Sabtu, 3 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Bina Daerah Penyangga, Kepala BTN Taka Bonerate Sambangi Jinato & Pulau Bonerate

Benteng, 1 Mei 2021 - Kepala Balai bersama Ketua DWP Persatuan Balai TN Taka Bonerate melihat perkembangan desa penyangga di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 2 Jinato dan di Pulau Bonerate. Kunjungan kerja (Kunker) ini didampingi Kepala SPTN Wilayah 2 Jinato bersama beberapa petugas resort (28 s.d 30 April 2021). Pada hari pertama, kunker dilaksanakan di Resort Pasitallu Timur-Desa Khusus Pasitallu berupa pembinaan resort dan personil. Kepala Balai melihat dan mendengarkan langsung pelaksanaan Resort Based Management (RBM) dari petugas resort. Kemudian dilanjutkan bersilaturahmi dengan masyarakat nelayan pengolah ikan kering, dimana pada kesempatan ini Kepala Balai mendengarkan permasalahan yang dihadapi dan memberikan sumbang saran kepada mereka. Setelah itu, Kepala Balai juga menemui beberapa tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh agama. Kepala Balai juga melakukan sosialisasi terkait pengelolaan TN Taka Bonerate dan meminta dukungan agar bersama-sama memberantas illegal dan destructive fishing di dalam kawasan TN Taka Bonerate. Terakhir dilanjutkan dengan buka puasa bersama dengan masyarakat di kantor Resort Pasitallu Timur. Keesokan harinya, kunker dilanjutkan ke Resort Pasitallu Tengah-Desa Tambuna juga berupa pembinaan resort dan personil yang dilanjutkan dengan pembinaan kelompok kemitraan konservasi binaan Balai TN Taka Bonerate. Kepala balai mengunjungi Kelompok Melati yang disambut hangat oleh ketua kelompok, Ibu Halifa. Kepala Balai dan Ibu Halifa berdiskusi terkait administrasi kelompok dan pemasaran produk. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa produk utama kelompok ini adalah Garoppo Juku yang sudah dikenal luas masyarakat dan pemasarannya sudah sampai ke luar negeri. Kepala Balai dan rombongan kemudian bertolak ke Pulau Bonerate. Pulau Bonerate adalah salah satu pulau terluar Kabupaten Kepulauan Selayar yang berbatasan dan dekat dengan Reok-NTT. Pulau ini sangat strategis sebagai penyangga TN Taka Bonerate khususnya dalam mencegah aktivitas illegal dan destructive fishing. Pada kesempatan ini, Kepala Balai bersilaturahmi dengan tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh agama juga meminta dukungan untuk bersama-sama memberantas illegal dan destructive fishing serta tidak lagi melakukan destructive fishing di dalam TN Taka Bonerate. Kemudian acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama dengan masyarakat di salah satu rumah warga. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

