Minggu, 24 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

135 Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Menyelami Filosofi Konservasi di Kawah Ijen

Banyuwangi, 22 Mei 2026. Pagi itu, angin berembus pelan membawa aroma tajam belerang yang menggantung di udara. Kabut tipis masih menyelimuti lanskap vulkanik Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, seolah menahan cahaya matahari yang perlahan menembus dari balik punggung gunung. Di hadapan kawah berwarna pirus yang tampak tenang, sekitar 135 mahasiswa berdiri dalam hening yang tidak biasa. Mereka tidak datang sekadar untuk melihat. Mereka datang untuk memahami. Langkah kaki yang sebelumnya riuh di jalur pendakian kini melambat. Lanskap yang selama ini hanya hadir dalam foto dan layar gawai berubah menjadi pengalaman inderawi yang utuh, bau, suara, suhu, dan rasa takjub yang sulit diterjemahkan. Kawah Ijen bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang belajar yang hidup, sekaligus pengingat bahwa alam memiliki cara sendiri untuk berbicara kepada manusia. Pada Rabu, 20 Mei 2026, kawasan TWA. Kawah Ijen menjadi kelas terbuka bagi mahasiswa Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Sosial, Budaya, dan Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari praktikum lapangan Mata Kuliah Dasar-dasar Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang dikemas dalam program Learning Exploration of Tourism & Local Wisdom (LENTERA) 2026. Di tengah bentang alam yang ekstrem, materi mengenai dasar-dasar konservasi dan pengelolaan kawasan disampaikan secara langsung di lapangan, bukan dalam ruang tertutup, melainkan di hadapan lanskap yang menjadi objek sekaligus subjek pembelajaran itu sendiri. Pendekatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, di mana teori bertemu dengan realitas yang kompleks. Kawasan seperti Kawah Ijen menyimpan lebih dari sekadar keindahan visual. Ia merupakan sistem ekologis yang rapuh, dengan dinamika geologi yang aktif dan tekanan aktivitas manusia yang terus meningkat. Di satu sisi, kawasan ini menjadi magnet wisata kelas dunia. Di sisi lain, ia adalah ruang konservasi yang membutuhkan pengelolaan cermat agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Dalam konteks inilah, pemahaman tentang konservasi menjadi semakin penting. Para mahasiswa diajak menelusuri bagaimana konsep-konsep dasar konservasi diterapkan dalam pengelolaan kawasan nyata. Bukan hanya tentang perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga tentang bagaimana mengelola interaksi antara manusia dan alam. Setiap aspek, mulai dari pengaturan kunjungan wisata, mitigasi dampak lingkungan, hingga pelibatan masyarakat, menjadi bagian dari sistem yang saling terhubung. Diskusi yang berlangsung di lapangan mencerminkan dinamika pemikiran yang berkembang. Pertanyaan-pertanyaan muncul seiring dengan pengamatan langsung terhadap kondisi kawasan. Bagaimana menjaga daya dukung lingkungan di tengah meningkatnya jumlah wisatawan? Bagaimana memastikan bahwa pemanfaatan ekonomi tidak mengorbankan kelestarian ekosistem? Dan bagaimana peran generasi muda dalam menjawab tantangan tersebut? Di tengah pertanyaan-pertanyaan itu, Kawah Ijen tetap “berbicara” melalui lanskapnya. Asap belerang yang mengepul dari dasar kawah menjadi penanda proses alam yang terus berlangsung tanpa henti. Air kawah yang tampak tenang menyimpan tingkat keasaman ekstrem, menjadikannya salah satu lingkungan paling unik sekaligus paling rentan. Keindahan yang tersaji bukanlah keindahan yang statis, melainkan hasil dari proses panjang yang terus bergerak dan berubah. Pengalaman berada langsung di kawasan ini menghadirkan perspektif yang berbeda. Apa yang sebelumnya dipahami sebagai objek wisata mulai bergeser menjadi sistem yang harus dijaga. Kesadaran ini tidak datang secara instan, melainkan tumbuh dari interaksi langsung dengan lingkungan dan pemahaman atas kompleksitas yang ada di dalamnya. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang refleksi. Di tengah aroma belerang dan lanskap yang ekstrem, muncul pemahaman bahwa setiap aktivitas manusia di kawasan konservasi membawa konsekuensi ekologis. Setiap langkah, setiap keputusan, memiliki dampak yang tidak selalu terlihat secara langsung. Perubahan cara pandang inilah yang menjadi inti dari pembelajaran. Sebagai calon pelaku industri pariwisata, para mahasiswa dihadapkan pada realitas bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep tambahan, melainkan fondasi utama dalam pengelolaan destinasi. Pariwisata yang tidak memperhatikan aspek konservasi berpotensi merusak sumber daya yang justru menjadi daya tarik utamanya. Menjelang akhir kegiatan, suasana perlahan berubah. Kabut mulai terangkat, memperlihatkan lanskap kawah dengan lebih jelas. Warna biru kehijauan air kawah memantulkan cahaya, menciptakan kontras dengan dinding batuan yang keras dan tandus. Keindahan yang memikat itu sekaligus menjadi pengingat akan batas-batas yang harus dihormati. Sebagai bentuk apresiasi, dilakukan penyerahan sertifikat kepada pihak TWA. Kawah Ijen sebagai narasumber dalam kegiatan LENTERA 2026. Kegiatan juga diwarnai dengan penyerahan cinderamata serta buku bertema ekowisata Ekowisata Ber-Sepeda dan Serba-Serbi Ekowisata sebagai bagian dari penguatan kolaborasi dan pertukaran pengetahuan. Namun, nilai utama dari kegiatan ini tidak terletak pada seremoni. Ia terletak pada pemahaman yang terbentuk. Ketika para mahasiswa mulai meninggalkan kawasan, percakapan yang terdengar bukan lagi sekadar tentang keindahan, tetapi tentang makna. Tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan diri dalam relasinya dengan alam. Di tempat seperti TWA. Kawah Ijen, alam tidak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak, berproses, dan menghadirkan pelajaran bagi siapa pun yang bersedia untuk memperhatikan. Dari sana, konservasi menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan hanya sebagai upaya perlindungan, tetapi sebagai cara pandang, sebuah kesadaran bahwa manusia bukanlah pusat dari segalanya, melainkan bagian dari sistem yang lebih besar. Sistem yang harus dijaga, dipahami, dan dihormati. Dan dari Kawah Ijen, pelajaran itu dibawa pulang. Tidak dalam bentuk catatan semata, tetapi sebagai pengalaman yang membentuk cara melihat dunia. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap keindahan alam, selalu ada tanggung jawab yang menyertainya. Karena pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang menjaga alam tetap lestari. Ia adalah tentang bagaimana manusia belajar untuk hidup selaras dengannya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pelepasliaran Sanca Kembang di Jantung Hutan Dander

