Kamis, 24 Sep 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Dua Kelompok Tani Sekitar CA Dolok Saut Terima Bantuan BBKSDA Sumut

Tapanuli Utara, 29 Juli 2022. Kembali Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar menyerahkan bantuan usaha ekonomi produktif. Kali ini kepada 2 kelompok tani yang ada di sekitar kawasan Cagar Alam (CA). Dolok Saut. Kelompok Tani (KT) yang pertama, KT. Toga Simamora Jaya yang berada di Desa Parlombuan, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, menerima bantuan usaha ekonomi produktif berupa peralatan pertanian yang mendukung kepada pengembangan usaha pertanian di kelompok tani tersebut. Penyerahan ini dilakukan langsung oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudito, S.Hut., ME. didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, Manigor Lumbantoruan, SP. beserta staf pada Selasa 26 Juli 2022. Masih pada hari dan tanggal yang sama, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar bersama Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung beserta staf juga menyerahkan bantuan usaha ekonomi produktif kepada KT. Rahutbosi di Desa Rahutbosi, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, berupa peralatan budidaya lebah madu. Budidaya lebah madu menjadi salah satu usaha utama masyarakat yang bergabung dalam KT. Rahutbosi. Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudito, S.Hut., ME., menyatakan rasa kegembiraannya dan menyampaikan harapan kepada masing-masing kelompok tani agar memanfaatkan dan menggunakan bantuan yang diberikan dengan sebaik-baiknya, sehingga nantinya memberi manfaat dalam meningkatkan perekonomian warga. Tak lupa juga Seno menyampaikan pesan agar masyarakat peduli dan ikut menjaga kelestarian kawasan konservasi CA. Dolok Saut. Sebaliknya, pengurus dan anggota KT. Toga Simamora Jaya dan KT. Rahutbosi menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar yang telah memfasilitasi dengan pemberian bantuan bagi pengembangan usaha ekonomi produktif masyarakat, dan berjanji akan menggunakan bantuan tersebut dengan sebaik-baiknya, termasuk juga akan ikut membantu petugas dalam menjaga kelestarian kawasan CA. Dolok Saut. Sumber : Yustiil Fazri – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pesona Orchidaceae di Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 11 Juli 2022. Mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung, Dinda Fahita Gultom menjalani kegiatan penelitian magang pada tanggal 20 - 30 Juni 2022 di Loh Buaya dan juga pada tanggal 1 - 8 Juni 2022 di Loh Liang. Dinda mengambil topik Analisis Kelimpahan, Persebaran, dan Pemanfaatan Jenis-Jenis Anggrek (Orchidaceae) di kawasan Taman Nasional Komodo. Pengamatan dan juga data yang diambil meliputi jenis dan jumlah anggrek, jenis pohon inang, serta zonasi tempat tumbuh anggrek. Penelitian magang menggunakan metode jelajah, yaitu dengan penelusuran jalur-jalur yang telah ditentukan. Loh Buaya menggunakan jalur Wae Waso dan jalur wisata, sedangkan di Loh Liang melewati jalur patroli darat dan Banunggulung 3. Penentuan jalur ini berdasarkan pada kemudahan akses dan juga merupakan jalur yang sering dilalui wisatawan, ranger serta naturalist guide. Setiap anggrek di sepanjang jalur dicatat menggunakan bantuan aplikasi SW MAPS serta dokumentasi berupa gambar anggrek beserta pohon inangnya. Penelitian ini akan menambah data inventarisasi bagi Balai Taman Nasional Komodo dan juga sebagai bahan acuan tindakan pelestarian dan perlindungan terhadap tanaman anggrek. Penelitian ini menggunakan dua lokasi yang berbeda dengan tujuan untuk perbandingan dan juga memperkaya data mengenai anggrek agar dapat memudahkan untuk penentuan bentuk pemanfaatan yang tepat. Loh Buaya memiliki ekosistem yang bervariasi seperti mangrove, sawah garam, hutan, dan savana. Sedangkan anggrek yang ditemukan sebagian besar terdapat pada ekosistem hutan dan juga beberapa pada ekosistem savana. Dinda menjumpai anggrek dengan jenis Vanda limbata dan dalam keadaan tidak berbunga tetapi memiliki dominansi yang besar pada pohon-pohon yang ditumpanginya. Hal ini menunjukkan bahwa ditemukan lebih dari sepuluh anggrek yang tumbuh dalam satu individu pohon. Anggrek ini menempel pada retakan- retakan batang atau bekas dahan yang patah yang dipenuhi dengan humus atau serasah lapuk. Tekstur batang nya tidak rata, dan kasar ini cukup beralasan karena memudahkan kotoran-kotoran untuk menempel pada batang pohon tersebut, dan dalam kurun waktu yang lama akan menumpuk sehingga menyebabkan batang pohon itu menjadi lembab dan memudahkan pertumbuhan anggrek. Pohon inang yang sebagai tempat hidup oleh anggrek Vanda limbata adalah pohon spesies Tamarindus indica, Ziziphus jujuba, Schleichera oleosa, dan Schoutenia ovata. Berdasarkan zona pertumbuhan anggrek yang ditemukan pada lokasi penelitian, Vanda limbata termasuk tumbuhan epifit yang hidupnya menumpang pada tanaman lain tetapi tidak dirugikan tanaman yang dijumpainya berdasarkan klasifikasi Johansson tahun, 1974 karena tumbuh di bagian batang atau cabang dari pohon inangnya. Habitat yang sesuai sangat mendukung pertumbuhan anggrek di daerah ini yaitu beriklim kering dan merupakan dataran rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan Vanda limbata di daerah ini tidak berbunga adalah karena hutan yang cukup rapat dan pohon inang yang memiliki tutupan yang lebat sehingga membuat anggrek tidak mendapat suplai sinar matahari yang cukup untuk melakukan perbungaan. Berbeda dengan lokasi penelitian di Loh Liang, ditemukan dua spesies anggrek berbeda yaitu Vanda limbata dan Dendrobium crumenantum. Dengan iklim dan ketinggian yang tidak jauh berbeda dengan Loh Buaya, anggrek tumbuh dengan sangat baik dengan indikator banyaknya individu yang ditemukan sepanjang penelusuran jalur jelajah. Kondisi hutan yang mendukung dengan tidak terlalu rapat, Dinda menemukan Vanda limbata dalam keadaan berbunga, bercirikan dengan dominansi warna merah serta bercak kuning dan kepalanya berwarna merah bata dibalut aroma kayu manisnya yang khas. Saat ini, jenis-jenis tanaman hias khususnya anggrek, mempunyai prioritas untuk pengembangan karena mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri. Bentuk bunga, warna bunga, dan sifat bunga seperti besar, tebal, jumlah kuntum, ketahanan mekar, dan keharuman merupakan sifat dan karakteristik dari jenis-jenis anggrek sebagai acuan untuk memenuhi selera konsumen. Pembudidayaan anggrek dengan tujuan bisnis maupun sekedar hobi tentu akan mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan bertanam anggrek memberikan prospek yang baik bagi masa depan, terutama jenis anggrek hasil-hasil silangan. Sehingga dapat dimanfaatkan sebagai komoditi ekonomi bagi masyarakat lokal dan juga obat-obatan tetapi perlu dilakukan pelestarian agar keberadaan tanaman anggrek ini tetap terjaga. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Rekayasa Kehutanan – Institut Teknologi Bandung - Dinda Fahita Gultom Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut:Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Tim SKW I Telusuri Jejak Beruang Madu Liar yang Masuk ke Dusun Warga

