Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Menambah Catatan Sejarah Penanganan Penggarapan di TNGGP

Bogor, 4 Juli 2022. Upaya penanganan penggarapan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), khususnya Blok Cikereteg Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Tapos, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) telah menggelar Focuss Group Discussion (FGD) di Aula Desa Bojong Murni Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor, Rabu (29/6). Sebagai alternatif usaha pengganti penggarapan sawah pada kawasan, BBTNGGP sudah memiliki rencana program peningkatan pendapatan masyarakat dengan nilai ekonomi menjadi lebih baik dari hasil pertanian lahan basah sehingga aktivitas garapan dapat dihentikan melalui program budidaya ternak, budidaya lebah madu, jasa wisata, budidaya canar sedangkan pemerintah daerah setempat juga dapat mengalokasikan anggaran untuk program pemberdayaan bagi masyarakat penggarap. Camat Ciawi dalam sambutannya mengajak masyarakat penggarap untuk bersama-sama mengamankan kawasan hutan, juga bersiap-siap untuk menjalankan kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang wisata karena kecamatan Ciawi merupakan lintasan tujuan wisata di wilayah Kabupaten Bogor, Camat Ciawi juga mengucapakan terima kasih kepada pihak TNGGP yang telah mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dan rencana memberikan alternatif usaha berupa bantuan bibit ternak domba. Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor memberikan paparan terkait Kondisi Permasalahan Penggarapan di Blok Cikereteg dan dilanjutkan dengan dialog kelompok dengan topik “Pilihan Jalan Keluar” dipandu oleh fasilitator. Masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Pada kegiatan FGD, masyarakat penggarap menyatakan bahwa pada dasarnya masyarakat penggarap mengakui bahwa lahan yang digarap merupakan bagian dari TNGGP. Masyarakat penggarap siap mendukung pengembalian kondisi wilayah agar sesuai fungsi Taman Nasional dengan skema pemberdayaan masyarakat. Acara ini dihadiri oleh elemen masyarakat seperti Pemerintah Kecamatan Ciawi, Kepolsian sektor Ciawi, Pemerintah Desa Bojong Murni, Fasilitator penenganan penggarapan kawasan konservasi, tokoh masyarakat Desa Bojong Murni dan penggarap Blok Cikereteg yang sudah diwadahi menjadi KTH Cikereteg Maju. Rumusan hasil kegiatan FGD Penanganan Penggarapan di kawasan Taman Nasional disepakati dan ditandatangani oleh para pihak yang mewakili yang hadir pada acara tersebut. Semoga kegiatan ini dapat menjadi salah satu upaya mengembalikan fungsi Taman Nasional dari kegiatan penggarapan, dengan ingin mewujudkan “Leweung hejo masyarakat ngejo”. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks: Ike Oktaviany, A.Md. Dok: Erwin Kusumah Nanjaya, S.Hut.
Baca Artikel

Hasil Kajian EKF SM Pulau Kaget

Bogor, 4 Juli 2022. Bekantan Nasalis larvatus, jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus Nasalis. Bekantan merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai. Suaka Margasatwa (SM) Pulau Kaget merupakan salah satu habitat monyet berhidung panjang yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan. Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi berkesempatan mengikuti rapat Pembahasan Hasil Kajian Tim Teknis Evaluasi Kesesuaian Fungsi (EKF) Suaka Margasatwa Pulau Kaget, Kamis (29/06/2022) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi secara Daring dan Luring. Diharapkan dengan pembahasan hasil kajian EKF SM Pulau Kaget ini memperoleh hasil rumusan yang terbaik dalam pengelolaan Kawasan SM Pulau Kaget kedepannya. Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan untuk diketahui kesesuaiannya dengan kriteria kawasan dan tujuan pengelolaannya. Pelaksanaan evaluasi kesesuaian fungsi kawasan ditujukan untuk menetapkan tindak lanjut penyelenggaraan KSA dan KPA yang terdegradasi, baik dalam bentuk pemulihan maupun perubahan fungsi. Sumber : Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Permasalahan, Tantangan dan Solusi Perencanaan Kawasan Konservasi

