Sabtu, 10 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Musim Kemarau Datang, BBKSDA Riau Patroli Mandiri di SM Bukit Batu

Pekanbaru, 8 Agustus 2021 – Resort Bukit Batu Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melakukan patroli mandiri di pinggir kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu, Jumat (6/8/21). Saat melakukan melakukan penyisiran jerat di pinggir kawasan SM Bukit Batu dan di sekitaran kebun warga, tim malah menemukan satwa Ungko (Siamang) di pohon Ara yang sedang bersahutan sesama jenisnya, diperkirakan Siamang tersebut lebih dari satu ekor. Pada saat melakukan pengecekan di km 07 PT. SPM, untuk sementara tidak ditemukan tanda-tanda penebangan liar di lokasi tersebut. Tim kemudian melakukan sosialisasi kepada para pekerja kebun yang berada dipinggir SM Bukit Batu agar tidak memasang jerat dan membakar lahan karena patroli ini juga sebagai antisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan dikarenakan musim kemarau telah tiba dan air kanal yang mulai mengering. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Kali Ini BBKSDA Riau Pantau SM Giam Siak Kecil Wilayah Kabupaten Siak

Pekanbaru, 8 Agustus 2021 – Resort Siak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan di Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil pada wilayah Kabupaten Siak, Selasa (4/8/21). Patroli dilakukan di sekitar Kampung 40, Desa Buatan Besar yang berbatasan langsung dengan SM Giam Siak Kecil. Tim juga melakukan pemasangan spanduk pencegahan kebakaran di pos penjagaan kawasan dan rumah masyarakat. Pengukuran tinggi muka air kanal juga dilakukan untuk mengetahui kelembaban tanah di seputaran kawasan SM Giam Siak kecil. Tim juga memberikan sosialisasi, penyadartahuan, serta mengingatkan kepada masyarakat untuk saling bekerjasama dalam upaya pencegahan kebakaran dan tidak melakukan kegiatan yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan. Untuk saat ini kondisi kawasan SM Giam Siak Kecil masih kondusif dari kebakaran hutan. Tim akan terus menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar kawasan dan melakukan pemantauan kawasan yang rawan kebakaran hutan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Mengenal Gajah Si Satwa Spesial

Pekanbaru, 7 Agustus 2021 - Gajah adalah satwa yang sangat spesial. Mengapa? Dia mengandung anaknya selama 600 hari atau 20 bulan. Dia hanya melahirkan satu ekor anak gajah saja. Si betina melahirkan pada usia 15 atau 16 tahun. Dan umurnya hanya mencapai 60 atau 70 tahun. Terbayang kan kalau kita tidak menjaganya dari perburuan atau kejahatan satwa, maka mereka akan mengalami kepunahan. Biasanya pemburu mengincar gading Gajah yang hanya dimiliki gajah jantan. Ukuran panjang gading gajah jantan dewasa bisa mencapai 50 - 170 cm. Sedang gajah betina dewasa hanya memiliki caling yang ukurannya hanya 20 cm saja. Mari kita jaga bersama, agar satwa gajah sumatera tidak punah dan tetap lestari menjadi kebanggaan Indonesia. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Longboat Wisata Untuk Masyarakat Negeri Sawai

Masohi, 7 Agustus 2021. Kepala Balai Taman Nasional (TN) Manusela, MHD Zaidi menyerahkan bantuan longboat wisata kepada kelompok masyarakat Negeri Sawai, Sabtu (7/8/21). Penyerahan bantuan disaksikan oleh tokoh masyarakat Negeri Sawai yang dilakukan di dermaga Penginapan Lisar Bahari. Sehari sebelumnya pada Jum’at 6 Agustus 2021, MHD Zaidi juga menyerahkan bantuan yang sama kepada kelompok masyarakat di Negeri Air Besar. Disela-sela kegiatan penyerahan bantuan ini, Kepala Balai sekaligus berkesempatan bersilaturahmi bersama beberapa tokoh masyarakat dari Negeri-negeri di Kecamatan Seram Utara serta Camat Seram Utara, Moch. Anas Al Idrus. Dalam silatrurahmi tersebut Kepala Balai mengajak untuk berkoordinasi, saling membantu, kerjasama, juga meminta saran dan masukan dalam membangun Taman Nasional Manusela. Sumber : Balai Taman Nasional Manusela
Baca Artikel