“OTW” Terintegrasi BBTNGGP Menuju WBK dan WBMM

Bogor, 29 April 2021. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) menyelenggarakan kegiatan kunjungan ke wilayah Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III dalam rangka Observasi Terhadap Wilayah (OTW). Kegiatan dillakukan untuk memonitoring, evaluasi program yang telah dijalankan sekaligus identifikasi perkembangan permasalahan yang dihadapi di tingkat tapak atau resort sebagai unit terkecil, menghimpun kebutuhan masing-masing resort untuk tahun 2022 dan data SIDAK KSDAE, serta penertiban administrasi Barang Milik Negara (BMN) melalui penyerahan Daftar Barang Ruangan (DBR). Namun, ada agenda terpenting yang dibawa dalam rangka melakukan sosialisasi atau memberikan pemahaman program TNGGP Menuju Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Dalam 6 bulan kedepan, TNGGP mempersiapkan diri dalam membangun mentalitas budaya kerja pegawai yang terangkum dalam slogan “MaTul JaWa” dimana menyimpan makna Ma (Malu Korupsi, Tul (Tulus Bekerja), Ja (Jangan Terima Suap), dan Wa (Wajib Akuntabel). Slogan tersebut merupakan salah satu dari nilai budaya kerja dalam Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP Nomor:SK.173/BBTNGGP/TU.2/03/2021 dan merupakan turunan dari nilai-nilai luhur budaya kerja lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yaitu DJITOE yang terdiri nilai Dispilin, Jujur, Ikhlas, Tanggung Jawab, Profesional dan Kerjasama. Tentunya hal ini tidak mudah membutuhkan dukungan dan peran serta dari berbagai pihak terutama seluruh pegawai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Guna mempercepat implementasi pelaksanaan program menuju WBK dan WBBM, KLHK menetapkan Agen Perubahan Budaya Kerja yang disyahkan melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: 5/MENLHK/SETJEN/SDM.1/1/2021. Agen Perubahan ini memiliki peran sebagai role model, katalisator, penggerak perubahan dan penggerak pegawai, mediator, pemberi solusi dan penghubung antara pegawai dengan pimpinan. TNGGP terdapat 7 (tujuh) orang Agen Perubahan yang terdiri dari unsur pejabat Eselon II dan III TNGGP. Agar sinergi pelaksanaan cita-cita TNGGP Menuju WBK dan WBBM dengan pelaksanaan fungsi/ program pengelolaan TNGGP maka dilakukan OTW dengan target yaitu 15 resort yang berada di TNGGP. Kesempatan kali ini Resort PTN Tapos dan Resort PTN Bodogol menjadi target kunjungan. Kedua resort tersebut dibawah naungan Bidang Pengelolaan TN Wilayah III Bogor. Kegiatan kunjungan dilaksanakan di Kantor Resort PTN Tapos, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupatem Bogor yang diawali dengan pemaparan tipologi resort, perkembangan program kegiatan 3P (Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan) serta cita-cita resort dalam 3 tahun ke depan. Ade Frima Nurcahya Intan satu-satunya Kepala Resort Wanita di TNGGP dalam penyampaiannya ingin mengedepankan upaya pemberdayaan masyarakat sebagai garda terdepan dalam menunjang fungsi pengelolaan karena Resort Tapos memiliki keterkaitan dengan masyarakat desa penyangga yang cukup tinggi, Resort PTN Tapos memiliki 4 desa penyangga dimana keempat desa telah memegang Ijin Pemanfaat Air (IPA) dan Ijin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA). Sementara Resort PTN Bodogol sangat erat dengan kegiatan pendidikan konservasi yang ditunjang dengan adanya Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB). Impian dari Resort PTN Bodogol yang disampaikan oleh Kepala Resortnya, Agung Gunawan. Kami berupaya mewujudkan Bodogol “EDAN” (Effective-Efficient, Dedicative, Analytical, Novelty) bersama dengan mitra secara “EPIC” (Educative, Professional, Interactive, dan Creactive) dalam pengembangan wisata, pendidikan lingkungan, dan kerjasama. Beberapa hal yang menjadi catatan penting dari Kepala Balai Besar TNGGP yaitu: telah ditetapkan Lima Prinsip Kerja Pengelolaan TNGGP melalui Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP Nomor:SK.174/BBTNGGP/TU.2/03/2021 yang harus dipedomani antara lain mengetahui isi/ potensi dari setiap jengkal wilayah kerja, mengetahui kondisi, tren dan sebaran dari isi/ potensi, mengetahui program intervensi pengelolaan berdasarkan data akurat, mengetahui tipologi masyarakat sekitar kawasan, mengembangkan nilai kemanfaatan kawasan untuk kelestarian kawasan, masyarakat dan bangsa yang mengacu pada Sepuluh Cara Baru Pengelolaan Kawasan Konservasi; impian dari resort agar dituangkan dalam bentuk kegiatan yang disusun berdasarkan skala prioritas dan diusulkan kepada Sub Bagian Program dan Kerjasama sehingga anggaran tahun 2022 sudah mengacu pada cita-cita di masing-masing resort. Selain itu juga, dalam rangka sosialisasi WBK dan WBBM, membutuhkan kerjasama semua pihak dalam meningkatkan budaya kerja khusus masing-masing pegawai. Menanggapi hal tersebut, pegawai lingkup Resort PTN Tapos dan Bodogol menyatakan siap mendukung TNGGP Menuju Zona Itegritas WBK dan WBBM. Sebagai informasi, rombongan tim terdiri dari Kepala Balai Besar, Kepala Bidang Teknis Konservasi, Kepala Sub Bagian Umum, Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan serta Kepala Bidang PTN Wilayah III sebagai tuan rumah. Mari dukung BBTNGGP sebagai Satuan Kerja Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Menuju WBK dan WBBM. MaTul JaWa…Yessss…. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks: Ratih Mayangsari – Penyuluh Kehutanan Dok: Bidang PTN Wilayah III Bogor & ITTO
Baca Artikel

