Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Tim 7 Divisi Biawak Komodo Audiensi Dengan Dirjen KSDAE

Labuan Bajo, 11 Januari 2021. Balai Taman Nasional Komodo sukses menyelenggarakan pelatihan intensif pemantuan populasi biawak komodo bagi para ranger di Balai Taman Nasional Komodo pada tahun 2021. Pelatihan ini diselenggarakan bekerjasama dengan Yayasan Komodo Survival Program sebagai bentuk dedikasi para pemerhati biawak komodo dalam melestarikan keberadaan satwa purbakala tersebut melalui peningkatan kapasitas jagawana di tingkat tapak secara langsung. ‘Tim 7 Divisi Biawak Komodo’ merupakan inovasi bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) yang digagas oleh Balai Taman Nasional Komodo. Urgensi inovasi ini didorong dengan mulai banyaknya ranger Balai Taman Nasional Komodo yang memasuki masa purna tugas serta laju tranfer informasi dan penguasaan teknis personil ranger yang baru tidak dapat seketika mengimbangi para ranger pendahulunya. Berdasarkan urgensi tersebut, Balai Taman Nasional Komodo bersama dengan mitra gigih berkomitmen untuk membentuk sumber daya manusia baru yang profesional dan handal dalam melaksanakan fungsi konservasi bagi biawak komodo. Pelatihan ini dilaksanakan dalam tiga tahapan dan dikemas dengan sangat cermat serta informatif oleh penyelenggara kegiatan. Pelatihan tahap pertama diselenggarakan pada tanggal 12 – 18 Maret 2021 di Resort Loh Liang dengan melibatkan tujuh orang personil. Pelatihan kedua dilakukan pada tanggal 25 – 31 Maret 2021 di Resort Loh Buaya yang turut melibatkan tujuh orang personil berbeda. Selanjutnya penyelenggara menggabungkan seluruh personil pelatihan untuk mendapatkan penajaman teknis pengetahuan pada tanggal 13 – 19 Juni 2021 di Resort Loh Buaya. Pelatihan ini didukung penuh dari Balai Taman Nasional Komodo bersama Yayasan Komodo Survival Program, dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores. Estimasi kebutuhan anggaran yang digunakan untuk setiap tahapan pelatihan mencapai lebih kurang Rp80,000,000. Beberapa anggota masyarakat dalam kawasan turut dilibatkan dalam rangkaian pelatihan sebagai komponen tenaga cadangan ‘Tim 7 Divisi Biawak Komodo’ yang sewaktu-waktu dapat diberdayakan untuk kegiatan monitoring komodo di dalam kawasan. Seluruh ranger yang lulus pelatihan intensif dinobatkan sebagai anggota ‘Tim 7 Divisi Biawak Komodo’ yang diharapkan dapat menjadi ujung tombak konservasi biawak komodo, utamanya yang hidup di wilayah Taman Nasional Komodo. Kepala Balai Taman Nasional Komodo membawa serta beberapa anggota ‘Tim 7 Divisi Biawak Komodo’ untuk melakukan audiensi bertemu dengan Direktur Jenderal KSDAE di Manggala Wanabakti - DKI Jakarta pada tanggal 11 Januari 2021. Audiensi ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mempertahankan motivasi para anggota ‘Tim 7 Divisi Biawak Komodo’ melalui peranan pimpinan lintas eselon sebagai bentuk perwujudan 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi di Indonesia, hasil gagasan Direktur Jenderal KSDAE pada tahun 2017. Ketiga anggota ‘Tim 7 Divisi Biawak Komodo’ yang diberangkatkan ke Jakarta antara lain: (1) Haruna, (2) Indra Cahyadi Purnama Alam, dan (3) Feby Asnawati Ataupah. Ketiga anggota didampingi oleh Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Komodo (Yunias Jackson Benu dan Muhammad Ikbal Putera) dan para peneliti komodo dari Yayasan Komodo Survival Program. Ketiga perwakilan ‘Tim 7 Divisi Biawak Komodo’ secara bergantian memaparkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama rangkaian pelatihan dihadapan Direktur Jenderal KSDAE. Topik yang dipaparkan mulai dari semangat gotong royong saat pengukuran satwa, tingkat ketelitian saat pengumpulan data, dan kesetaraan gender dalam dinamika pembentukan dan proses pelatihan ‘Tim 7 Divisi Biawak Komodo’. Direktur Jenderal KSDAE mengapreasiasi tinggi kerja keras dan dedikasi ‘Tim 7 Divisi Biawak Komodo’ di Taman Nasional Komodo. Wiratno berharap agar pembentukan tim khusus ini memicu lahirnya tim-tim khususnya satwa liar dan bidang keahlian lainnya yang dapat mendukung fungsi pengelolaan kawasan konservasi kedepannya. Wiratno turut memberikan Atlas Burung Indonesia sebagai token of appreciation bagi para jagawana Balai Taman Nasional Komodo yang ditemuinya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Enam Kelompok Masyarakat Desa Penyangga Kawasan TN Gunung Merbabu Terima Bantuan Ekonomi Produktif

Boyolali, 29 Desember 2021. Penghujung tahun 2021 ini, Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu kembali memberikan bantuan Fasilitas Usaha Ekonomi Produktif kepada 6 (enam) kelompok masyarakat desa penyangga kawasan. Kelompok masyarakat dengan berbagai jenis usaha mendapatkan bantuan berupa peralatan dan mesin untuk menunjang usahanya. Tidak hanya usaha dalam bidang pertanian hortikutura yang merupakan sumber mata pencaharian sebagian warga masyarakat, namun juga usaha dalam bidang pemanfataan jasa lingkungan baik air maupun wisata, pengelolaan sampah, kesenian tradisional, dan persemaian tanaman hutan. Keenam kelompok masyarakat yang mendapatkan bantuan yaitu Kelompok Tani Guyub Rukun Desa Pogalan, Kelompok Pecinta Alam KOMPPAS Desa Batur, Kelompok Pemanfaat Air Tirta Lancar Desa Bawang, KPA Rajawali Desa Tarubatang, Kelompok Wahyu Budoyo Desa Ngagrong, serta Kelompok Tani Panji Kinasih Desa Senden. Bantuan diserahkan Kepala Balai TN Gunung Merbabu Ir. Junita Parjanti, M.T dengan disaksikan masing-masing kepala desa. Dalam kesempatan penyerahan ini juga dilaksanakan diskusi dengan kelompok masyarakat beserta kepala desa tentang proyeksi pengembangan usaha yang dilaksanakan kelompok. Kolaborasi berbagai pihak diperlukan dalam proses pemberdayaan masyarakat. Keberhasilan dalam kegiatan pengembangan usaha ekonomi masyarakat diharapkan dapat membantu mewujudkan masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Sumber : Nur A. – Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Sumatera Utara Cek Lokasi Temuan Jejak Satwa Liar

