Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

SKW II Batam BBKSDA Riau Lakukan Inventarisasi Satwa Buaya

Pekanbaru, 27 Juni 2022 - Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Batam melakukan koordinasi dengan stakeholder di Provinsi Kepulauan Riau terkait konflik satwa liar buaya di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 13-17 Juni 2022. Tim berkunjung ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prov. Kepulauan Riau, KPHP Unit IV Bintan-Tanjung Pinang, serta Dinas Lingkungan Hidup Kab. Bintan. Langkah awal dalam penanganan konflik satwa liar buaya yaitu menginventarisasi satwa buaya di Pulau Bintan (Kota Tanjungpinang dan Kab. Bintan), mengamati dan mencermati lokasi perjumpaan satwa liar tersebut.. Di lokasi rawan konflik buaya, Tim melakukan pengecekan berdasarkan laporan masyarakat yang mengalami perjumpaan dengan satwa tersebut. Tujuan pengecekan ke lapangan selain untuk melihat langsung lokasi rawan konflik satwa liar buaya, juga bertujuan memetakan lokasi rawan konflik, menginvertarisasi estimasi jumlah buaya, melihat area rawan konflik satwa liar buaya serta sosial budaya masyarakat di sekitarnya. Adapun lokasi tersebut antara lain Jembatan Batu 8 Tanjungpinang, Desa Sebong Lagoi Kec. Teluk Sebong, Desa Penghujan Kec. Teluk Bintan, Desa Tembeling Kec. Teluk Bintan, Desa Toapaya Kec. Toapaya, Kelurahan Batu 9 Kec. Tanjungpinang Timur, Kec. Bintan Timur, dan Kec. Bukit Bestari. Selain melakukan inventarisasi satwa buaya, Tim juga melakukan koordinasi dengan Basarnas Kepulauan Riau di Tanjungpinang serta Pos Damkar Kijang. SKW II Batam BBKSDA Riau berharap dukungan dari segenap pihak, untuk bersama memaksimalkan upaya pemerintah dalam penanganan konflik satwa buaya dengan manusia. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Taka Bonerate Dive Camp 2022 - “Healing Coastal and Marine”

Tinabo, 28 Juni 2022 - Balai Taman Nasional Taka Bonerate berkolaborasi dengan komunitas Diver menyelenggarakan Taka Bonerate Dive Camp – Kemah Konservasi. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TN Taka Bonerate), dan untuk tahun ini kembali dilakukan dengan kolaborasi bersama komunitas diver setelah terakhir kali dilaksanakan pada tahun 2018. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan dan membekali peserta dengan informasi dan pengetahuan serta pandangan-pandangan luas tentang manfaat konservasi alam dan lingkungan hidup, sekaligus sebagai ajang promosi dan upaya menggeliatkan kembali sektor wisata di Kabupaten Kepulauan Selayar, khususnya dalam kawasan TN Taka Bonerate. Tema Taka Bonerate Dive Camp tahun 2022 mengusung tema “Healing Coastal and Marine”, dan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka Road to HKAN 2022. Kegiatan ini diselenggarakan dari tanggal 21 – 24 Juni 2022 di Pulau Tinabo. Peserta kegiatan Taka Bonerate Dive Camp tahun 2022 terdiri dari, siswa/i Sekolah Menengah Pertama (SMP) di dalam kawasan TN Taka Bonerate, komunitas peduli lingkungan, kelompok-kelompok masyarakat dan penggiat konservasi di dalam kawasan TN Taka Bonerate, serta Saka Wanabhakti Kepulauan Selayar yang merupakan binaan Balai TN Taka Bonerate. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Direktorat PJLKK Ditjen KSDAE Kementerian LHK, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Kepulauan Selayar, Universitas Hasanuddin, serta komunitas diver dari berbagai daerah, sebagai salah satu upaya menggeliatkan kembali sektor wisata pasca Covid-19 di kawasan TN Taka Bonerate khususnya, dan Kabupaten Kepulauan Selayar pada umumnya. Pada kegiatan ini juga dihadiri oleh Miss Scuba Indonesia 2018 sebagai bintang tamu dan juri Duta Karang. Kegiatan dibuka secara langsung oleh Kepala Balai TN Taka Bonerate, Faat Rudhianto, S.Hut., M.Si. Dalam sambutannya, Kepala Balai mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta dan tamu undangan. Kepala Balai TN Taka Bonerate juga menyebutkan, kegiatan di Tinabo ini mengabungkan aktivitas untuk siswa/i SMP pada kemah konservasi dan fun dive komunitas diver, sehingga dinamakan Taka Bonerate Dive Camp. Lanjutnya, bahwa kegiatan ini memiliki pesan konservasi, sebagai upaya untuk mengharmonisasikan kehidupan manusia dan alam sejak dini. Rangkaian kegiatan Taka Bonerate Dive Camp tahun 2022 adalah sebagai berikut: Sekolah Lapang, Seleksi Duta Karang, Giat Bersih Pantai dan Underwater Clean Up, Penanaman Pohon, Pameran Mini dan Launching Produk Kelompok Masyarakat, Transplantasi Karang, serta pertunjukan bakat dan seni budaya dari para peserta. Adapun untuk materi Sekolah Lapangan, disampaikan oleh Kepala Balai TN Takabonerate dengan materi Pemulihan Ekosistem di TN Taka Bonerate; Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Selayar dengan materi Peningkatan Ekonomi Melalui Sektor Wisata; Direktorat PJLKK dengan Materi Menggeliatkan Ekonomi Wisata di Taman Nasional Taka Bonerate; dan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin memberikan materi Healing Marine-Rekoneksi Manusia dengan Alam. Selain itu juga peserta menerima sesi sharing terkait Bijak Kelola Sampah Plastik dari Komunitas Selayar Bebas Sampah Plastik, serta Fishing Games Praktik Perikanan Berkelanjutan dari Balai TN Taka Bonerate dan WCS-IP. Pada malam penutupan, para peserta menampilkan pertunjukan bakat dan seni, mulai dari menyanyi, tari-tarian, berpuisi hingga manca’ padang. Selain itu, hasil seleksi Duta Karang 2022 juga diumumkan pada malam penutupan ini. Pada tahun ini Irfan dari SMPN 20 Kep. Selayar, Desa Rajuni dan Nur Faizah dari SMPN 20 Kep. Selayar, Desa Rajuni berhasil menjadi Duta Karang Tahun 2022. Selempang Duta Karang disematkan secara langsung oleh Kepala Balai TN Taka Bonerate dan Ketua Dharma Wanita Persatuan TN Taka Bonerate. Kegiatan Taka Bonerate Dive Camp tahun 2022 ditutup oleh perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar, beliau memberikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada Balai TN Taka Bonerate sebagai penyelenggara dan semua pihak yang terlibat atas terselenggaranya kegiatan ini dengan baik. Tidak lupa juga ucapan terima kasih kepada para narasumber dan para juri serta komunitas diver yang telah meluangkan waktunya untuk datang di Pulau Tinabo mengikuti kegiatan Taka Bonerate Dive Camp tahun 2022. Salam Konservasi, Hu Ha! Hu Ha! Hu Ha! Sumber: Asep Pranajaya, S.Pi. (Penyuluh Kehutanan – BTN Taka Bonerate)
Baca Artikel

Tadabbur Alam Siswa-siswi Taman Pendidikan Al-Quran Musholla Al Aqsho

Pekanbaru, 27 Juni 2022 – Kira-kira enaknya ngapain ya liburan begini? Yuuk kita intip kegiatan positif yang bisa dicontoh untuk mengisi liburan anak sekolah kali ini. Salah satu kegiatan itu adalah kegiatan yang dilakukan Taman Pendidikan Al Quran (TPA) Mushola Al Aqsho yang berada di RT 02 RW 01, Desa Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar. Kegiatan tersebut berupa Tadabbur Alam yang dilaksanakan pada Minggu, 19 Juni 2022 di Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina. Kegiatan diikuti oleh anak-anak TPA yang berjumlah 49 anak didampingi 6 orang pembimbing dan beberapa pengurus Mushola. Adik-adik kecil ini dikenalkan dengan satwa-satwa ciptaan Tuhan yaitu 3 satwa Gajah yang ada di TWA Buluh Cina yaitu Robin, Ngatini dan si imut Damar. Bahkan mereka diberi kesempatan untuk memberi makan satwa tambun tersebut loh! Asyiknya lagi, untuk lebih mencintai dan peduli alam, mereka diajak untuk menanam pohon Aren sebanyak 28 batang. Terlihat anak-anak sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut. Semoga kepedulian mereka terhadap kelestarian alam dan berbagi tempat dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan dapat terwujud ya sob, sehingga kelak mereka dapat menjaga alam serta melestarikannya dengan baik. Aamiin Ya Rabbal Allamiin. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

