Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Elang Brontok Diselamatkan Tim Matawali dari Jaringan Listrik

Situbondo, 1 April 2026. Seekor Elang Brontok dievakuasi dari jaringan listrik di wilayah PLN Unit Besuki, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, 1 April 2026. Satwa dilindungi itu ditemukan dalam kondisi terikat, dengan tali yang tersangkut pada instalasi listrik. Laporan awal berasal dari petugas PLN sehari sebelumnya. Tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal (Matawali) 3 Bidang KSDA Wilayah III, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak setelah menerima informasi pada Selasa (31/3). Petugas PLN menyampaikan adanya satu individu elang yang diduga bekas peliharaan dan tidak dapat melepaskan diri dari jaringan listrik. Proses penanganan dilakukan secara hati-hati untuk menghindari risiko tambahan, baik terhadap satwa maupun petugas di lapangan. Seekor Elang Brontok kemudian diamankan untuk penanganan lebih lanjut. Kasus ini kembali menunjukkan bahwa satwa liar yang pernah dipelihara menghadapi risiko lebih tinggi ketika kembali berada di luar kendali manusia. Tali yang masih terikat menjadi indikasi kuat adanya riwayat interaksi tersebut. Di sisi lain, keberadaan infrastruktur seperti jaringan listrik di ruang jelajah satwa juga menyimpan potensi konflik. Perjumpaan antara satwa liar dan fasilitas manusia tidak selalu berujung fatal, tetapi cukup sering meninggalkan dampak yang tidak terlihat. Saat ini, satwa tersebut berada di kandang transit kantor Bidang KSDA Wilayah III di Jember. Pemeriksaan kondisi fisik dan observasi perilaku menjadi langkah awal sebelum diputuskan tindakan lanjutan, termasuk kemungkinan rehabilitasi. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

FLASH NEWS: From Policy to Practice – Day 3 Brings IAS Lessons to Life

Mangrove Apple (Sonneratia caseolaris) Jakarta, Indonesia – 1 April 2026 – After two days of intensive discussions and project design, participants of the Advancing the ASEAN Action Plan for IAS Management workshop stepped beyond the conference room to observe the realities on the ground. On Day 3, the delegation visited Muara Angke Wildlife Sanctuary in Jakarta, where the impacts of Invasive Alien Species (IAS) are not only discussed, but directly observed. Guided by site officers, participants walked through the mangrove landscape while receiving explanations of how invasive plant species have altered habitat structure, competed with native vegetation, and affected ecosystem functions. The site illustrated the complex challenges of managing IAS in highly urbanised coastal environments, where pressures from land use changes, pollution, and biological invasions intersect. Key Takeaways from Day 3 1. From Ecosystem to Evidence: IAS Impacts in Real Time Located on the northern coast of Jakarta, Muara Angke Wildlife Sanctuary is a critical mangrove ecosystem supporting diverse birdlife, primates, and aquatic species. At the same time, it represents a frontline site where IAS pressures are clearly visible. “The experience reinforced a key message from the workshop: delayed action allows invasions to escalate, while timely and sustained interventions can restore ecological balance.” During the guided visit, participants observed how invasive plant species have altered habitat structure, outcompeted native mangroves, and contributed to ecosystem degradation. 2. Field-Based Knowledge Exchange The visit was followed by an interactive discussion with local site managers and practitioners. Participants exchanged practical experiences on early detection and rapid response (EDRR), community engagement in monitoring and control, and lessons learned from ongoing restoration efforts at Muara Angke. This field-based dialogue underscored the importance of science-based management and cross-sector collaboration, bridging regional policy discussions with local implementation realities. 3. Connecting Strategy with Action Standing at the edge of the water, the discussion quickly turned into action. Participants rolled up their sleeves and stepped onto the platform, reaching into dense clusters of water hyacinth that blanketed the surface. What had been a topic of conversation over the past two days was now something they could touch, lift, and struggle with. Guided by local site managers, they began removing the invasive plants by hand—pulling tangled roots from the water, feeling their weight, and seeing firsthand how quickly the species spreads and dominates the ecosystem. Each handful revealed not only the scale of the problem, but also the effort required to address it. The experience was simple, yet powerful: managing invasive species is not just about strategies and frameworks—it is about sustained, hands-on effort in real landscapes. And for many, this brief exercise gave them a lasting reminder of both the urgency of the problem and the collective responsibility to act. 4. An Inclusive Journey from Start to Finish Day 3 marked the conclusion of a workshop that was intentionally inclusive from the outset. Bringing together IAS national focal points, multiple national ministries, the ASEAN Secretariat, ASEAN Centre for Biodiversity, research institutions, NGOs, and local site managers – the entire process demonstrated that effective regional action requires shared ownership across sectors and scales. The field visit ensured that the final project concept reflects real-world needs and amplifies the voices from the ground. Moment of the Day A spontaneous exchange between a local sanctuary ranger and workshop participants captured the essence of the day. Standing among the mangroves, they shared experiences in managing invasive species across different national contexts—highlighting that collaboration extends beyond formal discussions. What’s Next? • Finalization of the AIM‑ASEAN Project Concept Note – incorporating feedback from the three days. • Donor submission – targeting the Global Biodiversity Framework Fund (GBFF) and Global Environment Facility (GEF). • Continued collaboration – building on the networks strengthened over the workshop to advance IAS management across ASEAN. Day 3 brought the workshop full circle – from regional strategy to on‑ground reality. Visiting Muara Angke Wildlife Sanctuary reminded all participants that IAS management is ultimately about protecting living ecosystems and the communities that depend on them. With a shared blueprint now in hand, and with the insights gained from the field, ASEAN is ready to turn commitment into lasting conservation action. Sumber: Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik
Baca Artikel

Tiga Malam, Delapan Babi, Dan Tiga Petak Sawah Gagal Panen

Bawean, 31 Maret 2026. Tiga malam berturut-turut, Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) turun dari kawasan hutan menuju sawah warga di Dusun Sumber Lanas, Desa Teluk Jatidawang, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Sekitar delapan individu satwa memasuki lahan pertanian, merusak tanaman padi, dan menyebabkan sedikitnya tiga petak sawah gagal panen. Peristiwa pada 28 Maret 2026 itu bukanlah kejadian tunggal. Pola serangan berulang menunjukkan satu hal: satwa telah beradaptasi. Mereka tidak lagi sekadar melintas, melainkan secara aktif memanfaatkan sawah sebagai sumber pakan baru. Lokasi kejadian hanya berjarak sekitar 500 meter dari Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Secara ekologis, jarak ini terlalu dekat untuk membentuk batas aman antara habitat satwa dan aktivitas manusia. Masalahnya bukan semata pada satwa yang “keluar” kawasan, melainkan pada ruang yang semakin menyempit tanpa penyangga yang memadai. Lahan pertanian berkembang hingga mendekati batas kawasan, sementara sistem mitigasi konflik belum terbentuk secara standar. Pada titik ini, konflik menjadi sesuatu yang hampir tak terhindarkan. Kerusakan sawah berujung pada kerugian ekonomi langsung. Dalam komunikasi yang diterima petugas, warga menyebutkan gagal panen hampir total dan meminta bantuan segera. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya respons emosional, keinginan untuk masuk ke kawasan hutan dan menghadapi satwa secara langsung, dengan risiko yang disadari. Situasi ini menandai perubahan fase konflik, dari gangguan ekologis menjadi tekanan sosial yang berpotensi memicu tindakan destruktif. Analisis lapangan mengidentifikasi sejumlah faktor utama, kedekatan ekstrem antara habitat dan lahan pertanian, ketiadaan buffer zone efektif, dugaan penurunan pakan alami (musiman), perilaku adaptif satwa (learning behavior). Babi kutil Bawean menunjukkan kemampuan belajar yang cepat. Serangan berulang di lokasi yang sama menandakan pola yang telah terbentuk. Sebaliknya, respons sistem masih cenderung reaktif, terbatas pada patroli dan pemasangan penghalau sederhana oleh masyarakat. Ketimpangan ini menjadi persoalan utama dimana satwa beradaptasi lebih cepat daripada sistem penanganan konflik. Dengan frekuensi kejadian tinggi, jarak ke kawasan yang sangat dekat, dan komoditas padi yang memiliki daya tarik tinggi, konflik ini masuk kategori risiko tinggi. Namun tanpa intervensi yang terstruktur, sejumlah skenario berisiko terbuka, perburuan atau pemasangan jerat sebagai respons spontan, penyebaran konflik ke desa lain di Pulau Bawean, penurunan populasi satwa endemik, serta memburuknya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan kawasan. Konflik satwa liar kerap berakhir bukan karena satwa agresif, tetapi karena sistem yang terlambat merespons. Sejumlah langkah awal telah dilakukan mulai verifikasi lapangan, patroli, serta mitigasi sederhana. Namun skala persoalan menunjukkan bahwa pendekatan parsial tidak lagi cukup. Penanganan ke depan membutuhkan pemetaan jalur lintasan satwa secara menyeluruh, penguatan zona penyangga berbasis lanskap, sistem mitigasi standar di lahan pertanian, pembentukan tim respon konflik yang terstruktur dan integrasi konservasi dengan skema ekonomi masyarakat. Tanpa itu, konflik serupa akan berulang, dengan intensitas yang mungkin lebih tinggi. Peristiwa di Bawean menunjukkan satu hal yang sering luput bahwa konflik satwa liar bukan sekadar persoalan satwa dan manusia, melainkan konsekuensi dari tata kelola ruang yang belum sepenuhnya adaptif. Ketika satwa mulai rutin memasuki sawah, yang berubah bukan hanya perilaku mereka. Yang berubah adalah keseimbangan ekosistem dan cara manusia meresponsnya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah konflik akan terjadi, melainkan seberapa cepat kita bersedia mengubah cara menanganinya. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

