Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Ditegur Dua Kali, Medan Zoo Berbenah

Medan, 19 Mei 2022. Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan Kota Medan merupakan salah satu lembaga konservasi yang berada di Sumatera Utara dengan nama brand Medan Zoo, dan mendapat ijin lembaga konservasi sebagai Taman Satwa sesuai SK. Menhut No. 124/Menhut-II/2010 tanggal 18 Maret 2010. Dalam pengelolaannya selama ini Medan Zoo sering mendapat sorotan dari pemerhati satwa liar karena pengelolaannya tidak memenuhi unsur animal welfare yang ditandai dengan adanya kandang sempit dan kotor, diduga ada satwa-satwa yang kelaparan, banyaknya kematian satwa, tidak adanya pengayaan kandang, dan lain-lain. Untuk itu Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah memberikan teguran sebanyak 2 kali agar pengelolaan Medan Zoo sesuai peraturan dan animal welfare. Selanjutnya hasil diskusi Balai Besar KSDA Sumut bersama dengan Direksi Medan Zoo disepakati perlu dilakukan pembenahan menyeluruh, meliputi administrasi, sarana prasarana, sumber daya manusia (SDM), serta animal welfare. Untuk merealisasikan pembenahan tersebut, sangat diperlukan adanya investor yang dijalin Kerja Sama Operasi (KSO). Tindak lanjut dari diskusi dan masukan-masukan yang diberikan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pihak Pemko Medan melalui Walikota Bobby Nasution dan pengelola Medan Zoo kemudian mengundang RAN Entertainment yang dipimpin Raffi Ahmad yang nantinya akan bertindak sebagai investor di Medan Zoo melalui mekanisme KSO, pada Selasa 17 Mei 2022. RAN Entertainment secara bertahap akan melakukan peremajaan kandang-kandang satwa, melakukan pengayaan isi kandang, melaksanakan animal welfare, penambahan koleksi satwa liar, pengembangan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) sebagai icon Medan Zoo karena keberhasilan dalam pengembangbiakkan satwa ini, yang ditargetkan akan selesai dalam waktu 2 tahun. Selain itu, direncanakan pula akan berkolaborasi dengan salah satu kebun binatang di Jepang dengan mekanisme sister zoo sesuai peraturan yang berlaku. Plt. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Ir. Irzal Azhar, M.Si., disela-sela peninjauan bersama Walikota Medan, Bobby Nasution dan Raffi Ahmad, mengharapkan kedepannya pengelolaan Medan Zoo akan semakin baik, tidak ada satwa yang terlantar lagi, jumlah kematian satwa akan semakin berkurang, meningkatnya pengunjung, dan pada akhirnya akan memenuhi fungsi sebagai lembaga konservasi untuk tujuan konservasi, pendidikan sekaligus untuk berekreasi. Sumber : Evansus Renandi Manalu - Analis Data Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Riau Bersama Mitra Pantau Pergerakan Satwa Gajah

Pekanbaru, 18 Mei 2022 - Mitigasi konflik satwa liar gajah sumatera terus dilakukan Tim Balai Besar KSDA Riau. Seperti yang terjadi pada Rabu, 11 Mei 2022 di Desa Teluk Sungkai, Kec. Kuala Cenaku, Kab. Inhu, kemudian pada Jum'at dan Sabtu, 13 s/d 14 Mei 2022 di Desa Rawa Asri dan Senin, 16 Mei 2022 di Desa Rawa Asri dan Desa Rawa Sekip, Kec. Kuala Cenaku, Kab. Inhu. Tim Resort Kerumutan Selatan bersama Staf Kesbang Pol Kab. Inhu, petugas Satpol PP Kec. Kuala Cenaku, Bhabinkamtibmas Desa Rawa Asri, Kadus Desa Teluk Sungkai, serta Sekdes Rawa Asri melakukan koordinasi untuk penjagaan, pemantauan pergerakan dan pengecekan gajah sumatera. Banyak keluhan masyarakat terkait keberadaan satwa yang telah +/- 1,5 bulan bertahan di lokasi Sei Jari-jari dan Sei Batang Cenaku sehingga tanaman yang berada di kebun masyarakat sekitarnya habis dimakan. Pengecekan juga dilakukan pada tanaman masyarakat yang dirusak dan dimakan satwa gajah sumatera, karena ditemukan sisa makanan berupa pohon sawit, pohon pisang dan singkong yang dimakan satwa. Penyusuran di pinggiran sungai Batang Cenaku dan sungai Jari-jari juga dilakukan dengan menggunakan dua perahu motor untuk memantau pergerakan dan mencari keberadaan satwa tersebut, namun nihil. Tim hanya menemukan jejak-jejak dan kotoran satwa di pinggiran pantai Sei batang Cenaku dan Sei Jari-jari. Menurut keterangan masyarakat, hampir setiap sore satwa gajah turun mandi di sungai Batang Cenaku yang merupakan habitat buaya muara. Untuk mengetahui kondisi lapangan yang akurat harus menggunakan drone karena lokasi keberadaan satwa masih berlumpur dan dipenuhi oleh semak belukar serta kebun sawit masyarakat yang sudah menjadi hutan belukar, sehingga sulit bagi Tim untuk melakukan pemantauan dengan berjalan kaki masuk ke dalam lokasi tersebut. Tim Balai Besar KSDA Riau akan segera merelokasi gajah tersebut ke habitatnya yang jauh dari pemukiman penduduk. [Teks : DI, Foto : Humas BBKSDARIAU | 052022] Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Kick off dan Prototyping Modul Sustainable Tourism Development

