Sabtu, 3 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Elang Jawa di Langit Sore Sarongge

Cianjur, 8 Maret 2021. Resort PTN Sarongge Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Gedeh, Bidang PTN Wilayah I Cianjur Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) bersama-sama dengan personil PEH Bidang PTN I Cianjur melakukan kegiatan monitoring populasi elang Jawa tahap I tahun 2021 (04/03/2021) dan berhasil memonitor 1 (satu) individu elang Jawa muda di salah satu blok Resort Sarongge. Saat pengamatan, elang Jawa tersebut bertengger pada pohon Tunggeureuk (Castanopsis tunggurut) dengan jarak pengamatan sekitar 30 meter. Selama kurang lebih hampir 1 jam dari pkl. 09.45 sampai 10.45 WIB, berhasil diamati perilakunya seperti menyelisik, mengawasi sekitarnya, mengawasi buruannya bahkan sampai buang kotorannya dan berhasil didokumentasikan dalam bentuk video. Selain temuan elang Jawa muda tersebut, juga sempat dijumpai 1 (satu) individu elang Jawa dewasa di blok yang sama berdasarkan informasi dari mahasiswa Universtas Negeri Jakarta (UNJ) yang didampingi oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Resort PTN Sarongge Sdr. Encep. Blok ini merupakan salah satu site monitoring elang Jawa di Resort Sarongge, namun monitoring secara intensif dilakukan juga di blok lainnya. Dengan termonitornya elang Jawa di Sarongge ini, merupakan salah satu indikator bahwa kondisi kawasan di wilayah Resort PTN Sarongge khususnya dan wilayah TNGGP pada umumnya baik. Keberadaan elang Jawa pada suatu habitat dapat menunjukkan bahwa ekosistem masih baik. Sebagai pemangsa puncak dalam rantai makanan, elang Jawa dapat berperan untuk mengatur jumlah binatang lain yang menjadi mangsanya di alam, dengan demikian di dalam ekosistem elang Jawa berfungsi sebagai makhluk yang mampu mempertahankan keseimbangan alam. Elang Jawa juga dapat menjadi indikator kebersihan dan mutu lingkungan. Pada lingkungan yang tercemar elang Jawa merupakan jenis satwa sangat rentan bahkan yang pertama tersingkir atau bahkan menghilang. Polusi apapun akan langsung meracuni elang Jawa dan atau menghambat proses pembiakannya. Elang Jawa termasuk salah satu burung pemangsa yang dilindungi. Sejarah mencatat bahwa status perlindungan elang Jawa di Indonesia dimulai sejak tahun 1970 melalui Surat Kepmentan Nomor 421/Kpts/Um/8/1970 yang diterbitkan pada tanggal 26 Agustus 1970. Karena langka dan terancam punah maka elang Jawa mendapat perlindungan tambahan dalam pasal 21 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 dengan sanksi hukuman denda sebesar Rp. 100 juta dan hukuman kurungan maksimal lima tahun. Diperkuat lagi dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1993 pada tanggal 10 Januari 1993 yang menetapkan elang Jawa sebagai burung nasional dan lambang spesies langka. Pada perlindungan tingkat Internasional elang Jawa termasuk dalam daftar CITES Lampiran II, yang melarang seluruh perdagangan international tanpa adanya ijin. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks dan Foto: Asep Hasbilah - PEH Bidang PTN Wilayah I Cianjur, BBTNGGP
Baca Artikel

BBTN Kerinci Seblat Apel Siaga Penanggulangan Karhutla

Merangin, 8 Maret 2021. Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) berpartisipasi pada apel kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tahun 2021 di lapangan apel Polres Merangin. Apel dipimpin Wakil Bupati Merangin Bpk. Mashuri yang dihadiri juga oleh Kapolres Merangin, Kodim Sarko, Kajari Merangin, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), BPBD, OPD Kabupaten Merangin antara lain Damkar, SatPol PP, UPTD KPHP Merangin, Manggala Agni Daops Sumatera XIII, berikut jajaran, personil dan tamu undangan. Sebagai antisipasi dini terhadap kebakaran hutan dan lahan, Bupati Merangin menyampaikan agar semua pihak mengutamakan keselamatan dalam segala kegiatan; melarang kegiatan pembukaan perkebunan dengan cara membakar lahan; melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang dampak kebakaran hutan dan lahan dan melakukan kesiapsiagaan personil dan peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Tak hanya apel dan pengarahan, Bupati juga melakukan pengecekan personil dan peralatan pemadam kebakaran yang dimiliki oleh Polres Merangin, Damkar, Daops, BBTNKS, dan KPHP Merangin. Diharapkan sinergi antar pihak dan instansi bersama dengan seluruh masyarakat dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Merangin. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Artikel