FLASH NEWS: ASEAN Forges a Unified Front – Day 2 Builds the Regional Shield Against Invasive Species

Spathodea campanulata Jakarta, Indonesia – 31 March 2026 – Building on the momentum of Day 1, ASEAN Member States and regional partners shifted from identifying gaps to designing solutions on Day 2 of the Advancing the ASEAN Action Plan for IAS Management workshop. Participants collaboratively developed a fundable regional project framework aimed at transforming fragmented national efforts into a coordinated, proactive, and sustainable response to Invasive Alien Species (IAS). The outcome is a clear regional concept note for AIM-ASEAN (Accelerating IAS Management in ASEAN), grounded in a robust Theory of Change and structured around six interconnected components. Key Takeaways from Day 2 1. From Diagnosis to Design: The Theory of Change Takes Shape The day opened with a recap of Day 1, reinforcing the sobering reality: IAS have driven 60% of global extinctions, and ASEAN’s islands remain highly vulnerable. Participants then moved into a structured collaborative project crafting session, guided by a shared Theory of Change: “ Strengthening governance, harmonizing policies, enhancing capacity, integrating data systems, and securing sustainable financing will enable ASEAN to prevent, detect, and effectively manage IAS—ultimately reducing ecological and economic impacts while strengthening regional resilience.” This logic became the foundation for the AIM-ASEAN project, ensuring that every activity leads to measurable outcomes. 2. Six Components, One Unified Framework The regional framework is structured around six interconnected components designed to strengthen ASEAN’s collective response to Invasive Alien Species (IAS). At its foundation are strengthened governance and coordination, including the establishment of an ASEAN IAS Task Force, the designation of National Focal Points, and the advancement of policy harmonisation across Member States. This is complemented by enhanced data and early warning systems through the development of an ASEAN IAS Clearing House Mechanism, the creation of a regional watch list, and the integration of national databases. The framework also prioritises biosecurity and risk assessment, including efforts to standardise risk assessment tools, strengthen quarantine and inspection systems, and enhance early detection and rapid response (EDRR) protocols. Alongside these initiatives, capacity building will be advanced through regional training programmes and knowledge exchange in key areas such as taxonomy, risk assessment, EDRR, and integrated pest management. To ensure practical application, the initiative will support pilot implementation of integrated biosecurity and EDRR approaches in selected sites—including Komodo National Park—to develop scalable models for protected areas across the region. Finally, the framework is underpinned by sustainable financing mechanisms, focusing on the development of an ASEAN IAS financing strategy and the mobilisation of resources from public, private, and international sources. “This six-component framework provides a unified regional approach to managing IAS threats across Southeast Asia.” 3. A Shift Towards a Preventive Regional System A central theme of Day 2 was the need for a paradigm shift – moving from a siloed, reactive posture to a unified, proactive regional system. Discussions contrasted the current state (isolated national policies, fragmented databases, delayed localised pest control, and short-term grant funding) with the AIM-ASEAN future state: a harmonised ASEAN Task Force, a regional Clearing House Mechanism and Watch List, standardised EDRR protocols, and a sustainable ASEAN IAS financing strategy. As one participant noted: “ASEAN’s connectivity is its greatest economic engine – but also its critical biological vulnerability. We need a regional biosecurity system for early detection, rapid response, and coordinated management of invasive alien species.” 4. The Mathematics of Intervention: Why Early Detection Matters A compelling session on early detection and rapid response underscored the economic and ecological rationale for investment. Participants reviewed the mathematics of intervention: investing in early detection exponentially reduces long-term eradication costs and prevents irreversible ecological damage. This reinforced the urgency of Component 3 (Biosecurity and Risk Assessment) and Component 2 (Data and Early Warning). 5. Anchoring the Regional Framework in Real-World Landscapes Discussions drew inspiration from real-world landscapes to inform the design of the regional project. Komodo National Park, a UNESCO World Heritage site and home to the famous Komodo dragon, was a strong point of reference. Invasive plants like Vachellia nilotica, Chromolaena odorata, and Leucaena leucocephala are altering habitats and threatening native species. By using such sites as anchors, the project aims to develop site-specific control measures that can later be scaled across protected areas throughout ASEAN. 6. Fueling the Shield: A Permanent Financing Mechanism Participants recognised that regional coordination cannot rely on short-term, fragmented funding. Component 6 addresses this head-on, with the development of a dedicated, long-term financing mechanism that will outlast the initial GEF grant, ensuring that the regional database, Task Force, and early warning systems remain permanently operational. Discussions explored innovative financing, private sector engagement, and the integration of IAS into broader national development agendas. 7. Plenary Synthesis: Agreeing on the Core Components In a lively plenary session, each thematic table presented its proposed components. Through facilitated discussion, participants consolidated inputs into a coherent regional project concept. Key cross-cutting elements emerged: strengthening national and regional coordination, establishing a shared early warning system, scaling up rapid response mechanisms, embedding GEDSI principles, and ensuring sustainable financing from the outset. Moment of the Day The defining highlight of Day 2 was not a single presentation or outcome but the spirit of inclusive collaboration that shaped the entire process. ASEAN Member States came together with representatives from key national ministries—including BAPPENAS, the Ministry of Forestry, the Ministry of Environment, the Ministry of Agriculture, the Ministry of Marine Affairs and Fisheries, Barantin, and BRIN—as well as the ASEAN Secretariat, the ASEAN Centre for Biodiversity, research institutions, and civil society organisations. This diverse assembly created a dynamic space where policymakers, scientists, and practitioners worked side by side—exchanging perspectives, aligning priorities, and jointly shaping solutions. Rather than operating in institutional silos, participants engaged in open dialogue and collective problem-solving, recognising that no single country or sector could alone address the challenges of invasive alien species. Discussions were grounded in real-world challenges, yet driven by a strong sense of regional solidarity and shared responsibility. Ideas were not only shared but also rigorously tested, refined, and strengthened through collaboration. Above all, the process demonstrated that effective regional action must be co-designed, inclusive, and collectively owned by all stakeholders. What’s Next? Finalization of the Project Concept Note – incorporating feedback from the two days, with a clear submission timeline to potential donors (GBFF, GEF) Finalization of the Project Concept Note – incorporating feedback from the two days, with a clear submission timeline to potential donors (GBFF, GEF) Sumber: Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik
Baca Artikel

Kamera Jebak Bongkar Kehidupan Satwa di Hutan Kota Trenggalek

Trenggalek, 31 Maret 2026. Hutan Kota Trenggalek kerap dipromosikan sebagai ruang hijau penyangga kehidupan urban. Namun rekaman kamera jebak terbaru justru memunculkan pertanyaan mendasar, apakah kawasan ini benar-benar menjadi habitat yang aman, atau sekadar ruang tersisa bagi satwa liar yang terdesak? Pemasangan dua unit kamera jebak oleh petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), pada Maret 2026 awalnya ditujukan untuk mendokumentasikan keberadaan burung-burung target, seperti Cekakak Jawa, Paok Pancawarna, dan Paok Hujan. Kamera dipasang di titik strategis, dekat lubang sarang dan jalur lintasan satwa yang diinformasikan pengelola kawasan. Namun hasilnya berbicara lain. Alih-alih menemukan burung-burung target dalam jumlah signifikan, kamera justru lebih banyak merekam burung dan satwa lainnya, seperti sepasang Pelanduk-Topi Jawa, Pelanduk Semak, seekor Wiwik Kelabu remaja, hingga Biawak Air. Kehadiran Pelanduk-Topi Jawa, spesies endemik yang dikenal sensitif terhadap gangguan yang memang menjadi temuan penting. Tetapi di sisi lain, dominasi rekaman satwa tertentu dapat dibaca sebagai indikator terbatasnya kualitas habitat. Dua jenis burung yang menjadi target utama, Paok Pancawarna dan Paok Hujan, tidak terekam sama sekali. Padahal, salah satunya merupakan burung migran yang seharusnya melintasi atau singgah di kawasan ini. Ketiadaan data visual tersebut menimbulkan dugaan, apakah ruang yang tersedia sudah tidak lagi memenuhi kebutuhan ekologis spesies tersebut? Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari karakter hutan kota itu sendiri. Berbeda dengan kawasan konservasi yang memiliki perlindungan ketat, hutan kota berada dalam tekanan langsung aktivitas manusia, mulai dari fragmentasi habitat, kebisingan, hingga interaksi yang tidak terkendali. Dalam kondisi seperti ini, hanya jenis-jenis tertentu yang mampu beradaptasi, sementara spesies lain perlahan menghilang tanpa terdeteksi. Rekaman kamera jebak menjadi bukti diam dari proses tersebut. Satwa yang tertangkap kamera bukan hanya menunjukkan keberadaan, tetapi juga menyiratkan pola adaptasi, pergeseran perilaku, hingga potensi tekanan ekologis yang tidak terlihat secara kasat mata. Analisis lanjutan terhadap waktu kemunculan dan aktivitas satwa kini menjadi kunci. Apakah satwa lebih aktif pada malam hari untuk menghindari manusia? Apakah jalur lintasan mereka semakin sempit? Atau justru kawasan ini hanya menjadi koridor sementara, bukan habitat permanen? Hutan Kota Trenggalek, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar ruang hijau. Ia menjadi cermin tentang bagaimana kota memperlakukan ruang hidup lain di luar manusia. Kamera jebak hanya membuka sebagian kecil dari kenyataan itu. Pertanyaannya, apakah kita siap membaca dan menindaklanjutinya? (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

