Jumat, 9 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Terus Berbenah Untuk Inovasi Pengelolaan & Pengembangan TWA Sibolangit

Sibolangit, 16 Juli 2021. Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit terus berbenah. Demikian juga dengan pihak pengelola yang terus berinovasi mencari model-model pengembangan kawasan untuk lebih baik dan bermanfaat lagi. Seperti baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 9 Juli 2021 yang lalu, dalam rangka road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2021, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat dan Resort TWA/Cagar Alam (CA) Sibolangit menyelenggarakan kegiatan pembinaan terhadap 20 (dua puluh) orang anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wisata Alam Sibolangit Berseri (WASB) di kawasan TWA Sibolangit. Kegiatan pembinaan dimaksudkan untuk membahas kesepakatan dalam pengelolaan wisata alam di TWA. Sibolangit kedepannya. Bahwa Pokdarwis WASB telah diakui dan disahkan keberadaannya oleh Dinas Kepemudaaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Deli Serdang melalui Keputusan Nomor 1472 Tahun 2017 tanggal 4 Oktober 2017, serta aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan khususnya pengembangan wisata alam dan budaya baik di tingkat lokal maupun tingkat nasional. Untuk itu, tahun ini diharapkan lebih meningkat lagi peran aktifnya dalam pengelolaan wisata alam guna mewujudkan Desa Wisata Tahun 2022, yang merupakan salah satu program dari Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang. Pertemuan yang dihadiri Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH. dan Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit, Samuel Siahaan, SP., mencapai beberapa kesepakatan, diantaranya bahwa sebagian masyarakat Desa Sibolangit memiliki ketergantungan terhadap potensi wisata alam TWA Sibolangit berupa jasa lingkungan wisata alam, dan Pokdarwis WASB akan memberikan dukungan pengelolaan TWA Sibolangit dengan menjaga kelestarian kawasan melalui pengembangan wisata alam yang berbasis edukasi konservasi lingkungan. Sementara itu Balai Besar KSDA Sumatera Utara akan memberikan akses pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam di TWA Sibolangit sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku, untuk dapat dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan khususnya di Desa Sibolangit. Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga melakukan pendampingan dalam rangka pemberdayaan dan penguatan kapasitas anggota Pokdarwis Sibolangit Berseri. Akhirnya, Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Pokdarwis WASB bersepakat untuk membangun rasa saling percaya dalam pengelolaan wisata alam di TWA Sibolangit guna tercapainya kesejahteraan masyarakat Desa Sibolangit dan kelestarian TWA Sibolangit. Sumber : Samuel Siahaan, SP. PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai TN Rawa Aopa Watumohai Libatkan Pengusaha Lokal di Pembangunan Pusat Konservasi Satwa Rusa

Konawe Selatan - Kepala Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) melakukan koordinasi ke KPPN Kendari terkait adanya keterlambatan penyerapan anggaran belanja modal pada hari Jum’at, 9 Juli 2021. Ali Bahri, menyampaikan bahwa keterlambatan penyerapan anggaran belanja modal untuk mendukung pembangunan pusat konservasi satwa Rusa di TNRAW dikarenakan paket kegiatan yang disusun dibuat banyak agar mampu menggerakkan pengusaha lokal dalam hal ini penyedia barang/jasa di Provinsi Sultra dapat berpartisipasi pada paket pekerjaan dengan dukungan anggaran Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dirinya akan memerintahkan kepada penyedia barang/jasa di TNRAW pada proyek strategis nasional dengan melibatkan masyarakat lokal sehingga menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar kawasan, karena dimasa pandemi covid-19 banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaannya. "Harapan agar kegiatan strategis nasional dapat memperoleh outcome/manfaat dibanding hanya memperoleh output, karena semakin cepat kegiatan tersebut direalisasikan, maka manfaat akan dapat langsung dirasakan oleh masyarakat" ungkapnya. Hal ini disambut baik oleh Kepala KPPN Kendari, Teguh Ratno Sukarno dimana proyek pemerintah harus mengutamakan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang dapat melibatkan partisipasi masyarakat sekitar. Bahwa APBN dapat sedikit mendongkrak perekonomian masyarakat, terutama dimasa saat ini adanya pemberlakukan PPKM mikro. Ia menegaskan bahwa komunikasi dan komitmen untuk pencapaian outcome dapat terus terjalin dimasa pandemi ini melalui video call/zoom atau menggunakan aplikasi daring lainnya. Pemantauan anggaran APBN yang diharapkan dapat mendongkrak perekonomian. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Artikel

Menanamkan Cinta Merbabu Sejak Dini

Boyolali - “Mencintai alam dan hutan” kini bukan hanya barisan kata indah yang selalu digaungkan. Penyadartahuan kepada masyarakat luas adalah upaya yang tidak berhenti dilakukan. Salah satu cara baru kelola kawasan konservasi menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan kawasan konservasi. Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu sebagai pengelola kawasan pelestarian alam kini tidak hanya merangkul pemerintah, kelompok masyarakat dan relawan saja namun juga mengajak siswa-siswi di sekitar Desa Penyangga untuk ikut melestarikan hutan. Bersama siswa-siswi TK Kuntum Mekar Desa Batur dan TK Ngudi Rahayu II Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang pada awal bulan April silam (3/4) dilaksanakan kegiatan penanaman pohon di Treetop dan Umbul Songo. Kesadaran akan cinta lingkungan sendiri sudah menjadi bagian dari kurikulum Pendidikan Taman Kanak-kanak dengan tema pembelajaran alam semesta. Praktek kegiatan mencintai alam semesta diwujudkan dengan menanam pohon di kawasan TN Gunung Merbabu. Pada kegiatan ini sebanyak 37 orang siswa-siswi TK Ngudi Rahayu II menanam di sekitar Obyek Wisata Alam Umbul Songo dan sebanyak 35 orang siswa -siswi TK Kuntum Mekar menanam di Obyek Wisata Alam Kopeng Alam Wisata (Treetop). Kegiatan menanam pohon diikuti oleh siswa -siswi dengan senang hati dan mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Pengenalan pentingnya mencintai alam dimulai sejak dini dengan harapan seluruh lapisan masyarakat sadar dan mau menjaga TN Gunung Merbabu. Sumber : Birgitta Karlina Pritta, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Pertama Balai TN Gunung Merbabu
Baca Artikel