BBKSDA Papua Pantau Terus Penanganan Karhutla

Merauke, 7 Maret 2021 – Balai Besar KSDA Papua melalui Bidang Konsevasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Merauke telah melakukan patroli rutin baik untuk pencegahan maupun pemadaman karhutla. Pada tahun 2020, patroli karhutla berlangsung di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Dolok bagian utara, Suaka Margasatwa Pulau Pombo, dan Suaka Margasatwa Pulau Komolom. Tim patroli karhutla terdiri dari pegawai Bidang KSDA Wilayah I Merauke, anggota Resort Kimaam, dan anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Gariyaka. Tim patroli karhutla melaporkan bahwa tahun 2020 tidak terdapat titik api di tiga kawasan Suaka Margasatwa. Namun, mereka mendapati titik api serta sisa kebakaran hutan dan lahan seluas sekitar satu hektar di kawasan penyangga Suaka Margasatwa Pulau Dolok bagian utara. Titik api dan sisa kahutla tersebut tepatnya di Kampung Mambun, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke. Tim patroli juga mengumpulkan masyarakat setempat dan memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga kawasan dari karhutla. Sementara pada titik-titik api yang tersisa, tim memadamkannya menggunakan ranting-ranting pohon. Namun demikian, beberapa titik api masih terpantau di bagian selatan Suaka Margasatwa Pulau Dolok. Beberapa lokasi rawan kebakaran di bagian selatan tersebut masih sulit dijangkau oleh petugas. Itu karena akses yang sulit dari Distrik Kimaam, yang merupakan pangkalan petugas Resort Kimaam, BBKSDA Papua. Sebagai informasi, Papua memiliki riwayat panjang tentang kebakaran hutan dan lahan. Papua masih termasuk 10 besar dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Bahkan Papua merupakan salah satu dari tiga provinsi dengan karhutla terluas di Indonesia pada tahun 2020. Di antara titik rawan karhutla di Papua adalah Kabupaten Merauke, yang menduduki posisi pertama dalam jumlah titik panas hingga tahun 2020. Padahal Merauke akan menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan PON XX, yang rencananya digelar pada Oktober hingga November 2021. Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823 9802 9978
Baca Artikel

Kepak Sayap Sang Garuda di Lereng Gunung Pangrango

Cibodas, 5 Maret 2021. Elang Jawa sang garuda, menampakkan dirinya saat tim Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) melakukan giat patroli kawasan pada awal bulan Maret 2021 di Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Cisarua, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Perjumpaan satwa ini sering dijadikan indikasi masih terjaganya lingkungan di sekitarnya, karena karakteristik elang Jawa cukup sensitif terhadap perubahan lingkungan. Selain itu, perjumpaan elang Jawa di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diduga terkait dengan kesesuaian habitatnya, seperti ketersediaan pakan (prey) serta tutupan lahan yang masih baik. Momen ini pun tidak disia-siakan tim untuk menangkap gambar satwa tersebut. Kepala Resort PTN Cisarua, Ayi Rustiadi, bergegas mengambil kamera, membidikan fokus dan memotretnya. Namun, posisinya masih terlalu jauh dari "Sang Garuda". Salah satu anggota tim patroli lainnya, Ilham Syahida Rohman mencoba mendekatinya agar mendapatkan foto yang lebih baik. Dan akhirnya berhasil mengabadikan momen langka tersebut. Kegiatan monitoring populasi elang Jawa dilakukan secara berkala di TNGGP, namun masih diperlukan time series data yang lebih panjang dan pengambilan contoh yang lebih luas untuk dapat mengetahui data populasi yang lebih akurat. Pada sisi lain, kegiatan penelitian yang melibatkan akademisi maupun peneliti masih sangat jarang. Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu burung pemangsa endemik pulau Jawa dengan status terancam punah (IUCN, 2017). Satwa ini termasuk tiga spesies yang menjadi satwa prioritas di TNGGP untuk ditingkatkan populasinya selain owa Jawa dan macan tutul Jawa. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks & foto oleh: Ayi Rustiadi (@ayiexxx) dan Ilham Syahida Rohman (@duraliem_muda)
Baca Artikel

“Menengok” Kemitraan Konservasi Bagian Dari Pemulihan Ekosistem Di TWA Bukit Kaba