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 13 Mei 2022. Balai Taman Nasional Komodo mengikuti rangkaian Bimbingan Teknis Sustainable Tourism Development 2022 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Hotel Bintang Flores Labuan Bajo selama dua hari mulai tanggal 12 – 13 Mei 2022. Bimbingan teknis yang diselenggarakan secara hybrid ini diinisiasi Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf yang diikuti hampir 400 individu dari berbagai aparatur sipil negara lingkup kementerian dan lembaga negara lainnya serta lingkup organisasi perangkat daerah, akademisi, pelaku usaha wisata, pengelola destinasi wisata, dan pelajar dari berbagai latar belakang pendidikan dan lokus yang berbeda di Indonesia. ‘Kick off dan Prototyping Modul Sustainable Tourism Development’ menjadi tema Bimbingan Teknis Sustainable Tourism Development 2022 dengan 11 modul teknis yang disampaikan sebagai materi utama, diantaranya: (1) Pengelolaan Rantai Pasok, (2) Carrying Capacity, Limit of Acceptable Change, dan Environmental Impact Assessment, (3) Pengukuran dan Penanganan Manajemen Risiko Terhadap Pengelolaan Kapal Wisata, (4) Perencanaan dan Desain Sepadan Pantai, Bangunan, dan Tata Ruang, (5) Visitor Management, (6) Sumber Daya Manusia Setempat dan UMKM: Professional, Unggul, dan Berjiwa Wirausaha, (7) Water Management, (8) Hospitality and Service Management: Layanan Profesional dan Teknik Komunikasi, (9) Pengelolaan Regenerative Tourism & Penerapan Ekonomi Sirkular Pariwisata: Sampah, Limbah, dan Inisiatif Carbon Footprint Calculation & Offsetting, (10) Promosi dan Pemasaran Digital yang Bertanggungjawab, dan (11) Pengembangan Wisata Kuliner/Gastronomy Lokal/Sustainable Gastronomy. Kesebelas modul teknis tersebut dibawakan oleh narasumber diantaranya David Makes (CEO Sustainable Management Group), Prof Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D. (Guru Besar Fakulas MIPA Universitas Indonesia; Co-Chair United Nations Sustainable Development Solution Network for Indonesia), Prof. Dr. Ir. Winda Mercedes Mingkid, M.Mar.Sc. (Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi), Prof. M. Baiquni (Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada), Dr. Frans Teguh, M.A. (Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan), Prof. Dr. Diena M. Lemy, A.Par., M.M., CHE. (Guru Besar Fakultas Pariwisata Universitas Pelita Harapan), Akhmad Saufi, S.E., M.Bus., Ph.D. (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram), dan Dr. Amelda Pramezwary, A.Par., M.M. (Kepala Prodi Manajemen Perhotelan Universitas Pelita Harapan). Bimbingan teknis ini sangat komprehensif dan rangkaiannya dipandu oleh Muhammad Ikbal Putera,S.Hut., M.S. (Duta Wisata Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015) dan juga seorang moderator dari Sekretariat Indonesia Tourism Council (ISTC): Anastasia Manuella, S.H., M.ISTM. Kepala Balai Taman Nasional Komodo menugaskan Urbanus Sius (Kepala SPTN Wilayah III), Naoma Yunita Banamtuan (Polisi Kehutanan Mahir), Maria Rosdalima Panggur (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama), dan Yovi Septia (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) untuk mengikuti rangkaian bimbingan teknis. Dalam beberapa kesempatan, perwakilan Balai Taman Nasional Komodo turut menyampaikan gagasan dan pertanyaan kepada para narasumber terkait dengan kondisi terkini pengelolaan Taman Nasional Komodo. Beberapa topik yang menjadi perhatian utama adalah implementasi Tourism Carrying Capacity dan permasalahan pengelolaan sampah di dalam dan sekitar kawasan Taman Nasional Komodo. Para peserta diminta untuk membuat komitmen dan rencana aksi pembangunan/pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo pada hari kedua pelatihan. Peserta luring kemudian dibagi ke dalam dua kelompok besar dan mengambil topik perhatian utama untuk didiskusikan lebih lanjut. Hasil sementara komitmen dan rencana aksi tersebut kemudian mendapatkan umpan balik dari Dr. Frans Teguh, M.A. dan Prof. Dr. Diena M. Lemy, A. Par., M.M., CHE. untuk kembali disempurnakan. Masih banyak bidang terkait dengan pariwisata berkelanjutan di dalam kawasan Taman Nasional Komodo yang perlu disempurnakan. Urbanus Sius dan pelaksana tugas lainnya merasa bahwa informasi dari setiap modul teknis yang diberikan sangat bermanfaat bagi pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo dan memicu lahirnya gagasan-gagasan baru yang dapat diimplementasikan ke depannya. Adapun materi pelatihan dapat diunduh melalui tautan berikut: Hari Ke-1 https://motce.id/bimtekstdev-h1 dan Hari Ke-2 https://motce.id/bimtekstdev-h2. Acara ini ditutup dengan penyerahan sertifikat secara simbolis oleh Sekretaris Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan (Adella Raung, S.E.) yang diberikan kepada peserta paling aktif dimana salah satu diantaranya adalah Urbanus Sius (Kepala SPTN Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo). Bimbingan Teknis Sustainable Tourism Development 2022 ini tidak cukup panjang untuk membekali para pengelola destinasi wisata alam di Labuan Bajo. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar kedepannya dapat juga diselenggarakan kegiatan Training of Trainers (ToT) guna membahas lebih dalam setiap modul teknis memadukannya dengan berbagai pengalaman lapangan. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Uji Coba Penggunaan Drone Dalam Mendukung Pengelolaan Kawasan Konservasi

Batam, Mei 2022. Penggunaan drone saat ini mendukung pengelolaan data dan informasi kelola kawasan konservasi, Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi (RenKK) mengambil kesempatan tersebut untuk melaksanakan kegiatan penyusunan data spasial potensi dan permasalahan kawasan Taman Buru Pulau Rempang di Batam, Kepulauan Riau. Kegiatan yang dilakukan pada tanggal 1 s.d 4 Maret 2022 berhasil mengumpulkan informasi dan data penggunaan drone yang mendukung pengelolaan kawasan konservasi dengan diskusi permasalahan penggunaan drone serta melakukan uji coba penggunaan drone. Tahap awal kegiatan dilakukan Tim Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi dengan persiapan dan perencanaan serta berdiskusi dengan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Batam Balai Besar KSDA Riau untuk menyusun mission plan menggunakan Drone Deploy (www.dronedeploy.com). Tim Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi melakukan uji coba penggunaan drone didampingi pilot drone dari personil Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah Batam Balai Besar KSDA Riau. Uji coba penerbangan drone dilaksanakan dengan beberapa kali penerbangan, beberapa ketinggian dan coverage, juga pengambilan foto drone. Dari hasil pengambilan foto drone, 86 image berhasil dikumpulkan yang selanjutnya diolah menggunakan Agisoft Metashape. Direktorat RenKK juga berkoordinasi dengan Pangkalan TNI Angkatan Udara Hang Nadim atau (Bandar Udara Hang Nadim) dan diperoleh data sekunder berupa data foto drone seluas 17 hectare dengan menggunakan MAVIC 2 PRO di Taman Buru Pulau Rempang, sehingga dapat menjadi bahan perbandingan dan diskusi lebih lanjut. Sumber : Mugiharto HP - PEH Muda dan Budi Susetya -PEH Pertama Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Meninjau Lokasi Abrasi Terindikasi Tumpang Tindih Lahan

