Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Menuju Kabupaten Selayar Yang Aksesibel

Kepulauan Selayar, 7 Februari 2022. "Jika infrastruktur menuju objek wisata memadai, pengunjung yang datang ke Selayar akan merasa lebih tenang dan nyaman dalam mengeksplore keindahan Selayar, hal ini tentunya berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata" ungkap Kepala Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate, Faat Rudhianto, S.Hut., M.Si saat menghadiri Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun 2023, Senin (7/2/2022). Kepala Balai TN Taka Bonerate memberikan masukan tersebut agar nantinya pembangunan di Kepulauan Selayar mempunyai infrastruktur yang aksesibel dan merata sesuai dengan sistem penataan dan pemanfaatan ruang. Pendapat tersebut disampaikan setelah dua materi disampaikan antara lain Kebijakan Pendapatan dan Penganggaran Daerah Tahun 2023 Kab. Kep. Selayar, oleh Sekda Kab. Kep. Selayar dan Rancangan Awal RKPD Pemerintah Kab. Kepulauan Selayar Tahun 2023, oleh Kepala Bappelitbangda Kab. Kep. Selayar. Acara yang diakhiri dengan penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Hasil Forum Konsultasi Publik RKPD Kab. Kep. Selayar Tahun 2023 dihadiri oleh Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kep. Selayar, Anggota Fraksi DPRD Kep. Selayar, Sekda Kab. Kep. Selayar, Pimpinan Instansi Vertikal, Kepala OPD, para Camat, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, dan pengusaha. Rangkaian acara dilaksanakan di Ruang Pola Kantor Bupati Kepulauan Selayar yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Bapak H. Saiful Arif, SH. Sumber: © Tim Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Apresiasi Penggiat Konservasi Daerah dari Dirjen KSDAE

Banjarbaru, 02 Februari 2022 – Kunjungan kerja Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc ke Kalimantan Selatan berkesempatan memberikan apresiasi penghargaan kepada para pihak yang berkontribusi luar biasa terhadap pengelolaan kawasan konservasi dan satwa serta tumbuhan di Kalimantan Selatan. Pemberian penghargaan ini didasarkan pada kepedulian, kepeloporan, dan konsistensi terhadap pengelolaan kawasan konservasi sesuai bidang tugas masing-masing. Penyerahan piagam penghargaan atas peran serta para pihak dalam pengelolaan KSDAE di Kalimantan Selatan diberikan kepada 4 (empat) penggiat konservasi. Penerima penghargaan ini antara lain Dirbinmas Polda Kalsel Kombes Pol Widiatmoko, S.H., S.I.K., M.H; Komandan Kodim 1004 Kotabaru Letkol Inf. Roy Fakhrul Rozi, S.E., MI.Pol; Kasat Reskrim Polres Tabalong AKP. Dr. Trisna Agus Brata, S.H., M.H; dan Kepala Tahura Sultan Adam Ainun Jariah, S.Hut., MP. Kombes Pol telah berhasil melakukan perlindungan satwa melalui pembinaan terhadap pemilik satwa dan telah mendirikan Perhimpunan Penggemar Burung Eksotik Indonesia untuk menjembatani penghobi dan penangkar burung. Letkol Inf. Roy Fakhrul saat menjabat Danyon 623 berhasil menanam pohon pakan burung seluas 5 hektar di areal sekitar Yonif 623 dan melepas liar burung bersama BKSDA Kalsel; dan saat menjadi Dandim 1004 Kotabaru telah memelopori Pemulihan Ekosistem bersama masyarakat pada Blok Rehabilitasi. AKP Dr. Trisna sejak bertugas di Ditkrimsus Polda Kalsel berhasil menggagalkan peredaran TSL dilindungi tanpa izin, demikian pula setelah bertugas di Tabalong sebagai Kasat Reskrim telah menggagalkan peredaran Rusa sambar yang dilindungi. Ibu Ainun telah berkontribusi membangun kawasa konservasi Tahura Sultan Adam seluas kurang lebih 113.000 Ha dengan melibatkan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Penyerahan penghargaan ini dilanjutkan dengan diskusi dan wawancara (Five minutes) antara Direktur Jenderal KSDAE, Kepala BKSDA Kalsel dan para penerima penghargaan sebagai sarana edukasi dan berbagi pengalaman dalam kegiatan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. (ryn) Sumber : Francisca SJM, S.H., M.Ling - Staf Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Membangun Harmoni Bak Orchestra di BKSDA Kalimantan Selatan

