Senin, 12 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Dua Individu Orangutan Diserahkan Ke BKSDA Kalbar

Senin (13/03/2017), Tim Gugus TSL Balai KSDA (BKSDA) Kalimantan Barat yang berada di Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang berhasil mengevakuasi 2 ekor Orangutan (Pongo pygmaeus)bernama UNTEK (4 Thn/Jantan) dan TEKA (1 Tahun/Betina), Kedua Orangutan tersebut dievakuasi oleh tim gugus TSL yang dikepalai oleh Ruswanto (Kepala Seksi Wil I Ketapang) dari dua lokasi yang berbeda. UNTEK Orangutan yang berjenis kelamin jantan ini dievakuasi di Dusun Jelutung, Desa Matan, Kec Simpang Hilir Kab.Kayong Utara, menurut pemiliknya yaitu Bapak Yudas, asal usul satwa tersebut dibeli dari seseorang (pemelihara) di daerah Hulu Sungai Menyumbung, karena Orangutan ini kondisinya kurus dan tidak di rawat dengan baik oleh pemelihara sebelumnya. Atas kesadaran bp. Yudas, Orangutan tersebut diserahkan kepada negara untuk dikembalikan ke habitatnya. TEKA dengan jenis kelamin betina, menurut pengakuan Syarif warga Dusun Pegelaman, Desa Sandai Kanan, Kec. Sandai Kab. Ketapang, berasal dari daerah Kalteng yang di beli dari pemelihara, karena Orangutan ini tidak di rawat dengan baik oleh pemelihara sebelumnya. hal yangs ama atas keprihatinan kondisi satwa tersebut diserahkan kepada negara untuk dikembalikan ke habitatnya UNTEK dan TEKA selanjutnya sebagai upaya animal welfare satwa langsung dititip rawatkan untuk direhabilitasi di YIARI - Ketapang, hingga dapat direlease kembali di habitat aslinya. Kedua Orangutan ini merupakan penyerahan secara sukarela dari masyarakat yg ke - 5 dan ke-6 kepada BKSDA Kalimantan Barat selama kurun waktu tahun 2017. Hal ini mengindikasikan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa di habitat alamnya, serta pertimbangan Animal Welfare dan mencerminkan hasil dari upaya kegiatan konservasi, baik secara preventif-persuasif (Patroli, Sosialisasi-Penyuluhan) maupun represif (Penegakan Hukum) yang selama ini terus dilakukan (Sumber: Tim Publikasi BKSDA Kalbar)
Baca Berita

Gubernur Kaltim Ajak Semua Masyarakat Untuk Lindungi Badak Sumatera

Samarinda - 14-3-2017, Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Kalimantan Timur dalam acara Lokakarya Sosialisasi dan Perencanaan Program Konservasi Badak di Kalimantan Timur pada tanggal 14 Maret 2017 di Ruang Tepian 1 Kantor Gubernur Kalimantan Timur. Keberadaan badak di Kalimantan Timur tepatnya di Kabupaten Kutai Barat pertama kali teridentifikasi melalui jejak tapak badak tahun 2013 oleh tim survey dari WWF Indonesia. Baru pertengahan 2013, kamera jebak yang dipasang berhasil merekam aktivitas badak yang sedang berkubang yang semakin menguatkan keberadaan badak di Kalimantan. Berdasarkan survey yang telah dilakukan di 2 kantong habitat diperkirakan populasi badak yang ada di Kalimantan kurang lebih 25 individu. Saat ini badak di Kalimantan Timur dalam kondisi yang tidak cukup aman, ancaman kegiatan manusia di dalam dan sekitar habitat badak semakin meningkat. Ditambah lagi, adanya kegiatan penebangan kayu di HPH dan juga kegiatan pertambangan. “Sejak awal saya sudah memberikan dukungan atas perlindungan satwa endemic yang ada di Kalimantan Timur, tidak hanya badak tapi juga Pesut Mahakam, Beruang, Orangutan, serta buaya siamensis” ucap Awang Faroek. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah sudah disiapkan kawasan yang bisa dijadikan sebagai kawasan hutan lindung maupun areal penggunaan lain yang bisa dijadikan sebagai kawasan lindung bagi satwa endemic Kalimantan, imbuhnya. Kawasan Hutan Lindung Kelian Lestari yang merupakan bekas areal pertambangan yang sudah berhasil direklamasi berdasarkan hasil survey tim, dinilai layak menjadi kawasan lindung bagi badak sumatera di Kalimantan. Hal yang sama disampaikan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Bambang Dahono Adji yang mewakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hadir dalam acara tersebut. Dalam arahannya disampaikan bahwa pemerintah telah menetapkan kawasan Hutan Lindung kelian Lestari sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk konservasi badak di Kalimantan. Diharapkan badak Kalimantan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kalimantan Timur bahkan Indonesia karena keberadaannya saat ini di Kalimantan sudah menjadi perhatian bagi dunia internasional. Hadir dalam Lokakarya tersebut antara lain Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Mahakam Hulu, Perguruan Tinggi (IPB, Universitas Mulawarman), WWF, YABI, AleRT, TFCA Kalimantan, perusahaan pemegang konsesi hutan yang ada di sekitar habitat badak serta perwakilan masyarakat adat. Sumber Info: Direktorat KKH
Baca Berita

