Selasa, 25 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Bupati Selayar dan Dirjen KSDAE Teken Kerja Sama Kelola Taka Bonerate

Jakarta, 17 Juni 2026 – Sebuah langkah strategis untuk pengelolaan kawasan konservasi resmi terjalin hari ini. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menandatangani Kesepakatan Bersama. Acara berlangsung di ruang rapat kantor Ditjen KSDAE, Rabu sore. Bupati Kepulauan Selayar, H. Muh. Natsir Ali, mengawali sambutan dengan penuh optimisme. Menurutnya, daerahnya dianugerahi kekayaan laut dan perikanan yang luar biasa. Taman Nasional Taka Bonerate menjadi inti dari anugerah itu. "Kawasan ini bukan hanya aset ekologis, tapi juga motor ekonomi," tegas Bupati. Ia menyebut sektor perikanan dan ekowisata punya potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah menyambut hangat sinergi yang terjalin. Sesi dilanjutkan dengan arahan dari Dirjen KSDAE, Prof. Satyawan Pudyatmoko. Ia menegaskan bahwa pengelolaan konservasi tak bisa berjalan sendiri. "Sinergitas dengan pemerintah daerah adalah kunci," ujarnya. Kesepakatan ini diharapkan mampu mendongkrak fungsi pengelolaan Taka Bonerate. Dirjen memberi target ambisius. Kawasan ini harus unggul, baik dalam pengelolaan wisata maupun sumber daya perikanan di zona tradisional. Untuk urusan promosi, ia meminta jangkauan lebih luas hingga mancanegara. Caranya, dengan memperbarui website dan media sosial dalam versi bahasa Inggris. Langkah ini juga untuk memecah konsentrasi pengunjung yang selama ini terpusat di taman nasional lain. Taka Bonerate disiapkan sebagai destinasi alternatif kelas dunia. Di sisi lain, Prof. Satyawan mengingatkan soal ancaman kawasan. Gangguan di TN Taka Bonerate harus terus ditekan. Tujuannya jelas, menjaga ekosistem terumbu karang tetap lestari. Dengan begitu, sumber daya perikanan di dalamnya pun berkelanjutan untuk masa depan. Sumber: Anam (Teks/ Foto/PEH), Taufik (Teks/ Foto/Humas) dan Asri (PEH/ Humas) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

TN Batang Gadis Serap 13 Juta Ton Emisi Karbon per Tahun

Mandailing Natal – Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) tidak hanya menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna khas Sumatera, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap emisi karbon dari atmosfer. Berdasarkan hasil analisis data penutupan lahan kawasan TNBG, kawasan konservasi seluas 72.803,75 hektare ini mampu menyerap karbon sebesar 13.039.975,79 ton CO₂ per tahun. Besarnya kemampuan serapan karbon tersebut menunjukkan bahwa hutan TNBG berfungsi sebagai penyerap karbon alami (carbon sink) yang sangat penting dalam mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Jika dikonversikan, jumlah karbon yang diserap oleh kawasan TNBG setiap tahunnya setara dengan emisi yang dihasilkan oleh sekitar 2,8 juta mobil penumpang dalam satu tahun. Peningkatan emisi karbon merupakan salah satu penyebab utama terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Dampaknya dapat dirasakan dalam berbagai bentuk, mulai dari meningkatnya suhu bumi, perubahan pola cuaca, berkurangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya risiko terjadinya bencana hidrometeorologi. Dalam kondisi tersebut, keberadaan kawasan hutan yang tetap terjaga menjadi salah satu solusi alami yang efektif untuk membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Selain berfungsi sebagai habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna, hutan TNBG juga memiliki peran strategis sebagai penyimpan dan penyerap karbon, pengatur tata air, serta penyangga kehidupan bagi masyarakat di sekitar kawasan. Oleh karena itu, upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan menjadi sangat penting untuk memastikan fungsi ekologis tersebut tetap terjaga. Kepala Balai Taman Nasional Batang Gadis, Ir. Agusman, S.P., M.Sc., menyampaikan bahwa kemampuan serapan karbon yang dimiliki TNBG merupakan bukti nyata pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan. Menurutnya, hutan yang tetap terjaga tidak hanya memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga berkontribusi langsung dalam mengurangi dampak perubahan iklim yang saat ini menjadi tantangan global. "Taman Nasional Batang Gadis memiliki peran yang sangat penting sebagai penyerap karbon alami. Oleh karena itu, menjaga kelestarian kawasan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan dan partisipasi seluruh masyarakat. Hutan yang lestari akan terus memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan generasi mendatang," ujar Agusman. Untuk menjaga fungsi serapan karbon tersebut, Balai Taman Nasional Batang Gadis secara konsisten melaksanakan patroli pengamanan dan penjagaan hutan guna mencegah berbagai gangguan seperti perambahan, pembalakan liar, dan aktivitas lain yang berpotensi merusak kawasan. Selain itu, Balai TNBG juga terus melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan serta peran hutan dalam menyerap karbon dan mengurangi dampak perubahan iklim. ----------------------- Sumber: Humas Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Konflik Babi Kutil Bawean, BBKSDA Jatim Jaga Areal Kandang Jebak Tetap Kondusif

Bawean, 10 Juni 2026. Setelah tim penanganan konflik Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) berhasil menjebak satu koloni yang sering turun ke ladang, tim segera membentuk 2 tim untuk pelaksanaan lanjutan, Senin (8/6) dini hari. Satu Tim dengan personel 3 orang melakukan penjagaan ketat di sekitar lokasi kandang jebak guna mencegah warga yang bertangan untuk melihat hasil tangkapan. Menurut Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan, hal tersebut dilakukan agar keberadaan babi tidak terganggu dan terhindar dari stres akibat kehadiran penduduk yang ingin melihat. “Tim 1 ini juga memberikan sosialisasi dan pengarahan kepada masyarakat yang menghampiri kandang transit, mengenai kondisi satwa hingga menghimbau agar tidak melakukan hal-hal yang dapat menarik babi untuk keluar kawasan kembali,” ujarnya. Sedangkan, tim 2 bertugas memberi pakan/ minum kepada satwa tangkapan yang berada di dalam kandang. Tim ini juga bertanggung jawab untuk membuat sarang buatan yang sesuai dengan kondisi alami sebagai tempat berlindung satwa. “Tim ini juga bertugas melakukan penyemprotan air ke dalam dan sekitar kandang, hal ini dilakukan agar suhu dan kelembapan di dalam areal kandang tetap terjaga,” jelas pria berkacamata ini. Di Balai Desa Kumalasa, Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) juga menyerahkan bantuan kepada pengurus GAPOKTAN Desa Kumalasa berupa bahan baku jaring, Senin (8/6). Pada kesempatan tersebut Kepala Desa Kumalasa, Idham Cholik, mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian BBKSDA Jatim terhadap masyarakat petani Desa Kumalasa. “Kami tetap ber komitmen untuk tetap dapat berkolaborasi dengan BBKSDA Jawa Timur, dan akan selalu mengingatkan kepada warga kami untuk tidak melakukan aktifitas bakar-bakar sampah sembarangan, utamanya yang berdekatan dengan kawasan suaka margasatwa,” pungkas Cholik. Selanjutnya tim penanganan konflik segera menyelesaikan pembuatan kandang angkut satwa, dengan tetap berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk jalannya pemindahan satwa konflik. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ladang Minyak ExxonMobil Mencekam, 7 Ular Berhasil Dievakuasi

