Sabtu, 3 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Bersama Menanam, Pulihkan Hutan di Taman Nasional Tesso Nilo

SIARAN PERS Nomor: SP.268/HUMAS/PP/HMS.3/11/2025 Upaya memulihkan kembali fungsi hutan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) terus dilakukan. Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia Rohmat Marzuki, S.Hut memimpin kegiatan penanaman pohon bersama Rimbawan dan masyarakat di Camp Elephants Flying Squad SPTN Wilayah I, Lubuk Kembang Bunga, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kab. Pelalawan, Provinsi Riau, sebagai bagian dari program Pemulihan Ekosistem Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo 2024–2028. Acara yang bertajuk “Pembinaan Jiwa Korsa Rimbawan dalam Kelestarian Hutan Lingkup UPT Kemenhut di Provinsi Riau” ini dihadiri oleh jajaran pejabat lingkup Kementerian Kehutanan. Wamen dan para pejabat kementerian disambut dengan pengalungan bunga oleh gajah jinak binaan Balai TN Tesso Nilo dilanjutkan dengan interaksi bersama gajah, yang menjadi simbol harmonisasi manusia dan satwa liar di kawasan konservasi tersebut. Kegiatan dilanjutkan dengan laporan dari Kepala Balai TN Tesso Nilo, dilanjutkan dengan arahan Wakil Menteri Kehutanan RI. Dalam arahannya, Wamen menegaskan pentingnya kerjasama dan kolaborasi yang erat dari semua pihak dalam menghadapi permasalahan hutan serta bersama-sama memperkuat pengelolaan Taman Nasional Tesso Nilo. “Penanaman ini bukan sekedar menanam pohon tetapi merupakan wujud nyata komitmen kita para Rimbawan Indonesia khususnya di provinsi Riau, untuk terus menjaga dan memulihkan hutan demi masa depan bangsa Indonesia” ujar Wamen dalam sambutannya. Sebanyak ±100 batang tanaman kehutanan dengan tinggi di atas satu meter ditanam secara simbolis di area seluas ±1 hektar. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen Kementerian Kehutanan RI dalam memperkuat upaya konservasi di Camp Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo, yang berperan penting dalam pengelolaan satwa dan pelestarian ekosistem hutan. Melalui kegiatan ini, Balai TN Tesso Nilo menegaskan komitmennya untuk mengembalikan fungsi ekosistem hutan sebagai habitat penting Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi.Acara berlangsung selama sekitar satu jam, diakhiri dengan ramah tamah dan diskusi membahas pengelolaan lebih lanjut, khususnya terkait strategi pemulihan ekosistem, peningkatan peran masyarakat, serta sinergi lintas sektor dalam menjaga kelestarian Taman Nasional Tesso Nilo.(*)__ Pelalawan, 1 November 2025 Informasi lebih lanjut: Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Heru Sutmantoro, S.Hut, M.M. - 081260793695 Penanggung jawab berita: Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan, Krisdianto, S.Hut., M.Sc., Ph.D.
Baca Berita

Deklarasi Dukungan Penyelematan Satwa Liar MATAWALI

Banyuwangi, 30 Oktober 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Banyuwangi melaksanakan Deklarasi Dukungan Pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi dalam Penyelamatan Satwa Liar (MATAWALI) dan Travel Medicine di Smart Class Room, Kampus Mojo, FIKKIA Universitas Airlangga Banyuwangi (30/10/2025). Kegiatan ini menjadi langkah nyata sinergi antara BBKSDA Jawa Timur dan perguruan tinggi yang ada di Jawa Timur khususnya yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Adapun beberapa program yang akan dilaksanakan yakni Tridarma Perguruan Tinggi, Penyelamatan dan Penanganan Kesehatan Satwa Liar, Pengobatan Satwa Liar, serta Nekropsi Satwa Liar. Selain itu, juga ada Praktisi BKSDA Mengajar, Sistem Deteksi Dini Penyakit, Panduan dan Penerapan Protokol Manajemen Risiko serta kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan dan Travel Medicine. Melalui program MATAWALI, para akademisi dan mahasiswa diajak untuk turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian satwa liar Indonesia. Sementara itu, kerja sama di bidang Travel Medicine diharapkan mampu memperkuat kapasitas penanganan kesehatan manusia, terutama di Kawasan Taman Wisata Alam, khususnya di TWA. Kawah Ijen yang menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan sehari tersebut dihadiri oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan, S.Hut, M.Sc.,Dekan FIKKIA UNAIR Dr. Rahadian Indarto Susilo, Dr., Sp.BS. (K), dan segenap civitas akademika. Juga Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jawa Timur, Kepala Bidang KSDA Wilayah III, Kepala Seksi KSDA Wilayah V, serta dari stakeholder terkait seperti perwakilan dari Dinas Pariwisata, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi. Dengan semangat kolaborasi dan konservasi, BBKSDA Jawa Timur dan FIKKIA Universitas Airlangga Banyuwangi berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berdampak nyata bagi pelestarian keanekaragaman hayati dan kesehatan lingkungan. Diakhir kegiatan, juga ada kuliah tamu yang disampaikan oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, terkait dengan Satwa Liar dan Arti Pentingnya Bagi Kehidupan. Bersama, kita selamatkan satwa liar untuk masa depan yang lestari. Sumber: Ainy Amelya Utami - Penyuluh Kehutanan pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Jejak yang Kita Tanam, Nama yang Kita Jaga, Semangat Baru Konservasi di Pulau Bawean