Banjarbaru, 02 Februari 2022 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) mendapat kehormatan kedatangan orang nomor satu di Direktorat Jenderal KSDAE. Tokoh penting ini adalah Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc. Kedatangan beliau ke kantor BKSDA Kalsel bukan tanpa alasan melainkan memiliki beberapa agenda antara lain pembinaan pegawai BKSDA Kalsel, penyerahan penghargaan penggiat konservasi dan temu wicara (Five minutes) dengan penggiat konservasi. Pembinaan pegawai BKSDA Kalsel dilakukan secara hybrid melalui tatap muka dan daring. Pembinaan ini dihadiri oleh Kepala BKSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., Kepala Sub Bag TU BKSDA Kalsel Suwandi, S.Hut., M.A, Kepala Seksi Konsevasi Wilayah (SKW) I Pelaihari Mirta Sari, S.Hut., M.P, Kepala SKW II Banjarbaru Mokh. Ridwan Effendi, S.Hut., M.Si, Kepala SKW III Batulicin Nikmat Hakim Pasaribu, S.P., MSc dan seluruh staf BKSDA Kalsel. Bapak Wiratno menyampaikan bahwa “Kantor BKSDA Kalsel ibaratnya seperti orchestra, berbeda-beda instrumen tetapi menghasilkan melodi yang harmonis dan merdu. Tidak ada pekerjaan yang lebih penting dibandingkan lainnya, semua sama pentingnya, kita harus belajar untuk saling menghargai”. “Kebersamaan dan kegotong royongan merupakan hal yang paling utama dalam bekerja bersama di kantor” lanjutnya. Pembinaan pegawai dilakukan secara dua arah yaitu tanya jawab dan diskusi terkait berbagai persoalan konservasi yang ditemui oleh BKSDA Kalsel. Menjawab berbagai persoalan konservasi yang dialami oleh BKSDA Kalsel, Pak Wiratno menyampaikan bahwa ada 5 (lima) basic kerja KSDAE yaitu regulation based, evident based, experience based, scientific based, dan precautionary based. “Bekerja yang terbaik untuk administrasi di kantor sama dengan bekerja yang terbaik untuk hutan, tumbuhan, satwa liar dan masyarakat” merupakan pesan penutup dari Bapak Wiratno. Kunjungan Pak Dirjen KSDAE juga dilengkapi dengan penanaman Pohon Ulin (Eusideroxylon zwageri) di Taman Hutan Hujan Tropis Banjarbaru dan Ngopi bareng di Tahura Sultan Adam Mandiangin. (ryn) Sumber : Francisca SJM, S.H., M.Ling - Staf Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Perhutanan Sosial dan TORA Tetap Berdimensi Konservasi

Jayapura, 3 Februari 2022 – Di Papua, tiada sejengkal tanah pun yang tak bertuan. Pernyataan tersebut sangat umum di kalangan seluruh lapisan masyarakat Papua, sebab semua tempat di Tanah Surga itu, terlebih hutan-hutannya, memanglah hak ulayat masyarakat adat sejak zaman nenek moyang. Pemerintah Republik Indonesia menyelenggarakan program Reforma Agraria dalam bentuk Perhutanan Sosial dan Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) di Provinsi Papua. Dalam pengertiannya, Perhutanan Sosial merupakan sistem pengelolaan hutan di dalam kawasan hutan Negara atau hutan adat oleh masyarakat sekitar hutan atau masyarakat adat sebagai subyek utama yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan, keseimbangan lingkungan, dan dinamika sosial budaya. Hingga tahun 2021, pemerintah telah menerbitkan 69 izin kelola atau SK Perhutanan Sosial dengan luas sekitar 132.918.99 hektar, tersebar di empat belas kabupaten/kota di Provinsi Papua. Melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemerintah juga melepaskan kawasan hutan di enam kabupaten di Provinsi Papua sebagai subyek TORA dengan luas sekitar 8.873.37 hektar. Dari sejumlah SK Perhutanan Sosial, 36 unit SK telah diserahkan kepada masyarakat. Selanjutnya, 31 unit SK diserahkan pada Kamis, 3 Februari 2022, bertepatan dengan kunjungan Presiden Republik Indonesia ke Sumatera Utara. Pada momentum penyerahan SK Perhutanan Sosial dan TORA, Presiden Republik Indonesia memberikan arahan, agar masyarakat penerima SK segera melakukan kegiatan pemanfaatan lahan secara optimal. Seyogianya 50% dari luas areal ditanami pohon berkayu. Sementara sisanya dapat ditanami dengan tanaman musiman, seperti jagung, kedelai, cabe, padi hutan, dan sebagainya. Di lingkup Provinsi Papua, penyerahan SK Perhutanan Sosial dan TORA dihadiri oleh Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Herban Heryandana. “Selamat kepada seluruh penerima SK Perhutanan Sosial atau SK Hijau dan SK Tora atau SK Biru,” kata Herban. “Aktivitas pemanfaatan kawasan pada areal yang telah diterbitkan SK Hijau sekarang secara legal telah terpayungi. Ke depan dimungkinkan upaya-upaya pendampingan dari pemerintah terkait pelaksanaan pemanfaatan lahan. Terkait SK Biru, selanjutnya dapat diproses oleh Kanwil atau Kantah ATR BPN guna penerbitan alas haknya.” Lebih lanjut Herban menyampaikan bahwa Perhutanan Sosial dan Tora merupakan kebijakan pemberian akses maupun aset kepada masyarakat. Program ini tentu saja memerlukan dukungan yang intens oleh Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten. Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Papua juga memberikan ucapan selamat kepada masyarakat di Papua yang telah menerima izin kelola atau SK Perhutanan Sosial dan TORA. “Sudah pasti harapan saya semoga masyarakat bisa lebih sejahtera dan hutan tetap lestari. Bagaimanapun, program Perhutanan Sosial dan TORA ini tetap berdimensi konservasi. Di dalamnya terdapat tujuan menjaga kelestarian hutan, selain untuk ekonomi masyarakat.” kata Edward. (dd)
Baca Artikel