Lubuk Punut, 6 Januari 2022. Bermula dari laporan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Sosa, pada Senin 3 Januari 2022 kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Kepala Resort Barumun III pada Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang, Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, tentang ditemukannya jejak satwa liar yang diduga Harimau Sumatera, di kebun masyarakat di Desa Lubuk Punut, Kecamatan Hutaraja Tinggi, Kabupaten Padang Lawas. Lokasi penemuan jejak berdampingan dengan lokasi perkebunan PTPN IV. Keesokan harinya, Selasa 4 Januari 2022, Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara menindaklanjuti laporan tersebut dan mengadakan koordinasi dengan petugas Polsek Sosa serta Koramil Sosa. Tim juga melakukan pengecekan lokasi dan hasilnya, ukuran lebar jejak kaki satwa 4 cm dengan panjang 5 cm. Dari pengamatan, tim memperkirakan/menduga bahwa jejak tersebut bukan jejak harimau sumatera, melainkan jejak kucing mas, atau macan akar ataupun macan dahan. Tim gabungan (dengan pihak Polsek serta Koramil Sosa) mencoba menyisir dan menelusuri areal TKP sekitar perkebunan guna mencari tanda-tanda maupun keberadaan satwa tersebut, namun tidak ditemukan. Tim kemudian memberikan penyuluhan serta sosialisasi kepada masyarakat untuk tetap berhati-hati dan waspada. Apabila menemukan atau menjumpai satwa liar apapun segera melapor kepada instansi terkait agar dilakukan langkah-langkah penanganan. Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara pun bersepakat dengan petugas dari Polsek Sosa maupun petugas Koramil Sosa untuk tetap menjalin komunikasi, koordinasi dan memantau serta menangani permasalahan satwa liar yang terjadi saat ini. Sumber : Ridwan Hasibuan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Catatan Tersisa Di Tahun 2021 Fenomena Pahlawan Peduli Satwa Liar

Medan, 6 Januari 2022. Inneke Lestari Sihombing, warga Dusun Meranti, Desa Sibuntuon, Kecamatan Sijamapolang, Kabupaten Humbang Hasundutan menemukan 1 anak Siamang (Symphalangus syndactylus) di halaman rumahnya berada dalam pelukan induknya yang mati akibat ditembak oleh orang yang tidak dikenal, pada 5 September 2020. Terdorong dari rasa kasihan, anak Siamang tersebut kemudian dirawat dan dipelihara selama 4 bulan. Mengetahui satwa ini termasuk jenis yang dilindungi, Inneke berusaha mencari informasi dari media sosial tentang lembaga atau institusi yang menangani masalah satwa liar, dan akhirnya mendapatkannya. Tepat pada Minggu 10 Januari 2021, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyambangi kediaman Inneke untuk kemudian mengevakuasi satwa tersebut. Selanjutnya, bermula pada Jumat 30 Juli 2021, Surya Dharma, 38 tahun, warga jl. Kol. Yos Sudarso Lingkungan IV Martubung, Medan Labuhan, akademisi/dosen muda pada salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Sumatera Utara, tepatnya di Universitas Negeri Medan (Unimed), program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) pada Fakultas Ilmu Sosial, menemukan 1 individu Elang Bondol (Haliastur indus) di halaman rumahnya dalam keadaan lemah. Mengetahui satwa tersebut termasuk jenis yang dilindungi, Surya Dharma, yang meraih gelar Doktor di bidang Pendidikan Kewarganegaraan dari Universitas Pembinaan Indonesia (UPI) Bandung, pada Senin 2 Agustus 2021 berinisiatif mengunjungi kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk menyerahkan Elang Bondol tersebut. Berikutnya, Dimas Mahendra, warga Pasar X Tembung, Deli Serdang, masih muda belia berumur 18 tahun, berprofesi sebagai mekanik pada sebuah bengkel kendaraan bermotor, tergerak hatinya ketika melihat seorang warga menjual 1 individu Kucing Hutan (Felis bengalensis) seharga Rp. 100 ribu kepada pemilik bengkel tempatnya bekerja. Mengetahui satwa tersebut jenis yang dilindungi, Dimas menebus Kucing Hutan tersebut sebesar Rp. 100 ribu dari pemilik bengkel dan menyerahkannya kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara di kediamannya, pada Senin 13 Desember 2021. Ketiga sosok di atas mewakili puluhan orang lainnya yang layak dinobatkan sebagai Pahlawan Peduli Satwa Liar, yang dengan kesadaran tinggi terpanggil untuk ikut menyelamatkan satwa liar termasuk jenis yang dilindungi. Tercatat dari rekaman pemberitaan website Balai Besar KSDA Sumatera Utara sepanjang tahun 2021, sedikitnya ada 31 orang termasuk komunitas/lembaga, dengan berbagai status dan profesi, menyerahkan satwa liar kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Ada sebanyak 37 individu satwa liar baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi diserahkan, diantaranya : 7 individu Kucing Hutan (Felis bengalensis), 6 individu Trenggiling (Manis javanica), 5 individu Burung Kuau Kerdil Sumatera (Polyplectron chalcurum), 2 individu Beruang Madu (Helarctos malayanus), 2 individu Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus), 2 individu Kukang (Nycticebus caucang), 1 individu Siamang (Symphalagus syndactylus), 1 individu Kakatua Maluku (Cacatua molluccensis), 1 individu Burung Hantu (Tyto alba), 1 individu Elang Black Hawk (Spizaetus tyrannus), 1 individu Elang Ular Bido (Spilornis cheela), 1 individu Kura-kura Pipih Putih (Siebenrockiella crassicollis), 1 individu Buaya Muara (Crocodylus porosus), 1 individu Elang Bondol (Haliastur indus), 1 individu Owa (Hylobates agilis), 1 individu Tuntong Laut (Batagur borneoensis), 1 individu Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), 1 individu Baning Coklat (Manoura emys) dan 1 individu Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus). Setidaknya ada 2 catatan penting dari fenomena ini, pertama, pemahaman masyarakat tentang arti penting menyelamatkan satwa liar semakin bertumbuh dengan baik sehingga mendorong kepeduliannya untuk ikut ambil bagian meskipun dengan cara-cara yang sederhana, merawat serta menyerahkan satwa tersebut kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara guna dilepasliarkan ke habitatnya. Kepedulian yang bersumber dari hati nurani yang tulus tentunya sudah sepatutnya untuk diapresiasi dengan menjadikan sosok-sosok pahlawan ini sebagai duta dan teladan. Mempublikasikan serta mempromosikan para pahlawan peduli satwa liar dalam berbagai bentuk serta kegiatan, adalah manifestasi apresiasi atas kepedulian yang mulia tersebut. Kedua, dalam banyak testimoni/kesaksian, sebagian satwa liar yang diserahkan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara diperoleh/didapatkan melalui perjumpaan di sekitar permukiman warga. Ini juga menjadi catatan yang menarik untuk dicermati dan diamati. Keberadaan satwa liar di permukiman menjadi suatu indikasi atau pertanda adanya permasalahan kerusakan di habitatnya, sehingga sumber pakan semakin menipis dan selanjutnya mendorong satwa liar keluar dari habitatnya mencari pakan sampai kepermukiman / perkampungan. Tentunya menjadi urgent untuk melakukan inventarisasi dan identifikasi kawasan-kawasan yang merupakan habitat dari satwa-satwa tersebut, kemudian mengambil langkah-langkah penyelesaian baik dalam bentuk non litigasi berupa pemulihan kawasan melalui pola kemitraan konservasi dan perhutanan sosial, maupun dalam bentuk litigasi berupa penegakan dan penerapan peraturan perudang-undangan. Akhirnya sebagai catatan penutup, tahun 2021 telah berlalu dan saatnya memasuki tahun yang baru 2022. Ekspektasi kedepan tentunya berharap sosok para pahlawan peduli satwa liar di tahun 2021 menjadi inspirasi bagi warga lainnya untuk ikut peduli dan ambil bagian dalam menyelamatkan dan melestarikan satwa liar. Demikian halnya dengan penyelesaian masalah kerusakan kawasan hutan yang menjadi habitat dari satwa liar, ada langkah-langkah konkrit sehingga satwa liar tidak harus turun lagi ke permukiman/perkampungan hanya untuk mencari pakan. Sumber : Evansus Renandi Manalu - Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Ecoedutourism : Observasi Anggrek Di Resort Loh Wenci - Sape

