Rabu, 7 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Memantau CA Dolok Sipirok Untuk Keamanan Kehidupan Tumbuhan dan Satwa Liar

Sipirok, 3 Juli 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Cagar Alam (CA) Dolok Sipirok tetap berkomitmen untuk menjaga kawasan konservasi. Selama empat hari, mulai 23 hingga 26 Juni 2025, tim patroli menyusuri kawasan dengan sebuah misi penting: memantau keanekaragaman hayati, memastikan kondisi kawasan tetap terjaga dan mendeteksi potensi gangguan yang bisa mengancam kelestarian hutan. Dalam perjalanan menyusuri rimba, tim menemukan beragam tanda kehidupan liar yang menguatkan betapa kayanya ekosistem di kawasan ini. Jejak dan bekas sarang Babi Hutan, hingga tanda keberadaan Orangutan menjadi bukti bahwa CA Dolok Sipirok masih menjadi habitat yang aman bagi satwa-satwa penting. Jejak Babi Hutan yang Ditemukan Tim Patroli di Lapangan Tak hanya itu, tim juga mencatat keberadaan berbagai jenis vegetasi khas hutan Sumatera, diantaranya Attumbus, Cemara Gunung, Hayu Dolok, Hoteng, Mayang Batu, dan Randuk. Tumbuhan-tumbuhan ini tak hanya memperkaya keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Setiap temuan, baik itu jejak satwa, jenis pohon, hingga indikasi aktivitas manusia didokumentasikan secara rinci melalui sistem SMART Mobile, sebagai bagian dari sistem pemantauan konservasi yang berbasis data. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perlindungan jangka panjang untuk memastikan CA Dolok Sipirok tetap menjadi rumah yang aman bagi satwa liar, tumbuhan endemik dan seluruh elemen kehidupan yang ada di dalamnya. Jamur dan Hoteng yang Tim Patroli Temukan di Lapangan Sumber: Resort CA Dolok Sipirok- Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Sumut dan Koramil Lakukan Patroli Gabungan Lindungi Hutan Mangrove

Karang Gading, 3 Juli 2025. Komitmen menjaga hutan konservasi terus diperkuat, oleh karena itu Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama Koramil 0201-12/Hamparan Perak serta Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) melaksanakan patroli gabungan di kawasan yang telah ditertibkan oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (SM KGLTL). Kegiatan dilaksanakan sebanyak 2 (dua) kali, pada tanggal 27 Juni 2025 dan 1 Juli 2025. Kegiatan pada tanggal 27 Juni 2025 lebih difokuskan untuk pengecekan 3 (tiga) titik plang batas yang telah dipasang Satgas PKH di wilayah Desa Paluh Kurau, sebagai bagian dari langkah pengamanan kawasan konservasi. Sedangkan untuk tanggal 1 Juli 2025, kegiatan yang dilakukan adalah pendataan pengklaim kawasan SM KGLTL, pembersihan korosi pada tiang plang, dan pengecatan plang untuk mencegah korosi kembali. Di akhir kegiatan, Danramil Hamparan Perak menyampaikan kepada Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk terus membangun komunikasi dengan masyarakat dalam penyelesaian permasalahan di kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Kegiatan yang dilakukan oleh petugas Resort SM KGLTL dengan Koramil 0201-12/Hamparan Perak tidak hanya untuk memastikan batas kawasan tetap terjaga, tetapi menjadi wujud sinergi nyata antara pemerintah, aparat dan masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan hutan mangrove yang penting bagi kehidupan. Dengan semangat gotong royong, upaya menjaga kawasan konservasi akan terus digalakkan demi masa depan alam dan generasi yang akan datang. Kegiatan Pembersihan Korosi pada Plang Kegiatan Pengecatan Plang Sumber: Resort Konservasi SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Sinergi BKSDA Kalsel dan PT Adaro Dengan Bimtek Penanganan Konflik Satwa