Lembar Baru Pucuk Pengelolaan BKSDA Sumbar

Padang, 12 Juli 2021. Pegawai Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) menyambut secara resmi Kepala Balai KSDA Sumbar yang baru, Senin (12/7). Serah terima jabatan dilakukan Kepala BKSDA Sumbar dari Bapak Lugi Hartanto, SP, M.Si selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKSDA Sumbar kepada Bapak Ardi Andono, S.TP, M.Sc selaku Kepala BKSDA Sumbar yang baru dilantik tanggal 1 Juli 2021 silam. Rangkaian acara serah terima jabatan dilakukan di ruang rapat kantor Balai yang juga digelar secara virtual dengan disaksikan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Ir. Wiratno, M.Sc juga bersamaan dengan serah terima jabatan beberapa Kepala Balai seluruh Indonesia. Sebagai informasi, proses serah terima jabatan diikuti oleh eselon IV lingkup Balai KSDA Sumbar, Kepala Resort Lingkup BKSDA Sumbar dan Koordinator Urusan Balai KSDA Sumbar dengan tetap menerapkan protokol Kesehatan Covid-19. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Artikel

Kelola Bersama Pusat Pendidikan Konservasi Berbasis Masyarakat Sekitar TN Ujung Kulon

Labuan, 8 Juli 2021. Program kerjasama antara Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dengan Desa Ujungjaya tepatnya dengan masyarakat dan pemuda forum Harmoni Semenanjung Ujung Kulon Desa Ujungjaya berhasil mewujudkan Pusat Pendidikan Konservasi Berbasis Masyarakat (PPKBM), yang selesai dibangun SBSN akhir Desember tahun 2019. Komplek PKKBM dibangun diatas areal 4 (empat) hektar, dengan fasilitas gedung serba guna, camping ground, visitor center/pusat informasi, gazebo, mushola, sarana pendukung penelitian, trekking sepeda, ruang parkir yang cukup luas dan fasilitas MCK yang memadai. Masyarakat/ Pemuda Ujung Jaya yang diketuai oleh Sdr. Kusroni bersemangat mengelola PPKBM tersebut untuk memperkenalkan kepada publik tentang potensi desanya. Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ir. Anggodo, MM telah menyetujui dan merestui pengelolaan PKKBM dikelola secara langsung oleh masyarakat desa Ujungjaya, agar dengan pelibatan langsung ini masyarakat Desa Ujungjaya dapat lebih termotivasi untuk memajukan dan memperkenalkan Desanya untuk menjadi desa unggulan dalam memperkenalkan potensi dan segala kearifan lokal yang ada. “Pengelolaan komplek PPKBM yang berposisi di Legon Pakis, kami sarankan agar pengelolaannya dilakukan FHSUK (Forum Harmoni Semenanjung Ujung Kulon) bersama petugas Resort Legon Pakis Seksi Pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon. Ini adalah wujud keberpihakan Balai Taman Nasional Ujung Kulon kepada masyarakat desa Ujungjaya sebagai wujud pengelolaan bersama dalam kolaborasi dengan masyarakat desa sekitar TNUK” kata Anggodo. Aktivitas pemeliharaan secara rutin yang dilakukan masyarakat dan pemuda Desa Ujungjaya pada sekitar areal komplek PKKBM antara lain melakukan penanaman arboretum, pembersihan areal komplek baik halaman dan bangunan SBSN yang secara asset menjadi Barang Milik Negara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Saya yakin dengan adanya Komplek Pusat Pendidikan Konservasi Berbasis Masyarakat (PPKBM) yang sudah terbangun di desa kami, kami akan berupaya meningkatkan popularitas desa kami, dimana desa kami adalah desa yang ter-UJUNG Barat Pulau Jawa, mari kita bahu membahu memperkenalkan potensi desa Ujungjaya kepada khalayak, bahkan dunia internasional, agar desa kita menjadi meningkat baik kunjungan wisatanya, memperkenalkan potensi seni dan budaya Banten” tandas Kusroni sebagai Ketua Forum Harmoni Semenanjung Ujung Kulon. “Kami akan menjaga dan memelihara bangunan yang telah dibangun ini agar pemanfaatannya dapat dipergunakan secara maksimal, potensi desa kami sangat tinggi memiliki pantai yang panjang, areal pesawahan irigasi yang baik, dan bisa juga melihat pegunungan yang indah, ini adalah potensi yang sangat baik bagi desa kami, Alhamdulillah Allah SWT menganugerahkan desa indah untuk Ujungjaya” tambah Kusroni. Sebagai informasi kerjasama Balai TNUK dengan Desa Ujungjaya berdasarkan Nota Kesepakatan Nomor : MOU.01/T.12/TU/K3/02/2020 dan Nomor : 005/03/05-2007/II/2020 tanggal 19 Februari 2020. Kedepan pengelolaan areal PKKBM bersama masyarakat Desa Ujungjaya dapat berkelanjutan, dan mampu menambah peningkatan perekonomian dengan menggali potensi Desa Ujungjaya menjadi desa yang sejahtera. Sumber : Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Baca Artikel