BBKSDA Riau Dampingi BRGM Dalam Pembuatan Sekat Kanal

Pekanbaru, 27 Juni 2022 – Asep Firman, petugas Balai Besar KSDA Riau Seksi Konservasi Wilayah I bersama tim, mendampingi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dalam rangka Groundcheck Parit dan Perencanaan Sekat Kanal di Ds. Teluk Binjai dan Kel. Teluk Meranti Kec. Teluk Meranti, Kab. Pelalawan. Kegiatan pendampingan ini dilaksanakan sejak hari Rabu hingga Jum'at (22-24 Juni 2022). Sebelum pelaksanaan kegiatan, terlebih dahulu Tim melakukan briefing dan pertemuan dengan masyarakat terkait rencana lokasi yang akan dilakukan pembuatan sekat kanal serta pembentukan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Desa Teluk Binjai dan Kelurahan Teluk Meranti. Groundcheck hasil canal blocking/sekat kanal dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Di lokasi sekat kanal Parit Desa dan Parit Mega, ditemukan ada pembukaan kanal baru disamping timbunan. Tim BRGM yang terdiri dari 4 personil dan Pokmas berupaya melakukan penimbunan baru dengan menggunakan pasir pantai dibungkus dengan karung. Tim Pokmas sebelumnya sudah mempersiapkan perlengkapan dan bahan untuk penimbunan parit. Barang dan bahan tersebut kemudian diangkut melalui parit dengan menggunakan perahu karena jarak tempuh yang cukup jauh, berkisar ± 3,5 Km ke lokasi penimbunan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

KTH Milenial : Sadar Konservasi, Raih Prestasi

Bogor, 24 Juni 2022. Kelompok Tani Hutan (KTH) Sadar Tani Muda yang merupakan binaan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) meraih prestasi sebagai pemenang Lomba Wana Lestari Tingkat Daerah Provinsi Jawa Barat untuk kategori Kelompok Tani Hutan (KTH). Prestasi ini berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor: 002.6/Kep.298/-Dishut/2022 tanggal 8 Juni 2022 tentang Pemberian Penghargaan Daerah Kepada Pemenang Lomba Wana Lestari Tingkat Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2022, Rabu (22/6). Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah I Provinsi Jawa Barat mengusulkan empat kategori dari 6 kategori yang dilombakan yaitu 1 kelompok untuk kategori Kelompok Tani Hutan (KTH), 1 orang untuk Kader Konservasi Alam (KKA), 1 orang untuk Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat dan 1 kelompok untuk Kelompok Pecinta Alam (KPA). Tiga dari empat kategori tersebut memperoleh peringkat pertama yaitu KTH yang dimenangkan oleh KTH Sadar Tani Muda, KPA yang dimenangkan Lawalata Institut Pertanian Bogor, dan KKA yang dimenangkan Sdr. Basir Baesuni, S.Pd. Kader Konservasi yang menang tersebut merupakan tokoh masyarakat di Kampung Cijulang, RT 003 RW 005 Desa Kopo, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor. Terbentuknya KTH Sadar Tani Muda merupakan metamorfosis dari Kelompok Tani Sabar Tani yang berdomisili di Desa Bojong Murni, Kec. Ciawi, Kab. Bogor. Kang Jaka, anggota Kader Konservasi binaan Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Tapos, merupakan salah satu perintis kelompok. Kemudian dengan inisiatif dan kesadaran untuk membangun desa dan kepedulian terhadap alam, Kang Jaka bersama sekelompok pemuda membentuk KTH yang difasilitasi oleh CDK Wilayah I dan BBTNGGP. Keinginan untuk memperkenalkan budidaya lebah madu dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta upaya pelestarian kawasan konservasi di wilayah Desa Bojong Murni turut melandasi pembentukan kelompok. KTH Sadar Tani Muda juga telah memberikan virus positif kepada masyarakat dalam budidaya lebah madu termasuk bagi KTH Cikereteg Maju yang sebelumnya merupakan kelompok masyarakat penggarap di Blok Cikereteg, Resort PTN Tapos. Meski keduanya memiliki latar belakang dan SDM yang berbeda, namun dapat berjalan dengan prinsip yang sama yaitu hutan konservasi sebagai “penunjang” kehidupan masyarakat. Hutan konservasi berperan penting sebagai sumber pakan lebah. Usaha budidaya lebah madu mulai diadopsi oleh 15% anggota KTH Cikereteg Maju. Jenis lebah yang dibudidayakan yaitu jenis Trigona sp. atau lebah klanceng dan Apis cerana atau lebih dikenal dengan lebah lokal. Lebah lokal lebih tepat dibudidayakan di wilayah Desa Bojong Murni berdasarkan kondisi potensi alam di TNGGP. Hanya dengan menaruh stup kosong dengan sedikit lilin lebah, maka lebah-lebah akan berdatangan. Sebagai tambahan informasi, pada peringatan Hari Ulang Tahun TNGGP ke-42, KTH Sadar Tani Muda meraih Juara Kedua Lomba Video Kampanye Konservasi dengan mengusung tema “Lebah Penyelamat Konservasi”. KTH ini juga sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti Lomba Wana Lestari Tingkat Nasional. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks: Ratih Mayangsari, S.Hut. Foto : Mukti Ahmad Sofyan dan CDK I Provinsi Jawa Barat
Baca Artikel

Sinergi Erat Cegah Tindak Pidana Kehutanan di TNGGP

Bogor, 24 Juni 2022. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia, terbentuk sejak tahun 1980 dan dinyatakan oleh UNESCO sebagai salah satu dari enam Cagar Biosfer di Indonesia. TNGGP adalah kawasan konservasi di Jawa Barat yang memiliki luas 24.270,8 hektar, Dalam pengelolaannya, perusakan hutan masih menjadi masalah yang perlu penanganan serius. BBTNGGP membangun koordinasi, sinergi, dan kerjasama yang baik dengan aparat penegak hukum dalam pengamanan kawasan sebagai tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Rapat Koordinasi Aparat Penegak Hukum dalam Rangka pencegahan kebakaran hutan/ perlindungan hutan di Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Bogor dilaksanakan pada Kamis (16/06/22) di Hotel Horison Ultima Bhiavana Ciawi. Kemudian untuk Bidang PTN Wilayah II Sukabumi dilaksanakan di Hotel Santika Sukabumi pada Jumat (17/06/22), setelah sebelumnya dilakukan di wilayah Cianjur (13/4/22). Dalam rapat koordinasi ini dibahas mengenai 3 hal yakni: a) Implementasi kesepahaman dan pedoman kerja sama teknis; b) Dukungan pengamanan Polres dalam perlindungan Pengamanan Kawasan Hutan; dan c) Pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Potensi, serta Tantangan. Pertemuan ini menghasilkan 5 (lima) rencana aksi untuk pencegahan tindak pindana kehutanan, yaitu: 1. Sosialisasi hal-hal yang boleh dan tidak boleh di taman nasional; 2. Sosialisasi kerjasama TNGGP – POLRI; 3. Berbagi peta kerja polsek/polres dengan peta kawasan TNGGP; 4. Penanganan bersama gangguan tindak pidana kehutanan; 5. Peningkatan koordinasi dan komunikasi POLRES/POLSEK dengan BBTNGGP untuk penanganan lanjutan gangguan tindak pidana kehutanan. Dengan adanya rencana aksi ini diharapkan dapat meningkatkan pencegahan kerusakan/ tindak pidana kehutanan di TNGGP serta terjalin sinergitas yang semakin erat antara BTNGGP dan POLRI. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Ike Oktaviany, A.Md. Dok : Bidang Teknis Konservasi - BBTNGGP
Baca Artikel