Labuan Bajo, 4 Januari 2022. Anggrek merupakan tumbuhan berbunga yang habitatnya banyak ditemukan di daerah tropis seperti di Asia Tenggara khususnya di Indonesia dan beberapa diantaranya juga tumbuh alami di kawasan Taman Nasional Komodo. Mahasiswa magang D-IV Manajemen Pengaturan Perjalanan STP Bandung berkesempatan untuk mempelajari anggrek di Resort Loh Wenci – Sape, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa magang yang berjumlah 2 (dua) orang, Samuel Tan dan Hanif Nugroho berkesempatan untuk meninjau langsung habitat anggrek yang tersebar di wilayah kerja Resort Loh Wenci – Sape, Kamis (30/12). Adapun jenis- jenis tumbuhan anggrek yang ditemukan antara lain: Dendrobium faciferum, Vanda limbata, dan Dischidia major. Spesies Dendrobium faciferum pertama kali diperkenalkan oleh Johannes Jacobus Smith pada tahun 1908. Tumbuhan ini berasal dari Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan Sulawesi dan biasanya hidup di habitat hutan mangrove dan ekosistem pesisir, tepi danau dan dataran banjir pada ketinggian 350 meter diatas permukaan laut. Berdasarkan hasil identifikasi anggrek jenis Dendrobium faciferum bersama Kepala Resort Loh Wenci – Sape (Rawuh Pradana) diketahui bahwa tumbuhan tersebut tergolong ke dalam tumbuhan epifit yang dapat berukuran sedang hingga besar, dapat tumbuh mencapai 100 cm, bertubuh ramping atau kokoh dan tegak kaku, berwarna coklat keabu-abuan, bergaris kuning kehijauan, dan menggembung pada bagian bawah tumbuhan. Pada umumnya tumbuhan ini memiliki bunganya dengan ukuran panjang 1,3 cm. Warna bunga didominasi warna kecerahan seperti kuning hingga jingga, serta memiliki kelopak punggung oval (lonjong) yang runcing. Jenis anggrek lain yang ditemukan mahasiswa adalah Vanda limbata yang biasanya ditemukan di wilayah Kepulauan Jawa, Kepulauan Sunda Kecil dan Filipina. Pada umumnya tumbuhan ini didominasi warna merah dengan bercak kuning dan pada bagian kepalanya berwarna merah maroon. Vanda limbata mengeluarkan aroma yang mirip dengan kayu manis dan sangat kuat ketika pagi hari (Sarwono, 2002). Anggrek Vanda limbata juga dikenal sebagai jenis anggrek yang sangat toleran terhadap iklim kering dan sangat cocok tumbuh pada wilayah dataran rendah. Flora menarik lainnya yang ditemukan adalah Malayan urn vine dengan nama ilmiah Dischidia major yang merupakan tumbuhan dalam genus Dichidia. Tumbuhan ini membawa daun yang dimodifikasi dan seringkali menjadi habitat bagi semut menciptakan simbiosis mutualisme. Tumbuhan ini mendapatkan manfaat dari kehadiran koloni semut dengan memperoleh makanan dari peningkatan kadar karbon dioksida dan nitrogen dan memperoleh sistem perlindungan eksternal dari hewan dan tumbuhan berbahaya atas kehadiran koloni semut. Simbiosis mutualisme ini dikenal sebagai myrmecophily. Ketiga flora tersebut ditemukan mahasiswa saat melaksanakan kegiatan patroli daratan menuju Puncak Satalibo yang jaraknya cukup jauh dari Resort Loh Wenci – Sape. Petugas kemudian mengambil sedikit bagian dari flora-flora tersebut untuk diidentifikasi dan dipelajari lebih lanjut. Hal ini merupakan salah satu upaya dalam rangka melestarikan tumbuhan anggrek yang terdapat dalam kawasan. Observasi anggrek di Resort Loh Wenci – Sape sangat berpotensi menjadi aktivitas ecoedutourism bagi kelompok wisatawan minat khusus yang tertarik pada observasi anggrek dan tumbuhan epifit lainnya di Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Samuel Tan (Mahasiswa STP Bandung) | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Mamalia Laut Raksasa Melintas di Perairan TN Komodo

