Selasa, 29 Sep 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

BBKSDA Riau Pantau Pergerakan Gajah Liar

Pekanbaru, 13 Desember 2022 - Resort Bukit Rimbang (Petai) dan Bukit Baling (Muara Bio), Balai Besar KSDA Riau melakukan mitigasi interaksi negatif manusia dan satwa liar gajah sumatera di Desa Ludai, Kec. Kampar Kiri. Kab. Kampar, Sabtu (3/12). Dari hasil koordinasi dengan Sekdes Muara Selaya dan masyarakat setempat, keberadaan gajah liar terlihat mengarah ke Desa Ludai, kemudian mengarah ke hutan di Desa Koto Lama. Warga juga menyampaikan bahwa kondisi jalan menuju Desa Ludai terlalu rusak jadi tidak bisa dilewati kendaraan roda empat sehingga Tim memutuskan untuk putar arah karena kondisi mobil tidak memungkinkan. Petugas kemudian melakukan sosialisasi terkait keberadaan gajah liar dan meminta warga untuk menyampaikan jika gajah kembali mendekati pemukiman warga. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Melihat Efektifitas Pengelolaan Tahura Tuanku Tambusai

Jakarta, 12 Desember 2022. Taman Hutan Raya Tuanku Tambusai ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya melalui Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK. 187/Menlhk/Setjen /PLA.2/4/2020 tanggal 13 April 2022 tentang Penetapan Fungsi Pokok Kawasan Pelestarian Alam Mahato sebagai Kawasan Hutan Taman Hutan Raya Tuanku Tambusai di Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau seluas 1.345 Ha. Sebelumnya Status kawasan Tahura Tuanku Tambusai merupakan KSA/KPA Mahato yang dikelola oleh Balai Besar KSDA Riau. Selanjutnya melalui hasil rekomendasi tim tekis hasil evaluasi kesesuaian fungsi, kawasan tersebut direkomendasikan menjadi taman hutan raya. Sejak ditetapkannya kawasan Tahura Tuanku Tambusai, belum ada kelembagaan khusus yang mengelola Tahura, dan saat ini pengelolaannya di bawah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rokan Hulu. Meskipun demikian pengelolaan Tahura Tuanku Tambusai Tetap harus dimonitoring sampai sejauh mana efektifitas pengelolaannya. Sebelumnya pada tahun 2020 setelah beberapa bulan ditetapkan, Tahura Tuanku Tambusai dilakukan penilaian untuk pertama kalinya dengan metode Monitoring efectiveness tracking tool (METT) yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Riau. Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan dengan metode METT terdiri dari 3 form, yaitu: 1) Lembar Data (berisi tentang informasi kawasan), 2) Lembar Ancaman (berisi tentang pertanyaan anacaman-ancaman bagi kawasan) dan 3) Lembar Penilaian (berisi tentang pertanyaan-pertanyaan tentang pengelolaan kawasan). Berdasarkan penilaian tahun 2020, penilaian efektifitas pengelolaan Tahura Tuanku Tambusai sebesar 23%. Pada tahun 2022, kembali dilakukan penilaian efektifitas pengelolaan Tahura Tuanku Tambusai, hal ini didasari atas surat Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi nomor : S.54/RKK/PPKK/KSA.1/3/2022 tanggal 8 Maret 2022 perihal Penilaian Efektiiftas Pengelolaan Kawasan Konservasi Tahun 2022, dimana Tahura Tuanku Tambusai menjadi salah satu target penilaian pada tahun 2022. Penilaian tahun 2022 dilakukan pada tanggal 8 Desember 2022 secara internal oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rokan Hulu dengan fasilitator dari Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi. Hasil penilaian pada tahun 2022 yaitu 24% mengalami peningkatan 1% dari penilaian tahun 2020. Berdasarkan hasil penilaian tahun 2022, beberapa informasi penting dalam pengelolaan Tahura Tuanku Tambusai adalah sebagai berikut : Kelembagaan yang belum terbentuk juga sangat berpengaruh pada penganggaran. Tahun 2022 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rokan Hulu mendapatkan alokasi Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Kehutanan Dana Reboisasi (DBHDR), akan tetapi dana tersebut tidak dapat direalisasikan mengingat kelembagaan Tahura belum ada. Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hulu telah mengupayakan untuk menyegerakan pembentukan kelembagaan Tahura Tuanku Tambusai. Progres pembentukan kelembagaan telah melalui proses Harmonisasi Draft Peraturan Bupati terkait Rencana Pembentukan UPTD Tahura dengan stakeholder terkait. Terakhir draft tersebut sudah sampai pada tahap permintaan rekomendasi kepada Gubernur Provinsi Riau. Melalui penilaian efektifitas pengelolaan kawasan konservasi ini, diharapkan dapat memacu percepatan proses pembentukan kelembagaan tahura melalui rekomendasi yang dihasilkan dalam rumusan penilaian. Beberapa rekomendasi hasil penilaian efektifitas pengelolaan kawasan yang perlu segera ditindaklanjuti oleh pengelola Tahura Tuanku Tambusai antara lain sebagai berikut : Rekomendasi ataupun masukan-masukan dari hasil penilaian seyogyanya digunakan dalam upaya perbaikan pengelolaan ke depannya yang dituangkan dalam sejumlah rencana aksi yang nyata sehingga memudahkan proses penyusunan rencana untuk perbaikan dimasa yang akan datang. Melalui rekomendasi ini, selanjutnya pengelola Tahura Tuanku Tambusai dapat menentukan langkah kebijakan berikutnya baik dalam mengusulkaan program/ kegiatan dan penganggaran. Sumber : Resi Diniyanti, SP, ME - Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Perkembangan Penelitian Video Pembelajaran Komodo

