Sabtu, 3 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Pokdarwis Binaan Balai Besar KSDA Sumut Raih Penghargaan

Sibolangit, 14 April 2021. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wisata Alam Sibolangit Berseri yang merupakan binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara meraih dan menerima penghargaan sebagai terbaik ketiga kategori Pokdarwis Mandiri, hasil dari evaluasi dan penilaian yang dilakukan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Deli Serdang, pada Jumat 9 April 2021, di Horison Hotel Sky Kualanamu. Ini juga menjadi bagian dari kegiatan pembinaan masyarakat di sekitar kawasan untuk mendukung promosi wisata di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Penghargaan tersebut, diharapkan Pokdarwis Wisata Alam Sibolangit Berseri semakin giat lagi berbuat dan berkarya, sehingga nantinya bisa menjadi role model sekaligus sebagai inspirasi bagi pokdarwis lainnya. Pemberian apresiasi ini dilaksanakan dalam kegiatan Pembinaan dan Evaluasi Pokdarwis. Pokdarwis Wisata Alam Sibolangit Berseri meraih prestasi setelah bersaing dengan 20 pokdarwis lainnya yang mengikuti kegiatan dimaksud. Adapun rangkaian acara yang diikuti pada even yang berlangsung selama 4 (empat) hari tersebut, dari tanggal 6 s.d 9 April 2021, adalah pembinaan dari pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara, Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Deli Serdang serta Ketua Himpunan Pramu wisata Sumut sekaligus pelaku wisata, kemudian presentasi kegiatan pokdarwis di hadapan tim penilai dan penampilan atraksi budaya berupa tari Tiga Sibolangit. Keberadaan Pokdarwis Wisata Alam Sibolangit Berseri yang mulai berdiri pada tahun 2017, selama ini sangat mendukung terhadap upaya pelestarian dan promosi kawasan TWA Sibolangit. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara aktif diikuti oleh pokdarwis ini, seperti : peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN), Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Hari Bumi, dan juga 9Th Indonesia Climate Change Forum Expo. Pokdarwis Wisata Alam Sibolangit Berseri mampu memadukan/mensinergikan promosi wisata alam dengan budaya daerah/lokal. Selamat buat Pokdarwis Wisata Alam Sibolangit Berseri. Sumber : Samuel Siahaan, SP. - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Matalawa Salurkan Bantuan Hasil Kerjasama KLHK dan Komisi IV DPR RI

Waingapu, 13 April 2021. Badai siklon tropis Seroja yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur minggu lalu membuat banyak orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Di Sumba Timur, tempat kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) berada, masih banyak lokasi-lokasi yang belum terjangkau bantuan akibat sulitnya akses menuju ke lokasi terdampak. Dengan armada yang dimiliki, Balai TN Matalawa menembus hingga Desa Latena di Kecamatan Wulla Waijelu yang berjarak sekitar 130 km dari Kota Waingapu. Tim mengantarkan bantuan 100 paket sembako hasil kerjasama antara Kementerian LHK dan Komisi IV DPR RI. Bantuan diberikan kepada 100 kepala keluarga yang terdampak bencana di desa ini. Pemberian bantuan dipusatkan di Gereja Kristen Sumba Walakari karena tim tidak dapat menembus hingga lokasi akibat masih belum terbukanya akses untuk kendaraan roda empat. Beberapa rumah di Desa Latena porak poranda akibat Seroja serta perkebunan yang rusak karena tergenang air sungai yang meluap. Balai TN Matalawa di bawah koordinasi Koordinator Wilayah UPT Provinsi NTT, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur hingga saat ini masih membantu korban terdampak dengan menyalurkan bantuan, membersihkan lumpur, serta menyediakan air bersih. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Artikel

TaNa Bentarum Studi Banding ke BBKSDA Sumut

Medan, 13 April 2021. Selama 2 (dua) hari, 9 – 10 April 2021 Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) menerima kunjungan studi banding dari Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum sebanyak 8 (delapan) orang, terdiri dari 2 orang Staf Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum, 4 orang masyarakat, dan 2 orang Staf Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Ditjen KSDAE. Ada 3 (tiga) kawasan konservasi BBKSDA Sumut yang menjadi lokasi studi banding BB Tana Bentarum yaitu ANECC (Aek Nauli Elephant Conservation Camp) , TWA Lau Debuk-Debuk dan TWA Sibolangit. Pada Jumat, 9 April 2021, ANECC (Aek Nauli Elephant Conservation Camp) menjadi lokasi pertama studi banding dengan topik mendukung konservasi serta pengembangan wisata Danau Toba. Tim ANECC menampilkan edukasi terkait pengelolaan gajah jinak, pengalungan bunga dan pemberian pakan gajah. Keesokan harinya, 10 April 2021, kembali peserta studi banding melanjutkan perjalanan ke TWA Debuk-Debuk dan TWA Sibolangit. Di TWA Lau Debuk-Debuk peserta melihat pengembangan sarana dan prasarana wisata yang sudah ada, seperti kolam air panas. Sedangkan di TWA Sibolangit peserta mendapatkan pembelajaran tentang pemberdayaan masyarakat khususnya Kelompok Sadar Wisata Alam Sibolangit Berseri dan Pengembangan Wisata Edukasi Konservasi dan Lingkungan. Turut hadir mendampingi kegiatan studi banding tersebut yaitu Kepala Bidang KSDA Wilayah I Mustafa Imran Lubis, S.P, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Herbert BP Aritonang, S.Sos, MH serta Kepala Resort CA/TWA Sibolangit Samuel Siahaan, S.P Sumber : Samuel Siahaan - PEH Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Gordang Sambilan Budaya Mandailing