Diskusi Konservasi Bersama Penggiat Konservasi Sumatera Utara

Medan, 29 April 2021. Selama 2 (dua) hari pada tanggal 23 - 24 April 2021 Balai Besar KSDA (BBKSDA) Sumatera Utara bersama penggiat konservasi sebanyak 50 (lima puluh) melaksanakan diskusi bersama terkait keselarasan bidang ekologi, ekonomi dan sosial di Cafe Kuta Garunggung Village Kec. Kuala Kab. Langkat. Kegiatan ini didukung atas kerjasama BBKSDA Sumut dengan ISCP, KUN, KAKHI, BBTNGL dan BPSKL Wilayah Sumatera. Kepala BBKSDA Sumatera Utara yang diwakili Suyono, S.H, M.Si, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan, menyampaikan bahwa penggiat konservasi dan masyarakat agar tetap semangat serta berperan aktif membantu pemerintah dalam kegiatan konservasi sumber daya alam. Diskusi konservasi diisi dengan penyampaian materi dari beberapa narasumber, antara lain materi konservasi yang disampaikan oleh Ida Marni, staf BBKSDA Sumatera Utara, bahwa konservasi terintegrasi pada semua aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap orang menyadari keberadaan SDA hayati dan ekosistemnya sebagai sumber kehidupan. Artinya bagaimana kita harus mampu menselaraskan semua aktifitas dan kebutuhan hidup dengan ketersediaan sumber daya alam, mengingat ketersediaanya yang terbatas. Artinya bagaimana keselarasan ekonomi ekologi dan sosial mampu diwujudkan. Selain itu, mengingatkan juga bahwa penggiat konservasi, nantinya akan ditetapkan sebagai Kader Konservasi Alam yang memiliki peran serta untuk konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, berdasarkan keahlian di bidangnya masing-masing. Sebagai contoh, masyarakat Desa Gerunggang memanfaatkan jasa lingkungan alam sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan memanfaatkan objek wisata alam yang sangat menarik dengan menyuguhkan view kawasan TNGL. Selain itu juga masyarakat secara swadaya melakukan budidaya aren sebagai sumber penghasilan ekonominya. Terlepas dari itu semua kelompok masyarakat Desa Gerunggang selaku penggiat konservasi juga aktif berperan serta dalam penyuluhan dan penyelamatan orangutan meskipun orangutan mengambil juga hasil panen kebun, tetapi mereka beranggapan bahwa itu bukan sebuah konflik manusi dengan satwa liar. Selanjutnya, Kepala Resort Bekancan Balai Besar TNGL, John Maruli Purba menyampaikan tentang penanganan konflik satwa. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan upaya-upaya dan pengalaman dalam penyelamatan Harimau Sumatera di wilayah TNGL yang sudah banyak memakan korban khususnya ternak. Oleh karena itu dihimbau kepada pemilik ternak agar membangun kandang ternaknya untuk menghindari serangan Harimau Sumatera (Panthera tigris) atau yang sering disebut TPE, tiger proof enclosure, kandang anti serangan harimau. Selain itu juga mengajak penggiat konservasi untuk tidak mengganggu habitat Harimau Sumatera maupun melakukan perburuan terhadap satwa liar lainnya. Rudianto Sembiring dari ISCP (Indonesia Species Conservation Program) menyampaikan tentang penanganan satwa liar. Beliau menyampaikan agar tidak memelihara satwa liar dan membiarkannya hidup di alamnya, agar fungsinya dalam menjaga keseimbangan ekosistem tetap berjalan. Selama ini, ISCP bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah banyak melakukan penyelamatan serta pelepasliaran satwa liar khususnya jenis kukang. Materi terakhir disampaikan oleh Samuel Siahaan, SP dari BBKSDA Sumatera Utara menyampaikan materi tentang wisata alam dengan menekankan pengembangan wisata alam berbasis masyarakat di Desa Gerunggang dan mengusung 5 (lima) kegiatan pelestarian lingkungan yaitu Konservasi, Edukasi, Ekonomi, Pemberdayaan Masyarakat dan Rekreasi. Setelah penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi diskusi atau sharing pengalaman dari para penggiat konservasi, Purnama Ginting, diselingi dengan memutar video wisata alam Desa Gerunggang. Harapan kedepannya, penggiat konservasi mampu menjadi penggerak dalam pelestarian hutan yang sudah rusak maupun yang dirambah. Kegiatan esok harinya, 24 April 2021, bersama-sama dilakukan penamanan pohon jenis Manggis, Mahoni, Aren, Asam Gelugur di Area Cafe Kuta Garunggung Village. Penanaman pohon di Area Cafe Kuta Garunggung Village Samuel Siahaan, SP mewakili Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta dan mitra konservasi yang hadir. Selain itu juga disampaikan bahwa peran serta dan keaktifan para penggiat konservasi yang berjasa dalam kegiatan konservasi sumber daya alam akan diberikan apresiasi penghargaan Wana Lestari maupun Kalpataru oleh pemerintah setiap tahunnya. Sebagai informasi, peserta kegiatan terdiri dari Kader Konservasi Alam, Komunitas Pecinta Alam, Gras, TKP, Reaksi Peduli, Tafahum, Wiyagrawana, Mapala Genetika FP UISU, Sispala Wana Bumi MAN 1 Medan, Alam Raya Nusantara, serta Penggiat Lingkungan lainya. Sumber : Samuel Siahaan SP & Ida Marni Staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menilik Potensi HHBK (bambu) di Taman Nasional Batang Gadis

Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 159 jenis dari total 1.250 jenis bambu yang terdapat di dunia. Bambu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) merupakan salah satu kawasan konservasi yang memiliki potensi hasil hutan bukan kayu salah satunya adalah bambu. Potensi HHBK (bambu) di zona tradisional Taman Nasional Batang Gadis tepatnya Desa Sibanggor Julu yang ditemukan sebanyak 6 jenis yaitu Bulu Poring (Gigantochloa sp.), Bulu Sorik (Gigantochloa sp.), Bulu Aor (Bambusa sp.), Bulu Soma (Dendrocalamus sp.), Bulu Parapat (Schizostachyum sp.), Bulu tolang (Schizostachyum brachycladum). Masyarakat memanfaatkan bambu untuk keperluan rumah tangga sehari-hari seperti pagar, kandang ayam maupun peralatan-peralatan dapur. Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu seperti bambu dalam pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan tetap memperhatikan fungsi hutan dan aspek kelestarian hutan. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Dampingi KT Desa Redang, BBKSDA Riau Bahas Revitalisasi Ekonomi

Pekanbaru, 25 April 2021 - Tim Resort Kerumutan Selatan ( Pekan Heran ) Balai Besar KSDA Riau melakukan pendampingan rapat pembentukan Kelompok Tani (KT) Desa Redang, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (24/04/21). Kelompok tani dibentuk dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk kegiatan revitalisasi ekonomi (program bersama BRG) pada tahun 2021 ini. Desa Redang merupakan desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan. Dalam diskusi, Tim Balai Besar KSDA Riau menyampaikan kepada Kepala Desa Redang dan masyarakat bahwa tujuan pemberdayaan untuk meningkatkan ekonomi dan komitmen masyarakat agar tidak merambah dan melakukan penebangan kayu di kawasan konservasi serta mengajak masyarakat bersama-sama untuk menjaga dan melestarikan Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Kerumutan. Disepakati pula dalam rapat nama Kelompok Tani adalah KT Kerumutan Lestari. Struktur KT pun ditetapkan, yaitu Ketua, Sekretaris dan Bendahara dengan jumlah anggota 15 orang. Jenis kegiatan kelompok tani disepakati berupa budidaya ikan patin dan ikan lele dengan sistem tambak atau kolam ikan. Sebagai informasi, rapat dipimpin Kepala Desa Redang dan dihadiri oleh Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, MPA dan Masyarakat Desa Redang. Semoga program ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar hutan sekaligus dapat menguatkan fungsi hutan itu sendiri. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Komitmen Bersama Balai Besar TN Lore Lindu – POLDA SULTENG Kendalikan Karhutla