Bogor, 4 Juli 2022. Sosialisasikan aturan dan teknis terkait Inventarisasi Potensi Kawasan, Penataan Kawasan dan Perencanaan Pengelolaan Kawasan serta Pemolaan Kawasan diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan pengetahuan personil teknis. Kegiatan tersebut digelar tim Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) dengan peserta, Balai Besar Taman Nasional (BBTN) Kerinci Seblat, BTN Siberut dan UPTD Tahura Moh Hatta pada tanggal 14 Juni 2022 silam Acara diawali dengan tim Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi menjelaskan materi kepada peserta dalam kegiatan bimbingan teknis terkait penataan kawasan konservasi dan perencanan pengelolaan kawasan yang dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab. Pada pertemuan tersebut disampaikan permasalahan yang dihadapi UPT terkait kegiatan inventarisasi potensi kehati, pemolaan, penataan kawasan konservasi dan rencana pengelolaan kawasan konservasi. Sumber : Taufik Syamsudi, Ety Ambarwati dan Mugiharto HP - Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Implementasi Teknologi Kehati di IKN

Balikpapan, 22 Mei 2022. Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi (RenKK), Ahmad Munawir menghadiri pertemuan para pakar dan akademisi untuk berdiskusi tentang Pembangunan Taman Wisata Mangrove dan Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Indonesia di Ibu Kota Negara (IKN). Kegiatan ini dilaksanakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam rangka rangkaian rencana pembangunan Sistem Artifial Inteligent Mangrove dan Pusat Sumber Genetik/Plasma Nutfah di IKN Provinsi KalimananTimur ini sekaligus memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (International Day for Biological Diversity/IDB). Diskusi dipandu oleh Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Hartono dan Penasihat Senior Menteri LHK Soeryo Adi Wibowo, serta dihadiri oleh pejabat lingkup KLHK, pakar, akademisi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Mulawarman,, Ketua Forum Pohon Langka Indonesia, dan praktisi kehutanan dan lingkungan, perikanan, kedokteran hewan, dan pertanian Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Indonesia dan Taman Wisata Mangrove bertujuan untuk mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur menjadi smart forest city sekaligus ibu kota sebagai sumber kehidupan. Sekaligus menjadi center of excellence atas implementasi teknologi terhadap pengembangan plasma nutfah dan sebagai Pusat Data dan Informasi keanekaragaman sumber daya genetik di Indonesia yang berbasis network serta kolaborasi para pihak. Mengurangi dan mencegah dampak lingkungan dalam pembangunan IKN menjadi tujuan dari pembangunan taman wisata mangrove. Harapannya, memberikan fungsi konservasi atas keanekaragaman hayati, menjaga dan melindungi kota dari dampak abrasi, mendukung ekowisata berbasis komunitas lokal, sebagai penyerap karbon dan penghasil oksigen yang memberikan manfaat pada kualitas udara, air, dan suhu pada wilayah tersebut. Semoga rencana kedua pembangunan ini, Indonesia menjadi negara yang mengimplementasikan nature-based solution dan dapat menjadi contoh nyata (leading by example) di tingkat nasional maupun global dapat terwujud. Sumber : Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Pelatihan Budidaya Jamur Kelompok Tani Hutan Naborkat

