Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

BBKSDA Riau Dampingi PWI Ekpedisi Taman Nasional Zamrud

Pekanbaru, 28 November 2021 - Bidang KSDA Wilayah II Balai Besar KSDA Riau melakukan pendampingan kegiatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Siak di Taman Nasional (TN) Zamrud, Kabupaten Siak, Sabtu (27/11). Peserta sejumlah 70 orang ini yang terdiri dari perwakilan PWI di setiap kabupaten / kota yang terdapat di Provinsi Riau diajak berkeliling menggunakan 15 speed boat/pompong masyarakat, dengan rute kunjungan ke Pulau Besar, Pulau Beruk, Pulau Tengah, dan Pulau Bungsu. Sebelum melakukan kegiatan, para peserta telah mendapatkan pengarahan singkat terkait kawasan konservasi Taman Nasional Zamrud dan potensi yang ada di dalamnya dan berkumpul di jembatan panjang. Masing masing peserta sibuk mengambil spot - spot foto dengan masyarakat dan alam yang ada serta mengamati kondisi TN Zamrud untuk dilombakan. Begitupun para undangan juga menikmati alam TN Zamrud yang memukau dengan keindahan danaunya. Setelah puas berkeliling, para peserta mengikuti presentasi terkait pengelolaan TN Zamrud di Balairung, Rumah Dinas Bupati Siak. Semoga pengelolaan kawasan TN Zamrud dan kawasan konservasi lainnya makin mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Pendampingan kegiatan PWI ini dilakukan langsung oleh Plt. Kepala Bidang Wil. II, bapak Hartono, Plt. Kepala SKW IV, bapak Gunawan dan Kepala Resort Siak, bapak Rafles Sitinjak. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Selalu Viral, BKSDA Sumatera Barat Pasang Plang Himbauan Habitat Buaya Muara

Padang, 26 November 2021. Untuk mengantisipasi adanya konflik satwa liar buaya muara dengan manusia dan memberikan himbauan kepada masyarakat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) yang diwakili oleh Resort Konservasi Wilayah (RKW) Padang melakukan pemasangan Plang Peringatan bahwasanya di provinsi Sumatera Barat satwa jenis buaya ini sering ditemukan di beberapa wilayah bahkan menyebabkan terjadinya konflik dengan masyarakat seperti yang terjadi di Batang Kuranji Kelurahan Surau Gadang Kec. Nanggalo. Buaya muara sebelumnya sempat bermunculan hingga viral di media sosial baru-baru ini. Pemasangan plang ini disaksikan langsung oleh RT dan dibantu oleh pemuda setempat. Pemasangan plang ini bertujuan agar dapat memberikan informasi kepada masyarakat sekaligus pencegahan dini terjadinya konflik satwa liar dan manusia di sekitar aliran sungai. Sebelumnya BKSDA Sumatera Barat melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) Padang sudah melakukan himbauan kepada masyarakat melalui perangkat RT untuk mengurangi kegiatan di sungai serta tidak menggangu satwa buaya muara karena sungai tersebut adalah habitat satwa buaya muara. Selain itu petugas juga melaksanakan pemantauan lapangan secara berkala dan sosialisasi kepada masyarakat tentang status satwa dan tindakan terhadap satwa untuk meminimalisir resiko terjadinya konflik. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian yaitu areal-areal perairan tertentu yang diduga sebagai lokasi habitat maupun home range (jalur jelajah) buaya, terutama ketika musim kawin dan bertelur, harus dihindari penggunaan serta pemanfaatannya oleh masyarakat sekitar sehingga konflik satwa buaya dengan manusia dapat diantisipasi. Tingginya kuantitas serta kualitas konflik, setidaknya juga menunjukkan bahwa habitat dan kehidupan buaya mulai terusik/terganggu. Hal ini disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, khususnya yang berada di sekitar perairan baik tawar maupun payau, serta makin berkurangnya sumber pakan di alam. Buaya umumnya menghuni habitat perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun ada pula yang hidup di air payau seperti buaya muara. Buaya muara (Crocodylus porosus) merupakan jenis buaya paling agresif jika dibandingkan jenis lainnya. Jenis buaya ini juga sering terlibat konflik dengan manusia. Selain itu, predator ini juga dikenal sebagai buaya terbesar dan terpanjang yang pernah tercatat. Buaya muara dapat tumbuh hingga mencapai 12 meter dengan berat 200 kilogram. Buaya Muara tidak hanya masuk dalam daftar buaya dilindungi, buaya muara juga masuk daftar merah IUCN. Buaya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di perairan, karena sifatnya yang merupakan karnivor (pemakan daging), reptil ini menjadi predator tingkat tertinggi dalam rantai makanan ekosistem perairan. Biawak, ular, monyet, ikan dan satwa lain diperairan merupakan mangsa utama dari satwa reptil terbesar di dunia saat ini. Kepala Balai KSDA Sumbar, Ardi Andono, S.TP, M.Sc mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada masyarakat yang telah peduli dan membantu dalam upaya menjaga dan melindungi satwa liar dan habitatnya. Beliau menghimbau jika terjadi kejadian serupa segera melapor ke petugas BKSDA setempat atau ke call center BKSDA SUMBAR di nomor 081266131222. Yuk jaga satwa buaya muara dan habitatnya. Tetap waspada !! Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Artikel

