Senin, 5 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Jejak Misterius di Desa Anggoli Ternyata Tapir, Bukan Harimau

Foto ilustrasi: Tapir Asia (Tapirus indicus) Sumber: inaturalist.org/(c) Royle Safaris Tapanuli Tengah, 8 Oktober 2025— Kekhawatiran warga dusun 2 dan dusun 3, Desa Anggoli Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, akhirnya terjawab. Jejak hewan yang sempat dikira milik harimau ternyata adalah jejak Tapir (Tapirus indicus), satwa langka yang dilindungi. Kegiatan pengecekan lapangan dilakukan pada Kamis, 2 Oktober 2025. Tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dan Yayasan Ekosistem Lestari turun bersama Kapolsek Sibabangun, perangkat desa, serta tokoh masyarakat, turun ke lokasi untuk memastikan jenis hewan berdasarkan jejak yang ditemukan. Setelah dilakukan penelurusan dan anasisis, hasil menunjukkan bahwa bentuk dan ukuran jejak tersebut sesuai dengan karateristik Tapir Asia, bukan harimau seperti yang sempat diberitakan masyarakat. Hasil pengecekan lapangan tersebut kemudian disampaikan oleh Camat Sibabangun, Romulus Simanullang, Jumat 3 Oktober 2025. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil identifikasi sementara, jejak tersebut adalah jejak Tapir. Hal ini didukung oleh pernyataan salah seorang warga yang melihat langsung hewan tersebut dari jarak sekitar 100 meter, dengan ciri tubuh berwarna hitam putih dan panjang sekitar 2 meter. Kepastian ini sekaligus meredakan keresahan masyarakat yang sempat khawatir beraktivitas kebun akibat isu kemunculan hewan buas. Camat Sibabangun juga menghimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan tapir tersebut dan melaporkan kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sesuai dengan prosedur konservasi. Sebagai langkah lanjutan, Pemerintah Desa Anggoli akan mengadakan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang keberadaan tapir, status perlindungannya, dan cara hidup berdampingan secara aman dan harmonis dengan satwa liar, khususnya tapir, untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Tapir (Tapirus indicus) atau Tapir Asia merupakan satwa herbivora yang memakan dedaunan, tunas muda, dan buah-buahan hutan. Ciri khasnya adalah tubuhnya gemuk seperti babi, moncong panjang menyerupai belalai pendek, tubuh berwarna hitam di bagian depan dan belakang, serta warna putih keabu-abuan di bagian tengah. Satwa ini langka dan dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 Tahun 2018 karena populasinya yang terus menurun akibat perusakan habitat dan perburuan liar. Tapir berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, karena membantu penyebaran biji-bijian dari buah yang dikonsumsinya. Kehadiran tapir di daerah Anggoli menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian satwa liar dan habitat alami mereka agar tetap terjaga. Penemuan jejak yang semula menimbulkan keresahan, kini menjadi momen penting untuk mengenalkan tapir sebagai satwa dilindungi yang perlu dijaga bersama. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan)—Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Goodyera sp. di Lereng Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean

Bawean, 7 Oktober 2025. Kabut tipis turun perlahan menutupi lereng Gunung Besar di jantung Pulau Bawean pagi itu. Di antara suara serangga hutan dan gemericik air yang menetes dari kanopi, sekelompok petugas konservasi berhenti di satu titik tanah lembap. Pandangan mereka tertuju pada sosok mungil yang tampak tak biasa, bunga kecil dengan kelopak pucat kehijauan yang tumbuh dari dasar tanah berlumut. Bagi mata awam, mungkin itu hanya tanaman liar. Namun bagi mereka yang terbiasa membaca tanda-tanda kehidupan di hutan, bunga itu adalah penanda penting, jejak baru kehidupan yang belum tercatat sebelumnya di Pulau Bawean. Penemuan tersebut terjadi saat Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan kegiatan Smart Patrol di Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean (Grid 621). Kegiatan rutin itu bukan sekadar patroli pengawasan, melainkan juga ajang pengamatan dan pencatatan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi yang menjadi habitat alami Rusa Bawean (Axis kuhlii). Pada ketinggian sekitar 404 meter di atas permukaan laut, tim menemukan spesimen anggrek tanah yang belum pernah tercatat sebelumnya di kawasan ini. Berdasarkan pengamatan awal di lapangan, spesimen tersebut diduga termasuk dalam marga Goodyera sp., salah satu kelompok anggrek tanah yang memiliki daun berurat keperakan dan bunga kecil berwarna putih hingga kehijauan. Tim kemudian melakukan dokumentasi rinci pada bagian bunga, daun, dan batang untuk keperluan identifikasi lebih lanjut. Data morfologi lapangan ini menjadi dasar awal analisis taksonomi yang akan dilakukan lebih lanjut. “Ciri-ciri morfologinya memperlihatkan kesamaan kuat dengan genus Goodyera, tetapi kami akan memastikan klasifikasinya melalui identifikasi lebih lanjut,” Nur Hayyan petugas KSDA di lapangan. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan petugas konservasi, tetapi juga Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari, kelompok masyarakat lokal yang telah lama berperan aktif dalam upaya perlindungan kawasan konservasi Pulau Bawean. Kehadiran mereka menjadi wujud nyata keterlibatan masyarakat dalam konservasi berbasis partisipasi, di mana pengetahuan lokal berpadu dengan disiplin ilmiah di lapangan. Selain itu, kegiatan patroli ini juga diikuti oleh mahasiswa magang dari Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Para mahasiswa ini ikut mendalami langsung praktik konservasi di lapangan, mulai dari pengenalan vegetasi, teknik pengambilan data biodiversitas, hingga dokumentasi temuan flora dan fauna. Kolaborasi lintas elemen ini mencerminkan semangat konservasi yang inklusif, di mana pelestarian alam menjadi ruang belajar bersama antara petugas, masyarakat, dan akademisi. Mereka menyatu dalam satu tujuan untuk menjaga kehidupan hutan agar tetap berdenyut. “Setiap langkah di hutan adalah pembelajaran. Dan setiap temuan baru adalah bukti bahwa alam masih berbicara kepada kita, selama kita mau mendengarkan,” tutur Shalmiah Aegesti, salah satu mahasiswa magang dengan nada kagum setelah melihat langsung spesimen anggrek tersebut. Secara ekologis, keberadaan Goodyera sp. menunjukkan kondisi hutan yang masih sehat dan stabil. Anggrek tanah seperti ini dikenal sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Ia tumbuh hanya di kawasan dengan kelembapan terjaga, pencahayaan terfilter, dan substrat tanah yang kaya bahan organik. Dengan demikian, kemunculan spesies ini menjadi indikator alami kualitas ekosistem di kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Pulau Bawean selama ini dikenal karena kekayaan faunanya, dari Rusa Bawean hingga berbagai jenis burung endemik. Namun di balik keanggunan satwa-satwanya, hutan Bawean juga menyimpan keragaman flora yang luar biasa, termasuk anggrek-anggrek hutan yang masih menunggu untuk ditemukan dan dikenali. “Penemuan ini menjadi catatan penting bagi data keanekaragaman hayati di Pulau Bawean. Selain menambah daftar jenis anggrek, juga menjadi bukti bahwa hutan kita masih menyimpan potensi flora yang belum terungkap sepenuhnya,” ungkap Nursyamsi, Kepala Resort Konservasi Wilayah 10 Pulau Bawean. Spesimen Goodyera sp. yang ditemukan akan dianalisis lebih lanjut untuk konfirmasi taksonomi dan status konservasinya. Hasil identifikasi ini nantinya akan menjadi bagian dari database biodiversitas BBKSDA Jawa Timur, sekaligus mendukung penyusunan strategi perlindungan dan pengelolaan flora di Pulau Bawean. Balai Besar KSDA Jawa Timur berkomitmen untuk terus melakukan eksplorasi biodiversitas dan penguatan fungsi konservasi, tidak hanya melalui patroli rutin tetapi juga dengan riset kolaboratif dan edukasi lapangan yang melibatkan berbagai pihak. Di tengah kesunyian hutan Bawean, bunga mungil dari tanah itu seolah menyampaikan pesan yang dalam, bahwa alam masih berbicara, dalam bahasa yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang mau berhenti, mengamati, dan mendengarkan. Dan pagi itu, di lereng Gunung Besar, pesan itu didengar, oleh para penjaga alam, masyarakat Bawean, dan generasi muda calon pengelola hutan Indonesia. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji- Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