Bawean, 31 Oktober 2025. Langit tampak cerah, laut berkilau, dan angin membawa aroma asin khas karang. Saat papan nama baru ditegakkan di tengah tebing karang, empat ekor Cikalang kecil (Fregata ariel) tampak berputar di atas kepala, seolah mengiringi prosesi sederhana namun sarat makna itu. Sayap mereka yang hitam berkilau melingkari pulau, seperti melambangkan semangat kebebasan dan kesetiaan alam pada ruang hidupnya. Tim SMART Patrol Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BKKSDA Jatim) bersama Mitra Masyarakat Patroli (MMP) Bawean Lestari, dan tiga mahasiswi magang dari Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan pemasangan papan nama baru di Cagar Alam Pulau Nusa (30/10/2025). Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan yang melibatkan lintas generasi, petugas, masyarakat, dan mahasiswa ini. “Papan nama bukan hanya sekadar penanda administratif. Ia adalah lambang kesungguhan kita menjaga kehidupan. Siapa pun yang melihatnya diharapkan sadar, bahwa di sini ada ruang yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya,” ujar beliau di tempat terpisah. Sementara itu, Nur Syamsi, Kepala Resort KSDA 10 Bawean yang akan purna tugas pada akhir Oktober 2025 ini, menyampaikan rasa haru dan bangga di penghujung masa pengabdiannya. ”Pulau Nusa ini adalah saksi sunyi perjuangan kami. Pemasangan papan ini menjadi simbol penutup masa pengabdian saya. Semoga papan ini berdiri lama, dan menjadi pengingat bahwa di sini pernah ada orang-orang yang mencintai alam dengan sepenuh hati,” ujarnya lirih. Cagar Alam Pulau Nusa: Kecil, Tenang, Penuh Kehidupan Terletak di sisi Barat Laut Pulau Bawean, Cagar Alam Pulau Nusa adalah pulau kecil yang menyimpan pesona ekosistem karang yang masih alami. Vegetasi didominasi oleh jenis Wijayakusuma (Pisonia grandis) tumbuhan khas Pulau kecil yang tumbuh mengakar di kerasnya karang dan menjadi peneduh dan bersarang alami bagi berbagai jenis burung air. Ekosistem ini menjadi ruang penting bagi siklus kehidupan fauna dan menjadi laboratorium alami bagi pembelajaran ekologi lapangan. “Melihat langsung bagaimana pohon Wijayakusuma tumbuh di tepi karang dan burung-burung laut berputar di atasnya, kami benar-benar merasakan bagaimana alam bekerja dalam harmoni,” tutur Shalmiah Aegesti, mahasiswi magang UGM, sambil menatap laut yang memantulkan cahaya sore. Selain Cagar Alam Pulau Nusa, dua hari sebelumnya, petugas juga menegakkan papan baru di Suaka Margasatwa Pulau Bawean kawasan yang menjadi habitat utama Rusa Bawean (Axis kuhlii), satwa endemik yang menjadi ikon konservasi Jawa Timur. Kegiatan ini sekaligus mempertegas batas kawasan dan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan pengunjung agar lebih memahami nilai penting konservasi. “Kami hanya menjaga agar generasi berikutnya tahu, bahwa pernah ada yang mencintai alam ini dengan sepenuh jiwa,” tutur Nur Hayyan, salah satu anggota tim SMART Patrol sambil menatap matahari sore yang tenggelam di balik garis laut. Melalui kegiatan sederhana namun bermakna ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk menjaga kawasan konservasi secara utuh, baik dari aspek ekologi, sosial, maupun edukatif. Setiap papan nama yang berdiri bukan hanya tanda batas, tetapi prasasti kecil dari perjuangan besar manusia untuk mempertahankan harmoni dengan alam. Karena konservasi, sejatinya, bukan hanya pekerjaan. Ia adalah bentuk cinta, dedikasi, dan warisan bagi bumi yang terus bernafas. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Aketajawe Lolobata Tanamkan Nilai Konservasi Sejak Dini Melalui Rumah Baca Ho Magarago

Subaim, 29 Oktober 2025 – Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Subaim, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata kembali melaksanakan Kegiatan Pendidikan Konservasi Sejak Usia Dini sebagai bagian dari agenda rutin yang telah dijadwalkan setiap bulan. Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenal alam dan pentingnya menjaga kelestariannya sejak dini. Kegiatan yang digelar di Rumah Baca Ho Magarago yang berada di Dusun Tukur-Tukur, Desa Dodaga, Kabupaten Halmahera Timur ini diikuti oleh 20 anak, terdiri dari siswa tingkat SD dan SMP. Dengan semangat tinggi, para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Materi pendidikan konservasi kali ini berfokus pada identifikasi dan pengenalan jenis-jenis pohon serta pemanfaatannya secara lestari. Melalui metode pengamatan langsung dan diskusi, peserta belajar mengenali ciri khas berbagai jenis pohon di sekitar mereka serta memahami manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari tanpa merusak keseimbangan alam. Kepala Seksi SPTN Wilayah III Subaim, Junesly F. Lilipory, S.Pi., M.A.P. menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya berkelanjutan untuk menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini. “Kami ingin anak-anak tumbuh dengan rasa cinta terhadap alam. Dengan mengenal hutan dan keanekaragaman hayati di sekitarnya, mereka akan lebih peduli dan turut menjaga kelestariannya,” ujarnya. Sementara itu, pembimbing Rumah Baca Ho Magarago, Sukardi M. Saleh, S.Hut., mengapresiasi kegiatan tersebut. “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk membentuk karakter anak yang cinta lingkungan. Belajar di alam langsung memberi pengalaman yang tidak mereka dapatkan di ruang kelas,” tuturnya. Sebagai penutup kegiatan, peserta diminta menuliskan nama-nama pohon yang mereka kenali beserta pemanfaatannya, untuk mengukur pemahaman dan memperkuat ingatan mereka tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. Sumber: Tim Humas dan Medsos Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Dari Dasar Danau Purba hingga Sungai di Ujung Pulau, Jejak Krustasea Endemik Bawean Terungkap