Bojonegoro, 22 Mei 2026. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Perum Perhutani melaksanakan kegiatan pelepasliaran dua ekor ular Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) di Kawasan Perlindungan Setempat (KPS) Balung Panggang, wilayah RPH Ngunut, BKPH Dander, KPH Bojonegoro, Selasa (19/5). Kegiatan ini merupakan bagian dari giat Matawali Resor KSDA Wilayah (RKW) 03 dan Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, yang bertujuan mengembalikan satwa liar ke habitat alaminya sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Dua individu sanca kembang yang dilepasliarkan berjenis kelamin betina dengan panjang masing-masing sekitar 3,6 meter dan 3,7 meter. Kedua satwa tersebut sebelumnya merupakan hasil penyerahan dari Damkar Pos Singgahan, Kabupaten Tuban, setelah ditemukan di luar habitat alaminya dan berpotensi menimbulkan interaksi negatif dengan manusia. Sebelum pelepasliaran dilakukan, tim terlebih dahulu melaksanakan koordinasi dan kajian kelayakan habitat bersama jajaran Perum Perhutani KPH. Bojonegoro, meliputi Waka KPH, Kepala BKPH Dander, serta Kepala RPH Ngunut. Kajian tersebut mencakup analisis kondisi tutupan lahan, ketersediaan sumber pakan, akses air, serta potensi gangguan terhadap satwa. Berdasarkan hasil kajian, kawasan KPS Balung Panggang dinilai memenuhi kriteria sebagai lokasi pelepasliaran. Area ini masih memiliki tutupan vegetasi yang relatif baik serta tingkat gangguan manusia yang rendah, sehingga mendukung keberlangsungan hidup satwa liar, khususnya predator seperti sanca kembang. Proses pelepasliaran berlangsung dalam kondisi terkendali. Satwa dilepaskan secara langsung ke habitat yang telah ditentukan, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian untuk meminimalkan stres pada satwa dan memastikan peluang adaptasi yang optimal. Sanca kembang merupakan salah satu spesies reptil yang memiliki peran penting dalam ekosistem hutan tropis sebagai predator alami. Keberadaannya membantu mengendalikan populasi satwa mangsa, sehingga menjaga keseimbangan rantai makanan di habitatnya. Kegiatan pelepasliaran ini juga menjadi bagian dari upaya mitigasi konflik manusia dan satwa liar, yang masih kerap terjadi di beberapa wilayah akibat perubahan lanskap dan meningkatnya aktivitas manusia di sekitar habitat alami satwa. Melalui kolaborasi antara BBKSDA Jawa Timur dan Perum Perhutani, diharapkan pengelolaan kawasan hutan dapat berjalan selaras dengan upaya konservasi keanekaragaman hayati. Pelepasliaran ini menjadi salah satu langkah konkret dalam memastikan bahwa satwa liar tetap memiliki ruang hidup yang layak di alam. Di tengah tegakan jati Dander yang rimbun, dua sanca kembang itu perlahan menghilang ke dalam semak dan lantai hutan, kembali menjadi bagian dari sistem alam yang lebih besar, tempat mereka menjalankan perannya dalam menjaga keseimbangan yang tak selalu terlihat, namun sangat menentukan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Momentum Harkitnas 2026, UPT Kemenhut Sumut Teguhkan Semangat Boedi Oetomo di Era Transformasi Digital

Medan, 20 Mei 2026 — Jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kehutanan lingkup Provinsi Sumatera Utara bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sumatera Utara menggelar upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118, Rabu (20/5). Upacara yang berlangsung khidmat ini mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Peringatan ini menjadi momentum refleksi atas tonggak sejarah kebangkitan bangsa yang merujuk pada berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908, sebagai simbol lahirnya kesadaran nasional untuk bersatu dan maju sebagai bangsa. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., bertindak sebagai inspektur upacara dan membacakan pidato Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Viada Hafid. Dalam pidatonya, Menteri Komunikasi dan Digital menyampaikan bahwa Kebangkitan Nasional merupakan proses dinamis yang bersifat mutatis mutandis, yang artinya menyesuaikan diri dengan tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Kebangkitan dimaknai sebagai keberanian untuk melepaskan diri dari belenggu ketidaktahuan dan ketertinggalan. Memasuki tahun 2026, tantangan bangsa telah bergeser dari kedaulatan teritorial menuju kedaulatan informasi dan transformasi digital. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa diajak untuk menjaga Ibu Pertiwi melalui perlindungan para “tunas bangsa”, yakni generasi muda agar tumbuh di lingkungan yang sehat, aman dan berdaya saing. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah disebut terus berupaya membangun kualitas manusia melalui berbagai program strategis nasional yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Program tersebut antara lain Makan Bergizi Gratis, Pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda di Wilayah Afirmasi, Peningkatan Kualitas Guru, Penyediaan Beasiswa, Layanan Cek Kesehatan Gratis, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai penguatan ekonomi desa. Sejalan dengan upaya pembangunan kualitas manusia, pemerintah juga memperkuat perlindungan generasi muda di ruang digital melalui pemberlakuan penuh Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). Kebijakan ini menjadi wujud nyata kehadiran negara dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi anak. Bahkan, per 28 Maret 2026, pemerintah resmi menunda akses anak di bawah usia 16 tahun ke media sosial dan platform digital berisiko tinggi. Langkah ini diambil untuk memastikan anak-anak Indonesia mengakses ruang digital yang sehat, beretika, dan sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya. Dalam penutup pidato, disampaikan bahwa peringatan Harkitnas 2026 menjadi momentum untuk meneguhkan kembali arah perjalanan bangsa dengan menempatkan Asta Cita sebagai kompas utama pembangunan nasional. Semangat Boedi Utomo diharapkan terus menyala dalam setiap lini kehidupan masyarakat. Menteri Komunikasi dan Digital juga mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari akademisi, praktisi, hingga generasi muda untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan literasi digital, serta memastikan setiap langkah pembangunan senantiasa berorientasi pada kemajuan bersama. Hari Kebangkitan Nasional, pada akhirnya, ditegaskan sebagai milik bersama seluruh rakyat Indonesia, yang berawal dari kesadaran individu yang terakumulasi secara kolektif, dan bermuara pada kejayaan bangsa di kancah di dunia. Sumber: Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan) — Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Sumatera Utara Gandeng Dua Mitra Perkuat Areal Preservasi dan Koridor Habitat Orangutan

Medan, 19 Mei 2026 — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Selasa silam (12/5), telah menandatangani dua kerja sama dengan lembaga mitra konservasi yaitu Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa (Tahukah) dan Yayasan Scorpion Indonesia (YSI) di Hotel Le Polonia Medan. Penandatanganan kerja sama ini dirangkaikan dengan kegiatan diseminasi Areal Preservasi (AP) di Sumatera Utara. Areal preservasi merupakan pendekatan penguatan perlindungan keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pengelolaan AP membutuhkan kolaborasi multipihak untuk menjaga konektivitas habitat dan menekan berbagai ancaman terhadap kelestarian satwa liar di bentang alam yang lebih luas. Kerja sama dengan Tahukah berfokus pada penguatan fungsi konservasi keanekaragaman hayati melalui inisiatif penetapan dan perlindungan koridor konektivitas habitat orangutan di lanskap ekologi Pakpak dan Batang Toru. Sementara itu, kerja sama dengan YSI diarahkan pada penguatan fungsi kawasan konservasi melalui pemantauan perburuan dan perdagangan satwa liar ilegal serta konservasi Macaca sp. di wilayah kerja BBKSDA Sumatera Utara. Melalui kolaborasi ini, diharapkan pengelolaan Areal Preservasi di Sumatera Utara semakin efektif dengan melibatkan para pihak dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, memperkuat konektivitas habitat, dan meningkatkan upaya pencegahan ancaman terhadap satwa liar. Sumber: Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan) — Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Mengapa Bawean Jadi Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati?

