Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Catatan Magang Mahasiswa di BBKSDA Jawa Timur

19 Desember 2025. Konservasi tidak selalu lahir dari ruang rapat atau lembar kebijakan. Ia kerap tumbuh perlahan, dari langkah kaki di jalur hutan, dari catatan lapangan yang berulang, dan dari dialog panjang dengan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi. Pengalaman inilah yang dijalani oleh Arlina Widhiastuti, Shalmiah Aegesti, dan Tiara Nathania, mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, selama mengikuti program magang kerja di Balai Besar. Program magang yang berlangsung sejak 8 September hingga presentasi akhir di 18 Desember 2025 ini menempatkan mahasiswa langsung di garis depan pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, khususnya di Pulau Bawean. Sebuah pulau kecil dengan ekosistem terisolasi yang menjadi habitat satwa endemik dan menyimpan tantangan konservasi yang kompleks. Puncak dari proses pembelajaran tersebut dipresentasikan secara terbuka dalam Presentasi Hasil Magang Kerja Mahasiswa UGM yang dilaksanakan pada Kamis, 18 Desember 2025, bertempat di Kantor Seksi KSDA Wilayah III Surabaya dan diselenggarakan secara hybrid. Kegiatan ini dihadiri oleh para pejabat struktural dan fungsional lingkup Balai Besar KSDA Jawa Timur, menjadi ruang dialog antara pengalaman lapangan mahasiswa dan perspektif pengelolaan Konservasi institusional. Dalam forum ini, ketiga mahasiswa memaparkan keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan teknis konservasi, mulai dari SMART Patrol, monitoring dan evaluasi izin pemanfaatan air, bioprospeksi tumbuhan hutan, inventarisasi pengetahuan lokal, herping, preservasi spesimen, hingga pengecekan camera trap. Paparan tersebut memperlihatkan bahwa magang tidak sekadar aktivitas pendampingan, melainkan proses pembelajaran berbasis praktik nyata dan data lapangan. Pulau Bawean sebagai Ruang Belajar Hidup Bagi Arlina Widhiastuti, mahasiswi asal Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Pulau Bawean bukan hanya lokasi magang, melainkan ruang belajar yang hidup. Keterlibatannya dalam kegiatan bioprospeksi menjadi pengalaman paling membekas, ketika tim menemukan indikasi jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai kandidat spesies baru. Pengalaman ini menyadarkannya bahwa hutan masih menyimpan banyak pengetahuan yang belum sepenuhnya terungkap, dan bahwa konservasi juga berarti menjaga peluang ilmu di masa depan. Melalui penelitiannya tentang pengetahuan lokal masyarakat desa penyangga Suaka Margasatwa Pulau Bawean terhadap Rusa Bawean (Axis kuhlii), Arlina memahami bahwa menjaga alam bukan semata soal aturan dan sains, tetapi juga tentang rasa memiliki, kearifan lokal, serta hubungan hormat antara manusia dan alam. Baginya, Bawean mengajarkan bahwa konservasi tidak lahir dari teori, melainkan dari tanah yang dipijak dan alam yang dihormati. Konservasi dan Manusia yang Hidup Berdampingan Sementara itu, Tiara Nathania, mahasiswi semester tujuh asal Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, memilih Pulau Bawean sebagai lokasi magang dan penelitian karena keunikan ekosistemnya yang masih relatif terisolasi, namun kaya keanekaragaman hayati. Di pulau ini, Tiara tidak hanya melakukan penelitian akademik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan alam dan masyarakat. Dari pengalamannya, Tiara menyimpulkan bahwa konservasi tidak berhenti pada perlindungan hutan dan satwa, tetapi juga menyangkut manusia yang hidup berdampingan dengannya. Bawean mengajarkannya tentang kesederhanaan, ketekunan, serta tanggung jawab bersama terhadap alam. Pengalaman ini mempertegas langkahnya sebagai mahasiswa kehutanan untuk terus belajar, bertumbuh, dan berkontribusi dalam upaya pelestarian sumber daya alam hayati. Belajar dari Dedikasi di Lapangan Berbeda latar belakang geografis, namun satu pengalaman lapangan, Shalmiah Aegesti, mahasiswa asal Pekanbaru, Riau, menjalani magang di beberapa lokasi kerja BBKSDA Jawa Timur, termasuk Pulau Bawean. Selama magang, ia terlibat dalam pemantauan kawasan, pengumpulan data, SMART Patrol, serta bioprospeksi. Bagi Shalmiah, magang ini menjadi berkesan karena ia berkesempatan berjalan bersama para petugas konservasi yang bekerja dengan dedikasi tinggi. Pengalaman tersebut memperkaya cara pandangnya sebagai mahasiswa Pengelolaan Hutan, bahwa konservasi adalah kerja kolektif yang dijalankan dengan ketekunan, sering kali tanpa sorotan, namun memiliki dampak jangka panjang bagi keberlanjutan kawasan. Selain memaparkan hasil kegiatan lapangan, mahasiswa juga menyampaikan kajian sosial–ekologis Rusa Bawean, mencakup tingkat pengetahuan lokal, kesadaran masyarakat, serta bentuk partisipasi masyarakat desa penyangga dalam konservasi. Dari kajian tersebut, muncul sejumlah rekomendasi strategis, antara lain pentingnya merangkul berbagai kelompok masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, perempuan, hingga kelompok usia lanjut, dalam upaya edukasi dan sosialisasi konservasi. Pendekatan konservasi yang disarankan tidak lagi bersifat tunggal, melainkan komprehensif dan lintas generasi, dengan memadukan edukasi berbasis budaya, kearifan lokal, serta media komunikasi yang adaptif dan mudah dipahami masyarakat. Konservasi, dalam pandangan ini, tidak hanya struktural dan pengamanan kawasan, tetapi juga sosial, partisipatif, dan berkelanjutan. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, kegiatan magang dan presentasi ini menjadi lebih dari sekadar evaluasi akademik mahasiswa. Ia menjadi ruang refleksi bersama, bahwa penguatan konservasi ke depan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki pengalaman, empati, dan komitmen. Dari Pulau Bawean, dari jalur patroli dan ruang diskusi, ketiga mahasiswa ini belajar bahwa konservasi adalah perjalanan panjang. Sebuah kerja yang menuntut ilmu, ketulusan, dan keberanian untuk terlibat. Dan dari pengalaman di garis depan inilah, harapan keberlanjutan keanekaragaman hayati Jawa Timur perlahan dititipkan.
Baca Artikel

