Kamis, 28 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai KSDA Maluku Gagalkan Penyeludupan Satwa Liar

Kamis, 9 Maret 2017. Balai KSDA Maluku bekerjasama dengan Polres Halmahera berhasil menggagalkan penyelundupan satwa liar yang terjadi di dua kapal yang bersandar di Pelabuhan Pasar Baru Babang dan Pelabuhan Saketa. Kapal pertama yang berhasil diamankan yaitu KLM. HASRAT JAYA yang sedang sandar di Pelabuhan Pasar Baru Babang yang ditemukan beberapa burung dilindungi milik ABK KLM. HASRAT JAYA yang dibeli dari pesisir pulau Halmahera dan akan dibawa ke Kab. Bone Prov. Sulawesi Selatan dengan menggunakan kapal tersebut. Petugas juga telah mengamankan 2 (dua) orang saksi berinisial SS dan AK dan barang bukti berupa KLM. HASRAT JAYA (TKP di desa Babang Kec. Bacan Timur Selatan, Kab. Halsel), 39 ekor satwa yang terdiri dari 28 ekor Perkici Violet (Eos squamata) dan 11 ekor Bayan (Eclectus roratus). Dari hasil pemeriksaan, petugas mengamankan 3 (tiga) orang berinisial HP, MF dan calon tersangka lainnya masih dalam proses penyidikan. Kapal kedua yang berhasil diamankan yaitu kapal Tunda (Tug Boat) MRP 15 Samarinda (TKP di desa Saketa, kec. Gane barat, kab. Halsel) yang sedang bersandar di pelabuhan Saketa dan ditemukan beberapa burung dilindungi milik ABK kapal tunda MRP 15 Samarinda yang di beli dari kec. Agats, kab. Asmat, prov. Papua (Nuri kepala hitam dan kakatua jambul kuning) dan desa saketa, kec. Gane barat, kab. Halsel (Nuri ternate dan kakatua jambul putih) dan akan dibawa kerumah masing -masing ABK dengan menggunakan kapal tersebut. Petugas telah melakukan pemeriksaan terhadap 2 (dua) orang saksi inisial ES dan BB serta mengamankan barang bukti Kapal Tunda (Tug Boat) MRP. 15 Samarinda, 18 ekor satwa yang terdiri dari 11 ekor nuri kepala hitam, 2 ekor kakatua jambul kuning, 3 ekor nuri ternate dan 2 ekor kakatua jambul putih. Total burung dari hasil penangkapan sebanyak 57 ekor dengan 6 jenis burung antara lain Perkici Violet (Eos squamata) dari maluku utara yang tidak dilindungi, Bayan (Eclectus roratus) dari maluku utara yang dilindungi, Kakatua Jambul Kuning (Cacatua galerita) dari papua yang dilindungi, Kakatua Jambul Putih (Cacatua alba) dari maluku utara yang tidak dilindungi, Nuri Kepala Hitam (Lorius lory) dari papua yang dilindungi dan Nuri Ternate (Lorius garrulous) dari maluku utara tidak yang dilindungi. Dari hasil tangkapan tersebut yang dilindungi sebanyak 28 ekor dan yang tidak dilindungi sebanyak 29 ekor. Untuk calon tersangka masih dalam penyidikan lebih lanjut serta barang bukti satwa telah diamankan di Kantor Resort Bacan - obi kab Halmahera Selatan yang akan ditangani langsung oleh penyidik POLRES Halmahera Selatan. Sumber Info : Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Peringati Hari Bakti Rimbawan BBKSDA Papua Lepaskan 600 Arwana

Merauke (13/3/2017). Dalam rangka Hari Bhakti Rimbawan, pada tanggal 8 Maret 2017 Balai Besar KSDA Papua bersama-sama Asosiasi Pengusaha Ikan Kaloso Papua (APIKAP), Kantor Karantina Ikan Kabupaten Merauke dan Satgas TNI Pengamanan Perbatasan RI-PNG melaksanakan kegiatan pengembalian ke habitat alam (Restocking) jenis Ikan Arwana Irian (Scleropages jardinii) di Kali Wanggo Kabupaten Merauke, Kali Wanggo dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena merupakan salah satu daerah habitat asli dari jenis Ikan Arwana Irian di Kabupaten Merauke. Ikan Arwana Irian (Scleropages jardinii) yang dilepaskan kembali ke habitatnya sebanyak 600 ekor dengan ukuran panjang ± 15 cm dan berasal dari pembesaran anakan selama 5 bulan yang dilakukan oleh suplayer (pengumpul) Ikan Arwana Irian yang berada di Kabupaten Merauke. Menurut Kepala Balai Besar KSDA Papua (Ir. M.G. Nababan) “Restocking ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga populasi Ikan Arwana Irian di habitat alam yang merupakan bagian dari kegiatan manajemen populasi yang telah berlangsung selama 4 (empat) tahun terakhir dengan jumlah yang sudah direstocking sebanyak 2.400 ekor dan diharapkan keberadaan Ikan Arwana Irian (Scleropages jardinii) dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat Papua sebagai sumber ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang telah berlangsung sejak tahun 2001”. Ikan Arwana tersebut sebelum dikembalikan ke habitatnya telah diperiksa kesehatannya oleh Kantor Karantina Ikan Kabupaten Merauke agar tidak membawa penyakit dan menularkannya kepada jenis lain di alam. Pemantauan/survey monitoring populasi Ikan Arwana Irian dilaksanakan setiap tahun oleh Balai Besar KSDA Papua maupun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Kabupaten Merauke. Pemantauan/Survey monitoring populasi yang dilakukan Balai Besar KSDA Papua dengan metode tidak langsung (pendugaan awal) di Kampung Erambo dan Toray (Kali Wanggo, Kali Maro dan Kali Barki) pada tahun 2013 sebanyak 33.461 ekor anakan dan 2014 sebanyak 41.885 ekor anakan, sehingga peningkatan pendugaan populasi Ikan Arwana Irian di wilayah tersebut adalah sebesar 25 %.
Baca Berita