FLASH NEWS: ASEAN Unites Against Invasive Species – Day 1 Delivers a Wake-Up Call and a Blueprint

Vachellia nilotica Jakarta, Indonesia – 30 March 2026 – A silent invader is stealing Southeast Asia’s biodiversity – and today, ASEAN fought back. The opening of the Advancing the ASEAN Action Plan for IAS Management Workshop set a sobering tone: Invasive Alien Species (IAS) have been a major factor in 60% of recorded global extinctions, according to the IPBES assessment. For archipelagic nations like Indonesia and many ASEAN neighbours, the threat is magnified. Islands are biodiversity strongholds – but they are also invasion fronts. The mission? Align Southeast Asia’s IAS strategy with the Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KMGBF) Target 6 – Reduce the introduction and establishment of priority IAS by at least 50% by 2030. That message resonated deeply. Delegates from Brunei, Cambodia, Indonesia, Myanmar, Thailand, and Timor Leste – alongside ASEAN Secretariat and ASEAN Centre for Biodiversity – shifted from national updates to genuine regional co-ownership. Key Takeaways from Day 1 Moment of the Day The Group Photograph captured a historic coalition: IAS national focal points from ASEAN Member States, representatives from key national ministries and agencies – including Forestry, Environment, Agriculture, Marine Affairs, Quarantine, Research and Innovation, and Development Planning – alongside the ASEC, ACB, research institutions, NGOs, and civil society organizations. All united behind a single goal. No longer working in silos. Ready to co-design a measurable, fundable regional project What’s Next on Day 2? “We must leave this room not just with ideas, but with a blueprint for action.” Sumber: Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik
Baca Artikel

Medusa Mekar di Tanah Bawean, Antara Keindahan Langka dan Ancaman yang Tak Terlihat

Gresik, 27 Maret 2026. Di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, sebuah temuan botani kembali menegaskan pentingnya pulau kecil ini dalam peta keanekaragaman hayati Indonesia. Anggrek tanah Habenaria medusa, spesies dengan bentuk bunga menyerupai rambut menjuntai, teridentifikasi tumbuh di habitat alami dengan kondisi mikro yang masih relatif terjaga. Temuan ini tidak hanya memperkaya data flora kawasan, tetapi juga menjadi indikator penting terhadap kualitas ekosistem yang menopangnya. Secara morfologi, Habenaria medusa merupakan anggrek terestrial yang tumbuh langsung di tanah dengan umbi sebagai organ penyimpan cadangan energi. Bunganya memiliki ciri khas berupa mahkota yang terbelah menjadi banyak segmen halus menyerupai tentakel. Bentuk ini menjadi dasar penamaannya, yang merujuk pada sosok Medusa dalam mitologi Yunani. Namun, struktur unik tersebut bukan sekadar estetika. Dalam kajian botani, bentuk filamen yang menjuntai diduga berperan dalam menarik dan mengarahkan serangga penyerbuk tertentu. Interaksi ini menunjukkan adanya hubungan ekologis yang spesifik dan tidak dapat dipisahkan dari kondisi habitatnya. Sebagai anggrek tanah, Habenaria medusa memiliki ketergantungan tinggi terhadap keberadaan fungi mikoriza di dalam tanah. Jamur ini membantu proses perkecambahan biji dan penyerapan nutrisi. Tanpa hubungan simbiotik tersebut, siklus hidup anggrek ini tidak akan berlangsung secara optimal. Distribusi Ilmiah dan Signifikansi Temuan di Bawean Berdasarkan data dari Plants of the World Online (Kew Science), Habenaria medusa termasuk dalam flora kawasan biogeografi Malesia meliputi Indonesia dan Sebagian Asia Tenggara, yang hidup di bioma tropis basah. Meski demikian, distribusinya tidak merata dan cenderung terbatas pada lokasi-lokasi dengan kondisi ekologis spesifik. Di Indonesia, catatan keberadaan spesies ini tersebar di beberapa pulau seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, namun dengan frekuensi temuan yang relatif jarang dan tidak kontinu. Hal ini menunjukkan bahwa spesies ini memiliki preferensi habitat yang sempit dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Dalam konteks tersebut, keberadaan Habenaria medusa di Bawean menjadi penting. Pulau ini, yang selama ini lebih dikenal sebagai habitat satwa endemik, kini menunjukkan perannya sebagai lokasi penting bagi flora langka. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa masih terdapat kantong-kantong habitat alami dengan tingkat gangguan rendah di Bawean. Tekanan yang Tidak Kasat Mata Meski belum menunjukkan kerusakan besar secara visual, habitat Habenaria medusa menghadapi berbagai tekanan yang bersifat gradual dan sering kali tidak disadari. Perubahan tutupan vegetasi, aktivitas manusia di sekitar lokasi tumbuh, hingga perubahan kelembapan tanah akibat faktor iklim dapat memengaruhi keberlangsungan spesies ini. Anggrek tanah tidak memiliki kemampuan adaptasi cepat terhadap perubahan. Ketergantungannya pada kondisi mikrohabitat menjadikannya sangat rentan. Gangguan kecil pada struktur tanah, misalnya akibat injakan atau pembukaan lahan skala kecil, dapat merusak jaringan mikoriza yang menjadi penopang hidupnya. Selain itu, meningkatnya minat terhadap tanaman hias eksotik juga menjadi potensi ancaman. Spesies dengan bentuk unik seperti Habenaria medusa memiliki nilai estetika tinggi, sehingga berisiko menjadi target pengambilan dari alam. Praktik ini tidak hanya mengurangi populasi di habitat alami, tetapi juga sering berujung pada kematian tanaman karena ketidaksesuaian lingkungan baru. Dalam perspektif konservasi, keberadaan Habenaria medusa memiliki nilai lebih sebagai indikator kesehatan ekosistem. Spesies ini hanya dapat tumbuh pada kondisi lingkungan yang relatif stabil, dengan siklus nutrien yang berjalan baik dan interaksi biologis yang masih utuh. Dengan demikian, temuan spesies ini di Bawean dapat diinterpretasikan sebagai tanda bahwa sebagian ekosistem di pulau tersebut masih berada dalam kondisi yang mendukung keanekaragaman hayati. Namun, indikator ini juga bersifat sensitif, hilangnya spesies ini dapat menjadi sinyal awal terjadinya degradasi lingkungan. Konservasi Berbasis Data dan Kesadaran Temuan Habenaria medusa menegaskan pentingnya penguatan upaya Konservasi berbasis data ilmiah. Dokumentasi distribusi, pemetaan habitat, serta monitoring populasi menjadi langkah awal yang krusial dalam memastikan keberlanjutan spesies ini. Di sisi lain, pendekatan konservasi juga perlu melibatkan peningkatan kesadaran masyarakat. Sebagian besar masyarakat lokal di Bawean memiliki hubungan yang erat dengan alam dan berperan sebagai penjaga lanskap. Namun, masih terdapat oknum yang belum sepenuhnya memahami nilai ekologis tumbuhan liar, sehingga praktik pengambilan dari alam masih terjadi. Pendekatan edukatif dan kolaboratif menjadi kunci untuk memastikan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati tidak hanya bersifat regulatif, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran kolektif. Antara Pengetahuan dan Tanggung Jawab Habenaria medusa mungkin tidak tumbuh mencolok. Ia tidak mendominasi lanskap. Namun keberadaannya membawa pesan penting tentang hubungan antara spesies dan habitatnya. Temuan di Bawean bukan hanya menambah daftar spesies, tetapi juga mempertegas tanggung jawab untuk menjaga ruang hidup yang tersisa. Dalam konteks konservasi, setiap data adalah dasar kebijakan, dan setiap spesies adalah bagian dari sistem yang lebih besar. Bawean Telah Memberi Satu Petunjuk. Bahwa keanekaragaman hayati tidak selalu berbentuk besar dan megah. Kadang ia tersembunyi di permukaan tanah, dalam bentuk yang rapuh, menunggu untuk dikenali, atau dilupakan. Pertanyaannya besar bukan lagi sekadar di mana anggrek ini ditemukan, tetapi bagaimana memastikan ia tetap tumbuh, di tempat yang sama, dalam kondisi yang tetap lestari. Apakah kita akan mencatatnya sebagai temuan, atau sebagai kehilangan berikutnya? Sumber : Fajar Dwi Nur Aji & Nurhayyan Jahansyah – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Alam Tak Pernah Diam, Begitu Pula Ancamannya