Satu Dekade Cagar Biosfer Blambangan, Bersiap Dievaluasi, Diperkuat Kolaborasi

Jember, 16 Desember 2025. Setelah satu dekade menyandang pengakuan sebagai Cagar Biosfer, bentang alam Blambangan di ujung timur Jawa memasuki fase penting dalam perjalanannya. Tahun 2026, kawasan yang mencakup Alas Purwo, Baluran, Meru Betiri hingga Kawah Ijen akan menjalani Periodic Review, sebuah mekanisme evaluasi internasional untuk memastikan bahwa pengelolaan kawasan tetap sejalan dengan prinsip konservasi, pembangunan berkelanjutan, dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai bagian dari persiapan tersebut, menindaklanjuti undangan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur menghadiri rapat koordinasi progres pengelolaan dan penyusunan Dokumen Periodic Review Cagar Biosfer Blambangan Tahun 2026 pada 16 Desember 2025. Rapat yang digelar secara hybrid ini dipimpin oleh Kepala Bidang KSDAE Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dan dibuka oleh Kepala Cabang Dinas Kehutanan Jember, melibatkan para pemangku kepentingan pengelola kawasan inti, penyangga, dan transisi. Forum ini mempertemukan pengelola zona inti yang terdiri atas Bidang KSDA Wilayah III Jember, BBKSDA Jawa Timur, Balai Taman Nasional Meru Betiri, Balai Taman Nasional Baluran, dan Balai Taman Nasional Alas Purwo. Sementara itu, pengelolaan zona penyangga melibatkan KPH Perum Perhutani, serta zona transisi yang dikelola oleh CDK Banyuwangi dan CDK Jember. Seluruh peserta merupakan anggota Forum Koordinasi dan Komunikasi Pengelolaan Cagar Biosfer Blambangan periode 2025–2029 dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur sebagai ketua forum. Dalam pertemuan tersebut ditegaskan bahwa penyusunan Periodic Review merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi sebelumnya dan menjadi langkah strategis untuk mempertahankan status Cagar Biosfer Blambangan. Evaluasi ini diharapkan tidak hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi juga sarana untuk memperkuat peran cagar biosfer sebagai tools pembangunan berkelanjutan, mengintegrasikan perlindungan ekosistem, penguatan ekonomi lokal, serta tata kelola kawasan yang adaptif. Setiap pengelola zona diminta untuk menghimpun data dan menyusun narasi pendukung sesuai bidang masing-masing, meliputi pengelolaan kawasan, hasil penelitian, restorasi ekosistem, pemberdayaan masyarakat, hingga kolaborasi lintas sektor. Pengumpulan dokumen ditargetkan rampung paling lambat Maret 2026 dan akan difasilitasi melalui mekanisme berbagi dokumen daring guna memastikan konsistensi dan keterpaduan informasi. Melalui penguatan kolaborasi dan komitmen bersama, Cagar Biosfer Blambangan diharapkan terus menjadi contoh lanskap hidup di mana konservasi alam dan pembangunan manusia berjalan beriringan, bukan sekadar menjaga status dunia, tetapi memastikan manfaatnya dirasakan nyata hingga ke tingkat tapak. Melampaui kewajiban evaluasi, Periodic Review Cagar Biosfer Blambangan menjadi ruang bercermin bersama, sejauh mana manusia mampu hidup selaras dengan alam yang menopangnya. Di lanskap yang menyatukan hutan hujan, savana, pesisir, dan gunung api ini, kolaborasi lintas lembaga bukan sekadar kerja administratif, melainkan ikhtiar kolektif untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian dan pemanfaatan. Sebab, keberhasilan cagar biosfer tidak diukur dari status yang dipertahankan, tetapi dari kemampuan kawasan ini terus memberi kehidupan, bagi ekosistemnya, bagi masyarakatnya, dan bagi generasi yang belum lahir. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

SMART Patrol Membaca Ketahanan Ekosistem Kecil Bawean

Bawean, 16 Desember 2025. Pulau kecil tidak mengenal kata cadangan. Ketika hutan berkurang, mata air menyusut, ketika satu spesies hilang, keseimbangan ikut bergeser. Di Pulau Bawean, seluruh proses ekologis itu berlangsung dalam ruang yang terbatas, menjadikan setiap gangguan, sekecil apapun, berdampak berlipat terhadap kehidupan pulau. Kesadaran inilah yang mendasari pelaksanaan SMART Patrol di Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean pada 20–26 November 2025. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Bidang KSDA Wilayah II Gresik dan Resort Konservasi Wilayah 10 Pulau Bawean, bersama Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari serta mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Sebagai upaya membaca langsung ketahanan ekosistem pulau kecil yang unik sekaligus rapuh. Berbeda dengan daratan luas, ekosistem pulau kecil bersifat tertutup dan terbatas. Ruang jelajah satwa sempit, sumber pakan tidak berlimpah, dan kemampuan alam untuk pulih dari gangguan berjalan jauh lebih lambat. Patroli yang menjangkau 14 grid seluas 76,875 hektare di Blok Gunung Besar, Kumalasa, dan Alas Timur dilakukan untuk memetakan kondisi tersebut secara spasial dan objektif. Melalui pendekatan SMART Patrol berbasis grid dan analisis kerawanan, kawasan tidak hanya dipantau sebagai lokasi, tetapi dibaca sebagai satu kesatuan sistem, dari punggungan bukit hingga lembah tempat air dikumpulkan dan disimpan oleh hutan. Keberadaan Rusa Bawean (Axis kuhlii) kembali tercatat selama patroli. Sebagai spesies endemik pulau kecil, rusa ini berfungsi sebagai indikator Kesehatan ekosistem. Selama hutan masih mampu menyediakan pakan dan ruang aman bagi rusa, berarti fungsi ekologis kawasan masih bekerja. Bersama rusa, terdata pula Babi Kutil Bawean, Kelelawar Besar, dan Monyet Ekor Panjang, yang berperan penting dalam regenerasi hutan, penyebaran biji, dan keseimbangan vegetasi. Pada tingkat lain, burung pemangsa, burung bawah tajuk, reptil, amfibi, hingga serangga penyerbuk membentuk jejaring kehidupan yang saling terhubung. Dalam ekosistem pulau kecil, hilangnya satu mata rantai dapat mengguncang keseluruhan sistem. Hutan Bawean bukan hanya kumpulan pohon, melainkan infrastruktur alami pulau. Jenis-jenis vegetasi seperti Gondang, Pangopa, Kayu Bulu, Pala Hutan, dan Kokap berfungsi menahan air hujan, menjaga tanah tetap stabil, dan memastikan mata air tetap mengalir. Di pulau kecil seperti Bawean, fungsi ini sangat krusial karena tidak ada sumber air pengganti. Keberadaan anggrek epifit dan anggrek tanah yang tumbuh subur menjadi penanda bahwa mikroklimat hutan masih terjaga. Sedikit perubahan pada tutupan tajuk dapat langsung memengaruhi kelembapan, suhu, dan ketersediaan air. Patroli juga mencatat adanya penebangan liar terhadap beberapa pohon serta pemanfaatan hasil hutan bukan kayu di dalam kawasan. Pada pulau kecil, aktivitas semacam ini tidak bisa dipandang sepele. Satu pohon tumbang dapat memicu erosi, membuka akses ke bagian hutan lain, dan pada akhirnya melemahkan fungsi kawasan sebagai penyimpan air. Seluruh temuan telah ditandai dan dilaporkan melalui Laporan Kejadian sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penegakan hukum. Di Pulau Bawean, kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa sejatinya adalah benteng terakhir sumber air pulau. Dari kawasan inilah hujan disimpan, disaring oleh hutan, lalu dialirkan perlahan menjadi mata air yang menghidupi kebun, sawah, dan permukiman masyarakat hingga pesisir. Rentan Longsor Menjaga kawasan ini bukanlah semata kewajiban pemerintah atau petugas patroli, melainkan kepentingan bersama seluruh masyarakat Bawean dan Jawa Timur. Ketika kawasan ini dirambah atau dieksplorasi secara ilegal, dampaknya tidak langsung terasa hari ini, tetapi perlahan akan dirasakan bersama, mata air mengecil, sungai cepat kering, dan tanah menjadi lebih rentan longsor. Melalui kegiatan SMART Patrol ini, kami mengajak masyarakat untuk tidak melakukan pengambilan hasil hutan dan eksploitasi ilegal di kawasan cagar alam dan suaka margasatwa. Menjaga hutan berarti menjaga air tetap mengalir, menjaga tanah tetap subur, dan memastikan Pulau Bawean tetap menjadi tempat hidup yang aman dan layak bagi generasi mendatang. Pulau Bawean adalah lanskap sosial dan ekologis yang tidak terpisahkan. Instalasi air, bak penampung, dan batas kawasan yang dijumpai selama patroli menunjukkan bahwa kehidupan manusia dan kawasan konservasi saling bergantung. Karena itu, koordinasi dengan pemerintah desa dan sosialisasi kepada masyarakat desa penyangga menjadi bagian penting dari upaya menjaga keseimbangan tersebut. Di pulau kecil, konservasi bukan tentang melarang semata, melainkan memahami batas alam. Hutan Bawean bukan milik satu generasi, tetapi titipan yang harus dijaga bersama. Dengan tidak merambah dan tidak mengambil secara ilegal, masyarakat telah ikut menjadi penjaga benteng terakhir pulau ini, benteng yang senyap, namun menentukan masa depan Bawean. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Seru dan Edukatif! BBKSDA Sumut Kenalkan Konservasi ke Siswa SMPN 1 Parbuluan

