Senin, 5 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Jalan Pulang Monyet Ekor Panjang dari Semen Kidul, Bojonegoro

Bojonegoro, 20 Oktober 2025. Seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) jantan muda kembali mendapat harapan baru untuk hidup bebas di alam liar. Satwa cerdas dan lincah ini diserahkan secara sukarela oleh warga Desa Semen Kidul, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, kepada petugas Damkar setempat. Dari sana, primata tersebut kemudian diterima oleh tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), untuk menjalani perawatan awal. Tiba dalam kondisi sehat dan cukup aktif, Monyet Ekor Panjang itu kini berada di kandang transit kantor Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Selama masa observasi, tim akan memantau perilaku, kesehatan, serta adaptasinya sebelum diputuskan untuk dikembalikan ke habitat yang aman dan sesuai. Penyerahan sukarela satwa liar ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi kian meningkat. Monyet Ekor Panjang seringkali terjebak dalam konflik manusia-satwa akibat penyempitan habitat dan perburuan untuk peliharaan. Namun, tindakan warga Semen Kidul memberi pesan kuat bahwa kepedulian dapat mengubah nasib satu kehidupan liar menjadi kisah penyelamatan. Sebagai primata yang hidup berkelompok dan mudah beradaptasi, Macaca fascicularis memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan sekunder dan daerah tepi. Mereka membantu regenerasi tumbuhan dengan menyebarkan biji melalui sisa pakan di berbagai wilayah, menjadikan kehadirannya bagian vital dari proses alami dalam siklus kehidupan hutan. Sebuah harapan, setelah proses observasi selesai dan kondisi satwa dinyatakan stabil, Monyet Ekor Panjang ini akan dilepasliarkan ke habitat yang sesuai. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam melindungi, memulihkan, dan memastikan keberlangsungan satwa liar di alam. Penyerahan dan penyelamatan ini bukan sekadar tindakan penyelamatan satu individu, melainkan langkah kecil yang berdampak besar bagi keseimbangan ekosistem. Di setiap proses penyelamatan satwa, tersimpan cerita tentang harapan, tanggung jawab, dan masa depan alam yang bergantung pada pilihan manusia hari ini. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

SMART Patrol Saobi Dan Harapan Yang Tumbuh Di Masakambing

Sumenep, 20 Oktober 2025. Di selatan angin Madura, di tengah laut biru yang mengurung pulau-pulau kecil, langkah-langkah para penjaga rimba terdengar lirih menapaki tanah kering. Mereka adalah tim SMART Patrol dari Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), bersama MMP Madura Kepulauan, yang selama hampir dua pekan (8–19 Oktober 2025) menelusuri setiap jengkal Cagar Alam Pulau Saobi, Kabupaten Sumenep. Mereka membawa tekad, bukan senjata, peta, bukan panji. Dalam rindangnya hutan tropis kering yang hanya sesekali dipecah suara burung dan gesekan dedaunan, tim ini memastikan satu hal, bahwa kehidupan di Saobi masih terus berdetak. Menembus Medan, Membaca Jejak Alam Dengan langkah hati-hati dan panduan Avenza Maps serta aplikasi SMART Mobile, tim menelusuri 35 grid area dengan luas sekitar 32 Ha, sebagian di antaranya berupa tebing dan tepi laut yang sulit dilalui. Beberapa grid seperti 274, 396, dan 481 nyaris tak bisa ditembus. Tebing curam dan ombak besar menjadi batas alami yang menantang. Namun mereka tak berhenti. Di setiap rintisan jalan yang dibuat mengikuti kontur, ratusan pohon diberi tanda, 370 pohon tepatnya. Pohon-pohon yang dominan, bernilai ekologis tinggi, dan rawan pencurian kini punya identitas. Setiap label adalah pernyataan bahwa mereka dijaga. Jejak Rusa dan Suara dari Kanopi Patroli kali ini juga membawa cerita kehidupan liar. Tercatat 8 tanda kehadiran satwa berupa jejak, kotoran, sarang, dan suara burung, serta perjumpaan langsung dengan 3 ekor rusa yang melintas cepat di antara pepohonan, terlalu cepat untuk sempat diabadikan. Rasa letih hilang seketika saat melihat rusa melompat di antara semak. Itu bukti bahwa Saobi masih punya nyawa. Sepanjang patroli, tidak ditemukan aktivitas ilegal. Tak ada jejak perambahan, tak ada tanda perburuan. Sebuah tanda positif bahwa kesadaran masyarakat sekitar terus tumbuh. Tim pun melakukan sosialisasi langsung kepada warga pesisir yang kadang melintas di sekitar kawasan, mengajak mereka ikut menjaga pulau kecil ini. Patroli malam juga digelar. Dalam sunyi yang hanya diterangi cahaya senter, para petugas menelusuri hutan. Hasilnya tetap sama, nihil pelanggaran, penuh harapan. Harapan dari Pulau Masakambing, Kakatua Kecil Jambul Kuning Sementara di Pulau Masakambing, jauh terbentang dari Saobi, kabar baik datang. Hasil pemantauan SMART Patrol dan tim pengamat satwa hingga 19 Oktober 2025 mencatat 4 sarang aktif Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abbotti) di daratan, serta 2 sarang di mangrove tumbang. Sebuah tanda bahwa konservasi dan upaya masyarakat menjaga habitat endemik itu membuahkan hasil nyata. Burung dengan jambul kuning yang megah itu kini menjadi simbol harapan, bahwa di pulau-pulau kecil seperti Masakambing, kehidupan masih punya kesempatan kedua. SMART Patrol bukan sekadar patroli lapangan. Ia adalah komitmen konservasi berbasis sains dan empati, menyatukan langkah petugas, masyarakat, dan alam dalam satu irama, menjaga kehidupan. Data yang dikumpulkan menjadi fondasi bagi pengelolaan kawasan berbasis bukti (evidence-based conservation), memastikan bahwa setiap keputusan lahir dari pemahaman mendalam atas alam yang dijaga. Di tengah luasnya laut dan kecilnya pulau-pulau Madura, langkah para penjaga Saobi membuktikan satu hal, bahwa konservasi bukan hanya pekerjaan, tapi panggilan jiwa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Aksi Cepat Karantina Ketapang dan BBKSDA Jatim Selamatkan Ribuan Burung dari Lombok