Pelepasliaran Buaya di Kawasan TN Berbak Sembilang

Jambi, 11 Maret 2017. Balai KSDA Jambi bekerjasama dengan Zoological Society of London (ZSL) dan Balai TN Berbak Sembilang pada tanggal 11 Maret 2017 Pukul 15.00 WIB telah melakukan pelepasliaran 1 (satu) ekor buaya muara (Crocodylus porosus) berlokasi di Desa Air Hitam Laut Kec. Sadu Kab Tanjung Jabung Timur TN Berbak Sembilang. Buaya tersebut merupakan buaya akibat konflik dengan masyarakat di Ds. Sungai Jeruk Kec.nipah Panjang Kab. Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Lokasi pelepasliaran ditempuh dengan Perjalanan darat dari Sungai Jeruk ke Air Laut memakan waktu selama 2 jam perjalanan mengunakan mobil bak terbuka dan dari Desa Air Hitam Laut ke lokasi pelepasliaran memakan waktu 2 jam perjalanan jalur sungai dengan kendaraan perahu mesin. Buaya tersebut diketahui sudah memangsa hewan ternak seperti kambing dan bebek, posisi konflik berada di tengah perkampungan padat penduduk dan sangat meresahkan warga maka diambil keputusan untuk segera memindah satwa buaya ke habitatnya.
Baca Berita

Penandatanganan Nota Kesepahaman Tentang Pengamanan Dan Perlindungan Kawasan TN Kerinci Seblat Dengan Empat Polda

Jakarta, 14 Maret 2017. Taman Nasional Kerinci Seblat dengan luas 1,39 juta hektare merupakan salah satu kawasan taman nasional di Indonesia yang ditunjuk menjadi situs warisan dunia atau World Heritage Site (WHS) oleh UNESCO, salah satu klaster Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera atau Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) dengan bagian terluas dan memegang peranan sangat penting karena posisinya yang berada di antara dua taman nasional lainnya yaitu Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kawasan TNKS terdiri dari keberagaman pola ekosistem hutan hujan tropis menjadikan kawasan ini memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Diantaranya terdapat 4.000 jenis tumbuhan, 37 jenis mamalia, 10 jenis reptilia, 6 jenis Amphibia, 8 jenis primata dan sekitar 370 jenis burung. Dengan keberadaan dan status TNKS tersebut diperlukan upaya dan komitmen dari berbagai pihak guna menjaga keutuhan kawasan TNKS. Salah satu bentuk komitmen penegakan hukum dalam mencegah tindak pidana kehutanan dan atau kebakaran hutan, jejaring perburuan, peredaran dan perdagangan tumbuh-tumbuhan dan satwa liar dilindungidi Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan sekitarnya melalui Penandatangan Kesepakatan Bersama antara Bapak Ir. M. Arief Toengkagie selaku Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat dengan Irjen Pol. Drs. Agung Budi Maryoto, M.Si selaku Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Selatan, Brigjen Pol. Drs. Fakhrizal, M.Hum selaku Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat, Brigjen Pol. Drs. Yazid Fanani, M.Si Selaku Kepala Kepolisian Daerah Jambi dan Brigjen Pol. Drs. Yovianes Mahar selaku Kepala Kepolisian Daerah Bengkulu. Kesepakatan yang tertuang dalam Nota Kesepahaman “Penguatan Fungsi Kawasan Hutan Konservasi Berupa Pengamanan dan Perlindungan Kawasan TNKS dan Sekitarnya ini ditandatangani pada tanggal 14 Maret 2017 di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jakarta serta disaksikan oleh Plt. Dirjen KSDAE Kementerian LHK Bapak Dr.Ir. Bambang Hendroyono, M.M dan Dirjen Penegakan Hukum Kementerian LHK Bapak Drs. Rasio Ridho Sani, M.Com., M.PM. Kesepakatan Bersama ini berlaku selama 3 (tiga) tahun terhitung sejak tanggal ditandatangani. Sedangkan tujuan dari Kesepakatan Bersama ini adalah sebagai wadah koordinasi antar instansi agar terciptanya persamaan pola pikir, pola sikap dan pola tindak dalam melaksanakan tugas Pengamanan dan Perlindungan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan sekitarnya. Penandatangan kesepakatan tersebut sangat penting guna menjaga keutuhan kawasan TNKS. Dengan luasan 1,39 juta hektare, yang terbentang di empat propinsi yaitu Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Barat tentunya diperlukan keterlibatan dari berbagai pihak. Pelibatan pihak kepolisian dalam Kesepakatan Bersama ini sangat diperlukan untuk penegakan hukum guna menyelamatkan kawasan TNKS, mempermudah koordinasi dan pelaksanaan di lapangan. Melalui Penandatangan Kesepakatan Bersama antara Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat dengan Kepolisian Daerah Sumatera Selatan, Kepolisian Daerah Sumatera Barat, Kepolisian Daerah Jambi dan Kepolisian Daerah Bengkulu diharapkan keberadaan TNKS sebagai situs warisan dunia atau World Heritage Site (WHS) akan terjaga kelangsungan fungsinya sehingga terus dapat memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Sumber Info : Balai Besar TN Kerinci Seblat
Baca Berita