BBKSDA Riau Pantau Situasi dan Kondisi Desa Sekitar SM Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 8 Agustus 2021 – Resort Duri Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil tepatnya di Desa Tasik Tebing Serai, Dusun Bagan Makmur, Desa Tasik Serai Timur dan Titi Besi, Desa Tasik Serai pada tanggal 3 - 4 Agustus 2021. Kali ini tim bergerak menuju bekas lokasi kebakaran di KM. 75 Desa Tasik Tebing Serai. Kondisi di lapangan terlihat kering karena tanah gambut dan volume air di kanal juga mengering. Disana, tim memasang spanduk larangan membakar hutan bersama ketua RT setempat. Sosialisasi juga dilakukan kepada Kepala Desa Tasik Serai Timur dan ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) terkait pencegahan kebakaran di desa Tasik Serai Timur. Keesokan harinya (4/8/21), tim melanjutkan pemasangan spanduk larangan membakar hutan di Titi Besi, Desa Tasik Serai Semandak bersama ketua RT setempat. Terpantau kondisi di lapangan gambut terlihat lembab/basah dan volume air masih tinggi. Tak hanya memasang larangan membakar, tim juga memasang rambu kawasan di perbatasan antara kawasan SM Giam Siak Kecil dan perkebunan warga sekaligus melakukan sosialisasi kepada warga pemilik kebun. Patroli ditutup dengan pemasangan rambu kawasan di Dusun Bagan Makmur, Desa Tasik Serai Timur. Saat tiba di dekat perbatasan kawasan, Tim melihat alat berat yang sedang berjalan menuju keluar kawasan. Tim langsung memperingatkan operator alat berat supaya tidak melakukan pekerjaan ataupun aktifitas apapun di dalam kawasan SM. Giam Siak Kecil. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

BBKSDA Riau Pantau Langsung Rencana Kerja KTH Tuah Berseri

Pekanbaru, 6 Agustus 2021 – Tim Balai Besar KSDA Riau yang diketuai Plh. Kepala Bidang KSDA Wilayah II, M.B. Hutajulu melakukan pembahasan rencana kerja tahunan Kelompok Tani Hutan (KTH) Tuah Berseri Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil, Kabupaten Siak, Selasa (3/8/21). Berlokasi di Kampung Tuah Indrapura, Kec. Bunga Raya, Kab. Siak kegiatan ini merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan SM Giam Siak Kecil. Penyelesaian kelengkapan administrasi kelompok ini diperlukan dalam rangka penerimaan bantuan agar segera dapat diselesaikan. Rencana kerja KTH Tuah Berseri dilakukan dari bulan Agustus 2021 s.d. Juli 2022, terdiri dari pemberian bantuan koloni madu lebah Kelulut, pendampingan petugas Balai Besar KSDA Riau, pemeliharaan koloni dan pemanenan madu lebah Kelulut. Tim juga melakukan pengecekan calon lokasi budidaya madu lebah Kelulut yang berada di Dusun 3 Kampung Tuah Indrapura. Berdasarkan peninjauan rencana lokasi tersebut, disimpulkan bahwa KTH Tuah Berseri layak untuk mendapatkan bantuan koloni madu lebah kelulut. Rencana usaha kerja kelompok yang telah direncanakan ini akan sukses dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar kawasan hutan sehingga ekonomi masyarakat meningkat dan kawasan hutan dapat terjaga kelestariannya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Dinamika Pengelolaan PLG Sebanga