Gresik, 26 Maret 2026. Pagi belum sepenuhnya terang saat tim patroli mulai menapaki jalur di Blok Gunung Besar, Pulau Bawean. Tanah masih basah, dedaunan menyimpan embun, dan suara burung memecah sunyi hutan. Di tempat seperti ini, kehidupan tak pernah benar-benar berhenti. Alam terus bekerja, diam, tapi pasti. Selama 7 hingga 15 Maret 2026, tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari menyisir kawasan Suaka Alam Bawean. Mereka menempuh 15 grid patroli dengan luasan lebih dari 43 Ha, berjalan kaki menembus jalur lama dan membuka lintasan baru. Setiap temuan dicatat, setiap jejak dibaca. Hasilnya menunjukkan dua hal yang berjalan beriringan tentang kehidupan yang masih bertahan, dan gangguan yang mulai meninggalkan tanda. Di sejumlah titik, hutan Bawean masih memperlihatkan keseimbangan yang relatif utuh. Tim mencatat keberadaan berbagai jenis satwa, dari burung-burung kanopi hingga mamalia darat. Salah satu yang paling penting adalah Rusa Bawean (Axis kuhlii). Satwa endemik ini hanya hidup di pulau tersebut. Kehadirannya menjadi penanda bahwa habitat masih cukup mendukung. Di atasnya, elang ular Bawean sesekali terlihat melayang, mengawasi ruang yang sama yang telah mereka huni selama puluhan generasi. Mamalia lain seperti monyet ekor panjang dan kelelawar besar juga terpantau. Di lantai hutan, jejak amfibi dan reptil ditemukan di beberapa titik. Kupu-kupu Troides helena, yang dikenal sebagai kupu-kupu raksasa, ikut memperkaya lanskap yang rapuh ini. Vegetasi hutan pun masih beragam. Jenis-jenis seperti gondang, jati, hingga pala hutan tumbuh berdampingan. Di sela batang dan cabang, anggrek epifit menempel, sebagian sedang berbunga, sebagian lain masih menunggu musimnya. Tim bahkan mencatat dugaan jenis anggrek baru yang belum teridentifikasi. Semua ini menunjukkan satu hal bahwa Bawean masih hidup. Namun, tidak semua yang ditemukan membawa kabar baik. Di beberapa grid patroli, tim mendapati bekas penebangan pohon. Empat pohon dari jenis berbeda tercatat telah ditebang. Tidak ada aktivitas yang terlihat saat itu, hanya sisa-sisa yang tertinggal, tunggak, potongan kayu, dan ruang terbuka kecil di antara vegetasi. Jejak seperti ini sering kali muncul tanpa suara. Tidak mencolok, tapi cukup untuk mengubah struktur hutan dalam jangka panjang. Temuan ini mengindikasikan bahwa masih ada oknum yang melakukan aktivitas tidak sesuai dengan prinsip perlindungan kawasan. Namun, penting untuk dicatat bahwa hal ini tidak mencerminkan masyarakat Bawean secara keseluruhan. Sebaliknya, sebagian masyarakat justru terlibat aktif dalam upaya perlindungan,termasuk melalui MMP Bawean Lestari. Yang dihadapi bukan komunitas, tetapi tindakan individu. Selain itu, beberapa pal batas kawasan juga ditemukan dalam kondisi rusak. Dalam konteks pengelolaan kawasan, batas yang tidak jelas dapat membuka ruang tafsir, dan dalam beberapa kasus, membuka peluang pelanggaran. Bagi petugas, patroli bukan sekadar rutinitas. Ia adalah cara membaca apa yang terjadi di dalam hutan. Metode SMART Patrol yang digunakan memungkinkan setiap temuan dipetakan secara sistematis. Grid demi grid menjadi unit analisis yang membantu melihat pola, di mana satwa masih aktif, di mana tekanan mulai muncul. Pendekatan ini juga memperlihatkan pentingnya kerja kolaboratif. Keterlibatan MMP Bawean Lestari menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pengawasan. Mereka mengenal medan, memahami dinamika lokal, dan menjadi penghubung antara kawasan dan masyarakat. Dalam banyak kasus, pendekatan seperti ini lebih efektif dibandingkan pengawasan yang bersifat sepihak. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyebut hasil patroli ini sebagai gambaran kondisi aktual Kawasan. “Secara umum, ekosistem di Bawean masih dalam kondisi baik. Keberadaan spesies endemik dan indikator ekologis menunjukkan itu,” ujarnya. Namun beliau tidak menutup mata terhadap temuan gangguan. “Indikasi aktivitas ilegal tetap menjadi perhatian. Ini bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga bagaimana kita membangun kesadaran bersama agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya. Beliau juga menegaskan bahwa pendekatan ke depan akan menggabungkan patrol intensif dengan edukasi kepada masyarakat sekitar. “Konservasi tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus tumbuh bersama masyarakat,” pungkasnya. Sejumlah langkah tindak lanjut telah disusun, mulai dari peningkatan patroli di titik rawan hingga perbaikan sarana batas kawasan. Namun di luar itu, tantangan Utama tetap sama untuk tetap menjaga keseimbangan antara perlindungan kawasan dan kebutuhan manusia di sekitarnya. Bawean adalah ruang hidup yang kompleks. Ia bukan hanya tentang hutan dan satwa, tetapi juga tentang manusia yang hidup berdampingan dengannya. Di sinilah harapan itu diletakkan, bahwa kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan akan terus tumbuh, dan bahwa tindakan-tindakan yang merusak tidak lagi terulang. Hutan Bawean tidak pernah benar-benar diam. Ia selalu memberi tanda tentang apa yang masih terjaga, dan apa yang mulai berubah. Sebagian tanda itu datang dalam bentuk kehidupan seperti rusa yang melintas, burung yang bersuara, bunga yang mekar. Sebagian lain datang sebagai peringatan dari pohon yang tumbang, batas yang hilang, jejak yang tak seharusnya ada. Di antara keduanya, manusia mengambil peran. Menentukan apakah tanda-tanda itu akan diabaikan atau dijawab. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Baca Artikel