Labuan Bajo, 13 Desember 2022. Mahasiswi Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta, Ni Kadek Sri Ayu Wijayani, menyampaikan presentasi capaian perkembangan penelitian dihadapan pimpinan dan staf Balai Taman Nasional Komodo pada tanggal 16 November 2022 secara daring. Ayu mendapatkan saran penyempurnaan terhadap produk penelitian yang sedang digarapnya yang berjudul “Pengembangan Video Pembelajaran Keanekaragaman Hewan Berbasis Potensi Lokal Untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Konservasi Peserta Didik SMA Kelas X”. Sebelumnya, Ayu telah melakukan pengamatan lapangan untuk mempelajari keanekaragaman hewan yang hidup di lembah Loh Liang pada tanggal 26 Agustus 2022. Ayu melakukan penelusuran hutan untuk mengamati jejak, kotoran, sisa makanan, dan sarang komodo di sepanjang jalur jelajah dan trekking wisatawan. Adapun satwa yang teramati adalah biawak komodo (Varanus komodoensis), rusa timor (Rusa timorensis), ayam hutan (Gallus varius), burung gosong (Megapodius reinwardt), babi hutan (Sus scrofa), musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus), burung perkutut (Geopelia striata), kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), dan burung gagak kampung (Corvus macrorhynchos). Produk akhir penelitian Ayu adalah video pembelajaran yang akan diujicobakan kepada para pelajar SMA di Yogyakarta. Untuk memperdalam pemahaman, Ayu melakukan wawancara mendalam tanggal 5 September 2022 dengan Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama, Maria Rosdalima Panggur, di kantor Balai Taman Nasional Komodo. Pertanyaan yang ditanyakan berkaitan dengan potensi ancaman bagi kelestarian biodiversitas, upaya konservasi yang sudah dilakukan para jagawana dan masyarakat, serta peranan masing-masing flora dan fauna dalam rantai ekosistem di Taman Nasional Komodo. Ayu menyortir muatan konten yang akan dimasukan menjadi bahan dalam video pembelajaran. Ayu merancang storyboard yang berisikan konsep, contoh, gambar dan video referensi, hingga gaya tampilan yang sesuai dengan setiap adegan yang telah disusun. Adegan ini disusun mengikuti konsep dan dikelompokan dengan tematik tertentu untuk memperjelas muatan pesan yang ingin disampaikan. Setelah melalui proses kompilasi dan penyusunan, Ayu menghasilkan draf video pembelajaran yang perlu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan para jagawana Balai Taman Nasional Komodo untuk mendapatkan tindak lanjut revisi. Potongan draft video ini yang ditampilkan dalam presentasi Hasil Penelitian Ayu pada tanggal 16 November 2022 kemarin. Adapun beberapa masukan penyempurnaan yang diperoleh oleh dosen pembimbing dan staf Balai Taman Nasional Komodo antara lain: (a) video perlu dipersingkat agar tidak terlalu lama dan menimbulkan kebosanan peserta ajar, (b) beberapa konsep perlu mendapatkan penekanan yaitu: keanekaragam gen, spesies, ekosistem, ancaman, dan upaya kelestarian keanekaragaman hayati, (c) konsep mengenai tingkatan trofik, rantain makanan, jaring-jaring makanan, aliran energi, piramida energi, dan siklus materi perlu dipertimbangkan untuk dikeluarkan dari video, (d) masih terdapat miskonsepsi biologi yang perlu diperbaiki, (e) beberapa konsep dan contoh perlu diperdalam dengan menggunakan fenomena biologi dari hasil penelitian sendiri atau referensi serupa, (f) perlu menggunakan referensi gambar atau video yang interaktif, dan (g) penjelasan dalam video harus menggunakan bahasa yang mudah, bersahabat, ilmiah namun menyenangkan. Ayu berharap agar hasil video pembelajarannya dapat bermanfaat bagi para pelajar di berbagai tingkatan sekolah di Indonesia. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Penelitian Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta - Ni Kadek Sri Ayu Wijayani (+6287864362416) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Dukungan Ekonomi Produktif Eratkan Harmonisasi

Kandangan Lama, 30 November 2022 – Bertempat di kediaman ketua kelompok Bapak Ideransyah, Balai KSDA Kalimantan Selatan menyerahkan bantuan pengembangan/peningkatan usaha ekonomi produktif kepada kelompok masyarakat tani hutan (KTH) Sanipah Berjaya, Desa Kandangan Lama. Bantuan senilai Rp.20.000.000 (Dua Puluh Juta Rupiah) diserahkan kepada kelompok untuk mendukung pengembangan peternakan kambing milik kelompok. Bantuan diserahkan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalsel Dr.Ir.H.Mahrus Aryadi, M.Sc. didampingi Kepala Resort Ahmad Fauzan, S. Hut. Kepala Balai menekankan akan pentingnya saling terbuka, menjaga komunikasi dan silaturahim diantara anggota kelompok, sehingga tujuan dari adanya program pemberdayaan ini dapat tercapai, yaitu untuk membantu meningkatkan ekonomi masyarakat. “Kami harapkan KTH Sanipah Berjaya ini dapat aktif dan menjadi contoh bagi masyarakat Desa Kandangan Lama tentang peternakan kambing, sehingga keberadaannya dapat menghadirkan manfaat bagi masyarakat secara langsung. Adapun permasalahan di lapangan terkait program pemberdayaan ini, hendaknya selalu dikomunikasikan dan saling terbuka. Karena setiap masalah akan dapat diselesaikan jika dibicarakan dan dirembukkan, mari kita cari berkahnya dari program ini.” ungkap Mahrus. Kepala Balai juga menjelaskan tentang pembagian status dan fungsi kawasan hutan serta pentingnya menjaga kawasan hutan konservasi guna terwujudnya harmonisasi, menjaga keseimbangan alam dalam rantai makanan. Beliau juga menghimbau agar Kepala Resort Suaka Margasatwa (SM) Pelaihari dan tim untuk terus aktif mendampingi kelompok dan kunjungan ke desa penyangga, sehingga dapat terjadi pemahaman yang baik tentang kawasan konservasi dan program-program bantuan dapat tercapai tujuannya. Dalam rangkaian acara penyerahan bantuan tersebut juga diselingi dengan sesi diskusi bersama kelompok untuk mengetahui rencana pengembangan kelompok sekaligus kendala yang kemungkinan akan dihadapi. Bapak Ideransyah selaku ketua kelompok menyampaikan ucapan syukur dan penghargaannya kepada Balai KSDA Kalimantan Selatan yang telah aktif ‘menjemput bola’ hadir ditengah-tengah masyarakat guna mendengarkan keluh-kesah masyarakat dan mencoba menjembatani kesejahteraan masyarakat melalui program pemberdayaannya. “Kami sangat berterimakasih kepada BKSDA Kalsel yang telah berkenan untuk mendampingi dan membantu kami, khususnya dalam pembentukan kelompok dan penyerahan bantuan ini. Bantuan ini adalah bentuk nyata perhatian dan kerja sama dari BKSDA Kalsel kepada Kami selaku masyarakat Desa Kandangan Lama. Harapan kami adalah agar tetap dibina dan didampingi dari Bapak-Bapak sekalian.” tutup Ideransyah. Dalam penyerahan bantuan tersebut turut hadir pula perwakilan dari instasi mitra, diantaranya adalah perwakilan dari Polsek Panyipatan, KPH Tala, Aparat Desa Kandangan Lama, dan Tokoh Masyarakat Desa Kandangan Lama. KTH Sanipah Berjaya sendiri dibentuk pada 6 November tahun 2022 dengan program pemberdayaan masyarakatnya adalah peternakan kambing. Kelompok ini diketuai Bapak Ideransyah dengan jumlah anggota 21 orang yang berasal dari Desa Kandangan Lama. (ryn) Sumber : B. Arifin - PEH Resort Jorong dan Doc. by : Rizal - Calon PEH Resort Jorong, Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