KTH Binaan BBTN Gunung Gede Pangrango Belajar Promosi dan Pemasaran Online

Bogor, 25 November 2021. Sehari setelah pelatihan pengenalan jenis tumbuhan di Kebun Raya Bogor, Rabu (24/11), Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) kembali menyelenggarakan pelatihan peningkatan kapasitas pegawai dan Kelompok Tani Hutan (KTH) lingkup Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Bogor, Kamis (25/11). Pelatihan kali ini mengangkat tema promosi dan pemasaran produk KTH melalui media sosial, yang diselenggarakan di Kantor Resort PTN Wilayah Cimande dengan peserta berjumlah 20 orang. Terdapat 16 KTH binaan lingkup Bidang PTN Wilayah III Bogor yang terdiri dari 5 KTH penerima akses pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) serta 11 KTH penggerak usaha ekonomi produktif baik wisata maupun non wisata. Untuk meningkatkan usaha, masing-masing memiliki produk yang sudah mulai dipasarkan seperti tanaman hias Hoya, produk makanan dan madu serta jasa wisata di kawasan TNGGP dengan skema Perizinan Berusaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (PB-PJWA). Amru Ikhwansyah selaku Kepala Seksi PTN Wilayah V Bodogol menyampaikan bahwa ini merupakan kesempatan yang langka dan sangat baik untuk dapat mengikuti pelatihan dengan narasumber langsung bersama pelaku usahanya. Realita yang terjadi di lapangan, KTH atau kelompok masyarakat yang saat ini telah memiliki produk wisata maupun produk lainnya baik promosi maupun pemasarannya masih belum optimal. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan KTH serta pegawai selaku pendamping memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan promosi maupun pemasaran produk dengan lebih optimal. Kang Harzan Permana, merupakan founder Silk and Cloud, perusahaan furniture yang sudah sangat terkenal di Jabodetabek, kami undang untuk menjadi narasumber pertama pada pelatihan ini. Materi yang disampaikan yaitu “Berbisnis Melalui Media Sosial’. Saat ini promosi melalui medsos menjadi sangat penting. Mengapa? Karena di medsos kita dapat lebih cepat dan mudah menganalisa serta mencari calon pembeli, menarik minat konsumen, melakukan branding, melakukan promosi dan pemasaran dengan biaya yang lebih terjangkau. Pada kesempatan ini diajarkan juga cara pemasaran produk melaui instagram, yaitu dengan cara organik (gratis) dan berbayar (iklan) pada akun instagram masing-masing. Narasumber kedua adalah Sidik Bahari yang merupakan ahli IT dan medsos dari Tegalwaru Agroeduwisata dengan materi “Digital Marketing” Beberapa hal disampaikan terkait pengelolaan terintegrasi antara sosial media dan marketplace. Medsos menjadi alat untuk menambah ketertarikan dan keterikatan sedangkan marketplace menjadi sarana penjualan. Dalam kesempatan ini peserta diajarkan tentang langkah-langkah membuat akun Facebook, membuat konten dengan Photoroom, dan berjualan di Shopee. Kendala dalam pemasaran produk barang dan jasa wisata yang selama ini dirasakan oleh KTH antara lain yaitu belum optimalnya promosi serta penjualan diharapkan dapat teratasi dengan adanya pelatihan ini. Seluruh peserta pelatihan juga diharapkan dapat mentransfer ilmu dan pengetahuan ini kepada anggota kelompok lainnya. Semoga setelah kegiatan pelatihan ini KTH dan pegawai dapat lebih gencar dalam melakukan promosi produk wisata atau produk lain dari masing-masing KTH sehingga semakin banyak orang yang tahu dan tertarik untuk membeli sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan anggota KTH atau masyarakat di sekitar TNGGP. Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo. Salam Lestari. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrago Teks: Maria Kurnia Nugrahani dan Sisca Widiya A Dokumentasi: Yoga Adhitya Pratama
Baca Artikel

LIPI Kebun Raya Bogor Bedah Pengetahuan Tumbuhan Khas TN Gunung Gede Pangrango

Bogor, 25 November 2021. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) bersama dengan LIPI Kebun Raya Bogor menyelenggarakan pelatihan pengenalan jenis tumbuhan di kawasan TNGGP dalam rangka peningkatan kapasitas petugas lapangan dan masyarakat mitra taman nasional. “Salah satu kendala yang dihadapi dalam pengelolaan taman nasional yaitu belum adanya kesetaraan pengenalan dan pemahaman potensi jenis flora di kawasan taman nasional dan penyiapan masyarakat sebagai agen konservasi yang berperan dalam penyebarluasan potensi melalui eduwisata”, tutur Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah VI Tapos, Bambang Mulyawan yang mewakili Kepala Balai Besar TNGGP pada pembukaan pelatihan. Hal tersebut melatarbelakangi diselenggarakan pelatihan ini. Pihak LIPI Kebun Raya Bogor menyambut baik pelaksanaan kegiatan dengan bersedia memfasilitasi kegiatan tersebut. Kebun Raya Bogor sebagai Pusat Koleksi Tumbuhan Indonesia memiliki 5 tugas dan fungsi pokok diantaranya menyelengarakan edukasi bagi pengunjung. Tentunya hal ini sinergi dengan peran dari LIPI-Kebun Raya Bogor. Dalam pembukaan acara, Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah Badan Riset dan Inovasi (BRIN) yang diwakili oleh Koordinator Fungsi Koleksi Kebun Raya Bogor (KRB) menyampaikan apresiasinya atas kegiatan pelatihan yang melibatkan LIPI KRB dan berkenan untuk sharing ilmu dengan pihak TNGGP. Materi yang disampaikan dalam kegiatan yang meliputi dasar dan teknik identifikasi tumbuhan berdasarkan suku/familinya serta jenis tumbuhan obat di hutan pegunungan Jawa Barat. Bertindak sebagai narasumber yaitu Daden Sukarta dan Ikar Supriyatna. Kedua narasumber merupakan ahli identifikasi tumbuhan. Dari materi yang disampaikan, peserta diharapkan dapat mengenal tumbuhan di dalam kawasan hutan berdasarkan family dan manfaatnya. Sekitar 20 famili tumbuhan yang dijelaskan ciri-cirinya dari mulai bentuk daun, batang dan buahnya secara mendetail. Untuk lebih memahami, peserta diajak berkeliling kebun Raya Bogor dengan mempelajari secara langsung klasifikasi tumbuhan berdasarkan familinya. Dengan melihat langsung pohon, peserta lebih antusias dalam mengenal satu persatu jenis tumbuhan dengan kekhasan yang dimilikinya. Saat ini, Kebun Raya Bogor memiliki koleksi 7.000 jenis tumbuhan dari berbagai famili. Dengan mengenali tumbuhan di kawasan TNGGP lebih detail, maka hal ini akan menjadi pengetahuan baru yang dapat dipergunakan sebagai materi dalam eduwisata bagi pengunjung taman nasional dan mempertajam pengetahuan petugas lapangan dalam mengidentifikasi tumbuhan untuk keperluan riset/penelitian potensi di TNGGP. Hasil penelitian kehati di TNGGP yang dilakukan oleh Peneliti LIPI dijadikan sebagai referensi untuk materi yang disampaikan. Tentunya sharing pengetahuan tumbuhan berdasarkan riset bersinergi dengan pengetahuan dari masyarakat lokal. Hal yang menarik yaitu masyarakat lokal mengenal banyak jenis tumbuhan walaupun hanya mengenal nama lokalnya tanpa mengetahui nama ilmiahnya tetapi manfaat detail banyak dikuasai oleh masyarakat berdasarkan kearifan lokal setempat yang diturunkan dari nenek moyang. Jika hal ini bersinergi dan digali lebih dalam akan memperkaya khasanah pengetahuan flora Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 24 November 2021 di Graha Samida, Kebun Raya Bogor dengan peserta berjumlah 25 orang yang dihadiri oleh Pejabat Eselon IV BBTNGGP, Pejabat LIPI Kebun Raya Bogor dan dari pejabat fungsional serta perwakilan dari masyarakat di sekitar penyangga TNGGP. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks: Ratih Mayangsari, S.Hut. Dokumentasi : Maria Kunia N, S.Hut.
Baca Artikel