Pekanbaru, 6 Agustus 2021 - Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1988, Pusat Latihan Gajah Sebanga atau yang lebih sering disebut dengan PLG Sebanga telah melatih banyak gajah liar yang terlibat konflik dengan manusia. Terdapat sekitar puluhan hingga seratus ekor lebih gajah yang pernah dilatih di PLG Sebanga hingga saat ini. Pada masa awal pendiriannya, PLG Sebanga dikenal sebagai salah satu pusat latihan gajah terbaik dengan fasilitas yang lengkap di Indonesia. PLG Sebanga pada masa itu tidak hanya memiliki sarana pelatihan dan perawatan gajah, fasilitas pengobatan gajah, barak-barak mahout, serta kantor pengelola, tetapi juga terdapat fasilitas helipad yang dibangun oleh Chevron. Area penggembalaan gajah pun masih luas yang didukung dengan penunjukan Suaka Margasatwa PLG Sebanga (SM PLG Sebanga) seluas 5.000 hektar pada tahun 1992 oleh Gubernur Riau yang letaknya berdampingan dengan PLG Sebanga. Penunjukan SM PLG Sebanga tersebut merupakan upaya konservasi in-situ yang dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan agar gajah-gajah binaan PLG Sebanga dapat digembalakan di habitat aslinya. Pendirian PLG Sebanga dan penunjukan SM PLG Sebanga menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat setempat. Warga yang tidak setuju beberapa kali melakukan aksi kerusuhan yang berpuncak pada pembakaran area kompleks PLG Sebanga pada tanggal 23 Desember 1993. Hampir seluruh sarana di PLG Sebanga terbakar habis, namun beruntung semua gajah berhasil diselamatkan dan diungsikan ke Desa Pinggir di Balai Raja untuk sementara waktu. Pada bulan Agustus tahun 1994, PLG Sebanga dipindahkan ke Desa Sialang Rimbun yang lokasinya terletak di bagian selatan SM PLG Sebanga. Terlepas dari segala pro dan kontra pendirian PLG Sebanga, sejak tahun 1993 PLG Sebanga telah mendistribusikan gajah binaan mereka ke berbagai lokasi dan di Indonesia. Pendistribusian ini bertujuan sebagai salah satu usaha konservasi ex-situ gajah dengan memperkenalkan gajah kepada masyarakat umum. Pada tahun 1993, delapan ekor gajah binaan PLG Sebanga didistribusikan untuk PT Arara Abadi dan empat ekor gajah binaan didistribusikan kepada PT RAPP. Selain itu, gajah binaan PLG Sebanga juga dikirimkan ke Kebun Binatang Sawah Lunto, Elephant Park Ubud Bali dan Lombok, bahkan juga dikirimkan sebagai Elephant Flying Squad di Tesso Nilo. Berdasarkan fakta di atas, terlihat bahwa PLG Sebanga telah memberikan peran yang cukup besar dalam upaya konservasi gajah di Indonesia. Meskipun begitu, tingginya tingkat perambahan dan illegal logging di kawasan SM PLG Sebanga tetap tidak dapat dikendalikan. Akibatnya ruang penggembalaan gajah binaan PLG Sebanga menjadi terbatas. Para mahout di PLG Sebanga kesulitan untuk menggembalakan gajah-gajah mereka dan juga kesulitan untuk menambah jumlah gajah binaan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pada tahun 2001 PLG Sebanga dipindahkan ke Kecamatan Minas yang kemudian dikenal dengan nama PLG Minas. Sebagian besar gajah-gajah binaan PLG Sebanga kemudian dipindahkan ke PLG Minas, sedangkan PLG Sebanga tetap dipertahankan keberadaannya. Saat ini hanya tersisa lima ekor gajah binaan di PLG Sebanga yang terdiri dari satu ekor gajah jantan bernama Sarma berusia 34 tahun yang dilatih oleh Mahout Yusman dan empat ekor gajah betina, yaitu Sella berusia 15 tahun dilatih oleh Mahout Edi, Rosa berusia 23 tahun dilatih oleh Mahout Irwansyah, Puja berusia 16 tahun dilatih oleh Mahout M.Ramli, dan Dora berusia 11 tahun dilatih oleh Mahout Tukino. Gajah jantan digembalakan di area hutan yang tersisa di PLG Sebanga, sedangkan semua gajah betina digembalakan di area hutan rawa yang terletak di luar kawasan SM PLG Sebanga yang berjarak sekitar tiga kilometer dari area PLG Sebanga. Gajah-gajah binaan PLG Sebanga tidak bisa digembalakan di kawasan SM PLG Sebanga karena sebagian besar hutan di sana telah beralih fungsi menjadi kebun sawit dan hanya sekitar empat hektar area hutan yang tersisa. Kondisi yang tidak kondusif ini berdampak pada kurangnya ketersediaan pakan gajah, dan sulitnya mencari tempat untuk menambatkan gajah. Tantangan lain yang dirasakan oleh mahout di PLG Sebanga selain hilangnya area penggembalaan gajah adalah tidak tersedianya tempat penjinakan gajah, tempat pelatihan gajah dan terbatasnya perlengkapan pelatihan gajah. Selain itu, minimnya sarana pelatihan sumber daya manusia, barak-barak mahout yang sudah tidak layak pakai, terbatasnya sarana pemeliharaan dan perawatan gajah, dan tidak tersedianya fasilitas kesehatan gajah di area PLG Sebanga juga mempersulit pengelolaan gajah binaan PLG Sebanga saat ini. Kondisi PLG Sebanga yang mengkhawatirkan ini perlu segera dicarikan solusinya. Jika tidak, maka pengelola PLG dan pawang gajah akan kesulitan dalam mengelola gajah-gajah binaan mereka. Oleh sebab itu, Kepala SKW III BBKSDA Riau beserta tim berencana untuk membuat kebun pakan di kawasan PLG Sebanga yang masih belum dirambah oleh masyarakat. Program ini sudah mulai diinisiasi pada pertengahan Juli 2021 dengan melakukan pembersihan area yang akan ditanami pakan. Kepala SKW III bersama tim resort duri juga berinisiatif untuk melakukan pendekatan secara persuasif kepada pemilik kebun sawit di kawasan SM PLG Sebanga agar bersedia mengembalikan sebagian lahan sawit mereka yang berada di dalam kawasan kepada PLG Sebanga sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tempat penggembalaan gajah dan kebun pakan. Rencana ini tentunya mustahil untuk dilakukan dalam jangka pendek. Dibutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak, terutama pemerintah daerah dan tokoh terkemuka di Desa Sialang Rimbun untuk bersama-sama membantu membujuk masyarakat sehingga bersedia mengembalikan sebagian lahan yang mereka ambil. Selain itu, para mahout di PLG Sebanga beserta tim SKW III BBKSDA Riau juga telah mengusulkan pengadaan sarana prasarana dan fasilitas yang belum tersedia di sana agar PLG Sebanga bisa bangkit dan dapat berjalan secara kondusif seperti dulu. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Monitoring Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Binaan Balai TN Tesso Nilo

