Rabu, 24 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Dwiki dan Dini, Direlokasi Dari BNWS Ke ANECC

Aek Nauli, 21 Desember 2022. Upaya mempertahankan keberlangsungan konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrae) sekaligus usaha perkembangbiakan atau breeding Gajah Sumatera, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan pemindahan/relokasi 2 (dua) ekor Gajah Sumatera dari Barumun Nagary Wild Sanctuary (BNWS) dan tiba di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), pada Minggu, 18 Desember 2022. Kedua ekor gajah, Dwiki, jantan, 40 tahun, dan Dini, betina, 35 tahun, direlokasi dari BNWS dengan menggunakan truk colt diesel oleh Tim dari Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang bersama dengan lembaga mitra kerjasama Vesswic, pada Sabtu 17 Desember 2022, sekitar pukul 15.40 Wib. Dengan relokasi kedua ekor gajah tersebut menambah bilangan gajah penghuni ANECC menjadi sebanyak 6 ekor. Sebelumnya ada gajah Siti, betina, 44 tahun, Ester, betina, 39 tahun, Pini, betina, 32 tahun dan Figo, jantan, 15 tahun yang terlebih dahulu berada di ANECC. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Rudianto Saragih Napitu, S.Si., M.Si., didampingi Kepala Bidang Teknis, Ir Irzal Azhar, M.Si., Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Mustafa Imran Lubis, SP., Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudita, S.Hut., ME Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Gunawan Alza, S.Hut., serta sejumlah pejabat eselon IV, menyambut gembira kehadiran Dwiki dan Dini yang terlihat dalam keadaan sehat, serta berharap dapat segera beradaptasi dengan sesama gajah penghuni ANECC lainnya, sembari berpesan kepada para mahout gajah untuk merawat dengan baik keenam satwa liar dilindungi tersebut. Sumber : Yustiil Fazri – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Waspada Aktivitas Jaringan Listrik di Kawasan Konservasi

Torganda, 15 Desember 2022. Ketenagalistrikan memiliki peranan penting di masyarakat dimana aktivitas tidak bisa berjalan atau terhambat tanpa adanya listrik. Kebutuhan listrik saat ini sangat penting bagi kehidupan. Artinya, memiliki peran vital bagi penggerak perekonomian masyarakat baik di dunia maupun di Indonesia. Namun dibalik segala manfaat yang ada dan benefit yang didapat, tingkat kewaspadaan juga perlu diperhatikan. Karena tingkat kecelakaan yang diakibatkan oleh ketenagalistrikan juga dapat membahayakan dan bahkan menimbulkan korban, bukan hanya harta benda tetapi juga nyawa. Oleh karena itulah, sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Sumatera Utara yang tertuang dalam surat Nomor : PKS.3501/K.3/TU/PK/ 7/2021 dan Nomor : 0076.PJ/SDM.08.04/C08000000/2021 tanggal 26 Juli 2022 tentang Pembangunan Strategis Yang Tidak Dapat Dielakkan Berupa Pembangunan Jaringan Listrik Hantaran Udara Tegangan Menengah dan Hantaran Udara Tegangan Rendah di Dusun Sumber Sari I dan Dusun Sumber Sari II Desa Torganda Kecamatan Torgamba Kabupaten Labuhan Batu Selatan di Taman Wisata Alam Holiday Resort, Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan PLN telah melakukan giat sosialisasi “Waspada Melakukan Aktivitas Di Jaringan Listrik PLN”, melalui poster yang dipasang di beberapa tempat di sekitar kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Holiday Resort. Himbauan ini berisi pesan agar masyarakat menghindari aktivitas membangun atau memperbaiki bangunan dekat dengan jaringan listrik, menghindari bermain layang-layang dekat dengan jaringan listrik, dilarang membakar sampah di bawah jaringan listrik, jangan memasuki tempat bertanda peringatan bahaya listrik, dan beberapa pesan/himbauan lainnya. Dengan pemasangan poster ini diharapkan dapat menghindari dan meminimalisir terjadinya bahaya/kecelakaan dampak dari pembangunan jaringan listrik di Desa Torganda. Disamping poster himbauan, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan petugas PLN akan melakukan pemantauan serta sosialisasi langsung di lapangan. Sumber : A. Rizal M – Kepala Resort TWA Holiday Resort, Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Setelah 30 Tahun Dipelihara, Buaya Akhirnya Diserahkan ke BBKSDA Sumatera Utara

Sei Rampah, 15 Desember 2022. Berawal dari adanya informasi masyarakat ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan (Amenson Girsang, S.P), tentang adanya warga yang memelihara satwa liar dilindungi jenis Buaya Senyulong (Tomistoma schlegelii) di Desa Firdaus, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang dipimpin langsung Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan menuju lokasi dan bertemu dengan pemiliknya, Bambang Hermanto Bawean. Dalam keterangannya kepada petugas, Bambang menjelaskan bahwa buaya tersebut diperoleh dari orangtuanya dari Pekanbaru kemudian dipelihara di halaman belakang rumahnya selama ± 30 tahun. Setelah orang tuanya meninggal, barulah Bambang berkeinginan menyerahkannya ke pihak Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Usai menyelesaikan administrasi Berita Acara Penyerahan, Buaya Senyulong yang panjangnya sekitar 2,5 meter, akhirnya dievakuasi petugas dan dititipkan ke lembaga konservasi Rahmat Zoo & Park (R Zoo), di Desa Bengabing, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai untuk rehabilitasi. Kegiatan evakuasi ini disaksikan Camat Sei Rampah, Danramil Sei Rampah, Kapolsek Sei Rampah, dan Kadis Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Serdang Bedagai, pada Selasa 13 Desember 2022. Sumber : Ani, SP. – Polhut Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Ceria Bersama Gunung, Rocky, dan Bob Kembali ke Rumah