BKSDA Sumbar Menerima Apresiasi dari Yayasan FLIGHT

Padang, 23 November 2021. Bertepatan dengan rangkaian kegiatan puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tanggal 22 November 2021, Resort Konservasi Wilayah III Bukittinggi Balai KSDA Sumatera Barat bersama dengan Polres Bukittinggi mendapat apresiasi dari Yayasan FLIGHT - Protecting Indonesia's Bird berupa piagam penghargaan dalam rangka pengungkapan kasus perdagangan burung illegal pada wilayah hukum kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam Sumatera Barat. Diketahui sebelumnya BKSDA Sumbar yang berkerjasama dengan Polres Bukittinggi tanggal 5 Oktober 2021 berhasil mengamankan 583 ekor jenis burung dilindungi dan tidak dilindungi dan menahan pemiliknya dengan inisial F (49 tahun). Setelah dilakukan identifikasi tanggal 6 Oktober 2021, 583 ekor burung tersebut dilepasliarkan di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Marapi. Saat ini proses hukum sedang berlangsung di Satreskrim Polres Bukittinggi. Mari lindungi dan jaga kelestarian alam yang ada di sekitar kita dan jangan sampai tidak terdengar lagi kicauan burung di hutan kita. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Artikel

Mandiri Melalui Hasil Hutan Konservasi Non Kayu

Pontianak - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang meningkat sebesar 7 persen pada kuartal kedua tahun 2021 dinyatakan turut didukung oleh subsektor kehutanan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di sektor kehutanan, produksi kayu bulat, kayu olahan, dan hasil hutan bukan kayu mengalami peningkatan nilai ekonomi. Peningkatan ini juga diiringi dengan tumbuhnya nilai ekspor kehutanan. Searah dengan kondisi tersebut, saat ini trend pengelolaan sektor kehutanan memandang sumber daya hutan mempunyai potensi multi fungsi yang dapat memberikan manfaat ekonomi, lingkungan dan sosial bagi kesejahteraan umat manusia. Sumber daya hutan juga bersifat multi guna dan memuat multi kepentingan serta pemanfaatannya diarahkan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, khususnya untuk manfaat Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan jasa lingkungan (pemanfaatan aliran air, pemanfaatan air, wisata alam, perlindungan keanekaragaman hayati, penyelamatan dan perlindungan), yang memberikan sumbangan terbesar yakni 80 %. Pengelolaah HHBK dari Kawasan hutan pada dasarnya masuk dalam kategori Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). UMKM di Indonesia merupakan tulang punggung perekonomian domestik, oleh karenanya perlu didorong untuk menjadi sumber pertumbuhan baru ekonomi. Pada kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 15-18 November 2021, hal yang menjadi kunci dalam pengembangan UMKM Hasil Hutan Konservasi adalah peningkatan nilai tambah produk-produk UMKM, digitalisasi UMKM, dan sinergi. Pelaknaan kegiatan ini dilatarbelakangi dengan mengusung peningkatan penerapan konsep value-added (nilai tambah) telah menjadi salah satu strategi yang populer selama beberapa tahun. Direktorat PJLHK, menangkap bahwa yang menjadi persoalan sebenarnya adalah bahwa di pasar saat ini begitu banyak produk dan jasa yang beredar, sehingga kemampuan untuk menambah nilai produk atau layanan merupakan suatu kebutuhan mutlak. Disisi lain, masyarakat sekitar Kawasan hutan konservasi masih memiliki keterbatasan atas jejaring dan pasar yang menerima produk mereka. Mendorong adanya pemahaman atas nilai dari produk yang dimiliki dan membuka jejering distribusi baik offline maupun online, direktorat PJLHK Bersama Unit Pelaksana Teknis KSDAE lingkup Provinsi Kalimantan Barat mengundang pelaku usaha UMKM desa yang telah berhasil, dinas kesehatan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Pontianak, pelaku usaha lokal, dan kelompok UMKM Pontimarket.id sebagai narasumber dan fasilitator. “Pandemi Covid-19 menjadi titik terpukul berbagai sektor, namun Indonesia mampu bangkit dan bertahan berkat usaha masyarakat. Hasil hutan berupa obat-obatan dan madu hutan mengalami peningkatan pada masa pandemi, ini menunjukan bahwa HHBK dan jasa lingkungan kedepan akan menjadi masa depan pengelolaan hutan” kata Yohan, Senin 15 November 2021. Dengan dilaksanakannya kegiatan peningkatan nilai produk hasil hutan konservasi yang diikuti oleh 30 peserta ini, diharapkan timbal baliknya membuat masyarakat sekitar hutan konservasi mampu meningkatkan mutu produknya dan bisa bersaing hingga ke pasar luar negeri. “Kita berharap masyarakat maupun pendamping yang mengikuti acara ini dapat berbagi dan mendapat ilmu untuk meningkatkan mutu dan kualitas HHBKnya, sudah lama kita tahun Hasil Hutan bukan hanya saja Kayu namun keseluruhan ekosistem yang membentuknya dapat menghasilkan kesejahteraan bagi rakyat” Tegas Satata, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat dalam acara pembukaan kegiatan (15/11) . Pelaksaaan Kegiatan dilakukan selama 4 (empat) hari, dengan berbagai rangkaian kegiatan baik dalam ruangan maupun kunjungan ke lokasi pameran produk UMKM hasil masyarakat. Sumber : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi [teks,flyer&foto | DewiRPN | ©PJLHK | 21112021]
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Sumatera Utara Bahas PKS Pemasangan Pipa Instalasi Air di CA/TWA Dolok Tinggi Raja