Penggarap di TN Gunung Gede Pangrango Belajar Pentingnya Penghijauan

Sukabumi, 6 Februari 2022. Sosialisasi Teknis Penanaman sebagai upaya Pemulihan Ekosistem seluas 25 Ha yang akan dilaksanakan di blok Panyaung, Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Pasir Hantap, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) digelar di Pos Jaga Genteng, Desa Ambarjaya, Kec. Ciambar, Kab. Sukabumi, Jumat (4/2). Sosialisasi ini ditujukan untuk masyarakat yang melakukan penggarapan di blok Panyaung. Kepala Seksi PTN Wilayah IV Situgunung menekankan tentang pentingnya reboisasi/penghijauan di lahan hutan yang sekarang masih digarap oleh masyarakat. Karena hutan memberikan manfaat yang sangat banyak bagi masyarakat. Salah satunya adalah sebagai daerah tangkapan air. Hal senada disampaikan juga oleh Babinsa Ambarjaya, Ismat dan Yusuf. Bahwa dengan dilakukannya penanaman, masyarakat akan memperoleh manfaat yang sangat banyak di masa mendatang. Kegiatan penanaman nantinya akan dilakukan dengan melibatkan langsung para penggarap di lahan yang bersangkutan. Selama kegiatan sosialisasi, para penggarap yang hadir sangat antusias menerima himbauan dari narasumber. Inti dari sosialisasi ini adalah teknis penanaman serta pembagian bibit yang akan ditanam di lokasi garapan yang bersangkutan yang berada di blok Panyaung. Kegiatan penanamannya sendiri akan dilaksanakan mulai hari Senin, 7 Februari 2022, dan akan dilaksanakan selama kurang ?ebih empat hari dengan total bibit yang akan ditanam adalah 10.000 bibit yang terdiri dari 7.500 bibit jenis asli dan 2.500 bibit Multipurpose Tree Species (MPTS). Jenis bibit yang merupakan jenis asli TNGGP, diantaranya adalah bibit Kisireum, Janitri, dan Lame. Sedangkan untuk jenis bibit MPTS diantaranya Salam, Sukun, Durian, Rambutan, dan Kemiri. Bibit MPTS nantinya akan ditanam di pinggir kawasan yang berbatasan langsung dengan masyarakat (green belt). Harapannya nanti masyarakat akan dapat memanfaatkan buah-buahan hasil dari bibit yang telah ditanam saat ini. Diharapkan juga dengan dilaksanakannya kegiatan penanaman dalam rangka pemulihan ekosistem ini, masyarakat semakin sadar akan pentingnya hutan yang ada disekitar mereka. Manfaat yang masyarakat rasakan tidak hanya untuk saat ini saja, tapi akan turun temurun ke anak cucu mereka di masa yang akan datang. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Seksi PTN Wil. IV Situgunung BBTNGGP (Luki Turniajaya, S.Hut., M.Si.), personil Resort PTN Pasir Hantap, aparat pemerintahan setempat (Kadus dan ketua RT Genteng), serta Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Ida Rohaida, S.P., M.Sc Dokumentasi : Resort PTN Pasir Hantap
Baca Artikel

Rimbawan Cilik Belajar Konservasi di TN Gunung Gede Pangrango

Sukabumi, 6 Februari 2022 - Mahasiswa Universitas Lampung (Kelompok Jawa Barat 23) yang terdiri dari Fawwaz Akbar, M. Fadhil Firdaus, Fatiha Salsabiila, Sri Anten Fauziah, Ihsan Restu Maulana S., Sonya Mumtaaz, dan M. Danu W. melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode I tahun 2022 di Desa Gedepangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Rabu (2/2). Salah satu implementasi dari pelaksanaan KKN ini merupakan kegiatan “Kunjungan Belajar dan Penanaman Pohon” di Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Situgunung, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) untuk memberikan pengenalan mengenai konservasi flora dan fauna, serta menanamkan rasa cinta kepada hutan sejak dini. Kegiatan yang diikuti oleh 25 siswa kelas V SDN 1 Cibunar, dihadiri oleh Kepala Sekolah SDN 1 Cibunar, Kepala Desa Gedepangrango, serta Kepala Resort PTN Situgunung. Setelah acara dimulai dengan laporan kegitan dari Fawwaz Akbar dan sambutan dari Kepala Sekolah SDN 1 Cibunar, Ibu Tuti Hernawati, S.Pd. dan Kepala Desa Gedepangrango, Bapak Asep Badrutamam, acara dibuka secara resmi oleh Kepala Resort PTN Situgunung, TNGGP, Bapak Asep Suganda. Kemudian Siswa SDN 1 Cibunar diajak berkunjung ke Tourism Information Center (TIC) Resort PTN Situgunung untuk mengenal flora dan fauna yang ada di TNGGP didampingi oleh Mahasiswa Universitas Lampung. Kepala Resort PTN Situgunung, Asep Suganda menyampaikan pengenalan TNGGP dan pengelolaannya serta edukasi mengenai konservasi alam, kemudian peserta diajak melakukan penanaman bibit pohon. Penanaman ini dilakukan sebagai bentuk kecintaan peserta terhadap konservasi. Jumlah bibit yang ditanam sebanyak 50 bibit yang merupakan jenis asli TNGGP yaitu rasamala (Altingia excelsa) dan puspa (Schima wallichii). Penanaman secara simbolis dilakukan oleh Kepala Sekolah SDN 1 Cibunar, Kepala Desa Gedepangrango, Kepala Resort PTN Situgunung, perwakilan siswa SDN 1 Cibunar, dan perwakilan Mahasiswa Universitas Lampung. Penanaman bibit pohon kemudian dilanjutkan oleh seluruh siswa SDN 1 Cibunar yang didampingi oleh Mahasiswa KKN Universitas Lampung. Acara ditutup dengan diskusi dan sharing pengalaman oleh peserta. Peserta merasa senang karena diberikan kesempatan untuk mengenal TNGGP lebih dekat dan mengetahui apa itu konservasi serta pentingnya menanam pohon. Peserta juga diminta untuk menyebarluaskan ilmu yang telah mereka peroleh selama kegiatan di lingkungan sekitar mereka. Semoga aksi rimbawan cilik kali ini, membuat kita semakin sadar akan pentingnya keberadaan hutan bagi kelangsungan makhluk hidup sejak dini. Pohon yang telah ditanam hari ini akan berguna dan bermanfaat selamanya. Salam Rimbawan!! Salam Lestari!! Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Fawwaz A- UNILA & Enike RS - BBTNGGP Dok : UNILA & Tim Publikasi BBTNGGP
Baca Artikel