Jakarta, 5 Maret 2021. Tim Direktorat Kawasan Konservasi yang dipimpin Kepala Subdit Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi Dr. U. Mamat Rahmat, S.Hut, MP mengadakan kunjungan ke beberapa kelompok tani yang tergabung dalam kemitraan konservasi di Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba yang merupakan salah satu wilayah kerja Seksi Konservasi Wil. I Curup Balai KSDA Bengkulu. Kedatangan tim dari Direktorat KK untuk bimbingan teknis pemulihan ekosistem serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan kemitraan konservasi khususnya pemulihan ekosistem. Sebelum kunjungan ke lokasi kemitraan konservasi, dilaksanakan bimbingan teknis pemulihan ekosistem di kantor Balai KSDA Bengkulu melalui tatap muka dan virtual dengan rekan-rekan di seksi wilayah. Bimbingan teknis dibuka langsung oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu. Dalam arahannya, Kepala Balai KSDA Bengkulu menyampaikan bahwa saat ini terdapat 9 kelompok tani yang tergabung dalam kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem di TWA Bukit Kaba yang berada di dua Kabupaten yaitu 4 kelompok berada di Kabupaten Kepahiang (Desa Sukasari dan Desa Bandung Jaya) dan 5 kelompok berada di Kabupaten Rejang lebong (Desa IV Suku Menanti). Kemitraan koservasi dalam rangka pemulihan ekosistem di TWA Bukit Kaba dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama (PKS) dan sudah ditindaklanjuti dengan penyusun Rencana Pelaksanan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) pada tahun 2019. Kunjungan tim Direktorat KK disambut hangat oleh kelompok tani, mereka menaruh harapan adanya bimbingan dan arahan dari pusat untuk memaksimalkan kegiatan pemulihan ekosistem di areal kerja tanaman kopi yang mereka garap. Hal ini didasari atas, belum maksimalnya pertumbuhan jenis tanaman hutan yang ditanam. Berbekal dari bibit yang diperoleh dari BPDAS dan BPTH bibit-bibit yang ditanam ternyata tidak semua dapat tumbuh dengan baik. Terdapat jenis-jenis tanaman yang tidak cocok pada lokasi Garapan kelompok tani. Disamping itu adanya keinginan kelompok tani untuk menanam dengan jenis tanaman hutan lainnya terutama dengan jenis MPTS untuk mengganti tanaman yang tidak cocok pada areal tersebut. Dalam arahannya, Kepala Subdit PEKK menyampaikan, agar selalu memonitor bibit-bibit yang ditanam, jika tidak dapat tumbuh dengan baik atau mati harus dicatat dan dievaluasi dan penyulamannya diganti dengan bibit lain yang cocok dan mudah beradaptasi. Disamping itu Kabusidt PEKK juga menyampaikan kelompok tani tetap harus konsisten denga isi PKS yang telah disepakati dimana komitmen tidak akan memperluas areal Garapan dan membantu petugas dalam perlindungan hutan. Sementara itu dalam upaya pemberdayaan masyarakat, Balai KSDA Bengkulu diharapkan lebih intensif berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya seperti dinas pertanian, dinas peternakan, dinas UMKM, litbang dsb bagaimana bisa memaksimalkan produktifitas pertanian kelompok masyarakat sekitar TWA Bukit Kaba Pihak Balai KSDA Bengkulu menyampaikan dengan adanya kemitraan konservasi, masyarakat yang tadinya main “kucing-kucingan” dengan petugas sekarang sudah mau bekerja sama dengan petugas lapangan ikut membantu dalam perlindungan hutan di TWA Bukit Kaba. Bahkan baru-baru ini masyarakat turut mengusir perambah yang masuk ke TWA Bukit Kaba. Terlepas dari belum maksimalnya pelaksanaan kemitraan konservasi di TWA Bukit Kaba yang baru berjalan 2 tahun, Balai BKSDA Bengkulu tetap berkomitmen untuk berinovasi dan mencarikan solusi terbaik dalam upaya mensejahterakan masyarakat sekitar dan melestarikan hutan TWA Bukit Kaba. Sumber : Resi Diniyanti - PEH Muda Direktorat Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Melihat Sejauh Mana Efektivitas Pengelolaan TN Kerinci Seblat

Sungai Penuh, 04 Maret 2021. Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) didukung oleh FFI – IP menyelenggarakan kegiatan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (METT) Lingkup Balai Besar TNKS di Hotel Grand Kerinci tanggal 4-5 Maret 2021. Kegiatan penilaian efektivitas pengelolaan ini merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan untuk melihat sejauh mana pengelolaan TNKS yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan pengelolaan kawasan yang telah ditetapkan. BBTNKS memperoleh nilai METT 79 dan dari hasil penilaian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan perbaikan yang perlu dilakukan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Metode penilaian yang digunakan pada kegiatan ini yaitu menggunakan METT (Management Effectiveness Tracking Tool) dimana terdapat 6 elemen penilaian yang dievaluasi yaitu konteks, perencanaan, input, proses-proses, output, dan hasil akhir sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : P.12/KSDAE/SET/KUM.1/12/2017 tentang Pedoman Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi. Kegiatan ini turut dihadiri beberapa mitra antara lain FFI– IP, Pemerintahan Daerah, ICS, Lingkar Institute, FP II, dan PIU Sumatran Tiger Project Lanscape TNKS. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Artikel

