Selasa, 29 Sep 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Tingkatkan Kualitas SDM Dengan Bina Cinta Alam Kader Konservasi

Mataram, 22 November 2022. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menggelar kegiatan Bina Cinta Alam Kader Konservasi lingkup Balai TNGR tahun 2022 di destinasi wisata non pendakian Gunung Kukus, Desa Jurit Baru Kec. Pringgasela Lombok Timur pada hari Sabtu hingga Minggu kemarin tanggal 19-20 November 2022. Kegiatan ini untuk membentuk kader konservasi dan meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam rangka membantu pelestarian kawasan dan lingkungan serta bersama-sama mewujudkan Rinjani menuju pendakian kelas dunia. Kegiatan diikuti oleh 63 orang peserta, berasal dari Anggota Pramuka Saka Wanabakti Lombok Timur, Perwakilan Kelompok Pecinta Alam, Komunitas Pecinta Alam, Pokdarwis Lembah Selatan dan Mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi. Adapun materi edukasi yang diberikan berasal dari narasumber, Unit SAR Daerah Lombok Timur, Dosen Biologi Fakultas MIPA Universitas Mataram, Lombok Landscaper, dan petugas Balai TNGR. Penanaman pohon menutup rangkaian kegiatan dengan menanam di sekitar areal perkemahan dan pelantikan anggota baru Saka Wanabakti Lombok Timur. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Multiplier Effect Untuk Masyarakat Lingkar Rinjani

Mataram, 22 November 2022. Kegiatan pendakian di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pasca gempa Lombok 2018 dan pandemi Covid-19 berangsur-angsur mengalami peningkatan jumlah kunjungan. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke TNGR memberikan dampak langsung terhadap meningkatnya pendapatan ekonomi masyarakat lingkar Rinjani (Multiplier Effect), masyarakat yang menggantungkan hidupnya di Gunung Rinjani seperti trekking Organizer (TO), Guide dan Porter. Berdasarkan infografis, pada tahun 2021 dapat dilihat bahwa masyarakat yang terlibat di pendakian Gunung Rinjani yang terdiri atas Trekking Organizer (TO) sebanyak 70 orang, Guide 794 orang, dan porter 1.841 orang. Dengan jumlah kunjungan sebanyak 39.226 orang yang terdiri dari wisatawan mancanegara (441 orang) dan wisatawan nusantara (38.785 orang). Sedangkan pada tahun 2022 (s.d 31 Juli 2022) jumlah TO yang terlibat sebanyak 94 orang, Guide 1.284 orang, dan Porter 4.073 orang. Dengan jumlah kunjungan sebanyak 31.825 orang yang terdiri dari wisatawan mancanegara (2.600 orang) dan wisatawan nusantara (29.225 orang). Dari hasil analisa jumlah keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pendakian, pada tahun 2021 dapat diketahui estimasi pendapatan TO sebesar Rp. 12.638.925.000,- ; Guide Rp. 603.890.000,-; Porter 1.160.705.000,-; karcis asuransi yang dikenakan kepada pelaku wisata sebesar Rp. 244.021.000, dan PNBP yang disetorkan ke negara sebesar Rp. 577.557.500,-. Sedangkan pendapatan di tahun 2022 (s/d 31 Juli 2022), estimasi pendapatan TO sebanyak Rp. 10.613.760.000,-; Guide Rp. 1.186.880.000,-; Porter Rp. 3.152.320.000,-; Karcis asuransi yang dikenakan kepada pelaku wisata sebesar Rp. 226.540.000,- dan jumlah PNBP yang disetorkan ke negara sebesar Rp. 1.367.174.500. Disamping itu terdapat juga sektor lain yang diperkirakan memperoleh manfaat dari angka kunjungan pendakian di Taman Nasional Gunung Rinjani, diantaranya sektor jasa transportasi dan jasa makanan-minuman. Pada tahun 2021 jumlah perkiraan pendapatan pada Jasa Transportasi dari kegiatan pendakian yaitu sebesar Rp. 1.341.000.000, dan untuk jasa makanan-minuman sebesar Rp. 3.620.700.000,-. Sedangkan pada tahun 2022 (s/d 31 Juli 2022) estimasi pendapatan pada jasa transportasi dari kegiatan pendakian sebesar Rp. 1.105.600.000,-, dan untuk Jasa Makanan-Minuman sebesar Rp. 3.537.920.000,-. Semoga dengan keberadaan Taman Nasional Gunung Rinjani selalu memberikan manfaat dan mensejahterakan masyarakat yang ada di Lingkar Rinjani menuju harapan Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Serunya Pembelajaran Lapangan Bersama BBTN Bentarum di Yogyakarta