Temuan Kelinci Belang Langka di Rimba Sriwijaya

Palembang, 23 Juni 2022. Kelinci sumatera (Nesolagus netscheri) merupakan jenis mamalia kecil endemik Indonesia yang mendiami wilayah Sumatera (Dinets 2010, McCarthy et al. 2019). Kelinci sumatera dikenal juga sebagai kelinci belang sumatera ataupun kelinci telinga pendek. Kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) merupakan satwa elusive (tidak suka menampakkan diri) dan nokturnal (Dinets 2010, McCarthy et al. 2012, Bose 2014, Setiawan et al. 2018), meskipun terdapat beberapa perjumpaan di siang hari (Jacobson & Kloss 1919 dalam Setiawan 2018). Secara historis kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) dapat ditemui di seluruh hutan di Bukit Barisan, yang membentang di sepanjang pantai barat Sumatera dari Sumatera Selatan sampai Aceh (Blouch 1984 dalam McCarthy et al. 2019), mulai dari Taman Nasional Gunung Leuser sampai dengan TN Bukit Barisan Selatan (Setiawan et al. 2022). Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1880 melalui spesimen yang berasal dari daerah Sumatera Barat, yang dikoleksi oleh E. Netscher (Flux 1990). Antara tahun 1880-1916 terdapat beberapa kali temuan kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) yang berhasil didokumentasikan di sepanjang Bukit Barisan. Pada awal tahun 1900an, terdapat temuan di wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu (Flux 1990; Jacobson 1921, Jacobsen dan Kloss 1919 dalam McCarthy et al. 2019). Setelah hampir enam dekade berlalu keberadaan kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) tidak diketahui rimbanya, pada tahun 1972 terdapat laporan perjumpaan spesies ini di kawasan Taman Nasional (TN) Gunung Leuser Provinsi Nangro Aceh Darussalam (NAD). Kemudian dilaporkan juga perjumpaan pada tahun 1978 di daerah dekat Gunung Kerinci oleh J. Seidensticker (Flux 1990). Temuan kelinci belang sumatera melalui camera trap di kawasan TN Kerinci Seblat dilaporkan pada tahun 1997 oleh J. Holden (Flora and Fauna International). Laporan temuan terbaru paling banyak adalah di TN Bukit Barisan Selatan dan TN Kerinci Seblat (McCarthy et al. 2012, McCarthy et al. 2018). Hal ini mengindikasikan bahwa 2 taman nasional tersebut menjadi area perlindungan utama bagi kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) yang memiiki ketergantungan sangat tinggi terhadap kawasan hutan dengan tutupan vegetasi yang rapat (McCarthy et al. 2019). Temuan terbaru kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) dilaporkan pada tahun 2021 di wilayah Provinsi Bengkulu (Setiawan et al.2022). Pada tahun 1994, kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) ditetapkan statusnya sebagai Endangered berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist. Kemudian pada tahun 1996 statusnya menjadi Critically Endangered. Dikarenakan kajian ekologi maupun populasi satwa ini yang jarang dilakukan, IUCN kembali menetapkan status kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) menjadi Vulnerable pada tahun 2008. McCarthy et al. (2012) menyatakan bahwa kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) merupakan spesies langka yang memiliki sedikit informasi terkait ekologi, status dan distribusinya di wilayah Sumatera. Untuk mengetahui kondisi dan status ekologi kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri), pada tahun 2012 dilakukan survei di seluruh wilayah Sumatera untuk mengidentifikasi berbagai catatan temuan terbaru maupun sejarah keberadaannya di wilayah Sumatera (McCarthy et al. 2012). Akan tetapi hal inipun tidak memberikan cukup data yang dapat digunakan untuk melakukan kajian ekologi kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri). Setelah hampir satu dekade berlalu, informasi mengenai ekologi kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) semakin sedikit sehingga IUCN kembali menetapkan satwa ini ke dalam kategori Data Deficient (McCarthy et al. 2019). Perjumpaan dengan kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) sangat jarang terjadi, sehingga informasi mengenai kepadatan ataupun ukuran populasi satwa ini tidak dapat diketahui secara pasti. Nowak (1999) dalam Dinets (2010) menyatakan bahwa anggapan kelangkaan spesies ini dimungkinkan karena kurangnya data mengenai keberadaannya di alam. Kajian lebih lanjut terkait keberadaan satwa ini diperlukan untuk memastikan statusnya di alam. Kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) telah dinyatakan sebagai satwa dilindungi sejak tahun 1972 (Noerdjito & Maryanto 2001 dalam Setiawan et al. 2022). Keberadaannya yang semakin langka membuat kelinci jenis ini masuk dalam daftar jenis satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/ 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Perjumpaan kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) di wilayah Sumatera Selatan pertama kali terjadi di awal tahun 1900 (Flux 1990; Jacobson 1921, Jacobsen & Kloss 1919 dalam McCarthy et al. 2019). Disebutkan juga bahwa kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) adalah satwa yang sering dijumpai di kawasan Hutan Suaka Alam Kelompok Hutan (HSA KH) Gumai Tebing Tinggi sekitar tahun 1989 (Flux 1990, Setiawan et al. 2018). Setelah lebih dari tiga dekade berlalu, kawasan lain di Sumatera Selatan yang kemudian berhasil diidentifikasi sebagai habitat kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) adalah Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau pada tahun 2018 (Pratama & Setiawan, komunikasi pribadi, 2022), SM Gunung Raya Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (Hidayat et al. 2018, Setiawan et al. 2018). Penelurusan lebih lanjut menunjukkan hasil bahwa wilayah lain di Sumatera Selatan yang teridentifikasi sebagai habitat kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) adalah di Gunung Dempo (Setiawan, 2019). Daerah-daerah tersebut merupakan dataran tinggi. Satwa kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) di kawasan SM Isau-Isau diketahui pertama kali tertangkap kamera trap pada tahun 2018. Pada awalnya pemasangan kamera trap dimaksudkan untuk melakukan pengamatan satwa target lain yaitu harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), kambing hutan (Capricornis sumatraensis), macan dahan (Neofelis diardi) dan anjing hutan (Cuon alpinus). Akan tetapi pada saat pengecekan hasil pemasangan kamera trap diketahui ada tangkapan gambar kelinci langka yang kemudian memberikan keyakinan bahwa kawasan SM Isau-Isau masih memiliki ekosistem yang dapat menjadi area perlindungan bagi satwa langka ini. Tangkapan hasil kamera trap selanjutnya terjadi pada tahun 2020 dan 2021 (Pratama & Setiawan, komunikasi pribadi, 2022). Kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) diketahui masih menghuni kawasan SM Isau-Isau yang masih memiliki tutupan vegetasi yang cukup rapat. Kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) diketahui mengalami keterancaman dari adanya perburuan liar. Blouch (1984) dalam Setiawan (2019) menyatakan bahwa tekanan perburuan terhadap kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) tidak terlalu signifikan. Hal ini dikarenakan kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) jarang ditemukan di area terbuka dan lebih sering dijumpai di daerah terpencil yang sulit dijangkau manusia (remote area) dengan kepadatan populasi yang rendah. Meijaard dan Sugardjito (2008) dalam Setiawan et al. (2019) menyatakan bahwa ancaman utama bagi kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) adalah pembukaan daerah di dataran tinggi untuk perkebunan (kopi dan kakao), dan bukan dikarenakan perburuan secara rutin yang dilakukan oleh para pemburu. Sementara Schai-Braun dan Hackländer (2016) dalam Setiawan et al. (2019) menyatakan bahwa adanya perburuan satwa di kawasan konservasi merupakan ancaman terbesar selain adanya pembukaan kawasan. Informasi berbagai ancaman kelangsungan kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) dapat digunakan di dalam penyusunan strategi pengelolaan dan konservasi satwa ini kedepan (Smith 2008, Smith et al. 2018). Dengan diketahuinya keberadaan kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) di kawasan konservasi wilayah Sumatera Selatan (HSA KH Gumai Tebing Tinggi, SM Gunung Raya dan SM Isau-Isau), berikut dengan keterancaman yang mengintai kelestarian, baik habitat maupun populasinya maka diperlukan upaya dan strategi pengelolaan yang komprehensif agar kelestarian konservasi berikut keanekaragaman hayati di dalamnya tetap terjaga. Informasi bahwa kawasan HSA KH Gumai Tebing Tinggi juga merupakan salah satu habitat dari kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) lebih dari tiga dekade yang lalu juga perlu dikaji lebih lanjut. Hal ini untuk mendapatkan kepastian informasi terkini mengenai status ekologi, populasi dan distribusinya. Strategi pengelolaan yang tertuang di dalam Dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang kawasan konservasi telah mengakomodir upaya perlindungan flora dan fauna serta fungsi hidrologis kawasan melalui strategi pemantapan kawasan, penyelesaian konflik tenurial yang terjadi di dalam kawasan serta penyediaan sarana prasarana (sarpras) perlindungan seperti pos jaga, sarpras pemantauan satwa, sarpras navigasi dan dokumentasi, serta sarpras pendukung perlindungan kawasan berupa papan informasi/larangan dan media penyuluhan. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Artikel

Field Excursion Bersama Juara Utama Kompetisi Daur Ulang Sampah Youth Ranger Komodo Festival Tahun 2022