Bawean 30 Oktober 2025. Empat hari setelah hujan terakhir membasahi Pulau Bawean, langit akhirnya cerah. Di antara pepohonan yang masih basah oleh embun, udara terasa segar dan tenang. Pagi itu, 24 Oktober 2025, tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Tim SMART Patrol dan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memulai kegiatan lapangan dalam rangka Bioprospeksi, Smart Patrol, dan Penelitian di Pulau Bawean. Tujuan mereka sederhana namun bermakna, menggali kekayaan hayati air tawar dan memperkuat data konservasi di pulau yang dikenal memiliki banyak kehidupan endemik ini. Selama empat hari, hingga tanggal 27 Oktober 2025, tim bergerak dari satu aliran air ke aliran lainnya, menelusuri sumber-sumber air yang menjadi nadi kehidupan ekosistem pulau. Di bawah pengawasan petugas Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, peneliti Rena Tri Hernawati, S.Si., M.Si., dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi – BRIN, melakukan pengumpulan spesimen Krustasea air tawar untuk kajian taksonomi dan analisis DNA barcoding. Lokasi penelitian tersebar di sejumlah titik air tawar alami, baik di dalam kawasan suaka alam maupun di luar kawasan konservasi. Di dalam kawasan konservasi, tim bekerja di Danau Kastoba dan alirannya, jantung hidrologi Pulau Bawean serta di Sumber Air di Blok Gunung Durin, Blok Gunung Besar, dan Blok Batulintang. Sedangkan di luar kawasan konservasi, kegiatan dilakukan di Sungai Kotdhil di Desa Gunung Teguh, Sungai Lampeji di Desa Pudakit Barat, Air Terjun Candi di Desa Paromaan Kecamatan Tambak, dan Sungai Balik Terus di Kecamatan Sangkapura. Selama kegiatan, tim berhasil mendokumentasikan enam jenis Krustasea air tawar dari berbagai lokasi penelitian. Di antara spesimen yang dikoleksi, tercatat jenis Macrobrachium pilimanus pygmaeum, Macrobrachium latydactylus, Caridina sp., Macrobrachium sp., Geosesarma sp., dan Parathelphusa baweanensis. Sebagian besar spesimen ditemukan di kawasan Danau Kastoba dan Sumber Katombuhan yang memiliki karakteristik perairan vulkanik dengan kadar mineral tinggi dan ekosistem yang masih terjaga. Dari seluruh hasil penelitian, jenis Parathelphusa baweanensis menonjol secara ekologis. Jenis kepiting air tawar ini tercatat memiliki sebaran paling luas di seluruh Pulau Bawean, karena ditemukan di hampir semua lokasi pengambilan sampel, mulai dari aliran Danau Kastoba hingga sungai di Desa Balik Terus, Gunung Teguh, dan Pudakit Barat. Temuan ini menegaskan bahwa Parathelphusa baweanensis merupakan spesies indikator penting bagi kestabilan ekosistem air tawar Bawean. Sementara itu, Macrobrachium pilimanus pygmaeum juga dikategorikan sebagai spesies endemik, hanya ditemukan di Pulau Bawean. Kedua spesies tersebut memiliki nilai penting bagi upaya konservasi genetik dan penelitian biodiversitas air tawar di Indonesia. Pulau Bawean, yang termasuk dalam wilayah kerja Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, merupakan bentang alam yang unik, perpaduan antara hutan tropis, danau vulkanik, aliran sungai, dan kawasan lembap yang menyerupai gambut. Meski demikian, kawasan yang sebelumnya diduga mengandung lapisan gambut masih memerlukan kajian lebih lanjut. “Kawasan yang kami duga sebagai gambut perlu diteliti lebih lanjut, karena kami tidak menemukan udang di lokasi tersebut,” ujar Rena Tri Hernawati, menegaskan pentingnya pengamatan lanjutan di titik-titik lembap Bawean. Selain itu, Rena juga menyoroti pentingnya menjaga kelestarian habitat di sekitar Danau Kastoba, terutama di bagian outlet danau. “Danau Kastoba dan outlet sungainya jangan dirusak, jangan dipotas, karena hanya ada jenis-jenis tertentu yang bisa hidup di outlet tersebut,” pesannya. Dalam kesempatan yang sama, Rena mengingatkan agar sumber-sumber air di Pulau Bawean terus dijaga, karena menjadi habitat penting bagi berbagai jenis kepiting air tawar dari genus Geosesarma, yang dikenal memiliki keanekaragaman sangat tinggi. “Terus jaga sumber-sumber air, karena itu habitat kepiting Geosesarma yang keanekaragamannya sangat tinggi,” ujarnya. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa kegiatan seperti ini adalah contoh nyata sinergi antara pengelolaan kawasan konservasi dan riset ilmiah. “Kolaborasi antara Balai Besar KSDA Jawa Timur dan lembaga penelitian seperti BRIN menjadi langkah strategis untuk memperkuat dasar ilmiah pengelolaan kawasan konservasi. Hasil-hasil penelitian ini sangat penting, bukan hanya untuk dokumentasi keanekaragaman hayati, tetapi juga untuk memastikan bahwa upaya konservasi yang kita lakukan berpijak pada data ilmiah yang akurat,” ungkapnya. Nur Patria juga menambahkan bahwa hasil penelitian di Pulau Bawean ini akan menjadi pondasi penting bagi perencanaan konservasi jangka panjang. “Bawean adalah laboratorium alam yang masih hidup. Tugas kita bersama adalah menjaga keseimbangannya agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat pulau ini dan oleh generasi yang akan datang,” pungkasnya. Segala bentuk kegiatan penelitian, baik oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur, BRIN, maupun lembaga akademik dan riset lainnya, memiliki semangat yang sama, menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi konservasi dan kesejahteraan masyarakat. Hasil penelitian menjadi dasar penting bagi pengelolaan kawasan konservasi, pelestarian spesies endemik, serta upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air dan ekosistemnya secara terpadu. Dari kedalaman tenang Danau Kastoba hingga gemericik Air Terjun Candi, dari Sungai Kotdhil yang mengalir di lembah Desa Gunung Teguh hingga riak Sungai Balik Terus di Sangkapura, seluruh perjalanan ilmiah ini menyimpan pesan ekologis yang mendalam. Bahwa kehidupan kecil di dasar air, udang, kepiting, dan krustasea yang nyaris tak terlihat, sesungguhnya adalah penjaga keseimbangan alam. Di balik diamnya air, tersimpan kisah besar tentang bagaimana alam bekerja, dan bagaimana manusia belajar untuk menjaga apa yang tersisa. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penanganan Tindak Pidana Peredaran TSL di Polres Banjar

Martapura, 28 Oktober 2025 – Polres Banjar bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) berhasil mengungkap kasus perdagangan ilegal bagian-bagian satwa liar yang dilindungi. Kegiatan press release digelar di Aula Polres Banjar pada Senin (27/10), pukul 10.00 WITA, dipimpin oleh Kapolres Banjar didampingi Kajari Banjar dan Kepala BKSDA Kalimantan Selatan. Kasus ini bermula dari laporan masyarakat mengenai adanya aktivitas perdagangan suvenir yang terbuat dari bagian-bagian satwa dilindungi. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim gabungan dari BKSDA Kalsel dan Polres Banjar melakukan operasi penegakan hukum (Gakkum) pada 17 Juni 2025, dan berhasil mengamankan seorang tersangka berinisial HA pemilik Toko Permata Anugerah di Martapura. Dari hasil operasi, petugas mengamankan 1.930 barang bukti yang berasal dari bagian-bagian 9 jenis satwa liar dilindungi, antara lain tengkorak dan tanduk rusa, kijang, burung rangkong gading, julang emas, rangkong badak, kangkareng perut putih, beruang madu, serta kerapas kura-kura jenis Emys. Barang bukti juga termasuk berbagai aksesoris seperti mandau dan gagang parang berbahan tanduk rusa, bulu burung, hingga pipa rokok dari tanduk kijang. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri Banjar menyatakan dukungannya terhadap proses penegakan hukum kasus ini dan menegaskan pentingnya menjaga kelestarian satwa liar. Ia menambahkan, penanganan terhadap barang bukti akan dilakukan sesuai keputusan pengadilan. Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, drh. Agus Ngurah Khrisna Kepakisan, M.Si., menyampaikan apresiasi terhadap dukungan aparat penegak hukum dan masyarakat dalam mengungkap kasus ini. “Perdagangan bagian satwa liar yang dilindungi merupakan kejahatan terhadap alam. Sinergi antara BKSDA, Polri, Kejaksaan, dan masyarakat sangat penting untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Kalimantan Selatan,” ujarnya. Pada sesi tanya jawab dengan media, BKSDA Kalsel juga memaparkan sejumlah kasus serupa yang telah berhasil ditangani dalam beberapa tahun terakhir, sebagai bentuk komitmen terhadap upaya perlindungan tumbuhan dan satwa liar di wilayah Kalimantan Selatan. (Ryn) Sumber: Alfian Soehara (Polhut SKW II) & Doc. by : Riyan Susilo Adji, S.Kom. - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Merekam Jejak Kehidupan, Herbarium sebagai Arsip Abadi di Lembab Hutan Bawean