BBKSDA Sumatera Utara Gerak Cepat Tanggapi Laporan Keberadaan Harimau Sumatera di Deli Serdang

Petugas Resor CA/TWA Sibolangit memasang camera trap untuk memantau pergerakan satwa liar di area kebun masyarakat, Kamis (25/9/2025) Deli Serdang, 7 Oktober 2025 Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara segera menurunkan tim untuk memastikan laporan keberadaan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kecamatan Sibolangit dan Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang. Melalui Kepala Bidang KSDA Wilayah III, tim lapangan segera diterjunkan sejak laporan pertama kali diterima pada 17 September 2025 untuk melakukan verifikasi dan langkah mitigasi di lapangan. Laporan pertama datang dari warga Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Sibolangit yang melihat langsung dan menemukan jejak satwa di area kebun. Petugas Resor CA/TWA Sibolangit dan masyarakat segera meninjau lokasi. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa jejak tersebut diduga kuat merupakan milik Harimau Sumatera. Sebagai langkah awal, petugas memberikan himbauan kepada warga agar tidak beraktivitas sendirian di kebun, mengandangkan ternak pada malam hari, serta melakukan penghalauan dengan letusan senjata api ke udara untuk mencegah satwa mendekat ke permukiman. Menindaklanjuti temuan tersebut, pada 18-28 September 2025, tim lapangan bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pemerintah desa melakukan peninjauan lapangan di sejumlah titik seperti Desa Durin Simbelang, Tiang Layar, Sembahe, dan Buah Nabar. Dalam kegiatan tersebut, beberapa jejak baru kembali ditemukan di tepi sungai dan area kebun. Untuk mengantisipasi potensi terjadinya interaksi negatif, dilakukan patroli malam dan penghalauan menggunakan petasan. Sejumlah warga juga melaporkan sempat mendengar auman harimau di sekitar Desa Namo Keling, yang memperkuat dugaan keberadaan satwa di sekitar daerah penyangga. Pada 30 September 2025, laporan terbaru datang dari Desa Ujung Deleng dan Desa Sirugun. Seorang warga, Ratna Sembiring, melaporkan melihat langsung satwa yang diduga Harimau Sumatera di kebunnya. Tim gabungan yang terdiri dari petugas KSDA, aparat desa, dan unsur BPBD segera turun ke lokasi untuk melakukan penghalauan dengan petasan dan dua kali letusan senjata api. Lokasi kejadian diketahui dekat dengan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan. Selanjutnya, pada 1 Oktober 2025, tim kembali melakukan pengecekan lapangan di Desa Ujung Deleng. Hasil identifikasi mengkonfirmasi bahwa jejak yang ditemukan merupakan jejak Harimau Sumatera dengan arah pergerakan menuju Tahura Bukit Barisan, yang menandakan bahwa satwa telah kembali ke habitat alaminya. Sebagai bentuk kesiapsiagaan, petugas menyerahkan petasan cadangan kepada pemerintah desa untuk digunakan jika satwa kembali mendekat ke area permukiman. Selain itu masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan tidak beraktivitas sendirian di kebun, mengandangkan ternak pada malam hari dan segera melapor jika menemukan jejak atau tanda keberadaan satwa liar. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara menegaskan bahwa respon cepat, koordinasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam menangani potensi interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. Kolaborasi dengan unsur BPBD, TNI, Polri, serta pemerintah daerah memastikan penanganan dilakukan secara terpadu, aman, dan tepat sasaran. Langkah cepat ini mencerminkan komitmen Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam menjaga keseimbangan antara upaya konservasi Harimau Sumatera sebagai satwa dilindungi dan perlindungan masyarakat di wilayah yang berpotensi terjadi interaksi manusia dan satwa liar. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan)-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Dua Ekor Monyet dan Luka dari Sukowono, Mengajarkan