Desa Lubuk Batu Tinggal, 4 Agustus 2021. Kepala Resort Air Hitam Bagan Limau (AHBL) Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Ahmad Gunawan, S.Hut bersama Penyuluh Pendamping Desa Lubuk Batu Tinggal (LBT) Robert Simatupang, A.Md melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK) Desa Binaan Kompeh Sejahtera di Dusun 5 Pondok Kompeh Desa Lubuk Batu Tinggal Kec. Lubuk Batu Jaya Kab. Indragiri Hulu (Inhu), Rabu (4/8/21). Kepala Desa Lubuk Batu Tinggal, Suherdi menyampaikan bahwa Pemerintah Desa (Pemdes) Lubuk Batu Tinggal sangat menyambut baik program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PEM) dari Balai TNTN apalagi dimasa pandemi Covid-19 ini. “Masyarakat begitu terdampak dari pandemi ini secara ekonomi, maka dengan adanya PEM ini tentu akan sangat membantu pihak pemdes dalam menjaga ekonomi masyarakat LBT” ungkap Suherdi saat sesi diskusi terkait monitoring dan evaluasi program pemberdayaan ekonomi masyarakat terhadap KTHK Kompeh Jaya. Pemdes Lubuk Batu Tinggal juga mengucapkan terima kasih kepada Balai TNTN selama 3 tahun terakhir tidak henti-hentinya peduli dalam mencarikan solusi terhadap penguasaan lahan di kawasan TNTN oleh masyarakat LBT. “Pemdes akan berkomitmen menjaga masyarakat LBT agar tidak lagi merusak hutan TNTN dan akan memberikan arahan wajib ikut menjaga hutan alam TNTN. Dan titip salam untuk Bapak Kepala Balai TNTN dalam waktu dekat bersama para pengurus KUD Tani Bahagia akan bersilaturahmi ke kantor Balai TNTN” tutup Suherdi. Setelah bertemu Kepala Desa LBT, tim dari Balai TNTN melanjutkan pertemuan dengan para pengurus KTHK Kompeh Sejahtera di kediaman Ketua RW Asmady. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Kepala Dusun 5 Pondok Kompeh, Junaidi Tarigan. Sumber : Ahmad Gunawan S.Hut - Polhut Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Memantau SM Bukit Batu Dari Dekat

