Minggu, 23 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Saat Papan Permainan Masuk Ruang Konservasi di Sumenep

Sumenep, 21 Agustus 2026. Konservasi tidak selalu harus dibicarakan di tengah hutan. Tidak pula harus dimulai dengan istilah ilmiah yang sulit dipahami. Di Sumenep, pesan tentang menjaga satwa liar justru bergerak dari petak ke petak sebuah papan permainan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah IV, Kamis (20/8), menggelar Visit to School di SDTQ Insan Permata Mulia, Sumenep. Bersama komunitas pecinta reptil Kabupaten Sumenep dan Pamekasan, Parking dan Resume, sebanyak 24 siswa kelas III diajak memasuki dunia konservasi dengan cara yang dekat dengan usia mereka melihat, bertanya, bermain, lalu memahami. Pengenalan dimulai dari hal paling sederhana. Siapa BBKSDA Jawa Timur dan apa yang dikerjakannya? Tugas konservasi yang biasanya terdengar rumit diterjemahkan melalui bahasa anak-anak. Mereka kemudian diajak membedakan satwa liar dengan satwa peliharaan, mengenali ciri dan perannya di alam, memahami mengapa beberapa jenis satwa dilindungi, hingga melihat bahwa satwa liar di sekitar rumah pun memiliki hak untuk tetap hidup. Dari Takut Menjadi Ingin Tahu Ular, kadal dan iguana kemudian membawa suasana kelas menjadi berbeda. Reptil dipilih sebagai salah satu media pengenalan karena kelompok satwa ini kerap berhadapan dengan persepsi negatif. Ular, misalnya, sering lebih dahulu ditakuti sebelum dikenali. Di sinilah edukasi mengambil peran. Anak-anak diperkenalkan kepada reptil dengan pendekatan yang aman dan menyenangkan. Bukan untuk menghilangkan kewaspadaan terhadap satwa liar, melainkan menumbuhkan pemahaman bahwa setiap satwa mempunyai karakter dan perannya dalam ekosistem. Sebab rasa takut yang tidak disertai pengetahuan dapat berubah menjadi tindakan yang merugikan satwa. Sebaliknya, mengenal dapat menjadi pintu pertama untuk menghargai. Mengapa Ular Tangga? Setelah mengenal satwa, anak-anak diajak bermain “Ular Tangga Konservasi”. Pemilihan papan permainan atau board game ini bukan tanpa alasan. Ular tangga merupakan permainan sederhana yang telah akrab dengan dunia anak. Aturannya mudah dipahami, melibatkan interaksi, menghadirkan rasa penasaran, dan membuat setiap peserta aktif menunggu perjalanan menuju petak berikutnya. Kali ini, petak-petak itu membawa pesan konservasi. Naik tangga bukan sekadar keberuntungan. Di dalam permainan disisipkan pengetahuan dan perilaku baik terhadap alam. Sebaliknya, perjalanan turun dapat menjadi pengingat bahwa tindakan manusia juga dapat membawa konsekuensi bagi satwa dan habitatnya. Dengan cara itu, pesan konservasi tidak hanya didengar, tetapi dimainkan. Kuis dan hadiah semakin menghidupkan kelas. Anak-anak yang aktif bertanya dan menjawab mendapat apresiasi. Ruang belajar pun berubah menjadi ruang percakapan, tempat rasa penasaran terhadap satwa tidak dipadamkan, tetapi diberi jawaban. Menanam Sebelum Memanen Tidak ada populasi satwa yang bertambah hari itu. Tidak ada hektare habitat yang langsung terselamatkan. Namun konservasi memang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang dapat dihitung pada hari yang sama. Ada pekerjaan lain yang jauh lebih panjang yaitu bagaimana menanam sebuah cara pandang. Anak-anak yang hari ini belajar bahwa ular tidak selalu harus dibunuh. Bahwa satwa liar berbeda dengan hewan peliharaan, dan bahwa setiap makhluk mempunyai peran di alam, kelak akan tumbuh menjadi generasi yang menentukan bagaimana alam diperlakukan. Itulah mengapa sebuah board game sederhana mendapat tempat dalam pendidikan konservasi. Karena untuk anak-anak, pesan yang terlalu panjang mungkin akan terlupakan. Tetapi pengalaman bermain, melihat satwa dari dekat, berani bertanya dan menemukan jawabannya dapat tinggal jauh lebih lama dalam ingatan. Hari itu, dari sebuah ruang kelas di Sumenep, konservasi memilih cara yang sederhana untuk berbicara kepada generasi berikutnya. Tidak dengan meminta mereka langsung menyelamatkan alam, tetapi dengan mengajak mereka mengenalnya terlebih dahulu. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dari Pesisir Jember ke Panggung Nasional, Putra Lestari Menjaga Napas Nusa Barung

Jakarta, 21 Agustus 2026. Dari pesisir selatan Jember, kabar baik itu datang hingga panggung nasional. Kerja panjang para nelayan yang selama bertahun-tahun ikut menjaga salah satu pulau terluar di selatan Jawa akhirnya mendapat pengakuan. Pokmaswas Putra Lestari, kelompok binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), ditetapkan sebagai Pemenang II Penghargaan Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Sekitar KSA/KPA/TB Tahun 2026. Bersama kelompok, Rachmad Abidin, S.Hut., Penyuluh Kehutanan BBKSDA Jawa Timur yang selama ini menjadi pendamping, juga memperoleh penghargaan atas perannya dalam mengawal tumbuhnya kemandirian kelompok. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, bersama Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, pada puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, 20 Agustus 2026, di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta. Perjalanan Menuju Panggung Itu Tidak Singkat Sebanyak 27 kelompok dari 17 UPT KSDAE dan satu UPTD Tahura diusulkan sebagai calon penerima penghargaan. Setelah melalui pencermatan, penelaahan dan penilaian, enam kelompok dengan peringkat tertinggi menjalani verifikasi lapangan. Tim penilai tidak hanya melihat kegiatan dan bukti dukung, tetapi juga menelusuri peran pendamping sebagai bagian dari validasi keberhasilan kelompok. Hasilnya menempatkan Pokmaswas Putra Lestari dari Desa Kepanjen, Kecamatan Gumuk Mas, Kabupaten Jember, sebagai Pemenang II tingkat nasional dengan Rachmad Abidin, S.Hut. sebagai pendamping. Berawal dari Kegelisahan Nelayan Putra Lestari bukan kelompok yang lahir dari ruang rapat. Ia tumbuh dari kegelisahan. Kelompok yang berdiri pada 2019 itu berangkat dari keprihatinan masyarakat terhadap kelestarian Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, terutama terhadap habitat penyu dan kekayaan satwa liar yang hidup di pulau yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia tersebut. Sebanyak 23 anggota Putra Lestari seluruhnya adalah nelayan. Laut menjadi sumber penghidupan mereka. Namun kedekatan dengan alam perlahan membawa mereka pada kesadaran lain, bahwa alam yang memberi kehidupan juga membutuhkan manusia untuk menjaganya. Bersama petugas BBKSDA Jawa Timur, mereka terlibat dalam patroli perlindungan dan pengamanan kawasan, SMART Patrol, monitoring satwa, penyelamatan hingga pelepasliaran satwa liar. Dalam pengamanan Nusa Barung, masyarakat menjadi bagian penting untuk memberikan informasi sekaligus mendeteksi lebih dini potensi ancaman dan gangguan terhadap keutuhan kawasan. Jejak keterlibatan masyarakat bahkan telah tumbuh sebelum kelompok terbentuk secara formal. Dalam inventarisasi penyu tahun 2015, tercatat perjumpaan langsung maupun tidak langsung dengan 23 penyu hijau, aktivitas bertelur dengan 1.401 butir telur, serta estimasi populasi induk sebanyak 465 ekor pada tahun tersebut. Pada monitoring rusa timor tahun 2023, keterlibatan kelompok bersama petugas kembali menjadi bagian dari pengumpulan data lapangan. Berdasarkan kamera jebak, estimasi populasi rusa timor di SM Pulau Nusa Barung saat itu mencapai 646 ekor, dengan proporsi area hunian yang terpantau sebesar 89 persen. Saat Konservasi Menyentuh Dapur Menjaga alam tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang-orang yang tinggal paling dekat dengannya. Karena seluruh anggota Putra Lestari menggantungkan hidup sebagai nelayan, perubahan musim dan kondisi laut turut menentukan penghasilan keluarga. Pendampingan kemudian dikembangkan tidak hanya pada aspek perlindungan kawasan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi. Melalui dukungan BBKSDA Jawa Timur, kelompok memperoleh pelatihan budidaya ternak serta bantuan kandang dan 15 ekor kambing etawa. Pada 2026, jumlah tersebut tercatat berkembang menjadi 30 ekor. Budidaya kambing dipilih sebagai alternatif penghidupan ketika musim angin barat membuat sebagian nelayan tidak dapat melaut. Di titik inilah konservasi menemukan wajahnya yang lebih utuh. Menjaga satwa, menjaga habitat, sekaligus memastikan masyarakat yang berada di garis terdepan konservasi tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan sejahtera. Pendamping yang Memilih Berjalan Bersama Di balik perjalanan Putra Lestari, ada proses pendampingan yang tidak selalu terlihat. Bagi Rachmad Abidin, S.Hut., keberhasilan pendampingan bukan ketika masyarakat terus bergantung kepada penyuluh, tetapi ketika kelompok tumbuh menjadi semakin mandiri dan menjadikan konservasi sebagai bagian dari kesadarannya sendiri. “Tugas pendamping bukan membuat masyarakat berjalan di belakang kita, tetapi berjalan bersama mereka sampai suatu saat mereka mampu melangkah dengan kekuatannya sendiri. Putra Lestari membuktikan bahwa nelayan tidak hanya menggantungkan hidup dari alam, tetapi juga bisa menjadi penjaga bagi alam yang menghidupi mereka. Penghargaan ini milik mereka, milik orang-orang yang tetap menjaga Nusa Barung bahkan ketika tidak ada panggung dan tidak ada yang melihat,” ujar Rachmad. Peran itu sejalan dengan perjalanan Putra Lestari yang menjadi mitra dalam memberikan informasi mengenai potensi, ancaman maupun gangguan di SM Pulau Nusa Barung. Bagi Rachmad, penghargaan nasional justru membawa tanggung jawab baru: memastikan semangat kelompok tidak berhenti ketika seremoni selesai. “Setelah ini tugas kami tetap sama, tetap menjaga agar semangat itu tidak berhenti bersama seremoni. Sebab ukuran keberhasilan pendampingan bukan berapa banyak penghargaan yang diterima, tetapi ketika masyarakat tetap memilih menjaga alam meskipun tidak sedang dinilai,” imbuhnya. Dari Pesisir, untuk Nusa Barung Tanggal 20 Agustus 2026 menjadi satu penanda perjalanan itu. Dari sebuah kelompok nelayan di Desa Kepanjen, Gumuk Mas, Jember, Putra Lestari berdiri di panggung nasional menerima penghargaan pada puncak HKAN 2026. Namun panggung nasional bukan tujuan terakhir. Selepas seremoni, mereka akan kembali ke Jember. Kembali kepada perahu dan gelombang. Kembali menyusuri pantai, membaca jejak satwa, mengikuti patroli, dan menjaga sebuah pulau yang dipisahkan laut dari kehidupan sehari-hari mereka. Sebab konservasi sesungguhnya tidak selalu berlangsung di bawah sorot kamera. Ia sering tumbuh dari langkah-langkah kecil orang biasa yang memilih tetap peduli. Dari pesisir Jember mereka berangkat. Di panggung nasional kerja mereka dihargai. Namun di Nusa Barung-lah cerita sesungguhnya akan terus dilanjutkan. Menjaga satwa. Menjaga kehidupan. Menjaga napas Nusa Barung. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor)
Baca Artikel

