Tarsius Makassar: Makan Malam Sang Pemburu Senyap
Tarsius makassar, pengendali serangga, penjaga keseimbangan ekosistem – Foto: Kamajaya Shagir
Maros, Agustus 2026 – Senja mulai turun di atas hamparan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Di balik rimbunnya rumpun bambu duri dan celah-celah tebing karst (hutan bukit batu kapur), sepasang mata besar mulai terbuka. Inilah tarsius makassar (Tarsius fuscus), primata terkecil di dunia yang hanya bisa ditemukan di ujung selatan Semenanjung Sulawesi. Dengan berat tubuh 113–133 gram (Supriatna, 2019) dan mata sebesar otaknya sendiri, makhluk nokturnal ini memulai ritual malam yang telah berlangsung selama jutaan tahun: berburu.
Namun, apa sebenarnya yang tersaji di “meja makan” sang pemburu senyap? Dan bagaimana ia menjalankan strategi berburunya di tengah hutan karst yang terjal? Sebuah penelitian terbaru (Rizieq, 2026) mengungkap tabung waktu keanekaragaman pakan dan perilaku makan tarsius makassar—sebuah jendela untuk memahami bagaimana makhluk mungil ini bertahan di salah satu ekosistem paling unik di dunia.
Menghitung Hidangan: Dari Capung hingga Kadal
Selama dua bulan pengamatan intensif pada Agustus–September 2025 di dua lokasi kunci—Site Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus) di Pattunuang dan Site Bantimurung—peneliti menemukan sesuatu yang mengejutkan: ketersediaan pakan di habitat alami tarsius makassar sangatlah kaya dan beragam (Rizieq, 2026).
Secara keseluruhan, peneliti mengidentifikasi sekitar 16 ordo, 47 familia, dan 97 spesies pakan potensial dengan total 1.099 individu di kedua lokasi. Jumlah ini mencakup hampir seluruh spektrum kehidupan malam di hutan karst: dari serangga bersayap hingga vertebrata kecil yang merayap (Rizieq, 2026).
Di Site Bantimurung, peneliti mencatat 99 spesies dari 1.216 individu—angka yang lebih tinggi dibandingkan Site Suaka Tarsius Makassar dengan 95 spesies dan 981 individu (Rizieq, 2026). Perbedaan ini menunjukkan bahwa kompleksitas habitat—mulai dari struktur vegetasi hingga keberadaan sumber air—sangat menentukan “kekayaan menu” yang tersedia bagi sang predator (Mustari dkk., 2015).
Jangkrik, belalang, dan kumbang menjadi primadona. Namun daftar panjangnya mencakup capung yang melesat di atas aliran sungai, laba-laba yang diam-diam merentangkan jaringnya, kupu-kupu nokturnal yang beterbangan di bawah sinar rembulan, bahkan kadal kecil, burung kecil, dan mamalia kecil yang lengah (Rizieq, 2026). Kandungan nutrisi yang tinggi pada kelompok-kelompok serangga tersebut turut menjelaskan preferensi ini: Bumbugan dkk. (2017) melaporkan bahwa Orthoptera memiliki kandungan protein sebesar 69,32%, Lepidoptera sebesar 66,51%, dan Coleoptera sebesar 41,98%—nilai yang menjadikan mereka sumber energi utama bagi Tarsius makassar dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya di alam liar.
Pesta di Tengah Karst: Indeks Ekologi yang Menjanjikan
Bagaimana keseimbangan “menu” ini? Penelitian menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H')—alat statistik yang mengukur kekayaan dan pemerataan spesies dalam suatu komunitas. Hasilnya menghadirkan kabar baik: nilai indeks berkisar antara 2,97 hingga 3,82, yang masuk dalam kategori sedang hingga tinggi (Rizieq, 2026).