Yogyakarta, 21 November 2022. Balai KSDA Yogyakarta lakukan pendampingan penguatan kapasitas sumber daya manusia Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) dalam rangka Pemulihan Ekosistem dan Wisata Alam Berbasis Masyarakat di Yogyakarta. Pendampingan penguatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum ini dilaksanakan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 17 – 19 November 2022 melalui kunjungan ke 3 (tiga) lokasi pembelajaran yakni Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Paliyan di Gunungkidul terkait pembelajaran pemulihan ekosistem, kawasan wisata alam berbasis masyarakat di Kalibiru – Kulon Progo, dan Tebing Breksi – Sleman. Pembelajaran lapangan hari pertama dilakukan dengan agenda kunjungan ke kawasan SM Paliyan di Gunungkidul, Kamis (17/11/22). Bertempat di Aula SM Paliyan, sebanyak 14 (empat belas) orang tim dari Balai Besar TaNa Bentarum yang terdiri dari Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (Kabid PTN) Wilayah I Mataso, Kasubag Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan, Kasie PTN Wilayah III Padua Mendalam, Kasie PTN Wilayah V Selimbau dan beberapa staf berkunjung ke SM Paliyan untuk melihat secara langsung lokasi pembelajaran pemulihan ekosistem disana. Untuk memberikan gambaran kawasan SM Paliyan yang semula tandus berbatu tanpa vegetasi dan perlahan berhasil dipulihkan ekosistemnya, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi secara langsung menyambut dan menjelaskan proses pemulihan ekosistem di SM Paliyan. Semakin memperjelas tahapan pelaksanaan pemulihan ekosistem dari waktu ke waktu, salah satu mitra Balai KSDA Yogyakarta PT Mitsui Sumitomo Insurance Group (MSIG) yang diwakili Manajer Lapangan PT OS Selna Jaya selaku pelaksana lapangan PT MSIG, Gunawan Setiaji, menjelaskan mengenai peranan yang telah dilakukan oleh PT MSIG terkait perjalanan panjang pemulihan ekosistem di SM Paliyan dan komitmennya hingga saat ini untuk terus berusaha mewujudkan SM Paliyan yang menghijau. Sejalan dengan apa yang disampaikan pihak PT OS Selna Jaya, Kepala Balai KSDA Yogyakarta menugaskan Kepala Resort SM Paliyan, Siti Rohimah untuk menjelaskan mengenai upaya membangun kembali SM Paliyan melalui konsep Nandur Urip. “Konsep Nandur Urip adalah upaya untuk mewujudkan tanaman yang kita tanam akan dapat tumbuh dan terus hidup, dan hal ini tidaklah mudah karena dalam upaya nandur urip ini diperlukan adanya dukungan dan komitmen tinggi dari 3 unsur yakni pengelola, pemerintah setempat, stake holder terkait lainnya, dan masyarakat sekitar kawasan SM Paliyan. Dengan menanamkan semangat nandur urip tersebut diharapkan masyarakat dan kita semua akan yakin dan optimis bahwa apa yang kita tanam pasti akan berhasil dan tanaman itu mampu tumbuh di kawasan SM Paliyan ini” jelas M. Wahyudi. Menutup kegiatan pembelajaran pemulihan ekosistem di SM Paliyan ini, dilakukan penyerahan cendera mata dari Balai Besar TaNa Bentarum kepada Balai KSDA Yogyakarta dan PT MSIG serta dilakukan penyerahan kenang-kenangan dari Balai KSDA Yogyakarta kepada tim Balai Besar TaNa Bentarum berupa penyerahan buku-buku terbitan Balai KSDA Yogyakarta yang selanjutnya dilakukan kunjungan lapangan ke lokasi pemulihan ekosistem di blok rehabilitasi eks petak 138 SM Paliyan. Kegiatan penguatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum hari kedua dilakukan dengan melakukan pembelajaran wisata alam berbasis masyarakat dengan lokasi pembelajaran di Hutan kemasyarakatan (HKM) “Mandiri” Kalibiru. Di kawasan Kalibiru, tim Balai Besar TaNa Bentarum belajar terkait sukses story pengembangan wisata alam berbasis masyarakat di HKM Kalibiru. Untuk pendampingan kunjungan di Kalibiru ini, Kepala Balai KSDA Yogyakarta menugaskan Kepala SKW I, Untung Suripto dan beberapa staf SKW I. Kunjungan tim Balai Besar TaNa Bentarum ini disambut baik oleh pengelola wisata Kalibiru dan dilakukan pemberian materi serta diskusi terkait pengelolaan Kalibiru. Beberapa poin yang dibahas dalam diskusi tersebut antara lain mengenai sejarah pengelolaan HKM Kalibiru yang dirintis sejak tahun 1995 hingga pengembangan usaha jasa lingkungan saat ini. Peserta penguatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum juga mendapatkan pembelajaran terkait dinamika jumlah kunjungan wisata, permasalahan pengelolaan wisata alam Kalibiru termasuk bagaimana menyikapi kondisi pandemi yang berdampak pada penurunan jumlah pengunjung Kalibiru. Kegiatan pembelajaran di Kalibiru kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan berjalan mengeliling kawasan wisata kalibiru. Sebelum menutup kunjungan lapangan hari kedua ini, momen kunjungan ke Kalibiru di Kulonprogo juga dimanfaatkan Balai KSDA Yogyakarta untuk mengenalkan salah satu Kelompok Tani Hutan (KTH) Binaan Balai KSDA Yogyakarta. Peserta peningkatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum diajak untuk berkunjung ke KTH Manunggal Karya, salah satu KTH Binaan Balai KSDA Yogyakarta yang ada di sekitar SM Sermo, Kulon Progo. Di sana, peserta peningkatan kapasitas SDM dari BBTNBKDS diperkenalkan mengenai produk yang dihasilkan KTH Manunggal Karya seperti Keripik Kelapa dengan merk Crispa (Crispy kelapa) dan madu klanceng, serta rencana produk selanjutnya yaitu empon empon yang akan diolah menjadi produk minuman seperti teh celup. Kunjungan ke KTH Manunggal Karya ini juga dimanfaatkan untuk saling bertukar informasi dari Balai Besar TaNa Bentarum terkait keberhasilannya melakukan pemberdayaan lebah klanceng (atau di Kalimantan lebih dikenal dengan lebah kelulut), dan produk lebah kelulut Balai Besar TaNa Bentarum ini ternyata telah memperoleh sertifikat produk dari cagar biosfer, SPP-IRT, dan hasil uji kandungan madu kelulut. Sebagai penutup kegiatan peningkatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum di hari ketiga dilakukan kunjungan ke kawasan wisata Tebing Breksi, Sambisari, Prambanan, Sleman. Kegiatan pembelajaran di Tebing Breksi dimulai dengan penyampaian materi Perjalanan Panjang Pengelolaan Tebing Breksi dari Tebing yang dulunya ditambang dan sekarang menjadi obyek wisata populer. Di waktu lampau, Tebing Breksi ditambang oleh masyarakat sejak sekitar tahun 1980 an, akan tetapi pada tahun 2014 penelitian menunjukkan bahwa tebing breksi ini merupakan endapan vulkanis dari erupsi gunung api purba formasi Semilir sekitar 30-36 juta tahun lalu. Berpijak pada hasil penelitian tersebut, pemerintah selanjutnya melarang penambangan di kawasan Tebing Breksi dan menetapkan Tebing Breksi sebagai kawasan geoheritage sesuai SK Badan Geologi No.1157.K/73/BGL/2014 tanggal 2 Oktober 2014 tentang Penentuan Cagar Alam Geologi DIY. Penetapan Tebing Breksi yang semula merupakan kawasan penambangan menjadi kawasan geoheritage menjadi polemik dan mendapatkan penolakan karena disebabkan alasan faktor ekonomi dan ketergantungan masyarakat penambang terhadap Tebing Breksi. Proses panjang yang dilalui pengelola Tebing Breksi pada akhirnya mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat yang semula merupakan masyarakat penambang dan pelan-pelan beralih pada kegiatan wisata. Jika pada tahun 1995 kawasan sekitar Tebing Breksi ini termasuk dalam Desa Tertinggal di Kabupaten Sleman, pada tahun 2015 mulai terlihat adanya peningkatan PAD sejak ditetapkan sebagai kawasan geowisata. Terjadinya pandemi covid di tahun 2020 – 2021 berdampak pada penurunan drastis pendapatan wisata di Tebing Breksi. Wisata Tebing Breksi menyuguhkan Relief Wayang, Patung Naga, Amphiteatre, Taman Tebing Breksi, Balkondes Sambirejo Resto dan Homestay, Watu Tapak Camphill, Jeep Wisata, Edukasi dan Spot Foto. Untuk pemandu khusus terkait bebatuan, Pengelola bekerjasama dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Puncak kunjungan (Peak Season) terjadi pada bulan April - Juli (musim liburan sekolah), dan khusus malam tahun baru jumlah pengunjung mencapai hingga diatas 15.000 pengunjung. Di tahun 2017, Wisata Tebing Breksi memperoleh penghargaan Anugerah Pesona Indonesia Kategori “Tujuan Wisata Baru Terpopuler”. Kegiatan pembelajaran di Tebing Breksi ini ditutup dengan kunjungan lapangan dengan melakukan sesi foto di beberapa spot foto Tebing Breksi. Sumber : Siti Rohimah (Kepala Resort SM Paliyan, Penyuluh Kehutanan Balai KSDA Yogyakarta), Nurrochmah Wisudhaningrum (PEH Balai KSDA Yogyakarta) dan Puji Lestari (PEH Balai KSDA Yogyakarta) Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta- Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365) Kontak informasi: Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
Baca Artikel