BKSDA Sumsel Gagalkan Perdagangan Satwa

Minggu, 12 Maret 2017. Dini hari pukul 00.19 WIB, Polres Banyuasin dan Balai KSDA Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) telah menggagalkan kegiatan perdagangan satwa liar di Jl. Palembang Betung Km.15 Sukajadi Kec. Talang Kelapa, Kab. Banyuasin Prov. Sumsel. Dari proses kegiatan ini, petugas Balai KSDA Sumsel dan Polres Banyuasin mengamankan 1 (satu) orang tersangka atas nama Paras Pardomuan (32 tahun) warga Desa Sipolo Polo, Kec. Sipolo Polo Kab. Mandailing Natal, Medan yang merupakan supir Bis ALS. Petugas juga mengamankan barang bukti berupa 1 (satu) ekor Kakatua Maluku, 4 (empat) ekor Kangguru, 2 (dua) Tupai Jelarang dan Bis ALS dengan nopol BK 7325 DI tujuan Jakarta - Medan. Saat ini tersangka dan barang bukti diamankan di Kantor Polsek Talang Kelapa, Banyuasin untuk proses penyidikan lebih lanjut. Sumber Info: Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Penanaman Mangrove TN Matalawa

Penanaman Mangrove dan Program Pengembangan Energi Terbarukan Bersama Tasya Kamila dalam Rangkaian Kegiatan Memperingati Hari Bakti Rimbawan dan Hari Hutan Internasional TN MaTaLaWa Minggu, 12 Maret 2017. Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MaTaLaWa) bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Timur melaksanakan kegiatan penanaman bibit bakau (Rhizophora sp.) sebanyak 2000 anakan. Penanaman dilakukan sepanjang sempadan Pantai Manubara dengan menggandeng pihak-pihak seperti UPTD KPH Sumba Timur, KORAMIL 1601-05 Sumba Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumba Timur, Balai Litbang Kupang, masyarakat lokal kampung Manubara, Yayasan Live Japan, Pramuka Sakawanabakti dan anak-anak sekolah minggu. Kegiatan penanaman pohon bakau ini bertujuan untuk merestorasi kawasan hutan Mangrove di Kota Waingapu yang saat ini kondisinya sangat mengkhawatirkan akibat kegiatan penebangan dan alih fungsi lahan. Keberadaan ekosistem hutan mangrove dikota Waingapu yang sangat penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, keberadaan hutan mangrove berfungsi sebagai penahan erosi dan abrasi air laut, sedangkan secara ekonomis keberadaannya dapat mendukung perekonomian lokal sebagai sumber pangan, papan, energi (Kayu bakar/arang) dan kedepannya sangat mungkin bisa dikembangkan sebagai tujuan destinasi pariwisata di Kabupaten Sumba Timur. Selain kegiatan pada hutan Mangrove, Balai TN MaTaLawa bersama dengan penyanyi cilik yang pernah melantunkan lagu anak-anak populer “Aku Anak Gembala” dan juga sekaligus sebagai Duta Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu Tasya Kamila bersilaturahmi dengan Bupati Sumba Timur dan berkunjung ke Desa Persiapan Tanggedu yang letaknya cukup terisolir dan masuk dalam Kecamatan Haharu. Tujuan dari kunjungan tersebut untuk mengembangkan program Desa Pro Iklim melalui peningkatan energi baru dan terbarukan dengan cara mengembangan biodiesel dari tanaman Jarak Pagar (Jatropa curcas). Pada kesempatan tersebut Tasya dibantu oleh Balai TN MaTaLaWa melakukan Focus Grup Discussion (FGD) kepada masyarakat Desa Tanggedu untuk menganalisis lebih jauh kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh masyarakat Desa Tanggedu yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 365 jiwa dalam mendukung program Desa Pro Iklim yang sejalan dengan visi dari Pemda Kabupaten Sumba Timur. Kedua rangkaian kegiatan tersebut masuk dalam kegiatan Hari Bakti Rimbawan dan Hari Hutan Internasional yang diselenggarakan oleh Balai TN MaTaLaWa sejak tanggal 12 sampai dengan 21 Maret 2017. Adapun rangkain kegiatan selanjutnya berturut-turut adalah tanggal 15 Maret 2017 melakukan kegiatan penanaman di lahan KHDTK dan kawasan hutan lindung Sumba Timur, tanggal 16 Maret 2017 Lomba keakraban antar instansi, tanggal 17 Maret 2017 jalan santai dan senam kebugaran, tanggal 18 Maret 2017 visit to school ke Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Waingapu, tanggal 19 Maret 2017 bersih sampah dan kampanye konservasi, tanggal 20 Maret 2017 pembagian bibit ke tujuh kantor pemerintahan, sekolah dan hotel. Puncak acara Hari Bakti Rimbawan dan Hari Hutan Internasional rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2017 malam hari yang akan dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur, Ketua DPRD, unsur Muspida dan beberapa instansi terkait lainnya. Sumber Info: Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Peresmian Sanctuary Kupu-kupu dan Helena Sky Bridge oleh Sekditjen KSDAE Kementerian LHK