Kebakaran Hutan Di Kawasan Wetland Wilayah Timur

Merauke - Lahan basah (Wetland) di wilayah timur Indonesia diwakili oleh Taman Nasional (TN) Wasur yang terletak di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Bagian Selatan. Kawasan TN Wasur memiliki hutan savana yang terhampar luas dan terbentang tanpa batas dengan dominasi tegakan Melaleuca sp. Saat musim hujan, kondisi hutan terlihat hijau bagai permadani, ketika musim kemarau terlihat gersang dan gosong akibat kebakaran hutan yang terjadi. Bulan Juli hingga pertengahan Desember merupakan periode musim panas di wilayah Merauke dan acap kali terjadi kebakaran hutan, dimana masa puncak musim panas berlangsung pada bulan September hingga Oktober. Kebakaran hutan yang terjadi tersebut dikarenakan oleh faktor manusia, seperti aktivitas masyarakat di dalam kawasan TN Wasur maupun masyarakat yang hanya melintas di sepanjang jalan Trans Papua. Aktivitas masyarakat lokal tersebut antara lain mengambil ikan di rawa-rawa dalam kawasan, pemungutan kayu dan ranting untuk kayu bakar, aktivitas perburuan satwa liar secara tradisional, bahkan kegiatan adat budaya yang merupakan kearifan lokal masyarakat dalam kawasan juga kerap dilakukan di dalam kawasan hutan TN Wasur. Musim panas merupakan momentum yang tepat untuk mengakses kawasan TN Wasur dengan cukup mudah yaitu dengan menggunakan kendaran roda dua maupun roda empat untuk melewati jalan-jalan di antara celah pepohonan dalam hutan Wasur. Jejak yang ditinggalkan oleh kendaraan-kendaraan tersebut kemudian membentuk jalan-jalan setapak di dalam hutan. Saat periode puncak musim panas akan banyak rawa-rawa semi permanen di dalam hutan yang mengering, sehingga akan menarik masyarakat untuk mengambil ikan-ikan di rawa-rawa yang mengering itu dengan mudah. Terkadang masyarakat tak hanya sekedar mengambil ikan, namun biasanya melakukan aktivitas yang lain seperti refreshing dan atau membuat bevak untuk bermalam di dalam hutan dalam rangka melakukan perburuan tradisional. Sebelum perburuan tradisional dimulai, biasanya masyarakat membakar rerumputan kering di lantai hutan, namun kemudian yang terjadi adalah kebakaran hutan yang menjadi kurang terkendali. Lantai hutan yang penuh dengan seresah, alang-alang dan semak belukar yang sudah mengering dan mudah terbakar menjadi bahan bakar bagi api untuk terus berkobar. Selama bahan bakar masih tersedia, maka api akan terus bergerak dan menyala, namun api akan padam dengan sendirinya apabila semak belukar sudah habis dan atau terdapat daerah yang masih memiliki kelembaban tinggi seperti hutan dek, daerah rawa-rawa yang masih basah serta jalan-jalan setapak yang sudah terbentuk pada akhirnya menjadi ilaran api yang mampu memutus api agar tidak merambat lebih jauh lagi. Kebakaran yang terjadi di hutan TN Wasur berbeda dengan kebakaran hutan di kawasan hutan Kalimantan dan Sumatera yang memiliki hutan gambut dan kandungan bahan bakar fosil yaitu batu bara yang berada di bawah permukaan tanah yang mampu menyimpan bara api walaupun di atas permukaan tanah sudah dilakukan pemadaman. Tipe kebakaran yang terjadi di kawasan TN Wasur umumnya merupakan kebakaran permukaan dimana bagian yang terbakar adalah seresah, rerumputan dan semak belukar yang sudah mengering. Jika terlihat batang-batang pohon yang gosong, sebenarnya hanya kulit kayu luarnya saja yang terbakar, karena jenis pepohonan Melaleuca sp. yang mendominasi kawasan TN Wasur itu memiliki lembaran kulit batang yang berlapis-lapis dengan ketebalan sekitar 5 cm untuk pohon yang sangat besar. Kayu yang terbakar biasanya berasal dari pohon yang sudah mati karena serangan jamur kayu. Setiap tahun proses kebakaran dalam kawasan cederung sama hampir di seluruh kawasan TN Wasur, hal tersebut dapat dilihat di sepanjang jalan Trans Papua yang akan menyajikan pemandangan kulit-kulit pohon Melaleuca sp. yang terlihat gosong dan lantai hutan yang hitam, namun pemandangan itu hanya saat musim kemarau saja karena saat musim hujan tiba, maka lantai hutan yang hitam bekas terbakar akan kembali ditumbuhi rumput-rumput nan hijau dan kulit-kulit kayu yang terbakar akan berganti kulit kayu yang baru. Adapun upaya yang telah dilakukan oleh pengelola kawasan TN Wasur antara lain dengan memberikan edukasi dan penyuluhan pencegahan kebakaran hutan kepada masyarakat di dalam kawasan TN Wasur dan sekitarnya, melakukan pemadaman api saat melaksanakan kegiatan patroli di dalam kawasan, bekerjasama dengan berbagai pihak yang berada di dalam kawasan dalam rangka pemadaman api, membuat papan himbauan dan informasi, serta bekerjasama dengan Balai Pengendali Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Maluku dan Papua dengan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA). Dimana di dalam kawasan TN Wasur telah terbentuk 4 kelompok yang setiap kelompok terdiri dari 15 orang anggota dan 1 Unit Brigdalkarhutla. Masyarakat lokal dalam kawasan TN Wasur memiliki kearifan lokal yaitu kalender api yang bertujuan sebagai tata waktu dalam melakukan pembakaran secara tradisional dan terkendali untuk tujuan tertentu seperti : menjaga dusun – dusun, pembukaan kebun dan menumbuhkan rumput-rumput juvenil sebagai pakan satwa herbivora. Pembakaran hutan dilakukan secara gotong-royong pada lokasi yang akan dibakar, kemudian masyarakat mengitari areal yang akan dibakar membentuk lingkaran, beberapa minggu kemudian tumbuh rumput muda yang mengundang satwa liar herbivora untuk datang merumput, kemudian diburu, namun kegiatan seperti ini tidak lagi dilakukan oleh masyarakat mengingat kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat menjadikan masyarakat ingin melakukan pemanfaatan sumberdaya alam dengan cepat tanpa memikirkan dampaknya. Dalam sistem manajemen pembinaan tersebut, membakar hutan dan lahan merupakan salah satu manajemen pengelolaan api karena hal tersebut untuk pengendalian proses suksesi Melaleuca sp. dan juga mempertahankan ekosistem savana sebagai habitat dan sumber pakan satwa liar seperti saham (wallaby), bandikot, rusa dan beberapa jenis mamalia lainnya. Sumber : Balai Taman Nasional Wasur Lokasi : Taman Nasional Wasur Penulis dan Foto : Zaenal Arifin, A.Md. (Polisi Kehutanan) Pengarah : Yarman, S.Hut., M.P. (Kepala Balai TN Wasur) Editor : Eka Heryadi, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Muda)
Baca Artikel