Labuan Bajo, 4 Januari 2022. Taman Nasional Komodo memiliki tujuh tipe ekosistem yang berbeda meliputi: ekosistem savana, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem hutan kuasi awan, ekosistem mangrove, ekosistem lamun, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem laut. Ragam tipe ekosistem membuat kawasan Taman Nasional Komodo menjadi surga biodiversitas karena memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, khususnya pada wilayah ekosistem perairan. Tingkat kelimpahan biodiversitas di perairan Taman Nasional Komodo telah dikenal dunia dan berhasil menarik perhatian wisatawan dari seluruh dunia untuk datang langsung menikmati keindahan pemandangan bawah lautnya. Pada tanggal 6 Oktober 2021 tersebar cuplikan video mamalia raksasa paus tengah berenang bebas di sekitar perairan Pulau Padar. Instagram Story berdurasi 23 detik yang direkam oleh seorang pengguna media sosial Instagram @anak.pulau sontak viral karena mendokumentasikan satu koloni paus terlihat melintas di antara kapal pinisi yang berlayar di perairan Taman Nasional Komodo. Jagawana Balai Taman Nasional Komodo berusaha mengidentifikasi jenis paus berdasarkan ciri-ciri fisik yang terlihat pada video singkat tersebut. Petugas memperhatikan karakteristik morfologi paus dan mengamati pola serta arah jalur migrasi. Berdasarkan hasil pencermatan, disimpulkan bahwa paus yang melintas adalah jenis paus bungkuk (Megaptera novaeangliae). Polisi Kehutanan Pertama Balai Taman Nasional Komodo, Novita Yanti Sidabutar, sangat antusias mempelajari kemunculan paus dan takjub setelah mengetahui bahwa Taman Nasional Komodo termasuk ke dalam jalur migrasi beberapa jenis paus dan ikan hiu pas (whale sharks) pada bulan/musim tertentu. Paus bungkuk sendiri merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi di Indonesia. Meskipun Indonesia belum termasuk negara yang berpartisipasi dalam International Convention for The Regulation of Whaling, Indonesia dengan optimal berupaya mempertahankan kelestarian populasi paus sebagai bentuk komitmen konservasi bagi satwa liar perairan, utamnya mamalia Laut. Regulasi mengenai konservasi di Indonesia merujuk pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Regulasi ini kemudian diterjemahkan secara spesifik melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang menetapkan bahwa Paus Biru (Balaenoptera musculus), Paus Bersirip (Balaenoptera physalus), Paus Bongkok (Megaptera novaeangliae) dan Cetacea sp. lainnya merupakan spesies paus yang dilindungi di Indonesia. Penelitian dari Dafiuddin Salim (2011) seorang mahasiswa Pasca Sarjana IPB University menyatakan bahwa perairan di Indonesia dihuni oleh 31 jenis Cetacea (whales, porpoises, dolphins); dua belas diantaranya merupakan mamalia paus dan lainnya adalah mamalia pesut serta lumba-lumba. Satwa tersebut tersebar hampir di seluruh perairan dangkal hingga laut dalam Indonesia. Satwa tersebut sebagian merupakan permanent resident cenderung menetap pada suatu wilayah perairan tertentu maupun berpindah layaknya ‘sea-nomads’ yang mengikuti ketersediaan sumber pakan di perairan. Beberapa jenis mamalia paus yang bersifat migran-pengembara menggunakan perairan di timur Indonesia sebagai jalur migrasi utama. Perairan timur Indonesia dikenal memiliki arus kencang dan merupakan habitat yang sesuai bagi paus untuk mencari makan dengan mengikuti plankton, krill, atau udang-udangan lain yang terbawa arus di lautan. Kemunculan puas di timur Indonesia biasa terlihat di perairan antara Samudera Hindia dan Pasifik, perairan Sunda Kecil, perairan Solor-Lembata (NTT), Laut Banda (Maluku), perairan Sulawesi Tenggara, perairan Sulawesi Utara, dan perairan Sorong-Fakfak (Papua). Perairan timur Indonesia, khususnya di beberapa terusan dalam antar pulau, diduga berfungsi sebagai pintu masuk jalur migrasi. Jenis paus terlihat bermigrasi, antara lain: paus biru, paus sirip, paus sperma, puas bungkuk, paus pilor, dan paus sei. Paus-paus ini memanfaatkan perairan zona eksklusif dan alur-alur sempit di antara pulau-pulau kecil di Indonesia. Taman Nasional Perairan Laut Sawu juga kerap menjadi tempat favorit dan zona ekslusif migrasi yang kerap dilewati oleh mamalia laut dalam wilayah perairan Nusa Tenggara Timur. Area dengan kisaran luas perairan 3,5 juta hektar ini cenderung dilalui oleh paus-paus langka dunia dan menjadi tempat singgah dan berkembang biak bagi mamalia laut lainnya, selain paus (Salim D, 2011). Baik Taman Nasional Perairan Laut Sawu dan Taman Nasional Komodo yang menjadi tempat breeding dan migrasi paus perlu lebih mempelajari rute migrasi tahunan dan pola tinggal mamalia laut, serta mengatur lalu lintas perairan agar tidak mengganggu perilaku satwa liar yang hidup pada wilayah perairan. Jagawana Balai Taman Nasional Komodo perlu giat melakukan penelitian dan kajian terkait keberadaan mamalia laut raksasa di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Novita Yanti Sidabutar, S.Hut. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Observasi Burung dan Jelajah Mata Air di Resort Loh Wenci - Sape

Labuan Bajo, 4 Januari 2022. Di penghujung tahun 2021 kemarin, mahasiswa magang dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, Hanif Nugroho dan Samuel Tan turut berpartisipasi melakukan penjagaan di Resort Loh Wenci – Sape. Kedua mahasiswa tersebut tidak hanya mengobservasi potensi wisata alam yang ada di wilayah kerja Resort Loh Wenci – Sape, namun juga diajak untuk merasakan dinamika pengelolaan dan rutinitas jagawana secara langsung di tingkat tapak. Resort Loh Wenci – Sape dikenal sebagai sanctuary bagi berbagai jenis burung yang ditemukan hidup di wilayah Kepulauan Sunda Kecil dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Satwa liar aves menjadi salah satu daya tarik wisata alam potensial bagi kelompok wisatawan minat khusus domestik maupun mancanegara. Kedua mahasiswa diajarkan mengamati ragam jenis burung sambil melaksanakan kegiatan patroli daratan di jalur jelajah dan konsentrasi Resort Loh Wenci – Sape. Kepala Resort Loh Wenci – Sape (Rawuh Pradana) mendampingi proses pembelajaran mahasiswa di dalam kawasan bersama dengan anggota resortnya (Muhammad Hardin Densi dan Ady Setiawan). Mahasiswa menjumpai burung pergam hijau (Ducula aenea) dan sri gunting wallacea (Dicrurus densus) sebagai satwa liar yang paling banyak ditemukan di wilayah kerja Resort Loh Sebita - Sape. Mahasiswa juga menjumpai satwa liar lainnya, diantaranya: burung kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea occidentalis), cikukua tanduk (Bucerus philemon), perkutut loreng (Geopelia maugea), itik benjut (Anas gibberifrons), kirik-kirik laut (Merops philippinus), kepodang kuduk hitam (oreolus cinensis), dan delimukan zamrud (Chalcophaps indica). Kegiatan pengamatan jenis burung pada jalur-jalur konsentrasi dapat dikemas sebagai paket wisata minat khusus ecoedutourism bagi fotografer ataupun bird enthusiast, menurut Hanif. Mahasiswa juga diminta untuk mengobservasi mata air yang berada di jalur patroli daratan dan jelajah pada wilayah Gunung Satalibo. Jarak mata air dengan Resort Loh Wenci – Sape mencapai + 3 km dan dapat digunakan sebagai sumber air bagi kerbau air dan rusa timor. Petugas menduga bahwa mata air ini layak minum dengan catatan melalui pemrosesan terlebih dulu. Kepala Resort Loh Wenci – Sape juga turut melibatkan mahasiswa dalam kegiatan patroli perairan yang dilakukan di wilayah kerja resort untuk mengobservasi kondisi ekosistem perairan dan memastikan aktivitas nelayan di sekitarnya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Hanif Nugroho (Mahasiswa STP Bandung) | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Jelajahi Perairan TN Komodo Mengendarai Armada King Fisher