CPNS Balai TN Komodo Belajar Pimpin Patroli Terpadu

Labuan Bajo, 13 Desember 2022. Balai Taman Nasional Komodo gigih menyelenggarakan giat patroli terpadu untuk memastikan keutuhan dan kelestarian ekosistem di Taman Nasional Komodo. Patroli terpadu kali diselenggarakan selama lima hari mulai tanggal 4 – 8 November 2022 dengan beranggotakan personil dari Balai Taman Nasional Komodo, Kantor Pos Penegakan Hukum LHK Labuan Bajo, Kepolisian Resort Manggarai Barat, Kepolisian Perairan dan Udara Polda NTT. Kepala Balai Taman Nasional Komodo memberikan tanggung jawab kepercayaan kepada personil Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk memimpin giat patroli terpadu kali ini. Rijkard Gideon Sambite (Polisi Kehutanan Pemula) berperan sebagai Ketua Tim dengan beranggotakan Muhammad Dzulfiansyah (Polisi Kehutanan Pemula), Abdul Aziz (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Liang), Falentinus I. Djoda (Tenaga Pengaman Hutan Resort Gili Lawa), Ferdinan Leonardo Parera (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Padar Utara), dan Jimianus Zakarias Nguru (Kapten). Tim berupaya melakukan penyisiran jalur laut dan darat di sekitar wilayah timur laut Pulau Komodo. Salah satu agenda patroli adalah melakukan pemeriksaan aktivitas nelayan dan wisatawan di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Berdasarkan hasil penyisiran, tim patroli masih menemukan nelayan yang berasal dari Sapeh (Nusa Tenggara Barat) beraktivitas di dalam kawasan namun belum melaporkan diri ke resort jaga terdekat. Tim kemudian memberikan pemahaman terkait kewajiban lapor diri nelayan ke pos jaga dan melakukan sosialisasi terkait alat pancing yang boleh digunakan di dalam kawasan. Tim patroli juga memeriksa kelengkapan karcis PNBP wisatawan di sekitar perairan Gili Lawa. Tim menemukan beberapa kapal yang membawa kelompok wisatawan belum membeli karcis Taman Nasional Komodo namun sudah beraktivitas di perairan dalam kawasan. Tim patroli menegur dan mengarahkan kapal tersebut untuk membeli karcis PNBP di pos jaga terdekat. Taman Nasional Komodo menjadi lokasi berbagai mata pencaharian masyarakat yang perlu dijaga. Upaya penjagaan bukan hanya wajib dilakukan oleh para jagawana, namun juga oleh segenap masyarakat yang memanfaatkannya. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar masyarakat, utamanya yang berasal dari luar Manggarai Barat, turut menjaga kelestarian alam di kawasan Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Pemula - Muhammad Dzulfiansyah (+62813422182214) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Kesempatan Langka Mahasiswa Magang di Pulau Gilimotang