Pelatihan Tenaga Kontrak di Stasiun Penelitian Cabang Panti TN Gunung Palung

Gunung Palung, 13 Maret 2017. Untuk meningkatkan kapasitas tenaga kontrak di Taman Nasional Gunung Palung, Balai Taman Nasional Gunung Palung bekerjasama dengan Proyek Penelitian Kelempiau dan Kelasi (KKL) University of Michigan mengadakan pelatihan selama 10 hari dari tanggal 3 Maret 2017 sampai dengan 12 Maret 2017 di Stasiun Penelitian Cabang Panti Taman Nasional Gunung Palung. Pelatihan ini dimaksudkan agar tenaga kontrak yang bertugas di RPTN memiliki keterampilan dalam membantu pengelolaan Taman Nasional. Pemateri merupakan Peneliti dan Petugas PEH yang berpengalaman dibidangnya. Materi yang diberikan antara lain Ekologi Hutan Tropis, Interaksi Tumbuhan dan Satwa, Evolusi dan Taxonomi Tumbuhan, Teknik Pengenalan Jenis Tumbuhan, Karakteristik Tumbuhan, Teknik Surey Satwa, Pengamatan Burung, Pengenalan Herpetofauna, Pengenalan jejak satwa dan Teknik Kamera Trap. Selain Materi tersebut juga diberikan beberapa materi untuk menumbuhkan semangat bekerja di konservasi seperti refleksi kerja lapangan di Taman Nasional Gunung Palung, Soundscape (mendengar suara hutan) dan lainnya. Peserta yang mengikuti kegiatan ini sejumlah 15 orang. 8 orang merupakan tenaga kontrak dari Taman Nasional Gunung Palung, 4 orang tenaga kontrak dari BKSDA Kalbar SKW I Ketapang dan 3 orang dari Yayasan Palung. Stasiun Penelitian Cabang Panti merupakan tempat penelitian tertua yang masih berjalan aktifitasnya hingga saat ini. Keunikan stasiun penelitian ini adalah dengan luas hanya 2100 ha memiliki 8 tipe ekosistem yaitu hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan tanah alluvial, hutan batu berpasir dataran rendah, hutan granit dataran rendah, hutan granit dataran tinggi dan hutan pegunungan. Hal tersebut sangat menarik untuk penelittian sehingga menjadi tujuan banyak peneliti baik lokal maupun mancanegara. Didalamnya juga terdapat jalur pengamatan dengan panjang ±60 km. Stasiun penelitian ini, mulai ada sejak 1985 dan merupakan stasiun penelitian di areal konservasi tertua yang masih berjalan hingga kini. Pengelolaan Stasiun Penelitian Cabang Panti dilakukan oleh Unit Pengelolaan Stasiun Penelitian Cabang Panti Taman Nasional Gunung Palung. Unit Pengelolaan ini merupakan satuan kerja setingkat RPTN. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan para peserta terampil untuk pengambilan data di lapangan yang terstandar. Harapan kedepan Stasiun Penelitian Cabang Panti bisa menjadi tempat untuk pelatihan tenaga fungsional PEH dari seluruh Indonesia. Sumber Info : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

Latihan Menembak Polhut Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Sofifi, 8 Maret 2017. Menyongsong Hari Bakti Rimbawan yang akan dilaksanakan tanggal 16 Maret 2017 di seluruh Indonesia, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) memulainya dengan kegiatan penyegaran Polisi Kehutanan (Polhut) di Sofifi pada tanggal 8 Maret 2017. Kegiatan dimulai dengan pelaksanaan psikotes sebagai persyaratan untuk menggunakan senjata api. Di ikuti oleh seluruh anggota Polhut BTNAL dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara yang berjumlah sekitar 30 peserta. Tim penilai psikotes berasal dari bagian SDM Polda Maluku Utara. Hari kedua dilanjutkan dengan kegiatan bimbingan teknis anggota Kepolisian Khusus oleh Direktur Binmas Polda Maluku Utara, Kombes Pol M. Nasuhin, S.H.. Menurut beliau, anggota kepolisian maupun Polhut harus memiliki kesabaran dalam menghadapi segala permasalahan di lapangan dan harus memiliki strategi-strategi pendekatan khusus terhadap masyarakat agar tindakan hukum (represif) tidak sampai diberikan. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan baris-berbaris dan beladiri. Hari terakhir kegiatan penyegaran Polhut adalah pelatihan menembak. Latihan menembak dilaksanakan di lapangan menembak Brimob Sofifi pada hari Sabtu, 11 Maret 2017. Instruktur menembak juga berasal dari Anggota Brimob Polda Maluku Utara. Dimulai dari senjata organik milik Polhut BTNAL tipe PM1 A1 dengan posisi duduk dilanjutkan dengan beberapa jenis senjata api milik Brimob. Menurut Instruktur, bahwa hasil menembak anggota Polhut sudah sangat baik hanya perlu latihan tambahan untuk memperhalus gerakan. Beliau juga menawarkan bagi anggota Polhut yang ingin mengembangkan bakat bisa ikut bergabung dalam latihan menembak Brimob dan mendaftarkan diri menjadi anggota Perbakin. Kegiatan penyegaran Polisi Kehutanan BTNAL berjalan dengan sangat baik dan Kepala Balai Taman Nasional Aketajwe Lolobata berharap kedepannya kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan satu kali dalam setahun, karena untuk menunjang Tupoksi anggota Polhut. Selain itu kerjasama antar pihak juga tetap harus terjalin, karena tindakan hukum merupakan tindakan terakhir yang akan dilakukan oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Salo – Si Daun Besar dari TN Bukit Tigapuluh

