik evakuasi. Dokter Cico menjelaskan seluruhnya dengan bahasa yang kocak namun tetap serius, tidak ada main-main dengan nyawa seseorang. Sang dokter juga menceriterakan beberapa pengalaman proses penyelamatan yang pernah dilakukannya bekerja bersama para pegiat gunung lain. Kang Nandang “Chuy” Rohmatun selaku Ketua Forum memandu keseluruhan acara dengan apik dan membuat suasana selalu hidup. Ada 3 peran Taman Nasional sebagai bagian dari hutan konservasi di Indonesia yakni Perlindungan sistem penyangga kehidupan; Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; serta Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Wisata Alam yang dilakukan secara bertanggung jawab dengan melibatkan masyarakat setempat merupakan sebuah bentuk pemanfaatan yang dapat menjamin kelestarian taman nasional serta kesinambungan, kita sebut sebagai Ekowisata. Terdapat 65 desa pada tiga kabupaten di sekitar TNGGP, 22 desa diantaranya berada pada wilayah kerja Bidang PTN Wilayah III Bogor. Sejak November tahun 2020, telah dibentuk sebuah forum wisata alam yang beranggotakan pegiat wisata yang berasal dari desa di sekitar Kawasan TNGGP tersebut. Hingga Mei 2022 telah terbit 5 (lima) Perizinan Berusaha Pengusahaan Sarana Jasa Lingkungan Wisata Alam (PBPSWA), 8 izin sedang berproses sedangkan beberapa lainnya dalam tahap dilakukan fasilitasi kelembagaan serta pengajuan perizinan. Pengembangan ekowisata ini perlu terus dilakukan bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan, tetapi juga untuk kelestarian taman nasional. Hal ini disampaikan Dadang Suryana, Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor, mewakili Kepala Balai Besar TNGGP. Upaya-upaya pembinaan masyarakat di sekitar kawasan merupakan komitmen BBTNGGP. Khusus untuk pegiat wisata alam lingkup Bidang PTN Wilayah III Bogor, dalam waktu dekat akan dilaksanakan pembinaan manajemen, teknik pembuatan kopi, dan pelatihan keterampilan lainnya. Dengan adanya pembinaan masyarakat sekitar kawasan diharapakan dapat mewujudkan ‘Leuweung hejo, Masyarakat ngejo”. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pängrango Teks : Erwin Kusumah Nanjaya, S.Hut Foto : Amru Ikhwansyah, S.Pd., M.Si. dan Maria Kurnia N, S.Hut
Baca Artikel

Pendidikan Konservasi Elang Jawa Untuk Generasi Muda

Sukabumi, 27 Mei 2022. Pentingnya kegiatan konservasi elang jawa dan habitatnya kepada generasi muda, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) menggelar Sosialisasi Program Pendidikan Konservasi Elang Jawa di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Jumat (27/5). BBTNGGP bersama TSI, PT. Smelting dan Filantra mempunyai tujuan yang sama yaitu menumbuhkan rasa cinta, bangga, dan peduli terhadap pelestarian elang jawa secara berkelanjutan. Pengenalan elang jawa dibuka langsung oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Suharyono, S.H., M.Si., M.Hum. Suharyono berharap sosialisasi ini dapat menjadi sarana pendidikan, pemahaman untuk meningkatkan kesadaran, dan kepedulian semua pihak akan pentingnya melestarikan satwa agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Lima sekolah dasar di sekitar kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Cimungkad, BBTNGGP menjadi peserta sosialisasi yang dikemas dengan sangat menarik, melalui permainan seputar pengetahuan tentang elang jawa dan sejarahnya. Peserta dibagi ke dalam 5 kelompok, dimana kelompok dengan jawaban benar terbanyak mendapatkan hadiah menarik dari panitia. Sosialisasi ini juga dihadiri perwakilan dari Balai Besar KSDA Jawa Barat, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Komandan Puslatpurmar-6 Antralina, Camat Kadudampit, Kepala Desa Cikahuripan, Kepala Desa Muaradua, Bapak Herry Subagiadi, Direktur PT. Bumi Paseban Alami, Pokdarwis Kec. Kadudampit, Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat, Ketua Volunteer Panthera, dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Nikreuh, serta beberapa undangan lainnya. Plt. Kepala Balai Besar TNGGP, Wasja, S.H., memberikan sambutan terkait pengetahuan umum tentang elang jawa, serta tujuan diadakan kegiatan sosialisasi. Dilanjutkan sambutan dari Direktur Taman Safari Indonesia (TSI), Sambutan Direktur PT. Smelting, dan Sambutan Bupati Sukabumi yang diwakili oleh Sekda Sukabumi. Acara menjadi semakin menarik saat masuk pada pengenalan Duta Elang Jawa yang dipandu oleh panitia dari TSI. Turut hadir pada kegiatan sosialisasi yaitu Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Sumber Daya Genetik, Drh. Indra Exploitasia, M.Si. yang mewakili Plt. Direktur Jenderal KSDAE untuk melakukan Pembukaan Tirai Prasasti secara simbolis. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Sisca Widiya Afiyanti – Penyuluh Kehutanan Dok : Tim Publikasi – BBTNGGP

Menampilkan 1.953–1.968 dari 2.606 publikasi