Pekanbaru, 29 Juli 2022 - Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I melakukan mitigasi konflik satwa liar beruang madu di Dusun Tasik Indah, Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan (20/07). Tim berkoordinasi dengan Kades Segati terkait gangguan satwa liar jenis beruang madu yang meresahkan warga Dusun Tasik Indah. Selanjutnya Tim melakukan pengecekan dan pemeriksaan lokasi tempat kejadian bersama kades dan beberapa warga. Dari hasil penelusuran, ditemukan jejak bekas cakaran pada pohon matoa, gaharu dan batang kelapa, Tim menganalisa dan menduga kuat bahwa hal itu memang akibat adanya aktivitas beruang madu di sekitar lokasi tersebut. Seorang warga bernama Yanto menyampaikan bahwa beruang berjumlah 2 ekor (induk dan anak). Setiap menjelang maghrib beruang tersebut datang dan sudah satu minggu terakhir juga mencoba memasuki rumah warga lewat atap yang terbuat dari asbes. Kerusakan serta kehilangan yang diakibatkan beruang tersebut diantaranya kandang ayam, 3 batang kelapa, tanaman gaharu, ayam dengan jumlah sekitar 20 ekor, angsa 5 ekor, dan kambing 1 ekor. Lokasi berada disekitar lahan sawit dan semak-semak dekat rawa. Masyarakat berharap beruang segera ditangkap untuk dipindahkan ke habitat yang jauh dari pemukiman penduduk karena takut akan adanya korban dari masyarakat dusun Tasik Indah. Apalagi satwa sudah berani masuk rumah warga dan lokasi terakhir beruang tersebut terlihat, sangat dekat dengan mushola tempat anak-anak mengaji yang berjarak sekitar 20 meter. Tim melakukan sosialisasi tentang penanganan beruang madu dan menghimbau agar warga lebih hati-hati beraktivitas pada malam dan pagi hari. Tim juga meminta warga tidak anarkis terhadap satwa yang dilindungi dan meminta agar warga selalu berkoordinasi dengan Balai Besar KSDA Riau dalam penanganan konflik satwa. Saat ini Tim sedang melakukan persiapan pemasangan kandang jebak untuk kedua beruang tersebut. Semoga dapat meminimalisir konflik yang terjadi antara manusia dan satwa liar. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Keanekaragaman Jenis Burung Endemik Wallacea Di Loh Buaya Dan Loh Liang

Labuan Bajo, 11 Juli 2022. Mahasiswi Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung, Fina Lutfia Arouffy telah melakukan penelitian magang terkait keanekaragaman jenis burung dan persebarannya pada tanggal 22 Juni 2022. Burung merupakan salah satu indikator yang sangat baik untuk mengetahui kesehatan lingkungan dan nilai keanekaragaman hayati secara keseluruhan untuk ketercapaian alam yang lestari. Burung juga memiliki peran penting bagi ekosistem, contohnya seperti jenis-jenis burung yang berperan serta sebagai penyebar biji tumbuhan untuk regenerasi tumbuhan di hutan. Cakupan kajian keanekaragaman jenis burung ini berada pada kawasan Taman Nasional Komodo, tepatnya di Loh Buaya dan Loh Liang. Fina mendatangi Loh Buaya yang berlokasi di pulau Rinca dan Loh Liang yang berlokasi di pulau Komodo, terletak di wilayah Nusa Tenggara yang didominasi oleh jenis-jenis burung Wallacea. Fina mengharapkan data analisis mengenai burung tersebut nantinya dapat bermanfaat bagi Taman Nasional Komodo dalam pengelolaan di masa yang akan datang. Dalam menganalisis keanekaragaman jenis burung, Fina menggunakan tiga metode yaitu metode point count, jelajah, dan data sekunder. Point count merupakan metode dengan cara pengamatan terpusat di bukit tertinggi dengan area pengamatan dalam radius 50 meter yang dilakukan pada pukul 06.00 hingga pukul 08.00 WITA dan pukul 16.00 hingga 18.00 WITA dengan 3 kali pengulangan pengamatan. Sedangkan, metode jelajah merupakan metode pengamatan dan pengambilan data dengan menelusuri jalur trekking pada wilayah terkait. Untuk kelengkapan analisis data, Fina memerlukan data tambahan yaitu dengan data sekunder. Beberapa data yang Fina ambil di lapang yaitu data nama spesies burung berdasarkan dari hasil identifikasi pengamatan, waktu perjumpaan burung, dan jumlah burung yang teramati. Dari hasil analisis yang dilakukan, Fina mendapatkan hasil bahwa dari setiap wilayah kajian, baik Loh Buaya dan Loh Liang memiliki tingkat keanekaragaman dan persebaran yang berbeda, namun setiap wilayah tetap memiliki keunikannya tersendiri. Di Loh Buaya, Fina mengamati bahwa spesies burung kuntul karang (Egretta eulophotes) cenderung mendominasi sedang mencari makan di area mangrove. Sedangkan berdasarkan pengamatan di Loh Liang, Fina mengamati bahwa terdapat 37 spesies yang didominasi oleh spesies Cacatua sulphurea atau kakatua-kecil jambul kuning. Wilayah Loh Liang kaya akan tanaman pakan bagi spesies kakatua- kecil jambul kuning seperti banyaknya hutan asam dan pohon nitak. Kakatua-kecil jambul kuning juga merupakan satwa kunci Taman Nasional Komodo. Salah satu faktor penyebab jumlah keanekaragaman spesies burung di Loh Liang lebih banyak dibandingkan di Loh Buaya, yaitu dikarenakan tidak adanya persaingan sumber pakan. Berbeda dengan Loh Buaya, yang sumber pakannya dikuasai oleh banyak koloni monyet ekor panjang yang sama-sama memakan buah, biji-bijian, dan daun muda. Berdasarkan keunikan beberapa spesies, Fina menemukan bahwa spesies yang berada di wilayah Loh Buaya belum tentu akan ditemukan di wilayah Loh Liang, begitu pula sebaliknya. Contohnya seperti spesies decu belang (Saxicola caprata) yang banyak ditemukan di Loh Buaya, tetapi sulit ditemukan di Loh Liang. Fina menyimpulkan bahwa hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh habitatnya yang cenderung berada di area bukit dan lembah sabana. Untuk spesies burung di Loh Liang yang tidak ada di Loh Buaya yaitu Kakatua-kecil jambul kuning, yang dikarenakan persaingan pakan yang telah disebutkan sebelumnya. Tentunya, pada beberapa wilayah kajian masih memiliki lebih banyak jenis burung. Namun beberapa peneliti, termasuk Fina belum bisa mengamati secara lanjut dikarenakan keterbatasan tenaga kerja, alat, dan waktu. Setelah menjalankan penelitian ini, Fina berharap akan ada penelitian lebih lanjut mengenai inventarisasi keanekaragaman jenis burung, sehingga dapat menjadi prospek yang bagus bagi Taman Nasional Komodo dalam pemberdayaan fauna serta menambah daya tarik wisatawan dalam mengenal burung-burung endemik Wallacea yang berada di kawasan Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung - Fina Lutfia Arouffy (+6281382043549) Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Melihat Peran Penting Dokter Hewan Dalam Manajemen Konservasi Satwa Mangsa Komodo