Memantau Perkembangan KTH Binaan di Sekitar SM Sermo

Yogyakarta, 21 November 2022. Balai KSDA Yogyakarta melakukan pemantauan kepada kelompok tani hutan (KTH) yang memperoleh bantuan dan merupakaan binaan dari BKSDA Yogyakarta di sekitar Suaka Margasatwa (SM) Sermo, Kamis (17/11/22). KTH tersebut yakni KTH Manunggal Karya dan KTH Raket Manunggal. Disamping pemantauan, petugas juga melakukan pengecekan dan pembinaan terhadap aktivitas yang dilakukan KTH termasuk masalah tertib administrasi. Situasi di KTH Raket Manunggal yang memproduksi olahan kelapa berupa krispi kelapa dengan nama RIKMA tetap berjalan dan berproduksi, dan kini telah merambah pasar sampai dengan penjualan produk di outlet Bandar Udara Yogyakarta International Airport. Pengembangan produk lain selain krispi kelapa berupa produk peyek kacang dan kripik jamur. Sejauh ini untuk bahan baku jamur tiram masih membeli dari produsen, merupakan peluang bagi kelompok untuk memproduksi jamur sendiri. Kelompok telah membangun jejaring dengan Dinas koperasi dan UMKM serta Dinas Perdagangan Kabupaten Kulon Progo untuk mengembangkan usahanya dengan perbaharuan desain kemasan dan bantuan pengadaan kemasan produk. Dari ketiga jenis pengembangan produk, yang banyak diminati masyarakat yaitu produk peyek kacang. Pengembangan produk juga terus dilaksanakan oleh KTH Manunggal Karya. Produksi krispi kelapa dengan nama CRISPA tetap berjalan dan berproduksi. Kelompok berinovasi dengan mencoba pembuatan kripik salak dimana harga salak di sekitar Sermo sedang murah, namun masih dalam tahap ujioba. Bulan ini KTH Manunggal Karya akan mengikuti pameran produk UMKM di Lippo Plaza sebagai upaya mempromosikan produk. Usaha budidaya lebah klanceng sebagai pengembangan kelompok terus berjalan dan berkembang ditambah lagi dengan bantuan usaha ekonomi yang diberikan BKSDA Yogyakarta digunakan kelompok untuk semakin mengembangkan usaha budidaya lebah klanceng ini. Selain kripik kelapa dan madu lebah, usaha budidaya tanaman jahe yang nantinya dapat mendukung produksi krispi kelapa serta menjadi bahan baku usaha minuman kemasan sedang diupayakan oleh kelompok. Untung Suripto, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I, yang mewakili Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi, mengingatkan bahwa perlu penguatan kelembagaan terutama AD/ART serta harus direviu dan dibahas dalam rapat tahunan kelompok. Diversifikasi produk penting sebagai pengembangan usaha ekonomi kelompok, namun tetap fokus kepada usaha utamanya. Sumber : Nur Surantiwi - Penyuluh Balai KSDA Yogyakarta Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta- Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365) Kontak informasi: Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
Baca Artikel

Sosialisasi Potensi TWA Sungai Dumai

Pekanbaru, 21 November 2022 - Seksi Konservasi Wil. (SKW) IV Dumai, Balai Besar KSDA Riau melakukan sosialisasi potensi Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai di SMAN 1 Kota Dumai dan SMPN 03 Kota Dumai, Kamis (17/11). Kegiatan ini untuk memberikan informasi kepada siswa tentang potensi alam, termasuk flora dan fauna yang ada di TWA Sungai Dumai. Tim juga mengajak para siswa dan majelis guru untuk melakukan kegiatan bina cinta alam, camping dan penelitian. Tak lupa Tim membagikan lefleat dan poster untuk memudahkan siswa/siswi mengenal potensi TWA Sungai Dumai. Door prize juga diberikan kepada siswa/siswi yang aktif berupa buku pengenalan satwa dilindungi dan buku kawasan konservasi yang ada di Prov. Riau. Dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dan meningkatkan kunjungan wisata dan penelitian di kawasan TWA Sungai Dumai. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Kamera Jebak Mengungkap Kekayaan Hayati Kepulauan Togean