Bengkulu, April 2022. Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi (RenKK) melakukan peninjauan lapangan ke lokasi abrasi yang terindikasi tumpang tindih lahan antara Hak Pengelolaan (HPL) PT. Pelindo (Persero) Regional 2 Bengkulu dan Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang Pulau Baai (12/4). Melalui peninjauan ini diharapkan menghasilkan solusi dalam penanganan permasalahan kawasan di TWA Pantai Panjang Pulau Baai. Sebelumnya, rapat pembahasan digelar di kantor Balai KSDA Bengkulu sebagai tindak lanjut penanganan permasalahan abrasi di areal tumpang tindih lahan antara Hak Pengelolaan (HPL) PT. Pelabuhan Indonesia (PT. Pelindo) (Persero) Regional 2 Bengkulu dengan TWA Pantai Panjang Pulau Baai, BKSDA Bengkulu. Lokasi abrasi yang terindikasi tumpang tindih lahan merupakan lokasi yang direncanakan untuk ditimbun karena merupakan perairan, ternyata dulunya adalah daratan dan berada di sekitar dermaga sandar kapal minyak Pertamina. Pipa minyak Pertamina yang berada di lokasi yang ditinjau juga terlihat di permukaan pasir. Peninjauan ini diikuti oleh perwakilan Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi, Direktorat Bina Pengelolaan dan Pemulihan Ekosistem, Balai KSDA Bengkulu, Kanwil BPN Prov. Bengkulu, Dinas Perhubungan Provinsi Bengkulu, PT. Pelindo Regional 2 Bengkulu, KSOP Pulau Baai dan Wakil Ketua 11 DPRD Provinsi Bengkulu. Hasil peninjauan lokasi kemudian dilanjutkan dengan rapat pembahasan yang dipimpin oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu dan dihadiri Kepala Sub Direktorat lnventarisasi dan Pemolaan Kawasan Konservasi Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi, Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera, Kepala Bidang Pelayaran Dinas Perhubungan Provinsi Bengkulu, General Manager PT. Pelindo (Persero) Regional 2 Bengkulu, Kepala Syahbandar Otoritas Pelabuhan Pulau Baai di Bengkulu, Kepala Bidang Survei dan Pemetaan Kanwil BPN Provinsi Bengkulu, Perwakilan Balai KSDA Bengkulu, Perwakilan Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XX Bandar Lampung, Perwakilan Kantor Badan Pertanahan Nasional Kota Bengkulu, Perwakilan dari Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi, Perwakilan dari Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensi, dan Staf Subdit lnventarisasi dan Pemolaan Kawasan Konservasi Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi. Sumber : Mugiharto HP - PEH Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Lima Rekomendasi Revisi Peraturan Penataan Zona Blok

Bogor, 28 April 2022. Revisi Peraturan Menteri LHK Nomor P.76/Menlhk-Setjen/2015 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan digelar secara hybrid di kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dan virtual meeting pada tanggal 7 April 2022 silam. Rapat yang dibuka Kepala Subdit IPKK Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi juga dihadiri Kepala Balai TNGC, Kepala Subdit PJLWA, Perwakilan Sekditjen KSDAE, Perwakilan Direktorat PJLKK, Perwakilan Direktorat KKH, Perwakilan Direktorat PKK, Perwakilan BPPE, Pejabat Fungsional Direktorat RKK, dan Pejabat Fungsional Balai TNGC. Gelaran rapat kali ini membahas permasalahan pada Peraturan Menteri LHK Nomor P.76/MenLHK–Setjen/2015 dan diskusi terkait pemafaatan jasa lingkungan di zona/blok pengelolaan kawasan konservasi. Sempat dibahas pula permasalahan Penetapan Wilayah Kerja Panas Bumi yang dikeluarkan Kementerian ESDM, yang tersebar luas di kawasan konservasi selain pada zona/blok pemanfaatan, sedangkan berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.76/MenLHK–Setjen/2015 harus berada di zona/blok pemanfaatan. Penetapan wilayah kerja panas bumi atau daerah prospek Kementerian ESDM seharusnya selalu berkoordinasi dengan pemangku kepentingan daerah atau dengan Kementerian LHK, sehingga akan menjadi bahan pertimbangan pada saat penyusunan zona/blok. Berdasarkan aturan perundang - undangan yang ada, dalam konteks ekplorasi dan eksploitasi hanya boleh dilakukan di zona/blok pemanfaatan, sehingga ketika rencana ekplorasi dan eksploitasi tidak sesuai pada zona blok pemanfaatan harus dilakukan perubahan sesuai aturan. Beberapa daerah yang mempunyai prospek panas bumi dari Kementerian ESDM menjadi bahan pertimbangan untuk dijadikan ruang pemanfaatan melalui proses revisi zona/blok dan dimatchingkan juga dengan data inventarisasi data potensi kehati kawasan tersebut Saat ini sedang disusun draft Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tematik terkait pemanfaatan jasa lingkungan yang mengacu kepada PermenLHK N0 4 Tahun 2019 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas Bumi. Berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 3 tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemanfaatan air dan wisata alam di kawasan konservasi telah diatur dan perlu menjadi pertimbangan dalam revisi Peraturan Menteri LHK Nomor P.76/MenLHK–Setjen/2015. Berikut beberapa hasil rekomendasinya : Sumber : Mugiharto HP, S.Hut, M.Si - PEH MUDA, Ety Ambarwati, S.Hut. - PEH MUDA, Taufik Syamsudin, S.Hut. - PEH PERTAMA (Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi)
Baca Artikel