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Salah satu peran dokter hewan dalam manajemen konservasi adalah upaya pelestarian, jenis, populasi dan habitat satwa liar dengan memetakan status medis konservasi pada satwa mangsa. Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana berkomitmen untuk mempelajari manajemen konservasi medis pada komodo dilihat dari aspek satwa mangsa yaitu Rusa Timor (Rusa timorensis) yang ada di Taman Nasional Komodo. Kegiatan tersebut dilaksanakan saat magang pada kawasan konservasi in-situ tanggal 11-30 Juni 2022 di Resort Loh Buaya Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 1 Balai Taman Nasional Komodo. Salah satu bentuk aktivitas yang dilaksanakan adalah melakukan pengamatan dan wawancara terkait manajemen konservasi medis komodo ditinjau dari satwa mangsa yaitu Rusa Timor (Rusa timorensis). Komodo merupakan satwa endemik Indonesia dan hanya dapat ditemukan di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, dan Flores. Secara ekologis, komodo merupakan top predator sehingga gangguan dapat terjadi akibat putusnya rantai makanan yaitu hilangnya vegetasi baik sebagai penutup permukaan tanah maupun sebagai sumber pakan bagi kelompok satwa herbivora, khususnya satwa ungulata yang merupakan mangsa bagi komodo. Banyaknya rusa yang menjadi target perburuan liar mengakibatkan ancaman terhadap menurunnya populasi komodo. Rusa timor (Rusa timorensis) merupakan makanan utama bagi komodo. Adanya perburuan liar mengakibatkan penurunan populasi rusa yang dapat mengancam kelangsungan hidup komodo. Ekosistem habitat Rusa timor adalah ekosistem hutan savana yang memiliki ciri terdapatnya rerumputan dan beberapa pohon. Rusa timor merupakan hewan herbivora dan spesifikasi makannya yaitu memakan rerumputan (graminoids). Rusa merupakan salah satu hewan ruminansia. Secara umum hewan ruminansia lebih rentan terjangkit penyakit cacingan. Saluran pencernaan merupakan salah satu organ yang rentan terserang penyakit cacingan (helminthiasis). Cacing dalam saluran pencernaan dapat menyebabkan kerusakan mukosa usus yang berakibat pada penurunan efisiensi penyerapan makanan. Kondisi ini mengakibatkan penurunan pertumbuhan rusa dan rentan terhadap penyakit lainnya yang dapat membahayakan kesehatan rusa itu sendiri. Berdasarkan data sekunder yang didapat dari jurnal dengan judul “Tingkat Infestasi Cacing Saluran Pencernaan Pada Rusa Timor (Rusa timorensis)”, diketahui bahwa penularan cacing dapat terjadi melalui pakan dan minum yang tercemar oleh feses. Terjadinya penularan penyakit disebabkan adanya feses yang terinfeksi cacing. Selain cacing, ada pula telur cacing yang berada dalam feses. Feses yang mengandung telur cacing akan berkembang menjadi larva di tanah kemudian masuk ke dalam tubuh rusa melalui proses ingestion bersama pakan yang dimakan. Haemonchus sp. merupakan salah satu cacing yang umum dijumpai pada ruminansia di tempat beriklim tropis dan kondisi lingkungan yang lembab. Hal ini sesuai dengan kondisi di lapangan ±10 hari terjadi hujan di wilayah Loh Buaya yang mempengaruhi kondisi lingkungan menjadi lembab. Kondisi yang lembab sangat mendukung pertumbuhan cacing Haemonchus sp. karena siklus hidup cacing ini secara langsung dan tanpa inang sehingga cacing dapat dengan mudah menyebar. Kondisi iklim berkaitan dengan tingkat kejadian cacing yang ditemukan pada feses. Namun, tingkat prevalensi cacing pada rusa timor berbeda di setiap wilayah. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan geografis dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi keberadaan siput sebagai perantara larva cacing. Siput yang membawa larva cacing memungkinkan mencemari pakan rusa. Peran dokter hewan sangatlah penting dalam pengelolaan kawasan konservasi terutama satwa mangsa yang mendukung keberlangsungan hidup komodo sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terkait dengan keberadaan cacing Haemonchus sp. Semoga kedepannya akan ada lulusan Sarjana Kedokteran Hewan yang mendaftarkan diri sebagai Pengendali Ekosistem Hutan di Balai Taman Nasional Komodo dan menjadi memiliki tenaga ahli bidang veteriner yang berperan dalam menjaga kesehatan hewan di kawasan Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana - Maria Magdalena Juliana Floreda Dai Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Melihat Perilaku Istirahat Rusa Timor Di Lembah Loh Buaya Pulau Rinca

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Agneta Rince, Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana Kupang melakukan kegiatan magang wajib di Resort Loh Buaya, Pulau Rinca, terkait observasi perilaku istirahat pada rusa timor (Rusa timorensis). Tingkah laku istirahat merupakan salah satu aktivitas harian dari rusa timor dan melakukannya secara berkelompok setelah melakukan aktivitas makan di pagi, siang, dan sore hari. Jenis pakan yang biasanya di makan oleh rusa timor yang ada di loh buaya sendiri adalah jenis rerumputan. Agneta melakukan wawancara dan menyimpulkan bahwa rusa memakan buah buah asam serta buah bidara. Rusa timor banyak menghabiskan waktunya di rerumputan teki yang merupakan pakan dari rusa timor itu sendiri. Rusa timor sendiri memiliki kemampuan beradaptasi yang cukup baik. Dari hasil pengamatan, Agneta mengamati jumlah rusa timor yang ada di sekitar resort loh buaya berkisar sekitar 6 ekor yang biasanya beristirahat di depan pusat informasi dekat pohon asam dengan cara berbaring di bawah teduhnya pohon asam dan semak sambil melakukan kegiatan memamah biak. Rusa timor melakukan aktivitas istirahat untuk berteduh dan berlindung dari teriknya sinar matahari langsung serta untuk menjaga kestabilan suhu tubuhnya. Pada saat istirahat dalam kelompok besar maupun kelompok kecil dengan jarak antar individu yang tidak berjauhan, biasanya rusa timor juga sesekali diselingi dengan merawat diri. Agnes berhasil mengamati aktivitas lain dari rusa timor yaitu membersihkan diri, meregangkan otot-otot tubuh, mengibaskan ekor, menggerakkan telinga, vokalisasi, serta mengasah tanduk. Rusa timor membersihkan diri dengan menjilat rambut yang berada di bagian-bagian tubuh seperti punggung, perut dan muka. Rusa dapat melakukan aktivitas menjilat secara pribadi ataupun menjilat individu lain. Rusa timor melakukan aktivitas meregangkan otot-otot tubuh sesudah istirahat selesai dalam jangka waktu yang lama dengan posisi duduk atau tidur merebahkan diri. Terkadang, rusa yang biasanya duduk, kemudian meregangkan kaki dan leher. Rusa timor biasa mengibaskan ekor dan menggerakkan telinga baik pada saat mereka sedang duduk, berdiri, maupun berjalan untuk mengusir serangga dan sebagai sikap untuk berjaga-jaga. Rusa timor merupakan jenis rusa tropis yang dapat dijumpai di berbagai pulau di Indonesia. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo, mereka akan menjumpai rusa timor di Loh Buaya, Pulau Rinca. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana - Agneta Rince Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Mengkaji Keanekaragaman Vegetasi Di Resort Loh Buaya