Dukungan Mahasiswa Kecamatan Ukui Untuk Pengelolaan TN Tesso Nilo

Pangkalan Kerinci, 2 Februari 2022 – Balai Taman Nasional Tesso Nilo menerima kunjungan dari Himpunan Pelajar Mahasiswa Pelalawan dan Himpunan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Pelalawan, Rabu (2/2). Kunjungan ini disambut langsung oleh Kepala Balai TN Tesso Nilo berserta jajaran. Para mahasiswa datang untuk melakukan audiensi sembari berdiskusi dan konsultasi perihal pengelolaan TN Tesso Nilo. Dalam audiensi yang dilakukan, Kepala Balai TN Tesso Nilo memaparkan mengenai pengelolaan kawasan secara umum yang ditanggapi oleh mahasiswa bahwa siap untuk menjadi agen perubahan yang akan membantu pihak Balai dalam melestarikan hutan dengan upaya-upaya yang bisa dilakukan. Sebagai penggerak isu lingkungan, Mahasiswa mengungkapkan akan turut andil dalam memberi solusi terhadap permasalahan kawasan hutan. Pihak Balai TN Tesso Nilo dan Himpunan Mahasiswa juga telah menyatukan suara dan mendukung upaya yang akan dilakukan satu sama lain. Salah satu poin yang digaris bawahi dari pertemuan ini adalah harapan dari Balai TN Tesso Nilo kepada Himpunan Mahasiswa untuk dapat mengawal dan mendorong pemulihan ekosistem baik dalam hal mediasi ataupun audiensi kepada masyarakat sekitar kawasan. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Strategi Penyebarluasan Informasi Larangan Tanam Sawit di Kawasan TN Tesso Nilo

Pangkalan Kerinci, 3 Februari 2022 – Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dan Polres Pelalawan akan melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat di desa sekitar kawasan dengan mengundang aparat Pemerintahan Desa dan tokoh-tokoh masyarakat. Sosialisasi ini terkait larangan menanam sawit dalam kawasan TN Tesso Nilo. Dalam koordinasi yang dilakukan di kantor Polres Pelalawan, Kamis (3/2), Balai TN Tesso Nilo dan Polres Pelalawan juga akan mengagendakan kegiatan untuk membuat dan memasang spanduk himbauan berisi informasi terkait surat edaran Kepala Balai TN Tesso Nilo tentang larangan menanam sawit dalam kawasan. Spanduk tersebut akan dipasang di desa-desa sekitar kawasan sebagai bentuk penyebarluasan informasi. Balai TN Tesso Nilo dan Polres Pelalawan berharap upaya-upaya yang akan dilakukan ini dapat diterima oleh masyarakat dan berimbas baik terhadap pelestarian dan pemulihan ekosistem kawasan TN Tesso Nilo. Koordinasi ini dilakukan Kepala Balai TN Tesso Nilo bersama dengan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga (LKB), Kepala SPTN Wilayah II Baserah, Kepala Urusan Satuan Tugas Polhut dan Polres Pelawan. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Ilomata River Camp, Surga Tersembunyi di dalam Kawasan TN Bogani Nani Wartabone