Ketapang, 13 Desember 2022. Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Yayasan IAR Indonesia (YIARI) kembali melepasliarkan 4 (empat) individu orangutan (Pongo pygmaeus) hasil rehabilitasi di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat pada hari Selasa, 13 Desember 2022. Mereka dilepaskan di area Resort Mentatai yang masuk ke dalam kawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Nanga Pinoh Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Keempat orangutan ini terdiri dari 1 (satu) orangutan berjenis kelamin betina bernama Ceria dan 3 (tiga) orangutan jantan bernama Gunung, Rocky, dan Bob. Keempat orangutan tersebut Ceria (14 tahun), Rocky (11 tahun), Bob (10 tahun) dan Gunung (12 tahun) telah menjalani proses rehabilitasi selama 10 tahun di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan YIARI sebelum dinyatakan siap secara perilaku dan Kesehatan untuk dilepasliarkan ke habitat aslinya. Orangutan Ceria, Rocky dan Bob berhasil diselamatkan dari pemeliharaan illegal satwa dilindungi oleh masyarakat di wilayah Ketapang dan Kayong Utara sementara orangutan Gunung ditemukan warga saat berusia 1 tahun di atas pohon di area Tanjung Gunung pada 3 November 2011. Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBR) dipilih menjadi lokasi pelepasliaran karena di kawasan TNBBBR mempunyai kesesuaian habitat untuk orangutan. Jenis-jenis vegetasi penyusun hutan di TNBBBR cukup berlimpah dalam jumlah maupun keragaman jenis sebagai pakan orangutan. Selain itu, status kawasannya sebagai Taman Nasional juga lebih menjamin keselamatan satwa ini. Untuk memastikan kondisi kesehatan satwa endemik Kalimantan dengan status konservasi IUCN Critically Endangered (CR) ini, mereka menjalani berbagai tes kesehatan sebelum dilepasliarkan. Selain itu, selama perjalanan, tim medis YIARI juga melakukan pendampingan sampai ke titik pelepasan. Perjalanan menuju titik pelepasan ini tidak mudah, diperlukan waktu selama 3 hari untuk menuju titik pelepasan yang ditempuh dengan perjalanan darat melewati enam kabupaten yaitu Ketapang, Kayong Utara, Sanggau, Sekadau, Sintang dan Melawi. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan mempergunakan perahu dan berjalan kaki sampai ke titik pelepasan. Tidak hanya selesai sampai pelepasliaran, tim gabungan juga melakukan monitoring pasca pelepasliaran. Pemantauan ini penting untuk untuk memastikan orangutan yang dilepasliarkan ini bisa beradaptasi dan hidup sejahtera di rumah barunya. Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Andi Muhamad Khadafi mengatakan “Pelepasliaran kali ini akan menambah jumlah populasi orangutan serta memperkaya keragaman genetik orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Sejak tahun 2016, telah dilakukan pelepasliaran 192 orangutan ke dalam wilayah TNBBR. Selain itu, pelepasliaran orangutan ke habitat alaminya merupakan salah satu upaya dan komitmen pemerintah dalam meningkatkan populasi orangutan untuk menurunkan statusnya dari sangat terancam punah (Critically endangered). Kepala BKSDA Kalimantan Barat RM Widodo turut menyampaikan, “Satwa liar bukan untuk dipelihara manusia apalagi satwa dilindungi. Perlu bertahun tahun untuk mengembalikan perilaku alami satwa tersebut serta membiasakan dengan jenis makanan di habitat alaminya. Ini membutuhkan sumberdaya yang cukup besar. Untuk itu kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak berburu dan memelihara satwa terutama satwa dilindungi. Biarkan mereka hidup bebas dan berkembangbiak di habitat alaminya.” Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Delapan BUMN Dukung Pelestarian Mangrove di SM Muara Angke

