Kiri atas dan bawah jantan, kanan atas dan bawah betina dari Deramas jasmini. Foto: Kupunesia
Maros, 26 Maret 2026. Belum lama ini sebuah spesies baru ditemukan. Sebuah kabar baik dari dunia keanekaragaman hayati tanah air. Kabar baik datang dari dunia serangga, tepatnya temuan
new species kupu-kupu di Sulawesi Selatan.
Kupu-kupu tersebut berasal dari keluarga Lycanidae, kelompok kupu-kupu berukuran mini. Lebih jauh lagi, kupu-kupu tersebut berasal dari genus Deramas. Memecah masa 30 tahun untuk temuan spesies dari genus ini. Sebuah genus yang diketahui memiliki tiga puluh spesies yang tersebar di seluruh dunia. Sebelumnya dilaporkan bahwa terdapat empat spesies dari genus Deramas yang menghuni Sulawesi di antaranya:
D. nigrescens,
D. suwartinae,
D. nanae, dan
D. masae. Menariknya keempat spesies tersebut sebarannya terbatas di daratan Sulawesi Tengah dan belum tercatat di wilayah lain pulau ini hingga ditemukannya spesies baru ini di bagian selatan Pulau Sulawesi.
Spesies apa yang ditemukan?
Spesies Deramas yang baru saja ditemukan diberi nama
Deramas jasmini. Tim penelitinya menemukannya di dataran tinggi Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Laiya.
Pada jurnal publikasi, menerangkan bahwa lokasi penemuan sang kupu-kupu berada di ketinggian 1.000 m dpl.
Salah satu hal yang menarik adalah nama spesies yang oleh tim peneliti mendedikasikan kepada kolektor lokal yang menemukan sang kupu-kupu: Jasmin Zainuddin. Jasmin adalah warga Desa Jenetaesa, Simbang, Maros. Temuan ini adalah dedikasi terakhirnya pada dunia biodiversitas tanah air sebelum berpulang pada awal November 2025 silam.
Saya sempat menemui anaknya, Eric Indra Jasmin (32 tahun), pada 13 Februari 2026. Eric sedikit memahami proses temuan spesies ini. "Mendiang Ayahku menemukan spesimen kupu-kupu ini di pegunungan Laiya. Lokasinya jauh dari pemukiman warga," pungkasnya.
Pria yang berprofesi sebagai ASN Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ini menceritakan kedekatan Ayahnya dan Seiichi Suefuji, entomolog Jepang yang berhasil mendiskripisikan spesies ini untuk pertama kalinya. Ia mengatakan bahwa hampir setiap tahun Suefuji berkunjung ke Sulawesi. Jika ia datang ke Sulawesi Selatan maka Ayahnya-lah yang jadi pemandunya.
"Dua tahun lalu, Suefuji datang ke sini. Saya lihat dia juga mulai menyukai fotografi kupu-kupu. Kadang-kadang dia datang ke sini bersama mahasiswa atau asistennya," tambah Eric.
Eric terus bercerita mengenang sang Ayah. Menurutnya, Ayahnya sering memberi spesimen kepada sang entomolog kawakan itu. Memberi spesimen yang menurutnya langka dan kadang-kadang sering berbeda dengan spesimen umumnya sehingga berharap sang partner bisa menelisiknya lebih jauh. Karena itu keduanya beberapa kali berkolaborasi untuk mempublikasikan karya tulis. Jasmin menjadi penyumbang spesimen sebagai bahan penelitian, sementara Suefuji menjadi ilmuan yang melakukan penelitian lebih lanjut. Tak jarang harus membedah genital kupu-kupu untuk mengetahui strukturnya lebih detail. Menjadi bahan pembanding dengan spesies lainnya.
Saya juga sempat menelusuri profil peneliti negeri matahari ini. Ternyata ia sudah beberapa kali menemukan spesies dan sub spesies baru, terutama kupu-kupu yang berada di Sulawesi. Terakhir pada bulan Desember 2025, berhasil mendiskripsikan dua spesies baru dari famili Hesperiidae di Sulawesi:
Prusiana shiranuhi dan
Prusiana iphicles.