Labuan Bajo, 3 Januari 2022. Balai Taman Nasional Komodo konsisten melaksanakan patroli apung sebagai upaya perlindungan dan pengamanan kawasan di penghujung tahun 2021. Patroli apung yang dikoordinir Kepala Satuan Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Komodo (Julizar Riduan) melibatkan setidaknya 15 personil yang terdiri dari anggota polisi kehutanan, penyuluh kehutanan, dan tenaga pengamanan hutan lingkup Balai Taman Nasional Komodo. Berkegiatan di penghujung tahun 2021 tidak menyurutkan semangat kerja tim dalam menjalankan tugas dinas di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Patroli apung pamungkas ini dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2021 sampai dengan 1 Januari 2022 menggunakan armada King Fisher sebagai Floating Ranger Station untuk mengawasi aktivitas wisatawan dan masyarakat di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, utamanya yang berpotensi mengakibatkan kerusakan pada ekosistem. Taman Nasional Komodo memiliki luas perairan sebesar 132.572 Ha berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 172/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang Penetapan Kawasan Pelestarian Alam Perairan Taman Nasional Komodo. Ekosistem perairan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karena pada Bulan Desember - Februari cuaca ekstrim akibat adanya angin musim barat seringkali mempengaruhi dinamika lautan. Tingginya gelombang akibat cuaca ekstrim dapat mencapai 5 – 7 meter dengan durasi badai berkisar antara beberapa menit hingga beberapa jam. Wilayah yang terpengaruh angin musim barat utamanya adalah wilayah perairan Pulau Komodo. Pada kesempatan kali ini tim Floating Ranger Station mengarungi lautan di bagian selatan pulau Rinca, kemudian menyisir bagian tengah di sekitar perairan Loh Kima, Pulau Siaba, Loh Sebita, dan Selat Lintah. Armada King Fisher menjadi andalan dalam menaklukkan gelombang di perairan Taman Nasional Komodo. King Fisher mampu menerjang badai dan membawa personil dalam jumlah besar dan aman. Armada ini dengan tangkas dinahkodai oleh Kapten Ibnu Arkam. Giat patroli apung juga digunakan sebagai kegiatan implementasi SMART PATROL di wilayah perairan dalam upaya pengelolaan kawasan berbasis spasial dan integrasi data kawasan secara digital. Upaya-upaya inovatif dan langkah progresif yang telah dicapai selama tahun 2021 diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan ataupun refleksi pada tahun berikutnya sehingga pengelolaan di Taman Nasional Komodo semakin dapat disempurnakan. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Arif Ardianto Sofian, S.Si. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Mahasiswa Magang Belajar Pelestarian Penyu Di Resort Kampung Kerora Balai TN Komodo

Labuan Bajo, 3 Januari 2022. Mahasiswa D-IV Prodi Manajemen Pengaturan Perjalanan Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung (Samuel Tan dan Hanif Nugroho) ikut serta dalam kegiatan pendataan lokasi sarang penyu di Pulau Muang, wilayah kerja Resort Kampung Kerora Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Kedua mahasiswa lulus administrasi seleksi magang dan mulai melaksanakan kegiatan di kawasan Taman Nasional Komodo selama kurang lebih 4 bulan (Oktober 2021 – Januari 2022). Urusan Program, Anggaran, Kerjasama, dan Pelayanan menugaskan kedua mahasiswa STP NHI Bandung untuk melakukan pembelajaran lapangan di beberapa resort, diantaranya adalah Resort Kampung Kerora dan Resort Kampung Rinca SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Basis pendekatan pembelajaran pelestarian penyu bagi mahasiswa pariwisata adalah ecoedutourism. Mahasiswa diminta untuk berpikir kritis bagaimana menciptakan sebuah micro travel pattern yang dapat menghubungkan destinasi wisata alam di Taman Nasional Komodo dengan desa-desa wisata di sekitarnya. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi potensi wisata alam di Taman Nasional Komodo sebagai komponen atraksi yang dapat dimanfaatkan secara lestari pengembangannya. Pelestarian penyu menjadi daya tarik wisata alam potensial bagi wisatawan minat khusus yang tertarik berekreasi sambil belajar di alam. Pembelajaran pelestarian penyu ini difasilitasi oleh Kepala Resort Kampung Kerora (Banu Widyanarko) dan anggotanya (Suwendi Iskandar Bubang). Mahasiswa diajarkan untuk mengidentifikasi bentuk sarang bertelur penyu aktif dan pasif, mengobservasi jumlah sarang, dan jejak indukan penyu. Terdapat dua jenis penyu yang bertelur di pulau muang yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dengan warna cangkang kuning kehijauan dengan ukuran panjang sekitar 80-150 cm dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dengan corak sisik khas bergaris. Berdasarkan hasil pengamatan sarang bertelur penyu di Pulau Muang, mahasiswa menemukan 84 sarang baik aktif dan pasif. Ketiga tipe sarang dapat dijumpai di pesisir pantai Pulau Muang. Hasil wawancara dengan Kepala Resort Kampung Kerora bahwa penyu hijau akan naik ke permukaan untuk bertelur pada malam hari sampai dengan menjelah subuh hari, sementara penyu sisik biasa bertelur pada siang hari. Menurut Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Komodo (Muhammad Ikbal Putera), induk penyu menggunakan sirip belakang untuk menggali pasir dan tungkai/ekor untuk membuat lubang. Kedalaman sarang yang dibuat berkisar antara 50 - 120 cm berdasarkan pengamatan di lapangan. Aktivitas ini merupakan kesempatan langka bagi mahasiswa untuk belajar langsung di alam. Ecoedutourism rasanya dapat dipertimbangkan sebagai arah pengembangan aktivitas wisata yang menarik dan edukatif di dalam kawasan konservasi bagi wisatawan. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Samuel Tan dan Hanif Nugroho (Mahasiswa STP NHI Bandung) | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Penguatan Kelompok Mitra Pariwisata TWA Pulau Kembang

Pulau Kembang, 30 Desember 2021 – Penguatan Kelompok Mitra Pariwisata Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Kembang di Kantor Resort KSDA TWA Pulau Kembang merupakan implementasi dari Perjanjian Kerjasama (PKS) antara BKSDA Kalimantan Selatan dengan PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Dan Penyaluran Kalimantan. Kegiatan diikuti oleh 30 peserta yang merupakan pemandu lokal di TWA Pulau Kembang dan berasal dari desa Pulau Alalak dan Desa Tinggiran Ilir. Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc memberikan materi "Pengembangan Pariwisata Alam Lingkup BKSDA Kalsel" dan Dewi Setiawati, SE.,MM Ketua Litbang DPD ASITA Kalimantan Selatan memberikan materi "Kiat Menjadi Pemandu Wisata Yang Baik" dengan moderator Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Banjarbaru M. Ridwan Effendi, S.Hut.,M.Si. Perwakilan dari pihak PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Dan Penyaluran Kalimantan turut hadir bersama Kepala Desa Pulau Alalak, Kepala Desa Tinggiran Ilir dan Kepala Resort Suwandi. Dalam paparannya Kepala BKSDA Kalsel menjelaskan bahwa pengembangan pariwisata alam lingkup BKSDA Kalsel dilakukan pada 4 kawasan, yaitu: TWA Pulau Burung Dan Pulau Suwangi, TWA Pelaihari, TWA Pulau Bakut dan TWA Pulau Kembang. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain meliputi pembangunan sarana prasarana pendukung pariwisata, penataan obyek daya tarik wisata alam, promosi dan informasi serta pemberdayaan masyarakat mitra pariwisata. Pada kesempatan berikutnya, ibu Dewi Setiawati memberikan kiat menjadi pemandu yang baik adalah dengan selalu bersikap ramah dan murah senyum kepada setiap pengunjung yang datang. Mengetahui daerah asal pengunjung bagi pemandu sangat penting agar komunikasi bisa interaktif dan informatif. Pada akhir kegiatan Dr. Mahrus menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan Dan Penyaluran Kalimantan atas kerjasamanya dalam mendukung upaya optimalisasi pengelolaan TWA Pulau Kembang. Kepada kedua Kepala Desa yang hadir juga diapresiasi dan diharapkan kerjasama lebih dipererat. Juga berpesan kepada peserta kegiatan pemandu lokal agar selalu menjaga kebersihan fasilitas sarana prasarana obyek wisata serta menerapkan protokol kesehatan dalam melayani pengunjung. (ryn) Sumber : Hendra - PEH Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