Jakarta, 15 Desember 2022 – Dengan luas 25,02 hektare, Suaka Margasatwa (SM) Muara Angke, Jakarta Utara, tercatat sebagai suaka margasatwa terkecil di Indonesia. Namun, kawasan ini amat penting dalam menyangga kehidupan kota Jakarta. Untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya kelestarian mangrove di kawasan ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BUMN Karya, menggelar acara penanaman mangrove dan Ngobrol Santai Konservasi (Ngonser) di SM Muara Angke dengan tema “Sinergi untuk Mangrove Lestari”, pada Kamis (15/12). Delapan BUMN yang tergabung di dalam TJSL BUMN Karya ini, yakni PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), Perum Pembangunan Perumahan Nasional, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Nindya Karya (Persero). Kepala BKSDA Jakarta Abdul Kodir, selaku pengelola kawasan SM Muara Angke menjelaskan, ada lima isu utama yang dihadapi saat ini. “Pertama adalah sampah yang terbawa arus dan tersangkut di area mangrove, kedua gangguan hidirologi, ketiga menurunnya kualitas keanekaragaman hayati karena banyak monyet ekor panjang yang mendiami kawasan ini mengonsumsi sampah plastik, sehingga di dalam tubuhnya ditemukan logam berat. Dan kelima, adanya konflik satwa dengan manusia.” Abdul Kodir menambahkan bahwa kawasan SM Muara Angke juga merupakan salah satu ekosistem mangrove yang masih tersisa di Jakarta, menjadi rumah bagi 8 spesies mangrove sejati. SM Muara Angke juga menjadi habitat bagi aneka fauna, seperti buaya air asin, kadal, monyet ekor panjang, ular, serta menjadi daerah penting bagi burung di Jawa. Sejak 2018, BKSDA Jakarta bekerja sama dengan YKAN dan para pemangku kepentingan lainnya melalui platform Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) untuk melindungi dan merestorasi ekosistem mangrove di SM Muara Angke. Melalui platform nasional untuk pengelolaan kawasan pesisir secara terpadu dan kolaboratif ini, berbagai program penyadartahuan yang menjangkau seluruh elemen masyarakat dilakukan bersama. Kali ini, BKSDA Jakarta dan YKAN bekerja sama dengan delapan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam TJSL BUMN Karya menanam sekitar 250 bibit mangrove. Inisiasi ini diharapkan dapat terus meningkatkan kepedulian dan mendorong para pihak khususnya BUMN untuk terus bersama-sama melakukan pemulihan dan perbaikan lingkungan. Agus Kosasih, Vice President TJSL Hutama Karya, mewakili BUMN Karya dalam Program Penanaman Mangrove di SM Muara Angke, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas usaha dan kerja keras yang telah dilakukan oleh BKSDA Jakarta dan YKAN melalui berbagai program dan kegiatan pelestarian lingkungan yang telah dilakukan selama ini. “Program kolaborasi TJSL BUMN Karya bertajuk penanaman mangrove di SM Muara Angke ini menjadi salah satu komitmen dan wujud nyata kepedulian BUMN terhadap upaya melindungi dan merestorasi ekosistem mangrove, sekaligus melindungi keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya,” ujarnya. “Sebagai salah satu BUMN yang bergerak di bidang pengembangan infrastruktur dan pengelola jalan tol, Hutama Karya bersama TJSL BUMN Karya berupaya berperan aktif dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan alam yang ada di Indonesia. Melalui program HK Peduli Lingkungan, Hutama Karya tidak hanya melakukan penanaman mangrove di SM Muara Angke, melainkan juga turut serta melakukan penanaman dan penghijauan di sekitar rest area dan ruas tol operasional Hutama Karya. Hal ini sebagai komitmen dan wujud nyata peran aktif Hutama Karya dalam mendukung kelestarian alam yang ada di Indonesia. Semoga program penanaman mangrove ini dapat memberikan manfaat bagi alam serta berbagai mahluk hidup di sekitarnya,” tegas Agus Kosasih VP TJSL Hutama Karya. “Sinergi semua pihak amat diperlukan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam, termasuk ekosistem mangrove. Justru, keterlibatan multipihak ini sejatinya menjadi bagian utama dalam setiap program konservasi, mengingat tiap-tiap pihak memiliki peranan tersendiri. Hasil yang maksimal akan diperoleh jika pemerintah, masyarakat, swasta, dan LSM berkolaborasi dan bermitra secara strategis,” terang Direktur Program Pengembangan dan Pemasaran YKAN Ratih Loekito. Keberadaan mangrove yang sehat di kawasan pesisir pun dapat meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim serta meminimalisasi dampak bencana alam, seperti tsunami, badai, dan gelombang laut. Peranan Indonesia dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara global amat besar, sehingga melindungi dan merestorasi ekosistem mangrove merupakan langkah penting yang harus segera dilakukan secara bersama-sama. Sumber : Balai KSDA Jakarta Narahubung: Call Center Balai KSDA Jakarta 081289643727
Baca Berita

Datang Dari Bandung, Osawa Ikut Joko dan Rena ke Coban Talun

Malang, 15 Desember 2022 – Penghujung tahun 2022, menjadi momentum untuk menggembalikan 3 ekor Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) ke habitat alaminya. Osawa, Joko dan Rena, nama panggilan ketiga Lutung jawa tersebut saat berada di Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa Coban Talun Batu. Osawa adalah lutung jawa betina berwarna orange hasil translokasi dari Balai Besar KSDA Jawa Barat (Bandung), yang masuk ke Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa Coban Talun Batu sekitar bulan Agustus 2020. Sedangkan Lutung jawa “Joko dan Rena” berasal dari hasil penyerahan masyarakat di wilayah Balai Besar KSDA Jawa Timur. Pelepasliaran dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama THE ASPINALL FOUNDATION-INDONESIA PROGRAM (TAF-IP) Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa Coban Talun di kawasan hutan lindung Coban talun di Blok Pusung Genderuwo, masuk wilayah RPH Punten, BKPH Pujon, Kesatuan Pemangkuan Hutan Malang yang berbatasan dan merupakan kawasan Penyangga Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Berdasarkan hasil survey habitat, lokasi pelepasliaran merupakan salah satu habitat lutung jawa di wilayah tersebut yang perlu di pulihkan populasinya. Pelepasliaran 3 ekor Lutung Jawa kali ini merupakan pelepasliaran tahap ke 4 di tahun 2022, adapun tujuannya adalah: a). Memberikan kesempatan Lutung Jawa untuk dapat hidup bebas di alam sesuai dengan kondisi perilaku dan habitat alaminya; b). Memulihkan keadaan populasi Lutung Jawa di kawasan hutan blok Pusung Genderuwo yang sedikit populasi Lutung Jawa dengan tetap mempertimbangkan sebaran dan luasnya habitat, jumlah populasi liar serta tingkat ancaman terhadap populasi dan habitatnya; c). Memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak memelihara satwa liar yang dilindungi jenis Lutung Jawa serta membiarkan satwa liar hidup bebas di alam. Tiga ekor Lutung Jawa yang dilepasliarkan telah melalui proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa Coban Talun, selama kurang lebih 22 bulan (dengan observasi intensif 4 bulan), dengan tahapan rehabilitasi antara lain: a). Adaptasi lingkungan; b). Adaptasi pakan dan c). Adaptasi sosial dalam kelompok. Lutung tersebut juga telah dinyatakan sehat serta bebas penyakit dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan parasit internal pada feses, hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, herpes, Tuberculosis (TBC), SIV (Simian Immunodeficiency Virus), STLV (Simian T-lymphotropic Virus), SRV (Simian Retro Virus). Lutung-lutung tersebut juga sudah di tandai/Tagging dengan microchip transponder. Lutung Jawa merupakan salah satu jenis Primata endemik Pulau Jawa dan termasuk salah satu satwa dilindungi, sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Pelepasliaran Lutung Jawa merupakan upaya Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama The Aspinall Foundation-Indonesia Program (TAF-IP) dalam rangka mengembalikan satwa-satwa hasil operasi dan hasil penyerahan masyarakat ke habitat alaminya, setelah melalui serangkaian proses rehabilitasi. Selain itu pelepasliaran Lutung Jawa ini sebagai salah satu bentuk realisasi program konservasi primata endemik Jawa yang terancam punah, khususnya Lutung Jawa dengan melibatkan berbagai pihak yaitu: (Balai Besar KSDA Jawa Timur, The Aspinall Foundation-Indonesia Program, Perum Perhutani KPH Malang, Tahura Raden Soerjo, Perguruan tinggi, dan LSM), untuk meningkatkat keperdulian terhadap upaya penyelamatan dan pelestarian Lutung Jawa. Sumber: Hari Purnomo – Polisi Kehutanan Madya - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Patroli Terpadu Sapu Jerat SM Bukit Rimbang Bukit Baling