Labuan Bajo, 11 Juli 2022. Mahasiswa Sarjana Ilmu Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan kegiatan kerja praktek di Taman Nasional Komodo, tepatnya di Loh Buaya dan Loh Liang yang telah dimulai sejak tanggal 20 Juni 2022. Terdapat tiga mahasiswa yang melakukan kerja praktek ini, yakni Adi Yudhatama, Fina Lutfia Arouffy, dan Dinda Fahita Gultom. Kegiatan kerja praktek ini dibina oleh Ikhwan Syahri (Kepala Resort Loh Buaya) selama di Loh Buaya dan Rawuh Pradana (Kepala Resort Loh Liang) di Loh Liang (Pengendali Ekosistem Hutan Pertama), ada pula beberapa ranger yang ikut mendampingi ketiga mahasiswa tersebut saat berkegiatan di lapangan. Mereka melakukan kerja praktek untuk mengaplikasikan hal-hal yang telah mereka pelajari selama kegiatan perkuliahan serta mendapatkan pengalaman langsung mengenai pengelolaan kawasan konservasi di Taman Nasional Komodo. Dalam keseharian nya mahasiswa mengikuti jadwal para ranger untuk turun ke lapangan dan melakukan kegiatan seperti patroli wilayah perairan dan daratan untuk mengamankan kawasan konservasi, penyuluhan kepada para nelayan mengenai batasan-batasan dalam kegiatan pemancingan satwa laut, dan juga kegiatan jelajah dimana dilakukan pengamatan terhadap flora dan fauna yang ada dalam kawasan konservasi. Lokasi kerja praktek terletak dalam habitat komodo, maka mahasiswa wajib mengikuti aturan untuk tidak bepergian keluar pondok penginapan tanpa sepengetahuan atau pendampingan para ranger untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Agar mahasiswa mendapatkan pengalaman lebih selama berkegiatan di Taman Nasional Komodo, maka mahasiswa wajib untuk mengkaji topik khusus terkait bidang kehutanan selain mengikuti kegiatan ranger. Salah satu mahasiswa, yaitu Adi Yudhatama (Ketua Kelompok Kerja Praktik) mengkaji mengenai vegetasi yang ada di Loh Buaya. Kajian yang Adi lakukan adalah analisis vegetasi yang merupakan suatu cara untuk mempelajari komposisi dan atau susunan vegetasi secara bentuk atau struktur dari tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi tersebut dilakukan dengan membuat plot sampel dengan ukuran 2x2 m2 untuk mengamati vegetasi herba dan semai, 5x5 m2 untuk vegetasi perdu dan pancang, 10x10 m2 untuk pohon dalam fase tiang, dan 20x20 m2 untuk pohon dewasa. Semai adalah anakan pohon yang dimulai dari kecambah hingga setinggi kurang dari 150 cm, pancang adalah anakan pohon dengan tinggi lebih dari sama dengan 150 cm namun memiliki diameter batang kurang dari 10cm, tiang adalah anakan pohon dengan diameter batang antara 10 cm dan 20 cm, dan pohon dewasa berdiameter lebih dari 20 cm. Teman-teman dari Universitas Cendana turut membantu Kegiatan pembuatan plot ini yang juga sedang magang di Resort Loh Buaya. Adi membuat plot dengan minimal sebanyak tiga kali pada tiga jenis ekosistem yang ada dalam kawasan Loh Buaya, yaitu hutan gugur terbuka, rawa asin, dan savanna. Berdasarkan hasil pengamatan Adi, terdapat delapan jenis pohon yang diidentifikasi pada ekosistem hutan gugur terbuka yakni Tamarindus indica (asam), Schleichera oleosa (kesambi), Schoutenia ovate (walikukun), Thespesia populnea (waru laut), Strychnos lucida (bidara laut), Ziziphus mauritiana (bidara), Capparis lucida, dan Mimosa pudica. Sedangkan untuk ekosistem savana terdapat lima jenis pohon yang diidentifikasi yaitu, Borassus flabellifer (lontar), luwi, bidara, kesambi, dan Capparis lucida. Dan pada rawa asin Adi menemukan jenis pohon bidara dan asam. Jenis perdu hanya teridentifikasi dalam ekosistem hutan gugur terbuka dengan 2 jenis spesies dapat diidentifikasi, yakni Ricinus communis (jarak) dan Murraya paniculata (kemuning). Hasil identifikasi herba pada ketiga ekosistem adalah Murraya paniculata (balakacida atau sensus), rerumputan, dan teki-tekian. Menurut Adi, banyak hal yang telah ia terima selama kegiatan kerja praktek ini. Selain pengalaman patroli dan menjelajahi rimba, mereka juga diajarkan tentang kedisiplinan selama di lapangan yang kurang mereka dapat karena kegiatan lapang yang minim dilakukan di masa kuliah akibat adanya pandemi Covid-19. Akan tetapi, hal terpenting yang ia dapat adalah kesempatan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang peduli dan selalu memberikan kritikan yang membangun. Rekan-rekan mahasiswa berharap agar Balai Taman Nasional Komodo dapat tetap melibatkan pelajar dalam rangkaian pengelolaan kawasan konservasi karena merupakan salah satu Taman Nasional terbesar di Indonesia yang cocok untuk lokasi belajar. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung - Adi Yudhatama Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Rencana Pemulihan Ekosistem Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengutamakan pentingnya keberadaan dan kelestarian ekosistem daratan maupun perairan yang membentang dari Sabang sampai Merauke dengan menerbitkan berbagai peraturan perundang-undangan terkait Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (KSDAH) dan Ekosistemnya. Sebagai contoh, NKRI menerbitkan UU No. 5 tahun 1990 tentang KSDAH dan ekosistemnya, UU No. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Peraturan perundang-undangan tersebut, diimplementasikan penuh pada sistem pengelolaan taman nasional di seluruh wilayah Indonesia. Taman Nasional Komodo merupakan kawasan konservasi yang pengelolaannya mengutamakan tiga pilar konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari. Salah satu upaya pengawetan yang konsisten dilakukan oleh Balai Taman Nasional Komodo adalah transplantasi karang. Namun, upaya pengawetan ini perlu dirancang dengan baik agar luarannya dapat terukur dalam beberapa waktu kedepan. Terkait dengan hal tersebut, Balai Taman Nasional Komodo melakukan penyusunan dokumen Rencana Pemulihan Ekosistem (RPE) bersama tim tenaga ahli dari Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) sebagai dasar pelaksanaan kegiatan pemulihan ekosistem di Taman Nasional Komodo lima sampai sepuluh tahun kedepan. Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan kegiatan penyusunan dokumen RPE yang terdiri dari peninjauan lapangan di kawasan Taman Nasional Komodo dan pembahasan hasil temuan lapangan di Kantor Balai Taman Nasional Komodo selama lima hari kerja mulai tanggal 13 – 17 Juni 2022. Setidaknya sebanyak 19 orang tim terlibat dalam kegiatan penyusunan RPE pada tahun 2022. Setiap anggota dibagi ke dalam beberapa tim kecil untuk mengobservasi tiga ekosistem perairan yaitu ekosistem mangrove, ekosistem padang lamun, dan ekosistem terumbu karang. Empat orang tim Balai Taman Nasional Komodo dan satu orang tenaga ahli mengambil data ekosistem mangrove dengan persentase tutupan kanopi mencapai 75-88% dan berhasil mengidentifikasi populasi mangrove Rhizopora apiculata dan Rhizopora mucronata. Sementara tim kedua berupaya mengambil data pada ekosistem padang lamun di kawasan Taman Nasional Komodo. Setidaknya sebanyak tiga orang tim Balai Taman Nasional Komodo mengamati delapan lokasi pengamatan di kawasan Taman Nasional Komodo. Tim berhasil mengidentifikasi lamun jenis Halodule uninerfis, Thalasia hemprichii, dan Enhalus acoroides. Tim ketiga bekerjasama mengambil data pada ekosistem terumbu karang untuk mengamati tingkat kesehatan karang, kelimpahan ikan serta megabentos di wilayah pesisir dan perairan Taman Nasional Komodo. Tim ketiga terdiri dari enam anggota Balai Taman Nasional Komodo dan satu orang tim tenaga ahli. Tim karang berhasil memperoleh data dari 15 lokasi pengamatan dan menemukan bahwa jenis karang dengan kelimpahan koloni tertinggi adalah genus Acropora sp., Pocillopora sp., Lobophyllia sp., Montipora sp., dan Euphyllia sp. Tim karang juga berhasil melakukan pendataan jenis ikan dengan memperoleh data 20 genus ikan dan berhasil mengidentifikasi 16 jenis ikan indikator dari total 87 jenis ikan yang dijumpai di lokasi pengamatan. Selanjutnya, tim berhasil mengidentifikasi tujuh jenis megabentos dimana empat jenis yang ditemukan memiliki nilai ekonomi, sedangkan tiga jenis lainnya merupakan jenis indikator. Tim pengamat ketiga melakukan pengambilan data karang dengan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan berupaya mengolah data yang didapatkan dengan menggunakan metode Coral Point Count with Excel Extensions (CPCe) bersama tim tenaga ahli yang terlibat. Setidaknya terdapat lima cluster yang menjadi lokasi pengambilan data menggunakan metode UPT. Cluster tersebut ditentukan secara acak, menyebar merata, dan diharapkan mewakili beberapa daerah/zona dalam kawasan Taman Nasional Komodo berdasarkan fungsi penggunaan ruang. Balai Taman Nasional Komodo berharap tersusunnya dokumen induk RPE yang dilakukan pada tahun 2022 dapat menjadi acuan/pedoman pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo ketika hendak melakukan kegiatan pemulihan ekosistem pada beberapa tahun kedepan. Dokumen induk RPE juga diharapkan dapat merangkum seluruh rancangan upaya pemulihan, memetakan lokasi kegiatan, dan mampu mengidentifikasi kendala serta solusi atas permasalahan yang dihadapi petugas saat akan melaksanakan kegiatan tersebut. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Mahir - Ande Kefi, S.ST. (+6282242707977) Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Pengamatan Body Condition Score Satwa Mangsa Komodo di Lembah Loh Buaya Pulau Rinca