Mahout BBKSDA Riau Benchmarking ke TN Way Kambas

Pekanbaru, 7 Juli 2021 - 14 (empat belas) Mahout Balai Besar KSDA Riau melakukan benchmarking/studi banding ke Taman Nasional (TN) Way Kambas, Lampung Timur, Prov. Lampung, pada tanggal 29 Juni hingga 3 Juli 2021. Plt. Kepala Balai TN Way Kambas, Amri menerima rombongan dan memberikan pencerahan terkait pengelolaan kawasan dan Gajah yang ada di TN Way Kambas. Amri juga mengajak berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) TN Way Kambas dan Rumah Sakit Gajah pertama di Indonesia. PLG TN Way Kambas dengan luas + 2.300 ha memiliki 37 Gajah jinak yang secara berkala dilakukan pemantauan dan perkembangan keterampilannya. Mahout yang merawat Gajah jinak terdiri dari 37 ASN, dimana tiap ekor gajah didampingi 1 orang ASN. Disamping itu terdapat kebun pakan yang ditanami rumput Gajah seluas + 20 ha untuk memenuhi tambahan pakan Gajah jinak. Proses pemanenan rumput dibuat per blok sehingga dapat dipanen setiap hari. Mahout Balai Besar KSDA Riau juga diajak mengunjungi Elephant Response Unit (ERU) sebuah tim khusus yang dibentuk untuk penanganan konflik Gajah Sumatera. Awal terbentuk hanya terdapat 4 Tim ERU di TN Way Kambas dengan 20 Gajah jinak, saat ini telah berkembang menjadi 27 Gajah jinak. Tim ERU masing - masing terdiri dari 5 ASN dan 7 asisten Mahout yang dalam pengambilan dan pengolahan data menggunakan SMART Patrol sehingga data yang dihasilkan lebih lengkap dan dapat bermanfaat pada pengelolaan kawasan. Dalam kegiatan operasionalnya, Gajah jinak digunakan tidak hanya untuk penanganan konflik, tetapi juga untuk patroli kawasan, patroli jerat, serta kebutuhan lainnya dalam pengelolaan kawasan. Kunjungan ke PLG dan ERU TN Way Kambas memberikan pembelajaran baru bagi mahout BBKSDA Riau. Hal ini dapat menjadi pemantik untuk menciptakan Mahout – mahout yang berkemampuan tidak hanya mengurus gajah jinak, tetapi juga mampu dalam melakukan pengumpulan, pengolahan hingga analisis data. Sebagai informai, rombongan didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III dan Plt. Kepala SKW IV. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Tingkatkan Kapasitas, BBKSDA Riau Latihan Menembak

Pekanbaru, 7 Juli 2021-Selasa, 6 Juli 2021 bertempat Balai Besar KSDA Riau latihan menembak di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Riau, Selasa (6/7). Peserta pelatihan berjumlah 45 orang yang terdiri dari Pejabat Struktural dan Polisi Kehutanan. Latihan ini untuk meningkatkan kapasitas tenaga pengaman hutan dalam mengamankan kawasan konservasi dan tumbuhan satwa liar yang dilindungi lingkup Balai Besar KSDA Riau. Kepala SPN Polda Riau, Kombes Pol Ruli Agus Pramono, S.I.K memberikan arahan langsung terkait pelatihan dan menyampaikan bahwa pelatihan ini dapat menjadi agenda rutin tahunan untuk petugas lapangan yang kerap berhadapan dengan perambah, penebang liar dan perburuan serta perdagangan satwa liar yang dilindungi. Skor tertinggi diperoleh Kepala Resort Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina, Muslino diikuti Kepala Seksi Konservasi Wilayah III, Hutajulu dan Polisi Kehutanan, Olivia Tirta Asih. Bekal ini menjadikan petugas lebih siap dan bersemangat dalam menjaga kawasan konservasi beserta sumber daya alam hayati yang terkandung di dalamnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Jejak Tertulis Burung - Burung di Taman Nasional Kelimutu