Panyabungan, 30 Juni 2022 – Balai TN Batang Gadis memberikan Pelatihan budidaya jamur tiram Kelompok Tani Hutan (KTH) Naborkat di Aula Kecamatan Panyabungan Barat Kelurahan Longat. Kegiatan dilaksanakan selama 2 hari tepatnya pada tanggal 25-26 Juni 2022. Peserta pelatihan berjumlah 25 orang terdiri dari Bapak/Ibu dari kantor Kecamatan Panyabungan Barat, Kelurahan Longat, Desa Sirambas dan desa-desa lain di Kecamatan Panyabungan Barat. Pelatihan ini dibuka Langsung oleh Camat Panyabungan Barat Bapak Raja Hidayat Lubis dan dihadiri oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I Siabu serta Sekretaris Lurah Longat. Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini mengundang narasumber salah satu pelaku usaha Jamur Tiram di Panyabungan, Bapak Timbul Rahayu. Diharapkan dari kegiatan ini peserta pelatihan dapat mengaplikasikan dan menjadikan budidaya jamur sebagai peluang usaha yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya KTH Naborkat. Sumber : Balai TN Batang Gadis
Baca Artikel

Pemeliharaan Rusa Sambar, BKSDA Kalsel Bina Pengelola Satwa Dilindungi

Tanjung, 17 Juni 2022 – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc di dampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Pelaihari Mirta Sari, S.Hut, M.P dan Kepala Resort Banua Anam Suhindra Wijaya, S.H melakukan kunjungan kerja dalam rangka pembinaan pengelola satwa dilindungi ke PT. Pertamina Ep Asset 5 Tanjung Field. Pada saat kunjungan kerja tersebut disambut langsung oleh Manager Area PT. Pertamina Ep Asset 5 Tanjung Field Bapak Sigit Setiawan, Koordinator Divisi HSSE Bapak Supriyadi dan bagian Enviroment Bapak Ricky Gunawan. Kunjungan kerja tersebut dalam rangka tindaklanjut rencana kerjasama antara BKSDA Kalsel dengan PT. Pertamina Ep Asset 5 Tanjung Field terkait pemeliharaan Rusa Sambar dan keanekaragaman Hayati. Kepala Balai Dr. Mahrus sangat mengapresiasi niat baik dari PT. Pertamina Ep Asset 5 Tanjung Field untuk berperan aktif dalam upaya konservasi satwa dilindungi jenis Rusa Sambar dan pengembangan Flora asli Kalimantan. “Melalui sarana PKS penguatan fungsi PT. Pertamina EPAsset 5 Tanjung, turut berperan serta dalam upaya pelestarian dan penyadartahuan satwa yang dilindungi , Semoga dengan peranserta PT Pertamina Ep Asset 5 Tanjung, juga akan menumbuhkan kesadaran pihak lainnya tentang pentingnya menjaga kelestarian Flora dan Fauna ” Tambah Mahrus. (ryn) Sumber : Suhindra Wijaya, S.H - Polhut SKW I Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Serunya Gepang Ultra Marathon

Selabintana, 30 Juni 2022. “Gepang Ultra Marathon” telah diselenggarakan pada tanggal 25 dan 26 Juni 2022 di Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Selabintana yang diikuti peserta dari seluruh penjuru dunia. Selain berasal dari tanah air, peserta juga berasal dari Singapura, Malaysia, Australia, Austria, Prancis, dan Jepang. Ini merupakan ajang kegiatan tahunan yang rutin diselenggarakan di jalur pendakian Gunung Gede dan Pangrango. Kategori lomba terdiri dari Gepang Ultra Marathon 63k, Gepang Trail 43k, dan Gepang Fun 24k. Ketiga kategori tersebut melakukan titik start dan finish di RPTN Selabintana sedangkan kategori Gepang Hore 21k melakukan titik start dan finish di RPTN Selabintana dengan check point di Curug Sawer, RPTN Situgunung. Antusiasme peserta sangat terlihat saat berangkat dan mencapai garis finish. Rintik hujan yang mendera tak menyurutkan langkah para peserta dalam mengikuti kegiatan ini. Jalur pendakian Selabintana memberikan tantangan tersendiri bagi para peserta dari mulai digigit pacet sampai dengan celana yang nyangkut pada akar pohon. Pada Kategori GPU (Gepang Ultra) 63k peserta yang berhasil mencapai garis finish tercepat dengan perolehan waktu 20 jam 38 detik yaitu Anatoli Marbun dari Indonesia. Sedangkan untuk Kategori Gepang Trail 43k atas nama Elang Erlangga asal Indonesia dengan catatan waktu tercepat 10 jam 16 menit 59 detik. Kategori Gepang Fun 24k diraih oleh Arief Wismoyo dengan catatan waktu tercepat 03 jam 53 menit 25 detik yang juga berasal dari Indonesia. Sedangkan pada kategori Gepang Hore atas nama Theo Darmawan dengan catatan waktu tercepat 3 jam 9 menit 59 detik asal Australia. Penyelenggaraan acara bertaraf internasional seperti ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang promosi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tidak hanya bagi masyarakat di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Tati Maryati, A.Md. Dok : Panitia Gepang Ultra Marathon
Baca Artikel