Panyabungan, 13 April 2021. Masyarakat Mandailing Natal terkenal dengan masyarakat yang menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai nilai kearifan lokal yang menjadikan berbeda dari suku – suku yang ada di Sumatera Utara. Salah satu kesenian khas Suku Mandailing adalah Gordang Sembilan. Gordang artinya gendang atau bedug, sedangkan sambilan artinya Sembilan. Jadi Gordang Sambilan merupakan gendang atau bedug yang mempunyai panjang dan diameter yang berbeda sehingga menghasilkan nada yang berbeda pula. Biasa dimainkan oleh enam orang dengan nada gendang yang paling kecil 1,2 sebagai taba-taba, gendang 3 tepe-tepe, gendang 4 kudong kudong, gendang 5 kudong-kudong nabalik, gendang 6 pasilion, gendang 7,8,9 sebagai jangat. Sebelum Agama Islam masuk ke Sumatera Utara, masyarakat Mandailing menggunakan gordang sambilan dalam upacara Paturuan sibaso, yakni sebuah ritual memanggil roh nenek moyang yang nantinya akan merasuki medium sibaso. Upacara ini dilakukan jika terjadi kesulitan yang menimpa masyarakat Mandailing, seperti wabah penyakit menular. Tidak hanya itu, gordang sambilan juga biasa digunakan dalam upacara mangido udan (meminta hujan) oleh masyarakat Mandailing. Jika hujan sudah berlangsung cukup lama yang menimbulkan banjir dan kerusakan hasil panen, gordang sambilan juga digunakan untuk memohon agar hujan lekas berhenti . Tabung resonator gordang sambilan terbuat dari kayu yang dilubangi dan salah satu ujung lobang di bagian kepalanya ditutup dengan membran berupa kulit lembu yang ditegangkan dan diikat dengan rotan. Instrumen musik tradisional ini dilengkapi dengan sebuah ogung boru boru (gong berukuran paling besar atau disebut gong betina), ogung jantan (gong berukuran lebih kecil), doal (gong yang lebih kecil dari ogung jantan), tiga salempong atau atau mongmongan (gong dengan ukuran yang paling kecil) Selain itu ada alat tiup terbuat dari bamboo yang dinamakan sarune atau saleot dan sepasang sambal kecil yang dinamakan tali sasayat. Yang memimpin permainan ensambel gordang Sambilan disebut Panjangati. Beliau memainkan gordang yang paling besar (jangat). Seorang panjangati harus menguasai pola ritmik setiap instrumen dalam ansambel gordang sambilan dan memiliki selera ritme yang sangat tinggi. Dia bertugas mengolah nada nada ritme dari semua pola ritmik instrument gordang sambilan. Tiap instrument jika diberi aksen yang berbeda akan menimbulkan efek ketegangan yang berbeda beda. Saat ini gordang sambilan kerap dimainkan saat upacara perkawinan (Orja Godang Markaroan Boru) dan upacara kematian (Orja mambulungi). Penggunaan gordang sambilan untuk kedua upacara tersebut apabila untuk kepentingan pribadi harus terlebih dahulu mendapat izin melalui suatu musyawarah adat yang disebut markobar adat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Namora Natoras dan Raja beserta pihak yang akan menyelenggarakan upacara tersebut. Selain itu, juga harus disembelih paling sedikit satu ekor kerbau jantan dewasa yang sehat. Namun apabila persyaratan tersebut belum dapat dipenuhi maka Gordang Sambilan tidak boleh digunakan. Pada perkembangannya Gordang Sambilan ini masih digunakan oleh masyarakat Mandailing sebagai alat music sakaral. Meskipun demikian saat ini Gordang Sambilan juga dikenal sebagai alat musik kesenian tradisional Mandailing yang sudah popular di Indonesia bahkan di dunia. Sumber : Balai Taman Nasiona Batang Gadis
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Beri Bekal Mapala Genetika UISU

Medan, 12 April 2021. Salah Satu tugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara dalam menyelenggarakan fungsinya adalah pengembangan bina cinta alam serta penyuluhan konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya. Implementasi sebagaimana tugas tersebut dan dalam Rangka Road To HKAN 2021 pada tanggal 5 April 2021 di Ruang Sekretariat Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Gedung Johor Medan, Generasi Pencinta Kelestarian Alam Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (Genetika FP UISU) melaksanakan Penyuluhan KSDA dengan Judul Materi “Peran serta Mapala dalam Kegiatan Konservasi Sumber Daya Alam’. Materi yang disampaikan Ida Marini dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara sebagai bekal kepada setiap pengurus baru dan anggota lainya yang sering melaksanakan kegiatan Alam Bebas yang berhubungan erat dengan kegiatan konservasi. Sejak berdirinya Mapala Genetika FP UISU tanggal 12 Januari 1978 lalu sampai sekarang yang sudah angkatan ke 30 telah berjumlah lebih kurang 350 Orang sebagai anggotanya. Yang mana spesialisasi Mapala Ini kegiatan .Mountainering, Rock Climbing, Survival, Navigasi, Caving dan Rafting. Balai Besar KSDA Sumatera sebagai mitra bina cinta alam terus mendorong Mapala Genetika untuk aktif melaksanakan kegiatan Konservasi kedepanannya disamping kgiatan rutin Mapala. Mapala Genetika FP UISU diluar kampus memilih di Taman Wisata Alam Sibolangit sebagai Salah satu lokasi kegiatan Konservasi. Selalu berperan mengikuti acara peringatan Hari Konservasi dan Lingkungan Hidup, Pananaman Pohon di lereng terjal, Edukasi konservasi dan Lngkungan. Ida Marni sebagai Pemateri Sekaligus Pembina didampingi Samuel Siahaan juga Pengurus dan Anggota Mapala Wiria Dana ( Ketua Genetika), T. Bangun Saputra, M.Riza Firmansyah, Nurhabli Ridwan menyatakan perlunya Konservasi dalam setiap aktifitas Mapala Genetika didalam dan diuar Kampus. Jadikan Konservasi kedepannya sebagai salah satu pekerjaan yang bermanfaat. Senada disampaikan Samuel Siahaan laksanakan kegiatan Konservasi sekreatif mungkin, dengan demikian akan banyak jalan dan peluang berperan serta dalam kegiatan konservasi serta selalu mengkoordinasikan kegiatan Kepencitalaman kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara serta stake Holder lainnya guna mandapat dukungan yang luas. Sumber : Ida Marni dan Samuel Siahaan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Penguatan Fungsi Kawasan, Tingkatkan Perekonomian Masyarakat