Menggemaskan, Si Mata Belok Menampakkan Diri di Resort Camp Leakey

Pangkalan Bun, 4 Maret 2021 – Mengawali bulan Maret 2021, kabar datang dari staf Resort Camp Leakey (Sdr. M. Arief dan Sdr. Imam) yang bertatap muka langsung dengan satwa yang dikenal pemalu dan senang menjelajah kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) dimalam hari. Penjelajah malam hari itu dikenal dengan nama Tarsius (Cephalopachus bancanus borneanus). Tarsius Kalimantan merupakan endemik Kalimantan dan keberadaannya saat ini dikategorikan rentan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Tarsius juga merupakan salah satu dari 25 spesies primata yang paling terancam punah di dunia. Spesies menggemaskan ini termasuk sulit dijumpai di kawasan TNTP karena kelincahan dan aktif pada malam hari sehingga menjadi suatu anugerah alam ketika dapat melihatnya secara langsung. Pada tanggal 16 Februari 2021, kisah kedua staf Resort Camp Leakey yang tidak sengaja bertemu dengan salah satu penghuni nocturnal di Kawasan TNTP ini ketika sedang melakukan patroli malam di sekitar kawasan Resort Camp Leakey. Moment yang tak biasa tersebut langsung didokumentasikan dalam bentuk foto dan video dengan smartphone pribadi mereka. Data perjumpaan satwa langka ini juga tak lupa mereka input pada aplikasi SITANPAN. Kokohnya vegetasi dan hijaunya rimbunan dedaunan di kawasan TNTP membuat satwa kecil dan menggemaskan ini betah untuk tinggal. Penting terjaganya kelestarian ekosistem di Kawasan TNTP agar nantinya kita tak hanya melihat foto dan gambarnya saja, namun masih tetap melihat mereka aman di alam. Sumber: Balai TN Tanjung Puting
Baca Artikel

Balai TN Taka Bonerate gelar Evaluasi Kegiatan 2020 dan Penyusunan Rencana Kerja Tahun 2021 WCS-IP

Kepulauan Selayar, 5 Maret 2021 - Balai TN Taka Bonerate melaksanakan Evaluasi Kegiatan tahun 2020 dan Penyusunan Rencana Kerja Tahun 2021 Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP). Demi menerapkan protokol kesehatan, sebagian peserta mengikuti kegiatan secara virtual (4/3/2021). Balai TN Taka Bonerate diwakili oleh Kepala Balai Faat Rudhianto, Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Wilayah I Koordinator, Pejabat Fungsional, Pokja Program Anggaran dan Evaluasi, Pokja Humas, dan Pokja Teknis Tarupa. Sedangkan pihak Wild Conservation Society (WCS) diwakili oleh Junior Coordinator for Taka Bonerate, Conservation Officer, Fisheries Officer, Marine Program Manager for Nusa Tenggara Barat and National Park, Fisheries Specialist, dan Junior Coordinator for Karimun Jawa. Dalam sambutannya, Faat Rudhianto mengingatkan bahwa masa pandemi bukanlah alasan untuk tidak produktif, semua sektor tetap harus bekerja dan berkarya sembari tertib protokol kesehatan Covid-19. Selain itu, diharapkan sinergi dan kinerja antara WCS dan TN semakin ditingkatkan sehingga kerjasama yang terjalin dapat berjalan lebih optimal. Beliau juga menjelaskan, bahwa terdapat 8 target prioritas dalam pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate, antara lain: pengurangan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, minimalkan destructive fishing, pemulihan ekosistem, updating data Keanekaragaman Hayati (KEHATI), peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), peningkatan SDM pengelola kawasan, serta kolaborasi melalui kemitraan konservasi dan stakeholders lainnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi. Materi yang pertama dipaparkan langsung oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha tentang Rencana Kerja Balai TN Taka Bonerate Tahun 2021, dilanjutkan dengan materi Pelaksanaan Program WCS-IP Taka Bonerate Tahun 2020 dan Rencana Kerja Tahun 2021 yang dipaparkan oleh Junior Coordinator for Taka Bonerate WCS-IP, dan Percepatan Implementasi Patroli Smart TN Taka Bonerate dipaparkan oleh Conservation Officer WCS-IP, serta materi yang terakhir yaitu Kondisi Perikanan Karang di Balai TN Taka Bonerate dipaparkan oleh Fisheries Specialist WCS-IP. Kepala balai berharap agar dalam waktu dekat dapat dilaksanakan diseminasi kerja-kerja nyata yang sudah dilaksanakan selama ini sehingga terbangun pemahaman, sinergitas dan kebersamaan semua pihak, khususnya dalam pengelolaan Balai TN Taka Bonerate. Tak lupa, ucapan apresiasi pun diberikan Kepala Balai kepada semua Tim baik dari Balai TN Taka Bonerate maupun WCS-IP atas terselenggaranya kegiatan ini. Sumber : Balai TN Taka Bonerate.
Baca Artikel