Bukit Tigapuluh, 13 Maret 2017. Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) mampu mendukung tumbuh kembang tumbuhan endemik seperti Salo (Johannesteijmania altifrons ). Kegiatan monitoring tumbuhan endemik ini dilaksanakan pada tanggal 14 - 23 Februari 2017 oleh PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) Balai TN Bukit Tigapuluh . Salo didalam kawasan TNBT tumbuh di lereng bukit berhutan rapat tepatnya di daerah Alim, Sanglap, Hulu Sungai Metah dan Hulu Sungai Malau. Flora unik ini dilindungi Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 . Salo (Johannesteijmania altifrons ) merupakan jenis palem berdaun raksasa. Dikenal dengan sebutan Salo atau Daun Sang, tumbuhan langka ini di Pulau Sumatera memiliki sebaran terbatas dari Sumatera bagian utara hingga Riau. Tumbuh di kelerengan curam dengan kemiringan lebih dari 60% dan ketinggian 85 – 175 mdpl, Salo memanfaatkan seresah yang terkumpul di pangkal batang untuk menjaga kelembaban akar. Daun salo memiliki ukuran lebar 19 – 117 cm dan panjang 113 – 384 cm. Tunas lebih efektif menjadi alat perkembangbiakan dibanding biji. Masyarakat sekitar kawasan TNBT memanfaatkan daun ini untuk atap dan dinding pondok Sumber Info : Balai TN Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Balai KSDA Maluku Gagalkan Penyeludupan Satwa Liar

Kamis, 9 Maret 2017. Balai KSDA Maluku bekerjasama dengan Polres Halmahera berhasil menggagalkan penyelundupan satwa liar yang terjadi di dua kapal yang bersandar di Pelabuhan Pasar Baru Babang dan Pelabuhan Saketa. Kapal pertama yang berhasil diamankan yaitu KLM. HASRAT JAYA yang sedang sandar di Pelabuhan Pasar Baru Babang yang ditemukan beberapa burung dilindungi milik ABK KLM. HASRAT JAYA yang dibeli dari pesisir pulau Halmahera dan akan dibawa ke Kab. Bone Prov. Sulawesi Selatan dengan menggunakan kapal tersebut. Petugas juga telah mengamankan 2 (dua) orang saksi berinisial SS dan AK dan barang bukti berupa KLM. HASRAT JAYA (TKP di desa Babang Kec. Bacan Timur Selatan, Kab. Halsel), 39 ekor satwa yang terdiri dari 28 ekor Perkici Violet (Eos squamata) dan 11 ekor Bayan (Eclectus roratus). Dari hasil pemeriksaan, petugas mengamankan 3 (tiga) orang berinisial HP, MF dan calon tersangka lainnya masih dalam proses penyidikan. Kapal kedua yang berhasil diamankan yaitu kapal Tunda (Tug Boat) MRP 15 Samarinda (TKP di desa Saketa, kec. Gane barat, kab. Halsel) yang sedang bersandar di pelabuhan Saketa dan ditemukan beberapa burung dilindungi milik ABK kapal tunda MRP 15 Samarinda yang di beli dari kec. Agats, kab. Asmat, prov. Papua (Nuri kepala hitam dan kakatua jambul kuning) dan desa saketa, kec. Gane barat, kab. Halsel (Nuri ternate dan kakatua jambul putih) dan akan dibawa kerumah masing -masing ABK dengan menggunakan kapal tersebut. Petugas telah melakukan pemeriksaan terhadap 2 (dua) orang saksi inisial ES dan BB serta mengamankan barang bukti Kapal Tunda (Tug Boat) MRP. 15 Samarinda, 18 ekor satwa yang terdiri dari 11 ekor nuri kepala hitam, 2 ekor kakatua jambul kuning, 3 ekor nuri ternate dan 2 ekor kakatua jambul putih. Total burung dari hasil penangkapan sebanyak 57 ekor dengan 6 jenis burung antara lain Perkici Violet (Eos squamata) dari maluku utara yang tidak dilindungi, Bayan (Eclectus roratus) dari maluku utara yang dilindungi, Kakatua Jambul Kuning (Cacatua galerita) dari papua yang dilindungi, Kakatua Jambul Putih (Cacatua alba) dari maluku utara yang tidak dilindungi, Nuri Kepala Hitam (Lorius lory) dari papua yang dilindungi dan Nuri Ternate (Lorius garrulous) dari maluku utara tidak yang dilindungi. Dari hasil tangkapan tersebut yang dilindungi sebanyak 28 ekor dan yang tidak dilindungi sebanyak 29 ekor. Untuk calon tersangka masih dalam penyidikan lebih lanjut serta barang bukti satwa telah diamankan di Kantor Resort Bacan - obi kab Halmahera Selatan yang akan ditangani langsung oleh penyidik POLRES Halmahera Selatan. Sumber Info : Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Peringati Hari Bakti Rimbawan BBKSDA Papua Lepaskan 600 Arwana

