Sabtu, 10 Okt 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Balai TN Kayan Mentarang Berpartisipasi Dalam Seminar Nasional Biologi 2026.

Malinau, Oktober 2026. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan pegawainya ikut berpartisipasi dalam Seminar Nasional Biologi Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Mulawarman dan Universitas Lambung Mangkurat dengan tema utama “Peluang dan Tantangan dalam Riset Konservasi Ekosistem Tropis” pada tanggal 1 Oktober 2026. Seminar tersebut dilaksanakan secara daring maupun luring terbuka untuk umum. Secara luring dilaksanakan bertempat di Gedung Science Learning Center (SLC) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman, Samarinda. Keikutsertaan secara langsung dari BTNKM yang dihadiri oleh Misoniman, S.H (Kepala Seksi PTN Wilayah III Long Ampung) dan Marsianus Marthin Rivaldy, S.Si (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama) merupakan bagian dari peningkatan kapasitas SDM ASN di bidang konservasi alam. Join Seminar Nasional Biologi 2026 tersebut merupakan rangkaian puncak untuk membahas tema utama “Peluang dan Tantangan dalam Riset Konservasi Ekosistem Tropis” dimana sebelumnya BTNKM ikutserta dalam berkontribusi sebagai pemakalah pada sub tema “Adaptasi Biologi, Etnobiologi tropis, Ekowisata pembangunan, dan Peran Sains” dengan judul makalah “Studi Etnobotani Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepo’ Jalan dalam Pemanfaatan Tumbuhan dan Hewan Untuk Pengobatan di Desa Long Ampung dan Desa Metulang”. Desa Long Ampung dan Desa Metulang merupakan desa penyangga sekitar kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang yang berada di Resor Apau Kayan SPTN Wilayah III Long Ampung. Makalah disusun oleh Marsianus Marthin Rivaldi, S.Si (Penulis Utama), Misoniman, S.H dan Jordan Mordekhai, S.H (Penulis Pendukung) berdasarkan riset yang telah dilakukan pada bulan Mei 2026 melalui wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap 20 informan dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data yang berhasil dikumpulkan berupa data kuantitatif kemudian diolah menggunakan rumus RFC (Relative Frequency of Citation), UV (Use Value), ICS (Index of Cultural Significance), dan FL (Fidelity Level). Upaya untuk mempublikasikan pemanfaatan tumbuhan dan hewan dalam pengobatan local masyarakat adat Suku Dayak Kenyah Lepo’ Jalan Desa Long Ampung dan Desa Metulang belum terpublikasikan secara spesifik, sehingga membuat peneliti/pemakalah melakukan riset lapangan. Data didapatkan sekitar 17 jenis tumbuhan dan 10 jenis hewan yang sering dimanfaatkan oleh mayarakat adat Dayak Kenyah Lepo’ Jalan. Jenis tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional berasal dari pekarangan rumah, hutan, ladang, dan tepi Sungai. Tumbuhan yang banyak dimanfaatkan dalam pegobatan tradisional diantaranya Kunyit (Curcuma longa), Krangean/Balangla (Litsea cubeba), Serai Merah (Cyombopogon nardus), dan Temulawak (Curcuma zanthorrhiza). Sedangkan hewan yang banyak dimanfaatkan diantaranya Ulat Kelatang/Sumpan (Fam.Cossidae), Ayam Kampung (Gallus gallus domesticus), Kelulut Beruang (Tetrigona binghami), Kelulut Hitam (Heterotrigona itama), Kelulut Kuning (Tetragonula melina), Kelulut Kuning Kepala Hitam (Tetragonula melanocephala), dan Lebah Madu Hutan (Apis dorsata). Dekan FMIPA Prof. Dr. Hj. Ratna Kusuma, M.Si dalam sambutannya menyebutkan menyampaikan apresiasi keterlibatan dalam Seminar Nasional Biologi 2026 dan pemakalah dari berbagai mahasiswa jurusan Biologi, peneliti, lembaga maupun instansi salah satunya yang berasal dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Keynote Speaker yang hadir dalam seminar tersebut diantaranya Prof.Dr. Hetty Manurung, S.Si, M.Si (FMIPA Unmul), Dr. Tri Atmoko, S.Hut, M.Si (Peneliti BRIN), Dr. Gary L. Shapiro (Orang Utan Republic Foundation), dan Prof. Dr. Catur Ratnaningdyah, M.Si (FSTM Univ.Brawijaya) Kepala Balai TNKM Seno Pramudito, S.Hut, ME mengatakan, “ASN perlu terus meningkatkan literasi dan riset ilmu pengetahuan dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang ada di sekitar maupun di dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang melalui berbagai upaya kegiatan di lapangan maupun pelatihan/bimbingan teknis, dan mempublikasikannya agar menjadi sumber informasi. Masih banyak yang perlu diungkapkan di Taman Nasional Kayan Mentarang tentang keanekaragaman hayatinya karena memiliki luas yang sangat besar sekira 1.271.665 Hektara melalui publikasi ilmiah” jelasnya. Seno menambahkan, data dan informasi Taman Nasional Kayan Mentarang yang sudah hampir 30 tahun (7 Oktober 2026) masih perlu didorong untuk terus dieksplorasi untuk mengungkap lebih banyak lagi data dan informasi yang mungkin belum banyak di ketahui oleh khalayak umum, misalnya saja dilakukan riset dengan melibatkan berbagai peneliti atau ahli dan mendorong untuk terus mempublikasikannya baik melalui jurnal ilmiah maupun dalam bentuk publikasi lainnya. “Dalam salah satu data yang didapatkan saat melakukan riset lapangan terkait etnobotani pemanfaatan tumbuhan dan hewan dalam pengobatan tradisional, Ulat Kelatang (Fam.Cossidae) atau Sumpan (dalam Bahasa Dayak Kenyah Lepo’ Jalan) menjadi hewan yang sering dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Ulat Kelatang ini biasanya didapatkan dari bekas-bekas perladangan berpindah yang ditumbuhi jenis pohon-pohon pioneer. Semua bagian Ulat Kelatang dimanfaatkan, mulai dari dagingnya hingga minyak yang berada dalam empedunya. Sampai dengan saat ini masih belum diketahui jenis serangganya. Sedangkan pohon yang menjadi inang Ulat Kelatang diperkirakan dari genus Syzygium (Fam. Myrtaceae/suku Jambu-Jambuan). Biasanya Ulat Kelatang dimanfaatkan untuk penyembuhan luka luar, sakit lambung/maag, mempercepat penyembuhan luka, mengatasi gatal-gatal. Ulat Kelatang memiliki potensi bioprospeksi untuk dikembangkan guna kebutuhan pengobatan dan mengetahui senyawa kimia yang terkandung didalamnya. Sebelumnya Ulat Kelatang juga sudah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional oleh Suku Dayak Lun Dayeh (Krayan) dan Suku Punan Tuvu’ (Sungai Tubu)” Jelasnya Misoniman. (*) Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Artikel

Sungai Kering, Warga Angkut Air dari Sumur Padamkan Api di Curah Manis

Sempat padam, namun api kembali membara pada pohon besar. Hingga malam, warga Sidomulyo bertahan menjaga api agar tidak merambat menuju lahan dan rumah mereka. Jember, 8 Oktober 2026.Sungai di dekat kawasan sedang tidak mengalirkan air. Sementara di dalam Cagar Alam Curah Manis Sempolan VIII, sebuah pohon besar kembali membara. Warga Desa Sidomulyo tak punya banyak pilihan. Air diangkut dari sumur mereka. Sedikit demi sedikit dibawa menuju lokasi kebakaran untuk menahan api agar tidak merambat lebih jauh. Peristiwa itu bermula pada 6 Oktober 2026. Berdasarkan informasi masyarakat, titik api pertama kali diketahui sekitar pukul 13.00 WIB. Kelompok Tani Hutan (KTH) bersama masyarakat bergerak melakukan pemadaman hingga api berhasil dikendalikan sekitar pukul 16.22 WIB. Namun rupanya api belum benar-benar selesai, sekitar pukul 18.45 WIB, bara kembali muncul pada sebuah pohon besar. Kondisi itu membuat masyarakat kembali bergerak. Kekhawatiran terbesar mereka adalah api merambat keluar dan mencapai lahan maupun rumah warga. Di tengah keterbatasan sumber air, masyarakat bergotong royong mengangkut air dari sumur karena sungai di dekat kawasan dalam kondisi kering. Penjagaan dan pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Keesokan harinya, 7 Oktober 2026, Resor KSDA Wilayah 13 BBKSDA Jawa Timur melakukan pengecekan sekaligus pemadaman lanjutan di lokasi. Asap sisa kebakaran masih terlihat pada sebuah pohon besar. Berdasarkan pemeriksaan awal, luas area yang terdampak diperkirakan sekitar 0,5 hektar. Kebakaran teridentifikasi sebagai kebakaran permukaan yang kemudian merambat pada pohon besar. Penyebabnya masih memerlukan pendalaman. Dugaan sementara mengarah pada bara api yang tertinggal berkaitan dengan aktivitas pencarian madu alam. Namun, karena belum ada kepastian mengenai penyebab maupun apakah bara tersebut ditinggalkan secara sengaja atau tidak sengaja, dugaan itu masih harus diperlakukan sebagai informasi awal, bukan kesimpulan. Peristiwa Curah Manis kembali menunjukkan satu karakter kebakaran hutan yang kerap mengecoh, api yang tidak terlihat belum tentu benar-benar mati. Bara dapat bertahan pada kayu atau pohon besar dan kembali membesar ketika kondisi memungkinkan. Karena itulah pemadaman tidak berhenti ketika nyala api menghilang. Pendinginan dan pemeriksaan ulang menjadi bagian penting setelahnya. Di Curah Manis, cerita itu terasa lebih nyata. Ketika sungai tak lagi menyediakan air, warga justru mengambilnya dari sumur dan membawanya menuju api. Mereka bertahan sampai malam bukan hanya untuk menjaga kawasan, tetapi juga melindungi lahan dan rumah mereka sendiri. Kebakaran hari itu mengingatkan bahwa dalam kebakaran hutan, pekerjaan belum selesai selama bara masih menyimpan panas. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menanam Air, Mengembalikan Kepak Sayap ke Hutan Trenggalek