Suaka Satwa (Sanctuary) Spesies Kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang berlokasi di kompleks Kawasan Wisata Bantimurung, dibuka secara resmi oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Sekditjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Herry Subagiadi. Peresmian ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 Maret 2017. Turut hadir pada acara peresmian ini Wakil Bupati Maros, A. Harmil Mattotorang, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros, Kepala Bappeda Maros, Ketua DPRD Maros, Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi Maluku, Kepala UPT lingkup Kemen LHK Sulawesi Selatan, perwakilan Kepala UPT Kemen LHK Sulawesi Tenggara, Sri Winenang, perwakilan Kepala UPT Kemen LHK Sulawesi Tengah, Sihabuddin, Kapolres Maros, Komandan Batalyon Infanteri Para Raider 433/Julusiri Kostrad, perwakilan Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan, Jajaran Muspida Kab. Maros dan Kab. Pangkep. Peresmian sanctuary tersebut menjadi bukti atas komitmen Pemerintah dalam upaya penyelamatan kupu-kupu sebagai spesies bendera (flag species) di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Disamping sebagai pusat study satwa endemik, Sanctuary Spesies Kupu-kupu juga menjadi alternatif objek daya tarik wisata yang menarik. Pada peresmian ini Wakil Bupati Maros menyampaikan sambutannya. “Kupu-kupu sudah menjadi icon Kabupaten Maros, yang sudah dikenal sampai ke mancanegara. Kami berharap konservasi dan wisata di masa mendatang dapat terus dikolaborasikan. Kami juga mengucapkan terima kasih atas kerjasama Kementerian LHK dalam hal ini TN Bantimurung Bulusaraung atas kerjasamanya selama ini dalam pengelolaan Kawasan Wisata Bantimurung” ucap A. Harmil Mattotorang. Pada kesempatan tersebut Sekditjen KSDAE menyampaikan dukungannya kepada Pemerintah Kabupaten Maros yang menjadikan kupu-kupu sebagai iconnya. “Kami mendukung Bantimurung sebagai The Kingdom of Butterfly dengan dibangunnya Sanctuary Spesies Kupu-kupu ini, kami berharap ke depan pengelolaan santuary ini dapat mencapai tujuannya sebagai pusat konservasi kupu-kupu, edukasi, dan ekowisata” ungkap Herry Subagiadi dalam sambutannya. Sanctuary Kupu-kupu yang dikelola oleh Balai TN Bantimurung Bulusaraung ini telah memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Terdapat dome kecil (60 m2) dan dome raksasa seluas 7.000 m2 sebagai sarana utama pengembangbiakan kupu-kupu, gedung laboratorium untuk aktivitas riset, display room untuk interpretasi serta jalan trail (650 meter), MCK, loket karcis, dan gerbang utama sebagai sarana pendukung dalam pelayanan kunjungan. Untuk meningkatkan fungsi sanctuary sebagai alternatif objek dan daya tarik wisata, dibangun dua menara di puncak dome raksasa yang dihubungkan dengan jembatan gantung. Jembatan gantung ini kemudian diberi nama Helena Sky Bridge. “Nama helena kami ambil dari nama salah satu diantara 21 jenis kupu-kupu yang dikembangbiakkan di sanctuary ini, Troides helena. Kupu-kupu ini juga termasuk jenis yang dilindungi sesuai PP no. 7 tahun 1999”, ungkap Sahdin Zunaidi, Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Helena Sky Bridge sebagai salah satu bagian dari pengelolaan Sanctuary Spesies Kupu-kupu telah menjadi wahana yang menarik dan menjadi trend baru kunjungan wisatawan ke kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Tak kurang dari 9.352 orang wisatawan (sampai dengan Maret 2017) berkunjung sejak diuji cobakan pada pertengahan Desember 2016 lalu. Melalui Pengembangan Sanctuary ini, diharapkan dapat mewujudkan tercapainya visi pengelolaan “TN Bantimurung Bulusaraung menjadi destinasi ekowisata karst dunia”. Ayo ke taman nasional, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (mael&usman/tnbabul). Penulis : Taufiq Ismail dan Usman Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Clean Up : Salah Satu Upaya Penanganan Masalah Sampah di TN.Bali Bali Barat