Kepulauan Togean, 21 November 2022. Studi menggunakan camera trap atau kamera jebak baru-baru ini mengungkap kekayaan hayati di wilayah Taman Nasional Kepulauan Togean dan sekitarnya. Dalam studi ini, kamera jebak didistribusikan secara merata di empat pulau, yaitu Batudaka, Togean, Talatako, dan Malenge. Serangkaian kamera jebak yang dipasang dari bulan Juni-Oktober 2022 tersebut berhasil merekam tidak hanya mamalia terestrial saja, tetapi juga satwa arboreal dan berbagai jenis burung. Setidaknya, sebanyak 25 spesies satwa liar teridentifikasi melalui studi ini, termasuk jenis-jenis endemik, dilindungi, dan terancam punah. Babirusa Togean (Babyrousa togeanensis) adalah target utama dalam studi ini. Babirusa ini adalah salah satu spesies endemik Kepulauan Togean dan memiliki status terancam punah. Di Kepulauan Togean sendiri, babirusa hanya bisa dijumpai di Pulau Batudaka, Togean, Talatako, dan Malenge (Ito dan Melletti, 2017). Sehingga, kamera jebak yang dipasang melingkupi seluruh wilayah distribusi satwa ini. Sebelumnya, semua babirusa dianggap sebagai satu spesies. Namun sekarang babirusa Kep. Togean dianggap sebagai spesies terpisah dari Babirusa Sulawesi (B. celebensis) dan Babirusa Pulau Buru (B. babyrussa). Oleh karena itu, Kep. Togean ditetapkan sebagai salah satu area prioritas untuk konservasi babirusa. Hingga saat ini belum ada penelitian ekologi mengenai Babirusa Togean, sehingga kamera jebak yang dipasang di Kepulauan Togean ini diharapkan bisa membantu kita memahami ekologi dan perilaku dari satwa ini. Selain babirusa, kamera-kamera yang dipasang juga merekam tiga spesies mamalia yang lain, yaitu Tarsius Togean (Tarsius niemitzi), Monyet Togean (Macaca tonkeana) yang dalam bahasa lokal disebut yakis/fonti dan Rusa Jawa (Rusa timorensis). Tarsius Togean juga merupakan spesies endemik Kepulauan Togean. Tarsius ini diperkirakan menghuni seluruh pulau utama di Kepulauan Togean, kecuali Una-Una (Shekelle dkk, 2019). Dalam studi ini, keberadaan tarsius terkonfirmasi di ke-empat pulau yang menjadi lokasi studi. Yakis di Kepulauan Togean hanya menghuni Pulau Malenge. Keberadaannya di sana diduga merupakan hasil introduksi (Riley dkk., 2020). Namun, bagaimana dan kapan primata endemik Sulawesi Tengah ini sampai di sana tidak diketahui dengan pasti. Rusa jawa dalam studi ini hanya terdeteksi di Pulau Talatako. Namun, menurut masyarakat, rusa juga mendiami tiga pulau lain yang menjadi lokasi studi. Rusa Jawa adalah jenis introduksi di Kepulauan Togean, dan sama seperti Yakis, tidak diketahui dengan pasti bagaimana mamalia ini sampai di Kep. Togean. Dari rekaman video kamera jebak, teridentifikasi juga setidaknya 21 jenis burung. Menurut Agus, ada lebih banyak jenis burung yang terekam dalam studi ini, tetapi gambar-gambar yang diambil kamera trap tersebut masih perlu dipelajari lagi untuk identifikasi lanjutan. Dari jenis-jenis burung tersebut, sebanyak enam spesies merupakan jenis yang dilindungi, yaitu Elang Ular Sulawesi (Spilornis rufipectus), Junai Emas (Caloenas nicobarica), Gosong Pilipina (Megapodius cumingii), Paok Laus (Pitta elegans), Paok Mopo Sulawesi (Erythropitta celebensis), dan Mandar Muka Biru (Gymnocrex rosenbergii). Sampai sejauh ini, diketahui ada 106 jenis burung yang mendiami seluruh Kepulauan Togean (Indrawan dkk, 2006), dan besar kemungkinan masih banyak jenis-jenis burung lain yang belum teridentifikasi di sana. Pemasangan kamera jebak ini merupakan bagian dari penelitian yang dilakukan oleh Agus Jati, mahasiswa asal Jawa Tengah yang saat ini sedang menempuh program doktoral di University of Maine, Amerika Serikat. Penelitian ini sejalan dengan salah satu manfaat Taman Nasional sebagai lokasi penelitian. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT) telah menyusun roadmap penelitian yang menjadi panduan dan arahan terhadap penelitian yang akan dilaksanakan untuk mendukung efektivitas pengelolaan di Taman Nasional Kepulauan Togean. Lebih jauh kegiatan perencanaan penelitian ini dapat mendukung tercapainya visi Taman Nasional Kepulauan Togean, yaitu menjamin keutuhan ekosistem pulau-pulau kecil dan optimalisasi perlindungan, kelestarian dan pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati, yang dilandaskan pada sains/ilmu pengetahuan demi kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga sesuai dengan cara baru kelola kawasan konservasi yang harus berbasiskan pada: (1) data dan informasi yang sahih, tidak dipalsu, yang berasal dari fakta lapangan, (2) metode pengambilan data dan analisisnya harus benar dan berdasarkan science, dan (3) penerapan teknologi tinggi dalam rangka menemukan nilai manfaat nyata sumber daya genetik untuk kemanusiaan. Kepulauan Togean memiliki peran penting dalam konservasi biodiversitas nasional. Berada di kawasan Wallacea, Kep. Togean diyakini menyimpan potensi kekayaan hayati yang besar. Kepala Balai Taman Nasional Kep. Togean, Ir. Bustang, menyampaikan bahwa ditunjuknya Taman Nasional Kepulauan Togean merupakan salah satu wujud komitmen negara untuk melestarikan kekayaan alam Indonesia demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. "Melestarikan alam Togean tidak hanya untuk kepentingan konservasi semata melainkan juga untuk masyarakat yang tinggal di sana. Misalnya, apabila hutan di wilayah kepulauan lestari, maka kualitas hidup masyarakat akan terjamin karena jasa lingkungan seperti air bersih dan berbagai macam hasil hutan akan selalu tersedia", ujar Bustang. Sumber: Agus Jati (Dept. Wildlife fisheries and Conservation Biology, University of Maine); Oktovianus (Balai Taman Nasional Kepulauan Togean Referensi Indrawan, M., Somadikarta, S., Supriatna, J., Bruce, M.D., Djanubudiman, G., 2006. The birds of the Togian islands, Central Sulawesi, Indonesia. Forktail 22, 7–22. Ito, M., Melletti, M., 2017. Togian Babirusa Babyrousa togeanensis (Sody, 1949), in: Melletti, M., Meijaard, E. (Eds.), Ecology, Conservation and Management of Wild Pigs and Peccaries. Cambridge University Press, Cambridge, pp. 76–84. Riley, E., Lee, R., Sangermano, F., Cannon, C., Shekelle, M., 2020. Macaca tonkeana [WWW Document]. URL https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2020-3.RLTS.T12563A17947990.en (accessed 9.20.21). Shekelle, M., Groves, C.P., Maryanto, I., Mittermeier, R.A., Salim, A. and Springer, M.S. 2019. A new tarsier species from the Togean Islands of Central Sulawesi, Indonesia, with references to Wallacea and conservation on Sulawesi. Primate Conservation 33: 1-9
Baca Artikel