Labuan Bajo, 13 Desember 2022. Mahasiswa magang dari Program Studi Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Joy Filip Oktavianus, mengikuti kegiatan penjagaan di Resort Loh Baru, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo mulai tanggal 21 – 31 Oktober 2022. Joy ditugaskan di Resort Loh Baru untuk membandingkan bentuk pengelolaan resort non-wisata dan mengikuti kegiatan monitoring populasi biawak komodo di Pulau Gilimotang bersama Tim 7 Balai Taman Nasional Komodo. Resort Loh Baru merupakan salah satu resort jaga dalam lingkup wilayah SPTN Wilayah I di Pulau Rinca. Resort ini berada di tenggara Pulau Rinca dan memiliki wilayah kerja yang sangat luas meliputi Pulau Nusa Kode dan Pulau Gilimotang. Resort Loh Baru dikelilingi oleh beberapa tipe ekosistem diantaranya: ekosistem mangrove, pantai, daratan rendah, dan sabana, yang menjadikan resort ini berbeda dengan resort jaga di sekitarnya. Pengalaman yang sangat langka didapatkan Joy saat bertugas di Resort Loh Baru. Joy berkesempatan mengunjungi Pulau Gilimotang sebagai salah satu habitat alami biawak komodo yang berada di selatan Pulau Rinca. Abdul Hamid (Kepala Resort Loh Baru), Hendra Liu (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Kampung Kerora), Gunardi dan Ady Setiawan (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Baru) serta beberapa anggota Tim 7 Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan kegiatan monitoring populasi biawak komodo di Pulau Gilimotang dengan melibatkan Joy sebagai mahasiswa magang di Resort Loh Baru. Setidaknya terdapat 16 titik pengamatan di Pulau Gilimotang. Joy bersama dengan tim Hendra Liu bertanggung jawab memasang camera trap di sebanyak lima titik pengamatan di bagian barat Pulau Gilimotang. Camera trap ini dipasang untuk menangkap gambar biawak komodo di alam. Adapun peralatan yang dibawa antara lain: umpan berupa daging kambing, kotak umpan, tali, dan camera trap. Kamera yang sudah dipasang di setiap titik ditinggalkan selama tiga hari untuk memberikan waktu bagi daging umpan membusuk. Tim kemudian akan mengambil kembali kamera dan mengunduh seluruh dokumentasi yang terekam dalam setiap camera trap. Sesampainya di Resort Loh Baru, Joy juga diajarkan teknik analisa data berdasarkan data yang sudah dituangkan pada tally sheet saat pemasangan kamera dilakukan. Selain kegiatan monitoring populasi biawak komodo komodo, Joy juga ikut dalam kegiatan jelajah hutan. Joy melakukan pengamatan satwa dan berhasil menjumpai lima sarang komodo dengan letak posisi sarang yang berdekatan. Joy juga mengikuti patroli perairan dengan menyusuri perairan Loh Dasami hingga mencapai Pulau Nusa Kode. Terakhir, Joy bersama dengan petugas resort lainnya mengunjungi Loh Tongker dan Pulau Muang untuk melakukan pengamatan pada wilayah perairan. Joy merasa beruntung ditugaskan selama kurang lebih sepuluh hari di Resort Loh Baru. Pengalaman langka bagi mahasiswa pariwisata selama bertugas di selatan Pulau Rinca. Joy berharap agar mahasiswa pariwisata Indonesia lebih mampu memahami tugas pokok dan fungsi jagawana (ranger) di hutan yang kerap tidak terlihat/tampak pada media sosial terkini. Joy merasa menjadi satu bagian dengan para ranger saat bertugas di alam. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Joy Filip Oktavianus (+6281395201028) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Pekan Ilmiah di Balai Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 13 Desember 2022. Balai Taman Nasional Komodo membuka kesempatan magang dan penelitian bagi siswa dan mahasiswa yang ingin melaksanakan kegiatan pendidikan di Taman Nasional Komodo. Sebagai bentuk perwujudan keseriusan UPT dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan para peserta didiknya, Urusan Program Anggaran Kerja Sama dan Pelayanan, Balai Taman Nasional Komodo menyeleksi ketat permohonan yang masuk dan mewajibkan mahasiswa untuk dapat mempresentasikan sebelum dan sesudah kegiatan pendidikan tersebut dilakukan baik secara daring maupun luring dihadapan seluruh jajaran pimpinan dan staf Balai Taman Nasional Komodo. Setidaknya tiga mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda telah diterima dan menyelesaikan rangkaian kegiatan pengumpulan data di kawasan Taman Nasional Komodo. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Mukti Aryo Wicaksono (S1 Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, IPB University), Ni Kadek Sri Ayu Wijayani (S1 Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta), dan Malkrina Ule Penga (DIV Kehutanan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang). Judul penelitian Mukti adalah Kekayaan Jenis dan Aktivitas Satwa Liar di Jalur Wisata di Loh Liang, Taman Nasional Komodo Menggunakan Camera Trap, Ayu berjudul Pengembangan Video Pembelajaran Keanekaragamana Hewan Berbasis Potensi Lokal Labuan Bajo Untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Konservasi Peserta Didik SMA Kelas X, sementara Irna berjudul Valuasi Ekonomi Kunjungan Wisata Sebelum dan Selama Pandemi Covid – 19 di Loh Liang Taman Nasional Komodo. Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama, Muhammad Ikbal Putera, memandu jalannya sesi presentasi secara daring melalui aplikasi Zoom hingga kegiatan selesai. Penelitian yang dilakukan oleh Mukti menunjukan bahwa jenis satwa liar yang ditemukan di sepanjang jalur trekking wisata Resort Loh Liang sebanyak 1 jenis reptil, 3 jenis mamalia, dan 7 jenis aves. Varanus komodoensis menggunakan jalan setapak untuk berjalan sedangkan babi hutan (Sus scrofa) dan rusa timor (Rusa timorensis) lebih banyak berada di pinggir/sekitaran jalan setapak untuk berjalan. Keberadaan komodo di siang hari pada jalur trekking diduga berpengaruh terhadap fluktuasi kehadiran rusa pada sekitar jalur trekking, namun tidak berpengaruh terhadap babi hutan. Mempertimbangkan temuan ilmiahnya secara menyeluruh, Mukti merekomendasikan beberapa hal, diantaranya: perlu dilakukan penelitian lanjutan pada saat jumlah kunjungan mulai meningkat sebagai data pembanding dan perlu dilakukannya pemantauan di lokasi jalur wisata dan non jalur wisata untuk melihat perbedaan gangguan manusia terhadap pola penggunaan ruang dan waktu oleh satwa liar. Menurutnya, metode pengamatan dengan menggunakan camera trap sesuai untuk mengamati frekuensi kehadiran, perilaku, serta pola penggunaan ruang dan waktu, namun kurang unggul untuk melihat kekayaan jenis satwa harian. Sesi pemaparan kedua dilakukan oleh Irna. Hasil penelitian Irna menyimpulkan bahwa karakteristik pengunjung di Loh Liang pada waktu pengumpulan data didominasi wisatawan berjenis kelamin laki-laki (63%), asal Indonesia (84%), berprofesi sebagai wiraswasta (43%), dan berpenghasilan tinggi (87%). Irna menunjukan adanya penurunan jumlah pengunjung baik Nusantara maupun Mancanegara berdampak pada penurunan nilai ekonomi Resort Loh Liang. Biaya perjalanan pun meningkat sebesar 1% dengan berkurangnya frekuensi kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo. Adapun tren penurunan nilai ekonomi Taman Nasional Komodo mencapai Rp591.724.235.245,29 (2018), Rp380.949.421.454 (2019), Rp50.005.957.160 (2020), dan Rp45.271.475.642 (2021). Penelitian Irna juga menunjukan tingkat peran dan keberadaan Taman Nasional Komodo sangat berpengaruh bagi stabilitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat. Sesi pemaparan yang ketiga dibawahkan oleh Ayu. Ayu memaparkan hasil perkembangan penyusunan video pembelajaran sebagai bentuk produk penelitian tingkat Sarjana yang sedang digarapnya. Ayu menargetkan beberapa konsep yang harus disajikan dalam video pembelajaran agar para pelajar dapat dengan mudah memahami pesan yang ingin disampaikan. Adapun konsep yang disajikan antara lain: konsep keanekaragaman genetik, spesies, ekosistem, potensi ancaman dan ragam upaya pelestarian/konservasi yang dibutuhkan dalam kompetensi dasar pembelajaran untuk siswa SMA kelas X. Ayu menekankan bahwa pembuatan video pembelajaran ini belum rampung dan memerlukan waktu tambahan untuk menyelesaikannya karena perlu melewati beberapa tahapan proses dan penyempurnaan substansi dari dosen pembimbing dan jagawana Balai Taman Nasional Komodo. Seluruh staf Balai Taman Nasional Komodo mengapresiasi penuh hasil kerja keras mahasiswa dan memberikan banyak saran penyempurnaan. Ikbal berharap dengan ilmu dan pengalaman yang diperoleh mahasiswa, ketiga pelajar tersebut dapat terus mengasah kemampuan dirinya dan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ikbal juga berharap agar hasil penelitian ketiga mahasiswa dapat memberikan rekomendasi praktis bagi penguatan pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo kedepannya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Yudha Pamungkas (+6282210465828) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Observasi Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Resort Kampung Rinca