Labuan Bajo, 20 Juni 2022. Balai Taman Nasional Komodo mengadakan kegiatan field excursion bagi para pemenang pertama kompetisi daur ulang sampah Youth Ranger Komodo Festival (YRKF) yang diselenggarakan pada tanggal 16 Maret 2022 silam. Pemenang pertama mendapatkan kesempatan menjadi ‘ranger cilik’ dan diajak berkeliling mengunjungi beberapa resort di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Juara pertama kompetisi YRKF diraih oleh siswa-siswi dari SMKN 3 Komodo yang mayoritas berasal dari prodi Wisata Bahari dan Ekowisata. Kegiatan field excursion pemenang YRKF ini didampingi oleh Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Pertama), Ikhwan Syahri (Polisi Kehutanan Pertama), Rawuh Pradana (Polisi Kehutanan Pertama), Fahri Ikhlas (Penyuluh Kehutanan Pertama), Arfandi (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Buaya), dan Jimianus Zakaria Nguru (Kapten Speedboat). Destinasi yang dikunjugi para pemenang diantaranya adalah Resort Loh Liang dan Resort Padar Selatan. Kedua resort ini menjadi primadona kawasan Taman Nasional Komodo oleh karena indahnya pemandangan dan keunikan biodiversitasnya. Selama berekreasi di dalam kawasan, para pemenang diberikan tugas untuk membuat video singkat mengenai pengalaman lapangannya untuk kemudian diunggah di media sosial masing-masing. Rawuh Pradana, Kepala Resort Loh Liang, yang turut mendampingi pemenang menyambut khusus rombongan saat berkunjung ke wilayah kerja resortnya. Para pemenang diberikan interpretasi mendalam mengenai pengelolaan Taman Nasional Komodo, Legenda Komodo, distribusi biawak komodo, dan keberagaman biodiversitas yang ada di Resort Loh Liang. Para pemenang tampak terkejut melihat besarnya biawak komodo yang mereka jumpai di dalam kawasan. Siswa-siswi dengan cepat mengeluarkan gawainya masing-masing dan mulai mendokumentasikan gerak-gerik biawak komodo dari kejauhan. Rawuh juga menjelaskan mengenai kakatua kecil jambul kuning yang hidup di wilayah pepohonan Loh Liang. Para siswa dan guru takjub melihat banyaknya burung kakatua kecil jambul kuning terbang bebas di alamnya tanpa adanya gangguan manusia. Para pemenang lalu diajak mengunjungi Puncak Padar Selatan untuk menikmati indahnya landsekap bukit sabana yang berwarna kuning kehijauan. Siswa-siswi dengan semangat mendaki tingginya bukit dan terharu bahagia melihat indahnya pemandangan dari ketinggian. Tim pendamping Balai Taman Nasional Komodo kemudian memberikan interpretasi singkat di setiap titik istirahat jalur trekking. Sesampainya di puncak, rombongan melakukan foto bersama dan mulai bergotong royong mengumpulkan sampah yang ditinggalkan oleh oknum wisatawan tidak bertanggungjawab. Rombongan lalu kembali turun ke bawah untuk menyelesaikan perjalanan. Balai Taman Nasional Komodo berharap dengan diselenggarakannya kegiatan kemasyarakatan dalam bentuk kompetisi dapat meningkatkan daya juang/daya saing para pelajar di Kabupaten Manggarai Barat untuk bisa berkreasi dan berinovasi lebih bagus lagi. Hadiah yang dberikan kepada pemenang pertama bukan merupakan uang tunai, namun lebih kepada kesempatan rekreasi sambil belajar konservasi. Harapannya, dengan diberikannya kesempatan tersebut, para pelajar menjadi semakin paham tanggungjawab kerja jagawana di lapangan. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar siswa-siswi SMKN 3 Komodo berpeluang melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan lebih tinggi ke program Diploma- III Ekowisata dan dapat melamar kerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya di Balai Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Evaluasi SPIP Dengan Peninjauan Lapangan di Tiga Resort TN Komodo