Pekanbaru, 9 April 2021 - Budidaya sapi Bali di Kelompok Tani Tuah Sekampung, Kel. Kerumutan, Kec. Kerumutan, Kab. Pelalawan terus berkembang. Sapi hasil bantuan Badan Restorasi Gambut (BRG) berkembang biak dan dapat membantu masyarakat sekitar kawasan terutama anggota kelompok tani. Pada tahun 2021, Balai Besar KSDA Riau juga akan memberikan bantuan pengembangan usaha ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan. Untuk merealisasikannya, Tim Balai diturunkan melakukan pendampingan penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Kelompok Tani Tuah Sekampung. Kegiatan dihadiri seluruh perangkat Kelurahan. Hasil rapat kelompok untuk tahun 2021 masih mengarah ke budidaya sapi Bali dan dilengkapi dengan penanaman bibit rumput gajah sebagai pakan sapi. Pendampingan penyusunan RKT juga dilakukan Tim Balai Besar KSDA Riau kepada Kelompok Tani Setia Baru, Kel. Teluk Meranti, Kec. Teluk Meranti, Kab. Pelalawan. Untuk tahun 2021, Kelompok Tani tersebut masih mengarah ke budidaya sapi Bali dan dilengkapi dengan pembuatan pagar kawat budidaya. Tim juga melakukan sosialisasi bantuan pengembangan usaha ekonomi masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, seperti penanggulangan karhutla, sosialisasi illegal logging dan pencegahan perburuan satwa liar. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

SKW II Batam Sosialisasikan Peredaran dan Pemanfaatan TSL

Pekanbaru, 7 April 2021 – Dalam upaya melindungi Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di Indonesia, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Batam hadiri undangan Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim Badan Pengusahaan (BP) Batam, untuk melakukan sosialisasi terkait peredaran dan pemanfaatan TSL yang dikirim via Bandara Hang Nadim Batam. (1/4/2021) Kegiatan Sosialisasi ini dihadiri oleh General Manager beserta Manager BUBU Hang Nadim, Station Manager (SM) Lion Air, SM Lion Air Group, SM Garuda Indonesia, SM Citilink, SM Sriwijaya Air, sedangkan Pihak SKW II Batam dihadiri oleh Arianto (Polisi Kehutanan), Purwanto (Penyuluh Kehutanan) dan M.Rozy (Pengendali Ekosistem Hutan) Benny Syahroni selaku General Manager BUBU Hang Nadim BP Batam membuka acara tersebut secara resmi. Dalam sambutannya beliau menekankan pentingnya kerjasama antara pihak Balai Besar KSDA Riau, Pengelola Bandara dan Maskapai penerbangan. Hal ini dikemukakan karena masih adanya kasus pengangkutan TSL yang tidak disertai dokumen Surat Angkut TSL dan belum adanya sosialisasi tentang tata cara pengangkutan TSL kepada Maskapai Penerbangan di Batam. Untuk itu Balai Besar KSDA Riau bersama SKW II Batam akan segera melaksanakan acara serupa dengan audiens Perusahaan Kargo dan Avsec. Sumber : Balai Besar KSDA Riau.
Baca Artikel

Balai Besar Tana Bentarum Ajak Masyarakat Anggota KPP Studi Banding Pengelolaan Ekowisata

