Kamis, 8 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Sinergi Konservasi dan Pemberdayaan di Sekitar TWA Deleng Lancuk

KT Hutan Lestari Menerima SK Nomor Registrasi dan Sertifikat Kelompok Tani Kuta Gugung, 26 Juni 2025. Komitmen untuk menjaga kelestarian alam tak bisa dilakukan sendiri. Ia perlu melibatkan masyarakat yang ada di sekitar kawasan konservasi. Inilah semangat yang diusung oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA SU), melalui Resort Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk saat melaksanakan kegiatan pendampingan kepada Kelompok Tani (KT) Hutan Lestari, Selasa, 17 Juni 2025 lalu, di Kantor Kepala Desa Kuta Gugung. Kegiatan ini dipimpin langsung Kepala Resort TWA Deleng Lancuk, Samuel Siahaan, didampingi petugas resort yakni Febernando Surbakti, Bergiat Sembiring, dan Josua Siahaan, S.Hut. Mereka menyampaikan pentingnya keterlibatan kelompok tani dalam menjaga kawasan konservasi, memahami batas kawasan TWA Deleng Lancuk, serta mengenali flora dan fauna yang dilindungi di dalamnya. KT. Hutan Lestari merupakan salah satu kelompok tani binaan BBKSDA SU yang aktif mendukung kegiatan konservasi di TWA Deleng Lancuk. Pada tahun 2024, kelompok ini telah menerima bantuan alat pertanian produktif berupa handtractor dan mesin pemotong rumput. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, sejalan dengan mata pencaharian utama warga sekitar TWA Deleng Lancuk. Untuk memperkuat legalitas, Kepala Resort TWA Deleng Lancuk juga menyerahkan Surat Keputusan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara tentang Nomor Registrasi Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) serta Sertifikat Kelompok Tani Hutan Lestari. Dokumen tersebut diterima secara langsung oleh Sekretaris KT Hutan Lestari, Riantonius Sembiring. Sumber: Samuel Siahaan, SP (PEH) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara .
Baca Artikel

Dialog Para Pihak Untuk Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Batang Toru

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara menajdi salah satu narasumber Medan, 26 Juni 2025. Pada Selasa, 24 Juni 2025, telah dilaksanakan kegiatan Dialog Para Pihak dan Sosialisasi Kelompok Kerja Perlindungan dan Pengelolaan Terpadu Ekosistem Batang Toru yang bertempat di Hotel Santika Premiere, Kota Medan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Pemerintahan Propinsi Sumatera Utara yang diselenggarakan sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati (Kehati). Kemudian Gubernur Sumatera Utara gerak cepat dengan menerbitkan Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 188.44/156/KPTS/2025 tanggal 14 Februari 2025 tentang Kelompok Kerja Perlindungan dan Pengelolaan Terpadu Ekosistem Batang Toru di Provinsi Sumatera Utara. Kelompok Kerja (Pokja) ini dibentuk sebagai wadah koordinasi dan sinergi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan kawasan ekosistem Batang Toru yang memiliki nilai strategis dari aspek ekologis, sosial, dan ekonomi. Acara Dialog dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Wakil Gubernur, H. Surya, B.Sc., dan dihadiri oleh perwakilan baik dari pemerintah pusat maupun daerah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat dan NGO, badan usaha, serta kalangan media baik cetak, elektronik maupun media on-line. Salah satu narasumber dalam dialog tersebut adalah Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP.,M.Env. Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Sumatera menjelaskan bahwa Ekosistem Batang Toru merupakan karunia yang tak ternilai. Hutan tropis ini menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa, mulai dari Harimau Sumatera, beruang, rangkong hingga Orangutan Tapanuli yang baru ditemukan tahun 2017. Hutan Batang Toru seluas 240.985 hektare yang telah ditetapkan dalam Perda Nomor 2 Tahun 2017 sebagai kawasan strategis Provinsi Sumatera Utara, sejatinya lebih dari sekedar hutan, tetapi juga sumber kehidupan masyarakat sekitar berupa air bersih, udara, pangan dan obat-obatan. Oleh karena itu, ancaman terganggunya populasi satwa liar hingga menurunnya kualitas lingkungan akan berdampak langsung bagi warga hingga ancaman terjadinya bencana alam. Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) sebagaimana diamanatkan Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 188.44/156/KPTS/2025 tanggal 14 Februari 2025, sebagai wujud nyata komitmen bersama semua pihak. Pokja ini untuk memperkuat kolaborasi pemerintah, akademisi, swasta dan mitra pembangunan, dengan tugasnya melakukan pengkajian, perencanaan sekaligus pengawasan berbagai upaya perlindungan kawasan Batang Toru secara terpadu. Melalui dialog ini, harapannya Pokja menjadi rumah bersama dalam mengawal dan menjaga kawasan Batang Toru sebagai warisan berharga bagi generasi di masa yang akan datang. Sumber : Tim Humas – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Edukasi Seru Bersama Gajah Sumatera