Ukur Intelegensi, Emosi dan Akademik Dengan Uji Psikotes

Ampana 28 Juni 2022. Balai Taman Nasional (TN) Kepulauan Togean bekerjasama dengan POLDA Sulawesi Tengah melaksanakan uji psikotes bagi seluruh Polisi Kehutanan (POLHUT) serta Pejabat Struktural lingkup Balai TN Kepulauan Togean di di Aula Kantor Balai TN Kepulauan Togean, Selasa (28/6). Dalam sambutan yang disampaikan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha bahwa, tes Psikologi yang dilaksanakan ini merupakan agenda tahunan dari Balai Taman Nasional Kepulauan Togean yang dimaksudkan untuk mengukur intelegensi, emosi dan kemampuan akademik seseorang, sehingga dapat diketahui apakah seseorang yang diuji memiliki kemampuan dan mental yang baik. Tes psikologi ini juga merupakan salah satu syarat untuk perpanjangan kartu pemegang senjata api Balai TN Kepulauan Togean untuk mengetahui dan mengukur sejauh mana kepribadian anggota Polisi Kehutanan dan Pejabat Struktural Balai TNKT yang akan menggunakan senjata api, sehingga diketahui layak tidaknya memegang senjata api. Senjata api merupakan peralatan standar yang dimiliki Polisi Khusus Kehutanan (Polhut) lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Senjata ini digunakan dalam berbagai kegiatan yang dilakukan Polhut seperti patroli batas kawasan, pemantauan pal batas ataupun monitoring satwa. Tes Psikologi ini diikuti sebanyak 14 orang POLHUT dan 3 orang Pejabat Struktural. Sumber : Alfian - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Artikel