5 Prinsip Kelola Kawasan Ala BBTN Gunung Gede Pangrango

Bogor, 4 Maret 2021. Pentingnya peranan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam suatu organisasi, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) rutin melaksanakan pembinaan pegawai baik di tingkat Balai, Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah, Seksi PTN Wilayah, bahkan sampai tingkat tapak (Resort PTN Wilayah). Selasa (02/02/20), BBTNGGP mengadakan pembinaan pegawai di Bidang PTN Wilayah III Bogor. Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor, Dadang Suryana menyampaikan tentang kondisi ketatausahaan termasuk di dalamnya kondisi SDM dan rencana aksi pengelolaan kawasan lingkup Bidang PTN Wilayah III Bogor. Pembinaan pegawai dipimpin Kepala Balai Besar TNGGP, Wahju Rudianto yang memberikan arahan kepada seluruh pegawai perihal 5 (lima) prinsip pengelolaan kawasan, yaitu: (1.) Mengetahui potensi wilayah kerja; (2.) Tren kondisi (data time series); (3.) program yang akan dilakukan (program berbasis scientific/ berbasis data); (4.) Mengetahui tipologi masyarakat sekitar wilayah kerja; dan (5.) Nilai kemanfaatan kawasan kepada masyarakat. Wahju Rudianto pada setiap kesempatan pertemuan selalu menyampaikan arahan dari Direktur Jenderal KSDAE tentang 10 cara kelola kawasan konservasi sebagai pengingat kepada seluruh pegawai TNGGP. Sepuluh cara baru kelola kawasan konservasi tersebut, yaitu: Masyarakat sebagai subyek; Penghormatan pada HAM; Kerjasama lintas Eselon I; Kerjasama lintas kementerian; Penghormatan nilai budaya dan adat; Kepemimpinan multilevel; Pengambilan keputusan berbasis sains; Pengelolaan berbasis resort; Penghargaan dan pendampingan dan Organisasi pembelajaran. Kepala Seksi PTN Wilayah V Bodogol, Amru Ikhwansyah dan Kepala Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bambang Mulyawan memberikan kesempatan pegawai lingkup Bidang PTN Wilayah III Bogor menyampaikan kondisi kawasan (potensi, permasalahan, peluang, dan ancaman) serta progres pengelolaan kawasan pada masing-masing wilayah kerjanya dalam bentuk diskusi interaktif. Sebagai informasi, juga dilakukan peresmian musholla yang merupakan realisasi dari pelaksanaan RPP dan RKT perjanjian kerjasama antara BBTNGGP dengan PT MNC Land Lido yang diberi nama “Wahyu Illahi”. Selain musholla pihak PT MNC Land Lido juga membuat toilet, bangku, dan meja kayu untuk menambah fasilitas di lokasi wisata Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB), serta memberikan bantuan peningkatan akses masuk menuju PPKAB berupa pengerasan jalan dengan menggunakan batu pada titik-titik rawan. Wujud realisasi RPP dan RKT Perjanjian Kerja Sama dalam bentuk barang selanjutkan akan didaftarkan sebagai Barang Milik Negara (BMN) melalui mekanisme hibah. Pembinaan pegawai dan dukungan dari mitra diharapkan dapat meningkatkan kualitas kinerja seluruh pegawai BBTNGGP dalam mencapai visi dan misi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks: Poppy Oktadiyani Dokumentasi: Yoga Adhitya Pratama
Baca Artikel