Bibit Bunga Bangkai Tumbuh Subur di Sela – Sela Tanaman Coklat

Desa Luat Lombang, 18 November 2022. Bunga Bangkai Raksasa biasa juga disebut Kibut atau Suweg Raksasa merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan endemik dari Sumatera, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga terbesar di dunia. Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan merupakan salah satu desa yang menjadi habitat dari bunga bangkai tersebut, setidaknya itulah catatan hasil monitoring yang dilakukan oleh petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang, belum lama ini. Lahan desa yang berada di daerah penyanggah kawasan Cagar Alam (CA) Dolok Sipirok, dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengelola kebun campuran dengan mayoritas tanaman coklat. Di sela-sela tanaman coklat inilah tumbuh subur bibit-bibit bunga bangkai jenis Amorphophallus titanium dan Amorphophallus gigas. Diperkirakan ada ratusan bibit yang tumbuh. Sayangnya, masyarakat sekitar belum menyadari bahwa bunga bangkai tersebut masuk dalam kategori tumbuhan langka dan dilindungi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Masyarakat cenderung tidak peduli dan lebih mengutamakan aktifitas di kebun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dikhawatirkan bila tidak ada upaya nyata dalam menyelamatkan bunga bangkai ini, bukan tidak mungkin tempat tumbuhnya bunga bangkai akan dimanfaatkan untuk pengembangan atau perluasan tanaman perkebunan. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian dari semua pihak untuk mencari solusi agar bunga bangkai terselamatkan dan aktifitas kebun warga dapat terus berjalan. Sumber : M. Nasir Siregar – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Riau Pantau Aktivitas KTH Binaan

Pekanbaru, 17 November 2022 - Balai Besar KSDA Riau melakukan pemantauan ke beberapa Kelompok Tani Hutan (KTH) yang mendapat bantuan dan binaan dari Balai Besar, Kamis (10/11). KTH tersebut yakni KTH Gambut Berkah di Kelurahan Bukit Batrem, KTH Pandan Wangi di Kelurahan Tanjung Palas dan KTH Giat Rukun. Disamping pemantauan, petugas juga melakukan pengecekan dan pembinaan terhadap aktivitas yang dilakukan KTH termasuk masalah tertib administrasinya. Situasi di KTH Gambut Berkah yang kegiatannya di bidang perikanan dan perkebunan cabai, perkembangan sudah mulai dilakukan pembelanjaan. Begitu juga di KTH Pandan Wangi yang mengajukan proposal UMKM makanan kue basah dan perawatan kebun tebu. Untuk KTH Giat Rukun yang fokus pada bidang budidaya ikan lele dan penanaman sayur di pekarangan rumah (Budikamber), perkembangan KTH ini sudah mulai terlihat jelas dengan dimasukannya bibit ikan lele kedalam ember-ember penampung. Untuk kedepannya, KTH akan membuat kolam dari terpal dengan penguatan besi dan cor. Semoga upaya untuk meningkatkan perekonomian dapat terlaksana, sehingga masyarakat sekitar kawasan sejahtera dan kawasan pun tetap terjaga sesuai fungsi dan peruntukannya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Stimulus Untuk Masyarakat Lereng Gunung Merapi

Magelang, 16 November 2022. Dua kelompok mitra Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) diberikan bantuan secara simbolis bersama anggota DPR RI, Vita Ervina,S.E, M.B.A., Rabu (16/11), di Balai Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Kedua kelompok yang beruntung mendapatkan bantuan yakni Kelompok Gerbang Kuliner Salak Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang senilai Rp.25.000.000,00 serta Kelompok Ternak Ngudi Lestari Desa Kemiren, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, senilai Rp.20.000.000,00. “Pemberian bantuan pada masyarakat di sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Merapi, diharapkan menjadi stimulus pergerakan ekonomi masyarakat sekitar kawasan” ujar Kepala Balai TNGM, Karyadi, S.Hut, M.I.L. “Hal ini dikarenakan salah satu amanah pembentukan TNGM adalah mengingkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. Pemberian bantuan dilakukan disela - sela diskusi interaktif “Menyelamatkan Kawasan Konservasi dan Lingkungan Hidup bersama Masyarakat” *** Sumber : Titin Septiana - Balai Taman Nasional Gunung Merapi Penanggung Jawab : Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Deklarasi Bersama Untuk TN Gunung Merapi Lestari

