Kamis, 8 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BTN Babul Ramaikan Pameran Konservasi di Puncak Hari Jadi Pangkep ke-57

Maros - Festival makan ikan dan pameran konservasi diselenggarakan dalam memeriahkan puncak peringatan hari jadi Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) ke-57 yang digelar di Pulau Camba-Cambang, Rabu 1 Maret 2017. “Moment ini kami manfaatkan untuk mempromosikan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) melalui pameran konservasi” ungkap Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I. Pameran ini dilakukan sebagai ajang promosi untuk menggenjot kunjungan ke TN Babul. Melalui pameran tersebut pihak TN Babul memperkenalkan “The Seven Wonders” yang menjadi site unggulan taman nasional yang berada di Sulawesi Selatan ini. Masyarakat sangat antusias dengan adanya pameran ini, hal ini terlihat dari ramainya pengunjung stan. Aneka potensi taman nasional ditampilkan melalui frame foto, leaflet dan poster. Sesekali ada pengunjung stan yang mencari informasi detail lokasi site yang dipamerkan. Puncak Hari Jadi Kabupaten Pangkep dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan sejumlah pejabat baik Provinsi Sulawesi Selatan maupun Pemerintah Kabupaten Pangkep. Pada kesempatan tersebut, Gubernur meresmikan proyek-proyek pembangunan Tahun 2016 dan memberikan bantuan 1 Milyar untuk pengembangan Pulau Camba-Cambang sebagai destinasi wisata bahari unggulan di Sulawesi Selatan. Yang menarik dari acara ini adalah para pejabat dan undangan yang datang menggunakan dress code baju tradisional Sulawesi Selatan, baju bodo untuk perempuan dan jas tutup untuk tamu laki-laki Sementara itu, Bupati Pangkep, Syamsuddin A. Hamid dalam sambutannya mengatakan, pelaksanaan HUT di Pulau Camba-Cambang ini juga menjadi ajang memperkenalkan pulau ini sebagai gerbang destinasi wisata bahari di kepulauan Spermonde Pangkep dan Implementasi program pemerintah Kabupaten Pangkep “Membangun dari Laut”. (mael/tnbabul) Sumber: BTN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Seminar Nasional Konservasi Rakyat

Jakarta, 1 Maret 2017. Pada tanggal 28 Februari 2017, Working Group ICCAs Indonesia (WGII) menyelenggarakan Seminar Nasional Konservasi Rakyat di Hotel Menara Peninsula Jakarta. Seminar tersebut dihadiri oleh unsur pemerintah seperti Direktur Kawasan Konservasi – Ditjen KSDAE, Direktur Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial – Ditjen PSKL, perwakilan dari Ditjen PSKL, Direktorat Penataan Kawasan Konservasi Perairan, unsur akademisi yaitu Prof Dr Hariadi Kartodiharjo (IPB), serta unsur LSM dan Mitra yang tergabung ke dalam jaringan WGII. Acara yang juga menghadirkan 11 komunitas adat dari berbagai daerah ini, dibuka secara resmi oleh Ir. Wiratno, M.Sc, Direktur PKPS mewakili Menteri LHK. Dalam sambutannya disampaikan bahwa masyarakat yang sejak dulu tinggal di dalam dan sekitar hutan telah melakukan berbagai praktek pengelolaan hutan dan telah menjadi tradisi serta adat istiadat. Peran sertanya dalam penyelenggaraan konservasi sesungguhnya telah diakomodir dan diatur dalam PP 28 Tahun 2011 jo. PP 108 Tahun 2015 tentang Pengelolaan KSA dan KPA. Pemerintah pun diwajibkan untuk melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk pengembangan desa konservasi, pemberian akses pemanfaatan HHBK di zona/ blok tradisional/ pemanfaatan tradisional, fasilitasi kemitraan, serta pemberian ijin usaha jasa wisata alam. Direktur Kawasan Konservasi yang menjadi salah satu narasumber pun menyampaikan bahwa sejak terbitnya PP 28 Tahun 2011, pengelola kawasan konservasi telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di lapangan tanpa membedakan status dari masyarakat tersebut, baik masyarakat adat maupun masyarakat lokal non-adat. WGII sebagai koalisi yang peduli pada sistem konservasi oleh masyarakat adat dan lokal, menilai bahwa pengaturan peran serta dan hak masyarakat adat di kawasan konservasi yang sudah ada adalah tidak cukup. Perlu ada pengakuan kearifan lokal dan pemberian hak yang lebih kuat. Untuk itu, WGII mengusung konsep “Areal Konservasi Kelola Masyarakat (AKKM)” sebagai suatu sistem konservasi yang dilaksanakan oleh masyarakat adat/lokal berdasarkan kearifan lokal atau hukum adat setempat, termasuk perlindungan dan pemanfaatan SDG serta spesies yang berada di dalam wilayah masyarakat adat/lokal yang bersangkutan. “Konsep AKKM tersebut diharapkan juga dapat diimplementasikan di kawasan konservasi tanpa ada batasan kepada masyarakat adat, karena saat ini hutan adat sudah bukan hutan negara lagi”, papar Sandoro Purba yang menjadi narasumber dari WGII. Konsep tersebut diharapkan dapat diakomodir dalam penyusunan RUU Konservasi Keanegaragaman Hayati (Revisi UU 5/90) yang saat ini sedang berproses. Dalam rangka mendorong hal tersebut, WGII telah menyusun masukan-masukannya untuk RUU KKH dalam sebuah buku. Lebih lanjut, untuk memperkuat masukan tersebut WGII juga telah mendokumentasikan praktik-praktik konservasi oleh masyarakat adat dan lokal di 15 lokasi yang hasilnya dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Jalan Panjang Masyarakat Untuk Konservasi dan Ruang Hidup”. Seminar kemarin menjadi kesempatan bagi 11 mayarakat adat yang terdokumentasikan dalam buku dimaksud untuk menyampaikan testimoni terkait pelaksanaan praktik-praktik konservasi di wilayahnya masing-masing. Sumber Info : Direktorat KK
Baca Berita