Dolok Tinggi Raja, 19 Nopember 2021. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggelar rapat pembahasan rencana Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan pihak pemerintahan desa pada Rabu (17/11) di kantor Resort Cagar Alam/ Taman Wisata Alam (CA/TWA) Dolok Tinggi Raja. Para pihak bersepakat untuk melakukan perjanjian kerja sama penguatan fungsi kawasan konservasi berupa pemasangan/penanaman pipa instalasi air yang melintasi kawasan Cagar Alam (CA) dan Taman Wisata Alam (TWA) Dolok Tinggi Raja sepanjang ± 1.221 meter, dengan rincian : ± 742 meter berada di TWA. Dolok Tinggi Raja dan ± 479 meter di CA. Dolok Tinggi Raja. Perjanjian yang direncanakan akan berlangsung selama 5 (lima) tahun ini juga menyepakati dalam pelaksanaannya tetap memperhatikan dan mempertahankan kelestarian/kemanfaatan kawasan CA. Dan TWA. Dolok Tinggi Raja. Rapat pembahasan ini berdasarkan permohonan dari Pangulu Nagori Marubun Lokkung, Desa Marubun Lokkung, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun, melalui suratnya Nomor : 141/385/2005/2021 tanggal 28 Juni 2021, perihal Permohonan Pemasangan Pipa. Pemasangan pipa instalasi air merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat desa sekitar dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan air bersih untuk air minum. Tindak lanjut surat permohonan tersebut baru direalisasikan sekarang ini, mengingat sebelumnya desa ini terindikasi covid-19 sehingga tidak dapat dilaksanakan. Plt. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Ir. Irzal Azhar, S.Hut., M.Si., yang memimpin rapat bersama peserta Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Seno Pramudito, S.Hut., M.E., Plh. Kepala Bagian Tata Usaha Andoko Hidayat, S.Hut., M.P., Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L., Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Kisaran Alfianto Luat Siregar, S.Hut., M.T., M.PP., Sekretaris Desa Marubun Lokkung beserta staf, dan Kepala Resort CA./TWA. Dolok Tinggi Raja Onar Sitanggang, memutuskan akan meneruskan hasil rapat/pertemuan kepada Direktur Jenderal KSDAE untuk ditindaklanjuti. Sumber : Inggrid Tarihoran, S.Hut. - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kegiatan SeaBRNet ke-13 di Lombok

Lombok, 17 November 2021 - Di ketinggian 2.144 mdpl dari Pusuk Sembalun Peserta Fieldtrip The 13TH SeaBRnet Meeting sebanyak 39 orang menikmati keindahan panorama alam Lembah Rinjani. Fieldtrip ini merupakan salahsatu rangkaian dari pertemuan tahunan Jaringan Cagar Biosfer Asia Tenggara atau Southeast Asian Biosphere Reserves Network (SeaBRnet) ke-13 diselenggarakan dalam mode hybrid di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia pada 15 – 17 November 2021 Pertemuan bertaraf Internasional ini mengusung tema “Pelayanan Ekosistem dan Pemberdayaan Masyarakat Menuju Pengelolaan Cagar Biosfer Berkelanjutan”. Keceriaan jelas terpancar dari wajah para peserta. Dari Lembah Rinjani, selanjutnya peserta berkunjung ke rumah adat di Desa Sembalun. Disana, peserta disambut dengan kesenian "Tandang Mendet", dan ritual "Sembeq" yg dilakukan oleh tetua adat kepada beberapa perwakilan peserta sebagai tanda ucapan "Selamat Datang di Desa Sembalun", dan kunjungan ditutup dengan atraksi penyajian makanan lokal oleh "Dedare Sasak" (gadis desa) setempat. Dari Desa adat, peserta melanjutkan kunjungan ke Kantor Resort Sembalun, SPTN Wilayah II Taman Nasional Gunung Rinjani. Setiba disana, peserta disambut dengan tabuhan dari kesenian "Gamelan Rante Mas". Di moment ini Sekda Lombok Timur mengalungkan Selendang Selamat Datang kepada Hans Dencker Thulstrup (Director of UNESCO Jakarta), dilanjutkan oleh Kepala Dinas LHK diwakili Sekdis LHK kepada Prof.Dr. Ir. Y. Purwanto,DEA (Direktur Eksekutif Komite MAB Indonesia),dan Dedy Asriady, S.Si., M.P (Kepala Balai TNGR) kepada Ir. Jusman (Kepala Balai Besar TN Lore Lindu). Dalam kesempatan ini, Sekda Lotim menyampaikan bahwa Cagar Biosfer Rinjani Lombok yang ditetapkan pada tahun 2018 membuat pemerintah dan masyarakat Lombok Timur patut berbangga. Dengan status ini, Lotim telah menjadi bagian dari masyarakat dunia dalam mensukseskan tercapainya pembangunan berkelanjutan 2030. Sekda Lombok Timur juga menyampaikan begitu pentingnya keberadaan Taman Nasional Gunung Rinjani bagi masyarakat lingkar Rinjani seperti pemanfaatan mata air untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan, pengembangan dan peningkatan kapasitas masyarakat untuk mewujudkan multiplier effect di destinasi wisata melalui aktifitas pendakian, usaha jasa transportasi, cinderamata, rumah makan, penginapan, dan juga jasa pemandu wisata. Dijelaskan juga, sinergi pemerintah daerah dan masyarakat Lotim bersama para pihak merupakan bentuk Implementasi Nilai Budaya Sasak “Meriri Tuah Rinjani Bestari”. Ini berarti upaya bersama untuk melindungi Rinjani sebagai pusat budaya dan aktivitas spiritual sebagai penyangga kehidupan (penyedia air dan perlindungan alam) yang harus dijaga dan dilestarikan, sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat Lombok secara berkelanjutan. Pada akhir acara, Hans Dencker Thulstrup dan Prof.Dr. Ir. Y. Purwanto,DEA sangat mengapresiasi rangkaian sambutan yang diberikan oleh Taman Nasional Gunung Rinjani kepada peserta FIELDTRIP THE 13TH SEABRNET MEETING. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Agen Cinta Lingkungan dan Sadar Konservasi untuk Kelestarian Danau Sentarum