Gresik, 19 Mei 2026. Di tengah Laut Jawa yang tenang, Pulau Bawean berdiri sebagai lanskap yang tampak sederhana, namun menyimpan kompleksitas kehidupan yang luar biasa. Malam itu, di Kantor Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik-Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) sebuah percakapan membuka kembali kesadaran, mengapa pulau ini layak disebut sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati di Jawa Timur. Sekira pukul 19.30 WIB, tim RKW 09 menerima kunjungan dari perwakilan PT. Wonderful Bawean Tourism. Diskusi yang berlangsung tidak sekadar membahas potensi wisata, tetapi justru menyoroti fondasi utama yang harus dijaga, keberadaan kawasan konservasi yang menjadi jantung kehidupan pulau. Petugas menjelaskan bahwa Cagar Alam Pulau Bawean, Pulau Noko, dan Pulau Nusa telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 76/Kpts/Um/12/1979. Status ini menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan wilayah perlindungan ketat, dengan fungsi utama menjaga keutuhan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Namun lebih dari sekadar status hukum, Bawean menyimpan cerita ekologis yang jarang disadari. Sebagai pulau yang relatif terisolasi, Bawean menjadi ruang alami bagi berlangsungnya proses evolusi. Spesies yang hidup di dalamnya beradaptasi dalam keterbatasan ruang dan sumber daya, membentuk karakter unik yang tidak selalu ditemukan di wilayah lain. “Bawean ini ibarat laboratorium alami. Karena isolasinya, kita punya peluang besar menemukan kekhasan genetik flora dan fauna yang tidak dimiliki daerah lain. Itu yang membuat kawasan ini sangat penting untuk dijaga,” ujar Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan Pemula RKW 09 Gresik-Bawean. Di sisi lain, fungsi ekologis kawasan ini tidak berhenti pada keanekaragaman hayati. Hutan-hutan di dalam kawasan cagar alam berperan sebagai penyimpan cadangan air, menopang kehidupan masyarakat di pulau yang sumber daya airnya terbatas. “Masyarakat mungkin tidak selalu melihat langsung manfaatnya, tapi kawasan ini adalah penyangga kehidupan. Air yang mereka gunakan hari ini, sebagian besar bergantung pada keberadaan hutan yang tetap terjaga,” jelas Arif Wicaksono, Polisi Kehutanan Ahli Pertama. Di tengah meningkatnya tekanan pembangunan dan ketertarikan sektor pariwisata, posisi Bawean menjadi semakin strategis sekaligus rentan. Karena itu, upaya perlindungan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari patroli kawasan, pengawasan aktivitas, hingga pendekatan edukatif kepada masyarakat. Pendekatan ini menegaskan bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk dunia usaha, agar pemanfaatan ruang tetap selaras dengan daya dukung lingkungan. Pertemuan malam itu mungkin berlangsung singkat, namun pesan yang mengemuka begitu kuat: Bawean bukan sekadar pulau kecil di tengah laut. Ia adalah benteng terakhir, tempat di mana kehidupan liar masih menemukan ruang untuk bertahan. Dan selama benteng itu dijaga, harapan akan tetap hidup, di antara hutan, air, dan jejak-jejak kehidupan yang tak selalu terlihat, namun tak pernah benar-benar hilang. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Saat Kesadaran Datang Terlambat, Harapan Seekor Monyet Dari Surabaya Masih Ada

Surabaya, 19 Mei 2026. Di sebuah sudut kota Surabaya, jauh dari rimbun kanopi hutan tropis yang seharusnya menjadi rumahnya, seekor primata betina menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam ruang terbatas. Selama delapan tahun, ia hidup dalam dunia yang dibentuk manusia, tanpa kelompok sosialnya, tanpa kebebasan menjelajah, tanpa kesempatan menjadi dirinya yang liar. Namun pada Senin, 18 Mei 2026, kisah itu perlahan berubah arah. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menerima penyerahan satu individu Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dari seorang mahasiswa, Wisnu Samudera, di kawasan Universitas Hang Tuah Surabaya. Penyerahan ini bukan sekadar proses administratif, melainkan sebuah titik balik, sebuah pengakuan bahwa ada batas antara merawat dan menguasai, antara kepedulian dan kekeliruan. Tanpa menunda dari informasi diterima, tim yang terdiri dari Polisi Kehutanan Terampil Hartono dan operator Kukuh Iswahyudi bergerak menuju lokasi dengan membawa perlengkapan evakuasi. Di sana, mereka tidak hanya menemukan seekor satwa, tetapi juga sebuah cerita panjang tentang relasi manusia dan alam yang tidak selalu berjalan semestinya. Berdasarkan keterangan pelapor, monyet tersebut awalnya dibeli oleh seorang mahasiswa lain dan kemudian dipelihara selama bertahun-tahun. Waktu berjalan, dan realitas pun tak bisa dihindari. Satwa liar, betapapun tampak jinak, tetap memiliki kebutuhan biologis dan perilaku yang tidak dapat dipenuhi dalam lingkungan domestik. Ketika kemampuan untuk merawat tak lagi sebanding dengan kebutuhan satwa, keputusan untuk menyerahkan menjadi satu-satunya jalan yang tersisa. Hasil pemeriksaan menunjukkan satu individu betina dalam kondisi hidup dan relatif sehat. Spesies ini memang tidak termasuk dalam daftar satwa dilindungi nasional, namun tercatat dalam Appendix II CITES. Sebuah pengingat bahwa tekanan terhadap populasi di alam nyata adanya, dan setiap individu memiliki arti penting dalam upaya konservasi. Proses evakuasi berlangsung tenang. Tim menggunakan kandang angkut standar, memastikan keselamatan sekaligus meminimalkan stres pada satwa. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada kegaduhan, hanya kesenyapan yang sarat makna. Dalam diam, satu kehidupan sedang dipindahkan menuju kemungkinan baru. Perjalanan kemudian berlanjut ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di tempat itulah tahapan berikutnya dimulai, dari observasi medis, pemulihan kondisi, dan rehabilitasi perilaku. Jalan menuju kembali ke alam tidaklah singkat, bahkan mungkin tidak selalu berujung pelepasliaran. Namun setiap langkah tetap berarti, karena setiap upaya adalah bentuk tanggung jawab. Kisah ini bukan sekadar tentang seekor monyet. Ia adalah potret dari banyak cerita serupa yang tersembunyi di balik tembok rumah, kandang sempit, atau ruang-ruang yang tidak pernah dimaksudkan untuk kehidupan liar. Ia berbicara tentang ketidaktahuan yang perlahan berubah menjadi kesadaran, tentang keputusan yang mungkin datang terlambat, namun tetap membawa harapan. Di tengah dinamika hubungan manusia dan satwa liar, satu hal menjadi jelas, bahwa kebebasan bukan sekadar ruang, melainkan hak dasar setiap makhluk hidup. Dan ketika kesadaran itu akhirnya tiba, meski terlambat, selalu ada satu kemungkinan yang tersisa, yaitu harapan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dua Anak Kucing Kuwuk Diselamatkan, Kisah Warga Pacitan yang Memilih Mengembalikan Alam ke Pemiliknya