Peduli Konservasi Sejak Dini

Sofifi, 1 Maret 2017. Balai TN Aketajawe Lolobata (TNAL) melaksanakan kegiatan "Visit To Office" yang diawali dengan mengundang TK Siti Aisyah dan PAUD Indah Lesmana. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memberikan pendidikan lingkungan sejak dini kepada siswa siswi taman kanak - kanak. Kegiatan tersebut dibuka oleh Ibu Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan dipandu oleh tim Pokja Database TNAL yg beranggotakan 4 (empat) orang. Pemanduan dimulai dari lobi kantor TNAL yg dikonsep seperti galeri pameran. Terdapat view sunga Tayawi dan rumah masyarakat tobelo dalam (suku togutil) di Resort Tayawi, foto burung bidadari halmahera dan flora fauna lainnya. Selanjutnya siswa dibawa ke kandang transit untuk diberikan penjelasan tentang pentingnya membiarkan satwa (burung) dialamnya. Bagaimana siswa melihat kondisi burung jika didalam sangkar dan sakit. Setelah itu siswa diajak memasuki Gedung Pusat Informasi untuk kegiatan mewarnai dan menyaksikan film lingkungan. Pemutaran film dilaksanakan di ruangan mini theater yang bertujuan sebagai tempat penyuluhan audio visual. Film yang diputar adalah film tentang proses terjadinya hujan dan akibat buang sampah sembarangan. Disela-sela acara juga diberikan kuis berhadiah cinderamata dari TNAL. Hasilnya adalah rasa antusias siswa dan pengetahuan serta pengenalan tentang Taman Nasional Aketajawe Lolobata bertambah. Kegiatan visit to office akan dilaksanakan secara rutin setiap minggu dengan mengundang sekolah dan instansi maupun umum. Selain visit to office TNAL juga memiliki kegiatan visit to school. Sumber Info : Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Buaya Yang Viral di Purwokerto Diamankan BKSDA Jateng

Semarang, 1 Maret 2017. Sekali lagi Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah (BKSDA Jateng) melakukan upaya penyelamatan satwa liar. Seperti diketahui bahwa minggu lalu sempat ada berita yang viral di media sosial. Kejadiannya berawal dari adanya acara pameran satwa liar bertempat di Rita Super Mall Purwokerto. Pameran tersebut berlangsung pada hari minggu 26 Februari 2017 mulai jam 10 pagi sampai dengan 20.30 WIB. Salah satu pengisi acara pameran tersebut adalah Komunitas Satria Reptil Banyumas. Diantara reptil yang ikut dipamerkan terdapat 2 ekor buaya muara yang ternyata menjadi idola para pengunjung Rita Supermall Purwokerto. Acara tersebut kemudian mendapat protes dari beberapa LSM pemerhati / penyayang satwa liar . Atas dasar laporan tersebut kemudian BKSDA Jateng melakukan tindakan preemtif kepada yang bersangkutan. Kepala BKSDA Jateng, Suharman mengatakan bahwa Buaya muara merupakan satwa liar dilindungi berdasar UU No. 5 tahun 1990, PP No. 7 Tahun 1999 dan termasuk dalam kategori resiko rendah dalam daftar IUCN. Karenanya bermain-main dengan buaya dapat membahayakan diri sendiri dan satwa yang bersangkutan. Selanjutya Suharman menyampaikan bahwa atas tindakan tersebut Saudara Didin Anjar warga Ketegan – Baturaden diberikan pembinaan, karena yang bersangkutan tidak memiliki legalitas kepemilikan satwa liar dimaksud. Setelah mendapatkan pembinaan dari petugas BKSDA Jawa Tengah. Saudara Didin Anjar dengan kesadaan dan kerelaannya menyerahkan 2 ekor buaya muara tersebut kepada petugas BKSDA Jawa Tengah. Sementara buaya yang disita tersebut dititiprawatkan kepada penangkar buaya yang ada di Banyumas. Untuk selanjutnya akan dievaluasi tentang sifat liarnya dan kesehatannya, jika kemudian sudah dinyatakan sehat segara akan dilepasliarkan di habitat alamnya. Buaya muara (Crocodylus porosus) adalah jenis buaya terbesar di dunia. Dinamai demikian karena buaya ini terutama hidup di sungai-sungai dan di dekat laut (muara). Buaya ini juga dikenal dengan nama buaya air asin, buaya laut, dan nama-nama lokal lainnya. Dalam bahasa Inggris, dikenal dengan nama Saltwater crocodile, Indo-Australian crocodile, dan Man-eater crocodile. Nama umumnya, Man-eater=pemakan manusia karena buaya ini terkenal pernah (dan sering) memangsa manusia yang memasuki wilayahnya. Penyebaran satwa ini meliputi seluruh perairan dataran rendah dan perairan pantai di daerah tropis Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia (Indo-Australia). Sumber: BKSDA Jawa Tengah
Baca Berita