Labuan Bajo, 16 Juni 2022. Tim Satgas Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Balai Taman Nasional Komodo Tahun 2022 mengadakan peninjauan lapangan dalam rangka evaluasi SPIP Triwulan I ke Resort Kampung Rinca, Resort Loh Buaya, dan Resort Papagarang. Tim SPIP yang beranggotakan sepuluh orang kali ini berupaya untuk mengidentifikasi risiko dan kendala/permasalahan yang mungkin dihadapi salah satunya oleh anggota POKDARWIS Desa Pasir Panjang dalam menyusun rencana kerja tahunan kelompok dalam rangka mendukung pengembangan aktivitas pariwisata berbasis masyarakat di lingkup wilayah desa. Tim kemudian bertemu dengan Edi selaku perwakilan POKDARWIS Desa Pasir Panjang dan menanyakan berbagai kendala yang dihadapi dalam organisasi dan eksekusi di lapangan. Edi menyampaikan bahwa penyusunan rencana kerja tahunan dan rencana usaha belum disusun sempurna oleh kelompok karena keterbatasan sumber daya manusia yang mampu mengerjakannya. Tambahnya, Edi juga mengatakan bahwa anggota POKDARWIS belum sepenuhnya memiliki visi dan misi yang sama dalam menjalankan unit usaha khusus di dalam kawasan Taman Nasional Komodo sehingga memerlukan brainstorming bersama dengan petugas Balai Taman Nasional Komodo. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo telah mencatat risiko dan kendala yang dihadapi dan berkesempatan untuk memberikan rekomendasi penyelesaian dari permasalahan tersebut kepada anggota kelompok. Rekomendasi pertama adalah dengan memberikan salinan SK POKDARWIS Desa Pasir Panjang ke Resort Kampung Rinca untuk dijadikan arsip dan tembusan. Tujuannya agar petugas Resort Kampung Rinca mengetahui siapa saja anggota kelompok dan mampu mengagendakan diseminasi tertentu terkait dengan pengembangan Desa Wisata di dalam kawasan. Rekomendasi kedua adalah dengan menyarankan agar anggota POKDARWIS Desa Pasir Panjang menemui petugas Resort Kampung Rinca dan pegawai Balai Taman Nasional Komodo lainnya guna memohon saran masukan terkait penyempurnaan rencana unit usaha yang diinginkan. Rencana unit usaha tersebut perlu dipresentasikan dihadapan Kepala Balai Taman Nasional Komodo untuk mendapatkan persetujuan dan saran masukan selanjutnya. Jika saran dan masukan Kepala Balai Taman Nasional Komodo telah diakomodasi dalam rancangan, anggota POKDARWIS Desa Pasir Panjang bersama dengan Kepala Resort Kampung Rinca perlu berdiskusi khusus dengan perangkat desa terkait dengan rencana pengembangan unit usaha yang akan dilakukan di wilayah administrasi Desa Pasir Panjang. Rekomendasi ketiga adalah menyarankan Edi untuk mengadakan pertemuan rutin bulanan atau dengan frekuensi lain yang lebih sering bersama seluruh anggota POKDARWIS Desa Pasir Panjang guna menyamakan persepsi visi dan misi masing-masing anggota. Setelah selesai menyampaikan temuan risiko dan rekomendasi, tim beranjak ke destinasi kedua dalam rangkaian kegiatan perjalanan dinas dalam kota ini. Destinasi kedua yang dituju adalah Resort Loh Buaya SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Resort Loh Buaya merupakan salah satu lokasi pengerjaan proyek nasional peningkatan kualitas sarana prasarana wisata alam yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Proyek nasional ini sudah genap berlangsung selama satu tahun dan masih berproses hingga saat ini. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo berupaya untuk mengidentifikasi risiko yang muncul selama proses pengerjaan sementara diselenggarakan oleh tim kontraktor dibawah naungan Kementerian PUPR. Kepala Resort Loh Buaya, Ikhwan Syahri, menyampaikan beberapa kendala terkait dengan capaian sementara pengerjaan proyek. Adapun pengerjaan yang disoroti tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo pada evaluasi kali ini adalah kualitas pengerjaan interior/infrastruktur di area kompleks utama Resort Loh Buaya, pemilihan jenis pohon dan progress penanaman pohon, serta kapasitas pengunjung dan SOP kegiatan kunjungan di dalam Ruang Pusat Informasi Loh Buaya. Peninjauan risiko pertama adalah tidak terjadwalnya supervisi Balai Taman Nasional Komodo dengan Kementerian PUPR dan kontraktornya melalui agenda rapat periodik setiap bulan. Hal ini mengakibatkan beberapa pengerjaan sarpras interior tidak sesuai ekspektasi dan perencanaan yang disampaikan. Contohnya, pemasangan kaca di ruang kerja/resort dekat Pusat Informasi tidak dipasang dengan penyangga kuat sehingga menimbulkan faktor risiko keamanan (kecelakaan kerja) jika kayu pondasi memuai dan kaca dapat jatuh/pecah menimpa wisatawa/pegawai di tingkat tapak. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo kemudian mengidentifikasi masalah dan menuliskannya dalam laporan untuk kemudian disampaikan ke pimpinan agar bisa ditindaklanjuti dalam rapar koordinasi bersama mitra. Peninjauan kedua adalah pemilihan jenis pohon dan hasil sementara penanaman pohon di sekitar bangunan utama Resort Loh Buaya. Diketahui bahwa jenis tanaman yang digunakan sebagai tumbuhan penghijau yang ditanam di level 2 bangunan adalah bidara (Ziziphus mauritiana). Jenis ini merupakan tumbuhan khas ekosistem sabana yang ada di kawasan Taman Nasional Komodo yang dapat tumbuh hingga ketinggian 5 – 7 meter dengan bentuk daun kecil dan batang ditumbuhi duri. Jika bidara ditanam dan tumbuh subur pada lahan yang berada di level 2, maka akan ada risiko akar tumbuhan tersebut dapat merusak pondasi utama bangunan. Bidara akan tumbuh menjadi tumbuhan kayu yang cukup besar. Menariknya, jumlah bibit/anakan bidara yang ditanam mencapai puluhan setiap petak tanamnya. Hal ini menjadi semakin berisiko karena daya tumbuh antar tanaman berkurang akibat kompetisi dan jenis tanaman yang ditentukan pun kurang tepat sebagai peneduh di level 2 bangunan. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo kemudian menyarankan agar petugas Resort Loh Buaya berdiskusi dengan Kementerian PUPR dan kontraktor untuk mempertimbangkan menanam jenis tumbuhan lain (lontar, gebang, atau tumbuh hijau lain yang tidak besar) dan mengurangi jumlah anakan bidara pada setiap petaknya untuk mengurangi risiko mortalitas penanaman yang risikonya jauh lebih besar daripada tidak memiliki tumbuhan penghijau sama sekali di bangunan level 2. Peninjauan ketiga adalah kapasitas ruang Pusat Informasi Loh Buaya dan manajemen pengunjung di dalam gedung saat mulai beroperasi. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo mengobservasi dan memprediksi bahwa kapasitas ruang Pusat Informasi hanya mampu menampung 100 orang dalam satu waktu kunjungan. Angka ini cukup kecil dibandingkan kapasitas total pengunjung keseluruhan yang mencapai 1000 orang per hari, sehingga aktivitas wisatawan dan alur kunjungan di dalam Pusat Informasi perlu diatur dan tidak menimbulkan kerusakan pada masing-masing obyek peraganya. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo menyarankan agar petugas Resort Loh Buaya melibatkan pejabat fungsional lingkup Balai Taman Nasional Komodo untuk merumuskan SOP Pengaturan Pengunjung di Pusat Informasi Loh Buaya bersama-sama. Tim menyarankan bahwa alur kunjungan harus diatur serapi dan seksama mungkin agar tidak menimbulkan masalah besar dikemudian hari. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo melanjutkan peninjauan risiko ke destinasi ketiga yaitu Resort Papagarang SPTN Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo. Resort Papagarang termasuk ke dalam Zona Permukiman Taman Nasional Komodo. Desa Papagarang sendiri juga merupakan salah satu dari 94 Desa Wisata di Kabupaten Manggarai Barat yang dinobatkan oleh Bupati Manggarai Barat pada tahun lalu. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo berupaya untuk mengevaluasi dan meninjau risiko kegiatan kemasyarakatan yaitu kegiatan pemberdayaan dan pendampingan bagi anggota POKDARWIS Desa Papagarang yang rutin dilaksanakan oleh Resort Papagarang bersama masyarakat. Risiko yang teridentifikasi adalah POKDARWIS Desa Papagarang belum menyerahkan salinan SK POKDARWIS ke petugas Resort Papagarang sehingga eksistensi dan keberadaan kelompok belum mendapatkan perhatian penuh dari petugas di tingkat tapak. POKDARWIS Desa Papagarang juga belum memiliki rencana usaha (business plan) yang realistis di Papagarang. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo lantas merekomendasikan beberapa saran kepada POKDARWIS Desa Papagarang melalui kegiatan anjangsana dan diseminasi di ruang pertemuan Balai Desa. Tim merekomendasikan agar salinan SK POKDARWIS Desa Papagarang ditembuskan ke petugas Resort Papagarang dan hendaknya mengagendakan jadwal pertemuan lebih sering dengan petugas di tingkat tapak. Hal ini untuk meminimalisir kesalahpahaman informasi dan menguatkan rasa kepercayaan antar keduanya sehingga kedepannya keduanya dapat saling bekerjasama mengerjakan berbagai hal untuk kemajuan pariwisata di tingkat desa. Tim SPIP Balai Taman Nasional Komodo juga merekomendasikan anggota POKDARWIS Desa Papagarang untuk bersama-sama merancang rencana bisnis bersama petugas Resort Papagarang agar bentuk dan jenis kegiatan wisata yang direncanakan tetap berada dalam koridor konservasi berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaan evaluasi Satgas SPIP terhadap kegiatan pengelolaan di Balai Taman Nasional Komodo penting untuk diselenggarakan secara konsisten. Temuan risiko dan rekomendasinya dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk pengembangan program lebih lanjut pada tahun anggaran berikutnya yang dapat mendukung pencapaian indikator kinerja pimpinan dan memenuhi tanggungjawab kerja institusi pemerintah. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Peningkatan Kunjungan Wisatawan di Resort Padar Selatan

Labuan Bajo, 9 Juni 2022. Resort Padar Selatan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di dalam kawasan Taman Nasional Komodo yang kerap dikunjungi oleh wisatawan dari segala penjuru dunia. Tingkat kunjungan wisatawan ke Padar Selatan cenderung meningkat dari waktu ke waktu oleh karena indahnya pesona pemandangan alam yang tiada duanya. Setidaknya 3.905 wisatawan mengunjungi Resort Padar Selatan pada tanggal 19 – 28 Mei 2022. Pada periode kunjungan ini, komposisi wisatawan didominasi oleh wisatawan nusantara dengan jumlah 2.056 orang, sedangkan wisatawan mancanegara mencapai 1.849 orang. I Komang P. Tussabat (Kepala Resort Padar Selatan/Petugas Pemungut Karcis PNBP) merekapitulasi data kunjungan tersebut dan menyampaikan bahwa lonjakan pengunjung terjadin pada akhir pekan. Jumlah wisatawan hanya pada Hari Sabtu (28 Mei 2022) mencapai 941 pengunjung dimana mayoritas merupakan wisatawan nusantara yang motivasi kunjungannya adalah memperoleh foto/selfie di alam sehingga menciptakan penumpukan di sekitar area puncak Padar Selatan mulai dari pukul 05:00 – 10:00 WITA. Petugas Resort Padar Selatan bekerja sama dengan naturalist guide Koperasi Serba Usaha Taman Nasional Komodo berupaya mengendalikan arus dan jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Padar Selatan dengan menerapkan timed entry ketat yaitu hanya pada pukul 05:00 – 10:00 WITA. Meskipun demikian, masih banyak pengunjung yang tetap menerobos masuk ke puncak Padar Selatan pada pukul 04:00 WITA dini hari. Hal ini tentu sangat tidak baik dan melanggar peraturan yang sudah diberlakukan. Selain itu, topografi Padar Selatan adalah sabana dengan tebing yang sangat curam, akan sangat berbahaya bagi wisatawan untuk mendaki di saat gelap dan hanya dengan penerangan terbatas. Petugas Resort Padar Selatan juga memberlakukan pembatasan durasi foto/selfie di puncak Padar Selatan yaitu selama 3 menit saja. Ketentuan ini diberlakukan untuk mengurangi tingkat penumpukan di puncak dengan area yang sangat sempit dan memberikan kesempatan bagi wisatawan dengan motivasi kunjungan lain untuk menikmati indahnya alam dari ketinggian. Petugas Resort Padar Selatan sangat berharap agen perjalanan wisata dan tur operator lainnya yang datang membawa rombongan wisatawan ke Padar Selatan agar mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku. Padar Selatan merupakan destinasi ekowisata dan menjadi situs atraksi penting di dalam kawasan Taman Nasional Komodo yang perlu dilestarikan keutuhan ekosistem dan keberadaan biodiversitasnya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Tenaga Pengamanan Hutan Resort Padar Selatan - Thomas David Carvallo, S.Hut. (+6282237030733) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Ditjen KSDAE dan UPT KSDAE Lingkup NTT Jalin Kerja Sama dengan Universitas Nusa Cendana