Inventarisasi dan Identifikasi Potensi Zona Tradisional TN Aketajawe Lolobata

Halmahera Tengah, 29 Juni 2022. Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) selama bulan Juni 2022 ini telah melakukan inventarisasi dan identifikasi potensi zona tradisional. Kegiatan dilaksanakan pada lokasi zona tradisional yang berdekatan dengan wilayah Desa Woekob Kecamatan Weda Tengah Kabupaten Halmahera Tengah. Zona tradisional tersebut masuk dalam wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Weda dengan luas sekitar 578 ha dengan pelaksana Kepala SPTN Wilayah I Weda, Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, dan Penyuluh Kehutanan. Inventarisasi ini guna mengidentifikasi potensi sumber daya alam zona tradisional yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dan jenis-jenis aktivitas masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya alam zona tadisional, serta pendataan warga masyarakat yang beraktivitas dalam pemanfaatan sumber daya alam di dalam zona tradisonal. Masyarakat melakukan berbagai aktivitas pemanfaatan sumber daya alam di dalam zona tradisional, sepeti perburuan satwa, pemungutan hasil hutan bukan kayu, dan berkebun. Satwa yang menjadi target buruan masyarakat, antara lain rusa, babi, soa-soa (biawak), dan burung gosong kelam Megapodius freycinet yang biasa disebut dengan burung maleo oleh masyarakat setempat. Rusa dan babi yang didapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga dan dibagikan kepada tetangga, dan bagian yang lain untuk dijual. Selain satwa darat, masyarakat juga berburu satwa yang hidup di air, seperti ikan, udang, dan sidat atau biasa disebut dengan sugili. Gosong kelam dan rusa merupakan jenis satwa yang dilindungi oleh P.106 tahun 2018. Oleh karena itu, perlu penyadartahuan kepada masyarakat terhadap jenis-jenis yang dilindungi yang menjadi target perburuan. Hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah pala, pinang, langsa, sagu, rotan, dan bambu. Hasil HHBK tersebut sebagian besar untuk dijual dan dikonsumsi. Hasil yang dijual oleh masyarakat adalah pala, pinang, dan sagu sedangkan rotan dan bambu yang masih muda dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Aktivitas berburu dan pengambilan HHBK oleh masyarakat dilakukan pada saat dibutuhkan, tidak dilakukan secara rutin. Masyarakat tidak mengenal klaim wilayah dalam aktivitas berburu dan memungut HHBK. Binatang buruan dan HHBK yang ada di dalam kawasan hutan menjadi milik bersama. Kegiatan perburuan dan pemungutan HHBK tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Desa Woekob yang berbatasan langsung dengan zona tradisional, namun juga berasal dari masyarakat desa tetangga, seperti Desa Kulo Jaya dan Desa Lukolamo yang memiliki jarak relative jauh dari batas kawasan TNAL. Aktivitas berkebun yang dilakukan masyarakat di dalam kawasan zona tradisional telah dilakukan sebelum lokasi tersebut ditetapkan menjadi kawasan konservasi Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Jenis tanaman yang ditanam oleh masyarakat di dalam kebun diantaranya kelapa, pala, pisang, dan singkong. Seluruh tanaman tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ketidaktahuan masyarakat tentang pengelolaan kawasan di zona tradisional taman nasional seperti berburu satwa dilindungi dan pemanfaatan secara berkelanjutan menjadi tantangan bagi pengelola kawasan. Kegiatan kemitraan konservasi dapat menjadi jalan bagi Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata untuk bekerjasama dengan masyarakat sekitar dalam melindungi dan melestarikan hutan dan satwa. Sumber : M. Arif Setiawan - Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

BBKSDA Riau Kembali Lakukan Mitigasi Konflik Gajah Liar

Pekanbaru, 29 Juni 2022 - Mitigasi konflik gajah liar kembali dilakukan Tim Balai Besar KSDA Riau yang kali ini melalui Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I di Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan pada tanggal 25-26 Juni 2022. Tim menindaklanjuti laporan yang bersumber dari masyarakat Desa Rantau Baru terkait adanya kelompok gajah liar yang memasuki kebun masyarakat dan telah mendekati ke pemukiman warga. Tim langsung menuju Desa Rantau Baru dan melakukan koordinasi dengan Ketua BPD yang bersama-sama menuju lokasi kelompok gajah liar dimaksud. Bersama masyarakat, Tim mengatur strategi penggiringan gajah dimulai dengan mencari posisi gajah tersebut. Gajah ditemukan di daerah Kuala Baboko namun karena kondisi lokasi rawa yang cukup dalam, tim dengan masyarakat sulit untuk menemukan posisi akhir gajah tersebut. Seiring hari yang telah beranjak sore, Tim memutuskan untuk menyudahi pencarian dan akan melanjutkan di hari berikutnya. Keesokan harinya, Tim bersama masyarakat melanjutkan pencarian kelompok gajah tersebut. Berdasarkan informasi dari masyarakat, gajah yang berjumlah 3 ekor masih berada di sekitar daerah pencarian sebelumnya. Posisi gajah sudah menyeberangi sungai Kampar dan mendekati pemukiman. Tim bersama masyarakat melakukan penggiringan dan mengarahkan ke pintu awal kelompok gajah menyeberang. Sampai pukul 17.00 WIB, tim masih melakukan penggiringan. Pada awalnya gajah tersebut sudah berada di jalur yang diharapkan, namun pemilik kebun yang berada di pintu masuk gajah membunyikan sesuatu sehingga gajah akhinya berbalik arah. Dikarenakan kondisi lokasi rawa yang menyulitkan dan kondisi fisik yang sudah lelah, Tim dengan masyarakat memutuskan menghentikan penggiringan. Tim menyampaikan agar masyarakat tidak melakukan hal hal yang anarkis terhadap gajah dan tetap melakukan blokade agar gajah tersebut tidak memasuki pemukiman masyarakat. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Berdayakan Masyarakat, BBKSDA Riau Bentuk 3 Kelompok Tani Hutan