Petugas BBKSDA Sumatera Utara bersama siswa SMP Negeri Parbuluan dalam kegiatan pendidikan konservasi, 10 Desember 2025. Dairi, 15 Desember 2025 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang dan Resor Taman Wisata Alam (TWA) Danau Sicike-cike kembali melaksanakan Kegiatan Pendidikan Konservasi dan Penyebaran Informasi Tumbuhan serta Satwa Liar (TSL). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 10 Desember 2025 di SMP Negeri Parbuluan dan diikuti oleh 58 orang siswa yang mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman sejak dini kepada para siswa mengenai pentingnya kawasan konservasi serta mengenalkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi. Kegiatan pendidikan konservasi ini sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P 106/MenLHK/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Melalui program ini, para siswa diperkenalkan pada peran penting kawasan konservasi dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta menjamin kelestarian tumbuhan dan satwa liar di alam. Penyampaian materi pendidikan konservasi kepada siswa SMP Negeri Parbuluan. Dalam pelaksanaannya, tim dari Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang dan Resor TWA Danau Sicike-cike menyampaikan materi mengenai kawasan konservasi, fungsi ekologisnya, serta berbagai jenis satwa liar dilindungi yang terdapat di Sumatera Utara. Untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi siswa, kegiatan dikemas secara interaktif melalui kuis, gim edukatif, serta post test sebagai bentuk evaluasi. Para siswa/siswi sedang mengikuti post test Sebagai bentuk dukungan terhadap penyebaran pesan konservasi, para siswa menerima souvenir berupa gantungan kunci dan leaflet edukasi. Selain itu pihak sekolah juga mendapatkan cinderamata berupa Poster Pengenalan Jenis Satwa Liar Dilindungi dan Poster Beruang Madu sebagai media pembelajaran berkelanjutan. Tim Memberikan Souvenir kepada Siswa SMP Negeri Parbuluan Melalui kegiatan ini, BBKSDA Sumatera Utara berharap semakin banyak generasi muda yang memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap upaya konservasi. Siswa diharapkan dapat mengenal satwa liar yang dilindungi yang ada di sekitar Kabupaten Dairi serta spesies kunci di wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, yaitu harimau, orangutan, dan beruang madu. Edukasi konservasi sejak dini diyakini mampu menumbuhkan kepedulian lingkungan demi menjaga kualitas hidup generasi mendatang. Salam konservasi !!! Sumber: Eurelia Karolina Min.A.Md.Par (Calon Penyuluh Kehutanan Terampil) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa, Indonesia Satukan Kekuatan untuk Masa Depan Sang Garuda

Bogor, 11–13 Desember 2025. Tiga dekade lalu, Elang Jawa adalah burung pemangsa yang lebih sering hadir dalam catatan riset ketimbang ruang publik. Kini, setelah perjalanan panjang yang diisi penelitian, patroli hutan, rehabilitasi, dan kebijakan konservasi, Indonesia berkumpul untuk memastikan arah langkah berikutnya. Semangat itu mengemuka dalam Pekan Perayaan Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa, rangkaian kegiatan nasional yang menyatukan sains, kebijakan, dan komitmen lintas pihak demi masa depan Nisaetus bartelsi, sang Garuda. Kegiatan dimulai pada Kamis, 11 Desember 2025, di IPB International Convention Center, Bogor, melalui Lokakarya Final Peninjauan Status Elang Jawa. Forum ini dibuka dengan penegasan bahwa perayaan tiga dekade berdiri di atas fondasi ilmiah yang kuat. Hasil konsolidasi data nasional menunjukkan 511 pasang Elang Jawa tersebar di 74 kantong habitat utama di Jawa–Bali, capaian penting hasil kerja panjang lintas generasi, sekaligus pengingat bahwa spesies ini masih berada pada kondisi genting. Dalam forum ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir sebagai bagian dari unsur pengelola kawasan yang selama ini berperan langsung di lapangan. Kehadiran BBKSDA Jatim menegaskan kontribusi Jawa Timur dalam upaya perlindungan Elang Jawa, baik melalui pengelolaan kawasan konservasi, dukungan monitoring populasi, penanganan satwa hasil rescue, hingga penguatan kolaborasi dengan mitra konservasi. Diskusi hari pertama memusatkan perhatian pada peninjauan status populasi, distribusi, dan ancaman, mempertemukan peneliti, pengelola kawasan, serta petugas lapangan yang membawa perspektif nyata dari hutan-hutan pegunungan Jawa. Pada Jumat, 12 Desember 2025, rangkaian kegiatan bergerak ke ranah kebijakan. Bapak Rohmat Marzuki - Wakil Menteri Kehutanan dalam arahannya menempatkan Elang Jawa sebagai indikator penting keberhasilan konservasi hutan Pulau Jawa secara keseluruhan. Beliau menyampaikan bahwa berdasarkan Daftar Merah IUCN dan strategi konservasi terkini, populasi. Elang Jawa di alam diperkirakan berkisar antara 600–700 individu. Angka tersebut menuntut kehati-hatian dalam setiap intervensi konservasi, termasuk monitoring pasca-pelepasliaran satwa liar hasil rehabilitasi, penegakan hukum, maupun penyerahan sukarela dari masyarakat. Wakil Menteri menegaskan bahwa sebagian besar kantong habitat Elang Jawa berada di kawasan hutan konservasi di Pulau Jawa, sehingga penetapan dan penguatan kawasan konservasi menjadi kunci utama. Beliau juga berbagi pengalaman personal ketika tumbuh di Magelang, diapit Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Ungaran, ketika Elang Jawa masih dapat disaksikan terbang bebas di langit pegunungan. “Penetapan kawasan konservasi di Pulau Jawa menjadi sangat penting untuk melindungi habitat Elang Jawa, dan konservasi spesies elang jawa” ujar Rohmat Marzuki. Dalam konteks penguatan habitat, beliau menyampaikan berbagai proses usulan kawasan konservasi baru, mulai dari Tahura Gunung Muria dan Taman Nasional Gunung Slamet di Jawa Tengah, Tahura Gunung Lawu yang diusulkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Taman Nasional Gunung Sanggabuana di Karawang–Purwakarta–Bogor, dan Cianjur serta Gunung Wayang, Gunung Cikuray, dan Gunung Cibungur di Purwakarta, Jawa Barat. Koridor kawasan ini diharapkan memperkuat bentang alam penting bagi Elang Jawa. Arahan tersebut dikaitkan dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029, yang menetapkan Indeks Daftar Merah Spesies sebagai indikator kinerja prioritas Kementerian Kehutanan. Dengan capaian indeks nasional 0,75 pada 2024, pemerintah menargetkan peningkatan nilai tersebut pada akhir periode perencanaan untuk menurunkan risiko kepunahan spesies. Sabtu, 13 Desember 2025, di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Di kawasan hutan pegunungan yang menjadi salah satu benteng terakhir Elang Jawa, seekor individu hasil rehabilitasi dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Prosesi pelepasliaran ini menandai ujung dari proses panjang, rescue, rehabilitasi, perawatan, hingga pengujian kesiapan satwa, sekaligus awal kehidupan baru Elang Jawa di alam. Momen ini menegaskan bahwa tujuan akhir konservasi bukan sekadar menyelamatkan individu, tetapi memulihkan hubungan satwa dengan habitat alaminya. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan ke Pusat Konservasi Elang Jawa Cimungkad dan Museum Bartels, menghubungkan sejarah awal penelitian Elang Jawa dengan tantangan konservasi masa kini yang kian kompleks. Apresiasi disampaikan kepada seluruh pihak, Raptor Indonesia, Burung Indonesia, PT Djarum, akademisi, mitra pembangunan, pengelola kawasan konservasi termasuk BBKSDA Jawa Timur, komunitas, serta para penjaga hutan, yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang konservasi Elang Jawa. Lebih dari sebuah perayaan, tiga dekade ini menegaskan pesan mendasar bahwa menjaga Elang Jawa berarti menjaga hutan Pulau Jawa, sumber airnya, dan keseimbangan ekosistemnya. Dengan menyatukan kekuatan sains, kebijakan, dan kerja lapangan, Indonesia meneguhkan komitmen agar sang Garuda tetap terbang bebas, hari ini dan bagi generasi yang akan datang. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pemasangan Papan Informasi Dan Larangan di TWA Lau Debuk-Debuk Bersama Forkopimca Berastagi