Pekanbaru, 13 Desember 2022 - Resort Bukit Rimbang dan Resort Bukit Baling, Balai Besar KSDA Riau, menggelar patroli sapu jerat dan pengamanan kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling dan di sekitar perbatasan Green belt pemegang konsesi pada tanggal 30 November - 1 Desember 2022. Tim mengidentifikasi jalur masuk pemburu dan pemikat burung ke dalam kawasan konservasi SM Bukit Rimbang Bukit Baling. Dari hasil kegiatan tersebut teridentifikasi 3 jalur masuk ke kawasan yang rawan digunakan untuk berburu, memikat burung dan melakukan aktivitas di dalam kawasan melalui jalan koridor konsesi di Desa Koto Baru. Aktivitas perburuan satwa jenis burung menggunakan jaring yang berada di green belt dan bekas jerat pemburu juga ditemukan, barang bukti jaring kemudian dimusnahkan. Di sepanjang jalur pertama, Tim menemukan adanya aktivitas perambahan berupa tanda cat merah pada pohon sebagai tanda jalur lahan dan adanya aktivitas pembukaan lahan. Selain itu, Tim juga melakukan identifikasi lokasi untuk segera dilakukan tindakan, karena di lokasi juga dijumpai adanya aktivitas pengambilan beberapa kayu yang telah diolah. Kayu tersebut dimungkinkan akan dihanyutkan melalui sungai Lebung lanjut ke sungai Kelisin dan bermuara ke sungai Singingi di Desa Koto Baru. Ditemukan juga adanya aktivitas pengambilan kayu cerocok yang berada di area green belt. Kayu tersebut dimungkinkan juga akan di hanyutkan melalui Sungai Lebung Dari hasil patroli sapu jerat, Tim segera melakukan pemasangan rambu kawasan dan mengamankan satu unit sepeda motor yang digunakan pelaku pengambilan kayu, dengan pembuatan berita acara barang temuan, namun pelaku tidak ditemukan di tempat. Tim juga melakukan koordinasi kepada pihak konsesi terkait adanya aktivitas illegal di dalam kawasan konservasi SM Bukit Rimbang Baling. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Bantuan Ekonomi Produktif, 5 Paket Pakaian Adat Karo Untuk Pokdarwis Sibolangit

Sibolangit, 13 Desember 2022. Semakin tingginya tingkat kunjungan ke kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit pasca meredanya covid 19, menuntut kesiapan pihak pengelola untuk mengantisipasinya. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mempersiapkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wisata Alam Sibolangit, yang merupakan binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Cagar Alam (CA)/TWA Sibolangit pada Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, yang merupakan kelompok andalan dalam mempromosikan kawasan TWA Sibolangit. Bentuk keseriusan pengelola dibuktikan dengan memberikan Bantuan Ekonomi Produktif Pokdarwis Wisata Alam Sibolangit berupa perangkat pakaian adat Karo, sebanyak 5 paket, yang diserahkan dalam acara khusus di aula Kantor Desa Sibolangit, pada Kamis 8 Desember 2022. Penyerahan ke 5 paket perangkat pakaian adat tersebut dilakukan oleh Tim Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe dan Seksi Konservasi Wilayah II Stabat beserta Staf Resort CA/TWA Sibolangit, disaksikan Camat Sibolangit Hesron T Girsang, AP, M,Si, Kepala Desa Sibolangit Samiranta Ketaren, tokoh masyarakat, pemuka agama, BPD, dan LPM. Perangkat pakaian adat ini nantinya akan digunakan oleh Pokdarwis dalam gelar seni dan budaya untuk menyambut tamu-tamu di kawasan TWA Sibolangit. Camat Sibolangit Hesron T Girsang, AP, M,Si, menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi Balai Besar KSDA Sumatera Utara beserta jajarannya, atas pemberian bantuan berupa pakaian Adat Karo kepada masyarakat Sibolangit melalui Pokdarwis Wisata Alam Sibolangit, dan berharap dengan pemberian bantuan ini memberi motivasi dan semangat bagi Pokdarwis untuk mengembangkan seni dan budaya, khususnya budaya Karo, yang mendukung kepada pengembangan pariwisata di desa dan kawasan TWA Sibolangit. Bantuan berupa perangkat pakaian Adat Karo merupakan bagian dari pengembangan Usaha Ekonomi Produktif khususnya pengembangan wisata di Desa dan TWA Sibolangit, dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan konservasi agar lebih berdaya dan sejahtera, serta harapan utama tentunya Hutan CA/TWA Sibolangit dapat terjaga kelestariannya. Desa Sibolangit sudah dikenal sejak dulu sebagai desa penyuplai air bersih dan menjadi sumber mata air yang dialirkan ke Kota Medan, disamping juga sebagai tempat makam penginjil (penyiar agama) pertama bagi Suku Karo. Desa Sibolangit yang di dalamnya terdapat Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Sibolangit, berfungsi menjadi daerah tangkapan air (catchment area), wisata alam dan konservasi. Dengan demikian keberadaan kawasan konservasi tersebut sangatlah penting. Dengan adanya bantuan ini maka masyarakat bukan lagi menjadi penonton tetapi menjadi pelaku wisata. Dan perlu dicatat bahwa wisata di Desa Sibolangit serta TWA Sibolangit menjadi salah satu bagian penting dalam Pengembangan Wisata Super Prioritas Danau Toba. Oleh karena itu perlu terus berbenah, dimana salah satunya dengan mempersiapkan atraksi seni dan budaya, yang nantinya diharapkan dapat ditampilkan oleh Pokdarwisa Wisata Alam Sibolangit lengkap dengan perangkat pakaian adatnya. Sumber : Samuel Siahaan, SP. – PEH Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Ada Aktivitas Alat Berat, BBKSDA Riau Beri Peringatan