Banyuwangi, 19 Oktober 2025. Dari balik tumpukan boks di dalam truk fuso yang menyeberang dari Lombok menuju Surabaya, ribuan burung kecil menjerit gelisah. Sebagian telah kehilangan nyawa di perjalanan panjang. Namun, di ujung pelabuhan Ketapang, tim gabungan dari BBKSDA Jatim dan Karantina berhasil memutus rantai perdagangan yang bisa berakhir pada kepunahan lokal. Di bawah terik matahari siang yang memantul di atas dek pelabuhan Ketapang, sebuah truk box berpelat W 8816 UR berhenti di pos pemeriksaan Karantina (19/10/2025). Dari dalamnya, terdengar suara riuh ribuan burung yang saling bersahutan, seperti seruan minta tolong yang tertahan di dalam puluhan keranjang buah. Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V Banyuwangi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) segera bergabung dengan Karantina BKHIT Jatim Satpel Ketapang untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil identifikasi, terungkap fakta mencengangkan: sebanyak 3.579 ekor burung berbagai jenis diangkut dari Pulau Lombok menuju Sidoarjo dan Surabaya. Namun, dari jumlah itu, 498 ekor ditemukan telah mati dalam perjalanan. Panas, dehidrasi, dan stres perjalanan panjang menjadi penyebab utama. Dapat dipastikan bahwa seluruh burung ini tidak termasuk satwa dilindungi. Namun, jumlah dan cara pengangkutannya jelas melanggar prinsip kesejahteraan satwa dan berpotensi besar mengancam populasi alam di daerah asalnya. Burung-burung tersebut terdiri dari 9 jenis, di antaranya: Cinenen Jawa (2.145 ekor), Pipit Zebra (584 ekor), Isap Madu Australia (385 ekor), Kacamata Biasa (335 ekor), Bentet (38 ekor), Kepudang (28 ekor), Anis Nusa Tenggara (10 ekor), Perenjak (49 ekor) dan Gelatik Batu Kelabu (5 ekor) Meski tidak berstatus dilindungi, perburuan dan pengiriman dalam jumlah besar ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelestarian populasi liar di alam, terutama di wilayah Nusa Tenggara Barat. Karantina BKHIT Jatim Satpel Ketapang dan BBKSDA Jatim, kini tengah menyiapkan langkah penolakan dan pengembalian ke daerah asal (Lombok) agar burung-burung tersebut dapat dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Keputusan ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral dan ekologis, agar ribuan satwa kecil ini kembali pada fungsi pentingnya di alam: penyebar biji, pengendali serangga, dan penjaga keseimbangan ekosistem Hidup mereka bukan untuk disekap dalam sangkar, melainkan untuk menjadi bagian dari rantai kehidupan di alam bebas. Di Balik Angka, Ada Nyawa dan Ekosistem yang Terluka Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perdagangan burung liar antar pulau masih marak dan membutuhkan pengawasan ketat. Setiap kali seekor burung ditangkap, alam kehilangan satu penyeimbang, dan setiap kematian dalam perjalanan berarti retaknya satu simpul kehidupan di rantai ekologi Nusantara. ”Mereka hanya seukuran telapak tangan, tapi mereka membawa kehidupan dalam setiap kepakan sayapnya. Menjaga mereka berarti menjaga denyut alam Indonesia.” (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tudung Pengantin Menari Di Rimba Bawean

Bawean, 21 Oktober 2025. Di tengah kelembaban hutan Pulau Bawean, saat embun pagi masih bergelayut di ujung daun paku-pakuan, sepasang makhluk lembut muncul dari gelap tanah. Dari sela-sela serasah daun dan akar-akar halus, tubuh putih berenda menyeruak, pelan, membentangkan jaring halus seperti gaun pengantin di pesta hutan. Ia dikenal dengan nama Jamur Tudung Pengantin (Phallus indusiatus), jamur yang tak hanya memesona dalam rupa, tetapi juga menyimpan kisah ekologis dan kearifan yang tak kalah menarik. Jamur ini adalah bagian dari ordo Phallales, kelompok jamur yang unik karena cara berkembangbiaknya yang melibatkan serangga. Tudung renda (indusium) yang melingkar seperti kerudung pengantin berfungsi bukan sekadar hiasan alami, ia adalah strategi evolusioner. Aroma khas yang dikeluarkannya, sering disebut menyengat seperti buah busuk, bukan tanpa alasan. Bau itu menjadi sinyal bagi lalat dan serangga pengurai untuk datang, hinggap di kepala jamur yang berwarna gelap, lalu tanpa sadar membawa spora ke tempat lain. Dengan cara itu, jamur ini memperluas “jejak hidupnya”, menjadi bagian penting dari rantai dekomposisi hutan tropis. Ia membantu mempercepat penguraian bahan organik, mengembalikan unsur hara ke tanah, dan mendukung siklus nutrisi bagi pepohonan dan tumbuhan bawah lainnya. Dalam ekologi hutan, kehadiran jamur seperti ini menandai bahwa tanah sedang sehat dan lembab, dua indikator vital bagi keberlanjutan kehidupan di lantai hutan. Dalam beberapa budaya tropis di Asia, Phallus indusiatus lebih dari sekadar jamur hutan. Di Tiongkok dan beberapa daerah di Asia Tenggara, jamur ini dikenal sebagai “Bamboo Fungus” atau “Veiled Lady Mushroom”, dan telah lama digunakan dalam kuliner serta pengobatan tradisional. Diolah dalam sup herbal, jamur ini dipercaya memiliki kandungan antioksidan, antibakteri, dan imunomodulator yang dapat memperkuat daya tahan tubuh. Beberapa penelitian modern juga mengungkapkan potensinya dalam menekan peradangan dan melindungi sel saraf. Meski demikian, di alam liar Indonesia, terutama di kawasan konservasi seperti Pulau Bawean, jamur ini tidak dimanfaatkan secara massal. Etika konservasi menempatkannya sebagai penanda ekologis penting, bahwa hutan masih menjaga kelembaban alaminya, bahwa siklus hidup di bawah kanopi masih berjalan dalam keseimbangan sempurna. Temuan tim Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah 10 Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), terhadap jamur ini adalah potret kecil dari keutuhan ekosistem hutan tropis. Ia bukan sekadar keindahan biologis yang memanjakan mata, melainkan sinyal ekologis bahwa kehidupan di bawah tanah masih bekerja dalam harmoni, dan keseimbangan itu harus dijaga. Melalui patroli rutin, para petugas tak hanya memantau satwa dan tumbuhan besar, tetapi juga memperhatikan tanda-tanda kecil seperti munculnya jamur langka ini. Karena dari satu jamur kecil yang tumbuh di antara serasah daun, kita bisa membaca cerita panjang tentang kesuburan, keanekaragaman, dan daya lenting hutan yang masih hidup. Dalam simfoni hutan, Phallus indusiatus menari lembut di antara sinar yang menembus celah daun. Keindahannya mengajarkan kita tentang kerendahan hati alam, bahwa yang rapuh pun memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan kehidupan. Jamur tudung pengantin bukan sekadar keajaiban mikologi. Ia adalah simbol keharmonisan ekologis, penanda bahwa alam masih bernafas, dan bahwa setiap detik di dalam hutan adalah orkestra kehidupan yang layak kita jaga. Temuan ini didokumentasikan oleh Tim SMART Patrol RKW 10 Bawean, Balai Besar KSDA Jawa Timur. Penemuan ini memperkaya data biodiversitas hutan Bawean, pulau kecil yang menjadi rumah bagi berbagai spesies endemik dan langka di Jawa Timur. Setiap jamur yang tumbuh dari tanah adalah puisi kecil dari bumi, tentang kehidupan yang tumbuh diam-diam, dan tentang keseimbangan yang seharusnya tidak kita ganggu. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Taman Nasional Ujung Kulon Diganjar Asia Environmental Enforcement Recognition of Excellence (AEEE) 2024–2025