Kupang, 22 Juni 2022. Momen penting sebagai catatan sejarah bagi Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya terkait kerjasama antara pemangku kawasan konservasi dengan akademisi, yaitu melalui ditandatanganinya Nota Kesepahaman antara Direktur Jenderal KSDAE Kementerian LHK dengan Rektor Universitas Nusa Cendana (UNDANA) mengenai Penguatan Fungsi Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam serta Konservasi Keanekaragaman Hayati melalui Dukungan Pengembangan Inovasi Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Rabu (22/6). Plt. Direktur Jenderal KSDAE hadrir bersama Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi, Kepala Balai Besar KSDA NTT, Kepala Balai Taman Nasional (TN) Komodo, Kepala Balai TN Kelimutu dan Kepala Balai Matalawa. Dari pihak Undana yang turut hadir adalah Rektor, Wakil Rektor, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LP2M), dan para dekan. Setelah penandatanganan Nota Kesepahaman dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Kepala Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal KSDAE (Balai Besar KSDA NTT, Balai TN Komodo, Balai TN Kelimutu, dan Balai TN Matalawa) dengan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Undana. Kerja sama ini merupakan tindak lanjut Pasal 3 dan Pasal 4 Nota Kesepahaman antara Direktur Jenderal KSDAE dengan Rektor Universitas Nusa Cendana Nomor NK.3/KSDAE/RKK/KSA.0/6/2022 dan Nomor 115/UN15.1/KL/2022 tanggal 22 Juni 2022 tentang Kerja Sama Penguatan Fungsi Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam serta Konservasi Keanekaragaman Hayati Melalui Dukungan Pengembangan Inovasi Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama ini guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan melalui peningkatan kualitas pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang penyelenggaranaan Kawasan konservasi, program konservasi keanekaragaman hayati, jasa lingkungan dan wisata alam pada Unit Pelaksana Teknis KSDAE di Nusa Tenggara Timur. Plt. Direktur Jenderal KSDAE (DR. Ir. Bambang Hendroyono, MM) dalam arahannya menyampaikan bahwa dalam penyelenggaraan konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berlandaskan kepada lima hal yaitu Regulation based; (b) Scientific based; (c) Evidence based; (d) Experience based; (e) Precautionary principle based. Oleh sebab itu Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama ini strategis untuk mengoptimalkan pengelolaan konservasi di Nusa Tenggara Timur. Rektor Undana (Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M. Sc) menuturkan bahwa Undana menjawab komitmen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memberikan ruang bagi seluruh institusi untuk mengambil peran dalam bidang konservasi sumber daya alam dan ekosistem. Dengan platform kampus merdeka belajar, terjadi transformasi bahwa pembelajaran dapat dilakukan di dalam dan luar kampus. Civitas Undana dapat berkontribusi sesuai dengan kompetensinya untuk berkontribusi melalui riset, edukasi, serta pengembangan masyarakat serta potensi keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna di Nusa Tenggara Timur. Kepala Balai Besar KSDA NTT (Ir. Arief Mahmud, M.Si) menyampaikan bahwa Universitas Nusa Cendana atau Undana adalah perguruan tinggi negeri di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki sembilan fakultas di bidang keguruan, sosial, kedokteran, ilmu eksak, dan ilmu terapan lainnya. Kampus ini menjadi “kawah candradimuka” yang menempa generasi penerus bumi Flobamorata melalui pendidikan. Implementasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas atau pengabdian masyarakat yang merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sejalan dengan prinsip-prinsip konservasi diharapkan akan menjadi simbiosis mutualisme demi optimalnya pengelolaan konservasi di Nusa Tenggara Timur. Sumber : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur Penanggung jawab berita : Kepala Bagian Tata Usaha Mulyo Hutomo - 0812-7759-110 Informasi lebih lanjut : Call Center BBKSDA NTT - 081138104999
Baca Artikel

Kendala dan Tantangan Budidaya Rumput Laut Padakauang

Labuan Bajo, 10 Juni 2022. Resort Kampung Rinca Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo berkomitmen tinggi untuk mendukung peningkatan kualitas kesejahteraan masyarakat melalui penguatan rencana dan produktivitas usaha yang dilaksanakan baik di dalam maupun luar kawasan Taman Nasional Komodo. Salah satu bentuk upaya yang dilakukan oleh Resort Kampung Rinca adalah menyelenggarakan program pelatihan dan pendampingan bagi kelompok budidaya rumput laut Padakauang di Desa Pasir Panjang. Kelompok Padakauang merupakan salah satu dari 3 kelompok usaha masyarakat binaan Balai Taman Nasional Komodo yang berada di Desa Pasir Panjang. Kelompok yang berfokus pada usaha ekonomi kreatif budidaya rumput laut di perairan Kampung Rinca Desa Pasir Panjang ini dibentuk pada tahun 2021. Usaha budidaya rumput laut ini diharapkan mampu menjadi solusi peningkatan ekonomi (sumber pendapatan lain) bagi masyarakat dalam kawasan yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Fahri Ikhlas (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama/Kepala Resort Kampung Rinca) mengatakan terbentuknya kelompok budidaya rumput laut Padakauang diawali dari inisiasi salah seorang warga desa bernama Husnin yang aksinya tergerak karena melihat kesuksesan kelompok budidaya rumput laut di Dusun Kukusan yang juga merupakan kelompok binaan Balai Taman Nasional Komodo. Saat ini kelompok Padakauang beranggotakan 12 orang dan diketuai oleh Husnin sendiri selaku inisiator kelompok usaha. Husnin menjelaskan lebih lanjut bahwa kelompok budidaya rumput laut Padakauang saat ini memiliki 12 petak dengan panjang tali berkisar antara 15-20 meter dengan hasil panen mencapai 600 Kg. Dari hasil panen tersebut, Husnin menjual rumput laut kering dengan harga Rp6.000,00/Kg kepada warga di Kampung Rinca, Desa Pasir Panjang. Berdasarkan penuturan Husnin, kendala yang dihadapi oleh kelompok Padakauang diantaranya adalah gangguan satwa penyu dan serangan penyakit tertentu yang warga lokal menyebutnya sebagai penyakit ice ice. Mendengarkan penjelasan tersebut, Fahri dan tim memberikan pendampingan terkait teknik mengusir penyu dari area budidaya rumput laut dengan membuat pagar dari pukat dan menyusun kaleng- kaleng dengan tali sehingga saat terkena gelombang air laut, kaleng tersebut aka menimbulkan bunyi dan membuat penyu tidak berani mendekat. Sedangkan untuk penanganan penyakit ice ice, hendaknya kelompok budidaya rumput laut dapat membuat kalender tanam dan menyiapkan bibit unggul pilihan agar terhindar dari serangan penyakit ini yang umumnya menyerang saat peralihan sebuah musim. Meskipun tidak sepenuhnya mampu menghilangkan gangguan penyu dan serangan penyakit ice ice, setidaknya cara tersebut terbukti mampu mengurangi gangguan tersebut di lokasi lain dan telah dipraktikan oleh kelompok budidaya rumput laut di Dusun Kukusan. Selain memberikan pendampingan terkait kendala yang dihadapi oleh kelompok Padakauang, tim juga memberikan saran agar hasil panen rumput laut dijual langsung ke luar kawasan Taman Nasional Komodo, misalnya ke Labuan Bajo, seperti yang dilakukan oleh kelompok budidaya rumput laut di Dusun Kukusan. Hal ini dikarenakan, daya beli masyarakat/pengusaha di Labuan Bajo lebih tinggi mencapai Rp10.000,00 - Rp12.000,00 perkilonya tergantung kualitas rumput laut yang dikumpulkan. Satuan harga jual rumput laut kering yang lebih tinggi tentu meningkatkan pemasukan masyarakat dengan lebih optimal. Husnin selaku ketua kelompok berharap Kelompok Padakauang dapat terus berkembang dan pantang menyerah menghadapi kendala-kendala usahanya. Balai Taman Nasional Komodo berupaya untuk konsisten memberikan pelatihan dan pendampingan hingga Kelompok Padakauang dapat memberikan manfaat ekonomi signifikan bagi keduabelas anggotanya. Balai Taman Nasional Komodo juga berharap Husnin dan anggotanya dapat menjadi figur teladan dan inspirasi bagi warga desa lain untuk mampu berusaha secara mandiri dan tidak hanya mengharapkan dari satu bentuk profesi saja. Petugas Resort Kampung Rinca tentu membuka pintu seluasnya bagi warga yang ingin berdiskusi terkait peluang UMKM di dalam kawasan dan berkomitmen untuk melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Ahli Pertama/Kepala Resort Loh Buaya - Ikhwan Syahri, S.Hut. (+628157705527) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Tutup Program RGTS, Balai TN Komodo Beri Penghargaan