Pekanbaru, 13 Desember 2022 - Resort Kampar, Balai Besar KSDA Riau, menuju Desa Siabu, Kec. Salo, Kab. Kampar, Rabu (7/12) untuk memantau aktivitas alat berat yang masuk Cagar Alam (CA) Bukit Bungkuk tepatnya di sungai Abang berdasarkan informasi yang diperoleh. Setelah penelusuran sejauh 1 km, alat berat dijumpai sedang bekerja di dalam kawasan hutan produksi terbatas (HPT). Menurut keterangan penjaga alat berat akan bekerja menuju lokasi ke arah Batang Ulak yang akan melawati kawasan CA Bukit Bungkuk. Petugas kemudian memberi peringatan dan sosialisasi kepada para pekerja alat berat agar tidak bekerja di kawasan CA Bukit Bungkuk. Jika masih melanggar, yang bersangkutan dikenai sanksi sesuai UU No. 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengerusakan Hutan pasal 17 dan pasal 92. Tim akan terus memantau untuk memastikan a?at tidak bekerja lagi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Mediasi Untuk Sawit yang Dicabut

Pekanbaru, 13 Desember 2022 - Resort Siak, Balai Besar KSDA Riau, melakukan patroli ke lokasi perambahan kawasan konservasi di Taman Nasional (TN) Zamrud, Rabu (7/12). Di lokasi, petugas berjumpa dengan kontraktor alat berat excavator di Hutan Produksi di luar kawasan TN Zamrud. Tim juga didatangi masyarakat karena pemusnahan tanaman sawit yang berada di lokasi perambahan, masyarakat merasa tidak terima karena pemusnahan sepihak dari petugas Resort Siak. Mediasipun dilakukan bersama masyarakat di aula desa Dayun di tengahi penghulu/Kepala Desa Dayun, Kepala Bapekam/BPD, dan Kaur Pertahanan Kampung Dayun. Hasil mediasi berupa pengolah lahan siap mengembalikan status tanah dan melakukan pencabutan kembali semua bibit sawit yang sudah ditanam. Pengolah lahan mengaku tidak tahu bahwa lahan yang dibeli berada di TN Zamrud karena tidak adanya rambu batas kawasan. Tim akan mendampingi pencabutan bibit sawit yang sudah tertanam dalam waktu dekat dan direncanakan sekaligus melakukan pemasangan spanduk sebagai tanda batas kawasan TN. Zamrud. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kepedulian Untuk Konservasi Terukir Dengan Nota Kesapahaman dan PKS

Pekanbaru, 13 Desember 2022 - Bukti kepedulian mitra terhadap konservasi kembali terukir, Rabu (7/12), di Gedung Manggala Wanabhakti. Direktorat Jenderal KSDAE KLHK dengan PT. Purinusaeka Persada sepakat menandatangani Nota Kesepahaman yang dilanjutkan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Genman S. Hasibuan dengan PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk yang ditandatangani oleh Elim Sritaba selaku Chief Sustainability Officer. Acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal KLHK selaku plt. Dirjen KSDAE, Sekditjen KSDAE, Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi, Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi, KaSubdit Penguatan Fungsi dan Pembangunan Strategis Kawasan Konservasi, dan Pejabat lingkup APP Sinar Mas. Ruang lingkup kerjasama meliputi dukungan penguatan kelembagaan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan dukungan perlindungan dan pengamanan kawasan serta keanekaragaman hayati di Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling, SM Bukit Batu, SM Giam Siak Kecil, SM Kerumutan dan SM PG Sebanga untuk jangka waktu 3 tahun. Semoga kerjasama ini dapat dilakukan secara optimal sehingga dapat menguatkan fungsi kawasan dan lestarinya keanekaragaman hayati yang ada. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Mengenal Berbagai Aktivitas di Resort Loh Buaya