Mengenal Deramas jasmini, Spesies Kupu-kupu Baru dari Sulawesi Selatan

Kiri atas dan bawah jantan, kanan atas dan bawah betina dari Deramas jasmini. Foto: Kupunesia Maros, 26 Maret 2026. Belum lama ini sebuah spesies baru ditemukan. Sebuah kabar baik dari dunia keanekaragaman hayati tanah air. Kabar baik datang dari dunia serangga, tepatnya temuan new species kupu-kupu di Sulawesi Selatan. Kupu-kupu tersebut berasal dari keluarga Lycanidae, kelompok kupu-kupu berukuran mini. Lebih jauh lagi, kupu-kupu tersebut berasal dari genus Deramas. Memecah masa 30 tahun untuk temuan spesies dari genus ini. Sebuah genus yang diketahui memiliki tiga puluh spesies yang tersebar di seluruh dunia. Sebelumnya dilaporkan bahwa terdapat empat spesies dari genus Deramas yang menghuni Sulawesi di antaranya: D. nigrescens, D. suwartinae, D. nanae, dan D. masae. Menariknya keempat spesies tersebut sebarannya terbatas di daratan Sulawesi Tengah dan belum tercatat di wilayah lain pulau ini hingga ditemukannya spesies baru ini di bagian selatan Pulau Sulawesi. Spesies apa yang ditemukan? Spesies Deramas yang baru saja ditemukan diberi nama Deramas jasmini. Tim penelitinya menemukannya di dataran tinggi Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Laiya. Pada jurnal publikasi, menerangkan bahwa lokasi penemuan sang kupu-kupu berada di ketinggian 1.000 m dpl. Salah satu hal yang menarik adalah nama spesies yang oleh tim peneliti mendedikasikan kepada kolektor lokal yang menemukan sang kupu-kupu: Jasmin Zainuddin. Jasmin adalah warga Desa Jenetaesa, Simbang, Maros. Temuan ini adalah dedikasi terakhirnya pada dunia biodiversitas tanah air sebelum berpulang pada awal November 2025 silam. Saya sempat menemui anaknya, Eric Indra Jasmin (32 tahun), pada 13 Februari 2026. Eric sedikit memahami proses temuan spesies ini. "Mendiang Ayahku menemukan spesimen kupu-kupu ini di pegunungan Laiya. Lokasinya jauh dari pemukiman warga," pungkasnya. Pria yang berprofesi sebagai ASN Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ini menceritakan kedekatan Ayahnya dan Seiichi Suefuji, entomolog Jepang yang berhasil mendiskripisikan spesies ini untuk pertama kalinya. Ia mengatakan bahwa hampir setiap tahun Suefuji berkunjung ke Sulawesi. Jika ia datang ke Sulawesi Selatan maka Ayahnya-lah yang jadi pemandunya. "Dua tahun lalu, Suefuji datang ke sini. Saya lihat dia juga mulai menyukai fotografi kupu-kupu. Kadang-kadang dia datang ke sini bersama mahasiswa atau asistennya," tambah Eric. Eric terus bercerita mengenang sang Ayah. Menurutnya, Ayahnya sering memberi spesimen kepada sang entomolog kawakan itu. Memberi spesimen yang menurutnya langka dan kadang-kadang sering berbeda dengan spesimen umumnya sehingga berharap sang partner bisa menelisiknya lebih jauh. Karena itu keduanya beberapa kali berkolaborasi untuk mempublikasikan karya tulis. Jasmin menjadi penyumbang spesimen sebagai bahan penelitian, sementara Suefuji menjadi ilmuan yang melakukan penelitian lebih lanjut. Tak jarang harus membedah genital kupu-kupu untuk mengetahui strukturnya lebih detail. Menjadi bahan pembanding dengan spesies lainnya. Saya juga sempat menelusuri profil peneliti negeri matahari ini. Ternyata ia sudah beberapa kali menemukan spesies dan sub spesies baru, terutama kupu-kupu yang berada di Sulawesi. Terakhir pada bulan Desember 2025, berhasil mendiskripsikan dua spesies baru dari famili Hesperiidae di Sulawesi: Prusiana shiranuhi dan Prusiana iphicles. Pada beberapa publikasi new species atau sub spesies ia berkolaborasi dengan peneliti kupu-kupu tanah air, Prof. Djuninanti Peggie. Termasuk pada temuan Deramas jasmini, Suefuji menggandeng Prof. Peggie sebagai penulis ketiga. Sementara penulis kedua adalah Ken-Ichi Odagiri, Peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya, Universitas Kyushu, Jepang. Mereka berkolaborasi lintas negara untuk mendeskripsikan secara detail letak perbedaan dengan spesies lainnya sehingga layak menjadi spesies baru. Penemuan spesies baru tidaklah mudah. Mengingat hampir seratus persen biodiversitas kita telah dideskripsikan mulai dari zaman penjajahan hingga kini. Meski begitu, peluang temuan baru masih terbuka. Tentunya dengan kerja keras yang ekstra. Apa perbedaan mencolok dengan spesies lain? Deramas jasmini adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan saudaranya dari genus ini. Lebar rentang sayap depan dari betina spesies baru ini sebesar 1,9 cm. Sebagai pembanding, peneliti menyandingkannya dengan betina dari Deramas anyx dan Deramas nelvis dari Semenanjung Malaya, di mana keduanya memiliki ukuran hanya berkisar 1,75 cm. Sementara itu bercak biru pada sayap atas kurang berkembang dengan baik serta tidak memiliki kilau metalik yang kuat. Hal ini nampak terlihat jelas pada sayap belakang baik jantan maupun betina dari spesies baru ini. Secara morfologi spesies baru ini mirip dengan Deramas evelynae yang dijumpai Filipina. Ukuran sayap depan dari betina spesies ini sebesar 1,65 cm. Secara umum, ukuran betina lebih besar daripada jantan. Kemampuan terbang dengan membawa jantan saat kawin bisa jadi sebab utamanya. Bintik biru di atas sayap D. jasmini cenderung lebih keputihan baik jantan maupun betina. Sebaliknya D. evelynae menunjukkan Dimorfisme Sexual, memiliki perbedaan mencolok antara jantan dan betina. Pada betina spesies ini memiliki bintik pada sayap atas berwarna ungu, sementara sang jantan lebih kehijauan. Lebih jauh artikel jurnal terbitan J-Star pada Agustus 2025 ini memberi data tambahan tentang perbedaan alat kelamin jantan spesies baru dengan dengan spesies lainnya dengan kombinasi 4 karakteristik utama: tegumen memiliki telinga bulat jika dilihat dari sisi lateral; ampura dan harpe valva melengkung di bagian tengah dan memanjang ke posterior dengan telinga membulat di ujungnya; sisi vetral ampura tidak memiliki gerigi; dan aedeagus asimetris, dengan tonjolan berbentuk kunci pas di ujung belakang sisi kiri. Menurut para penelitinya, fakta bahwa proyeksi kunci pas ini umumnya terdapat pada lima spesies Deramas dari Sulawesi, termasuk spesies baru ini. Hal tersebut menarik karena menunjukkan bahwa mereka membentuk kelompok monofiletik atau satu garis keturunan dan kemungkinan telah berevolusi dari satu spesies leluhur di Sulawesi. Temuan ini menambah daftar panjang kupu-kupu tanah air. Menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati bangsa ini begitu kaya. Semoga temuan ini bisa menjadi pemicu khalayak untuk terus semangat blusukan, mengeksplorasi, dan meneliti lebih jauh keragaman hayati nusantara. Dan kita berharap bersama agar peneliti tanah air kelak menjadi leader dalam setiap penelitian yang memanfaat biodiversitas tanah air. Sumber: Taufiq Ismail - Pengendali Ekosistem Hutan Balai TN Bantimurung Bulusaraung Daftar pustaka Suefuji, S., Odgri, K.I., & Peggie, D. (2025). A new species of the genus Deramas Distant from southern Sulawesi, Indonesia (Lepidoptera, Lycanidae). Lepidoptera Science, 76(3), 93-96. Vane-Wright, R. I., & de Jong, R. (2003). The Butterflies of Sulawesi: annoted checklist for a critical island fauna. Zoologiche Verhandelingen, 343, 3-267 Suefuji, S., Fan, X., Peggie, D. & Chiba, H. (2025) Two new species of the genus Prusiana Evans from south and southeast Sulawesi, Indonesia (Lepidoptera, Hesperiidae, Hesperiinae, Baorini). Zootaxa, 5737 (4), 581–589. https://doi.org/10.11646/zootaxa.5737.4.8
Baca Artikel

Dari Banyuwangi, BBKSDA Jatim Ajak 720 Pelajar Menjadi Penjaga Bumi

Banyuwangi, 16 Maret 2026. Upaya menjaga kelestarian hutan, tumbuhan, satwa liar, dan lingkungan hidup tidak hanya dilakukan di dalam kawasan konservasi, tetapi juga melalui ruang-ruang pendidikan. Semangat itulah yang dibawa Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) saat menggelar kegiatan Visit to School / Rimbawan Mengajar di SMAN 1 Glagah Banyuwangi, Kamis (12/3). Kegiatan yang berlangsung di Masjid Muhammad Cheng Ho ini diikuti oleh sekitar 720 siswa kelas X dan XI, didampingi guru serta kepala sekolah. Selain menjadi sarana edukasi lingkungan bagi generasi muda, kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian Road to Hari Bakti Rimbawan 2026. Tim pelaksana yang hadir berasal dari Seksi KSDA Wilayah VI antara lain Ainy Amelya - Penyuluh Kehutanan, Mohammad Sukron - Pengendali Ekosistem Hutan, serta Nurul Huda Sani dan Pindi Priyambudi selaku Polisi Kehutanan. Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan materi bertema “Peran Generasi Muda Sebagai Khalifah di Bumi untuk Masa Depan” dan “Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar di Indonesia menurut Agama Islam.” Materi ini disampaikan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan pelajar, terutama dalam suasana Pondok Ramadan, sehingga pesan konservasi dapat diterima tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai nilai moral. Para siswa diajak memahami bahwa menjaga bumi bukan sekadar tanggung jawab pemerintah atau petugas konservasi. Menjaga lingkungan hidup juga menjadi peran setiap individu, termasuk generasi muda, karena masa depan hutan, air, udara, serta keberlangsungan tumbuhan dan satwa liar akan sangat ditentukan oleh kepedulian manusia hari ini. Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Selain paparan materi, siswa juga terlibat dalam sesi tanya jawab dan kuis menarik. Antusiasme peserta terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Di akhir kegiatan, tim BBKSDA Jawa Timur menyerahkan kenang-kenangan kepada pihak sekolah sebagai tanda terima kasih atas kerja sama dan partisipasi dalam pelaksanaan Visit to School. Pihak SMAN 1 Glagah Banyuwangi pun menyambut baik kegiatan ini. Dalam waktu dekat, sekolah berencana kembali melibatkan BBKSDA Jawa Timur dalam kegiatan kepecintaalaman di lingkungan sekolah. Secara terpisah, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Purwantono, S.Hut., M.P., mengatakan bahwa edukasi kepada generasi muda merupakan bagian penting dalam upaya konservasi jangka panjang. “Konservasi tidak cukup hanya dilakukan di lapangan melalui patroli, pengamanan kawasan, atau penyelamatan satwa liar. Konservasi juga harus dibangun melalui pendidikan dan penanaman kesadaran sejak dini. Karena itu, kami memandang generasi muda sebagai bagian penting dari masa depan pelestarian keanekaragaman hayati,” ujarnya. Menurutnya, kegiatan Rimbawan Mengajar menjadi salah satu cara untuk mendekatkan isu konservasi kepada pelajar melalui bahasa yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. “Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak para pelajar memahami bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam. Ketika kesadaran itu tumbuh sejak bangku sekolah, maka harapan terhadap masa depan hutan, tumbuhan, satwa liar, dan lingkungan hidup juga akan semakin kuat,” kata Purwantono. Ia menambahkan, pelaksanaan kegiatan ini sebagai bagian dari Road to Hari Bakti Rimbawan 2026 juga menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pengabdian rimbawan tidak hanya hadir di hutan dan kawasan konservasi, tetapi juga di tengah masyarakat melalui edukasi dan pembentukan karakter peduli lingkungan. Kegiatan di SMAN 1 Glagah Banyuwangi ini menunjukkan bahwa konservasi dapat ditanamkan dari ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Dari sekolah, dari forum keagamaan, dan dari dialog yang sederhana namun bermakna, kesadaran menjaga alam mulai tumbuh. Sebab pada akhirnya, menjaga hutan, tumbuhan, satwa liar, dan lingkungan hidup bukan hanya tentang melindungi alam hari ini, tetapi juga tentang memastikan bahwa generasi mendatang masih memiliki bumi yang layak untuk dihuni. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sinergi Ramadan: Forum Pariwisata Berkelanjutan Karimunjawa Bahas Daya Dukung Wisata Berkelanjutan

