Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Bagaimana Kabar Komodo?

Biawak Komodo atau dalam dunia ilmiah dikenal dengan nama Varanus komodoensis adalah salah satu satwa kebanggaan bangsa Indonesia. Komodo adalah satwa endemik Indonesia atau secara spesifik hanya ada di wilayah Flores dan pulau satelitnya. Dalam konteks konservasi di tingkat global, berdasarkan IUCN Red List, Komodo berstatus Endangered atau terancam punah karena ancaman degradasi habitat dan perburuan ilegal. Komodo juga terdaftar dalam Appendix I CITES (satwa yang tidak boleh diperdagangkan dalam bentuk apa pun). Di Indonesia sendiri, Komodo merupakan satwa yang berstatus dilindungi berdasarkan Undang-Undang Konservasi Keanekaragaman Hayati. Selain unik karena bentuk dan morfologinya yang mirip satwa Jurassic (walaupun komodo sebenarnya mulai berkembang evolusinya setelah 60 juta tahun pasca kepunahan Dinosaurus), satwa ini juga sangat unik karena merupakan kadal terbesar di dunia, serta dapat berkembang biak tanpa dukungan pembuahan dari individu jantan (partogenesis). Bobot tubuh komodo dapat mencapai 90 Kg dengan panjang tubuh kurang lebih 3 meter. Usia komodo dapat mencapai lebih dari 40 tahun. Saat ini, populasi Komodo hanya tersebar di wilayah Flores Utara, Barat dan sedikit ke selatan, serta di wilayah yang saat ini merupakan kawasan Taman Nasional Komodo. Informasi sebaran ini didasarkan pada temuan pemasangan kamera jebak (trap camera) dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan paparan yang disampaikan oleh Deni Purwandana (Komodo Survival Program) dalam sosialisasi Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Komodo, Populasi komodo retalif stabil dalam 20-an tahun terakhir. Walaupun, menurut Deni, terdapat pengurangan wilayah sebarannya secara signifikan jika dibandingkan dengan data sebaran alaminya pada tahun 1981, yang merupakan kesimpulan dari hasil survei Walter Auffenberg. Menurut Ahmad Munawir (Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan), saat ini populasi Komodo berada pada rentang 3.270 +/- 371 individu di dalam wilayah Taman Nasional Komodo. Adapun di wilayah Pulau Flores, masih terdapat populasi sekitar 701 +/- 131 individu, serta 177 individu Komodo yang berada pada areal konservasi eksitu. Munawir juga menambahkan bahwa konservasi Komodo menghadapi berbagai tantangan, diantaranya keberadaan spesies invasif (anjing liar) di habitat alami Komodo, perburuan ilegal, perburuan satwa mangsa Komodo terutama Rusa, Konflik satwa. dan manusia, perencanaan wilayah yang belum sinkron serta degradasi habitat.
Baca Artikel

Cerita Kolaborasi Menjaga Bawean Tetap Lestari

Bawean, 7 April 2026. Pagi baru saja menyentuh Pulau Bawean ketika suara anak-anak mulai memenuhi ruang kelas di Desa Kumalasa. Di balik kesederhanaan bangunan sekolah dasar itu, sebuah gagasan besar tengah ditanamkan, tentang bagaimana masa depan satwa liar, bahkan nasib sebuah spesies endemik, bisa bergantung pada pemahaman generasi paling muda. Pada Selasa (6/4), Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia (ABI) melaksanakan kegiatan penguatan kesadaran konservasi yang menjadi bagian dari strategi mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar. Fokusnya tidak semata pada perlindungan, tetapi juga pada membangun hubungan baru antara manusia dan alam, dimulai dari ruang-ruang pendidikan. Di hadapan siswa sekolah dasar, konsep konservasi diterjemahkan menjadi tindakan sederhana: tidak berburu, tidak merusak habitat, dan menjaga kebersihan lingkungan. Namun di balik pesan-pesan itu, tersimpan urgensi yang lebih dalam. Pulau Bawean adalah rumah bagi Rusa Bawean, spesies endemik yang hanya bertahan di pulau ini dan menghadapi tekanan dari perubahan lanskap serta interaksi dengan manusia. Edukasi menjadi pintu masuk. Anak-anak, yang selama ini menjadi saksi perubahan di sekitar mereka, diposisikan sebagai agen perubahan, penjaga masa depan yang belum sepenuhnya mereka pahami, tetapi mulai mereka kenali. Beberapa kilometer dari sana, di Desa Suwari, realitas yang lebih kompleks terbentang. Di wilayah ini, batas antara habitat satwa liar dan ruang hidup manusia semakin tipis. Ladang pertanian bersinggungan langsung dengan jalur jelajah satwa, menciptakan potensi konflik yang tak terhindarkan. Tim kemudian beralih dari pendekatan edukatif ke pendekatan sosial. Bersama pemerintah desa, mereka mengidentifikasi kelompok masyarakat yang paling terdampak, petani yang lahannya bersentuhan dengan habitat, serta kelompok masyarakat yang memiliki relasi historis dengan satwa liar. Diskusi berlangsung dengan pendekatan yang tidak menghakimi. Sebaliknya, strategi komunikasi dirancang untuk memahami realitas sosial-ekonomi masyarakat, sekaligus membangun kesepahaman bahwa konservasi bukanlah pembatas, melainkan jaminan keberlanjutan. Dari pertemuan itu, lahir rencana tindak lanjut, sosialisasi partisipatif yang akan melibatkan sekitar 40 warga, dijadwalkan pada malam hari agar selaras dengan ritme kehidupan masyarakat yang tengah memasuki masa panen. Kegiatan ini menunjukkan satu hal yang kerap luput dari perhatian, bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari kawasan hutan, tetapi dari ruang-ruang interaksi manusia. Dari kelas sekolah, dari balai desa, dari percakapan yang pelan namun berkelanjutan. Di Pulau Bawean, langkah kecil itu sedang dirintis. Sebuah upaya yang mungkin tak terdengar lantang, tetapi menyimpan harapan besar: menjaga harmoni antara manusia dan alam, sebelum konflik menjadi cerita yang terlambat untuk diperbaiki. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bantuan Investasi Ekonomi kepada 14 Kelompok Tani di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut

Deli Serdang, 6 April 2026 – Upaya pemulihan ekosistem di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut tidak hanya dilakukan melalui penanaman dan penertiban kawasan, tetapi juga dengan memperkuat ekonomi masyarakat yang berada di sekitarnya. Hal ini terlihat dalam kegiatan Kick Off Pemulihan Ekosistem Tahun di Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut yang digelar oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Kamis (2/4). Dalam rangkaian kegiatan tersebut, diserahkan bantuan investasi modal usaha/peningkatan usaha ekonomi senilai Rp 55.000.000 (lima puluh lima juta rupiah) kepada 14 kelompok tani dan kelompok usaha masyarakat di sekitar kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Bantuan ini diarahkan untuk pengembangan usaha produktif yang ramah lingkungan, sehingga masyarakat memiliki alternatif mata pencaharian tanpa harus bergantung pada aktivitas di dalam kawasan hutan konservasi. Pemberdayaan masyarakat menjadi strategi penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Salah satu bentuk nyata dari strategi ini adalah pemberian bantuan usaha ekonomi produktif (UEP) yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi tekanan terhadap sumber daya hutan konservasi, sekaligus memperkuat kelembagaan kelompok masyarakat sebagai mitra konservasi. Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env, menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan ekosistem tidak dapat dilakukan tanpa dukungan masyarakat. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu melalui program FP 6 yang didukung KfW, kami memberikan bantuan investasi kepada kelompok masyarakat agar mereka dapat ikut menjaga kawasan. Ketika masyarakat mendapat manfaat ekonomi di luar kawasan, maka tekanan terhadap hutan akan jauh berkurang,” ujarnya. Hal senaga disampaikan Direktur Kawasan Konservasi, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si yang menekankan bahwa kawasan konservasi bukan penghalang kesejahteraan masyarakat. “Keberadaan suaka margasatwa justru menjadi sistem penyangga kehidupan masyarakat. Mangrove melindungi dari abrasi, intrusi air laut, hingga menjadi tempat pemijahan ikan yang bernilai ekonomi. Maka pemulihan ekosistem ini harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga,” jelasnya. Ragam Usaha Produktif yang Didukung Bantuan modal usaha tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi lokal, yaitu: 1. Kelompok Tani Secanggang Bertuah-budidaya perikanan ikan kakap putih dan kepiting bakau 2. Kelompok Tani Masyarakat Peduli Mangrove-budidaya perikanan ikan nila dan kepiting bakau 3. Kelompok Tani Sama Jaya Bersahaja-budidaya perikanan udang windu, ikan nila dan kepiting kepiting bakau 4. Kelompok Tani Suka Damai-budidaya penggemukan lembu 5. Kelompok Tani Hutan Gading Hijau- budidaya peternakan domba 6. Kelompok Tani Nelayan Sejati- budidaya peternakan domba 7. Kelompok Tani Gading Berseri- budidaya peternakan domba 8. Kelompok Tani Hutan Harapan Jaya- budidaya penggemukan lembu 9. Kelompok Tani Hutan Maju Jaya-budidaya peternakan kambing 10. Kelompok Usaha Mawar-pengolahan makanan keripik udang kecepe 11. Kelompok Tani Hutan Mangroves Sejahtera- pembangunan homestay wisata mangrove 12. Kelompok Tani Hutan Harapan Indah-alat penggilingan pengolahan padi 13. Kelompok Tani Hutan Indah Bersama-budidaya penggemukan lembu 14. IPANJAR- pengolahan produk makanan mangrove Jenis usaha ini dipilih karena dinilai selaras dengan upaya konservasi mangrove, tidak merusak lingkungan, serta memiliki nilai ekonomi yang dapat langsung dirasakan masyarakat. Masyarakat sebagai mitra konservasi Melalui dukungan modal usaha ini, masyarakat diharapkan bertransformasi dari yang sebelumnya bergantung pada pemanfaatan kawasan, menjadi mitra konservasi yang aktif menjaga kelestarian mangrove. Skema pemberdayaan ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang pemulihan ekosistem di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, yang diketahui mengalami kerusakan sekitar 22 persen akibat alih fungsi lahan menjadi sawit dan tambak. Dengan adanya alternatif sumber penghasilan, pemerintah berharap siklus perambahan kawasan dapat dihentikan, dan pemulihan ekosistem yang telah dilakukan tidak kembali rusak. Program ini menunjukkan bahwa konservasi mangrove dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S.Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Mengetuk Kesadaran dari Rumah ke Rumah, Ikhtiar Kecil Menjaga Satwa Besar di Bawean

Bawean, 5 April 2026. Di sebuah sudut tenang Desa Suwari, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, upaya konservasi tidak selalu hadir dalam bentuk patroli atau operasi penegakan hukum. Kadang, ia datang dengan cara yang lebih sederhana, mengetuk pintu rumah warga, menyapa, dan menitipkan pesan tentang masa depan satwa yang hidup berdampingan dengan manusia. Pada Kamis (2/4), Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mendampingi kegiatan Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia (ABI) dalam rangka sosialisasi dan edukasi konservasi kepada masyarakat setempat. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga kelestarian satwa liar, khususnya Rusa Bawean, satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di pulau ini. Alih-alih pendekatan formal yang berjarak, tim memilih cara yang lebih membumi. Edukasi dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah. Brosur dibagikan, percakapan dibangun, dan pemahaman ditumbuhkan secara perlahan. Di sinilah konservasi menemukan wajahnya yang paling manusiawi: dialog. Di titik lain desa, sebuah banner dipasang di saung sederhana milik warga, lokasi yang kerap menjadi ruang temu dan berbagi cerita. Banner itu bukan sekadar media informasi, melainkan pengingat visual bahwa keberadaan Rusa Bawean bukan hanya tanggung jawab petugas, tetapi juga bagian dari identitas dan masa depan masyarakat Bawean itu sendiri. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa batas antara ruang hidup manusia dan satwa semakin tipis. Di belakang permukiman warga, tim bersama masyarakat menemukan tanda aktivitas babi kutil, jejak yang menjadi sinyal bahwa interaksi manusia dan satwa liar tidak lagi dapat dihindari. Situasi ini menjadi pengingat penting bahwa konservasi hari ini tidak hanya berbicara tentang perlindungan, tetapi juga tentang bagaimana membangun harmoni dan mitigasi konflik secara bijak. Respon masyarakat Desa Suwari menunjukkan secercah harapan. Edukasi yang disampaikan secara langsung membuka ruang pemahaman baru, bahwa menjaga satwa liar bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan investasi ekologis bagi generasi mendatang. Di Pulau Bawean, konservasi tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kesadaran bersama. Dari percakapan sederhana di beranda rumah, dari banner yang terbaca setiap hari, hingga dari jejak-jejak satwa yang diam-diam mengingatkan bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni pulau ini. Karena pada akhirnya, masa depan satwa endemik Bawean tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat pengawasan dilakukan, tetapi oleh seberapa dalam kesadaran itu berakar di hati masyarakatnya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Aksi Bersih dan Kampanye Lingkungan Warnai Pagi di Benteng Selayar

Selayar, 6 April 2026. Pagi ini, Senin (6/4), suasana Lapangan Pemuda Benteng tampak berbeda. Minggu (05/04/2026), puluhan relawan mulai berdatangan sejak pukul 07.00. Mereka bukan sekadar berkumpul. Ada misi besar yang diusung: menyelamatkan Taman Nasional Taka Bonerate. Kegiatan bertajuk Street Campaign itu langsung menyedot perhatian warga sekitar. Para mahasiswa dan pegiat lingkungan dengan antusias membagikan leaflet. Isinya detail tentang potensi kawasan konservasi dan sistem zonasi. Stiker bergambar terumbu karang dan biota laut pun turut dibagikan. Namun, tak hanya sekadar kampanye. Aksi bersih-bersih digelar serentak. Sampah plastik, dedaunan kering, hingga sedotan dipungut satu per satu. Lapangan yang sempat kotor perlahan berubah rapi. "Kami ingin memberi contoh nyata," ujar Namirah salah satu Mahasiswa UNHAS Fahutan, Magang. Kegiatan ini lahir dari kolaborasi tiga entitas. Pertama, Mahasiswa UNHAS Fakultas Kehutanan Prodi Konservasi. Kedua, Saka Wanabakti. Ketiga, Green Youth Movement simpul belajar Taka Bonerate. Energi muda mereka menyatu. Tujuannya sederhana: mengajak masyarakat lebih peduli pada ekosistem laut yang kaya, sekaligus menjaga kebersihan ruang publik. Pagi di Benteng Selayar pun terasa lebih bermakna. Sumber: Asri (Humas/ PEH Ahli Muda) - Balai TN Taka Bonerate dan Foto by UNHAS Fahutan, Saka Wanabakti, GYM Taka Bonerate
Baca Artikel

Diduga Lepas dari Peliharaan, Serak Jawa Diselamatkan Tim Matawali di Bangkalan

Bangkalan, 6 April 2026. Seekor Serak Jawa atau Tyto alba ditemukan dalam kondisi terluka di Kelurahan Keraton, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Jumat malam, 3 April 2026. Satwa tersebut sebelumnya dilaporkan warga setelah terlihat di pinggir jalan dan dikejar sejumlah orang. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) merespons laporan tersebut pada malam yang sama. Burung hantu berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup, meski mengalami luka ringan pada bagian sayap. Berdasarkan informasi dari beberapa warga, satwa tersebut diduga berasal dari peliharaan yang terlepas. Burung kemudian ditemukan di area jalan raya saat mencari pakan. Warga yang mengamankan satwa memilih menyerahkannya secara sukarela kepada petugas karena khawatir kondisi burung akan memburuk. Proses evakuasi berlangsung tanpa kendala. Selanjutnya, burung hantu tersebut dibawa ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur untuk menjalani perawatan dan observasi lebih lanjut sebelum diputuskan langkah penanganan berikutnya. Kegiatan ini merupakan bagian dari respons cepat terhadap laporan masyarakat terkait keberadaan satwa liar di luar habitatnya. Kasus ini menambah daftar temuan satwa liar yang diduga berasal dari pemeliharaan masyarakat dan kemudian lepas ke lingkungan. Praktik pemeliharaan satwa liar tanpa pemahaman memadai dinilai berpotensi meningkatkan risiko bagi satwa maupun manusia. Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dalam melaporkan dan menyerahkan satwa menjadi faktor penting dalam upaya penyelamatan dan penanganan yang tepat. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Akhmad David Menjaga Satwa dari Ambang Kehilangan Di Hutan Kota Trenggalek