Pekanbaru, 29 Juni 2022 - Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I melakukan kegiatan pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) di Desa Batu Sanggan, Desa Muara Bio dan Desa Terusan. Seluruh desa tersebut berlokasi di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar. Kegiatan dilaksanakan pada hari Selasa hingga Kamis, 21-23 Juni 2022. Tim penyuluh kehutanan selaku fasilitator dimotori oleh Tommy SP Sinambela dengan didampingi Usgiantoro, Ahmad Fitriansyah, Fahrul Rozi Sembiring serta Rikso Yunaldi. KTH di Desa Batu Sanggan yang berhasil dibentuk diberi nama KTH Batu Sanggan Berdiri, di Desa Muara Bio bernama KTH Simpang Dua Muara Bio, dan di Desa Terusan bernama KTH Gunung Medan Mandiri. Untuk KTH Batu Sanggan Berdiri dan KTH Simpang Dua Muara Bio, keduanya akan melakukan kegiatan budidaya ternak kerbau. Sedangkan KTH Gunung Medan Mandiri, selain budidaya ternak kerbau, juga akan mengembangkan budidaya tanaman coklat. Komoditi tersebut dipilih dan disepakati berdasarkan diskusi yang dilakukan bersama dengan para fasilitator. Penyuluh kehutanan yang menjadi fasilitator telah meminta kepada pengurus yang dipilih untuk menyelesaikan administrasi pembentukan kelompok, diantaranya surat permohonan penetapan KTH ke Kepala Desa, AD/ART, dan sebagainya. Para fasilitator ini juga telah memberikan motivasi dan arahan dalam pengembangan kelompok diantaranya pentingnya rasa solidaritas dan saling percaya antar anggota kelompok serta pertemuan kelompok yang rutin. Semoga semua sesuai harapan ya sob, masyarakat sejahtera dan hutan terjaga. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Perkuat Keterampilan Kelompok Masyarakat Desa Penyangga, Balai TN Gunung Merbabu Berikan Pelatihan

Boyolali, 18 Juni 2022. Pertanian Organik merupakan sistem produksi pertanian yang menghindari atau sangat membatasi penggunaan pupuk kimia (pabrik), pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan. Budidaya tanaman berwawasan lingkungan adalah suatu budidaya pertanian yang direncanakan dan dilaksanakan dengan memperhatikan sifat-sifat, kondisi dan kelestarian lingkungan hidup, dengan demikian sumber daya alam dalam lingkungan hidup dapat dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga kerusakan dan kemunduran lingkungan dapat dihindarkan dan melestarikan daya guna sumber daya alam dan lingkungan hidup. Kelompok Tani Tentrem dan Kelompok Tani Ngudi Makmur merupakan dua dari kelompok masyarakat desa penyangga Balai Taman Nasional Gunung Merbabu yang mencoba mengembangkan pertanian organik dalam sistem pertanian mereka. Namun kelompok belum mempunyai cukup keterampilan serta pengetahuan sehingga memerlukan pendampingan kegiatan peningkatan kapasitas dalam bentuk pelatihan. Bertempat di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Citra Muda, kedua kelompok belajar tentang pertanian organik. Pada kesempatan ini kelompok belajar tentang budidaya sayur organik, simulasi pembuatan pupuk organik cair dan padat, serta pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL), pestisida nabati, dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok masyarakat serta bisa membuka jejaring pemasaran. P4S Citra Muda yang memiliki merk dagang Sayur Organik Merbabu (SOM) masih membuka kesempatan bagi kelompok penggiat budidaya sayur organik untuk menjadi mitra dalam memenuhi kebutuhan pasar. Melalui pelatihan ini pula diharapkan kelompok dapat menyebarluaskan pengetahuan yang didapat kepada masyarakat sekitar. Semakin banyak petani yang mempergunakan sistem pertanian organik dalam pertanian mereka maka semakin besar peran serta petani dalam menjaga kelestarian lingkungan serta kesehatan masyarakat. Kunci dalam budidaya sayur organik yaitu “telaten” . (NurA_Penyuluh Kehutanan) Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Artikel