Palu. 27 April 2021. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) dan Kepolisian Daerah Propinsi Sulawesi Tengah telah menandatangani Komitmen Bersama Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di kawasan TN Lore Lindu. Penandatanganan komitmen bersama ini dilakukan antara Kepala Balai Besar, Ir. Jusman dan Direktur Reskrimsus Polda Sulteng, Kombes Pol. Afrizal, S.I.K yang bertempat di Kantor Balai Besar TN Lore Lindu yang disaksikan segenap perwakilan dari Polda Sulteng, pegawai BBTNLL dan konsultan Forest Program III Sulawesi (Selasa, 27/04/2021). Dalam penandatangan komitmen bersama ini disepakati untuk meningkatkan koordinasi dan sinergi kedua belah pihak serta menjadi pedoman dalam bidang pengendalian kebakaran hutan dan lahan di kawasan TN Lore Lindu. Melalui komitmen bersama ini, upaya-upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang meliputi kegiatan deteksi dini, penyuluhan dan patroli dapat dilakukan secara bersama-sama dan/atau sendiri-sendiri. Begitu pula dengan upaya-upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan serta penegakan hukum kebakaran hutan dan lahan yang meliputi penyelidikan dan penyidikan juga dapat dilaksanakan secara bersama-sama dan/atau sendiri-sendiri. Selaku Kababes, Ir. Jusman dalam sambutannya mengungkapkan bahwa sebelumnya telah dilaksanakan koordinasi dan komunikasi terkait kegiatan di atas dengan Balai Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) di Makassar sebagai leading sektor dalam penanganan karhutla di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Selain itu juga telah melakukan komunikasi dengan Polda Sulteng untuk keterlibatannya dalam kegiatan apel siaga kebakaran hutan dan lahan di kawasan TN Lore Lindu. Ditambahkan pula, saat ini BBTNLL memiliki 3 regu Masyarakat Peduli Api (MPA) yang berjumlah 100 orang yang tersebar di 3 Bidang Wilayah Pengelolaan yang telah dilatih peningkatan kapasitas pemadaman karhutla. Sedangkan Direktur Reskrimsus, Kombes Pol. Afrizal, S.I.K mengungkapkan bahwa pemantauan terhadap titik api atau hot spot yang ada di wilayah Indonesia dilakukan oleh Kapolri dari ruang kerjanya di Jakarta, tidak terkecuali pematauan hot spot yang ada di Propinsi Sulawesi Tengah. Selain itu, Kombes Pol. Afrizal, S.I.K juga menambahkan bahwa peralatan dan perlengkapan penanganan karhutla yang dimiliki Polda Sulteng seperti mobil lapangan, motor trail, seragam dan drone disiapkan stand by untuk dapat digunakan setiap saat bila dibutuhkan. Oleh karenanya, Kombes Pol. Afrizal, S.I.K sangat mendukung dan mengharapkan saling sinergi yang baik untuk kegiatan penanganan karhutla ini. Sehingga penandatanganan komitmen bersama pengendalian kebakaran hutan dan lahan di kawasan TN Lore Lindu begitu penting dilakukan antara Polda Sulteng dan BBTNLL. (Reds/DH) Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Artikel

Tingkatkan Kualitas Pemandu Lokal, Balai Besar TaNa Bentarum Beri Sertifikasi

Putussibau, 27 April 2021. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) menggelar pembekalan bagi pemandu lokal Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) di Kantor Balai Besar TaNa Bentarum, Putussibau (25/4/21). Pembekalan ini sebagai bekal ujian Sertifikasi Pemandu/Interpreter Wisata. Jumlah peserta yang akan mengikuti Sertifikasi Pemandu/Interpreter Wisata ini terdiri dari 30 orang peserta. Sertifikasi Pemandu/Interpreter Wisata TaNa Bentarum ini merupakan hasil Kerjasama dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) dengan Balai Besar TaNa Bentarum menggunakan dana hibah ADB FIP-1. Sertifikasi pemandu ini juga melibatkan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Barat dan jaringan wisata Kalbar yang diselenggarakan selama 4 hari dari tanggal 27 - 29 April 2021. Melalui sertifikasi ini, diharapkan upaya pemberdayaan masyarakat dalam bentuk Ijin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) pada UPT Lingkup Direktorat Jenderal KSDAE, khususnya Balai Besar TaNa Bentarum akan semakin optimal. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari Road To HKAN 2021 dan peringatan Anniversary 50 tahun Man And Biosphere (MAB). Kepala Balai Besar TaNa Bentarum menyampaikan “Sertifikasi Pemandu/Interpreter Wisata ini merupakan kesempatan luar biasa yang harus kita manfaatkan semaksimal mungkin. Ambil ilmu sebanyak banyaknya dari para pemateri yang sudah berpengalaman dan pulang nanti kita dengan bangga membawa sertifikat pemandu wisata”, pesan beliau. Sebagai informasi, acara pembekalan dibuka langsung oleh Kepala Balai Besar TaNa Bentarum, Bapak Ir. Arief Mahmud, M.Si dan dihadiri peserta yang berasal dari Putussibau dan beberapa Desa Binaan di wilayah TNBK maupun TNDS, seperti Desa Datah Dian, Tanjung Lasa, Semangit, Mensiau, Lanjak, Vega dan Tekenang. Sebelumnya juga telah dilaksanakan kegiatan serupa di Kantor Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) I Mataso untuk para peserta yang berasal dari lokasi sekitar Bidang PTNW I Mataso. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Artikel