Penampakan dan Keberadaan Macan Tutul Jawa di SM Cikepuh

KARUHUN - SESEPUH CIKEPUH MENAGIH JANJI KONSERVASI Gelombang hiruk pikuk reformasi periode 1998-2001 turut menorehkan sejarah kelam pada kawasan konservasi di Indonesia, salah satunya di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh. Lebih dari 4.000 jiwa telah merambah habitat sekaligus benteng pertahanan terakhir satwa liar di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi. Tujuh satwa penghuni SM Cikepuh diduga telah punah secara lokal akibat perburuan dan kehilangan habitat selama masa perambahan, salah satunya adalah macan tutul (Panthera pardus melas). Setelah lebih dari 15 tahun berlalu, macan tutul yang telah dianggap punah dari kawasan hutan Cikepuh, kini dinyatakan eksis kembali sebagai top predator di kawasan yang juga merupakan zona inti Geopark Ciletuh tersebut. Expedisi Macan Tutul yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat bersama dengan International Animal Rescue (IAR) dan Yayasan Harimau menghasilkan temuan yang sangat dinanti oleh para pegiat lingkungan Tatar Sunda. Macan tutul, salah satu penghuni kawasan SM Cikepuh, sempat diduga punah secara lokal bersamaan dengan hilangnya beberapa satwa kunci lainnya seperti banteng, merak, buaya, dan lutung jawa. Dugaan tersebut merebak setelah lebih dari 50% kawasan tersebut rusak dan tidak bervegetasi akibat gelombang perambahan pada awal era reformasi 1998 – 2001. Tidak hanya itu, perburuan terhadap satwa liar (termasuk macan tutul) pada masa tersebut juga semakin memperkuat dugaan punahnya karnivora besar tersebut dari SM Cikepuh. Secercah harapan akan hadirnya macan tutul di SM Cikepuh kembali mengemuka, seiring dengan bervegetasinya kembali kawasan konservasi ini sebagai hasil kegiatan rehabilitasi. Hal tersebut berawal dari informasi lisan kelompok mahasiswa peneliti Institut Pertanian Bogor dan masyarakat sekitar kawasan. Lebih lanjut, laporan hasil survey primata IAR mengungkap adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul seperti cakaran, feses, dan jejak. Namun, akibat masih minimnya data yang tersedia membuat banyak pihak masih meragukan kebenaran informasi tersebut. Menjawab keraguan tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Barat, sebagai pengelola kawasan SM Cikepuh, bersama masyarakat, IAR, dan ahli kucing besar melakukan pengamatan untuk menguji kebenaran informasi keberadaan macan tutul tersebut. Pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat bantu kamera jebak dikonsentrasikan pada lokasi-lokasi yang diduga menjadi wilayah jelajah macan tutul serta area yang banyak ditemukan tanda-tanda keberadaan macan tutul. Hasilnya, setelah 28 hari pengamatan (antara bulan Juli – Agustus 2016), sebanyak 4 kamera berhasil menangkap 7 frame video yang menunjukkan aktivitas macan tutul di SM Cikepuh. Dari video tersebut terungkap bahwa sebanyak 3 individu macan tutul yang tertangkap kamera merupakan macan tutul dengan pola tutul kuning, sedangkan satu individu merupakan varian tutul hitam atau yang sering dikenal dengan macan kumbang. Berdasarkan hasil identifikasi diketahui bahwa macan tutul yang tertangkap kamera merupakan 4 individu yang berbeda. Melalui analisa sederhana, diprediksi bahwa populasi macan tutul di SM Cikepuh saat ini sekitar 12 ekor. Namun demikian, masih dibutuhkan pengamatan yang lebih intensif untuk mengetahui kepastian jumlah individu serta sex ratio macan tutul di SM Cikepuh. Hasil kajian keberadaan macan tutul ini merupakan informasi penting bagi Balai Besar KSDA Jawa Barat sebagai pengelola kawasan konservasi SM Cikepuh. Sebagai tindak lanjut hasil kajian, Balai Besar KSDA Jawa Barat tengah menyusun beberapa program dan rencana kerja yang disandingkan dengan program strategis kawasan lainnya, di antaranya inventarisasi macan tutul, mitigasi konflik macan tutul, pengendalian kebakaran hutan, pengembangan zona inti Geopark Ciletuh, reintroduksi banteng dan satwa liar lainnya serta persiapan habitat kedua Badak Jawa. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Sustyo Iriyono, menegaskan bahwa hadirnya kembali macan tutul di SM Cikepuh menjadi bukti keberhasilan upaya restorasi kawasan konservasi. Mengingat SM Cikepuh merupakan sebuah ekosistem tempat berinteraksinya tumbuhan dan satwa liar, maka upaya restorasi kawasan seharusnya bukan hanya dilakukan terhadap tumbuhan, melainkan juga terhadap satwa liar yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, upaya memasukkan kembali satwa-satwa yang pernah hidup dalam kawasan (reintroduksi) satwa merupakan program strategis kawasan yang perlu mendapat dukungan semua pihak. Sumber Info : Humas BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Sambut HHI, BBTNLL Tanam Pohon dan Bersih Sampah di Telaga Tambing

Sulteng – 28 Februaru 2017, Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tanggal 21 Februari 2017 dan Hari Hutan Internasional (HHI) tanggal 21 Maret 2017, Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BB TNLL) melaksanakan kegiatan penanaman pohon dan pembersihan sampah di obyek wisata alam alam Telaga Tambing (Kalimpaa) pada tanggal 28 Februari 2017. Kegiatan dimulai dengan pelaksanaan apel disertai penyampaian sambutan Kepala BB TNLL kepada seluruh peserta kegiatan yang antara lain dihadiri oleh Kepala Bidang Teknis Konservasi BB TNLL, seluruh Kepala Seksi dan Kepala Resort lingkup BB TNLL, PEH dan Polhut lingkup BB TNLL dan sebagian pengunjung yang berkemah di sekitar telaga. Dalam sambutannya Kepala BB TNLL menyampaikan harapan bahwa dengan terbebasnya Telaga Tambing (Kalimpaa) dari sampah serta teduhnya kawasan tersebut oleh pepohonan akan meningkatkan kenyamanan pengunjung dalam melakukan aktivitas wisata. Beliau juga menghimbau agar pengunjung yang datang dapat selalu menjaga kebersihan dan merawat tanaman yang ada. Pemilihan Telaga Tambing (Kalimpaa) sebagai lokasi kegiatan peringatan HPSN dan HHI tahun 2017 tidak terlepas dari tingginya jumlah kunjungan wisatawan untuk berkemah di lokasi ini yang rata-rata mencapai lebih dari 600 orang pada akhir pekan. Kondisi tersebut memberikan dampak berupa tumpukan sampah anorganik yang cukup banyak, yang jika dibiarkan akan mengurangi amenitas obyek tersebut. Melalui aksi nyata ini peringatan HHI yang mengusung tema “Hutan dan Energi”serta HPSN tahun 2017 diharapkan dapat menjadi momentum yang menggugah kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hutan dan kebersihan obyek wisata di Telaga Tambing (Kalimpaa). Sumber Info: Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

KICK OFF MEETING PROYEK “Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatran Priority Landscape”