Pekanbaru, 2 Agustus 2021 - Tim Resort Bukit Batu Balai Besar KSDA Riau melakukan patroli perlindungan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu, Jumat (30/7/21). Patroli ini sekaligus untuk mencegah kebakaran hutan karena kondisi air sungai yang mulai surut dan perubahan cuaca yang ekstrem. Pemasangan papan peringatan di beberapa titik di pinggir sungai dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya kebakaran, perambahan hutan dan pelaku illegal logging di dalam kawasan SM Bukit Batu. Tim pada akhirnya tidak menemukan tanda - tanda aktivitas penebangan liar maupun pemasangan jerat di dalam kawasan SM. Bukit Batu. Untuk sementara keadaan aman dan kondusif. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Potret Aktivitas Mahasiswa Unbraw Magang di TN Komodo

Labuan Bajo, 30 Juli 2021. Geraldi Al Azzami, Fajar Bagus Sujiwo, dan Muhammad Ismail Djauhar merupakan tiga mahasiswa dari Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya yang melakukan kegiatan magang selama 50 hari di Balai Taman Nasional Komodo. Kegiatan magang sebagai praktik kerja lapangan merupakan salah satu aktivitas diluar perkuliahan yang harus diselesaikan mahasiswa sebagai pemenuhan kompetensi di Universitas Brawijaya. Balai Taman Nasional Komodo menyambut baik permohonan magang Universitas Brawijaya dengan mensyaratkan mahasiswa untuk memiliki topik magang yang ingin dipelajari dan dapat diimplementasikan di dalam kawasan. Topik yang dipilih antara lain terkait dengan pengelolaan ekosistem mangrove, transplantasi terumbu karang, dan monitoring sarang bertelur penyu. Ketiga mahasiswa dibimbing oleh Muhammad Ikbal Putera dan Yunias Jackson Benu (Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Komodo) selaku person in charge kegiatan magang/penelitian mahasiswa di Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa ditempatkan di Resort Loh Wau, Resort Padar Utara, dan Resort Papagarang untuk mengambil data terkait topik magang masing-masing. Mahasiswa mempelajari monitoring sarang bertelur penyu di Resort Loh Wau, melakukan transplantasi karang di Pulau Mangiatan, dan melakukan identifikasi mangrove di Resort Papagarang. Selain mengambil data magang di dalam kawasan, mahasiswa juga diajak berkunjung ke Desa Golo Mori sebagai desa penyangga kawasan untuk mengikuti proses pembentukan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS). Selain diberikan kesempatan belajar di dalam kawasan, mahasiswa juga memperoleh kesempatan baru dalam mengerjakan berbagai aktivitas perkantoran di Balai Taman Nasional Komodo. Aktivitasnya meliputi: pembuatan infografis media sosial, pengambilan video, penulisan siaran pers, dan mengikuti berbagai rapat virtual stakeholder terkait kepariwisataan. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar mahasiswa tidak hanya menguasai bidang keilmuannya, namun juga mendapatkan peningkatan keterampilan non-teknis (softskills) lainnya. Balai Taman Nasional Komodo membuka peluang seluas-luasnya untuk mahasiswa yang ingin melaksanakan kegiatan magang/penelitian di kawasan Taman Nasional Komodo dengan proses seleksi yang ketat merujuk kepada kebutuhan dan kepentingan pengelolaan. Balai Taman Nasional Komodo berupaya memberikan kesempatan maksimal bagi mahasiswa untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman kerja melalui dinamika pengelolaan Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Geraldi Al Azzami (Mahasiswa Magang Universitas Brawijaya) | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

BBKSDA Riau Dukung Program “Polda Riau Menyapa”