Bojonegoro, 8 Juni 2026. Seksi KSDA Wilayah ll Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menerima penyerahan satwa liar dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), 4 Juni 2026. Satwa-satwa tersebut berupa seekor Sanca Bodo dan enam ekor Kobra Jawa, semua satwa dievakuasi dari ladang minyak milik EMCL di Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Ular-ular tersebut dijumpai oleh petugas di sekitar lokasi ladang minyak milik ExxonMobil Cepu Limited beberapa hari sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, respons cepat sangat dibutuhkan untuk menjaga keselamatan pekerja, serta untuk memastikan satwa tidak menjadi korban dari ketakutan yang sering kali berujung pada tindakan fatal. Kemunculan ular di ruang-ruang publik sejatinya bukan tanpa sebab. Perubahan tutupan lahan, berkurangnya habitat alami, serta meningkatnya ketersediaan mangsa yang cukup di sekitar lokasi bisa menjadi faktor pendorong utama. Dan keberadaan mereka di lokasi tersebut, sejatinya bagian dari upaya mereka dalam bertahan hidup. Kegiatan evakuasi yang dilakukan oleh ExxonMobil Cepu Limited dan penanganan yang dilakukan BBKSDA Jawa Timur secara tidak langsung menunjukkan upaya perlindungan terhadap manusia tanpa mengorbankan keberlangsungan hidup satwa. Hal tersebut memperlihatkan bahwa mitigasi konflik menjadi salah satu kunci dalam menjaga keanekaragaman hayati di tengah deru pembangunan. Saat ini, keseluruhan satwa berada dalam perawatan sementara di kandang transit milik Kantor Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Untuk dilakukan observasi terhadap kondisi fisik dan perilaku satwa guna menentukan langkah penanganan selanjutnya, termasuk kemungkinan pelepasliaran ke habitat alaminya. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tanpa Alfa, 7 Ekor Babi Kutil Masuk Kandang Jebak

Bawean, 8 Juni 2026. Dalam beberapa waktu belakangan, intensitas perjumpaan dengan Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) meningkat, memicu keresahan warga di sekitar Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Perubahan lanskap di Kumalasa telah menciptakan ruang interaksi baru. Area penampungan sampah dan lahan terbuka menjadi titik yang secara konsisten dikunjungi Babi Kutil Bawean. Fenomena tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika ekosistem yang sedang berubah. Melalui analisis jejak dan pola aktivitas, kandang jebak ditempatkan di lokasi strategis pada tanggal 11 Mei 2026 yang lalu. Pertemuan dan diskusi secara maraton telah dilakukan Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dengan stakeholder terkait, sambil terus memantau perkembangan pergerakan satwa target disekitar kandang jebak melalui kamera jebak. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga melibatkan GAPOKTAN Desa Kumalasa beserta para petani sekitar kawasan. Pihak Desa Kumalasa sangat menyambut baik kegiatan kolaboratif ini dengan menawarkan bantuan, sebagai bentuk kontribusi dukungannya. Seperti penggunaan Balai Desa sebagai pos selama kegiatan berlangsung. Tim juga melakukan penyesuaian kondisi kandang jebak dengan menutup atau menambahkan ranting dan dedaunan di sekeliling pagar kandang. Tindakan ini diharapkan dapat menyamarkan bentuk kandang agar terlihat alami dan mengecoh satwa target untuk masuk ke dalamnya. Pada Senin (8/6) dini hari, sebanyak 7 ekor Babi Kutil berhasil dijebak dalam kandang jebak. Ketujuh ekor babi tersebut merupakan koloni selama ini sering terpantau turun ke lokasi kandang jebak. Dengan tertangkapnya koloni Babi Kutil ini, tim langsung melakukan penutupan pada sekeliling sisi kandang menggunakan terpal, yang ditujukan untuk mengurangi stress pada satwa. Tim segera membuat jadwal untuk pemberian pakan/minum dan penjagaan di areal transit satwa hasil penangkapan. Hal ini dimaksudkan untuk mitigasi potensi keramaian dari warga yang ingin satwa hasil tangkapan, sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan stress pada satwa. Sumber: Agus Irwanto - Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Nadi Satwa Liar Yang Akhirnya Terungkap Di Nusa Barung