Karimunjawa, 07 Maret 2026 – Bulan suci Ramadan menjadi momen yang tepat untuk mempererat kebersamaan sekaligus merumuskan langkah strategis bagi masa depan pariwisata di Karimunjawa. Pada Sabtu silam (7/3), pukul 16.00 WIB, kegiatan diskusi dan buka bersama digelar di Happynes Resto Karimunjawa. Acara ini merangkai tradisi ngabuburit dengan agenda serius, yakni pertemuan rutin Forum Pariwisata Berkelanjutan yang berfokus pada pembahasan pengelolaan wisata di kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Kegiatan ini merupakan agenda bersama antara Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Karimunjawa dengan Balai Taman Nasional Karimunjawa. Hadir sebagai pemimpin jalannya diskusi, Camat Karimunjawa Bapak Nuril Abdillah dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Karimunjawa Ibu Dyah Ayu Puspitasari. Turut mendampingi dari Balai TN Karimunjawa, Bapak Agus Roma Purnomo dan Kristiawan selaku Pengendali Ekosistem Hutan, bersama jajaran Forkopimcam serta para anggota Forum Pariwisata Berkelanjutan. Dalam sambutan pembukanya, Camat Nuril Abdillah menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mewujudkan pariwisata yang tidak hanya ramai pengunjung, tetapi juga ramah lingkungan. "Forum rutin ini adalah wadah kita bersama untuk memecahkan masalah dan mencari solusi terbaik bagi kemajuan pariwisata Karimunjawa yang berkelanjutan," ujarnya. Senada dengan itu, Ibu Dyah Ayu Puspitasari menyampaikan bahwa esensi pertemuan ini adalah memperkuat kolaborasi antara pengelola kawasan, pemerintah kecamatan, dan para pelaku usaha. "Kita ingin memastikan bahwa pengelolaan wisata di Karimunjawa tetap berada dalam koridor kelestarian ekosistem taman nasional. Prinsip keberlanjutan harus menjadi landasan utama dalam setiap pengambilan keputusan," tegasnya. Mengisi sesi inti diskusi, Bapak Agus Roma Purnomo, Pengendali Ekosistem Hutan dari Balai TN Karimunjawa, memaparkan materi mengenai konsep daya dukung wisata berkelanjutan dalam pengelolaan kawasan taman nasional. Ia menyampaikan bahwa pemahaman terhadap konsep ini menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pariwisata yang mampu menjaga keseimbangan antara aspek ekologi, sosial, dan ekonomi. "Karimunjawa memiliki daya tarik utama karena alamnya yang masih asri. Jika kawasan rusak, maka pariwisata akan kehilangan jiwanya. Oleh karena itu, setiap aktivitas wisata yang dikembangkan harus memperhatikan daya dukung wisata berkelanjutan, yaitu kemampuan suatu kawasan untuk mendukung kegiatan wisata secara terus-menerus tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan, gangguan terhadap sosial budaya masyarakat, serta tetap menguntungkan secara ekonomi," jelas Agus Roma Purnomo. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa daya dukung wisata berkelanjutan mencakup tiga pilar utama. Pertama, pilar ekologi, yaitu batas maksimal pemanfaatan sumber daya alam tanpa mengganggu proses ekologis dan keanekaragaman hayati. Kedua, pilar sosial, yaitu batas toleransi masyarakat lokal terhadap kehadiran wisatawan agar tidak menimbulkan konflik sosial dan tetap menjaga kearifan lokal. Ketiga, pilar ekonomi, yaitu tingkat pemanfaatan yang memberikan keuntungan optimal bagi masyarakat dan pelaku usaha tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya. "Kita perlu menghitung secara cermat berapa banyak wisatawan yang dapat diterima di setiap destinasi dengan mempertimbangkan ketiga pilar tersebut. Bukan hanya soal jumlah, tetapi juga perilaku wisatawan, distribusi kunjungan, serta kesiapan masyarakat dalam menerima dampak pariwisata," tambahnya. Agus Roma juga menekankan bahwa data statistik dan hasil monitoring ekosistem menunjukkan tren positif pengelolaan kawasan, namun hal ini harus dijaga dengan komitmen bersama. Ia mengajak seluruh pelaku wisata untuk berperan aktif dalam menjaga kawasan, mulai dari pengelolaan sampah, kepatuhan terhadap zonasi, hingga edukasi kepada wisatawan mengenai pentingnya konservasi. Diskusi berlangsung interaktif, mencerminkan semangat problem solving yang menjadi ciri khas forum pariwisata berkelanjutan ini. Para pelaku wisata diajak untuk berdialog langsung dengan pihak pengelola kawasan dan Forkopimcam, membahas berbagai tantangan seperti pengelolaan sampah yang menjadi isu krusial di Karimunjawa, penerapan zonasi wisata, serta strategi peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata. Kegiatan yang dirangkai dengan buka puasa bersama ini menjadi simbol eratnya kebersamaan antara pemerintah, pengelola kawasan, dan masyarakat. Suasana ngabuburit yang santai namun sarat makna berhasil menciptakan ruang dialog yang cair dan produktif. Kehangatan Ramadan memperkuat semangat kolaborasi untuk menjaga Karimunjawa sebagai destinasi unggulan yang mengedepankan prinsip konservasi dan pariwisata berkelanjutan. Dengan adanya pertemuan rutin ini, diharapkan seluruh pihak memiliki persepsi dan komitmen yang sama dalam mengelola pariwisata di Karimunjawa. Kolaborasi antara Balai TN Karimunjawa, Forkopimcam, dan Forum Pariwisata Berkelanjutan menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi Karimunjawa sebagai destinasi wisata berkelanjutan yang mampu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi, kelestarian ekologi, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Sumber: Venza Rhoma Saputra, S.Hut (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) - Seksi PTNW II Karimunjawa, Balai TN Karimunjawa
Baca Artikel

Hari Bakti Rimbawan 2026: Dari Jawa Timur, Komitmen Menjaga Hutan dan Keanekaragaman Hayati Diteguhkan

Sidoarjo, 16 Maret 2026. Pagi datang perlahan di bentang alam Jawa Timur. Kabut tipis menggantung di antara tajuk pepohonan, embun menempel di helai daun, dan suara burung liar memecah sunyi yang purba. Di tempat-tempat seperti inilah kehidupan sesungguhnya dirawat, bukan dengan gemuruh, melainkan dengan ketekunan yang nyaris tak terdengar. Pada 16 Maret 2026, semangat itu kembali diteguhkan melalui peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-43. Tahun ini, Hari Bakti Rimbawan mengusung tema “Kerja Ikhlas, Tata Kelola Berkualitas: Rimbawan Membangun Kehidupan Berkelanjutan.” Di Jawa Timur, tema tersebut bukan sekadar semboyan. Ia menjadi cermin dari ikhtiar panjang insan kehutanan dalam menjaga hutan, merawat keanekaragaman hayati, dan memastikan bahwa alam tetap memiliki kesempatan untuk bertahan di tengah perubahan zaman. Bagi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Hari Bakti Rimbawan bukan hanya penanda sejarah pengabdian insan kehutanan, melainkan momentum refleksi atas tugas yang tak pernah benar-benar selesai. Sebab konservasi selalu bergerak di antara tantangan yang nyata, bergerak dalam tekanan terhadap habitat, fragmentasi bentang alam, peredaran tumbuhan dan satwa liar, konflik antara manusia dan satwa, hingga ancaman yang datang pelan namun pasti. Karena itu, peringatan Hari Bakti Rimbawan 2026 dimaknai sebagai penguatan kembali nilai dasar pengabdian rimbawan untuk bekerja dengan ketulusan, melayani dengan integritas, dan menghadirkan tata kelola yang mampu menjawab kebutuhan konservasi secara nyata. Kerja ikhlas menjadi fondasi moral, sementara tata kelola berkualitas menjadi jalan agar setiap langkah perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari benar-benar memberi hasil yang terukur. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa Hari Bakti Rimbawan harus dibaca sebagai panggilan moral sekaligus profesional bagi seluruh insan kehutanan, untuk terus memperkuat peran konservasi di tengah tantangan yang semakin dinamis. “Hari Bakti Rimbawan ke-43 adalah momentum untuk meneguhkan kembali bahwa pengabdian rimbawan bukan sekadar tugas administratif, melainkan tanggung jawab peradaban. Tema tahun ini, ‘Kerja Ikhlas, Tata Kelola Berkualitas: Rimbawan Membangun Kehidupan Berkelanjutan’, mengingatkan kita bahwa hutan, tumbuhan, satwa liar, dan seluruh ekosistem yang kita jaga adalah fondasi kehidupan. Karena itu, kerja-kerja konservasi harus dijalankan dengan ketulusan, profesionalisme, disiplin, dan tata kelola yang akuntabel agar manfaatnya benar-benar dirasakan, bukan hanya hari ini, tetapi juga oleh generasi yang akan datang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa di Jawa Timur, komitmen tersebut diterjemahkan melalui penguatan perlindungan kawasan, penyelamatan keanekaragaman hayati, dan peningkatan kualitas pelayanan konservasi. Serta, penguatan sinergi dengan masyarakat, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga konservasi, mitra teknis, dan seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam. “Konservasi tidak dapat berdiri sendiri. Ia memerlukan kolaborasi, kepercayaan, dan kesadaran bersama bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Dari Jawa Timur, kami ingin menegaskan bahwa komitmen menjaga hutan dan keanekaragaman hayati harus terus dirawat dengan semangat kerja ikhlas dan tata kelola berkualitas. Inilah bentuk bakti rimbawan untuk bangsa, untuk lingkungan, dan untuk masa depan yang berkelanjutan,” tegas Nur Patria. Pernyataan tersebut menegaskan satu hal penting, bahwa konservasi hari ini tidak lagi cukup hanya dijalankan dengan semangat, tetapi juga harus dikelola dengan mutu kelembagaan yang kuat. Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, pengelolaan kawasan konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati harus dijalankan secara adaptif, responsif, transparan, dan berbasis hasil. Inilah makna tata kelola berkualitas yang sesungguhnya, bahwa pengabdian kepada alam harus bersanding dengan kapasitas institusi yang mampu bekerja secara efektif dan terpercaya. Di saat yang sama, Hari Bakti Rimbawan juga menjadi ruang penghormatan bagi seluruh jejak pengabdian para rimbawan, baik yang bekerja di lapangan, di kantor, di jalur pengawasan, di titik penyelamatan satwa, di pusat edukasi, maupun di wilayah-wilayah sunyi tempat alam dipertahankan dari ancaman kerusakan. Mereka mungkin tidak selalu hadir dalam sorotan, tetapi hasil kerja merekalah yang memungkinkan ekosistem tetap bernapas. Hari Bakti Rimbawan 2026 pada akhirnya bukan hanya peringatan tahunan. Ia adalah penegasan bahwa perjuangan menjaga hutan dan keanekaragaman hayati harus terus dilanjutkan, bahkan ketika tantangan semakin berat dan lanskap semakin berubah. Dari Jawa Timur, pesan itu kembali diperdengarkan dengan jernih, bahwa hutan bukan ruang kosong, satwa liar bukan sekadar penghuni bentang alam, dan konservasi bukan pekerjaan pinggiran. Semuanya adalah inti dari upaya menjaga keseimbangan hidup. Sebab ketika rimbawan menjaga hutan, yang sesungguhnya sedang dijaga adalah masa depan kehidupan itu sendiri. Di balik rimba, di garis sunyi kawasan konservasi, di jalur patroli yang panjang, di pesisir yang rapuh, dan di habitat satwa liar yang terus terdesak, para rimbawan bekerja menjaga sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, tentang keberlanjutan kehidupan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tim Matawali Gresik Bergerak Cepat Selamatkan Beruk Betina