Bogor, 27 - 28 Februari 2017. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu-satunya sub-spesies harimau yang tersisa di Indonesia, setelah punahnya harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan harimau bali(Panthera tigris balica) di tahun 1980an dan 1940an. Data paling umum digunakan sebagai perkiraan jumlah harimau sumatera saat ini adalah sekitar 400-500 individu, meskipun data ini muncul dalam dokumen Sumatran Tiger Action Plan tahun 1994. Dari pendapat para ahli, saat ini terdapat 23 bentang alam yang tersisa yang masih memiliki harimau di alam, membentang dari utara hingga selatan Pulau Sumatera. Apablia dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu, dimana bentang alam yang masih dihuni harimau ada pada 29 lokasi, terdapat penurunan yang cukup signifikan. Sehingga apabila tidak dilakukan antisipasi yang serius, dikuatirkan Indonesia bisa kehilangan semua jenis harimau di alam. Selama lebih dari dua dekade, laju kehilangan luas hutan pertahun di Sumatera mencapai 2% dari total luas kawasan hutan negara. Tutupan hutan, baik primer maupun sekunder telah menyempit dari 25,3 juta hektar di tahun 1985 menjadi 12,8 juta hektar di tahun 2009. Khusus untuk hutan primer, diketahui sejumlah 2,9 juta hektar telah terbuka pada selang tahun 2000 dan 2012. Kehilangan terbesar berada pada hutan lahan basah primer sebesar 1,5 juta dan hutan primer dataran rendah sebesar 1,2 juta hektar. Kendala utama dalam konservasi sumberdaya alam di Sumatera adalah lemahnya tata kelola pengelolaan sumber daya alam dan kapasitas pengelolaan kawasan konservasi, buruknya koordinasi lintas sektor, serta tidak memadainya pengelolaan dan pendanaan bagi kawasan konservasi. Proyek Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscapes bertujuan untuk mengatasi kendala-kendala kelembagaan, tata kelola dan pendanaan dalam pengelolaan konservasi keanekaragaman hayati. Untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi dimaksud Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan United Nation Development Programme (UNDP) merancang dan melaksanakan proyek “Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatran Priority Landscape” yang didukung oleh pendanaan hibah Global Environment Facility (GEF) senilai USD 9 juta selama 5 tahun. Proyek akan diimplementasikan di kawasan konservasi yang merupakan lanskap prioritas Sumatera yaitu TN Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, TN Berbak-Sembilang dan TN Bukit Barisan Selatan. Tujuan proyek adalah meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati di lanskap prioritas Sumatera melalui teknik terbaik pengelolaan kawasan konservasi dan kawasan non konservasi dengan pemulihan populasi Harimau Sumatera sebagai indikator. Proyek diharapkan dapat (1) memperkuat kapasitas pengelolaan kawasan konservasi secara adaptif pada tingkat pusat dan daerah; (2) meningkatkan koordinasi antar lembaga dalam upaya konservasi khususnya dalam isu perdagangan ilegal hidupan-liar, pembangunan infrastrukur, perambahan kawasan konservasi dan mitigasi konflik manusia-satwa; (3) membangun skema pendanaan baru untuk mencukupi kebutuhan pendanaan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Proyek terdiri dari 3 komponen utama yaitu: (1) Peningkatan efektivitas institusi pengelola kawasan konservasi; (2) Pengembangan sistem koordinasi lintas sektor pada lanskap prioritas; (3) Pembiayaan berkelanjutan untuk pengelolaan keanekaragaman hayati. Proyek dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan penanggungjawab (Executing Agency) Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati. Pelaksanaan teknis pada level lanskap dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian LHK (TN Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, TN Berbak-Sembilang,TN Bukit Barisan Selatan) dan Non Government Organization/NGO (Flora Fauna International /FFI, Wildlife Conservation Society/WCS, Zoological Society London /ZSL, Forum Harimau Kita/FHK). Kegiatan proyek tidak hanya akan berfokus pada isu teknis tetapi juga pada isu sosial masyarakat, yaitu peningkatan kapasitas masyarakat sekitar kawasan melalui upaya penyadartahuan konservasi, pendapatan ekonomi alternatif (penguatan Hutan Desa sebagai carbon-pool), dan penguatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi berbasis pengarusutamaan gender. Sumber Info : Direktorat KKH
Baca Berita

TN MaTaLaWa Sebagai Salah Satu Pusat Studi Kawasan Monsoon dan Destinasi Ekoturisme Sumba

Waingapu, 28 Februari 2017. Kepala Badan Litbang dan Inovasi berserta Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan kunjungan kerja selama 3 (tiga) hari sampai dengan tanggal 28 Februari 2017. Kunjungan dititikberatkan pada kunjungan lapangan di KHDTK Hambala dan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MaTaLaWa) dengan maksud untuk membangun inisiasi penelitian terpadu dalam rangka pengembangan perhutanan sosial dan perlindungan serta konservasi alam termasuk wisata alam. Pada saat kunjungan ke KHDTK, Kabadan Litbang dan Inovasi KemenLHK, Dr. Henry Bastaman, M.ES menjelaskan bahwa perlunya rencana pengelolaan penelitian dengan desain pengembangan yang mengakomodir karakteristik lokal. Kunjungan ke TN MaTaLaWa dilakukan dalam rangka pengembangan wisata alam, peningkatan ekonomi masyarakat lokal dan mencoba aktivitas Birdwatching di Langgaliru, Blok hutan Padiratana. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim, Dr. Bambang Supriyanto, M.Sc dalam diskusi kecil mengatakan bahwa ada 4 (empat) hal penting yang bisa dijadikan pijakan bagi pengembangan Balai TN MaTaLaWa; 1) Desa-desa sekitar kawasan TN MaTaLaWa memiliki karakteristik yang berbeda dengan desa di provinsi lain seperti Jawa dan Sumatera, oleh karena itu dengan mengeksplorasi lebih jauh tipologi desa sekitar kawasan TN MaTaLaWa maka akan diperoleh hal menarik yang bisa dikembangkan untuk pengembangan perhutanan sosial dan konservasi termasuk wisata alam; 2) Keterkaitan antara iklim mikro dan hutan Monsoon di kawasan TN MaTaLaWa berpotensi sebagai objek penelitian yang menarik; 3) Keberadaan savana pada lansekap hutan TN MaTaLaWa memiliki karakteristik tersendiri dalam membentuk ekosistem hutan Monsoon, sehingga perlu dikaji lebih jauh apakah keberadaannya memang sudah sedari dulu atau memang karena adanya campur tangan manusia/anthropogenik; 4) Semestinya TN MaTaLaWa dapat dijadikan sebagai salah satu sumber “Referensi Wallacea”. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai TN MaTaLaWa, Maman Surahman, S.Hut.,M.Si menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat sekitar kawasan harus berpedoman pada prinsip “alih profesi, alih komoditi dan alih lokasi”. Dengan menggunakan prinsip tersebut maka dapat dipilah-pilah berbagai bentuk kebijakan dari Balai TN MaTaLaWa dalam hal pengembangan bentuk-bentuk Model Desa Konservasi yang bertujuan untuk peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Pertemuan terakhir dengan rombongan Kabadan Litbang dan Inovasi KemenLHK adalah melalui kegiatan pembinaan pegawai. Pada kesempatan ini pegawai TN MaTaLaWa banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman mengenai jenjang dan pola karir di KemenLHK. Selain itu dibahas pula mengenai salah satu program utama KemenLHK dalam memberikan akses seluas 12,7 juta Hektar lahan hutan kepada rakyat serta sejauh mana peran hutan konservasi dalam menyokong kebijakan tersebut. Terakhir Kabadan Litbang dan Inovasi berpesan bahwa menurut pengamatan beliau kedepannya KemenLHK akan banyak dipimpin oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki kompetisi pengalaman dilapangan, sehingga di dalam mengambil berbagai keputusan dan kebijakan, pejabat tersebut mengetahui betul keadaaan dan hal-hal terkait teknis dilapangan. Sumber Info : Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Rehabilitasi Mangrove Dan Family Gathering Balai Taman Nasional Kutai Dan PT. PLN (PERSERO) UPP KALBAGTIM