Jember, 3 Oktober 2025. Malam itu di kantor Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) terasa lebih lengang dari biasanya, (3/10/2025). Namun sekitar pukul 22.30 WIB, ketenangan itu berubah ketika petugas piket menerima dua ekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang diserahkan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember. Dua satwa itu datang dengan dua kisah berbeda, keduanya menjadi pengingat akan rapuhnya batas antara manusia dan alam liar. Menurut keterangan drh. Henry Kurniawan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jember, salah satu monyet merupakan hewan peliharaan warga bernama Jaelani dari Desa Sukowono, Kecamatan Sukowono. Satwa itu terlepas dari rantainya dan tanpa sengaja menyerang seorang anak kecil berusia lima tahun bernama Azzam Aulian Putra, yang tengah bermain bola di halaman rumah. Gigitan di dahi kanan meninggalkan luka robek yang harus segera dirawat di RSD Kalisat, Jember. Sementara itu, satu ekor monyet lainnya diserahkan langsung oleh warga Sukowono sebagai bentuk kepedulian dan respons atas meningkatnya interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di sekitar permukiman. Kejadian ini sontak menjadi perhatian Muspika Sukowono, yang bersama dinas terkait menghimbau masyarakat agar tidak lagi memelihara satwa liar, khususnya Monyet Ekor Panjang. Selain berisiko terhadap keselamatan manusia, tindakan tersebut juga melanggar prinsip konservasi satwa yang seharusnya hidup di habitat alaminya. Satwa liar memiliki perilaku yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan manusia. Saat naluri alaminya muncul, risiko interaksi negatif selalu ada. Dua ekor monyet tersebut kini diamankan di kandang transit Kantor Bidang KSDA Wilayah III Jember untuk mendapat pemeriksaan kesehatan sebelum ditentukan langkah penanganan selanjutnya. Tim BBKSDA Jatim memastikan seluruh proses penanganan dilakukan dengan memperhatikan kesejahteraan satwa serta keamanan masyarakat sekitar. Peristiwa di Sukowono ini menjadi cermin penting bagi kita semua, bahwa hubungan manusia dengan alam tidak selalu harmonis ketika batasnya dilanggar. Di balik luka di dahi seorang anak, ada pelajaran besar tentang bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan satwa liar, menjaga jarak, menghormati ruang hidupnya, dan tidak menjadikannya peliharaan. Di tengah malam yang sunyi, dua pasang mata monyet menatap dari balik jeruji kandang transit, seolah menatap kembali pada manusia yang pernah memeliharanya. Barangkali, itu bukan tatapan marah. Tapi sebuah peringatan dari alam, bahwa setiap rantai yang kita pasang, sesungguhnya juga mengikat keseimbangan yang rapuh antara manusia dan kehidupan liar di sekitarnya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Temuan Jamur ‘Janggut Kuda’ di Pulau Sempu Ungkap Peran Penting Pengurai Alami