Selimbau,14 November 2021 - Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) menggandeng siswa-siswi SMAN Negeri 1 Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, sebagai wujud upaya memberikan pendidikan lingkungan hidup dan kehutanan sejak dini melalui kegiatan Training on Community Awareness of Forest Conservation Through A Green School Facility. Kegiatan Green School dilaksanakan pada tanggal 13-14 November 2021 di Bukit Tekenang dan Bukit Vega yang merupakan bukit yang berada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Kegiatan ini diikuti oleh 22 siswa-siswi dari kelas X hingga kelas XII dan didampingi oleh tiga orang guru. Selain itu, turut hadir juga Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional V Wilayah Selimbau untuk mengawasi pelaksanaan kegiatan sekaligus memberikan materi tentang Taman Nasional Danau Sentarum. “Green School ini sangat bermanfaat bagi siswa-siswi peserta untuk mendapatkan ilmu tentang konservasi dan diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari”, ungkap Desra Zullimansyah selaku Kepala Seksi PTN V Wilayah Selimbau saat pembukaan acara. “Taman Nasional Danau Sentarum memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, sehingga perlu diketahui oleh peserta dalam kegiatan ini”, tambahnya. Selain tingginya keanekaragaman hayati, beliau menjelaskan bahwa Danau Sentarum berperan sebagai tanggul air alami yang mengatur sistem air Sungai Kapaus dari hulu hingga ke hilir. Status konservasi yang diberikan internasional seperti Ramsar Site, Hearth of Borneo, Cagar Biosfer menjadi kebanggaan yang melekat pada Danau Sentarum sampai saat ini. Rahman R. Nababan, selaku Ketua Pelaksana kegiatan Green School juga menegaskan kepada seluruh peserta agar bisa menularkan ilmu yang didapat dari kegiatan ini kepada teman-teman yang belum bisa ikut. “Kami berharap kalian menjadi agen yang cinta lingkungan, tidak buang sampah sembarang, serta bisa menjaga keanekaragaman hayati yang ada di Danau Sentarum,” ungkapnya saat memberikan materi pendidikan lingkungan hidup. Beliau menambahkan, banyak hal-hal sederhana yang bisa dilakukan oleh peserta, seperti menanam bibit pohon, mengurangi penggunaan plastik sebagai upaya menjaga lingkungan agar tetap asri. Selain menerima materi, mereka mempraktikan materi yang sudah di dapat dengan cara mengamati dan menulis hasil kegiatan pendakian di puncak Bukit Tekenang. Mereka membentuk kelompok dan diberi nama yang menggambarkan flora fauna yang ada di Danau Sentarum. Terdapat 4 kelompok dan diberi nama : Pohon Putat, Walet Sakti, Kera Sakti, Bangau. Hasil tulisannya dipresentasikan di Kapal Bandong milik Taman Nasional Danau Sentarum sambil berkeliling menikmati keindahan danau dan menuju Bukit Vega. Hasilnya, cukup membuat panitia merinding kagum. “Kami melihat keindahan hamparan Danau Sentarum dengan hutan rawanya yang sangat indah dari puncak bukit Tekenang. Dari situlah kami sadar akan pentingnya menjaga kelestarian Danau Sentarum,” ungkap kelompok Putat dalam tulisannya. Mereka menambahkan, “Alam bukan hanya untuk tempat dikunjungi tapi rumah bagi kita. Alam tidak hanya dinikmati tapi dicintai dan dijaga.” “Kami berharap kegiatan Green School ini terus berlanjut di tahun berikutnya. Siswa-siswi kami sangat antusias mengikutinya. Saya pun selaku guru pendamping ikut sadar bahwa adanya Taman Nasional Danau Sentarum bisa menjaga keanekaragaman hayati sekaligus keindahan alam unggulan Kabupaten Kapuas Hulu. Harapannya adalah seluruh peserta bisa menjadi generasi penerus yang mampu menerapkan ilmu cinta lingkungan dan konservasi dalam kehidupan sehari-hari,” kata Fanni Aulia Rahmani, sebagai guru pendamping. Sumber: Sahal Muadz, S.Si, (Calon Penyuluh) - Balai Besar TaNa Bentarum
Baca Artikel