Jakarta, 18 Oktober 2025. Bertempat di Ruang Center of Intelligence, Ditjen Gakkum Kehutanan Gedung Manggala Wanabakt pada 17 Oktober 2025, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berhasil meraih penghargaan bergengsi Asia Environmental Enforcement Recognition of Excellence (AEEE) 2024–2025, yang diselenggarakan oleh UN Environment Program (UNEP). Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan dan komitmen Balai TNUK dalam upaya penegakan hukum lingkungan, khususnya dalam penanganan kasus perburuan Badak Jawa. Acara dlaksanakan melalui daring/webinar dibuka oleh Sekretaris Jenderal CITES Ivonne Higuero dan sebagai moderator Sallie Yang dari UNEP. AEEE merupakan penghargaan yang diinisiasi oleh UN Environment Program bersama sejumlah lembaga internasional, antara lain - The International Criminal Police Organization (INTERPOL), - the Secretariat of the Basel Convention on the Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal, - the Secretariat of CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), - the Secretariat of the Minamata Convention on Mercury, - the Ozone Secretariat for the Vienna Convention and the Montreal Protocol, - the United Nations Development Programme (UNDP), - the United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), - the World Bank Global Wildlife Programme, and - the World Customs Organization (WCO). Penerima penghargaan AEEE ini dari berbagai negara diantaranya Indonesia, China, Hongkong, India, Shanghai dan Singapore. Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Keruskaan Lingkungan di Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Rasio Ridho Sani mewakili Indonesia dalam penyerahan tersebut. Dalam ajang tersebut, Taman Nasional Ujung Kulon berhasil meraih penghargaan pada kategori “IMPACT” (Dampak) melalui kinerja luar biasa Satuan Tugas Operasi TNUK dalam upaya pengungkapan dan penanganan kasus perburuan liar di kawasan konservasi. Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ardi Andono, S.TP., M.Sc, menyampaikan rasa syukur dan bangga atas pencapaian ini. “Penghargaan ini merupakan hasil kerja keras seluruh personil Balai TNUK, dengan dukungan dari Ditjen Gakum Kemenhut, Polri dan TNI serta Kejaksaan Negeri dan Hakim dari PN Pandeglang dan juga Masyarakat sekitar dalam menangani kasus perburuan Badak Jawa beberapa waktu yang lalu. Kami berharap, penghargaan ini menjadi motivasi agar seluruh personil TNUK semakin bersemangat dan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk gangguan, terutama perburuan satwa di kawasan TNUK,” ujarnya. Penghargaan AEEE 2024–2025 ini menegaskan posisi Taman Nasional Ujung Kulon sebagai salah satu kawasan konservasi yang memiliki peran penting di tingkat regional dan internasional dalam menjaga keanekaragaman hayati serta menegakkan hukum lingkungan. Keberhasilan ini juga menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dalam melindungi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sebagai salah satu spesies paling langka di dunia. Sumber: Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Baca Berita

Warga Pakis Jember, Serahkan Monyet Ekor Panjang ke BBKSDA Jatim

Jember, 17 Oktober 2025. Seorang warga Desa Pakis, Kecamatan Panti, Joko Prasetyo, dengan penuh kesadaran menyerahkan seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) peliharaannya kepada petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur (17/10/2025). Langkah ini muncul bukan semata karena aturan, melainkan karena rasa takut yang berubah menjadi kepedulian. Beberapa hari sebelumnya, masyarakat Jember dihebohkan oleh peristiwa konflik satwa di Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, dimana adanya kejadian seekor monyet peliharaan lepas dan menyerang warga. Kabar itu menyebar cepat, memunculkan kesadaran baru tentang potensi bahaya dari memelihara satwa liar tanpa izin dan tanpa pemahaman terhadap perilakunya. Merespons situasi tersebut, Kepala Desa Pakis segera menghubungi petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah III Jember, melaporkan adanya warga yang bersedia menyerahkan satwa peliharaannya secara sukarela. Tim segera bergerak menuju kediaman Sdr. Joko Prasetyo, memastikan proses serah terima berlangsung aman dan penuh tanggung jawab. Kini, monyet ekor panjang tersebut telah diamankan di kandang transit Bidang KSDA Wilayah III Jember untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan observasi perilaku. Nantinya, satwa ini akan melalui proses penilaian sebelum dapat ditentukan lokasi pelepasliaran yang sesuai, sesuai dengan prosedur konservasi yang berlaku. Tindakan sukarela seperti ini adalah cermin perubahan cara pandang masyarakat terhadap satwa liar, dari sekadar objek hiburan menjadi makhluk hidup yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Monyet ekor panjang, yang kerap ditemukan di kawasan hutan dan tepi perkampungan, adalah spesies kunci ekosistem hutan tropis. Mereka membantu penyebaran biji dan menjaga dinamika ekologi di hutan-hutan Jawa Timur. Namun, ketika diambil dari alam dan dijadikan peliharaan, keseimbangan itu terganggu, baik bagi manusia maupun bagi satwanya sendiri. Langkah kecil dari seorang warga Pakis ini menjadi pengingat bahwa kesadaran konservasi dapat tumbuh dari rasa takut, lalu berkembang menjadi kepedulian, dan akhirnya menjadi bagian dari upaya besar menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Setiap satwa liar yang kembali ke alam adalah bagian dari upaya kita mengembalikan keseimbangan. Alam tak menuntut banyak, hanya ingin dibiarkan tetap hidup sebagaimana mestinya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Berbagai Temuan Potensi Saat Patroli di CA Dolok Sibual - Buali