Bali Barat, 10 Maret 2017. Taman Nasional Bali Barat (TNBB) merupakan satu-satunya Taman Nasional yang ada di Bali. Image Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia juga berdampak pada laju peningkatan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke TNBB. Pada tahun 2016, jumlah kunjungan ke TNBB sebanyak 59.956 wisatawan, yang terdiri dari 19.688 orang wisatawan nusantara dan 40.268 wisatawan mancanegara. Salah satu konsekuensi negatif peningkatan jumlah pengunjung adalah sampah. Memang, sampah di kawasan TNBB tidak hanya bersumber dari pengunjung, namun juga dari masyarakat lokal dan sampah kiriman daerah lain yang terbawa arus laut. Jika tidak ditangani, sampah akan berdampak terhadap upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan jumlah pengunjung. Menyadari hal tersebut, Balai TNBB selalu berupaya menangani persoalan sampah. Salah satu upaya yang rutin dilakukan yakni kegiatan “clean up” atau bersih-bersih dengan selalu mengupayakan pelibatan masyarakat sekitar atau instansi terkait. Selain untuk meningkatkan dukungan terhadap pengelolaan TNBB, pelibatan pihak lain juga untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran serta peran serta berbagai pihak dalam pelestarian lingkungan. Dalam pelaksanaan “clean up”, selain aksi bersih-bersih, staf Balai TNBB selalu mengupayakan adanya diskusi dan penyuluhan/ kampanye/ sosialisasi terhadap masyarakat dan instansi lain. Sumber Info : Balai TN Bali Barat
Baca Berita

37Th Lovely TN Gunung Gede Pangrango (1980 – 2017)

Cibodas, 8 Maret 2017. Keberadaan TNGGP untuk pertama kali dituangkan dalam Pengumuman Menteri Pertanian Nomor: 811/Kpts/Um/II/1980 tanggal 6 Maret 1980 tentang Pengumuman 5 (Lima) Taman Nasional (TN) di Indonesia, yaitu; TN. Gunung Leuser, TN. Ujung Kulon, TN. Gunung Gede Pangrango, TN. Baluran, dan TN. Komodo. Sebagai kawasan konservasi, TNGGP memang sudah dikenal secara internasional sejak zaman dahulu, saat para pengembara barat (para peneliti botani Belanda) mampir di kawasan ini. Secara nasional, kawasan konservasi di kompleks Gunung Gede Pangrango mempunyai arti penting dalam sejarah konservasi dan penelitian botani, karena wilayah ini merupakan kawasan konservasi yang pertama di Indonesia ditetapkan sebagai Cagar Alam Cibodas, pada tahun 1889. Tepat tanggal 6 Maret 2017 Balai Besar Taman Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-37 dengan mengusung tema “37th Lovely Taman Nasional Gunung Gede Pangrango”. Festival Gede Pangrango dalam rangka HUT TNGGP ini dilaksakan berbagai kegiatan, diantaranya: apel HUT TNGGP ke-37, pemotongan tumpeng, fun games, aneka lomba (balap karung, tarik tambang, macing, karaoke, gapleh, bola volly, dan tumpeng), serta hiburan lainnya. Dalam amanatnya, pada acara apel, Kepala Balai Besar TNGGP Adison, S.E., mengatakan, “Kita jangan larut berbangga diri dengan apa yang didapat, waktu demi waktu zaman demi zaman tantangan ke depan semakin berat dan semakin kuat, oleh karena itu saya menghimbau kepada diri saya pribadi dan kita semua mari kita menjalin komunikasi dan koordinasi internal yang lebih cantik dan lebih harmonis dalam suasana kekeluargaan. Selanjutnya untuk eksternal dari TNGGP mari kita bangun kolaborasi dengan berbagai pihak baik itu masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, pihak swasta, dan media sesuai program Kementerian LHK dan kita harus dapat memberikan publikasi yang baik dan cepat serta bermanfaat bagi semuanya”. Acara dilanjutkan dengan fun games yang dilaksanakan di Resort Mandalawangi. Fun games ini dimaksudkan untuk menambah keakraban dan kekompakan antar pegawai. Guyuran hujan dan lapangan yang becek berlumpur tidak menyurutkan semangat peserta fun games, semua bergembira menikmati suasana kebersamaan dalam kesederhanaan dan penuh kehangatan sesuai dengan tema yang diusung “37th Lovely TNGGP”. Tidak kalah serunya lomba balap karung dan tarik tambang walau dalam kondisi lapangan yang berlumpur dan becek. Peserta putra dan putri saling bersaing bertanding antar balai dan semua bidang wilayah. Saking semangatnya berlomba, para pembalap banyak yang sampai terjatuh tersungkur. Begitu juga dengan lomba karaoke dan mancing dilaksanakan sampai sore dan lomba gapleh sampai malam, ibu-ibu Dharma Wanita TNGGP pun ikut menyemarakan Festival Gede Pangrango dengan berpartisipasi dalam lomba tumpeng. Pada hari kedua, tanggal 7 Maret 2017, kegiatan dilanjutkan dengan lomba bola volly putra dan putri antara balai, bidang wilayah, serta Dharma Wanita TNGGP, acara dimeriahkan hiburan organ tunggal. Festival Gede Pangrango dalam peringatan HUT TNGGP ke-37 ini tidak hanya dilaksanakan intern lingkup Balai Besar TNGGP tetapi juga melibatkan pihak lain. Melalui kerjasama dengan Pemerintah Daerah Cianjur akan dilaksanakan kegiatan Expo Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai wahana publikasi, promosi, dan pendidikan yang pelaksanaannya masih didiskusikan. Peringatan HUT TNGGP ke-37 ini tidak dimaksudkan semata-mata untuk berhura-hura dan bersuka ria, namun penuh makna yang tersirat di dalamnya. Pada momentum ini diadakan kegiatan perenungan bersama, apa yang telah pegawai berikan untuk TNGGP dan masyarakat. Sesuai dengan NAWA CITA-nya Pemerintahan Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kala, sebagai insan pemerintah, harus “hadir” dimanapun masyarakat berada. TNGGP sebagai UPT Kementerian LHK harus selalu memberikan nilai manfaat bagi masyarakat luas, melalui peningkatanan pembangunan TNGGP yang telah dimulai para senior pendahulu menuju taman nasional yang lebih bermanfaat bagi masyarakat baik di level nasional maupun internasional. Dirgahayu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango semoga menjadi taman nasional terdepan dalam pembangunan konservasi. “37th Lovely Taman Nasional Gunung Gede Pangrango”.
Baca Berita