Jember, 8 Juni 2026. Di sebuah pulau yang lama berdiri dalam sunyi, terpisah dari hiruk pikuk daratan Jawa, sebuah temuan kecil mengubah cara manusia memahami kehidupan liar. Di tengah rimbunnya hutan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, dua titik air tawar yang selama ini hanya beredar dalam cerita lisan akhirnya terkonfirmasi, Sumber Tangis dan Sendang Putri. Temuan ini bukan sekadar catatan geografis. Ia adalah jawaban atas pertanyaan mendasar dalam ekologi pulau: dari mana kehidupan bertahan ketika air menjadi sumber yang langka? Kegiatan ini merupakan bagian dari riset bertajuk “Pengembangan Teknik Identifikasi Jenis dan Kualitas Habitat Satwa Liar di Pulau Nusa Barung melalui Integrasi Metode Konvensional dengan e-DNA, Soundscape, dan Citra Satelit”. Pelaksanaannya pada 2 hingga 15 Juni 2026 dengan sumber pendanaan dari LPDP-BRIN melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM). Kegiatan ini melibatkan sedikitnya 15 orang. Tim ekspedisi lintas lembaga ini terdiri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Yayasan Generasi Biologi Indonesia, Yayasan Pakarti, Yayasan BBC dan Birdpacker, serta relawan konservasi. Menariknya, informasi awal mengenai keberadaan dua sumber air tersebut tidak berasal dari data ilmiah formal, melainkan dari pengetahuan lokal. Warga yang beraktivitas mencari ikan di perairan selatan Pulau Nusa Barung menyebutkan adanya sumber air di tengah pulau. Namun, berbeda dari asumsi umum yang mengandalkan jalur laut, mereka tidak menggunakan perahu untuk mengakses lokasi tersebut. Mereka melintasi pulau dari satu sisi ke sisi lain, tanpa peta, menembus hutan, mengikuti jalur alami yang hanya mereka pahami, sehingga cerita tentang sumber air itu lama berada di antara keyakinan dan keraguan ilmiah. Ekspedisi dimulai dari Teluk Cambah. Perahu yang membawa tim perlahan menepi di pantai berbatu, diiringi debur ombak Samudra Hindia yang tak pernah benar-benar tenang. Di titik ini, interaksi manusia dengan lanskap liar dimulai. Tenda didirikan, logistik disusun, dan menjelang senja, tim mulai membaca tanda-tanda kehidupan. Hari pertama menghadirkan gambaran awal ekosistem yang masih utuh. Aktivitas herpetofauna mulai teridentifikasi, sementara di atas kanopi, enam individu Elang Ular Bido terlihat melintas, indikasi kuat bahwa rantai makanan di kawasan ini masih berjalan secara alami. Namun tujuan utama ekspedisi berada jauh dari pesisir. Hari kedua menjadi awal perjalanan yang sesungguhnya. Tiga belas anggota tim bergerak masuk ke jantung pulau, meninggalkan garis pantai dan memasuki hutan tropis yang semakin rapat. Jalur yang dilalui bukan jalur manusia, melainkan jejak satwa yang samar. Dengan skema flying camp, tim membawa logistik terbatas untuk bertahan di tengah hutan. Targetnya jelas, membuktikan keberadaan Sumber Tangis dan Sendang Putri. Namun alam tidak memberikan jawaban dengan mudah. Hingga sore hari, tanda-tanda keberadaan air belum juga ditemukan. Medan yang berat, vegetasi yang rapat, serta keterbatasan logistik mulai menguji ketahanan tim. Malam itu, mereka beristirahat dalam ketidakpastian, di antara keyakinan ilmiah dan kemungkinan bahwa informasi yang mereka kejar hanyalah cerita tanpa bukti. Pagi hari ketiga mengubah segalanya. Di sekitar lokasi camp, tim menemukan indikasi keberadaan air. Setelah dilakukan verifikasi, titik tersebut dipastikan sebagai Sendang Putri. Sebuah kepastian yang selama ini hanya hidup dalam cerita warga. Eksplorasi lanjutan dilakukan sambil turun kembali ke Teluk Jeruk. Sumber Tangis, menjadi titik analisis. Di sinilah gambaran ekologis yang lebih besar mulai terlihat. Tanah di sekitar kedua sumber air tersebut dipenuhi jejak satwa. Tapak rusa dan babi hutan terlihat jelas, membentuk jalur-jalur yang mengarah ke sumber air. Bekas aktivitas menunjukkan bahwa satwa datang secara rutin, tidak hanya untuk minum, tetapi juga untuk memperoleh mineral alami. Fenomena ini menegaskan bahwa kedua titik tersebut merupakan pusat kehidupan bagi satwa liar di tengah pulau. Berbeda dengan satwa di wilayah pesisir yang masih memiliki alternatif sumber air, satwa di bagian interior sepenuhnya bergantung pada dua titik ini. Tanpa Sumber Tangis dan Sendang Putri, keseimbangan ekologis di tengah Pulau Nusa Barung berpotensi terganggu. Ketua Tim Peneliti, Dr. Tri Atmoko, Peneliti Ahli Utama dari Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, menegaskan pentingnya temuan ini. “Dalam sistem ekologi pulau, sumber air tawar adalah faktor pembatas yang menentukan pola kehidupan. Apa yang kami temukan di Nusa Barung menunjukkan bahwa dua titik ini adalah pusat aktivitas satwa. Ini bukan hanya sumber air, tetapi juga sumber mineral dan ruang interaksi ekologis. Ini adalah simpul penting yang harus dijaga dalam pengelolaan kawasan konservasi,” ujarnya. Selain mamalia besar, tim juga mencatat keberagaman herpetofauna, termasuk indikasi jenis gecko yang belum pernah terdokumentasi sebelumnya. Temuan ini memperkuat bahwa Nusa Barung masih menyimpan potensi biodiversitas yang belum sepenuhnya terungkap. Namun ekspedisi ini tidak lepas dari tantangan. Pada hari ketiga, gelombang tinggi menghambat pergerakan tim kembali ke Teluk Cambah. Ketiga belas anggota tim terpaksa bertahan di Teluk Jeruk dengan perbekalan terbatas. Situasi ini menegaskan bahwa eksplorasi di kawasan terpencil menuntut bukan hanya kemampuan ilmiah, tetapi juga ketahanan fisik dan mental. Baru pada pagi hari keempat, ketika kondisi laut membaik, tim dapat melanjutkan perjalanan. Dari keseluruhan ekspedisi, satu pemahaman menjadi semakin jelas: di tengah kerasnya lanskap Pulau Nusa Barung, kehidupan bertumpu pada sesuatu yang sederhana, air. Dan ketika air hanya tersedia di titik-titik tertentu, maka seluruh sistem kehidupan akan berputar di sekitarnya. Sumber Tangis dan Sendang Putri kini bukan lagi sekadar cerita. Mereka adalah bukti bahwa pengetahuan lokal dan pendekatan ilmiah dapat saling melengkapi, mengungkap realitas yang selama ini tersembunyi. Di tengah hutan yang sunyi, dua titik kecil itu terus mengalir. Menjadi nadi yang menjaga kehidupan tetap berlangsung, diam, tersembunyi, namun menentukan segalanya. Di tempat yang nyaris tak tersentuh, kehidupan tidak bergantung pada banyak hal, cukup satu: air. Dan dari sanalah, seluruh kehidupan menemukan jalannya. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Cekibar Jawa Meluncur Tanpa Suara, Isyarat Alam di Awal Ekspedisi Nusa Barung

Jember, 4 Juni 2026. Pagi itu berjalan seperti biasa. Udara masih menyimpan sisa embun, dan cahaya matahari baru saja menembus sela dedaunan di halaman depan Pondok Kerja Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Jember di Puger, 3 Juni 2026. Di bawah rindangnya pohon mangga, diskusi kecil tengah berlangsung di antara tim herpetofauna, membahas pendekatan teknis, menyamakan persepsi identifikasi, dan menautkan pengalaman lapangan dengan metode ilmiah yang akan diterapkan di Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung. Percakapan mengalir tenang, dipenuhi istilah ilmiah dan rencana kerja. Hingga pada satu momen, tanpa banyak kata, salah satu personel perlahan meninggalkan lingkar diskusi. Langkahnya pelan, nyaris tak menarik perhatian. Ia berhenti di dekat pohon mangga, menatap ke arah batang, lalu diam. Kamera di tangannya terangkat, fokus diarahkan, dan dalam satu gerakan cepat, sebuah jepretan diambil. Tanpa penjelasan, ia kembali ke lingkar diskusi. Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya ia membuka hasil tangkapan gambarnya dan menunjukkan kepada rekan-rekannya. “Ini… Cekibar Jawa.” Keraguan sempat muncul. Beberapa anggota tim belum sepenuhnya yakin. Dalam diskusi ilmiah, identifikasi tidak pernah berdiri di atas asumsi. Mereka mendekat, memperhatikan lebih seksama, menganalisis bentuk tubuh, pola, hingga struktur membran yang tampak pada foto. Dan di situlah keyakinan mulai terbentuk. Seekor cekibar jawa, Draco volans, reptil arboreal yang dikenal dengan kemampuan meluncurnya, baru saja hinggap di batang pohon mangga, hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiskusi. Diskusi terhenti, bukan karena gangguan, tetapi karena realitas lapangan yang tiba-tiba hadir di depan mata. Di Antara Metode dan Realitas Lapangan Kehadiran Cekibar Jawa pagi itu menjadi pembuka tak terencana bagi kegiatan yang justru dirancang untuk memahami kehidupan seperti dirinya. Tim ekspedisi yang terdiri dari unsur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Besar KSDA Jawa Timur, Yayasan Generasi Biologi Indonesia, Yayasan Pakarti, dan Birdpacker tengah bersiap melaksanakan pengembangan teknik identifikasi jenis dan kualitas habitat satwa liar. Pendekatan yang dibangun bersifat integratif, menggabungkan pengamatan konvensional dengan teknologi mutakhir seperti analisis DNA lingkungan (environmental DNA/e-DNA), perekaman lanskap suara (soundscape), serta pemanfaatan citra satelit. Tujuannya bukan sekadar mencatat keberadaan satwa, tetapi memahami keterkaitannya dengan kualitas habitat secara menyeluruh. Namun pagi itu menghadirkan ironi kecil yang bermakna, di tengah upaya mendeteksi yang tak terlihat, satu individu justru hadir secara nyata, tanpa sensor, tanpa algoritma, tanpa perantara. Cekibar Jawa dan Lanskap yang Masih Bernapas Sebagai satwa arboreal, Cekibar Jawa sangat bergantung pada konektivitas vegetasi. Ia membutuhkan struktur tajuk pohon yang memungkinkan pergerakan antar batang tanpa harus turun ke tanah. Kemampuan meluncurnya bukan sekadar adaptasi unik, tetapi strategi bertahan hidup di lingkungan yang kompleks. Kemunculannya di pohon mangga, di ruang yang tidak sepenuhnya liar, menggambarkan bahwa lanskap tersebut masih menyimpan elemen ekologis yang mendukung kehidupan satwa. Fragmen habitat seperti ini seringkali luput dari perhatian. Ia bukan kawasan inti, bukan pula wilayah yang sepenuhnya alami. Namun dalam banyak kasus, justru menjadi penghubung penting dalam mosaik ekosistem. Dan dari satu individu kecil itulah, gambaran yang lebih besar mulai terbaca. Isyarat yang Tak Selalu Tertangkap Data Teknologi memberikan kemampuan baru dalam membaca alam. e-DNA memungkinkan deteksi spesies tanpa harus melihatnya secara langsung. Soundscape merekam kehadiran melalui suara. Citra satelit memetakan perubahan lanskap dalam skala luas. Namun semua itu bekerja dalam kerangka interpretasi. Apa yang terjadi pagi itu berbeda. Alam memperlihatkan dirinya secara langsung, tanpa perlu diterjemahkan. Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap data yang dikumpulkan, terdapat kehidupan yang nyata, bergerak, dan kadang hadir tanpa pola yang bisa diprediksi. Awal dari Perjalanan yang Lebih Panjang Diskusi kembali berlanjut setelah momen itu. Rencana tetap disusun, strategi tetap dimatangkan, dan ekspedisi ke Pulau Nusa Barung tetap menjadi tujuan utama. Namun ada pemahaman baru yang menyertai langkah mereka. Bahwa sebelum memasuki kawasan konservasi, mereka telah lebih dulu menemukan representasi kecil dari apa yang akan mereka pelajari. Seekor Cekibar Jawa, yang meluncur tanpa suara, hadir sejenak, cukup untuk meninggalkan kesan yang lebih dalam dari sekadar pengamatan biasa. Dalam konservasi, data adalah fondasi. Namun pengalaman lapangan adalah dimensi yang memberi makna. Dan terkadang, di sela diskusi kecil di bawah pohon yang tampak biasa, alam memilih cara paling sederhana untuk menyampaikan pesannya. Pagi itu, cekibar jawa tidak hanya meluncur. Ia memberi isyarat. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kenapa Anggrek di Hutan Jarang Terlihat? Ini Penjelasan Sederhananya!