Dua puluh pohon ditanam di sekitar mata air Pundensari. Pada hari yang sama, Paok Pancawarna dan tiga Gelatik Jawa hasil penyerahan warga kembali mengepakkan sayapnya ke alam. Trenggalek, 8 Oktober 2026. Ada yang ditanam agar kelak menaungi tanah. Ada pula yang dilepaskan agar kembali memenuhi langit. Selasa, 6 Oktober 2026, keduanya bertemu di Dusun Pundensari, Desa Gandusari, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek. Sebanyak 20 bibit beringin dan salam ditanam di sekitar mata air. Lokasi tersebut dipilih karena ketersediaan air diharapkan membantu bibit bertahan sekaligus memudahkan perawatan setelah penanaman. Tak jauh dari sana, empat burung menunggu giliran kembali ke alam. Satu individu Paok Pancawarna (Hydrornis guajanus) dan tiga individu Gelatik Jawa (Padda oryzivora) kemudian dilepasliarkan di kawasan lindung Perhutani. Keempatnya merupakan satwa hasil penyerahan sukarela masyarakat Trenggalek kepada petugas pada 2 Oktober 2026. Ketika kandang angkut dibuka, seluruh burung berhasil terbang dengan baik meninggalkan titik pelepasliaran. Bukan Sekadar Menanam Kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan undangan Perhutani KPH Kediri itu mempertemukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Polres Trenggalek, Perhutani KPH Kediri, Koramil, Forkopimcam Gandusari, kelompok tani hutan, serta masyarakat Desa Gandusari. Penanaman sengaja dilakukan di sekitar mata air. Bukan hanya agar bibit memperoleh cukup air pada fase awal pertumbuhannya. Kehadiran pohon juga membawa pesan sederhana tentang hubungan antara tutupan vegetasi dan ruang hidup yang perlu terus dijaga. Masyarakat tidak hanya terlibat pada lokasi kegiatan. Warga juga memperoleh bibit alpukat untuk ditanam secara mandiri. Dengan demikian, ada dua jenis manfaat yang mulai ditanam hari itu: pohon untuk menjaga bentang, serta tanaman buah yang dapat tumbuh bersama masyarakat. Dari Tangan Warga, Kembali ke Alam Cerita empat burung yang dilepas juga bermula dari masyarakat. Paok Pancawarna dan tiga Gelatik Jawa sebelumnya diserahkan secara sukarela oleh warga Trenggalek. Setelah melalui proses penanganan, satwa tersebut memperoleh kesempatan kembali ke alam. Perhutani KPH Kediri dan Polres Trenggalek pun mengapresiasi kolaborasi dengan BBKSDA Jawa Timur serta mendorong kerja bersama dalam pelestarian keanekaragaman hayati, termasuk penyelamatan dan pelepasliaran satwa liar. Pemandangan di Pundensari hari itu akhirnya mempertemukan dua bentuk konservasi dalam satu tempat. Yang satu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh. Yang lainnya hanya membutuhkan beberapa detik untuk menghilang di balik pepohonan. Beringin dan salam mulai menancapkan akar di dekat mata air. Paok pancawarna dan gelatik jawa kembali membawa sayapnya ke alam. Karena menjaga kehidupan tidak selalu dilakukan dengan cara yang sama. Ada yang harus kita tanam. Ada yang harus kita rawat. Dan ketika waktunya tiba, ada yang harus kita relakan kembali menjadi liar. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