Sosialisasi Kegiatan Restorasi Gambut dan Rehabilitasi Mangrove Bersama Badan Restorasi Gambut KLHK

Pekanbaru, 26 April 2021 – Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melakukan rehabilitasi mangrove di 9 provinsi seluruh Indonesia, yakni Sumatera Utara, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua dan Papua Barat. Rehabilitasi mangrove tahun ini akan dilakukan pada areal sekitar 83 ribu hektar dan akan lakukan secara bertahap. Lokasi-lokasi diidentifikasi di lapangan bersama dengan Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai-Rehabilitasi Hutan (BPDAS-RH) KemenLHK, akan dilakukan juga identifikasi kelompok masyarakat yang akan terlibat. Pelaksanaan rehabilitasi mangrove ini dijalankan dengan metode padat karya. Bapak Suharyono menghadiri sosialisasi restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove di Provinsi Riau yang diselenggarakan di hotel Premiere Pekanbaru. Hadir juga di acara tersebut Kepala BRG KemenLHK, Gubernur Riau, Bupati Bengkalis dan Bupati Siak serta para tamu undangan (23/4/2021) Sumber : Balai Besar KSDA Riau.
Baca Artikel

Balai TN Taka Bonerate Paparkan Kemitraan Konservasi di Kejari Kepulauan Selayar

Benteng, 20 April 2021 - Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate menghadiri undangan Kunjungan Kerja Tim Subdit Pertahanan dan Keamanan Kejaksaan Agung Republik Indonesia dalam rangka Koordinasi dan Pemetaan Wilayah Perbatasan di Wilayah Hukum Kejaksaan Negeri Kepulauan Selayar. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Faat Rudhianto, S.Hut., M.Si., berkesempatan memberikan informasi umum tentang kawasan Taman Nasional Taka Bonerate. “Taman Nasional Taka Bonerate dengan luas 530.765 Ha. merupakan karang atoll terbesar ketiga di dunia, dengan luasan mencapai 220.000 Ha. setelah Atol Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Atol Suvadiva di Maldive, serta memiliki keanekaragaman biota laut yang tinggi dan habitat bagi berbagai spesies satwa laut yang langka dan dilindungi”, ucap Faat Rudhianto. Kepala balai juga menambahkan bahwa, salah satu bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Balai TN Taka Bonerate saat ini melalui kemitraan konservasi. “Kemitraan konservasi merupakan upaya Balai TN Taka Bonerate dalam mengakomodir kepentingan pemanfaatan sumberdaya perikanan dan memperkuat kemitraan dengan masyarakat”, lanjut Faat Rudhianto. Sebelum menutup acara, Wakil Bupati Kepulauan Selayar, H. Saiful Arif, S.H. menghimbau kepada semua pihak agar terus bersinergi dalam mengembangkan segala potensi yang dimiliki Pulau Selayar demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Sebagai informasi, sosialisasi yang dibuka Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Selayar, Adi Nuryadin Sucipto, S.H., M.H juga dihadiri oleh Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Dandim Kepulauan Selayar (diwakili oleh Kasi Intel Kodim Kepulauan Selayar), Kapolres kepulauan Selayar (diwakili oleh Kasat Intel Polres Kepulauan Selayar), Sekretaris Daerah Kepulauan Selayar, Tim Subdit Pertahanan dan Keamanan Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Kasi Intel Kejaksaan Negeri Kepulauan Selayar, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kepulauan Selayar, Kepala Badan Kesbangpol Kab. Kepulauan Selayar, dan Kepala Syahbandar Kepulauan Selayar. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