Bone Bolango, 3 Februari 2022. Drh. Supriyanto selaku Kepala Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) bersama Bapak Hamim Pou, Bupati Bone Bolango, pada hari Selasa (1/2/2022) meresmikan objek wisata baru "Ilomata River Camp" di Desa Ilomata, Kecamatan Bulango Ulu, Kabupaten Bone Bolango Gorontalo. Objek wisata baru itu menawarkan wisata minat khusus, camping, wisata air dan nuansa alam bagi para pecinta alam. Perjalanan menuju Ilomata River Camp dapat ditempuh sekitar 1 - 2,5 jam dari Bandara Internasional Djalaluddin, jaraknya 51 - 60 kilometer (km), dengan tiga kali melintasi sungai besar dan kecil. Bila menggunakan sepeda motor, pengunjung dapat menempuhnya menggunakan jembatan penyeberangan hingga sampai di lokasi. Sedangkan bila menggunakan mobil, pengunjung harus memarkir kendaraannya sekitar dua kilometer dari lokasi dan dilanjutkan dengan jalan kaki atau mengendarai sepeda motor. Lelahnya perjalanan akan terbayar sudah saat pengunjung sampai di lokasi. Wisata yang menyajikan konsep alam dengan wahana arung jeram dan perkemahan tersebut mampu menghipnotis pengunjung. Dinginnya air sungai Bulango menjadi salah satu daya tarik wisatawan saat berada di wisata tersebut. Pepohonan rindang yang tumbuh di bantaran sungai pun menjadi penyebab udara di sekitar sangat sejuk ditambah kicau burung yang ada di sekitar kawasan TNBNW. Pengunjung yang datang bisa memesan paket wisata sebesar Rp 300 ribu per tenda untuk kapasitas empat orang selama masa promosi. Itu sudah termasuk sarapan dan bisa bermain perahu kano selama dua jam. Di tempat ini juga kebersihan lingkungan sangat terjaga dan didukung oleh fasilitas seperti tempat sampah yang disedikan oleh Pemerintah Desa Ilomata berkolaborasi dengan pihak BTNBNW. Bupati Hamim mengatakan wisata minat khusus itu merupakan hasil kerja sama pemerintah Desa Ilomata dengan BTNBNW. “Saya salut dengan pemerintah desa yang bisa membuat konsep wisata berbasis desa seperti ini,” kata Hamim. Karena berkonsep minat khusus, Hamim mengatakan masyarakat tak perlu berharap pengunjung di tempat ini akan massal. "Yang akan ke sini adalah orang-orang tertentu yang ingin menyatu dengan alam," ujarnya. Bupati Hamim mengaku senang dengan hadirnya lagi tempat wisata baru di Bone Bolango. Menurut Bupati Hamim tempat wisata tersebut merupakan surga tersembunyi yang ada di Kabupaten Bone Bolango. "Ini konsep yang sangat luar biasa lahir dari kolaborasi antara TNBNW dan Pemerintah Desa yang menghasilkan manfaat yang luar biasa" ujar Hamim. Bupati Hamim juga mengimbau warga agar menyajikan hidangan khas setempat untuk wisatawan. Sehingga, wisatawan bisa menikmati panorama dan sajian khas daerah itu. Selain itu Bupati Hamim berharap tempat wisata ini bisa berdampak untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat yang ada di Desa Ilomata dan Bone Bolango. Dalam sambutannya, drh. Supriyanto mengatakan “Semoga kolaborasi ini diharapkan bisa menjadi role model dalam pengembangan ekowisata dan kerja sama dengan desa-desa di sekitar kawasan, khususnya kawasan TNBNW”. Pengelolaan wisata Ilomata Rivercamp ini diserahkan langsung kepada kelompok ANOA, yang merupakan salah satu kelompok Binaan dari BTNBNW. Sementara itu, Kepala Desa Ilomata Abdulrahman Usman mengatakan pihaknya memiliki program pengembangan wisata desa, untuk mendorong perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan hutan dan sungai yang masih alami. “Kebetulan lokasi yang kami anggap cocok itu titiknya berada di dalam kawasan TNBNW dan ternyata pihak balai BTNBNW juga menyetujui, makanya lahir kerjasama wisata ini,” ujar Kepala Desa. Kepala Desa Ilomata juga mengatakan, tempat wisata tersebut sudah mulai dirintis sejak akhir Desember 2021 dengan sumber anggaran dari Dana Desa yang dikolaborasikan dengan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Acara ini turut dihadiri Direktur PLN, Sekda Kabupaten Bone Bolango, Asisten Bupati, Kepala SKPD Kabupaten Bone Bolango, Kepala BPKH Wilayah XVII Gorontalo, Kepala BPDAS Bone Bolango, Balai GAKKUM, seluruh Kepala SPTNW 1 Limboto, Kepala Resort dan staff TNBNW serta, Camat, Para Kepala Desa dan masyarakat Desa Ilomata. Sumber : Diah Ayu Lestari, S.Hut. - Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Artikel

Tim Rescue BBKSDA Riau dan Yayasan Cinta Satwa Riau Jemput Anak Kucing Hutan Temuan Warga

Pekanbaru, 02 Februari 2022 – Tim Rescue Balai Besar Konservasi Sumber Daya Aalam (BBKSDA) Riau kembali beraksi. Berawal dari laporan Yayasan Cinta Satwa Riau yang diterima Call centre Balai Besar KSDA Riau, bahwa ada seorang warga yang menemukan seekor anakan Kucing hutan (Prionailurus bengalensis) memasuki pekarangan rumahnya (20/01). Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau bersama dengan Yayasan Cinta Satwa Riau bergegas mendatangi lokasi pelapor, yang berada Jl. Taman Karya. Sesampai di lokasi tersebut, tim langsung menjumpai pelapor dan melakukan pengamatan kondisi anakan satwa tersebut. Sayangnya, dari hasil pengamatan tim, kucing tersebut dalam kondisi yang kurang sehat dimana terlihat kurus dan lemah. Tim membawa anakan Kucing hutan ke klinik untuk dilakukan perawatan dan pengobatan lebih lanjut. Semoga kucing hutan tersebut dapat sehat dan lincah kembali ya sobat. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Konservasi adalah Ibadah

Manokwari, 2 Februari 2022. Sekretaris Direktorat Jenderal (Sekditjen) KSDAE, Suharyono, melakukan pembinaan pegawai lingkup UPT Dirjen KSDAE di Wilayah Provinsi Papua Barat, Rabu, (2/2). Sekditjen KSDAE menguraikan unsur cara membangun dan meningkatkan etos dalam bekerja. Aspek tersebut yakni memiliki sifat profesional, memiliki sikap positif, dan selalu memberikan apresiasi dan saling menghormati. Ketiga unsur itu akan memberikan rasa nyaman dalam bekerja. “Kenyamanan kerja merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi produktvitas kerja kita, dengan kata lain, jika kita sudah nyaman, ide-ide brilian dan kreatifitas itu akan muncul”, kata Sekditjen. Oleh sebab itu, setiap PNS wajib menciptakan rasa nyaman di lingkungan kerja mereka masing-masing. Untuk menciptakan kenyamanan kerja itu memiliki syarat, pertama hati dan pikiran kita bisa menerima perbedaan, kemudian yang kedua, kedekatan hati. Suharyono mengutip kata-kata bijak bahwa, “Semakin kita mau belajar untuk mensyukuri semakin banyak berkat yang datang untuk disyukuri”. Setiap organisasi kerja harus memiliki budaya, atau ciri khas tertentu, ini menjadi penting karena menjadi pembeda setiap organisasi. “Jangan paksakan meniru yang lain, TNTC harus memiliki identitas, budaya, corak yang bisa mewakili corak organisasi kita”, tutur Suharyono. Lanjut beliau, inilah yang membedakan Organisasi Tradisional dengan Organisasi (Learning ) Pembelajaran. Learning Organisasi itu adalah organisasi yang selalu bergerak ke depan supaya menjadi lebih baik. Sedangkan Organisasi Tradisional itu hanya melaksanakan tugas rutin dan monoton. Kita harus pandai-pandai “memasarkan” program-program kita agar organisasi kita dikenal, salah satu cara dengan menggiatkan media sosial. “Tagline medsos saya adalah konservasi tak mungkin sendiri”, ujarnya. Suharyono, yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur itu menjelaskan beberapa aspek spiritual konservasi. Yang pertama, kita tidak boleh sombong, karena kita adalah bukan penduduk tunggal bumi ini, ada makhluk lain, hewan dan tumbuhan misalnya. Kedua, kita semua ini bekerja menjaga alam sebenarnya menjaga ciptaan Tuhan, oleh karena itu kerja kita ini adalah ibadah. “Beruntunglah kita yang kerja di konservasi, karena tugas kita ini menjaga keharmonisan dengan alam, maka kita tidak layak sombong hidup di bumi ini, itulah nilai spritual konservasi’. Suharyono menceritakan bahwa dirinya baru pertama kali menginjakkan kakinya di Tanah Papua. Dulu sering gagal untuk mengunjungi Papua. “Merupakan kebahagiaan bagi saya bisa berada di sini”, ungkap beliau. Pesan Sekditjen, “Mari kita kerja karena sistem bukan karena person, jangan pernah biarkan teman terpelset, jaga kekompakan dan kebersamaan, dan lakukan berkolaborasi”. Foto bersama Sekditjen KSDAE dengan pegawai lingkup UPT Dirjen KSDAE Wilayah Provinsi Papua Barat Sumber : Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih *Rogistira/BBTNTC
Baca Artikel