Ende, 5 Juli 2021. Balai Taman Nasional (TN) Kelimutu kembali menerbitkan buku dengan judul "Burung - Burung di Taman Nasional Kelimutu” setelah sebelumnya menerbitkan buku Dwilogi Kelimutu yang bercerita tentang adat budaya serta gambaran lengkap mengenai landskap di kawasan TN Kelimutu. Buku ini disusun oleh Aditya Kuspriyangga seorang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di Balai TN Kelimutu dan Oky Hidayat seorang Peneliti Ahli Muda dibidang Konservasi Sumber Daya Alam pada Balai Litbang LHK Kupang. Semua pengumpulan data diambil dari berbagai kegiatan pengelolaan di kawasan TN Kelimutu yang kemudian tersimpan dalam database sistem informasi manajemen SAORIA. Taman Nasional Kelimutu sangat dikenal dengan surganya burung berkicau karena hampir 100 jenis burung berhasil diidentifikasi. Seperti yang kita ketahui saat berkunjung ke kawasan TN Kelimutu akan banyak mendengar kicauan burung dari areal loket hingga puncak Danau Kelimutu. Buku ini merupakan sumbangan literasi bagi ilmu pengetahuan baik di wilayah Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) maupun nasional dari sisi biologi, konservasi maupun wisata alam (birdwatching) yang berisi mengenai potensi keanekaragaman hayati khususnya burung di kawasan TN Kelimutu. Kepala Balai TN Kelimutu Persada A. Sitepu dalam sambutannya di buku ini menyatakan keberadaan Danau Kelimutu dengan segala keterkaitannya dengan adat dan suku Lio telah dikenal luas baik didalam negeri maupun di luar negeri, namun kekayaan Taman Nasional Kelimutu juga berupa keberadaan keanekaragaman hayati pegunungan Flores yang unik, endemik dan langka diantaranya adalah kekayaan Jenis burung yang menghuni kawasan Taman Nasional dengan luas terkecil di Indonesia. Semoga dengan adanya buku ini juga dapat menunjang pengembangan potensi sumberdaya hayati yang ada. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Artikel

Kemenangan Video Promosi Edukasi Konservasi Alam TWA Sibolangit

Gea Angelica Cristi Tarigan saat menerima piagam penghargaan dan hadiah dari Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Deli Serdang Sibolangit, 5 Juli 2021. Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit yang terletak di Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, masih merupakan kawasan konservasi yang tetap menarik perhatian bagi pengunjung, termasuk para penggiat audio visual. Gea Angelica Cristi Tarigan, adalah salah satu diantaranya. Pemudi yang dilahirkan di Bandar Baru, 20 Desember 1997 silam, melihat kawasan TWA Sibolangit merupakan tempat wisata edukatif yang memiliki potensi menarik dan sangat layak guna dikembangkan serta dipromosikan. Untuk itulah, disela-sela kesibukannya sebagai pegawai di Politeknik Negeri Medan, Gea menyempatkan waktunya untuk membuat video promosi TWA Sibolangit. Video ini kemudian diikutsertakannya dalam perlombaan video pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Deli Serdang dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Deli Serdang ke 75. Bersama tim kreatifnya, Gea melakukan shooting di kawasan dengan mengambil angle-angle yang menarik, seperti : pusat informasi (visitor centre), pusat penyelamatan satwa (PPS), panorama, dan beberapa potensi lainnya. Kerja keras Gea dan tim kreatifnya membuahkan hasil, setelah tim juri, pada Kamis 1 Juli 2021, mengumumkan dan menetapkan bahwa video promosi TWA Sibolangit berhasil menjadi juara I dari 48 peserta lomba. Selain menerima piagam penghargaan, Gea juga menerima uang pembinaan, yang diserahkan langsung Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Deli Serdang, H. Khoirum Rijal, ST., M.AP. Saat dimintai pendapatnya tentang pengembangan kawasan TWA Sibolangit kedepan, Gea memberikan saran agar Pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah, lebih serius lagi memperhatikan TWA Sibolangit, mengingat kawasan ini merupakan aset yang sangat baik dan penting dalam mengedukasi masyarakat. Oleh karena itu diharapkan perhatian yang lebih untuk perawatan objek wisata serta infrastruktur pendukungnya. “Tak kalah pentingnya, pemerintah juga harus intens mengekspose dan menggalakkan promosi agar masyarakat lebih banyak lagi datang berkunjung dan berwisata sekaligus mengedukasi tentang konservasi alam,” ujar Gea. Keberhasilan Gea Angelica Cristi Tarigan dalam mengangkat serta mempromosikan potensi wisata edukasi konservasi alam di kawasan TWA Sibolangit melalui video kreatifnya, merupakan sekelumit gambaran akan besarnya perhatian serta dukungan dari masyarakat terhadap arti penting kawasan TWA. Sibolangit. Kesuksesan ini pun menjadi motivasi dan inspirasi bagi pengelola untuk terus bekerja lebih baik dan lebih giat lagi, agar kedepannya kawasan ini menjadi salah satu objek wisata favorit di Sumatera Utara. Selamat Gea... salam konservasi... Sumber : Samuel Siahaan, SP. - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Perketat Pengawasan Peredaran TSL, BBKSDA Riau Siapkan Pos Pengawasan di Hang Nadim

Pekanbaru, 2 Juni 2021 – Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Batam Balai Besar KSDA Riau dalam meningkatkan pengawasan petugas terkait peredaran tumbuhan dan satwa liar (TSL) yang melewati bandara Hang Nadim Batam serta memaksimalkan pelayanan publik terkait penerbitan Surat Angkut Tanaman Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN), sedang mempersiapkan Pos Pengawasan di bandara Hang Nadim yang akan mulai beroperasi di awal bulan Juli 2021 ini. Dalam prosesnya, SKW II Batam berkoordinasi dengan pihak Avsec Bandara yang berada di area cargo terkait pengiriman/pengangkutan barang yang melewati mesin X-Ray. Tujuannya supaya dapat bersama-sama melakukan pemantauan lalu lintas barang, hewan dan tumbuhan tersebut. Pengawasan juga dilakukan di gudang penampungan barang sebelum barang dinaikkan dan pesawat diberangkatkan dengan memeriksa barang yang diangkut. Pos pengawasan ini diharapkan memudahkan masyarakat dalam pengurusan SATS-DN untuk wilayah Kepulauan Riau dan pengawasan TSL lebih yang lebih optimal. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