Pekanbaru, 30 Juli 2021 - Balai Besar KSDA Riau ikut berpatisipasi dalam program “Polda Riau Menyapa” yang diselenggarakan secara berkala oleh Bidang Humas Polda Riau, Kamis (29/07/21). Edisi kali ini membahas tentang Perdagangan Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Program “Polda Riau Menyapa” merupakan salah satu program bidang Humas Polda Riau dalam memberikan informasi dan edukasi bagi masyarakat dan sekaligus mendorong kepedulian masyarakat. Acara dihadiri oleh Bagian Krimsus Polda Riau dan Balai Besar KSDA Riau. Dalam acara ini, Polda Riau menyampaikan upaya – upaya yang telah dilakukan dalam pengungkapan kasus perdagangan satwa liar dilindungi dan proses hukumnya, juga disampaikan penjelasan mengenai karakter dari masing masing satwa serta upaya konservasi yang dilakukan. Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan Bidang Teknis Balai Besar KSDA Riau, Bapak Ujang Holisudin menyampaikan kepada masyarakat agar bersama – sama menjaga satwa – satwa liar yang dilindungi dengan tidak memasang jerat serta menyampaikan informasi perburuan – perburuan satwa liar yang diketahui kepada Balai Besar KSDA Riau. Pada sesi pamungkas, masing - masing pihak yang menjadi Narasumber menyampaikan ajakan kepada masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian satwa - satwa yang terancam punah tersebut. Untuk Link Program “Polda Riau Menyapa” dapat disaksikan melalui link https://fb.watch/71PAph4R9T/. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Balai TN Tesso Nilo Rangkul Awak Media Untuk Konservasi

Pangkalan Kerinci, 30 Juli 2021 - Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Heru Sutmantoro, S.Hut., M.M. bersilaturahmi dengan beberapa wartawan dari beberapa media diantaranya Media Cyber 88, Koranjokowi.com, Media Purna Polri, dan mitrabhayangkara.com di kantor Balai, Jumat (30/07/21). Heru bersama para wartawan berdiskusi santai membahas pengelolaan kawasan TN Tesso Nilo secara umum dan upaya bersama dalam pelestariannya. Melalui pihak media, Heru meminta pers untuk berperan aktif dan ikut serta dalam penyampaian informasi himbauan kepada seluruh masyarakat untuk menyatukan visi misi dalam menjaga dan melestarikan hutan untuk kelangsungan hidup manusia dan satwa. “Yuk bersama sama dengan peran masing-masing kita menjaga kawasan konservasi khususnya TN Tesso Nilo demi kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita nanti” tutup Heru. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Aksi Resort Kampung Kerora Lestarikan Penyu di TN Komodo

Labuan Bajo, 30 Juli 2021. Resort Kampung Kerora Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional (TN) Komodo melestarikan ekosistem dengan melakukan relokasi telur penyu dari Pulau Muang bersama masyarakat. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk inisiatif petugas dalam melestarikan penyu di Taman Nasional Komodo serta untuk menunjang pelaksanaan ecoedutourism di wilayah kerja Resort Kampung Kerora kedepannya. Banu Widyanarko, Kepala Resort Kampung Kerora; Suwendi Bubang, Petugas Resort Kampung Kerora dan Nurdin, Warga Dusun Kerora melakukan inisiatif relokasi telur penyu sejak awal Bulan Juli 2021. Tim relokasi menempuh 60 menit perjalanan untuk mencapai Pulau Muang dengan kapal tradisional ketinting karena gelombang tinggi akibat adanya musim angin tenggara. Pulau Muang memiliki 5 sampai dengan 62 titik sarang bertelur penyu aktif maupun pasif dengan tingkat paling kepadatan yang tinggi. Dibuktikan dengan banyaknya ditemukan bekas galian sarang dan jejak tukik yang menetas bergerak menuju pesisir laut. Sarang aktif dan pasif dapat dibedakan dengan melihat jejak/kerapatan vegetasi yang berada di permukaan pasir tempat galian tersebut berada. Untuk memetakan bekas galian sarang, masing-masing bekas galian sarang diambil titik koordinatnya. Tim menggali salah satu sarang dan menemukan 124 butir telur penyu hijau. Tim juga mendata bobot telur dengan kisaran 48-54 gram, keliling berkisar antara 14-15,5 cm. Tim juga melakukan pengukuran dimensi sarang bertelur penyu. Diperoleh data diameter bawah dan atas masing-masing 27 dan 30 cm, tinggi sarang bawah dan atas masing-masing 36 cm dan 57 cm. Sarang berada 8 meter dari jarak pasang tertinggi. Pendataan sarang selesai dalam waktu 30 menit. Setelah pengambilan data selesai dilakukan, tim kemudian memindahkan telur tersebut ke bak pasir yang dipersiapkan untuk membantu transportasi telur dari Pulau Muang ke sarang semi alami di Resort Kampung Kerora. Tim telah menyiapkan sarang semi alami yang dipantau secara berkala untuk memastikan tidak dirusaknya area sarang oleh komodo atau satwa lainnya. Telur penyu ini akan menetas dalam + 60 hari waktu inkubasi. Petugas akan mencatat suhu sarang dengan thermometer tanah sebanyak empat kali pengambilan (06:00, 12:00, 18:00, dan 24:00) untuk dapat memperkirakan jenis kelamin tukik yang akan menetas Selain melestarikan populasi penyu di Taman Nasional Komodo, kegiatan relokasi dan pelestarian penyu ini juga dapat memberikan nilai edukasi tambahan bagi masyarakat Dusun Kerora dan calon wisatawan mengenai pentingnya keberadaan satwa penyu di kawasan. Kepala Balai Taman Nasional Komodo (Lukita Awang Nistyantara) berharap agar aksi inisiatif ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai sebuah kegiatan rutin resort-based management di tingkat tapak. Sebagai informasi, Pulau Muang merupakan pulau kecil menawan yang berada dalam lingkup wilayah SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo yang memiliki luas sebesar 34.27 Ha dengan panjang pantai mencapai 276 meter. Pulau ini menjadi tempat peneluran utama bagi penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmychelys imbricata) dalam lingkup wilayah Pulau Rinca. Oleh karena letak Pulau Muang yang berada di tengah-tengah jalur kapal masyarakat, pencurian telur penyu oleh oknum tidak bertanggungjawab kerap terjadi. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Banu Widyanarko, S.Si. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Melihat Resort Loh Wau Relokasi Telur Penyu Hijau