Trenggalek, 6 April 2026. Kabut turun perlahan di antara batang-batang pohon yang menjulang di Hutan Kota Trenggalek. Udara pagi membawa aroma tanah basah, perpaduan antara daun yang membusuk dan kehidupan yang terus berdenyut di bawahnya. Di tempat yang sekilas tampak seperti ruang hijau biasa di tengah kota kecil di selatan Jawa Timur ini, kehidupan liar masih bersembunyi. Tak terlihat, tak terdengar, namun nyata. Di antara akar-akar pohon dan jalur-jalur samar yang hanya dipahami satwa, sebuah perangkat kecil terpasang, diam, nyaris tak kasat mata. Kamera jebak. Ia tidak berburu. Ia tidak mengejar. Ia hanya menunggu. Dan seseorang memasangnya dengan penuh perhitungan. Namanya Akhmad David Kurnia Putra. Bagi sebagian besar orang, hutan adalah kumpulan pohon, namun bagi David, hutan adalah teks panjang yang ditulis dalam bahasa yang tidak diucapkan. Ia membaca jejak kaki di tanah lembab seperti kalimat. Ia memahami arah patahan ranting sebagai tanda pergerakan. Ia mengartikan sunyi sebagai informasi. Sebagai Polisi Kehutanan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur, David bukan sekadar penjaga kawasan. Ia adalah penerjemah, menghubungkan dunia manusia dengan kehidupan liar yang semakin terdesak. Di Trenggalek, tugas itu menemukan bentuknya yang paling subtil. Menempatkan Mata Di Tempat Yang Tepat Memasang kamera jebak bukan pekerjaan acak. Setiap titik adalah hasil analisis, jalur lintasan satwa, sumber air, area pakan, hingga lokasi dengan gangguan manusia minimal. David dan rekannya menyusuri kawasan hutan kota dengan pendekatan ilmiah. Mereka tidak hanya berjalan, mereka mengamati, mencatat, dan memprediksi. Dan satwa selalu memilih jalur efisien,vbegitu prinsip dasar yang mereka gunakan. Di titik-titik tertentu, tanah tampak lebih padat, sering dilalui. Di tempat lain, dedaunan tampak terganggu, tanda aktivitas malam. Di situlah kamera dipasang. Menghadap rendah. Menyesuaikan tinggi tubuh satwa. Memastikan sudut tangkap optimal tanpa mengganggu perilaku alami. Tidak ada ruang untuk kebetulan. Dan Malam Menjadi Panggung! Kehidupan di Hutan Kota Trenggalek tidak berlangsung hanya di siang hari. Ia muncul saat manusia pergi. Saat lampu kota redup. Saat suara kendaraan berganti dengan dengung serangga malam. Di situlah kamera bekerja. Satu per satu, kehidupan yang tersembunyi mulai menampakkan diri. Seekor musang pandan melintas perlahan, berhenti sejenak, mengendus udara. Seekor Monyet Ekor Panjang bergerak cepat di antara lantai hutan dan kanopi. Sepasang Landak Jawa berjalan hati-hati, durinya berkilau terkena pantulan inframerah. Rekaman itu sunyi. Tanpa narasi. Tanpa dramatisasi. Namun justru di situlah kekuatannya! Lebih Dari Sekadar Dokumentasi Bagi Om Dev, panggilan akrabnya, setiap gambar adalah data. Ia tidak hanya melihat apa yang terekam, tetapi juga, waktu satwa muncul, berapa sering ia melintas, bagaimana pola pergerakannya dan apa yang tidak lagi terlihat. Dalam konservasi, absennya suatu spesies sering kali lebih penting daripada kehadirannya. Jika satu jenis tidak lagi muncul di rekaman, itu bisa menjadi tanda awal gangguan ekosistem. “Yang hilang sering kali lebih berbicara daripada yang terlihat,” adalah prinsip yang tak tertulis, namun selalu hadir dalam analisis mereka. Hutan Kota: Fragmen Yang Bertahan Hutan Kota atau dikenal sebagai Huko Trenggalek bukanlah hutan luas seperti taman nasional. Ia adalah fragmen. Sebuah potongan kecil ekosistem yang bertahan di tengah tekanan pembangunan, ekspansi ruang hidup manusia, dan perubahan lanskap. Namun justru karena kecil, ia menjadi penting. Hutan kota seperti ini sering kali menjadi habitat sementara, koridor pergerakan satwa, atau bahkan tempat terakhir bagi spesies tertentu yang melarikan diri dari sangkar buatan manusia untuk bertahan. Apa yang ditemukan Om Dev melalui kamera jebak membuktikan satu hal, bahwa meski di tengah kota, kehidupan liar belum sepenuhnya hilang. Antara Harapan Dan Risiko Namun keberadaan satwa di ruang urban membawa dilema. Semakin dekat satwa dengan manusia, semakin besar potensi konflik. Monyet ekor panjang dapat memasuki permukiman. Musang dapat mendekati area pemukiman untuk mencari pakan. Di sinilah konservasi menjadi kompleks. David tidak hanya bertugas memantau. Ia juga harus memikirkan, mitigasi konflik, edukasi masyarakat, serta menjaga agar keberadaan satwa tidak berubah menjadi ancaman. Konservasi bukan lagi tentang “melindungi dari jauh”, ia menjadi tentang mengelola kedekatan. Kerja Yang Tidak Selalu Terlihat Di balik setiap rekaman, ada kerja panjang yang jarang terlihat publik. Berjalan berjam-jam dalam medan licin. Memasang kamera di tengah hujan. Kembali berminggu-minggu kemudian untuk mengambil data. Sering kali tanpa hasil yang signifikan. Namun konservasi tidak bekerja dalam logika instan. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan dan keyakinan bahwa setiap data kecil memiliki arti besar. Data yang dikumpulkan David bukan hanya untuk hari ini. Ia menjadi dasar untuk perencanaan pengelolaan habitat, pengambilan kebijakan konservasi, hingga strategi perlindungan jangka panjang Dari pola kemunculan satwa, bisa diprediksi, apakah habitat masih layak, apakah terjadi tekanan atau apakah diperlukan intervensi. Dalam dunia konservasi modern, data adalah kompas dan kamera jebak adalah salah satu alat navigasinya. Salah satu hal yang disadari David dalam pekerjaannya adalah manusia tidak bisa dipisahkan dari ekosistem ini. Hutan kota bukan kawasan tertutup. Ia hidup berdampingan dengan masyarakat dan menjadi penyeimbang kehidupan mereka. Maka pendekatan konservasi di Trenggalek tidak bisa hanya bersifat teknis. Ia harus sosial dan edukasi menjadi bagian penting untuk mengenalkan satwa kepada masyarakat, membangun kesadaran, dan mengubah persepsi dari “ancaman” menjadi “warisan bersama”. Hening Yang Menentukan Di dunia yang semakin cepat, pekerjaan seperti ini tampak lambat. Namun justru di dalam kelambatan itulah masa depan ditentukan, bahwa setiap kamera yang dipasang adalah bentuk perlawanan kecil terhadap kehilangan. Setiap data yang dikumpulkan adalah langkah untuk memahami sebelum terlambat. Akhmad David tidak bekerja di panggung besar. Ia bekerja di ruang sunyi. Namun dari ruang sunyi itulah, keputusan besar lahir. Jejak Yang Tidak Terhapus Suatu malam, kamera jebak kembali merekam. Seekor landak berjalan pelan, berhenti, lalu melanjutkan langkahnya, tak ada yang melihat, tak ada yang tahu, kecuali kamera itu. Dan seseorang yang nanti akan membaca rekamannya. Di situlah arti pekerjaan ini. Bukan untuk dilihat banyak orang. Bukan untuk mendapat sorotan, melainkan untuk memastikan bahwa kehidupan itu, sekecil apa pun, setersembunyi apa pun, masih punya ruang untuk bertahan. Dan selama kamera-kamera itu masih terpasang di Hutan Kota Trenggalek, selama masih ada yang membaca jejak-jejak sunyi itu, maka harapan belum benar-benar hilang. Kisah Akhmad David di Trenggalek adalah potret konservasi masa kini, bukan tentang hutan yang jauh, melainkan tentang kehidupan liar yang bertahan di dekat kita. Ia mengingatkan bahwa, konservasi tidak selalu besar, tidak selalu dramatis, namun selalu penting. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