Putussibau, 6 April 2021 - Dalam upaya peningkatan pengelolaan pariwisata alam serta untuk menambah wawasan masyarakat di wilayah Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) bekerjasama dengan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) selenggarakan kegiatan studi banding di 3 lokasi: (1) BKSDA Jawa Barat-TN Gunung Ciremai-TN Gunung Merapi; (2) BKDSA Sumatra Utara-TN Gunung Leuser; dan (3) BKSDA Nusa Tenggara Barat-TN Gunung Rinjani. Kegiatan study banding direncanakan selama 6 (enam) hari dimana pesertanya merupakan masyarakat dari Kelompok Pengelola Pariwisata (KPP) yang berasal dari Desa di Wilayah TNBK dan TNDS berjumlah 12 (dua Belas) orang yang didampingi oleh 6 (enam) orang pegawai Balai Besar TaNa Bentarum. Sebelum keberangkatan menuju Jakarta, tim studi banding diberikan pembekalan langsung oleh Kepala Balai Besar TaNa Bentarum. “Agar semua tim dapat memanfaatkan studi banding ini sebaik-baiknya, pelajari semua bentuk pengelolaan ekowisata di masing-masing destinasi pada lokasi studi banding dan selalu menerapkan protokol kesehatan selama pelaksanaan study banding untuk menghidari terinfeksi Covid-19 “, ujar Arief Mahmud. Setelah tiba di Jakarta, peserta studi banding mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan diberi pengarahan langsung oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE). “ Pengembangan dalam menggali potensi wisata diperlukan waktu yang cukup lama, seperti halnya pada waktu saya ditugaskan di Taman Nasional Leuser mengembangkan potensi wisata Tangkahan, saat ini Tangkahan menjadi potensi wisata yang bernilai ekonomis tinggi khususnya bagi masyarakat,” ungkap Ir. Wiratno, M. SC. “ Kita perlu mendorong pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat, jadikan masyarakat sebagai pelaku utama dalam mengelola potensi sumber daya alam khususnya pemanfaatan jasa lingkungan bidang pengembangan ekowisata alam di masing-masing destinasi yang ada di Betung Kerihun maupun Danau Sentarum,” tambahnya. Sumber: Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Artikel

Penguatan Kapasitas MPA di SM Kuala Lupak dan Pulau Kaget

Sungai Telan Besar, 1 April 2021 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melalui Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru guna menghadapi musim kemarau 2021 melaksanakan penguatan kapasitas Masyarakat Peduli Api (MPA) Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak dan Pulau Kaget di Kantor Desa Sungai Telan Besar. Keberadaan Kelompok MPA merupakan salah satu komponen pendukung yang sangat penting dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan sehingga perlu diberikan pembinaan atau penguatan kapasitas terkait upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan khususnya pada kawasan konservasi secara rutin dan berkesinambungan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan terhadap kelompok MPA yang telah dibentuk oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan pada Tahun 2020 sebanyak 30 (tiga puluh) orang terdiri dari 15 (lima belas) orang masyarakat Desa Sungai Telan Besar dan 15 (lima belas) orang masyarakat Desa Tabunganen Muara. Adapun materi yang diberikan berupa kesiagsiagaan kejadian Karhutla, peran serta masyarakat (pembukaan lahan tanpa bakar), penguatan kelembagaan MPA, pengenalan peralatan pemadaman, simulasi dasar pemadaman, dan juga praktek pemadaman lanjutan. Kepala Balai Kalsel Dr. Mahrus mengatakan bahwa dengan adanya kegiatan pembinaan Kelompok Masayarakat Peduli Api ini diharapkan agar kelompok MPA secara sukarela peduli terhadap upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan khususnya pada kawasan SM Kuala Lupak dan Pulau Kaget. Pembinaan ini bertujuan untuk menguatkan kelembagaan dan meningkatkan kapasitas MPA dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta sebagai upaya antisipasi bahaya kebakaran menjelang musim kemarau. Lebih lanjut Dr. Mahrus juga menyampaikan pentingnya menjaga Kawasan Konservasi dan Mandat Pengendalian Kebakaran Hutan Bagi UPT Ditjen KSDAE berdasarkan PERMENLHK No. P.8/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja UPT Konservasi Sumber Daya Alam yaitu salah satunya Pengendalian kebakaran hutan di Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata Alam dan Taman Buru. Kegiatan Pembinaan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat serta merangsang tumbuhnya inisiatif masyarakat dalam pelestarian ekosistem lingkungan kawasan konservasi. Sebagai informasi, kegiatan dihadiri Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru M. Ridwan Effendi, S.Hut M.Si, Kepala Resort SM.Kuala Lupak dan SM. Pulau Kaget Ahmad Barkati serta Urusan Pengendalian Kebakaran Hutan Suparni, S.Hut. Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Sungai Telan Besar Bapak Amberin yang mengucapkan terima kasih kepada Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan karena telah menunjuk pihaknya untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut dan siap mendukung BKSDA Kalimantan Selatan dalam upaya pencegahan kebakaran di kawasan konservasi SM. Kuala Lupak. Acara ini dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. (ryn) Sumber: Suparni, S.Hut - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Pemberdayaan Masyarakat di Taman Nasional Batang Gadis