Merauke (13/3/2017). Dalam rangka Hari Bhakti Rimbawan, pada tanggal 8 Maret 2017 Balai Besar KSDA Papua bersama-sama Asosiasi Pengusaha Ikan Kaloso Papua (APIKAP), Kantor Karantina Ikan Kabupaten Merauke dan Satgas TNI Pengamanan Perbatasan RI-PNG melaksanakan kegiatan pengembalian ke habitat alam (Restocking) jenis Ikan Arwana Irian (Scleropages jardinii) di Kali Wanggo Kabupaten Merauke, Kali Wanggo dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena merupakan salah satu daerah habitat asli dari jenis Ikan Arwana Irian di Kabupaten Merauke. Ikan Arwana Irian (Scleropages jardinii) yang dilepaskan kembali ke habitatnya sebanyak 600 ekor dengan ukuran panjang ± 15 cm dan berasal dari pembesaran anakan selama 5 bulan yang dilakukan oleh suplayer (pengumpul) Ikan Arwana Irian yang berada di Kabupaten Merauke. Menurut Kepala Balai Besar KSDA Papua (Ir. M.G. Nababan) “Restocking ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga populasi Ikan Arwana Irian di habitat alam yang merupakan bagian dari kegiatan manajemen populasi yang telah berlangsung selama 4 (empat) tahun terakhir dengan jumlah yang sudah direstocking sebanyak 2.400 ekor dan diharapkan keberadaan Ikan Arwana Irian (Scleropages jardinii) dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat Papua sebagai sumber ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang telah berlangsung sejak tahun 2001”. Ikan Arwana tersebut sebelum dikembalikan ke habitatnya telah diperiksa kesehatannya oleh Kantor Karantina Ikan Kabupaten Merauke agar tidak membawa penyakit dan menularkannya kepada jenis lain di alam. Pemantauan/survey monitoring populasi Ikan Arwana Irian dilaksanakan setiap tahun oleh Balai Besar KSDA Papua maupun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Kabupaten Merauke. Pemantauan/Survey monitoring populasi yang dilakukan Balai Besar KSDA Papua dengan metode tidak langsung (pendugaan awal) di Kampung Erambo dan Toray (Kali Wanggo, Kali Maro dan Kali Barki) pada tahun 2013 sebanyak 33.461 ekor anakan dan 2014 sebanyak 41.885 ekor anakan, sehingga peningkatan pendugaan populasi Ikan Arwana Irian di wilayah tersebut adalah sebesar 25 %.
Baca Berita

BKSDA Sumsel Gagalkan Perdagangan Satwa

Minggu, 12 Maret 2017. Dini hari pukul 00.19 WIB, Polres Banyuasin dan Balai KSDA Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) telah menggagalkan kegiatan perdagangan satwa liar di Jl. Palembang Betung Km.15 Sukajadi Kec. Talang Kelapa, Kab. Banyuasin Prov. Sumsel. Dari proses kegiatan ini, petugas Balai KSDA Sumsel dan Polres Banyuasin mengamankan 1 (satu) orang tersangka atas nama Paras Pardomuan (32 tahun) warga Desa Sipolo Polo, Kec. Sipolo Polo Kab. Mandailing Natal, Medan yang merupakan supir Bis ALS. Petugas juga mengamankan barang bukti berupa 1 (satu) ekor Kakatua Maluku, 4 (empat) ekor Kangguru, 2 (dua) Tupai Jelarang dan Bis ALS dengan nopol BK 7325 DI tujuan Jakarta - Medan. Saat ini tersangka dan barang bukti diamankan di Kantor Polsek Talang Kelapa, Banyuasin untuk proses penyidikan lebih lanjut. Sumber Info: Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Penanaman Mangrove TN Matalawa

Penanaman Mangrove dan Program Pengembangan Energi Terbarukan Bersama Tasya Kamila dalam Rangkaian Kegiatan Memperingati Hari Bakti Rimbawan dan Hari Hutan Internasional TN MaTaLaWa Minggu, 12 Maret 2017. Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MaTaLaWa) bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Timur melaksanakan kegiatan penanaman bibit bakau (Rhizophora sp.) sebanyak 2000 anakan. Penanaman dilakukan sepanjang sempadan Pantai Manubara dengan menggandeng pihak-pihak seperti UPTD KPH Sumba Timur, KORAMIL 1601-05 Sumba Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumba Timur, Balai Litbang Kupang, masyarakat lokal kampung Manubara, Yayasan Live Japan, Pramuka Sakawanabakti dan anak-anak sekolah minggu. Kegiatan penanaman pohon bakau ini bertujuan untuk merestorasi kawasan hutan Mangrove di Kota Waingapu yang saat ini kondisinya sangat mengkhawatirkan akibat kegiatan penebangan dan alih fungsi lahan. Keberadaan ekosistem hutan mangrove dikota Waingapu yang sangat penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, keberadaan hutan mangrove berfungsi sebagai penahan erosi dan abrasi air laut, sedangkan secara ekonomis keberadaannya dapat mendukung perekonomian lokal sebagai sumber pangan, papan, energi (Kayu bakar/arang) dan kedepannya sangat mungkin bisa dikembangkan sebagai tujuan destinasi pariwisata di Kabupaten Sumba Timur. Selain kegiatan pada hutan Mangrove, Balai TN MaTaLawa bersama dengan penyanyi cilik yang pernah melantunkan lagu anak-anak populer “Aku Anak Gembala” dan juga sekaligus sebagai Duta Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu Tasya Kamila bersilaturahmi dengan Bupati Sumba Timur dan berkunjung ke Desa Persiapan Tanggedu yang letaknya cukup terisolir dan masuk dalam Kecamatan Haharu. Tujuan dari kunjungan tersebut untuk mengembangkan program Desa Pro Iklim melalui peningkatan energi baru dan terbarukan dengan cara mengembangan biodiesel dari tanaman Jarak Pagar (Jatropa curcas). Pada kesempatan tersebut Tasya dibantu oleh Balai TN MaTaLaWa melakukan Focus Grup Discussion (FGD) kepada masyarakat Desa Tanggedu untuk menganalisis lebih jauh kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh masyarakat Desa Tanggedu yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 365 jiwa dalam mendukung program Desa Pro Iklim yang sejalan dengan visi dari Pemda Kabupaten Sumba Timur. Kedua rangkaian kegiatan tersebut masuk dalam kegiatan Hari Bakti Rimbawan dan Hari Hutan Internasional yang diselenggarakan oleh Balai TN MaTaLaWa sejak tanggal 12 sampai dengan 21 Maret 2017. Adapun rangkain kegiatan selanjutnya berturut-turut adalah tanggal 15 Maret 2017 melakukan kegiatan penanaman di lahan KHDTK dan kawasan hutan lindung Sumba Timur, tanggal 16 Maret 2017 Lomba keakraban antar instansi, tanggal 17 Maret 2017 jalan santai dan senam kebugaran, tanggal 18 Maret 2017 visit to school ke Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Waingapu, tanggal 19 Maret 2017 bersih sampah dan kampanye konservasi, tanggal 20 Maret 2017 pembagian bibit ke tujuh kantor pemerintahan, sekolah dan hotel. Puncak acara Hari Bakti Rimbawan dan Hari Hutan Internasional rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2017 malam hari yang akan dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur, Ketua DPRD, unsur Muspida dan beberapa instansi terkait lainnya. Sumber Info: Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Peresmian Sanctuary Kupu-kupu dan Helena Sky Bridge oleh Sekditjen KSDAE Kementerian LHK