Labuan Bajo, 12 Desember 2022. Empat mahasiswa Politeknik Pariwisata NHI Bandung bercerita mengenai pengalaman magangnya pada rangkaian program Junior Park Ranger (JPR) Balai Taman Nasional (BTN) Komodo selama enam bulan mulai dari bulan Agustus – Desember 2022. Keempat mahasiswa pertama kali ditempatkan bertugas di Resort Kampung Rinca pada tanggal 21 – 31 Agustus 2022 dibawah pengawasan Fahri Ikhlas (Kepala Resort Kampung Rinca)nuntuk mengobservasi potensi daya tarik wisata alam di sekitar wilayah Kampung Rinca, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Keempat mahasiswa yang berasal dari prodi Manajemen Destinasi Pariwisata dan Manajemen Pengaturan Perjalanan ini mengikuti seluruh rangkaian tugas jagawana (ranger) Resort Kampung Rinca dengan pendampingan dari petugas, menjelajahi jalur patroli di hutan dan lautan, berinteraksi dengan kelompok dan komunitas masyarakat, serta melakukan pengamatan hidupan liar di alam. Mahasiswa mendapatkan kesempatan mengunjungi Batu Balok dan Gua Kalong di pedalaman hutan. Batu Balok sendiri merupakan bongkahan batu volkanik yang diduga terbentuk akibat erupsi gunung api pada waktu silam yang kemudian membentuk pilar-pilar panjang di tengah hutan. Masyarakat Kampung Rinca percaya bahwa batu ini sudah terbentuk raturan tahun silam dan beberapa menganggapnya sebagai sebuah obyeknya yang disakralkan oleh karena cerita legendanya. Menariknya, pada ujung pilar batu tersebut tampak terlihat presisi segi enam yang membuat imajinasi manusia berpikir keras membayangkan proses pembentukan batu tersebut yang sebenarnya. Jarak antara Batu Balok dengan Dermaga Kampung Rinca mencapai 3.7 Km. Selain Batu Balok, mahasiswa turut mengunjungi Gua Kalong yang berjarak + 1.4 Km dari dermaga Kampung Rinca. Gua Kalong ini merupakan habitat bagi Kelelawar Kubu Nusa Tenggara (Dobsonia peronii). Gua ini cukup sempit untuk dimasuki oleh beberapa orang dewasa sehingga perlu kehati-hatian dan keterampilan saat beraktivitas di dalamnya. Selain potensi daya tarik wisata alam di daratan, Resort Kampung Rinca juga memiliki beberapa obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) perairan yang tidak kalah cantik parasnya. Resort Kampung Rinca memiliki Pulau Kalong dan Batu Strawberry yang kerap dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai belahan dunia. Sebagai contoh, Batu Strawberry atau lebih dikenal dengan sebutan strawberry stone seringkali menjadi lokasi foto favorit wisatawan karena keunikan warna batunya yang berwarna merah muda. Batu Strawberry berjarak + 15 menit dengan perahu dari Dermaga Kampung Rinca. Meski memiliki bentang alam yang indah, batu ini cukup terjal dan aksi berfoto pada batu cukup berbahaya sehingga wisatawan harus selalu didampingi oleh pemandu selama beraktivitas pada ODTWA tersebut. Mahasiswa turut melakukan monitoring kelelawar yang terbang keluar dari Pulau Kalong menuju daratan Flores bersama petugas Resort Kampung Rinca. Petugas menghitung menggunakan teknik bat emergence counting dan menjumpai setidaknya 10.000 kalong besar (Pteropus vampyrus) terbang ke dua arah yang berbeda. Koloni kalong besar ini hidup bertengger pada pepohonan mangrove yang sangat tebal hingga membuat sebuah pulau yang berjarak cukup dekat (+ 10 menit dengan perahu) dari Dermaga Kampung Rinca. Keempat mahasiswa Poltekpar NHI Bandung berhasil melakukan observasi setidaknya pada empat potensi daya tarik wisata alam yang ada di wilayah kerja Resort Kampung Rinca. Mahasiswa menyimpulkan bahwa Desa Pasir Panjang dinilai cukup layak untuk dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai destinasi wisata desa pesisir yang keberadaannya sangat penting dan dapat menjadi salah satu alternatif destinasi wisata di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Lebih lanjut, mahasiswa berharap agar berkembangnya wisata desa di Kampung Rinca turut dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat Rinca pada tahun yang akan datang. Resort Kampung Rinca merupakan salah satu resort jaga Balai Taman Nasional Komodo yang berada dalam wilayah tata ruang Zona Khusus Pemukiman. Resort ini memiliki mandat untuk menjaga kelestarian ekosistem, utamanya yang hidup di sekitar wilayah Desa Pasir Panjang. Desa Pasir Panjang memiliki tiga dusun atau masyarakat lokal menyebutnya dengan istilah kampung, yaitu: Dusun Rinca, Dusun Kerora, dan Dusun Kukusan. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor: 106/KEP/HK/2021 Tanggal 30 April 2021 Tentang Perubahan Atas Lampiran Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor: 237/KEP/HK/2020 Tentang Penetapan Desa/Kelurahan Wisata di Kabupaten Manggarai Barat, Desa Pasir Panjang termasuk ke dalam 94 desa di Kabupaten Manggarai Barat yang ditunjuk menjadi Desa Wisata. Hal ini mendorong Balai Taman Nasional Komodo untuk turut mendukung perencanaan dan pelaksanaan aktivitas ekowisata di wilayah desa untuk dilakukan secara berkelanjutan dan tetap pada koridor peraturan yang berlaku. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Andreas Yudha Pratama Pah (+628122144066) dan Mahasiswa Manajemen Pengaturan Perjalanan Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Dewi Meisya Maulidda (+6289524383268) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Menelisik Potensi Daya Tarik Wisata Alam Resort Kampung Rinca