Pelatihan Survey Populasi Gajah Sumatera Melalui Analisis DNA BBTNBBS

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) bersama Mitra Kerja yang terdiri dari WCS – IP, RPU YABI, Fakultas MIPA UNILA, Lembaga Konservasi PT. Lembah Hijau mengadakan Pelatihan Prosedur Pengkoleksian Sampel Feses Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis), dalam rangka kegiatan Inventarisasi Gajah Sumatera di TNBBS. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 – 7 Maret 2017, di Lembaga Konservasi Lembah Hijau Bandar Lampung. Peserta Pelatihan berjumlah 20 orang merupakan tenaga teknis lapangan, yang akan melaksanakan Kegiatan Inventarisasi Gajah Sumatera menggunakan metode Capture Recapture dengan Fecal DNA. Metode ini merupakan 1 dari 2 metode survey yang direkomendasikan dalam Strategi dan Rencana Aksi Gajah Indonesia 2007 – 2017. “Kita harus dapat mengetahui populasi Gajah Sumatera yang ada di TNBBS, menggunakan pendekataan metode yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan, seperti halnya metode Capture Recapture dengan Fecal DNA ini”, kata Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Timbul Batubara, M.Si. “Kegiatan ini sangat mendukung IKK Balai Besar TNBBS, dalam mencapai target pertumbuhan satwa kunci Gajah Sumatera sebesar 2 %”, tambahnya. Pengelolaan Gajah Sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan saat ini masih mengacu data survey tahun 2002, dengan populasi sebanyak 498 individu. “Data yang ada saat ini berdasarkan data survey 15 tahun yang lalu, pelatihan ini kami perlukan dalam upaya peningkatan kapasitas kami sebagai pelaksana teknis inventarisasi”, ungkap Tri Sugiharti, S.Hut yang merupakan PEH Ahli pada Balai Besar TNBBS. Sumber Info : HUMAS BBTNBBS Link berita terkait : Video Kepala Balai Besar TN BBS - Uji Sampel DNA Gajah Survey Populasi Gajah - Kompas
Baca Berita