Suaka Satwa (Sanctuary) Spesies Kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang berlokasi di kompleks Kawasan Wisata Bantimurung, dibuka secara resmi oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Sekditjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Herry Subagiadi. Peresmian ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 Maret 2017. Turut hadir pada acara peresmian ini Wakil Bupati Maros, A. Harmil Mattotorang, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros, Kepala Bappeda Maros, Ketua DPRD Maros, Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi Maluku, Kepala UPT lingkup Kemen LHK Sulawesi Selatan, perwakilan Kepala UPT Kemen LHK Sulawesi Tenggara, Sri Winenang, perwakilan Kepala UPT Kemen LHK Sulawesi Tengah, Sihabuddin, Kapolres Maros, Komandan Batalyon Infanteri Para Raider 433/Julusiri Kostrad, perwakilan Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan, Jajaran Muspida Kab. Maros dan Kab. Pangkep. Peresmian sanctuary tersebut menjadi bukti atas komitmen Pemerintah dalam upaya penyelamatan kupu-kupu sebagai spesies bendera (flag species) di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Disamping sebagai pusat study satwa endemik, Sanctuary Spesies Kupu-kupu juga menjadi alternatif objek daya tarik wisata yang menarik. Pada peresmian ini Wakil Bupati Maros menyampaikan sambutannya. “Kupu-kupu sudah menjadi icon Kabupaten Maros, yang sudah dikenal sampai ke mancanegara. Kami berharap konservasi dan wisata di masa mendatang dapat terus dikolaborasikan. Kami juga mengucapkan terima kasih atas kerjasama Kementerian LHK dalam hal ini TN Bantimurung Bulusaraung atas kerjasamanya selama ini dalam pengelolaan Kawasan Wisata Bantimurung” ucap A. Harmil Mattotorang. Pada kesempatan tersebut Sekditjen KSDAE menyampaikan dukungannya kepada Pemerintah Kabupaten Maros yang menjadikan kupu-kupu sebagai iconnya. “Kami mendukung Bantimurung sebagai The Kingdom of Butterfly dengan dibangunnya Sanctuary Spesies Kupu-kupu ini, kami berharap ke depan pengelolaan santuary ini dapat mencapai tujuannya sebagai pusat konservasi kupu-kupu, edukasi, dan ekowisata” ungkap Herry Subagiadi dalam sambutannya. Sanctuary Kupu-kupu yang dikelola oleh Balai TN Bantimurung Bulusaraung ini telah memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Terdapat dome kecil (60 m2) dan dome raksasa seluas 7.000 m2 sebagai sarana utama pengembangbiakan kupu-kupu, gedung laboratorium untuk aktivitas riset, display room untuk interpretasi serta jalan trail (650 meter), MCK, loket karcis, dan gerbang utama sebagai sarana pendukung dalam pelayanan kunjungan. Untuk meningkatkan fungsi sanctuary sebagai alternatif objek dan daya tarik wisata, dibangun dua menara di puncak dome raksasa yang dihubungkan dengan jembatan gantung. Jembatan gantung ini kemudian diberi nama Helena Sky Bridge. “Nama helena kami ambil dari nama salah satu diantara 21 jenis kupu-kupu yang dikembangbiakkan di sanctuary ini, Troides helena. Kupu-kupu ini juga termasuk jenis yang dilindungi sesuai PP no. 7 tahun 1999”, ungkap Sahdin Zunaidi, Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Helena Sky Bridge sebagai salah satu bagian dari pengelolaan Sanctuary Spesies Kupu-kupu telah menjadi wahana yang menarik dan menjadi trend baru kunjungan wisatawan ke kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Tak kurang dari 9.352 orang wisatawan (sampai dengan Maret 2017) berkunjung sejak diuji cobakan pada pertengahan Desember 2016 lalu. Melalui Pengembangan Sanctuary ini, diharapkan dapat mewujudkan tercapainya visi pengelolaan “TN Bantimurung Bulusaraung menjadi destinasi ekowisata karst dunia”. Ayo ke taman nasional, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (mael&usman/tnbabul). Penulis : Taufiq Ismail dan Usman Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Clean Up : Salah Satu Upaya Penanganan Masalah Sampah di TN.Bali Bali Barat