Labuan Bajo, 12 Desember 2022. Mahasiswa Magang dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Yudha Pamungkas, Andreas Yudha Pratama Pah, Joy Filip Oktavianus, dan Dewi Meisya Maulidda mengikuti kegiatan penjagaan pada tanggal 21 - 31 Agustus 2022 di Resort Kampung Rinca, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa yang lolos seleksi program magang Junior Park Ranger tersebut mendapatkan tugas untuk mengikuti seluruh aktivitas resort-based management (RBM) Resort Kampung Rinca dan menyelisik potensi wisata desa yang ada di Desa Pasir Panjang - Pulau Rinca. Berdasarkan SK Bupati Manggarai Barat No: 106/KEP/HK/2021 Tentang Perubahan Atas Lampiran Keputusan Bupati Manggarai Barat No: 237/KEP/HK/2020 Tentang Penetapan Desa/Kelurahan Wisata di Kabupaten Manggarai Barat, Desa Pasir Panjang ditetapkan sebagai salah satu dari 94 desa wisata di Kabupaten Manggarai Barat. Hal ini tentunya mendorong pemerintah Desa Pasir Panjang dan Balai Taman Nasional Komodo untuk menelisik lebih lanjut potensi daya tarik wisata alam di sekitar wilayah administrasi Desa Pasir Panjang – Pulau Rinca guna menentukan model pengembangan wisata desa pesisir di dalam kawasan konservasi yang paling sesuai. Mahasiswa magang Politeknik Pariwisata NHI Bandung memiliki inisiatif untuk melakukan pemetaan jalur trekking wisata Desa Pasir Panjang dan menghitung daya tampung wisata dalam setiap jalur trekking tersebut. Mahasiswa berupaya memetakan dua jalur trekking yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan wisata yaitu jalur trekking ke Batu Balok dan jalur trekking ke Gua Kalong. Pada kedua jalur trekking tersebut, wisatawan juga dapat mengamati sarang biawak komodo dari dekat dan berkesempatan untuk menjumpai biawak komodo yang melintas di sepanjang jalur trekking tersebut. Selain menyelisik potensi obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) di sekitar wilayah desa, mahasiswa juga melakukan mini assessment untuk mengetahui kualitas pemanduan naturalist guide yang mendampingi wisatawan berwisata di Desa Pasir Panjang serta membuat analisa SWOT terhadap rencana pengembangan Desa Wisata Kampung Rinca di Desa Pasir Panjang. Mahasiswa juga menyampaikan bahwa pengelolaan desa wisata bukan hanya menitikberatkan pada keindahan alam, namun juga menekankan pentingnya diversifikasi atraksi sosial budaya yang dapat dinikmati oleh wisatawan saat berkunjung ke wilayah desa. Pariwisata harus bisa menjadi instrumen penguat nilai budaya masyarakat, sehingga nilai kearifan lokal tetap lestari dan dapat dihargai oleh wisatawan yang berkunjung. Desa Pasir Panjang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Wisatawan yang berkunjung ke Desa Pasir Panjang dapat menjumpai biawak komodo (Varanus komodoensis), kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), rusa timor (Rusa timorensis), kerbau air (Bubalus arnee), kalong besar (Pteropus vampyrus), kelelawar kubu nusa tenggara (Dobsonia peronii), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), dan berbagai jenis ular berbisa yang kerap mendiami serasah daun di pedalaman hutan. Selain kekayaan biodiversitas, Desa Pasir Panjang juga memiliki beberapa ODTWA yang unik, diantaranya: Batu Balok, Gua Kalong, Strawberry Stone, dan Pulau Kalong. Lebih lanjut, masyarakat Desa Pasir Panjang dengan pendampingan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berhasil membentuk sebuah komunitas seni bernama Animal Pop Komodo yang menampilkan berbagai tarian modern (modern dance) bagi wisatawan. Menurut jadesta.kemenparekraf.go.id status Desa Pasir Panjang merupakan Desa Wisata Rintisan. Menariknya, meskipun merupakan Desa Wisata Rintisan, desa ini sudah memiliki Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) bernama Native Rinca yang kerap menerima kunjungan wisatawan mancanegara secara rutin yang berpotensi mengubah status desa menjadi Desa Wisata Mandiri secara bertahap. Dalam rangka mendukung perubahan status tersebut, mahasiswa juga turut berkontribusi dengan menyusun bentuk model pengembangan desa wisata mandiri yang dapat diterapkan di Desa Pasir Panjang. Lebih lanjut, mahasiswa juga telah membantu menghubungkan ragam ODTWA yang ada di sekitar desa dalam bentuk itinerary atau rencana perjalanan yang terpetakan untuk ditawarkan sebagai salah satu bentuk paket perjalanan wisata potensial. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Yudha Pamungkas (+6282210465828) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Menilai METT TN Tesso Nilo