Sidoarjo, 3 Juni 2026. Kalau Anda pernah masuk hutan, mungkin pernah bertanya: “Katanya anggrek banyak di hutan, tapi kok jarang kelihatan?” Pertanyaan itu wajar. Bahkan banyak orang mengira anggrek hutan itu langka. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Anggrek sebenarnya bisa saja ada di sekitar kita, hanya saja tidak selalu mudah terlihat. Ada beberapa alasan sederhana yang bisa menjelaskan hal ini. Pertama, anggrek tidak selalu berbunga. Bunga adalah bagian paling mencolok dari anggrek, yang membuat kita langsung mengenalinya. Tapi bunga itu hanya muncul pada waktu tertentu, dan biasanya tidak lama. Di luar masa berbunga, anggrek hanya berupa daun kecil atau bagian tumbuhan yang bentuknya mirip tanaman lain di lantai hutan. Jadi meskipun kita melewatinya, kita bisa saja tidak sadar. Kedua, anggrek punya “waktu tampil” sendiri. Seperti halnya buah musiman, anggrek juga mengikuti kondisi alam. Mereka biasanya berbunga saat kondisi lingkungan cocok, misalnya saat tanah cukup lembap, udara tidak terlalu panas, dan cahaya matahari pas. Jika kita datang di waktu yang berbeda, anggrek itu mungkin tetap ada, tapi belum atau sudah tidak berbunga. Ketiga, anggrek sangat pilih-pilih tempat hidup. Tidak semua bagian hutan cocok untuk anggrek. Mereka butuh kondisi tertentu, tanah yang lembap, naungan dari pohon, dan lingkungan yang tidak banyak terganggu. Bahkan beberapa anggrek juga bergantung pada jamur di dalam tanah untuk bisa tumbuh. Jadi kalau kondisi tempat berubah sedikit saja, anggrek bisa berhenti tumbuh atau tidak muncul ke permukaan. Karena itu, menemukan anggrek di hutan sebenarnya bukan hanya soal keberuntungan, tapi juga soal waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Hal penting yang perlu dipahami adalah tidak melihat anggrek bukan berarti anggrek itu tidak ada. Bisa jadi ia sedang “bersembunyi” dalam bentuk yang tidak mencolok, atau sedang menunggu kondisi yang tepat untuk berbunga. Bagi dunia konservasi, hal ini menjadi pelajaran penting. Untuk mengetahui kekayaan jenis tumbuhan di suatu kawasan, pengamatan tidak bisa dilakukan hanya sekali. Harus berulang, di waktu yang berbeda, bahkan di musim yang berbeda. Bagi masyarakat umum, ini juga mengajarkan cara baru melihat alam. Bahwa hutan tidak selalu menampilkan semua isinya sekaligus. Ada bagian-bagian yang hanya bisa dilihat jika kita sabar, teliti, dan datang di waktu yang tepat. Jadi, lain kali saat Anda berjalan di hutan dan tidak melihat anggrek, bukan berarti hutan itu kosong. Bisa jadi, anggrek-anggrek itu ada di sekitar Anda, diam, tersembunyi, dan menunggu saatnya untuk terlihat. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Hutan Menjadi Guru, Kisah 9 Siswa Menyapa Alam di Jantung Bawean