Bawean, 28 Oktober 2025. Di bawah cahaya lembut yang menembus tajuk hutan, tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kembali menorehkan langkah kecil namun berarti bagi ilmu pengetahuan di pekan terakhir bulan Oktober 2025. Pembuatan herbarium dari hasil survei bioprospeksi dan pendataan distribusi populasi Prunus javanica dan Prunus arborea. Lebih dari 30 sampel dikoleksi, daun, bunga, hingga buah, dikeringkan, ditekan, dan disusun teliti di atas kertas, menjadi saksi diam dari keragaman hayati hutan Bawean yang masih menyimpan banyak rahasia. Dari Batu Lintang ke Gigir Gunung, Menyusuri Jalur Kehidupan Jalur panjang ekspedisi dimulai dari Batu Lintang, menembus hutan basah yang berlapis kabut, menuju gigir gunung hingga mencapai Danau Kastoba, danau purba yang menyimpan legenda dan ketenangan abadi. Di setiap titik lintasan, jejak dedaunan dan percikan aroma menjadi penanda kehidupan yang tak kasat mata, menggambarkan keselarasan antara waktu, tanah, dan hujan. Menurut Heri Sanyoso dari Yayasan Generasi Biologi Indonesia, bahwa setiap helai daun yang diambil adalah representasi dari waktu. “Ia merekam cerita ekologis, kapan hujan turun, di mana tanah lembab, dan bagaimana angin membentuk adaptasi tumbuhan”, tambahnya. Arsip Sunyi dari Hutan yang Hidup Proses pembuatan herbarium dilakukan langsung setelah pulang dari lapangan, di sela-sela aktivitas survei dan pengambilan data. Di kantor RKW 10 Bawean, teras menjadi menjadi laboratorium alamnya. Setiap spesimen diberi label rinci, koordinat lokasi, ketinggian, kondisi habitat, dan waktu pengambilan. Tahapan ini bukan sekadar rutinitas ilmiah, melainkan upaya mendokumentasikan memori genetik ekosistem sebelum hilang termakan waktu dan perubahan. Herbarium bukan hanya koleksi daun kering, melainkan narasi ekologi dalam bentuk paling jujur. Dari struktur tulang daun hingga warna mahkota bunga, setiap detail memberi petunjuk tentang bagaimana spesies beradaptasi dan bertahan di lingkungan yang unik seperti Bawean. Harmoni Ilmu dan Konservasi Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan bioprospeksi yang bertujuan mengungkap potensi biodiversitas tumbuhan lokal untuk ilmu pengetahuan dan pengelolaan berkelanjutan. Prunus javanica dan Prunus arborea sendiri merupakan dua spesies penting yang berperan ekologis dalam sistem hutan pegunungan tropis, sebagai penyedia pakan satwa liar dan penyimpan karbon alami. “Mengetahui distribusi dan variasi morfologi mereka adalah langkah awal dalam memahami fungsi ekosistem secara utuh,” jelas Tri Wahyu Widodo Pengendali Ekosistem Hutan Mahir BBKSDA Jatim. “Sains konservasi tidak berhenti di pengamatan, tetapi berlanjut pada bagaimana kita menyimpannya, baik di alam maupun dalam pengetahuan manusia,” ujarnya. Menjaga Jejak Sebelum Menghilang Di tengah keheningan hutan, di mana suara burung menggema dan kabut menggulung lembut di atas Danau Kastoba, kegiatan sederhana seperti menekan daun dan menata bunga menjadi tindakan heroik dalam skala ekologis. Ia adalah perlawanan halus terhadap lupa, upaya manusia menjaga ingatan alam agar tak lenyap oleh waktu. Kegiatan dilaksanakan oleh tim Balai Besar KSDA Jawa Timur sebagai bagian dari pendataan bioprospeksi dan distribusi populasi tumbuhan hutan Pulau Bawean, dengan fokus pada genus Prunus. Herbarium lapangan disiapkan di tiap jalur jelajah untuk menjaga kualitas dan keaslian morfologi spesimen. Cuaca cerah selama ekspedisi mendukung proses pengambilan dan pengeringan spesimen secara optimal. Setiap daun yang disimpan adalah waktu yang dibekukan, aetiap spesimen adalah doa yang tak terucap untuk bumi yang terus berubah. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tim BKSDA Jambi Verifikasi Temuan Tengkorak Berukuran Besar di Tanjung Jabung Barat

Tanjung Jabung Barat, Oktober 2025 — Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi melakukan verifikasi terhadap laporan masyarakat terkait temuan tengkorak berukuran besar yang sempat diduga milik satwa liar jenis Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Desa Muara Seberang, Kawasan Parit KUD, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kegiatan verifikasi dilakukan bersama unsur pemerintah daerah dan masyarakat, antara lain Camat setempat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pamong budaya, pemerintah desa, serta tokoh masyarakat. Penemuan tulang tersebut berawal ketika warga melakukan kegiatan normalisasi aliran parit menggunakan alat berat di lahan kebun milik H. Kapik yang dikelola oleh Bapak Acok di RT 02 Parit 2. Saat proses pengerjaan berlangsung, operator alat berat menemukan potongan tulang dan tengkorak berukuran besar. Temuan tersebut kemudian dilaporkan secara berjenjang kepada Ketua RT, Kepala Desa, dan Camat hingga akhirnya diteruskan kepada pihak BKSDA Jambi untuk ditindaklanjuti. Tim BKSDA Jambi segera menuju lokasi dan melakukan observasi lapangan. Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa potongan tulang yang ditemukan tidak memiliki kesamaan anatomi dengan struktur tulang Gajah Sumatera. Berdasarkan bentuk dan ukuran, tulang tersebut diduga berasal dari ikan berukuran besar atau mamalia laut, namun pemeriksaan lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan asal usulnya. Untuk sementara waktu, potongan tulang diamankan di pondok sekitar lokasi temuan milik Bapak Acok agar tidak rusak atau hilang. Tim juga berkoordinasi dengan pemerintah desa dan aparat keamanan setempat guna menjaga lokasi serta memastikan temuan tetap utuh hingga proses penelitian selesai dilakukan. BKSDA Jambi menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah atas kepeduliannya dalam melaporkan temuan tersebut secara cepat. Kolaborasi dan respons cepat dari masyarakat sangat membantu proses penanganan serta mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Provinsi Jambi. BKSDA Jambi mengimbau masyarakat agar segera melaporkan setiap temuan satwa liar atau bagian tubuh satwa dilindungi kepada petugas konservasi terdekat. Langkah ini penting untuk memastikan pengelolaan dan perlindungan satwa berjalan sesuai ketentuan. Sumber: Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Arboretum Mini di Pulau Bawean, Jejak Hidup dari Rimba yang Dikenang