Panyabungan, 6 April 2021. Sebagai salah satu fungsi kawasan konservasi yaitu pemanfaatan, Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) turut memberikan manfaat bagi masyarakat desa penyangga. Salah satunya yaitu memberikan bantuan pemberdayaan masyarakat. Tujuannya adalah untuk membantu perekonomian masyarakat yang ke depannya membantu masyarakat keluar dari ketergantungan terhadap hutan sehingga kawasan tetap lestari dan masyarakat sejahtera. Awal pemberian bantuan dimulai tahun 2013, pada saat itu pemberian bantuan secara langsung kepada desa melalui Kepala Desa dan jenis bantuan ditentukan oleh Kepala Desa yang disesuaikan terhadap kebutuhan masyarakat desa. Sistem pemberian seperti ini berlangsung hingga tahun 2017. Mulai tahun 2018 pemberian bantuan melalui kelompok masyarakat, karena itu perlu adanya monitoring sehingga dapat diukur keberhasilan pemberian bantuan tersebut terhadap kesejahteraan masyarakat dan meminimalisir kerusakan hutan. Dan saat ini, bantuan ekonomi produktif ini bukan saja dapat berdaya guna tetapi diharapkan dapat menjadi produk unggulan dari desa yang diberi bantuan sehingga bantuan bukan saja berbentuk barang tetapi dapat berupa pelatihan demi meningkatkan sumber daya masyarakat desa. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Wisata Gua di Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Sofifi, 5 April 2021. Pulau Halmahera menyimpan beragam kekayaan alam. Tidak hanya hasil dari bahan mineral dan hutan. Memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi membuat Kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) menjadi salah satu kawasan konservasi di Indonesia yang menjadi tujuan bagi para peneliti dan pecinta wisata alam. Selain terkenal dengan surga burung di Indonesia, kawasan TNAL ini juga memiliki potensi geodiversity berupa bentang alam karst. Khususnya bagi Anda yang suka akan wisata alam dan menerobos rimbunnya hutan belantara. Tidak perlu mengeluarkan uang puluhan jutaan Rupiah untuk dapat menikmatinya, karena di Maluku Utara juga masih banyak tempat-tempat wisata yang eksotis tapi masih jarang dikunjungi kebanyakan orang, seperti wisata susur gua yang berada di Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Secara artian luas, gua adalah cerukan ke dalam atau rongga yang terbentuk secara alami oleh erosi air atau faktor alam lainnya. Menurut penjelasan dari International Union of Speleogoly (IUS), gua adalah setiap ruangan bawah tanah yang berbentuk lorong dan dapat ditelusuri atau dimasuki manusia. Kawasan resort Akejawi merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata yang terletak di Desa Akejawi, Kecamatan Wasilei Selatan, Kabupaten Halmahera Timur. Kawasan resort Akejawi adalah kawasan dengan bentangan alam karst terbesar dan memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara. Hampir semua jenis gua bisa ditemukan di kawasan ini. Wilayah TNAL terletak di tiga kabupaten dan satu kota yakni Kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Tengah dan Kota Tidore Kepulauan. Kawasan konservasi ini, memiliki luas mencapai 167.319,32 ha. Balai TNAL pekan ini telah selesai melaksanakan kegiatan survei dan Inventarisasi Gua di kawasan resort Akejawi, pada 25 Maret hingfa 4 April 2021 kemarin. Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, T. Heri Wibowo menyampaikan bahwa "Kegiatan survei dan inventarisasi Gua di kawasan karst yang berada di resort Akejawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata bertujuan untuk memetakan sebaran gua-gua yang terdapat di Resort Akejawi dan mengidentifikasi jenis-jenis gua yang yang berada dikawasan tersebut". Heri juga menambahkan "Output dari kegiatan ini juga, bukan hanya sekadar memetakan dan mengetahui sebaran dan jenis-jenis gua, tetapi hasil dari kegiatan ini juga sebagai bahan dan data awal guna pertimbangan untuk menjadikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai bagian dari Geopark Nasional. Mengingat kawasan resort akejawi memiliki potensi sebaran karst terbesar serta memiliki sebaran gua terbanyak di Maluku Utara". Selain melibatkan tim speleologi dari Taman Nasional Aketajawe Lolobata, kegiatan ini, kami juga melibatkan tim ahli dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia Maluku Utara, yaitu Bung Dedy Arief yang juga sebagai ketua IAGI Malut, Tambah Heri. Heri bilang, Terdapat 51 gua yang telah ditemukan dikawasan resort Akejawi dan sebagian sudah teridentifikasi dan telah dipetakan. "Saya berharap kawasan ini kedepan akan dikembangkan menjadi destinasi wisata favorit khususnya wisata alam minat khusus yaitu susur gua (caving) di Provinsi Maluku Utara dan juga nantinya akan berdampak positif kepada masyarakat sekitar kawasan TNAL. Menurut ketua ikatan ahli geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara, Dedy Arief menyampaikan bahwa, "sesuai hasil observasi dan inventarisasi kawasan karst Resort Akejawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata, memiliki ragam morvologi endokarst (stalaktit, stalakmit, flowstone, pilar, tirai, Chamber, sungai bawah tanah, jendela karst, terowongan dan jembatan alam) dan eksokarst terdiri dari Polje, menara karst dan uvala yang sangat layak untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata minat khusus dan bagian dari Geopark Nasional. Disampingi itu, sumber air tanah dari karst juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih di Desa Akejawi dan sekitarnya", tambah Dedy. Bagi anda penikmat wisata alam, wajib mengunjungi kawasan ini. Untuk menuju ke kawasan resort akejawi, aksesnya bisa terbilang sangat mudah. Dari Sofifi menuju ke Desa Akejawi bisa di tempuh dengan kendaraan bermotor, dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam stengah. Untuk wisatawan yang tidak memiliki peralatan untuk caving, tidak perlu khawatir karena di Taman Nasional Aketajawe Lolobata juga menyediakan peralatan atau perlengkapan khusus caving lengkap dengan guide profesional yang siap memandu anda menyusuri setiap sudut kawasan karst di resort Akejawi. Tunggu apa lagi sobat hijau, ayo datang dan nikmati pesona alamnya serta rasakan sensasi petualangan menyusuri gua-gua di Resort Akejawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sumber : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