60 Generasi Muda Sumatera Utara Rumuskan Aksi Nyata untuk Ketahanan Hutan

Medan, 6 Oktober 2026 — Sebanyak 60 generasi muda menghasilkan gagasan inovasi dan rencana aksi untuk memperkuat ketahanan hutan, keanekaragaman hayati, serta mitigasi bencana melalui rangkaian Forest Youthverse Resilience Summit (FYV Resilience Summit) Wilayah Sumatera Utara yang digelar Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Badan P2SDM), bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, pada 2–3 Oktober 2026. Mengusung tema “Youth for Biodiversity Resilience: Generasi Muda Bergerak, Kekayaan Alam Terjaga”, kegiatan tersebut menghasilkan 12 tim inovasi yang mempresentasikan gagasan melalui Forest Innovation Pitching, setelah peserta menjalani pembelajaran langsung di TWA Sibolangit, mengenal upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan bersama Manggala Agni, mengikuti simulasi pemadaman, serta mengembangkan gagasan berdasarkan kerangka State–Pressure–Response (SPR). Rangkaian pembelajaran tersebut kemudian diperkuat melalui Forest Innovation Workshop, Forest Ideas Cafe, Voices from Youthverse, dan Forest Youth Commitment, yang mendorong peserta tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menerjemahkannya menjadi gagasan, jejaring, dan komitmen untuk mengambil peran dalam pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati. Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat, 2 Oktober 2026 melalui Action Day di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Melalui kunjungan ke TWA Sibolangit, peserta mendapatkan pembekalan mengenai flora dan fauna yang terdapat di kawasan konservasi tersebut. Materi disampaikan oleh Kepala Resort CA/TWA Sibolangit, Jazmi Anditya Wicaksono, bersama tim. Melalui edukasi lapangan, peserta diajak mengenal langsung keanekaragaman hayati TWA Sibolangit, memahami karakteristik kawasan konservasi, serta melihat pentingnya menjaga ekosistem hutan. Setelah kegiatan di TWA Sibolangit, peserta melanjutkan kunjungan ke Manggala Agni Daops I Sibolangit untuk mendapatkan materi edukasi mengenai pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Materi disampaikan oleh Kepala Manggala Agni Daops Sumatera I/Sibolangit, Sentosa Gurusinga, bersama tim. Dalam kunjungan ke Manggala Agni Daops I Sibolangit, peserta diperkenalkan pada peran Manggala Agni dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, mulai dari upaya pencegahan hingga penanganan di lapangan. Tidak hanya menerima materi, peserta juga mengikuti simulasi pemadaman kebakaran hutan dengan didampingi petugas Manggala Agni. Simulasi tersebut memberikan pengalaman praktik mengenai tahapan pemadaman sekaligus menekankan pentingnya kesiapsiagaan, kerja sama tim, koordinasi, dan tindakan cepat dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan. Rangkaian hari pertama kemudian dilanjutkan dengan Forest Connection & Reflection Circle serta Forest Innovation Workshop. Peserta merefleksikan pengalaman lapangan sekaligus mulai mengembangkan gagasan inovasi berdasarkan permasalahan kehutanan dan lingkungan yang mereka temukan. Rangkaian kegiatan berlanjut pada Sabtu, 3 Oktober 2026 di Lantai 2 Ruang Flamboyan, Kampus 2 Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU). Kegiatan diawali dengan tarian Tor-Tor pembuka yang dibawakan peserta, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Dr. Arida Susilowati, S.Hut., M.Si. Arida menyampaikan bahwa Sumatera Utara memiliki kekayaan hutan dan keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga membutuhkan peran aktif generasi muda. “Hutan Sumatera Utara memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Harapannya, generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga kelestarian lingkungan dan kekayaan alam yang kita miliki,” ujar Arida. Lebih lanjut, Ia mengajak peserta memanfaatkan FYV Resilience Summit sebagai ruang belajar, berdiskusi, membangun jejaring, serta merumuskan program yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan. “Peserta bisa memanfaatkan kegiatan ini dengan baik. Bisa berdiskusi, membangun jejaring, kemudian merumuskan program yang komprehensif untuk lingkungan,” katanya. Sementara itu, Kepala BBKSDA Sumatera Utara yang diwakili Kepala Bidang Teknis, Dr. Ichwan Muslih, S.Si., M.Si., menyampaikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Menurut Ichwan, FYV Resilience Summit dapat menjadi ruang awal bagi generasi muda untuk mengambil peran sebagai agent of change dalam pelestarian lingkungan dan hutan. “BBKSDA Sumatera Utara mendukung kegiatan seperti ini. Kegiatan ini merupakan awal bagi peserta untuk menjadi agent of change dalam pelestarian lingkungan dan hutan,” ujar Ichwan. Ia berharap kegiatan tidak berhenti pada proses pembelajaran, tetapi menghasilkan dampak dan gagasan yang dapat diterapkan. “Mudah-mudahan dari kegiatan ini ada impact, ada dampak, dan ada sesuatu yang berharga buat kita semua. Kami menunggu semangat, dedikasi, ide, dan inovasi dari para peserta,” katanya. Project Manager LEVERAGE (Law Enforcement for Sustainable Viable Ecosystems and Biodiversity Resilience through Multi-Sectors Engagement), Ir. Achmad Pribadi, M.Sc., menjelaskan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam menjawab tantangan konservasi. LEVERAGE merupakan program yang didukung United Nations Development Programme (UNDP) melalui Global Environment Facility (GEF)-8 dan dikelola Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan. Menurut Achmad, salah satu bagian penting dari program tersebut adalah mendorong kolaborasi dan pemberdayaan generasi muda untuk mengembangkan ide kreatif yang dapat berkontribusi dalam mengurangi berbagai aktivitas yang melanggar hukum terkait tumbuhan dan satwa liar. Ia menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran publik mengenai perlindungan tumbuhan dan satwa liar melalui pendekatan komunikasi dan kreativitas yang sesuai dengan karakter generasinya. “Dengan mengikuti kegiatan ini, tentu ada manfaatnya bagi diri sendiri dan juga bagi lingkungan sekitar. Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar, membangun jejaring, dan melahirkan ide-ide yang bisa memberikan dampak,” pungkasnya. FYV Resilience Summit kemudian secara resmi dibuka oleh Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) Kementerian Kehutanan, Luckmi Purwandari, S.T., M.Si. Luckmi menjelaskan bahwa kegiatan tersebut terdiri atas dua tahapan utama, yaitu Action Day dan Summit Day, yang merupakan satu kesatuan proses pembelajaran dan pengembangan kapasitas generasi muda. Pada Action Day, peserta tidak hanya mempelajari konservasi melalui teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di lapangan. Peserta diajak mengumpulkan informasi, memahami kondisi lingkungan, mengidentifikasi tekanan atau penyebab permasalahan, serta merumuskan respons yang dapat dilakukan. Proses tersebut menggunakan kerangka State–Pressure–Response (SPR), yaitu memahami kondisi lingkungan (state), mengidentifikasi tekanan (pressure), dan menentukan langkah penyelesaian (response). “Siklus ini terus dilakukan secara berkelanjutan supaya kita bisa berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam melakukan pelestarian hutan. Kita akan menjadi generasi pelestari hutan, dan sekali menjadi generasi pelestari hutan, kita harus menjadi generasi pelestari hutan sepanjang hayat,” ujar Luckmi. Luckmi menegaskan bahwa kontribusi terhadap pelestarian hutan tidak terbatas pada mereka yang berlatar belakang pendidikan kehutanan, generasi muda dari berbagai disiplin ilmu dapat berkontribusi berdasarkan keahlian masing-masing. “Tidak harus yang memberikan respons atau melakukan aksi untuk pelestarian hutan berasal dari jurusan kehutanan. Semuanya bisa berkontribusi sesuai bidang masing-masing. Kita harus bersama-sama berkolaborasi melestarikan hutan untuk masa depan yang berkelanjutan,” jelasnya. Hasil pembelajaran Action Day kemudian dituangkan dalam Innovation Board berupa gagasan inovasi dan rencana aksi. Memasuki Summit Day, sebanyak 12 tim mendapatkan kesempatan mengikuti Forest Innovation Pitching. Peserta mempresentasikan gagasan yang telah dikembangkan dan memperoleh masukan dari unsur pemerintah, akademisi, pengelola kawasan konservasi, serta praktisi. Luckmi mengingatkan agar peserta tidak berhenti setelah kegiatan summit selesai. “Jangan berhenti hanya di kegiatan summit ini. Summit ini bukan akhir, tetapi merupakan awal bagaimana adik-adik dapat mewujudkan rencana aksi dari inovasi yang sudah dibuat,” pesannya. Ia juga mengajak peserta terus membangun jejaring dan kolaborasi untuk menjaga keberlanjutan gerakan pelestarian hutan. “Forest Health Resilience Hub” Hadirkan Perspektif Kesehatan Masyarakat Salah satu gagasan inovatif peserta datang dari Afifah Afrah, mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, melalui gagasan berjudul “Forest Health Resilience Hub.” Gagasan tersebut mengintegrasikan ketahanan hutan, mitigasi bencana, kesehatan masyarakat, dan peran generasi muda dalam satu ekosistem kolaboratif. Afifah melihat bahwa kerusakan hutan tidak hanya berdampak terhadap keanekaragaman hayati, tetapi juga dapat meningkatkan risiko bencana, mempengaruhi kualitas lingkungan, dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. “Sebagai mahasiswa Kesehatan Masyarakat, saya melihat bahwa kesehatan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kesehatan lingkungan. Karena itu, menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi ekosistem, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih aman, sehat, dan resilien,” ujar Afifah. Konsep tersebut menggunakan pendekatan “Identify, Monitor, Educate, Act, Evaluate” melalui empat pilar, yakni Forest Risk Mapping, Forest Health Monitoring, Youth Forest Resilience Action, dan Forest Community Resilience Hub. Melalui konsep tersebut, generasi muda didorong berperan dalam pemetaan risiko, pemantauan kondisi lingkungan, edukasi konservasi dan kebencanaan, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, pemuda, dunia usaha, dan media. Menurut Afifah, pengalaman mengikuti FYV Resilience Summit memperluas pemahamannya mengenai keterkaitan konservasi, biodiversitas, mitigasi bencana, inovasi, dan peran generasi muda. “Saya belajar bahwa inovasi bukan hanya tentang ide yang menarik, tetapi juga tentang masalah yang ingin diselesaikan, penerima manfaat, kelayakan, dan dampaknya,” ujarnya. Setelah Forest Innovation Pitching, kegiatan dilanjutkan dengan Forest Ideas Cafe, yang menjadi ruang interaktif bagi peserta untuk berbagi kreativitas, pengalaman, dan perspektif. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan “Voices from Youthverse: Cerita Generasi Muda, Keanekaragaman Hayati, dan Ketangguhan Alam.” Sesi tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan mengenai pelestarian keanekaragaman hayati serta upaya membangun ketangguhan alam. Salah satu fasilitator kegiatan, Nurhabli Ridwan, bertugas sebagai Fasilitator Bidang Acara. Nurhabli merupakan alumni Forest Youthverse Sumatera Tahun 2025 dan Founder Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS). Menurut Nurhabli, keterlibatannya sebagai fasilitator menjadi pengalaman berarti karena sebelumnya ia mengikuti Forest Youthverse sebagai peserta. “Tahun 2025 saya mengikuti Forest Youthverse sebagai peserta, dan tahun ini saya mendapatkan kesempatan untuk kembali terlibat dalam peran yang berbeda, khususnya di bidang acara. Ini menjadi proses belajar sekaligus kesempatan untuk berkontribusi dalam menghadirkan ruang pembelajaran bagi generasi muda,” ujar Nurhabli. Ia menilai kekuatan FYV Resilience Summit terletak pada pembelajaran yang berlangsung secara langsung dan kolaboratif. “Peserta tidak hanya mendapatkan materi di dalam ruangan, tetapi juga belajar langsung di kawasan konservasi, mengenal upaya pengendalian karhutla, melakukan simulasi, kemudian mengembangkan gagasan dan mempresentasikannya melalui Forest Innovation Pitching,” tambahnya. Kegiatan juga dihadiri Kepala Bidang Pembinaan Perilaku Generasi Peduli Cinta Alam Pusgenri Kementerian Kehutanan, Ernawati Eko Hartono, S.Hut., M.Si.; Kepala Balai P2SDM Wilayah I Pematangsiantar, Soleh Sena Santika, S.E., S.Hut., M.Si.; jajaran BBKSDA Sumatera Utara; Manggala Agni Daops I Sibolangit; BPKH Wilayah I; civitas akademika Fakultas Kehutanan USU; tim LEVERAGE; serta sejumlah undangan lainnya. Menjelang akhir kegiatan, peserta mengikuti Forest Youth Commitment sebagai bentuk komitmen bersama untuk mengambil peran dalam menjaga hutan, keanekaragaman hayati, dan lingkungan. Selama dua hari, FYV Resilience Summit Wilayah Sumatera Utara menghadirkan proses pembelajaran yang memadukan edukasi konservasi, pengalaman lapangan, simulasi pemadaman kebakaran hutan, pengembangan inovasi, ruang kreativitas, dialog lintas sektor, dan penguatan komitmen generasi muda. Melalui semangat “Youth for Biodiversity Resilience”, kegiatan ini diharapkan memperkuat pengetahuan, kepedulian, jejaring, serta kapasitas generasi muda untuk berperan aktif dalam pelestarian hutan, perlindungan keanekaragaman hayati, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. Forest Youthverse Resilience Summit juga menjadi ruang pertemuan antara generasi muda dengan pemerintah, akademisi, pengelola kawasan konservasi, praktisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun komunikasi serta kolaborasi dalam menghadapi tantangan kehutanan dan lingkungan. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai bagian dari proses identifikasi masalah, pengembangan gagasan, pembangunan jejaring, hingga pelaksanaan aksi nyata untuk menjaga hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia. Sumber : Nurhabli Ridwan ( Fasil FYV Sumut / KPA GRAS ) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menjaga Rusa, Mendengar Warga: Dialog Konservasi dari Balikterus