60 Tukik Penyu Sisik Kembali Ke Laut Karimunjawa

Karimunjawa, 05 April 2026 – Balai Taman Nasional (TN) Karimunjawa kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian satwa dilindungi melalui kegiatan pelepasan 60 ekor tukik (anak penyu) jenis penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Pelepasan yang berlangsung pada hari Minggu, pukul 15.00 WIB ini bertempat di Pantai Pulau Menyawakan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Karimunjawa yang berjumlah 6 orang, bersama dengan salah satu pengelola Kura-Kura Resort Pulau Menyawakan. Lokasi pelepasan sengaja dipilih di kawasan pantai yang sama dengan tempat induk penyu bertelur secara alami. Hal ini didasarkan pada perilaku alami penyu yang dikenal memiliki homing instinct, yaitu kemampuan untuk kembali ke tempat kelahirannya saat dewasa guna melanjutkan siklus reproduksi. Koordinator Penetasan Semi Alami (PSA) Penyu Seksi PTN Wilayah II Karimunjawa, Bapak Zaenul Abidin, menjelaskan pentingnya metode pelepasan di lokasi asal penetasan. "Kami melepasliarkan tukik ini tepat di Pantai Pulau Menyawakan karena lokasi ini merupakan tempat induk penyu sisik bertelur. Dengan cara ini, ketika tukik-tukik ini tumbuh dewasa nanti, mereka secara naluriah akan kembali ke pantai yang sama untuk bertelur. Ini adalah strategi konservasi jangka panjang untuk memulihkan populasi penyu di habitat aslinya," ujar Zaenul Abidin. Sementara itu, Kepala SPTN Wilayah II Karimunjawa, Ibu Dyah Ayu Puspitasari, menambahkan bahwa pelepasan tukik di lokasi induk bertelur memiliki fungsi ekologis yang sangat krusial. "Fungsi utama pelepasan tukik di lokasi induk bertelur adalah untuk mempertahankan nesting site atau situs bertelur alami. Penyu memiliki ingatan magnetik yang kuat terhadap pantai tempat mereka menetas. Dengan melepasliarkan mereka di sini, kita sedang 'merekam' lokasi ini ke dalam memori alami mereka. Harapannya, 20 hingga 30 tahun mendatang, mereka kembali ke Pantai Pulau Menyawakan untuk bertelur, sehingga populasi penyu sisik yang dilindungi ini dapat terus berlanjut secara alami," jelas Ibu Dyah. Kegiatan yang berlangsung sore hari itu juga dihadiri oleh pengelola resort setempat yang mendukung penuh upaya konservasi berbasis masyarakat. Suasana khidmat dan penuh harapan menyertai perjalanan 60 ekor tukik yang dengan gesit merangkak menuju garis ombak, memulai perjalanan panjang mereka di Laut Karimunjawa. Balai TN Karimunjawa mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini, serta mengajak masyarakat luas untuk turut menjaga kebersihan pantai dan tidak mengganggu proses bertelur penyu demi kelestarian hayati bangsa. Sumber: Venza Rhoma Saputra, S.Hut (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) SPTN Wilayah II Karimunjawa, Balai TN Karimunjawa
Baca Artikel

Sunyi Yang Terusik, Patroli Jumpai Luka Baru Di Habitat Rusa Bawean

Bawean, 5 April 2026. Pagi yang tenang di lereng Gunung Besar dalam kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, hutan masih bernafas dengan ritmenya sendiri Kamis (02/04). Udara lembap membawa aroma tanah dan dedaunan. Di antara rimbun pepohonan, jejak kehidupan liar terbaca jelas, bekas gesekan tanduk Rusa Bawean, kicauan burung Merbah Belukar, hingga bayangan cepat Babi Kutil yang melintas di sela vegetasi. Anggrek liar menggantung tenang, menjadi saksi bahwa ekosistem ini masih hidup, masih utuh, masih berfungsi. Namun di satu titik, kesunyian itu berubah makna. Sebuah bidang kecil terbuka di tengah hutan. Vegetasi alami telah tergantikan. Tanahnya ditanami rumput gajah, rapi, teratur, namun terasa asing di dalam lanskap liar. Sebuah perubahan yang nyaris tak terdengar, tetapi cukup untuk menjadi penanda, ada ruang yang mulai bergeser fungsi. Luka itu kecil, sekitar 0,07 Ha. Namun di dalam kawasan konservasi, tak ada perubahan yang benar-benar kecil. Bagi masyarakat Pulau Bawean, hutan bukanlah sesuatu yang jauh. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, penyangga air, penjaga tanah, sumber keseimbangan yang selama ini mungkin terasa “selalu ada”. Di sinilah letak relasi yang sering tak terlihat, bahwa keberadaan satwa liar, vegetasi alami, dan bentang hutan sesungguhnya menopang kehidupan manusia itu sendiri. Rusa Bawean, burung-burung liar, hingga tumbuhan epifit yang menempel di batang pohon. semuanya adalah bagian dari satu sistem yang sama. Ketika satu bagian berubah, maka seluruh sistem perlahan ikut menyesuaikan. Dan perubahan itu, cepat atau lambat, akan kembali kepada manusia. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa aktivitas ini diduga berangkat dari kebutuhan, penyediaan pakan ternak. Sebuah realitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat sekitar kawasan. Di sinilah konservasi menemukan wajahnya yang paling manusiawi. Bahwa menjaga kawasan bukan hanya soal batas dan larangan, tetapi juga tentang memahami kebutuhan, membuka ruang dialog, dan mencari jalan tengah yang tidak mengorbankan alam maupun kehidupan masyarakat. Pendekatan yang dibangun bukanlah garis keras, melainkan jembatan, antara hutan dan manusia, antara perlindungan dan kebutuhan. Kawasan konservasi di Bawean bukan sekadar wilayah perlindungan. Ia adalah benteng terakhir bagi satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Namun lebih dari itu, kawasan ini adalah “nafas” bagi pulau itu sendiri. Ia menyimpan air yang mengalir ke pemukiman. Menjaga tanah tetap stabil. Menjadi penyangga kehidupan yang mungkin selama ini terasa tak terlihat, tetapi sangat nyata keberadaannya. Karena itu, menjaga kawasan ini tidak bisa hanya menjadi tugas petugas. Ia adalah tanggung jawab bersama. Bukan dalam bentuk tuntutan. Melainkan kesadaran bahwa kita semua hidup dari sumber yang sama. Perambahan kecil di Gunung Besar adalah sebuah pesan. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengingatkan. Bahwa di tengah hutan yang masih bertahan, ada tanda-tanda yang perlu dijaga bersama. Bahwa harmoni antara manusia dan alam bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, ia perlu dirawat, dijaga, dan disepakati bersama. Masyarakat Bawean telah hidup berdampingan dengan alam selama generasi. Nilai-nilai itu masih ada. Dan justru di situlah kekuatan terbesar konservasi berada, pada kearifan lokal dan rasa memiliki. Hutan Bawean akan tetap sunyi. Namun sunyi itu bukan berarti tanpa makna. Di dalamnya, kehidupan terus berlangsung. Dan di luar sana, manusia bergantung padanya. Maka menjaga hutan berarti menjaga nafas pulau. Menjaga masa depan. Menjaga keseimbangan yang tak tergantikan. Dan mungkin, langkah paling penting hari ini bukanlah menuding siapa yang salah, melainkan berjalan bersama, memastikan bahwa luka kecil ini tidak menjadi cerita yang lebih besar di masa depan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Detik-Detik Sanca Bodo Kembali Ke Hutan Besowo