Labuan Bajo, 30 Juli 2021. Petugas Resort Loh Wau Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo berhasil merelokasi telur penyu hijau (Chelonia mydas) dari Pulau Lengah ke sarang semi alami pada tanggal 3 Juli 2021. Ikhwan Syahri, Kepala Resort Loh Wau berhasil memindahkan 81 butir telur dengan rata-rata ukuran diameter kurang lebih 4.03 cm ke sarang semi alami yang berada di Resort Loh Wau. Petugas Resort Loh Wau membuat lubang sarang semi alami menyesuaikan dengan kedalaman yang sama dengan lubang sarang asli. Telur yang sudah dipindahkan kemudian dicatat suhu sarangnya selama empat kali dalam satu hari (06:00, 12:00, 18:00, dan 24:00) untuk memperkirakan kemungkinan jenis kelamin tukik yang akan menetas. Kegiatan relokasi ini penting untuk dilakukan secara berkelanjutan mengingat sering terjadinya aktivitas pencurian telur penyu di Pulau Lengah oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Selain daripada itu, relokasi ini menjadi esensial karena dapat turut mencegah terjadinya tumpang tindih indukan penyu yang akan bersarang. Penyu seringkali dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi daging dan diambil cangkangnya. Padahal nilai keberadaan penyu jauh lebih besar daripada nilai konsumsinya bagi kehidupan manusia. Penyu juga berperan sebagai pengendali ekosistem padang lamun di kawasan Taman Nasional Komodo. Kegiatan relokasi ini turut melibatkan mahasiswa magang dari Prodi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Mahasiswa diajarkan teknik-teknik pengukuran dimensi sarang dan telur penyu pada titik sampel peneluran di Pulau Lengah. Mahasiswa juga diajarkan melakukan proses pembuatan sarang semi alami di Resort Loh Wau. Hal ini dilakukan sebagai bentuk keseriusan Balai Taman Nasional Komodo dalam mengedukasi mahasiswa selama kegiatan magang dilakukan. Balai Taman Nasional Komodo berharap setelah mahasiswa menyelesaikan magang, mahasiswa tidak hanya memahami kondisi lapangan namun juga mendapatkan wawasan mengenai pola kerja rimbawan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Muhammad Ismail Djauhar (Mahasiswa Magang Universitas Brawijaya) | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Resort Kampung Kerora Cegah Climate Change Dengan Mangrove Bersama Masyarakat