OTW Goalpara

Goalpara, 19 April 2021. Bulan suci ramadhan ternyata memang penuh berkah, Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Goalpara yang merupakan salah satu unit pengelolaan tingkat lapangan di Bidang PTN Wilayah II Sukabumi mendapat kunjungan spesial dari Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Wahju Rudianto beserta unsur pimpinan lainnya dalam rangka program OTW (Observasi Terhadap Wilayah). Kepala Balai Besar TNGGP meninjau bangunan kantor resort dan beberapa aset Barang Milik Negara (BMN) serta menyimak pemaparan presentasi kepala Resort Goalpara dan diskusi. Beliau juga memberikan arahan agar senantiasa menerapkan budaya kerja dan 5 (lima) Prinsip Kerja Pengelolaan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Budaya Kerja: 1. Kekeluargaan dengan saling menolong, bekerjasama, saling menghargai dan saling terbuka. 2. Disiplin dalam penggunaan seragam, disiplin jam kerja, dan penggunaan BMN. 3. Profesional dengan menerapkan 5 (lima) Prinsip kerja di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 4. Matul Jawa yaitu malu korupsi, tulus melayani, jangan terima suap dan wajib akuntabel. Adapun 5 (lima) Prinsip Kerja Pengelolaan TNGGP yang disampaikan juga oleh beliau, yaitu: 1. Mengetahui potensi wilayah kerja; 2. Tren kondisi (data time series); 3. Program yang akan dilakukan (program berbasis scientific/ berbasis data); 4. Mengetahui tipologi masyarakat sekitar wilayah kerja; 5. Nilai kemanfaatan kawasan kepada masyarakat. Wasja, Kepala Bagian Tata Usaha yang ikut mendampingi beliau juga menuturkan bahwa penertiban aset BMN pun menjadi skala prioritas, dikarenakan hal tersebut harus dilakukan dalam rangka mencegah timbulnya masalah dikemudian hari apabila ada pengecekan sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi negara. Tak kalah penting, di masa milenial dan kemajuan teknologi saat ini tentunya dibutuhkan inovasi dalam pengelolaan BMN, dimana TNGGP telah melakukannya seperti penerapan barcode di setiap BMN, hanya dengan bermodalkan aplikasi di samrtphone dapat menscan barcode sehingga diperoleh informasi lengkap BMN tersebut. Agus Deni sebagai Kepala Resort dalam pemaparan presentasinya menjelaskan bahwa Resort PTN Goalpara dengan luas kawasan mencapai 1.012,64 Ha memiliki potensi keanekaragaman hayati yang cukup lengkap antara lain fauna macan tutul jawa (Panthera pardus melas), elang jawa (Nisaetus bartelsi), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), burung kicau, dan flora unik seperti kantung semar, jamuju, strobilanthes cernua serta masih banyak lagi potensi yang belum ter-eksplore. Sehingga dengan melihat keunggulan potensi tersebut terbersitlah keinginan/ cita-cita untuk menjadikan Resort PTN Goalpara sebagai stasiun riset/ penelitian flora dan fauna. Namun, tentu dalam mewujudkannya akan melewati tahapan dan kajian lebih lanjut. Gayung bersambut, Kepala Balai Besar memberikan respon positif dan mendukung atas apa yang telah disampaikan terkait keinginan/ cita-cita Resort PTN Goalpara, hanya saja dalam mewujudkan hal tersebut tentunya harus dibarengi dengan langkah-langkah lanjutan seperti menentukan lebih spesifik arah stasiun riset penelitiannya sehingga ada perbedaan dengan stasiun riset yang sudah ada, menggali lebih dalam potensi-potensi flora/ fauna yang belum terkuak, menggandeng perguruan tinggi untuk menjalin kerjasama dalam hal kajian stasiun riset penelitian dan yang tak kalah penting yaitu mengusulkan kegiatan masterplan stasiun riset penelitian agar masuk dalam DIPA tahun 2022. Terakhir, beliau menyampaikan bahwa program OTW diharapkan menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita resort, dimana nantinya seluruh resort yang ada di TNGGP memiliki ciri khasnya masing-masing. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Agus Deni (PEH & Kepala Resort PTN Goalpara) Dok: Tim OTW BBTNGGP
Baca Artikel

Terobosan Balai TN Taka Bonerate di Desa Tarupa

Benteng, 18 April 2021. Balai Taman Nasional Taka Bonerate pada Seksi Wilayah I Tarupa telah melaksanakan kegiatan Pelatihan Pembuatan Garam dengan metode Rumah Prisma berlokasi di Desa Tarupa (15/4). Selama ini, salah satu aktivitas pengawetan dan pengelolaan ikan yang banyak dilakukan oleh masyarakat lokal khususnya masyarakat Desa Tarupa yaitu, dengan cara mengeringkan ikan dengan menggunakan garam sebagai bahan baku utamanya. Hal ini dilakukan supaya ikan yang ditangkap dapat awet sebelum dijual maupun dikonsumsi secara pribadi terutama ketika tiba musim dimana nelayan tidak dapat melaut dan sulit mendapatkan tangkapan. Namun kendala yang dihadapi masyarakat adalah ketersediaan garam yang masih dipasok dari luar Selayar. Garam-garam tersebut didatangkan dari NTB (Nusa Tenggara Barat) dan atau dari Flores dengan harga yang tidak murah berkisar Rp. 130.000 – 150.000 per karung. Melihat dan mengetahui kondisi di lapangan, Balai Taman Nasional Taka Bonerate kembali melakukan terobosan dengan melakukan peningkatan kapasitas kelompok melalui kegiatan Pelatihan Pembuatan Garam dengan metode Rumah Prisma, dimana kegiatan yang sama pernah dan berhasil dilaksanakan di Desa Latondu bersama kelompok Forum Peduli Laut Rajuni - Latondu. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tarupa dihadiri dan dibuka langsung oleh Kepala Balai TN Taka Bonerate, Faat Rudhianto, S.Hut., M.Si. yang didampingi oleh Kepala SPTN Wilayah I Tarupa, Raduan, S.H. Peserta pelatihan berasal dari Kelompok King San dan Kelompok Pengelola Wisata Desa Tarupa. Dalam sambutannya kepala balai menyampaikan “Proses pembuatan garam dan rumah prisma cukup mudah dilaksanakan, dibutuhkan kekompakan dan kerjasama tim sehingga prosesnya dapat berjalan lancar. Yang sulit adalah bagaimana merawat dan memelihara bangunan (rumah prisma) sehingga produksi garam dapat terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat”, tutur Faat Rudhianto dalam sambutannya. “Melalui pelatihan ini diharapkan upaya pemenuhan kebutuhan garam secara mandiri di Desa Tarupa mendapatkan dukungan pemeliharaan dan pengembangan dari berbagai pihak khususnya pemerintah desa, dan dapat dicontoh desa-desa lain di dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate”, lanjut Faat Rudhianto sekaligus membuka acara pelatihan tersebut. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemberian materi oleh narasumber, dalam hal ini dibawakan oleh Penyuluh Kehutanan Balai TN Taka Bonerate, Asep Pranajaya, S.Pi. Di awal materinya, peserta diperlihatkan video proses pembuatan rumah prisma sampai dengan proses produksi garam yang dikelola oleh kelompok Forum Peduli Laut Desa Rajuni - Latondu. Tujuannya adalah supaya peserta mendapat gambaran umum dari pelatihan ini. Kemudian acara juga dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Duduk Bersama Kelola Kawasan Konservasi KSA/KPA Sarambu Asing Toraja