Dalam rangka menjalin silaturahmi antara keluarga besar Balai Taman Nasional Kutai dan PT. PLN (persero) UPP Kalbagtim sebagai salah satu mitra kerjasama Balai Taman Nasional Kutai, Pada hari sabtu sampai dengan minggu tanggal 25-26 Februari 2017 telah dilaksanakan kegiatan “Rehabilitasi Mangrove Dan Family Gathering” bertempat di Resort Sangkima, tepatnya di Objek Wisata Alam Sangkima Jungle Park dan blok Hutan Tanjung Prancis SPTN Wilayah I Sangatta Taman Nasinal Kutai. Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan Rencana Pelaksanaan Program Dan Rencana Pelaksanaan Kegiatan kerjasama nomor. 2075/BTNK-1/2014 dan nomor. 005/PJ/131/UIPX/2014 serta adendum perjanjian nomor 01 tanggal 28 Juli 2016 tentang Optimalisasi Pengelolaan Taman Nasional Kutai Terkait Pembangunan Infrastruktur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV Bontang-Sangatta. Kegiatan Rehabilitasi Mangrove dan Family Gathering ini diikuti oleh keluarga besar Balai taman Nasional Kutai, Keluarga PT. PLN (Persero) UPP Kalbagtim Balikpapan, Keluarga PT. PLN (Persero) UPP Kalbagtim 3 Samarinda, Keluarga PT. PLN Kota Bontang dan beberapa tamu undangan yang ikut berpartisipasi yaitu PT. Pertamina, RSUD Taman Husada Kota Bontang, Kepala Desa Sangkima, Kepala Dusun Airport Sangkima. Kegiatan ini diawali dengan serah terima gedung Pusat Informasi yang merupakan salah satu kontribusi dari PT. PLN (Persero) UPP Kalbagtim sebagai mitra kerjasama kepada Balai Taman Nasional Kutai dalam mendukung pengelolaan Taman Nasional di kantor Balai Taman Nasional Kutai. Gedung Pusat Informasi yang dibangun melalui anggaran kerjasama Balai Taman Nasional Kutai dan PT. PLN secara langsung diserahkan oleh Bapak Aan Rhidoana Fitriaji sebagai Manager UPP Kitring Kalbagtim 3 kepada Balai Taman Nasional Kutai dalam hal ini diterima oleh Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc selaku Kepala Balai Taman Nasional Kutai. Setelah acara serah terima selesai, seluruh peserta dan panitia menuju Wisata Alam Sangkima Jungle Park untuk melanjutkan kegiatan yang telah disusun oleh panitia pelaksana. Salah satu kegiatan yang dilakukan setelah sampai di Sangkima adalah outbond dengan berjalan menyusuri boardwalk dan jalur trek di Sangkima Jungle Park yang salah satu iconnya adalah pohon ulin raksasa (Eusideroxylon zwageri) yang diperkirakan telah berumur ribuan tahun. Setelah Outbond, peserta dengan antusias mengikuti acara pemberian motivasi. Pemberian motivasi disampaikan oleh motivator Ibu Laela Siddiqah. Dengan pemberian motivasi tersebut, diharapkan peserta dapat meningkatkan etos kerja dan menjadi pribadi yang lebih baik dengan menerapkan 4 (empat) unsur etos kerja yaitu kejujuran, tanggung jawab, kepedulian dan saling menghormati (respek). Sebagai bentuk kepedulian peserta terhadap lingkungan, pada hari minggu dilaksanakan kegiatan penanaman mangrove sebanyak 1000 batang bibit jenis Rhizopora dan Bruguera yang ditanam di Tanjung Prancis Taman Nasional Kutai. Untuk menuju lokasi penanaman, peserta melakukan perjalanan darat dari kantor Daops Sangkima Kutai menuju ke Dusun Airport Sangkima kemudian dilanjutkan dengan berlayar menggunakan perahu ke Tanjung Prancis. Lokasi ini dipilih untuk tempat rehabilitasi mangrove karena merupakan tempat habitat bekantan (Nasalis larvatus). Di lokasi ini, setiap pagi sekira pukul 05.00 – 07.00 dan sore hari 17.00 – 18.00 bekantan dapat dijumpai secara langsung. Bukan hanya peserta dewasa yang melaksanakan penanaman, anak kecil pun yang ikut dalam kegiatan ini sangat antusias untuk melaksanakan penanaman. Semoga dengan kegiatan ini keakraban dan kekompakan antara keluarga PT. PLN (persero) UPP Kalbagtim dan keluarga besar Balai Taman Nasional Kutai semakin erat dan pengelolaan Taman Nasional Kutai dapat lestari.#BTNK Sumber: BTN Kutai
Baca Berita

Hari Peduli Sampah Nasional, Balai TN Kepulauan Togean Gelar Bersih-Bersih Pantai dan Laut