Pada beberapa publikasi
new species atau sub spesies ia berkolaborasi dengan peneliti kupu-kupu tanah air, Prof. Djuninanti Peggie. Termasuk pada temuan
Deramas jasmini, Suefuji menggandeng Prof. Peggie sebagai penulis ketiga. Sementara penulis kedua adalah Ken-Ichi Odagiri, Peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya, Universitas Kyushu, Jepang. Mereka berkolaborasi lintas negara untuk mendeskripsikan secara detail letak perbedaan dengan spesies lainnya sehingga layak menjadi spesies baru.
Penemuan spesies baru tidaklah mudah. Mengingat hampir seratus persen biodiversitas kita telah dideskripsikan mulai dari zaman penjajahan hingga kini. Meski begitu, peluang temuan baru masih terbuka. Tentunya dengan kerja keras yang ekstra.
Apa perbedaan mencolok dengan spesies lain?
Deramas jasmini adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan saudaranya dari genus ini. Lebar rentang sayap depan dari betina spesies baru ini sebesar 1,9 cm. Sebagai pembanding, peneliti menyandingkannya dengan betina dari
Deramas anyx dan
Deramas nelvis dari Semenanjung Malaya, di mana keduanya memiliki ukuran hanya berkisar 1,75 cm.
Sementara itu bercak biru pada sayap atas kurang berkembang dengan baik serta tidak memiliki kilau metalik yang kuat. Hal ini nampak terlihat jelas pada sayap belakang baik jantan maupun betina dari spesies baru ini.
Secara morfologi spesies baru ini mirip dengan
Deramas evelynae yang dijumpai Filipina. Ukuran sayap depan dari betina spesies ini sebesar 1,65 cm. Secara umum, ukuran betina lebih besar daripada jantan. Kemampuan terbang dengan membawa jantan saat kawin bisa jadi sebab utamanya.
Bintik biru di atas sayap
D. jasmini cenderung lebih keputihan baik jantan maupun betina. Sebaliknya
D. evelynae menunjukkan
Dimorfisme Sexual, memiliki perbedaan mencolok antara jantan dan betina. Pada betina spesies ini memiliki bintik pada sayap atas berwarna ungu, sementara sang jantan lebih kehijauan.
Lebih jauh artikel jurnal terbitan J-Star pada Agustus 2025 ini memberi data tambahan tentang perbedaan alat kelamin jantan spesies baru dengan dengan spesies lainnya dengan kombinasi 4 karakteristik utama: tegumen memiliki telinga bulat jika dilihat dari sisi lateral; ampura dan harpe valva melengkung di bagian tengah dan memanjang ke posterior dengan telinga membulat di ujungnya; sisi vetral ampura tidak memiliki gerigi; dan aedeagus asimetris, dengan tonjolan berbentuk kunci pas di ujung belakang sisi kiri.
Menurut para penelitinya, fakta bahwa proyeksi kunci pas ini umumnya terdapat pada lima spesies Deramas dari Sulawesi, termasuk spesies baru ini. Hal tersebut menarik karena menunjukkan bahwa mereka membentuk kelompok monofiletik atau satu garis keturunan dan kemungkinan telah berevolusi dari satu spesies leluhur di Sulawesi.
Temuan ini menambah daftar panjang kupu-kupu tanah air. Menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati bangsa ini begitu kaya. Semoga temuan ini bisa menjadi pemicu khalayak untuk terus semangat blusukan, mengeksplorasi, dan meneliti lebih jauh keragaman hayati nusantara.
Dan kita berharap bersama agar peneliti tanah air kelak menjadi
leader dalam setiap penelitian yang memanfaat biodiversitas tanah air.
Sumber: Taufiq Ismail - Pengendali Ekosistem Hutan Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Daftar pustaka
Suefuji, S., Odgri, K.I., & Peggie, D. (2025). A new species of the genus Deramas Distant from southern Sulawesi, Indonesia (Lepidoptera, Lycanidae). Lepidoptera Science, 76(3), 93-96.
Vane-Wright, R. I., & de Jong, R. (2003). The Butterflies of Sulawesi: annoted checklist for a critical island fauna. Zoologiche Verhandelingen, 343, 3-267
Suefuji, S., Fan, X., Peggie, D. & Chiba, H. (2025) Two new species of the genus Prusiana Evans from south and southeast Sulawesi, Indonesia (Lepidoptera, Hesperiidae, Hesperiinae, Baorini). Zootaxa, 5737 (4), 581–589.
https://doi.org/10.11646/zootaxa.5737.4.8