Sebelas Arahan Khusus Perencanaan Kawasan Konservasi

Bogor, 27 April 2022. Beberapa Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi (RKK) yang ingin dicapai, perlu dilakukan dengan upaya pencapaian output/IKK melalui tahapan-tahapan kegiatan. IKK tersebut antara lain (1) Luas kawasan hutan yang diinventarisasi dan diverifikasi dengan nilai keanekaragaman tinggi (27 Juta Hektar); (2) Jumlah unit kawasan konservasi yang dilakukan pemolaan, penataan dan perencanaan (150 Unit KK); (3) Jumlah kerja sama penguatan fungsi dan pembangunan strategis pada kawasan konservasi (100 PKS). Untuk optimalisasi pencapaian IKK tersebut, Direktorat RKK menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Tematik guna menjaring informasi dan menyamakan persepsi perencanaan kawasan konservasi pada tangga 17 Maret 2022 silam secara hybrid, dimana pengisi acara dan panitia hadir secara luring di Sahira Butik Hotel Pakuan dan peserta hadir secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Rapat Koordinasi ini juga menjadi ruang komunikasi antara pusat dengan UPT dalam menyampaikan strategi, target kinerja, dan aspek teknis lainnya. Adapun yang dibahas antara lain (1) Komponen dan strategi dalam pencapaian target; (2) NSPK; (3) Metode pengukuran kinerja; (4) Pengelolaan data dukung capaian kinerja; (5) Target per UPT; dan (6) Dukungan anggaran. Output dari rakor tematik ini menghasilkan rumusan berupa arahan khusus yang diberikan kepada UPT sebagai strategi pencapaian IKK. Rumusan tersebut disusun Tim Perumus dengan anggota Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, Kepala Balai TN Gunung Halimun Salak, Kepala Balai TN Gunung Rinjang, Kasubdit Inventarisasi dan Pemolaan Kawasan Konservasi, Kasubdit Penguatan Fungsi dan Pembangunan Strategis Kawasan Konservasi, serta PEH Madya lingkup Direktorat RKK. Arahan khusus tersebut yaitu : Hasil rumusan semoga selaras dengan tujuan bersama dalam kegiatan perencanaan kawasan konservasi untuk tersedianya bahan masukan volume dan lokasi target IKK/Rincian Output (RO) tahun 2023 dan tersedianya arahan strategi pencapaian IKK. Sumber : Mugiharto HP - PEH Muda Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Dukungan Kemitraan Konservasi Untuk Masyarakat Sekitar TN GGP

Bogor, 28 April 2022. Menjelang mudik lebaran, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan 2 (dua) Kelompok Tani Hutan (KTH) di Wilayah Bogor yaitu KTH Ciaul Maju Bersama dan KTH Putra Batong Pangrango pada Kamis (28/4/22) di Kantor Bidang PTN Wilayah III Bogor. Kedua KTH ini kelompok masyarakat lokal yang berasal dan berdomisili di sekitar kawasan hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Penandatanganan PKS ini guna penguatan tata kelola kawasan dan dukungan terhadap perlindungan, pengawetan serta pemanfaatan secara lestari keanekaragaman hayati TNGGP melalui pemberian akses pemungutan hasil hutan bukan kayu dan budidaya pada zona tradisional TNGGP, juga dapat meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. KTH Ciaul Maju Bersama dibentuk dan ditetapkan sebagai Kelompok Tani Hutan (KTH) berdasarkan Keputusan Kepala Desa Cibedug Nomor: 141/07/03/KPTS/2016 tanggal 7 Maret 2016 Tentang Pengukuhan Kelompok Tani Ciaul Maju Bersama, Desa Cibedug, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Sedangkan KTH Putra Batong Pangrango dibentuk dan ditetapkan sebagai Kelompok Tani Hutan (KTH) berdasarkan Keputusan Kepala Desa Tangkil Nomor: 16 Tahun 2021 Tentang Penetapan Kelompok Tani Hutan (KTH) Putra Batong Pangrango Desa Tangkil Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. KTH Ciaul Maju Bersama, melalui surat nomor : 04/CMB/XII/2021 tanggal 31 Desember 2021 telah menyampaikan usulan kemitraan konservasi pada Blok Cinakimun Resort PTN Tapos Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang PTN Wilayah III Bogor kepada Kepala BBTNGGP. Kemudian menyusul, pada tanggal 11 Januari 2022 KTH Putra Batong Pangrango melalui surat nomor : 001/ O/ /KTH/2022 juga telah menyampaikan usulan kemitraan konservasi pada Zona Tradisional Blok Citaman, Resort PTN Cimande, Seksi PTN Wilayah V Bodogol Bidang PTN Wilayah III Bogor, kepada Kepala BBTNGGP. Bidang PTN Wilayah III Bogor telah melakukan penilaian/verifikasi terhadap permohonan KTH Ciaul Maju Bersama sesuai Nota Dinas Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor Nomor: ND. 33/BBTNGGP/Wil.3/1/2022 tanggal 17 Januari 2022 dan terhadap permohonan KTH Putra Batong Pangrango sesuai Nota Dinas Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor Nomor: ND. 69/BBTNGGP/Wil.3/1/2022 tanggal 4 Februari 2022. Selain itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem juga telah memberikan persetujuan dan arahan kemitraan konservasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat melalui Pemberian Akses Berupa Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu Dan Budidaya kepada KTH Ciaul Maju Bersama pada Blok Cinakimun Resort PTN Tapos Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang PTN Wilayah III Bogor BBTNGGP Melalui Surat Nomor : S.456/KSDAE/PKK/K.SET.I/4/2022 tanggal 21 April 2022. Serta kepada KTH Putra Batong Pangrango pada Zona Tradisional Blok Citaman, Resort PTN Cimande, Seksi PTN Wilayah V Bodogol Bidang PTN Wilayah III Bogor BBTNGGP melalui Surat Nomor : S.456/KSDAE/PKK/K.SET.I/4/2022 tanggal 21 April 2022. Sumber : Sisca Widiya Afiyanti – Penyuluh Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Dok : Wanna Gustadipura
Baca Artikel

Komitmen Untuk PeningkatanPerlindungan Wisata Alam di TNGGP

Cibodas, 27 April 2022. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) bersama PT. Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait Jasa Asuransi Pengunjung Wisata dan Pengembangan Wisata Alam di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Penandatanganan yang dilakukan di kantor BBTNGGP bertujuan untuk meningkatkan pelayanan, keselamatan dan perlindungan Asuransi Jiwa bagi Petugas dan Pengunjung Wisata serta melakukan pengembangan wisata alam di TNGGP. PT. Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha merupakan lembaga di bidang asuransi jiwa dengan prinsip syariah yang mengikuti bidding (lelang) atau beauty contest yang diselenggarakan oleh Panitia Pemilihan Penyedia Jasa Asuransi Pengunjung Wisata Alam di TNGGP pada tanggal 30 Desember 2021. Pemenang bidding (lelang) diumumkan melalui laman www.gedepangrango.org dan http://ksdae.menlhk.go.id/info/10103/pemilihan-penyelenggara-asuransi-jiwa-pengunjung.html, yaitu PT. Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Kepala BBTNGGP Nomor: : SK. 527/BBTNGGP/TU.1/12/2021 tentang Penetapan Pemenang Beauty Contes, Pemilihan Mitra Kerjasama Jasa Asuransi Pengunjung Wisata Alam Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Melalui kerja sama ini PT. Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha berkomitmen untuk dapat memfasilitasi kepentingan Asuransi Jiwa bagi pengunjung Taman Nasional Gunung Gede Pangrango secara profesional dalam bidangnya. Sumber : Sisca Widiya A - Penyuluh Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Dok : Wanna Gustadipura
Baca Artikel