Doulu, 12 Desember 2025 Pemasangan papan informasi dan larangan di Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Lau Debuk-debuk dilaksanakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Sidikalang dan Resor TWA Lau Debuk-debuk bersama dengan Forkopimca yaitu Danramil Berastagi, Kapolsek Berastagi, Camat Berastagi dan Kepala Desa Daulu pada tanggal 8-9 Desember 2025. Sebanyak 4 buah papan informasi dan larangan yang telah dipasang pada koordinat: 3.229292 LU 98.539519 BT, 3.228902 LU 98.540026 BT, 3.229334 LU 98.54227 BT dan 3.228078 LU 98.54352 BT. Kegiatan pemasangan papan informasi dan larangan ini juga dilakukan Bersama Masyarakat Mitra Polhut dan pada saat pemasangan papan bila ada masyarakat bertanya maka akan langsung disosialisasikan terkait adanya papan informasi dan larangan ini. Salah satu upaya untuk mengamankan kawasan konservasi TWA Lau Debuk-debuk yang memiliki luas 7 Ha adalah dengan penyebaran informasi secara luas tentang kawasan konservasi tersebut baik melalui sosialisasi langsung di lapangan ataupun dengan media berupa plat informasi dan juga papan informasi dan larangan Kawasan. Harapannya bahwa kawasan konservasi TWA Lau Debuk-debuk yang memiliki daya tarik objek wisata berupa air panas yang mengandung belerang dan wisata religi berupa “Erpangir Ku Lau” ini dapat eksis dan semakin dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai bagian dari kawasan hutan yang selain bisa dimanfaatkan jasanya juga harus dijaga kelestariannya, Sumber: Hafsah Purwasih (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Wujud Solidaritas: Balai TN Batang Gadis dan Mitra Serahkan Bantuan ke Wilayah Terdampak Bencana

Panyabungan, 11 Desember 2025. Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) terus menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera Utara. Pada Sabtu, 29 November 2025, Balai TNBG menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang terdampak banjir dan tanah longsor di Kabupaten Mandailing Natal, khususnya di Desa Sopotinjak dan Bulusoma, Kecamatan Batang Natal, serta Desa Muara Batang Angkola di Kecamatan Siabu. Desa Sopotinjak juga ditetapkan sebagai Posko Induk penanganan bencana. Selain itu, Balai TNBG membuka Posko Tanggap Bencana di Kantor Balai, Kota Panyabungan, sebagai pusat penggalangan dan penyaluran donasi. Selain Mandailing Natal, Balai TNBG bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Balai TNBG dan Nasout Camp juga menyalurkan bantuan kepada korban bencana di Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan. Bantuan ini berasal dari kepedulian berbagai pihak, di antaranya DWP KSDAE (Pusat), Koordinator Wilayah Sumut Kemenhut, serta para penggiat ekowisata. Penyaluran ini menjadi wujud nyata solidaritas dan kolaborasi lintas lembaga dalam membantu percepatan pemulihan masyarakat terdampak. Balai TN Batang Gadis juga kembali menyalurkan bantuan tambahan untuk desa-desa penyangga yang terdampak bencana, yaitu Desa Hutarimbaru, Pastap Julu, Batahan, Pagaran Gala-Gala, Hutagodang Muda, dan Muara Batang Angkola. Bantuan ini berasal dari donasi Kementerian Kehutanan, DWP Kementerian Kehutanan, DWP Balai TNBG, serta Ikatan Alumni SMA N 4 Jambi. Melalui semangat gotong royong dan kepedulian bersama, diharapkan seluruh bantuan yang disalurkan dapat meringankan beban masyarakat dan membantu mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak bencana. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Tahan Laju Perdagangan Burung Dilindungi, BBKSDA Jatim Gelar Sosialisasi di Margalela Sampang

Sampang, 9 Desember 2025. Di pasar burung yang baru berdiri di jantung Kabupaten Sampang, sebuah langkah sunyi namun menentukan dilakukan pada Selasa, 9 Desember 2025. Tim Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak dari kios ke kios, memastikan bahwa perpindahan Pasar Burung Sri Mangunan ke Pasar Margalela tidak menjadi celah baru bagi meningkatnya perdagangan satwa dilindungi. Langkah awal dilakukan melalui koordinasi langsung dengan pengelola Pasar Sri Mangunan sebagai titik asal. Di lokasi tersebut, petugas mengonfirmasi rencana pemasangan banner daftar burung dilindungi, sekaligus menyiapkan strategi sosialisasi kepada pedagang yang kini menempati pasar baru. Memasuki Pasar Margalela, tim disambut Kepala Pasar, Abu Yamin, serta Ketua Paguyuban Burung Madura, Sulaiman. Di ruang pengelola pasar, percakapan intens berlangsung, bukan sekadar tentang banner yang akan dipasang, namun tentang masa depan perdagangan burung di Madura, apakah akan menjadi ancaman atau harapan bagi kelestarian satwa. Sebagai langkah konkrit, Seksi KSDA Wilayah IV menyerahkan banner resmi daftar burung dilindungi kepada pengelola pasar. Tidak berhenti di situ, tim turun langsung menyebarkan pamflet larangan memperdagangkan satwa dilindungi kepada para pedagang, menyapa satu per satu, menjelaskan aturan hukum, serta memberikan pemahaman dampak ekologis yang sering luput dari perhatian masyarakat. Rencana jangka panjang mulai digagas mulai dari pemasangan papan imbauan besar di titik-titik strategis, edukasi berkala bagi paguyuban, hingga kolaborasi pengawasan berbasis komunitas. Semua itu diarahkan pada satu tujuan, yaitu untuk mengurangi tekanan perdagangan ilegal yang selama bertahun-tahun menjadi ancaman bagi burung-burung endemik Jawa dan Madura. Di lorong-lorong Pasar Margalela, suara kicau burung yang memenuhi udara hari itu menjadi pengingat bahwa konservasi bukan hanya tugas pemerintah, namun sebuah kesepakatan sosial untuk menjaga kehidupan lain yang hidup berdampingan dengan kita. Ketika pasar memahami hukum alam, maka kelestarian tidak lagi diperjuangkan, melainkan dijaga bersama. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Rahasia Alam yang Mengubah Masa Depan Pertanian Madiun