Bali Barat, 10 Maret 2017. Taman Nasional Bali Barat (TNBB) merupakan satu-satunya Taman Nasional yang ada di Bali. Image Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia juga berdampak pada laju peningkatan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke TNBB. Pada tahun 2016, jumlah kunjungan ke TNBB sebanyak 59.956 wisatawan, yang terdiri dari 19.688 orang wisatawan nusantara dan 40.268 wisatawan mancanegara. Salah satu konsekuensi negatif peningkatan jumlah pengunjung adalah sampah. Memang, sampah di kawasan TNBB tidak hanya bersumber dari pengunjung, namun juga dari masyarakat lokal dan sampah kiriman daerah lain yang terbawa arus laut. Jika tidak ditangani, sampah akan berdampak terhadap upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan jumlah pengunjung. Menyadari hal tersebut, Balai TNBB selalu berupaya menangani persoalan sampah. Salah satu upaya yang rutin dilakukan yakni kegiatan “clean up” atau bersih-bersih dengan selalu mengupayakan pelibatan masyarakat sekitar atau instansi terkait. Selain untuk meningkatkan dukungan terhadap pengelolaan TNBB, pelibatan pihak lain juga untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran serta peran serta berbagai pihak dalam pelestarian lingkungan. Dalam pelaksanaan “clean up”, selain aksi bersih-bersih, staf Balai TNBB selalu mengupayakan adanya diskusi dan penyuluhan/ kampanye/ sosialisasi terhadap masyarakat dan instansi lain. Sumber Info : Balai TN Bali Barat
Baca Berita

37Th Lovely TN Gunung Gede Pangrango (1980 – 2017)

Cibodas, 8 Maret 2017. Keberadaan TNGGP untuk pertama kali dituangkan dalam Pengumuman Menteri Pertanian Nomor: 811/Kpts/Um/II/1980 tanggal 6 Maret 1980 tentang Pengumuman 5 (Lima) Taman Nasional (TN) di Indonesia, yaitu; TN. Gunung Leuser, TN. Ujung Kulon, TN. Gunung Gede Pangrango, TN. Baluran, dan TN. Komodo. Sebagai kawasan konservasi, TNGGP memang sudah dikenal secara internasional sejak zaman dahulu, saat para pengembara barat (para peneliti botani Belanda) mampir di kawasan ini. Secara nasional, kawasan konservasi di kompleks Gunung Gede Pangrango mempunyai arti penting dalam sejarah konservasi dan penelitian botani, karena wilayah ini merupakan kawasan konservasi yang pertama di Indonesia ditetapkan sebagai Cagar Alam Cibodas, pada tahun 1889. Tepat tanggal 6 Maret 2017 Balai Besar Taman Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-37 dengan mengusung tema “37th Lovely Taman Nasional Gunung Gede Pangrango”. Festival Gede Pangrango dalam rangka HUT TNGGP ini dilaksakan berbagai kegiatan, diantaranya: apel HUT TNGGP ke-37, pemotongan tumpeng, fun games, aneka lomba (balap karung, tarik tambang, macing, karaoke, gapleh, bola volly, dan tumpeng), serta hiburan lainnya. Dalam amanatnya, pada acara apel, Kepala Balai Besar TNGGP Adison, S.E., mengatakan, “Kita jangan larut berbangga diri dengan apa yang didapat, waktu demi waktu zaman demi zaman tantangan ke depan semakin berat dan semakin kuat, oleh karena itu saya menghimbau kepada diri saya pribadi dan kita semua mari kita menjalin komunikasi dan koordinasi internal yang lebih cantik dan lebih harmonis dalam suasana kekeluargaan. Selanjutnya untuk eksternal dari TNGGP mari kita bangun kolaborasi dengan berbagai pihak baik itu masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, pihak swasta, dan media sesuai program Kementerian LHK dan kita harus dapat memberikan publikasi yang baik dan cepat serta bermanfaat bagi semuanya”. Acara dilanjutkan dengan fun games yang dilaksanakan di Resort Mandalawangi. Fun games ini dimaksudkan untuk menambah keakraban dan kekompakan antar pegawai. Guyuran hujan dan lapangan yang becek berlumpur tidak menyurutkan semangat peserta fun games, semua bergembira menikmati suasana kebersamaan dalam kesederhanaan dan penuh kehangatan sesuai dengan tema yang diusung “37th Lovely TNGGP”. Tidak kalah serunya lomba balap karung dan tarik tambang walau dalam kondisi lapangan yang berlumpur dan becek. Peserta putra dan putri saling bersaing bertanding antar balai dan semua bidang wilayah. Saking semangatnya berlomba, para pembalap banyak yang sampai terjatuh tersungkur. Begitu juga dengan lomba karaoke dan mancing dilaksanakan sampai sore dan lomba gapleh sampai malam, ibu-ibu Dharma Wanita TNGGP pun ikut menyemarakan Festival Gede Pangrango dengan berpartisipasi dalam lomba tumpeng. Pada hari kedua, tanggal 7 Maret 2017, kegiatan dilanjutkan dengan lomba bola volly putra dan putri antara balai, bidang wilayah, serta Dharma Wanita TNGGP, acara dimeriahkan hiburan organ tunggal. Festival Gede Pangrango dalam peringatan HUT TNGGP ke-37 ini tidak hanya dilaksanakan intern lingkup Balai Besar TNGGP tetapi juga melibatkan pihak lain. Melalui kerjasama dengan Pemerintah Daerah Cianjur akan dilaksanakan kegiatan Expo Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai wahana publikasi, promosi, dan pendidikan yang pelaksanaannya masih didiskusikan. Peringatan HUT TNGGP ke-37 ini tidak dimaksudkan semata-mata untuk berhura-hura dan bersuka ria, namun penuh makna yang tersirat di dalamnya. Pada momentum ini diadakan kegiatan perenungan bersama, apa yang telah pegawai berikan untuk TNGGP dan masyarakat. Sesuai dengan NAWA CITA-nya Pemerintahan Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kala, sebagai insan pemerintah, harus “hadir” dimanapun masyarakat berada. TNGGP sebagai UPT Kementerian LHK harus selalu memberikan nilai manfaat bagi masyarakat luas, melalui peningkatanan pembangunan TNGGP yang telah dimulai para senior pendahulu menuju taman nasional yang lebih bermanfaat bagi masyarakat baik di level nasional maupun internasional. Dirgahayu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango semoga menjadi taman nasional terdepan dalam pembangunan konservasi. “37th Lovely Taman Nasional Gunung Gede Pangrango”.
Baca Berita