Magelang, 16 November 2022. Penandatanganan deklarasi bersama : Selamatkan dan Lestarikan Kawasan Konservasi Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), menjadi salah satu agenda dari diskusi interaktif “Menyelamatkan Kawasan Konservasi dan Lingkungan Hidup bersama Masyarakat”, Rabu (16/11) di Balai Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Deklarasi bersama ini berisikan dukungan penuh untuk : 1) Kelestarian TNGM perlu dijaga, karena sebagai pelindung masyarakat dan lahan pertanian dari ancaman bencana letusan/lahar dingin Gunung Merapi; 2) Kawasan TNGM dan kawasan penyangganya memberikan layanan ekosistem berupa sumber mata air, perlindungan habitat satwa dan sumber keanekaragaman hayati, serta peradaban sosial budaya khas lereng Gunung Merapi yang arif atas sumber daya alam ini; dan 3) Sepakat bersama, bahwa penyelesaian permasalahan pengelolaan pada kawasan Gunung Merapi, perlu dukungan sinergitas bersama antar multi stakeholders dan kontrol sosial dari masyarakat guna mewujudkan pengelolaan yang amanah dan bertanggungjawab demi bangsa dan negara. Diskusi interaktif dihadiri 100 (seratus) undangan yang berasal dari UPT KLHK lingkup Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta, instansi terkait lingkup Jawa Tengah dan Kabupaten Magelang, Forkompimda Kabupaten Magelang, Forkompimca Kecamatan Srumbung dan Dukun, Kepala Desa di lingkup Kecamatan Srumbung dan Dukun, perwakilan MMP dan MPA RPTN Srumbung dan Dukun, Mitra BTNGM serta para media lingkup Magelang dan Yogyakarta. Berlangsung sangat interaktif, beberapa pertanyaan dari para peserta, hampir terkait dengan pengelolaan TNGM baik di dalam maupun luar kawasan konservasi, pengurangan resiko bencana, tugas bersama bagi masing-masing pemangku wilayah, serta penanganan konflik yang muncul menjadi PR bersama. Narasumber yang dihadirkan bukan kaleng – kaleng yakni Vita Ervina, S.E, M.B.A selaku Anggota Komisi IV DPR RI, Karyadi, S.Hut, M.I.L selaku Kepala Balai TNGM, Sarifudin selaku Kepala Dinas LH Kabupaten Magelang, Dian Risdianto, SP., MSi, selaku Plt Kasubdit Perencanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi, Direktorat PKK KSDAE. Juga Ir. Slamet Rohadi, MP selaku Kepala Cabang Dinasi Kehutanan (CDK) IX Jawa Tengah, Drs. R. Ahmad Surya Subagya selaku Kepala Cabang ESDM Wilayah Merapi, Budi Supriyanto, S.Si. selaku anggota Komisi 3 DPRD Kabupaten Magelang. Kesemuanya membahas tantangan pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat perspektif multi stakeholders. Kemudian untuk membahas mitigasi dan pengurangan resiko bencana, hadir juga sebagai nara sumber Dr. Agus Budi Santoso, S.Si., M.Sc. selaku Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), serta Drs. Didik Suswanto E.P. selaku Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Magelang. Adapun pembahasan tentang penanganan konflik dan pelanggaran hukum dibahas oleh Ir. Sustyo Iriyono, M.Si selaku Plt Direktur Pencegahan dan Penanganan LHK, Aris Widodo perwakilan Kodim Magelang, AKBP M. Sajarod selaku Kapolresta Magelang. Selanjutnya para pimpinan berbagai stakeholder ini turut menandatangani deklarasi bersama. *** Sumber : Titin Septiana - Balai Taman Nasional Gunung Merapi Penanggung Jawab : Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Mencari Cara Tingkatkan Pemberdayaan Masyarakat

Pekanbaru, 15 November 2022 - Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Rencana Pemberdayaan Masyarakat (RPM) di sekitar kawasan konservasi Taman Nasional (TN) Zamrud dan Suaka Margasatwa (SM) Tasik Belat Tahun 2022 s/d 2026 sukses digelar di Aula Kantor Desa Kampung Dayun, Kabupaten Siak, Jumat (11/11). Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kabupaten Siak menyampaikan materi tentang Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kampung di Kab. Siak narasumber. Dilanjutkan pemaparan draft dokumen RPM yang disampaikan Penyuluh Kehutanan selaku anggota tim penyusun, Bobby Sunata. Selanjutnya diskusi dan tanya jawab yang dimoderatori oleh Sekretaris Camat Dayun. Acara ditutup penandatanganan Berita Acara Hasil Konsultasi Publik dengan rumusan bahwa draft telah disosialisasikan dan dapat dipahami secara bersama, para pihak mendukung RPM di sekitar kawasan konservasi TN Zamrud dan SM Tasik Belat serta terdapat catatan lain dari para pihak atas draft RPM yaitu dalam peningkatan kapasitas kelompok masyarakat, perlu adanya sekolah lapangan untuk kelompok masyarakat agar bisa membudidayakan ikan endemik sebagai usaha ekonomi produktif kelompok masyarakat, dalam peningkatan kapasitas kelompok masyarakat wisata alam, perlu memberikan pelatihan untuk masyarakat agar bisa menjadi pemandu wisata alam pada kawasan konservasi TN Zamrud dan perlu adanya beberapa orang yang memiliki kompetensi di dalam kelompok masyarakat yang dibentuk agar bisa memberikan pengaruh dan motivasi agar berhasil mengembangkan usahanya serta perlunya pendataan kepada masyarakat yang berpengaruh atau yang berinteraksi negatif pada kawasan konservasi. Sebagai informasi, Kepala Balai Besar KSDA Riau yang diwakili oleh Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan, Arry Purnama Setyawan membuka acara yang turut dihadiri Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kab. Siak, Camat Sungai Apit, Sekretaris Kec. Dayun, beberapa Kepala Desa/Penghulu yaitu Dayun, Rawa Mekar Jaya, Sungai Rawa, Kepala Dusun 1 Teluk Lanus, LPMK dan BPD, Tokoh masyarakat serta petugas dari Seksi Konservasi Wilayah IV, Bidang KSDA Wilayah II, Balai Besar KSDA Riau. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Tanam Pohon, Nyata Jaga Kelestariannya

Makassar, 14 November 2022 – Memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan mengikuti kegiatan penanaman di lokasi Persemaian Permanen Bone, Desa Gareccing, Kecamatan Tonra Kabupaten Bone, Sabtu (12/11). Penanaman yang diinisiasi dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah II Makassar ini diikuti oleh perwakilan 14 UPT KLHK Sulawesi Selatan, Plt. Kades Gareccing, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat serta seluruh Pegawai BPTH Wilayah II Makassar. Sebanyak 75 batang tanaman Produktif ditanam di lokasi demplot UPT, yang terdiri bibit Lengkeng Crystal, Mangga Mahathir dan Manalagi, Durian Musang King, Rambutan dan Alpukat Alligator. Diharapkan hasil penanaman di demplot UPT KLHK dapat menghasilkan bahan tanaman entries atau bahan sambungan bibit produktif untuk dibagikan gratis kepada masyarakat. Ir. Jusman, Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan yang mewakili seluruh Kepala UPT KLHK Sulawesi Selatan menyampaikan pentingnya memaknai momentum peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia sebagai tindakan nyata meningkatkan kesadaran dan kepedulian kita bersama tentang pentingnya pemulihan kerusakan sumber daya hutan dan lahan. “Kolaborasi multi pihak dalam mendukung keberhasilan penanaman juga menjadi hal yang mutlak, untuk dapat merawat pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehingga dapat bermanfaat bagi kelestarian lingkungan dan masyarakat sekitar”, ujarnya. “Persemaian Permanen berperan dalam penyediaan benih dan bibit berkualitas dalam program penanaman sangat penting, tantangan ke depan yaitu dapat menghasilkan bahan tanaman vegetatif jenis tanaman produktif yang nantinya hasilnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, ujar Kepala Balai BPTH Wilayah II Makassar. Penetapan Hari Menanam Pohon Indonesia pada tanggal 28 November setiap tahunnya muncul sebagai tindakan nyata dari kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian pohon demi mencegah dampak perubahan iklim. Dengan menjaga kelestarian diharapkan dapat mencegah dampak perubahan iklim yang saat ini menjadi wacana berbagai pihak. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Keberadaan Tumbuhan Kemenyan di CA Martelu Purba