Malang, 5 Oktober 2025. Kabut pagi turun perlahan di antara pepohonan besar di Cagar Alam Pulau Sempu, Kabupaten Malang (5/10/25). Embun menetes dari ujung daun, sementara seruan lutung Jawa (Trachypithecus auratus) dan Kijang (Muntiacus muntjak) menggema di kejauhan. Di tengah suasana hening itu, tim survei lima taksa Balai Besar KSDA Jawa Timur melangkah menyusuri jalur basah di bawah kanopi, mencatat temuan vegetasi, satwa, dan tanda-tanda kehidupan lainnya. Namun, di sela dedaunan yang lapuk dan ranting berlumut, Tri Wahyu Widodo, Pengendali Ekosistem Hutan Mahir, menangkap sesuatu yang tak biasa. Di antara batang dan semak, terbentang serabut halus berwarna cokelat kehitaman, seperti tali kecil yang menjerat ranting dan daun kering. “Awalnya saya kira itu jejak senar pemburu yang tertinggal di hutan, Tapi setelah saya perhatikan lebih dekat, teksturnya aneh. Ia bukan nilon, bukan juga sisa tali buatan manusia. Benangnya sangat halus, ringan, dan menyatu dengan permukaan daun,” tutur Tri Wahyu. Rasa ingin tahu itu mengingatkannya pada temuan serupa saat memasang camera trap di Sempu pada tahun 2022. Ketika itu, ia sempat berkonsultasi dengan peneliti mikologi dari BRIN, dan dari sanalah ia mengetahui bahwa struktur yang mirip jaring itu ternyata adalah jamur dari genus Marasmius, spesies Marasmius crinis-equi. Atau jamur yang dikenal sebagai penyebab penyakit tanaman “Horse Hair Blight” atau Hawar Rambut Kuda. Jamur Rambut Kuda: Penjaga dan Pengganggu Alam Tropis Jamur Marasmius crinis-equi berasal dari famili Marasmiaceae, dikenal karena membentuk rhizomorf yaitu serabut jamur panjang menyerupai helaian rambut kuda yang lentur dan kuat. Dalam kondisi alami, jamur ini hidup sebagai pengurai (saprotrof), mengurai daun dan ranting lapuk menjadi nutrien penting bagi tanah hutan. Namun, di bawah kondisi tertentu, terutama pada lingkungan yang sangat lembap, teduh, dan sirkulasi udaranya buruk, jamur ini dapat berubah fungsi menjadi patogen yang menyerang ranting hidup dan daun tanaman, menimbulkan penyakit Hawar Rambut Kuda. “Kalau di hutan alami seperti Sempu, jamur ini sangat bermanfaat. Tapi di lahan pertanian atau tanaman budidaya, ia bisa berubah menjadi ancaman,” jelas Tri Wahyu. “Di sini, ia bagian dari keseimbangan alam. Di tempat lain, ia bisa menjadi tanda gangguan ekosistem,” lanjutnya. Pertanda Ekosistem yang Masih Sehat Keberadaan Marasmius crinis-equi di hutan alami Pulau Sempu menjadi indikator ekologis penting. Jamur ini hanya tumbuh di area dengan mikroklimat stabil, kelembapan tinggi, lapisan serasah tebal, dan tanda bahwa sistem ekosistem masih berjalan baik tanpa gangguan besar. “Kalau jamur seperti ini tumbuh subur, itu artinya lapisan serasah masih alami dan sistem dekomposisi masih aktif, hutan yang mati atau terlalu kering tidak akan menumbuhkan jamur semacam ini,” jelas Tri Wahyu. Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nofi Sugiyanto, S.Hut., M.Ec.Dev., M.A., menambahkan bahwa survei lintas taksa seperti ini tidak hanya berfokus pada satwa besar, tetapi juga makhluk kecil yang menjadi fondasi ekosistem. “Kita perlu melihat hutan sebagai satu kesatuan ekosistem kehidupan. Jamur, mikroba, dan serangga pengurai adalah bagian penting dari mesin ekologis. Temuan seperti ini memperkaya basis data biodiversitas kita dan membantu dalam pengelolaan konservasi berbasis ilmu pengetahuan,” ujar Nofi. Fenomena Hawar Rambut Kuda Dalam konteks pertanian tropis, Marasmius crinis-equi dikenal sebagai penyebab penyakit Horse Hair Blight, atau hawar rambut kuda. Penyakit ini biasanya menyerang tanaman berkayu seperti kopi, teh, dan karet. Gejalanya berupa benang hitam menyerupai rambut kuda yang menggantung di ranting, disertai daun yang mengering dan gugur sebelum waktunya. Penyakit ini lebih sering muncul di perkebunan yang lembap, teduh, dan tidak memiliki ventilasi udara baik. Namun, dalam hutan alami seperti Sempu, jamur ini justru berperan sebagai penjaga siklus hidup, mengurai yang mati untuk memberi makan yang hidup. “Fenomena ini menunjukkan dua wajah dari satu makhluk. Di hutan, ia pembersih alami. Di lahan terganggu, ia bisa menjadi pengingat bahwa keseimbangan lingkungan telah bergeser,” kata Tri Wahyu. Profil Jamur Hawar Rambut Kuda - Nama ilmiah : Marasmius crinis-equi (Pers.) Fr. - Famili : Marasmiaceae - Nama umum : Horse-hair fungus / Jamur Janggut Kuda - Penyakit terkait : Horse Hair Blight (Hawar Rambut Kuda) - Habitat alami : Daun gugur, ranting lapuk, substrat lembap di hutan tropis - Ciri kha s: Rhizomorf halus hitam-coklat menyerupai rambut kuda - Ukuran tubuh : Diameter topi ≤ 4 mm - Peran ekologis : Pengurai bahan organik; dapat menjadi patogen pada kondisi lembap ekstrem - Tanaman rentan : Kopi, teh, karet, dan pepohonan hias tropis - Sebaran : Asia Tenggara, termasuk Indonesia - Status di Pulau Sempu : Ditemukan di area lembap, indikator ekosistem sehat. Serabut Hitam, Cermin Keseimbangan Alam Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyebut bahwa temuan lapangan seperti ini menunjukkan betapa luasnya cakupan konservasi, bukan hanya tentang menjaga satwa besar, tapi juga memahami proses kecil yang menopang kehidupan hutan. Konservasi bukan hanya tentang lutung, kijang atau elang. Tapi juga tentang jamur, lumut, dan mikroorganisme yang menjaga keseimbangan tanah dan udara. “Mengetahui peran ganda jamur ini, pengurai sekaligus patogen, membuat kita lebih bijak dalam mengelola alam,” ujarnya. Dari Helaian Jamur ke Pelajaran Ekologis Di antara dedaunan lembap Pulau Sempu, Marasmius crinis-equi menenun jaring kehidupan yang tak terlihat mata. Serabut hitam yang dulu disangka tali pemburu itu ternyata adalah benang alami penopang siklus hutan tropis, pengurai yang menghidupkan kembali apa yang telah gugur. “Kadang, hal paling kecil justru menyimpan pelajaran terbesar,” ujar Tri Wahyu sambil menatap lebatnya hutan Sempu. Jaring itu bukan jebakan pemburu. Ia adalah bukti bahwa hutan masih bekerja, masih hidup, dan masih bernapas. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tiga Butir Telur Terkubur, Saksi Langka Kehidupan Naga Terbang