Membuka Catatan Lapangan PEH Indonesia, Sarasehan PEH 2026

Jakarta, 21 Agustus 2026. Di balik sebuah catatan lapangan, tersimpan lebih dari sekadar angka, koordinat, nama jenis, atau peta. Ada pengalaman, tantangan, inovasi, dan keputusan yang lahir dari mereka yang bekerja langsung membaca perubahan hutan Indonesia. Semangat itulah yang mengemuka dalam Sarasehan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Tahun 2026, bagian dari rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 di Gedung Serbaguna Taman Margasatwa Ragunan – Jakarta, 21 Agustus 2026. Mengangkat tema “Membuka Catatan Lapangan PEH Indonesia”, sarasehan menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kapasitas, jejaring, dan profesionalisme PEH dari berbagai daerah di Indonesia. Rohmat Marzuki, S.Hut., Wakil Menteri Kehutanan, menegaskan bahwa tantangan kehutanan yang semakin kompleks membutuhkan PEH yang tidak berhenti sebagai tenaga teknis. PEH dituntut adaptif terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu bekerja lintas bidang, membangun kolaborasi, serta menjadikan data sebagai dasar analisis dan pengambilan keputusan. “PEH bukan hanya pelaksana kegiatan teknis. PEH adalah penghubung antara kebijakan dan implementasi, antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan, serta antara upaya pelestarian ekosistem dengan kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan,” tegasnya Ruang kerja PEH sendiri membentang pada enam bidang utama kehutanan, mulai perencanaan kehutanan dan tata lingkungan, konservasi sumber daya alam dan ekosistem, pengelolaan DAS dan hutan lindung, pengelolaan hutan produksi lestari, pengendalian perubahan iklim, hingga perhutanan sosial dan kemitraan lingkungan. Kompleksitas tersebut melahirkan sebuah analogi menarik dalam sambutan Wakil Menteri Kehutanan. “Ibarat Avatar, Pengendali Ekosistem Hutan harus bisa mengendalikan lima unsur, yaitu tanah, air, udara, api, dan manusia.” imbuhnya Pesannya sederhana, tetapi menggambarkan tantangan PEH hari ini. Menjaga hutan tak lagi cukup hanya memahami pohon dan satwa. Seorang PEH harus mampu membaca bentang alam, perubahan iklim, kebakaran, dinamika sosial, teknologi, hingga kepentingan manusia yang saling bertemu dalam satu ekosistem. Karena itu, profesionalisme PEH juga terus bergerak mengikuti zaman. Teknologi informasi, drone, drone termal, SMART Patrol, sistem digital dan berbagai instrumen analisis menjadi bagian dari kerja kehutanan modern. Data tidak cukup hanya dikumpulkan, tetapi harus diolah menjadi pengetahuan, rekomendasi, dan solusi bagi pengelolaan hutan. Sarasehan PEH 2026 pada akhirnya bukan sekadar pertemuan profesi. Ia menjadi ruang untuk membuka pengalaman yang selama ini tersimpan di berbagai catatan lapangan dan mengubahnya menjadi pengetahuan bersama. “Jadikan setiap catatan lapangan bukan hanya sebagai dokumentasi pekerjaan, tetapi sebagai sumber pengetahuan, bahan evaluasi, inspirasi inovasi, dan warisan pembelajaran bagi generasi Pengendali Ekosistem Hutan berikutnya,” pesannya menutup sambutan. Sebab catatan lapangan seorang PEH seharusnya tidak berakhir di meja kerja atau lemari arsip. Ketika dibuka dan dibagikan, catatan itu menjadi pengetahuan. Ketika pengetahuan diterjemahkan menjadi tindakan, di sanalah masa depan hutan Indonesia ikut dijaga. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Alam Dimulai dari Layar, BBKSDA Jatim Raih Anugerah Konservasi Alam 2026

Jakarta, 21 Agustus 2026. Menjaga alam hari ini tak selalu dimulai dari langkah kaki di dalam hutan. Kadang, ia dimulai dari layar telepon genggam, ketika sebuah kunjungan direncanakan, kuota dikendalikan, dan jumlah manusia yang memasuki kawasan konservasi dapat dipantau. Upaya itulah yang mengantarkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) meraih Anugerah Konservasi Alam Tahun 2026, pada puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Kamis (20/8). Penghargaan diberikan untuk Kategori Penerapan Aplikasi E-Ticketing “Ayo Ke Taman Nasional”, sebuah bentuk transformasi pelayanan publik yang sekaligus memperkuat tata kelola kawasan konservasi. Bagi BBKSDA Jawa Timur, digitalisasi bukan semata memindahkan loket tiket ke layar gawai. Di balik sistem tersebut terdapat kepentingan yang jauh lebih besar, mengatur bagaimana manusia memasuki ruang hidup alam tanpa melampaui batas yang mampu ditanggungnya. Melalui sistem e-ticketing, masyarakat memperoleh kemudahan dalam merencanakan kunjungan secara lebih praktis dan transparan. Pada saat yang sama, pengelola memiliki instrumen untuk memantau jumlah pengunjung, mengendalikan kuota, memperkuat administrasi penerimaan negara, sekaligus menjaga agar aktivitas wisata tidak berkembang menjadi tekanan baru bagi ekosistem. Pada titik inilah teknologi menemukan makna konservasinya. Sebab kawasan konservasi bukan sekadar destinasi yang harus ramai dikunjungi. Ia adalah ruang hidup tumbuhan dan satwa liar, bentang alam yang memiliki keterbatasan, serta sistem ekologis yang harus tetap bekerja bahkan setelah wisatawan meninggalkan kawasan. Penghargaan yang diterima pada momentum HKAN 2026 tersebut juga menjadi buah kerja banyak orang. Ada petugas yang berhadapan langsung dengan pengunjung, pengelola kawasan yang menjaga daya dukung, hingga aparatur di balik meja yang memastikan administrasi, kepegawaian, pelaporan, dan operasional organisasi berjalan sebagaimana mestinya. Konservasi memang sering terlihat dari apa yang terjadi di lapangan. Namun keberhasilannya juga ditentukan oleh banyak tangan yang bekerja dalam hening dibelakangnya. Karena itu, Anugerah Konservasi Alam 2026 bukanlah garis akhir. Penghargaan ini justru menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi harus terus ditempatkan untuk melayani tujuan yang lebih besar: memastikan masyarakat semakin dekat dengan alam tanpa membuat alam kehilangan ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Pada akhirnya, teknologi boleh terus berubah. Namun tujuan konservasi tetap sama, untuk memastikan alam yang kita nikmati hari ini masih memiliki kesempatan untuk hidup esok hari. Sumber: Indah Permatasari & Fajar Dwi Nur Aji dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dunia Maya Bereaksi, Sungai Kolbu Mengingatkan Kita tentang Batas!