Temuan sarang orangutan di CA Dolok Sibual-buali Tapanuli Selatan, 17 Oktober 2025 — Tim Patroli Gabungan yang dipimpin oleh Parta Basmely (Kepala Resor CA Dolok Sibual-buali) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Pusat Perlindungan Orangutan (Center for Orangutan Protection-COP) melaksanakan patroli kawasan di Cagar Alam (CA) Dolok Sibual-buali pada 6-10 Oktober 2025. Kegiatan patroli dilakukan di Desa Situmba Julu, Dusun Mandurama, Kelurahan Beringin Tower (grid N11W18-N11W18-IB3, dan N11W18-1B2). Tujuannya adalah untuk menjaga keamanan kawasan konservasi, memantau kondisi batas kawasan, serta mendata potensi satwa dan tumbuhan liar di dalam area konservasi. Selama patroli, tim tidak menemukan satwa secara langsung, namun berhasil mengidentifikasi sejumlah tanda tidak langsung yang menunjukkan aktivitas dan keberadaan berbagai jenis fauna. Temuan tersebut meliputi sarang orangutan kelas C dan D, yang menjadi indikator penting keberadaan orangutan tapanuli (Orangutan tapanuliensis) di kawasan ini. Selain itu, tim juga menemukan jejak rusa (Cervus sp.), kijang (Muntiacus muntjak), babi hutan (Sus scrofa), kambing hutan (Capricornis sumatraensis) serta jejak trenggiling (Manis javanica). Tak hanya itu, ditemukan pula sarang dan bagian tubuh landak (Hystrix sp.) yang mengindikasikan adanya interaksi alami antara satwa liar dengan ekosistem. Selain potensi fauna, tim juga mendapati sekitar 70 batang tanaman aren yang tumbuh secara alami, serta berbagai tumbuhan liar dan obat tradisional seperti mayang, hoteng, hayu andolok, anggrek dan gagatan harimau. Tim juga menemukan beberapa ancaman ringan, di antaranya pal batas kawasan yang berlumut, rapuh, dan sebagian roboh serta satu lubang jebak bekas perburuan dalam kondisi tidak aktif. Sebagai tindak lanjut, dilakukan pembersihan dan pemeliharaan batas kawasan, pemasangan lima plat seng bertuliskan “CA Dolok Sibual-buali”, serta satu spanduk himbauan “larangan berburu” di titik perbatasan kawasan. Patroli ini menempuh jarak sekitar 5 kilometer dengan medan berbukit dan banyak aliran sungai, sehingga petugas kerap harus menyeberangi atau mengikuti alur sungai menuju lokasi target. Di beberapa titik, tim juga melewati kawasan kawah aktif yang memiliki semburan uap, lumpur, dan air panas, sehingga diperlukan kewaspadaan tinggi selama perjalanan. Kondisi cuaca di kawasan Sibual-buali umumnya berkabut pada pagi hari, cerah menjelang siang, dan terkadang gerimis pada sore hari. Cuaca yang berubah-ubah ini turut menjadi tantangan bagi tim dalam melaksanakan patroli. Kegiatan patroli ini melibatkan Efrina Rizkiyah, Fahmi Humala, Fazri Alghipari, serta personel dari COP (Rangga dan Yoga) dan Masyarakat Mitra Polhut (Ruslan dan Khiruddin). Sebagai satu-satunya petugas perempuan, Efrina menuturkan bahwa ia berusaha keras mengimbangi langkah rekan-rekan laki-laki, terutama saat menyeberangi sungai dan melewati tanjakan terjal. Hal ini menunjukkan semangat dan keterlibatan aktif perempuan dalam kegiatan konservasi di lapangan. Berdasarkan hasil patroli, tim merekomendasikan agar patroli kawasan dilakukan secara berkala dengan melibatkan masyarakat setempat serta lembaga mitra konservasi, guna memperkuat pengamanan dan menjaga kelestarian ekosistem CA Dolok Sibual-buali di masa mendatang. Sumber: Resor CA Sibual-buali - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Dari Rumpun Pisang di Mojokerto, Sebuah Harapan untuk Satwa Liar yang Hampir Hilang

Mojokerto, 16 Oktober 2025. Sebuah Kisah sederhana tentang kepedulian manusia dan kehidupan yang masih berdenyut di antara kebun-kebun pinggir sungai. Di bawah rimbun daun pisang yang basah oleh embun malam, seekor makhluk kecil menggulung tubuhnya rapat-rapat. Bersisik seperti tetesan perunggu, diam namun waspada. Ia adalah Trenggiling jawa (Manis javanica), satwa pemakan semut yang kini semakin langka di hutan-hutan Jawa. Malam itu (15/10/25), Muhammad Sasunil Huda, warga Dusun Jampirogo, Kecamatan Soko, Kabupaten Mojokerto, tengah mencari pakan ikan di tepi sungai yang mengalir tak jauh dari rumahnya. Saat langkahnya berhenti di bawah rumpun pisang, ia menemukan satwa yang awalnya dikira ular itu, namun ketika didekati ternyata seekor satwa yang tidak asing asing di antara bayang daun. Namun alih-alih mengusir atau mengabaikan, ia justru memilih tindakan yang tak banyak dilakukan orang: menyelamatkan. Dengan kesadaran dan kepedulian, ia segera menghubungi Resort Konservasi Wilayah 09 Mojokerto, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, untuk menyerahkan Trenggiling tersebut kepada negara melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Tindakan sederhana itu menjadi simbol besar tentang bagaimana nurani manusia masih menjadi penjaga terakhir bagi alam yang terluka. Malam yang Menyentuh Batas Nurani Keesokan harinya, Kamis, 16 Oktober 2025, tim Resort KSDA Wilayah 09 Mojokerto melakukan evakuasi. Satwa tersebut berjenis kelamin jantan, dalam kondisi hidup dan sehat tanpa luka. Trenggiling itu kemudian diserahkan ke Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur di Surabaya untuk menjalani proses penyelamatan, rehabilitasi, dan persiapan pelepasliaran ke habitat alaminya. Langkah ini menjadi bagian dari implementasi Program MATAWALI (Penyelamatan Satwa Liar), sebuah pendekatan konservasi berbasis empati, yang berupaya menumbuhkan kesadaran ekologis masyarakat dengan menyentuh sisi nurani mereka. Jejak yang Berulang di Tempat yang Sama Penemuan Trenggiling di bawah rumpun pisang ini bukan yang pertama. Pada 4 Mei 2023, satwa sejenis juga ditemukan di titik yang sama oleh saudara Muhammad Sasunil Huda. Kawasan tersebut memiliki vegetasi semak, rumpun bambu, pisang, dan aliran sungai, yang menunjukkan karakter habitat alami Trenggiling jawa, meskipun lokasinya tidak biasa. Kejadian berulang ini menjadi indikasi kuat adanya jalur lintasan alami atau kantong populasi kecil Trenggiling jawa di wilayah Mojokerto bagian selatan. Di antara bentangan kebun dan permukiman, masih tersisa ruang hidup bagi makhluk bersisik pemalu ini, sebuah fragmen kecil dari kehidupan liar yang masih berjuang untuk bertahan. Dari hasil pengamatan lapangan, sebuah langkah perlu dilakukan kajian populasi dan habitat Trenggiling jawa di wilayah Kecamatan Soko dan sekitarnya untuk memastikan potensi populasi liar dan koordinasi lintas sektor dengan perangkat desa, Babinsa, lembaga pendidikan, dan aparat hukum guna memperkuat pengawasan terhadap peredaran satwa liar. Harapan dari Sebuah Tindakan Sederhana Seekor Trenggiling kecil di bawah rumpun pisang mungkin tampak remeh di mata banyak orang, namun kisah di baliknya menyimpan harapan besar bagi konservasi di Jawa Timur. Di tengah desakan modernisasi, masih ada ruang di mana manusia dan satwa liar saling menghormati keberadaannya. Tindakan seorang warga menjadi bukti bahwa konservasi bukan hanya tugas petugas, melainkan panggilan hati setiap manusia. Dan selama masih ada hati yang memilih untuk menyelamatkan, bukan mengabaikan, maka harapan untuk satwa liar yang hampir hilang itu akan tetap hidup. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Elang Brontok Kembali ke Gua Nglirip, Dari Barang Bukti Menjadi Penjaga Langit Tuban