Petugas datang membawa rencana memasang kamera jebak untuk membaca pergerakan rusa Bawean. Warga membuka lahannya, sekaligus membuka percakapan tentang babi kutil, kebun, mata air, dan hutan yang mereka rasakan berubah. Bawean, 6 Oktober 2026. “Warga menyelamatkan tanaman, KSDA menyelamatkan rusa. Yang menjadi masalah adalah babi.” Kalimat Matrusi, warga Sungaiterus, membuka sisi lain percakapan konservasi di Desa Balikterus, Kecamatan Sangkapura, Senin (5/10). Sederhana, tetapi di baliknya tersimpan persoalan yang lebih rumit, bagaimana melindungi satwa liar sekaligus mendengar masyarakat yang setiap hari berbagi ruang hidup dengannya. Pagi itu, Tim Resort KSDA Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama peneliti Frank Drygala datang untuk menyosialisasikan rencana pemasangan kamera jebak. Kamera tersebut akan membantu mempelajari pergerakan rusa Bawean pada bentang antara Blok Gunung Besar ke Blok Payung Payung. Namun pertemuan berkembang jauh melampaui urusan kamera. Warga Membuka Lahan, Sekaligus Percakapan Kepala Desa Balikterus, perangkat desa, serta masyarakat dari Sungaiterus Laok, Sungaiterus Deje, Manggu Leban, Gandariyah, dan Pasartelaga hadir dalam dialog tersebut. Tim menjelaskan pentingnya perlindungan rusa Bawean, ancaman terhadap satwa, serta tujuan penelitian. Dengan bentang kawasan yang luas dan jumlah petugas terbatas, menjaga hutan Bawean tidak mungkin hanya mengandalkan petugas. Masyarakat memberikan respons positif. Mereka menyetujui pemasangan kamera jebak pada lahan milik warga dan menyatakan siap ikut menjaga perangkat penelitian. Tetapi dukungan itu datang bersama pesan yang tak kalah penting. Ketika Rusa Dilindungi, Siapa Menjaga Kebun? Matrusi mengusulkan pagar sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi gangguan satwa ke lahan masyarakat. Ia juga meminta perhatian terhadap areal hutan yang dinilai perlu ditanami kembali karena warga mulai merasakan berkurangnya ketersediaan air dan sumber mata air. Sadiman membawa pengalaman berbeda. Menurutnya, masyarakat memiliki cara lokal untuk mengurangi gangguan monyet, salah satunya menggunakan terasi yang digantung. Namun gangguan rusa dan babi dinilai lebih sulit ditangani sehingga membutuhkan alternatif mitigasi yang lebih efektif. Dari Gandariyah, Subhan menegaskan bahwa masyarakat telah lama memahami larangan berburu. Sepanjang pengetahuannya, ia tidak pernah mendengar adanya rusa yang dibunuh masyarakat setempat. Persoalan mereka bukan keinginan mengganggu satwa. Mereka ingin mengetahui apa yang dapat dilakukan ketika satwa justru memasuki kebun dan ruang hidup mereka. Subhan juga meminta solusi untuk mengurangi masuknya rusa, babi dan monyet ke lahan atau pekarangan. Ia turut menanyakan tindakan yang diperbolehkan ketika babi kutil memasuki wilayah desa. Semua aspirasi itu dicatat. Usulan pagar mitigasi, rehabilitasi atau penanaman kembali, perlindungan sumber air hingga pohon rawan roboh akan memerlukan verifikasi lapangan dan tindak lanjut sesuai kewenangan serta ketentuan yang berlaku. Kamera Hanya Alat, Kepercayaanlah yang Menjaganya Pertemuan Balikterus akhirnya menghasilkan dua komitmen. Masyarakat bersedia membuka lahannya untuk penelitian dan membantu menjaga camera trap. Pada sisi lain, persoalan yang mereka hadapi, konflik satwa, kondisi hutan hingga sumber air, menjadi bagian yang harus didengar dalam pengelolaan kawasan. Di sinilah konservasi berjalan dua arah. Petugas membutuhkan masyarakat untuk membantu menjaga rusa dan hutannya. Masyarakat pun membutuhkan pengelolaan konservasi yang hadir ketika kehidupan mereka bersinggungan dengan satwa liar. Kelak, kamera jebak mungkin merekam rusa melintas antara Gunung Besar dan Payung Payung. Namun kamera tidak dapat merekam seluruh hubungan manusia dengan hutan. Ia tidak dapat mengukur kekhawatiran petani ketika satwa memasuki kebun. Tidak dapat merasakan kegelisahan warga ketika sumber air berkurang. Dan tidak dapat menggantikan percakapan ketika masyarakat dan petugas duduk bersama mencari jalan keluar. Sebab menjaga rusa Bawean tidak cukup hanya mengetahui ke mana satwa itu berjalan. Kita juga perlu mendengar manusia yang setiap hari hidup di sepanjang jalannya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dari Kabat, Seekor Kucing Kuwuk Diserahkan Warga kepada Petugas Konservasi

Banyuwangi, 6 Oktober 2026. Seekor Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis) jantan berpindah dari tangan seorang warga di Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, menuju penanganan petugas konservasi, 5 Oktober 2026. Siti Aminah, warga Dusun Karang Rejo, Desa Kabat, menyerahkan satwa tersebut kepada Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) - Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi, Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dalam kondisi hidup. Setelah proses administrasi selesai, petugas membawa kucing kuwuk menuju kandang transit Kantor Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi. Di tempat inilah satwa tersebut untuk sementara berada dalam penanganan petugas sebelum langkah berikutnya ditentukan. Satu hal yang sudah pasti, warga memilih menyerahkannya kepada petugas. Keputusan seperti itu menjadi bagian penting dalam penyelamatan satwa liar. Ketika satwa liar berada dalam penguasaan atau ditemukan masyarakat, melaporkan dan menyerahkannya kepada petugas memberi kesempatan agar penanganan selanjutnya dilakukan sesuai kewenangan dan kondisi satwa. Hari itu, perjalanan kucing kuwuk dari Kabat belum berakhir. Ia baru berpindah menuju tempat transit, menunggu apa yang akan ditentukan dari pemeriksaan dan penanganan berikutnya. Sebab pada satwa liar, tujuan penyelamatan bukan sekadar memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain, tetapi memastikan setiap keputusan berikutnya berpihak pada keselamatan satwa dan kelestariannya di alam. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BKSDA Kaltim Bersama Sabah Wildlife Department Gelar Workshop dan Field Trip di Tarakan