Simalungun, 26 Juni 2025 — Sebanyak 18 murid dari Taman Kanak-Kanak (TK) Kartika I-10 Pematangsiantar mengikuti kegiatan edukasi bertema satwa dilindungi di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Kabupaten Simalungun, Selasa (24/6). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengenalkan pentingnya pelestarian satwa sejak usia dini. Rombongan TK yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Sri Siswani, S.Pd.AUD, didampingi oleh para guru dan orang tua murid, disambut hangat oleh Kepala Resort ANECC dan Cagar Alam Batu Gajah, Boby Purba, S. Hut, bersama jajaran pegawai resort serta mahasiswa praktik kerja lapangan dari Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Kegiatan edukatif ini berlangsung interaktif dan menyenangkan, dengan menghadirkan dua ekor Gajah Sumatera yang menjadi sahabat belajar adik-adik TK, yaitu Luis Vigo (jantan) dan Ester Juwita (betina). Kedua gajah jinak ini menemani proses pengenalan tentang karakteristik dan kehidupan gajah di alam liar. Para mahout (pawang gajah) memandu kegiatan dengan menyampaikan materi seperti: · Pengenalan anatomi tubuh gajah: gigi, belalai, telinga, kuku, dan lidah. · Kebiasaan hidup gajah: hidup berkelompok, kebutuhan makanan dan air harian, serta wilayah jelajahnya. · Penanganan medis dasar untuk gajah, termasuk perawatan harian dan tindakan jika sakit atau cedera. Anak-anak tampak antusias saat menyimak penjelasan para mahout, serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar gajah dan lingkungannya. Kegiatan edukasi ini menjadi momen yang berharga bagi anak-anak, tidak hanya sebagai pengalaman unik, tetapi juga sebagai langkah awal menanamkan rasa cinta terhadap satwa dan alam sejak dini. Sumber: Resort ANECC dan CA Batu Gajah-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Berubulan, Dari Sumber Kehidupan Menuju Sumber Kesadaran

Tuban, 25 Juni 2025. Di tengah rerimbun vegetasi tropis yang mengelilingi Sumber Mata Air Berubulan, semangat untuk memulihkan hubungan manusia dengan alam kembali dinyalakan. Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2025, masyarakat Tuban bersama instansi pemerintah dan mitra lintas sektor menyatukan langkah dalam sebuah peristiwa yang tak sekadar seremoni. Ini adalah seruan untuk bertindak, untuk bertahan, dan untuk berubah. Berlokasi di Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, 25 Juni 2025, kegiatan ini diselenggarakan oleh Griya Ficus Tuban, sebuah komunitas lingkungan yang sejak lama dikenal aktif dalam pelestarian sumber daya air dan ruang hijau. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Tim Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro turut hadir, menjalin sinergi yang kuat dalam aksi nyata pelestarian lingkungan. Serangkaian agenda dijalankan dengan penuh makna, pelepasan burung ke alam bebas, simbol pelepasan ego manusia atas dominasi terhadap makhluk lain, penanaman pohon, sebagai penanda komitmen baru untuk membangun masa depan berakar pada keseimbangan, dan bersih sungai, aksi sederhana namun sarat pesan bahwa kita harus membersihkan luka yang pernah kita torehkan pada alam. Tak hanya itu, acara ditutup dengan diskusi terbuka yang menghadirkan tokoh-tokoh lintas lembaga, dari DPRD, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, Perhutani, hingga para pelaku industri energi dan pelajar pramuka. Diskusi ini menghasilkan komitmen bersama, bahwa kegiatan semacam ini bukan hanya akan dilanjutkan, tetapi diperluas dan diperkuat sebagai gerakan kolektif. Dalam percakapan ringan namun mendalam, terlihat jelas bahwa peringatan ini bukan hanya ritual tahunan. Di mata para peserta, ia telah berubah menjadi gerakan sosial ekologis bahwa upaya membentuk budaya hidup selaras dengan alam di tengah gempuran zaman. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, partisipasi aktif dalam kegiatan ini menjadi bagian dari strategi konservasi berbasis masyarakat, di mana pelestarian tak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam atau burung yang dilepas, melainkan dari kesadaran kolektif yang tumbuh di hati manusia. Berubulan hari itu bukan sekadar sumber air. Ia menjadi sumber harapan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Serunya Belajar Konservasi Di Aek Nauli Elephant Conservation Camp

Simalungun, 24 Juni 2025. Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) menerima kunjungan dari 2 (dua) sekolah yang ada di Kabupaten Simalungun pada tanggal 19 s.d 20 Juni 2025. Hari pertama (19/6), kunjungan dari murid-murid TK PAUD Sukacita Desa Sipahutar Kecamatan Sipoholon, dan hari kedua (20/6) kunjungan dari SD Negeri No. 091464 Parapat yang didampingi oleh tim dari PT. Aquafarm Nusantara. Pada kegiatan kunjungan sekolah tersebut, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar memberikan edukasi kepada para siswa. Penyuluh Kehutanan, Lisbeth Y.S Manurung menyampaikan materi tentang pengenalan Gajah Sumatera dan kegiatan konservasi Gajah Sumatera yang dilakukan di ANECC. Pada hari pertama, murid-murid TK PAUD Sukacita belajar konservasi ditemani 2 (dua) ekor gajah yaitu Luis Vigo dan Ester Juwita serta para mahout, sedangkan pada hari kedua, murid-murid SD Negeri No. 091464 belajar konservasi ditemani 4 (empat) ekor gajah yaitu Luis Vigo, Ester Juwita, Pini Alvionita dan Siti serta para mahout. Kegiatan school visit ke ANECC menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi murid-murid TK PAUD Sukacita dan SD Negeri No. 091464, karena dapat belajar konservasi di alam terbuka dan dapat berinteraksi langsung dengan gajah. Sumber: Bidang KSDA Wilayah II-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Membumikan Aren Martelu Purba, Mensejahterakan Umat