Barito Kuala, 26 Juni 2025 – Upaya meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi konflik antara manusia dan satwa liar, PT Adaro bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penanganan Konflik Satwa. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 24-25 Juni 2025 di area operasional PT. Borneo Galagan Nusantara. Bimtek diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas Bimtek diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas Karyawan PT Adaro Logistic dan BKSDA Kalsel. Fokus utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman dan keterampilan praktis dalam menghadapi tiga jenis satwa yang kerap berinteraksi dengan aktivitas manusia, yaitu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), lebah, dan ular. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh Tim dari BKSDA Kalimantan Selatan. Peserta dibekali pengetahuan dasar mengenai karakteristik, perilaku, dan ekologi ketiga jenis satwa tersebut. Pemahaman ini menjadi landasan penting sebelum memasuki tahap pelatihan teknis di lapangan. “Edukasi seperti ini sangat krusial agar penanganan satwa liar dilakukan secara tepat, aman, dan tidak membahayakan baik manusia maupun satwa itu sendiri,” ujar salah satu narasumber dari BKSDA Kalsel. Usai sesi teori, peserta mengikuti praktik langsung penanganan konflik satwa. Mereka diperkenalkan pada berbagai alat mitigasi, seperti snake tong (penjepit ular), sarung tangan pelindung, perangkap (trap), dan alat pelindung diri (APD) dari serangan lebah. Peserta juga diberi kesempatan untuk memahami fungsi dan cara penggunaan alat-alat tersebut secara langsung. Melalui Bimbek ini diharapkan para peserta dapat lebih percaya diri dan siap menghadapi situasi konflik satwa di lapangan dengan prosedur yang tepat, aman, serta tetap mengedepankan prinsip-prinsip konservasi. Kegiatan ini juga dapat menjadi bekal berharga bagi para peserta untuk menerapkan prosedur penanganan konflik satwa yang aman, efektif, dan sejalan dengan prinsip-prinsip konservasi. (Ryn) Sumber: Faturrahman, S.Hut. - Penyuluh Seksi Konservasi Wilayah II Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Audiensi Penguatan Tata Kelola Sumber Daya Perikanan di Kawasan TN Taka Bonerate

Jakarta, 30 Juni 2025 — Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) bersama para pemangku kepentingan dan Mitra Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program audiensi bertajuk “Penguatan Tata Kelola Sumber Daya Perikanan di Kawasan Taman Nasional Takabonerate (TNTBR)” di Hotel Santika Premier Slipi, Jakarta. Acara ini membahas tantangan dan solusi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan di kawasan cagar biosfer UNESCO tersebut. Tantangan yang Dihadapi Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, Muhammad Natsir Ali dalam sambutannya menyoroti beberapa masalah krusial. Kawasan TNTBR merupakan aset penting Cagar Biosfer (CB) Taka Bonerate Kepulauan Selayar yang memiliki luas kawasan CB 4 juta hektar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Praktik penangkapan ikan destruktif seperti bom dan bius mengancam ekosistem. Selain itu, nelayan lokal kekurangan alat tangkap memadai, sementara hasil perikanan justru dinikmati oleh daerah tetangga. "Ikan diambil di perairan Selayar, tetapi pajak dibayar di wilayah lain. Ini harus diselesaikan," tegas Bupati. Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi Dirjen KSDAE Kemenhut, Sapto Aji Prabowo, menekankan pentingnya keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan. TNTBR sebagai atol terbesar ketiga di dunia harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Solusi yang Diusulkan Beberapa solusi diajukan untuk mengatasi tantangan tersebut: Irfan, Kasubdit Pelayanan Masyarakat, mengusulkan model pengelolaan seperti di TN Bantimurung Bulusaraung, di mana PAD dipungut di luar kawasan konservasi untuk menghindari konflik regulasi. Sementara itu, Ikhsan dari BPKPD menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan konservasi dan fiskal daerah. Audiensi ini menjadi langkah awal untuk memperkuat tata kelola perikanan di TNTBR. Dengan sinergi semua pihak, diharapkan kawasan ini tetap lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate Sumber Foto : Andi Rezeki Mutaminnah/ PEH Ahli Pertama Sumber Teks : Asri - PEH Ahli Muda/Humas
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Dukung PROFAUNA Camp XI: Perkuat Pendidikan Konservasi untuk Generasi Muda

Malang, 30 Juni 2025 – Konservasi merupakan upaya penting dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, khususnya di Indonesia. Sebagai bagian dari kontribusi terhadap pelestarian alam, Yayasan Profauna Indonesia Foundation kembali menyelenggarakan PROFAUNA Camp XI, sebuah kegiatan pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar) tentang konservasi alam dan satwa liar. Kegiatan berlangsung selama empat hari, mulai 26 hingga 29 Juni 2025, bertempat di Hutan Pendidikan P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Center), Malang, Jawa Timur. Sebagai lembaga swadaya masyarakat yang telah berkiprah lebih dari 30 tahun di bidang konservasi, PROFAUNA Indonesia bertujuan mendukung program-program pelestarian alam yang sejalan dengan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dalam kesempatan kali ini, kegiatan diikuti oleh 21 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang beragam, mulai dari kehutanan, lingkungan hidup, perikanan, peternakan, biologi, psikologi, pendidikan, multimedia, sejarah, hingga profesi lepas. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, di bawah kepemimpinan drh. Agus Ngurah Krisna K., M.Si, turut berpartisipasi aktif dalam mendukung PROFAUNA Camp XI. BKSDA Kalsel mengirimkan dua perwakilannya sebagai peserta sekaligus penguat jejaring konservasi, yaitu Debi Imam Saputra, S.Hut., M.Hut (Polhut Ahli Muda) dan H.M. Amin Badali, S.P (PEH Ahli Pertama). Dalam kegiatan ini, peserta dibekali pengetahuan dan praktik lapangan terkait isu konservasi. Materi yang disampaikan antara lain: Melalui metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan isu-isu konservasi secara luas kepada generasi muda di Indonesia. Pada akhir kegiatan, dilakukan evaluasi untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi konservasi yang telah diberikan. Seluruh peserta yang dinyatakan lulus kemudian dilantik secara resmi sebagai alumni Diklatsar Konservasi Alam dan Satwa Liar PROFAUNA Camp XI, yang ditandai dengan penyematan topi dan pemberian E-sertifikat. (Ryn) Sumber: Debi Imam Saputra, S.Hut - Polhut Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Dari Gagasan Jadi Aksi, Jejak Konservasi Menuju Net Zero Carbon di Trenggalek