Medan, 14 November 2022. Jenis tumbuhan Kemenyan (Styrax sp.) ditemukan di kawasan Cagar Alam (CA) Martelu Purba dengan kondisi batangnya yang mengeluarkan getah secara alami. Penemuan ini terjadi pada hari Jumat tanggal 11 November 2022 saat dilakukannya kegiatan monitoring satwa siamang di Cagar Alam Martelu Purba oleh Alharis Ruhidi, S.P.,M.Si, Andryono Lumban Gaol, Shofia Putri Nasibah, dan Thoyibah Pohan, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Sensus Pohon Cagar Alam Martelu Purba. Lazimnya bahwa Cagar Alam Martelu Purba seluas 195 hektar dikenali dengan keadaan alamnya yang khas yakni berupa tegakan meranti yang terbangun dari hasil penanaman tahun 1948 hingga 1952, sehingga sering diasosiasikan secara umum bahwa Cagar Alam Martelu Purba adalah cagar alam meranti. Batang Pohon meranti yang tumbuh di cagar alam ini ada yang diameternya sudah melebihi 100 cm. Keberadaan tumbuhan jenis kemenyan sangat jarang terungkap di Cagar Alam Martelu Purba baik dari pembicaraan di masyarakat sekitar kawasan (daerah penyangga) maupun masyarakat pada umumnya. Dunia akademisi juga belum pernah melakukan kegiatan pendidikan dan/atau penelitian tentang tumbuhan jenis kemenyan di Cagar Alam Martelu Purba. Untuk keperluan identifikasi awal, dibuat petak ukur pengamatan seluas 10 x 10 meter, hasilnya bahwa ditemukan tumbuhan jenis kemenyan sebanyak 11 batang, berdiameter antara 5 – 22 cm dan tinggi total antara 10 – 14 m. Sebanyak 9 batang tumbuhan jenis kemenyan ini didapati dalam keadaan mengeluarkan getah secara alami. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap potensi tumbuhan jenis kemenyan ini di Cagar Alam Martelu Purba. Pada sisi yang lain perlu juga dilakukan penjagaan dan pengawasan keberadaan tumbuhan jenis kemenyan ini khususnya dari gangguan yang dilakukan oleh manusia mengingat nilai ekonomi getah kemenyan cukup tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan ini sebagai tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Universitas Sumatera (USU) tentang Pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. PKS. 6/SETJEN/ROCAN/SET.1/5/2022 dan No. 6500.1/UN5.1.R/KPM/2022 tanggal 18 Mei 2022. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan kegiatan Sensus Pohon di Cagar Alam Martelu Purba dengan menggandeng kegiatan magang rimbawan Fakultas Kehutanan USU Program Magang Bersertifikat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari tanggal 12 Oktober 2022 s.d 12 Desember 2022. Sumber : Alharis Ruhidi, S.P.,M.Si - Analis Konservasi Kawasan BBKSDA Sumut/Kepala Resor Cagar Alam Martelu Purba dan Cagar Alam Batu Gajah/Pendamping Lapangan Magang Bersertifikat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Fahutan USU 2022.
Baca Artikel

Jemput Bola Untuk Penyusunan RPJP SM Karang Gading Langkat Timur Laut

Stabat, 14 November 2022. Harapan bahwa masyarakat sejahtera bersamaan dengan lestarinya hutan, perlahan tapi pasti diwujudkan melalui berbagai aksi yang dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA SUmut). Kemiskinan dan ketertinggalan umumnya lekat pada masyarakat yang berada di daerah pesisir dikarenakan minimnya kesadaran dan kemauan akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi, keterbatasan informasi dan akses yang sulit dijangkau. Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut merupakan kawasan konservasi yang berhadapan langsung dengan luasnya Selat Malaka, hutan mangrovenya menjadi benteng pertahanan Sumatera Utara dari sisi timur merupakan habitat dari berbagai satwa dilindungi dan terancam punah selain juga menjadi tempat tumbuh endemik bagi jenis – jenis jenis bakau seperti Rhizophora sp, Api-api, Nyiri, Tengar, Buta-buta, Dengganai, Pidada, Rengas, Nipah dan lain sebaginya. Ancaman deforestasi hutan mangrove SM Karang Gading Langkat Timur Laut diakibatkan oleh aktivitas seperti konversi lahan hutan, pembalakan liar, perburuan illegal dan penguasaan lahan untuk alasan ‘kesejahteraan’ dan sebagainya. Sejatinya, kawasan konservasi dikelola dengan perencanaan yang terdokumentasi dan terukur dalam rangka meningkatkan efektivitas pengelolaan dan efesiensi pemanfaatan sumber dayanya serta meningkatkan akuntabilitas bagi pengelola selain untuk memastikan adanya keterlibatan publik dalam pengelolaan kawasan. Masyarakat sekitar kawasan adalah mitra terdepan yang harus dilibatkan dalam pengelolaan kawasan SM Karang Gading Langkat Timur Laut. Dalam forum diskusi yang dilaksanakan dalam rangka menjaring masukan dan aspirasi masyarakat sekitar kawasan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang kawasan SM Karang Gading Langkat Timur Laut pada tanggal 11 November 2022 di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sekitar 40 orang masyarakat yang mewakili desa – desa yang berada persis berbatasan langsung dengan SM Karang Gading Langkat Timur Laut, menyampaikan keinginannya untuk tetap dapat melihat hutan mangrove di sekitar mereka sampai ke generasi penerus selanjutnya. Masyarakat mengakui bahwa SM Karang Gading Langkat Timur Laut adalah kawasan konservasi milik negara dan aktivitas yang dilakukan di dalam kawasan harus dengan seizin pengelola kawasan. Dalam diskusi ini masyarakat juga menyampaikan keinginan untuk dapat bekerjasama dalam mengelola berbagai kegiatan wisata berbasis konservasi sesuai peraturan yang ada untuk mendukung keberdayaan masyarakat. Masyarakat optimis bahwa keberadaan kawasan akan secara langsung mendukung kehidupan mereka bila berjalan bergandengan tangan dengan para pihak lainnya dalam mengelola SDA pemberianNya ini. Sumber : Edina Emininta Ginting, S.Hut., M.Si.- PEH Madya Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Usai Menerima Bantuan, Produksi Usaha Kelompok Tani "Emak-emak" Kube Satahi Meningkat