Situgunung Berbagi

Situgunung, 24 April 2022 – Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh keberkahan, hal ini dirasakan juga khususnya oleh warga Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Sebanyak 150 anak yatim dan lansia mendapatkan santunan berupa uang tunai pada acara yang diadakan di Pusat Informasi atau Tourist Information Center (TIC) Situgunung, Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) PTN Situgunung, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP). Kegiatan amal ini merupakan bentuk kepedulian mitra BBTNGGP, dalam hal ini PT. Fonis Aquam Vivam (PT. FAV), kepada masyarakat yang berada di sekitar wilayah Resort PTN Situgunung. Pada kesempatan ini, perwakilan PT. FAV menyampaikan bahwa ini bentuk kepedulian PT. FAV kepada masyarakat yang berada di sekitar areal usaha PT. FAV. Fokus pemberian santunan kali ini adalah kepada anak yatim dan para lansia. Plt. Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi – TNGGP yang diwakili oleh Kepala Resort PTN Situgunung juga menyampaikan apresiasi kepada mitra sebagai donatur kegiatan amal ini. “Kami sangat mengapresiasi mitra yang telah menginisiasi kegiatan amal ini khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan di sekitar wilayah kerja Resort PTN Situgunung. Kiranya acara ini dapat menjadi acara rutin yang dapat dilaksanakan setiap tahunya” kata Kepala Resort PTN Situgunung. Kegiatan amal yang difasilitasi oleh Resort PTN Situgunung ini dihadiri perwakilan dari PT. FAV, jajaran Muspika Kecamatan Kadudampit, Camat Kadudampit yang diwakili oleh Sekretaris Camat Kadudampit, Kapolsek Kadudampit, serta Danramil Cisaat. Selain untuk menjalin silaturahmi, momen ini juga dimanfaatkan untuk memberikan himbauan khususnya kepada masyarakat sekitar Resort PTN Situgunung agar tetap menjaga lingkungan dan dapat bersama-sama membangun konservasi. Semoga kegiatan ini dapat menjadi keberkahan bagi donatur dan juga para undangan yang hadir pada acara ini, serta dapat lebih mempererat tali siraturahmi antara petugas, mitra, dan juga masyarakat sekitar Resort PTN Situgunung. Alam terjaga, Masyarakat sejahtera. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Penulis : Ika Novianti, A.Md – PEH Terampil Dokumentasi : Resort PTN Situgunung
Baca Artikel

Balai TN Tesso Nilo Kawal dan Bantu Masyarakat Usaha Pelestarian Kawasan

Pelalawan, 26 April 2022. Kantor Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dikunjungi masyarakat sekitar kawasan TNTN, Selasa (26/4). Kunjungan ini diterima dan disambut langsung oleh Kepala Balai TN Tesso Nilo Bapak Heru Sutmantoro, S.Hut, M.M Dalam kunjungan ini masyarakat berdiskusi terkait pengelolaan kawasan konservasi, khususnya kawasan Taman Nasional Tesso Nilo Kepala Balai memberikan apresiasi terhadap kunjungan ini dan Balai TNTN siap menerima diskusi dan pelaporan masyarakat yang mau membantu dan mengawal usaha pelestarian kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Jelang Libur Lebaran, Balai TN Tesso Nilo Siap Tingkatkan Pelayanan & Kewaspadaan

Lubuk Kembang Bunga, 25 April 2022 – Guna memantapkan kesiapan menghadapi cuti bersama lebaran Idul Fitri Tahun 2022, Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Bapak Heru Sutmantoro, S.Hut, M.M, melakukan pengecekan dan pendampingan petugas di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah I Lubuk Kembang Bunga (LKB). Dalam kunjungannya, Kepala Balai mengumpulkan semua petugas SPTN Wilayah I LKB untuk memberikan pengarahan secara langsung. Pendampingan diikuti oleh Polhut, Brigdalkarhut, dan Flying Squad Team TN Tesso Nilo. Kepala Balai mengingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas ilegal kawasan seperti perambahan, ilegal logging, kebakaran dan perburuan satwa liar. Selain itu, Kepala Balai juga menekankan kepada petugas untuk lebih memperhatikan aktivitas pengunjung wisata alam di Flying Squad TN Tesso Nilo, dimana telah dilakukan reaktivasi ekowisata sejak 16 April 2022 silam. “Protokol kesehatan harus tetap diterapkan dan menjaga keamanan, keselamatan dan kenyamanan pengunjung”, tutup Kepala Balai. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Pesona Wisata Curug Cibogo

Cibodas, 22 April 2022. Ada yang pernah dengar atau tahu nama Curug Cibogo? Kata curug itu berasal dari dari bahasa sunda yang artinya air terjun, sedangkan Cibogo itu adalah nama tempatnya. Curug Cibogo berada di wilayah administratif kecamatan Cisarua Bogor Jawa Barat, di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Jarak menuju Curug Cibogo dari exit tol Gadog Bogor adalah ± 20 KM, sedangkan akses jalannya sudah di aspal, sebagian jalan cor dan ± 200 meter jalan makadam. Dengan kondisi akses jalan tersebut, bisa menggunakan kendaraan roda 2 atau roda 4, tapi ke lokasi ini tidak ada kendaraan umum ya gaesss. Berada pada ketinggian ±1200 mdpl, kawasan ini memiliki udara yang sejuk dan sangat menyegarkan kulit. Di sekitar lokasi pintu masuk wisata Curug Cibogo pengunjung akan dimanjakan dengan hamparan kebun teh yang menyejukan mata. Untuk menuju air terjun kita akan berjalan sejauh ± 250 meter melalui jalan setapak yang tertata rapih dan bersih, lebih jauh, kita akan masuk ke dalam hutan hujan tropis dengan beraneka ragam jenis tumbuhan, disini kita dapat menikmati suara khas alam, kicauan burung, gemericik air, dan suara serangga. Jauh dari kebisingan dan udara yang bebas polusi bisa menjadi tempat terapi (healing forest). Healing forest atau terapi hutan tengah menjadi tren dunia sebagai cara baru memulihkan stres, baik fisik maupun mental. Dalam penelitian Matther P. White yang dipublikasikan jurnal Scientific Report volume 9 edisi 12 Juni 2019 terbukti bahwa tegakan pohon, ekosistem hutan, dan alam terbuka bisa memulihkan kesehatan fisik dan mental. Penelitian White mempopulerkan istilah “forest bathing” yang diserap dari istilah Jepang “shinrin-yoku”. Istilah ini dikenalkan oleh Qing Li, Presiden Kelompok Pengobatan dari Hutan di Tokyo, dalam bukunya “Shinrin-Yoku: The Art and Science of Forest Bathing. Menurut dia berjalan di bawah hutan dan menjumpai kehijauan alam adalah faktor penting dalam memerangi penyakit di tubuh dan pikiran. Di era Pandemi Covid-19 kita harus memiliki daya tahan tubuh yang kuat agar terhindar dari paparan virus ini. Setelah menikmati sensasi berada di bawah tegakan hutan dan menyusuri jalan melalui tepian sungai yang berbatu berair jernih kita tiba di lokasi Curug Cibogo. Curug ini memiliki ketinggian ± 17 meter dan di bawahnya terdapat kolam yang dapat digunakan bagi sobat petualang untuk berendam merasakan sejuknya air jatuhan dari air terjun tersebut. Selain jatuhan air dari air terjun kita juga dapat melihat jatuhan air dari rembasan air yang keluar dari bebatuan di tebing sekitar curug. Pemandangan ini menjadi keindahan tersendiri yang dapat kita nikmati. Di lokasi curug, pengelola juga menyediakan bangku dari potongan kayu untuk beristirahat sambil menikmati makanan. Tapi jangan kawatir, bagi yang tidak membawa bekal, sebelum masuk ke areal wisata ada pilihan makanan ringan dan minuman di Kafe Alam. Kafe Alam ini merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh kelompok masyarakat. Selain itu juga terdapat tempat ibadah, MCK dan gazebo untuk tempat beristirahat. Di era pandemi ini tempat wisata alam dijadikan untuk menghilangkan sejenak kejenuhan dari rutinitas sehari-hari. Berwisata ke alam terbuka sepertinya menjadi salah satu pilihan yang menarik. Tapi, jangan lupa ya tetap jaga prokes, kebersihan dan keindahan, hal ini juga demi kenyamanan kita bersama. Buang sampah pada tempat yang sudah disediakan dan jangan melakukan vandalisme. Salam Konservasi. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Ade Frima Nurcahya Intan, S.Hut. Dok : Ayi Rustiadi, S.Si.
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Berikan Edukasi Konservasi pada Mahasiswa ULM