Artinya, di kedua lokasi penelitian, tidak ada satu atau dua spesies pakan yang mendominasi secara berlebihan. Komunitas pakan tersebar relatif merata—sebuah indikasi ekosistem yang sehat dan stabil.
Nilai Indeks Keseragaman (E) yang berkisar 0,81–0,90 meneguhkan temuan ini: komunitas pakan berada dalam kondisi stabil, tidak tertekan oleh dominansi satu spesies tertentu (Rizieq, 2026). Sementara itu, Indeks Dominansi (C) yang rendah (0,03–0,06) menunjukkan bahwa tidak ada “raja” tunggal di antara para mangsa. Semua berbagi panggung— dan piring—secara relatif adil.
Ketika Lingkungan Berbisik: Apa yang Mempengaruhi Menu Malam?
Faktor lingkungan ternyata memainkan peran penting dalam menentukan siapa saja yang hadir di “meja makan” tarsius. Analisis, Canonical Correspondence Analysis (CCA) mengungkapkan pola yang menarik (Rizieq, 2026):
1. Suhu udara, intensitas cahaya, dan kecepatan angin berasosiasi dengan dominansi komunitas pakan—kelompok serangga tertentu cenderung mendominasi saat kondisi ini tinggi.
2. Sebaliknya, kelembaban udara dan pH tanah berperan dalam meningkatkan keanekaragaman dan keseragaman pakan.
Fu dkk. (2025) menjelaskan bahwa kelembaban yang lebih tinggi meningkatkan tingkat menetas telur dan survival larva pada Lepidoptera, sehingga kondisi mikroklimat yang lembap dapat meningkatkan kelimpahan kelompok ini di habitat alami.
Andriyani dkk. (2021) melaporkan bahwa tarsius makassar lebih banyak ditemukan bersarang di hutan primer dengan tutupan kanopi yang rapat dan intensitas cahaya rendah. Meskipun demikian, kelembaban udara tidak menunjukkan perbedaan signifikan antar tipe habitat, sehingga kedua jenis hutan—primer maupun sekunder—dianggap memiliki kesesuaian ekologis yang setara bagi tarsius.
Di Site Suaka Tarsius Makassar, Stasiun 3 (dekat kebun) menunjukkan asosiasi kuat dengan suhu dan cahaya tinggi—mencerminkan dominansi serangga aktif di area terbuka. Sementara Stasiun 2 (dekat sungai) lebih lembap dan mendukung keanekaragaman jenis yang lebih tinggi (Rizieq, 2026). Pola serupa ditemukan di Site Bantimurung, di mana kelembaban di Stasiun 2 (dekat sungai) menjadi faktor kunci.
Pesan moralnya: menjaga kelembaban hutan dan keseimbangan pH tanah bukan sekadar soal ekologi—ini adalah kunci untuk memastikan “menu” tarsius tetap kaya dan beragam.
Strategi Berburu Sang Pemburu Senyap
Namun, ketersediaan pakan di alam hanyalah setengah cerita. Bagaimana tarsius makassar merespons dan memproses makanannya? Pengamatan perilaku makan di kandang habituasi selama satu pekan penuh—dengan bantuan CCTV yang merekam setiap gerakan—mengungkapkan pola yang menarik (Rizieq, 2026).
Tarsius menunjukkan tujuh jenis perilaku makan yang berurutan (Rizieq, 2026):
1. Mengamati pakan (17,15%)
2. Mendekati pakan (17,11%)
3. Mengambil pakan (12,92%)
4. Melumpuhkan pakan (12,92%)
5. Memasukkan pakan ke mulut (12,92%)
6. Kembali ke tenggeran (14,19%)
7. Mengunyah pakan (12,80%)
Rizieq (2026) merinci bahwa tarsius mengamati pakan dari jarak jauh di tempat tenggeran sebelum mendekati kotak pakan. Shagir dkk. (2026) mengonfirmasi bahwa perilaku makan di area kotak pakan diawali dengan gerakan mendekat perlahan dan pengamatan sebelum melompat ke kotak pakan. Pola serupa juga diamati oleh Qiptiyah dkk. (2012), yang menyatakan bahwa perilaku makan tarsius di kandang didahului oleh aktivitas berburu, baik melalui melompat maupun berjalan pelan, sebelum menangkap mangsa.