Kediri, 6 April 2026. Di antara rimbunnya vegetasi hutan Cagar Alam Besowo Gadungan, seekor ular sanca remaja perlahan menghilang di balik semak. Tubuhnya yang berotot bergerak tenang, seolah kembali mengenali denyut alam yang telah lama terputus. Pagi itu, 31 Maret 2026 pukul 10.30 WIB, sebuah perjalanan pulang dimulai. bukan sekadar pelepasliaran, tetapi simbol keterhubungan manusia dan alam yang masih terjaga. Satwa yang dilepasliarkan adalah Sanca Bodo, hasil penyerahan sukarela dari masyarakat. Sebelum dilepas, tim memastikan kondisi satwa dalam keadaan sehat, tanpa luka, tanpa stres berlebih, dan memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat alaminya. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang terdiri dari Achmad Soleh Chamdani, Febrian Wahyu, Suprihadi, serta Supardi (MMP). Mereka bergerak tidak hanya sebagai petugas, tetapi sebagai penjaga keseimbangan, mengembalikan satu individu satwa ke dalam jejaring ekosistem yang lebih besar. Pelepasliaran dilakukan diwilayah yang secara ekologis masih mendukung keberlangsungan hidup spesies tersebut. Habitat hutan alami dengan tutupan vegetasi rapat menjadi ruang aman bagi sanca untuk berburu, berlindung, dan berkembang. Namun, cerita ini tidak berhenti pada satu individu ular. Di balik peristiwa ini, tersimpan pesan penting tentang meningkatnya interaksi manusia dan satwa liar. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, hingga perubahan bentang alam menjadi faktor yang mendorong satwa keluar dari habitat alaminya dan mendekati permukiman. Di sinilah peran masyarakat menjadi krusial. Penyerahan satwa liar secara sukarela menunjukkan adanya kesadaran yang tumbuh, bahwa satwa bukan untuk dipelihara, diperdagangkan, atau dieliminasi, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama. Melalui Program Matawali, Balai Besar KSDA Jawa Timur terus memperkuat respons cepat dalam penanganan konflik manusia dan satwa liar, sekaligus membangun pendekatan persuasif berbasis edukasi. Sosialisasi, baik secara langsung maupun melalui media digital, menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai konservasi di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang diselamatkan, tetapi dari seberapa kuat kesadaran kolektif manusia untuk hidup berdampingan dengan alam. Di hutan Besowo, sanca itu kini telah kembali. Namun pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah, apakah kita juga siap kembali menjaga rumah mereka? Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kerja Program Matawali Berbuah Pengakuan Dunia, USFWS Apresiasi BBKSDA Jawa Timur

Sidoarjo, 6 April 2026. Pagi itu, di kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Perum Permata No. E-30 Sedati Kulon Wedi, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, tampak seperti hari-hari biasa. Tidak ada sirene, tidak ada satwa yang baru saja dievakuasi, tidak pula hiruk pikuk operasi lapangan. Namun di ruang pertemuan yang sederhana, sebuah pengakuan dari dunia internasional sedang disematkan, bukan untuk satu peristiwa besar, melainkan untuk rangkaian kerja panjang yang nyaris tak pernah terlihat. Di tempat itu, United States Fish and Wildlife Service (USFWS) memberikan penghargaan kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur, menandai apresiasi atas dedikasi dalam penyelamatan satwa liar serta dukungan terhadap penegakan hukum di bidang tumbuhan dan satwa liar. Penghargaan diserahkan oleh James Markley, dan diterima langsung oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut.,M.Sc. pada 31 Maret 2026. Namun, seperti banyak kisah konservasi lainnya, inti dari penghargaan ini tidak terletak pada seremoni. Ia tersembunyi di lapangan, di hutan yang lembap, di ladang yang berbatasan dengan habitat liar, di kandang-kandang sempit tempat satwa disita, dan di perjalanan panjang menuju pelepasliaran. Garda Depan Yang Tak Terlihat Di Jawa Timur, penyelamatan satwa liar bukanlah peristiwa tunggal. Ia adalah rangkaian respons cepat terhadap laporan yang datang tanpa jadwal, seekor elang tersangkut kabel listrik, lutung yang masuk permukiman, trenggiling yang disita dari jaringan perdagangan, hingga rusa yang terjebak konflik dengan manusia di pulau-pulau kecil. Di balik semua itu, ada satu nama yang jarang muncul di permukaan, namun menjadi kunci dari setiap operasi: Matawali. Program dan gugus tugas Matawali, singkatan dari Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak dibentuk sebagai respons atas meningkatnya kompleksitas penanganan satwa liar di lapangan. Tim ini tersebar di berbagai wilayah kerja BBKSDA Jawa Timur, siap bergerak kapan saja. Mereka adalah kombinasi dari keahlian teknis, insting lapangan, dan ketahanan mental. Tidak ada operasi yang benar-benar sama. Dalam satu kasus, tim harus menenangkan satwa yang stres akibat konflik. Dalam kasus lain, mereka berhadapan dengan jaringan perdagangan ilegal yang terorganisir. Kadang mereka bekerja dalam sunyi, kadang dalam tekanan publik yang tinggi. Namun satu hal yang konsisten yaitu waktu. Dalam penyelamatan satwa liar, keterlambatan sering berarti kematian. Dari Konflik Hingga Penegakan Hukum Dalam tiga tahun terakhir, BBKSDA Jawa Timur bersama mitra terkait mencatat penyelamatan ratusan individu satwa liar. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan titik-titik pertemuan antara manusia dan satwa, sering kali dalam kondisi yang tidak ideal. Konflik ruang hidup menjadi salah satu pemicu utama. Perubahan lanskap, ekspansi permukiman, dan tekanan terhadap habitat alami memaksa satwa keluar dari wilayahnya. Di sisi lain, praktik perdagangan ilegal masih menjadi ancaman serius, menempatkan satwa sebagai komoditas. Di titik inilah peran BBKSDA Jawa Timur meluas, tidak hanya sebagai penyelamat, tetapi juga sebagai bagian dari sistem penegakan hukum. Setiap penyelamatan yang berasal dari kasus perdagangan ilegal membuka pintu pada proses hukum. Barang bukti, keterangan ahli, hingga koordinasi dengan aparat penegak hukum menjadi bagian dari pekerjaan yang sering kali tidak terlihat oleh publik. Dalam sambutannya, Markley menegaskan bahwa penghargaan ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam memerangi kejahatan terhadap satwa liar. Jaringan perdagangan tidak mengenal batas administratif. Begitu pula upaya untuk menghentikannya. Kerja Yang Dibangun Dari Kepercayaan Sebagian besar penyelamatan satwa liar di Jawa Timur justru berawal dari masyarakat. Laporan warga, penyerahan sukarela, hingga informasi dari jaringan lokal menjadi pintu masuk bagi tim Matawali. Ini menunjukkan satu hal penting bahwa konservasi tidak bisa berjalan tanpa kepercayaan. Kepercayaan itu dibangun perlahan, melalui edukasi, pendekatan persuasif, dan kehadiran yang konsisten di lapangan. Dalam banyak kasus, masyarakat bukanlah pelaku utama, melainkan bagian dari sistem yang belum sepenuhnya memahami nilai ekologis satwa liar. Di sinilah pendekatan humanis menjadi penting. Setiap interaksi bukan hanya soal menyelamatkan satwa, tetapi juga membangun kesadaran. Di Balik Penghargaan Bagi Nur Patria Kurniawan, penghargaan ini bukanlah tujuan akhir. Ia adalah refleksi dari kerja kolektif, dari petugas lapangan, dokter hewan, penyidik, hingga masyarakat yang terlibat. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa konservasi adalah kerja jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Tidak ada solusi instan untuk persoalan yang kompleks seperti konflik satwa atau perdagangan ilegal. Namun penghargaan ini memberi satu hal yang sering kali lebih penting dari sekadar pengakuan yaitu legitimasi. Legitimasi bahwa apa yang dilakukan di tingkat lokal memiliki dampak global. Bahwa upaya penyelamatan di satu wilayah dapat menjadi bagian dari perlindungan keanekaragaman hayati dunia. Harapan Yang Melintasi Batas Negara Momentum ini juga membuka peluang baru dalam kerja sama internasional. Salah satu yang menjadi perhatian adalah upaya repatriasi satwa liar asal Indonesia yang berada di luar negeri. Repatriasi bukan sekadar memindahkan satwa kembali ke tanah asalnya. Ia adalah proses panjang yang melibatkan aspek hukum, kesehatan satwa, hingga kesiapan habitat. Namun di balik kompleksitas itu, ada satu tujuan sederhana untuk mengembalikan yang seharusnya kembali. Dukungan dari USFWS diharapkan dapat memperkuat upaya ini, sekaligus memperluas kolaborasi dalam perlindungan keanekaragaman hayati. Jika ada satu benang merah dari seluruh cerita ini, maka itu adalah kolaborasi. Konservasi jarang hadir dalam sorotan utama. Ia tidak selalu menghasilkan berita besar. Tidak selalu terlihat dramatis. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia bekerja dalam konsistensi, dalam detail, dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari. Seekor satwa yang berhasil diselamatkan mungkin tidak mengubah dunia secara instan. Namun ia menjaga satu bagian kecil dari keseimbangan yang lebih besar. Dan ketika kerja-kerja kecil itu dilakukan berulang, dalam skala yang luas, dampaknya menjadi nyata. Menjaga Yang Tersisa Di tengah tekanan terhadap lingkungan yang terus meningkat, kerja BBKSDA Jawa Timur melalui tim Matawali menjadi pengingat bahwa masih ada ruang untuk menjaga. Ruang itu mungkin semakin sempit. Tantangannya mungkin semakin kompleks. Namun selama masih ada upaya, masih ada harapan. Penghargaan dari United States Fish and Wildlife Service bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah penanda bahwa jalan yang ditempuh, meski sunyi adalah jalan yang benar. Dan di Jawa Timur, kerja itu akan terus berlanjut. Senyap. Namun menjaga kehidupan. Sumber : Krismanko Padang, SH., MH. (Kepala Bagian Tata Usaha) & Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Antara Insting dan Ketakutan, Saat Monyet Ekor Panjang Masuk Kampung Warga Gresik