Tuban, 13 Oktober 2025. Suara desir angin menelusup di antara bebatuan karst Gua Nglirip saat seekor Elang brontok (Nisaetus cirrhatus) mengepakkan sayapnya menuju langit biru. Ia menembus udara kawasan karst Tuban, melingkar di atas hutan alami yang menjadi rumah barunya. Dari satwa sitaan hasil penegakan hukum, kini elang itu kembali menjadi bagian dari rantai kehidupan liar yang semestinya, bebas dan berdaulat di alam. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama PT. PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar-awar, serta dukungan berbagai pihak melaksanakan pelepasliaran satwa hasil rehabilitasi tersebut di kawasan Cagar Alam Gua Nglirip, Kabupaten Tuban, 13 Oktober 2025. Selain itu turut hadir Perum Perhutani KPH Parengan, Muspika Montong, Pemerintah Desa Guwoterus dan Tingkis, Kelompok Tani Lembu Suro, masyarakat sekitar kawasan, siswa SD Guwoterus II, dan komunitas lingkungan “Masyarakat Ficus Tuban”. Gua Nglirip bukan sekadar bentang batuan karst, tetapi sebuah mosaik kehidupan di mana air, hutan, dan satwa berpadu dalam sistem ekologis yang rapuh sekaligus menakjubkan. Kawasan ini merupakan bagian dari ekosistem karst Tuban Timur yang meliputi Merakurak, Plumpang, Rengel, Widang, Montong, Jatirogo, hingga Senori, wilayah yang menjadi penopang sumber-sumber mata air utama seperti Krawak, Merakurak, dan Rengel. Survei habitat menunjukkan bahwa kawasan ini sangat sesuai untuk pelepasliaran Elang Brontok, yang merupakan predator puncak penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Satwa tersebut sebelumnya merupakan barang bukti hasil penegakan hukum oleh Bareskrim Polri pada 5 Agustus 2024, dan telah melalui proses panjang rehabilitasi di bawah pengawasan BBKSDA Jawa Timur. Pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, hingga adaptasi pakan dilakukan agar satwa siap kembali menghadapi alam bebas. “Pelepasliaran ini bukan sekadar simbol, tetapi bentuk nyata dari upaya mengembalikan fungsi ekologis kawasan konservasi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga habitat satwa liar,” ujar Nofi Sugianto, Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jawa Timur, dalam sambutannya. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum edukasi bagi generasi muda, agar belajar menghormati kehidupan liar dan berhenti melakukan perburuan satwa di kawasan konservasi. Dukungan dari sektor swasta juga menjadi kunci. Yunan Kurniawan, Senior Manager PT PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar-awar, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen PLN dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui program Nusantaraversary Green Fest bertema “Hijaukan Bumi dan Lestarikan Satwa demi Masa Depan Berkelanjutan”. Sementara itu, di tempat terpisah, Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi pentahelix antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, dan media. “Sinergi seperti ini adalah kunci untuk menjaga, menyelamatkan, dan melestarikan keanekaragaman hayati Jawa Timur. Saat seekor elang kembali ke langit, itu bukan hanya kisah pelepasan, melainkan simbol kembalinya keseimbangan ekosistem,” tegasnya. Kini, di langit Gua Nnglirip, sayap elang brontok itu menjadi saksi bahwa upaya konservasi bukan sekadar tugas, melainkan panggilan nurani untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Burung Takur Api: Penebar Biji dan Penjaga Keberlanjutan Hutan TN Batang Gadis

Panyabungan, 16 Oktober 2025. Tok-tok-tok... Suara khas itu menggema di antara rimbunnya pepohonan hutan tropis — berasal dari burung takur api (Psilopogon lineatus), si mungil berwarna hijau cerah dengan semburat merah di wajahnya. Penampilannya mencolok, namun tetap menyatu indah dengan alam sekitarnya. Burung kecil nan memesona ini bukan hanya mempercantik hutan, tapi juga punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai pemakan buah, takur api hijau membantu menyebarkan biji-bijian ke berbagai penjuru, menumbuhkan kehidupan baru di hutan yang menjadi rumahnya. Menariknya, burung takur api ini juga menjadi salah satu penghuni Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) — surga bagi beragam satwa liar dan benteng terakhir ekosistem tropis di Mandailing Natal. Keberadaan mereka menjadi pengingat bahwa hutan yang terjaga akan selalu menghadirkan harmoni kehidupan — antara manusia, satwa, dan alam yang saling bergantung satu sama lain. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Denyut Konservasi di Pulau Sempu yang Menyimpan Kehidupan