Yang menarik, frekuensi tertinggi perilaku makan terjadi pada awal dan akhir periode malam—sekitar pukul 18.00–19.00 dan 03.00–06.00 (Rizieq, 2026). Ini bukan kebetulan. Pola bimodal ini mencerminkan sinkronisasi dengan ritme sirkadian: Tarsius mengisi energi setelah tidur siang dan mengakumulasi cadangan sebelum beristirahat panjang di siang hari (Alikodra, 1990).
Pola aktivitas ini juga selaras dengan ketersediaan mangsa di alam. Sinaga dkk. (2009) mencatat bahwa tarsius mudah dideteksi melalui vokalisasi pada pagi dan sore hari—periode yang bertepatan dengan transisi aktivitas serangga nokturnal. Sementara itu, Aji dkk. (2019) melaporkan bahwa serangga nokturnal memiliki kemampuan visual yang beradaptasi terhadap kondisi cahaya rendah, sehingga mereka tetap aktif dan mudah dijumpai pada malam hari. Kondisi ini mendukung tingginya frekuensi perilaku pencarian dan konsumsi pakan tarsius pada periode malam (Rizieq, 2026).
Fleksibilitas di Tengah Keterbatasan: Adaptasi Cerdas Tarsius
Di dalam kandang habituasi, tarsius makassar menunjukkan strategi makan yang fleksibel dan cerdas (Rizieq, 2026; Shagir dkk., 2026):
1. Pakan berukuran kecil (serangga) dimakan langsung—terkadang di dalam box pakan, terkadang dibawa ke area tenggeran.
2. Pakan berukuran besar (burung kecil, kadal) terlebih dahulu dilumpuhkan dengan gigitan, lalu dibawa ke tempat aman untuk dikonsumsi.
Yang lebih menarik: tarsius makassar tidak pernah menyentuh pakan nabati (buah, daun, bunga) yang diberikan selama penelitian (Rizieq, 2026). Niemitz (1984) menjelaskan bahwa tarsius sesekali menggigit dedaunan tetapi mereka tidak benar-benar memakannya. Sering ditemui sejumlah kecil jaringan tumbuhan dalam kandungan perutnya, diduga berasal dari isi perut serangga atau binatang yang dimakannya. Hal ini menegaskan bahwa tarsius adalah karnivora obligat—ia sama sekali tidak mengonsumsi tumbuhan sebagai sumber makanan utama, tidak seperti primata lainnya.
Shagir dkk. (2026) mencatat bahwa lokasi makan pun bervariasi: besi kandang, box pakan, pinggiran box pakan, lantai kandang, dan ranting pohon buatan. Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa tarsius mampu menyesuaikan strategi makannya secara dinamis terhadap lingkungan—sebuah kemampuan adaptif yang penting untuk bertahan di habitat yang terus berubah.
Ancaman di Balik Keberagaman
Meskipun keanekaragaman pakan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tergolong baik, ancaman nyata membayangi sang primata mungil. Tarsius makassar saat ini berstatus “Rentan” (Vulnerable) dalam Daftar Merah IUCN (IUCN, 2020).
Ancaman utama datang dari hilangnya habitat akibat perambahan hutan untuk pertambangan, perkebunan, pertanian, dan pemukiman (Shagir dkk., 2025). Menurut Shagir dkk. (2025), penggunaan pestisida di area pertanian juga menurunkan populasi serangga—yang berarti mengurangi “menu” tarsius. Perburuan dan gangguan dari aktivitas wisata (seperti panjat tebing dan api unggun) semakin menekan keberadaan mereka (Putri dkk., 2019).