BBTN Gunung Gede Pangrango dan ITTO Hadiri SeaBRnet di Lombok

Lombok, 18 November 2021. The 13th Southeast Asian Biosphere Reserves Network (SeaBRnet) Meeting and International Conference: “Ecosystem Services and Community Empowerment towards Sustainable Biosphere Reserve Management” berlangsung dengan mode hibrida selama 3 (tiga) hari pada tanggal 15 – 17 November 2021 di Lombok Astoria Hotel, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sekitar 150 peserta hadir secara offline, diantaranya perwakilan Komite Nasional Man and Biosphere (MAB), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), para manajer/pengelola Cagar Biosfer di Asia Tenggara, perwakilan APBRN, Sekretariat MAB, kantor lapangan UNESCO di Asia dan Pasifik, serta para pemangku kepentingan utama MAB, termasuk perwakilan sektor swasta, International NGO dan lainnya. Pertemuan ini termasuk sesi khusus Jaringan Cagar Biosfer Asia-Pasifik (APBRN), mengumpulkan perwakilan dari pemangku kepentingan MAB di Asia Tenggara, yang di dalamnya terdapat Komite Nasional MAB dan pengelola Cagar Biosfer serta pemangku kepentingan lainnya. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) merupakan salah satunya, dimana TNGGP menjadi kawasan inti Cagar Biosfer Cibodas (CBC), yang ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1977. Wasja, SH., Plt Kepala Balai Besar TNGGP, turut hadir pada pertemuan tersebut yang dibuka oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc, turut memberikan sambutan pada sesi pembukaan tersebut. Narasumber yang hadir berasal dari beberapa negara yaitu Indonesia, Kamboja, Malaysia, Philipines, Thailand, Timor Leste, Vietnam dan Jepang. Ade Bagja Hidayat, S.Hut., M.Ling termasuk salah satu pemateri yang mewakili Indonesia, khususnya BBTNGGP dan ITTO PD 777/15 Rev. 3 (F) dengan paparan “Cagar Biosfer Cibodas (CBC) dan International Tropical Timber Organization (ITTO)”. Keikutsertaan BBTNGGP dan ITTO dalam acara ini mewakili Cagar biosfer Cibodas untuk berbagi pengalaman pengelolaan Cagar Biosfer yang didukung oleh ITTO. Selain menjadi pembicara, BBTNGGP dan ITTO juga ikut serta dalam pameran guna publikasi dan diseminasi mengenai kegiatan-kegiatan yang terdapat di Cagar Biosfer Cibodas. Pertemuan ini dianggap penting untuk meningkatkan partisipasi dan jejaring aktif dalam Komunitas MAB di Negara Anggota kawasan – termasuk Komisi Nasional UNESCO dan MAB, Kementerian terkait (termasuk KLHK), pengelola Cagar Biosfer dan pemangku kepentingan publik lainnya, serta universitas, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, dan kerja sama yang lebih kuat dengan pemangku kepentingan terkait. Selain itu membina kerja sama dalam penelitian, implementasi dan pemantauan, termasuk pertukaran Informasi antar cagar biosfer, serta mengkomunikasikan dan menyebarluaskan kegiatan terkait pengelolaan cagar biosfer. Konferensi bertaraf Internasional ini diselenggarakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Komite Nasional Program Man and Biosphere (MAB) Indonesia dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, serta difasilitasi Sekretariat SeaBRnet, kantor UNESCO Jakarta serta Japan Funds-in-Trust (JFIT). Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Agus Deni @agustdenie Dokumentasi : Aganto Seno dan Agus Deni
Baca Artikel

BBKSDA Riau Menuju Perizinan Online

Pekanbaru, 16 November 2021 - Pada hari Senin, 15 November 2021 menjadi langkah awal untuk Balai Besar KSDA Riau menuju tahapan “perizinan online”. Hal ini akan memberikan warna baru dalam fitur website www.bbksda-riau.id dalam mendukung perkembangan teknologi. Saat ini Balai Besar KSDA Riau sedang mendorong sistem yang lebih efektif dan efisien baik dari segi waktu maupun tenaga dalam menjalankan tugas dan fungsinya dengan mendorong sistem manual menjadi online, sehingga diharapkan produktivitas dan responsibilitas instansi semakin meningkat. Berkaitan dengan hal tersebut, dilakukan sosialisasi internal dalam rangka pengembangan website BBKSDA Riau dengan menambah beberapa fitur, diantaranya pengurusan izin online berupa Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI), Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Nasional (SATS-DN), dan Pengaduan Online. Sosialisasi internal diawali dengan arahan Plt Kepala Balai Besar yang dilanjutkan sosialisasi dari Seksi Perencanaan Perlindungan dan Pengawetan selalu penanggungjawab website BBKSDA Riau beserta Tim Developer Website "Jenderal Software". Dalam arahannya, Plt Kepala Balai Besar, ibu Fifin Arfiana Jogasara meminta agar semua pegawai untuk bisa memastikan perubahan paradigma dan budaya kerja dengan beradaptasi dengan teknologi dan senantiasa terus meningkatkan inovasi dalam pengelolaan kawasan konservasi. Ujicoba fitur – fitur ini akan dilaksanakan bulan Desember 2021 dan semoga di awal tahun 2022 sudah bisa beroperasi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Lima Kelompok Binaan Balai TN Gunung Merbabu Terima Bantuan Kemitraan Konservasi

Boyolali, 15 November 2021. Sejak Tahun 2019, Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu telah melaksanakan program Kemitraan Konservasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat setempat berupa pemberian akses pemanfataan rumput. Selain sebagai sumber air bagi masyarakat sekitar, TN Gunung Merbabu juga telah membantu masyarakat dalam penyediaan pakan hijauan ternak. Pada Tahun 2021 ini, Balai TN Gunung Merbabu telah menyerahkan bantuan dalam rangka pengembangan usaha kemitraan kepada 5 (lima) kelompok masyarakat yaitu Kelompok Tani Sedayu Raharjo I dari Desa Jeruk, Karang Taruna Putra Pertiwi dari Desa Jogonayan, Kelompok Tani Ngudi Makmur dari Desa Kenalan, Kelompok Tani Mapan Mandiri dari Desa Tajuk, serta Kelompok Tani Sumber Makmur dari Desa Kopeng. Bantuan diserahkan secara langsung oleh Kepala Balai TN Gunung Merbabu Ir. Junita Parjani, M.T pada masing-masing lokasi kelompok dengan disaksikan oleh kepala desa. Bantuan yang diberikan sebagai salah satu upaya Balai TN Gunung Merbabu untuk membantu perekonomian masyarakat daerah penyangga. Jenis bantuan yang diberikan diharapkan dapat membantu kelompok masyarakat untuk mengembangkan potensi usaha yang ada disamping mata pencaharian mereka sebagai petani. Sumber : Nur A. - Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Artikel