Pasangan pengantin Dearni Ria Tondang dan Rizal Pernando Sinaga bahagia menerima bibit pohon aren Tigarunggu, 23 Juni 2025. Sabtu, 21 Juni 2025 menjadi hari yang spesial bagi pasangan pengantin Dearni Ria Tondang, S.Gz dan Rizal Pernando Sinaga, S.Si. yang menerima pemberkatan pernikahan di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Tigarunggu, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Pasalnya kedua pengantin bukan hanya berbahagia karena resmi menjadi pasangan suami istri, tetapi juga di acara sakral dan kudus ini kedua pengantin menerima hadiah spesial dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara berupa bibit pohon Aren. Bibit pohon Aren tentunya menjadi saksi cinta sejati dua anak manusia yang berikrar untuk membentuk mahligai rumah tangga. Senyum bahagia terpancar dari wajah Dearni Ria Tondang, S.Gz. warga Dusun Tanjung Beringin, Desa Bertungen Julu, Kecamatan Tiga Lingga, Kabupaten Dairi, dan Rizal Pernando Sinaga, S.Si, warga RT 2 Kelurahan Tigarunggu, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, saat menerima kado spesial ini yang diserahkan langsung Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Andar Abdi Saragih, S.Pd., M.Si., dan Kepala Resor Cagar Alam (CA) Martelu Purba Alharis Ruhidi, S.P., M.Si., disaksikan Pengurus serta Jemaat GKPS Tigarunggu, serta keluarga kedua belah pihak. Terlihat juga hadir Bupati Simalungun periode 2021-2025, Bapak Radiapoh Hasiholan Sinaga. Pesan-pesan konservasi pun disampaikan Kepala Bagian Tata Usaha dan Kepala Resort CA. Martelu Purba yang menekankan pada pentingnya masyarakat berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian Kawasan Hutan CA. Martelu Purba beserta seluruh keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, mengingat kawasan hutan ini sangat vital fungsinya bagi kita saat sekarang ini maupun anak cucu kita di masa yang akan datang. Kita saat ini tinggal menjaga kelestarian hasil kerja nyata penanaman meranti oleh senior-senior rimbawan, Bapak K.S Depari dan kawan-kawan sekitar tahun 1948 hingga 1950. Sejak semula kawasan hutan ini sudah dikukuhkan oleh Pemerintahan Gubernur Pesisir Timur Pulau Pretja dengan Proses Verbal tanggal 20 September 1938 (Nomor Registerasi 9-10/SM). Pasangan pengantin Eko Rahmadi dan Triani menerima bibit pohon Aren, 9 Mei 2025 Sebelumnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga sudah menyampaikan edukasi tentang penanaman aren dalam acara bimbingan nikah dan menyerahkan bibit pohon Aren kepada pasangan pengantin Eko Rahmadi dan Triani yang menjalani akad nikah, Jumat (9/5/2025), serta pasangan Muhammad Fadli dan Hanima Wulandari yang menjalani akad nikah pada Jumat (16/5/2025) di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Aren (Arenga pinnata) yang dikenal juga dengan nama lain Enau (nama lokalnya bagot),merupakan pohon kehidupan yang memiliki aneka ragam manfaat, seperti: nectar bunganya, air niranya, buah kolang kalingnya, serat ijuknya, akarnya, dan tulang daunnya, sehingga dikenal sebagai MPTS (Multi Purpose Tree Species). Buahnya (kolang kaling) selain dikonsumsi manusia, setelah mulai menguning/masak juga sebagai pakan bagi satwa seperti monyet dan luwak. Salah satu potensi keanekaragaman hayati (biodiversity) di CA. Martelu Purba selain Meranti Batu (Shorea platyclados) dan Meranti Bunga (Shorea Leprosula) yang dominan tumbuh, adalah tumbuhan Aren yang bisa dijumpai pada seluruh bagian kawasan dan bahkan sudah memenuhi syarat sebagai sumber benih/bibit. Diperkirakan Aren ini mulai tumbuh sekitar 10 s.d 15 tahun setelah penanaman meranti. Pasangan Muhammad Fadli dan Hanima Wulandari menerima bibit pohon aren, 16 Mei 2025 Presiden RI Prabowo Subianto, dalam rangka swasembada pangan dan energi telah menargetkan 2 juta lahan hutan Aren untuk bahan baku energi alternatif non fosil berupa bioethanol, dengan demikian bisa menutupi ketergantungan impor energi berbahan baku fosil. Tahun 2025, Presiden melalui Kementerian Kehutanan mencanangkan gerakan penanaman Aren seluas 300.000 hektar lahan. Saat ini Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort CA. Martelu Purba menginisiasi pengembangan demplot mini pembibitan Aren endemik CA. Martelu Purba. Untuk mendukung program ini, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggandeng seorang peneliti dari akademisi Universitas Medan Area (UMA), Profesor Suswati, mencoba menerapkan perlakuan untuk percepatan perkecambahan benih Aren sebanyak 400 biji (untuk tahap uji coba) untuk keperluan bibit aren tahun berjalan 2025 ini dengan berkolaborasi bersama UPT Balai Pengelolaan DAS Asahan Barumun. Kedepan program pemberian bibit pohon Aren kepada pengantin akan terus digalakkan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat melalui rumah-rumah ibadah, seperti gereja, masjid dan lain-lain. Pemberian pohon sebagai bagian dari rangkaian pernikahan memiliki makna simbolis dan bermanfaat. Pohon mencerminkan berbagai karakter diantaranya: mengakar kuat (bila cinta menjadi akarnya, maka fondasi pernikahan akan kuat dan diberkati), mandiri, tangguh dan umur panjang. Selain itu juga menjadi simbol komitmen kepada lingkungan. Ekspektasinya melalui program pemberian bibit pohon Aren oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dapat meningkatkan kesadaran maupun kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan alam, serta dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya bagi pengantin yang merawat pohon aren tersebut dengan baik. Penanaman aren secara meluas oleh masyarakat (arenisasi) juga akan mendukung program FOLU Net Sink 2030. Inilah inti dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sumber: Alharis Ruhidi, SP., M.Si. (Analis Konservasi Kawasan/Kepala Resort CA. Martelu Purba) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Ketika Cinta Alam Menyatukan Generasi Muda dan Penjaga Garis Pantai