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Mahasiswa Sarjana Program Studi (Prodi) Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana Kupang melaksanakan kegiatan magang mulai tanggal 29 Mei 2022 sampai dengan 6 Juli 2022 di Resort Loh Buaya Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa semester 6 an. Elis Albertine Rahmita Deran Ola memutuskan untuk mempelajari tingkah laku komodo, nutrisi satwa mangsa yaitu monyet ekor panjang dan rusa timor, serta mempelajari manajemen konservasi medis terkait kesehatan satwa dan upaya pelestarian serta peningkatan kesejahteraan satwa mangsa di kawasan Taman Nasional Komodo. Elisa berpendapat bahwa beberapa indikator seperti kelayakan kondisi ekologis dan habitat, minimnya intervensi manusia dalam kehidupan mangsa, dan ketersediaan pakan sebagai sumber makanan merupakan indikator yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari para ranger di Balai Taman Nasional Komodo. Penilaian terhadap ketersediaan pakan satwa erat kaitannya dengan penampilan dari fisik tubuh serta aktivitas harian satwa di dalam kawasan. Pakan akan mempengaruhi kelancaran proses metabolisme tubuh satwa pemangsa sehinggga observasi body condition score (BCS) yang meliputi penampakan visual (postur dan penonjolan tulang), ukuran tubuh (panjang dan berat badan), aktivitas harian, dan kondisi kesehatan dapat digunakan untuk menilai kondisi prima kelompok satwa pemangsa. Saat ini, belum ada Sarjana Kedokteran Hewan atau Dokter Hewan Profesi yang mengabdikan dirinya bekerja di Balai Taman Nasional Komodo, padahal kesempatan tersebut ada. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membuka peluang karir bagi Sarjana Kedokteran Hewan dan Dokter Hewan menjadi Pengendali Ekosistem Hutan di berbagai kawasan konservasi Indonesia. Kehadiran tenaga khusus di bidang kedokteran hewan tentu dapat menyempurnakan rekam medis mengenai kondisi kesehatan satwa yang hanya dapat dilakukan dengan keahlian profesi tersebut dalam hal memprediksi usia, potensi kanibalisme komodo, hingga terkait asupan nutrisi individu satwa. Biawak komodo (Varanus komodoensis) merupakan Apex Predator di lembah Loh Buaya. Elis mempelajari bahwa kadal karnivora raksasa ini memiliki peran penting sebagai pengendali rantai makanan ekosistem di Taman Nasional Komodo. Elisa mempelajari bahwa setidaknya terdapat dua kategori satwa mangsa, satwa mangsa primer dan sekunder. Satwa mangsa primer adalah rusa timor (Rusa timorensis), sedangkan satwa mangsa sekunder antara lain kerbau air liar (Bubalus arnee), babi hutan (Sus scrofa), dan monyet ekor panjang (Macaca fascularis). Elisa juga berkesempatan mewawancarai salah satu ranger di Balai Taman Nasional Komodo dan menanyakan hal terkait dengan data populasi satwa mangsa di lembah Loh Buaya. Diketahui dari hasil wawancara dengan Ikhwan Syahri (Kepala Resort Loh Buaya) bahwa populasi satwa mangsa di lembah Loh Buaya setidaknya rusa timor mencapai 66 ekor, kerbau air kurang lebih 101 ekor, babi hutan 18 ekor, dan monyet ekor panjang terbagi dalam empat koloni yang belum diketahui secara pasti jumlah masing-masing koloni yang mendiami lokasi pengamatan. Elisa menyadari bahwa jumlah dugaan populasi satwa mangsa yang diperoleh tidak dikatakan akurat sepenuhnya karena belum menggunakan teknik dan sampling yang representatif untuk masing-masing jenis yang ditemukan. Elisa menggunakan metode Faecal Pellet Count (FPC) dalam beberapa sampling plot pada jalur patroli daratan Resort Loh Buaya. Elisa melakukan pengamatan selama 20 hari guna menilai BCS satwa mangsa primer dan sekunder di lembah Loh Buaya. Berdasarkan hasil pengamatan sementara diketahui bahwa frekuensi perjumpaan satwa di jalur-jalur patroli sangat minim. Setidaknya Elisa hanya menjumpai enam ekor rusa timor, 20 ekor kerbau air liar, dan < 50 ekor monyet ekor panjang. Elisa juga mengamati populasi kerbau air liar yang beraktivitas pada jalur patroli dan area sekitarnya untuk mendapatkan nilai BCS kerbau. Diperoleh kesimpulan bahwa BCS kerbau masih dalam rentang persentase yang sangat baik. Elisa mendapatkan nilai BCS tersebut dengan mempertimbangkan faktor ketersediaan pakan kerbau yang mencukupi seluruh individu dalam koloni kerbau. Sama halnya dengan kerbau, babi hutan memiliki ketersediaan pakan yang terjamin di habitatnya. Selama melaksanakan patroli bersama petugas, Elisa menemukan buah-buah lontar serta umbi- umbian bekas gigitan babi. Dalam pengamatan tersebut, Elisa menyimpulkan bahwa ketersediaan jumlah pakan babi hutan lebih besar dibandingkan dengan populasinya. Selanjutnya, Elisa mengamati keanekaragaman hayati dari sumber pakan monyet ekor panjang yang sangat mencukupi dan melimpah, sehingga hal tersebut dapat menjadi dasar bahwa dugaan populasi monyet ekor panjang di Loh Buaya cukup melimpah. Berdasarkan hasil pengamatan jumlah dugaan populasi satwa mangsa di Loh Buaya, Elisa menyimpulkan bahwa ketersediaan pakan komodo akan terpenuhi untuk beberapa tahun kedepan oleh karena melimpahnya populasi satwa mangsa sekunder di lembah Loh Buaya. Elisa berharap, Balai Taman Nasional Komodo dapat memberikan perhatian khusus untuk meningkatkan upaya pengawetan populasi satwa mangsa primer dan sekunder di lembah Loh Buaya dengan lebih terukur di masa yang akan datang. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana - Elisa Albertine Rahmita Deran Ola Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Perilaku Dominansi Monyet Ekor Panjang Di Loh Buaya Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana Kupang melaksanakan kegiatan magang di Loh Buaya Pulau Rinca dengan tujuan untuk nutrisi satwa mangsa bagi komodo yaitu monyet ekor panjang guna pelestarian dan kesejahteraan satwa pemangsa dan satwa mangsa. Selain melaksanakan tujuan utama tersebut, mahasiswa juga mengkaji dan menulis informasi tambahan terkait satwa yang diteliti. Loh Buaya, Pulau Rinca merupakan kawasan yang menjadi lokasi persebaran monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Taman Nasional Komodo. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang secara umum dikenal dengan nama monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah spesies yang tersebar luas di wilayah tropis Asia Tenggara. Pada umumnya monyet ekor panjang hidup secara berkoloni. Dalam satu koloni monyet ekor panjang terdiri atas 20-50 individu. Di Loh Buaya, Pulau Rinca, diperkirakan terdapat empat koloni monyet ekor panjang yang persebaran masing-masing koloni terdapat di beberapa lokasi berbeda di kawasan tersebut. Hasil wawancara mahasiswa bersama petugas, setiap koloni monyet ekor panjang memiliki satu individu monyet yang menjadi pemimpin atau dominan dalam anggota kelompoknya atau biasa disebut individu alfa. Monyet ekor panjang ini dikenal sebagai spesies yang menganut sistem hierarki kuat. Dalam buku Entang Iskandar dan Randall C Kyes yang berjudul “Hewan Model Satwa Primata”, satu individu bisa dikategorikan dominan jika individu tersebut bisa secara konsisten menunjukan sikap agresif kepada individu lain tanpa adanya perlawanan dari individu yang diserangnya. Faktor yang mempengaruhi status dominan satu individu di dalam kelompok, ditentukan antara lain: jenis kelamin, umur, interaksi di dalam kelompok, lama di dalam kelompok serta posisi sosial induk. Hierarki dalam kelompok menentukan kemudahan yang akan diperoleh suatu individu. Salah satu cara mengidentifikasi satu individu lebih dominan dari individu lain, dapat dilakukan dengan cara mengamati satwa target pada saat melakukan interaksi berikut: satwa dominan adalah individu yang menang dalam interaksi agonistik, atau pada kondisi lain, satu individu menghindari individu lain, serta satwa yang memiliki prioritas pertama dalam memperoleh sumber pakan atau pasangan. Selama pengamatan monyet ekor panjang di Loh Buaya Pulau Rinca, jantan dominan cenderung individualis serta selalu terlihat individual dalam menyantap dan mencari makanan. Posisi jantan dominan dalam suatu kelompok bisa diidentifikasi melalui interaksi agonistik dengan jantan dewasa lainnya. Adapun tingkah laku agonistik merupakan tingkah laku yang berhubungan dengan berkelahi/pertentangan dan upaya-upaya untuk mengatasi perkelahian yang terjadi. Dalam interaksi ini, dapat ditentukan mana pemenang dan mana yang kalah. Jantan dominan memiliki prioritas dalam mendapatkan sumber daya, sedangkan jantan dewasa dengan hirarki terendah hanya memiliki akses sangat terbatas pada sumber daya tersebut. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana - Koleta Tresi Rosari Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