BBTN Gunung Gede Pangrango, TNI & Polri Patroli Bersama di Penghujung Tahun 2021

Cibodas, 31 Desember 2021. Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mempunyai peranan yang penting dalam penyediaan air permukaan maupun air bawah tanah. Kawasan TNGGP yang tertutup hutan seluas 24.278,84 ha ini terdapat kurang lebih 50 sungai dan anak sungai. Sungai-sungai tersebut merupakan sumber air yang mampu mengaliri air bersih ke rumah-rumah di sekitar kawasan TNGPP yang dihuni hampir setengah juta orang. Saat ini ketersediaan air di kawasan TNGGP masih bisa dikategorikan melimpah, masyarakat sekitar kawasan khususnya sangat bergantung pada keberadaan air dari dalam kawasan TNGGP. Tentu kedepannya pemanfaatan air tersebut harus diimbangi dengan upaya-upaya konservasi sehingga keberadaan sumber air terjaga dengan baik dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dengan lebih optimal. Pengaturan pemanfaatan dan pemeliharaan air ini melibatkan berbagai pihak, salah satunya yaitu Perusahaan Air Minum (Perumda) Air Minum Tirta Bumi Wibawa (TBW) Kota Sukabumi. Perumda Air Minum TBW Kota Sukabumi merupakan salah satu mitra BBTNGGP yang memiliki komitmen dalam menjaga kelestarian sumber air selama 2 (dua) tahun terakhir. Terdapat beberapa titik mata air di kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Selabintana, untuk menyuplai air bagi masyarakat di kota maupun Kabupaten Sukabumi. Berbagai upaya dilakukan BBTNGGP dan Perumda Air Minum TBW Kota Sukabumi dalam menjaga kualitas dan kuantitas debit sumber air tersebut. Setelah melakukan penanaman di daerah tangkapan air (catchment area) pada tanggal 23 Desember 2021 lalu, pada Rabu 29 Desember 2021, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi – BBTNGGP bersama Perumda Air Minum TBW Kota Sukabumi melakukan patroli gabungan pengamanan kawasan di Resort PTN Selabintana. Kegiatan ini masih dalam rangkaian pelaksanaan Rencana Karya Tahun (RKT) 2021. Selain dari pihak BBTNGGP dan petugas Perumda Air Minum TBW Kota Sukabumi, kegiatan patroli ini juga melibatkan unsur TNI dan POLRI. Pelaksanaan patroli pengamanan kawasan dimulai dari Blok Baru Benteng hingga Blok Cadas Pamikul, Resort PTN Selabintana. Selama patroli, tim tidak menemukan adanya gangguan kawasan yang membahayakan. Selain patroli pengamanan kawasan, kegiatan kali ini juga sekaligus dilaksanakan dalam rangka pengambilan sampel air di empat titik sungai yang terdapat di Resort PTN Selabintana, yaitu di Sungai Cipelang, Sungai Citinggar, Sungai Cipada, dan Sungai Cilebaksiuh. Berdasarkan Keputusan Dirjen KSDAE Nomor SK. 204/KSDAE/SET/KSA.3/5/2018 tanggal 14 Mei 2018 Tentang Areal Pemanfaatan Air dan Energi Air, untuk lingkup Bidang PTN Wilayah II Sukabumi terdapat 25 Sungai yang masuk kedalam daftar Pada keputusan tersebut termasuk di dalamnya empat sungai yang pada kegiatan kali ini dilakukan pengambilan sampelnya. Pengambilan sampel air ini bertujuan untuk mengetahui kualitas sumber air yang ada di kawasan TNGGP khususnya di Resort PTN Selabintana. Sampel air yang diambil selanjutnya akan dilakukan pengujian di laboratorium Perumda Air Minum TBW Kota Sukabumi. Hasil uji kualitas sampel air kedepannya akan sangat berguna bagi pengelolaan kawasan, diantaranya untuk mengetahui kualitas sumber air yang dipengaruhi oleh kondisi tutupan lahan suatu kawasan. Kualitas air menjadi salah satu bioindikator apakah ekosistem di dalam kawasan masih terjaga dengan baik atau sudah rusak. Potensi sumber air yang melimpah dari dalam kawasan TNGGP sudah seharusnya dijaga oleh segenap masyarakat khususnya yang berada di sekitar TNGGP agar keberadaanya tetap lestari. Karena, keberadaan sumber air termasuk kualitas dan kuantitasnya masih sangat tergantung pada kondisi ekosistem di dalam kawasan TNGGP. Jika ekosistemnya rusak, maka bukanlah suatu hal yang mustahil apabila nantinya sumber air tersebut akan terus menurun bahkan menghilang. Air adalah sumber kehidupan, oleh karena itu marilah kita bersinergi bersama untuk menjaga keberlangsungan mata air bagi generasi mendatang. Sumber : Febriyani, S.Hut dan Yanie N. Dewi, S.Hut - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Dok : Tim Publikasi Bidang PTN Wilayah II Sukabumi
Baca Artikel

Mahasiswa D-III Ekowisata Politeknik Elbajo Commodus Lulus Ujian Magang Balai TN Komodo