Malang, 6 Oktober 2025. Pulau Sempu kembali menyingkapkan misterinya. Pada 2 Oktober 2025, tim survei Lima Taksa dari Balai Besar KSDA Jawa Timur yang tengah memantau populasi lutung Jawa (Trachypithecus auratus) justru menemukan sesuatu yang tak kalah menakjubkan. Seekor Cekibar Jawa atau Cicak Terbang (Draco volans) sedang melakukan ritual reproduksinya yang langka, mulai menggali tanah, bertelur, hingga menyamarkan jejak sarang. Selama lebih kurang 1 jam 45 menit, para petugas menyaksikan adegan dramatis di Blok Telaga Lele, Cagar Alam Pulau Sempu. Dengan gerakan penuh kehati-hatian, satwa mungil yang dikenal sebagai “naga terbang” ini menyiapkan tempat bagi keturunannya. Ia menggali lubang sedalam 4–6 sentimeter, lalu menghasilkan tiga butir telur yang ditanam rapi ke dalam tanah sebelum ditimbun kembali. Lapisan tanah yang digemburkan itu kemudian disamarkan dengan kamuflase alami, seolah tak pernah diganggu sebelumnya. Temuan ini menjadi catatan penting, sebab tidak semua anggota keluarga Agamidae berperilaku serupa. Menurut catatan ilmiah, kelompok Calotes, yang sering kita jumpai di pekarangan atau hutan sekunder, biasanya hanya “meletakkan” telurnya di permukaan tanah tanpa menggali sarang. Cara bertelur yang sederhana itu membuat populasi Calotes jauh lebih masif dibandingkan Draco. Sebaliknya, Draco Volans menginvestasikan energi lebih besar untuk memastikan keberlangsungan generasi berikutnya, strategi reproduksi yang jarang bisa didokumentasikan secara langsung. Cicak terbang sendiri adalah reptil kecil unik yang mampu “meluncur” dari satu pohon ke pohon lain berkat sayap tipis berupa lipatan kulit di sisi tubuhnya. Panjang tubuhnya hanya sekitar 20–25 cm, namun luncurannya bisa mencapai 8–10 meter. Satwa ini tersebar di Asia Tenggara, termasuk hutan-hutan Jawa, Sulawesi, hingga Filipina. Namun, dokumentasi perilaku reproduksi di habitat alaminya masih sangat jarang, apalagi di pulau kecil yang terisolasi seperti Cagar Alam Pulau Sempu. Hari sebelumnya, tim survei juga menemukan spesies bunglon hutan (Gonocephalus chamaeleontinus) yang kerap dijuluki “naga kecil hutan hujan”, menjadi tanda bahwa Sempu masih menyimpan keragaman herpetofauna yang luar biasa. Kehadiran Draco yang sedang bertelur keesokan harinya menambah daftar bukti bahwa pulau seluas 969,88 hektar itu merupakan laboratorium alam tak ternilai. Fenomena ini bukan hanya memperlihatkan keunikan siklus hidup cicak terbang, tetapi juga memberi pesan penting, bahwa menjaga keutuhan hutan Sempu berarti menjaga panggung alami bagi peristiwa-peristiwa kehidupan yang jarang bisa kita saksikan. Dari tiga butir telur kecil yang terkubur itu, lahirlah harapan besar tentang keberlanjutan spesies “naga terbang” ini. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Saka Wanabakti Sumut Tanam Mangrove: Wujud Cinta Alam Dan Bakti Untuk Negeri

Langkat, 6 Oktober 2025. Gerakan Pramuka Satuan Karya (Saka) Wanabakti Kwartir Daerah Sumatera Utara kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian lingkungan melalui kegiatan lapangan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut, Sabtu (4/10/2025). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari orientasi Saka Wanabakti sekaligus bentuk kolaborasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara. Melalui sinergi ini, anggota Saka baik peserta didik maupun pamong mendapatkan kesempatan berharga untuk belajar secara langsung di lapangan mengenai proses pembibitan, dan memahami pentingnya ekosistem pesisir bagi keberlanjutan alam. Kegiatan tidak hanya berfokus pada penanaman bibit, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran konstektual bagi anggota Pramuka. Melalui pengalaman langsung di lapangan, peserta belajar mengenai konservasi, tanggung jawab sosial, serta penerapan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan. Inilah esensi pendidikan kepramukaan yang sejati, belajar dengan melakukan (learning by doing) dan berbakti melalui tindakan nyata. Para peserta juga dibawa untuk melihat langsung ekosistem mangrove di kawasan pesisir SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Dalam kegiatan ini, mereka diperkenalkan pada berbagai jenis vegetasi mangrove, peran pentingnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dan darat, serta manfaatnya bagi masyarakat pesisir. Pengalaman ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove sebagai benteng pencegah abrasi dan habitat bagi berbagai satwa. Melalui kegiatan ini, Saka Wanabakti Sumatera Utara menegaskan tekadnya untuk terus menjadi garda terdepan dalam aksi nyata pelestarian lingkungan. Dengan semangat Pramuka, mereka menggemakan semboyan: “Satya Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan” Saka Wanabakti siap mendukung setiap tugas bakti dan program konservasi yang diinisiasi oleh UPT Kementerian Kehutanan dan instansi terkait, demi terwujudnya Sumatera Utara yang lestari dan berkelanjutan. Sumber: Seksi Konservasi Wilayah II Stabat-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Patroli Saobi Temukan 9 Sarang Gosong

Sumenep, 2 Oktober 2025. Meski hujan belum sepenuhnya mengguyur Kawasan Pulau Saobi – Sumenep, tim patroli dari Seksi KSDA Wilayah IV beserta Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Madura Kepulauan tetap penuh semangat menyusuri hutan dataran rendah tersebut. Target kali ini 25 grid seluas +- 18,7 ha yang dituntaskan mulai 18 hingga 29 September 2025. Tim sangat antusias, selama patroli menjumpai setidaknya 9 sarang burung Gosong kaki merah, ini menandakan satwa ini sangat nyaman beranak pinak dalam Cagar Alam Pulau Saobi ini. Selain itu, tim juga menjumpai beberapa satwa seperti Elang Bondol, Merbah Cerucuk, Kokokan laut, Cangak Merah, Srigunting, Butbut, Trucukan, Raja Udang Biru, Gajahan Pengala, dan Dara Laut. Namun, bukan hanya kabar gembira itu saja yang tim jumpai. Mereka juga masih menemukan adanya 3 tonggak bekas penebangan liar dari jenis pohon Labban, Taklok, dan Jambu-jambuan. Hal ini tentu saja sangat menggusarkan tim. Serta merta tim melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang melewati Kawasan cagar alam untuk ikut menjaga kemanan hutan, dan segera melaporkan kepada petugas jika menjumpai kegiatan penebangan atau perburuan. Patroli juga dilaksanakan dengan menyisiri kawasan melalui laut guna mengantisipasi adanya pelanggaran kawasan melalui jalur laut. (air) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Upaya Kolaboratif Penyelamatan Orangutan Tapanuli oleh BBKSDA Sumut dan Mitra di Arse