Mengenal Mitigasi Konflik Macan Tutul Jawa di Desa Penyangga TNGGP

Sukabumi, 31 Januari 2022. Mitigasi Konflik Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) disosialisasikan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) bersama Conservation International (CI) Indonesia dan Pemerintah Desa Cisarua di Desa Cisarua, Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Goalpara, Jumat silam (28/1). Ini merupakan sinergi seluruh stakeholder dalam upaya mitigasi konflik macan tutul jawa di desa penyangga TNGGP agar satwa dilindungi ini dapat terus terjaga kelestariannya dengan tetap memberikan rasa aman kepada masyarakat di sekitar kawasan TNGGP. Pemerintah Daerah juga perlu terus didorong perannya mengingat macan tutul jawa telah ditetapkan sebagai satwa identitas Provinsi Jawa Barat sebagaimana tertuang dalam SK Gubernur Jawa Barat No. 27 tanggal 20 Juni 2005. Anton Ario, dari CI Indonesia, selaku narasumber dalam sosialisasi menyampaikan ciri-ciri serangan macan tutul jawa, serta antisipasi dalam menanggulangi macan tutul jawa agar tidak menyerang ternak, seperti memasang pagar kawat di sekitar kandang ternak serta diusahakan agar kandang tidak dekat dengan pohon besar, karena macan tutul jawa termasuk pandai memanjat. Ternak warga diusahakan harus dikandangkan dan tidak boleh dilepaskan begitu saja agar tidak memancing macan tutul jawa untuk turun. "Terima kasih karena BBTNGGP melalui Resort PTN Goalpara sangat cepat dan tanggap dalam menindaklanjuti laporan masyarakat Desa Cisarua terkait dugaan turunnya macan tutul jawa (Panthera pardus melas) ke pemukiman. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan dapat memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat terkait penanganan atau mengantasipasi jika terjadi gangguan atau konflik satwa" ujar Kepala Desa Cisarua, Arie Yanwar Ismunadi, S.Pd Sosialisasi ini merupakan tindak lanjut dalam penanganan Konflik Satwa yang terjadi di Desa Cisarua, di Resort PTN Goalpara, sebagimana laporan masyarakat melalui surat Kepala Desa Cisarua Nomor: 500/126/XI/Sekrt/2021 tanggal 24 November 2021. Sebelum dilakukan sosialisasi telah dilakukan beberapa penanganan/ antisipasi berupa pemasangan kamera trap dan penaburan kotoran (fases) singa di lokasi turunnya macan tutul jawa yaitu di Kp. Goalpara, Desa Cisarua, Resort PTN Goalpara. Berdasarkan hasil pengecekan kamera trap tersebut, tidak terekam adanya satwa macan tutul jawa. Berdasarkan hasil pengamatan petugas dibantu masyarakat sekitar, beberapa hari setelah penanganan teramati sudah mulai banyak aktivitas satwa monyet ekor panjang kembali ke lokasi diduga turunnya macan tutul jawa, setelah sebelumnya sempat tidak ada aktivitas satwa monyet ekor panjang yang biasa datang ke lokasi tersebut. Plt. Kepala Bidang PTN Wilayah III Sukabumi, Aden Mahyar Burhanuddin, S.H., M.H, menyampaikan ucapan terimakasih pula kepala Pemerintah Desa Cisarua yang telah menginisiasi pelaksanaan kegiatan sosialisasi Mitigasi konflik Satwa Macan Tutul. Sosialisasi ini tepatnya dilaksanakan di Aula Kantor Desa Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi yang dihadiri petugas fungsional lingkup seksi PTN Wilayah III Selabintana, Staf CI Indonesia, petugas Desa Cisarua, Penyuluh Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah III, serta perwakilan masyarakat sekitar kawasan Resort PTN Goalpara sebanyak 20 (dua puluh) orang. Diharapkan kedepannya terus terjalin kolaborasi antara BBTNGGP, masyarakat, pemerintah desa, CI Indonesia, dan pihak-pihak terkait untuk melakukan upaya mitigasi dalam rangka penangulangan konflik satwa di sekitar kawasan TNGGP. Sumber : Tim Publikasi Bidang PTN Wilayah II Sukabumi Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Artikel