Probolinggo, 21 Agustus 2026. Hanya perlu beberapa menit rekaman untuk membuat sebuah mata air di tengah bentang alam Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang menjadi percakapan banyak orang. Dua orang pendaki terekam melakukan aktivitas mandi di aliran Mata Air Sungai Kolbu atau di Cagar Alam Sungai Kolbu, dekat Sabana Cikasur, Sabtu (15/8). Video tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Dalam sejumlah unggahan disebutkan keduanya diduga menggunakan sabun meski telah mendapat teguran dari pendaki lain. Rekaman itu segera memantik reaksi. Kritik, kecaman, hingga desakan pemberian sanksi memenuhi ruang digital. Namun di balik riuh komentar tersebut, ada pesan yang jauh lebih penting, bahwa Sungai Kolbu bukan sekadar tempat mengambil air dalam perjalanan menuju puncak. Ia adalah bagian dari ekosistem yang harus dijaga. Air yang Tidak Hanya Mengalir untuk Manusia Di bentang alam Dataran Tinggi Yang, air adalah nadi kehidupan. Alirannya menopang vegetasi, mikroorganisme, satwa liar, dan berbagai proses ekologis yang sering luput dari pandangan manusia. Bagi pendaki, air mungkin berarti pelepas dahaga. Bagi alam, air berarti kehidupan. Karena itulah terdapat batas yang harus dihormati. Aktivitas mandi, mencuci, terlebih penggunaan sabun atau bahan pencemar lainnya pada sumber air, bukan sekadar persoalan etika pendakian. Ia menyentuh prinsip dasar konservasi tentang memanfaatkan alam tanpa mengurangi hak kehidupan lain yang bergantung kepadanya. BBKSDA Jawa Timur telah merespons kejadian tersebut dengan melakukan penelusuran dan identifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat. Langkah ini diperlukan agar informasi yang berkembang di ruang publik dapat diverifikasi secara utuh dan setiap tindak lanjut dilakukan secara objektif, proporsional, serta berdasarkan ketentuan yang berlaku. Penanganan peristiwa ini tidak hanya diarahkan kepada dua orang yang terekam dalam video. BBKSDA Jawa Timur juga akan menelusuri rombongan perjalanan dan pihak penyelenggara atau operator open trip, apabila berdasarkan hasil klarifikasi diketahui pendakian tersebut merupakan bagian dari kegiatan yang dikelola secara komersial. Penelusuran dapat mencakup kepatuhan terhadap prosedur pendakian, perizinan atau administrasi yang dipersyaratkan, tanggung jawab ketua rombongan maupun penyelenggara perjalanan. Hingga sejauh mana peserta telah mendapatkan pembekalan mengenai aturan memasuki kawasan konservasi. Apabila ditemukan pelanggaran, BBKSDA Jawa Timur dapat mengambil langkah secara bertahap dan proporsional sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut dapat berupa pemanggilan dan klarifikasi, pembinaan, pernyataan tanggung jawab, evaluasi akses pendakian, hingga tindakan administratif lain apabila berdasarkan hasil pemeriksaan memang terdapat dasar untuk melakukannya. Bagi penyelenggara open trip, kejadian ini juga menjadi momentum evaluasi. Membawa orang memasuki kawasan konservasi bukan hanya persoalan menjual paket perjalanan, menyediakan transportasi, atau mengantar peserta mencapai puncak. Ada tanggung jawab konservasi yang ikut dibawa di dalam setiap perjalanan bahwa “Kawasan Konservasi Bukan Ruang Tanpa Batas” Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa peristiwa Sungai Kolbu harus menjadi pembelajaran bersama, bukan hanya bagi kedua pendaki tersebut, tetapi juga komunitas pendakian dan penyelenggara perjalanan wisata alam. “Kami tidak ingin persoalan ini berhenti pada siapa dua orang yang ada di dalam video. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa ketika seseorang memasuki kawasan konservasi, ada aturan dan batas yang harus dihormati. Alam bukan ruang tanpa batas. Pendaki maupun penyelenggara open trip memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan aktivitasnya tidak merusak ekosistem yang mereka datangi,” tambahnya. Menurutnya, BBKSDA Jawa Timur akan mengedepankan langkah yang terukur, edukatif, tetapi tetap tegas berdasarkan hasil klarifikasi dan ketentuan yang berlaku. “Kami akan melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Jika perjalanan tersebut difasilitasi oleh penyelenggara open trip, tentu akan kami telusuri pula tanggung jawab penyelenggaranya. Konservasi bukan hanya urusan petugas. Siapa pun yang membawa orang masuk ke kawasan konservasi harus ikut memastikan peserta memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.” tegasnya Pesannya sederhana, bahwa mendaki bukan hanya tentang kesiapan fisik mencapai puncak, tetapi juga kesiapan etika ketika memasuki rumah bagi kehidupan lain. Apresiasi kepada Mereka yang Memilih Peduli Di tengah derasnya reaksi dunia maya, ada satu hal yang patut mendapatkan tempat yaitu kepedulian. BBKSDA Jawa Timur menyampaikan apresiasi kepada pendaki yang telah mengingatkan di lapangan, pihak yang mendokumentasikan kejadian, akun yang pertama kali mengunggahnya hingga menjadi perhatian publik, serta warganet dan komunitas pendaki yang memilih tidak diam. Tanpa kepedulian itu, mungkin Sungai Kolbu akan kembali mengalir seperti biasa, sementara sebuah tindakan yang tidak semestinya terjadi di kawasan konservasi berlalu tanpa pernah menjadi pelajaran. Media sosial kali ini menunjukkan wajah lainnya. Bukan sekadar ruang memamerkan perjalanan menuju puncak, tetapi juga dapat menjadi ruang pengawasan sosial bagi alam yang kita jaga bersama. Namun kepedulian tetap harus berjalan bersama etika. Tidak diperlukan persekusi, penghinaan, ataupun penghakiman berlebihan terhadap individu yang bersangkutan. Berikan ruang kepada petugas untuk melakukan klarifikasi dan kepada mereka yang terlibat untuk menunjukkan itikad baik serta mempertanggungjawabkan tindakannya. Mendaki Bukan Berarti Memiliki Gunung mengajarkan manusia bahwa tidak semua tempat yang dapat didatangi boleh diperlakukan sesuka hati. Ada mata air yang cukup dinikmati kejernihannya. Ada hutan yang cukup dilewati tanpa meninggalkan jejak. Ada satwa yang cukup diamati dari kejauhan. Dan ada kawasan konservasi dengan batas-batas yang harus dihormati. Karena perjalanan ke alam liar sesungguhnya bukan tentang seberapa tinggi kita mampu mendaki. Ia tentang seberapa kecil jejak yang kita tinggalkan ketika pulang. Sungai Kolbu mungkin tidak dapat berbicara. Tetapi melalui kejadian ini, pesannya terdengar jauh melampaui lembah Argopuro. Datanglah sebagai tamu. Hormati batasnya. Ambil pengalaman dan tinggalkan alam tetap sebagaimana mestinya. Kepada dua pendaki dan pihak penyelenggara perjalanan yang mungkin terkait, BBKSDA Jawa Timur membuka ruang bagi itikad baik, klarifikasi, dan tanggung jawab. Sebab tujuan konservasi bukan semata-mata mencari siapa yang harus dihukum. Tujuan terbesarnya adalah memastikan mata air tetap jernih, kawasan tetap terjaga, dan kesalahan yang sama tidak kembali terulang. Puncak boleh menjadi tujuan perjalanan, tetapi pulang tanpa meninggalkan kerusakan adalah pencapaian yang sesungguhnya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Jatim Lepasliarkan Trenggiling dan Sanca Bodo

Banyuwangi, 20 Agustus 2026. Seekor Trenggiling, Manis javanica, dan seekor Ular Sanca bodo, Phyton bivitatus, dilepasliarkan ke habitat alaminya di kawasan Hutan Lindung Perum Perhutani BKPH Licin, KPH Banyuwangi Barat, 18 Agustus 2026. Kedua satwa dilindungi tersebut sebelumnya diserahkan oleh masyarakat ke Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Beberapa hari sebelumnya, seorang warga Desa Ketapang bernama Moh. Yanto menyerahkan satu individu Sanca Bodo Tim Matawali - Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi. Selang beberapa hari, Kanit Reskrim Polsek Genteng, Ocky Heru Prasety, juga menyerahkan seekor Trenggiling. Tim Matawali setelah menerima penyerahan satwa tersebut segera melakukan pemeriksaan kondisi satwa. Hasil pemeriksaan menunjukkan satwa dalam kondisi sehat dan perilaku yang masih sangat agresif. Ini indikator penting untuk kelayakan pelepasliaran. Trenggiling dan Ular Sanca bodo termasuk dalam satwa liar yang dilindungi undang – undang berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. BBKSDA Jatim sangat mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat yang secara sukarela menyerahkan satwa langka ini, serta sinergi lintas lembaga yang mempercepat proses penyelamatan dan pelepasliaran satwa kembali ke alam bebas. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah III Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tarsius Makassar: Makan Malam Sang Pemburu Senyap