Batang Onang, 10 November 2022. Kunjungan Tim Resort Suaka Margasatwa (SM) Barumun II, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, untuk kegiatan monitoring ke Kelompok Tani (KT) Kube Satahi di Desa Batang Onang Baru, Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padang Lawas Utara, Selasa (1/11), disambut gembira oleh emak-emak anggota kelompok tersebut. KT Kube Saroha merupakan penerima bantuan dalam rangka Peningkatan Ekonomi Masyarakat Sekitar Kawasan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, pada tanggal 1 Agustus 2022 yang lalu. Bantuan dana sebesar Rp. 35 juta melalui rekening kelompok, dialokasikan untuk pengembangan usaha rumah tangga berupa pembuatan keripik ubi serta kue lainnya (beteng-beteng dan kue bawang) melalui penambahan modal usaha, merenovasi pondok usaha serta melengkapi alat-alat usaha. Setelah berjalan sekitar 3 bulan, manfaat bantuan mulai dirasakan oleh anggota KT Kube Saroha. Produksi usaha keripik ubi/singkong meningkat, dimana bahan baku ubi kayu/singkong yang sebelumnya sekitar 50 s.d 100 kg. sekarang sudah mencapai 200 kg per bulannya. Peningkatan produksi ini membuat anggota kelompok yang mayoritas emak-emak, semakin bersemangat karena merasakan dampak peningkatan perekonomian. Selain itu, anggota kelompok juga belajar dalam pemasaran. Perlahan namun pasti, kelompok ini terus berbenah untuk lebih baik lagi. Tidak lupa juga anggota kelompok ini dalam berbagai pertemuan di desa ikut menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada warga, agar ikut menjaga dan melindungi kawasan konservasi khususnya Suaka Margasatwa (SM) Barumun. Kelompok ini akan terus dimonitor dan menjadi target pendampingan serta pembinaan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah VI Sipirok. Sumber : Parta Basmely - Polhut Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Keberhasilan KTH Bunga Meranti Dilirik Tim Survey Program UP2K Kabupaten Simalungun

Purba Tongah, 11 November 2022. Kelompok Tani Hutan (KTH) Bunga Meranti binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Cagar Alam (CA) Martelu Purba dan CA Batu Gajah pada Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, disambangi tamu istimewa dari Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Simalungun, Rabu (9/11), di lokasi Unit Usaha Mesin Pengolahan Kopi di kompleks kantor Resort CA Martelu Purba dan CA Batu Gajah, Simpang Purba Tongah. Kedatangan tim TP PKK Kabupaten Simalungun untuk survey/penilaian kelompok tani yang akan mendapatkan bantuan/pendampingan melalui Program UP2K (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga) pada tahun 2023 dan 2024. Berdasarkan hasil penilaian tersebut nantinya akan ditetapkan status kelompok menjadi 2 (dua) kategori yaitu Kelompok Percontohan untuk aksi 2023 dan Kelompok Pendamping yang akan dipersiapkan untuk aksi 2024. Perwakilan KTH Bunga Meranti, yakni Kepala Resort CA Martelu Purba dan CA Batu Gajah, Alharis Ruhidi, S.P.,M.Si; Ketua Kelompok Rinto Rilexon Purba dan Manajer Unit Usaha Mesin Pengolahan Kopi, Romasdo Marolob Saragih, memberikan penjelasan kepada tim penilai/TP PKK Kabupaten Simalungun tentang progres dan kinerja KTH khususnya unit usaha mesin pengolahan kopi, antara lain bahwa produk kopi olahan sangat banyak peminatnya sehingga beberapa pesanan dari luar daerah seperti Bali dan Jawa terpaksa ditolak bahkan pesanan lingkup Sumatera Utara pun banyak yang belum terpenuhi. Kondisi ini disebabkan antara lain karena sulitnya mendapatkan bahan baku berupa buah kopi merah (cerry) mengingat perkembangan belakangan ini banyak kebun kopi yang beralih menjadi kebun jeruk. Selain itu juga bahwa masih terbatasnya SDM yang mampu dalam pengolahan kopi untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Untuk itu dimohonkan kepada TP PKK Kabupaten Simalungun untuk dapat memfasilitasi solusinya antara lain dengan menggandeng UPTD/Dinas teknis terkait. Terhadap usulan ini TP PKK Kabupaten Simalungun menyatakan kesiapan untuk bantu memfasilitasi. Tim survey TP PKK Kabupaten Simalungun yang didampingi Camat Purba, Ketua TP PKK Kecamatan Purba, dan Pj. Pangulu Nagori Purba Tongah mengapresiasi keberhasilan dari KTH Bunga Meranti dalam mengelola usaha yang dapat meningkatkan ekonomi keluarga dari anggota kelompok dan meminta agar usaha yang sangat baik ini terus dilanjutkan dengan tidak lupa mengikutsertakan ibu-ibu warga nagori khususnya yang tergabung dalam kelompok PKK Nagori Purba Tongah. Kemudian pengolahan produk hilir dari kopi juga agar ditingkatkan selain untuk bubuk teh, kompos organik, makanan ternak, dan lain-lain. Perlu diketahui bahwa KTH Bunga Meranti yang secara administrasi pemerintahan terletak di Nagori/Desa Purba Tongah, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara dan secara administrasi pengelolaan hutan masuk wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar/Seksi Konservasi wilayah III/Resort CA. Martelu Purba dan CA. Batu Gajah, merupakan salah satu kelompok penerima bantuan pemerintah cq. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/Balai Besar KSDA Sumatera Utara pada tahun 2020 dan 2022. Kunjungan Tim Survey Program UP2K (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga) TP PKK Kabupaten Simalungun memberi semangat dan motivasi bagi anggota KTH untuk lebih giat lagi melakukan pengembangan usaha pengelolaan kopi yang berkualitas. Sumber : Alharis Ruhidi, S.P.,M.Si - Analis Konservasi Kawasan/Kepala Resort CA. Martelu Purba dan CA. Batu Gajah

Menampilkan 1.665–1.680 dari 2.637 publikasi