Labuan Bajo, 29 Desember 2021. Balai Taman Nasional Komodo berkomitmen penuh mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan ilmu pengetahuan pelajar melalui penyelenggaraan kegiatan magang di tingkat tapak. Kedua mahasiswa D-III Prodi Ekowisata Politeknik Elbajo Commodus Labuan Bajo merupakan salah satu kelompok mahasiswa yang berhasil lulus seleksi administrasi magang dan telah menjalani kegiatan magang di luar kampus selama + 6 bulan sebagai bentuk implementasi kebijakan ‘Kampus Merdeka Belajar’ yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Penerimaan siswa dan mahasiswa magang di Balai Taman Nasional Komodo diselenggarakan secara ketat dan penuh pertimbangan. Pelajar atau peneliti selaku pemohon diwajibkan mengirimkan (a) surat permohonan magang/penelitian dari universitas, (b) proposal magang/penelitian yang ditandatangani perwakilan universitas, (c) salinan transkrip nilai semester 1 – 4 bagi mahasiswa pertengahan dan semester 1 – 6 bagi mahasiswa tingkat akhir, dan (d) salinan kartu tanda mahasiswa yang bersangkutan. Jika pemohon lulus seleksi, maka yang bersangkutan akan dihubungi pihak Balai Taman Nasional Komodo untuk dapat melakukan presentasi rencana kegiatan magang/penelitian secara daring dihadapan seluruh pimpinan dan staf Balai Taman Nasional Komodo. Saran penyempurnaan akan disampaikan oleh perwakilan Balai Taman Nasional Komodo sebelum pelajar datang langsung ke Balai Taman Nasional Komodo. Pelaksanaan kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo merupakan sebuah peluang pembelajaran langsung yang efektif bagi mahasiswa. Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengobservasi langsung fenomena di dalam kawasan dan turut berinteraksi sosial dengan para pemangku kepentingan serta mahasiswa dari universitas lain. Mahasiswa dituntut mampu menerapkan critical thinking untuk mengidentifikasi permasalahan serta solusi efektif bagi kendala tersebut. Balai Taman Nasional Komodo memandang kegiatang magang sebagai bentuk jalinan kerja sama dengan lembaga pendidikan yang dapat mendukung pengelolaan kawasan konservasi melalui penajaman ilmu pengetahuan. Adelgonda Tasina Naul dan Bonevasius Antur ditempa oleh jagawana (ranger) Balai Taman Nasional Komodo untuk memahami makna konservasi seutuhnya melalui 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi di Indonesia karangan Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc yang dapat diunduh melalui tautan berikut: https://bit.ly/bukupentingkonservasiKSDAE. Kedua mahasiswa mulanya belum memiliki tujuan magang yang spesifik, namun Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Komodo (Muhammad Ikbal Putera) berdedikasi penuh layaknya widyaiswara mampu mengarahkan mahasiswa memiliki sasaran kegiatan magang yang terukur sepenuhnya. Mahasiswa D-III Ekowisata ini dituntut untuk dapat mengidentifikasi potensi wisata alam di wilayah desa dalam kawasan utamanya area kerja Resort Kampung Rinca dan Resort Kampung Kerora, merasakan langsung aktivitas pelestarian semi alami penyu di Resort Loh Wau dan Resort Kampung Kerora, ikutserta dalam diskusi Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Kampung Rinca, dan terlibat dalam kegiatan pemanduan dan interpretasi di Resort Loh Liang dan Resort Padar Selatan. Kedua mahasiswa juga dilibatkan dalam penyelenggaraan Virtual Tour Taman Nasional Komodo sebanyak dua kali dengan sasaran para pelajar mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Universitas. Rangkaian akhir kegiatan penelitian ataupun magang di Balai Taman Nasional Komodo adalah mengikuti ujian akhir magang dan presentasi hasil kegiatan magang/penelitian secara daring. Mahasiswa diwajibkan mengikuti dan melewati nilai standar minimal ujian magang yang diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Komodo. Ujian akhir magang dilaksanakan untuk mengukur perkembangan pembelajaran mahasiswa selama berkegiatan di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Pengelola akan mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa dan berharap agar ilmu pengetahuan yang diperoleh dapat dikembangkan dan menjadi bahan diskusi pada semester selanjutnya. Mahasiswa setidaknya harus mendapatkan nilai minimal 70 dari 100 untuk lulus ujian akhir magang, baru setelahnya diperkenankan melangsungkan presentasi hasil kegiatan secara daring untuk menguji ilmu yang telah didapatkan. Peserta yang mendapatkan nilai dibawah standar langsung dituntut untuk mengikuti ujian remedial hingga mencapai nilai yang ditentukan. Pada tanggal 28 Desember 2021, kedua mahasiswa D-III Politeknik Elbajo Commodus Labuan Bajo telah mengikuti dan lulus ujian akhir kegiatan magang. Balai Taman Nasional Komodo membuka peluang bagi siswa dan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan magang/penelitian tahun depan dengan penuh pertimbangan sesuai dengan kepentingan pengelolaan. Lamaran magang dapat dikirimkan melalui surat elektronik di komodonationalpark1980@gmail.com Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Adelgonda Tasina Naul dan Bonevasius Antur \ Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

BBTN Gunung Gede Pangrango dan PT . Bumi Paseban Alami Lakukan Upaya Pemulihan Ekosistem

Cibodas, 27 Desember 2021. Bidang Pengeloaan Taman Nasional (PTN) Wilayah II Sukabumi – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) kembali melakukan penanaman untuk pemulihan ekosistem di Resort PTN Selabintana. Kali ini BBTNGGP berkolaborasi dengan PT. Bumi Paseban Alami (BPA) sebagai pemegang IUPSWA di Resort PTN Selabintana berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI Nomor: SK. 289/1/KLHK/2020 tanggal 29 September 2020. Izin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA) merupakan izin usaha yang diberikan untuk penyediaan fasilitas sarana serta pelayanannya yang diperlukan dalam kegiatan pariwisata alam. Penanaman ini merupakan salah satu implementasi kegiatan yang tertuang dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) PT. BPA Tahun 2021. Sebagai pemegang IUPSWA, PT. BPA memiliki komitmen untuk mendukung pelestarian kawasan TNGGP sejak dua tahun terakhir. Sesuai dengan dokumen Rencana Pemulihan Ekosistem (RPE) BBTNGGP Tahun 2020-2024, kegiatan pemulihan ekosistem kali ini di laksanakan di Blok Legok Tiis, Resort PTN Selabintana. Jumlah bibit yang ditanam untuk tahun 2021 sebanyak 400 bibit dengan berbagai jenis bibit tanaman lokal seperti rasamala, ganitri, manglid, dan salam. Secara umum, lokasi pemulihan ekosistem di Resort PTN Selabintana memiliki kriteria Rusak Sedang. Dengan dominasi vegetasi kaliandra dan semak belukar. Sementara vegetasi asli cenderung jarang baik tingkat semai, pancang, maupun tiang. Sehingga permudaan vegetasi asli ke tingkat selanjutnya akan sulit. Selain pihak BBTNGGP dan PT. BPA, kegiatan penanaman kali ini juga melibatkan masyarakat setempat, Masyarakat Mitra Polhut, Volunteer Panthera, dan mahasiswa PKL dari D3 Vokasi Ekowisata IPB. Di penghujung tahun 2021 ini, BBTNGGP dan PT. BPA telah melakukan aksi untuk tetap menjaga kelestarian kawasan TNGGP. Semoga dengan dilaksanakannya kegiatan penanaman di lokasi pemulihan ekosistem Resort PTN Selabintana, pemulihan ekosistem di lokasi tersebut dapat dipercepat, sehingga ekosistem sebelum terjadi kerusakan dapat kembali seperti semula. Sumber : Enike Ratna Sari, S.Hut dan Febriyani, S.Hut - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Dok : Tim Publikasi Bidang PTN Wilayah II Sukabumi
Baca Artikel

SKW IV Bidang Wilayah II Balai Besar KSDA Riau Serahkan Bantuan Ekonomi Produktif Masyarakat