Peluncuran SIMAKOBU: Sistem Informasi Konservasi dan Budaya TN Siberut

Padang, 4 Maret 2021. Upaya meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan taman nasional telah dikembangkan pedoman pengelolaan taman nasional berbasis resort sebagai tindak lanjut dari SK. Dirjen PHKA Nomor SK.181/IV-Set/2010 tanggal 18 November 2010 yang mencantumkan Resort Based Management (RBM) sebagai strategi penguatan pengelolaan kawasan di tingkat tapak. Sebagai unit pemangkuan kawasan konservasi terkecil, resort merupakan ujung tombak pengelolaan kawasan konservasi. Petugas resort adalah petugas yang sehari-hari berinteraksi secara langsung dengan kawasan konservasi, dengan masyarakat yang tinggal di sekitarnya, dan dengan permasalahan nyata di lapangan. Tahapan pengelolaan Resort Based Management (RBM) di TN Siberut meliputi pra kondisi (antara lain penataan dan penetapan wilayah kerja resort, penetapan tugas minimal resort, peningkatan kapasitas pelaksana RBM petugas resort, seksi dan Balai), pelaksanaan RBM serta penyiapan sistem informasi manajemen. Pada Rabu, 3 Maret 2021, dilaksanakan kegiatan Peluncuran Aplikasi SIMAKOBU (Sistem Infomasi Konservasi dan Budaya) Taman Nasional Siberut. SIMAKOBU merupakan aplikasi sistem informasi yang dibangun Balai Taman Nasional (TN) Siberut untuk merekam aktivitas resort dalam rangka pengelolaan berbasis resort atau Resort Base Management (RBM). Penyusunan sistem informasi ini dilaksanakan sejak akhir tahun 2020. Dimulai dengan identifikasi kebutuhan data, penyusunan register (buku kerja) sebagai sumber data masukan, pengembangan aplikasi sistem informasi, uji coba aplikasi sistem informasi dan peluncuran secara resmi aplikasi SIMAKOBU. Simakobu sendiri adalah sebutan masyarakat Mentawai untuk jenis Kera Ekor Babi (Simias concolor) yang merupakan salah satu dari empat jenis satwa primata endemik Kepulauan Mentawai dengan tingkat keterancaman tinggi (Critically Endangered) menurut International Union Consevation of Nature (IUCN). Selanjutnya keberadaan masyarakat asli suku Mentawai di dalam kawasan TN. Siberut yang hidup berbagi ruang dan saling ketergantungan dalam kerangka adat dan agama leluhur mereka melalui berbagai ritual dan budaya merupakan hal yang tidak dapat kami pisahkan dari kegiatan pengelolaan TN. Siberut. Penamaan SIMAKOBU diharapkan menjadi pengingat agar kembali ke lapangan, kembali ke kawasan dalam rangka perlindungan dan pelestarian habitat SIMAKOBU dan satwa-satwa lainnya di TN. Siberut. Peluncuran Aplikasi SIMAKOBU dihadiri oleh seluruh Kepala Resort, Kepala Seksi, Kasubag TU, dan tim admin SIMAKOBU. Kegiatan dipimpin langsung oleh Kepala Balai TN Siberut, Lugi Hartanto. Sistem informasi ini masih terus dalam pengembangan sehingga untuk sementara terdapat empat register kawasan yaitu register batas kawasan, budaya, open area dan gangguan kawasan, serta monitoring satwa prioritas. Aplikasi SIMAKOBU lahir atas kerjasama dan bantuan serta dukungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB). Semoga SIMAKOBU TN. SIBERUT menjadi spirit untuk mewujudkan pengelolaan TN. Siberut yang lebih efektif dan mencatat atau mendata potensi kawasan sebagai sebuah budaya. Sumber: Balai Taman Nasional Siberut
Baca Artikel

Perayaan World Wildlife Day, 3 maret 2021

Pekanbaru, 4 Maret 2021 – Setiap tanggal 3 Maret diperingati sebagai World Wildlife Day atau Hari Alam Liar Sedunia. World Wildlife Day atau Hari Alam Liar Sedunia merupakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan nilai penting satwa, flora dan kehidupan liar dunia, terutama yang terancam punah dan dilindungi. Pada perayaannya di tahun 2021 ini tema yang diangkat adalah "Forests and Livelihoods: Sustaining People and Planet". Melalui tema perayaan pada tahun ini mengingatkan bahwa pentingnya peranan hutan yang sejak ribuan atau bahkan jutaan tahun lalu telah menjadi tempat berlindung bagi semua makhluk hidup termasuk tumbuhan dan satwa liar. Selain itu, hutan juga berperan penting sebagai sumber penghidupan, makanan, air, udara bersih, kesehatan, dan juga memberikan manfaat dalam pencegahan perubahan iklim. Mari bersama kita lestarikan hutan! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Sertifikat CHSE Balai TN Kelimutu

Ende, 3 Maret 2021. Balai Taman Nasional Kelimutu telah mendapatkan Sertifikat CHSE dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melalui audit pada akhir tahun 2020 lalu. Sertifikasi CHSE adalah pemberian sertifikat kepada Destinasi Pariwisata, Usaha Pariwisata atau Produk Pariwisata yang dinilai oleh auditor independen memberikan jaminan kepada wisatawan dalam pelaksanaan pada aspek: Kebersihan (Cleanliness), Kesehatan (Health), Keselamatan (Safety) dan Kelestarian Lingkungan (Evironment Sustainability). Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu & ikut dalam mendukung diperolehnya sertifikat ini, kami berharap semoga kami, mitra/intansi terkait serta Sobat Kelimutu semua dapat terus mendukung dan membantu untuk dapat konsisten melaksanakannya. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Artikel