Gresik, 16 Maret 2026. Seekor beruk betina dalam kondisi kurus dievakuasi dari Desa Mriyunan, Sidayu, Gresik, setelah diserahkan sukarela melalui jejaring komunitas pecinta satwa. Di balik evakuasi itu, tersingkap satu persoalan lama: satwa liar kerap terlempar jauh dari habitatnya, lalu bergantung pada kecepatan respons manusia untuk tetap bertahan hidup. Ia tidak ditemukan di tepian hutan, bukan pula di lintasan sunyi tempat satwa liar biasa menjaga jarak dari manusia. Beruk betina itu justru berada di tengah ruang hidup manusia, kurus, hidup, namun terasing dari habitat yang semestinya. Dari Desa Mriyunan, pada Jumat, 13 Maret 2026, sebuah operasi kecil dijalankan. Bukan gegap gempita, bukan pula penyelamatan yang riuh. Hanya gerak cepat, keputusan yang tepat, dan satu tujuan yang jelas: memastikan satwa liar itu tidak terus menjadi korban dari batas yang dilanggar manusia. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean mengevakuasi seekor Beruk betina (Macaca nemestrina). Satwa itu ditemukan dalam keadaan hidup, dengan kondisi tubuh relatif kurus, lalu ditangani untuk selanjutnya ditranslokasikan ke Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Evakuasi ini merupakan tindak lanjut atas informasi yang diterima sehari sebelumnya dari salah satu mitra komunitas pecinta satwa. Informasi itu menyebut adanya rencana penyerahan satwa kepada BBKSDA Jawa Timur melalui jajaran Bidang KSDA Wilayah II Gresik. Dari hasil identifikasi, Beruk ini memang tidak termasuk satwa yang dilindungi secara nasional, namun statusnya tidak bisa dipandang ringan. Beruk tercatat dalam Appendiks II CITES dan masuk kategori Vulnerable (Rentan) dalam IUCN Red List. Itu berarti spesies ini menghadapi risiko penurunan populasi di alam dan membutuhkan perhatian serius dalam pengelolaan maupun pengawasannya. Dalam operasi evakuasi itu, tim memanfaatkan kendaraan operasional roda dua yang telah dimodifikasi. Sarana ini digunakan untuk menunjang mobilitas lapangan sekaligus memastikan proses pengangkutan satwa dari lokasi penjemputan menuju titik transportasi lanjutan dapat berlangsung aman dan efektif. Dalam kerja-kerja penyelamatan satwa, detail seperti ini kerap luput dari perhatian. Padahal di lapangan, keberhasilan evakuasi sering ditentukan oleh kombinasi antara kecepatan respons, kesiapan personel, dan kecermatan memilih moda angkut yang sesuai. Tak berhenti pada evakuasi, tim juga memberikan penyuluhan singkat kepada pihak yang menyerahkan satwa. Materinya sederhana, namun mendasar bahwa satwa liar bukan untuk dipelihara, diperdagangkan, atau dipindah tangankan secara sembarangan. Ada prinsip kesejahteraan satwa yang harus dijaga, ada risiko kesehatan dan perilaku yang harus dipahami, dan ada konsekuensi ekologis ketika satwa liar terputus dari habitat alaminya. Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa respons cepat terhadap laporan masyarakat merupakan bagian penting dari pelayanan konservasi. Dalam banyak kasus, waktu menjadi faktor penentu. Satwa yang terlalu lama berada di luar habitatnya berisiko mengalami stres, gangguan kesehatan, perubahan perilaku, hingga penurunan peluang untuk pulih secara optimal. Apa yang terjadi di Sidayu pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang satu ekor beruk yang dipindahkan dari satu titik ke titik lain. Ini adalah cermin tentang hubungan manusia dengan satwa liar yang masih kerap salah arah. Ketika satwa liar berpindah ke ruang-ruang domestik, sesungguhnya yang sedang kita saksikan bukan hanya penyimpangan ruang hidup, melainkan juga tanda bahwa pemahaman publik tentang konservasi masih harus terus diperkuat. Di tangan yang tepat, satu ekor satwa bukan sekadar objek evakuasi. Ia adalah pengingat bahwa alam belum sepenuhnya kehilangan kesempatan kedua. Dan selama masih ada masyarakat yang memilih melapor, serta petugas yang bergerak cepat menjawab panggilan itu, harapan bagi satwa liar akan selalu menemukan jalannya pulang. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sebelum Alam Dimanfaatkan, Survei BBKSDA Jawa Timur Menentukan Nasib Satwa di Utara Jawa Timur