Makassar, 19 April 2021 – Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan gelar sosialisasi kelola Kawasan konservasi KSA/KPA Sarambu Asing yang dilaksanakan di Ruang rapat Bappeda Makale Kabupaten Tana Toraja pada Sabtu (17/04/21). Sosialisasi ini menjelaskan tentang status KSA/KPA Sarambu Asing sesuai SK 362 Tahun 2019 tentang RTRWP Sulawesi Selatan dimana dari Hutan Lindung (HL) menjadi KK / KSA / KPA Sarambu Asing seluas 4800 Ha. Sesuai surat Dirjen KSDAE No. Surat 984 Tanggal 23 Nov 2020 tentang Penetapan Fungsi KSA KPA Sarambu Asing sebagai Taman Hutan Raya (TAHURA). Rumusan sosialisasi menghasilkan rekomendasi berupa komitmen Pemda Kab. Tana Toraja untuk membentuk Kelembagaan Tahura Sarambu Asing termasuk penyediaan SDM, Sarpras dan Pendanaan serta Bupati Tana Toraja untuk menyampaikan komitmen terkait Tahura kepada Pemerintah Pusat. Selanjutnya langkah-langkah prakondisi untuk penetapan Fungsi KSA / KPA dan pembentukan Lembaga Tahura antara lain 1) Kesiapan Dokumen Perencanaan, 2) Kesiapan Rancang Bangun Tahura Sarambu Asing, 3) Penataan Batas Fungsi KSA KPA Sarambu Asing, 4) Sosialisasi berkala SK 362 Tahun 2019 ttg KSA KPA SA di Kecamatan dan Desa, 5) Patroli dan pengamanan KK KSA KPA SA, 6) Komunikasi Koordinasi antara UPT KLHK Sulsel (BBKSDA, BPKH, PPI, PSKL, Gakkum, Litbang), KPH Saddang dan OPD Kab. Tana Toraja. Sebagai informasi TAHURA atau Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Tantangan yang dialami KSA Sarambu Asing antara lain belum memiliki Kelembagaan TAHURA, Keterlanjuran Tower, akses jalan, sarpras wisata dan perkebunan lahan kering. Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc juga menyerahkan secara simbolis 3 eksemplar Buku “Wisata Intelektual” kepada Sekda Tana Toraja, Kepala Bappeda dan Kadis Pariwisata. Sosialisasi ini dipimpin Sekda Kab. Tana Toraja Dr. Ir. Semuel Tande Bura MM, yang dihadiri Kepala Bappeda, Kadis Lingkungan Hidup, Kadis Pariwisata, Kadis PUPR, Bapenda, Kadis KimRakyat, Kadis Penanaman Modal, Kepala KPH Saddang, Camat Bittuang, Camat Masanda dan 6 Kepala Desa, serta Media, dan perwakilan. Selama kegiatan berlangsung tetap menerapkan protocol covid-19 yaitu dengan menjaga jarak, rajin cuci tangan dan memakai masker. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita : Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Murniaty, S.Hut
Baca Artikel

Masyarakat Desa Tarupa TN Taka Bonerate Belajar Transplanstasi Karang dengan Metode Jaring Laba-Laba

Benteng, 18 April 2021. Balai Taman Nasional Taka Bonerate mengadakan Pelatihan Pemulihan Ekosistem Terumbu Karang di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tarupa dengan metode Jaring Laba-laba (16/4). Untuk memulihkan ekosistem terumbu karang maka salah satu upaya yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Taka Bonerate adalah melalui program transplantasi terumbu karang menggunakan rangka spider dengan melibatkan kelembagaan yang ada di masyarakat. Teknologi transplanstasi karang (coral transplantation) adalah usaha mengembalikan terumbu karang melalui pencangkokan atau pemotongan karang hidup untuk ditanam di tempat lain atau di tempat yang karangnya telah mengalami kerusakan, bertujuan untuk pemulihan atau pembentukan terumbu karang alami. Kegiatan transplantasi karang di beberapa pulau dalam kawasan taman nasional telah dilaksanakan sejak tahun 2017 dengan skala pemulihan. “Terumbu karang berfungsi sebagai pelindung pantai sehingga perlu dijaga dan direhabilitasi, ekosistem terumbu karang yang bagus juga akan memberikan manfaat terhadap hasil tangkapan nelayan”, ucap Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate Faat Rudhianto dalam sambutannya. “Metode transplantasi karang yang sudah berhasil dilakukan oleh Balai Taman Nasional Taka Bonerate adalah rangka spider/rangka besi jaring laba-laba”, lanjut Faat Rudhianto. Selanjutnya Kepala Balai membuka acara pelatihan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi yang disampaikan oleh Saleh Rahman dan Yusuf Ronald yang keduanya merupakan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Sebagai infomasi, Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Faat Rudhianto, S.Hut., M.Si. hadir didampingi Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tarupa dengan peserta berasal dari kelompok binaan Balai TN Taka Bonerate yaitu, Kelompok King San dan Kelompok Pengelola Wisata Desa Tarupa. Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang teknik dan cara transplantasi karang serta meningkatkan kepedulian terhadap arti dan manfaat terumbu karang bagi keberlanjutan ekosistem pesisir. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Untuk ke-200 kalinya, Chainsaw Jatuh Kepelukan Balai TANAGUPA dan ASRI