Banjarbaru, 19 April 2022 – Balai KSDA Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “Peran Taman Safari Indonesia dalam Pelestarian Satwa di Indonesia”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa (19/04/2022) secara daring dan luring yang dimoderatori oleh Dr. Abdi Fitria, S.Hut, M.P., Dosen Fakultas Kehutanan ULM. Menurut Dr. H. Kissinger, S.Hut., M.Si. selaku Dekan Fakultas Kehutanan ULM, “Kami mengundang berbagai institusi yang berkaitan dengan konservasi secara insitu maupun exsitu. Taman Safari merupakan salah satu bentuk model pengelolaan bisnis konservasi.” tuturnya dalam sambutan. Pemilik dan Pengelola Taman Safari Indonesia (TSI) Drs. Jansen Manansang, M.Sc., menjadi pembicara dalam kuliah umum ini. Pemaparan bermula dari penjelasan “Who We Are” pengenalan Taman Safari Indonesia yang mengembangkan strategi-strategi untuk konservasi satwa langka di Indonesia. TSI telah mengembangkan penangkaran satwa dilindungi dengan koleksi 300 spesies dan 6000 ekor satwa, dengan bukti keberhasilan 170 kelahiran pada tahun 2020-2021. “Hewan pertama kali dipelihara untuk koleksi raja-raja, suplai pakan, satwa pekerja, tenaga pembantu dalam medan perang atau hiburan. Inilah awal mula zoo eksis”. Ungkap Jansen. Zoo modern mulai dibangun pada abad 19 – ‘Zoological Society of London’ oleh Sir Stamford Raffles pada tahun 1826 dengan tujuan untuk penelitian ilmiah. “Seiring berjalannya waktu, beberapa negara di dunia telah beralih dari zoo konvensional menjadi zoo modern, kemudian berkembang model open zoo-habitat satwa yang terbuka. Sementara ini TSI sudah berkembang lebih dari itu. Kami sudah sampai pada model wildlife park.” Terang Jansen. Lebih lanjut Jansen menjelaskan, “Dengan 4 pilar utama Taman Safari, yaitu konservasi, edukasi, riset, dan rekreasi, TSI bertumbuh dengan paradigma baru sebagai lembaga konservasi untuk pelestarian satwa langka berkelanjutan. Implementasi dari itu semua adalah bahwa TSI berperan sebagai pusat penangkaran satwa liar, sebagai rujukan riset satwa, serta sebagai pusat rehabilitasi satwa liar.” Pada akhir pemaparannya, Jansen menjelaskan keberhasilan Taman Safari dalam penyelamatan beberapa satwa langka seperti Gajah, Harimau Sumatera, Badak, Komodo, Curik Bali, dan banyak satwa lain yang telah berhasil dikembangbiakkan dan direstock ke habitatnya. Pertanyaan-pertanyaan seputar pelestarian satwa, kesejahteraan satwa serta pemberdayaan ekonomi masyarakat yang ditujukan kepada pembicara menandai antusias peserta kuliah umum. Kuliah Umum ditutup oleh Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc selaku Kapala BKSDA Kalsel, yang menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada pihak TSI maupun Fahutan ULM atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk edukasi konservasi pada generasi muda, transfer ilmu langsung dari ahlinya. Selanjutnya tidak menutup kemungkinan bagi ULM untuk menjalin kerja sama dengan TSI untuk riset atau kegiatan lain yang memungkinkan.” Pungkas Mahrus. (ryn) Sumber : Titik Sundari, S.Hut - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Rekonstruksi Rangka Komodo ‘Jesica’ Dan ‘Mr. X’