Ampana-Senin, 27 Februari 2017. Balai TN Kepulauan Togean ikut serta berperan aktif dalam mengikuti rangkaian kegiatan HPSN Tahun 2017 yang dilaksanakan oleh Kementerian LHK. Kegiatan tersebut serempak dilaksanakan di Kawasan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT), yakni Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Wakai, SPTN Wilayah II Lebiti dan SPTN Wilayah III Popolii pada hari jumat dan sabtu tanggal 24-25 Februari 2017 dari pukul 07.30 WITA hingga selesai. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan adalah bersih-bersih pantai dan laut. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ir. Bustang (Kepala Balai TNKT), didampingi oleh Kasubag TU (Oktovianus, S. Hut) dan Kepala SPTN Wilayah I Wakai (Iksan Tengkow, SH) serta bekerjasama dengan stakeholder terkait yakni Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una yang diwakili oleh Camat Una-Una, Kapolsek Una-Una, Kepala Desa Wakai, Kepala Sekolah SMP dan SMU, Mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan serta siswa-siswa SMP dan SMU di Wakai. Pelaksanaan kegiatan HPSN Tahun 2017 untuk SPTN Wilayah II Lebiti dan SPTN wilayah III Popolii dipimpin langsung oleh Mustaming Syahrul (Kepala SPTN Wilayah II Lebiti) dan Yakub Ambagau, S.Hut., M.P. (Kepala SPTN Wilayah III Popolii) bekerjasama dengan Camat Togean, Camat Walea Kepulauan, Kapolsek Dolong, Danpos Lebiti Kepala Sekolah SMU serta Kepala Desa Lebiti dan Popoli serta pelajar di sekitar kawasan. Isu terkait pencemaran sampah di laut lebih kompleks dan menjadi perhatian publik serta pemerintah Indonesia. Di lain Pihak, Pemerintah secara konsisten terus mengembangkan sektor pariwisata serta infrastruktur transportasi penghubung antar kepulauan di Indonesia yang dikenal dengan Tol Laut. Kebijakan pembangunan ini harus ditunjang dengan kondisi lingkungan yang bersih dari sampah terutama di kawasan pesisir dan laut, ujar Bustang. Kepala Balai TNKT Ir. Bustang menyatakan bahwa tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah Melaksanakan Pengelolaan Sampah Terintegrasi dari Gunung, Sungai, Kota, Pantai, hingga Laut untuk Mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2020 dengan tagline Nenek MoyangKu Orang Pelaut Bukan Pembuang Sampah Ke laut. “Tujuan dari Peringatan HPSN Tahun 2017 adalah meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat Indonesia mulai dari pribadi, komunitas hingga bangsa dalam mengelola sampah untuk mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2020; Memperkuat komitmen Negara Indonesia sebagai negara destinasi wisata bahari dunia yang berkelanjutan” jelas Ir. Bustang. Ir. Bustang mengarahkan agar Balai TNKT selaku inisiator kegiatan HPSN di kepulauan togean mengupayakan agar kegiatan bersih-bersih pantai dan laut ini dapat dilaksanakan rutin setiap tahunnya serta dapat memberikan kesempatan dan kesadaran kepada kelompok masyarakat/komunitas/LSM di sekitar kawasan akan pentingnya arti pengelolaan sampah yang berkelanjutan demi terwujudnya Indonesia Bebas Sampah 2020. Sumber: BTN Kepulauan Togean
Baca Berita

Setelah 6 Bulan Dirawat Orangutan “Sitio” Mudik Ke Habitatnya

27 Pebruari 2017. Orangutan sumatera “Sitio” tiba dengan selamat di hutan lansekap Suaka Margasatwa (SM) Siranggas Kabupaten Pak-pak Barat untuk kembali ke habitat aslinya setelah mendapat perawatan selama 6 bulan di Pusat Karantina Orangutan Sumatera yang dikelola oleh Yayasan Ekosistem Lestari (YEL-SOCP) bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara. “Sitio”, orangutan jantan berusia sekitar 20 tahun, diselamatkan dari lahan kebun masyarakat di Dusun Sitio-tio Desa Kutadame Kabupaten Pakpak Barat pada 6 Agustus 2016 oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari - Orangutan Information Centre (YOSL-OIC). Saat itu kondisi “Sitio” sangat memprihatinkan ditandai dengan dehidrasi, malnutisi, luka berbelatung dibagian punggung, dan mata kiri rusak. Selanjutnya diputuskan untuk memberikan perawatan kesehatan kepada “Sitio” di Pusat Karantina Orangutan Sumatera di Sibolangit. Menurut Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Hotamuli Sianturi, M.Sc, For, “Pada awalnya informasi beredar melalui media sosial Orangutan “Sitio” terdampar di lahan perkebunan masyarakat daerah Pak-pak Barat, kemudian tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan YOSL-OIC melakukan pengecekan ke lokasi namun tidak menemukan satwa tersebut. Seminggu kemudian tim menerima informasi dari masyarakat bahwa “Sitio” terlihat kembali. Selanjutnya tim menuju lokasi yang dilaporkan untuk ,melakukan evakuasi. Pada awalnya tim bermaksud mengahalau “Sitio” kembali ke dalam hutan, namun karena kondisi kesehatan yang buruk maka dibawa ke Pusat Karantina Orangutan Sumatera di Sibolangit”. -2- “Selama 6 bulan dilakukan treatment terhadap Orangutan “Sitio”, diantaranya 3 bulan mengobati luka. Kondisi Orangutan membaik dan masih memilki sifat liar, Pemeriksaan akhir kondisi “Sitio” cukup bagus dan siap untuk dilepasliarkan kembali” ujar Drh. Yenny Saraswati, Senior Vet YEL-SOCP. Drh. Ricko Layno Jaya, Manajer Human Orangutan Conflict Respons Unit – YOSL OIC berkomentar bahwa “Pada minggu kedua bulan Pebruari YOSL - OIC bersama petugas lapangan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan survey kelayakan lokasi untuk pelepasliaran “Sitio” di sekitar lansekap SM. Siranggas yang merupakan habitat orangutan. Dari hasil analisis vegetasi Analisa vegetasi menunjukkan indeks kekayaan dan keragaman pada pohon pakan sangat tinggi, untuk jenis pohon 38 jenis (54%) dari 71 jenis merupakan jenis pohon yang buah, daun muda, dan batangnya biasa dimakan oleh orangutan. Untuk itu diputuskan untuk mengembalikan “Sitio” ke kawasan hutan tersebut ’. Informasi tambahan : Sumber Info : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Tim Patroli TN Wakatobi Grebek Kapal Pelingkar Asal Tomia