Batang Gadis di Bumi Mandailing

Panyambungan, 30 Maret 2021 - Batang Gadis sebagai wilayah administratif sudah muncul sebagai wilayah kabupaten sejak awal Indonesia merdeka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, wilayah (yang saat ini dikenal sebagai Kabupaten) Mandailing Natal dibentuk menjadi Kabupaten Batang Gadis dengan ibukotanya Kotanopan. Kabupaten ini dipimpin oleh Bupati Raja Junjungan Lubis, kemudian Fachruddin Nasution. Dengan beberapa pertimbangan pula, ibukota Kabupaten yang semula Kotanopan dipindahkan ke Panyabungan. Pada tahun 1950, terjadi lagi perubahan wilayah administrasi pemerintahan. Kabupaten Batang Gadis digabungkan dengan Kabupaten Angkola dan Kabupaten Padang Bolak_ed ke (/menjadi_ed) Kabupaten Tapanuli Selatan (Nasution, 2014). Pada tahun 1999, kabupaten ini kembali berdiri dengan nama Mandailing Natal (Madina). Saat ini, Batang Gadis selain menjadi nama taman nasional, juga dipakai menjadi nama oleh satu desa, yaitu Desa Batang Gadis di Kecamatan Panyabungan Barat. Satu kecamatan di pantai barat Mandailing Natal juga memakai nama ini, yaitu Kecamatan Muara Batang Gadis. Dalam bahasa Mandailing, Batang mengacu pada arti ‘badan’ sungai yang besar. Oleh karena itu, selain Batang Gadis, sungai-sungai besar di wilayah ini juga serupa menggunakan kata ‘batang’, seperti : Batang Natal, Batang Parlampungan, Batang Angkola, dan Batang Batahan. Nama Gadis pada Batang Gadis, sejauh ini diketahui berasal dari dua kisah simbolisasi. Kisah pertama menyebutkan, bahwa sungai ini berhulu di Gunung Kulabu di wilayah adat Mandailing Julu, mengumpulkan air dari Batang Pungkut dan Aek Mais, melintas Kotanopan, Tambangan, hingga ke Panyabungan, kota keramaian di wilayah adat Mandailing Godang. Batang Gadis bertemu padu dengan Batang Angkola di Kecamatan Siabu, menembus rimbun hutan hingga akhirnya sampai ke pantai barat Sumatera, melaut di Singkuang. Dari puncak-puncak Bukit Barisan, Batang Gadis akan terlihat meliuk-liuk indah. Berbelok di sela bukit, lurus menembus lembah hutan dan dolok (gunung). Keindahan jalurnya inilah yang diibaratkan seperti seorang gadis yang menari, sehingga sungai terpanjang di Bumi Mandailing ini disebut sebagai (sungai) Batang Gadis. Kisah kedua berhubungan erat dengan sosiohistoris masyarakat yang mendiami tepiannya. Orang Mandailing memiliki hubungan erat dengan sungai. Selain pemukiman yang seringkali berjajaran dengan alur sungai, keberadaan sumber air untuk kehidupan adalah asal muasalnya. Sebagai masyarakat agraris, masyarakat Mandailing membutuhkan sungai sebagai sumber pengairan sawah dan perladangan. Sebagai pusat penyebaran agama Islam, sungai menjadi sumber air untuk bersuci (thoharoh), sehingga masjid-masjid seringkali dibangun di pinggiran sungai. Selain itu, tepian sungai juga menjadi pusat aktivitas domestik, mencuci dan berbersih yang umumnya dilakukan oleh kaum ibu dan anak-anak gadis. Karena Batang Gadis melintasi banyak pemukiman mulai dari Mandailing Julu sampai ke Mandailing Godang, hingga ke kampung masyarakat Pesisir di pantai barat, maka sungai ini sangat dikenal oleh seluruh masyarakat Mandailing. Setiap hari di setiap perkampungan yang dilewati, aek godang (air/sungai besar) ini diramaikan anak-anak gadis yang mencuci, mengambil air, ataupun membersihkan bahan makanan untuk dimasak. Dari situlah, menurut versi kisah ini, muncul sebutan bagi sungai ini menjadi Batang Gadis. Sumber : BTN Batang Gadis
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Riau Gelar Evaluasi Kesesuain Fungsi (EKF) Kawasan Konservasi di Kepulauan Riau

Pekanbaru, 29 Maret 2021 - Balai Besar KSDA Riau melaksanakan kegiatan Evaluasi Kesesuain Fungsi (EKF) pada tanggal 24 sd 25 Maret 2021. Upaya untuk menentukan status fungsi salah satunya dilakukan melalui EKF berdasarkan permen P.49/Menhut/2014 tentang Tatacara Pelaksanaan Evaluasi Kesesuaian Fungsi KSA/KPA. Terdapat 5 kawasan konservasi yang di kelola Balai Besar KSDA Riau. Salah satunya Pulau Batam yang memiliki 2 kawasan konservasi sedangkan 3 kawasan lainnya berada di Pulau Bintan. Ketiga kawasan yang ada di Bintan ini statusnya masih dalam katagori Kawasan Suaka Alam (KSA) atau Kawasan Pelestarian Alam (KPA) Gunung Kijang dengan luas 462 Ha, KPA/KSA Gunung Lengkuas dengan luas 689 Ha dan KSA/KPA Sungai Pulai dengan luas 71 Ha. Kawasan ini telah ada sejak tahun 1986 melalui Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tahun 1986. Suharyono selaku Kepala Balai Besar KSDA Riau membuka acara tersebut secara resmi. Acara dihadiri oleh semua tim terpadu sesuai dengan SK yang telah ditetapkan Kementerian LHK yaitu dari Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) ditjen KSDAE, Direktorat Kawasan Konservasi (KK) ditjen KSDAE, Balai Besar KSDA Riau, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Kepulauan Riau, Bapenlitbang Provinsi Kepulauan Riau, Camat Gunung Kijang, Camat Bintan Timur, pemerintahan Desa Gunung Kijang, pemerintahan Kelurahan Gunung Lengkus dan KPHP unit IV Bintan. Kemudian, acara dilanjutkan dengan kunjungan lapangan pada ketiga kawasan KSA/KPA tersebut dan melakukan diskusi untuk menggali informasi-informasi lain dari tim yang hadir sekaligus diskusi untuk penetapan rekomendasi tim. Dokumen yang disusun akan ditindaklanjuti dengan menyampaikannya ke kementerian melalui Direktorat Jenderal KSDAE. Sumber : Balai Besar KSDA Riau.
Baca Artikel