Madiun, 8 Desember 2025. Ditengah ancaman hama tikus yang terus menekan produktivitas pertanian, sebuah kebijakan baru di Kabupaten Madiun menghadirkan harapan melalui cara yang paling alami, bagaimana mengembalikan burung hantu ke panggung ekosistem. Pada Senin, 8 Desember 2025, Pemerintah Kabupaten Madiun resmi mensosialisasikan Peraturan Bupati Madiun No. 42 Tahun 2025 tentang Pelestarian Burung Hantu, kebijakan yang menempatkan satwa liar sebagai sekutu strategis ketahanan pangan. Kegiatan sosialisasi berlangsung di Ruang Pertemuan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun dan dihadiri unsur Kejaksaan Negeri, SKPD terkait, perwakilan kecamatan, desa, hingga penyuluh pertanian. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir sebagai narasumber teknis melalui PEH Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Arodens Wahanto, untuk memberikan landasan ilmiah dan regulatif tentang peran burung hantu dalam ekosistem dan payung hukum konservasinya. Sebagai inisiator terbitnya peraturan tersebut, Kejaksaan Negeri Kabupaten Madiun menegaskan bahwa pelestarian burung hantu bukan hanya soal menjaga satwa, tetapi menjaga peradaban pangan. Burung hantu adalah predator alami tikus, musuh utama petani yang selama ini coba dikendalikan melalui metode ekstrem, termasuk penggunaan listrik untuk jebakan tikus. Praktik tersebut tidak hanya melanggar hukum, tetapi berisiko tinggi pada keselamatan manusia. Melalui Perbup No. 42/2025, pemerintah memastikan burung hantu memperoleh ruang hidup yang aman, sehingga keseimbangan ekologis di area pertanian dapat dipulihkan. Keberadaan satwa liar ini terbukti meningkatkan hasil pertanian di berbagai daerah. Ketika alam bekerja, manusia memanen hasilnya. Pada sesi pemaparan, BBKSDA Jatim menyampaikan tugas dan fungsi konservasi serta memberikan penjelasan komprehensif terkait Inpres No. 1/2023, Permen LHK No. 106/2018, dan UU No. 32/2024. Edukasi ini meliputi identifikasi jenis burung hantu yang dilindungi dan tidak dilindungi, serta satwa lain yang berperan penting bagi pertanian, termasuk ular Jali, sekutu sunyi petani dalam mengendalikan populasi tikus. Dukungan sinergis antara Kejaksaan Negeri, Dinas Pertanian dan Perikanan, serta BBKSDA Jatim menandai babak baru kolaborasi konservasi di Jawa Timur. Upaya ini menunjukkan bahwa menjaga satwa tidak hanya berarti melindungi alam, tetapi menjaga denyut kehidupan masyarakat yang bergantung pada tanah dan pangan. Ketika burung hantu kembali terbang rendah di atas hamparan sawah Madiun, kita sesungguhnya sedang menyaksikan sebuah pesan lama dari alam yang kembali diperbarui: keseimbangan adalah kunci keberlanjutan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Saat Genetika Populasi Menuntun Masa Depan Konservasi Jawa Timur

Surabaya, 5 Desember 2025. Upaya konservasi di Jawa Timur memasuki babak baru. Dalam Kuliah Tamu Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jumat (5/12), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menegaskan bahwa genetika populasi kini menjadi fondasi ilmiah dalam pengambilan keputusan konservasi satwa liar di wilayah tersebut. Pemanfaatan analisis DNA, mulai dari penilaian keragaman gen, mendeteksi inbreeding, hingga memahami asal-usul satwa sitaan, menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan spesies di tengah tekanan ekologis yang kian meningkat. Kepala BBKSDA Jatim menyampaikan bagaimana pendekatan genetika digunakan untuk menetapkan status populasi, menentukan unit konservasi evolusioner, hingga mengevaluasi keberhasilan restorasi habitat. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung At-Taawun lantai 23 ini dihadiri jajaran tenaga teknis BBKSDA Jawa Timur, antara lain Sumpena, S.P. (Kepala Seksi KSDA Wilayah III Surabaya), Rakhmat Hidayat, S.P. (Polisi Kehutanan Ahli Madya), Fajar Dwi Nur Aji (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda), dan Ach. Onky Priyono (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama). Paparan terkait integrasi antara ilmu genetika dan pekerjaan konservasi yang selama ini dijalankan di lapangan, termasuk penanganan kasus peredaran satwa liar, pemantauan populasi, dan pengawasan lembaga konservasi disampaikan pada kegiatan tersebut. Kepala BBKSDA Jatim menampilkan contoh bagaimana analisis DNA digunakan untuk memetakan keragaman genetik Rusa Bawean dan Kakatua Kecil Jambul Kuning, dua spesies endemik yang populasinya kecil dan terfragmentasi Pendekatan genetika populasi menjadi semakin krusial karena tantangan konservasi tidak lagi hanya terlihat di permukaan. Perubahan iklim, fragmentasi habitat, serta meningkatnya intensitas perdagangan ilegal satwa membuat pengelolaan kawasan dan spesies membutuhkan data yang lebih tajam dan akurat. Triple Planetary Crisis yang berdampak pada perubahan iklim, polusi, dan hilangnya biodiversitas kini berlangsung bersamaan dan berdampak langsung terhadap populasi satwa liar Jawa Timur. Dalam situasi demikian, analisis genetika menjadi instrumen untuk membaca “lapisan terdalam” kondisi populasi, termasuk mendeteksi bottleneck genetik yang tidak tampak dari pengamatan lapangan. Selain menyajikan data dan kasus lapangan, kuliah tamu ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga konservasi dan dunia akademik. BBKSDA Jatim mendorong penguatan riset genetika bersama perguruan tinggi, BRIN, dan lembaga penelitian lainnya. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan IBSAP 2025–2045 yang menempatkan perlindungan genetik sebagai salah satu target nasional prioritas dalam konservasi keanekaragaman hayati Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan bahwa masa depan konservasi memerlukan keputusan yang berbasis sains, terutama pada spesies-spesies yang menghadapi tekanan serius. “Konservasi modern tidak hanya berbicara tentang jumlah individu di alam, tetapi tentang kualitas genetik yang menopang kemampuan mereka bertahan. Genetika populasi memberi kita cara untuk melihat apa yang tidak terlihat, kerentanan, dinamika populasi, dan peluang pemulihan. Ketika pemahaman ilmiah ini menjadi dasar kebijakan, maka kita sedang memastikan masa depan keanekaragaman hayati Jawa Timur tetap terjaga,” ujarnya. Beliau menambahkan bahwa BBKSDA Jatim berkomitmen memperkuat integrasi data genetika dalam seluruh program konservasi. “Sains bukan sekadar pelengkap, melainkan penuntun. Dan melalui genetika, kita mendapatkan peta yang jauh lebih jelas untuk mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab,” tegasnya. Dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya ancaman terhadap spesies, genetika populasi memberi arah baru bagi konservasi Jawa Timur, arah yang berbasis data, kolaboratif, dan menyatukan sains dengan kebijakan pengelolaan kawasan. Melalui pendekatan ini, upaya pelestarian satwa liar kini melangkah lebih presisi, memastikan setiap unit genetik tetap menjadi bagian dari kekayaan hayati Indonesia yang tak ternilai. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bagaimana Lima Mata Air di Sigogor Menopang Hidup, Dari Hutan Hingga Madiun