Tim sedang melakukan pemeriksaan medis pada Orangutan Tapanuli, Selasa (30/9/2025) Tapanuli Selatan, 3 Oktober 2025 - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah V pada Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan berkolaborasi dengan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC) dan Pusat Penyelamatan Orangutan (COP) berhasil melakukan penyelamatan satu individu Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) di Desa Aek Haminjon, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada Selasa (30/9/2025). Orangutan yang diselamatkan berjenis kelamin jantan, berusia sekitar 20 tahun. Satwa dilindungi ini pertama kali ditemukan oleh masyarakat, berada di area persawahan. Saat dilakukan pemeriksaan oleh tim medis, ditemukan luka terbuka pada bagian punggung dan kondisi tubuh lemah. Atas pertimbangan medis, orangutan tersebut kemudian dievakuasi ke pusat rehabilitasi Sumatran Rescue Alliance (SRA) di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat untuk mendapatkan perawatan secara intensif. Suhendra, yang akrab dipanggil Krisna selaku Manager Human Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) OIC, menyampaikan harapannya agar Orangutan ini dapat segera pulih dan dapat dikembalikan ke habitat aslinya di Tapanuli. “Kami berharap individu Orangutan Tapanuli ini bisa kembali pulih dan suatu saat dilepasliarkan kembali ke hutan Tapanuli. Kami juga menghimbau masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan untuk bekerja sama dengan melaporkan apabila terjadi konflik manusia dan satwa liar. Jangan melakukan penanganan sendiri karena dapat merugikan satwa maupun masyarakat. Balai Besar KSDA Sumatera Utara, HOCRU-OIC siap membantu dalam proses mitigasi konflik satwa,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok, Manigor Lumbantoruan, S.P, menyampaikan apresiasi atas dukungan semua pihak. “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua mitra yang terus berkolaborasi dalam upaya penyelamatan Orangutan Tapanuli ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Desa Aek Haminjon yang telah melaporkan hal ini kepada petugas di Resor Sipirok. Harapan kami ke depannya masyarakat menjaga, melestarikan satwa-satwa yang dilindungi di sekitar hutan maupun di luar hutan karena itu adalah titipan Tuhan kepada kita dan anak cucu kita,” ujarnya. Orangutan Tapanuli merupakan spesies kera besar yang langka dengan populasi terbatas. Upaya penyelamatan ini menjadi bagian penting dari komitmen bersama untuk terus menjaga keberlangsungan hidup satwa endemik Sumatera Utara ini. Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga mitra dan dukungan masyarakat, diharapkan interaksi negatif antara manusia dan satwa dapat ditekan serta kelestarian Orangutan Tapanuli tetap terjaga untuk generasi mendatang. Sumber: Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Langka! Naga Hutan Tercatat Pertama Kali di Pulau Sempu

Malang, 1 Oktober 2025. Di jantung rimba tropis Cagar Alam Pulau Sempu, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, sejarah baru tercatat. Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) berhasil mendokumentasikan bunglon hutan (Gonocephalus chamaeleontinus) untuk pertama kalinya di kawasan ini, tepat di ketinggian 73 meter di atas permukaan laut (mdpl). Reptil berwarna hijau zamrud ini dikenal sebagai “naga kecil hutan hujan”. Dengan jumbai kulit menyerupai sisir di kepala dan punggung, ia tampak seperti makhluk purba yang terselip di antara rimbun pepohonan. Bunglon hutan berbeda dengan bunglon sejati yang berasal dari keluarga Chamaeleonidae, namun sama-sama jago dalam seni berkamuflase. Ia mampu berganti warna dari hijau terang hingga cokelat kusam, menyatu dengan dedaunan lembap hutan tropis. Hidupnya arboreal, lebih banyak di pepohonan, dan memangsa serangga kecil, laba-laba, hingga anak katak. Kehadiran satwa ini sering disebut sebagai indikator ekosistem yang sehat, karena bunglon hutan hanya dapat bertahan di habitat alami yang masih lestari. Peneliti menyebut, catatan ilmiah sebelumnya menunjukkan spesies ini tersebar di Sumatra, Jawa, dan Bali, namun populasinya kian terfragmentasi akibat deforestasi (Manthey & Grossmann, 1997; Das, 2010). “Fakta bahwa spesies ini muncul di ketinggian rendah, 73 mdpl, adalah catatan penting bagi riset biodiversitas di Jawa Timur. Temuan ini menunjukkan Pulau Sempu bukan hanya benteng bagi Lutung Jawa, tetapi juga menyimpan herpetofauna yang selama ini belum tercatat,” ujar Hari Purnomo sebagaimana ketua tim survei. Cagar Alam Pulau Sempu sendiri merupakan mosaik ekosistem yang unik, hutan hujan dataran rendah yang rapat, hutan pantai, mangrove, hingga laguna Segara Anakan yang terkenal eksotis. Statusnya sebagai kawasan konservasi dengan perlindungan ketat membuatnya berfungsi sebagai laboratorium alam, di mana kehidupan liar berlangsung alami, minim intervensi manusia. Temuan ini, yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, membawa pesan simbolis bahwa kesaktian bangsa juga terletak pada kemampuannya menjaga harmoni dengan alam. Bunglon hutan di Sempu kini bukan lagi sekadar misteri yang bersembunyi di balik dedaunan, melainkan bukti hidup bahwa rimba Jawa Timur masih menyimpan cerita yang belum seluruhnya terungkap. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

Komplotan Pedagang Satwa Illegal Digulung, Ratusan Burung Diselamatkan

Gresik, 1 Oktober 2025. Ratusan burung-burung berwarna hijau menyala hidup sesak dalam beberapa kandang kecil, wajahnya yang bingung seolah ingin menyampaikan kegundahan yang mereka alami. Satwa-satwa tersebut merupakan hasil dari operasi tangkap tangan dari Ditreskrimsus Polda Jatim terhadap dua orang warga Desa Drancang, Menganti, Kabupaten Gresik. Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III dan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir untuk segera mengidentifikasi burung-burung hasil operasi tersebut, 1 Oktober 2025. Hasilnya, sebanyak 200 ekor satwa berhasil diidentifikasi dan keseluruhan satwa dilindungi undang-undang berdasarkan Permen LHK No. 106 Tahun 2018. Satwa-satwa dimaksud terdiri dari 75 ekor Serindit sulawesi (Loriculus stigmatus), 57 ekor Perkici sulawesi sub. Meyeri (Trichoglossus flavoviridis meyeri), dan 68 ekor Serindit paruh merah (Loriculus exilis). Tak menunggu lama, segera ratusan burung dilindungi diatas ditempatkan di Unit Penyelamatan Satwa (WRU) Matawali milik BBKSDA Jawa Timur. Agar pelaku jera dan tidak melakukan perbuatan itu di masa depan, diharapkan proses hukum dapat berjalan hingga tuntas agar pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal. (air) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Patroli Saobi Temukan 9 Sarang Gosong !