Trenggalek, 30 Juni 2025. Di bawah cahaya hangat pagi yang menembus kisi-kisi Pendopo Kabupaten Trenggalek, sebuah langkah kecil menuju perubahan besar lahir dari sebuah gagasan yang sederhana namun visioner. Dalam ajang Festival Galaksi 2025 (Gagasan lan Aksi), program inovasi daerah yang menghimpun ide-ide progresif masyarakat demi pembangunan berkelanjutan, muncul sebuah nama yang menggetarkan hati pejuang konservasi. Adalah Akhmad David KP, seorang Polisi Kehutanan dari Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur, berhasil menembus ketatnya seleksi gagasan dan masuk lima besar terbaik. Gagasannya bertajuk “Database Keanekaragaman Hayati (Kehati) Trenggalek sebagai Pendukung Keberhasilan Net Zero Carbon” menyuguhkan sebuah pendekatan ilmiah yang berpijak pada fakta-fakta ekologi lokal. Sekaligus membuka jalan bagi integrasi konservasi dalam peta kebijakan iklim daerah. Festival Galaksi yang telah menjaring 174 gagasan dari masyarakat Trenggalek sejak Januari 2025, menetapkan dua tema utama, Lingkungan dan Pendapatan. Dari 154 gagasan yang lolos administrasi, hanya 20 gagasan yang lolos ke babak final, dengan 10 di antaranya berasal dari bidang lingkungan hidup. Di antara para finalis, gagasan David tampil menonjol karena menawarkan solusi konkret dan berbasis data untuk mendukung Trenggalek mencapai Net Zero Emissions, target ambisius yang kini menjadi panggilan zaman. Penerimaan penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk pengakuan formal dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek, tetapi juga membuka pintu kolaborasi nyata. Tim Seksi KSDA Wilayah I Kediri yang hadir mendampingi, langsung terlibat dalam forum pembahasan lanjutan bersama pemerintah daerah, membicarakan dukungan pendanaan kegiatan yang dijadwalkan akan mulai digulirkan pada akhir Agustus 2025. Lebih dari sekadar perayaan, momen ini mencerminkan sinergi antara pengetahuan lokal, semangat konservasi, dan arah pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada alam. Trenggalek, kabupaten yang dulunya hanya dikenal lewat pesona alamnya, kini sedang menyiapkan peta masa depan baru, masa depan yang hijau, berakar dari data, dan tumbuh dari kepedulian warganya sendiri. Dalam dunia yang dibayangi krisis iklim dan erosi keanekaragaman hayati, kisah dari Trenggalek ini menjadi penegas bahwa perubahan besar bisa dimulai dari satu gagasan, yang tidak hanya dipikirkan, tapi juga diperjuangkan.(dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ekspedisi Pertama Anggrek Liar Nusa Barung, Sang Permata yang Terisolasi