Malang, 15 Oktober 2025. Dari balik rimbun hutan tropis yang menggantung di bibir tebing karang, suara Lutung Jawa bersahut dengan kepak Elang Ular Bido. Di sinilah, di Cagar Alam Pulau Sempu, kehidupan berdenyut dalam kesunyian. Selama sepekan, tim SMART Patrol Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menapaki jalur-jalur rimba dan pantai dengan karst yang terjal, merekam setiap tanda kehidupan dan ancaman di pulau seluas 969, 88 ha ini, sebuah laboratorium alam yang rapuh namun luar biasa kaya. Patroli kali ini berlangsung pada 7 hingga 12 Oktober 2025, unsur tim dari Seksi KSDA Wilayah VI bersama Bidang KSDA Wilayah III, dengan dukungan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Probolinggo dan Jember. Melalui pendekatan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool), tim menyisir 146 grid seluas 146 hektare, menempuh jalur terjal di tengah kontur karst yang ekstrem. Tidak semua area dapat dijangkau, beberapa grid seperti 43, 66, 91, 117, dan 146 merupakan tebing curam yang langsung menjatuh ke laut selatan, menantang nyali dan tenaga petugas. Dengan Avenza Maps dan aplikasi SMART Mobile, setiap langkah terekam. Setiap temuan, baik flora, fauna, maupun aktivitas manusia, diinput lengkap dengan koordinat, foto, dan keterangan detail. Jejak Kehidupan di Tengah Sunyi Patroli menemukan berbagai jejak dan perjumpaan satwa liar, bukti bahwa hutan Sempu masih menyimpan kehidupan yang lestari. Jejak Kijang dan babi hutan menandai jalur-jalur lembab di antara kubangan alami, sementara suara elang, ayam hutan, dan burung tohtor menggema di kanopi. Tim juga berhasil menjumpai langsung Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), simbol satwa endemik Jawa yang menjadi indikator ekosistem sehat. Serta beberapa biawak, serangga, dan kerangka kepala kijang yang memberi petunjuk adanya rantai makanan alami yang masih bekerja. Menyusuri Hutan yang Menyimpan Sejarah Tim mencatat pohon-pohon dominan dan bernilai ekologis tinggi, di antaranya Baros, Kedondong Hutan, Walangan, Joho, Rawu, Bendo, Kedoya, Laban, Sindur, Bayur, Ficus spp., hingga Nyamplung, penanda keanekaragaman tinggi pada kawasan karst pesisir. Banyak di antaranya merupakan jenis pohon yang menjadi sumber pakan satwa liar dan menjaga sistem hidrologi alami pulau. Di beberapa titik, tim juga menemukan mata air, kubangan, rawa tadah hujan, dan batuan karang berongga, fitur alami penting yang menopang kehidupan di pulau kecil ini. Menembus Alam, Merekam Ancaman Meski terisolasi, Sempu tak sepenuhnya bebas dari jejak manusia. Tim patroli mendapati sampah laut yang terdampar di pesisir, serta keranjang bekas pemungutan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan tanda perburuan lebah madu. Temuan ini menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap kawasan konservasi datang bukan hanya dari dalam, tapi juga dari luar, terbawa arus laut, atau dari aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Untuk mengantisipasi hal tersebut, patroli laut turut dilakukan di sekitar pesisir, memantau potensi pelanggaran kawasan yang dapat diakses melalui jalur perairan. Dari ratusan titik koordinat, foto, dan catatan yang dikumpulkan, SMART Patrol kali ini bukan sekadar patroli rutin. Ia adalah upaya memahami denyut kehidupan dan ancaman di pulau yang kerap disebut “miniatur ekosistem Jawa”. Sempu bukan hanya bentang alam yang indah, ia adalah ruang belajar tentang harmoni, ketahanan, dan keterhubungan antara laut, hutan, dan manusia. BBKSDA Jawa Timur melalui kegiatan ini menegaskan komitmennya untuk menjaga setiap jengkal kawasan konservasi, memastikan bahwa suara lutung jawa dan desir ombak Sempu tetap menjadi simfoni kehidupan yang lestari. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Enam Satwa Liar Dilindungi Dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Siranggas

Seekor kukang memanjat pohon dengan lincah sesaat setelah dilepasliarkan Siranggas, 10 Oktober 2025— Sebanyak 6 ekor satwa liar dilindungi dilepasliarkan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Siranggas, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara, pada 2-3 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan pemulihan populasi satwa di alam liar. Satwa yang dilepasliarkan terdiri dari 3 ekor Kukang (Nycticebus coucang), 1 ekor Kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), 1 ekor Julang emas (Aceros undulatus), dan 1 ekor Kangkareng perut putih (Anthracoceros albirotris). Seluruh satwa tersebut merupakan jenis dilindungi berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2024, serta peraturan pelaksanaannya, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 jo. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018. Sebelum kembali ke alam, satwa-satwa tersebut telah menjalani proses rehabilitasi, observasi perilaku, dan pemeriksaan kesehatan oleh tim dokter hewan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Pelepasliaran dilakukan di titik-titik yang sesuai dengan karateristik habitat masing-masing spesies di kawasan SM Siranggas. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Sidikalang, Tuahman Raya, S. Sos, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan para mitra konservasi, salah satunya COP (Centre for Orangutan Protection). Ia menjelaskan sebagian satwa merupakan hasil penyerahan sukarela dari masyarakat. “Pelepasliaran merupakan bagian dari upaya bersama untuk melindungi satwa liar. Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat yang telah menyerahkan satwa peliharaan secara sukarela. Bagi yang masih memelihara tanpa izin, kami menghimbau agar diserahkan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara agar dapat dikembalikan ke habitat aslinya,” ujar Tuahman. “Sebelum dilepasliarkan, seluruh satwa telah diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan di PPS Sibolangit untuk memastikan kondisi mereka layak kembali ke alam. Harapan kami, satwa-satwa ini bisa hidup bebas dan lestari di SM Siranggas. Semoga anak cucu kita kelak masih dapat menyaksikan keindahan satwa-satwa ini di alam liar.” tambahnya Usai pelepasliaran, tim akan tetap melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pergerakan serta adaptasi satwa di lapangan. Pemantauan dilakukan secara berkala guna memastikan tingkat keberhasilan pelepasliran serta mendukung konservasi jangka panjang. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian satwa dilindungi dengan tidak memperjualbelikan atau memburunya. Melalui sinergi pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat, diharapkan kelestarian satwa liar Indonesia dapat terus terjaga bagi generasi mendatang. Sumber: Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama Lembaga Scorpion Indonesia Evakuasi Satwa Liar di Medan dan Binjai

Langkat, 13 Oktober 2025 – Tim dari Resor Penanganan Konflik TSL Binjai dan Resor Bandara Kualanamu dan Pelabuhan Belawan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) bersama mitra Yayasan Scorpion Indonesia berhasil mengevakuasi 10 ekor satwa liar, terdiri dari 9 ekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan 1 ekor Beruk (Macaca nemestrina), dari beberapa lokasi di Medan dan Binjai pada tanggal 2-3 Oktober 2025. Kegiatan ini dilakukan untuk menindaklajuti laporan masyarakat terkait keberadaan satwa liar di area permukiman yang berpotensi menimbulkan interaksi negatif dengan manusia. Pada Kamis, 2 Oktober 2025, tim mengevakuasi 7 ekor Monyet Ekor Panjang dari dua lokasi yaitu Sei Mencirim, Kecamatan Medan Sunggal: 5 ekor (4 jantan dan 1 betina) dan di Medan Johor: 2 ekor (1 jantan dan 1 betina). 6 ekor Monyet Ekor Panjang dititipkan ke Yayasan Scorpion Indonesia untuk penanganan lanjutan, sedangkan 1 ekor betina dibawa ke kandang transit di Kantor Seksi Konservasi Wilayah II Stabat untuk observasi dan perawatan. Keesokan harinya, Jumat 3 Oktober 2025, petugas menerima satwa hasil evakuasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Binjai. Petugas menerima penyerahan 3 ekor Monyet Ekor Panjang dan 1 ekor Beruk. Dengan tambahan tersebut, jumlah satwa yang kini berada di kandang transit Kantor Seksi Konservasi Wilayah II Stabat sebanyak 7 ekor (6 ekor Monyet Ekor Panjang dan 1 ekor Beruk). Kegiatan evakuasi ini merupakan bagian dari upaya mitigasi untuk mencegah terjadinya intraksi negatif antara manusia dan satwa liar, sekaligus memastikan satwa mendapatkan penanganan yang layak sebelum dikembalikan ke habitatnya. Meskipun Monyet Ekor Panjang dan Beruk tidak termasuk satwa yang dilindungi undang-undang, tetapi keduanya tetap tergolong satwa liar yang keberadaannya perlu dikelola dengan baik. Penanganan perlu dilakukan secara hati-hati untuk menjamin kesejahteraan satwa dan mencegah terjadinya gangguan di lingkungan masyarakat. Sumber: Seksi Konservasi Wilayah II Stabat-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tangani Interaksi Negatif dengan Monyet Ekor Panjang di Kabupaten Langkat