Sumenep, 2 Oktober 2025. Meski hujan belum sepenuhnya mengguyur kawasan Pulau Saobi – Sumenep, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui tim patroli dari Seksi KSDA Wilayah IV beserta Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Madura Kepulauan tetap penuh semangat menyusuri hutan dataran rendah tersebut. Target kali ini 25 grid seluas +- 18,7 ha yang dituntaskan mulai 18 hingga 29 September 2025. Tim sangat antusias, selama patroli menjumpai setidaknya 9 sarang burung Gosong kaki merah, ini menandakan satwa ini sangat nyaman beranak pinak dalam Cagar Alam Pulau Saobi ini. Selain itu, tim juga menjumpai beberapa satwa seperti Elang Bondol, Merbah Cerucuk, Kokokan laut, Cangak Merah, Srigunting, Butbut, Trucukan, Raja Udang Biru, Gajahan Pengala, dan Dara Laut. Namun, bukan hanya kabar gembira itu saja yang tim jumpai. Mereka juga masih menemukan adanya 3 tonggak bekas penebangan liar dari jenis pohon Labban, Taklok, dan Jambu-jambuan. Hal ini tentu saja sangat menggusarkan tim. Serta merta tim melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang melewati kawasan cagar alam untuk ikut menjaga kemanan hutan, dan segera melaporkan kepada petugas jika menjumpai kegiatan penebangan atau perburuan. Patroli juga dilaksanakan dengan menyisiri kawasan melalui laut guna mengantisipasi adanya pelanggaran kawasan melalui jalur laut. (air) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

BBKSDA Sumatera Utara dan YSI Lepasliarkan 19 Ekor Monyet Ekor Panjang di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut

Tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara dan Yayasan Scorpion Indonesia saat tiba di lokasi pelepasliaran, Kamis (25/9/2025). Langkat, 1 Oktober 2025 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara berkolaborasi dengan Yayasan Scorpion Indonesia (YSI) kembali melaksanakan pelepasliaran 19 ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) pada Kamis (25/9/2025). Kegiatan pelepasliaran dilakukan di kawasan hutan mangrove pada Resor Konservasi Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut III, tepatnya di daerah terusan Secanggang. Proses pelepasliaran dilakukan dengan mengangkut satwa tersebut menggunakan dua unit sampan menuju lokasi yang aman di dalam kawasan hutan. Dari total 19 ekor tersebut, 14 ekor berasal dari hasil rehabilitasi yang dilakukan YSI, sementara 5 ekor lainnya berasal dari kandang sementara pada Seksi Konservasi Wilayah II Stabat. Seluruh satwa telah melalui masa karantina serta pemeriksaan kesehatan sehingga dipastikan dalam kondisi sehat dan siap dilepasliarkan ke habitatnya. Mengapa pelepasliaran penting? Monyet ekor panjang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Satwa ini dikenal sebagai salah satu satwa penyebar biji alami, yang membantu meregenerasi hutan dengan menyebarkan biji-bijian dari berbagai buah yang mereka konsumsi. Penelitian menunjukkan, satwa ini mampu menyebarkan lebih dari 80 jenis tumbuhan, sehingga menjadikannya sebagai salah satu satwa kunci dalam menjaga kelestarian hutan tropis. Pelepasliaran juga merupakan bentuk pemulihan hak hidup satwa liar. Banyak monyet ekor panjang yang sebelumnya ditangkap dari alam untuk dipelihara secara ilegal atau menjadi korban perdagangan. Dengan dikembalikannya ke alam, mereka dapat kembali menjalani kehidupan alaminya di habitat asli. Selain itu, pelepasliaran juga akan membantu dalam mengurangi interaksi negatif antara manusia dan satwa. Jika dibiarkan berada di sekitar pemukiman, monyet ekor panjang kerap kali merusak tanaman warga untuk mencari makan. Dengan dikembalikan ke habitat yang sesuai, potensi interaksi negatif tersebut dapat diminimalisir. Lebih jauh, kegiatan ini juga menjaga populasi alami dan keanekaragaman genetik monyet ekor panjang di habitatnya. Populasi yang sehat dan beragam penting untuk memastikan kelestarian spesies ini, terutama di tengah ancaman kerusakan habitat. Pesan konservasi untuk masyarakat. Pelepasliaran tidak hanya menyelamatkan satwa, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Masyarakat diingatkan kembali bahwa satwa liar bukanlah hewan peliharaan. Keberadaan mereka jauh lebih bermanfaat ketika hidup bebas di alam karena berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistem. Melalui kegiatan ini, BBKSDA Sumatera Utara bersama YSI menegaskan komitmennya untuk terus berupaya melakukan penyelamatan satwa liar dan menjaga kelestarian hutan di Sumatera Utara. Dukungan dari masyarakat untuk tidak memelihara atau memperdagangkan satwa liar menjadi bagian penting dari keberhasilan konservasi. Proses pengangkutan monyet ekor panjang dengan menggunakan sampan, Kamis (25/9/2025). Sumber: Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan) dan Resor KGLTL III-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Ternyata Debit Air Bawean Bernilai 6,8 Miliar Rupiah per Tahun, Begini Peran Hutan dan Danau Kastoba