Jember, 1 Juli 2025. Di selatan Pulau Jawa, berdiri kokoh sebuah pulau kecil yang terpisah oleh ombak dan waktu, Nusa Barung, suaka margasatwa yang nyaris tak tersentuh. Aksesnya terbatas, jalurnya liar, dan medan yang penuh tantangan membuatnya lebih mirip benteng alami yang melindungi rahasia hayati purba. Di sinilah, untuk pertama kalinya, sebuah ekspedisi ilmiah khusus anggrek dilakukan. “Hutan yang jarang dikunjungi adalah perpustakaan kehidupan yang belum terbaca. Di Pulau Nusa Barung, setiap akar, daun, dan kelopak adalah bagian dari puisi yang hampir terlupakan.” Selama dua pekan pada Juli 2024, tim gabungan yang terdiri dari para peneliti BRIN, Pengendali ekosistem hutan BBKSDA Jawa Timur, dan mitra komunitas konservasi dari Yayasan Pakarti, menjelajahi tujuh jalur transek sepanjang total 12 kilometer, mulai dari hutan pantai dan mangrove di Teluk Jeruk hingga tebing karst yang terjal di Kandangan. Mereka menembus semak, mendaki lereng curam, menyisir akar dan tajuk pohon dengan teropong, mencari jejak bunga yang bisa membuka tabir keanekaragaman anggrek liar di pulau ini. Dan hasilnya mencengangkan. 17 Jenis Anggrek Ditemukan, 80% Belum Pernah Tercatat Sebelumnya Sebelum studi ini, hanya lima jenis anggrek yang tercatat tumbuh di Nusa Barung. Namun, dari ekspedisi ini berhasil didokumentasikan 17 spesies dari 13 genusanggrek, dan lebih dari 80% di antaranya adalah catatan baru untuk pulau ini. Spesies epifit mendominasi, bergelayut di batang-batang pohon tinggi yang menjulang lebih dari 20 meter. Di antara mereka, Vanda limbata, salah satu ikon anggrek Indonesia, muncul paling mencolok. Ditemukan tumbuh melimpah di tebing-tebing karst Teluk Jeruk dan sebagai epifit di pohon Syzygium sp di Teluk Kandangan. Bunganya, dengan warna ungu kemerahan dan tekstur tegas, seperti memberi penanda bahwa alam liar masih hidup dan mekar di luar jangkauan manusia. Tak hanya anggrek epifit, tim juga menemukan tiga spesies anggrek tanah Eulophiapicta, Nervilia plicata, dan Nervilia simplex, yang tumbuh di pasir pantai di bawah naungan pohon Hibiscus tiliaceus. Umumnya, anggrek tanah lebih rentan karena pertumbuhannya sangat bergantung pada keseimbangan kelembaban dan perlindungan vegetatif. Namun tidak semua indah. Beberapa individu anggrek seperti Cymbidium sp. dan Dendrobium crumenatum ditemukan dalam kondisi nyaris mati, mengindikasikan tekanan ekologi seperti kekeringan, hilangnya penyerbuk alami, atau potensi gangguan habitat dari luar. Ekspedisi Musim Kemarau, Identifikasi Terbatas, Tantangan Tak Terelakkan Dilakukan pada puncak musim kemarau, ekspedisi ini menghadapi kendala besar. Banyak anggrek tidak sedang berbunga. Tanpa bunga, identifikasi spesies menjadi lebih sulit. Beberapa spesimen hanya bisa diidentifikasi sampai tingkat genus melalui ciri vegetatif seperti umbi, daun, atau akar. Kendala lainnya adalah akses pengamatan. Banyak anggrek epifit tumbuh di tajuk tinggi dan hanya bisa diamati dengan bantuan teropong dan kamera tele. Tim tidak sempat membuat plot permanen atau melakukan survei kuantitatif populasi, tetapi setiap individu tetap dihitung dan didokumentasikan. Meskipun begitu, ekspedisi ini menandai sebuah tonggak penting dalam Konservasi floristik Indonesia. Studi ini tidak hanya menambah daftar spesies anggrek Indonesia, tetapi juga memberikan dasar ilmiah penting bagi pengelolaan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi pulau kecil seperti Nusa Barung. Dari Isolasi Jadi Keunikan Ekologis Keunikan anggrek Nusa Barung tak lepas dari statusnya sebagai pulau terpencil yang dahulu terhubung dengan daratan utama Jawa. Proses isolasi geografis akibat naiknya permukaan laut, ditambah keterbatasan dispersi propagul, membentuk komunitas flora yang khas. Beberapa spesies yang ditemukan juga tercatat tumbuh di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Taman Nasional Meru Betiri, menunjukkan konektivitas ekosistem masa lampau yang kini menjadi bukti hidup tentang sejarah biogeografi pulau ini. Langkah Awal, Konservasi dan Harapan Pulau ini mungkin sunyi dan tersembunyi, tapi flora yang hidup di dalamnya adalah suara dari alam liar yang masih setia menjaga keseimbangan bumi. Penelitian ini adalah awal. Masih banyak sudut pulau yang belum dijelajahi. Masih banyak anggrek yang belum berbunga. Lebih dari sekadar data, ekspedisi ini adalah seruan bahwa bahkan di tempat paling sunyi sekalipun, kehidupan sedang berjuang untuk tetap mekar. Penelitian ini didukung oleh BRIN dan LPDP Kementerian Keuangan RI melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) 2023. Izin penelitian dan pengambilan sampel difasilitasi oleh BBKSDA Jawa Timur. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Wisata Religi Namaposo GKPS Teladan Medan di TWA Deleng Lancuk