Tarsius makassar, pengendali serangga, penjaga keseimbangan ekosistem – Foto: Kamajaya Shagir Maros, Agustus 2026 – Senja mulai turun di atas hamparan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Di balik rimbunnya rumpun bambu duri dan celah-celah tebing karst (hutan bukit batu kapur), sepasang mata besar mulai terbuka. Inilah tarsius makassar (Tarsius fuscus), primata terkecil di dunia yang hanya bisa ditemukan di ujung selatan Semenanjung Sulawesi. Dengan berat tubuh 113–133 gram (Supriatna, 2019) dan mata sebesar otaknya sendiri, makhluk nokturnal ini memulai ritual malam yang telah berlangsung selama jutaan tahun: berburu. Namun, apa sebenarnya yang tersaji di “meja makan” sang pemburu senyap? Dan bagaimana ia menjalankan strategi berburunya di tengah hutan karst yang terjal? Sebuah penelitian terbaru (Rizieq, 2026) mengungkap tabung waktu keanekaragaman pakan dan perilaku makan tarsius makassar—sebuah jendela untuk memahami bagaimana makhluk mungil ini bertahan di salah satu ekosistem paling unik di dunia. Menghitung Hidangan: Dari Capung hingga Kadal Selama dua bulan pengamatan intensif pada Agustus–September 2025 di dua lokasi kunci—Site Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus) di Pattunuang dan Site Bantimurung—peneliti menemukan sesuatu yang mengejutkan: ketersediaan pakan di habitat alami tarsius makassar sangatlah kaya dan beragam (Rizieq, 2026). Secara keseluruhan, peneliti mengidentifikasi sekitar 16 ordo, 47 familia, dan 97 spesies pakan potensial dengan total 1.099 individu di kedua lokasi. Jumlah ini mencakup hampir seluruh spektrum kehidupan malam di hutan karst: dari serangga bersayap hingga vertebrata kecil yang merayap (Rizieq, 2026). Di Site Bantimurung, peneliti mencatat 99 spesies dari 1.216 individu—angka yang lebih tinggi dibandingkan Site Suaka Tarsius Makassar dengan 95 spesies dan 981 individu (Rizieq, 2026). Perbedaan ini menunjukkan bahwa kompleksitas habitat—mulai dari struktur vegetasi hingga keberadaan sumber air—sangat menentukan “kekayaan menu” yang tersedia bagi sang predator (Mustari dkk., 2015). Jangkrik, belalang, dan kumbang menjadi primadona. Namun daftar panjangnya mencakup capung yang melesat di atas aliran sungai, laba-laba yang diam-diam merentangkan jaringnya, kupu-kupu nokturnal yang beterbangan di bawah sinar rembulan, bahkan kadal kecil, burung kecil, dan mamalia kecil yang lengah (Rizieq, 2026). Kandungan nutrisi yang tinggi pada kelompok-kelompok serangga tersebut turut menjelaskan preferensi ini: Bumbugan dkk. (2017) melaporkan bahwa Orthoptera memiliki kandungan protein sebesar 69,32%, Lepidoptera sebesar 66,51%, dan Coleoptera sebesar 41,98%—nilai yang menjadikan mereka sumber energi utama bagi Tarsius makassar dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya di alam liar. Pesta di Tengah Karst: Indeks Ekologi yang Menjanjikan Bagaimana keseimbangan “menu” ini? Penelitian menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H')—alat statistik yang mengukur kekayaan dan pemerataan spesies dalam suatu komunitas. Hasilnya menghadirkan kabar baik: nilai indeks berkisar antara 2,97 hingga 3,82, yang masuk dalam kategori sedang hingga tinggi (Rizieq, 2026). Artinya, di kedua lokasi penelitian, tidak ada satu atau dua spesies pakan yang mendominasi secara berlebihan. Komunitas pakan tersebar relatif merata—sebuah indikasi ekosistem yang sehat dan stabil. Nilai Indeks Keseragaman (E) yang berkisar 0,81–0,90 meneguhkan temuan ini: komunitas pakan berada dalam kondisi stabil, tidak tertekan oleh dominansi satu spesies tertentu (Rizieq, 2026). Sementara itu, Indeks Dominansi (C) yang rendah (0,03–0,06) menunjukkan bahwa tidak ada “raja” tunggal di antara para mangsa. Semua berbagi panggung— dan piring—secara relatif adil. Ketika Lingkungan Berbisik: Apa yang Mempengaruhi Menu Malam? Faktor lingkungan ternyata memainkan peran penting dalam menentukan siapa saja yang hadir di “meja makan” tarsius. Analisis, Canonical Correspondence Analysis (CCA) mengungkapkan pola yang menarik (Rizieq, 2026): 1. Suhu udara, intensitas cahaya, dan kecepatan angin berasosiasi dengan dominansi komunitas pakan—kelompok serangga tertentu cenderung mendominasi saat kondisi ini tinggi. 2. Sebaliknya, kelembaban udara dan pH tanah berperan dalam meningkatkan keanekaragaman dan keseragaman pakan. Fu dkk. (2025) menjelaskan bahwa kelembaban yang lebih tinggi meningkatkan tingkat menetas telur dan survival larva pada Lepidoptera, sehingga kondisi mikroklimat yang lembap dapat meningkatkan kelimpahan kelompok ini di habitat alami. Andriyani dkk. (2021) melaporkan bahwa tarsius makassar lebih banyak ditemukan bersarang di hutan primer dengan tutupan kanopi yang rapat dan intensitas cahaya rendah. Meskipun demikian, kelembaban udara tidak menunjukkan perbedaan signifikan antar tipe habitat, sehingga kedua jenis hutan—primer maupun sekunder—dianggap memiliki kesesuaian ekologis yang setara bagi tarsius. Di Site Suaka Tarsius Makassar, Stasiun 3 (dekat kebun) menunjukkan asosiasi kuat dengan suhu dan cahaya tinggi—mencerminkan dominansi serangga aktif di area terbuka. Sementara Stasiun 2 (dekat sungai) lebih lembap dan mendukung keanekaragaman jenis yang lebih tinggi (Rizieq, 2026). Pola serupa ditemukan di Site Bantimurung, di mana kelembaban di Stasiun 2 (dekat sungai) menjadi faktor kunci. Pesan moralnya: menjaga kelembaban hutan dan keseimbangan pH tanah bukan sekadar soal ekologi—ini adalah kunci untuk memastikan “menu” tarsius tetap kaya dan beragam. Strategi Berburu Sang Pemburu Senyap Namun, ketersediaan pakan di alam hanyalah setengah cerita. Bagaimana tarsius makassar merespons dan memproses makanannya? Pengamatan perilaku makan di kandang habituasi selama satu pekan penuh—dengan bantuan CCTV yang merekam setiap gerakan—mengungkapkan pola yang menarik (Rizieq, 2026). Tarsius menunjukkan tujuh jenis perilaku makan yang berurutan (Rizieq, 2026): 1. Mengamati pakan (17,15%) 2. Mendekati pakan (17,11%) 3. Mengambil pakan (12,92%) 4. Melumpuhkan pakan (12,92%) 5. Memasukkan pakan ke mulut (12,92%) 6. Kembali ke tenggeran (14,19%) 7. Mengunyah pakan (12,80%) Rizieq (2026) merinci bahwa tarsius mengamati pakan dari jarak jauh di tempat tenggeran sebelum mendekati kotak pakan. Shagir dkk. (2026) mengonfirmasi bahwa perilaku makan di area kotak pakan diawali dengan gerakan mendekat perlahan dan pengamatan sebelum melompat ke kotak pakan. Pola serupa juga diamati oleh Qiptiyah dkk. (2012), yang menyatakan bahwa perilaku makan tarsius di kandang didahului oleh aktivitas berburu, baik melalui melompat maupun berjalan pelan, sebelum menangkap mangsa. Yang menarik, frekuensi tertinggi perilaku makan terjadi pada awal dan akhir periode malam—sekitar pukul 18.00–19.00 dan 03.00–06.00 (Rizieq, 2026). Ini bukan kebetulan. Pola bimodal ini mencerminkan sinkronisasi dengan ritme sirkadian: Tarsius mengisi energi setelah tidur siang dan mengakumulasi cadangan sebelum beristirahat panjang di siang hari (Alikodra, 1990). Pola aktivitas ini juga selaras dengan ketersediaan mangsa di alam. Sinaga dkk. (2009) mencatat bahwa tarsius mudah dideteksi melalui vokalisasi pada pagi dan sore hari—periode yang bertepatan dengan transisi aktivitas serangga nokturnal. Sementara itu, Aji dkk. (2019) melaporkan bahwa serangga nokturnal memiliki kemampuan visual yang beradaptasi terhadap kondisi cahaya rendah, sehingga mereka tetap aktif dan mudah dijumpai pada malam hari. Kondisi ini mendukung tingginya frekuensi perilaku pencarian dan konsumsi pakan tarsius pada periode malam (Rizieq, 2026). Fleksibilitas di Tengah Keterbatasan: Adaptasi Cerdas Tarsius Di dalam kandang habituasi, tarsius makassar menunjukkan strategi makan yang fleksibel dan cerdas (Rizieq, 2026; Shagir dkk., 2026): 1. Pakan berukuran kecil (serangga) dimakan langsung—terkadang di dalam box pakan, terkadang dibawa ke area tenggeran. 2. Pakan berukuran besar (burung kecil, kadal) terlebih dahulu dilumpuhkan dengan gigitan, lalu dibawa ke tempat aman untuk dikonsumsi. Yang lebih menarik: tarsius makassar tidak pernah menyentuh pakan nabati (buah, daun, bunga) yang diberikan selama penelitian (Rizieq, 2026). Niemitz (1984) menjelaskan bahwa tarsius sesekali menggigit dedaunan tetapi mereka tidak benar-benar memakannya. Sering ditemui sejumlah kecil jaringan tumbuhan dalam kandungan perutnya, diduga berasal dari isi perut serangga atau binatang yang dimakannya. Hal ini menegaskan bahwa tarsius adalah karnivora obligat—ia sama sekali tidak mengonsumsi tumbuhan sebagai sumber makanan utama, tidak seperti primata lainnya. Shagir dkk. (2026) mencatat bahwa lokasi makan pun bervariasi: besi kandang, box pakan, pinggiran box pakan, lantai kandang, dan ranting pohon buatan. Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa tarsius mampu menyesuaikan strategi makannya secara dinamis terhadap lingkungan—sebuah kemampuan adaptif yang penting untuk bertahan di habitat yang terus berubah. Ancaman di Balik Keberagaman Meskipun keanekaragaman pakan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tergolong baik, ancaman nyata membayangi sang primata mungil. Tarsius makassar saat ini berstatus “Rentan” (Vulnerable) dalam Daftar Merah IUCN (IUCN, 2020). Ancaman utama datang dari hilangnya habitat akibat perambahan hutan untuk pertambangan, perkebunan, pertanian, dan pemukiman (Shagir dkk., 2025). Menurut Shagir dkk. (2025), penggunaan pestisida di area pertanian juga menurunkan populasi serangga—yang berarti mengurangi “menu” tarsius. Perburuan dan gangguan dari aktivitas wisata (seperti panjat tebing dan api unggun) semakin menekan keberadaan mereka (Putri dkk., 2019). Shagir dkk. (2025) melaporkan bahwa penggunaan pestisida yang berdampak penurunan populasi serangga sebagai pakan utama tarsius makassar juga mempengaruhi populasinya. Penelitian Putri (2018) juga menunjukkan bahwa aktivitas wisata seperti panjat tebing dapat berdampak negatif pada vegetasi yang tumbuh di jalur panjatan, yang merupakan habitat penting bagi tarsius. Yang mengkhawatirkan: meskipun statusnya “Rentan” menurut IUCN (2020), nama spesies ini secara mengejutkan hilang dari daftar satwa dilindungi nasional Indonesia yang diperbarui berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Celah hukum ini bisa menjadi pintu masuk bagi perdagangan ilegal dan eksploitasi yang lebih luas. Oleh karena itu, usulan untuk menetapkan kembali tarsius makassar sebagai satwa dilindungi dalam regulasi nasional telah diajukan oleh Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Usulan ini didasarkan pada bukti ilmiah dan hukum yang kuat, mengingat statusnya sebagai spesies endemik dengan sebaran terbatas, kerentanan habitat akibat tekanan antropogenik, serta ketidakpastian taksonomis yang menuntut penerapan prinsip kehati-hatian (precautionary principle). Penetapan ulang status perlindungan ini dinilai penting untuk menjamin kelestarian spesies, menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis Sulawesi, serta memperkuat komitmen Indonesia dalam konvensi keanekaragaman hayati global (BTNBABUL, 2025) Konservasi: Menjaga Meja Makan Tetap Tersaji Temuan penelitian ini memberikan peta jalan bagi upaya konservasi (Rizieq, 2026): 1. Pengelolaan habitat perlu fokus pada menjaga kelembaban dan pH tanah—dua faktor kunci yang meningkatkan keanekaragaman pakan. 2. Kandang habituasi harus dilengkapi dengan struktur kompleks (berbagai lokasi makan) untuk memfasilitasi perilaku alami. 3. Program pelepasliaran perlu mempersiapkan individu untuk mengenali dan memburu beragam jenis pakan yang akan ditemui di alam. 4. Penelitian lanjutan tentang reproduksi dan perilaku di habitat alami sangat mendesak untuk pemahaman yang lebih komprehensif. Shagir dkk. (2025) menegaskan bahwa pembinaan habitat tarsius makassar, terutama di area yang sudah terdegradasi, menjadi fokus utama dalam upaya konservasi. Pemulihan ekosistem dengan menggunakan jenis-jenis tumbuhan endemik adalah langkah strategis yang sangat baik. Selain itu, perlindungan terhadap vegetasi di sekitar habitat inti tarsius, terutama sarang, sangat penting dalam upaya perlindungan alaminya (Qiptiyah dkk., 2012). Epilog: Pelajaran dari Mata Terbesar di Malam Hari Tarsius makassar mengajarkan kita sesuatu yang sederhana namun dalam: keberagaman adalah kunci kelangsungan hidup. Di tengah hutan karst yang terjal dan terbatas, makhluk mungil ini bertahan bukan karena kekuatan, melainkan karena kemampuannya memanfaatkan beragam sumber daya—dan karena ekosistem yang masih menyediakan pilihan yang cukup. Ketika kita kehilangan satu spesies serangga, kita kehilangan satu menu. Ketika kita menebang satu pohon, kita kehilangan satu tempat berburu. Ketika kita menggunakan pestisida, kita mengosongkan meja makan sang pemburu senyap. Di mata tarsius yang besar itu, tergambar seluruh ekosistem yang menopangnya. Dan di tangan kitalah, nasib mata itu—dan semua yang tergambar di dalamnya—akan ditentukan. "Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS. Hud: 6) Sumber: Kama Jaya Shagir, Supardi, Aswadi Hamid, & Syamsuddin – Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Daftar Pustaka Aji, R. N., Sumarda, R., & Arita, T. A. (2019). Keanekaragaman Jenis Serangga Nokturnal di Kawasan Deudap Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar. Prosiding Seminar Nasional Biologi, Teknologi dan Kependidikan, 6(1). Alikodra, H. S. (1990). Pengelolaan Satwa Liar (Jilid I). Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Institut Pertanian Bogor. Andriyani, A. A., Nugraha, R., & Marliana, S. N. (2021). Distribution and characteristics of the Makassar tarsius Tarsius fuscus fischer, 1804 sleeping nest in the tropical primary and secondary forests of South Sulawesi. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 948(1), 012034. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (BTNBABUL). (2025, November 11). Surat Nomor ND.77/Kajian Ilmiah dan Usulan Penetapan Tarsius Makassar sebagai Satwa Dilindungi. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Bumbugan, N., Annawaty, A., & Duma, Y. (2017). Keragaman Pakan Tarsius (Tarsius wallacei, Merker., et al, 2010) di Lebanu, Marawola, Sigi, Sulawesi Tengah. Biocelebes, 11(2). Fu, C., Liu, Z., Xu, D., Gan, T., Deng, X., Zhang, H., & Zhuo, Z. (2025). Influence of Temperature, Humidity, and Photophase on the Developmental Stages of Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae) and Prediction of Its Population Dynamics. Insects, 16(4), 355. IUCN. (2020). The IUCN Red List of Threatened Species: Tarsius fuscus. https://www.iucnredlist.org/species/162369593/162369616 Mustari, A. H., Amnur, N. A., & Kartono, A. P. (2015). Karakteristik Habitat Preferensial Tarsius (Tarsius fuscus) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Media Konservasi, 20(1). Niemitz, C. (1984). Tarsiers. In D. Macdonald (Ed.), The Encyclopedia of Mammals (pp. 338-339). Facts on File. Putri, I. A. S. L. P. (2018). Palatabilitas Kupu-Kupu (Lepidoptera: Nymphalidae dan Papilionidae) Sebagai Pakan Tarsius fuscus di Penangkaran. Prosiding Seminar Nasional Biologi dan Pembelajarannya, Universitas Negeri Medan. Putri, I. A. S. L. P., Saad, M., & Ansari, F. (2019). Keragaman Vegetasi Tebing Karst yang Menjadi Habitat Tarsius Makassar (Tarsius fuscus Fischer, 1804) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Bioma: Jurnal Biologi Makassar, 4(1), 88-98. Qiptiyah, M., Broto, B. W., & Setyawati, T. (2012). Perilaku Harian Tarsius Dalam Kandang Di Patunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 1(2), 74-86. Rizieq, I. M. (2026). Keanekaragaman Pakan Potensial dan Perilaku Makan Tarsius Makassar (Tarsius fuscus) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. [Skripsi]. UIN Alauddin Makassar. Shagir, K. J., Hamid, A., Hendra & Syamsuddin. (2025). Dinamika Populasi Tarsius Makassar (Tarsius fuscus, Fischer 1804) Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Tahun 2011 – 2025. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Shagir, K. J., Supardi, Hamid, A., & Syamsuddin. (2026). Perilaku Harian Tarsius Makassar (Tarsius fuscus) dalam Kandang Suaka Tarsius Makassar, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung: Analisis Rekaman CCTV pada Area Kotak Pakan. Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar, Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Sinaga, W., Wirdateti, Iskandar, E., & Pamungkas, J. (2009). Pengamatan habitat, pakan dan sarang Tarsius (Tarsius sp.) wilayah sebaran di Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Jurnal Primatologi Indonesia, 6(2), 41-47. Supriatna, J. (2019). Field Guide to the Primates of Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Baca Artikel