Bawean, 29 Oktober 2025. Di halaman hijau kantor Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Bawean, kehidupan baru perlahan tumbuh. Sejumlah bibit dan cabutan muda hasil survei bioprospeksi kini berbaris dalam polybag, dirawat dengan telaten oleh para petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari. Mereka bukan sekadar tanaman, tetapi penanda kehidupan yang dibawa keluar dari rimba, untuk hidup lebih dekat dengan manusia. Inilah cikal bakal Arboretum Mini Bawean, ruang belajar terbuka yang menjadi arsip hidup kekayaan flora Pulau Bawean. Menghadirkan Rimba Lebih Dekat Arboretum mini ini dibangun dari hasil kegiatan bioprospeksi dan pendataan populasi tumbuhan yang dilakukan di berbagai titik hutan Bawean. Beragam jenis tumbuhan kini tumbuh di polybag, mulai dari Prunus javanica, Prunus arborea, Cinnamomum sp., Ixora sp, berbagai jenis anggrek hutan, Hoya, tanaman Seribu Rasa, hingga Kunyit Kebo. Semua dikumpulkan dengan pengawasan ketat, dengan prinsip tidak mengganggu populasi alami di habitat asalnya. Menurut Nur Syamsi, Polhut Penyelia sekaligus Kepala RKW 10 Bawean, bahwa mereka ingin menjadikan halaman kantor ini sebagai ruang belajar yang hidup. “Masyarakat dapat mengenali jenis-jenis tumbuhan hutan Bawean tanpa harus masuk ke kawasan. Inilah cara sederhana kami mendekatkan konservasi kepada publik, agar alam tidak hanya dikenang, tapi dipahami dan dicintai,” tambahnya. Warisan Hijau Menjelang Akhir Tugas Bagi Nur Syamsi, yang bulan ini akan mengakhiri masa tugasnya setelah puluhan tahun mengabdi di Balai Besar KSDA Jawa Timur. Arboretum mini ini memiliki makna yang dalam. Ia bukan sekadar proyek kecil di akhir masa dinas, melainkan warisan hidup, simbol dedikasi yang tumbuh dari cinta terhadap alam dan masyarakat Bawean. Setiap polybag yang berisi tunas muda, baginya, adalah kenangan masa pengabdian yang kini berwujud kehidupan baru. “Sebelum saya pensiun, saya ingin meninggalkan sesuatu yang tumbuh di sini, sesuatu yang bisa terus hidup, memberi manfaat, dan mengingatkan bahwa konservasi adalah kerja hati,” tuturnya lirih. Arsip Hidup dari Hutan yang Dikenang Berbeda dari herbarium yang merekam bentuk dalam lembaran kertas, arboretum mini adalah arsip hidup yang tumbuh bersama waktu. Di bawah naungan langit Bawean, daun-daun muda bergetar lembut disapu angin laut, sementara aroma rempah dari Cinnamomum sp. dan Kunyit Kebo bercampur dengan wangi tanah lembab selepas hujan. Setiap spesies menjadi perwujudan nyata dari hubungan ekologis antara manusia dan hutan. Arboretum Mini RKW 10 Bawean diharapkan mampu menjadi laboratorium alam terbuka, tempat siswa sekolah, peneliti muda, dan masyarakat desa bisa belajar langsung mengenal tumbuhan asli Bawean. Melalui daun, batang, dan aroma, mereka belajar membaca “bahasa hutan” yang selama ini hanya terdengar samar dari kejauhan. Menyemai Pengetahuan, Menumbuhkan Kepedulian Kegiatan pembibitan ini dilakukan secara swadaya dan berbasis kolaborasi antara petugas lapangan dan masyarakat mitra. Prinsip konservasi tetap menjadi pegangan utama, pengambilan biji dan cabutan dilakukan secara selektif tanpa merusak populasi induk, disertai pencatatan detail mengenai lokasi dan waktu pengambilan. Bibit yang tumbuh nantinya akan berfungsi ganda, sebagai koleksi edukatif untuk pengenalan jenis tumbuhan hutan, sekaligus sumber bahan rehabilitasi vegetasi di kawasan konservasi dan desa penyangga. Ketika masyarakat bisa menyentuh daun, mencium aromanya, dan mengenal fungsinya, maka mereka juga sedang menanam rasa peduli. Dan dari rasa itulah hutan akan terus dijaga. “Konservasi tidak selalu harus dilakukan di dalam hutan,” tambah Nur Syamsi. Menjaga yang Tumbuh, Merawat yang Hidup Langkah kecil di halaman kantor RKW 10 Bawean adalah bagian dari upaya besar Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam memperkuat pendidikan konservasi berbasis masyarakat. Arboretum mini ini menjadi simbol bahwa pelestarian alam bisa dimulai dari sepetak tanah, asal disirami dengan cinta dan ketulusan. “Menanam bukan sekadar menumbuhkan batang dan daun, tetapi menumbuhkan kesadaran dan rasa hormat pada kehidupan yang lebih luas dari diri kita sendiri.” tegas Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur secara terpisah. Kini, di bawah cahaya matahari pagi yang lembut, polybag-polybag itu bukan hanya wadah tumbuhan, melainkan wadah harapan. Setiap tunas yang tumbuh di Arboretum Mini RKW 10 Bawean menjadi perpanjangan napas dari dedikasi panjang seorang penjaga hutan, sekaligus pesan dari alam bahwa kehidupan akan terus berlanjut selama manusia masih mau merawatnya. Setiap tunas adalah doa, setiap daun adalah pesan dari hutan untuk manusia, agar kita tidak lupa pada akar kehidupan yang telah memberi segalanya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Bertemu Jejak “Hantu” di Tepi Danau Kastoba Bawean

Bawean, 28 Oktober 2025. Langit Bawean pagi itu begitu cerah (26/10/25). Mentari menembus celah kanopi hutan, menyalakan warna hijau lembap di sekeliling Danau Kastoba. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua. Cuaca yang bersahabat itu menjadi saksi munculnya kisah baru dari jantung hutan Bawean, kisah tentang “hantu” yang tak menakutkan, melainkan mempesona yaitu anggrek hantu. Siapa yang tak mengenal Danau Kastoba, danau purba di Pulau Bawean yang terkenal karena keindahan dan misterinya? Airnya jernih, dikelilingi hutan tropis yang rapat, menjadi rumah bagi beragam kehidupan yang tersembunyi. Kastoba bukan sekadar cagar alam, ia adalah lanskap purba yang menyimpan jejak evolusi flora dan fauna, sekaligus ruang hidup bagi jenis-jenis langka yang bertahan dalam kesenyapan. Dalam suasana cerah itulah, tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melakukan kegiatan survei potensi distribusi Prunus arborea di kawasan Cagar Alam Pulau Bawean, khususnya di blok Kastoba. Namun, di sela aktivitas ilmiah tersebut, pandangan tim tertuju pada sesuatu yang nyaris tak terlihat, rangkaian akar kecil berwarna pucat kehijauan yang menggantung di batang pohon inang. Setelah diamati lebih dekat, bentuknya menyerupai Taeniophyllum sp., sejenis anggrek epifit mini tanpa daun yang juga pernah ditemukan di Cagar Alam Pulau Sempu beberapa waktu lalu. Keberadaan jenis ini kemungkinan menandakan kesamaan karakter ekologis antara Sempu dan Bawean, dua pulau berstatus Cagar Alam di sisi Selatan dan Utara Jawa Timur itu. Sama-sama memliki hutan lembap dengan kondisi mikrohabitat yang masih stabil. “Anggrek hantu” dari genus Taeniophyllum memang unik. Ia hampir tidak memiliki daun, batangnya sangat kecil, dan seluruh permukaannya didominasi akar berwarna hijau yang menempel di kulit pohon. Akar tersebut berfungsi ganda, menyerap air sekaligus melakukan fotosintesis. Bunga-bunganya muncul dari ujung akar, kecil, halus, namun memancarkan keindahan yang sederhana. Jenis ini hanya dapat bertahan di lingkungan yang memiliki kelembapan tinggi, sirkulasi udara lembut, dan pencahayaan redup, sebuah ciri khas ekosistem hutan dataran tinggi di sekitar Danau Kastoba. Penemuan Taeniophyllum sp. di Bawean menambah daftar kekayaan flora anggrek liar di kawasan Suaka Alam Pulau Bawean yang berada dibawah pengelolaan Balai Besar KSDA Jawa Timur, yang sebelumnya telah mencatat beberapa genus lainnya. Keberadaannya menjadi indikator bahwa kawasan hutan lembap di sekitar danau masih berfungsi optimal sebagai habitat mikro bagi spesies epifit langka, sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga tutupan vegetasi alami di sekitar sumber air. Lebih dari sekadar temuan ilmiah, anggrek mungil ini adalah simbol kesunyian yang hidup di tengah keramaian alam. Ia tumbuh tanpa banyak jejak, seolah melayang di udara, menjadi pengingat bahwa keindahan sejati alam sering bersembunyi di tempat-tempat yang tak terduga. Di balik air tenang Danau Kastoba, Bawean menyimpan rahasia kehidupan yang halus dan nyaris tak terlihat. Dan di sana, di antara akar dan embun pagi, “hantu” itu menampakkan diri, bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengingatkan kita bahwa setiap kehidupan, sekecil apa pun, memiliki peran penting dalam menjaga harmoni ekosistem. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Mengenal Gajah Sumatera Lebih Dekat, Ratusan Siswa Kunjungi ANECC