Ponorogo, 8 Desember 2025. Di jantung Cagar Alam Gunung Sigogor, air tidak sekadar mengalir. Ia berdenyut, menghidupi, dan menjaga keseimbangan yang rapuh antara hutan, satwa, dan manusia. Pada tanggal 3–4 Desember 2025, tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melakukan monitoring lima mata air di kawasan konservasi ini, sebuah langkah penting untuk memastikan bahwa “nadi bumi” di Sigogor tetap berfungsi, terutama dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan yang semakin meningkat di musim kemarau. Kegiatan yang difokuskan di Blok Ngesep, Wates, dan Secentong ini memetakan lokasi-lokasi sumber air pada koordinat strategis, sebagian di antaranya mengalir tepat di batas kawasan. Setiap titik air yang ditemukan bukan hanya catatan koordinat, ia adalah penanda ekosistem yang masih bekerja. Di sekitarnya, tegakan Ficus sp., Pasang (Lithocarpus sp.), Nyampuh, Talesan (Parsea odoratissima), dan Morosowo (Engelhardtia spicata) tumbuh sebagai penyangga alami, menjaga tanah tetap lembab dan menyediakan substrat bagi mikroorganisme yang menghidupkan sungai-sungai kecil ini. Namun monitoring tidak hanya mencatat keberadaan air; ia juga mengungkap kerentanan. Blok Ngesep, yang berbatasan dengan perkebunan kopi, dan Blok Wates, yang bersisian dengan hutan pinus Perhutani, menunjukkan tanda-tanda bahaya laten. Seresah kering dan rumpun bambu di sepanjang batas kawasan menjadikan area ini rawan tersulut api. Dalam situasi seperti ini, pemetaan kantong-kantong air menjadi lebih dari sekadar kegiatan teknis, ia adalah strategi penyelamatan, informasi vital yang menentukan kecepatan respon ketika kebakaran benar-benar terjadi. Yang menghubungkan seluruh cerita ini adalah aliran yang tenang namun pasti, dimana kelima mata air di Sigogor bermuara ke Sungai Sumberagung, membawa kehidupan dari hutan lindung menuju bentang budaya dan pertanian di Madiun. Di Dusun Toyomerto, Pupus, dan Kecamatan Kare, air ini menjadi sumber utama kebutuhan rumah tangga dan irigasi pertanian. Masyarakat mungkin tidak melihat langsung hutan lebat di Sigogor, tetapi kehidupan mereka bergantung pada kestabilan ekosistem tersebut. Inilah pesan penting dari Sigogor, ketika hutan dijaga, air pun tetap ada, dan ketika air tetap ada, kehidupan mengalir jauh melampaui batas kawasan konservasi. Monitoring sumber air bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi pembacaan terhadap kesehatan bumi, sebuah upaya memahami bagaimana alam bekerja untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat merasakan manfaatnya. Di tengah ancaman kebakaran, perubahan iklim, dan tekanan pemanfaatan lahan, Sigogor tetap mengajarkan satu hal bahwa air adalah nadi bumi, dan hutan adalah organ yang menjaganya tetap berdenyut. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Merak Hijau yang Menjaga Napas Budaya Reyog Ponorogo

Ponorogo, 4 Desember 2025. Di auditorium lantai empat Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Ponorogo, denyut masa lalu dan masa depan budaya Reyog kembali dipertemukan. Diskusi Terpumpun Penguatan Hasil Kajian Analisis Ekosistem Reyog Ponorogo, yang digelar pada 4 Desember 2025, membuka ruang dialog antara alam, budaya, dan sains, sebuah percakapan panjang yang kerap terabaikan dalam bingkai pelestarian budaya. Acara yang dibuka oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI ini menghadirkan lintas institusi mulai Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), para akademisi Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Yayasan Reyog Ponorogo, hingga para pelaku seni dan penggerak sanggar. Tiga puluh peserta duduk dalam satu forum yang sama, mengurai kembali ekosistem budaya yang menghidupi Reyog hingga kini. Dalam dua sesi pemaparan yang komprehensif, Tim Peneliti Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI menyajikan kajian analisis mengenai Ekosistem Reyog Ponorogo dan transformasi budaya dari masa ke masa. Narasi ilmiah itu kemudian diperkaya tanggapan dari Rektor Universitas Muhammadiyah Ponorogo serta Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, yang menekankan pentingnya literasi budaya dan kontinuitas dokumentasi. Diskusi berkembang hangat. Para peserta menyadari, pelestarian Reyog bukan sekadar menjaga pertunjukan, melainkan memahami akar filosofinya. Ada kebutuhan untuk menelusuri kembali memori kolektif masyarakat Ponorogo, mulai dari fase awal hingga fase modern serta menggali ulang nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal yang menyertainya. Pada kesempatan itu, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui perwakilan Resort Konservasi Wilayah 06 Ponorogo mengingatkan kembali satu simpul penting dalam jantung budaya Reyog, tentang kehadiran Merak Hijau (Pavo muticus). Satwa ini bukan hanya ikon visual dalam gemerlap dadak merak, tetapi sebuah simbol ekologis yang mengikat hubungan antara manusia, alam, dan budaya. Sebagai satwa liar yang dilindungi, Merak Hijau berada di persimpangan dua dunia, dunia seni yang meminjam keindahan bulunya sebagai representasi estetika, dan dunia konservasi yang berjuang mempertahankan populasinya di alam. Di sinilah KSDA Jatim menegaskan komitmennya untuk melestarikan satwa bukan hanya menyelamatkan spesies, tetapi juga menjaga napas budaya yang telah hidup ratusan tahun. Dalam forum itu pula disampaikan semangat keselarasan antara konservasi dan kebudayaan “Membudayakan Konservasi dan Mengkonservasi budaya”. Sebuah prinsip yang tidak hanya relevan, tetapi mendesak untuk diwujudkan, terutama ketika dunia modern menuntut kecepatan sementara alam dan budaya membutuhkan keberlanjutan. Namun esensi pertemuan tersebut jauh melampaui foto dan notulensi, ia adalah pengingat bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari pelestarian ekosistem yang menopangnya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bukan Sekadar Pohon, Prunus Memetakan Jalan Menuju Ekonomi Hijau dan Kedaulatan Genetik di Bawean