BBKSDA Riau Diganjar Penghargaan Konservasi Gajah Provinsi Riau

Pekanbaru, 30 Juni 2021 – Balai Besar KSDA Riau sebagai pemangku kepentingan program investasi sosial khususnya di bidang lingkungan diganjar penghargaan yang diberikan SKK Migas dan PT. Chevron Pacific Indonesia, Selasa (29/6). Penghargaan diberikan di aula serbaguna politeknik Caltex Riau, Pekanbaru dengan kategori sebagai mitra pelaksana kegiatan konservasi Gajah di Riau. SKK Migas dan PT. Chevron Pacific Indonesia mendukung program pemerintah dibidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, lingkungan, serta tanggap bencana yang dijalankan melalui pola kemitraan dengan berbagai organisasi baik perguruan tinggi maupun pemerintah daerah. Apresiasi diberikan kepada mitra pelaksana serta pemangku kepentingan program tersebut. Terima kasih atas penghargaannya. Semoga sinergi ini dapat terus bergandengan untuk Indonesia lebih baik. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Strategi Peningkatan Pemeraatan Pendapatan Masyarakat Desa Sepandan

Sepandan, 28 Juni 2021. Penyusunan Peraturan Desa (Perdes) Jasa Transportasi Wisata ke Taman Nasional Danau Sentarum merupakan salah satu tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya antara pihak Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) bersama Camat dan Kades. Ini merupakan penyusunan tahap pertama, juga merupakan salah satu strategi dalam peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat Desa Sepandan dan Lanjak Deras serta meningkatkan kualitas pelayanan jasa transportasi wisata. Kepala Desa Sepandan Adi Gunawan menyampaikan “Sebagai tindak lanjut dari kegiatan pemberdayaan masyarakat dari Balai Besar TaNa Bentarum sekalian kita berbenah dan menertibkan para penambang (driver speed, Red) seperti SOP bawa tamu, pengaturan jadwal bawa tamu sehingga semua penambang dapat giliran, jadi gak orang - orang itu aja yang bawa tamu, dan satu lagi kita harus sepakat jangan sampai tamu itu jera untuk datang ke daerah kita ini” “Kita sangat perlu membuat kesepakatan harga tiket yang seragam dan standar keselamatan seperti safety first dan asuransi sehingga tamu atau pengunjung merassa aman, hal ini perlu dituangkan dalam perdes bersama” ujar Suparto Kepala Desa Lanjak Deras. “Penyusunan perdes bersama ini adalah salah satu proses perbaikan pengelolaan jasa transportasi wisata dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat, maka kita perlu mendapatkan masukan dari masyarakat dan pelaku jasa transportasi untuk menyusun perdes dan nantinya kita bahas bersama kembali sampai perdes ini disahkan sehingga kedepannya bisa dikelola dengan benar oleh masyarakat dan untuk masyarakat” Pungkas Harri Ramadani, Kepala Resort Sepandan Balai Besar TaNa Bentarum. Sebagai informasi, kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Sepandan, Kepala Desa Lanjak Deras, Kepala Resort Sepandan dan staf, Kementerian Desa PDT, BPD Desa, Tokoh Masyarakat, Ketua Nelayan, Ketua Kelompok Jasa Transportasi dan perwakilan driver speed kedua desa. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Artikel