Labuan Bajo, 8 Juni 2022. Balai Taman Nasional Komodo menutup program pendampingan kependidikan Ranger Goes to School (RGTS) di SMKN 1 Labuan Bajo dengan upacara kelulusan dan pemberian sertifikat penghargaan pada tanggal 8 Juni lalu. Kegiatan ini digelar secara sederhana namun khidmat dan turut dihadiri oleh Lukita Awang Nistyantara (Kepala Balai Taman Nasional Komodo), Viktoria Timung Wulang (Kepala SMKN 1 Labuan Bajo), Kepala Program Keahlian Usaha Perjalanan Wisata beserta jajarannya, serta sebagian pengajar Ranger Goes to School yang berada di Labuan Bajo. Program Ranger Goes to School di SMKN 1 Labuan Bajo genap diselesaikan selama satu semester mulai dari tanggal 31 Januari – 8 Juni 2022. Program ini mulanya ditargetkan selesai pada awal bulan Mei 2022, namun adanya libur nasional dan libur keagamaan di daerah yang berlangsung secara berturut-turut membuat pengajaran program ini perlu dilangsungkan hingga akhir semester dan telah mendapatkan persetujuan dari pihak sekolah. Pengajar Ranger Goes to School yang berjumlah 21 orang silih bergantian mengisi kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas setiap minggunya dengan total kelas ajar mencapai 48 kelas dalam 4 bulan efektif mengajar. Adapun materi yang diberikan antara lain: (1) Pengenalan Taman Nasional Komodo dan Program Ranger Goes to School, (2) Pengantar Industri Hospitality, (3) Ekologi Biawak Komodo, (4) Pemanduan dan Interpretasi I, (5) Manajemen Flora dan Fauna I, (6) Pengembangan Desa Wisata, (7) Keanekaragaman Hayati Bawah Laut, (8) Manajemen Flora dan Fauna II, (9) Pemanduan dan Interpretasi II, (10) Psikologi Lingkungan dan Kearifan Lokal, (11) Pengembangan Karakter: Mind Mapping, (12) Kewirausahaan, (13) Wisata Foraging, dan (14) Kelas Inspirasi (Bimbingan Konseling). Kegiatan belajar mengajar pun dievaluasi melalui ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Masing-masing pengajar sangat antusias dan berdedikasi mengembangkan masing-masing topik yang diampunya dan diminta untuk saling mengajarkan para pengajar lain guna mendukung KBM seandainya pengajar utama berhalangan hadir. Untuk itu, program Ranger Goes to School bukan merupakan program kependidikan hanya untuk para pelajar namun juga menjadi kesempatan bagi para ranger dan praktisi untuk saling belajar satu sama lain. Total siswa yang mengikuti program Ranger Goes to School di SMKN 1 Labuan Bajo adalah sebanyak 101 siswa yang merupakan siswa kelas XI dari Prodi Usaha Perjalanan Wisata. Berdasarkan hasil rekapitulasi nilai akhir kedua ujian, hampir sebagian besar pelajar dikatakan cukup mampu mengikuti kurikulum ajar yang ditawarkan dengan nilai rata-rata siswa mencapai 66.11 dan nilai tertinggi mencapai 92. Menindaklanjuti capaian dan prestasi siswa, Kepala Balai Taman Nasional Komodo memberikan apresiasi tinggi dengan memberikan kesempatan magang bagi siswa SMKN 1 Labuan Bajo di Balai Taman Nasional Komodo selama enam bulan. Jumlah siswa yang diterima magang di Balai Taman Nasional Komodo adalah sebanyak 12 orang. Siswa-siswi yang mendapatkan nilai akhir dengan peringkat 1 sampai dengan 3 dari setiap kelasnya adalah yang berhak mendapatkan reward tersebut, sementara tiga siswa lainnya merupakan siswa yang memiliki keaktifan tinggi selama mengikuti rangkaian program. Alokasi jumlah siswa tersebut merupakan alokasi tertinggi dalam sejarah pengelolaan Taman Nasional Komodo yang pernah diberikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo kepada sekolah dalam satu waktu kesempatan magang. Kepala Balai percaya bahwa keduabelas siswa yang telah lulus program Ranger Goes to School akan lebih mudah mempelajari hal-hal baru terkait pengelolaan kawasan konservasi di Balai Taman Nasional Komodo dan kelak mampu menjadi agent of change lingkungan yang konstruktif bagi Indonesia. Upacara kelulusan diawali dengan penyampaian sambutan dari Kepala SMK Negeri 1 Labuan Bajo dan Kepala Balai Taman Nasional Komodo dimana keduanya mengapresiasi penuh pelaksanaan program ini dari awal sampai dengan selesai. Selanjutnya, Muhammad Ikbal Putera (Koordinator Pengajar dan Program Ranger Goes to School) turut menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan selama satu semester dihadapan para hadirin. Untuk menambahkan keceriaan upacara kelulusan, para pengajar memutarkan video Ranger Goes to School dihadapan para pelajar dan guru, sontak, canda tawa dan haru terlihat nyata pada setiap tatapan pelajar yang berada di gedung aula sekolah. Kepala Balai Taman Nasional Komodo memberikan piagam penghargaan pertama kepada Kepala SMKN 1 Labuan Bajo atas dedikasi dan kerja samanya mendukung pelaksanaan program Ranger Goes to School. Piagam penghargaan kedua dan ketiga diberikan kepada Kepala Program Keahlian Usaha Perjalanan Wisata (Heribertus Helgar) dan Guru Produktif Prodi Usaha Perjalanan Wisata (Vincencia Natalia Dian Purnama). Tanpa dukungan keduanya, pelaksanaan program Ranger Goes to School di SMKN 1 Labuan Bajo tidak akan terlaksana sesuai dengan rencana. Siswa-siswi bersorak sorai bahagia melihat guru favoritnya mendapatkan piagam penghargaan dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo. Kepala Balai Taman Nasional Komodo memberikan sertifikat penghargaan kepada seluruh siswa dalam bentuk salinan digital yang ditampilkan di layar utama. Koordinator Ranger Goes to School dibantu salah satu perwakilan guru sekolah kemudian memanggil nama siswa-siswi satu persatu kedepan untuk memulai prosesi upacara kelulusan. Para pelajar yang disebutkan namanya lalu maju kedepan untuk bersalaman dengan Kepala Balai Taman Nasional Komodo dan Kepala SMKN 1 Labuan Bajo. Acara ini sangat berarti bagi para pelajar di SMKN 1 Labuan Bajo karena prosesi kelulusan semacam ini belum pernah mereka lakukan semasa sekolah sebelumnya. Kembali ramai, setiap kali nama sesama siswa disebutkan, siswa lain sontak bersorak sorai layaknya upacara kelulusan sekolah pada umumnya di tempat lain. Prosesi upacara kelulusan ini ditutup dengan diberikannya kesempatan bagi satu orang wakil siswa dan satu orang wakil siswi untuk menyampaikan pesan dan kesan mengikuti program Ranger Goes to School. Vincencia Natalia Dian Purnama, Guru Produktif Prodi Usaha Perjalanan Wisata, juga turut menyampaikan testimoni dihadapan seluruh audiens. Vincencia berharap agar program Ranger Goes to School tidak berhenti di tahun ajar ini dan dapat dilanjutkan pada tahun ajar selanjutnya. Vincencia yakin dengan diselenggarakannya program luar biasa ini dan ditambah dengan diberikannya kesempatan magang secara khusus oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo, kualitas pendidikan pelajar di Kabupaten Manggarai Barat dapat meningkat signifikan dibandingkan dari masa sebelumnya. Para pengajar Ranger Goes to School Balai Taman Nasional Komodo akan berjuang keras membuat modul ajar dan merangkum keseluruhan kurikulum dalam bentuk yang lebih mudah dipahami guru serta pelajar sekolah. Modul tersebut kemudian akan diadvokasi ke Gubernur Nusa Tenggara Timur dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan harapan agar mata pelajaran Pendidikan Konservasi Taman Nasional Komodo yang diajarkan dalam program Ranger Goes to School dapat menjadi muatan lokal wajib bagi seluruh sekolah di Kabupaten Manggarai Barat. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Aktivitas Drone Berkembang, Balai TN Komodo Tata Perizinan dan Pengoperasiannya