SKW I BBKSDA Riau Pantau Pembangunan Peron Sawit di Pinggir Sungai Kerumutan

Pekanbaru, 29 Juli 2022 - Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I melakukan pantauan terkait pembangunan peron (tempat pemuatan) sawit di pinggir sungai Kerumutan, Kelurahan Teluk Meranti, KecamatanTeluk Meranti, Kabupaten Pelalawan (20/07). Tim Resort melakukan pertemuan dengan pemilik peron sawit beserta pengawas peron sawit yang berlokasi di tanah masyarakat pinggir sungai Kerumutan. Berdasarkan keterangan pemilik peron, pembangunan peron sawit tidak ada dorongan atau paksaan dari pihak manapun. Rencana dibukanya aktivitas peron sawit di pinggir sungai Kerumutan bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar Teluk Meranti. Buah-buah sawit masyarakat di sekitar Teluk Meranti akan ditampung dan selanjutnya dibawa ataupun dijual kepada perusahaan sawit yang ada di sekitar Kecamatan Kerumutan dengan transportasi melewati sungai Kerumutan yang berada di dalam kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan. Berdasarkan informasi yang didapat, pembersihan sungai SM Kerumutan diawali oleh permintaan masyarakat kepada Bupati Pelalawan pada tahun 2020 untuk dibersihkan dari tanaman air. Selanjutnya pemilik peron akan mengurus ijin melintas di sungai SM Kerumutan. Petugas akan terus memantau aktifitas tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Observasi Tingkah Laku Monyet Ekor Panjang Di Lembah Loh Buaya