Gresik, 5 April 2026. Di sebuah sudut perkampungan Dusun Pareng Wetan, Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, ketegangan sempat mengendap di antara warga. Seekor primata liar, Monyet Ekor Panjang tertangkap setelah beberapa waktu terakhir terlihat berkeliaran di sekitar permukiman, memicu kekhawatiran akan potensi gangguan dan konflik. Pada Kamis (2/4), laporan masyarakat tersebut segera direspons oleh Tim Penyelataman Satwa Liar Ilegal (Matawali) Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Respons cepat ini menjadi bagian dari komitmen menjaga keseimbangan antara keselamatan manusia dan kelestarian satwa liar, dua hal yang kerap berada dalam garis tipis ketika ruang hidup saling bersinggungan. Informasi awal diterima dari seorang warga bernama Nurul, yang melaporkan keberadaan satwa tersebut setelah akhirnya berhasil diamankan oleh masyarakat. Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Dalam kondisi terdesak atau stres, satwa liar dapat menunjukkan perilaku defensif yang berisiko melukai manusia. Di sisi lain, keberadaan satwa ini di luar habitat alaminya juga menjadi indikator adanya tekanan ekologis atau intervensi manusia di masa sebelumnya. Tim yang digawangi Andik Sumarsono, Zainal Syaifulloh, dan Budi Al Katif segera bergerak ke lokasi. Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati untuk meminimalisir stres pada satwa sekaligus memastikan keamanan warga sekitar. Seekor Monyet Ekor Panjang tersebut berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup. Meski tidak termasuk satwa yang dilindungi secara nasional, keberadaannya tetap memiliki peran ekologis penting, terutama sebagai penyebar biji di ekosistem hutan tropis. Namun, saat satwa diduga berasal dari peliharaan yang lepas, dinamika menjadi lebih kompleks. Satwa yang terbiasa berinteraksi dengan manusia cenderung kehilangan naluri alaminya, sehingga lebih rentan memasuki permukiman dan memicu konflik. Pasca evakuasi, satwa tersebut kemudian dibawa ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur untuk penanganan lebih lanjut. Tahapan ini penting untuk observasi kondisi kesehatan, perilaku, serta menentukan langkah terbaik berikutnya, apakah memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali atau memerlukan penanganan khusus. Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang satu individu satwa yang tersesat di ruang manusia. Ia adalah fragmen kecil dari narasi yang lebih besar, tentang bagaimana batas antara habitat alami dan ruang hidup manusia kian kabur. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, hingga praktik pemeliharaan satwa liar menjadi faktor yang saling terkait dalam membentuk pola konflik yang semakin sering terjadi. Di tengah situasi tersebut, kehadiran negara melalui Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi penyeimbang. Tidak hanya sebagai responden cepat terhadap laporan masyarakat, tetapi juga sebagai penjaga nilai bahwa setiap satwa, dilindungi atau tidak, tetap bagian dari jejaring kehidupan yang harus dijaga. Karena pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa di hutan, melainkan juga tentang bagaimana manusia belajar berbagi ruang, memahami batas, dan merawat harmoni yang kian rapuh. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Duka di Pamekasan, Refleksi atas Keselamatan dan Pengelolaan Satwa Liar di Pemukiman

Pamekasan, 5 April 2026. Siang itu, suasana di sebuah dusun di Kabupaten Pamekasan berubah drastis, Rabu (1/4). Ruang yang selama ini menjadi tempat bermain anak-anak, yang dipenuhi suara tawa dan langkah kecil yang riang, mendadak sunyi oleh duka. Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun meninggal dunia setelah mengalami serangan dari seekor monyet peliharaan milik warga yang terlepas dari pengawasan. Peristiwa ini terjadi dalam hitungan menit, cepat, tak terduga, dan meninggalkan luka yang mendalam. Siang itu, korban tengah bermain bersama dua temannya di halaman rumah kerabatnya. Dalam ruang yang terasa aman, seekor primata muncul secara tiba-tiba. Monyet tersebut sebelumnya diketahui telah lepas dari ikatan sejak sehari sebelum kejadian. Tanpa peringatan, satwa itu menunjukkan perilaku agresif. Dua anak berhasil menyelamatkan diri, tetapi tidak bagi korban. Luka gigitan yang serius menyebabkan kondisi kritis. Upaya penyelamatan telah dilakukan, namun nyawa kecil itu tidak tertolong. Di tengah duka yang menyelimuti, penting untuk memahami satu hal mendasar, bahwa peristiwa ini bukan konflik antara manusia dan satwa liar di habitat alaminya. Satwa yang terlibat merupakan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), spesies primata yang umum ditemukan di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam kondisi alami, satwa ini hidup berkelompok di hutan, mangrove, maupun kawasan pesisir, dengan struktur sosial yang kompleks dan perilaku yang sangat adaptif. Namun ketika dipelihara di lingkungan domestik, jauh dari habitat alaminya, terjadi perubahan dinamika yang tidak selalu dapat dikendalikan. Naluri liar yang melekat pada satwa ini tidak pernah benar-benar hilang. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika mengalami stres, merasa terancam, atau berada di luar kendali. perilaku agresif dapat muncul secara tiba-tiba. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) memandang kejadian ini sebagai peringatan penting. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan duka mendalam sekaligus menegaskan aspek fundamental dalam konservasi. “Kami turut berduka cita atas peristiwa ini. Kejadian di Pamekasan menjadi pengingat bahwa satwa liar, termasuk primata seperti monyet ekor panjang, bukanlah hewan domestik yang sepenuhnya aman dipelihara tanpa standar dan pengawasan ketat. Naluri alaminya tetap ada dan dapat muncul sewaktu-waktu,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata tentang insiden tunggal, melainkan tentang cara pandang yang masih keliru terhadap satwa liar. Dalam banyak kasus, memelihara satwa liar dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan sebagai bentuk kedekatan manusia dengan alam. Padahal, tanpa pemahaman yang memadai, praktik tersebut justru berpotensi menimbulkan risiko, baik bagi manusia maupun satwa itu sendiri. Primata seperti Macaca fascicularis dikenal memiliki kecerdasan tinggi, kemampuan beradaptasi yang luar biasa, serta struktur sosial yang kompleks. Di alam, mereka hidup dalam kelompok dengan hierarki yang jelas, menjelajah ruang yang luas, dan memiliki pola interaksi yang khas. Ketika ditempatkan di lingkungan sempit, terikat, atau terisolasi dari kelompoknya, tekanan perilaku dapat meningkat. Dalam kondisi seperti inilah, respons agresif menjadi lebih mungkin terjadi. Kepala BBKSDA Jawa Timur kembali menegaskan bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang perlindungan satwa di habitat alaminya, tetapi juga tentang bagaimana manusia bersikap ketika berhadapan dengan satwa tersebut di luar habitat. “Konservasi bukan hanya tentang menjaga satwa di habitatnya, tetapi juga memastikan bahwa ketika satwa berada di luar habitat, baik dalam penangkaran maupun pemeliharaan, prinsip keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa harus menjadi prioritas utama,” jelasnya. Tragedi di Pamekasan menyisakan ironi yang mendalam. Seorang anak kehilangan masa depannya. Seekor satwa kehilangan hidupnya setelah akhirnya dibunuh pasca kejadian. Dua kehidupan yang seharusnya tidak pernah saling berhadapan dalam konflik, justru dipertemukan dalam situasi yang tidak semestinya. Di balik peristiwa ini, tersimpan pelajaran penting yang tidak boleh diabaikan. Bahwa setiap satwa memiliki ruang hidup, kebutuhan perilaku, dan batas interaksi yang harus dihormati. Ketika manusia mengambil alih ruang tersebut tanpa pengetahuan dan tanggung jawab yang cukup, maka keseimbangan yang rapuh itu dapat runtuh kapan saja. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua hal yang harus dijaga secara bersamaan. Edukasi, kesadaran, dan kepatuhan terhadap kaidah konservasi menjadi kunci dalam mencegah tragedi serupa terulang. Dan pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah mengapa satwa itu bertindak demikian. Melainkan, apakah manusia telah cukup bijak untuk memahami bahwa tidak semua makhluk dapat hidup berdampingan dalam ruang yang sama, tanpa batas, tanpa risiko, dan tanpa konsekuensi. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pembekalan Magang Mahasiswa UNHAS FAHUTAN Digelar di Balai TN Taka Bonerate