Labuan Bajo, 12 Desember 2022. Mahasiswa magang dari Program Studi Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Andreas Yudha Pratama Pah, mengikuti kegiatan penjagaan di Resort Loh Buaya, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo mulai tanggal 1 Oktober – 11 Oktober 2022. Resort Loh Buaya merupakan satu dari 13 resort jaga Balai Taman Nasional Komodo yang terletak di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur. Resort ini merupakan salah satu destinasi wisata favorit yang baru kembali dibuka untuk kunjungan wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Andreas mengikuti kegiatan penjagaan di Resort Loh Buaya bersama dengan Naoma Yunita Banamtuan (Polisi Kehutanan Mahir) dan beberapa tenaga pengamanan hutan Loh Buaya lainnya. Beberapa bentuk kegiatan yang diikuti, antara lain: penjagaan pos penjualan tiket, penelusuran jalur jelajah hutan, patroli perairan, dan pengamatan satwa. Andreas juga mengikuti kegiatan jelajah sebanyak dua kali dengan menelusuri jalur jelajah 1 (panjang) dan jalur jelajah 2 (sedang) dengan dugaan jarak tempuh mencapai 5 km dari titik lokasi Pondok Ranger. Selain menjelajahi lembah, ia juga aktif terlibat dalam patroli perairan di wilayah kerja Resort Loh Buaya bersama dengan petugas dan berkesempatan mengobservasi aktivitas perlindungan dan pengamanan hutan dan menemukan wisatawan yang menerbangkan drone tak berizin di wilayah Loh Buaya. Selama melaksanakan kegiatan penjagaan di Loh Buaya, Andreas juga berkesempatan mengikuti kegiatan monitoring populasi komodo bersama tim peneliti dari Komodo Survival Programme (KSP) di lembah Loh Buaya pada tanggal 5 – 9 Oktober 2022. Komodo Survival Programme merupakan non-governmental organization (NGO) dalam negeri yang telah memiliki perjanjian kerja sama dengan Balai Taman Nasional Komodo sejak tahun 2007 yang menitikberatkan fokus kerjanya pada dukungan peningkatan kualitas monitoring populasi biawak komodo, wawasan dan pengetahuan ranger, serta dukungan kapasitas lainnya yang berkaitan dengan upaya pelestarian kadal raksasa utamnya di Taman Nasional Komodo. Andreas juga dilibatkan dalam kegiatan pemasangan perangkap komodo, pengukuran panjang dan bobot tubuh komodo, hingga pengambilan perangkap komodo pada beberapa lokasi pengamatan. Berdasarkan hasil monitoring populasi komodo, setidaknya terdapat + 60 ekor biawak komodo yang mendiami lembah Loh Buaya. Hal ini menjadi pengalaman yang sangat langka bagi mahasiswa pariwisata dalam mengelola obyek berupa satwa liar pada destinasi wisata alam. Andreas berharap pengalamannya melestarikan alam secara langsung bersama dengan jagawana Balai Taman Nasional Komodo dan tim peneliti dari Komodo Survival Programme dapat memberikan ilmu pengetahuan serta wawasan konservasi baru bagi mahasiswa pariwisata Indonesia mengenai upaya pelestarian komodo di alam. Andreas merasa bahwa wisatawan dan utamanya mahasiswa perlu lebih menghargai alam dengan mengetahui berbagai upaya konservasi yang telah dilakukan oleh para jagawana di alam. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Andreas Yudha Pratama Pah (+628122144066) dan Mahasiswa Manajemen Pengaturan Perjalanan Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Dewi Meisya Maulidda (+6289524383268) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Berita

Dukungan Teknologi Digital dan Tourism Carrying Capacity Untuk Resort Loh Liang

Labuan Bajo, 12 Desember 2022. Mahasiswa magang dari program studi (prodi) Manajemen Destinasi Pariwisata, Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Joy Filip Oktavianus, serta mahasiswi prodi Manajemen Pengaturan Perjalanan, Dewi Meisya Maulidda mengikuti kegiatan penjagaan di Resort Loh Liang, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II, Balai Taman Nasinal Komodo pada tanggal 1 – 10 Oktober 2022. Kedua mahasiswa ditempatkan di Resort Loh Liang untuk menganalisa kualitas teknik pemanduan dan interpretasi yang dilakukan oleh naturalist guide di tingkat tapak serta mempelajari keanekaragaman hayati flora dan fauna yang ada di lembah Loh Liang. Resort Loh Liang merupakan salah satu resort jaga Balai Taman Nasional Komodo yang bertempatkan di Pulau Komodo yang kerap dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai belahan dunia. Resort ini memiliki tipe ekosistem yang berbeda dengan ekosistem pada beberapa wilayah resort jaga di Pulau Rinca karena lembah Loh Liang didominasi oleh ekosistem hutan hujan yang lebih rimbun dan hijau. Resort ini juga memiliki kepadatan dan kelimpahan populasi biawak komodo dan kakatua kecil jambul kuning yang cukup tinggi, menjadikan Resort Loh Liang sebagai salah satu destinasi wisata alam di Taman Nasional Komodo yang memberikan kesempatan bagi turis untuk melihat kadal raksasa secara langsung di habitat alaminya. Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Liang, Haruna dan Candra Irawan, mengajak Joy dan Dewi untuk mengikuti beberapa kegiatan resort-based management (RBM), antara lain: monitoring kakatua kecil jambul kuning, patroli jelajah hutan, rekapitulasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan pelayanan pengunjung. Joy dan Dewi kemudian diajak menjelajahi hutan menuju Lembah Poreng dengan jarak + 1 km dari Kantor SPTN Wilayah II di Loh Liang. Kedua mahasiswa juga diajarkan teknik pengamatan kakatua kecil jambul kuning saat pagi dan sore hari. Pengalaman ini merupakan pengalaman kali pertama mahasiswa pariwisata melakukan penelusuran pada wilayah hutan Pulau Komodo yang tentunya tidak akan terlupakan. Joy dan Dewi menghabiskan sebagian besar waktu penjagaannya untuk terlibat aktif dalam pemanduan dan interpretasi di Loh Liang. Setidaknya sebanyak 2 – 3 kali pemanduan dilakukan oleh Joy dan Dewi. Kedua mahasiswa melatih kemampuan pemanduan dan wawasan interpretasi pengelolaan Taman Nasional Komodo yang sudah diajarkan oleh Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama) secara langsung dengan wisatawan. Selama terlibat dalam pelayanan pengunjung, Joy dan Dewi turut mengevaluasi kualitas pemanduan yang dilakukan oleh naturalist guide di tingkat tapak. Kedua mahasiswa bahwa naturalist guide di Loh Liang sudah cukup baik menyampaikan informasi interpretasi mengenai biawak komodo, namun demikian, peningkatan kualitas secara berkala tetap perlu dan penting untuk dilakukan. Salah satu contoh catatan yang perlu menjadi perhatian adalah perlunya kegiatan penyegaran/pelatihan bagi tenaga naturalist guide yang baru untuk memperkaya dan memperdalam pengetahuan mengenai pengelolaan Taman Nasional Komodo serta perlunya peningkatan hospitality service yang ditunjukan oleh tenaga naturalist guide. Joy dan Dewi merasa bahwa pelayanan pengunjung di Loh Liang sudah baik dilakukan oleh Balai Taman Nasional Komodo. Namun demikian, Balai Taman Nasional Komodo tetap perlu memastikan kualitas pelayanan pengunjung dengan mempertimbangkan potensi kenaikan tingkat kunjungan wisatawan dalam beberapa bulan dan tahun kedepan. Untuk itu, kedua mahasiswa menyarankan agar pengembangan teknologi digital untuk penerapan kuota berdasarkan perhitungan tourism carrying capacity perlu segera dikembangkan oleh Balai Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Joy Filip Oktavianus (+6281395201028) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Berita