Pacitan, 19 Mei 2026. Di Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, dua pasang mata kecil sempat menjadi pusat perhatian, bukan karena ancaman, melainkan karena rasa iba manusia yang diuji oleh alam. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Senin (18/5), bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan kepemilikan satwa liar dilindungi jenis kucing kuwuk, atau Prionailurus bengalensis. Koordinasi dilakukan dengan Pemerintah Desa Ngile sebelum tim bersama perangkat desa mendatangi rumah warga di Dusun Krajan. Dari hasil pengecekan dan wawancara, terungkap bahwa sepasang anakan kucing kuwuk ditemukan di sekitar pekarangan rumah warga pada minggu kedua Mei 2026. Naluri manusia mengambil alih, dua anak satwa liar itu sempat dipelihara selama dua hari. Namun, alam punya cara sendiri untuk berbicara. Di tengah keheningan malam desa, induk kucing kuwuk masih terlihat berkeliaran, seolah tak pernah berhenti mencari. Rasa iba pun berganti menjadi kesadaran. Warga memutuskan untuk melepaskan kembali kedua anakan tersebut. Tak lama kemudian, induknya datang dan membawa mereka pergi, kembali ke hutan, ke tempat mereka seharusnya berada. Peristiwa ini menjadi lebih dari sekadar laporan lapangan. Ia menjelma menjadi refleksi hubungan manusia dan satwa liar, tentang pilihan antara memiliki atau menjaga. Dalam kesempatan tersebut, petugas juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan perangkat desa mengenai ketentuan perlindungan satwa liar, merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 serta Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024. Pesan yang disampaikan sederhana namun mendasar, bahwa satwa liar bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dijaga keberadaannya di habitat alaminya. Kejadian di Desa Ngile menjadi potret kecil dari harapan besar, bahwa kesadaran konservasi tidak selalu lahir dari penegakan hukum, tetapi juga dari empati. Di balik dua anak kucing kuwuk yang kembali ke pelukan induknya, tersimpan pesan penting, bahwa ketika manusia memilih untuk tidak mengambil, di situlah alam diberi kesempatan untuk tetap utuh. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Empat Ular dari Tuban, Antara Ketakutan Manusia dan Hak Hidup Satwa Liar

Bojonegoro, 19 Mei 2026. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 Bojonegoro menerima penyerahan empat ekor ular dari Pemadam Kebakaran Pos Singgahan, Kabupaten Tuban. Satwa tersebut terdiri dari tiga ekor Sanca Kembang dan seekor Kobra Jawa, keempat satwa hasil evakuasi dari permukiman warga di Kecamatan Singgahan, Parengan, dan Montong. Penyerahan ini merupakan tindak lanjut dari serangkaian kejadian interaksi negatif antara manusia dan satwa liar, di mana ular-ular tersebut ditemukan di dalam rumah maupun di lingkungan sekitar tempat tinggal warga. Dalam situasi seperti ini, respons cepat menjadi krusial, bukan hanya untuk menjaga keselamatan masyarakat, tetapi juga untuk memastikan satwa tidak menjadi korban dari ketakutan yang sering kali berujung pada tindakan fatal. Saat ini, keempat ular tersebut berada dalam perawatan sementara di kandang transit Kantor Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Tim melakukan observasi terhadap kondisi fisik dan perilaku satwa guna menentukan langkah penanganan selanjutnya, termasuk kemungkinan pelepasliaran ke habitat yang sesuai. Namun, peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Kemunculan ular di permukiman warga merupakan fenomena yang kian sering terjadi, terutama di wilayah dengan perubahan lanskap yang signifikan. Sanca Kembang dikenal sebagai predator oportunistik yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, termasuk area yang dekat dengan aktivitas manusia. Di sisi lain, Kobra Jawa merupakan spesies berbisa yang secara alami menghindari interaksi dengan manusia, tetapi dapat menunjukkan perilaku defensif ketika merasa terancam. Kehadiran mereka di ruang-ruang domestik sejatinya bukan tanpa sebab. Perubahan tutupan lahan, berkurangnya habitat alami, serta meningkatnya ketersediaan mangsa seperti tikus di sekitar permukiman menjadi faktor pendorong utama. Dalam banyak kasus, satwa liar tidak benar-benar “memasuki” wilayah manusia, melainkan bertahan di ruang yang secara perlahan berubah menjadi milik manusia. Di titik inilah interaksi negatif bermula. Bagi warga, ular adalah ancaman nyata yang memicu rasa takut. Namun bagi satwa, keberadaan mereka di lokasi tersebut adalah bagian dari upaya bertahan hidup. Dua kepentingan ini bertemu dalam satu ruang yang sama, ruang yang semakin sempit bagi satwa liar. Upaya evakuasi yang dilakukan oleh Pemadam Kebakaran dan penanganan oleh BBKSDA Jawa Timur mencerminkan pendekatan yang mengedepankan keseimbangan: melindungi manusia tanpa mengorbankan keberlangsungan hidup satwa. Ini menjadi bagian penting dari strategi konservasi modern, di mana mitigasi konflik menjadi salah satu kunci dalam menjaga keanekaragaman hayati di tengah tekanan pembangunan. Dari Tuban, empat ular itu membawa pesan yang lebih luas. Bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga kawasan hutan yang jauh dari jangkauan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memahami, menghargai, dan berbagi ruang dengan makhluk lain yang telah lebih dulu menghuni lanskap ini. Di antara rasa takut dan naluri bertahan hidup, terselip satu pertanyaan yang semakin relevan: sejauh mana kita memberi ruang bagi satwa liar untuk tetap hidup? Dan mungkin, jawabannya akan menentukan masa depan hubungan antara manusia dan alam itu sendiri. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tren Trail Run dan Trekking Anak Muda Dongkrak Kunjungan Wisata TN Gunung Merapi

Sleman, Mei 2026 – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) kembali menyampaikan kabar gembira dari Obyek Wisata Alam (OWA) Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Memasuki caturwulan pertama di tahun 2026, antusiasme masyarakat untuk berwisata dan berinteraksi dengan alam Gunung Merapi menunjukkan tren yang sangat positif dan menggembirakan. Hingga bulan April 2026, TNGM mencatat total kunjungan mencapai 96.683 orang. Angka ini mengalami kenaikan signifikan sebesar 21% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 lalu. Secara khusus, lonjakan tajam terjadi pada bulan April 2026 dengan jumlah wisatawan menyentuh 29.586 orang, atau melesat 57% dibanding bulan Maret 2026. Momentum libur nasional menjadi pendongkrak utama, di mana 47,9% dari total pengunjung memilih menghabiskan hari libur mereka di kawasan TNGM. Berikut adalah beberapa poin penting perkembangan wisata di lingkup TNGM: Kunjungan wisata yang meningkat ini juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar OWA, ujar Kepala Balai TNGM, T. Heri Wibowo. Kami juga sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat, khususnya anak-anak muda yang menjadikan TNGM sebagai ruang berwisata sekaligus berolahraga sehat melalui trail run dan trekking. Kami akan terus berupaya menjaga kelestarian kawasan sekaligus memastikan kenyamanan serta keamanan bagi para pengunjung, pungkas Heri. *** Sumber: Balai TN Gunung Merapi Call Center : 6281555777002 email : btngunungmerapi@gmail.com Instagram : @btn_gn_merapi TikTok : @btng.merapi
Baca Artikel

Saat Malam Membawa Sanca Ke Dalam Rumah, Misi Tim Matawali Menyelamatkan Predator Yang Disalahpahami Di Bawean