Taka Bonerate, 2 April 2026 – Sebanyak belasan materi akan dibekalkan kepada mahasiswa magang dari Universitas Hasanuddin (UNHAS), Fakultas Kehutanan (FAHUTAN), Program Studi Konservasi. Kegiatan ini berlangsung di ruang pertemuan Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Rangkaian pembekalan dimulai Rabu (1/4/2026). Dan akan terus berjalan hingga Senin depan, 13 April 2026. Materi pertama langsung dibuka dengan topik strategis. Yakni Gambaran Umum & Manajemen Pengelolaan Balai TN Taka Bonerate. Pematerinya adalah Kak Saleh Rahman. Acara digelar mulai pukul 10.00 Wita hingga selesai. Kemudian hari ini, Kamis (2/4/2026), peserta akan diajak mengenal lebih dekat keunikan wilayah. Pengenalan Atol Taman Nasional Taka Bonerate menjadi sajian utama. Kak Asri bertindak sebagai pemateri, pukul 09.00 Wita. Setelah jeda akhir pekan, kegiatan kembali bergulir pada Senin (6/4/2026). Topik yang diangkat: Pengawetan dan Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati Secara Lestari. Kak Anam akan menyampaikan materi ini mulai pukul 09.00 Wita. Selasa (7/4/2026), giliran Perlindungan dan Pengamanan Balai TN Taka Bonerate. Kak Agusriadi menjadi pengisi acara. Waktunya sama, pukul 09.00 Wita. Rabu (8/4/2026), fokus bergeser pada restorasi. Pemulihan Ekosistem di TN Taka Bonerate dibawakan oleh Kak Inna. Pukul 09.00 Wita. Kamis (9/4/2026), materi terbilang modern. Sistem Manajemen Spasial Taka Bonerate berbasis Digital kembali diampu oleh Kak Asri. Dimulai pukul 09.00 Wita. Jumat (10/4/2026), mahasiswa akan belajar mengelola data. Sistem Manajemen Data TN Taka Bonerate disampaikan Kak Taufik Hidayat. Jam yang sama, 09.00 Wita. Puncak rangkaian pembekalan berlangsung Senin (13/4/2026). Materi penutup: Pemberdayaan Masyarakat TN Taka Bonerate. Kak Harlina menjadi pemateri terakhir. Dimulai pukul 09.00 Wita hingga selesai. Seluruh kegiatan ini bersifat wajib bagi mahasiswa magang. Tujuannya, mempersiapkan mereka sebelum terjun langsung ke lapangan. Balai TN Taka Bonerate berharap para peserta mampu menyerap ilmu secara maksimal. (*) Sumber: Asri (Humas/PEH Ahli Muda) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Apa yang Membawa Merak Hijau Bertahan 9 Tahun di Sekolah?

Tuban, 2 April 2026. Di sebuah halaman sekolah, sepasang burung dengan bulu berkilau hijau kebiruan telah hidup selama hampir satu dekade. Mereka bukan bagian dari kurikulum, bukan pula simbol resmi institusi. Namun kehadirannya diam-diam menjadi saksi interaksi panjang antara manusia dan satwa liar yang seharusnya tetap berada di habitat alaminya. Rabu, 1 April 2026, tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal (Matawali) dari Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), menelusuri jejak itu. Berawal dari laporan seorang warga di Dusun Purboyo Mayang Sekar, Desa Rengel, Kecamatan Rengel, yang berniat menyerahkan satwa peliharaannya berupa Merak Hijau, tim bergerak cepat. Satwa tersebut bukan jenis biasa, Merak Hijau (Pavo muticus), salah satu burung dilindungi di Indonesia yang populasinya terus tertekan di alam. Di rumah sederhana milik seorang warga bernama Beny, tim menjumpai empat ekor. Tidak ada kandang besar, tidak ada fasilitas khusus sebagaimana lembaga konservasi. Hanya ruang terbatas yang selama ini menjadi tempat hidup satwa-satwa tersebut. Namun yang lebih menarik, cerita tentang asal-usul mereka justru mengarah ke tempat lain, sebuah sekolah menengah pertama di Kecamatan Plumpang. Beberapa kilometer dari lokasi pertama, tim melanjutkan pemeriksaan ke SMP Negeri 1 Plumpang. Di sana, dua ekor merak hijau jantan dan betina, telah hidup selama kurang lebih sembilan tahun. Waktu yang tidak singkat bagi satwa liar untuk beradaptasi di luar habitat alaminya. Tidak ada catatan pasti kapan dan bagaimana satwa tersebut pertama kali hadir di sekolah. Namun seperti banyak kasus serupa di berbagai daerah, keberadaan satwa liar di lingkungan manusia sering kali berawal dari niat baik, penyelamatan, pemberian, atau sekadar ketertarikan terhadap keindahan satwa. Seiring berjalannya waktu, niat itu berubah menjadi kebiasaan, lalu menjadi kondisi yang dianggap wajar. Padahal, bagi satwa seperti Merak Hijau, ruang hidup yang terbatas bukanlah pilihan alami. Di alam, mereka menjelajahi hutan terbuka, savana, hingga tepian hutan dengan ruang gerak luas dan interaksi ekosistem yang kompleks. Hari itu menjadi titik balik. Baik pemilik di Desa Rengel maupun pihak sekolah menunjukkan sikap yang sama: kesediaan untuk menyerahkan satwa kepada negara. Proses tersebut tidak sekadar administratif, tetapi juga mencerminkan perubahan cara pandang. Keenam Merak Hijau secara resmi berada dalam penguasaan Balai Besar KSDA Jawa Timur, sembari menunggu proses evakuasi lanjutan. Langkah ini mungkin terlihat sederhana. Namun dalam konteks konservasi, penyerahan sukarela adalah salah satu bentuk partisipasi publik yang paling penting. Merak Hijau dikenal karena keindahan bulunya yang mencolok, terutama pada pejantan dengan ekor panjang yang dapat mengembang menyerupai kipas berwarna hijau metalik. Keindahan ini pula yang sering menjadi alasan utama satwa ini dipelihara. Namun di balik pesonanya, merak hijau menghadapi tekanan serius di alam. Perburuan, perdagangan ilegal, dan hilangnya habitat menjadi ancaman utama bagi kelangsungan populasinya. Status perlindungan yang disematkan bukan tanpa alasan, ia adalah bentuk intervensi negara untuk memastikan spesies ini tidak hilang dari bentang alam Indonesia. Kasus di Tuban menjadi potret kecil dari persoalan yang lebih besar: bagaimana satwa liar bisa berpindah dari habitatnya ke ruang-ruang domestik, lalu bertahan bertahun-tahun tanpa mekanisme konservasi yang memadai. Pertanyaan “apa yang membawa merak hijau bertahan 9 tahun di sekolah ?” mungkin tidak memiliki satu jawaban tunggal. Ia adalah kombinasi dari ketidaktahuan, kebiasaan, keterbatasan informasi, hingga minimnya akses terhadap mekanisme pelaporan. Namun yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya. Kesediaan warga dan pihak sekolah untuk menyerahkan satwa tersebut membuka peluang baru, pemulihan. Dalam tahap berikutnya, satwa akan melalui proses identifikasi lanjutan, pemeriksaan kesehatan, dan penentuan lokasi penempatan yang sesuai, baik di lembaga konservasi maupun habitat yang memungkinkan. Di titik inilah peran negara hadir, bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai pengelola harapan, bahwa setiap satwa liar memiliki kesempatan untuk kembali mendekati kehidupan alaminya. Sebuah Pelajaran dari Tuban Peristiwa ini menyisakan satu pelajaran penting bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari hutan, tetapi bisa dari halaman rumah dan lingkungan sekolah. Dari keputusan individu. Dari kesadaran sederhana bahwa tidak semua yang indah harus dimiliki. Di Tuban, enam Merak Hijau kini berada di ambang perjalanan baru. Bukan lagi sebagai satwa peliharaan, tetapi sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati. Dan mungkin, dari halaman sekolah itu, kita belajar bahwa perubahan besar dalam konservasi sering kali dimulai dari langkah kecil, keberanian untuk melepaskan. Karena cinta tak selamanya harus memiliki. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Hutan, Menjaga Kehidupan, Rimbawan Jawa Timur Menyatukan Pengabdian di Bulan Syawal