Gerak Cepat Petugas Dalam Pemadaman Kebakaran di TN Bukit Barisan Selatan

Suoh, Jumat 10 Maret 2017. Terjadi kebakaran hutan di kawasan TN Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Pada tanggal 09 Maret 2017 sekitar pukul 17.30 WIB berdasarkan informasi masyarakat. Kebakaran hutan di ini terjadi di wilayah Resort Suoh sekitar danau asam Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh Kab. Lampung Barat pada koordinat X= 0419506 , Y=9420504. Kepala Seksi PTN Wilayah III Krui ,Petugas resort suoh , MMP, MPA bersama dengan masyarakat sebanyak 18 (delapan belas) orang menuju ke areal kebakaran dengan menggunakan alat Jet Shooter dan gepyok berusaha memadamkan api dan mencegah kebakaran meluas. Areal kebakaran yang dominan ilalang serta angin yang kencang membuat api mudah untuk menyebar dan menyulitkan petugas dalam upaya pemadaman. Api berhasil dipadamkan pada pukul 00.30 WIB Pada tanggal 10 Maret 2017 petugas kembali ke areal kebakaran hutan untuk memastikan tidak terjadi kebakaran lagi dan melakukaan pengukuran areal yang terbakar serta melakukan penyelidikan mencari faktor yang mengakibatkan kebakaran. Sampai saat ini, pengukuran dan penyelidikan di areal bekas kebakaran masih dilakukan, sehingga kepastian luas areal yang terbakar belum dapat ditentukan. Penyebab kebakaran belum dapat dipastikan. Mengingat lokasi kebakaran tersebut adalah sumber panas bumi, maka diperkirakan penyebab kebakaran adalah faktor alam berupa letupan panas bumi dan cuaca panas di lokasi tersebut.
Baca Berita

BTN Gunung Palung Gelar Psikotes Senpi Bagi Polhut dan TPHL

KETAPANG – Jumat 10 Maret 2017 sebanyak Dua Puluh Empat Pegawai Balai Taman Nasional Gunung Palung dari unsur Polhut dan TPHL, menjalani tes psikologi sebagai syarat kelayakan bagi calon pemegang senjata api dalam mengemban tugas perlindungan dan pengamanan kawasan di Kantor Balai TN Gunung Palung. Tes ini dilakukan oleh Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Bagian Psikologi Polda Kalimantan Barat. Kepala Bagian Psikologi AKBP. Tri Pratiwi mengemukakan, tes psikologi sebagai kontrol dalam mengetahui layak atau tidak seorang anggota Polhut dan TPHL memegang senjata api. Sebab, tidak semua anggota yang sudah mengikuti tes psikologi dan lulus berhak memegang senjata api. ”Namun, juga ditentukan dari hasil penilaian mental kepribadian dan emosi sehari-hari. Tes psikologi tersebut rutin dilakukan satu tahun sekali untuk mengetahui kondisi kejiwaan, sekaligus kemampuan anggota Polhut dan TPHL,” paparnya pada saat membuka tes psikologi. Dalam Psikotes harus memiliki kriteria meliputi penyesuaian dan penguasaan diri, pengendalian emosi, serta daya tahan pikiran dan stres atau kematangan mental. Diharapkan dengan kriteria itu, anggota Polhut dan TPHL yang memegang senjata api dapat mengontrol emosi, sehingga tidak cepat mengambil keputusan menggunakannya dalam rangka kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan TN Gunung Palung. Sumber: BTN Gunung Palung
Baca Berita

Penyelamatan Burung Elang Laut Perut Putih Oleh Tim Rescue Satwa BKSDA Kalbar

Pada tanggal 8 Maret 2017, Tim Rescue Satwa dari kantor Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang (SKW III Singkawang) secara kebetulan menemukan adanya Burung Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) di Desa Tebas Kuala, Kecamatan Tebas. Burung tersebut berada di salah satu toko burung di daerah tersebut. Untuk melakukan tindakan penyelamatan burung tersebut, terlebih dahulu dilakukan koordinasi dengan Kapolsek Tebas, Sambas yang kemudian menugaskan 1 (satu) orang anggota untuk mendampingi tim. Setelah persiapan telah matang, tim selanjutnya mendatangi Akian sang pemilik toko burung. Tim mencecar sejumlah pertanyaan mengenai asal-usul burung tersebut. Berdasarkan pengakuannya, Elang tersebut merupakan titipan dari langganannya. Entah benar atau tidak, tim selanjutnya melakukan tindakan penyelamatan dan menyampaikan kepada Akian bahwa apabila sang pemilik burung ingin mengambilnya, dipersilahkan untuk mendatangi kantor SKW III Singkawang. Akian, sang pemilik toko mengaku bahwa mengetahui jika Elang tersebut merupakan satwa yang dilindungi oleh Undang-undang. Pada kesempatan ini, Tim juga memberikan penyuluhan dan penyadartahuan mengenai aturan-aturan yang berkenaan dengan satwa dilindungi, dan diharapkan ke depan tidak mengulangi perbuatannya. Sebagai bahan informasi Burung Elang Laut Putih (Haliaeetus leucogaster) merupakan salah satu jenis burung yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintan Nomor 7 Tahun 1999. Elang ini mempunyai panjang tubuh 70-85 cm, rentang sayap 178-218 cm dengan berat tubuh 1,8 – 3,9 kg. Bagian atas berwarna abu-abu kebiruan, sedangkan bagian bawah, kepala dan leher berwarna putih. Iris coklat. Kuku, paruh dan sera berwarna abu-abu. Tungkai tanpa bulu dan kaki berwarna abu-abu. Saat terbang, ekornya yang pendek tampak berbentuk baji dan sayapnya terangkat ke atas membentuk huruf V. Burung Elang Laut Putih dijuluki "mesin terbang" hidup yang paling mengesankan di bumi ini, dan julukan itu bukannya tanpa alasan. Dengan bentangan sayap sepanjang tiga meter, burung laut terbesar ini sanggup terbang hingga kecepatan 115 kilometer per jam. Elang laut memang tampak kaku di darat, tetapi di angkasa dia benar-benar anggun dan menakjubkan untuk dipandang. Untuk proses penyelamatan lebih lanjut, burung ini akan diselamtkan terlebih dahulu di kantor SKW III Singkawang, untuk selanjutnya akan dilakukan tindakan karantina dan pemulihan kesehatan satwa di Lembaga Konservasi CV. Sinka Island Park pada tanggal 10 Maret 2017.
Baca Berita