Kutagugung, 1 Juli 2025. Dalam semilir dan sejuknya udara pegunungan di Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk, generasi muda (Namaposo) GKPS Teladan Medan mengadakan kegiatan Malam Keakraban pada tanggal 27–28 Juni 2025. Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 anggota Namaposo dan dibimbing langsung oleh Pdt. Letare Topni Saragih serta Roni Ginting, M.MA. Turut hadir pula Gio Purba selaku Ketua Namaposo dan Joshua Munthe selaku Ketua Pelaksana Kegiatan. Selama kegiatan, mereka juga didampingi oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort TWA Deleng Lancuk dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) guna memastikan kegiatan berlangsung aman dan ramah lingkungan. Berbagai aktivitas menarik digelar, mulai dari permainan kelompok yang membangun kekompakan, makan bersama, menyalakan api unggun di malam hari dengan suasana penuh keakraban dan canda tawa, hingga lari pagi di tengah udara segar pegunungan. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah sesi pengenalan hutan oleh Petugas Resort TWA Deleng Lancuk. Peserta dibawa menyusuri pinggiran hutan dan diperkenalkan keanekaragaman hayati yang ada di kawasan tersebut. Dalam sambutannya, Ketua Namaposo, Gio Purba, menyampaikan harapannya: “Banyak hal yang ingin kami koreksi dari sisi internal kami, semoga melalui kegiatan ini semua anggota Namaposo GKPS semakin kompak, semakin erat dari sisi kekeluargaanya, dan semoga Namaposo GKPS Teladan dapat memberi dampak, menjadi garam dan terang di tengah masyarakat”. Seluruh rangkaian kegiatan Namaposo GKPS Teladan di TWA Deleng Lancuk berjalan dengan lancar dan penuh sukacita. Alam yang indah, udara yang segar serta kebersamaan yang hangat menjadikan kegiatan wisata di TWA Deleng Lancuk menjadi salah satu kenangan indah dalam perjalanan pelayanan Namaposo GKPS Teladan Medan. Sumber: Josua Siahaan (Namaposo GKPS Teladan Medan) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Siamang Ditemukan Saat Patroli di CA Dolok Sibual-buali

Sumuran, 1 Juli 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Cagar Alam (CA) Dolok Sibual-buali kembali melaksanakan patroli rutin berkolaborasi dengan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di kawasan CA Dolok Sibual-buali, tepatnya di wilayah Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok pada tanggal 18 s.d 21 Juni 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk menjaga kawasan hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Selama empat hari tim menyusuri rimba dan menemukan sejumlah tanda-tanda penting keberadaan satwa liar, yaitu: jejak dan bekas gesekan tubuh Rusa pada kulit pohon, sarang Orangutan, sarang dan telur Burung Punai dan yang paling mengesankan, perjumpaan langsung dengan 6 (enam) individu Siamang (Symphalangus syndactylus). Setiap temuan ini dicatat secara sistematis dan dimasukkan ke dalam sistem SMART MOBILE, sebagai bagian dari upaya pemantauan rutin dan basis data konservasi yang mendukung pengambilan kebijakan pengelolaan kawasan. Semua temuan di lapangan penting adanya karena temuan tersebut menjadi sinyal positif bahwa kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-Buali masih menjadi rumah yang aman bagi satwa liar dilindungi. Namun demikian, perjumpaan satwa di luar kawasan konservasi juga menjadi catatan penting bagi pengelola dan pemangku kepentingan untuk terus memperkuat upaya perlindungan habitat “Menjaga hutan bukan hanya soal menjaga pohon, tetapi juga menjaga kehidupan di dalamnya.” Gambar Sarang dan Telur Burung Punai Gambar Sarang Orangutan Sumber: Resort Konservasi CA Dolok Sibual-buali-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Memperkuat Sinergitas Melalui Giat Patroli di Resort SM. Dolok Surungan I dan CA. Aek Liang Balik

Lobu Rappa, 1 Juli 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Suaka Margasatwa (SM) Dolok Surungan I dan Cagar Alam (CA) Aek Liang Balik, pada tanggal 17-20 Juni 2025, melaksanakan kegiatan patroli pengamanan hutan bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi serta membangun keterlibatan aktif masyarakat. Pada kegiatan patroli tersebut, tim menemukan beberapa tanda penting yang menunjukkan keberadaan satwa dan kondisi ekosistem hutan, yaitu: bekas kaisan Landak, jejak Babi Hutan, pal batas kawasan dan pohon Meranti Merah. Seluruh data yang diperoleh di lapangan disimpan pada SMART MOBILE. Selain kegiatan patroli rutin, tim juga melakukan beberapa aktivitas pendukung yaitu: koordinasi dengan Pemerintah Desa Kuala Beringin dan Desa Meranti Timur untuk memperkuat sinergi dalam pelestarian hutan dan penyuluhan kepada masyarakat sekitar kawasan, termasuk masyarakat Desa Meranti Timur dan Komunitas Adat Huta Sigalapang, guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem dan satwa liar yang ada di dalamnya. Gambar Kegiatan Koordinasi Dengan Pemerintah Desa Meranti Timur Melalui kegiatan tersebut, diharapkan tercipta hubungan yang semakin erat antara aparat pengelola kawasan dan masyarakat, serta tercapainya tujuan bersama dalam menjaga kelestarian hutan dan habitat alaminya. Gambar Bekas Kaisan Landak Sumber: Resort SM. Dolok Surungan I dan CA. Aek Liang Balik-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Penanganan Interaksi Negatif Dengan Satwa Liar Membangun Kolaborasi