Masuki Rumah Warga, Satwa Ini Akhirnya Dilepasliarkan

Pacitan, 20 Agustus 2026. Pak Suro benar-benar tidak menyangka, bahwa satwa yang masuk ke dalam rumahnya malam itu adalah seekor satwa yang dilindungi undang-undang, Trenggiling (Manis javanica). Warga Dusun Ngambar, Desa Kalikuning, Kec. Tulakan, Kab. Pacitan itupun keesokan harinya menyerahkannya ke Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Resort Konservasi Wilayah 05, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), melalui Animal Rescue Pacitan, 18 Agustus 2026. Selanjutnya tim Matawali melakukan pemeriksaan terhadap terhadap kondisi satwa. Hasilnya satwa seberat 3 kg terlihat cukup sehat dan menunjukkan perilaku yang masih sangat agresif. Menurut Ganes Pramundito, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda, kondisi satwa yang agresif menjadi indikator penting untuk kelayakan pelepasliaran Trenggiling. "Setelah berkoordinasi dengan Perhutani RPH dan BKPH Pacitan, kami sepakat memilih kawasan hutan lindung sebagai lokasi pelepasliaran," tambah Ganes. Proses pelepasliaran dilakukan secara kolaboratif antara BBKSDA Jatim, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Pacitan, dan Perhutani BKPH Pacitan di RPH Pacitan – BKPH Pacitan. Lokasi pelepasliaran dicatat sebagai pedoman dalam pemantauan, dimana pada titik lokasi ditentukan secara ekologis masih mendukung keberlangsungan hidup satwa nokturnal ini. BBKSDA Jatim mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat Desa Kalikuning yang secara sukarela menyerahkan satwa langka ini, serta sinergi lintas lembaga yang mempercepat proses penyelamatan dan pelepasliaran satwa kembali ke alam bebas. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Hikmatnya Upacara Kemerdekaan RI di Taman Hidup, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang

Probolinggo, 17 Agustus 2026. Pagi itu, didinginnya kabut yang menyelimuti tenda dan danau Taman Hidup, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, tak dapat membekukan hati para rimbawan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) untuk melangkah mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Diiringi riuh dan merdunya suara burung-burung, kaki yang bergetar, tangan yang terselip di saku, dan hembusan nafas yang mengepulkan asap, pasukan kecil yang dipimpin langsung Kepala BBKSDA Jatim, Nur Patria Kurniawan perlahan sampai di tepian danau kehidupan Argopuro. Bersamanya ada anggota PLN Paiton, komunitas ojek argopuro, Mahapena FE-UNEJ, Orari, jurnalis, warga sekitar, pendaki, seniman, dan komunitas lainnya turut menyambut peringatan kemerdekaan negeri tercinta. Dalam sambutannya, Kepala BBKSDA Jatim mengatakan bahwa upacara kemerdekaan ini sangat spesial karena dapat dilaksanakan di Taman Hidup - Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. “Saya berterima kasih kepada masyarakat yang turut hadir dan mendukung kegiatan ini, karena masyarakat adalah yang mempunyai kawasan ini, kita diamanahi untuk menjaganya, tapi merekalah yang sebenarnya yang incgarge di sini yang mendapat manfaat dan sekaligus juga mendapat akibat apabila tidak dilaksanakan pengelolaan dengan baik,” ujarnya. Momen kemerdekaan ini digunakan BBKSDA Jawa Timur untuk melakukan aksi pembersihan sampah dan memperbaiki jembatan di danau Taman Hidup. Jembatan tersebut sangat membantu para pengunjung dalam mengambil air untuk wudhu, masak, dan kebutuhan lainnya. “Ini adalah aksi dari BBKSDA Jawa Timur Untuk Indonesia,” tutup Nur Patria. Malam sebelumnya, telah dilaksanakan terlebih dahulu renungan kemerdekaan bersama para peserta yang hadir. Selain itu juga digelar dialog bersama dan potong tumpeng serta makan bersama. Pada kesempatan tersebut, Nur Patria Kurniawan memberikan potongan tumpeng kepada Remon Tambora pegiat konservasi senior di Argopuro. Mengakhiri kegiatan, turut diresmikan kembali jembatan Taman Hidup yang telah selesai diperbaiki. Harapannya, para pengunjung dapat ikut menjaga keberadaan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang dengan membawa turun kembali sampah yang dibawa saat pendakian. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra (Polhut Ahli Muda) dan Agus Irwanto – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Di Ketapang, Sanca Bodo Menemukan Manusia yang Memilih Peduli

Banyuwangi, 18 Agustus 2026. Pertemuan manusia dengan ular berukuran besar tak selalu harus berakhir dengan ketakutan atau kematian. Di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, seekor Sanca Bodo (Python bivittatus) justru bertemu dengan manusia yang memilih peduli. Moh. Yanto, warga Desa Ketapang, Selasa (11/8), menyerahkan satu individu Sanca Bodo dalam kondisi hidup kepada Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) - Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timu (BBKSDA Jatim). Pilihan sederhana itu memiliki arti penting. Alih-alih memelihara, menyakiti, atau mengambil tindakan yang dapat membahayakan satwa, sanca tersebut diserahkan kepada petugas untuk mendapatkan penanganan yang semestinya. Tim Matawali kemudian membawa satwa dari Desa Ketapang menuju kandang transit Kantor Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi. Jenis kelamin sanca belum diketahui dan selanjutnya akan dilakukan penanganan sesuai kondisi satwa. Sanca bodo merupakan bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Sebagai predator, keberadaannya memiliki peran dalam rantai makanan dan keseimbangan ekosistem. Namun ketika ruang hidup satwa bersinggungan dengan aktivitas manusia, perjumpaan seperti ini dapat terjadi. Di titik itulah konservasi tidak selalu berbicara tentang hutan yang jauh atau operasi penyelamatan berskala besar. Terkadang, konservasi hadir melalui keputusan seseorang saat berhadapan langsung dengan satwa liar. Apa yang dilakukan Moh. Yanto di Ketapang menjadi contoh kecil tentang bagaimana manusia dapat mengambil pilihan berbeda, tidak menguasai, tidak menyakiti, tetapi memberi kesempatan kehidupan liar untuk tetap hidup. Sebab hidup berdampingan dengan satwa liar bukan berarti tanpa perjumpaan. Yang menentukan adalah bagaimana manusia memilih bersikap ketika perjumpaan itu terjadi. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Luis Figo Yang Jenaka, Saat Gadingnya Tersangkut Potongan Pohon