Mahout sedang memperkenalkan anatomi tubuh gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) Simalungun, 27 Oktober 2025 – Suasana penuh keceriaan dan penuh semangat tampak di kawasan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Simalungun. Ratusan pelajar dari berbagai sekolah berkunjung dalam kegiatan edukasi konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)-satwa endemik yang kini berstatus terancam punah. Kegiatan ini diawali dengan kunjungan 177 siswa-siswi MIS Bhakti Mandiri Pematangsiantar pada 11 Oktober 2025, didampingi oleh Kepala Sekolah Zainul Abdillah Situmorang, S.Pd.I, para guru, dan orang tua murid. Dalam kunjungan tersebut, para siswa mendapat kesempatan istimewa mengenal langsung empat gajah penghuni ANECC, yaitu Luis Vigo, Ester, Siti, dan Vini. Dengan bimbingan para mahout (pawang gajah), para siswa belajar mengenali perilaku alami gajah, cara pemeliharaan, serta pentingnya melindungi satwa endemik Sumatera yang kini berstatus terancam punah ini. Mereka juga antusias mengikuti kegiatan interaktif seperti pemotongan kuku gajah, pengukuran berat badan manual dan pengamatan perilaku gajah sehari-hari. Antusiasme pelajar tidak berhenti di sana. Kegiatan serupa berlanjut pada 15 Oktober 2025, saat 70 siswa SMA Swasta Singosari Delitua datang berkunjung, disusul oleh 50 siswa TK IT Al-Minhaj Ismalic School Simalungun pada 16 Oktober 2025. Semua peserta terlihat bersemangat dan aktif bertanya selama proses pembelajaran konservasi berlangsung. Menurut Kepala Resor ANECC dan CA Batu Gajah, Bobby Purba, kegiatan edukasi semacam ini menjadi cara efektif untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. “Konservasi adalah upaya pelestarian, pemeliharaaan, dan perlindungan agar tidak rusak atau musnah, sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan oleh generasi mendatang,” jelasnya. Bobby menambahkan bahwa ANECC berfokus pada pemeliharaan dan pengembangan populasi gajah jinak sebagai stok genetik, dan tahapan pemeliharaan yang sesuai dengan kebutuhan gajah jinak yang dikemas dalam bentuk paket edukasi konservasi agar masyarakat dan pelajar dapat belajar langsung mengenai upaya pelestarian Gajah Sumatera. Selain kegiatan bersama gajah, ANECC juga memperkenalkan demplot budidaya anggrek dan kantong semar kepada para pengunjung. Kedua tanaman ini berasal dari kawasan KHDTK Aek Nauli yang dikoleksi dan dirawat secara intensif sebagai bagian dari upaya untuk menjaga keanekaragaman hayati dan menjadi sarana edukasi tambahan bagi pelajar. Melalui kegiatan edukasi yang dikemas menarik ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara berharap dapat menumbuhkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap alam sejak usia dini, sekaligus memperkuat peran ANECC sebagai tempat belajar sekaligus menjaga kekayaan hayati Indonesia. Sumber: Resor ANECC dan CA Batu Gajah - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Patroli Pencegahan Karhutla di CA. Gunung Picis dan CA. Gunung Sigogor

Ponorogo, 27 Oktober 2025. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, kembali melaksanakan kegiatan Patroli Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di dua kawasan konservasi penting, Cagar Alam (CA) Gunung Picis dan CA. Gunung Sigogor. Kegiatan tersebut digelar pada 22 hingga 24 Oktober 2025. Dua tim patroli diterjunkan secara terpisah untuk menyusuri jalur-jalur rawan kebakaran di kedua kawasan yang berada di lereng pegunungan Wilis ini. Hasilnya, tidak ditemukan adanya titik api maupun tanda-tanda kebakaran, berkat kondisi cuaca yang lembab setelah hujan beberapa hari terakhir. Kelembaban seresah di kedua kawasan masih cukup baik. Patroli di CA Gunung Picis berfokus pada Blok Sangubanyu dan Blok Trungo, dengan luas sekitar 3,75 hektare, yang berbatasan langsung dengan hutan produksi Perhutani BKPH Wilis Barat. Kawasan ini sering dilintasi masyarakat untuk mencari pakan ternak dan menyadap getah Pinus, aktivitas yang kerap menjadi potensi awal kebakaran saat musim kemarau panjang. Di sepanjang jalur, tim mencatat keberadaan vegetasi khas pegunungan Jawa Timur, antara lain Pinus (Pinus merkusii), Morosowo, Cemara gunung, Puspo, Pasang, dan Suren. Serasah kering daun pinus dan puspo tampak menumpuk di lantai hutan, namun masih cukup lembab berkat curah hujan yang menjaga keseimbangan mikroklimat kawasan. Sementara itu, tim kedua yang bertugas di CA Gunung Sigogor melakukan patroli di Blok Wates dan Blok Kantil, dengan area pengamatan sekitar 4,5 hektare. Vegetasi di kawasan ini didominasi oleh Pinus, Bambu, Puspo, Kemaduh, dan Pasang. Hasil uji remas seresah juga menunjukkan tingkat kelembaban yang baik, serasah patah tanpa hancur, menandakan kadar air masih cukup tinggi. Selain memastikan kondisi ekologi kawasan, kegiatan patroli ini juga menjadi momen penting bagi petugas untuk melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat sekitar. Tim memberikan pemahaman tentang bahaya kebakaran hutan dan pentingnya menjaga kelestarian kawasan konservasi bersama-sama. Pendekatan partisipatif ini menjadi kunci keberhasilan pencegahan kebakaran di wilayah konservasi. Masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam di sekitar hutan, menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem tetap aman dari api. Gunung Picis dan Gunung Sigogor adalah dua benteng terakhir hutan pegunungan asli di gugus Wilis Selatan, menyimpan berbagai jenis flora dan fauna penting yang menjadi penanda kesehatan ekosistem Jawa Timur bagian barat. Patroli ini bukan hanya tentang mencegah api, tetapi tentang menjaga kehidupan yang tersembunyi di balik lembabnya seresah, dari mikroba tanah hingga tegakan pohon besar yang menopang keanekaragaman hayati kawasan. Ketika seresah tetap lembab, kehidupan di lantai hutan tetap berdenyut. Di situlah, keseimbangan alam dijaga, dan api dicegah bahkan sebelum ia sempat lahir. Kegiatan patroli pencegahan kebakaran di CA Gunung Picis dan CA Gunung Sigogor ini merupakan bagian dari strategi pengelolaan adaptif Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam menjaga integritas ekosistem hutan konservasi di tengah perubahan iklim. Sinergi antara petugas lapangan, masyarakat sekitar, dan kondisi alam yang mendukung menjadi faktor penting dalam memastikan kedua kawasan tetap lestari, menjaga paru-paru hijau pegunungan Wilis agar terus bernafas untuk kehidupan yang lebih panjang. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Lebih dari Sekadar Bunga Keraton! Mengapa Wijayakusuma Menentukan Nasib Pulau Kecil?