Bawean, 30 September 2025. Siapa sangka, air yang mengalir dari hutan-hutan Pulau Bawean ternyata menyimpan nilai ekonomi fantastis: Rp6,8 miliar per tahun. Temuan ini terungkap dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Izin Pemanfaatan Air (IPA) Non Komersial yang dilaksanakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada 23–27 September 2025. Tim BBKSDA Jatim yang terdiri dari Luvi Andari, S.Si., Eka Heryadi, S.Hut., dan beberapa staf teknis menelusuri sumber air di Kudu-Kudu hingga Danau Kastoba, jantung air terbesar di Pulau Bawean yang berada di kawasan Cagar Alam Pulau Bawean. Selain survei lapangan, tim juga menggelar sosialisasi bersama kelompok pemegang izin IPA non komersial untuk membahas hak dan kewajiban sesuai Permen LHK No. 18/2019 dan Perdirjen PHKA No. 22/2014. Dalam dialog, muncul beragam persoalan yang disuarakan masyarakat. Mulai dari anggapan pohon jati memengaruhi debit air, hingga pertanyaan terkait pengelolaan sumber air di eks-penangkaran rusa. Ada pula usulan untuk menanam bibit Gondang (Ficus variegata) sebagai penguat sumber air. Menanggapi hal itu, tim memberikan beberapa solusi, di antaranya mendorong penguatan kelembagaan melalui keputusan Kepala Desa serta mengkomunikasikan pemanfaatan sumber air di bekas penangkaran rusa kepada pengelola. Dalam paparannya, Eka Heryadi, S.Hut., selaku Penyuluh Kehutanan menegaskan bahwa air yang selama ini dimanfaatkan bukan hanya menyokong kehidupan, tetapi juga memberi dampak ekonomi luar biasa. “Nilai kontribusi ekonomi (NKE) air Bawean mencapai Rp6,8 miliar per tahun. Angka ini bukan sekadar rupiah, melainkan simbol betapa pentingnya menjaga hutan agar air tetap mengalir,” ujarnya. Selain itu, tim juga mengunjungi sejumlah Kelompok Tani Hutan (KTH), di antaranya KTH Mutiara Madu di Desa Paromaan, KTH Putra Daun di Desa Daun, serta KTH Mustika Aren yang menghasilkan gula aren khas Bawean. Kehadiran KTH ini menunjukkan bahwa konservasi hutan tidak hanya menjaga air, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan. Sebagai tindak lanjut, kegiatan monitoring dan pendampingan akan dilakukan secara rutin minimal setahun sekali, data nilai kontribusi ekonomi terus diperbarui, dan pendampingan bagi kelompok pemegang izin diperkuat. Pulau Bawean mengajarkan satu hal penting, bahwa air bukan sekadar sumber daya alam, melainkan warisan kehidupan. Menjaganya berarti memastikan bahwa generasi mendatang tetap bisa meneguk resapan kesegaran Danau Kastoba dan merasakan manfaat hutan yang lestari. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Geger Lanud Iswahyudi, Ular 5 Meter Berhasil Dievakuasi

Magetan, 29 September 2025. Pangkalan Udara Iswahyudi, Magetan, menjadi saksi penyerahan satwa liar yang mengejutkan. Seekor ular sanca kembang dengan panjang mencapai lima meter, dua ekor sanca kembang lain, serta seekor monyet ekor panjang diserahkan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Jawa Timur (BBKSDA Jatim), 29 September 2025. Satwa-satwa tersebut berasal dari hasil penyerahan langsung pihak Lanud Iswahyudi dan lembaga Jaga Satwa Indonesia bersama masyarakat. Setelah proses serah terima, satwa diamankan di kandang transit kantor Bidang KSDA Wilayah I Madiun sebagai langkah awal penyelamatan. Rencananya, seluruh satwa akan dievakuasi ke kandang transit Wildlife Rescue Unit (WRU) Sidoarjo. Di tempat itu, satwa-satwa tersebut akan mendapat perawatan sebelum dilepasliarkan ke habitat yang sesuai. Kejadian ini memperlihatkan betapa meningkatnya kepedulian berbagai pihak terhadap kelestarian satwa liar. Dari pangkalan militer hingga pusat konservasi, perjalanan penyelamatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan kehidupan satwa di alam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Patroli Cegah Api Di Jalur Kering Gunung Picis

Ponorogo, 30 September 2025. Di tengah sunyi hutan pegunungan yang mulai mengering, langkah-langkah tim patroli Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) terdengar mantap. Dari 26 hingga 28 September 2025, Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06 Ponorogo, menapaki jalur rawan kebakaran di Cagar Alam Gunung Picis. Tujuannya satu yaitu memastikan hutan tetap terjaga dari ancaman api yang setiap musim kemarau mengintai dalam diam. Patroli difokuskan di Blok Sangubanyu I, Blok Trungo, hingga Sangubanyu II, kawasan yang berbatasan dengan hutan lindung dan hutan produksi Perhutani BKPH Wilis Barat. Kawasan ini ditetapkan sebagai prioritas karena hamparan semak belukar, rumput kering, dan seresah yang menumpuk menjadi bahan bakar alami jika percikan api tak terkendali. Ditambah lagi, jalur ini kerap dilalui warga yang mencari pakan ternak maupun menyadap getah pinus, sehingga risiko semakin meningkat. Hutan Picis masih menyimpan keragaman vegetasi khas Jawa Timur berupa Pasang, Puspa, Morosowo, hingga Angrung dan Kemaduh. Saat tim melakukan uji kelembapan seresah, hasilnya menunjukkan kategori sedang atau masih lembab, tetapi tanda-tanda kekeringan mulai tampak dari patahan ranting yang rapuh. Kondisi ini menjadi alarm dini bagi tim patroli untuk meningkatkan kewaspadaan. Selain menyusuri titik rawan, tim juga menjumpai masyarakat yang beraktivitas di dalam kawasan. Dialog dan penyuluhan pun dilakukan di tengah jalur setapak. Pesan sederhana namun penting, bahwa api kecil bisa berubah jadi bencana jika lalai. Edukasi ini menjadi kunci agar upaya mitigasi bukan hanya datang dari petugas, melainkan juga dari warga yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan hutan. Hasil patroli kali ini menegaskan bahwa belum ditemukan titik api maupun hotspot di kawasan Cagar Alam Gunung Picis. Namun, dengan vegetasi yang kian mengering, potensi kebakaran tetap tinggi. Karena itu, sosialisasi, pemantauan, dan patroli berlapis akan terus dilaksanakan, demi menjaga hutan Picis tetap hijau, lembab, dan terhindar dari jilatan api yang bisa mengubahnya menjadi lautan bara. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 129–144 dari 11.091 publikasi