Kunjungan Kapolres Siak Beserta Rombongan di Taman Nasional Zamrud

Pekanbaru, 3 Maret 2021 - Taman Nasional Zamrud (TMZ) merupakan salah satu kawasan di Siak Riau yang sampai sekarang masih terpelihara kelestariannya. Penamaan kawasan ini diambil dari nama lokasinya, yaitu Desa Zamrud. Keindahan pesona alam desa ini ibarat batu zamrud. Terdapat dua danau cantik yang dinamakan Danau Pulau Besar. Untuk mengetahui kelestarian Taman Nasional Zamrud ini, Kapolres Siak beserta rombongan didampingi oleh Petugas Resort Siak Pak Ahmad Umar dan bang Windu pada tanggal 28 Februari 2021. Rombongan tersebut berjumlah 19 orang. Kapolres Siak beserta rombongan melakukan penelusuran juga menikmati keindahan alam yang asri di Danau Pulau Besar serta berkunjung ke salah satu pondok nelayan Kelompok Tani Nelayan Hutan (KTNH) kemitraan konservasi Balai Besar KSDA Riau serta makan siang bersama. Keberadaan kawasan Taman Nasional ini sangat indah dan patut dipertahankan kelestariannya. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Riau dan masyarakat setempat perlu memberikan perhatian dan melakukan pengawasan agar kawasan Taman Nasional Zamrud tetap asri. Mari jaga dan lestarikan kawasan konservasi! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Penerapan Aspek CHSE di TN Kelimutu

Ende, 2 Maret 2021. Balai Taman Nasional (TN) Kelimutu telah melakukan renovasi toilet di areal wisata TN Kelimutu untuk memberikan kebersihan dan kenyamanan kepada pengunjung dalam berwisata. Upaya yang dilakukan oleh Balai TN Kelimutu ini juga merupakan upaya dalam penerapan Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan) atau yang lebih dikenal dengan CHSE. Selain bersih dan sehat, toilet juga ramah energi dan lingkungan karena banyak memanfaatkan cahaya luar dengan bagian atap yang tembus cahaya dan jendela luas yang juga memberikan pemandangan dan pertukaran udara. Kondisi ini diharapkan akan lebih nyaman dalam berwisata dan tetap menjaga kebersihan baik toilet maupun areal wisata yang ada di sekelilingnya. Isu kebersihan toilet di tempat wisata memang menjadi perhatian terutama di wilayah Destinasi Wisata Super Prioritas yang memang diupayakan menjadi destinasi berkualitas bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Dan toilet merupakan sarana pendukung wisata, namun memiliki peranan indikator yang sangat penting dalam kualitas suatu tempat wisata. Dalam beberapa kesempatan beberapa Menteri lain terkait pariwisata juga memberikan arahan untuk kebersihan toilet, seperti Menteri Parekraf yang menyatakan bahwa "Revolusi Pariwisata Bermula dari Toilet", Gubernur NTT maupun Menko Marivest juga mengarahkan bahwa toilet wisata harus berkualitas yang diupayakan bisa seperti hotel atau mall. Semoga dengan kesadaran bersama, wisata yang berkualitas di TN Kelimutu yang telah memperoleh sertifikat CHSE dari Kementerian Parekraf ini dapat terus ditingkatkan dan tetap melaksanakan aturan wisata New Normal melalui booking online sebelum berkunjung dan peneraan protokol kesehatan dalam kunjungan. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Bina Kader Konservasi Komunitas TKP

Medan, 1 Maret 2021. Setelah melaksanakan diskusi terbatas kepada 6 orang kader konservasi dari komunitas Tempat Kita Peduli (TKP) pada 5 Februari 2021 yang lalu, pada Kamis 25 Februari 2021, Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang diwakili stafnya Ida Marni dan Samuel Siahaan, SP. melaksanakan kegiatan pembinaan kader konservasi hasil dari tindaklanjut diskusi tersebut di Desa Tembung, Kabupaten Deli Serdang, yang diikuti 15 orang kader TKP (25/2/21). Pembinaan ini untuk meningkatkan kapasitas kemampuan Kader Konservasi dalam bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya (KSDAE) sebagai pelopor (motivator) dan penggerak (dinamisator) dalam kegiatan-kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di masyarakat secara optimal, serta terciptanya sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang terlindungi, lestari, dan dapat dimanfaatkan secara bijaksana. Mengacu kepada Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam tentang Pedoman Pembinaan Kader Konservasi Nomor : 11/Kpts/Dj-IV/95, maka metoda pembinaan yang dilakukan saat itu adalah secara langsung melalui aktivitas pertemuan/tatap muka, dimana kader konservasi memperoleh ilmu dan pengetahuan dari pembicara yang menguasai pengetahuan dan keahlian di masing-masing bidang. Beragam materi diberikan narasumber handal dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, masing-masing oleh Ida Marni yang menyajikan meteri tentang Dasar-dasar Konservasi dan Peran Serta Kader Konservasi. Sedangkan narasumber lainnya, Samuel Siahaan, SP. mengupas tuntas materi Bina Cinta Alam, Pengenalan Flora dan Fauna Indonesia serta Video Dokumenter Konservasi. Menariknya dalam sesi diskusi peserta dan narasumber menyoroti dan membahas topik tentang upaya penanganan konflik satwa liar dengan manusia, upaya penanganan satwa liar pasca penyerahan masyarakat sampai dilepasliarkan serta pengelolaan kawasan konservasi oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Diakhir diskusi, Samuel Siahaan, SP. menyarankan kepada para kader konservasi, bila ingin mendapatkan maupun menyampaikan informasi yang berkaitan dengan konservasi alam silahkan menghubungi Call Centre Balai Besar KSDA Sumatera Utara di Nomor HP/WA 085376699066. Dengan kegiatan pembinaan ini diharapkan akan semakin bertambah pengetahuan serta pemahaman para kader konservasi, sehingga nantinya dapat menjadi mitra strategis di lapangan. Sumber : Ida Marni dan Samuel Siahaan,SP. - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Dirjen KSDAE Diskusi Konservasi Bersama BKSDA NTB