Gresik, 3 Juni 2026. Bersama petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik Bawean, sembilan siswa sekolah dasar melangkah perlahan menyusuri jalur setapak yang membelah hutan di Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, Selasa, 2 Juni 2026. Di hari yang biasanya dipenuhi riuh perayaan kelulusan, mereka justru memilih jalan yang berbeda, masuk ke dalam hutan, mendekat pada sesuatu yang selama ini hanya mereka kenal dari buku pelajaran: alam itu sendiri. Perjalanan ini bukan sekadar kegiatan luar ruang biasa. Bertajuk Forest Learning Journey: Road to HKAN 2026 – Menyapa Alam, Menjaga Masa Depan. Kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui tim RKW 09 Gresik–Bawean, sebagai bentuk bina cinta alam di UPT SD Negeri 342 Gresik. Sembilan siswa kelas VI, didampingi sembilan guru, diajak memasuki kawasan konservasi bukan sebagai wisatawan, tetapi sebagai pembelajar, dan lebih jauh lagi, sebagai calon penjaga masa depan lingkungan. Sejak langkah pertama, pendekatan yang digunakan terasa berbeda. Tidak ada ruang kelas, tidak ada papan tulis. Hutan menjadi medium belajar, dan setiap elemen di dalamnya menghadirkan pelajaran yang hidup. Di titik awal perjalanan, peserta dibekali pemahaman tentang status kawasan konservasi, tentang aturan yang mengikatnya, fungsi ekologis yang dijaganya, serta batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Pengetahuan ini bukan sekadar teori, ia menjadi kerangka berpikir untuk memahami lanskap yang mereka masuki. Semakin jauh mereka berjalan, hutan perlahan membuka dirinya. Pepohonan tinggi membentuk kanopi yang meredam cahaya, menciptakan suasana teduh dan lembap, mikroklimat yang menjadi rumah bagi berbagai bentuk kehidupan. Di tengah perjalanan, sebuah tanda sederhana berdiri tegak, pal batas kawasan. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya patok biasa. Namun bagi para siswa, itulah pelajaran pertama tentang ruang, tentang bagaimana manusia dan alam berbagi batas, dan bagaimana batas itu harus dihormati. Tim pendamping kemudian memperkenalkan lanskap konservasi Pulau Bawean secara lebih utuh. Mereka menjelaskan perbedaan antara Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, dua konsep yang selama ini terdengar abstrak bagi anak-anak. Di sinilah, konsep itu menemukan bentuk nyatanya. Kawasan ini bukan sekadar hutan, tetapi ruang hidup bagi satwa liar, termasuk salah satu spesies endemik yang menjadi kebanggaan Bawean, Rusa Bawean (Axis kuhlii), yang keberadaannya kian langka dan bergantung pada kelestarian habitatnya. Namun pelajaran paling berkesan justru datang dari sesuatu yang nyaris terlewatkan. Di lantai hutan yang lembap, di antara serasah daun dan bayang-bayang vegetasi bawah, tim menemukan anggrek tanah yang tengah berbunga. Ukurannya kecil, warnanya tidak mencolok, tetapi kehadirannya membawa makna besar. Berdasarkan identifikasi lapangan, spesies tersebut adalah Disperis neilgherrensis Wight, anggota Orchidaceae yang dikenal tumbuh pada kondisi mikrohabitat yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Bagi para siswa, bunga itu mungkin sekadar bagian dari keindahan hutan. Namun bagi para petugas lapangan, ia adalah indikator, penanda bahwa hutan ini masih memiliki kualitas ekologis yang baik. Keberadaan anggrek tersebut menunjukkan bahwa kondisi lantai hutan, kelembapan, dan tutupan kanopi masih terjaga, memungkinkan spesies-spesies sensitif untuk tetap bertahan. Dalam konteks konservasi, temuan seperti ini menjadi bukti diam bahwa ekosistem masih bekerja sebagaimana mestinya. Perjalanan yang awalnya terasa sebagai petualangan perlahan berubah menjadi proses pemahaman. Setiap langkah menghadirkan pertanyaan, dan setiap penjelasan membuka perspektif baru. Hutan tidak lagi dilihat sebagai tempat yang jauh dan asing, melainkan sebagai sistem kehidupan yang kompleks, tempat di mana setiap elemen saling terhubung dan saling bergantung. Di titik akhir perjalanan, suasana menjadi lebih hening. Dalam sesi refleksi sederhana, para siswa mulai merangkai pengalaman mereka menjadi pemahaman yang utuh. Mereka berbicara tentang apa yang mereka lihat, tentang apa yang mereka rasakan, dan tentang apa yang kini mereka pahami. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, yang ada hanyalah kesadaran yang mulai tumbuh. Momentum ini menjadi semakin bermakna karena bertepatan dengan hari pengumuman kelulusan mereka. Di saat banyak anak merayakannya dengan euforia, sembilan siswa ini justru mendapatkan sesuatu yang berbeda: pengalaman yang membekas, yang tidak hanya menandai akhir dari sebuah fase pendidikan, tetapi juga awal dari cara pandang baru terhadap dunia. Bagi BBKSDA Jatim, kegiatan ini bukan sekadar agenda edukatif. Ia merupakan bagian dari strategi yang lebih besar, membangun kesadaran konservasi melalui pendekatan langsung kepada generasi muda, khususnya di wilayah penyangga kawasan. Pendekatan berbasis pengalaman seperti ini terbukti mampu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan kepedulian, antara teori dan realitas. Langkah yang ditempuh para siswa hari itu memang tidak jauh, hanya sejauh jalur setapak di Gunung Besar. Namun makna dari perjalanan itu melampaui jarak yang mereka tempuh. Di tengah hutan yang sunyi, mereka belajar tentang batas, tentang keseimbangan, dan tentang tanggung jawab yang tidak tertulis. Dan mungkin, tanpa mereka sadari sepenuhnya, pada hari itu sebuah benih telah ditanam, benih kesadaran yang kelak akan tumbuh, membentuk cara mereka memandang alam, dan menentukan bagaimana mereka memperlakukannya di masa depan. Di jantung Bawean, hutan tidak hanya berdiri sebagai bentang alam. Ia hadir sebagai guru, diam, namun mengajarkan segalanya. Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Benteng Sunyi Penopang Kehidupan. Bagaimana Keanekaragaman Hayati Menjaga Jawa Timur dari Krisis Ekologi yang Tak Terlihat ?

Surabaya, 3 Juni 2026. Pagi belum sepenuhnya terang ketika embun masih bertahan di pucuk daun, dan hutan bekerja dalam diam. Tidak ada suara mesin, tidak ada tanda peringatan. Namun di balik kesunyian itu, sebuah sistem raksasa sedang berjalan, menyaring air, mengikat karbon, menjaga tanah tetap hidup. Di sanalah keanekaragaman hayati bekerja. Bukan sebagai lanskap yang indah semata. Namun, sebagai sistem penopang kehidupan yang menentukan apakah manusia dapat terus bertahan di tengah krisis lingkungan yang kian nyata. Keanekaragaman hayati mencakup tiga tingkat utama, variasi genetik, spesies, dan ekosistem. Ketiganya membentuk jaringan kompleks yang menopang apa yang dikenal sebagai jasa ekosistem, mulai dari penyediaan air bersih, penyerbukan tanaman, hingga pengendalian iklim. Di dalam tanah hutan Jawa Timur, mikroorganisme mengurai bahan organik menjadi unsur hara. Proses ini menjaga kesuburan tanah dan memastikan regenerasi vegetasi tetap berlangsung. Di atasnya, tutupan hutan berfungsi sebagai penyerap karbon alami, mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Sementara itu, serangga penyerbuk dan burung memainkan peran vital dalam menjaga produktivitas tanaman, termasuk tanaman pangan yang dikonsumsi manusia. Sistem ini tidak pernah berhenti. Ia bekerja tanpa menunggu manusia untuk menyadarinya. Ketika Satu Hilang, Semua Terguncang Ekosistem tidak dibangun dari komponen yang berdiri sendiri. Ia adalah jaringan hubungan yang saling bergantung. Dalam ilmu ekologi, fenomena trophic cascade menunjukkan bagaimana hilangnya satu spesies, terutama predator puncak, dapat memicu perubahan berantai dalam seluruh sistem. Ketika predator berkurang, populasi herbivora meningkat. Vegetasi tertekan. Tanah kehilangan daya ikat. Air tidak lagi terserap dengan baik. Dampaknya meluas dari degradasi hutan hingga meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Dengan kata lain, hilangnya satu spesies bukan sekadar kehilangan biologis, tetapi kehilangan fungsi ekologis. Jawa Timur Dan Benteng Yang Masih Bertahan Di tengah tekanan pembangunan dan pertumbuhan populasi, Jawa Timur masih menyimpan kantong-kantong keanekaragaman hayati yang menjadi benteng ekologis. Di Pulau Bawean, rusa endemik bertahan dalam ruang hidup yang terbatas, menjadi indikator sensitif perubahan lingkungan. Di kawasan hutan konservasi daratan, burung pemangsa menjaga keseimbangan rantai makanan. Sementara itu, di wilayah pesisir, terumbu karang tidak hanya menjadi pusat biodiversitas laut, tetapi juga pelindung alami dari abrasi dan gelombang ekstrem. Ekosistem-ekosistem ini membentuk satu sistem besar yang saling terhubung, menjaga stabilitas lingkungan dari hulu hingga hilir. Namun, benteng ini tidak tanpa ancaman. Perubahan tata guna lahan, fragmentasi habitat, serta aktivitas manusia yang tidak terkendali telah mengurangi daya dukung ekosistem secara perlahan. Di banyak wilayah, tanda-tandanya mulai muncul, salah satunya melalui meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar. Ketika ruang hidup satwa menyempit, mereka terdorong keluar dari habitatnya. Fenomena ini bukan sekadar konflik, melainkan indikator ekologis bahwa keseimbangan sistem mulai terganggu. Ditambah dengan tekanan perubahan iklim global, sistem yang selama ini stabil kini berada dalam kondisi yang semakin rentan. Konservasi: Menjaga Sistem, Bukan Sekadar Spesies Menjawab tantangan tersebut, konservasi tidak lagi dapat dipahami sebagai upaya perlindungan spesies semata. Ia adalah upaya menjaga fungsi ekosistem secara utuh. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan seperti pemantauan berbasis SMART, pengelolaan adaptif, serta inovasi mitigasi konflik menjadi bagian dari strategi konservasi modern. Namun, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kebijakan. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor kunci. Di berbagai wilayah, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab institusi, tetapi gerakan bersama untuk menjaga kehidupan. Ketahanan Ekologi dan Masa Depan Manusia Ekosistem yang memiliki keanekaragaman tinggi cenderung lebih stabil dan mampu beradaptasi terhadap gangguan. Konsep ini dikenal sebagai resiliensi ekologi. Dalam konteks ini, keanekaragaman hayati bukan hanya aset lingkungan, tetapi juga sistem pertahanan alami manusia terhadap krisis, baik krisis iklim, pangan, maupun air. Tanpa keanekaragaman hayati, manusia kehilangan kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang. Menjaga Yang Tak Terlihat Tantangan terbesar dalam perlindungan keanekaragaman hayati adalah sifatnya yang tidak kasat mata. Tidak ada tanda peringatan ketika fungsi ekosistem mulai menurun. Tidak ada alarm ketika satu spesies menghilang. Namun dampaknya nyata, perlahan, sistemik, dan sering kali baru disadari ketika sudah mencapai titik kritis. Hari ini, manusia berada di persimpangan, menjadi bagian dari solusi atau justru mempercepat keruntuhan sistem yang menopang kehidupannya sendiri. Keanekaragaman hayati adalah benteng yang bekerja dalam diam. Ia tidak meminta perhatian, tetapi menentukan masa depan. Keanekaragaman hayati telah menjaga keseimbangan bumi selama jutaan tahun. Kini, dalam waktu yang jauh lebih singkat, manusia menjadi faktor penentu apakah sistem itu akan tetap bertahan atau perlahan runtuh. Tidak ada teknologi yang mampu sepenuhnya menggantikan kompleksitas kerja alam. Tidak ada rekayasa buatan yang mampu meniru keseimbangan yang telah terbentuk melalui proses evolusi yang panjang. Karena itu, menjaga keanekaragaman hayati bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, tetapi keputusan peradaban. “Kita tidak sedang menyelamatkan alam. Kita sedang memastikan bahwa manusia masih memiliki tempat untuk hidup di dalamnya.” Dan mungkin, pertanyaan paling jujur yang harus dijawab hari ini bukanlah apa yang akan terjadi pada alam jika manusia terus merusaknya, melainkan: “Apa yang akan terjadi pada manusia, ketika alam berhenti menopangnya?” Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda dan Agus Irwanto (Foto) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Gandeng Swasta Hingga Luncurkan Aplikasi, Menhut Transformasikan Pengelolaan Taman Nasional di Indofest 2026