Bawean, 18 Mei 2026. Malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat berubah menjadi kepanikan di Dusun Menara, Desa Gunung Teguh, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik. Seekor ular tiba-tiba ditemukan di dalam kamar warga. Namun, alih-alih berujung pada kematian satwa seperti yang kerap terjadi, peristiwa ini justru menjadi contoh bagaimana respons cepat dan pendekatan konservasi mampu mengubah konflik menjadi penyelamatan. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali), Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Kamis (14/5), sekitar pukul 20.00 WIB, menerima laporan dari seorang warga bernama Maswar. Ular tersebut pertama kali ditemukan oleh anaknya saat hendak beristirahat. Keberadaan satwa liar di ruang privat ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama terkait keselamatan keluarga. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim segera bergerak menuju lokasi. Terdiri dari unsur penyuluh kehutanan dan mitra masyarakat konservasi, kehadiran Tim Matawali tidak hanya untuk mengevakuasi, tetapi juga memastikan bahwa proses penanganan dilakukan secara aman, baik bagi manusia maupun satwa. Setibanya di lokasi, tim tidak langsung melakukan penangkapan. Pendekatan diawali dengan komunikasi kepada pelapor, menggali kronologi kejadian, serta melakukan observasi kondisi lingkungan sekitar. Dari hasil wawancara, diketahui bahwa kemunculan ular di kawasan permukiman tersebut bukanlah kejadian pertama. Interaksi serupa bahkan cukup sering terjadi. Yang menarik, masyarakat mulai menunjukkan perubahan sikap. Jika sebelumnya kemunculan satwa liar kerap direspons dengan tindakan pembunuhan, kali ini pelapor memilih meminta bantuan evakuasi. Sebuah indikasi tumbuhnya kesadaran bahwa keberadaan satwa liar merupakan bagian dari sistem ekologis yang lebih besar. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa satwa tersebut adalah Sanca Kembang (Malayopython reticulatus), seekor anakan yang masih berada pada fase awal kehidupannya. Meski tidak termasuk satwa dilindungi, spesies ini memiliki peran ekologis penting sebagai pengendali populasi hewan kecil di alam. Dengan teknik penanganan yang terukur dan hati-hati, tim berhasil mengevakuasi satwa dalam kondisi hidup. Proses berlangsung tanpa insiden, mencerminkan kesiapan tim dalam menangani situasi konflik manusia dan satwa liar di tingkat tapak. Antara Habitat dan Permukiman Fenomena kemunculan sanca di permukiman tidak terjadi tanpa sebab. Secara ekologis, Pulau Bawean merupakan lanskap yang mempertemukan kawasan alami dengan ruang hidup manusia. Kedekatan Dusun Menara dengan Suaka Margasatwa Pulau Bawean menciptakan potensi interaksi yang tinggi. Sanca Kembang dikenal sebagai spesies dengan daya adaptasi tinggi. Mereka mampu memanfaatkan lingkungan yang telah mengalami perubahan, terutama jika tersedia sumber pakan seperti tikus atau hewan ternak kecil. Perubahan tutupan lahan dan aktivitas manusia turut memperbesar peluang pertemuan ini. Dalam konteks ini, konflik bukan semata persoalan keberadaan satwa, melainkan refleksi dari dinamika ekosistem yang terus berubah. Mitigasi, Bukan Eliminasi Pendekatan yang dilakukan Tim Matawali menunjukkan bahwa solusi terhadap konflik manusia dan satwa liar bukanlah eliminasi, melainkan mitigasi. Penanganan yang cepat dan tepat tidak hanya melindungi masyarakat dari potensi risiko, tetapi juga menjaga keberlangsungan fungsi ekologis satwa. Satwa hasil evakuasi kemudian diamankan sementara di kandang transit Pos Riset Bawean untuk selanjutnya dilepasliarkan ke habitat alaminya yang lebih representatif. Ke depan, upaya yang lebih sistematis diperlukan, termasuk edukasi kepada masyarakat, penguatan peran mitra konservasi, serta penyusunan strategi mitigasi berbasis komunitas di wilayah rawan interaksi. Peristiwa di Dusun Menara menjadi pengingat bahwa batas antara manusia dan alam tidak selalu tegas. Dalam banyak kasus, keduanya saling bersinggungan, dan di situlah pilihan menjadi penting. Memilih untuk memahami, bukan membasmi. Memilih untuk melindungi, bukan menghakimi. Di Bawean, malam itu, seekor sanca berhasil diselamatkan. Namun lebih dari itu, yang terjaga adalah satu hal yang jauh lebih besar: keseimbangan antara manusia dan alam. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Catatan Lapangan dari Jantung Pulau Bawean