Tulungagung, 21 Juni 2025. Di dua sudut Jawa Timur, dari ruang kuliah mahasiswa pecinta alam di Tulungagung hingga garis pantai penuh jejak penyu di Trenggalek, semangat konservasi menyala dalam langkah anak-anak muda. Verifikasi lapangan oleh tim pusat Direktorat Konservasi Kawasan, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) menjadi saksi bagaimana cinta pada alam bukan sekadar slogan, tapi gerakan nyata yang berakar dari hati. Tulungagung (17/06/25), Di bawah langit kampus UIN Satu Tulungagung yang hangat dan cerah, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Mapala Himalaya menunjukkan kepada Indonesia bahwa cinta pada alam dapat ditanam, disemai, dan dirawat, secara harfiah maupun filosofis. Pohon-pohon yang ditanam bersama Rektor, Tim Penilai dari Direktorat Konservasi Kawasan, Dinas Kehutanan Jawa Timur, dan Balai Besar KSDA Jatim menjadi simbol perlawanan terhadap degradasi lingkungan sekaligus penanda pengakuan terhadap dedikasi. Rangkaian kegiatan verifikasi lapangan dibuka dengan pemutaran video kegiatan Mapala Himalaya. Bukan sekadar dokumentasi, tetapi cermin dedikasi dan kerja keras yang terstruktur. Dalam presentasi penuh semangat, para anggota Mapala menunjukkan bahwa gerakan konservasi bisa berpijak kuat di dunia akademik. Di sekretariat Mapala Himalaya, bukti-bukti kerja nyata diverifikasi dari dokumentasi kegiatan hingga diskusi langsung dengan para relawan muda. Semua mengarah pada satu kesimpulan bahwa konservasi bukan hanya teori, tetapi tindakan yang hidup dalam keseharian. Setelah sesi tanya jawab yang intens, tim diajak ke Pendopo Bupati Tulungagung. Sambutan hangat Bupati dan Ketua DPRD menunjukkan bahwa semangat ini tak berdiri sendiri, ia tumbuh dalam ekosistem dukungan yang lebih besar. Keesokan harinya (18/06/25), jejak langkah konservasi berpindah ke tepian Samudera Indonesia, di pantai Kili-kili, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Ari Gunawan, seorang kader konservasi alam sekaligus Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Taman Kili-kili, menerima tim verifikasi lapangan dengan sambutan yang tak kalah menggugah.. Di Kili-kili, langkah-langkah konservasi berjalan dalam diam yang penuh makna. Penanaman pohon cemara untuk melindungi pantai dari abrasi, serta diskusi lintas pihak dengan Muspika dan Kepala Desa, hingga simulasi kegiatan penyelamatan penyu. Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat 122 butir telur penyu dipindahkan dari zona rawan ke lokasi penetasan, yang kemudian diakhiri dengan pelepasliaran 50 tukik ke laut lepas saat senja mulai merunduk. Di titik ini, konservasi tak lagi hanya kerja teknis, ia menjadi ritual harapan, simbol keberlanjutan, dan pesan lintas generasi. Kegiatan verifikasi yang berlangsung dua hari ini bukan hanya prosedur administratif. Ia menjadi panggung kecil tempat dua sosok, sebuah kelompok mahasiswa dan seorang kader desa, menunjukkan bahwa keberlanjutan bumi bisa dan harus diperjuangkan dari mana saja. Dari ruang kelas hingga pasir pantai, dari teori ke aksi, dari kota ke desa, api konservasi menyala. Dan BBKSDA Jatim hadir di tengahnya, mengawal, mendampingi, dan memastikan bahwa warisan alam Indonesia tetap lestari di tangan generasi penerusnya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kolaborasi Strategis, Para Penjaga Gerbang Timur Jawa Cegah Penyelundupan Satwa di Pelabuhan Ketapang

Banyuwangi, 18 Juni 2025. Pelabuhan Penyeberangan Ketapang di Banyuwangi, titik perlintasan vital antara Pulau Jawa dan Bali, menjadi saksi dari satu langkah penting dalam upaya penyelamatan kekayaan hayati Indonesia. Pada Rabu, 18 Juni 2025, sinergi antar-instansi kembali ditegaskan dalam kegiatan Sosialisasi Perkarantinaan yang digelar oleh Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur (BKHIT) bersama jajaran pemangku kepentingan strategis. Dalam forum yang dihadiri oleh 13 instansi, mulai dari unsur TNI-AL, Kepolisian, KSOP, ASDP, hingga lembaga konservasi seperti Balai Besar KSDA Jawa Timur dan FLIGHT Protecting Indonesia's Birds. Mengemuka satu isu mendesak yang kian menjadi ancaman bagi keanekaragaman hayati Nusantara, penyelundupan satwa liar. Tim Resort KSDA Wilayah 13 yang mencakup wilayah Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso, di bawah koordinasi Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi, menegaskan komitmen penuh untuk mendukung penguatan sistem pengawasan di wilayah kerja karantina Ketapang. Dalam sesi diskusi, tim KSDA menyampaikan beberapa catatan penting dimana salah satu satunya adalah perlunya tindakan tegas yang memberikan efek jera terhadap pelaku penyelundupan satwa liar. Respons hangat datang dari pihak Balai Karantina Satpel Ketapang yang menyampaikan apresiasi mendalam atas sinergi yang selama ini telah terjalin dengan BBKSDA Jatim. Kerja sama dalam identifikasi dan penghitungan satwa liar yang diamankan dinilai sangat krusial dalam mencegah perdagangan ilegal yang mengancam keberlanjutan ekosistem. Sosialisasi ini bukan sekadar rutinitas koordinasi administratif. Ia adalah bagian dari ikhtiar nyata menjaga kehidupan liar dari ancaman perburuan dan perdagangan ilegal. Dalam suasana penuh sinergi itu, hadir harapan bahwa pelabuhan ini tak hanya menjadi jalur perlintasan manusia dan barang, tetapi juga benteng terakhir pertahanan bagi satwa-satwa yang tak bisa bersuara.(dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pembahasan Rencana Perjanjian Kerja Sama BBKSDA Sumatera Utara Dengan Yayasan Scorpion Indonesia