Aksi Sosial Donor Darah Untuk Kemanusian TN Teluk Cenderawasih

Manokwari, 10 Maret 2017. Sebanyak 30 orang staf Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih melakukan donor darah sebagai salah satu kegiatan memperingati Hari Bhakti Rimbawan pada hari Jum’at 10 Maret 2017. Aksi Donor darah untuk kemanusiaan ini bertujuan membantu menyediakan stok darah di wilayah Manokwari, demikian yang dikatakan KBTU Balai Besar TNTC, Acha Anis Sokoy. Bekerja sama dengan tenaga medis dari Palang Merah Indonesia wilayah Papua Barat, setiap staf Balai Besar TNTC dan beberapa staf dari UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Korwil Provinsi Papua Barat menyumbang 350ml darah. Peringatan Hari Bhakti Rimbawan Tanggal 16 Maret 2017 yang ke 34 ini bertemakan ”Dengan Semangat Kerja Nyata, Rimbawan Indonesia Bertekad Menjaga Kelestarian Hutan Untuk Meningkatkan Pembangunan Lingkungan Hidup Yang Berkelanjutan”. Rimbawan Indonesia dituntut untuk menunjukkan eksistensinya sebagai pelopor dalam menjaga Alam tempat tinggal kita. (ro/tntc) Sumber Info : Balai Besar TN Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Tim BKSDA DKI Jakarta Evakuasi Satwa Dilindungi

Selama periode minggu kedua Februari 2017 sampai dengan minggu kedua Maret 2017 Balai KSDA DKI Jakarta telah melakukan evakuasi terhadap sejumlah satwa yang dilindungi di wilayah kerjanya. Satwa-satwa tersebut merupakan hasil evakuasi atau satwa tersebut di jemput di tempat/kediaman pemiliknya dan penyerahan langsung dari masyarakat yang datang ke kantor Balai KSDA DKI Jakartas. Satwa hasil evakuasi adalah 1 ekor elang brontok (Spizaetus cirrhatus), 1 ekor burung nuri kepala hitam dada biru (Lorius lory) dan 1 ekor buaya muara (Crocodylus porosus) panjang sekitar 3 (tiga) meter. Sedangkan satwa hasil penyerahan adalah 1 ekor buaya muara (Crocodylus porosus) dan 4 ekor anakan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Adapun satwa jenis Burung Nuri Kepala Hitam Dada Biru (Lorius lory)dan Buaya Muara (Crocodylus porosus) panjang sekitar 3 (tiga) meter diserahkan dari masyarakat yang berada di Wilayah Kerja Seksi Konservasi Wilayah I, sedangkan satwa jenis Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus), Anakan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Buaya Muara (Crocodylus porosus) diserahkan dari masyarakat yang berada di Wilayah Kerja Seksi Konservasi Wilayah II. Semua hasil evakuasi dan penyerahan dilengkapi dengan Berita Acara Penyerahan dari pemilik kepada petugas (Polisi Kehutanan) Balai KSDA DKI Jakarta. Langkah yang dilakukan Balai KSDA DKI Jakarta adalah menampung sementara satwa-satwa tersebut di PPS Tegal Alur sampai ditentukannya penanganan lebih lanjut, terkecuali untuk tukik penanganannya diserahkan kepada Taman Nasional Kepulauan Seribu untuk kemudian dilepasliarkan di wilayah kerja TN. Kepulauan Seribu. Sumber Info : Balai KSDA DKI Jakarta
Baca Berita