Belajar Ekologi Penyu Melalui Monitoring Sarang Di Pulau Muang

Labuan Bajo, 13 Desember 2022. Mahasiswa magang dari program studi Manajemen Pengaturan Perjalanan (MPP) Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Dewi Meisya Maulidda, mengikuti kegiatan penjagaan di Resort Kampung Kerora, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo pada tanggal 21 - 31 Oktober 2022. Dewi mendapatkan serangkaian tugas selama berada di Resort Kampung Kerora dari Balai Taman Nasional Komodo meliputi pengamatan aktivitas resort-based management (RBM) Resort Kampung Kerora, mempelajari potensi keanekaragaman hayati di Resort Kampung Kerora, dan mengamati sosial budaya masyarakat Kampung Kerora. Resort Kampung Kerora merupakan salah satu resort jaga yang terletak di bagian timur Pulau Rinca. Resort ini bertanggung jawab mengawasi zona pemukiman yang di dalamnya terdapat Kampung Kerora, salah satu dari tiga dusun pada lingkup wilayah Desa Pasir Panjang. Resort Kampung Kerora juga berbatasan sangat dekat dengan Pulau Bero dan Pulau Muang yang merupakan lokus pengamatan petugas untuk kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Selain memiliki keindahan lansekap daratan maupun perairan, Resort ini juga berbatasan langsung dengan Desa Golo Mori yang merupakan salah satu desa penyangga Taman Nasional Komodo di Pulau Flores. Pengalaman Dewi mempelajari penyu di Pulau Muang merupakan kali pertama Dewi berinteraksi dengan reptil perairan tersebut. Indonesia memiliki enam dari tujuh spesies penyu di dunia dan dua diantaranya hidup bebas di perairan Taman Nasional Komodo. Kedua jenis tersebut memanfaatkan pesisir Pulau Muang sebagai tempat bertelur setiap periode bulannya. Untuk itu, Resort Kampung Kerora bertanggung jawab memastikan kelestariaan ekosistem pada wilayah pesisir dan perairan Pulau Muang agar pulau ini terhindar dari gangguan oknum tidak bertanggung jawab yang berusaha mencuri telur- telur penyu yang ada. Dewi didampingi oleh Sandi Purnama (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Kampung Kerora) bersama dengan warga Kampung Kerora dan beberapa siswa magang lainnya mengunjungi pesisir pantai Pulau Muang pada tanggal 26 Oktober 2022. Dewi dan tim berhasil menemukan satu sarang aktif penyu dan mulai melakukan perhitungan dan pengukuran telur dengan seksama. Dewi setidaknya mendapatkan 135 butir telur dengan rata-rata diameter mencapai 38,7 mm dan bobot rata-rata mencapai 36 gram. Mempertimbangkan banyaknya jumlah dan dimensi telur, disimpulkan bahwa sarang penyu yang diamati merupakan sarang penyu hijau. Setelah pengambilan data selesai dilakukan, seluruh telur dikembalikan ke dalam sarang sesuai dengan posisinya semula. Dewi dan tim mencatat tanggal dan membuat dugaan tanggal penetasan (+ 30 - 60 hari) sejak tanggal ditemukannya sarang untuk tim amati kembali. Dewi belajar lebih menghargai alam melalui kegiatan monitoring sarang bertelur penyu di Pulau Muang. Lebih lanjut, Dewi juga menjadi lebih paham bahwa mengelola destinasi pariwisata yang merupakan kawasan konservasi, bukan hanya fokus menitikberatkan pengelolaan kepada pelayanan pengunjung melainkan mengutamakan pengelolaan kepada kelestarian flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Pengaturan Perjalanan Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Dewi Meisya Maulidda (+6289524383268) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Berita