Medan 23 Juni 2025. Sebagai bagian dari proses pelayanan atas permohonan Perjanjian Kerja Sama yang disampaikan oleh Yayasan Scorpion Indonesia (YSI), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara telah melakukan fasilitasi untuk pemaparan rencana kegiatan yang akan dikerjasamakan dengan BBKSDA Sumatera Utara. Kegiatan dilaksanakan secara hybrid pada Senin, 16 Juni 2025 di Kantor BBKSDA Sumatera Utara. Pertemuan dipimpin langsung Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP.,M.Env., dan dihadiri oleh Direktur YSI (Ahmad Rizki Gea) dan pembina sekaligus pendiri YSI (Gunung Gea), jajaran Pejabat Esselon III dan VI lingkup BBKSDA Sumatera Utara beserta staf baik secara luring maupun daring. Melalui pertemuan tersebut disepakati bahwa judul perjanjian kerja sama “Penguatan Fungsi Kawasan Konservasi di Ekosistem Batang Toru dan pengawetan Jenis dan habitatnya di Provinsi Sumatera Utara”. Adapun ruang lingkup kerja sama meliputi: 1. penguatan kelembagaan; 2. dukungan pengawetan flora dan fauna; 3. perlindungan dan pengamanan keanekaragaman hayati dan kawasan konservasi. Pada pertemuan tersebut juga dibahas terkait dengan satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang sering kali meresahkan masyarakat di Sumatera Utara. Penanganan Monyet Ekor Panjang (MEP) menjadi fokus kegiatan YSI di Sumatera Utara, termasuk di dalamnya rehabilitasi MEP di Tapanuli Selatan. Pada prinsipnya YSI siap bekerjasama dengan BBKSDA Sumatera Utara untuk mengatasi permasalahan interaksi negatif antara manusia dengan MEP. Sumber: Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan)-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Peningkatan Kapasitas Pemandu Wisata Pokdarwis Binaan Balai TN Bukit Tiga Puluh

Rengat, 23 Juni 2025. Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh melaksanakan kegiatan Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Wisata. Kegiatan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari pada tanggal 17 s.d 19 Juni 2025 di Hotel Luminor Jambi dan Taman Hutan Kota Muhammad Sabki Kota Jambi, dengan rincian 2 (dua) hari pelatihan dan 1 (satu) hari sertifikasi atau penilaian kompetensi sebagai pemandu wisata. Kegiatan pelatihan dan sertifikasi ini ditujukan untuk Kelompok Sadar Wisata(Pokdarwis) binaan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tebo Tengah. Sebanyak 12 (dua belas) orang mengikuti kegiatan tersebut terdiri dari 4 (empat) orang perwakilan Pokdarwis Payung Emas Desa Pemayungan Kec. Sumay Kab. Tebo, 5 (lima) orang perwakilan Pokdarwis Serasi Desa Lubuk Mandarsah Ulu Kec. Tengah Ilir Kab. Tebo dan 3 (tiga) orang perwakilan Pokdarwis Eka Wisata Desa Lubuk Mandarsah Ulu Kec. Tengah Ilir Kab. Tebo. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala SPTN Wilayah I Tebo Tengah Bapak Hendra Koswandi, S. Hut., M. Si mewakili Kepala Balai. Beliau berpesan kepada semua peserta untuk mengikuti pelatihan dengan serius dan selanjutnya dinyatakan kompeten setelah mengikuti penilaian atau assessment serta mampu menjadi pemandu wisata yang profesional khususnya di lokasi wisata alam kawasan TNBT. Selama 2 hari peserta mengikuti pelatihan dengan pengajar dari PT. Bangun Kompeten Indonesia Ibu Donna Ekawaty, ST., M. MPar., CMT sebagai Master Trainer. Pengajar memberikan ilmu pemandu wisata kepada peserta dengan melakukan banyak simulasi berupa praktek menjadi pemandu dengan pengajar cosplay sebagai wisatawan, mendeskripsikan diri sendiri dengan menggambar di sebuah kertas, praktik komunikasi efektif, praktik mengumpulan data dan informasi melalui komputer serta membuat standar operasional prosedur yang dibutuhkan sebagai pemandu wisata. Hari ketiga merupakan hari terakhir pelatihan, dimana seluruh materi yang diberikan pengajar mengarah kepada unit kompetensi yang akan diujikan saat peserta melakukan penilaian sertifikasi pemandu wisata. Peserta melakukan penilaian atau assessment pemandu wisata dengan asesor dari Lembaga Sertifikasi Profesi Cakra Wisata Indonesia. Pasca penilaian, asesor mengumumkan bahwa kedua belas peserta dinyatakan kompeten dan berhak mendapatkan sertifikat dari Badan Nasional Sertifikat Profesi (BNSP). Kami berharap melalui pelatihan ini, pengembangan wisata alam yang dikelola oleh pokdarwis semakin optimal. Dengan SDM pemandu wisata yang mumpuni, kami juga berharap wisata alam yang dikelola pokdarwis seperti Sungai Bulan, air terjun Pademan Hilir dan Rahayu Ketalo semakin dikenal masyarakat Jambi pada khususnya dan masyarakat Sumatera pada umumnya. Sumber: Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Baca Artikel