Sei Lepan, 30 Juni 2025. Dalam rangka penanganan interaksi negatif warga dengan satwa liar, khususnya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) pada Sabtu, (28/6) telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Penanganan Konflik Satwa Liar & Manusia di Dusun Pancasila, Desa Mekar Makmur, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat. Interaksi negatif yang terjadi memicu kekhawatiran warga, sejak insiden pertama kali pada Kamis (12/6). Sebanyak lima ekor ternak menjadi korban, hal ini mendorong keinginan untuk berkolaborasi antara Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan aparat, dan masyarakat. Sebelumnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, telah melakukan upaya-upaya mitigasi seperti : membunyikan petasan dan patroli pengusiran, pemasangan kamera trap serta edukasi tentang pentingnya kandang ternak. Ternak warga yang tidak dikandangkan, menjadi salah satu pemancing satwa si raja hutan mencari pakan dan mangsanya ke pemukiman masyarakat. Temuan penting yang didapatkan dari hasil pengumpulan data, keterangan dan investigasi di lapangan, bahwa jejak Harimau Sumatera sudah menjauh sekitar 1,4 km dari permukiman, kemudian interaksi negatif disebabkan ketersediaan pakan ada di luar hutan, serta penangkapan Harimau Sumatera bukan solusi utama sebaliknya pembatasan akses pakan (ternak) jauh lebih efektif. Dari hasil sosialisasi dan diskusi bersama dengan aparat terkait serta masyarakat Dusun Pancasila, Desa Mekar Makmur, Kecamatan Sei Lepan, disepakati beberapa hal, yaitu: membentuk Masyarakat Peduli Konflik (MPK) dalam upaya penanganan melibatkan peran aktif dari perusahaan (PT) dan kebun sawit yang ada di sekitar lokasi, serta menjadikan Dusun Pancasila sebagai "Desa Mandiri Konflik". Untuk mewujudkan kesepakatan tersebut tentunya butuh waktu dan proses. Tetapi setidaknya, adanya keinginan dan komitmen bersama menjadi modal dasar yang kuat untuk mewujudkannya. Kedepan perlu ditempuh langkah-langkah konkrit yang kolaboratif dalam mewujudkan harmonisasi masyarakat dengan alam. Sumber : Tim Seksi Konservasi Wilayah II Stabat – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Hijaukan Alam, Satukan Aksi: Semangat GRAS untuk Bumi Lestari

Sibolangit, 30 Juni 2025. Perhimpunan Penjelajah Alam, Bencana, dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) menyelenggarakan kegiatan Camp Edukasi Biodiversity and Cleanup Movement pada Rabu s.d Kamis, 25 s.d 26 Juni 2025, bertempat di Cagar Alam/Taman Wisata Alam (CA/TWA) Sibolangit, Sumatera Utara. Mengusung tema “Bergerak Bersama Untuk Lingkungan Hidup dan Kehutanan Yang Lebih Hijau”, kegiatan ini diikuti oleh 100 (seratus) orang peserta dari berbagai latar belakang dan komunitas lingkungan. Kepala Resort CA/TWA Sibolangit, Bapak Suparman beserta petugas resort mendampingi seluruh rangkaian kegiatan. Rangkaian kegiatan dimulai dengan edukasi lingkungan hidup dan kehutanan, orientasi kawasan hutan dilanjut penanaman bibit pohon jenis durian, rambutan, salak, mahoni, kepuh (sterculia), kerumbuk dan palem raja. Berbarengan dengan kegiatan penanaman, dilaksanakan kegiatan aksi bersih. Acara diakhiri dengan pengukuhan Duta Konservasi, pengumuman juara dan penyerahan piala bergilir kegiatan Camp Edukasi Biodiversity and Cleanup Movement. Melalui kegiatan ini, GRAS menegaskan bahwa generasi muda memegang peranan strategis dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan. Lebih dari sekadar camp, kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan kolektif lintas sektor yang memperkuat kolaborasi dalam perlindungan lingkungan hidup dan kehutanan di Indonesia. Satu aksi kecil bisa memulai perubahan besar. Mari terus bergerak bersama untuk bumi yang lebih hijau! Sumber: Suparman, SP (Polhut/Kepala Resort CA/TWA Sibolangit)-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pemerintah Desa Ujung Deleng Dukung Pelestarian Satwa Liar Dilindungi