Kayong Utara, 19 April 2021. Hari pertama bulan Ramadhan, Pak Budi Harmoko sebagai anggota POLHUT dari Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) bersama Pak Agus Novianto (Koordinator UMKM Chainsaw Buyback) Yayasan ASRI mendatangi mantan logger (13/04). Dalam foto diatas, Pak Gedung (46 tahun) yang berada ditengah mengenakan kaos oblong pendek berwarna abu dari desa Benawai Agung Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara menyerahkan mesin gergajinya dan berkomitmen untuk tidak lagi menebang hutan. Menurut informasi pak Budi Harmoko, Pak Gedung merupakan mantan penebang pohon akan beralih mata pencaharian sebagai pedagang Bahan Bakar Minyak dan pedagang keliling. Pak Gedung merupakan logger ke-200 yang telah menyerahkan mesin gergajinya yang berarti sampai saat ini pihak Balai TANAGUPA dan ASRI telah menerima sebanyak 200 chainsaw atau mesin gergaji dari mantan logger. “Program Chainsaw Buyback ini tidak hanya mengambil chainsaw/mesin gergaji milik para logger, tetapi memberi kesempatan kepada mantan logger untuk beralih mata pencaharian dengan memberikan dukungan modal usaha sesuai keterampilan yang dimiliki. Untuk memastikan dana modal tidak dipakai untuk kegiatan yang konsumtif, ASRI tidak memberikan dana cash, melainkan belanja bahan untuk set-up usaha bersama dengan mitra. Program Chainsaw Buyback ini juga salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan hutan dari ancaman para logger yang menebang pohon untuk dijual sebagai sumber penghidupannya” ucap Pak Rusda sebagai salah satu staf Yayasan ASRI. Menurut Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, “Program Chainsaw Buyback turut membantu dalam menurunkan aktivitas logging dalam kawasan. Dari program tersebut diperkirakan telah melindungi lebih dari 35.000 pohon besar dalam Kawasan TANAGUPA. Pohon-pohon yang menopang hutan diharapkan akan memberikan manfaat yang berkepanjangan bagi kehidupan. Tentunya turut menjaga keberlangsungan kehidupan satwa seperti Orangutan dan burung Enggang ”. “Jika saja program Chainsaw Buyback ini bisa diterapkan di tempat lain, tentunya tingkat kerusakan hutan dapat ditekan di kawasan konservasi manapun, namun tentunya perlu dukungan berbagai pihak agar program tersebut dapat berjalan” tambahnya. Sumber : Siti Roqayah, S.Si - PEH Ahli Pertama Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Artikel

Buka Puasa Bersama Masyarakat Desa Tarupa – TN Taka Bonerate

Benteng, 18 April 2021. Kepala Balai dan Ketua DWP Balai Taman Nasional Taka Bonerate beserta rombongan menyempatkan diri buka puasa bersama dengan masyarakat dalam kawasan (17/4). Di sela-sela kesibukan kunjungan kerjanya, Kepala Balai dan rombongan mengikuti buka puasa bersama dengan masyarakat. Kegiatan dilaksanakan secara sederhana dan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19 namun tetap berlangsung hikmat. Pada kesempatan ini, sambil menikmati buka puasa Kepala Balai mengajak masyarakat berdiskusi ringan dan sharing tentang potensi yang dimiliki dan bisa dikembangkan oleh desa, serta mendengarkan keluh kesah dan masalah yang sedang dihadapi masyarakat. Kepala Balai juga memberikan beberapa masukan kepada kelompok masyarakat terkait pengembangan ekowisata di Desa Tarupa. “Desa Tarupa memiliki potensi yang besar untuk pengembangan ekowisata, namun diperlukan keseriusan dari masyarakat serta pemerintah desa untuk pengembangan ekowisata tersebut”, tutur Faat Rudhianto. “Lokasi Desa Tarupa strategis karena berdekatan dengan Pulau Tinabo yang merupakan icon dari Taman Nasional Taka Bonerate, sehingga peluang ini dapat dimanfaatkan dengan berbagai usaha seperti, penyediaan jasa penginapan (guest house) bagi para pengunjung”, lanjut Faat Rudhianto. Semoga kedekatan masyarakat dalam kawasan dengan pihak Balai Taman Nasional Taka Bonerate dapat terus terjalin dengan baik, sehingga permasalahan serumit apapun dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan tanpa menimbulkan perpecahan. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Sambut Bulan Suci Ramadhan, DWP Balai TN Taka Bonerate Gelar Bakti Sosial Untuk Masyarakat

Benteng, 13 April 2021. Dharma Wanita Persatuan (DWP) Balai Taman Nasional Taka Bonerate bersilaturahmi dengan masyarakat sebagai bagian keluarga besar. Kegiatan ini dilaksanakan dimulai pada tanggal 6 - 8 April 2021. Tim DWP Balai TN Taka Bonerate memberikan bantuan sembako kepada warga yang hidupnya kurang beruntung seperti janda dan fakir miskin di 3 desa dalam kawasan TN Taka Bonerate yakni Desa Tarupa, Desa Rajuni Bakka, dan Desa Latondu. Bantuan sembako tersebut merupakan hasil usaha dana ibu-ibu DWP melalui giat reseller sembako dan panganan lainnya selama ini. “Semoga bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan dapat dilakukan secara rutin setiap tahunnya”, tutur Thabita Parrangan, S.E., Ketua DWP Balai TN Taka Bonerate. Turut hadir dan mendampingi kegiatan DWP tersebut, Kepala Balai TN Taka Bonerate, Faat Rudhianto, S.Hut., M.Si., didampingi Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Tarupa dan Kepala SPTN Willayah II Jinato. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate

Menampilkan 1.873–1.888 dari 1.989 publikasi