Sidoarjo, 5 Desember 2025. Kabut tipis turun perlahan di lereng Gunung Besar selepas hujan mengguyur, membalut pucuk-pucuk pohon yang berjaga bagai pilar waktu. Embun menggantung di ujung daun, memantulkan cahaya keperakan yang pelan-pelan menyingkap fajar. Suara burung tekukur menembus keheningan pagi, menandai awal hari bagi tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang sedang menapaki jalur setapak menuju hutan lembab di jantung Pulau Bawean. Langkah mereka berhenti di dekat tegakan tinggi dengan batang krem halus dan percabangan mendatar. Pohon itu tampak biasa, seperti bagian tak terpisahkan dari wajah hutan. Namun pohon ini, Prunus javanica dan saudara dekatnya Prunus arborea diam-diam menyimpan potensi yang kini menggugah dunia ilmiah dan konservasi Indonesia. Hasil Diseminasi Bioprospeksi BBKSDA Jawa Timur pada 3 Desember 2025 mengungkap data terbaru yang memberi harapan baru bagi arah pengembangan biofarmaka nasional berbasis keanekaragaman hayati lokal. Pohon yang selama ini dianggap biasa, ternyata menyimpan senyawa bioaktif berharga yang relevan untuk pengembangan obat herbal, antioksidan, dan antibakteri. Dari hutan Pulau Bawean, Indonesia menemukan jalan menuju ekonomi hijau dan kedaulatan genetik. Bawean, Pulau Kecil Dengan Peran Besar Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan biodiversitas tertinggi di dunia. Namun ironi besar menyertainya, banyak potensi biologis Indonesia yang selama ini belum tergarap optimal atau bahkan hilang sebelum sempat dipelajari. Di tengah kondisi itu, Pulau Bawean menjadi salah satu kawasan yang masih menjaga kekayaan alamnya dengan teguh. Pulau kecil seluas 196 km² ini menaungi empat kawasan konservasi utama, Cagar Alam (CA) Pulau Bawean, Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean, CA. Pulau Nusa, dan CA. Pulau Noko. Survei potensi bioprospeksi tahun 2024 mencatat 303 jenis tumbuhan dan 24 jenis herpetofauna, menjadikannya salah satu bank genetik paling penting di Jawa Timur. Di antara keanekaragaman itu, dua pohon lokal kini merebut perhatian dunia akademik, Prunus javanica dan Prunus arborea, kerabat liar dari plum, ceri, dan almond. Riset ilmiah ini diawali oleh cerita lokal. Tim traditional knowledge menelusuri pengetahuan etnobotani melalui wawancara dengan enam Hatra (penyehat tradisional). Sebanyak 46 ramuan herbal berhasil diinventarisasi, dan di antaranya terdapat penggunaan Prunus javanica dalam terapi tradisional. Namun ancaman besar hadir, dimana sebagian besar Hatra berusia 50–60 tahun, dan hanya satu yang telah menurunkan ilmunya. Dan yang tidak kalah tragis para hatra itu tidak pernah mendokumentasikan tertulis pengetahuannya. Sehingga Jika tidak didokumentasikan, pengetahuan itu akan menghilang dalam satu dekade. Traditional knowledge adalah pintu pertama menuju bioprospeksi. Tanpa masyarakat, riset kehilangan akar. Dari Hutan ke Laboratorium Sampel daun, batang, akar, dan buah Prunus javanica dan Prunus arborea dikumpulkan dari beberapa Blok Kawasan Suaka Alam Pulau Bawean. Hasil uji sementara ditemukan beberapa senyawa penting untuk antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri. Dalam standar riset awal, angka ini di atas rata-rata spesies lokal lain yang diteliti, menempatkan Prunus sebagai kandidat kuat biofarmaka masa depan. Pemetaan populasi menunjukkan bahwa, Prunus arborea dominan dengan regenerasi alami baik dan Prunus javanica tersebar lebih luas, namun regenerasinya lebih rendah. Dua spesies ini saling melengkapi, P. arborea menjaga stabilitas ekosistem lembab, dan P. javanica menjadi indikator kesehatan habitat terbuka. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, menyampaikan arah strategis yang menjadi kompas masa depan kegiatan bioprospeksi di kawasan konservasi Balai Besar KSDA Jawa Timur. “Bioprospeksi bukan hanya penelitian. Ini adalah langkah strategis bangsa dalam membangun kedaulatan genetik dan ekonomi hijau. Prunus harus menjadi pintu masuk, bukan pintu kelua, bukan laporan yang berhenti di meja rapat, tetapi produk nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat dan negeri,” ujarnya membuka sesi diseminasi. Beliau juga menegaskan bahwa BBKSDA Jatim akan memastikan proses ini berkelanjutan, melibatkan akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat setempat. “Kami ingin memastikan bahwa manfaat dari hasil riset ini kembali kepada masyarakat Bawean yang menjaga hutan ini sejak awal. Itulah makna sejati Access and Benefit Sharing.” tambahnya. “Dalam 3–5 tahun ke depan, kita ingin melihat produk herbal atau farmasi berbasis Prunus lahir dari Bawean. Ini bukan mimpi. Ini target yang harus kita wujudkan bersama.” tegasnya mengakhiri dengan pandangan masa depan yang kuat. Pernyataan tersebut menjadi momen penting transisi dari penelitian ke arah hilirisasi dan komersialisasi yang bertanggung jawab. Inilah jalur menuju apa yang disebut Kepala Balai Besar sebagai “Bioindustri berbasis konservasi yang memuliakan alam, ilmu, dan manusia.” Janji di Balik Sekeping Daun Pada akhirnya, tubuh pohon menyimpan bukan hanya kayu, tetapi cerita, daun menyimpan bukan hanya klorofil, tetapi masa depan, dan hutan menyimpan bukan hanya kehijauan, tetapi harapan. Jika Prunus adalah bab awal, maka masa depan ada pada kesungguhan kita merawatnya. Menjaga Prunus adalah menjaga masa depan. Menjaga Bawean adalah menjaga jantung biodiversitas Jawa Timur. Masa depan ekonomi hijau Indonesia dimulai dari hutan kecil di tengah laut ini. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Nurhabli Ridwan Lolos 100 Besar Forest Youthverse 2025, Usung Inovasi Agroforestry Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

Nurhabli Ridwan mempresentasikan gagasan ivonasi kepada Sekretaris BP2SDM Kementerian Kehutanan RI (27/11/2025) Pematangsiantar, 2 Desember 2025 — Nurhabli Ridwan, Kader Konservasi Alam (KKA) binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) asal Kabupaten Deli Serdang, kembali mengharumkan daerahnya setelah berhasil terpilih sebagai salah satu dari 100 delegasi nasional dalam Program Forest Youthverse 2025. Ia mewakili Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) pada ajang inovasi kehutanan tingkat nasional tersebut. Forest Youthverse 2025 merupakan program yang digagas oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kehutanan RI melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan. Program ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pelestarian hutan melalui gagasan inovatif, kolaboratif dan aksi nyata. Seleksi peserta yang lolos sebelumnya telah melewati proses yang panjang mulai dari sosialisasi, pendaftaran, seleksi ketat, mentoring class hingga challenge class yang dilaksanakan secara daring. Dalam kompetisi ini, Nurhabli mengajukan gagasan dengan judul “Hutan Lestari, Masyarakat Mandiri”, yakni sebuah model pemberdayaan masyarakat berbasis agroforestry dan inovasi hijau di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dengan pendekatan kolaborasi pentahelix. Gagasan ini diharapkan dapat memperkuat praktik pengelolaan hutan yang produktif, adaptif serta berkelanjutan. Setelah dinyatakan lolos 100 besar, seluruh peserta dari berbagai daerah dibagi ke dalam tiga lokasi pembelajaran lapangan, yaitu KHDTK Pondok Buluh (Sumatera Utara), KHDTK Sawala Mandapa (Jawa Barat), dan KHDTK Tabotabo (Sulawesi Selatan). Nurhabli berkesempatan mengikuti Forest Youthverse Summit pada 26-29 November 2025, yang diselenggarakan di Kantor BP2SDM Wilayah I Pematangsiantar dan KHDTK Pondok Buluh. Dari tahap ini, akan dipilih 6 peserta terbaik yang akan melaju ke Innovation Stage Forest Youthverse 2025, yaitu sesi presentasi final di hadapan Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, MA., Ph.D. Pada 27 November 2025, Nurhabli memaparkan langsung proposal inovasinya kepada Sekretaris BP2SDM Kementerian Kehutanan, Dr. U. Mamat Rahmat, S. Hut., M.P. Ia menjelaskan empat rangkaian inovasi yang diusulkan, yaitu: Agroforestry Produktif Terpadu melalui demplot tanaman hutan dan tanaman obat, pengembangan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), Ekowisata edukatif masyarakat (Eco-Edu Tourism), dan bank pohon dan karbon komunitas. Sebagai Founder sekaligus Ketua Umum GRAS, Nurhabli menyampaikan harapannya agar inovasi tersebut mendapat dukungan luas dari berbagai pihak sehingga dapat diimplementasikan sebagai model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Sekretaris BP2SDM Kementerian Kehutanan RI, Dr. U. Mamat Rahmat, S.Hut., M.P., menyampaikan apresiasi atas ide inovasi yang telah dibuat. Menurutnya, anak muda harus memiliki energi, kreativitas, dan pengaruh besar untuk menggerakkan perubahan di bidang kehutanan sehingga inovasi yang telah dibuat tidak hanya menjadi gagasan, tetapi dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi masyarakat hutan. Pada 28 November 2025 Nurhabli Ridwan juga melakukan penanaman pohon aren di kawasan KHDTK Pondok Buluh salah satu aksi nyata dalam program Forest Youthverse 2025. Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kontributor/Penulis : Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam/KPA GRAS) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Email: nurhabliridwan.gras@gmail.com WA : 087868871082
Baca Artikel

Rimba Bawean Menguji 3 Mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan - UGM