Tarakan, Oktober 2026 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) bekerja sama dengan mitra pelaksana WWF-Indonesia dan WWF-Malaysia menerima Kunjungan Kehormatan Delegasi Sabah Wildlife Department (SWD) Malaysia pada tanggal 22–25 September 2026 di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Pertemuan strategis lintas batas negara ini digelar guna memperkuat hubungan kelembagaan, membangun mekanisme komunikasi berkelanjutan, serta menyusun langkah konkret penanganan kejahatan satwa liar terorganisir dan pelestarian Gajah Borneo di lanskap perbatasan Indonesia–Malaysia. Wilayah perbatasan antara Kalimantan Utara dan Sabah merupakan lanskap ekologis penting bagi keberlangsungan hidup Gajah Borneo (Elephas maximus borneensis) serta satwa terancam punah lainnya. Berdasarkan data IUCN tahun 2024, populasi Gajah Borneo di alam liar diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.000 individu. Populasi terbesar berada di wilayah Sabah seperti Tabin, Kinabatangan, dan Central Sabah, sementara di wilayah Nunukan, Kalimantan Utara, tercatat berkisar kurang lebih 13 individu. Gajah-gajah di wilayah perbatasan secara alami memiliki daya jelajah yang melintasi batas administratif kedua negara untuk mencari pakan dan berkembang biak. Sebagai spesies payung (umbrella species), upaya mempertahankan konektivitas habitat gajah tidak hanya menyelamatkan populasi gajah itu sendiri, tetapi juga memberi dampak langsung pada kelestarian ekosistem dan satwa liar lainnya. Di samping ancaman degradasi habitat, maraknya perburuan liar dan tindak kejahatan penyelundupan gading gajah lintas negara menjadi perhatian serius bersama. Pengalaman kolaborasi antara SWD, BKSDA Kaltim, dan Balai Gakkum LHK Wilayah Kalimantan pada kurun waktu 2017–2019 dalam menghentikan kasus penyelundupan gading gajah di Nunukan menjadi bukti pentingnya fondasi koordinasi yang kuat. Oleh karena itu, pertemuan ini menjadi momentum vital untuk menghidupkan kembali jaringan komunikasi serta merumuskan strategi penanggulangan bersama. Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan selamat datang (Welcome Dinner) pada Selasa malam (22/09/2026) di Swiss-Belhotel Tarakan. Selanjutnya, agenda utama Workshop Lintas Batas dilaksanakan pada Rabu, 23 September 2026 di lokasi yang sama. Sesi workshop dibuka secara resmi setelah penyampaian sambutan dari Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan RI, Direktur Sabah Wildlife Department (SWD), serta Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara. Pertemuan ini dihadiri oleh puluhan pemangku kepentingan (stakeholders) kunci dari kedua negara. Delegasi Sabah melibatkan perwakilan Sabah Wildlife Department (SWD), Sabah Forestry Department (SFD), Attorney General’s Chambers (AGC), Wildlife Crime Bureau (RMP), Royal Malaysian Customs Department, General Operations Force, Marine Operations Force, Danau Girang Field Center (DGFC), dan WWF-Malaysia. Sementara delegasi Indonesia diikuti oleh perwakilan Ditjen KSDAE, Ditjen Gakkumhut, BKSDA Kaltim, Balai Gakkum LHK Wilayah Kalimantan, Bappeda Kaltara, Dinas Kehutanan Kaltara, DKP Kaltara, Bea Cukai Tarakan dan Nunukan, DLH Nunukan, Balai Karantina (BKHIT) Tarakan, KPH Nunukan, KPH Tarakan, Satgas Pamtas Nunukan, Ditreskrimsus Polda Kaltara, Kejaksaan Negeri Nunukan, pengelola Bandara Juwata dan Pelindo/Pelabuhan Malundung, FKGI, Gappeta Borneo, serta WWF-Indonesia. Dalam diskusi interaktif, kedua belah pihak saling bertukar informasi mengenai pemutakhiran data populasi Gajah Borneo, pola pergerakan di koridor perbatasan, evaluasi kasus penegakan hukum kejahatan satwa demi merespons potensi ancaman penyelundupan satwa liar secara lebih cepat dan akurat. Memasuki hari kedua pada Kamis, 24 September 2026, seluruh rombongan delegasi mengikuti Kunjungan Lapangan (Field Trip) di wilayah Kota Tarakan untuk meninjau secara dekat simpul-simpul pengelolaan lingkungan, hasil hutan, dan pengawasan lalu lintas satwa. Rangkaian kunjungan diawali pada pukul 08.00 WITA menuju Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) untuk mempelajari praktik baik pengelolaan ruang terbuka hijau, perlindungan ekosistem mangrove, serta habitat satwa endemik Bekantan (Nasalis larvatus) di area perkotaan. Rombongan bertolak ke Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tarakan untuk melihat proses penyulingan dan pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berbasis minyak kayu putih sebagai pendorong ekonomi lokal berkelanjutan. Kegiatan lapangan ini diakhiri dengan peninjauan di Bandara Internasional Juwata Tarakan untuk berdiskusi mengenai prosedur pemeriksaan, sinergi karantina, bea cukai, serta otoritas kebandarudaraan dalam mendeteksi dan mencegah perdagangan ilegal satwa liar melalui jalur udara. Melalui penyelenggaraan workshop dan kunjungan lapangan ini, BKSDA Kaltim beserta seluruh jajaran penegak hukum dan pemangku kepentingan di Kalimantan Utara dan Sabah sepakat untuk mempererat kolaborasi teknis. Langkah-langkah strategis seperti pertemuan rutin, pelatihan bersama, hingga patroli lintas batas diharapkan dapat segera diimplementasikan demi menjamin kelestarian Gajah Borneo dan keanekaragaman hayati di perbatasan Indonesia–Malaysia secara berkelanjutan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Rayakan 30 Tahun TN Kayan Mentarang, Balai TNKM Kenalkan Konservasi Sejak Dini

Malinau, 6 Oktober 2026 — Suasana Kantor Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) tampak berbeda pada Selasa (6/10). Sejumlah 89 peserta didik dari KBIT dan TKIT Ulinnuhaa Malinau datang berkunjung untuk mengikuti kegiatan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dalam rangka memperingati 30 tahun Taman Nasional Kayan Mentarang. Kegiatan berlangsung dalam suasana santai dan penuh antusias. Anak-anak diajak mengenal TNKM melalui cerita dan penjelasan sederhana mengenai kawasan konservasi, hutan, serta berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang hidup di dalamnya. Materi disampaikan dengan cara yang dekat dengan dunia anak sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan sambil bermain dan bertanya. Tidak hanya mengenal kawasan, anak-anak juga diperkenalkan dengan beberapa profesi yang sehari-hari bekerja dalam menjaga kawasan TNKM. Polisi Kehutanan (Polhut), Penyuluh Kehutanan, dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) diperkenalkan sebagai profesi yang turun langsung menjaga hutan. Polhut dikenalkan sebagai penjaga hutan, petugas yang menjaga keamanan dan perlindungan kawasan. Penyuluh Kehutanan yang berperan memberikan edukasi dan membangun kesadaran masyarakat, dikenalkan sebagai guru hutan. Sementara PEH, bertugas melakukan berbagai kegiatan pemantauan dan pengelolaan ekosistem di kawasan taman nasional, dikenal sebagai dokter hutan. Pengenalan ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk melihat bahwa menjaga hutan melibatkan banyak orang dengan tugas yang berbeda. Bagian yang paling menarik perhatian peserta didik KBIT dan TKIT Ulinnuhaa adalah saat mereka berkenalan dengan dua maskot TNKM, yaitu Si Kule, Macan Dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis), dan Si Bos, Banteng Kalimantan (Bos javanicus lowi). Kedua satwa tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki TNKM. Dengan hadirnya Si Kule dan Si Bos, pesan tentang konservasi disampaikan dengan cara yang lebih menyenangkan. Anak-anak pun terlihat antusias mengikuti sesi pengenalan dan berinteraksi dengan maskot yang menjadi representasi satwa khas kawasan TNKM. Kepala Sekolah KBIT dan TKIT Ulinnuhaa Malinau, Siti Sumiaty, S. Pd menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak. Menurutnya, pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas, tetapi juga dapat dilakukan melalui pengalaman langsung dan pengenalan terhadap lingkungan sekitar. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan karena anak-anak mendapatkan pengalaman baru sekaligus belajar mengenal alam sejak usia dini. Ketika mereka sudah mengenal dan menyukai lingkungan serta satwa yang ada di sekitarnya, rasa untuk menjaga dan melestarikannya juga akan tumbuh,” ungkapnya. Sementara itu, Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, S.Hut., M.E. menegaskan bahwa mengenalkan lingkungan sejak usia dini menjadi langkah sederhana untuk membangun kepedulian terhadap alam, karena rasa ingin tahu dan pengalaman yang diperoleh anak hari ini dapat menjadi awal tumbuhnya kecintaan mereka terhadap lingkungan. Menurut Seno, Upaya menjaga kawasan konservasi tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan di lapangan, tetapi juga perlu dibarengi dengan membangun kepedulian masyarakat sejak dini. “Kami ingin anak-anak mengenal TN Kayan Mentarang bukan hanya sebagai sebuah kawasan yang ada di peta, tetapi sebagai rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang perlu kita jaga bersama. Harapannya, dari kegiatan sederhana seperti ini tumbuh rasa cinta terhadap alam dan suatu saat mereka menjadi bagian dari generasi yang ikut menjaga TN Kayan Mentarang,” ujar Kepala Balai TNKM. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan 30 tahun TNKM sekaligus menjadi ruang bagi Balai TNKM untuk mendekatkan konservasi kepada generasi muda. Tiga Dekade TN Kayan Mentarang bukan hanya tentang perjalanan pengelolaan sebuah kawasan konservasi, tetapi juga tentang keberlanjutan upaya menjaga alam dan menumbuhkan kepedulian dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui kegiatan Pendidikan Lingkungan Hidup ini, Balai TNKM terus membuka ruang bagi anak-anak untuk mengenal lebih dekat hutan dan keanekaragaman hayati di sekitarnya. Dari mengenal hutan, mengenal satwa, hingga mengenal orang-orang yang bekerja untuk menjaganya, semuanya menjadi bagian dari cerita kecil tentang konservasi yang diharapkan terus mereka bawa hingga dewasa. Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Artikel