Solusi Konflik Tenurial Dengan Kemitraan Konservasi Untuk Keterlanjuran Tambak

Kotabaru, 22 Juni 2022 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan Sosialisasi Kemitraan Konservasi untuk Keterlanjuran Tambak dalam upaya penyelesaian konflik tenurial di Desa Pantai dan Desa Langadai Kabupaten Kotabaru, Rabu (22/6). Kegiatan ini untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat di dua desa tersebut tentang kemitraan konservasi untuk keterlanjuran tambak yang berada di kawasan konservasi. Kemitraan konservasi (Kemkon) merupakan peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan akses kelola (legalitas komunal) dalam berusaha di dalam kawasan konservasi yang didasarkan rasa saling menghargai, saling percaya dan saling menguntungkan. Keuntungan Kemkon antara lain: akses pemanfaatan kawasan, dukungan APBD/ APBN, dukungan penyuluhan teknis dan pihak ketiga. Sosialisasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., didampingi Kepala Seksi Wilayah III Nikmat Hakim Pasaribu, S.P. M.Sc, Kepala Resort Cagar Alam Selat Laut & Sebuku Yofi Azhar dan Kepala Resort CA Teluk Kelumpang Achmad Nabawi. Pelaksanaan di Desa Pantai dan dihadiri Plt Kepala Desa Muhammad Hasbi Yani S.Pd, Penyuluh Perikanan Hairamansyah dan perwakilan petambak sebanyak 16 orang. Sementara di Desa Langadai di hadiri oleh Pembekal Muhammad Ali Fitri serta perwakilan masyarakat petambak sebanyak 9 orang. Dr. Mahrus menyampaikan kebijakan KLHK tentang Kemitraan Konservasi kepada masyarakat yang beraktivitas di dalam kawasan konservasi khususnya keterlanjuran tambak berdasarkan Peraturan Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor: P.6/KSDAE/SET/KUM.1/6/2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Penyuluh Perikanan Lapangan Kecamatan Kelumpang Selatan Hairamansyah menyampaikan dukungan terhadap kegiatan kemitraan konservasi ini dan menyampaikan melalui mekanisme silvofisheri sangat bermanfaatan selain untuk konservasi juga dapat meningkatkan produktifitas tambak. Sementara perwakilan masyarakat keterlanjuran tambak Bapak Rahman berharap mendapat legalitas dalam berusaha didalam kawasan. Sementara di desa Langadai, pembekal Muhammad Ali Fitri manyampaikan bahwa program ini merupakan peluang bagi masyarakat petambak untuk dapat berusahan dengan tenang, dan memberikan kemudahan bagi masyarakat petambak khususnya masyarakat Langadai untuk membentuk kelompok Kemitraan Konservasi yang bekerjasama dengan Balai KSDA Kalimantan Selatan. (ryn) Sumber : Yofi Azhar - Polhut Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