Shagir dkk. (2025) melaporkan bahwa penggunaan pestisida yang berdampak penurunan populasi serangga sebagai pakan utama tarsius makassar juga mempengaruhi populasinya. Penelitian Putri (2018) juga menunjukkan bahwa aktivitas wisata seperti panjat tebing dapat berdampak negatif pada vegetasi yang tumbuh di jalur panjatan, yang merupakan habitat penting bagi tarsius.
Yang mengkhawatirkan: meskipun statusnya “Rentan” menurut IUCN (2020), nama spesies ini secara mengejutkan hilang dari daftar satwa dilindungi nasional Indonesia yang diperbarui berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Celah hukum ini bisa menjadi pintu masuk bagi perdagangan ilegal dan eksploitasi yang lebih luas.
Oleh karena itu, usulan untuk menetapkan kembali tarsius makassar sebagai satwa dilindungi dalam regulasi nasional telah diajukan oleh Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Usulan ini didasarkan pada bukti ilmiah dan hukum yang kuat, mengingat statusnya sebagai spesies endemik dengan sebaran terbatas, kerentanan habitat akibat tekanan antropogenik, serta ketidakpastian taksonomis yang menuntut penerapan prinsip kehati-hatian (precautionary principle). Penetapan ulang status perlindungan ini dinilai penting untuk menjamin kelestarian spesies, menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis Sulawesi, serta memperkuat komitmen Indonesia dalam konvensi keanekaragaman hayati global (BTNBABUL, 2025)
Konservasi: Menjaga Meja Makan Tetap Tersaji
Temuan penelitian ini memberikan peta jalan bagi upaya konservasi (Rizieq, 2026):
1. Pengelolaan habitat perlu fokus pada menjaga kelembaban dan pH tanah—dua faktor kunci yang meningkatkan keanekaragaman pakan.
2. Kandang habituasi harus dilengkapi dengan struktur kompleks (berbagai lokasi makan) untuk memfasilitasi perilaku alami.
3. Program pelepasliaran perlu mempersiapkan individu untuk mengenali dan memburu beragam jenis pakan yang akan ditemui di alam.
4. Penelitian lanjutan tentang reproduksi dan perilaku di habitat alami sangat mendesak untuk pemahaman yang lebih komprehensif.
Shagir dkk. (2025) menegaskan bahwa pembinaan habitat tarsius makassar, terutama di area yang sudah terdegradasi, menjadi fokus utama dalam upaya konservasi. Pemulihan ekosistem dengan menggunakan jenis-jenis tumbuhan endemik adalah langkah strategis yang sangat baik. Selain itu, perlindungan terhadap vegetasi di sekitar habitat inti tarsius, terutama sarang, sangat penting dalam upaya perlindungan alaminya (Qiptiyah dkk., 2012).
Epilog: Pelajaran dari Mata Terbesar di Malam Hari
Tarsius makassar mengajarkan kita sesuatu yang sederhana namun dalam: keberagaman adalah kunci kelangsungan hidup. Di tengah hutan karst yang terjal dan terbatas, makhluk mungil ini bertahan bukan karena kekuatan, melainkan karena kemampuannya memanfaatkan beragam sumber daya—dan karena ekosistem yang masih menyediakan pilihan yang cukup.
Ketika kita kehilangan satu spesies serangga, kita kehilangan satu menu. Ketika kita menebang satu pohon, kita kehilangan satu tempat berburu. Ketika kita menggunakan pestisida, kita mengosongkan meja makan sang pemburu senyap.
Di mata tarsius yang besar itu, tergambar seluruh ekosistem yang menopangnya. Dan di tangan kitalah, nasib mata itu—dan semua yang tergambar di dalamnya—akan ditentukan.
"Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS. Hud: 6)
Sumber: Kama Jaya Shagir, Supardi, Aswadi Hamid, & Syamsuddin – Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Daftar Pustaka
Aji, R. N., Sumarda, R., & Arita, T. A. (2019). Keanekaragaman Jenis Serangga Nokturnal di Kawasan Deudap Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar. Prosiding Seminar Nasional Biologi, Teknologi dan Kependidikan, 6(1).
Alikodra, H. S. (1990). Pengelolaan Satwa Liar (Jilid I). Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Institut Pertanian Bogor.
Andriyani, A. A., Nugraha, R., & Marliana, S. N. (2021). Distribution and characteristics of the Makassar tarsius Tarsius fuscus fischer, 1804 sleeping nest in the tropical primary and secondary forests of South Sulawesi. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 948(1), 012034.
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (BTNBABUL). (2025, November 11). Surat Nomor ND.77/Kajian Ilmiah dan Usulan Penetapan Tarsius Makassar sebagai Satwa Dilindungi. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Bumbugan, N., Annawaty, A., & Duma, Y. (2017). Keragaman Pakan Tarsius (Tarsius wallacei, Merker., et al, 2010) di Lebanu, Marawola, Sigi, Sulawesi Tengah. Biocelebes, 11(2).
Fu, C., Liu, Z., Xu, D., Gan, T., Deng, X., Zhang, H., & Zhuo, Z. (2025). Influence of Temperature, Humidity, and Photophase on the Developmental Stages of Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae) and Prediction of Its Population Dynamics. Insects, 16(4), 355.
IUCN. (2020). The IUCN Red List of Threatened Species: Tarsius fuscus. https://www.iucnredlist.org/species/162369593/162369616
Mustari, A. H., Amnur, N. A., & Kartono, A. P. (2015). Karakteristik Habitat Preferensial Tarsius (Tarsius fuscus) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Media Konservasi, 20(1).
Niemitz, C. (1984). Tarsiers. In D. Macdonald (Ed.), The Encyclopedia of Mammals (pp. 338-339). Facts on File.
Putri, I. A. S. L. P. (2018). Palatabilitas Kupu-Kupu (Lepidoptera: Nymphalidae dan Papilionidae) Sebagai Pakan Tarsius fuscus di Penangkaran. Prosiding Seminar Nasional Biologi dan Pembelajarannya, Universitas Negeri Medan.
Putri, I. A. S. L. P., Saad, M., & Ansari, F. (2019). Keragaman Vegetasi Tebing Karst yang Menjadi Habitat Tarsius Makassar (Tarsius fuscus Fischer, 1804) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Bioma: Jurnal Biologi Makassar, 4(1), 88-98.
Qiptiyah, M., Broto, B. W., & Setyawati, T. (2012). Perilaku Harian Tarsius Dalam Kandang Di Patunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 1(2), 74-86.
Rizieq, I. M. (2026). Keanekaragaman Pakan Potensial dan Perilaku Makan Tarsius Makassar (Tarsius fuscus) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. [Skripsi]. UIN Alauddin Makassar.
Shagir, K. J., Hamid, A., Hendra & Syamsuddin. (2025). Dinamika Populasi Tarsius Makassar (Tarsius fuscus, Fischer 1804) Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Tahun 2011 – 2025. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Shagir, K. J., Supardi, Hamid, A., & Syamsuddin. (2026). Perilaku Harian Tarsius Makassar (Tarsius fuscus) dalam Kandang Suaka Tarsius Makassar, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung: Analisis Rekaman CCTV pada Area Kotak Pakan. Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar, Balai TN Bantimurung Bulusaraung.
Sinaga, W., Wirdateti, Iskandar, E., & Pamungkas, J. (2009). Pengamatan habitat, pakan dan sarang Tarsius (Tarsius sp.) wilayah sebaran di Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Jurnal Primatologi Indonesia, 6(2), 41-47.
Supriatna, J. (2019). Field Guide to the Primates of Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
- Kamis, 20 Agu 2026
- 1.002x Dilihat