Kaloykoy Mulai Memangsa, Ular Tambang Jadi Santapan Pertama

Beberapa hari lalu ia ditemukan tak mampu terbang di kandang ayam. Kini, dari kandang transit RKW 09 Gresik–Bawean, naluri liarnya mulai berbicara. Bawean, 6 Oktober 2026. Pintu kandang transit memang belum terbuka. Sayapnya pun belum saatnya dipastikan kembali ke langit. Namun pada Minggu, 4 Oktober 2026, ada kabar baik dari Kaloykoy asal Gunung Durin. Setelah beberapa hari menjalani observasi di Pos Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA Jatim), Elang Bawean (Spilornis cheela baweanus) itu akhirnya mau memangsa pakan alami yang disediakan petugas. Menunya bukan daging potong, tetapi seekor ular tambang (Dendrelaphis pictus) menjadi santapan pertamanya. Peristiwa sederhana itu menjadi perkembangan penting dalam rangkaian penyelamatan Kaloykoy yang dimulai pada 26 September 2026. Saat itu, warga Dusun Gunung Durin, Desa Patar Selamat, Kecamatan Sangkapura, menemukannya berada di dalam kandang ayam dan tidak mampu terbang. Dugaan awal, burung pemangsa tersebut masuk ketika hendak memburu anak ayam sebelum mengalami benturan atau terkena jaring. Pemeriksaan awal tidak menemukan luka terbuka maupun tanda cedera berat, tetapi ketidakmampuannya terbang membuat petugas memilih melakukan observasi terlebih dahulu. Naluri yang Mulai Berbicara Beberapa hari pertama di kandang transit menjadi masa pengamatan. Petugas tidak hanya menunggu Kaloykoy makan. Sebagai burung pemangsa, respons terhadap pakan alami menjadi salah satu perilaku yang menarik untuk diamati selama masa penanganan. Ketika ular tambang diberikan, respons itu akhirnya muncul. Kaloykoy menangkap dan memangsa ular tersebut. Bagi seekor raptor yang diharapkan suatu hari kembali ke alam, kemauan memangsa pakan alami merupakan perkembangan yang menggembirakan. Namun satu keberhasilan itu belum cukup menjadi dasar untuk menyatakan satwa siap dilepasliarkan. Kemampuan terbang, keseimbangan, respons terhadap lingkungan serta kondisi fisiknya tetap perlu dipastikan. Sebab di alam, mau makan membuatnya bertahan hari ini. Mampu terbang dan berburulah yang akan membantunya bertahan setelah kembali liar. Dari Kandang Ayam ke Ular Ada ironi kecil dalam perjalanan Kaloykoy ini. Beberapa hari lalu ia ditemukan di kandang ayam, diduga ketika naluri berburunya membawanya terlalu dekat dengan ruang hidup manusia. Kini, di kandang transit, naluri yang sama justru menjadi kabar yang ditunggu petugas. Bedanya, kali ini bukan ayam warga yang menjadi sasaran. Ular tambang menjadi mangsanya. Perkembangan tersebut belum menjadi akhir dari proses penyelamatan. Petugas masih perlu memastikan kondisi Kaloykoy benar-benar memungkinkan sebelum mengambil keputusan berikutnya. Berita sebelumnya ditutup dengan sebuah harapan, semoga berikutnya yang terbuka adalah sayapnya. Harapan itu belum perlu dipercepat. Untuk sekarang, satu kabar kecil sudah cukup membuat lega. Kaloykoy sudah mau makan seperti Kaloykoy. Berikutnya, semoga ia kembali terbang seperti Kaloykoy. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor)
Baca Artikel

Penyelamatan Induk dan Anak Orangutan di Poros Wahau–Bengalon

Kutai Timur, Oktober 2026 – Upaya perlindungan dan penyelamatan satwa liar dilindungi terus ditingkatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim). Pada Selasa, 15 September 2026, BKSDA Kaltim bersama mitra konservasi Centre for Orangutan Protection (COP) berhasil melakukan tindakan Penyelamatan (Rescue) terhadap dua individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), yakni satu individu induk betina beserta anaknya, yang terpantau berada di kawasan terisolasi di sekitar Jalan Baru Poros Wahau–Bengalon, Kabupaten Kutai Timur. Keberadaan pasangan induk dan anak orangutan di lanskap yang telah mengalami fragmentasi tersebut menjadi perhatian serius petugas di lapangan. Lanskap hutan yang terpisah-pisah akibat pembangunan infrastruktur jalan raya dan aktivitas manusia meningkatkan risiko keselamatan satwa, mulai dari potensi kecelakaan lalu lintas, kekurangan sumber pakan alami, hingga tingginya ancaman interaksi negatif atau konflik terbuka antara manusia dan satwa liar. Guna mencegah dampak buruk yang tidak diinginkan, tim gabungan BKSDA Kaltim dan COP bergerak cepat melakukan evakuasi dan pengamanan di lokasi. Setelah berhasil dievakuasi, kedua individu satwa tersebut langsung menjalani proses pemeriksaan medis serta observasi perilaku intensif oleh tim medis. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi fisik, kesehatan, dan mental induk serta anak orangutan berada dalam keadaan stabil dan layak untuk segera dipindahkan ke kawasan hutan yang lebih aman. Setelah masa observasi singkat menunjukkan hasil yang memuaskan dan menyatakan keduanya dalam kondisi sehat, pada Kamis, 17 September 2026, tim gabungan melaksanakan proses translokasi. Induk dan anak orangutan tersebut dipindahkan dan dilepasliarkan menuju kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur. Kawasan hutan lindung ini dipilih karena memiliki kualitas habitat yang baik, kecukupan ketersediaan daya dukung pakan alami, serta tingkat keamanan kawasan yang lebih tinggi dan kondusif bagi keberlanjutan hidup orangutan di alam bebas. Penyelamatan dan translokasi ini bukan sekadar tindakan memindahkan satwa dari satu lokasi ke lokasi lain, melainkan sebuah komitmen nyata untuk memberikan kesempatan hidup kedua bagi satwa endemik Kalimantan agar dapat berkembang biak dan menjalankan peran ekologisnya di habitat alami yang sesuai. BKSDA Kaltim mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha di sekitar kawasan hutan untuk senantiasa menjaga keutuhan koridor satwa serta segera melaporkan kepada petugas BKSDA Kaltim melalui layanan call center di 082113338181 jika menemukan keberadaan satwa liar terancam atau masuk ke pemukiman warga. Mari bersama-sama kita lindungi hutan dan ruang hidup satwa liar demi menjaga keseimbangan ekosistem Kalimantan Timur. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Dari Tangan Warga, Dua Monyet Ekor Panjang Memulai Perjalanan ke Sidoarjo

Berawal dari evakuasi Damkar Pamekasan, dua monyet ekor panjang kini berada dalam penanganan BBKSDA Jawa Timur. Kondisi kesehatannya akan diperiksa sebelum langkah berikutnya ditentukan. Pamekasan, 5 Oktober 2026. Dua ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) memulai perjalanan baru setelah sebelumnya berada dalam penguasaan warga di Kabupaten Pamekasan. Kedua satwa diserahkan petugas Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Pamekasan kepada Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) - Seksi KSDA Wilayah (SKW) IV Pamekasan Balai Besr Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Senin (28/9). Berdasarkan informasi yang diterima, kedua monyet sebelumnya telah dievakuasi di wilayah Kabupaten Pamekasan setelah diketahui berada dalam kepemilikan warga. Tidak ada informasi dalam laporan awal mengenai berapa lama keduanya dipelihara maupun bagaimana awalnya satwa tersebut berada di tangan warga. Karena itu, petugas memusatkan perhatian pada satu hal, untuk memastikan keduanya mendapatkan penanganan yang tepat. Didik, Fathorrakhman, dan Alvin Sayhir Isman menerima kedua satwa di Kantor SKW IV Pamekasan. Empat hari kemudian, Jumat, 2 Oktober 2026, perjalanan kedua monyet itu berlanjut. Dari kandang transit SKW IV Pamekasan, keduanya dievakuasi menuju kandang transit BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di tempat tersebut, kondisi kesehatan satwa akan diperiksa dan penanganan lebih lanjut dilakukan sesuai hasil pemeriksaan serta ketentuan yang berlaku. Peristiwa di Pamekasan ini juga memperlihatkan bahwa penyelamatan satwa liar tidak selalu berlangsung dalam satu operasi. Ada warga, petugas Damkar, hingga petugas konservasi yang menjadi mata rantai dalam prosesnya. Dua monyet itu memang telah meninggalkan Pamekasan menuju Sidoarjo. Namun perjalanan menuju penanganan terbaik bagi keduanya baru saja dimulai. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