Tim sedang melakukan persiapan pemasangan kandang jebak Langkat, 10 Oktober 2025 – Setelah hampir sebulan menimbulkan keresahan, seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang kerap menyerang penduduk di Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian konflik pada 3 Oktober 2025. Keberhasilan ini menjadi penutup dari rangkaian panjang upaya pengendalian yang dilakukan secara kolaboratif sejak Juli 2025. Upaya tersebut berawal dari laporan Camat Babalan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara pada Juli 2025. Dalam laporan tersebut disampaikan keresahan warga di Kelurahan Berandan Barat di Lingkungan IV dan V akibat kemunculan monyet agresif yang menyerang hingga menggigit beberapa orang. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Resor Penanganan Konflik Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Binjai segera turun ke lapangan pada 14 Juli 2025 untuk melakukan survei dan koordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan. Tim menemukan keberadaan satwa tersebut dan menyarankan pemasangan kandang jebak sebagai langkah awal pengendalian sembari terus melakukan pemantauan intensif. Memasuki akhir September, kondisi semakin mengkhawatirkan. Dalam waktu 23-25 September 2025, jumlah korban gigitan meningkat menjadi tujuh orang. Salah seorang korban, Farel (14 tahun), mengalami luka serius di bagian leher dan harus dirawat secara intensif di RSU H. Adam Malik Medan. Situasi ini mengakibatkan warga merasa resah dan aktivitas masyarakat mulai terganggu. Sebagai respon cepat, Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengerahkan tim gabungan pada 26-28 September 2025 yang terdiri dari Resor Penanganan Konflik TSL Binjai, Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur laut II, serta Resor Aras Napal. Tim bekerja sama dengan Forkopimcam Babalan, Kepolisian, TNI, Dinas Pemadam Kebakaran, Pertamina, serta relawan dari Berandan Hunting Community (BHC). Koordinasi lintas sektoral semakin diperkuat dengan rapat bersama pada 1 Oktober 2025, yang menghasilkan keputusan pembentukan Satgas Pengendalian Konflik Monyet Ekor Panjang. Melalui sinergi dan kerja keras di lapangan, Satgas akhirnya berhasil melumpuhkan satwa liar tersebut pada 3 Oktober 2025 di kawasan Kelurahan Berandan Barat. Sesuai prosedur, bangkai satwa dikuburkan di lokasi kejadian dengan dokumentasi resmi. Tindakan ini dilakukan sebagai bagian dari pengendalian konflik yang terukur dan bertanggung jawab, dengan mengutamakan keselamatan masyarakat tanpa mengabaikan prinsip konservasi satwa liar. Pasca penanganan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara meminta pihak Kecamatan Babalan dan Kelurahan Berandan Barat untuk terus melakukan pemantauan di lapangan serta segera melapor jika terdapat indikasi kemunculan satwa lain agar konflik serupa dapat dicegah sejak dini. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menegaskan bahwa penanganan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan lembaga konservasi. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama tanpa mengabaikan menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian satwa. Masyarakat juga dihimbau untuk: 1. Tidak melakukan tindakan sendiri terhadap satwa liar yang dapat membahayakan diri maupun satwa 2. Segera melaporkan setiap gangguan satwa liar kepada aparat kelurahan atau Balai Besar KSDA Sumatera Utara 3. Menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan menghindari penumpukan sampah organik yang dapat menarik satwa liar ke area permukiman Sumber: Seksi Konservasi Wilayah II Stabat-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Sistem Pengairan Infus, Solusi Konservasi dari Gua Nglirip