Jakarta, 4 Juni 2026 – Merayakan satu dekade event outdoor terbesar di Indonesia, Indonesia Outdoor Festival (Indofest) 2026 tahun ini hadir dengan tema besar "United by Nature, Strengthened by Adventure". Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, membuka Indofest 2026 sekaligus meresmikan aplikasi Ayo ke Taman Nasional (TN) di main stage, Hall B, Jakarta Convention Center. Edukasi, kolaborasi, dan eksplorasi adalah semangat yang dibawa Indofest. Hal ini selaras dengan program Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) mengingat sekitar 80% aktivitas outdoor berada di kawasan Kemenhut. Aplikasi Ayo ke Taman Nasional merupakan sebuah platform terintegrasi untuk pembelian tiket dan pencarian informasi secara cepat dan sederhana. Aplikasi ini sudah dapat diunduh melalui Google Playstore dan situs web resmi ayoketamannasional.kehutanan.go.id. "Saya memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi TN dan TWA. Salah satu tantangannya adalah proses digitalisasi. Sistem bonggol yang tidak efektif, tidak transparan, dan tidak akuntabel harus kita ubah," tegas Raja Juli. Beliau menambahkan bahwa lewat transformasi digital, saat ini sekitar 93% layanan di Taman Nasional telah menerapkan sistem e-ticketing. Kunci dari transformasi digital ini adalah keberanian mengubah paradigma dan fokus pada wilayah yang masih mengalami kendala listrik serta internet. Solusi yang disiapkan meliputi penyediaan panel surya (solar panel) dan pemanfaatan teknologi yang efisien hingga ke wilayah pelosok. Tidak hanya transformasi digital, Raja Juli juga mendorong inovasi pembiayaan untuk pengelolaan Taman Nasional tanpa membebani APBN. Langkah ini menjadi strategi baru dalam mengatasi keterbatasan dana pengelolaan kawasan konservasi yang penuh tantangan. "Telah terbit Keppres Nomor 8/2026 tentang Inovasi Pembiayaan Taman Nasional. Kita tidak hanya bergantung pada APBN, tetapi juga mengajak pihak swasta untuk bersama-sama membiayai Taman Nasional. Swasta mendapatkan keuntungan dari pengelolaan, dan keuntungan tersebut tentunya akan kembali ke alam," jelas Menhut. Raja Juli juga menyampaikan bahwa implementasi Keppres tersebut akan menyasar tiga Taman Nasional favorit, yaitu TN Komodo, TN Gunung Rinjani, dan TN Bromo Tengger Semeru. Ketiganya akan dibentuk sebagai unit bisnis Badan Layanan Umum (BLU). Dengan demikian, pendapatan yang diperoleh dari Taman Nasional tersebut dapat diputar kembali (reinvest) untuk memperbaiki sarana prasarana serta mendukung upaya konservasi lainnya. (y) Sumber: Setditjen KSDAE
Baca Artikel

Taman Nasional Batang Gadis: Sudah Sejauh Mana Potensinya Teridentifikasi?

Mandailing Natal – Kawasan Taman Nasional (TN) Batang Gadis merupakan salah satu benteng penting pelestarian keanekaragaman hayati di Pulau Sumatera. Dengan luas mencapai 72.803,75 hektare, kawasan konservasi ini menyimpan kekayaan flora dan fauna yang luar biasa, sekaligus menjadi habitat bagi berbagai spesies langka, dilindungi, dan endemik Indonesia. Melalui kegiatan inventarisasi dan monitoring sumber daya alam hayati yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Balai Taman Nasional Batang Gadis terus mengungkap potensi biodiversitas yang tersimpan di dalam kawasan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa TN Batang Gadis memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, baik untuk kelompok satwa maupun tumbuhan. Dari kelompok fauna, hingga saat ini telah teridentifikasi 53 jenis mamalia, dengan 24 jenis berstatus dilindungi dan 7 jenis endemik Indonesia. Selain itu, tercatat 288 jenis burung (aves), yang terdiri atas 58 jenis dilindungi dan 17 jenis endemik Indonesia. Kekayaan herpetofauna juga cukup menonjol dengan ditemukannya 48 jenis amfibi, termasuk 17 jenis endemik Indonesia, serta 20 jenis reptil, dengan 1 jenis dilindungi dan 3 jenis endemik Indonesia. Tidak kalah menarik, kawasan ini juga menjadi habitat bagi sedikitnya 119 jenis serangga yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sementara itu, dari kelompok flora, TN Batang Gadis telah mengidentifikasi 241 jenis pohon, termasuk 1 jenis yang dilindungi. Kekayaan tumbuhan lainnya meliputi 92 jenis anggrek, 10 jenis kantung semar (Nepenthes) dengan 6 jenis dilindungi dan 4 jenis endemik Indonesia, serta 3 jenis rafflesia yang seluruhnya berstatus dilindungi dan endemik Indonesia. Selain itu, terdapat pula 149 jenis jamur makroskopis yang berhasil didokumentasikan sebagai bagian dari kekayaan hayati kawasan. Tidak hanya kaya akan spesies, Taman Nasional Batang Gadis juga menjadi rumah bagi flora dan fauna yang hanya ditemukan di wilayah ini. Salah satunya adalah Pacar Air Batang Gadis (Impatiens batanggadisensis N. Utami), tumbuhan endemik yang menjadi identitas unik kawasan. Dari kelompok fauna, terdapat Kodok Wayang Mandailing (Sigalegalephrynus mandailinguensis), spesies amfibi endemik yang semakin memperkuat nilai penting TN Batang Gadis sebagai pusat keanekaragaman hayati Sumatera. Berbagai hasil identifikasi tersebut menunjukkan bahwa Taman Nasional Batang Gadis memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian ekosistem dan keberlangsungan berbagai spesies penting Indonesia. Upaya inventarisasi yang terus dilakukan tidak hanya menjadi dasar pengelolaan kawasan yang lebih baik, tetapi juga memperkaya data ilmiah guna mendukung konservasi keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang. Dengan potensi yang terus terungkap, Taman Nasional Batang Gadis menjadi bukti bahwa hutan tropis Indonesia masih menyimpan kekayaan alam yang luar biasa dan perlu dijaga bersama demi keberlanjutan kehidupan di masa depan. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