66 Siswa Mencoba Jadi Rimbawan Sehari

Dari simulasi banjir hingga mengintip dengan binokuler, Hutan Kota Trenggalek berubah menjadi ruang kelas terbuka bagi siswa SD Alam Mutiara Umat. Trenggalek, 5 Oktober 2026. Hari itu, pelajaran tentang hutan tidak dimulai dari papan tulis. Sebanyak 66 siswa kelas V dan VI SD Alam Mutiara Umat - Tulungagung belajar di Hutan Kota Trenggalek, Selasa, 29 September 2026. Mereka datang bukan sekadar mendengar cerita tentang pohon dan satwa, tetapi mencoba memahami bagaimana alam bekerja. Melalui kegiatan Rimbawan Mengajar, Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengajak para siswa mengenal fungsi dan manfaat hutan, keanekaragaman satwa liar hingga cara bersikap ketika berjumpa satwa di sekitar mereka. Ada pula praktikum sederhana mengenai proses terjadinya banjir. Dari sana, anak-anak diajak melihat hubungan antara hutan, air, dan kehidupan manusia, bahwa apa yang terjadi pada sebuah bentang alam dapat membawa akibat hingga jauh di luar hutan. Keseruan berlanjut ketika binokuler mulai berpindah dari satu tangan kecil ke tangan lainnya. Para siswa belajar menggunakannya untuk mengamati lingkungan. Mereka juga dikenalkan dengan profil BBKSDA Jawa Timur dan penanganan yang tepat ketika menjumpai satwa liar. Petugas tidak menjadikan kegiatan itu sebagai ceramah satu arah. Pertanyaan dilemparkan di sela materi dan anak-anak diberi kesempatan menjawab, bertanya serta berdiskusi. Film animasi burung “Sabda Alam” kemudian menjadi cara lain untuk membawa pesan konservasi lebih dekat dengan dunia mereka. Antusiasme terlihat dari diskusi yang berkembang sepanjang kegiatan. Bagi Tim RKW 02 Blitar, Rimbawan Mengajar bukan sekadar mengenalkan pekerjaan seorang rimbawan. Kegiatan ini menjadi salah satu cara menanamkan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati sejak usia sekolah, terutama di tengah masih terbatasnya pengenalan biodiversitas lokal kepada anak-anak di wilayah Trenggalek, Kediri, Blitar, dan Tulungagung. Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada petugas RKW 02 Blitar dan foto bersama. Namun pelajaran terpenting hari itu barangkali tidak tercetak pada sertifikat. Ia tersimpan pada pengalaman 66 anak yang pulang setelah mengetahui bahwa hutan bukan hanya kumpulan pohon, satwa liar bukan untuk sembarang ditangkap, dan sebuah binokuler dapat menjadi cara sederhana untuk mendekati alam tanpa harus mengganggunya. Sebab calon penjaga hutan masa depan tidak selalu lahir di tengah rimba. Kadang mereka tumbuh dari anak-anak yang hari ini diberi kesempatan untuk mengenal hutan lebih dekat. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BKSDA Kaltim dan COP Lepasliarkan Tarsius Hasil Penyerahan Masyarakat ke Taman Nasional Kutai

Samarinda, Oktober 2026 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) bersama Centre for Orangutan Protection (COP) melepasliarkan satu individu Tarsius Kalimantan (Cephalopachus bancanus) ke habitat alaminya di kawasan Taman Nasional Kutai pada Selasa (8/9). Satwa dilindungi tersebut berhasil dikembalikan ke alam setelah diserahkan secara sukarela oleh warga. Peristiwa ini bermula pada 1 September, ketika seekor tarsius ditangkap oleh warga di area perkebunan sekitar kawasan pertambangan. Satwa tersebut kemudian diserahkan kepada seorang warga (pelapor) yang pada awalnya mengira bahwa satwa berukuran kecil itu adalah sugar glider. Selama beberapa hari berada dalam perawatannya, pelapor berusaha mencari informasi lebih jauh mengenai satwa tersebut. Dari penelusuran itu, ia menyadari bahwa satwa yang dirawatnya adalah tarsius, salah satu jenis satwa liar yang dilindungi oleh hukum. Meskipun pelapor sempat berupaya menyediakan lingkungan dan pakan yang sesuai, ia menyadari bahwa memeliharanya bukanlah tindakan yang tepat dan memiliki risiko tinggi jika dilepasliarkan secara mandiri tanpa prosedur medis. Pada 6 September, pelapor mengambil langkah tepat dengan menghubungi call center BKSDA Kaltim untuk meminta bantuan penanganan penyerahan satwa. Menindaklanjuti laporan tersebut, proses penyerahan dilakukan pada 7 September melalui kolaborasi antara BKSDA Kaltim dan COP. Tim medis dan dokter hewan langsung melakukan penanganan serta pemantauan kondisi kesehatan tarsius. Setelah dinyatakan sehat dan memiliki sifat liar yang baik, tarsius dikembalikan ke habitat alaminya di Taman Nasional Kutai pada 8 September. Aksi penyelamatan ini menegaskan bahwa kolaborasi antara BKSDA Kaltim dan COP tidak hanya terbatas pada penanganan orangutan, melainkan mencakup seluruh jenis satwa liar yang membutuhkan perlindungan. Setiap individu satwa memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk hidup bebas di alam. BKSDA Kaltim mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar dilindungi di luar habitatnya untuk tidak memelihara maupun melepasliarkannya sendiri. Masyarakat dapat langsung menghubungi call center BKSDA setempat agar penanganan dapat dilakukan secara aman, profesional, dan sesuai dengan kaidah konservasi. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

BKSDA Kaltim Evakuasi Monyet Ekor Panjang Terluka di Tenggarong Usai Terima Laporan Warga

Tenggarong, Oktober 2026 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) melalui Seksi KSDA Wilayah II Tenggarong mengevakuasi satu individu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang ditemukan warga dalam kondisi luka-luka di pinggir jalan pada Rabu (16/9/2026). Aksi cepat penanganan satwa liar ini dilakukan setelah tim menerima laporan dari masyarakat yang masuk melalui layanan Call Center BKSDA Kaltim. Menanggapi laporan tersebut, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi KSDA Wilayah II Tenggarong langsung diterjunkan ke lokasi kejadian untuk mengamankan satwa tersebut. Berdasarkan pemeriksaan fisik awal di lapangan, monyet ekor panjang tersebut mengalami luka yang cukup serius di beberapa bagian tubuhnya, melingkupi area perut, pinggang, hingga kedua kaki. Setelah proses serah terima dari warga terlaksana dengan lancar, tim langsung membawa satwa tersebut untuk penanganan medis emergency. Saat ini, monyet ekor panjang tersebut berada dalam perawatan intensif oleh tim dokter hewan guna mempercepat proses pemulihan dan penanganan medis lanjutan. Pihak BKSDA Kaltim memberikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada masyarakat yang telah tanggap serta peduli terhadap keselamatan satwa liar. Kepedulian warga dalam melaporkan kejadian ini membantu menyelamatkan nyawa satwa dari bahaya yang lebih fatal. BKSDA Kaltim terus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga keberadaan satwa liar agar tetap aman di habitat alaminya. Apabila menemukan satwa liar yang terluka, berada dalam situasi konflik dengan pemukiman, atau dipelihara secara ilegal, masyarakat diimbau untuk tidak bertindak sendiri dan segera menghubungi layanan Call Center Balai KSDA Kalimantan Timur. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Wujud Kepedulian Masyarakat, BKSDA Kaltim Evakuasi Elang Laut Perut Putih di Tanjung Redeb, Berau