BBKSDA Riau Lakukan Penilaian Efektivitas Pengelolaan 4 Kawasan Konservasi

Pekanbaru, 27 Juni 2021 - Balai Besar KSDA Riau kembali mengadakan kegiatan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi lingkup Balai Besar KSDA Riau Tahun 2022 di Hotel Bono Pekanbaru (23/06). Balai Besar KSDA Riau mengundang para pihak terkait yaitu Pemda Kab. Kampar, Kab. Siak, Kab. Bengkalis, kecamatan dan desa di sekitar kawasan konservasi dan pihak swasta, yaitu PT RAPP, BOB PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu, dan PT Pertamina. Penilaian tersebut dilakukan dengan metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT) pada 4 kawasan konservasi, diantaranya yaitu SM Balai Raja, SM PLG Sebanga, TN Zamrud dan TWA Buluh Cina. Dalam pelaksanaan penilaian, semua peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat disertai data dan bukti yang mendukung pemberian skor penilaian. Penilaian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana pengelolaan kawasan konservasi yang telah dilakukan tahun sebelumnya dilihat dari 5 aspek, yaitu konteks, perencanaan, input, proses dan outcome. Rekomendasi dalam proses penilaian menjadi sangat penting diperhatikan untuk meningkatkan pengelolaan pada tahun berikutnya. Terima kasih untuk semua pihak atas partisipasi dalam penilaian ini. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Patroli Rutin Kawasan SM Kerumutan Temukan Tanaman Sawit dan Pondok Kerja Ilegal

Pekanbaru, 27 Juni 2022 - Resort Kerumutan Selatan melakukan patroli pengamanan kawasan hutan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan di Desa Kampung Pulau, Kecamatan Rengat, Kabupaten Inhu (22/06). Tim melakukan pengecekan papan himbauan dan larangan di muara sungai Mengkuang. Setelah ditinjau, papan himbauan dan larangan terlihat masih dalam kondisi baik. Tim kembali menyusuri sungai Tetual dengan menggunakan perahu motor dan melakukan pengecekan titik-titik rawan illegal logging, Tim tidak menemukan aktivitas masyarakat di Sungai Tetual tersebut. Tim selanjutnya melakukan penyusuran ke hulu sungai Mengkuang dan menemukan tanaman kelapa sawit di batas kawasan SM. Kerumutan sebanyak ± 10 batang, Tim memusnahkan tanaman tersebut dengan menebang menggunakan mesin chainsaw. Selanjutnya tim melakukan penyusuran dan penyisiran ke hulu sungai Mengkuang dan menemukan pondok kerja yang kosong diduga milik pelaku illegal. Tim memusnahkan pondok kerja tersebut dengan membakar secara aman dan terukur. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Evakuasi 2 (Dua) Ekor Kera Ekor Panjang yang Berhasil Masuk Kandang Jebak

Pekanbaru, 27 Juni 2022 - Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Batam menerima laporan bahwa kandang jebak yang pernah dipasang di Perumahan Citra Mas, Batu Besar, Nongsa beberapa waktu lalu akhirnya membuahkan hasil (17/06). Dalam kandang jebak tersebut, terdapat 2 ekor jenis Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang berhasil terjebak. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, petugas Balai Besar KSDA Riau dalam hal ini SKW II Batam dibantu staf Gakkum KLHK Batam segera melakukan evakuasi dan langsung melakukan pelepasliaran satwa tersebut di Kawasan Konservasi TWA Muka Kuning (instagram: @twa.mukakuning), Batam, Kepulauan Riau. Lokasi ini dipilih sebagai kawasan hutan yang representatif untuk pelepasliaran satwa dengan tujuan meminimalisir dan mencegah terjadinya konflik satwa Kera Ekor Panjang dengan manusia dengan tetap menjaga kelestarian satwa yang ada. Sumber : Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 1.585–1.600 dari 2.298 publikasi