Bantuan Usaha Ekonomi Produktif Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Sekitar SM. Pulau Kaget

Tabunganen, 2 November 2021 – Balai KSDA Kalimantan Selatan kembali mengambil peran atas hadirnya pihak pemerintah khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tengah-tengah masyarakat. Kali ini Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan penyaluran bantuan usaha ekonomi produktif masyarakat kepada Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Istana Patin” Desa Tabunganen Kecil dan Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Maju Bersama” Desa Sungai Teras Luar Kecamatan Tabunganen Kabupaten Barito Kuala. Penyaluran bantuan usaha ekonomi produktif bagi kelompok pemberdayaan masyarakat ini dilaksanakan pada hari Selasa, 2 Nopember 2021 yang bertempat di Kantor Desa Tabunganen Kecil. Bantuan usaha ekonomi produktif ini adalah sebagai bentuk peran serta KLHK melalui Balai KSDA Kalimantan Selatan selaku perpanjangan tangan Pemerintah Indonesia dalam upaya pemberdayaan masyarakat yang ada di sekitar kawasan konservasi. Penyerahan bantuan usaha ekonomi produktif masyarakat ini diserahkan secara simbolis oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Banjarbaru, M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si serta Kepala Resort KSDA Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak dan SM Pulau Kaget, Ahmad Barkati. Selanjutnya bantuan usaha ekonomi produktif ini akan disalurkan langsung pada rekening masing-masing kelompok. Penerima bantuan usaha ekonomi masyarakat ini diterima oleh Haderiyani selaku Ketua Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Istana Patin” didampingi Kepala Desa Tabunganen Kecil dan Wahyudi selaku Ketua Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “ Maju Bersama” didampingi Kepala Desa Sungai Teras Luar Kecamatan Tabunganen Kabupaten Barito Kuala. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Mahrus menyampaikan pesan kepada penerima bantuan agar dalam melaksanakan kegiatan usaha ekonomi masyarakat yang diutamakan adalah keterbukaan dan kebersamaan, namun segala kendali ada pada ketua kelompok. Aspirasi anggota kelompok dan permasalahan yang terjadi dalam kelompok agar disampaikan kepada ketua kelompok dan di musyawarahkan bersama untuk mencari solusi yang terbaik. Kepala Balai juga berharap agar bantuan ini dapat bergulir dan memberikan dampak kepada anggota kelompok lainnya, sehingga kesejahteraan anggota kelompok dapat meningkat dengan adanya bantuan ini. Berdasarkan potensi alam dan aspirasi masyarat usaha.yang akan dikembangkan oleh kelompok pemberdayaan masyarakat di desa Tabunganen Kecil dan Desa Sungai Teras Luar adalah budidaya ikan Patin. Lebih lanjut Kepala Balai juga menghimbau dan mengajak seluruh anggota kelimpok masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberadaan dan kelestarian SM Pulau Kaget. Pengelolaan SM Pulau Kaget dapat dilaksanakan bersama-sama antara petugas BKSDA Kalimantan Selatan dengan masyarakat di sekitar kawasan SM Pulau Kaget. Pengelolaan ini tentunya harus sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku, sehingga semua pihak mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut. Dengan pengelolaan bersama ini juga nantinya kelestarian kawasan SM Pulau Kaget dapat terjaga dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan dapat terjamin dan meningkat. (jrz) Sumber : Cecep Budiarto, S.Hut - Penyuluh Kehutanan SKW II Banjarbaru
Baca Artikel

Verifikasi Dan Penyelesaian Konflik Tenurial Kawasan SM Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 15 November 2021 - Balai Besar KSDA Riau mengundang para pihak dalam Rapat Verifikasi dan Penyelesaian Konflik Tenurial kawasan Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil (12/11/2021). Rapat yang dihadiri oleh Pihak Kecamatan, kepala Desa, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Kelurahan (LPMK) serta yang berada di sekitar kawasan SM Giam Siak Kecil bertujuan untuk melakukan verifikasi terhadap data yang telah dihimpun oleh Tim Balai Besar KSDA Riau kepada para pihak serta menggali ide dan gagasan dalam penyelesaian konflik tenurial pada kawasan . Kepala Seksi Perencanaan Perlindungan dan Pengawetan serta Kepala Konservasi Wilayah III Balai Besar KSDA Riau bersama tim verifikasi menjelaskan bahwa mekanisme penyelesaian konflik tenurial kawasan konservasi dapat dilakukan sesuai Surat Dirjen KSDAE No SE 2/KSDAE/KK/KSA.1/03/2021 perihal Pedomanan Penanganan Konflik Tenurial Di Kawasan Konservasi salah satunya melalui tahapan melakukannya pendataan dan verifikasi serta bersama sama merumuskan usulan penyelesaian yang akan ditempuh untuk selanjutnya dilaporkan pada pimpinan di tingkat pusat. Rencana penyelesaian konflik kawasan tenurial kawasan SM Giam Siak Kecil ini tentunya memerlukan dukungan para pihak baik Pemerintah Pusat, Daerah dan Masyarakat (karena konservasi tak mungkin sendiri). Balai Besar KSDA Riau sangat membuka diri terhadap gagasan dan ide masyarakat agar dapat berkolaborasi dalam pengelolaan kawasan sm Giam Siak Kecil yang juga merupakan bagian dari zona inti cagar biosfer. . Seluruh peserta rapat menyampaikan kondisi serta usulan penyelesaian permasalahan tenurial kedepannya. Tim Inventarisasi konflik Konflik Tenurial Kawasan konservasi turut mengingatkan kepada perangkat RT dan desa agar senantiasa berhati hati dalam menerbitkan Surat Keterangan Tanah (SKT), karena berdasarkan hasil pendata lapangan diperoleh berbagai modus menghalalkan tanah dalam kawasan yang pastinya suatau saat akan menjerat pelaku ke dalam ranah hukum pidana. Hasil pembahasan dan gagasan akan dirangkum dan menjadi pertimbangan dalam penyelesaian konflik tenurial kawasan SM Giam Siak Kecil 5 (lima) tahun kedepan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Penilaiam METT pada 13 Kawasan Konservasi BBKSDA Riau