Melestarikan Mangrove Untuk Indonesia Yang Lestari

Jakarta, 10 Desember 2022– Mangrove, benteng terakhir wilayah pesisir. Meski berada di wilayah perkotaan, bukan berarti warga urban tidak memiliki andil dalam menjaga ekosistem mangrove. Untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang pelestarian mangrove, BKSDA Jakarta bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan HSBC Indonesia, menggelar acara penyadartahuan dengan tema “Melestarikan Mangrove untuk Indonesia yang Lestari”, yang diikuti oleh karyawan dan manajemen HSBC Indonesia, pada 10 Desember 2022 di Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta Utara. Dalam kesempatan ini dilakukan diskusi interaktif, penanaman 100 bibit mangrove, pembersihan tumbuhan invasif eceng gondok, pembibitan mangrove, dan pengumuman pemenang lomba “Mangrove Photography Competition 2022" serta membersihkan sampah. Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Muara Angke di Jakarta Utara, dengan luas 25,02 hektare merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, yang menjadi kawasan penting sebagai penyangga kehidupan kota Jakarta. “Bagi masyarakat DKI Jakarta dan sekitarnya, SM Muara Angke yang menjadi rumah bagi 8 spesies mangrove sejati, yaitu avicennia marina, bruguiera gymnorrhiza, nypa fruticans, rhizophora apiculata, rhizophora mucronata, sonneratia caseolaris, acrosticum aureum, dan excoecaria agallocha. Mangrove berperan sebagai penyumbang O2, penyerap CO2, pengatur hidrologi, penyerap polutan, keindahan bentang alam, dan penyedia keanekaragaman hayati,” jelas Kepala BKSDA Jakarta Abdul Kodir, selaku pengelola kawasan SM Muara Angke. Abdul Kodir menambahkan bahwa kawasan SM Muara Angke juga merupakan salah satu ekosistem mangrove yang masih tersisa di Jakarta serta habitat bagi aneka fauna seperti buaya air asin, kadal, monyet ekor panjang, ular, serta menjadi daerah penting bagi burung di Jawa. Pengelolaan dan restorasi mangrove secara terpadu sangat penting dan perlu dukungan semua pihak, termasuk sektor swasta. Terkait dengan hal tersebut, HSBC Indonesia pada tahun 2021 bergabung dalam kemitraan Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) untuk mendukung penguatan fungsi ekosistem mangrove di Indonesia, khususnya di SM Muara Angke; Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan; dan Kabupaten Bengkalis, Riau. MERA merupakan platfom nasional multipemangku kepentingan yang digagas oleh YKAN untuk mengurangi kerentanan masyarakat pesisir, menjaga sumber daya dan aset alam, serta mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan berbasis kajian ilmiah. Francois de Maricourt, selaku Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia, mengatakan, “Sejalan dengan komitmen kami dalam mendukung Indonesia melestarikan alam, kami senantiasa aktif menjaga keanekaragaman hayati, salah satunya dengan mendukung pelestarian hutan mangrove, serta berbagai spesies di dalamnya. Kerja sama HSBC dengan YKAN melalui MERA untuk mendorong fungsi Suaka Margasatwa Muara Angke sebagai pusat edukasi lingkungan dan restorasi ekosistem mangrove di Jakarta ini merupakan bagian dari komitmen HSBC dalam berkolaborasi bersama Pemerintah dan komunitas di Indonesia. Harapan kami program ini dapat berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.” Indonesia memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia dengan luas mencapai 3,36 juta hektar (KLHK, 2021). Luasan tersebut merupakan 23% dari total mangrove dunia yang mampu menyimpan karbon hingga sepertiga dari seluruh karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir di dunia. “Jika dikelola dengan cara yang efektif dan berkelanjutan, mangrove dapat menjadi sumber pendapatan, memberi perlindungan, dan makanan yang dapat diandalkan untuk penduduk setempat, serta berkontribusi pada ketahanan pangan dan sosial, dan akhirnya, berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi negara-negara di mana mangrove berada. Mengingat besarnya peran, fungsi, dan manfaat dari ekosistem hutan mangrove, adalah kewajiban kita untuk selalu peduli dan menjaga kelangsungan hutan mangrove,” terang Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman. Ekosistem mangrove juga memiliki kaitan yang erat terhadap perubahan iklim. Keberadaan mangrove yang sehat di kawasan pesisir dapat meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim serta meminimalisasi dampak bencana alam, seperti tsunami, badai, dan gelombang laut. Peranan Indonesia dalam upaya mitigasi perubahan iklim secara global amat besar, sehingga melindungi dan merestorasi ekosistem mangrove merupakan langkah penting yang harus segera dilakukan secara bersama-sama. Sumber : Balai KSDA Jakarta Call Center Balai KSDA Jakarta 081289643727
Baca Berita

Top Predator Dilepaskan Di TN Gunung Rinjani

Mataram, 10 Desember 2022. Menjaga keseimbangan ekosistem menjadi hal mutlak yang perlu dilakukan tidak hanya untuk keberlanjutan hidup flora dan fauna namun juga manusia. Komponen rantai makanan termasuk predator dan mangsa memegang peranan penting dalam mempertahankan keseimbangan suatu ekosistem. Guna menjaga keseimbangan ekosistem hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), salah satu top predator dalam rantai makanan yakni Ular Sanca (Malayophyton reticulatus) telah dilepasliarkan di kawasan hutan Pesugulan, Resort Aikmel, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II, Balai TN Gunung Rinjani, Jumat (9/12). Ular Sanca tersebut adalah satwa serahan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan Lombok Timur kepada Balai TN Gunung Rinjani. Kegiatan ini dihadiri oleh staf Pokja Kehati dan Pelayanan, staf Seksi Pengelolaan TN Wilayah II, staf Resort Aikmel Balai TN Gunung Rinjani serta stakeholder lain diantaranya Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan Lombok Timur, Kelompok Pecinta Alam Oasistala, Pokdarwis Bebidas serta Pokdarling Bebidas. Sebagai sesama makhluk hidup sudah selayaknya untuk saling menjaga. Menjaga keberlanjutan hidup flora dan fauna tentu turut menjaga keberlangsungan peradaban manusia. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani

Menampilkan 1.217–1.232 dari 11.142 publikasi