Jumat, 2 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Ganti Tahun, Pendakian Merapi Hanya sampai Pasar Bubar

Yogyakarta - Para pendaki yang akan ke Gunung Merapi di penghujung tahun, tidak diperbolehkan mendaki hingga ke puncak. Sebab, meskipun status gunung aktif itu normal, masih banyak bebatuan yang labil dan membahayakan jika diinjak. Lagi pula, hujan yang sering mengguyur puncak gunung bisa melepaskan bebatuan yang ada di sekitar kawah. "Pendaki tetap hanya diperbolehkan hingga sampai Pos Pasar Bubar, tidak boleh ke atasnya. Ikuti petunjuk dan jalur yang sudah dibuat," kata Kusdaryanto, Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta, Jumat, 25 Desember 2015. Ia menambahkan, pihak Taman Nasional Gunung Merapi telah membuat jalur pendakian. Jalur itu juga diberi petunjuk, tujuannya supaya para pendaki aman dari bahaya yang sewaktu-waktu muncul. Menurut Kusdaryanto, saat ini tidak ada kenaikan aktivitas gunung api aktif itu. Baik dari sisi seismik maupun deformasinya. Namun memang ada gempa guguran beberapa kali dalam satu pekan. Itu sangat normal untuk aktivitas gunung api yang sangat aktif ini. Soal keluarnya asap dari puncak gunung atau kawah, itu juga normal untuk ukuran gunung api aktif. Akhir-akhir ini memang gunung Merapi sering mengembuskan asap. Asap itu hanya berupa uap air akibat hujan yang mengguyur kawah. "Karena ada tekanan gas dari dalam dan kawah sudah ada retakan sehingga terlepas," katanya. Pihak Taman Nasional Gunung Merapi menyatakan pada pergantian tahun ini, pihaknya akan membatasi jumlah pendaki, yaitu hanya 2.500 orang. Pembatasan itu juga sudah dikoordinasikan dengan pihak tim pencari dan penyelamat (search and rescue). "Semua pendaki harus melalui pos pemeriksaan. Selain akan dibatasi juga akan didata siapa saja yang mendaki," kata Kepala Subbagian Tata Usaha Taman Nasional Gunung Merapi Tri Atmojo. Pos pendakian ada di Pos Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Para pendaki diminta untuk menyiapkan segala sesuatu untuk pendakian. Selain fisik yang sehat juga bekal dan alat-alat penunjang pendakian apalagi setiap hari terjadi hujan. Sumber: traveltempo.co
Baca Berita

Ratusan Orang Utan Akan Dilepasliarkan di Tanjung Puting

Pangkalan Bun - Dua ekor orang utan yang dipasangi telemetri, semacam penanda posisi yang bisa dilacak, dilepasliarkan di Daerah Penyangga Taman Nasional Tanjung Puting, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pertengahan Desember 2015. Mereka adalah dua ekor pejantan bernama Tyson dan Eka yang telah direhabilitasi oleh lembaga konservasi Orangutan Foundation International (OFI). Satu dekade silam, kedua orang utan ini diambil dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di pulau ini. Suasana pelepasliaran sempat menegangkan. Ketika Eka dilepas dari kandang, dia sempat mengamuk dan menghancurkan kandangnya. Eka tiba-tiba menghampiri kerumunan, termasuk wartawan yang menyaksikan pelepasliaran. Seorang petugas berteriak, "Lari Bu, lari!". Hal itu membuat semua orang berhamburan menyelamatkan diri, termasuk petugas satwa. "Biasanya dia mengincar kaki, dipegang bahkan digigit, dan sulit dilepas," tegas Ketut Prasojo, dokter hewan dari OFI. Namun suasana tegang tersebut segera berlalu setelah petugas berhasil mengarahkan Eka ke dalam hutan. Menurut pendiri OFI yang juga telah meneliti orang utan selama 44 tahun, Prof Dr Birute Mary Galdikas, sikap Eka menjadi agresif karena tidak terbiasa melihat banyak orang dan bingung saat berada di lingkungan baru. Program pelepasliaran orang utan ini merupakan kerja sama OFI dengan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (Smart) Tbk yang terjalin sejak 2011. Mereka menargetkan untuk melepasliarkan seratus ekor orang utan hingga 2017. Hingga kini setidaknya 50 orang utan sudah dikembalikan ke habitat aslinya. "Kita berkomitmen untuk melindungi satwa langka yang terancam punah beserta ekosistemnya," kata Direktur Utama Smart Daud Dharshono. Birute menegaskan bahwa kebun sawit adalah ancaman terbesar habitat orang utan. Lalu mengapa dia dan OFI tetap bermitra dengan perusahaan sawit besar seperti Sinar Mas? Birute mengaku tertarik dengan komitmen perusahaan itu menjalankan kebijakan 'zero tolerance'. Kebijakan ini tidak mengizinkan perusahaan melakukan tindakan yang mengancam keberlangsungan hidup orang utan. "Kami kerja sama karena mereka (Smart) sepertinya ada maksud untuk tidak merusak hutan rimba lagi," kata Birute. Sumber: Nasional.tempo.co
Baca Berita