Momen pasrah Luis Figo saat menunggu tim penyelamat datang Medan, Agustus 2026. Merawat gajah remaja biasanya penuh dengan kejutan. Selalu menyajikan panggung cerita yang tak pernah kehabisan lakon. Di usia remaja, rasa ingin tahu mereka sedang berada dipuncaknya, dipadu dengan energi yang tak habis-habis dan tingkah polos yang sering kali bikin elus dada. Namun, dari sekian banyak momen keusilan yang pernah terjadi, sore itu menjadi hari yang paling membekas. Gajah jantan remaja kesayangan kami di ANECC yang bernama Luis Figo, berhasil menciptakan sebuah drama konyol yang tak akan pernah kami lupakan seumur hidup. Mulanya, saat Luis Figo sedang asik bermain sendirian, suasana disekitar area bermainnya masih terasa tenang. Namun, ketenangan itu tiba-tiba mendadak pecah mendengar suara teriakan dari seekor gajah, melengking dari kejauhan. Bunyinya beda dari biasanya, ada nada panik dan cemas yang pekat. Mendengar jeritan itu, saya berkata kepada sesama rekan mahout, Rahmadan, “itu suara Luis Figo kan Don..?”. “Kayaknya iya bang…”, jawab Rahmadan singkat. Jeritan itu memancing emosi saya, dada saya langsung berdesir. Tanpa berpikir panjang, kami berlari secepat mungkin menembus semaksemak menuju sember suara. Sesampainya di lokasi, langkah kami terhenti seketika. Antara kaget, kasihan, dan ingin tertawa mendadak campur aduk menjadi satu. Di depan saya, Luis Figo berdiri mematung dengan ekspresi paling pasrah. Seumur-umur baru ini yang pernah saya lihat dari sikap kepasrahan Luis Figo. Rupanya, karena keasyikan “berkelakar” dan mengamuk ala gajah remaja, tanpa disadari, kedua gadingnya tertancap erat pada dua buah potongan kayu sejenis hariman/palm hutan. Gading yang tertancap di kayu tersebut sepertinya terlalu erat/kuat, sehingga membuat Luis Figo sulit untuk bergerak. Wajah kepanikan seolah-olah berkata “Tolong, aku salah prediksi…” Melihat kondisi Luis Figo yang tak berdaya, saya segera menepi dan mengabaikan pertanyaanpertanyaan gundah gulana yang ada di pikiran, tentang bagaimana kejadian absurb ini bisa terjadi. Yang paling krusial saat itu adalah melakukan tindakan membebaskannya sebelum Luis Figo stress atau terluka. Jujur, rasa panik pun menyerang, namun saya berusaha menenangkan diri sejenak. “Don coba hubungin teman-teman”, sedikit perintah kepada Madon (panggilan akrab Rahmadan). Dengan sigap Madon merogoh kantongnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi tim. Tak butuh waktu lama, bala bantuan pun tiba. Pak Sabirin Pardosi (Mahout Senior), Rahmadan(Mahout), Aidil Adha Harahap (Mahout), Bayu Irawan (Mahout) dan Yopi Widianto (Mahout), menyaksikan kondisi dan posisi gading Luis Figo. Kami berenam langsung menyusun strategi. Untuk membebaskan/melepaskan gading gajah dari potongan pohon tidak bisa asal tarik, butuh ekstra kehati-hatian agar tidak menimbulkan cidera, dan menghindari Luis Figo dari kepanikan. Kami bergotong-royong mencoba memutar, mengikis, dan menarik potongan kayu yang menempel pada gading tersebut. Sesekali Pak Sabirin Pardosi, selaku mahout senior, menyuapkan nenas ke dalam mulut Luis Figo, untuk mengalihkan perhatiannya. Keringat bercucuran dan tenaga terkuras habis. Butuh waktu kurang lebih satu jam sampai akhirnya potongan kayu berhasil dipisahkan dari gadingnya. Setelah gading terbebas/terlepas, Luis Figo melahap rumput yang disediakan sebelumnya. Suasana yang semula tegang dan penuh emosi, tiba-tiba menjadi cair. Tawa kami pun akhirnya lepas di tengah keheningan hutan. Luis Figo yang tadinya juga tegang dan kaku, kini bisa menggerakkan kepalanya lagi dengan bebas. “Besok-besok jangan diulang lagi ya, Luis!” seru kami beramai-ramai sambil tertawa melepas lelah. Seolah-olah paham dengan apa yang kami ucapkan, Luis Figo menatap kami sejenak, lalu menganggukkan kepalanya pelan, seakan berucap “Siap, terima kasih banyak, om-om semua…” Selanjutnya, tanpa rasa bersalah, gajah jantan muda ini pun langsung balik kanan, berjalan santai menuju sumber pakan rumput alami, dan langsung melahap makanannya seakan-akan tidak pernah terjadi drama gading tersangkut satu jam sebelumnya. Kejadian hari itu kembali mengingatkan kami mendampingi gajah remaja memang butuh kesabaran ekstra. Tapi di balik semua kerepotannya, tingkah jenaka mereka selalu punya cara untuk menghadirkan tawa dan kehangatan di hati kami. Sumber : Ilham Pasaribu, staf Resort ANECC – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tujuh Tahun Menanti, Dermaga Taman Hidup Kembali Berdiri

Probolinggo, 19 Agustus 2026. Di tepian Danau Taman Hidup, sebuah dermaga kayu kembali berdiri. Bukan bangunan megah, tetapi di tengah sunyi hutan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, dermaga itu menyimpan cerita tentang manusia yang datang, menikmati alam, lalu memilih kembali untuk merawatnya. Terakhir mendapat sentuhan perbaikan pada 2019 melalui keterlibatan komunitas Semanggi Alas, waktu dan cuaca pegunungan perlahan meninggalkan jejak. Kayu menua, beberapa bagian mulai rapuh, dan akses menuju dermaga membutuhkan pembenahan. Tujuh tahun kemudian, momentum Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia menjadi penanda dimulainya kembali kerja bersama itu. Pada rangkaian kegiatan 13–17 Agustus 2026, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama masyarakat sekitar kawasan bergotong royong membangun kembali dermaga Danau Taman Hidup. Tukang dari Desa Kalianan, ojek dan pelaku wisata alam Bermi, serta petugas BBKSDA Jawa Timur mengambil perannya masing-masing. Kerja bersama itu mendapat dukungan dari Asuransi Kita Bisa, mitra yang telah menjalin kerja sama dengan BBKSDA Jawa Timur selama kurang lebih dua tahun. Dukungan material kayu diberikan untuk membantu pembenahan dermaga tersebut, sebuah bentuk kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, mitra, dan masyarakat dalam kerja nyata bagi kawasan konservasi. Atap seng dermaga diganti. Kayu meranti sepanjang empat meter digunakan untuk memperkuat penyangga. Tangga menuju dermaga sepanjang kurang lebih 30 meter dengan lebar 1,2 meter turut diperbaiki. Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana. Namun di Taman Hidup, membawa setiap material melewati jalur pegunungan bukan perkara mudah. Ada tenaga, waktu, dan kebersamaan yang ikut dipikul menuju tepian danau. Bersamaan dengan pembangunan kembali dermaga, Mahapena Jember, relawan, dan petugas Resort Dataran Tinggi Yang juga bergerak membersihkan sampah di sepanjang jalur Baderan–Bermi. Sampah dikumpulkan dalam trash bag dan dibawa turun menuju Pos Bermi. Bagi Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., pembangunan kembali dermaga bukan semata memperbaiki sebuah fasilitas. Ada pesan konservasi yang jauh lebih penting di baliknya. “Dermaga Taman Hidup ini bukan sekadar fasilitas. Ia adalah bagian dari cara kita menata kehadiran manusia di dalam kawasan konservasi. BBKSDA Jawa Timur mendapat mandat untuk menjaga kawasan ini, tetapi kami tidak mungkin berjalan sendiri. Ada masyarakat, pelaku wisata, ojek, pecinta alam, dunia usaha, dan banyak pihak yang selama ini ikut merawat Taman Hidup,” ujarnya. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari pengelolaan kawasan. Mereka hidup berdampingan dengan hutan, mengenal jalurnya, sekaligus merasakan manfaat dari keberadaan kawasan ketika dikelola secara baik dan bertanggung jawab. Karena itu, kunjungan terbatas ke Taman Hidup tidak semata berbicara tentang membawa orang menikmati keindahan danau. Ada batas yang harus dihormati dan tanggung jawab yang harus dibawa pulang. Danau Taman Hidup berada di dalam Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Setiap aktivitas kunjungan harus tetap menempatkan perlindungan kawasan dan kelestarian ekosistem sebagai kepentingan utama. Pada 17 Agustus 2026, setelah Merah Putih dikibarkan di tepian Danau Taman Hidup, pemotongan pita oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur menandai penggunaan kembali dermaga tersebut. Peresmian itu sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Konservasi Alam Nasional 2026. “Momentum 81 tahun Indonesia merdeka kami maknai dengan kerja nyata. Kita memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, membersihkan apa yang selama ini tertinggal, dan mengingatkan kembali bahwa menikmati alam selalu diikuti tanggung jawab untuk menjaganya,” kata Nur Patria. Beliau kemudian menitipkan satu pesan yang menjadi ruh dari pembangunan kembali fasilitas tersebut. “Dermaga boleh kita bangun kembali, tetapi yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran bersama agar Taman Hidup tetap hidup.” Tujuh tahun setelah perbaikan sebelumnya, dermaga itu kini kembali berdiri. Di atas kayu-kayunya kelak akan kembali terdengar langkah manusia yang datang untuk menyaksikan tenangnya Danau Taman Hidup. Namun dermaga itu juga membawa pesan sederhana, bahwa alam tidak membutuhkan manusia untuk membuatnya indah. Manusialah yang membutuhkan kesadaran agar keindahan itu tidak hilang. Di jantung Argopuro, kemerdekaan akhirnya tidak hanya dirayakan dengan Merah Putih yang berkibar. Ia diwujudkan melalui tangan-tangan yang memungut sampah, bahu yang memikul material, kayu yang kembali disambung, dan kesediaan banyak orang untuk menjaga apa yang diwariskan alam kepada negeri ini. Sebab merdeka bukan hanya tentang memiliki. Merdeka juga tentang menjaga. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