Labuan Bajo, 16 Juni 2022. Balai Taman Nasional Komodo berupaya mengatur pengoperasian dan pengawasan drone melalui perancangan kebijakan protokol kunjungan wisatawan di Taman Nasional Komodo. Kebijakan ini disusun dengan maksud untuk menghindari terjadinya penumpukan unit drone di ruang udara, mengindahkan peraturan pemerintah yang berlaku yang mengurusi perizinan dan pengoperasian drone, mencegah terjadinya kecelakaan terbang yang dapat membahayakan satwa liar dan ekosistem, serta berupaya untuk menjaga kenyamanan wisatawan terbebas dari suara bising unit drone saat beraktivitas di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Memperkuat draf rancangan tersebut, Balai Taman Nasional Komodo kembali mengadakan rapat koordinasi lanjutan bersama mitra secara daring pada tanggal 15 Juni 2022 guna membahas penatausahaan perizinan dan pengoperasian drone di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Koordinasi antar instansi pemerintah yang fokus mendiskusikan terkait dengan penggunaan drone untuk tujuan rekreasi di Taman Nasional Komodo ini, diinisiasi pertama kali oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo. Kepala Balai Taman Nasional Komodo bersama dengan Pengendali Ekosistem Hutan Pertama (Muhammad Ikbal Putera) berupaya memformulasikan kebijakan tersebut dengan mempelajari berbagai implementasi peraturan di taman nasional lain baik di dalam maupun luar negeri. Koordinasi ini dilakukan dengan mengomunikasikan draf kebijakan dengan Direktorat Navigasi Penerbangan (Kemenhub), Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat (Kemenhub), Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi (KLHK), Kantor Otoritas Bandara Wilayah IV Bali (Kemenhub), Perum LPPNI Cabang Bali, dan Perum LPPNI Cabang Pembantu Labuan Bajo. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar keterlibatan mitra dapat memberikan masukan untuk penguatan regulasi berdasarkan sudut pandang regulasi dan teknis keilmuan yang berbeda-beda. Rapat koordinasi lanjutan kali ini berusaha untuk meluruskan tahapan pengurusan izin drone pada setiap stakeholders yang berkepentingan. Jika wisatawan ingin mengajukan permohonan izin terbang drone untuk kepentingan rekreasi di Taman Nasional Komodo, maka pilot drone perlu mengajukan permohonan rekomendasi safety assessment ditujukan kepada General Manager Perum LPPNI Cabang Bali melalui surel sekgmairnavdps06@gmail.com (pemrosesan dokumen memerlukan waktu 7 hari kerja). Setelah itu, pemohon perlu mendaftarkan unit drone dan lisensi pilot drone melalui aplikasi Sistem Registrasi Drone dan Pilot Drone Indonesia (SIDOPI). Adapun persyaratan dan informasi lengkapnya dapat diakses melalui portal http://hubud.dephub.go.id/hubud/website/AppOnline.php. Selanjutnya, pemohon dapat mengajukan permohonan persetujuan operasi pesawat udara tanpa awak (PUTA) ditujukan kepada Direktur Navigasi Penerbangan (Kemenhub) melalui surel sekdir.dnp@gmail.com dengan estimasi pemrosesan dokumen maksimal 14 hari kerja. Setelah seluruh izin diperoleh, pemohon wajib mengajukan permohonan izin terbang drone ditujukan kepada Kepala Balai Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo. Pemohon yang tidak melengkapi izin atau tidak mengikuti regulasi pemerintah yang berlaku maka tidak akan memperoleh Surat Izin Penggunaan Pesawat Udara Tanpa Awak (Drone) dari Balai Taman Nasional Komodo. Balai Taman Nasional Komodo berupaya untuk mengatur ketat pengoperasian unit drone di dalam kawasan Taman Nasional Komodo merujuk kepada regulasi pemerintah yang berlaku. Unit drone yang belum terdaftar dan pilot drone yang belum lulus sertifikasi, maka tidak dapat menerbangkan unit dronenya di dalam kawasan Taman Nasional Komodo dengan alasan apapun. Petugas Balai Taman Nasional Komodo berwenang sepenuhnya untuk meminta yang oknum wisatawan tidak berizin untuk menurunkan unit dronenya dan mengenakan sanksi pidana jika terbukti melanggar peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Balai Taman Nasional Komodo berharap dengan dirancangnya kebijakan ini, pengoperasian dan pengawasan drone di kawasan Taman Nasional Komodo dapat dilaksanakan lebih tertib demi menjaga kelestarian kawasan konservasi. Sebagai informasi, diketahui dari data bahwa wisatawan yang paling banyak berkunjung ke kawasan Taman Nasional Komodo pasca pandemi COVID-19 berasal dari Indonesia. Menurut penelitian Putera (2019), Wisatawan Nusantara yang mengunjungi Taman Nasional Komodo memiliki motivasi kunjungan paling kuat untuk ‘social recognition’ atau pengakuan sosial, yang berarti kepuasan paling tinggi diperoleh jika wisatawan dapat mengabadikan momen bersama dengan obyek paling unik/terkenal di area tersebut dan mengunggahnya ke media sosial andalannya. Motivasi kunjungan wisatawan untuk pengakuan sosial tersebut tentu menimbulkan dinamika usaha bagi para agen/biro perjalanan wisata di Labuan Bajo. Setiap agen perjalanan wisata berlomba-lomba untuk mengikutsertakan jasa dokumentasi aerial dalam paket perjalanan wisatanya (itinerary) untuk menarik minat pasar menggunakan jasa agen tersebut. Semakin lumrahnya paket perjalanan wisata yang mengikutsertakan jasa dokumentasi aerial menggunakan drone, menyebabkan jumlah pemohon izin drone di kawasan Taman Nasional Komodo meningkat drastis dari dalam dua tahun terakhir. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Rakor Forum Wisata Lingkar Rinjani Tahun 2022

Lombok Utara, 24 Juni 2022. Berbagai kegiatan dilaksanakan di Villa Bambu Desa Senaru Kec. Bayan, Kab. Lombok Utara, Senin (20/6). Mulai dari rapat koordinasi (Rakor) Forum Wisata Lingkar Rinjani, Sosialisasi Revisi SOP Pendakian, Upgrade Aplikasi eRinjani dan penerapan asuransi wisata. Dalam kegiatan forum disetujui beberapa hal yang menjadi keputusan akhir diantaranya pengunduran diri ketua Forum Citra Wisata Rinjani atas nama Lalu Ahmad Yani yang disetujui oleh anggota forum. Anggota forum telah melakukan pemilihan ketua Forum Citra Wisata Rinjani dengan ketua forum terpilih a.n Royal Sembahulun dan selanjutnya ketua forum yang baru akan menyusun struktur organisasi Forum Citra Wisata Rinjani serta kelengkapan kelembagaan berupa AD/ART dan kemudian menyampaikannya kepada Balai TN Gunung Rinjani paling lambat tanggal 21 Juli 2022. Hadir dalam kegiatan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Bapak Dedy Asriady beserta jajaran pejabat struktural dan staf TNGR serta stakeholders diantaranya Camat Tanjung, Camat Bayan, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Utara, Geopark dan Polsek Bayan serta Trekking Organizer dan Pecinta Alam Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Bangun Spirit Konservasi Sejak Dini

Baserah, 24 Juni 2022 – Upaya membangun spirit kepedulian terhadap lingkungan sekitar bagi siswa/i sekitar kawasan, petugas Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang tergabung dari 5 orang penyuluh dan 3 orang Polhut melaksanakan kegiatan Pendidikan Konservasi di SDN 005 / SMP Satu Atap Desa Gunung Melintang Kec. Kuantan Hilir, Kab. Kuantan Singingi, Kamis (23/6). Peserta pendidikan konservasi kali ini berjumlah 16 orang yang akan diberikan materi pendidikan konservasi berupa pengenalan Taman Nasional Tesso Nilo dan konservasi gajah sumatera. Siswa/i mengikuti kegiatan dengan antuasias dan partisipatif. Untuk lebih menarik perhatian para siswa, disela-sela pemberian materi siswa diberikan games dan kuis agar suasana belajar lebih menyenangkan. Selesai pemberian materi di kelas, tim kemudian berfoto bersama dan melakukan penanaman pohon dengan jenis tanaman buah-buahan yaitu Matoa. Tidak hanya para guru, siswa/i SDN 005 juga sangat bersemangat dalam menanam pohon di depan sekolah. Petugas mengungkap bahwa pendidikan konservasi ini dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran generasi muda khususnya para siswa/i tentang nilai – nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan generasi muda untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo

Menampilkan 1.601–1.616 dari 2.298 publikasi