Wakatobi, 26 Februari 2017. Tim Patroli Balai Taman Nasional Wakatobi berhasil menemukan dan menggerebek kapal pelingkar asal Pulau Tomia sedang melakukan transaksi dengan kapal asal Kelurahan Wanci Kecamatan Wangi – Wangi Kabupaten Wakatobi milik PT. Artinata Jaya. Transaksi tersebut di lakukan di kawasan Taman Nasional Wakatobi di Desa Mantingola, Kaledupa. Kapal Pelingkar merupakan aktivitas penangkapan ikan dari nelayan luar Wakatobi menggunakan alat tangkap berupa jaring lingkar (surrounding net). Alat penangkapan ikan ini berupa jaring berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari sayap, badan, dilengkapi pelampung, pemberat, tali ris atas, tali ris bawah dengan atau tanpa tali kerut atau pengerut dan salah satu bagiannya berfungsi sebagai kantong, yang pengoperasiannya melingkari gerombolan ikan di wilayah sasaran. Tim telah mengambil tindakan berupa pengumpulan data Kapten kapal beserta ABK (Anak Buah Kapal) serta memeriksa Surat Izin Usaha Perdangan (SIUP) milik 2 (dua) kapal tersebut. Dari hasil Pemeriksaan Tim Patroli Balai Taman Nasional Wakatobi terdapat dugaan pelanggaran pidana bidang KSDAE dan Perikanan yaitu mengambil ikan secara berlebihan di kawasan konservasi menggunakan alat tangkap ikan berskala besar. Pelaku dan barang bukti diserahkan Balai Taman Nasional Wakatobi kepada Polsek Kaledupa untuk proses penyidikan lebih lanjut. Sumber Info : Balai TN Wakatobi
Baca Berita

50 Pemuda Pilihan Dilatih Menjadi Pejuang Iklim

Pelatihan pejuang iklim berlangsung selama 3 hari sejak hari Jumat hingga Minggu tanggal 24 – 26 Februari 2017 di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Pelatihan dengan peserta 50 pemuda/i terpilih ini bertujuan untuk membekali peserta dengan informasi tentang perubahan iklim, gaya hidup yang harus dilakukan agar lebih rendah karbon, dan keterampilan komunikasi untuk mendukung aksi pengendalian perubahan iklim. Setelah pelatihan, peserta akan dikukuhkan menjadi Pejuang Iklim dan diwajibkan untuk menerapkan aksi pengendalian perubahan iklim secara langsung di lingkungan sekitarnya. Peserta terbaik akan disponsori oleh UN CC:Learn untuk mengikuti “Tribal Climate Camp 2017” di Amerika Serikat pada tanggal 31 Juli-4 Agustus 2017 yang akan diikuti pemuda/i, kaum profesional pegiat perubahan iklim dan masyarakat adat dari Amerika Serikat dan Kanada. Pada hari pertama pelaksanaan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 tanggal 24 Februari 2017, para peserta diberikan materi pembekalan dari berbagai nara sumber mengenai perubahan iklim, antara lain Prof. Shahbaz Khan, Director of UNESCO Regional Science Bureau for Asia and the Pacific, Amanda Katili Niode, Manager The Climate Reality Project Indonesia, Cristina Rekakavas, UN CC:Learn Secretariat, Murni Titi Resdiana, Assistant to the President’s Special Envoy on Climate Change, Lia Zakiah, Deputy to Assistant to President’s Special Envoy on Climate Change dan Ray Nayoan, Yayasan Pelabuhan Mimpi. Hari kedua pelaksanaan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 tanggal 25 Februari 2017, para peserta melakukan kunjungan lapangan ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Narasumber pada hari kedua ini antara lain Trita Katriana, National Project Officer for Water and Environment Science at Unesco Office Jakarta dan Ir. Timbul Batubara, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Gambar 1. Manager of The Climate Reality Project Indonesia (Amanda Katili Niode) dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Timbul Batubara) bersama para peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 Para peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 melakukan kunjungan lapangan ke Taman Nasioanl Bukit Barisan Selatan, untuk melihat destinasi wisata yang ada di TNBBS Resort Sukaraja Atas SPTN Wilayah I Sukaraja BPTN Wilayah I Semaka, antara lain Wisata Air Terjun Tugu Raflesia; Wisata Track Rhino Camp; Wisata Plot Pengamatan Tarsius Bancanicus. Gambar 3. Wisata Air Terjun Tugu Raflesia Selain mengunjungi destinasi wisata yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Para peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan melakukan kegiatan pelepas liaran satwa, terdiri dari 2 ekor Kukang (Nycticebus coucang) dan 2 ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), berasal dari satwa sitaan BKSDA Bengkulu Lampung. Kegiatan kunjungan lapangan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 diakhiri dengan penanaman pohon jenis Cempaka (Magnolia champaca) di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Hari terakhir pelaksanaan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 tanggal 26 Februari 2017, peserta juga mendapatkan workshop tentang pembuatan film. Ray Nayoan, sineas muda Indonesia yang beberapa kali memproduksi film tentang perubahan iklim menyatakan bahwa perubahan iklim itu isu yang kompleks, sangat menantang untuk disampaikan melalui film. Ray yang menjadi salah satu trainer dalam camp tersebut menambahkan, “namun jika berhasil mengemas dengan baik, hasilnya adalah masyarakat jadi lebih mudah mencerna dan harapannya mereka mau mengubah gaya hidupnya menjadi lebih rendah karbon. Sumber Info : Balai TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