Pangkalan Kerinci, 9 Desember 2022. Penilaian efektifitas pengelolaan kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) tahun 2022 dengan metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT), Balai TN Tesso Nilo melaksanakan rapat penilaian bersama di kantor Balai, Senin (28/11). METT merupakan salah satu metode penilaian untuk kawasan konservasi, yang berguna untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh suatu kawasan tersebut. Penilaian dilakukan secara internal atau self assesment oleh Balai TN Tesso Nilo. Dalam Penilaian ini, Balai TN Tesso Nilo secara bersama mengumpulkan dan merumuskan masukan/rekomendasi dari seluruh pegawai dalam mengambil kebijakan untuk menyusun dan merencakan kegiatan yang dapat meningkatkan nilai METT di kawasan TN Tesso Nilo. Rapat penilaian dipimpin oleh Kepala Balai dan dihadiri oleh Kepala SPTN, Kepala Resort, dan Kepala Urusan, dan staf TN Tesso Nilo. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Pembinaan Masyarakat Peduli Api Rengganis Timur

Baderan, 9 Desember 2022. Balai Besar KSDA Jawa Timur menggandeng Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan – Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim melaksanakan pembinaan masyarakat peduli api (MPA) di Desa Baderan - Situbondo pada 8 -9 Desember 2022. Kegiatan ini diikuti sekitar 30 anggota MPA Rengganis Timur yang telah dibentuk pada 2018 yang lalu. Pembinaan yang dilaksanakan di Balai Desa Baderan ini juga dihadiri oleh Tenaga Ahli Menteri KLHK, Ir. Taruna Jaya, M.Si dan Ariyanto, S.Ag. S.S. M.Hum, Kasubdit. Pencegahan Karhutla Anis Susanti Ariyati, S.Hut. M.Si., serta Kepala Bidang KSDAE Dinas Kehutanan Prov. Jawa Timur Ir. Basunando, MM. Selama dua hari, para peserta menerima materi-materi berupa teori dan praktek mengenai Kebijakan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Jawa Timur, Teknik Pengendalian Karhutla, dan Kelembagaan MPA. Menariknya pada pembinaan kali ini juga diberikan materi Pengembangan Site Ekowisata Avifauna oleh Birdpacker Indonesia. Hal ini diberikan mengingat sebagian besar anggota MPA juga berprofesi sebagai porter dan guide bagi para pendaki yang berkunjung ke Argopuro. Pada hari kedua, peserta melaksanakan praktek berupa simulasi pemadaman kebakaran hutan serta pembentukan kelembagaan MPA Rengganis Timur. Tampak wajah-wajah penuh semangat pada diri anggota MPA saat mempraktekkan pemadaman dengan berbagai peralatan yang telah disediakan. Pendakian Tenaga Ahli Menteri Ada cerita menarik dibalik dicetuskannya kegiatan pembinaan terhadap MPA Rengganis Timur ini. Semua berawal dari pendakian 2 tenaga ahli menteri KLHK, Taruna Jaya dan Ariyanto pada bulan Agustus yang lalu. Keduanya mendaki dari Baderan di Situbondo dan turun di Bermi, Probolinggo. Baderan dan Bermi merupakan desa penyangga dari Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang atau Gunung Argopuro yang dikelola oleh BBKSDA Jawa Timur. Gunung Argopura menjadi salah satu gunung favorit bagi para pendaki di Indonesia karena memiliki trek terpanjang di Pulau Jawa. Saat pendakian mereka didampingi oleh beberapa petugas Resort Konservasi Wilayah 23 Argopuro bersama beberapa porter yang juga anggota MPA. Selama perjalanan pendakian inilah keduanya banyak melakukan dialog dengan petugas, porter, maupun pendaki lain. Melihat kawasan suaka margasatwa yang memiliki beberapa padang savana yang menawan, namun juga menjadi potensi terhadap terjadinya kebakaran hutan. Akhirnya diputuskan untuk membina kembali MPA dengan pengetahuan pengendalian kebakaran hutan lahan. Dan melengkapinya dengan seragam serta peralatan pemadaman kebakaran hutan. Sebelum mengakhiri kegiatan Pembinaan MPA di Baderan, kedua Tenaga Ahli Menteri bersama Muspika Kecamatan Sumbermalang, tim dari BBKSDA Jatim serta Dit. PKHL melaksanakan penanaman bibit pohon di sekitar Desa Baderan. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jatim
Baca Artikel

Kelompok Tani Hutan Wanita Melati Indah Belajar Kerajinan Tangan

Pekanbaru, 8 Desember 2022 - Petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I, Balai Besar KSDA Riau, yang diwakili Penyuluh Kehutanan (Fahrul Rozi Sembiring) dan TPHL anggota resort Buluh Cina (Gusmardianto) melakukan pendampingan Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanita Melati Indah di Desa Buluh Cina, Kamis (1/12). Pendampingan dilakukan terhadap Kelompok Tani Hutan Wanita (KTHW) Melati Indah dengan melakukan pembuatan kerajinan tangan berupa piring berbahan lidi. Ketua Unit usaha Souvenir memimpin pembuatan produk tersebut dan saling berbagi ilmu serta pengalaman kepada anggota kelompok. Anggota kelompok terlihat antusias belajar membuat piring berbahan lidi tersebut. Di pertemuan selanjutnya, anggota kelompok menyepakati belajar membuat barang yang sama agar mereka semakin mahir. Karena sebagian anggota kelompok masih kesulitan dalam membuat dasar piring berbahan lidi tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Bersama Menyusun Rencana Pemberdayaan Masyarakat

Pekanbaru, 8 Desember 2022 - Konsultasi publik penyusunan dokumen Rencana Pemberdayaan Masyarakat (RPM) di sekitar kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, SM Tasik Serkap dan SM Tasik Besar Serkap Tahun 2022 sd 2026 digelar Balai Besar KSDA Riau, Selasa (29/11), di Aula Kantor Kecamatan Rengat Kab.Indragiri Hulu. Materi disampaikan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kab. Inhu sebagai narasumber dan pemaparan draft dokumen RPM yang disampaikan oleh Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Riau, Tommy S.P Sinambela. Setelah diskusi acara ditutup dengan foto bersama dan penanda tanganan Berita Acara Hasil Konsultasi Publik dengan beberapa poin meliputi : Acara yang dibuka oleh Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan, Arry Purnama yang mewakili Kepala Balai Besar KSDA Riau turut dihadiri peserta dari Sekretaris Kec. Rengat, Kasi Pemerintahan Kec. Rengat Barat, Kasi Trantip Kec. Kuala Cenaku, Lurah Kerumutan, Kepala Desa Redang, Kepala Desa Danau Baru, Kepala Desa Rantau Bakung, Kepala Desa Sungai Guntung Tengah, Kepala Desa Kampung Pulau, Sekretaris Desa Pulau Gelang, Kasi Pelayanan Desa Pekan Heran, Tokoh masyarakat, Kepala Resort Kerumutan Utara, Kepala Resort Kerumutan Selatan dan Tim Bidang KSDA Wilayah I Rengat. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Keseruan Putri Konservasi di SM Bukit Rimbang Bukit Baling