Mayora Group Dukung BBTNGGP Wujudkan “Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo”

Sukaresmi, 27 Maret 2021. Salah satu mitra Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group) memiliki komitmen dalam pemulihan ekosistem selama 5 (lima) tahun terakhir. Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Besar TNGGP Wahju Rudianto, S.Pi., M.Si. melalui Kabid PTN Wilayah III pada pembukaan kegiatan penanaman pohon bersama PT. Tirta Fresindo Jaya Plant Cimande yang dihadiri Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, Kepolisian Sektor (Polsek) Megamendung, Polsek Caringin, Pemerintah Kecamatan Caringin, jajaran pimpinan dan staf PT. Tirta Fresindo Jaya (PT. TFJ) Plant Cimande, serta desa dan tokoh masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Perjalanan kerjasama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan PT. Tirta Fresindo Jaya selama 5 tahun dari tahun 2017. Kerjasama ini menaungi 2 plant dari PT. TFJ yaitu Plant Cimande dan Ciherang dimana masing-masing telah menanam 2.000 pohon pada 4,5 hektar total 4.000 pohon pada 9 hektar Zona Rehabilitasi di wilayah Resort PTN Tapos. Khusus untuk PT. TFJ Plant Cimande menanam sebanyak 2.000 pohon pada luasan 4,5 hektar di Blok Hutan Arca, Resort PTN Tapos, Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang PTN Wilayah III. Lokasi tersebut masuk ke dalam administratif Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor dan merupakan areal yang masuk dalam target pemulihan ekosistem TNGGP tahun 2020-2024 jenis pohon yang dipilih dalam penanaman diantaranya: manglid (Manglieta glauca BI.), janitri (Elaeocarpus ganitrus), rasamala (Altingia excelsa), pulai/ lame (Alstonis scholaris), dan huru (Machilus rimota). Sesuai rencana pelaksanaan program, hingga akhir kerjasama telah tertanam 20.000 pohon pada luasan 40 hektar. Berdasarkan data yang dihimpun oleh TNGGP, dari tahun 2017-2021 lokasi yang sudah tertanami sebagai berikut: Blok Panyusuhan (2 hektar), Blok Pasir Pogor (6,5 hektar), Blok Arca (12,5 hektar), Blok Ciketereg (14 hektar), dan Pasir Benyeng (5 hektar). “Kami menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas komitmen dan kontribusi pihak Mayora Group dalam pengelolaan TNGGP dimana salah satunya pada pemulihan ekosistem hutan” tutur Kepala Bidang PTN Wilayah III TNGGP kembali. PT. Tirta Fresindo Jaya-Plant Cimande dalam sambutannya yang diwakili oleh Grup Departement Head, Yoki Isra menuturkan bahwa perusahaan memiliki komitmen untuk ikut serta dalam upaya penyelamatan lingkungan. Selain perwakilan TNGGP dan PT. TFJ Plant Cimande, Kepala Kepolisian Sektor Megamendung menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya yang dilakukan oleh TNGGP dan mitra dalam penyelamatan hutan mengingat Kecamatan Megamendung tergolong pada area rawan bencana longsor. Desa Sukaresmi tergolong pada area rawan bencana longsor dengan topografi curam dan pemukiman masyarakat padat. Kegiatan pemulihan ekosistem ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat yaitu Kelompok Tani Hutan Arca Domas Pangrango dan Masyarakat Mitra Polhut RPTN Tapos pada tahun 2021. Eksistensi kedua mitra ini memberikan warna dalam pengelolaan wisata. Kelompok tersebut memiliki inisiatif dalam pengembangan wisata pada Zona Pemanfaatan di Blok Arca. Saat ini masyarakat telah melakukan pengembangan paket wisata di luar kawasan TNGGP dengan mengusung wisata syariah. Selain kegiatan pemulihan ekosistem, TNGGP bersama PT. TFJ Plant Cimande juga memiliki komitmen dalam pemberdayaan masyarakat. Setelah selesainya aktifitas penanaman, pada Bulan April 2021 segera dilaksanakan pelatihan budidaya lebah madu bagi masyarakat anggota KTH Arcadomas serta MMP. Sebagai informasi, dalam Rencana Pemulihan Ekosistem Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) tahun 2020-2024 terdapat sekitar 604 hektar yang yang ditargetkan untuk dipulihkan kondisinya dalam beberapa tingkat kerusakan. Dari luasan tersebut 291 hektar (48,15%) diantaranya merupakan kategori rusak sedang dengan jenis vegetasi hutan tanaman damar, puspa, ekaliptus, pinus, kayu manis, dan kaliandra yang sebelumnya dikelola oleh Perhutani, serta kawasan lainnya berupa kebun campuran, belukar tua, dan hutan sekunder. Hutan dengan jenis vegetasi tersebut dikategorikan sebagai ekosistem terdegradasi mengingat bukan merupakan jenis asli setempat. Skema pembiayaan pemulihan ekosistem tersebut antara lain dilakukan melalui program RHL (Ditjen PDASHL) program pemulihan ekosistem (Ditjen KSDAE) serta kontribusi dari mitra Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Semoga cita-cita TNGGP “Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo” atau hutan lestari masyarakat sejahtera dapat segera terwujud. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Bidang PTN Wilayah III-Balai Besar TNGGP Foto : Ayi Rustiadi dan Fahmi Ardian Afif
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Sumut Bahas Perjanjian Kerja Sama Dengan Kodam I Bukit Barisan