Mengunjungi 10 Gunung di Cagar Alam Raya Pasi

Bogor, 28 Juni 2021. Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA), Ditjen KSDAE bertolak ke Balai KSDA Kalimantan Barat guna monitoring pelaksanaan pengelolaan blok kawasan konservasi di wilayah Kalimantan Barat sekaligus penyelesaian proses perbaikan dokumen blok yang masih belum selesai. Balai KSDA Kalimantan Barat, memiliki 13 kawasan konservasi yang terdiri dari 6 Cagar Alam (CA) dan 7 Taman Wisata Alam (TWA). Salah satu kawasan yang dikelola oleh Balai KSDA Kalimantan Barat adalah Cagar Alam Gunung Raya Pasi, Cagar Alam secara administrasi pemerintahan berada di Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang. Untuk mencapai lokasi Cagar Alam Gunung Raya Pasi dapat di akses dari Pontianak ke Singkawang selama 3 Jam perjalanan darat. Dalam perjalanan arah Kota Pontianak dan Kota Singkawang, kita melalui Tugu Khatulistiwa (Equator Monument). Tugu Khatulistiwa berlokasi tepat di Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Siantan, Kecamatan Pontianak Utara, Provinsi Kalimantan Barat dan berada sekitar 5 Km dari pusat Kota Pontianak. Karena waktu masih cukup maka kami berhenti sejenak untuk mampir di tugu bersejarah tersebut. Perjalanan pun dilanjutkan kearah Kota Singkawang, dengan kondisi arus lalu lintas yang cukup sepi dan lancar. Setiba di singkawang kami melapor ke kantor Seksi Konservasi Wilayah Singkawang . Dari kantor Seksi , Cagar Alam Gunung Raya Pasi tidak jauh sekitar 30 menit ditempuh dengan motor ataupun mobil. Untuk itu kami melanjutkan kearah Cagar Alam Gunung Raya Pasi dengan ditemani oleh kepala Resort KSDAE, Pak Gusmao. Sepanjang perjalanan kea rah Cagar Alam, pak Gusmao menceritakan sejarah kawasan cagar alam ini. Cagar Alam Gunung Raya Pasi ini terdiri dari 10 gunung yang meiliki ketinggian yang beragam yaitu Gunung Bengkayang dengan tinggi 947 mdpl, Gunung Pasi dengan tinggi 770 mdpl, Gunung Poteng tinggi 725 mdpl, Gunung Ibu dengan tinggi 720 mdpl, Gunung Beor tinggi 710 mdpl, Gunung Mancar Silat tingi 590 mdpl, Gunung Gambar tinggi 504 mdpl, Gunung Dek Pading tinggi 500 mdpl, Gunung Tinjau Laut tinggi 440 mdpl, Gunung Sebayun tinggi 332 mdpl. Pak Gusmao yang berasal dari NTT ini bercerita bahwa Cagar Alam Gunung Raya Pasi mempunyai fungsi yang sangat vital bagi penyediaan kebutuhan air untuk masyarakat di Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang. Masyarakat Singkawang sangat peduli terhadap pelindungan dan pelestarian keberadaan kawasan Cagar Alam Gunung Raya Pasi yang dibuktikan dengan komitmen penanda tanganan prasasti Ikrar Pemuka Adat untuk memjaga dan memelihara Cagar Alam Gunung Raya Pasi . Sejarahnya Cagar Alam Gunung Raya Pasi cerita pak Gusmao, ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan K Zelf Beotuur Van Sambas No. 39 Tanggal 20 Januari 1931 (Penunjukan sebagai Hutan Lindung seluas 900 ha), SK Menteri Pertanian RI No. 326/Kpts-Um/5/1978 Tgl 20 Mei 1978 (Penunjukan sebagai Cagar Alam seluas 3.742 ha), BA Tata Batas Tanggal 09 Maret 1990 (Tata batas definitif sepanjang 55 Km), SK Menteri Kehutanan RI No. 111/Kpts-II/1990 Tanggal 14 April 1990 (Pengukuhan kawasan Cagar Alam seluas 3.700 ha). Pada kawasan ini flora yang tumbuh antara lain berbagai jenis anggrek (Phalaenopsis spp., Coelogyne cominngiilind, Aerides adoratum lour, Dendrobium crummenatum, Bunga Patma (Rafflesia tuan-mudae), Bunga Law Belacan (Rhizanthes zippelii) dan berbagai jenis flora menarik lain. Sedangkan Satwa yang sering dijumpai adalah Beruang Madu (Herlactos malayanus), Landak (Hysterix branchyura), Kukang (Nycticebos coucang), Binturung (Arctictis binturong), Trenggiling (Manis javanica), burung Enggang (Anracoceros sumatranus), dll. Suatu hal yang sangat menarik dari kawasan ini adalah panoramanya yang indah dan air terjun serta goa. Adapun Habitat dan Tipe ekosistem pada kawasan ini adalah tipe hutan dataran rendah, perbukitan dan tipe vegetasi pegunungan.. Kawasan Cagar Alam ini relative aman dan tingkat gangguan ancaman terhadap kerusakan kawasan sangatlah kecil. Hal ini dikarenakan adanya kepedulian dan keterlibatan pengelolaan kawasan yang sudah terjalin sangat baik antara Balai KSDA Kalimantan Barat dan Masyarakat sekitarnya. Sumber : Mugiharto HP, S.Hut, M.Si – Direktorat PIKA
Baca Artikel

Program Pemberdayaan Untuk 45 Desa Sekitar Kawasan TN Rawa Aopa Watumohai

Konawe Selatan, 26 Juni 2021. Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) menargetkan program pemberdayaan masyarakat untuk 45 desa di sekitar kawasan taman nasional. Kepala Balai TNRAW Ali Bahri mengatakan, pihaknya pada tahun 2020 telah menyusun Masterplan Rencana Pemberdayaan Masyarakat (RPM) untuk 45 desa di sekitar kawasan TNRAW dari tahun 2021 hingga 2025 mendatang. “RPM ini merupakan bagian dari rencana pengelolaan TNRAW yang disusun berdasarkan hasil kajian dan mempertimbangkan rencana pengelolaan dengan melibatkan para pemangku kepentingan lainnya yang disusun untuk periode lima tahun” ungkap Ali Bahri. “Sehingga kegiatan pemberdayaan masyarakat desa penyangga TNRAW menjadi terarah dan terukur, dan diharapkan dapat menjadi acuan bagi Balai TNRAW dan stakeholders terkait dalam upaya pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan lima tahun ke depan” tambah Ali. Ali juga menegaskan dalam penyusunan RPM ini juga mengakomodir masukan dari para pihak sehingga ke depan dengan paradigma baru, pengelolaan kawasan Taman Nasional menempatkan masyarakat sebagai mitra utama menjadi pertimbangan pokok yang harus diakomodir. “Sehingga TNRAW dapat berperan tidak hanya secara ekologis, namun juga secara ekonomis yaitu memberikan kontribusi yang positif kepada masyarakat,” kata Ali Bahri melalui keterangan persnya, Sabtu (26/6/2021). Selain itu, untuk penentuan lokasi sendiri akan berdasarkan inventarisasi dan verifikasi desa sekitar kawasan dengan beberapa pertimbangan di antaranya interaksi antara desa dengan kawasan, potensi pemanfaatan jasa lingkungan dalam kawasan, pemanfaatan sumber daya alam dalam kawasan dan aktivitas masyarakat dalam kawasan. Untuk memudahkan kegiatan perencanaan, hasil inventarisasi dan verifikasi dibagi ke dalam empat klaster. Keempat klaster tersebut terdiri dari pemberian akses (kemitraan konservasi), ekowisata, izin pemanfaatan air dan fasilitasi/pengembangan usaha ekonomi (PUE) produktif. Untuk diketahui saat ini sudah ada 18 desa penyangga yang menjadi mitra Balai TNRAW di antaranya Desa Wonuamorome, Desa Trimulya, Desa Wawosanggula, Desa Mokaleleo dan Desa Pewutaa. Desa tersebut merupakan desa penyangga yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Artikel