Kuta Gugung, 30 Juni 2025 – Upaya memperkuat perlindungan terhadap satwa liar yang dilindungi, khususnya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Tim Resort Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang terdiri dari Samuel Siahaan, SP dan Febernado Surbakti kembali melakukan kunjungan ke Desa Ujung Deleng, Kecamatan Kuta Buluh, Kabupaten Karo pada Kamis, 26 Juni 2025. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari laporan masyarakat terkait suara auman harimau yang terdengar pada 30 Mei 2025 lalu di area perladangan warga. Auman tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran dan rasa takut di kalangan masyarakat. Namun dalam koordinasi terbaru, Kepala Desa Ujung Deleng, Bapak Apinton Pirdaus Perangin-angin, menyampaikan bahwa saat ini tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan harimau di sekitar pemukiman. Meski situasi terpantau aman, tim tetap mengimbau warga untuk selalu waspada dan berhati-hati, terutama saat berkegiatan di ladang yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Koordinasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penanganan konflik, tetapi juga memberikan edukasi dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan satwa liar yang dilindungi. Desa Ujung Deleng merupakan desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, wilayah yang menjadi habitat penting bagi berbagai jenis satwa dilindungi seperti: Orangutan Sumatera, Harimau Sumatera, Trenggiling, Beruang Madu, Rangkong dan berbagai burung dilindungi lainnya, Rusa dan satwa liar lainnya. Satwa-satwa ini memiliki kemungkinan untuk melintas ke area perladangan atau pinggiran desa, sehingga diperlukan pemahaman kolektif masyarakat tentang cara hidup berdampingan secara harmonis dengan alam. Dalam kesempatan tersebut, tim menyampaikan apresiasi atas komitmen pemerintah desa dan masyarakat dalam menjaga kelestarian satwa liar. Sebagai bentuk dukungan, tim juga menyerahkan leaflet dan booklet tentang jenis-jenis burung yang dilindungi, serta buletin untuk menambah wawasan masyarakat terkait flora dan fauna yang perlu dijaga bersama. Langkah kolaboratif ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara akan dapat mendorong terciptanya lingkungan hidup yang lestari untuk masa depan. Sumber: Samuel Siahaan, SP (PEH Muda/Kepala Resort) dan Febernando Surbakti (Staf Resort)- Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kunjungan Akademik dari Universitas Lambung Mangkurat dan Hawaii University ke TWA Pulau Kembang

Pulau Kembang, 26 Juni 2025 – Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Kembang yang berada di bawah pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Kalimantan Selatan, kembali menjadi tempat inspiratif bagi kolaborasi ilmu pengetahuan dan konservasi. Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan field trip dan studi potensi konservasi keanekaragaman hayati. Rombongan dipimpin oleh Dr. Ir. Muhammad Napparin, M.M. dari ULM, bersama Prof. Pamela Y. Scheffler, Ph.D., dan Dr. Timothy E. Scheffler dari Hawaii University serta dari Bappeda Kalsel dan Geopark Meratus. Mereka disambut oleh petugas TWA Pulau Kembang yang sekaligus memberikan paparan mengenai kondisi kawasan, mulai dari sejarah, perilaku satwa liar (terutama monyet ekor panjang), interaksi satwa dengan pengunjung, kondisi ekosistem, hingga keterlibatan masyarakat dan budaya lokal dalam pengelolaan kawasan konservasi. Prof. Pamela menyampaikan keprihatinan terkait penurunan populasi monyet ekor panjang yang mulai bergeser ke wilayah berpenduduk, yang berpotensi menimbulkan konflik dengan manusia. Meski demikian, beliau mencatat bahwa masih banyak ditemukan bayi dan anak monyet di kawasan ini, yang menunjukkan bahwa angka kelahiran masih cukup tinggi di TWA Pulau Kembang. Sementara itu, Dr. Napparin menyatakan bahwa kawasan ini memiliki banyak potensi riset yang dapat dikembangkan oleh mahasiswa ULM. Beliau berencana mengagendakan penelitian lanjutan di TWA Pulau Kembang sebagai bagian dari kegiatan akademik kampus. Kunjungan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Seluruh rombongan mengapresiasi penyambutan serta informasi yang diberikan, dan berharap dapat terus menjalin kerja sama untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan konservasi keanekaragaman hayati di Kalimantan Selatan. (Ryn) Sumber: Junaedy Slamet Wibowo, S.Hut. M.Si - Kepala SKW 2 BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Warga Yang Membakar Lahan Diberi Peringatan Tegas