Polisi Hutan bakar 22 pondok perambah TNKS

Rejanglebong - Tim gabungan Polisi Kehutanan (Polhut) Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) wilayah VI Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu, dibantu aparat keamanan membakar 22 pondok milik perambah kawasan itu. Kepala Seksi Wilayah VI TNKS Rejanglebong, M. Mahfud, Jumat, menjelaskan bahwa 22 pondok yang dimusnahkan tim gabungan Polhut TNKS, Polres, Kodim 0409 Rejanglebong, Kejari Curup dan Dishutbun Rejanglebong tersebut ditemukan di dua lokasi berbeda yakni di Kawasan Desa Mojorejo Kecamatan Selupu Rejang dan kawasan Trans Bukit Batu di Kecamatan Padang Ulak Tanding. "Pondok yang dimusnahkan ini milik perambah di kawasan TNKS yang ditemukan tim gabungan dalam operasi yang dilaksanakan dari tanggal 21 sampai 23 Desember kemarin di dua lokasi berbeda," katanya. Pondok milik para perambah kawasan TNKS itu, menurut dia, sebagian besar baru dibuat, sedangkan tanaman kopi yang mereka tanam juga baru berbuah. Hal ini terlihat dengan belum meratanya tanaman yang ada di masing-masing lahan TNKS yang dijadikan kebun kopi itu. Operasi tim gabungan yang melibat lebih dari 50 personil ini tambah dia, dibagi menjadi dua tim yakni di kawasan Desa Mojorejo Kecamatan Selupu Rejang dan menemukan 22 pondok dan puluhan hektare kebun kopi yang selanjutnya ditebas untuk ditanami kembali dengan berbagai jenis tanaman kayu. Satu tim lainnya menyisir kawasan Trans Bukit Batu Kecamatan Padang Ulak Tanding, namun dilokasi ini tidak ditemukan pondok perambah dan hanya menemukan lahan yang sudah dirambah guna dijadikan kebun kopi. "Di kawasan Trans Bukit Batu kami tidak menemukan pondok perambah, dilokasi ini petugas mendapati seorang perambah, namun kondisinya sedang sakit sehingga hanya diberikan pembinaan agar tidak melakukan perbuatannya lagi," ujarnya. Kawasan TNKS yang sudah dirambah itu, dikemukakannya, sebagian besar dilakukan pendatang dengan cakupan wilayah mencapai puluhan hektare. Dalam menjalankan aksinya para perambah ini melakukan hanya menebangi berbagai jenis kayu dan membiarkannya membusuk yang selanjutnya dijadikan kebun kopi. Oleh karena itu, ia menyatakan, pihaknya akan mengintensifkan patroli pengamanan kawasan TNKS guna mencegah terjadi perambahan dan kasus pembalakan liar. Selain itu, ia menambahkan, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi ke masyarakat sekitar kawasan TNKS agar pro-aktif menjaga kelestarian hutan di wilayah mereka. Sumber: www.antaranews.com

Menampilkan 11.089–11.091 dari 11.091 publikasi