Gresik, 14 Maret 2026. Pagi baru saja menyingkap kabut tipis di dua kabupaten utara Jawa Timur ketika tim konservasi mulai menyusuri semak dan tanah yang lembap. Di bawah batang kayu lapuk, di sela bebatuan, bahkan di balik lapisan tanah yang gembur, kehidupan kecil bergerak hampir tanpa suara. Seekor reptil kecil melesat cepat di balik rerumputan. Lipan berbadan panjang bersembunyi di bawah daun yang membusuk. Makhluk-makhluk ini jarang menarik perhatian manusia. Namun dalam ekosistem, mereka memegang peran penting sebagai predator kecil yang membantu mengendalikan populasi serangga dan organisme kecil lainnya. Jika mereka menghilang, keseimbangan ekosistem bisa ikut terganggu. Dan sebelum satu pun dari mereka boleh diambil dari alam, negara harus memastikan satu hal mendasar, Apakah alam masih mampu menanggungnya? Survei Sebelum Izin Diterbitkan Pada Kamis, 12 Maret 2026, tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya – Balai Besar KSDA Jawa Timur melakukan kegiatan survei lapangan di Kabupaten Gresik dan Kabupaten Lamongan. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pemeriksaan teknis sebelum diterbitkannya persetujuan pengambilan atau penangkapan satwa liar yang diajukan oleh unit pemanfaatan satwa liar. Survei tersebut dilaksanakan oleh tim teknis untuk melakukan verifikasi lapangan terhadap lokasi yang diajukan sebagai sumber pemanfaatan satwa liar. Namun pekerjaan tim di lapangan tidak berhenti pada pengamatan habitat. Petugas juga melakukan penilaian kemungkinan keberadaan populasi satwa yang akan dimanfaatkan pada lokasi tersebut. Melalui pengamatan struktur habitat, kondisi vegetasi, karakter tanah, mikrohabitat, serta indikasi biologis seperti jejak aktivitas satwa, tempat persembunyian, hingga keberadaan mangsa alami. Tim mencoba memahami satu hal yang paling krusial dalam konservasi, apakah spesies tersebut benar-benar hidup dan berkembang secara alami di lokasi yang diajukan sebagai sumber pemanfaatan ? Jika habitatnya tidak sesuai, atau indikasi populasinya tidak memadai, maka permohonan pemanfaatan dapat ditolak atau ditinjau kembali. Negara Tidak Membiarkan Alam Dipanen Sembarangan Di Indonesia, pemanfaatan satwa liar dari alam diatur secara ketat melalui kerangka hukum konservasi. Prinsip ini ditegaskan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 18 Tahun 2024, yang menyatakan bahwa pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar harus dilakukan dengan mempertimbangkan kelangsungan populasi, daya dukung habitat, serta prinsip kehati-hatian berbasis ilmu pengetahuan. Artinya, sebelum izin pemanfaatan diterbitkan, pemerintah harus memastikan bahwa pengambilan dari alam tidak akan menurunkan populasi secara signifikan atau merusak keseimbangan ekosistem. Dalam konteks inilah survei habitat dan survei potensi populasi menjadi langkah penting. Tanpa data lapangan yang akurat, pemanfaatan satwa liar berisiko berubah menjadi eksploitasi yang tidak terkendali. Ketika Eksploitasi Melampaui Batas Alam Dalam banyak kasus di berbagai belahan dunia, penurunan populasi satwa liar sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari eksploitasi kecil yang terus meningkat tanpa kendali. Jika pengambilan satwa dilakukan melebihi kemampuan alam untuk memulihkan populasinya, dampaknya dapat menjadi serius. Populasi satwa dapat menurun drastis, bahkan menuju kepunahan lokal. Ketika predator kecil seperti reptil atau arthropoda berkurang, keseimbangan rantai makanan dapat terganggu. Populasi serangga atau organisme lain yang menjadi mangsanya dapat meningkat secara tidak terkendali. Dalam jangka panjang, gangguan ini dapat memicu ketidakseimbangan ekosistem. Yang pada akhirnya juga berdampak pada manusia, mulai dari meningkatnya hama pertanian hingga menurunnya kualitas lingkungan. Ekosistem yang kehilangan salah satu komponen pentingnya sering kali membutuhkan waktu sangat lama untuk pulih. Dan dalam beberapa kasus, kerusakan tersebut tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Sistem Kuota, Menjadi Garis Batas Ekologis Untuk mencegah eksploitasi berlebihan, pemerintah menerapkan sistem kuota pengambilan satwa liar dari alam. Setiap tahun, pemerintah menetapkan jumlah maksimum satwa yang boleh diambil dari habitat alam melalui keputusan Direktorat Jenderal KSDAE berdasarkan rekomendasi ilmiah dan kondisi populasi di alam. Kuota ini menjadi garis batas ekologis. Ia memastikan bahwa pemanfaatan satwa liar tetap berada dalam batas yang dapat dipulihkan oleh alam. Jika kuota telah terpenuhi, maka pengambilan satwa dari alam harus dihentikan hingga periode berikutnya. Legal atau Ilegal ? Di tengah maraknya perdagangan satwa liar, masyarakat sering kali belum memahami perbedaan antara pemanfaatan satwa yang legal dan ilegal. Pemanfaatan satwa liar dinyatakan legal apabila jenis satwanya tidak dilindungi, terdapat kuota pengambilan resmi, pelaku usaha memiliki izin atau persetujuan pemerintah, dan pengangkutan satwa dilengkapi dokumen SATS-DN atau SATS-LN. Sebaliknya, kegiatan menjadi ilegal apabila menangkap satwa tanpa izin, mengambil satwa di luar kuota, mengambil satwa di luar wilayah distribusi yang diizinkan, dan memperdagangkannya tanpa dokumen resmi. Survei lapangan yang dilakukan oleh BBKSDA menjadi salah satu mekanisme penting untuk memastikan bahwa kegiatan pemanfaatan satwa liar tetap berada dalam koridor hukum dan prinsip konservasi. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa pemanfaatan satwa liar harus selalu ditempatkan dalam kerangka keberlanjutan ekosistem. Menurutnya, negara tidak melarang pemanfaatan, tetapi memastikan bahwa pemanfaatan tersebut dilakukan secara terkendali dan berbasis ilmu pengetahuan. “Pemanfaatan satwa liar dari alam harus dilakukan secara terbatas, terukur, dan berbasis data ilmiah. Melalui survei habitat dan penilaian potensi populasi di lapangan, kami memastikan bahwa kegiatan pemanfaatan tidak melampaui kemampuan alam dalam mempertahankan keseimbangan populasinya,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan ekonomi dan kelestarian ekosistem. Di Gresik dan Lamongan, kegiatan survei itu mungkin tampak sederhana. Beberapa petugas berjalan menyusuri habitat, mencatat kondisi lingkungan, dan mengamati tanda-tanda kehidupan kecil yang sering terlewat oleh mata manusia. Namun di balik langkah-langkah sunyi itu, sesungguhnya sedang bekerja sebuah sistem konservasi. Sistem yang berusaha memastikan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak berubah menjadi eksploitasi tanpa batas. “Konservasi bukan tentang melarang manusia memanfaatkan alam. Konservasi adalah tentang memastikan bahwa apa yang kita ambil hari ini tidak menghilangkan kehidupan yang seharusnya masih ada esok hari.” Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Trenggiling Muncul di Taman Kanak - Kanak, BBKSDA Jawa Timur Siapkan Pelepasliaran ke Cagar Alam

Madiun, 13 Maret 2026. Seekor Trenggiling Jawa (Manis javanica), mamalia bersisik yang dilindungi dan terancam punah, ditemukan di halaman sebuah taman kanak-kanak di Desa Segulung, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Satwa tersebut pertama kali terlihat oleh seorang siswa TK Segulung III pada Rabu pagi (11/3). Penemuan satwa itu terjadi saat kegiatan belajar akan dimulai, seorang siswa melihat seekor hewan bersisik melingkar di pohon ketela yang tumbuh di depan gedung sekolah. Guru yang mengetahui laporan tersebut segera menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun untuk mengantisipasi kemungkinan konflik antara manusia dan satwa liar. Sekitar pukul 09.00 WIB, petugas BPBD Kabupaten Madiun tiba di lokasi dan melakukan evakuasi. Trenggiling tersebut kemudian dibawa ke Kantor BPBD Kabupaten Madiun di Jalan Raya Solo No. 71 Madiun untuk penanganan sementara. Pada hari yang sama sekitar pukul 12.00 WIB, satwa tersebut dititip rawat sementara kepada komunitas penyelamat satwa Jaga Satwa Indonesia (JSI). Yang selanjutnya diserahkan kepada Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Kamis (12/3), untuk penanganan lebih lanjut. Petugas kemudian melakukan asesmen kondisi satwa. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa trenggiling tersebut berada dalam kondisi sehat, aktif, serta masih menunjukkan perilaku liar. Berdasarkan hasil asesmen tersebut, BBKSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun merencanakan pelepasliaran satwa ke habitat alaminya di kawasan Cagar Alam Sigogor. Kawasan konservasi ini dinilai masih memiliki kondisi habitat yang sesuai bagi kehidupan Trenggiling. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberadaan satwa liar di sekitar permukiman masih mungkin terjadi, terutama di wilayah yang berdekatan dengan kawasan berhutan. Balai Besar KSDA Jawa Timur mengimbau masyarakat agar tidak menangani satwa liar secara mandiri dan segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan satwa dilindungi, sehingga penanganan dapat dilakukan secara aman dan sesuai prosedur konservasi. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto - Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pendampingan KTH Cike-Cike Indah Sejahtera Melalui Metode Laku

Parbuluan, 13 Maret 2026 – Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Penyuluh Kehutanan melaksanakan kegiatan pendampingan dengan metode LaKu pada Kelompok Tani Hutan Cike-cike Indah Sejahtera di Desa Lae Hole II, Kec. Parbuluan, Kab. Dairi, Rabu (11/3). Sebelumnya KTH Cike-cike Indah Sejahtera melalui SK Koordinator Teknis Pusat Penyuluhan Kehutanan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM No. 26 Tahun 2025 ditetapkan menjadi salah satu KTH Penerima Implementasi Demplot Aren pada Metode Latihan dan Kunjungan. Pada kegiatan kunjungan ini dilakukan pendampingan terkait dengan penyampaian informasi tentang aren dan produk turunan aren (gula cetak dan gula semut). Potensi Tanaman Aren di Desa Lae Hole II sendiri cukup potensial karena ada banyak tanaman aren yang tidak ditanam secara sengaja tumbuh dan dimanfaatkan niranya. Hanya saja pemanfaatan nira aren hanya dilakukan untuk pembuatan “tuak” yang mana masih kekurangan untuk disupply di desa sendiri. Penyampaian informasi terkait gula cetak dan gula semut sebagai produk dari nira aren membuka wawasan bagi KTH Cike-cike Indah Sejahtera untuk mencoba membuka peluang namun tetap mengutamakan tuak karena pasar tuak sendiri masih terbuka luas di desa dan sekitarnya. KTH Cike-cike Indah Sejahtera merupakan KTH yang berada di desa penyangga Kawasan TWA Danau Sicike-cike. Adanya kegiatan yang dapat dilaksanakan di lahan masyarakat sekitar kawasan konservasi menjadi salah satu hal yang harus didukung agar kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan menjadi lebih meningkat dan pemahaman serta aksi untuk menjaga kawasan konservasi khususnya TWA Danau Sicike-cike menjadi lebih terbangun. Sumber: Hafsah Purwasih (Penyuluh Kehutanan SKW I Sidikalang) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 161–176 dari 2.298 publikasi