Tuban, 8 Oktober 2025. Di antara bebatuan karst Cagar Alam Gua Nglirip, titik-titik air menetes perlahan dari selang-selang infus tanaman yang terpasang di batang-batang muda. Tetesan itu seolah membawa pesan kehidupan baru, bahwa di tengah ancaman kebakaran hutan dan kekeringan panjang, inovasi sederhana bisa menjadi penentu bagi kelestarian hutan alam. Tim Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) tengah menuntaskan kegiatan pembuatan sekat bakar tanaman dengan sistem infus tetes air. Sebuah inovasi penyiraman yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Cagar Alam Gua Nglirip, Kabupaten Tuban. Kegiatan ini bukan hanya rutinitas konservasi, melainkan langkah strategis menghadirkan solusi berbasis teknologi sederhana namun berdampak besar. Dukungan penuh datang dari PLN Nusantara Power Tanjung Awar-Awar Tuban, yang melalui mekanisme Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) Tahun 2025, turut menyalurkan energi sosialnya demi menjaga keberlanjutan ekosistem hutan. “Kami memastikan bahwa sekat bakar tanaman ini bukan hanya sekadar pagar hijau, tapi juga menjadi zona transisi ekologis yang hidup dan adaptif terhadap perubahan iklim. Sistem infus tetes membantu tanaman bertahan di musim kering, sekaligus menjaga kelembapan tanah di sekitar kawasan rawan api,” ujar Gatot Kuncoro Edi, SP.,M.Hum., Kepala Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Inovasi Hijau di Tanah Karst Sekat bakar yang dibangun di kawasan Gua Nglirip dirancang dalam dua lapisan vegetasi adaptif. Lapisan dalam, terdiri atas jenis-jenis tanaman tahan api khas kawasan, terutama dari famili Ficus sebanyak 175 batang. Sedangkan Lapisan luar, berada di area penyangga milik Perhutani (buffer zone) ditanami tanaman buah tahan api seperti nangka (58 batang), mangga (57 batang), alpukat (44 batang), dan sirsak (16 batang), total sebanyak 175 batang. Dengan demikian, seluruh sekat bakar ditanami 350 batang pohon yang tidak hanya berfungsi menahan perambatan api, tapi juga memperkuat ikatan sosial-ekologis antara kawasan konservasi dan masyarakat sekitar. Untuk menopang pertumbuhan tanaman, tim membangun tiga tandon air (toren) lengkap dengan jaringan distribusi air yang mengelilingi kawasan. Dari titik-titik inilah sistem “infus tetes tanaman” bekerja, air menetes perlahan, terukur, dan konsisten, menghidupi akar-akar muda di musim kemarau yang panjang. “Kami ingin memastikan bahwa setiap batang tanaman yang ditanam benar-benar tumbuh dan berfungsi ekologis. Prinsipnya sederhana, menanam untuk bertahan, bukan sekadar menanam untuk laporan,” ujar Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Agustinus Krisdijantoro, S.Si., M.P. Menurutnya, inovasi ini merupakan bagian dari strategi penguatan kawasan konservasi berbasis adaptasi terhadap perubahan iklim. “Cagar Alam Gua Nglirip adalah kawasan yang sensitif dan unik. Tanah karst mudah kering, tapi menyimpan daya lenting ekologis tinggi bila dikelola cermat. Inovasi seperti ini sangat penting untuk menjaga fungsi ekologis jangka panjang,” tambah Agus. Dukungan Energi untuk Alam Sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program ini. Melalui kolaborasi dengan PLN Nusantara Power Tanjung Awar-Awar Tuban, kegiatan konservasi di Gua Nglirip bukan sekadar kegiatan ekologis, melainkan manifestasi tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjaga daya dukung lingkungan sekitar. “Kami mengapresiasi dukungan PLN Nusantara Power yang konsisten berkontribusi pada upaya konservasi sumber daya alam. Ini menjadi contoh nyata bahwa pelestarian alam tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus bergerak bersama, lintas sektor, dan berkelanjutan,” ungkap Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. Beliau menambahkan bahwa langkah-langkah seperti ini merupakan bukti bahwa konservasi tidak selalu harus spektakuler, tetapi harus tepat guna, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Menanam Air, Menumbuhkan Harapan Di tengah ancaman kekeringan dan kebakaran hutan yang kian sering melanda Jawa Timur, kegiatan di Cagar Alam Gua Nglirip menjadi simbol komitmen baru, menanam air sebelum menanam pohon. Melalui tetes-tetes air yang meresap di tanah karst, kehidupan baru mulai tumbuh, membawa pesan bahwa konservasi adalah tindakan nyata yang menetes perlahan, tapi pasti menghidupkan kembali bumi. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Patroli Menembus Pulau Sempu, Menyibak Jejak Satwa dan Data Kehidupan

Malang, 8 Oktober 2025. Dalam rimba Cagar Alam Pulau Sempu, langkah tim Smart Patrol Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) berpadu dengan bisik angin dan suara satwa liar yang bergaung di bawah kanopi hutan. Selama tujuh hari, mulai 28 September hingga 4 Oktober 2025, tim bergerak menyusuri jalur berbukit mengumpulkan data tentang potensi keanekaragaman hayati di salah satu bentang alam tropis paling misterius di Jawa Timur. Kegiatan Smart Patrol ini melibatkan petugas BBKSDA Jawa Timur, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Sempu, yang bersama-sama mencatat setiap potongan informasi penting untuk mendukung pengelolaan kawasan secara ilmiah dan adaptif. Melalui pendekatan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool), setiap temuan, baik berupa visual satwa, suara panggilan, maupun tanda kehadiran tidak langsung, dimasukkan ke dalam sistem pemantauan berbasis spasial yang menjadi tulang punggung perencanaan konservasi modern. Di antara temuan menarik selama patroli, tim berhasil mendokumentasikan kehadiran beberapa jenis satwa liar yang menegaskan kekayaan ekosistem Pulau Sempu. Seekor Biawak Abu (Varanus nebulosus) tampak berjemur di antara bebatuan lembap di tepi jalur pantai. Sementara di atas kanopi, siluet Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) mengintai dengan lincah dari balik dedaunan, simbol kehidupan liar yang tetap bertahan di tengah keterisolasian pulau. Tak jauh dari situ, suara dentingan ranting menandai keberadaan Jelarang (Ratufa bicolor), bajing raksasa hutan yang menjadi indikator penting kestabilan vegetasi. Di lantai hutan, gerak kecil yang nyaris tak terlihat memperkenalkan dunia mikroskopik kehidupan, Percil Berselaput (Microhyla palmipes), katak mungil yang gemar bersembunyi di serasah daun lembap. Dan Kadal Hutan Bergaris Kuning (Sphenomorphus sanctus) yang berlari cepat di antara lumut dan akar. Di batang pohon rendah, warna hijau zamrud seekor Bunglon Hutan (Gonocephalus chamaeleontinus) berpadu sempurna dengan daun tropis, sebuah representasi sempurna dari kamuflase alam yang bekerja tanpa cela. Setiap data yang dikumpulkan bukan sekadar daftar spesies, melainkan potret utuh tentang kondisi ekosistem yang berlapis, interaksi antara satwa, vegetasi, tanah, dan manusia. Melalui patroli ini, diperoleh pula informasi penting terkait kondisi habitat, potensi gangguan, dan peluang penguatan pengelolaan berbasis data lapangan (evidence-based management). Cagar Alam Pulau Sempu sendiri menyimpan kompleksitas ekologis yang luar biasa. Diapit oleh tebing karst dan gelombang Samudera Hindia, pulau ini menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna khas hutan pantai dan dataran rendah tropis. Medan berat, cuaca lembap, serta keterbatasan akses membuat setiap langkah patroli menjadi ujian ketangguhan fisik sekaligus dedikasi terhadap konservasi. Dalam keheningan yang sesekali dipecah oleh suara burung dan deru ombak pantai selatan, para petugas terus berjalan. Mereka mencatat, memotret, dan menandai titik koordinat, memastikan setiap sudut Pulau Sempu tetap terjaga dari waktu ke waktu. Dari langkah-langkah itu, lahir data, lahir pemahaman, dan lahir kesadaran bahwa menjaga alam bukan sekadar tugas, melainkan panggilan nurani. Pelaksanaan Smart Patrol di Cagar Alam Pulau Sempu tahun 2025 ini menjadi bagian penting dalam siklus pemantauan rutin BBKSDA Jawa Timur untuk memperkuat fungsi konservasi berbasis sains dan partisipasi masyarakat. Pulau ini bukan sekadar lanskap, melainkan ruang hidup bagi ribuan makhluk dan setiap jejak yang ditemukan adalah pengingat bahwa kehidupan di alam terus berlanjut, selama manusia masih mau mendengarkan suaranya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 113–128 dari 11.091 publikasi