School Visit SKW V Sipirok Bersama COP Tingkatkan Kesadaran Para Pelajar

Foto Simbolis Penyerahan Poster Informasi Satwa Dilindungi oleh BBKSDA Sumatera Utara dan COP ke Kepala Sekolah Sipirok, Mei 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V Sipirok bersama Centre for Orangutan Protection (COP) melaksanakan kegiatan School Visit di tingkat SD, SMP, dan SMA sebagai upaya meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap konservasi satwa liar dan kawasan konservasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 19, 21, dan 25 Mei 2026 dengan melibatkan petugas Efrina Rizkiyah Pohan, S.P. (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), Gerin Christian Sukartoyo, A.Md. (Penyuluh Kehutanan Terampil), Pebry Editiani, A.Md. (PEH Terampil), dan Erwin Pardomuan (Manggala Agni Pemula). Kegiatan dilaksanakan di dua sekolah dasar, yakni SD Sampean dengan jumlah peserta 62 siswa/siswi dan SD Silangge sebanyak 84 siswa/siswi, Selasa (19/5). Materi yang disampaikan meliputi pengenalan satwa orangutan oleh tim COP serta pengenalan kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali oleh tim SKW V Sipirok. Antusiasme peserta terlihat tinggi melalui partisipasi aktif siswa dalam sesi tanya jawab dan diskusi bersama pemateri. Selanjutnya pada Kamis (21/5), kegiatan dilaksanakan di SMK Negeri 1 dengan jumlah peserta sebanyak 53 siswa/siswi. Materi yang disampaikan berfokus pada pengenalan satwa liar dilindungi, khususnya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), pengenalan kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali, serta ancaman terhadap populasi orangutan dan habitatnya. Selain penyampaian materi, tim SKW V Sipirok juga mengajak para siswa untuk mengenal konservasi lebih dekat melalui konten edukasi digital dan media sosial Balai. Antusiasme siswa terlihat dari aktifnya diskusi serta berbagi pengalaman sebagai bagian dari komunitas pecinta alam. Kegiatan School Visit yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Sipirok, Senin (25/5), dengan jumlah peserta sebanyak 58 siswa/siswi. Tim penyuluh kehutanan SKW V Sipirok bersama tim COP memberikan edukasi mengenai konservasi orangutan, satwa liar, fungsi ekologis hutan, serta pentingnya menjaga kawasan Cagar Alam Sibual-buali. Materi disampaikan secara partisipatif melalui diskusi, tanya jawab, dan studi kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar sehingga mendorong keterlibatan aktif peserta. Selain itu, para siswa juga diperkenalkan pada bentuk aksi digital konservasi melalui pembuatan dan penyebaran konten positif sebagai salah satu bentuk kontribusi generasi muda dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan sejak dini. Kegiatan School Visit ini menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun kesadaran konservasi di kalangan pelajar sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan dalam menjaga kelestarian satwa liar dan habitatnya. Kegiatan School Visit ini menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun kesadaran konservasi di kalangan pelajar sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan dalam menjaga kelestarian satwa liar dan habitatnya. Sumber: Gerin Christian Sukartoyo, A.Md. - Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok, Bidang KSDA Wilayah III Padagsidimpuan – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Hari Lahir Pancasila, Rimbawan Jawa Timur Menyatukan Alam, Bangsa, dan Masa Depan

Surabaya, 1 Juni 2026. Rimbawan Jawa Timur berkumpul di Plaza Dinas Kehutanan Jawa Timur dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Di tengah dinamika sektor kehutanan yang semakin kompleks, momentum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk meneguhkan kembali nilai-nilai dasar bangsa sebagai pijakan dalam menjaga keberlanjutan alam dan kehidupan. Upacara berlangsung khidmat sejak pagi. Langit tampak cerah, sementara Sang Merah Putih perlahan berkibar, melambai diterpa angin semilir. Dalam suasana yang hening dan penuh penghormatan, naskah amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia dibacakan oleh Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut.,M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur dengan suara lantang dan penuh penegasan. Setiap kalimat yang disampaikan menggema di antara barisan peserta upacara, menegaskan bahwa Pancasila harus menjadi bintang penuntun dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk krisis lingkungan, perubahan iklim, dan tekanan terhadap sumber daya hutan. “Pancasila adalah jangkar moral dalam menghadapi turbulensi global. Nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan harus menjadi dasar dalam setiap langkah pembangunan,” ujarnya. Pesan tersebut terasa semakin relevan bagi sektor kehutanan di Jawa Timur, yang saat ini menghadapi beragam tantangan strategis. Pengelolaan hutan tidak lagi hanya berbicara tentang perlindungan kawasan, tetapi juga menyangkut penyelesaian konflik tenurial, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar, hingga penguatan peran masyarakat dalam skema perhutanan sosial. Di satu sisi, tekanan terhadap kawasan hutan masih terus terjadi. Namun di sisi lain, tuntutan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat menuntut hadirnya tata kelola hutan yang adaptif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Dalam konteks inilah nilai-nilai Pancasila menjadi titik temu, menghubungkan kepentingan ekologis, sosial, dan ekonomi dalam satu kerangka kebangsaan. Semangat gotong royong tercermin dalam kolaborasi lintas sektor, sementara prinsip keadilan sosial menjadi dasar dalam memastikan bahwa masyarakat sekitar hutan menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek kebijakan. Usai pelaksanaan upacara, Nur Patria Kurniawan menyampaikan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila harus dimaknai sebagai penguatan arah dalam seluruh lini kerja kehutanan. “Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk memperingati, tetapi untuk meneguhkan kembali komitmen. Kehutanan tidak bisa berjalan parsial. Kita harus memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila hadir dalam setiap kebijakan dan tindakan, baik dalam perlindungan kawasan, pemberdayaan masyarakat, maupun dalam menjawab tantangan perubahan lingkungan yang semakin nyata,” pungkasnya. Beliau menambahkan bahwa rimbawan memiliki peran strategis sebagai penjaga keseimbangan, tidak hanya antara manusia dan alam, tetapi juga antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan jangka panjang. Di tengah barisan yang perlahan membubar dan langkah-langkah yang kembali menuju medan tugas, Pancasila tidak berhenti sebagai teks yang dibacakan. Ia hidup dalam kerja-kerja nyata di lapangan, dalam patroli hutan, dalam penyelamatan satwa liar, dalam upaya merawat bentang alam yang menjadi penopang kehidupan. Pada akhirnya, peringatan ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi tentang meneguhkan masa depan. Karena di tangan para rimbawan, hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup bangsa yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ketapang Kembali Ungkap Luka Lama: Ratusan Burung Disita, Sebagian Tak Pernah Pulang