120 Peserta Ramaikan Wanna Rally di Taman Nasional Wasur

Wasur – 25 Februari 2017, Dalam rangka menyambut dan memeriahkan hari jadi Kota Merauke ke 115 sekaligus sebagai salah satu upaya pendidikan konservasi yang bersifat rekreatif-edukatif Balai Taman Nasional Wasur mengadakan Lomba Lintas alam dengan Tema “Rawa Wana Rally IV Taman Nasional Wasur Tahun 2017 memperebutkan Piala Bupati Merauke”. Salah satu tujuan dari Kegiatan yang dilksanakan pada tanggal 25 Februari 2017 ini yaitu untuk membangun kesadaran dan peran serta secara aktif dalam usaha konservasi baik di dalam maupun sekitar kawasan TN Wasur Merauke serta mengembangkan kepekaan individu dan kelompok komunitas terhadap konservasi sumber daya alam, khususnya TN Wasur. Kegiatan yang telah diumumkan sejak tanggal 17 s/d 23 Februari 2017 ini dibagi atas 1 (satu) kategori yaitu: Pelajar/mahasiswa/kelompok pemuda terdiri dari 24 Tim; sehingga Total Peserta 120 orang, dimana peserta terdiri dari regu-regu dan setiap regu terdiri dari 5 (lima) orang. Adapun rute kegiatan dilaksanakan dari Bumi perkemahan (BUPER) TN Wasur sampai dengan Kolam Permandian Biras dengan jarak tempuh + 11 km melewati rawa, hutan jarang dan savanna yang ada di kawasan TN Wasur. Kegiatan ini dibuka oleh Bupati Merauke yang diwakili oleh Bapak Setda Kabupaten Merauke Daniel Pauta dan dihadiri oleh seluruh Kepala SKPD yang ada di Kabupaten Merauke termasuk jajaran pimpinan dari Kepoliasian dan TNI, BBKSDA Wilayah I Merauke serta organisasi kemasyarakatan seperti WWF Region Sahul Merauke. Sumber: TN Wasur
Baca Berita

Press Release: Penggiringan dan Pemasangan GPS collar pada gajah liar di Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya

Pada tanggal 25 Februari 2017 tim BKSDA Aceh kembali melakukan penggiringan gajah liar yang merusak perkebunan milik warga di Gampong Ie Jerengeh, Kemukiman Pante Purba, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. Dalam kesempatan tersebut, tim juga memasang satu unit GPS collar pada individu gajah liar. GPS Collar dipasang pada seekor gajah betina berusia sekitar 20 tahun, bagian dari 6 ekor kelompok gajah liar di lokasi tersebut. Gajah yang dipasang kalung GPS ini akan memberikan informasi titik koordinat keberadaanya dan secara otomatis akan menunjukkan lokasinya didalam peta digital dalam periode yang telah diatur setiap 4 jam sekali melalui satelit. Langkah ini dilakukan dengan beberapa tujuan, selain untuk dapat mengetahui lebih rinci pola pergerakan harian kelompok gajah ini dari waktu ke waktu sehingga diharapkan dapat menjadi sistem peringatan dini dalam upaya penanggulangan konflik manusia dan gajah yang dilakukan oleh BKSDA dan pemerintah kabupaten melalui tim Conservation Response Unit (CRU). Selain itu, data pergerakan gajah ini akan menjadi informasi penting tentang pola penggunaan ruang oleh kelompok gajah ini, sehingga informasi ini akan berguna bagi pemerintah Aceh dalam mengatur pola pemanfaatan ruang dan upaya konservasi gajah di masa depan. Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan bahwa ini merupakan GPS collar yang kelima di pasang pada kelompok gajah liar di Aceh, pihaknya menyampaikan bahwa BKSDA Aceh secara bertahap telah merencanakan agar semua populasi utama di Aceh dipasang GPS collar, selain untuk early warning system, juga dapat mengetahui secara keseluruhan pola penggunaan ruang oleh populasi gajah di Aceh, dan menginspirasi langkah-langkah penanggulangan konflik serta pengelolaan habitatnya, misalnya membangun sanctuary alami, bersama pemerintah Kabupaten maupun Provinsi. Tim pemasangan GPS collar ini terdiri dari mahout beserta gajah terlatih dari PLG dan CRU Cot Sampoiniet Aceh Jaya. Operasi ini dipimpin oleh Andi Aswinsyah, para dokter hewan yg diketuai oleh Arman Sayuti, serta personil CRU Sampoiniet. Tim yang bertugas melakukan pelacakan telah dapat mengidentifikasi keberadaan kelompok gajah liar pada 22 Februari 2017. Operasi mulai dilakukan pada 23 Februari dengan mengikukti rombongan gajah liar, medan berat yang terdiri dari rawa-rawa membuat tim agak kesulitan dalam melakukan pengejaran. hingga pada 25 Februari 2017 jam 15.30 sore tim baru berhasil melakukan pemasangan GPS collar.. Kepala Balai KSDA Aceh juga menginformasikan bahwa kegiatan pemasangan GPS collar pada kelompok gajah liar di Kabupaten Aceh Jaya ini didukung oleh banyak pihak. “Kita dibantu oleh PT. Tunggal Perkasa Plantations (Astra Agro) yang selama ini juga mensupport CRU Sampoiniet, tim dari Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL)-Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syah Kuala, melalui program Wildlife Ambulance-nya. Unsyiah juga mendukung kita dengan seorang tenaga ahli yang sedang melakukan penelitian Post Doctoral yaitu Dr.Gaius Wilson, serta dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya. Sumber: BKSDA Aceh
Baca Berita

Mekarnya Cendawan Muka Rimau

Bukit Tigapuluh, 24 Februari 2017. Beberapa Cendawan Muka Rimau (Rafflesia hasseltii suringar) yang mekar telah ditemukan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang merupakan hasil kegiatan Monitoring Cendawan Muka Rimau Balai TN Bukit Tigapuluh pada tanggal 14 - 23 Februari 2017. Sebagian Cendawan Muka Rimau dan inangnya juga ditemukan layu dan mati karena perubahan musim yang cukup ekstrim. Tumbuhan rafflesia ini tidak seluruhnya tumbuh dikawasan TNBT, hanya ditemukan di wilayah Aek Telap dan Mandi Urau Dusun Datai Desa Rantau Langsat Inhu Riau dengan masa lama berbunga ± 1-2 minggu. Cendawan Muka Rimau (Rafflesia hasseltii suringar) adalah tumbuhan endemik TNBT yang bersifat parasit pada tumbuhan liana jenis Tetrastigma lanceolarium. Cendawan Muka Rimau mempunyai siklus hidup selama 280 hari mulai dari knob – mekar – mati. Diameter Cendawan Muka Rimau dapat mencapai 18 cm dengan masa mekar 5 - 8 hari. Sumber Info : Balai TN Bukit Tigapuluh

Menampilkan 10.897–10.912 dari 11.095 publikasi