Gugus Tugas TSL BKSDA Kalbar Kembali Menyelamatkan Satwa Dilindungi

Pada hari Kamis (9/3/2017) tim Gugus TSL Balai KSDA (BKSDA) Kalimantan Barat yang berada di Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Singkawang berhasil mengamankan seekor Burung Elang Bondol yang akan dijual oleh pemiliknya di akun jejaring sosial Facebook. Sebelum melakukan penangkapan tim gugus TSl yang dipimpin oleh Bapak Dani Arif W selaku Kepala SKW III Singkawang, melakukan penyelidikan dan penelusuran ke lokasi yang bersangkutan yaitu di Kelurahan Sedau, Kec. Singkawang Selatan. Dengan berdalih ingin membeli satwa tersebut akhirnya tim gugus TSl dan pelaku yang di ketahui berinisial RK ini sepakat bertemu di tempat yang sudah disepakati. Setelah yang bersangkutan tiba di lokasi dengan membawa burung elang yang ia tempatkan di dalam kardus, tim langsung menghampiri yang bersangkutan dan memberikan pemahaman terkait UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. Berdasarkan keterangan RK, burung elang ini ia dapatkan dari hasil berburu di daerah Kelurahan Sedau, yang menyebabkan salah satu sayap Burung Elang tidak dapat berfungsi dan selanjutnya dipelihara +/- 5 tahun. Satwa tersebut selanjutnya diselamatkan di kantor SKW III dan rencananya akan dititipkan ke Lembaga Konservasi Elang bondol berukuran sedang (43-51 cm), memiliki sayap yang lebar dengan ekor pendek dan membulat ketika membentang. Bagian kepala, leher dan dada berwarna putih, sisanya berwarna merah bata pucat, bagian ujung bulu primer berwarna hitam, dan tungkai berwarna kuning. Pada individu anak secara keseluruhan berwarna coklat gelap, pada beberapa bagian bergaris-garis putih mengkilap Elang Bondol (Haliastur indus) termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990.
Baca Berita

Training Smart Patrol-RBM Balai Besar TN Lore Lindu Tahun 2017

Palu, 6 Maret 2017. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BB TNLL) dengan dukungan Proyek Enhancing The Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation (EPASS) melaksanakan kegiatan Training Metode SMART Patrol – RBM di Telaga Tambing (Kalimpaa), Resort Tongoa tanggal 1 s.d 5 Maret 2017. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih Polisi Kehutanan (Polhut) dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di BB TNLL dalam implementasi aplikasi SMART (Spatial Monitoring And Reporting Tool) serta standar patroli yang dapat mendukung dalam monitoring satwa, identifikasi ancaman seperti perburuan ilegal, penguasaan lahan tanpa izin dan pengambilan hasil hutan bukan kayu. Perlindungan kawasan konservasi seperti taman nasional sangat memerlukan Polhut dan PEH yang memiliki ketrampilan yang memadai serta berdedikasi tinggi. Metode SMART yang diajarkan mencakup tiga hal yaitu software (aplikasi SMART Patrol), peningkatan kapasitas SDM, dan standar pengambilan data berbasis resort. Kegiatan yang diikuti oleh 45 orang peserta ini dibuka oleh Kepala Bagian Tata Usaha BB TNLL, Ir. Periskila Sampeliling, M.Si. Dalam sambutannya beliau menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat menjawab tantangan akan ketersediaan data lapangan yang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan pada BB TNLL. Pada kesempatan lain, Kepala BB TNLL, Ir. Sudayatnya, M.Sc., menyampaikan pesan bahwa tantangan pengelolaan TNLL akan semakin meningkat khususnya dengan adanya tuntutan yang semakin tinggi dari warga yang tinggal di sekitar kawasan. Untuk itu diperlukan adanya informasi yang akurat dan terkini dari petugas lapangan yang disampaikan secara cepat ke pimpinan agar tindakan antisipasi dapat segera disiapkan. Trainer yang terlibat dalam kegiatan ini berjumlah 3 orang staf Wildlife Conservation Strategy yang telah berpengalaman dalam implementasi metode SMART di beberapa kawasan konservasi di Sumatera dan Sulawesi diantaranya TN Gunung Leuser, TN Bukit Barisan Selatan dan TN Bogani Nani Wartabone. Kegiatan pelatihan dilaksanakan secara klasikal dan praktek pengambilan data lapangan di sekitar Telaga Tambing (Kalimpaa). Sumber Info : Balai Besar TN Lore Lindu
Baca Berita

Pengobatan Beruang Madu BKSDA Aceh

Aceh, 8 Maret 2017. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dibantu oleh Tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syah Kuala Aceh melakukan pengobatan Beruang Madu (Helarctos malayanus) di kantor Balai KSDA Aceh. Beruang Madu tersebut terkena jeratan masyarakat yang diperuntukan untuk menjerat babi hutan di desa Karak Kec. Wayla Barat Kab. Aceh Barat Provinsi Aceh. Pengobatan ini dilakukan Tim Balai KSDA Aceh yang dipimpin oleh Pak Andi Aswinsyah dibantu oleh Tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syah Kuala Aceh yang beranggotakan 10 (sepuluh) orang diketuai oleh drh. Arman Sayuti, M.P melalui program Wild ambulance, pengobatan beruang madu tersebut memakan waktu sekitar 1 jam. Setelah mendapatkan pengobatan dari drh. Arman Sayuti, M.P dan Tim, beruang madu tersebut masih dalam perawatan di kantor Balai KSDA Aceh dan akan dilepasliarkan setelah kondisi beruang madu pulih kembali. Sumber Info : Balai KSDA Aceh

Menampilkan 10.897–10.912 dari 11.141 publikasi