Berau, Oktober 2026 – Kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung upaya pelestarian satwa liar di Kalimantan Timur terus menunjukkan tren positif. Pada Senin, 14 September 2026, Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) melalui Seksi KSDA Wilayah I Berau kembali memproses laporan penyerahan sukarela satu individu satwa dilindungi jenis Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) di Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau. Kegiatan penanganan satwa ini bermula saat BKSDA Kaltim menerima laporan dari seorang warga lokal bernama Pak Edy, yang mengutarakan niatnya untuk menyerahkan satwa liar yang berada dalam pengawasannya kepada otoritas konservasi yang berwenang. Respon cepat langsung ditunjukkan oleh tim Seksi KSDA Wilayah I Berau dengan mendatangi titik lokasi keberadaan satwa di wilayah Tanjung Redeb. Setibanya di lokasi, petugas bertemu dengan pihak penjaga untuk melakukan verifikasi serta pemeriksaan medis awal (health check) terhadap kondisi fisik satwa predator udara tersebut. Dari hasil pemeriksaan sementara di lapangan, burung Elang Laut Perut Putih tersebut teridentifikasi dalam kondisi fisik yang sehat, aktif, serta tidak ditemukan luka luar yang signifikan. Sebagai langkah penanganan lanjutan dan demi memastikan rehabilitasi satwa berjalan optimal, BKSDA Kaltim berkoordinasi serta bergandengan tangan dengan mitra konservasi Conservation Action Network (CAN). Proses administrasi penyerahan resmi dilakukan di lokasi, dan satwa tersebut selanjutnya diserahterimakan kepada pihak CAN untuk menjalani skema titip rawat (temporary care), pengamatan perilaku, serta perawatan medis berkala sebelum nantinya dinilai kelayakannya untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. BKSDA Kalimantan Timur menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada warga masyarakat yang terus menunjukkan rasa kepedulian dan iktikad baik dengan melaporkan serta menyerahkan satwa liar dilindungi kepada pihak berwenang. Sinergi dan kepedulian seperti ini merupakan kunci utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem serta keanekaragaman hayati di tanah Kalimantan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Dari Serasah, Bawean Menanam Masa Depan

Ketika kampus, kelompok masyarakat, pelajar, dan konservasi bertemu, daun yang jatuh pun bisa menjadi jalan kecil menuju Bawean yang lebih mandiri. Bawean, 5 Oktober 2026. Daun-daun kering yang jatuh di halaman rumah sering berakhir di tumpukan sampah atau dibakar. Di Bawean, sesuatu yang sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari itu mulai dilihat dengan cara berbeda. Seresah dikembalikan ke tanah sebagai kompos, digunakan untuk mendukung budidaya sayuran, sekaligus menjadi ruang belajar tentang bagaimana alam bekerja. Gagasan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga yang berlangsung di Pos Riset Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konsesrvasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), pada tanggal 3–4 Oktober 2026. Kegiatan melibatkan KPH Bawean Lestari, KTH Mutiara Madu, KTH Putra Daun, serta siswa MA Hasan Jufri Bawean. Pertemuan lintas generasi dan latar belakang itu membawa satu semangat yang sama, ilmu pengetahuan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan dapat diterapkan dengan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka. Salah satunya melalui pengolahan serasah dan bahan organik menjadi kompos. Namun, ada batas yang penting dipahami. Serasah yang dimaksud bukanlah serasah yang sengaja diambil dari dalam kawasan hutan. Di lantai hutan, daun, ranting, bunga, buah, dan bagian tumbuhan yang gugur bukanlah sampah. Material tersebut merupakan bagian dari proses ekologis. Melalui dekomposisi, unsur hara dikembalikan ke tanah, kehidupan organisme pengurai berlangsung, kelembapan tanah terbantu dipertahankan, dan siklus pertumbuhan vegetasi terus bergerak. Hutan memiliki cara sendiri untuk mendaur ulang kehidupannya. Karena itu, pelatihan justru mendorong pemanfaatan bahan organik yang tersedia dekat dengan masyarakat dari halaman rumah, pekarangan, kebun, lingkungan sekolah maupun ruang-ruang lain di sekitar permukiman. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah tanpa harus mengambil sesuatu dari hutan. Dari halaman menuju meja makan Kompos hanyalah awal. Peserta juga dikenalkan pada pemanfaatannya untuk mendukung budidaya sayuran yang dipadukan dengan sistem irigasi tetes. Teknologi ini memperkenalkan cara mengalirkan air secara lebih terukur langsung ke sekitar perakaran tanaman. Bagi sebuah pulau seperti Bawean, pendekatan sederhana semacam ini memiliki arti lebih luas. Pekarangan dapat menjadi ruang produksi pangan. Bahan organik lokal dapat kembali menjadi penyubur tanaman. Air digunakan lebih efisien, sementara keluarga mempunyai kesempatan menghasilkan sebagian kebutuhan sayurnya sendiri. Skalanya mungkin dimulai dari beberapa tanaman. Tetapi kemandirian memang sering tumbuh dari hal-hal kecil yang dapat dilakukan berulang kali. Jika pengetahuan tersebut berkembang di rumah, kelompok masyarakat, dan sekolah, manfaatnya tidak berhenti pada hasil panen. Ada keterampilan baru yang tumbuh, ada pengeluaran rumah tangga yang berpotensi ditekan, dan ada peluang usaha yang suatu hari dapat dikembangkan sesuai potensi setempat. Sekolah bertemu kehidupan nyata Kehadiran siswa MA Hasan Jufri Bawean memberi warna tersendiri. Mereka tidak hanya belajar bahwa tumbuhan membutuhkan unsur hara sebagaimana tertulis dalam buku pelajaran. Mereka dapat melihat hubungan yang lebih utuh: daun jatuh, bahan organik terurai, unsur hara kembali ke tanah, tanaman tumbuh, air dikelola, lalu pangan dihasilkan. Sains bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Di titik inilah pengabdian masyarakat menemukan maknanya. Kampus tidak datang membawa pengetahuan untuk berhenti di ruang pertemuan. Ilmu diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa disentuh, dicoba, dikembangkan, bahkan dikritisi kembali oleh masyarakat sesuai kondisi Bawean. Sebaliknya, masyarakat bukan sekadar peserta. Pengetahuan lokal, pengalaman mengelola lahan, serta pemahaman terhadap kondisi pulau menjadi bagian penting untuk menentukan apakah sebuah teknologi benar-benar dapat diterapkan. Konservasi yang tumbuh bersama masyarakat Bagi wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam hayati seperti Bawean, kemajuan tidak seharusnya dibangun dengan mempertentangkan ekonomi dan konservasi. Keduanya justru harus bertemu. Masyarakat dapat meningkatkan produktivitas tanpa menjadikan kawasan hutan sebagai sumber bahan baku. Pekarangan dapat dioptimalkan tanpa membuka kawasan baru. Bahan organik dapat didaur ulang tanpa harus dibakar. Teknologi dapat membantu menghemat air. Sementara hutan tetap diberi ruang untuk menjalankan fungsi ekologisnya. Cara pandang seperti ini penting bagi Bawean. Pulau ini memiliki masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi dan kekayaan hayati yang tidak dimiliki banyak tempat lain. Karena itu, setiap inovasi akan jauh lebih berarti ketika mampu menjawab kebutuhan manusia sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam. Pemberdayaan pada akhirnya bukan soal seberapa banyak bantuan yang datang ke sebuah pulau. Ukurannya adalah seberapa jauh pengetahuan dapat tinggal setelah sebuah kegiatan selesai, dipraktikkan masyarakat, diteruskan kepada orang lain, lalu berkembang menjadi kemandirian. Pos riset sebagai ruang bertemu Pelaksanaan kegiatan di Pos Riset RKW 09 Gresik–Bawean BBKSDA Jawa Timur juga memberi gambaran bahwa ruang konservasi dapat berkembang menjadi tempat bertemunya banyak gagasan. Penelitian tetap penting. Perlindungan kawasan tetap menjadi tugas utama. Namun pengetahuan konservasi juga perlu bertemu dengan pendidikan, teknologi, pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan dan kebutuhan generasi muda. Kolaborasi antara Universitas Airlangga, Balai Besar KSDA Jawa Timur kelompok masyarakat, pelajar, dan pengelola kawasan menjadi contoh kecil bagaimana sekat antarsektor dapat dipertemukan. Kampus membawa ilmu pengetahuan. Masyarakat membawa pengalaman. Pelajar membawa masa depan. Konservasi menjaga agar semuanya tetap memiliki batas ekologis. Tidak ada satu pihak yang dapat membawa Bawean maju sendirian. Kemajuan pulau membutuhkan lebih banyak ruang perjumpaan seperti ini, tempat persoalan lokal dibicarakan bersama, ilmu pengetahuan diuji dalam kehidupan nyata, teknologi disederhanakan agar dapat digunakan masyarakat, dan kekayaan alam tetap ditempatkan sebagai modal yang harus diwariskan, bukan dihabiskan. Dari sebuah daun kering, pembicaraan akhirnya menjadi jauh lebih besar. Tentang pangan. Tentang air. Tentang pendidikan. Tentang ekonomi keluarga. Tentang hutan. Dan tentang generasi yang kelak akan menentukan wajah Bawean. Serasah di dalam hutan biarlah kembali menjadi hara bagi hutan. Serasah di sekitar kehidupan kita dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sebab Bawean yang maju bukan Bawean yang mengambil lebih banyak dari alam, tetapi Bawean yang semakin pandai mengelola apa yang dimiliki, semakin kuat masyarakatnya, semakin maju pengetahuannya, dan tetap terjaga hutannya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 1–16 dari 2.667 publikasi