Pekanbaru, 28 Desember 2021 - Berlokasi di Aula Kantor Desa Dayun, Kabupaten Siak, Plt. Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV, Gunawan didampingi Kepala Resort Siak dan Kepala Resort Kampar beserta beberapa staf Bidang Wilayah II melakukan penyerahan bantuan ekonomi produktif masyarakat di sekitar kawasan konservasi (21/12/2021). Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada Kelompok Tani Nelayan Hutan (KTNH) Danau Zamrud, KTNH Taman Nasional Zamrud, Kelompok Tani (KT) Sijonggi Abadi, KT Tunas Baru, KT Tuah Berseri dan KT Pesisir Melayu. Di sela-sela kegiatan tersebut, Plt. SKW IV juga menyampaikan pesan mengenai bantuan ekonomi produktif tersebut dan berharap bantuan yang diberikan dapat berkelanjutan serta masyarakat dapat ikut berperan aktif menjaga hutan dengan maksimal. Masing-masing ketua kelompok juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesan yang semakin menumbuhkan semangat dan rasa kebersamaan pada segenap hadirin. Semoga masyarakat sejahtera, hutanpun terjaga ya sob. #bersamakitabisa #karenakonservasitakmungkinsendiri Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Festival Warna: Inisiasi KLHK Kampanye Daur Ulang Sampah Melalui Karya Seni

Labuan Bajo, 27 Desember 2021. Balai Taman Nasional Komodo, Balai Taman Nasional Bali Barat, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, dan BKSDA Sulawesi Utara bekerjasama dengan Green Leaders Indonesia menyelenggarakan Festival Warna serempak di empat kota pada tanggal 18 – 19 Desember 2021. Festival ini mengusung tema daur ulang sampah dengan mengadakan Art Recycle Competition dan Webinar dengan beberapa materi terkait dengan kreasi karya seni dari bahan daur ulang sampah. Pelaksanaan Art Recycle Competition ini dapat diikuti oleh semua kalangan dan tidak dibatasi usia. Peserta dituntut untuk dapat mengumpulkan bahan-bahan daur ulang sampah untuk diolah menjadi sebuah karya seni yang unggul baik dalam bentuk seni murni ataupun seni terapan. Pendaftaran Art Recycle Competition sendiri dimulai pada tanggal 8 – 16 Desember 2021 dan diselenggarakan secara parsial di masing-masing kantor Unit Pelaksana Teknis yang terlibat dalam kegiatan. Green Leaders Indonesia - Labuan Bajo dipercaya mengoordinir pelaksanaan acara di ‘Surga Tersembunyi Timur Indonesia’, Labuan Bajo. Setidaknya terdapat 17 peserta yang berpartisipasi dalam Festival Warna di Labuan Bajo. Peserta berasal dari perorangan/grup, komunitas seni, dan UMKM profesional. Peserta juga diminta untuk menarasikan karya seninya dan menjelaskan proses daur ulang sampah yang dilakukan untuk menciptakan karya tersebut secara daring. Terdapat 11 dari 17 peserta berhasil menyelesaikan dan menyerahkan karya seninya ke panitia untuk dilakukan penjurian. Penjurian dilakukan oleh juri pilihan yang berasal dari komunitas seniman LABART (Arnoldus Febri Restanto dan Kamarudiyanto) serta Duta Wisata Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 (Muhammad Ikbal Putera) bertempatkan di Gedung Komodo Visitor Center, Labuan Bajo. Seorang kurator (Matheus Sakeus) dari komunitas seniman LABART turut ditugaskan untuk menguratori karya seni peserta satu persatu kepada tim juri. Penilaian mempertimbangkan komponen bahan daur ulang sampah yang digunakan, narasi produk, tingkat kesulitan dan ketelitian proses pembuatan produk, serta manfaat/dampak produk yang diciptakan. Berdasarkan proses kurasi dan penjurian yang sangat ketat, terpilih tiga pemenang di masing-masing wilayah penyelenggaraan acara. Pemenang Art Recycle Competition di Labuan Bajo dianugerahkan kepada karya seni dengan nama ”Karpet D’Mottanai” (Juara 1), “Trash and Angel” (Juara 2), dan “Sisi Gelap Konsumsi” (Juara 3). Ketiga karya seni ini tidak hanya dipilih karena keindahan rupa namun juga melihat kuantitas bahan daur ulang yang digunakan serta tingkat ketelitian peserta dalam merakit produk dalam waktu yang terbatas. Karya seni tersebut menjadi aset pameran yang dipertunjukan di ruang pameran Gedung Komodo Visitor Center di Labuan Bajo. Lukita Awang Nistyantara selaku Kepala Balai Taman Nasional Komodo sangat mendukung kolaborasi yang melibatkan pemuda pemudi daerah dalam menanggulangi permasalahan sampah melalui karya seni. Beliau berharap agar kedepannya Festival Warna dapat memotivasi individu dan komunitas lain untuk dapat berkreasi mendaur ulang sampah menjadi produk yang memiliki intangible values maupun economic value. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Jalan Tengah Selesaikan Konflik Tenurial, BKSDA Sumsel Bangun Pertemanan Para Pihak

Musi Banyuasin, 25 Desember 2021. Komisi IV DPR RI Daerah Pemilihan Sumsel I, Hj. Renny Astuti, S.H., S.Pn. beserta tim melakukan kunjungan kerja ke Tungkal Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin pada Jumat (24/12). Pada kunker tersebut, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel), Ujang Wisnu Barata, bersama Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I serta Kepala Resort Konservasi Wilayah I dan II Suaka Margasatwa (SM) Dangku, mendampingi Ibu Renny beserta tim dalam diskusi bertema “Penyelesaian Konflik Tenurial di SM Dangku melalui Kemitraan Konservasi” bertempat di Kantor Camat Tungkal Jaya Kabupaten Musi Banyuasin. Proses diskusi berjalan dengan hangat, Kades Berlian Jaya, Kades Pangkalan Tungkal, dan Perwakilan Masyarakat Sako Karangan turut aktif membahas kondisi terkini kawasan SM Dangku, terutama pada areal yang digarap masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarga, agar ditemukan solusi penyelesaian yang tepat. "Kami tidak menuntut banyak, yang penting masyarakat mempunyai penghasilan. Kami siap untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan", ujar Juanda, Perwakilan Masyarakat Sako Karangan. Ujang menyambut baik untuk membangun relasi dan pertemanan dengan masyarakat dalam pengelolaan kawasan SM Dangku, "Kami juga telah memproses usulan masyarakat untuk melaksanakan program kemitraan konservasi melalui sejumlah tahapan dan pada tahun ini, telah dilakukan penandatangan perjanjian kerjasama dengan dua kelompok masyarakat di SM Dangku. Renny menyampaikan perlunya menjalin relasi dan komunikasi antara BKSDA Sumsel dengan masyarakat sekitar kawasan konservasi untuk dikelola bersama pada akses yang telah diberikan. "Kemitraan konservasi merupakan salah satu program Kementerian LHK untuk menjadi solusi penyelesaian konflik tenurial. Dengan kemitraan konservasi, masyarakat dapat mengakses kawasan secara legal", jelasnya. Kapolsek Tungkal Jaya, Iptu Nirwan Haryadi, memberikan dukungannya dalam upaya yang telah dilakukan BKSDA Sumsel, "Kami juga mengimbau masyarakat dalam mengelola lahan tidak dilakukan dengan cara membakar", imbuhnya. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan Penanggungjawab Berita : Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan Ujang Wisnu Barata – 0852 0780 4307 Narahubung : Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Yusmono - 0812 7819 856 Call Center BKSDA Sumsel – 0812 7141 2141

Menampilkan 1.857–1.872 dari 2.305 publikasi