Sidoarjo, 2 April 2026. Di bawah langit Jawa Timur yang mulai menghangat di awal April, barisan rimbawan berdiri dalam satu ritme yang sama, tegap, hening, namun sarat makna. Mereka datang dari berbagai penjuru, membawa latar tugas yang berbeda, tetapi memikul satu tanggung jawab yang serupa, menjaga hutan, menjaga kehidupan. Namun hari itu bukan sekadar tentang apel, ini adalah tentang perjalanan panjang pengabdian, tentang bagaimana manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual bertemu dalam satu momentum yang langka. Upacara peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-43 Tahun 2026 memang telah dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2026 lalu, yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Sebuah bulan yang identik dengan pengendalian diri, kesunyian, dan refleksi batin. Maka ketika kalender bergeser ke bulan Syawal, rangkaian kegiatan itu menemukan bentuknya yang lebih utuh, dalam kebersamaan, dalam saling memaafkan, dalam energi baru yang lahir dari perjumpaan. Rimbawan dan Makna Pengabdian yang Tak Terlihat Di mata publik, rimbawan sering kali dipahami sebagai penjaga hutan, mereka yang berpatroli, menindak pelanggaran, atau menyelamatkan satwa liar. Namun di balik itu, terdapat lapisan makna yang lebih dalam. Hutan bukan sekadar kawasan. Ia adalah sistem kehidupan. Hutan mengatur air yang mengalir ke sawah dan kota. Ia menjadi rumah bagi ribuan spesies yang tak semuanya terlihat. Ia menyimpan pengetahuan, sejarah, bahkan identitas manusia yang hidup di sekitarnya. Dalam konteks itu, rimbawan bukan sekadar profesi. Ia adalah bentuk pengabdian. Dalam sambutannya, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan sesuatu yang sederhana, namun mendasar. “Menjaga hutan bukan sekadar tugas, tetapi merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan, bangsa, dan generasi mendatang. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan itu sendiri,” ungkapnya. Kalimat itu tidak hanya menjadi kutipan. Ia adalah refleksi dari realitas yang dihadapi setiap hari, bahwa setiap keputusan, setiap langkah di lapangan, selalu membawa konsekuensi terhadap kehidupan yang lebih luas. Pertemuan Lintas Lembaga, Menyatukan Lanskap, Menyatukan Tujuan Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur kehutanan di Jawa Timur. Dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur beserta UPT-nya, Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, hingga UPT Kementerian Kehutanan di Jawa Timur. Masing-masing membawa mandat yang berbeda. Ada yang fokus pada pengelolaan hutan produksi, ada yang menjaga kawasan konservasi, ada pula yang mengelola DAS, perhutanan sosial, hingga perlindungan hutan. Namun di lapangan, batas-batas itu sering kali menjadi kabur, sebagaimana satwa yang tidak mengenal batas administrasi. Air tidak berhenti pada garis peta. Ancaman terhadap hutan pun tidak datang dalam bentuk yang terpisah-pisah. Di sinilah kolaborasi menjadi kunci. Dalam arahannya, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menekankan pentingnya memperkuat perlindungan kawasan, penegakan hukum, rehabilitasi ekosistem, hingga pengembangan ekonomi hijau yang berbasis keberlanjutan. Kata kuncinya adalah satu, keterhubungan. Dari Ramadan ke Syawal, Ketika Nilai Menjadi Fondasi Pengelolaan Hutan Ada sesuatu yang berbeda ketika kegiatan kehutanan dipertemukan dengan momentum keagamaan. Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Syawal mengajarkan keikhlasan dan saling memaafkan. Dalam konteks konservasi, nilai-nilai ini bukan sekadar simbolik. Ia menjadi fondasi etika. Konflik di lapangan sering kali tidak hanya soal hukum, tetapi juga soal persepsi, kepentingan, dan relasi antar manusia. Di titik inilah pendekatan yang mengedepankan empati, komunikasi, dan integritas menjadi penting. Halal bihalal yang dilaksanakan dalam rangka Idul Fitri 1447 Hijriah bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi ruang untuk merajut kembali hubungan, antar individu, antar lembaga, bahkan antara manusia dan alam yang dijaganya. Di tengah dinamika pekerjaan yang keras dan penuh tekanan, ruang seperti ini menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa di balik seragam, ada manusia. Lomba dan Tawa, Wajah Lain Rimbawan Rimbawan sering kali digambarkan dalam wajah yang serius, laporan, data, patroli, konflik, dan ancaman. Namun hari itu, wajah lain muncul. Melalui rangkaian lomba antar rimbawan, suasana berubah menjadi lebih cair. Tawa terdengar. Kompetisi hadir, tetapi dalam semangat sportivitas. Sekilas, ini mungkin terlihat sederhana. Tetapi dalam konteks organisasi yang bekerja di bawah tekanan tinggi, kebersamaan seperti ini memiliki makna yang besar. Ia membangun kepercayaan. Ia memperkuat komunikasi. Ia menumbuhkan rasa memiliki. Dan pada akhirnya, semua itu bermuara pada satu hal, yaitu efektivitas kerja di lapangan. Sebagaimana disampaikan dalam sambutan, kegiatan ini diharapkan mampu mempererat kebersamaan, meningkatkan semangat kerja, dan memperkuat jiwa korsa rimbawan dalam menjalankan tugas pengabdian. Hutan, Tantangan, dan Masa Depan yang Dipertaruhkan Jawa Timur bukan wilayah tanpa tantangan. Tekanan terhadap hutan datang dari berbagai arah, perubahan penggunaan lahan, konflik manusia dan satwa liar, perburuan ilegal, hingga degradasi ekosistem yang perlahan namun pasti. Di sisi lain, kebutuhan manusia terus meningkat. Di titik ini, pengelolaan hutan tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan pembangunan, dengan ekonomi, dengan kesejahteraan masyarakat. Itulah sebabnya pendekatan yang diusung semakin berkembang, dari sekadar perlindungan menjadi pengelolaan yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan. Rimbawan hari ini tidak hanya dituntut menjaga, tetapi juga menjembatani. Menjaga Kehidupan, Menjaga Harapan Ketika kegiatan hari itu berakhir, yang tersisa bukan hanya dokumentasi atau laporan kegiatan. Yang tersisa adalah energi. Energi yang lahir dari kebersamaan. Dari nilai yang diperkuat. Dari kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan bukan sekadar pekerjaan. Di bulan Syawal, ketika manusia kembali pada fitrahnya, para rimbawan Jawa Timur juga kembali pada esensi pengabdian mereka. Bahwa hutan bukan sekadar ruang yang dijaga. Ia adalah kehidupan yang diwariskan. Dan di tangan merekalah, masa depan itu ditentukan. Rimbawan dan Warisan yang Tak Terucap Di suatu tempat di Jawa Timur, mungkin di lereng gunung, di tepian hutan, atau di pulau-pulau kecil yang jauh dari keramaian, kehidupan terus berjalan. Air tetap mengalir. Satwa tetap bergerak. Hutan tetap bernapas. Sebagian besar manusia mungkin tidak menyadarinya. Namun di balik itu semua, ada rimbawan yang bekerja, sering kali tanpa sorotan, tanpa panggung. Hari Bakti Rimbawan bukan hanya tentang merayakan mereka. Ia adalah pengingat, bahwa keberlanjutan hidup kita semua, bergantung pada bagaimana kita menjaga hutan hari ini. Dan di Jawa Timur, pada bulan Syawal itu, komitmen itu kembali diteguhkan. Dengan satu keyakinan sederhana bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Sumber : Adi Risanto dan Fajar Dwi Nur Aji - Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 145–160 dari 2.298 publikasi