Bawean, 28 November 2025. Di sebuah pulau yang dijaga sang endemik rusa bawean, tak pernah benar-benar sunyi, tiga mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan Universitas Gadjah Mada menutup perjalanan magang mereka dengan membawa pulang catatan yang tak pernah tercantum di modul perkuliahan. Selama hampir bulan, Arlina Widiastuti, Shalmiah Aegesti dan Tiara Nathania hidup bersama rimba bawean. Memetakan tapak satwa, mengolah data, dan merasakan bagaimana konservasi bekerja bukan sebagai teori, tetapi sebagai denyut yang nyata. Presentasi lapangan yang berlangsung pada Rabu, 26 November 2025, menjadi panggung kecil bagi pengalaman besar yang mereka kumpulkan di Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Sebuah kawasan strategis yang menggabungkan hutan, pesisir, dan budaya setempat dalam satu sistem ekologi pulau kecil yang rapuh sekaligus tangguh. Fokus utama mereka adalah implementasi SMART Patrol, kebijakan penguatan fungsi kawasan konservasi berdasarkan SK Dirjen KSDAE Nomor 74 Tahun 2025. Mereka menguraikan bagaimana patroli dilakukan, bagaimana setiap temuan dicatat, hingga bagaimana data dianalisis untuk membaca ancaman dan peluang menjaga Bawean. Lebih dari sekadar metode, SMART menjadi mata yang memetakan perubahan lanskap dan langkah awal memahami pola-pola yang menentukan masa depan pulau ini. Namun Bawean tak hanya menguji mereka lewat jalur patroli. Mahasiswa terlibat aktif dalam monitoring pemanfaatan sumber air, mencatat pengetahuan tradisional masyarakat, hingga mengikuti bioprospeksi vegetasi. Mereka melihat bagaimana spesies penting seperti Prunus javanica dan Prunus arborea mempertahankan keberadaannya di pulau yang terpencil ini. Mereka juga berkolaborasi dengan peneliti BRIN, menelusuri sungai-sungai kecil yang tersembunyi guna mengambil sampel crustacea air tawar, bagian penting dari upaya mengungkap keragaman hayati akuatik Bawean. Pada malam-malam tertentu, mereka bergabung dalam herping, menyusuri hutan dengan cahaya senter di antara daun basah dan tanah yang menyimpan cerita spesies malam. Bersama Tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya dan MMP Bawean Lestari, mereka juga belajar preservasi spesimen, memahami bahwa dokumentasi biodiversitas adalah langkah penting sebelum sebuah spesies menghilang tanpa jejak. Evaluasi lapangan dari Tim RKW 10 Pulau Bawean disampaikan dengan jernih dan membangun, perlunya perbaikan dalam detail persebaran vegetasi, peningkatan struktur presentasi, serta penyempurnaan dokumentasi visual. Semua itu bukan koreksi, tetapi bagian dari pendidikan di lapangan, karena konservasi bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga tentang menyampaikan cerita alam secara akurat. Sabtu, 29 November, ketiga mahasiswa dijadwalkan kembali ke Surabaya dan Gresik untuk menyelesaikan tahap akhir magang hingga 22 Desember 2025. Laporan komprehensif akan mereka presentasikan di kantor Bidang KSDA Wilayah II sebagai penutup perjalanan akademik dan pengalaman lapangan yang mereka jalani. Bawean telah menguji mereka, dengan medan, cuaca, data, dan realitas konservasi sesungguhnya. Dan seperti hutan yang diam namun mengajarkan banyak hal, pulau ini meninggalkan jejak mendalam pada mereka: bahwa kerja konservasi adalah pertemuan antara ketekunan, sains, dan penghormatan terhadap alam yang menjadi rumah kita bersama. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Di Balik Kesibukan Kota Surabaya, Dua Elang Muda Menanti Nasib

Surabaya, 26 November 2025. Di tengah denyut kota Surabaya yang tak pernah berhenti, di antara deru kendaraan dan hiruk-pikuk pagi hari, ada dua makhluk muda yang seharusnya tumbuh di bawah cakrawala liar, bukan di balik jeruji sangkar sempit di depan sebuah ruko. Dua Elang Tikus (Elanus caeruleus), satwa yang dikenal sebagai penari angin dengan kepakan sunyi, justru terpajang di depan ruko Jl. Achmad Jais, Genteng, Surabaya. Keduanya berdiri mematung. Mata yang belum sempurna memerah menatap tajam, namun penuh kebingungan, mengamati lalu lalang kota yang tak mengenal hening. Momen itulah yang mengawali sebuah kisah penyelamatan. Selasa pagi, 26 November 2025. Sinar matahari baru menyentuh dinding ruko Ketika seorang petugas Seksi KSDA Wilayah III Surabaya melintasi jalan itu. Langkahnya terhenti. Ada sesuatu yang tidak biasa, dua burung pemangsa remaja yang seharusnya menguasai langit, justru “dipamerkan” kepada siapa pun yang lewat. Bagi yang mengenal dunia konservasi, pemandangan ini bukan sekadar anomali, melainkan tanda bahaya. Dalam hitungan detik, naluri profesional bekerja. Petugas bergerak mendekat, memastikan kebenaran apa yang dilihatnya. Setiap menit berarti bagi satwa liar, terutama bagi raptor muda yang rentan stres dan cedera. Melalui dialog dengan penjaga ruko dan kemudian pemilik satwa, Al Vinza Vizanni, petugas mengetahui bahwa kedua elang itu dipelihara tanpa izin. Di titik ini, pendekatan yang diambil bukanlah konfrontasi, tetapi pendekatan humanis, sesuatu yang menjadi napas konservasi modern. Petugas menjelaskan bahwa sesuai Permen LHK P.106/2018, Elang Tikus adalah satwa yang dilindungi. Penjelasan diberikan dengan sabar, tentang perannya sebagai predator hama, tentang keseimbangan ekosistem, tentang risiko memelihara raptor tanpa keahlian, hingga ancaman hukum yang mengikat. Ada jeda hening. Pemilik menundukkan kepala. Lalu perlahan ia berkata, “Kalau begitu… saya serahkan saja, Pak.” Keputusan sederhana itu menyelamatkan masa depan dua makhluk yang seharusnya tinggal bersama langit. Kedua elang itu masih remaja. Iris mata mereka belum setajam elang dewasa, namun cukup untuk menunjukkan naluri berburu yang mulai tumbuh. Bulu tubuh tampak bersih dan terawat, tak ada luka terbuka, tidak ada sayap yang layu. Satwa muda seperti ini ibarat kertas putih, masih bisa dipulihkan, masih bisa diajari kembali mengenali angin, masih bisa dilepaskan ke alam. Dengan penuh kehati-hatian, tim menyiapkan kandang angkut standar. Tidak boleh ada suara keras, tidak boleh ada gerakan tergesa. Raptor muda rentan panik, satu kepakan salah bisa berujung cedera. Satu per satu, elang itu diangkat. Dari balik jeruji, terdengar suara napas mereka yang cepat. Namun begitu pintu kendang ditutup, keduanya perlahan lebih tenang. Mereka kini berada di tangan yang tepat. Kendaraan bergerak menuju Kandang Transit Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur. Bagi banyak satwa liar, WRU adalah titik balik, tempat di mana mereka menjalani pemeriksaan medis, pemulihan fisik, dan rehabilitasi perilaku sebelum kembali pada takdir sesungguhnya, yaitu hidup liar. Di WRU, kedua elang akan, menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tenaga medis, dipantau perilakunya, dilatih berburu mangsa hidup, dan ketika siap, dilepasliarkan kembali ke habitat yang sesuai. Perjalanan ini bukan sekadar pemindahan fisik. Ini adalah pemulihan martabat mereka sebagai satwa liar. Kejadian ini adalah pengingat bahwa konservasi bukan hanya tugas petugas, tetapi kesadaran bersama. Penyerahan sukarela seperti yang dilakukan pemilik adalah contoh bahwa edukasi mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap satwa liar. Dari sebuah ruko sederhana, dua elang muda mendapatkan kembali haknya untuk hidup sebagai penjaga langit. Dan dari kejadian ini, kita diingatkan bahwa di balik hiruk-pikuk kota, selalu ada ruang bagi kepedulian. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 1–16 dari 1.989 publikasi