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Mahasiswa Program Studi Sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana Kupang, telah selesai melakukan magang di Loh Buaya selama 20 Hari. Adapun kegiatan yang dilakukan yaitu mengamati terkait tingkah laku serta morfologi komodo (Varanus komodoensis), nutrisi dari satwa mangsa yaitu rusa (Rusa timorensis), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), serta manajemen konservasi medis. Selama kegiatan magang berlangsung, mahasiswa atas nama Skolastika D. Yosenda, tertarik melakukan pengamatan mengenai tingkah laku monyet ekor panjang di lembah Loh Buaya. Loh Buaya merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Terdapat beberapa fauna yang ada di Loh Buaya dan menjadi fokus mahasiswa untuk memahami lebih dalam mengenai monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang merupakan salah satu fauna yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Loh Buaya. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara bersama jagawana (ranger) di Resort Loh Buaya, diketahui setidaknya terdapat empat koloni monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang merupakan salah satu hewan primata non-human yang memiliki tingkat keberhasilan adaptasi yang tinggi, sehingga tersebar di berbagai tipe habitat. Monyet ekor panjang juga merupakan primata yang hidup secara berkelompok sehingga tidak terlepas dari interaksi sosial antar sesamanya. Interaksi sosial yang dilakukan monyet ekor panjang menimbulkan munculnya aktivitas yang berbeda antar individu dengan individu lainnya dalam satu populasi. Interaksi sosial tersebut diantaranya yaitu social affiliation, agonism, non-social activities. Monyet ekor panjang memiliki aktivitas rutin harian seperti mengambil makanan, memasukan makanan ke dalam mulut, menyimpan makanan ke dalam kantung pipi, serta mengunyah dan menelan makanan. Perilaku makan pada monyet ekor panjang memiliki kebiasaan yang unik, dimana dalam memilih makanan, monyet ekor panjang memiliki kriteria tersendiri. Awalnya, monyet ekor panjang akan melakukan penciuman sebagai deteksi untuk memilih bahan pakan dengan kandungan nilai gizi tinggi, tidak membahayakan kesehatan, dan beraroma. Monyet ekor panjang akan memakan buah yang warnanya tidak terlalu mencolok dan memiliki rasa yang manis. Beberapa jenis buah tersebut rata rata adalah buah dengan warna kulit mencolok seperti merah, hijau, jingga, dan hijau kekuningan. Loh Buaya merupakan habitat dimana monyet ekor panjang menemukan berbagai jenis makanan seperti buah asam (Tamarindus indica) dan buah bidara (Ziziphus mauritiana) yang menjadi buah paling sering dikonsumsi monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang yang berada di labuan bajo memakan daun muda dengan melakukan pemilihan daun seperti daun asam, daun kesambi, daun mangrove (Sonneratia alba dan Lumnitzera racemosa) sebagai pakan yang dilihat dari kandungan nutrisinya. Biasanya, monyet akan memilih daun muda yang masih segar dan memiliki kadar toksin yang lebih sedikit dibandingkan dengan daun tua. Selain itu, daun muda mengandung protein yang lebih tinggi dan sedikit serat. Karakteristik daun yang dipilih merupakan daun muda yang berwarna hijau tanpa bulu halus, tidak memiliki getah, dan tidak berbau. Hal tersebut menyebabkan monyet ekor panjang lebih menyukai daun muda dibandingkan dengan daun tua. Pemilihan daun muda juga memiliki hubungan dengan kondisi lambung dari monyet ekor panjang yang dapat mencerna serat daun muda dengan baik. Hal unik lainnya, mahasiswa juga menemukan monyet ekor panjang yang memakan kepiting bakau. Kepiting bukan merupakan makanan utama monyet ekor panjang, namun termasuk pakan penting bagi koloni primate tersebut. Menurut pandangan pribadi mahasiswa selama pengamatan di tingkat tapak, ketersediaan pakan bagi koloni monyet ekor panjang di Loh Buaya cukup melimpah. Pasalnya, koloni monyet memiliki rerata postur tubuh bagus dan sehat. Kedepannya, mahasiswa berharap agar kegiatan pendidikan dan penelitian tentang monyet ekor panjang dapat lebih mendapat perhatian para ranger Balai Taman Nasional Komodo dan akademi perguruan tinggi dalam negeri di Indonesia. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana Skolastika D. Yosenda Penyunting Berita: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Salma Noer Aulia (+6285155456100) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Peduli Kelompok Masyarakat daerah Penyangga, TN Manusela Serahkan Bantuan Peningkatan Ekonomi Produktif

Pasahari, 28 Juli 2022 - Disaksikan oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Ibu Sa'adiah Uluputty, Kepala Balai Taman Nasional Manusela, MHD. Zaidi menyerahkan bantuan peningkatan ekonomi produktif kepada kelompok masyarakat nelayan Asiahari, Negeri Pasahari, Seram Utara. MHD. Zaidi, dalam amanatnya mengharapkan bantuan yang diberikan memberikan dampak ekonomi kepada kelompok sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan efek positif bagi Taman Nasional. Bantuan berupa longboat dan mesin tempel 15 PK ini merupakan wujud pengelolaan Taman Nasional yang bukan hanya fauna dan flora namun juga pemberdayaan masyarakat daerah penyangga. Pada kesempatan tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI, Ibu Sa'adiah Uluputty dalam sambutannya juga menyampaikan bantuan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian Taman Nasional kepada masyarakat pada daerah penyangga. "Masyarakat dan hutan tidak dapat dipisahkan, masyarakat sekitar hutan memiliki ketergantungan terhadap hutan. Maka dari itu masyarakat harus turut serta menjaga dan melestarikan hutan untuk anak cucu kelak", kata Sa'adiah. Selepas memberikan bantuan, Ibu Sa'adiah melanjutkan dengan memberikan arahan teknik-teknik pemasaran dan motivasi pengembangan produk olahan Kenari bagi kelompok Tani Mualey Negeri Siatele. "Pemasaran sekarang bisa dilakukan dengan mudah, cukup modal HP. Foto produk kemudian jual melalui sosial media atau toko online bisa dilakukan dimana saja" kata beliau. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas SDM ini sebagai lanjutan dari pemberian bantuan yang telah dilaksanakan pada tahun 2021. "Mungkin bisa juga meminta pejabat atau tamu-tamu yang datang di negeri ini untuk membantu mempromosikan produk olahan kenari dari Negeri siatele" tutur Ibu Sa'adiah. Sumber : Balai TN Manusela
Baca Artikel