Bawean, 27 Oktober 2025. Langit Bawean berwarna kelabu, dan rintik hujan pelan berubah menjadi deras ketika tim SMART Patrol melangkah ke jantung Cagar Alam Pulau Nusa, Desa Teluk Jati Dawang, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik (22/10/2025). Pulau mungil seluas 3,216 Ha itu tampak sunyi; sebuah pulau batuan, tanpa tanah, tanpa aliran sungai, hanya dikelilingi karang hitam dan ombak yang terus menggerus. Di bawah guyuran hujan, langkah tim Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah 10 Bawean, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari, serta mahasiswa magang dari dari Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, terpukau dengan temuan yang menakjubkan. Substrat batuan membentuk pondasi kehidupan di Cagar Alam Pulau Nusa. Dalam kondisi seekstrem seperti itu, hanya spesies tertentu yang mampu bertahan, dan Wijaya Kusuma (Pisonia grandis) adalah salah satunya. Tumbuhan ini membentuk struktur tajuk yang lebar melalui percabangan yang banyak dari pangkal, menjadi tempat berteduh yang ideal bagi burung-burung laut sekaligus sumber humus alami ketika daunnya gugur dan terurai. Akarnya memecah celah batuan, menambatkan kehidupan di bebatuan yang seolah tak memberi harapan. Pisonia grandis adalah spesies pantai tropika yang umum dijumpai di pulau-pulau karang. Keunikan utamanya terletak pada biji yang lengket, yang menempel pada bulu atau kaki burung laut, sehingga memudahkannya tersebar antar pulau. Fenomena ini menjadikan Pisonia sebagai penyambung ekosistem pulau-pulau kecil, penanda konektivitas ekologis di atas lautan luas. Vegetasi Pisonia sering ditemukan berdekatan dengan koloni burung laut. Burung membawa bijinya, sementara kotoran burung memperkaya nutrisi pulau yang miskin unsur hara. Hubungan ini membentuk siklus alami yang saling menguntungkan, tanpa burung, Pisonia tak bisa memencar, tanpa Pisonia, burung kehilangan tempat bersarang. Di Pulau Nusa, pohon-pohon wijayakusuma berdiri sebagai penanda harmoni itu. Mereka bukan sekadar tumbuhan perintis, mereka adalah penjaga pulau, yang menstabilkan substrat, menahan abrasi, dan menyediakan pakan sekaligus habitat bagi kehidupan lain. Dari Bunga Keraton ke Laboratorium Alam Nama “Wijayakusuma” memberi dimensi budaya tersendiri. Dalam tradisi Jawa, bunga ini diyakini sebagai lambang kebijaksanaan, kejayaan, dan kehidupan abadi, bunga yang konon hanya mekar di malam hari, membawa aura sakral bagi siapa pun yang menyaksikannya. Namun di Pulau Nusa, mitos itu menemukan bentuk ilmiahnya, keabadian yang dimaksud bukan pada bunganya, melainkan pada perannya menjaga keseimbangan ekosistem. Beberapa informasi sebelumnya menyoroti keberadaan Wijayakusuma hanya ada di dua pulau karang kawasan Nusakambangan itu, yakni Pulau Majeti dan Pulau Wijayakusuma, Jawa Tengah. Hal tersebut menegaskan betapa simbol ini melekat di benak masyarakat Indonesia. Namun, temuan di Pulau Nusa, Bawean, Gresik membawa makna baru, bukan sekadar bunga keraton yang indah, melainkan penjaga kehidupan di pulau batu yang rapuh. Hujan kembali mengguyur saat tim mencatat hasil pengamatan terakhir hari itu. Air menetes melalui daun wijayakusuma, mengalir ke menuju akar yang menembus batuan. Semua tampak sederhana, hanya pohon dan hujan, tetapi di baliknya tersimpan kisah tentang daya tahan, ketergantungan, dan keselarasan yang membentuk wajah pulau kecil Indonesia. Catatan 27 individu Wijayakusuma di Pulau Nusa menjadi data penting bagi konservasi jangka panjang. Ia menandai, meski kecil dan terpencil, pulau karang ini hidup dan produktif. Pulau Nusa adalah contoh mikro-ekosistem di mana setiap unsur, burung, batuan, hujan, dan pohon, saling terhubung. Menjaga satu artinya menjaga semuanya. Bagi tim SMART Patrol, hari itu bukan sekadar pendataan. Itu adalah pengingat bahwa konservasi bukan tentang skala luas, melainkan ketulusan menjaga yang kecil agar tetap berarti. Di bawah hujan deras, tegakan Wijayakusuma berdiri tenang. Mereka tidak membutuhkan tanah subur untuk hidup, cukup kesetiaan burung, air hujan, dan waktu. Di Pulau Nusa, konservasi menemukan maknanya yang paling murni, menjaga keseimbangan antara karang, laut, dan kehidupan yang tumbuh diam-diam di tengah badai. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penyusunan Master Plan Ibu Kota Sofifi : Bappenas dan World Bank Kunjungi TN Aketajawe Lolobata

Ake Jawi, 24 Oktober 2025– Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama World Bank melakukan kunjungan lapangan ke Resor Ake Jawi, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Subaim, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTN Ajalo). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengambilan data tahap pertama dalam rangka penyusunan Master Plan Ibu Kota Sofifi, Maluku Utara. Kunjungan tersebut dipimpin oleh Direktur Pengembangan Wilayah Timur Regional III, Ika Retna Wulandary, S.T., M.Sc., sebagai tindak lanjut dari kunjungan sebelumnya oleh Deputi Pembangunan Kawasan Bappenas. Resor Ake Jawi terpilih sebagai salah satu lokasi strategis yang masuk dalam perencanaan pengembangan Master Plan Ibu Kota Sofifi karena letaknya yang sejalan dengan pembangunan jalan Trans Kie Raha di wilayah Ekor. Selama kunjungan, Tim melakukan pengumpulan informasi berupa potensi objek daya tarik wisata alam, potensi flora dan fauna, keberadaan infrastruktur penunjang, dan intensitas kunjungan wisatawan. Tim juga mewawancarai Bapak Mahroji, salah satu pemandu wisata di Resor Ake Jawi untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai aktivitas wisata di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Selain melakukan wawancara dan diskusi, tim Bappenas dan World Bank turut meminta data Master Plan TNAL serta data kunjungan wisatawan tahun 2025 guna mendukung proses sinkronisasi data perencanaan yang disusun. Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal yang penting dalam memastikan potensi lingkungan dan pariwisata alam di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata dapat terintegrasi secara berkelanjutan dalam perencanaan pengembangan Ibu Kota Sofifi. Sumber: Tim Medsos Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Memperkuat Baseline Kondisi Mangrove SM. Karang Gading Langkat Timur Laut