Medan, 26 Maret 2021 - Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama Komando Daerah Militer (KODAM) I Bukit Barisan melakukan pembahasan draft Perjanjian Kerja Sama tentang Pembangunan Strategis Yang Tidak Dapat Dielakkan Berupa Pemanfaatan Kawasan Untuk Areal Latihan Militer Resimen Induk Daerah Militer (RINDAM) I Bukit Barisan Di Cagar Alam (CA)/Taman Wisata Alam (TWA) Dolok Tinggi Raja Sumatera Utara, pada Rabu 24 Maret 2021, di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Perjanjian Kerja Sama ini merujuk kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.85/Menhut-II/2014 jo. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.44/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.85/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Kerja Sama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Selain itu juga didasarkan kepada surat Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : S.899/KSDAE/PIKA/KSA.0/10/2020 tanggal 23 Oktober 2020, hal Persetujuan Kerja Sama Pemanfaatan Kawasan Untuk Areal Latihan Militer RINDAM I/Bukit Barisan di CA. Dolok Tinggi Raja Sumatera Utara. Rapat dipimpin oleh Teguh Setiawan, S.Hut., MM. selaku Kepala Bagian Tata Usaha mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dalam rapat tersebut membahas poin-poin penting dari draft Perjanjian Kerja Sama (PKS), yang meliputi : tujuan dari PKS, ruang lingkup, hak dan kewajiban, status aset, jangka waktu dan perpanjangan kerja sama, berakhirnya kerja sama serta monitoring, evaluasi dan pelaporan PKS. Rapat ini dihadiri pejabat dari KODAM I Bukit Barisan, seperti : Letkol Artileri Medan (ARM) Masturi - Staf Perencanaan Kodam, Letkol Kavaleri (KAV) Edwin - Slogdam I/BB, Mayor Corps Zeni (CZI) Borkat MS- Zidam I/BB, Mayor Corps Hukum (CHK) M. Bilal, SH.-Kumdam I/BB, Mayor Corps Zeni (CZI) Joko S.-Slogdam I/BB dan Mayor Infanteri (INF) Widhitama-Sopsdam I/BB. Sedangkan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara turut dihadiri oleh Kepala Bidang Teknis Ir. Irzal Azhar, M.Si., Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Seno Pramudita, S.Hut., M.E., Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L., dan Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Amenson Girsang, SP. Demi menerapkan protokol kesehatan, rapat bukan hanya dilakukan secara off-line tetapi juga dilakukan on-line (virtual) dengan melibatkan dari Direktorat PIKA Ditjen KSDAE diwakili Jujuwiyono, Sekretariat Ditjen KSDAE diwakili Adam Bahtiar dan Rini, serta dari RINDAM I/Bukit Barisan diwakili Mayor Arhanud (ARH) Sugianto. Setelah pembahasan PKS selesai, peserta rapat sepakat pula untuk kelanjutannya dalam mempersiapkan penyusunan turunan dari PKS, yaitu Rencana Pelaksanaan Program (RPP), Rencana Kegiatan Lima Tahun (RKL) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara.
Baca Artikel

Gelar Forum Konsultasi Publik, BKSDA Sumatera Selatan Bahas RPJP TN Gunung Maras

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan 1 dari 2 wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel). Di Provinsi ini, BKSDA Sumsel mengelola 3 kawasan konservasi yaitu TWA Gunung Permisan, TWA Jering Menduyung, dan TN Gunung Maras. Ketiganya ditetapkan status fungsinya sejak tahun 2016, sehingga sampai dengan saat ini fokus pengelolaan termasuk dalam hal perencanaan kawasan, seperti yang dilakukan pada hari ini, Kamis (25/3) di kota Pangkalpinang melalui kegiatan “Konsultasi Publik Rencana Penyusunan Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Nasional (TN) Gunung Maras periode 2021-2030”. Kegiatan ini dibuka oleh Ujang Wisnu Barata selaku Kepala BKSDA Sumsel, dengan dihadiri sebanyak 30 orang dari unsur pemerintahan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Bangka Barat, Kecamatan dan Desa sekitar TN Gunung Maras, UPT Kementerian LHK lingkup Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Universitas Bangka Belitung, Yayasan ALOBI, Kelompok Pecinta Alam setempat serta turut hadir Ketua Komisi III DPRD Kepulauan Bangka Belitung. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber, Rudijanta Tjahja Nugraha, perwakilan dari Direktorat Kawasan Konservasi dengan materi “Menetapkan Nilai Penting Kawasan dalam Rangka Pengelolaan” Martini selaku perwakilan dari Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga menambahkan materi “Perspektif Taman Nasional (TN) Gunung Maras dalam Perencanaan Pembangunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. Adapun pembahasan draf RPJP oleh Tim Penyusun beserta diskusi, dan ditutup dengan penandatanganan berita acara Konsultasi Publik. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan.

Menampilkan 1.889–1.904 dari 1.989 publikasi