Lombok Tengah, 21 Februari 2021 - Kunjungan Kerja Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Wiratno, M.Sc ke Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak Desa Mertak Kecamatan Pujut Lombok Tengah disambut ramah Ketua Kelompok "Tunak Besopoq" selaku pengelola "Tunak Cottage". Dirjen KSDAE datang bersama Direktur pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Dr. Nandang Prihadi, S. Hut., M.Sc., Plt. Direktur Kawasan Konservasi (KK) Ratna Hendratmoko, S.H., M.Hum., Kasubdit Pemanfaatan Wisata Alam (PWA) serta Setditjen KSDAE. Rombongan didampingi Kepala Balai TN Gunung Rinjani yang juga merangkap Plt. Kepala BKSDA NTB, Dedy Asriady, S.Si., M.P. Sebagai informasi, "Tunak Cottage" merupakan sarana dan prasanana ekowisata berbasis Masyarakat di TWA Gunung Tunak hasil kerjasama Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama dengan Pemerintah Korea melalui Korea Indonesia Forest Center. Sarana dan Prasana ini sendiri dikelola oleh Kelompok Masyarakat "Tunak Besopoq" dari Desa Mertak yang merupakan Desa Penyangga TWA Gunung Tunak. Agenda kunjungan kerja diawali dengan sesi diskusi, penyerahan piagam penghargaan dan diakhiri dengan penanaman satu pohon Nyamplung (Calophyllum inophyllum) secara simbolis oleh Dirjen KSDAE. Pada sesi diskusi santai atau ajang "curhat" dari peserta yang hadir seperti Asosiasi Sonokeling, Asosiasi pengusaha karang, Pengusaha Izin Usaha Pemanfaatan Sarana Wisata Alam (IUPSWA), Tokoh Masyarakat Desa Mertak serta staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB), Dirjen KSDAE menekankan bahwa “Pemerintah ada untuk mempermudah kebutuhan masyarakat, jadi jangan sampai ada pejabat atau staf yang mempersulit. Jika ada staf saya yang mempersulit, main-main atau meminta pungutan liar selain PNBP, langsung lapor! Catat nomor HP saya” ujar Beliau. Penyerahan Piagam Penghargaan diberikan kepada 13 penerima dari "Extended Family" BKSDA NTB berdasarkan kriteria 5K (Kepedulian, Keberpihakan, Kepeloporan, Konsistensi dan Kepemimpinan) dalam dukungan pengamanan, penggiat kegiatan wisata serta pelesatarian Kawasan Konservasi bersama masyarakat sekitar, sebagai berikut : -Moh. Syahnan (Kepala Desa Mertak) -Azhar, S.Pdi. (Kepala Desa Mekarsari) -Akhmad Gunarta (Babinkamtibmaspol Desa Mertak) -Baharuddin (Babinkamtibmaspol Desa Mertak) -H. Bangun (Tokoh Masyarakat) -Ruslan Kanadi (Polhut Penyelia BKSDA NTB) -I Wayan Minggir (Polhut Penyelia BKSDA NTB) -Muhammad (Polhut Penyelia BKSDA NTB) -Kurniasih Nur Afifah, S.Hut., M.Si. (PEH Muda BKSDA NTB) -Lalu Suprianto, S.Hut., M.Sc. (PEH Muda BKSDA NTB) -Lalu Gede Gangga Widarma (PEH Pelaksana Lanjutan BKSDA NTB) -Devi Natalia (PEH Pelaksana Lanjutan BKSDA NTB) -Sukiman Minjaini (PPNPN BKSDA NTB) Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat

Menampilkan 1.921–1.936 dari 1.989 publikasi