Kisah Sukses Resort Loh Wau Balai TN Komodo Lestarikan & Lepasliarkan Penyu

Labuan Bajo, 26 Juni 2021. Resort Loh Wau Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo konsisten melaksanakan upaya pelestarian semi alami penyu sepanjang tahun 2021. Inisiasi pelestarian semi alami hingga pelepasliaran penyu ini bermula dari gagasan mandiri Ikhwan Syahri (Polisi Kehutanan/Kepala Resort Loh Wau) bersama dengan Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan) sejak awal tahun 2020. Ikhwan merasa perlu melakukan pelestarian ini sebagai bentuk upaya petugas untuk menangani kasus pencurian telur penyu oleh oknum masyarakat serta terjadinya tumpang tindih sarang penyu yang kerap terjadi di beberapa pesisir pantai yang sama. Ikhwan bersama anggota resort-nya pun meningkatkan frekuensi patroli resort ke beberapa titik peneluran salah satunya Pulau Lengah untuk menekan upaya percobaan pencurian telur di beberapa titik peneluran secara berkala. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan (anecdotal evidence), Ikhwan merasa bahwa upaya percobaan pencurian telur telah jauh berkurang di Pulau Lengah dengan adanya strategi pengamanan tersebut. Pada Bulan Maret 2021, Ikhwan bersama dengan Ikbal kembali melakukan monitoring sarang bertelur penyu di Pulau Lengah. Monitoring sarang bertelur penyu dilakukan selama tujuh hari pengamatan di Pulau Lawang dan Pulau Lengah. Tim membangun kemah sederhana dan melakukan pengamatan aktivitas peneluran penyu secara bergantian dari titik tertinggi di sekitar pantai tanpa penerangan. Pengamatan dilakukan dengan empat pembagian waktu dimulai pukul 21:00 – 23:00, 23:00 – 01:00, 01:00 – 03:00, dan 03:00 – 05:00. Jika tidak ditemukan aktivitas peneluran langsung, tim akan melakukan pemeriksaan sarang penyu di pagi hari dan melakukan penggalian. Resort Loh Wau telah berhasil melakukan 60 relokasi dari tujuh lokasi peneluran penyu dengan rerata telur menetas mencapai 54 butir setiap sarangnya sepanjang tahun 2020. Jenis telur penyu yang ditemukan adalah penyu hijau (Chelonia mydas) dengan 3 – 5 kali peneluran dalam 2 – 3 tahun musim bertelur. Dari total 341 telur penyu hijau yang direlokasi, sebanyak 246 tukik penyu hijau berhasil dilepasliarkan ke alam pada tahun 2020. Resort Loh Wau juga telah mendapatkan penghargaan sebagai “Inisiator Penetasan dan Pelepasliaran Penyu di Loh Wau Tahun 2020” dari Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem pada tahun 2020. Resort Loh Wau telah merelokasi 93 telur penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan 271 telur penyu hijau dari total sembilan sarang penyu pada dua titik peneluran di tahun 2021. Petugas kemudian memisahkan telur ke masing-masing lubang sarang buatan dengan jumlah maksimal 70 telur/lubang untuk menghindari adanya gagal tetas akibat padatnya jumlah telur dalam satu sarang. Sebanyak 52 telur penyu sisik berhasil menetas (55.9%), 99 telur penyu hijau (70.7%), dan 116 telur penyu hijau (88.5%) berhasil menetas di pelestarian semi alami Resort Loh Wau. Berdasarkan upaya tersebut, Resort Loh Wau telah sukses merelokasi 364 telur penyu (93 penyu sisik dan 271 penyu hijau) dan berhasil melepasliarkan 215 tukik penyu hijau serta 52 tukik penyu sisik pada tahun 2021. Sebagai bagian dari apresiasi dan pembelajaran bagi petugas resort lingkup Balai Taman Nasional Komodo lain, Kepala SPTN Wilayah III Taman Nasional Komodo (Urbanus Sius) memberikan kesempatan untuk Ikhwan menjadi narasumber untuk menceritakan kisah sukses pelestarian dan pelepasliaran penyu oleh Resort Loh Wau pada Bulan April 2021 yang lalu. Kepala Balai Taman Nasional Komodo (Lukita Awang Nistyantara) berharap agar resort-resort lingkup Balai Taman Nasional Komodo yang lain dapat berinovasi dan memiliki aktivitas unggulan yang menyesuaikan dengan karakteristik unik ekosistemnya masing-masing. Sebagai informasi, kegiatan monitoring ini mengikutsertakan Banu Widyonarko (Polisi Kehutanan/Kepala Resort Kampung Kerora), Agitha Putri B.R. Bangun (Polisi Kehutanan/Anggota Resort Loh Wau), Maksimianus Pamur (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Padar Selatan), Kaleb Bura (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Wau), dan Robinsyah (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Padar Utara). Selain melibatkan petugas Balai Taman Nasional Komodo, kegiatan ini juga melibatkan Nurdin (Warga Dusun Kerora) dan Maria Margareta Dewi Doma (Staf Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores) yang berpartisipasi dalam rangka penjajakan gagasan ecoedutourism sebagai potensi minat wisata khusus yang dapat dikembangkan di Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. dan Ikhwan Syahri, S.Hut. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.

Menampilkan 1.793–1.808 dari 1.990 publikasi