HKAN 2026: Empat Elang Bondol Kembali Mengudara di Langit Bengkulu

Bengkulu, 9 Agustus 2026 — Semangat pelestarian alam mewarnai peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2026 di Provinsi Bengkulu. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu kembali melepasliarkan empat ekor Elang Bondol (Haliastur indus) bekerjasama dengan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia ke habitat alaminya sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HKAN 2026. Keempat elang yang dilepasliarkan terdiri dari satu ekor jantan dan tiga ekor betina. Dua ekor, yaitu Bindi (jantan) dan Azka (betina), dilepasliarkan di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai. Sementara itu, dua ekor lainnya, yaitu Aan (betina) dan Izu (betina), dilepasliarkan di kawasan TWA Danau Dendam Tak Sudah. Pelepasliaran ini menjadi bagian dari komitmen BKSDA Bengkulu dalam memastikan satwa liar yang telah menjalani proses perawatan dan rehabilitasi dapat kembali menjalankan perannya di alam. Kepala Balai KSDA Bengkulu, Agung Nugroho, S.Si., M.A., menyampaikan bahwa pelepasliaran satwa merupakan salah satu bentuk nyata upaya konservasi yang tidak hanya berorientasi pada penyelamatan individu satwa, tetapi juga pada keberlangsungan ekosistem. “Pelepasliaran ini menjadi momentum penting dalam rangka HKAN 2026. Empat Elang Bondol kita kembalikan ke habitat alaminya agar dapat menjalankan peran ekologisnya. Kami berharap masyarakat ikut menjaga dan memberikan ruang bagi satwa liar untuk hidup bebas di alam,” ujar Agung. Elang Bondol merupakan salah satu satwa liar yang memiliki peran penting dalam ekosistem. Sebagai burung pemangsa, keberadaannya turut menjaga keseimbangan rantai makanan dan menjadi bagian dari keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi. Pemilihan kawasan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai serta TWA Danau Dendam Tak Sudah sebagai lokasi pelepasliaran dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian habitat dan ketersediaan lingkungan yang mendukung kehidupan satwa. Pelepasliaran empat Elang Bondol ini juga menjadi pesan penting bahwa konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satwa, tetapi juga memastikan habitat tempat satwa tersebut kembali dapat terus terjaga. Melalui momentum HKAN 2026, BKSDA Bengkulu mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga hutan, kawasan konservasi, dan satwa liar. Hari ini Bindi, Azka, Aan, dan Izu kembali mengudara. Biarkan mereka hidup liar, bebas, dan menjadi bagian dari alam Bengkulu. Jaga Alam, Lindungi Satwa, Lestarikan Kehidupan. Sumber: BKSDA Bengkulu Narahubung: - Mariska Tarantona, S.Hut., M.Si. (Ka. Seksi KSDA Wil. II-BKSDA Bengkulu): +62 813-9029-9354 - Call Center Balai KSDA Bengkulu: +628117388100
Baca Artikel

HKAN 2026, BKSDA Bengkulu Tanam 200 Pohon di Kawasan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai

Kolaborasi Pemerintah, Organisasi Lingkungan, dan Mahasiswa Perkuat Upaya Konservasi Ekosistem Pesisir Bengkulu, 10 Agustus 2026— Semangat memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2026 diwujudkan melalui aksi nyata menjaga lingkungan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu melaksanakan kegiatan penanaman pohon di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai, Kota Bengkulu, Senin (10/8/2026). Kegiatan ini juga merupakan bagian dari aksi penanaman pohon yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Sebanyak 200 batang bibit pohon ditanam dalam kegiatan tersebut, terdiri dari 100 batang bibit ketapang dan 100 batang bibit mangrove. Penanaman dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga dan memperkuat fungsi ekologis kawasan konservasi, khususnya ekosistem pesisir. Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, antara lain membantu melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota, serta mendukung penyerapan dan penyimpanan karbon. Sementara itu, penanaman ketapang diharapkan dapat memperkuat tutupan vegetasi sekaligus mendukung penghijauan kawasan. Kegiatan tersebut turut dihadiri dan didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu, BPDAS Ketahun, mitra LSM dan mahasiswa. Kepala Balai KSDA Bengkulu Agung Nugroho, S.Si., M.A., menyampaikan bahwa penanaman pohon bukan sekadar kegiatan simbolis, tetapi merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan kawasan konservasi. “Konservasi tidak cukup hanya dengan menjaga kawasan, tetapi juga membutuhkan aksi nyata untuk memulihkan dan mempertahankan fungsi ekosistem. Penanaman pohon ini menjadi salah satu bentuk komitmen bersama dalam menjaga kawasan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai,”ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi berbagai pihak menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan. Keterlibatan pemerintah daerah, lembaga pengelola DAS, organisasi lingkungan, lembaga konservasi, hingga mahasiswa menunjukkan bahwa konservasi merupakan tanggung jawab bersama. Melalui momentum HKAN 2026, BKSDA Bengkulu mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadikan konservasi sebagai sebuah peringatan tahunan, tetapi sebagai gerakan bersama yang diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman 200 pohon di kawasan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai diharapkan menjadi langkah kecil dengan dampak besar bagi keberlanjutan ekosistem pesisir serta kehidupan generasi mendatang. Menanam hari ini, menjaga alam untuk masa depan. Sumber: Balai KSDA Bengkulu Narahubung: - Mariska Tarantona, S.Hut., M.Si. (Ka. Seksi KSDA Wil. II-BKSDA Bengkulu): +62 813-9029-9354 - Call Center Balai KSDA Bengkulu: +628117388100
Baca Artikel

7 Garuda Masih Mengepakkan Sayapnya di Langit Sigogor

Ponorogo, 19 Agustus 2026. Jauh di atas kanopi hutan, tujuh bayangan masih melintas. Berputar mengikuti arus udara, sesekali mengepakkan sayap, lalu menghilang di balik punggungan. Mereka bukan garuda dalam cerita atau lambang di dinding. Mereka adalah Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), sang garuda yang masih menjaga langit hutan Ponorogo. Survei Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada 11–16 Agustus 2026 mencatat sementara sedikitnya tujuh individu Elang jawa di Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor. Dengan metode point count, tim mencatat kehadirannya pada empat lokasi pengamatan: Blok Sangubanyu di Cagar Alam (CA) Gunung Picis, serta Sedayu, Blok Ngesep, dan Blok Sigombal di CA Gunung Sigogor. Catatan itu menjadi penting. Gunung Picis dan Gunung Sigogor, dengan luas kawasan keseluruhan sekitar 218,4 ha, merupakan salah satu lokasi monitoring Elang jawa di Jawa Timur. Dari bentang hutan inilah perubahan keberadaan dan dinamika populasinya terus dibaca dari waktu ke waktu. Survei juga memperlihatkan bahwa langit Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor bukan hanya milik Elang jawa. Tim mencatat kehadiran Elang hitam (Ictinaetus malayensis) dan Elang-ular bido (Spilornis cheela), melengkapi catatan keragaman burung pemangsa pada bentang alam tersebut. Namun, angka tujuh belum menjadi kesimpulan akhir. Survei lanjutan direncanakan pada minggu keempat Agustus 2026 untuk meningkatkan validitas data sekaligus memperoleh gambaran populasi yang lebih kuat. Sebab menghitung Elang jawa bukan semata menghitung berapa ekor yang terlihat terbang. Di balik setiap kepakan sayapnya tersimpan cerita tentang habitat, ketersediaan pakan, ruang hidup, dan keberlangsungan sebuah ekosistem. Hari itu, setidaknya ada tujuh yang terlihat. Tujuh garuda yang mengingatkan kita bahwa selama hutan Picis dan Sigogor tetap terjaga, harapan masih mempunyai sayap untuk terbang. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto - : Bidang KSDA Wilayah I Madiun, BBKSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kembali Penyelamatan Trenggiling, Kali Ini di Banyuwangi

Banyuwangi, 18 Agustus 2026. Masih hangat kisah seekor Trenggiling (Manis javanica) yang ditemukan menyeberang jalan untuk menyelamatkan diri dari pembakaran lahan bekas panen tebu di Blitar. Dari bentang alam yang berbeda, kabar tentang mamalia bersisik ini kembali datang. Kali ini dari Genteng, Banyuwangi. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) - Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Jumat (14/8), menerima penyerahan satu individu Trenggiling dalam kondisi hidup dari Ocky Heru Prasetyo, Kanit Reskrim Polsek Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Usai proses penyerahan, Trenggiling tersebut dibawa dari Mapolsek Genteng menuju kandang transit Kantor Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Jenis kelamin satwa belum diketahui. Peristiwa di Banyuwangi menjadi catatan berikutnya setelah Matawali - Balai Besar KSDA Jawa Timur menangani Trenggiling di Blitar. Dua individu dari bentang alam berbeda, dengan cerita penyelamatan yang berbeda pula. Namun keduanya mengingatkan satu hal, bahwa satwa liar hidup tidak jauh dari ruang yang juga digunakan manusia. Trenggiling merupakan salah satu mamalia unik Indonesia. Sisik keras yang menjadi pertahanan alaminya justru membuat satwa ini menghadapi ancaman perburuan dan perdagangan ilegal. Karena itu, setiap individu yang berhasil diselamatkan memiliki arti penting bagi upaya mempertahankan keberadaannya di alam. Penyerahan oleh jajaran Polsek Genteng juga menunjukkan bahwa perlindungan satwa liar bukan pekerjaan satu institusi saja. Namun, kepedulian masyarakat, aparat penegak hukum, dan petugas konservasi menjadi mata rantai penting agar satwa yang ditemukan dapat memperoleh penanganan yang tepat. Kini, perjalanan Trenggiling dari Genteng memasuki babak berikutnya. Kondisinya akan menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya. Dari Blitar hingga Banyuwangi, ceritanya mungkin berbeda. Namun pesannya tetap sama: ketika manusia memilih peduli, selalu ada kesempatan bagi satwa liar untuk kembali kepada alam. Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 1–16 dari 2.501 publikasi