Pentingnya Pengenalan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sejak Dini

Manokwari Selatan, 31 Januari 2022. Kurangnya pemahaman tentang pelestarian lingkungan hidup dan kehutanan akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kehidupan manusia. Pengenalan Lingkungan Hidup dan Kehutanan sejak dini memiliki peranan yang sangat penting untuk membentuk karakter siswa-siswi yang peduli terhadap lingkungan hidup dan hutan di masa kini dan di masa yang akan datang. Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, melalui Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah III Yembekiri berkesempatan melakukan Sosialisasi “Mengenal Lingkungan Hidup dan Kehutanan” kepada 49 orang siswa-siswi kelas 6 SD Inpres 37 Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat, Jumat silam (28/1). Dengan menggunakan metode diskusi serta media penyuluhan berupa booklet, leaflet serta slide powerpoint (ppt), petugas mengenalkan tema Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada peserta. Selama sosialisasi berlangsung peserta diajak berdiskusi mengenai pengertian lingkungan hidup dan hutan, mengapa kita harus melestarikan/menjaga lingkungan hidup dan hutan serta dampak/akibat yang akan terjadi jika kita tidak menjaga kelestarian lingkungan hidup dan hutan disekitar kita. Dari diskusi yang telah dilakukan, peserta sudah mengetahui bahwa menjaga kelestarian lingkungan hidup di sekitar mereka akan meningkatkan rasa nyaman dan kesehatan. Hal tersebut dapat terlihat dari suasana kelas yang bebas sampah dan tersedianya tempat sampah serta taman-taman kecil di sekitar sekolah. Namun peserta belum memahami bagaimana bencana dapat timbul jika kelestarian lingkungan hidup dan hutan disekitar mereka tidak terjaga. Peserta mengikuti setiap materi dalam diskusi, sambil mengamati dan membaca booklet/leaflet yang diberikan, peserta juga menjawab tindakan apa saja yang dapat mereka lakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan hutan sejak dini. Games dan pemberian give away juga diberikan untuk menambah keakraban dan semangat peserta dalam mengikuti kegiatan sosialisasi. Ibu dan bapak guru juga antusias dan berterima kasih dan berharap kegiatan ini digelar kembali bersama dengan adik-adik SD Inpres 37 Ransiki. Terima kasih Ibu dan Bapak Guru semoga kegiatan ini semakin membentuk karakter siswa-siswi untuk peduli terhadap lingkungan hidup dan hutan dimasa kini dan dimasa yang akan datang. Sumber : Friska Gressia Sianturi, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Artikel

Megahnya Tambora di Film Majestic Tambora

Jakarta, 31 Januari 2022. Sebuah film dokumenter karya anak bangsa “Majestic Tambora” diresmikan di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Senin (31/1). Majestic Tambora menampilkan jejak - jejak literasi letusan megah Tambora, siapa pendaki pertama Tambora hingga cerita Tambora di masa kini. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem melalui Balai Taman Nasional Tambora sangat mendukung dan mengapresiasi apa yang telah dilakukan Harley Bayu Sastha sosok dibalik film dokumenter Majestic Tambora. Harley yang merupakan penulis dan aktivis pecinta gunung - gunung di Indonesia menampilkan kisah Tambora dari data - data yang diceritakan oleh pendaki pertama Tambora pasca erupsinya, seorang penjelajah dan ahli botani: Heinrich Zollinger dalam risalah perjalanannya. Menurut Harley, cerita tambora tidak akan berakhir karena akan terus digali misteri di dalamnya seperti luas dan dalamnya kaldera Tambora. Letusan kolosal gunung Tambora di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada 10 April 1815, menjadi letusan gunung api terbesar di dunia dalam sejarah manusia modern. Sejarawan mengatakan, letusan tersebut menjadi penyebab krisis terakhir dan terbesar di dunia barat serta letusannya masih terlihat hingga 32 tahun sesudahnya. Film dokumenter Majestic Tambora dapat disaksikan pada link sbb : https://youtu.be/6kvTakKvdi8 Sumber : Sekretariat Direktorat Jenderal KSDAE
Baca Artikel

Belajar Pengelolaan Sampah di TN Wakatobi

Wakatobi, 28 Januari 2022. Baru-baru ini Balai Taman Nasional Wakatobi melakukan aksi kolaborasi yang bertemakan “sampah” melalui kegiatan Experiental Learning for Responsibile Waste Management in Wakatobi, UNESCO World Biosphere Marine Reserve, Indonesia yang digagas oleh National Geographic Society dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Selasa (25/1). Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan beberapa lembaga pemerintah yaitu Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi dan Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi. Materi dan pendidikan yang diberikan berupa pengelolaan sampah yang disampaikan kepada siswa/i SMPN 3 Wangi-Wangi Selatan sebagai puncak dari keseluruhan kegiatan Experiental Learning for Responsibile Waste Management in Wakatobi, UNESCO World Biosphere Marine Reserve, Indonesia. Diharapkan dengan materi yang diberikan dapat merubah perilaku masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Darman, S.Hut., M.Sc., yang diwakili Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Union, S.P., menyampaikan rasa terima kasih kepada keseluruhan panitia dan penyelenggara kegiatan serta instansi terkait atas kontribusinya dalam menjaga lingkungan. Diharapkan ini dapat meningkatkan “sense of purpose and belonging” terhadap lingkungan bersama khususnya di kawasan Taman Nasional Wakatobi. Sebagaimana diketahui bahwa sampah merupakan masalah lingkungan yang sangat serius yang dihadapi masyarakat pada umumnya baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Untuk itu diperlukan kerjasama antar keseluruhan stakeholders dalam penanganannya. Bupati Wakatobi H. Haliana, S.E. yang diwakili Sekertaris Daerah Kab. Wakatobi, Drs. H. La Jumadin turut menyampaikan beberapa pesan terkait pengelolaan kolaboratif baik dari instansi pemerintah maupun masyarakat yang tinggal di Kabupaten Wakatobi untuk bersama-sama menjaga lingkungan khususnya terkait sampah. Sebelumnya telah dilakukan rangkaian kegiatan seperti pelatihan trainers dan pendidikan kepada siswa-siswi SMP dalam pengelolaan sampah dengan tema “Sampah Ku Tanggungjawab Ku”, seperti yang dilaksanakan pada Sanggar Budaya Wakatobi, Selasa (25/1) dengan peserta beberapa perwakilan instansi pemerintah, guru dan juga 125 siswa/siswi dari 5 SMP di Wakatobi. Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan dari Dr. Cindy Rianti Priadi, S.T., M.Sc. Project Leader yang mewakili National Geographic Society dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia serta Direktur AKKP Wakatobi Heru Santoso, S.Pi.,M.Si., yang menjadi fasilitator pelaksanaan kegiatan. Sumber : Fata Perdana Pasaribu, S.P. - Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Artikel