Pelatihan Survey Populasi Gajah Sumatera Melalui Analisis DNA BBTNBBS

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) bersama Mitra Kerja yang terdiri dari WCS – IP, RPU YABI, Fakultas MIPA UNILA, Lembaga Konservasi PT. Lembah Hijau mengadakan Pelatihan Prosedur Pengkoleksian Sampel Feses Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis), dalam rangka kegiatan Inventarisasi Gajah Sumatera di TNBBS. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 – 7 Maret 2017, di Lembaga Konservasi Lembah Hijau Bandar Lampung. Peserta Pelatihan berjumlah 20 orang merupakan tenaga teknis lapangan, yang akan melaksanakan Kegiatan Inventarisasi Gajah Sumatera menggunakan metode Capture Recapture dengan Fecal DNA. Metode ini merupakan 1 dari 2 metode survey yang direkomendasikan dalam Strategi dan Rencana Aksi Gajah Indonesia 2007 – 2017. “Kita harus dapat mengetahui populasi Gajah Sumatera yang ada di TNBBS, menggunakan pendekataan metode yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan, seperti halnya metode Capture Recapture dengan Fecal DNA ini”, kata Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Timbul Batubara, M.Si. “Kegiatan ini sangat mendukung IKK Balai Besar TNBBS, dalam mencapai target pertumbuhan satwa kunci Gajah Sumatera sebesar 2 %”, tambahnya. Pengelolaan Gajah Sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan saat ini masih mengacu data survey tahun 2002, dengan populasi sebanyak 498 individu. “Data yang ada saat ini berdasarkan data survey 15 tahun yang lalu, pelatihan ini kami perlukan dalam upaya peningkatan kapasitas kami sebagai pelaksana teknis inventarisasi”, ungkap Tri Sugiharti, S.Hut yang merupakan PEH Ahli pada Balai Besar TNBBS. Sumber Info : HUMAS BBTNBBS Link berita terkait : Video Kepala Balai Besar TN BBS - Uji Sampel DNA Gajah Survey Populasi Gajah - Kompas
Baca Berita

Gerak Cepat Petugas Dalam Pemadaman Kebakaran di TN Bukit Barisan Selatan

Suoh, Jumat 10 Maret 2017. Terjadi kebakaran hutan di kawasan TN Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Pada tanggal 09 Maret 2017 sekitar pukul 17.30 WIB berdasarkan informasi masyarakat. Kebakaran hutan di ini terjadi di wilayah Resort Suoh sekitar danau asam Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh Kab. Lampung Barat pada koordinat X= 0419506 , Y=9420504. Kepala Seksi PTN Wilayah III Krui ,Petugas resort suoh , MMP, MPA bersama dengan masyarakat sebanyak 18 (delapan belas) orang menuju ke areal kebakaran dengan menggunakan alat Jet Shooter dan gepyok berusaha memadamkan api dan mencegah kebakaran meluas. Areal kebakaran yang dominan ilalang serta angin yang kencang membuat api mudah untuk menyebar dan menyulitkan petugas dalam upaya pemadaman. Api berhasil dipadamkan pada pukul 00.30 WIB Pada tanggal 10 Maret 2017 petugas kembali ke areal kebakaran hutan untuk memastikan tidak terjadi kebakaran lagi dan melakukaan pengukuran areal yang terbakar serta melakukan penyelidikan mencari faktor yang mengakibatkan kebakaran. Sampai saat ini, pengukuran dan penyelidikan di areal bekas kebakaran masih dilakukan, sehingga kepastian luas areal yang terbakar belum dapat ditentukan. Penyebab kebakaran belum dapat dipastikan. Mengingat lokasi kebakaran tersebut adalah sumber panas bumi, maka diperkirakan penyebab kebakaran adalah faktor alam berupa letupan panas bumi dan cuaca panas di lokasi tersebut.

Menampilkan 10.849–10.864 dari 11.100 publikasi