Bawean, 18 Mei 2026. Pagi di Bawean tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik kabut tipis yang menggantung di antara lereng dan tajuk pohon, suara burung bersahutan, membentuk orkestrasi alami yang hanya dimiliki hutan tropis yang masih hidup. Aroma tanah basah bercampur daun gugur menguar pelan, seolah menjadi penanda bahwa ekosistem ini masih bernafas, masih bekerja, masih bertahan. Namun, bagi mereka yang berjalan lebih dalam, hutan ini tidak hanya menyuguhkan keindahan. Ia juga menyimpan cerita lain, tentang tekanan, tentang batas yang mulai tergerus, dan tentang keseimbangan yang tidak lagi sepenuhnya utuh. Selama tujuh hari, dari tanggal 8 - 14 Mei 2026, tim gabungan dari Resort Konservasi Wilayah 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari memasuki jantung kawasan konservasi. Mereka tidak sekadar berjalan. Mereka membaca lanskap, menerjemahkan jejak, suara, dan perubahan kecil yang kerap luput dari perhatian. Sebanyak 15 grid patroli disisir, membentang di blok Gunung Besar dan Payung-payung dengan cakupan area sekitar 70 Ha. Jalur yang ditempuh bukan hanya jalur lama yang telah dikenal, tetapi juga jalur baru yang dibuka menyesuaikan kondisi topografi dan tingkat kerawanan kawasan. Setiap langkah adalah upaya memahami, di mana kehidupan masih kuat bertahan, dan di mana ia mulai melemah. Dengan perangkat GPS, kamera, dan aplikasi Smart Mobile, setiap temuan dicatat secara sistematis. Data dikumpulkan bukan hanya sebagai arsip, tetapi sebagai dasar pengambilan keputusan, karena di dunia konservasi, setiap detail memiliki arti. Di kanopi hutan, siluet Elang Ular Bawean (Spilornis cheela baweanus) terlihat berputar perlahan, memanfaatkan arus udara hangat untuk mengawasi wilayahnya. Kehadirannya bukan sekadar simbol keindahan, tetapi indikator penting bahwa rantai makanan masih berfungsi. Di bawahnya, burung-burung seperti pergam hijau, cekakak sungai, hingga cabai jawa bergerak di antara strata vegetasi, mengisi relung ekologisnya masing-masing. Lebih dekat ke tanah, kehidupan terasa lebih sunyi namun tak kalah dinamis. Jejak kaki Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) tercetak samar di tanah lembap, sementara kelompok Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) terlihat berpindah di antara pepohonan, menjaga jarak dari kehadiran manusia. Di senja hari, kelelawar besar (Pteropus vampyrus) keluar dari tempat bertenggernya, memulai perannya sebagai penyebar biji yang tak terlihat namun vital. Di sela-sela batu dan serasah, katak sawah dan katak tegalan menjadi penanda bahwa siklus air masih berjalan. Sementara itu, kupu-kupu raja (Troides helena) yang melintas dengan sayapnya yang mencolok menjadi simbol rapuhnya keindahan, indah, namun sensitif terhadap perubahan habitat. Vegetasi Bawean memperlihatkan struktur yang kaya dan berlapis. Pohon pangopa, gondang, hingga badung membentuk kanopi yang menaungi kehidupan di bawahnya. Akar-akar mereka mencengkeram tanah, menahan erosi, sekaligus menjadi fondasi bagi keberlanjutan ekosistem. Namun, mungkin yang paling memikat adalah kehidupan yang menempel diam di batang-batang pohon: anggrek. Jenis-jenis seperti Phalaenopsis amabilis, Rhynchostylis retusa, hingga Cymbidium bicolor tumbuh sebagai epifit, menggantung di antara cahaya dan bayangan. Di antara mereka, tim menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar keindahan, sebuah individu Dendrobium sp. yang diduga sebagai catatan baru bagi kawasan ini. Sebuah penemuan kecil yang membawa arti besar dalam dunia botani. Seperti halnya banyak lanskap liar lainnya, Bawean tidak sepenuhnya tanpa luka. Di beberapa grid, tim menemukan bekas perambahan, lahan yang telah dibuka, meskipun dalam skala kecil, dan kini ditanami rumput gajah serta ilalang. Luasnya mungkin hanya sepersekian hektar, tetapi dalam perspektif ekologi, ini adalah tanda awal dari tekanan yang bisa meluas jika tidak ditangani. Interaksi manusia juga terlihat dari aktivitas pengambilan kayu kering dan pemasangan sarang lebah madu. Bagi masyarakat, ini adalah bagian dari strategi bertahan hidup. Namun bagi ekosistem, aktivitas ini perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih besar. Salah satu momen yang paling menggugah adalah ketika tim menemukan bangkai Babi Kutil Bawean dalam kondisi membusuk. Tidak ada tanda yang jelas mengenai penyebab kematiannya. Namun, dalam dunia konservasi, satu kematian pun tidak pernah dianggap sepele. Ia bisa menjadi petunjuk, tentang penyakit, tekanan lingkungan, atau interaksi yang tidak terlihat. Di sisi lain, keberadaan sumber air alami yang dimanfaatkan melalui instalasi pipa oleh masyarakat menunjukkan keterhubungan yang tidak terpisahkan antara kawasan konservasi dan kehidupan manusia. Hutan ini bukan hanya habitat satwa liar, tetapi juga penopang kehidupan bagi desa-desa di sekitarnya. Di titik inilah konservasi diuji, bukan hanya sebagai upaya perlindungan, tetapi sebagai proses negosiasi antara kebutuhan ekologis dan sosial. Tim patroli merespons situasi ini dengan pendekatan yang tidak semata represif. Edukasi langsung dilakukan kepada masyarakat yang dijumpai, menjelaskan pentingnya menjaga kawasan serta batasan dalam pemanfaatan sumber daya. Koordinasi dengan pemerintah desa juga diperkuat, membangun fondasi kolaborasi yang menjadi kunci keberhasilan konservasi jangka panjang. Langkah ke depan menjadi semakin jelas. Area bekas perambahan perlu dimonitor secara berkala untuk mencegah perluasan. Aktivitas pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, khususnya madu, perlu diawasi agar tetap berada dalam prinsip keberlanjutan. Dan yang tak kalah penting, kesadaran kolektif masyarakat harus terus dibangun, karena konservasi tidak akan berhasil tanpa keterlibatan mereka. Bawean masih hidup. Jejak satwa masih bisa ditemukan, suara burung masih memenuhi pagi, dan anggrek masih mekar di batang-batang tua. Namun, di antara semua itu, terdapat luka-luka kecil yang mengingatkan bahwa keseimbangan ini rapuh. Hutan ini tidak meminta banyak. Ia hanya membutuhkan ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Dan mungkin, tugas kitalah untuk memastikan ruang itu tidak hilang. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Kakatua Kecil Jambul Kuning di Pulau Masakambing

Masalembu, 18 Mei 2026. Di Pulau Masakambing, suara parau nan khas memecah sunyi pagi. Di pucuk-pucuk pohon tinggi Pulau Masakambing, sebanyak 32 individu Kakatua Kecil Jambul Kuning terpantau bertahan. Sebuah angka yang bukan sekadar data, melainkan penanda rapuhnya harapan akan kelangsungan salah satu burung paling langka di Indonesia. Temuan ini merupakan bagian dari kegiatan Smart Patrol Chapter Tiga yang dilaksanakan oleh tim Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Madura Kepulauan pada tanggal 4–15 Mei 2026. Dengan menggunakan metode pengamatan point count, tim mencatat keberadaan populasi kakatua endemik tersebut di habitat alaminya, sebuah lanskap yang kini semakin menyempit oleh tekanan ekologis dan aktivitas manusia. Namun di balik angka 32, tersimpan cerita yang lebih dalam, tentang keterbatasan metode, tantangan medan, hingga kebutuhan mendesak akan pendekatan pemantauan yang lebih adaptif. Pengamatan tunggal di lapangan mengungkap bahwa metode point count belum sepenuhnya efektif untuk menggambarkan perilaku dan distribusi burung yang sangat sensitif ini. Tim merekomendasikan pergeseran metode menuju pengamatan di pohon tidur (roosting site monitoring), yang dinilai lebih akurat untuk individu dengan pola hidup sosial dan lokasi istirahat yang spesifik. Pulau Masakambing bukan sekadar habitat, ia adalah benteng terakhir. Subspesies abbotti dari Kakatua Kecil Jambul Kuning hanya ditemukan di titik ini, menjadikannya salah satu burung dengan sebaran paling terbatas di dunia. Setiap individu yang bertahan adalah representasi langsung dari keberhasilan atau kegagalan upaya konservasi yang dilakukan. Lebih dari itu, keberadaan mereka juga menjadi indikator kesehatan ekosistem pulau kecil. Hilangnya satu spesies kunci seperti kakatua dapat memicu efek domino terhadap dinamika hutan, mulai dari penyebaran biji hingga struktur vegetasi. Di tengah ancaman yang terus mengintai, dari degradasi habitat, gangguan manusia, hingga risiko genetik akibat populasi kecil, harapan masih menyala melalui kolaborasi. Keterlibatan Masyarakat Mitra Polhut menjadi bukti bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan kehadiran manusia sebagai penjaga, bukan perusak. Kini, Pulau Masakambing berdiri sebagai saksi, bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi yang tersisa, tetapi juga tentang memastikan mereka tetap hidup, berkembang, dan kembali memenuhi langit dengan kepakan yang pernah menjadi simbol kelimpahan. Karena ketika hanya 32 yang tersisa, setiap detak kehidupan menjadi sangat berarti. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