Pekanbaru, 8 Desember 2022 – Serunya kunjungan dari para finaslis Putri Konservasi Riau 2022, Sukma Aulia Putri dan Jihan Saskia yang melakukan edukasi konservasi, sosialisasi dan pengambilan gambar di salah satu kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling pada Selasa dan Rabu, 29 s.d. 30 November 2022. Para finalis Putri Konservasi Riau 2022 tersebut menuju sebuah desa yang sudah ada sebelum kawasan ditetapkan, yaitu Desa Aur Kuning, Kec. Kampar Kiri Hulu, Kab. Kampar melalui sungai Subayang dengan menggunakan piau (perahu bermesin). Butuh waktu sekitar 2 jam dari Desa Tanjung Belit untuk sampai lokasi. Di lokasi, para finalis langsung disambut adik - adik kecil yang sedang bermain dan mandi di sungai Subayang. Para finalis pun berkesempatan untuk menginap di lokasi dan dapat melihat aktivitas para nelayan mulai hilir mudik naik piau maupun para ibu berangkat mengambil buah buahan di hutan dan saat menyadap karet di kebu. Para finalis yang juga merupakan Duta Konservasi melakukan edukasi dan sosialisasi di sekolah dan melihat keanekaragaman aktifitas warga dan berwisata di air terjun batu dinding. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Menuju Masyarakat Sejahtera Dengan Bantuan Ekonomi Produktif

Pekanbaru, 7 Desember 2022 - Berlokasi di kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Dumai, Balai Besar KSDA Riau, melakukan penyerahan bantuan ekonomi produktif di sekitar kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai, Kota Dumai dan di Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil, Kab. Siak, Kamis (30/11). Kegiatan ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi agar lebih mandiri dan mampu mengembangkan usaha sesuai dengan potensi masing-masing kelompok. Penyerahan bantuan ini diberikan langsung oleh Plt. Kepala Bidang KSDA Wilayah II, bapak Hartono kepada kelompok masyarakat yang berada di Kel. Bukit Timah dan Kel. Tanjung Palas, Kec. Dumai Timur, Kota Dumai. Masyarakat menyambut baik program dari Balai Besar KSDA Riau tersebut, yang sebelumnya pada 22 November 2022 juga telah diberikan bantuan kepada kelompok masyarakat yang berada di Desa Langkai, Kabupaten Siak. Kelompok masyarakat di sekitar TWA Sungai Dumai yang mendapat bantuan ekonomi produktif dari Balai Besar KSDA Riau berjumlah 3 (tiga) kelompok dan di sekitar SM Giam Siak Kecil hanya 1 (satu) kelompok yaitu kelompok tani hutan (KTH) Pandan Wangi, Kel. Tanjung Palas, Kota Dumai, dengan jenis usaha olahan makanan dan pertanian tebu, KT Gambut Berkah, Kel. Bukit Batrem, Kota Dumai dengan jenis usaha budidaya lele dan Pertanian Cabe, Kelompok Giat Rukun, Kel. Bukit Batrem, Kota Dumai dengan jenis usaha budidaya lele, Kelompok Maju Usaha, Desa Langkai, Kab. Siak dengan jenis usaha budidaya madu lebah Melifera. Masing-masing Kelurahan mendapatkan bantuan senilai Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Balai Besar KSDA Riau berharap kegiatan ini bisa berhasil, dikelola dan dimanajemen dengan baik serta kelompok masyarakat ikut menjaga kawasan serta menyampaikan ke masyarakat yang lain terkait kelestarian TWA Sungai dan SM Giam Siak Kecil. Kegiatan dihadiri Plt. Kepala Bidang KSDA Wil. II, Plt. Kepala SKW IV, Kepala Resort Dumai, Staf seksi dan Resort, Lurah Bukit Batrem, Kepala Desa Langkai dan Kelompok Masyarakat. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Konsinyering Identifikasi Batas Tanah Pulau Nusakambangan

Jakarta, 7 Desember 2022. Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi hadir sebagai narasumber dan peserta pada kegiatan konsinyering identifikasi batas tanah pulau Nusakambangan di Cilacap yang dibahas secara daring dan luring disertai kunjungan lapangan dari tanggal 30 November s.d 1 Desember 2022. Diharapkan hasil konsinyering ini diperoleh data dan informasi batas tanah pulau Nusakambangan sehingga dapat mendukung upaya pelestarian dan perlindungan kehati di kawasan konservasi yang berada di Pulau Nusakambangan. Konsinyering identifikasi batas tanah pulau Nusakambangan di Cilacap diawali dengan pembukaan dari Kepala Biro Pengelolaan BMN Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang dilanjutkan dengan diskusi pengumpulan data informasi terkait identifikasi batas tanah Pulau Nusakambangan di Cilacap. Kemudian dilanjutkan dengan menyeberang ke lokasi Pulau Nusakambangan untuk melihat kondisi pulau Nusakambangan yang saat ini sebagai areal lokasi pemasyarakatan bagi tahanan. Partisipasi ini atas undangan Kepala Biro Pengelolaan BMN Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan peserta dari berbagai instansi/lembaga meliputi Badan Geospatial, Kementerian Keuangan , Kantor Wilayah DJKN Jawa Tengah, Kementerian LHK, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian ATR/BPN/Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Wilayah ATR/BPN Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Cilacap. Sumber : Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi

Menampilkan 1.617–1.632 dari 2.637 publikasi