Langkah Awal Pengabdian, Rimbawan Muda Menjawab Krisis Iklim

Surabaya, 17 Juni 2025. Di bawah langit awal musim kemarau yang menyimpan isyarat kekeringan panjang, 21 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) BBKSDA Jatim melangkah menanam harapan. Bukan sekadar menanam pohon, mereka sedang menyemaikan tekad sebagai generasi baru penjaga rimba dalam sebuah kegiatan bertajuk “Aksi Hijau untuk Bumi”, yang digelar tepat pada peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia, 17 Juni 2025. Dalam tanah yang mulai mengering, mereka menancapkan akar semangat. Di lingkungan kantor Balai Besar, Bidang Wilayah I, II, dan III, sebanyak 50 bibit ditanam, mulai dari alpukat, nangka, sirsak, puspo, ficus, murbai, gaharu, hingga mangga gadung. Setiap jenis pohon bukan dipilih sembarangan, melainkan memiliki nilai ekologis dan sosial yang penting. Puspo dan ficus yang menghijaukan ruang-ruang kosong di sudut rimba dan kota, gaharu yang bernilai tinggi, hingga murbai yang menjadi simbol ketahanan pangan. “Langkah kecil ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan panjang sebagai rimbawan sejati,” ujar Nur Patria Kurniawan, Kepala BBKSDA Jatim memberi semangat kepada para CPNS yang kelak akan menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan, satwa, dan tanah air. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata dukungan terhadap kebijakan pembangunan nasional yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan mitigasi dampak perubahan iklim. Di tengah tantangan global seperti degradasi lahan, deforestasi, dan kekeringan, penanaman pohon membawa pesan yang kuat, bahwa pemulihan ekosistem dimulai dari aksi nyata. Aksi penanaman ini, juga sebagai jembatan dalam membangun semangat konservasi yang menular dan menyentuh lintas generasi. Tak hanya menanam batang dan daun, mereka menanam harapan. Harapan akan bumi yang lebih hijau, udara yang lebih bersih, dan masa depan yang lebih lestari. Di tangan mereka, para rimbawan muda, kita titipkan kelangsungan kehidupan, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi satwa liar, bagi hutan yang bisu namun penuh makna, dan bagi bumi yang satu-satunya kita miliki. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Lokakarya Pengelolaan TN Moyo Satonda Terintegritas Berbasis Spesies

Mataram, 19 Juni 2025 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) kembali bersama Project CONSERVE melaksanakan Lokakarya Pengelolaan Taman Nasional Moyo Satonda Terintegritas Berbasis Spesies. Kegiatan dihadiri oleh BAPPENAS RI, Direktorat PKK KSDAE Kemenhut, Direktorat KKHSG KSDAE Kemenhut, TNI/POLRI, Balai PPI Wilayah Jabalnusra, Balai GAKKUM Jabalnusra, Balai Taman Nasional Rinjani, BPDAS Dodokan Moyosari, OPD lingkup Provinsi NTB, Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Dompu, WCS-IP, Perwakilan Universitas Mataram, Kelompok Masyarakat dan Media. Dalam lokakarya ini kembali ditekankan bahwa keberadaan serta kunci keberhasilan dari pengelolaan dan pelestarian Taman Nasional adalah keterlibatan seluruh pihak yang salah satunya melalui Rencana Pengelolaan terpadu antara pemerintah pusat dan daerah serta para stakeholder. Perwujudan "Satu Bahasa" dalam pengelolaan ini penting untuk mendapatkan win-win solution kepada semua pihak, terlebih masyarakat sekitar Taman Nasional. Jalan tengah dimana Taman Nasional bisa mensejahterakan masyarakat Kab. Sumbawa, Pulau Moyo khususnya tanpa harus merusak/eksplotasi alam secara berlebihan. Lokakarya juga menghasilkan dokumen Berita Acara Pembentukan "Forum Pengelolaan Taman Nasional Moyo Satonda" yang salah satu tujuannya adalah mendorong terbentuknya kelembagaan Taman Nasional untuk pengelolaan yang lebih efektif dan lebih baik lagi. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

Peta Jalan Konservasi Kakatua-Kecil Jambul-Kuning TN Moyo Satonda

Mataram, 18 Juni 2025 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) melalui Project CONSERVE menggelar Konsultasi Publik Akhir Dokumen Peta Jalan Konservasi Kakatua-Kecil Jambul-Kuning (Cacatua sulphurea occidentalis) Taman Nasional Moyo Satonda. Konsultasi publik ini dihadiri oleh para stakeholder yang berasal dari Pemerintah Pusat dan Daerah, TNI/POLRI, Akademisi dari Universitas Mataram, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga Konservasi, Yayasan Paruh Bengkok Indonesia, Sumbawa Biodiversity, WCS-ID, Tokoh masyarakat, sektor swasta dan media. Tahapan akhir ini akan melahirkan dokumen Peta Jalan (Roadmap) yang partisipatif dan berbasis data serta masukan multipihak yang akan menjadi dasar/acuan dalam upaya konservasi Kakatua-Kecil Jambul-Kuning di Taman Nasional Moyo Satonda dalam 10 tahun kedepan. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Pembekalan CPNS Kementerian Kehutanan TA 2024 Dengan Penanaman