Labuan Bajo, 18 April 2022. Populasi biawak komodo di Taman Nasional Komodo mengalami dinamika yang berbeda dari waktu ke waktu. Dinamika populasi ini berada pada rentang stabil yang disebabkan oleh adanya faktor mortalitas (kematian) dan natalitas (kelahiran) alami. Sebagai studi kasus, terdapat dua individu komodo yang telah dipantau secara longitudinal yakni: komodo betina bernama ‘Jesica’ (28 tahun) dan komodo jantan bernama ‘Mr. X’ (perkiraan usia antara 26 – 29 tahun). Nama-nama ini diberikan oleh ranger Balai Taman Nasional Komodo guna memudahkan petugas dalam mengamati karakteristik khas dari masing-masing satwa yang tinggal pada wilayah pengelolaan resort-resort tertentu. ‘Jesica’ dan ‘Mr. X’ ditemukan mati alami di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. ‘Jesica’ ditemukan mati akibat faktor usia lanjut pada tanggal 20 Mei 2020 di Resort Loh Buaya, begitupun juga dengan ‘Mr. X’ yang ditemukan mati akibat faktor usia lanjut di Resort Loh Liang tanggal 8 Mei 2021. Komodo dengan usia lanjut biasanya mengalami kemunduran tingkat kesehatan dikarenakan sulit untuk berkompetisi mencari makan jika dibandingkan dengan komodo remaja/dewasa lainnya. Hal ini membuat komodo usia lanjut mengurus dan mengalami defisiensi nutrisi sehingga semakin memperkecil kemampuannya untuk menyergap satwa mangsa. Ranger Balai Taman Nasional Komodo segera mengevakuasi kedua kadaver komodo ‘Jesica’ dan ‘Mr. X’ dengan menguburkannya dalam keadaan utuh di masing-masing resort yang menjadi tempat tinggalnya. Kadaver dibiarkan terdekomposisi secara alami selama lebih dari satu tahun, namun lokasi kuburnya dibuatkan pagar pembatas dan dipantau secara rutin oleh ranger agar tidak diganggu oleh satwa liar lainnya. Kedua kadaver komodo ini kelak akan digunakan sebagai bahan interpretasi pada Pusat Informasi di Resort Loh Buaya Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Tim ranger Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan rekonstruksi rangka kadaver ‘Jesica’ dan ‘Mr. X’ pada tanggal 11 – 30 Maret 2022 di Resort Loh Liang dan Resort Loh Buaya. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan dukungan tenaga ahli rekonstruksi rangka satwa yaitu: Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc. (Dosen Laboratorium Sistematika Hewan, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada) dan F.X. Sugiyo Pranoto, S.Si. (Teknisi Museum Biologi, Universitas Gadjah Mada). Tim ranger yang mengoordinir kegiatan rekonstruksi rangka komodo antara lain Yunias Jackson Benu (PEH Mahir), Novita Yanti Sidabutar (Polhut Ahli Pertama), dan Ayatullah Buathi (Polhut Ahli Pertama) bekerjasama dengan Petrus Cornelius Paulus Laa (PEH Terampil), Muhammad Iqbal Prayogo (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Liang), Marselinus Helmanto (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Buaya), dan beberapa masyarakat Kampung Komodo dan masyarakat Kampung Rinca. Dalam teknis pelaksanaannya, kegiatan ini turut didampingi oleh tim peneliti dari Yayasan Komodo Survival Program yang dalam jadwal bersamaan sedang melakukan pemasangan camera traps pada beberapa titik lokasi di kedua resort tersebut. Tahapan yang dilaksanakan pada kegiatan rekonstruksi rangka yaitu penggalian, pembersihan rangka, pengurutan letak/posisi rangka, dan penyusunan rangka. Penggalian kadaver satwa (ekskavasi) dilakukan selama 1-2 hari pada masing-masing titik kubur. Proses penggalian dan pembersihan kadaver di Resort Loh Liang lebih mudah dibandingkan dengan pekerjaan di Resort Loh Buaya dikarenakan tekstur tanah pada titik kubur di Resort Loh Liang cenderung berpasir. Selanjutnya, tim melakukan pencucian seluruh bagian rangka menggunakan air sabun guna membersihkannya dari tanah, pasir dan sisa lemak yang menempel pada tulang. Setelah dicuci, rangka tersebut dijemur dibawah panas matahari sembari dilakukan pengurutan letak/posisi rangka untuk memudahkan proses rekonstruksi setelahnya. Proses penjemuran dimaksudkan untuk mengeringkan rangka dari sisa air dan sabun untuk meminimalisir munculnya jamur pada rangka. Tahapan penyusunan rangka ‘Jesica’ dan ‘Mr. X’ dimulai dari merekonstruksi tulang rahang bawah, tulang tengkorak, tulang belakang, tulang rusuk, dan ruas tulang belakang. Setelah menyatukan tulang belakang dan tulang rusuk, dilanjutkan dengan penyusunan bagian tungkai depan dan tungkai belakang. Pada saat tim menyusun rangka tulang belakang tepatnya pada bagian ekor komodo ‘Mr. X’, diketahui bahwa 6 – 7 ruas tulang belakang hilang. Hal ini besar kemungkinan disebabkan oleh adanya gangguan satwa liar lain yang menggali titik kubur komodo ‘Mr. X’. Sebagai bentuk aksi pamungkas dalam kegiatan rekonstruksi rangka ini, Tim Balai Taman Nasional Komodo melakukan pemeriksaan tulang pada bagian tengkorak dan pelvis menggunakan alat Computarized Tomography (CT Scan) di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo yang bertujuan untuk melihat kemungkinan posisi kelenjar bisa (venom) pada area rahang dan mengamati perbedaan struktur tulang antara komodo jantan dan betina. Hasil pemeriksaan CT Scan diserahkan oleh dr. Rai (Pengawas Lab Radiologi Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo) untuk kemudian dianalisa lebih lanjut oleh tim Balai Taman Nasional Komodo dan para tenaga ahli. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar kegiatan rekonstruksi rangka komodo ini dapat memberikan pengalaman dan informasi baru bagi para ranger Balai Taman Nasional Komodo serta turut memberikan kontribusi positif bagi ilmu pengetahuan dan pendidikan di dunia, khususnya terkait anatomi satwa biawak komodo. Kegiatan rekonstruksi rangka komodo pertama kali dilakukan pada tahun 2000 oleh tim Balai Taman Nasional Komodo bersama dengan Universitas Gadjah Mada. Komodo jantan tersebut dulu ditemukan mati karena usia lanjut di wilayah kerja Resort Loh Sebita pada Bulan September 1998. Rangka komodo tersebut masih terpasang kuat sebagai obyek interpretasi pada lobi kantor Balai Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Ahli Pertama - Novita Yanti Sidabutar, S.Hut. (+6281210396563) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Balai TN Komodo Mengikuti Pelatihan Strategic Visitor Flow