Monitoring Sarang Penyu di Pulau Padar TN Komodo Bersama Masyarakat Lokal

Labuan Bajo, 17 Juni 2022. Giat monitoring sarang bertelur penyu di Pulau Padar Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo dengan melibatkan masyarakat merupakan salah satu bentuk penekanan pentingnya pelibatan masyarakat lokal dalam mendukung kegiatan pengelolaan di kawasan Taman Nasional Komodo. Pelibatan peran masyarakat setempat ini diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai konservasi mendalam, khususnya terkait upaya konservasi/pelestarian penyu di kawasan Taman Nasional Komodo. Koordinator kegiatan monitoring sarang bertelur penyu di Pulau Padar, Arif Ardianto Sofian (Polisi Kehutanan Ahli Pertama) menyelenggarakan kegiatan monitoring mulai tanggal 11 – 17 Juni 2022. Monitoring ini juga melibatkan Taufik (anggota Masyarakat Mitra Polhut Pulau Komodo) dan beberapa anggota lainnya, diantaranya Laurentius Nay (Polisi Kehutanan Penyelia), Firman Nuralam Suryadi (Polisi Kehutanan Pemula), Valerianus Rahmat (Pengendali Ekosistem Hutan Pemula), Indra Cahyadi Purnama Alam (Pengolah Data/Tenaga GIS), Adi Darlan Al-Farizy (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Padar Selatan), Suwendi Iskandar Bubang (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Wau), Kaleb Bura (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Padar Utara), Jimianus Zakarias Nguru (Kapten Kapal Napoleon), serta Natalia J.D. Pratiwi (Siswa Magang SMK Stella Maris Labuan Bajo). Taman Nasional Komodo merupakan habitat esensial bagi setidaknya dua jenis penyu di Indonesia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Taman Nasional Komodo sebagai taman nasional kepulauan yang memiliki wilayah pesisir pantai cukup luas, memiliki kesesuaian ruang bagi penyu untuk berkembang biak. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi mengatur tentang perlindungan satwa, penyu merupakan satwa yang terancam punah dan dilindungi oleh negara maupun konvensi internasional. Peranan satwa penyu sangat penting bagi lingkungan khususnya terhadap kelestarian biota laut pada wilayah perairan Taman Nasional Komodo. Adapun monitoring dilakukan dengan menganalisa lokasi sarang bertelur penyu potensial menggunakan aplikasi SMART untuk memperkaya informasi database Resort-Based Management (RBM). Berdasarkan analisa tersebut, pesisir pantai potensial adalah bagian selatan Pulau Padar (Pantai Penyu dan Pantai Loh Tongkang), bagian utara Pulau Padar (Tanjung Cangtigi), bagian timur Pulau Padar (Pantai Batu Cincin dan Pantai Bukit Piramid). Setiap pesisir pantai tersebut memiliki karakter dan keunikannya masing-masing. Tim monitoring menyimpulkan bahwa jenis penyu yang bersarang di pantai Pulau Padar merupakan penyu hijau (Chelonia mydas). Hal ini diketahui berdasarkan data pengamatan yang diperoleh tim Firman saat monitoring seperti data jumlah telur, bobot telur, diameter, tipe sarang, karakteristik sarang, dan lebar jejak penyu di pantai. Selain itu, tim juga berhasil menjumpai penyu secara langsung di lokasi pengamatan dan memperkuat temuan data-data yang sudah diperoleh. Tim monitoring juga mendata potensi keragaman hayati vegetasi di sekitar pantai. Tim berhasil mengidentifikasi 12 jenis tumbuhan yaitu Baringtonia asiatica, Carissa spinarum, Lumnitzera lacemosa, Crotalaria retusa, Ipomea pes-caprae, pemphis acidula, Guettarda speciosa, Spinifex littoreus, Sphaeranthus indicus, Casuarina speciosa, Pandanus tectorius, Caesalpinia bonduc. Dari semua tumbuhan yang berhasil diidentifikasi, jenis Spinifex littoreus dan Carissa spinarum merupakan tumbuhan yang mendominasi area sekitar sarang bertelur penyu. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Pemula - Firman Nuralam Suryadi (+6285710857746) Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

BKSDA Sumbar Gandeng Berbagai Mitra Sambut Global Tiger Day 2022

Padang, 29 Juli 2022 - Global Tiger Day (GTD) diperingati setiap tanggal 29 Juli setiap tahunnya. Tema yang diusung tahun ini yaitu “Keep Wildlife in the Wild”. Tema ini memberi makna agar kita bergandengan tangan untuk menjaga kelestarian harimau agar selalu berada di habitat aslinya. Dalam rangka menyambut peringatan Global Tiger Day 2022, Balai KSDA Sumatera Barat menggandeng berbagai mitra untuk melaksanakan beberapa rangkaian acara, diantaranya yakni "Visit to school" yang telah dilaksanakan bersama Yayasan Sintas Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten Agam pada 19 - 21 Juli 2022 di enam sekolah dasar (SD) dengan tujuan mengenalkan harimau sumatera kepada siswa/i SD agar dapat menumbuhkan kepedulian dan pengetahuan terkait harimau sumatera serta peranannya bagi lingkungan sekitar. Masih dalam rangkaian peringatan GTD 2022, BKSDA Sumbar bersama Yayasan Arsari Djoyohadikusumo mengadakan talkshow dengan menghadirkan narasumber yang berkompetan dibidangnya. Acara talkshow bertajuk “Konservasi Harimau Sumatera dan Keanekaragaman Hayati” ini dibuka oleh Wakil Menteri LHK, Dr. Alue dohong, serta turut di hadiri oleh Dr. Ir. Wiratno sebagai pemantik diskusi yang dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2022. Selanjutnya juga dilaksanakan acara di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi (TMSBK) dengan mengundang Bapak Walikota Bukitinggi, H. Erman Safar, SH., ke Kebun binatang. Disana beliau menyampaikan sambutan dan ucapan selamat memperingati Hari Harimau Sedunia dan mengajak untuk bersama-sama menyelamatkan harimau sumatera. Selain itu, di kabupaten Agam juga dilaksanakan kegiatan peringatan Global Tiger Day 2022 berupa pengecatan tiga patung Harimau Sumatera yang berada tepat dipusat ibukota kabupaten serta penyebaran flyer tentang Harimau Sumatera dan Satwa Dilindungi yang dilaksanakan oleh BKSDA bersama Pemkab dan Polres Agam. Rangkaian acara GTD ini juga diisi kegiatan talkhsow "Konservasi Harimau di Mata Jurnalis" dan Pameran Foto yang dipelopori oleh aktivis lingkungan Jejak Harimau (@Jejak_harimau). Talkshow ini dilaksanakan tanggal 26 - 29 Juli 2022 dengan pembicara utama Founder Jejak Harimau Andri Mardiansyah. Melengkapi peringatan acara GTD 2022, BKSDA Sumbar bersama Yayasan Sintas Indonesia juga memeriahkannya dengan mengadakan Giveaway. Acara ini dilakukan melalui akun medsos @bksda_sumbar dengan memberikan kuis selama 3 hari (tanggal 28 - 30 Juli 2022) dimana pemenangnya akan diumumkan pada tanggal 1 Agustus 2022 dan akan diberikan hadiah yang menarik. Diharapkan dari kuis ini, kita bisa melihat sampai dimana pengetahuan masyarakat tentang pelestarian harimau. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Riau Awasi Kegiatan Pembersihan Sungai

Pekanbaru, 29 Juli 2022 - Tim Resort Kerumutan Utara (Kapou), Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I melakukan pengawasan kegiatan pembersihan sungai di Sekitar Suaka Margasatwa Kerumutan (20/07). Tim melakukan koordinasi dengan Camat Kerumutan mengenai kegiatan tersebut. Camat Kerumutan berharap masalah perizinan dapat segera dikeluarkan karena setelah sungai bersih, wisata akan segera dibuka hingga ke Bono, Teluk Meranti melalui pelabuhan Kapou. Pihak Kecamatan Kerumutan siap bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Riau melakukan penjagaan SM Kerumutan bersama pihak-pihak terkait seperti Polsek dan Dandramil Kerumutan agar SM Kerumutan tetap lestari. Tim melakukan pengecekan alat berat untuk pembersihan sungai yang saat ini berada di luar SM Kerumutan mengarah ke Pelabuhan Kapou. Sumber : Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 1.841–1.856 dari 2.621 publikasi