Banjarbaru, 17 Juni 2025 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan penanaman dalam rangkaian Pembekalan CPNS Kementerian Kehutanan Tahun Anggaran 2024. Bertepatan dengan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 17 Juni, dijadikan momen penting untuk memperkuat semangat penghijauan melalui kegiatan bertema Aksi Hijau untuk Bumi. Bersama 12 orang CPNS BKSDA Kalsel, kegiatan ini berlangsung di beberapa area, sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan sejak dini di kalangan aparatur baru Kementerian Kehutanan. Sejalan dengan arahan Kementerian Kehutanan dalam meningkatkan pemahaman CPNS terhadap kebijakan pembangunan nasional serta mewujudkan visi Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2025, kegiatan ini menjadi salah satu implementasi nyata di lapangan. Tercatat, sebanyak 1.694 orang CPNS Kementerian Kehutanan hasil pengadaan tahun 2024 telah mulai melaksanakan tugas di unit masing-masing per 2 Juni 2025. Di lingkup Balai KSDA Kalimantan Selatan, dilakukan penanaman MPTS dan bibit pohon tanaman hutan antara lain belangiran dan jabon. Melalui kegiatan ini, diharapkan CPNS Kementerian Kehutanan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian lingkungan sejak awal pengabdian mereka. Aksi penghijauan ini menjadi langkah nyata dalam mendukung komitmen Kementerian Kehutanan untuk menjaga keseimbangan fungsi hutan sebagai cadangan pangan, energi, dan air serta memperkuat ketahanan ekologi wilayah. Komitmen Kementerian Kehutanan dalam menciptakan Pembangunan Berkelanjutan dengan menyeimbangkan fungsi hutan sebagai cadangan pangan, energi, dan air. Diharapkan CPNS Kementerian Kehutanan tidak hanya memahami nilai-nilai konservasi dan keberlanjutan secara konseptual, tetapi juga secara langsung berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dengan adanya penanaman pohon diharapkan mampu menciptakan ruang hijau yang bermanfaat bagi ekosistem lokal, serta menjadi bagian dari kontribusi nyata Kementerian Kehutanan dalam upaya penanggulangan degradasi lahan dan kekeringan. (Ryn) Sumber: Indri Yani - Prakom BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Menapak Jejak Aren Nusantara, Menyemai Harapan dari Nira

Lebak, 11–13 Juni 2025. Di tengah kabut pegunungan dan harum tanah basah Desa Hariang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten, sekelompok jiwa yang mencintai hutan berkumpul dalam sebuah misi mulia: menyelamatkan warisan lokal, memperkuat petani, dan menenun masa depan lestari dari pohon aren. Tiga hari yang intens dan sarat makna itu melahirkan kisah yang tidak hanya tentang gula, tapi tentang martabat, nilai, dan daya tahan pengetahuan tradisional dalam arus modernisasi. Temu Teknis Penyuluh Kehutanan Komoditas Aren Tahun 2025 yang digelar di Wanawiyata Widyakarya Mitra Mandala menjadi titik temu antara ilmu, tradisi, dan strategi global. Namun, ada satu kehadiran yang mencuri perhatian, Uswandi Putra, Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) dari Pulau Bawean, Jawa Timur. Ia datang mewakili semangat kelompok Mustika Aren dari Desa Balikterus, sebuah Kelompok Tani Hutan binaan BBKSDA Jatim yang menapak dengan langkah kecil namun penuh keyakinan. Dari Akar Ilmu Menuju Puncak Pemahaman Suasana sunyi pegunungan pecah oleh semangat para penyuluh dan petani dari berbagai daerah. Acara dibuka dengan sambutan dari Direktur PT. Gunung Hijau Masarang sekaligus Ketua Wanawiyata Widyakarya Mitra Mandala, yang menekankan pentingnya regenerasi pengetahuan dan penguatan kelompok petani aren sebagai garda depan konservasi. Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan turut memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan dengan doa bersama. Suasana berubah khidmat. Di ruang pelatihan yang sederhana, para peserta mulai disuguhi rangkaian materi awal: proses produksi gula aren dari hulu ke hilir, strategi penguatan kelembagaan kelompok, hingga evaluasi awal untuk mengukur kesiapan tiap individu. Sebagai Putra Bawean asli, Uswandi Putra datang bukan hanya sekedar menyadap, namun juga memanen pengetahuan yang mengakar dan tumbuh seperti pohon aren itu sendiri. Nira, Waktu, dan Kebersihan sebagai Kunci Keberlanjutan Mentari terbit di balik pegunungan Hariang, memantulkan kilau emas di atas tetesan nira yang baru keluar dari luka kecil di batang pohon aren. Hari kedua dipenuhi praktik lapangan yang menguji presisi, kesabaran, dan dedikasi. Para peserta belajar menyadap dengan memperhatikan waktu ideal, pagi buta, saat embun belum habis dan semut belum menjarah manisnya nira. Ditekankan bahwa kebersihan adalah harga mati. Dari mulai pemotongan bunga jantan, penampungan dalam wadah bambu yang steril, hingga penggunaan bahan alami seperti sari batang pohon kawao dan kulit buah manggis sebagai pengawet, semuanya diajarkan dengan detail. Teknik oven pengering modern diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi dan daya simpan produk gula aren. Diskusi kelompok dilakukan untuk memperdalam pemahaman tentang diversifikasi produk, mulai dari gula semut, cairan nira fermentasi, hingga sirup sehat berstandar ekspor. Gula aren bukan sekadar manis di lidah. Ia adalah lambang kesabaran, kebersamaan, dan kearifan lokal yang harus dilestarikan. Dari Lereng ke Pasar Global Hari terakhir menjadi momen pencerahan. Jika dua hari sebelumnya berbicara tentang hulu dan tengah proses produksi, maka hari ketiga adalah tentang hilir, pemasaran, sertifikasi, dan nilai tambah. Materi disampaikan dengan fokus pada strategi pengemasan produk untuk pasar ritel dan ekspor, pengetahuan tentang sertifikat organik dan standar keamanan pangan, serta cara memperkenalkan produk kepada konsumen melalui pendekatan online dan offline. Diskusi kelompok menelurkan wawasan mendalam tentang branding lokal, pemasaran berbasis komunitas, hingga kalkulasi harga jual dengan margin wajar dan kompetitif. Tidak hanya tentang angka, tapi tentang menjual cerita, budaya, dan komitmen terhadap kelestarian. Sukses ekspor bukan soal modal besar. Tapi soal memahami pasar, menjaga mutu, dan membangun kepercayaan. Petani aren dari pelosok bisa jadi eksportir jika tahu caranya. Demikian kesimpulan yang dipegang teguh para peserta di penghujung kegiatan. Pulau Kecil, Mimpi Besar Bagi Uswandi Putra, pulang ke Bawean bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sebuah revolusi kecil. Ia membawa pulang bukan hanya ilmu, tetapi api perubahan. Bersama kelompok Mustika Aren, ia bertekad untuk menerapkan setiap praktik baik yang dipelajarinya, dari cara memilih benih, merawat tanaman, menyadap dengan etika, hingga mengemas dan menjual dengan martabat. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui partisipasi PKSM dalam kegiatan ini menegaskan bahwa konservasi bukan hanya urusan kawasan dan satwa, tetapi juga tentang manusia, penghidupan mereka, dan warisan budaya lokal yang lestari. Partisipasi aktif Uswandi Putra dalam kegiatan ini merupakan bagian dari upaya konkret pemberdayaan masyarakat penyangga kawasan konservasi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, sebagai bentuk sinergi antara konservasi dan peningkatan kesejahteraan yang selaras dengan prinsip ekologi, ekonomi, dan sosial. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ketika Anak-Anak SD Menjawab Krisis Alam dengan Menanam Ficus di Penyangga Cagar Alam