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara memberi arahan pada kegiatan Paparan Hasil Kajian Kualitas Mangrove Alami dan Penilaian Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove pada kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut Medan, 23 Oktober 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan kegiatan Paparan Hasil Kajian Kualitas Mangrove Alami dan Penilaian Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove pada Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut di Hotel Grandhika, Medan, pada Kamis (23/10/2024). Sebelumnya, penilaian keberhasilan penanaman mangrove dilaksanakan berdasar pada kegiatan pemulihan ekosistem dari tahun 2014 sampai 2024 dengan tujuan untuk mengetahui persentase keberhasilan penanaman dan persentase kegagalan penanaman. Persentase kegagalan akan menjadi dasar kegiatan penanaman kembali dengan legal berita acara kegagalan penanaman. Persentase keberhasilan penanaman menjadi dasar keberhasilan penanaman mangrove secara nasional. Sementara itu, kajian kualitas mangrove merupakan proses penilaian kondisi ekosistem mangrove, baik yang alami maupun yang terdampak aktivitas manusia, untuk mengetahui tingkat kesehatan, produktivitas, dan fungsi ekologisnya. Kajian ini penting untuk konservasi, restorasi, dan pengelolaan berkelanjutan ekosistem mangrove. Kajian kualitas mangrove alami bertujuan untuk menilai kondisi ekosistem mangrove yang tumbuh alami dari segi fisik, kimia, biologi, dan fungsi ekologisnya. Kajian kualitas mangrove dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan: aspek fisik, aspek kimia, aspek biologi, dan aspek fungsi ekologis. Kajian perlu dilakukan untuk menilai kondisi ekosistem mangrove, baik yang alami maupun yang terdampak aktivitas manusia, untuk mengetahui tingkat kesehatan, produktivitas, dan fungsi ekologisnya. Kajian ini nantinya untuk konservasi, restorasi, dan pengelolaan berkelanjutan ekosistem mangrove. Acara paparan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP.,M.Env., dilanjutkan dengan pemaparan Hasil Kajian Kualitas Mangrove Alami dan Penilaian Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove Pada Kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut oleh beberapa narasumber seperti : Prof. Mohammad Basyuni, S.Hut., M.Si., Ph.D. dari Universitas Sumatera Utara, Prof. Catur Retnaningtyas dari Universitas Brawijaya Malang, Markus Sianturi, S.Si., M.Si. dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Amenson Girsang, SP., MH. Diakhir paparan dilakukan tanggapan oleh beberapa lembaga mitra dan penanggap dari akademisi Universitas Sumatera Utara, Onrizal, S.Hut., M.Si., Ph.D. Beberapa poin penting dari pertemuan tersebut, diantaranya bahwa kegiatan ini diharapkan sebagai baseline (data acuan) akan kondisi mangrove di SM. Karang Gading Langkat Timur Laut dari segi ekologi, biofisik dan kimia. Untuk kegiatan rehabilitasi mangrove kedepan, langkah pertama adalah menangani/mengatasi apa yang menjadi faktor gangguan/kendala/permasalahan, serta perlu dilakukan pemantauan dan pemeliharaan tanaman secara regular. Foto Bersama seluruh peserta Pertemuan yang bermanfaat ini diharapkan menjadi media komunikasi dan koordinasi kedepannya dalam meningkatkan keberhasilan kegiatan rehabilitasi pemulihan ekosistem kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Cerita tentang Harapan dan Kepedulian Alam di Tulungagung

Tulungagung, 20 Oktober 2025. Di antara pekarangan rumah warga di Desa Buntaran, Kecamatan Rojotangan, Kabupaten Tulungagung, seekor trenggiling Jawa (Manis javanica) tampak menggulung dalam diam. Mamalia bersisik keras ini mungkin sedang mencari perlindungan ketika langkah-langkah manusia mendekat. Namun, alih-alih ancaman, kali ini yang datang adalah uluran tangan penyelamat. Adalah Anis Rizal Falinuha, warga setempat, yang menjadi pahlawan kecil bagi satwa langka ini. Ia menemukan trenggiling itu di halaman rumahnya pada Minggu, 19 Oktober 2025, dan tanpa ragu segera melaporkannya kepada pihak berwenang. Keesokan harinya, Tim Penyelamatan Satwa Liar (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), bergerak cepat menuju lokasi setelah menerima laporan tersebut. Setiba di lokasi, tim melakukan pemeriksaan terhadap kondisi satwa. Trenggiling itu tampak sehat, tanpa luka atau tanda stres berarti. Kondisi fisiologisnya baik, nafsu geraknya normal. Ini indikasi bahwa satwa masih layak dilepasliarkan. Setelah memastikan semua aspek keselamatan, tim Matawali bersama warga melakukan prosesi kecil yang bermakna besar, pelepasan trenggiling kembali ke alam di kawasan Gunung Klotok, Kediri, pada Senin, 20 Oktober 2025. Kawasan berhutan dengan tutupan vegetasi yang masih baik itu menjadi rumah yang aman bagi trenggiling, jauh dari ancaman manusia dan jerat perburuan. Pelepasliaran ini, menandai komitmen nyata Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam menjaga kehidupan liar tetap lestari. Trenggiling Jawa merupakan salah satu satwa paling terancam di dunia. Menurut IUCN Red List, spesies ini berstatus Critically Endangered (Kritis) akibat perburuan dan perdagangan ilegal yang masif untuk diambil sisiknya dan dijadikan bahan obat tradisional. Indonesia menjadi salah satu habitat terakhir bagi spesies unik ini di Asia Tenggara. Namun di tengah kabar suram tentang perburuan dan perdagangan, kisah dari Tulungagung ini membawa setitik cahaya. Kepedulian warga seperti Anis Rizal menjadi simbol bahwa konservasi bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab bersama, mulai dari pekarangan rumah hingga bentang hutan terakhir. BBKSDA Jawa Timur menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kepedulian masyarakat terhadap satwa liar yang dilindungi. Kepedulian untuk melapor dan tidak mencoba memelihara satwa tersebut. Kepedulian seperti ini adalah pondasi penting bagi kelestarian keanekaragaman hayati kita. Kisah sederhana ini menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar tindakan besar di lapangan, tetapi juga tentang keputusan kecil yang menyelamatkan kehidupan. Dari tangan warga yang peduli hingga tim Matawali yang sigap, trenggiling itu kini kembali menggali tanah, mencari semut di bawah lindungan pepohonan Gunung Klotok, di rumah sejatinya, di alam yang terus dijaga bersama. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 97–112 dari 11.091 publikasi