Salah satu titik kebakaran lahan Purba Tongah, 30 Juni 2025. Musim kemarau apabila tidak disikapi dengan bijaksana dapat menjadi ancaman serius bagi kelestarian hutan. Pada tanggal 25 s.d 26 Juni 2025, tim gabungan dari Resort Cagar Alam (CA) Martelu Purba, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, bersama pegawai Kantor Camat Purba, Polsek Purba, Koramil Purba, Kelurahan Tiga Runggu, Pangulu Purba Tongah, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), serta mahasiswa PKL dari Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan SMART Patrol Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan CA Martelu Purba. Dalam patroli tersebut, tim menemukan 6 titik lokasi kebakaran. Dari enam titik itu, lima lokasi berada di wilayah APL (Areal Penggunaan Lain) dan 1 lokasi seluas ± 9 m2 di dalam kawasan CA Martelu Purba (di bagian pinggir batas, 25 m dari pal batas CA 6 defenitif) dimana bagian yang terbakar berupa semak yang kondisinya kering serta 1 batang pinang tanda batas kawasan yang daunnya terkena api. Menurut keterangan warga, pembakaran dilakukan untuk membersihkan lahan dalam rangka persiapan penanaman. Namun, api merambat hingga ke kawasan konservasi yang berbatasan langsung dengan lahan tersebut. Beruntung api berhasil dipadamkan sebelum meluas lebih jauh. Sebagai bentuk penegakan hukum dan edukasi, pelaku diberikan peringatan tegas dan diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Apabila kejadian terulang, yang bersangkutan bersedia diproses sesuai hukum yang berlaku. Lokasi kebakaran di bagian pinggir batas Kawasan CA. Martelu Purba Sebagaimana diketahui bahwa daerah penyangga (buffer zone) CA Martelu Purba sebagian besar (± 80 %) adalah perladangan aktif masyarakat, yang terkadang dalam kegiatan persiapan penanaman melakukan pembakaran semak untuk persiapan penanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan pengawasan secara intensif pada musim kemarau. Kegiatan patroli merupakan upaya Resort CA Martelu Purba dalam rangka memitigasi ancaman bahaya kebakaran hutan dan lahan ketika memasuki musim kemarau. Untuk memitigasi ancaman kebakaran hutan dan lahan di tahun 2025, Resort CA Martelu Purba berkolaborasi dalam kegiatan patroli dan meningkatkan intensitas koordinasi dengan instansi terkait. Sumber: Alharis Ruhidi, SP., M.Si. (Penelaah Teknis Kebijakan dan Kepala Resor CA. Martelu Purba) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Sinergi Konservasi dan Pemberdayaan di Sekitar TWA Deleng Lancuk

KT Hutan Lestari Menerima SK Nomor Registrasi dan Sertifikat Kelompok Tani Kuta Gugung, 26 Juni 2025. Komitmen untuk menjaga kelestarian alam tak bisa dilakukan sendiri. Ia perlu melibatkan masyarakat yang ada di sekitar kawasan konservasi. Inilah semangat yang diusung oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA SU), melalui Resort Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk saat melaksanakan kegiatan pendampingan kepada Kelompok Tani (KT) Hutan Lestari, Selasa, 17 Juni 2025 lalu, di Kantor Kepala Desa Kuta Gugung. Kegiatan ini dipimpin langsung Kepala Resort TWA Deleng Lancuk, Samuel Siahaan, didampingi petugas resort yakni Febernando Surbakti, Bergiat Sembiring, dan Josua Siahaan, S.Hut. Mereka menyampaikan pentingnya keterlibatan kelompok tani dalam menjaga kawasan konservasi, memahami batas kawasan TWA Deleng Lancuk, serta mengenali flora dan fauna yang dilindungi di dalamnya. KT. Hutan Lestari merupakan salah satu kelompok tani binaan BBKSDA SU yang aktif mendukung kegiatan konservasi di TWA Deleng Lancuk. Pada tahun 2024, kelompok ini telah menerima bantuan alat pertanian produktif berupa handtractor dan mesin pemotong rumput. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, sejalan dengan mata pencaharian utama warga sekitar TWA Deleng Lancuk. Untuk memperkuat legalitas, Kepala Resort TWA Deleng Lancuk juga menyerahkan Surat Keputusan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara tentang Nomor Registrasi Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) serta Sertifikat Kelompok Tani Hutan Lestari. Dokumen tersebut diterima secara langsung oleh Sekretaris KT Hutan Lestari, Riantonius Sembiring. Sumber: Samuel Siahaan, SP (PEH) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara .

Menampilkan 161–176 dari 1.989 publikasi