Pekanbaru, 15 November 2021 - Balai Besar KSDA Riau bersama instansi dari Pemda Kabupaten Pelelawan, Kab. Kampar, Kab. Siak, Kab Meranti, Universitas Riau, Universitas Lancang Kuning, Flora Fauna International, PT Arara Abadi, PT RAPP, PT GCN, Pemerintah Daerah yang berada di sekitar kawasan konservasi lingkup Balai Besar KSDA Riau serta beberapa masyarakat melakukan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi. Penilaian tersebut dilakukan dengan metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT) pada tanggalm 10 – 11 November 2021. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, pada tahun 2021 ini penilaian dilakukan melalui online atau zoom sehingga ada nuansa yang berbeda. Penilaian dilakukan pada 13 kawasan konservasi baik Cagar Alam, Suaka Margasatwa, serta Taman Wisata Alam. Dalam pelaksanaan penilaian masing masing peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat serta bukti bukti yang mendukung atau melemahkan pemberian skor penilaian. Penilaian ini ditujukan untuk mengukur sejauh mana pengelolaan kawasan konservasi dilakukan yang dilihat dari 5 aspek yaitu kontek, perencanaan, input, proses dan outcome. Rekomendasi rekomendasi dalam proses penilaian menjadi point penting untuk menjadi usulan tindak lanjut pada tahun depan dalam pengelolaan kawasan konfirmasi ini. Terimakasih untuk semua pihak atas partisipasi dalam penilaian ini dan menjadi bahan evaluasi bagi kami dalam menjalani amanah pengelolaan konservasi ini. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Nilai METT TNGGP Kembali Naik

Cibodas, 13 November 2021. Penilaian Efektivitas Kawasan Konservasi melalui Management Effectiveness Tracking Tool (METT) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) digelar secara virtual, Jumat (12/11). Kegiatan diawali dengan sambutan dari Plt. Kepala Balai Besar TNGGP, Wasja, S.H. serta kehadiran fasilitator dari Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi, Dian Risdianto, S.P., M.Si. dan juga mengundang sejumlah pihak terkait, meliputi Pemerintah Daerah, Lembaga Pendidikan, Pemegang IUPSWA/IUPJWA, Volunteer serta mitra lainnya dengan total undangan yang hadir sebanyak 69. Penilaian dilaksanakan dalam rangka menilai sejauh mana pengelola kawasan telah secara efektif dikelola sejalan dengan visi, misi, dan tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan pada saat kawasan ini ditunjuk. Melaksanakan penilaian terhadap efektivitas pengelolaan, merupakan amanah yang tercantum dalam Convention of Biological Diversity (CBD) on Protected Areas, 188 negara sepakat membangun sistem penilaian dan pelaporan efektivitas pengelolaan kawasan lindung. Berdasarkan SK Dirjen KSDAE Nomor: SK. 357/KSDAE-SET/2015 tanggal 31 Desember 2015 tentang Penetapan Nilai Awal Efektivitas Pengelolaan Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam, dan Taman Buru, Balai Besar TNGGP merupakan kawasan konservasi dengan nilai METT tertinggi kategori taman nasional. Hasil penilaian tahun 2021 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2017 dari 80,81% menjadi 83,84%. Nilai naik menandakan adanya peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dari tahun sebelumnya. Hasil penilaian efektivitas pengelolaan kawasan tahun 2021 sebesar 83,84% adalah sebagai berikut: A. Ancaman terhadap Kawasan Konservasi Dari 12 pertanyaan tentang ancaman terjadap kawasan konservasi, diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Tidak ada jenis ancaman tinggi. 2. Jenis ancaman sedang: kegiatan rekreasi dan wisata; ”efek tepi” lain terhadap nilai-nilai kawasan konservasi; tanaman invasif non-native/ asing (rerumputan); sampah padat; tanah longsor; serta hilangnya budidaya, pengetahuan lokal dan/atau praktik pengelolaan. 3. Jenis ancaman rendah: infrastruktur wisata dan rekreasi; budidaya non kayu tahunan atau sepanjang tahun; jalan dan rel kereta; jalur layanan dan jasa; perburuan, pembunuhan, dan pengumpulan satwa darat; pengumpulan tanaman darat atau produk tanaman (bukan kayu); pembalakan dan pemanenan kayu; pemancingan, pembunuhan dan pemanenan sumberdaya air; vandalisme, kegiatan merusak atau ancaman terhadap pegawai atau pengunjung; bendungan, modifikasi hidrologis, dan pengelolaan/pemanfaatan air; satwa invasif non-native/ asing; saluran pembuatan atau air limbah dari fasilitas kawasan konservasi; pembuangan dari pertanian dan kehutanan; gunung berapi; erosi dan pengendapan garam/ tanah; suhu ekstrim; serta badai dan banjir. 4. Beberapa ancaman lainnya tidak masuk dalam 3 (tiga) kategori diatas atau N/A. B. Indikator Pengelolaan Efektif Dari hasil penilaian, diperoleh total skor penilaian efektifitas pengelolaan kawasan TNGGP adalah 83 dari maksimum skor 99 atau 83,84 %. Nilai ini menunjukkan bahwa TNGGP relatif dikelola dengan efektif (relative well-managed). Diperoleh bahwa pengelolaan di TNGGP telah efektif dengan rincian perolehan nilai per kriteria: context 100 %; planning 90 %; input 72 %; process 81 %; output 83 %; dan outcome 100 %. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Sisca Widiya A Foto : Aganto Seno dan Yuki Januardi Perdana

Menampilkan 1.921–1.936 dari 2.305 publikasi