61 Grid Disisir, Denyut Biodiversitas Yang Masih Bertahan Di Pulau Saobi

Sumenep, 18 Mei 2026. Cagar Alam Pulau Saobi, kehidupan liar masih berdenyut, pelan, tersembunyi, namun nyata. Cagar Alam ini kembali menunjukkan bahwa di tengah tekanan dan keterbatasan ruang, alam masih berupaya bertahan. Selama 12 hari, mulai tanggal 4 - 15 Mei 2026, tim Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Madura Kepulauan melakukan penyisiran intensif melalui kegiatan Smart Patrol. Hasilnya, 61 grid pengamatan berhasil dijangkau, mencakup sekitar 51,72 Ha atau 12% dari total kawasan, sebuah upaya sistematis untuk membaca ulang kondisi ekologis pulau tersebut. Dari patroli tersebut, tercatat 90 tanda keberadaan satwa liar. Di antara temuan paling penting adalah sarang aktif burung Gosong Kaki Merah, spesies yang dikenal dengan strategi reproduksi uniknya, mengandalkan panas alami tanah untuk menetaskan telur. Keberadaan sarang aktif ini menjadi indikator krusial bahwa proses regenerasi alami masih berlangsung, sekaligus penanda bahwa kualitas mikrohabitat di titik-titik tertentu masih terjaga. Selain tanda tidak langsung, tim juga mencatat 11 perjumpaan satwa, termasuk reptil dan burung khas kawasan. Setiap perjumpaan menjadi fragmen kecil dari gambaran besar ekosistem yang masih bekerja, meski dalam tekanan. Namun, di balik kabar baik tersebut, terselip catatan yang tak bisa diabaikan. Tim menemukan 5 indikasi aktivitas pembalakan, serta 16 pal batas kawasan dalam kondisi rusak berat. Fakta ini mengindikasikan adanya celah dalam perlindungan kawasan, sekaligus potensi gangguan terhadap integritas habitat jika tidak segera ditangani. Di sisi lain, inventarisasi lapangan juga mengungkap 31 fitur alami yang memperkaya karakter ekologis Pulau Saobi. Upaya lanjutan berupa penandaan 188 pohon yang sebelumnya belum terdokumentasi menjadi bagian penting dalam memperkuat basis data vegetasi, sebagai fondasi pengelolaan kawasan yang lebih presisi. Pendekatan konservasi yang dilakukan tidak berhenti pada aspek teknis. Tim turut melaksanakan sosialisasi kepada tokoh masyarakat dan perangkat Desa Saobi, membangun kesadaran bahwa keberlanjutan kawasan konservasi tidak dapat dilepaskan dari dukungan sosial di tingkat tapak. Seluruh data hasil patroli telah terdokumentasi secara sistematis melalui aplikasi Smart Mobile, memastikan bahwa setiap jejak, setiap sarang, dan setiap ancaman tercatat sebagai bagian dari sistem informasi yang mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti. Kepala Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Asep Hawim Sudrajat, menegaskan bahwa hasil patroli ini menjadi cerminan nyata kondisi kawasan yang harus segera direspon secara adaptif. “Temuan sarang aktif burung gosong menunjukkan bahwa ekosistem Pulau Saobi masih memiliki daya dukung yang baik bagi satwa untuk berkembang biak. Namun di sisi lain, adanya indikasi pembalakan dan kerusakan pal batas menjadi peringatan serius bagi kita semua bahwa pengamanan kawasan harus diperkuat, baik dari sisi teknis maupun kolaborasi dengan masyarakat,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan patroli tidak hanya diukur dari luas cakupan atau jumlah temuan, tetapi dari bagaimana data tersebut ditransformasikan menjadi langkah nyata di lapangan. “Smart Patrol bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi instrumen penting untuk memastikan setiap perubahan di dalam kawasan dapat terdeteksi lebih dini, sehingga tindakan pengelolaan bisa dilakukan secara cepat dan tepat sasaran,” pungkasnya. Pulau Saobi hari ini adalah potret tentang keseimbangan yang rapuh. Di satu sisi, kehidupan liar masih bertahan, ditandai oleh sarang-sarang aktif dan jejak satwa yang terus muncul. Namun di sisi lain, tekanan terhadap kawasan tetap nyata dan memerlukan respon cepat serta terukur. Di tengah keterbatasan itu, satu hal menjadi jelas, bahwa selama denyut kehidupan masih ada, upaya perlindungan tidak boleh berhenti. Karena di pulau kecil seperti Saobi, setiap jejak kehidupan adalah alasan untuk terus menjaga. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

29 Sanca Kembang Diselamatkan, Menyibak Cerita di Balik Konflik Satwa dan Manusia

Tuban, 18 Mei 2026. Di tengah ritme kehidupan warga yang berjalan seperti biasa, kehadiran seekor ular di dalam rumah sering kali menjadi kepanikan. Namun di Kabupaten Tuban, yang terjadi bukan hanya satu atau dua kemunculan. Sebanyak 29 ekor Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) ditemukan dan dievakuasi dari berbagai sudut permukiman warga, sebuah angka yang mengisyaratkan lebih dari sekadar kebetulan. Pada Rabu (13/5), tim gabungan dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 Bojonegoro, Seksi KSDA Wilayah Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur menerima penyerahan satwa liar tersebut dari Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban. Sebelumnya, ular-ular ini diamankan oleh petugas Damkar dari dalam rumah warga dan lingkungan sekitarnya, mulai dari dapur, kamar mandi, hingga pekarangan yang berbatasan langsung dengan vegetasi. Bagi sebagian orang, sanca kembang mungkin hanya dipandang sebagai ancaman. Tubuhnya yang besar, lilitan yang kuat, dan kemampuannya beradaptasi di berbagai habitat membuatnya sering kali ditakuti. Namun di balik itu, spesies ini memegang peran penting sebagai pengendali populasi satwa kecil seperti tikus, yang justru dapat menjadi hama bagi manusia. Seluruh individu sanca yang berhasil diamankan kemudian diangkut ke fasilitas UPS di Sidoarjountuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Di sana, satwa-satwa tersebut menjalani proses observasi kondisi kesehatan dan perilaku, sebagai dasar untuk menentukan langkah berikutnya, apakah memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya atau memerlukan penanganan khusus. Fenomena kemunculan puluhan sanca di kawasan permukiman bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan potret dari lanskap yang terus berubah. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, serta meningkatnya tekanan aktivitas manusia di sekitar ruang alami mendorong satwa liar keluar dari habitatnya. Dalam situasi seperti ini, batas antara ruang hidup manusia dan satwa menjadi semakin kabur. Melalui kegiatan Matawali (Penyelamatan Satwa Liar), Balai Besar KSDA Jawa Timur menunjukkan respons cepat dalam menangani interaksi antara manusia dan satwa liar. Namun lebih jauh, upaya ini juga menjadi refleksi bahwa konflik semacam ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan evakuasi. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari edukasi masyarakat, pengelolaan habitat, hingga perencanaan tata ruang yang mempertimbangkan keberadaan satwa liar. Di Tuban, 29 ekor Sanca Kembang telah diselamatkan dari ruang hidup yang tidak semestinya. Tetapi kisah ini belum benar-benar usai. Ia menyisakan pertanyaan penting bagi kita semua: ketika satwa liar semakin sering ditemukan di dalam rumah manusia, siapa sebenarnya yang sedang memasuki wilayah siapa? Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Momentum 22 Tahun Balai TN Gunung Merapi