Kediri, 12 Juni 2025. Di tengah semilir angin dari bibir Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan, puluhan siswa kelas VI dari SD Negeri Manggis 2, Kecamatan Puncu, berdiri berjajar dalam barisan rapi. Bukan untuk menerima ijazah. Bukan pula untuk sesi foto perpisahan. Mereka berkumpul untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih dalam maknanya, menanam pohon sebagai bentuk cinta pada bumi, dan sebagai simbol kelulusan yang mengakar kuat dalam nilai-nilai konservasi, 12 Juni 2025. Dalam kegiatan bertajuk “Tanam Harapan, Peluk Bumi”, sebanyak 50 bibit pohon dari 7 jenis Ficus lokal ditanam di zona penyangga kawasan konservasi yang dikenal kaya akan keanekaragaman hayatinya. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara pihak sekolah, BBKSDA Jatim melalui Seksi KSDA Wilayah I Kediri, serta Pusat Ficus Nasional. Jenis-jenis pohon yang ditanam antara lain Ficus racemosa dikenal sebagai pohon ara yang menjadi favorit banyak jenis burung pemakan buah. Ficus virens berperan penting dalam menstabilkan tanah lereng dan mencegah erosi, Ficus altissima pohon kanopi tinggi yang memberi naungan dan rumah bagi banyak jenis serangga serta burung. Juga Ficus albipilla, Ficus superba, Ficus religiosa, dan Ficus microcarpa semuanya memiliki nilai ekologis yang tinggi sebagai penopang mikrohabitat dan pelindung hutan tropis. Acara ini tak hanya dihadiri oleh guru dan siswa. Tampak Komite Sekolah, para wali murid, perwakilan dari Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek, Direktur Pusat Ficus Nasional, relawan dari Masyarakat Ficus, serta petugas dari Seks KSDA Wilayah I Kediri hadir dan berbaur dalam kegiatan ini. Semua terlibat dalam suasana yang sakral dan menyentuh, memperlihatkan bagaimana pendidikan, masyarakat, dan konservasi bisa berpadu dalam harmoni. Perlu diketahui bahwa bahwa Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 150 jenis pohon Ficus, sebagian besar belum dikenal publik luas. Padahal, Ficus memainkan peran kunci dalam menjaga ekosistem, menjadi makanan bagi berbagai jenis satwa liar. Ficus juga berfungsi sebagai pengikat tanah yang sangat dibutuhkan untuk mencegah bencana ekologi seperti longsor dan kekeringan. Sehingga pada kesempatan ini menjadi bagian dari edukasi pentingnya kita menjaga semangat hijau untuk masa depan yang lebih lestari. Yang menjadikan kegiatan ini begitu menyentuh bukan hanya soal menanam pohon, tapi cara anak-anak ini menghayati maknanya. Di tengah suasana haru, terlihat jelas bahwa pendidikan lingkungan hidup bukan lagi teori kosong di dalam kelas, tetapi telah menjelma menjadi praktik hidup yang akan mereka bawa ke mana pun mereka pergi. Kegiatan ini menjadi preseden penting dalam upaya mengintegrasikan nilai-nilai konservasi ke dalam sistem pendidikan dasar. Ini membuktikan bahwa konservasi tidak harus dimulai dari hutan belantara, ia bisa dimulai dari ruang kelas, dari taman sekolah, bahkan dari momen perpisahan. Inisiatif seperti ini sejalan dengan visi Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam memperkuat sinergi multipihak, mendorong konservasi partisipatif, serta membangun generasi yang tidak hanya peduli, tetapi juga bertindak untuk melindungi alam. Ketika langkah kaki anak-anak SD Manggis 2 menjauh dari lokasi penanaman, mereka mungkin tak menyadari bahwa mereka baru saja menuliskan bab baru dalam sejarah konservasi lokal. Di akar yang mulai tumbuh itu, tertanam juga kesadaran dan cinta yang tak akan mudah layu. Dan kelak, ketika pohon-pohon itu menjulang, barangkali mereka akan kembali sebagai orang dewasa dan melihat bahwa di bawah pohon yang mereka tanam sendiri, dunia menjadi sedikit lebih hijau. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 177–192 dari 1.990 publikasi