Labuan Bajo, 30 Juli 2021. Resort Kampung Kerora Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional (TN) Komodo melakukan penanaman mangrove bersama masyarakat Dusun Kerora. Banu Widyanarko, Kepala Resort Kampung Kerora dan Suwendi Bubang, Petugas Resort Kampung Kerora menginisiasi aksi tersebut sebagai bentuk komitmen petugas untuk melestarikan ekosistem di Taman Nasional Komodo dengan melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Dusun Kerora merupakan salah satu dusun di Desa Pasir Panjang Pulau Rinca dengan jumlah penduduk + 290 jiwa (60 kepala keluarga) yang mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah nelayan. Dusun ini dikelilingi oleh ekosistem mangrove primer yang lebat dan rapat yang juga merupakan habitat bagi kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea). Petugas Resort Kampung Kerora dan masyarakat setempat meyakini adanya perubahan titik pasang surut air laut di pesisir pantai Kerora dari waktu ke waktu. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa dampak perubahan iklim (climate change) nyata adanya. Untuk mencegah terjadinya abrasi lebih lanjut, Banu mengajak masyakat untuk bersama-sama mengumpulkan anakan mangrove dari alam. Anakan ini akan ditanam kembali di pesisir pantai Kerora yang terkena abrasi. Setelah melaksanakan pengumpulan anakan, Banu melakukan anjangsana ke rumah warga untuk menyosialisasikan pentingnya menjaga dan merawat mangrove yang tumbuh di pesisir Dusun Kerora bersama-sama. Sebanyak + 1800 anakan mangrove telah ditanam di sepanjang garis pantai Resort Kampung Kerora pada Bulan Juli 2021. Jenis mangrove yang ditanam pun terdiri dari famili: Rhizopora, Avicennia dan Bruguiera. Diantara ketiga famili tersebut, Rhizopora menjadi mangrove yang paling banyak ditanam karena memiliki kesesuaian tumbuh lebih baik dibandingkan kedua famili lainnya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Banu Widyanarko, S.Si. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.
Baca Artikel

Magang di TN Komodo, Serunya Belajar Metode Line Intercept Transect

Labuan Bajo, 30 Juli 2021. Balai Taman Nasional Komodo membuka kesempatan magang dan penelitian bagi mahasiswa perguruan tinggi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Mahasiswa Prodi Ilmu Kelautan dari Universitas Brawijaya berhasil lolos seleksi administrasi magang Balai Taman Nasional Komodo pada tanggal 15 Juni 2021 dan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan pengelolaan kawasan. Sebagai bagian dari kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo, Fajar Bagus Sujiwo (mahasiswa semester 6 Prodi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya) berpartisipasi dalam kegiatan monitoring terumbu karang di Pulau Mangiatan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo bersama petugas dan masyarakat Desa Papagarang pada tanggal 7 – 10 Juli 2021. Monitoring terumbu karang dilakukan untuk memantau perubahan kondisi/kesehatan ekosistem terumbu karang di suatu area dalam jangka panjang. Hal ini penting karena informasi yang diperoleh dapat menjadi bahan pertimbangan Balai dalam memformulasikan kebijakan pengelolaan. Fajar diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman kerja langsung di lapangan. Ande Kefi dan Yunias Jackson Benu (Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Komodo) mempraktikan teknik monitoring terumbu karang dengan metode Line Intercept Transect sepanjang 50-meter dimana setiap lifeforms yang berada di bawah garis transek dicatat sebagai data untuk menghasilkan persentase tutupan karang yang mewakili kondisi area tersebut. Berdasarkan kegiatan monitoring terumbu karang di Pulau Mangiatan diperoleh informasi bahwa persentase tutupan karang mencapai 69,46%. Menurut Laporan COREMAP (2019) persentase ini termasuk ke dalam kategori ‘Baik’. Karang di Pulau Mangiatan didominiasi oleh lifeforms Acropora branching. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan monitoring terumbu karang merupakan bentuk pengalaman kerja yang dapat diberikan Balai Taman Nasional Komodo kepada mahasiswa. Pengalaman ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk membandingkan antara pengalaman dengan teori yang telah dipelajari di universitas. Mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan mampu menganalisa situasi dan kondisi alam merujuk kepada dua perspektif berbeda. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penulis: Fajar Bagus Sujiwo (Mahasiswa Magang Universitas Brawijaya) | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.

Menampilkan 1.761–1.776 dari 1.990 publikasi