Banyuwangi, 29 Mei 2026. Peti-peti itu nyaris tak bersuara. Namun ketika dibuka di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, isinya mengungkap kenyataan yang tak bisa lagi disembunyikan, ratusan burung liar terkurung dalam perjalanan panjang yang tak pernah mereka pilih. Sebagian masih hidup, gelisah, lemah. Sebagian lainnya tak pernah sempat kembali. Sebanyak 493 individu burung dari 11 jenis diamankan oleh Karantina BKHIT Satpel, Minggu (24/5), Ketapang dari pengiriman Denpasar menuju Banyuwangi. Temuan ini segera ditindaklanjuti oleh tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 12 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui proses identifikasi menyeluruh terhadap satwa sitaan tersebut. Hasilnya mengungkap komposisi jenis yang lazim ditemukan dalam rantai perdagangan burung liar. Merbah Cerukcuk mendominasi dengan 269 individu, disusul Kacamata Biasa sebanyak 77 ekor, Cinenen Jawa 39 ekor, Madu Sriganti 37 ekor, serta berbagai jenis lain seperti Anis Merah, Cendet, hingga Sikatan Rimba Dada Coklat. Secara keseluruhan, jenis-jenis ini tergolong tidak dilindungi, namun jumlahnya yang besar mencerminkan tekanan nyata terhadap populasi di alam. Di balik angka-angka tersebut, terdapat fakta yang tak bisa diabaikan. Tujuh individu burung ditemukan mati dalam proses pengangkutan. Sebuah kehilangan yang sering kali luput dari perhatian, tetapi menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik perdagangan satwa liar, di mana tidak semua yang diambil dari alam memiliki kesempatan untuk kembali. Pada 25 Mei 2026, upaya pemulihan dilakukan. Sebanyak 486 burung yang masih hidup dilepasliarkan ke kawasan hutan lindung Perum Perhutani - KPH Banyuwangi Barat. Di bawah kanopi hutan yang rapat dan lembap, burung-burung itu kembali menemukan ruangnya, menguji sayap yang sempat terlipat, mengisi kembali lanskap suara yang nyaris hilang. Pelepasliaran ini bukan sekadar tindakan administratif, melainkan bagian dari upaya menjaga fungsi ekologis. Burung berperan sebagai penyebar biji, pengendali serangga, serta indikator kesehatan lingkungan. Kehadiran mereka menentukan ritme kehidupan hutan dan kehilangannya, sekecil apa pun, akan meninggalkan celah dalam keseimbangan ekosistem. Peristiwa di Ketapang kembali menegaskan bahwa perdagangan satwa liar bukan hanya persoalan jenis dilindungi atau tidak. Ketika dilakukan dalam skala besar dan tanpa kendali, praktik ini tetap berpotensi menggerus populasi alami dan mengganggu stabilitas ekosistem. “Luka lama” itu terus berulang, muncul dalam bentuk yang serupa, di tempat yang berbeda. Kini, sebagian burung telah kembali ke alamnya. Mereka terbang menjauh, menyatu kembali dengan hutan. Namun sebagian lainnya tidak pernah sampai. Dan dari sanalah, pesan itu seharusnya menjadi jelas: bahwa setiap individu yang hilang adalah bagian dari sistem yang turut melemah dan setiap upaya penyelamatan adalah langkah kecil untuk menjaga agar keseimbangan itu tidak sepenuhnya runtuh. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto Bidang KSDA Wilayah III Jember
Baca Artikel

Menguak Peredaran Anggrek Tanpa Izin di Jawa Timur

Surabaya, 29 Mei 2026. Mereka tampak indah, rapuh, dan bernilai tinggi di mata pasar. Namun di balik kelopak anggrek yang menawan, tersimpan jejak panjang eksploitasi yang kerap luput dari perhatian. Di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kisah itu kembali terungkap, bukan sebagai cerita keindahan, melainkan potret sunyi peredaran flora tanpa izin yang mengancam keseimbangan alam. Sebanyak 69 rumpun anggrek diamankan dalam operasi gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Ditpolairud Polda Jawa Timur di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Rabu malam (27/5). Pengamanan ini merupakan tindak lanjut atas informasi adanya dugaan pengangkutan tumbuhan tanpa dokumen sah dari Kupang menuju Surabaya melalui jalur laut. Temuan tersebut menegaskan bahwa praktik peredaran tumbuhan liar tanpa izin masih terjadi, bahkan melalui jalur distribusi resmi seperti ekspedisi logistik. Dari hasil identifikasi awal, tim menemukan beberapa jenis anggrek, di antaranya Vanda insignis dan Dendrobium affine, serta sejumlah spesimen lain yang masih dalam proses identifikasi lebih lanjut. Bagi sebagian orang, anggrek mungkin hanya dipandang sebagai tanaman hias bernilai ekonomi tinggi. Namun dalam perspektif ekologi, tumbuhan ini memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis, menjadi bagian dari jaringan kehidupan yang kompleks, dari mikroorganisme hingga serangga penyerbuk. Rakhmat Hidayat, S.P., Polisi Kehutanan Ahli Madya Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, menegaskan bahwa setiap peredaran tumbuhan tanpa dokumen resmi merupakan pelanggaran serius terhadap tata kelola konservasi. “Peredaran tumbuhan tanpa dokumen resmi, baik dilindungi maupun tidak, tetap merupakan pelanggaran. Ini bukan hanya soal administrasi, tetapi menyangkut keberlanjutan populasi di alam dan keseimbangan ekosistemnya,” ujarnya. Operasi yang berlangsung hingga dini hari tersebut diawali dengan koordinasi lintas instansi, dilanjutkan dengan penelusuran kendaraan ekspedisi, serta pengamanan barang bukti dan pihak terkait. Seluruh anggrek kini diamankan di Mako Ditpolairud Polda Jawa Timur untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut. Pihak ekspedisi yang terlibat mengaku tidak mengetahui status perlindungan tumbuhan yang diangkut. Pernyataan ini sekaligus membuka fakta bahwa masih terdapat celah dalam pemahaman dan kepatuhan terhadap regulasi di sektor distribusi logistik. Lebih jauh, kasus ini mencerminkan tantangan besar dalam pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar di Indonesia. Jalur laut, yang menjadi tulang punggung konektivitas antarwilayah, sekaligus menjadi titik rawan bagi distribusi ilegal sumber daya hayati. “Kasus ini menunjukkan bahwa pengawasan di jalur distribusi, khususnya pelabuhan, masih perlu diperkuat. Sinergi antarinstansi dan peningkatan kesadaran pelaku usaha menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa,” tambah Rakhmat. Dari perspektif konservasi, jenis seperti Vanda insignis memiliki nilai ekologis tinggi dan rentan terhadap tekanan eksploitasi dari habitat alaminya. Pengambilan yang tidak terkendali dapat menyebabkan penurunan populasi di alam, bahkan berujung pada ancaman kepunahan lokal. Di habitat aslinya, anggrek tumbuh perlahan, menyatu dengan kabut hutan, menempel pada batang pohon tua, dan bergantung pada keseimbangan alam yang rapuh. Namun ketika dipisahkan dari ekosistemnya tanpa kendali, keindahan itu berubah menjadi simbol kehilangan. Kasus di Tanjung Perak menjadi pengingat, bahwa tidak semua yang indah layak diperdagangkan dan tidak semua yang tampak kecil, memiliki dampak yang kecil pula. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto - Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 177–192 dari 2.501 publikasi