Labuan Bajo, 19 April 2022. Balai Taman Nasional Komodo berpartisipasi dalam pelatihan Strategic Visitor Flow (SVF) yang diselenggarakan oleh Politeknik Elbajo Commodus bekerjasama dengan SUSTOUR Project Swisscontact Indonesia – Denpasar pada tanggal 18 – 19 April 2022 di Labuan Bajo. SVF merupakan sebuah landasan pemikiran yang diperoleh berdasarkan analisa pasar yang dapat digunakan dalam proses perencanaan, dapat menghubungkan antara jejaring arus persediaan dan permintaan pasar, serta mampu menjelaskan fenomena sosial yang dapat mempengaruhi dan menentukan pola perilaku wisatawan. Berdasarkan Baggio dan Scaglione (2017), SVF merupakan sebuah instumen penelitian yang digunakan untuk menganalisa, mengelola, dan memasarkan sebuah destinasi. SVF digunakan untuk memahami travel principles dari sudut pandang permintaan pasar, melihat pergerakan wisatawan secara visual dan mengetahui dampak yang dihasilkan dari sebuah arus kunjungan wisata sehingga memudahkan pengelola untuk menentukan prioritas intervensi oleh setiap pemangku kepentingan. Pelatihan SVF terdiri dari empat modul yaitu: (1) Keberlanjutan dalam pariwisata, (2) Visitor Flow: teori dan praktik, (3) Visitor Flow: peta dan tabel, dan (4) Analisa Dampak: impact wheel. Keempat modul dibawakan secara bergantian oleh dosen prodi ekowisata Politeknik Elbajo Commodus dan program officer SUSTOUR Project Swisscontact Indonesia – Denpasar. Sebagai pengantar materi menuju pembahasan SVF, narasumber memulai brainstorming mengenai pentingnya sebuah negara memiliki Sustainable Tourism Observatory (STO). STO merupakan sebuah kerangka pikiran (framework) dimana menunjuk pihak ketiga sebagai pengamat aktivitas pariwisata yang turut berperan dalam mendukung upaya-upaya monitoring dan pelaporan pengelolaan pariwisata pada suatu daerah. Kerangka pikiran ini dibuat oleh UNWTO dan diadopsi oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Perencanaan pengembangan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) semestinya memiliki STO untuk meningkatkan kualitas pemantauan dan pelaporan, namun saat ini belum terbentuk. Indonesia saat ini memiliki lima STO yang telah disahkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Pelatihan SVF ini menggunakan pengelolaan destinasi model St. Gallen yang berupaya memvisualisasikan pergerakan wisata berbasiskan data spasial. Jika sebuah destinasi telah mempelajari arus kunjungan wisatawan, maka setidaknya terdapat lima pertanyaan yang dapat diketahui, yaitu (a) siapa yang mengunjungi destinasi? (b) apa yang memotivasi wisatawan untuk berkunjung? (c) apa yang dilakukan oleh wisatawan? (d) apa yang harus dilakukan agar wisatawan mendapatkan pelayanan yang lebih baik? dan (e) bagaimana mempengaruhi wisatawan untuk berkunjung dengan lebih baik?. Arus kunjungan wisatawan ke sebuah destinasi dipengaruhi oleh motivasi baik dari faktor dalam (push factor) dari psikologi manusia maupun dari faktor eksternal (pull factor) yang dimiliki oleh sebuah destinasi. Putera (2019) menyatakan bahwa arus kunjungan wisatawan oleh karena motivasi ‘social recognition’ dirasakan paling banyak oleh wisatawan dari Asia, khususnya Indonesia, sedangkan motivasi learning and excitement dirasakan paling banyak oleh wisatawan dari Eropa, Australia, dan Amerika Utara. Pengelola destinasi yang memahami akan fenomena sosial ini akan lebih mudah merancang kebijakan pariwisata yang akurat dan tepat sasaran. Narasumber meminta para peserta untuk menentukan SVF pada destinasi-destinasi unggulan di Kabupaten Manggarai Barat berdasarkan arus kunjungan/motivasi wisatawan yang berbeda. Setiap destinasi dapat memiliki lebih dari satu SVF karena pull factor yang ditawarkan oleh setiap destinasi pun berbeda. Wakil dari Balai Taman Nasional Komodo berhasil mengidentifikasi setidaknya 5 SVF di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Lima SVF tersebut antara lain: (1) Social Recognition Seekers, (2) Adventure Tourists, (3) Sunset Seekers, (4) Rural Tourism Enthusiasts A, dan (5) Rural Tourism Enthusiasts B. Sebagai contoh, untuk SVF Social Recognition Seekers, wisatawan memiliki motivasi tertinggi untuk pengakuan sosial dimana kepuasaan maksimal akan diperoleh jika wisatawan dapat berfoto klasik bersama dengan obyek pada daya tarik utama ataupun melakukan swafoto aerial berlatarkan panorama ekosistem di dalam kawasan. Dokumentasi tersebut diunggah dalam media sosial dan kepuasaan seketika terpenuhi (Putera, 2019). Rute perjalanan SVF ini memerlukan waktu kunjungan selama dua hari satu malam (2H1M) yang meliputi destinasi: Pulau Kelor, Pulau Kalong Rinca, obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) Padar Selatan, Long Beach Padar, ODTWA Loh Liang, dan Pink Beach Komodo. Mayoritas wisatawan yang besar kemungkinan melakukan SVF ini adalah wisatawan domestik (Indonesia). Peserta juga diajarkan untuk dapat mengidentifikasi dampak kunjungan wisata terhadap keutuhan ekosistem di dalam Taman Nasional Komodo. Identifikasi dampak dilakukan menggunakan instrumen impact wheel dengan 18 indikator merujuk pada tiga dimensi pariwisata (People, Profit, Planet). Peserta diajarkan bagaimana untuk menentukan tingkat keparahan yang ditimbulkan pada masing-masing indikator dengan membubuhkan keterangan pada nilai scoring yang telah ditentukan (1: kurang bagus, 2: sedang, dan 3: sangat bagus). Peserta juga dapat menentukan apakah aktivitas SVF yang dilakukan menimbulkan dampak negatif atau positif pada setiap indikator yang dinilai. Pada akhir sesi, peserta diminta untuk mempresentasikan SVF yang telah dibuat dan menjelaskan impact wheel-nya dihadapan seluruh narasumber dan peserta dari kelompok lain. Implementasi SVF bagi pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo sangatlah penting. Jika ranger Balai Taman Nasional Komodo mampu mengidentifikasi SVF dan berhasil menentukan impact wheel dari aktivitas SVF yang dilakukan dalam kawasan, maka kemungkinan munculnya dampak negatif dapat dimitigasi dan dampak positif dapat dipertajam. Dengan adanya kajian ini, implementasi kebijakan ekowisata kaitannya dengan infrastruktur dan penerapan aturan lainnya tidak ditentukan secara subyektif, namun dikaji baik secara ilmiah. Penelitian analisa motivasi wisatawan sangat diperlukan dalam pengelolaan taman nasional di Indonesia. Seusai pelatihan, wakil Balai Taman Nasional Komodo yang mengikuti kegiatan ini akan melakukan pelatihan ulang SVF kepada para ranger di kantor Balai Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)

Menampilkan 1.681–1.696 dari 2.298 publikasi