Sinergi Membangun Konservasi dan Ekonomi Tingkat Tapak

Makassar, 26 Januari 2022 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan menyelenggarakan diseminasi capaian kinerja kelola konservasi tahun 2021, dengan tema “Sinergi Membangun Konservasi dan Ekonomi Tingkat Tapak”, di hotel Ibis Makassar City Center pada tanggal 26 – 27 Januari 2022. Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, Ir. Thomas Nifinluri, M.sc., mendampingi Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sulawesi Maluku, Dr. Ir. Darhamsyah, M.si.,sebagai Koordinator Wilayah UPT Kementerian LHK di Sulawesi Selatan, membuka secara resmi acara ekspose dengan memukul gendang khas Makassar. Acara dilaksanakan dengan menerapkan protokol covid-19 dan dihadiri oleh 80 peserta yang berasal dari unsur Unit Pelaksana Teknis Kementerian LHK Lingkup Sulawesi Selatan, Institusi Polri, Pemerintah Daerah, Akademisi, NGO, mitra penangkar, mitra penggiat wisata, korporasi, media, asosiasi jasa pengiriman dan pemerhati/ perorangan. Ekspose kinerja kelola konservasi Balai Besar KSDA Sulsel meliputi beberapa tujuan seperti untuk : (a) Mendiseminasikan capaian kinerja kelola konservasi tahun 2021 kepada para pihak; (b) Meningkatkan peran serta dan membangun komitmen para pihak dalam pemberdayaan masyarakat, pengelolaan wisata, dan pengendalian peredaran TSL wilayah Sulselbar ; (c) Membangun sinergi dan inovasi konservasi melalui masukan dan rekomendasi para pihak. Balai Besar KSDA Sulsel pada ekspose ini mempublikasikan hasil capaian kinerja kelola konservasi tahun 2021 serta membangun komitmen sinergi kolaborasi para pihak dalam pemberdayaan masyarakat, pengelolaan wisata dan pengendalian peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar di wilayah Sulselbar. Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan melaksanakan Ekspose Hasil-Hasil Kegiatan. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan, Ir. Thomas Nifinluri., M.Sc menyampaikan overview kinerja Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan bahwa “Sinergi membangun konservasi dan ekonomi di tingkat tapak menjadi tema pelaksanaan ekspose kinerja kelola konservasi yang diharapkan dapat membangkitkan collective action dalam penyelenggaraan konservasi di era pandemi dan transormasi digital”. Overview kinerja diakhiri dengan kutipan Guru Besar Mahatma Gandhi “Kebesaran beserta kemajuan moral suatu bangsa ditentukan dari bagaimana hewan-hewan yang hidup disana diperlakukan”. Di akhir acara, sebagai apresiasi kinerja kelola konservasi dan sinergitas bersama dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Wiratno., M.Sc memberikan penghargaan kepada Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulsel, Kepala BPKH Wilayah VII Makassar, Director of External Relations & Corporate Affairs PT. Vale Indonesia Tbk, Direktur Reserse Kriminal Khusus POLDA Sulsel, Ketua KTH Botani Gandang Dewata dan Penggiat Konservasi. Kegiatan ekspose melibatkan para pihak terkait dengan kelola konservasi sebagai narasumber seperti (a) Direktorat Kriminal Khusus Polda Sulsel dengan topik “Sinergitas Pengendalian Peredaran TSL”; (b) Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulsel, dengan topik “Strategi Pengembangan Unit Usaha Kelompok Pemberdayaan”; (c) Fakultas Kehutanan UNHAS, dengan topik “Tantangan Implementasi Perhutanan Sosial dan Kemitraan Konservasi di Sulselbar”; (d) PT. Vale Indonesia, Tbk., dengan topik “Peran Korporasi dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi secara Multipihak”; (e) JNE Cabang Sulselbar, dengan topik “Peran Ekspedisi dalam Pengendalian Perdagangan Satwa Liar”; (f) Kelompok Tani Hutan Botani Gandang Dewata, dengan topik “Pembelajaran Kelola Desa Wisata melalui Penangkaran Anggrek” dan (g) Kelompok Wanita Tani Hutan Semangat Baruga, binaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, dengan topik “Success Story Kemitraan Konservasi KWTH Desa Barugae”. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Eko Yuwono, S.Hut. Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883

Menampilkan 1.809–1.824 dari 2.305 publikasi