Kaliurang, 14 Mei 2026. Hari Rabu, tanggal 13 Mei 2026 menjadi momentum bersejarah dalam 22 tahun berdirinya Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merapi. Hampir 1.000 partisipan (persisnya 987) orang hadir dalam Sarasehan Online yang bertajuk “Membedah (Nasib) Pendakian Gunung Merapi” yang berasal dari berbagai unsur terdiri dari pemerintah (pusat dan daerah), akademisi, mahasiswa pencinta alam, kelompok masyarakat, dan lain sebagainya. Peserta sarasehan terdiri 69,6% laki-laki dan 30,4% perempuan serta didominasi rentang umur 26-50 tahun (75%). Kepala Balai TN Gunung Merapi mengutarakan sarasehan online ini berangkat dari keprihatinan masih terjadinya pendakian ilegal di Gunung Merapi. Sementara sejak 2018 dengan berdasarkan kajian empiris oleh otoritas yang berwenang merekomendasikan batasan aktivitas manusia pada radius tertentu dari puncak. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) hingga saat ini masih menetapkan status Gunung Merapi pada Level 3 (Siaga). Dalam kurun waktu setahun sejak April 2025, sekitar 60 orang telah terjaring dalam penertiban pendakian ilegal Gunung Merapi. Sebagian dari mereka tidak hanya sekali mendaki Gunung Merapi, dan berasal dari berbagai kota di Pulau Jawa (dengan dominasi wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta). Statusnya terdiri dari pelajar sekolah, mahasiswa, dan karyawan yang mayoritas berada dalam kelompok usia 15-25 tahun. Pada Desember 2025 aktivitas pendakian ilegal memakan korban 1 (satu) orang meninggal dunia. Sejatinya Balai TN Gunung Merapi selaku pemangku kawasan tidak berdiam diri sejak penutupan pendakian tersebut. Langkah nyata tersebut diantaranya sosialisasi virtual, pemasangan papan himbauan larangan pendakian, penjagaan pada jalur pendakian, koordinasi dan konsultasi dengan parapihak terkait. Dengan dalih penasaran, keinginan diakui (validasi), trend FOMO (Fear of Missing Out), hingga keinginan menaklukkan seven summits of Java menjadi motif para pendaki ilegal. Ironi ini ditunjang masifnya penggunaan media sosial sebagai sarana mengekspresikan aktivitas pendakian ilegal Gunung Merapi. Fenomena pendakian ilegal menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan yang telah ditetapkan dengan tingkat pemahaman dan kepatuhan masyarakat. Oleh karenanya Balai TN Gunung Merapi memperluas jangkauan sosialisasi melalui webinar/ sarasehan online yang juga bertujuan memperkuat komunikasi publik, edukasi risiko, serta kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mengatasi permasalahan tersebut. Direktur Jenderal KSDAE selaku keynote speaker menaruh perhatian khusus terhadap aktvitas pendakian ilegal tidak hanya di Gunung Merapi namun juga destinasi pendakian lainnya. Glorifikasi pendakian non prosedural hendaknya ditangkal dengan edukasi berkelanjutan. Kepada parapihak termasuk para pemberi pengaruh (influencer) dihimbau bersinergi dengan pengelola destinasi pendakian menyuarakan pengetahuan dan keutamaan keselamatan pendakian. Terkait dengan aktivitas di Gunung Merapi serta gunung berapi lainnya wajib mengindahkan rekomendasi dari BPPTKG. Dengan dipandu moderator pakar kebijakan publik Wasingatu Zakiyah, para narasumber memaparkan materi yang gayut dengan pendakian Gunung Merapi. Keempat narasumber tersebut adalah Kepala BPPTKG (Tinjauan aspek vulkanologi dalam mensikapi aktivitas pendakian Gunung Merapi), Kepala Sub Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam (Kebijakan Pendakian di Gunung Berapi), Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boyolali (Risiko Kebencanaan Gunung Merapi dan Implikasinya terhadap Aktivitas Pendakian), dan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (Menjadi pendaki yang Bijak di era Gen-Z). Polling sempat dibagikan kepada partisipan sarasehan mengenai Gunung Merapi dan aktivitas pendakian. Dari keseluruhan partisipan sejumlah 97,4% menyatakan mengetahui Gunung Merapi; 78,1% mengetahui kondisi vulkanik Gunung Merapi; 81,6% mengetahui pendakian Gunung Merapi ditutup; dan 76,9 % menyatakan dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan tidak menghendaki pendakian Gunung Merapi dibuka. Dari pemaparan materi dan diskusi, sarasehan ini menghasilkan rumusan (1) Pengelolaan dan aktivitas pendakian Gunung Merapi harus mengutamakan keselamatan, mitigasi risiko berbasis status aktivitas vulkanik, kepatuhan terhadap ketentuan dan rekomendasi kebencanaan, serta penguatan kolaborasi multipihak guna mewujudkan pendakian yang aman, bertanggung jawab, dan mendukung kelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Merapi; (2) Berdasarkan klasifikasi jalur pendakian berbasis risiko di Taman Nasional dan Taman Wisata Alam, jalur pendakian di TN Gunung Merapi melalui Selo termasuk Grade II dengan tingkat risiko menengah, sedangkan Jalur Sapuangin masuk Grade III dengan tingkat risiko lebih tinggi akibat kondisi medan dan potensi bahaya vulkanik, sehingga sehingga memerlukan standar mitigasi dan pengawasan keselamatan yang lebih ketat; (3). Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang masih berstatus “Siaga” dengan potensi bahaya guguran lava, awan panas, dan lontaran material vulkanik menyebabkan aktivitas pendakian Gunung Merapi saat ini tidak direkomendasikan demi keselamatan masyarakat dan pengunjung. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Road To HKAN, Siswa SDN 01 Kare Belajar Mencintai Satwa Liar

Madiun, 14 Mei 2026. Menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2026, Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kembali menggelar visit to school, kali ini mereka menyapa Sekolah Dasar Negeri 01 Kare – Kabupaten Madiun, Rabu (13/5). Bersama Jaga Satwa Indonesia (JSI), tim memberikan pengenalan mengenai kawasan konservasi, serta pengenalan tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi. Tak kurang dari 170 siswa dan guru pendamping sangat antusias menyimak berbagai materi yang diberikan. Para siswa juga diperkenalkan langsung dengan beberapa satwa yang sering dijumpai di sekitar kebun, seperti ular Jali (Ptyas korros) yang dikenal juga sebagai ular sahabat petani. Beberapa saat sebelumnya, beberapa siswa dan guru pendamping diajak untuk ikut melepasliarkan seekor Elang-alap Jambul (Accipiter trivirgatus) di area hutan pinus Nongko Ijo. Kawasan ini merupakan daerah penyangga Cagar Alam Gunung Sigogor yang menjadi salah satu habitat asli dan penyebaran berbagai jenis Elang. Elang-alap Jambul tersebut hasil penyerahan sukarela dari seorang dosen di kampus Universitas Muhammadiyah Ponorogo beberapa waktu yang lalu. Sesuai hasil penilaian perilaku, dari segi fisik tidak ditemukan luka pada tubuh satwa. Selain itu, satwa masih memiliki sifat liar, agresif, dan responsif terhadap situasi disekitarnya, sehingga layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Kegiatan visit to school ini merupakan bagian dari upaya penguatan peran pelajar sebagai agen perubahan lingkungan. Harapannya, tumbuh rasa kepedulian generasi muda untuk ikut berperan aktif dalam menjaga kelestarian hutan, tumbuhan, satwa, dan lingkungan di sekitarnya. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 1–16 dari 2.298 publikasi