Sabtu, 30 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pelepasliaran Buaya Muara dan Kukang di TN Way Kambas

Labuhan Ratu, 22 Maret 2017, 3 ekor Satwa dilindungi (PP. No. 7 tahun 1999 tentang Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi) dilepasliarkan di zona inti TN Way Kambas pada periode bulan Maret 2017. Pada tanggal 6 Maret 2017 ditemukan 1 ekor Kukang (Nycticebus coucang), oleh masyarakat desa Braja Asri, Way Jepara, desa yang berbatasan dengan TNWK, karena tersengat listrik ketika hujan, kemudian diserahkan kepada Satuan Tugas Polisi Kehutanan (Satgas Polhut) Taman Nasional Way Kambas di Labuhan Ratu dalam kondisi hidup dan sehat. Selanjutnya dilepas liarkan di jalur patroli Resort Way Kanan TNWK. Pada tanggal 18 Maret 2017, 1 ekor buaya muara (Crocodilus porosus) ukuran panjang 4 meter, diserahkan oleh BKSDA Bengkulu Seksi Wilayah Lampung ke Petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Way Kanan di Plang Ijo, dilepasliarkan di zona inti TNWK lokasi sungai Way Kanan. Kemudian pada tanggal 21 Maret 2017, juga 1 ekor buaya muara panjang 1,5 meter diserahkan oleh masyarakat desa Sukadana Udik Lampung Timur karena terjebak jaring ikan di sungai Way Mati, pinggir kawasan TNWK. Selanjutnya dilepas liarkan di sungai Way Kali Batin zona inti TN Way Kambas. Kepala Seksi SPTN Wilayah I Way Kanan, Bpk. Aripin, S.H. yang mendampingi Kepala Balai TN Way Kambas, Subakir, S.H, M.H, menyampaikan “Apresiasi dan penghargaan serta ucapan terimakasih kepada masyarakat dan petugas yang peduli terhadap pelestarian satwa liar dilindungi, atas terjalinnya kerjasama yang baik antar petugas dengan masyarakat serta adanya kesadaran tentang pentingnya perlindungan satwa liar, maka masyarakat secara sukarela menyerahkan satwa liar dilindungi yang ditemukan berada diluar kawasan konservasi”. (walidata TN Waykambas) Sumber: BTN Waykambas
Baca Berita

Semangat Baru Penataan Kawasan Konservasi Kita

Bogor - 22/03/2017, Terdapat 551 kawasan konservasi di Indonesia dan sebanyak 382 diantaranya belum memiliki penataan zona/blok. Padahal program prioritas nasional “Kebijakan Satu Peta” menargetkan pada tahun 2018 seluruh kawasan konservasi telah memiliki penataan zona/blok. “Ibarat sebuah rumah maka kawasan konservasi juga harus diatur tata ruang dan fungsi masing-masing ruangnya. Bila telah tertata ruangnya, yang dalam kawasan konservasi disebut zona/blok maka akan jelas arah perencanaan pengelolaannya” ujar Bpk. Kuspriyadi, Kasubdit Inventarisasi dan Informasi Konservasi Alam Dit. PIKA pada pembukaan Bimtek Pemetaan Arahan Zona/Blok Kawasan Konservasi pada tanggal 20 – 24 Maret 2017 di Hotel Arnava Bogor. Bimtek pemetaan tahap III ini dihadiri oleh 28 peserta perwakilan dari UPT Balai KSDA, UPT Taman Nasional dan UPTD Tahura. Peserta diarahkan menyusun peta arahan zona/blok menggunakan aplikasi model analisa spasial berdasarkan data inventarisasi potensi kawasan. “Bimtek ini merupakan strategi percepatan program Kebijakan Satu Peta, setelah ini akan dilakukan finalisasi peta zona/blok dan monitoring pengintegrasian peta zona/blok kawasan konservasi ke dalam Peta RBI skala 1:50.000” ujar Endarmiyasi, Kasi Pemetaan dan Informasi Konservasi Alam Dit. PIKA. “Bagi UPT yang masih mempunyai banyak pe-er penataan blok, dihimbau mengikuti program magang GIS untuk pemetaan arahan zona/blok di Dit. PIKA” tegas Bpk. Kuspriyadi. Mari tumbuhkan semangat baru penataan kawasan konservasi menuju arah pengelolaan yang lebih baik, sekaligus mencapai target “Kebijakan Satu Peta”. Sumber: Direktorat PIKA
Baca Berita

Polisi Serahkan Satwa Liar dilindungi

Rabu, 22 Maret 2017, Suriyana, warga Kp Cikabon, Parung – Kabupaten Bogor, Jawa Barat ditugaskan untuk menyerahkan satwa dilindungi Undang-undang berupa seekor Binturung (Arctictis binturong) oleh seorang Polisi AKBP Bambang Yudantara yang beralamat di Asrama Brimob Petamburan Jakarta Barat. Satwa ini sejenis musang anggota suku Viverridae yang bertampang mirip beruang berekor panjang yang biasa ditemukan di hutan primer di Tiongkok Selatan, Burma Indocina, Semenanjung Malaya, Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Petugas Balai KSDA DKI Jakarta yang menerima penyerahan satwa sangat mengapresiasi tindakan/gerakan masyarakat peduli satwa liar seperti ini, selanjutnya satwa tersebut akan diobservasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur untuk kemudian dilepasliarkan pada habitatnya. Di masa mendatang diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi seperti yang diamanatkan UU No. 5 Th. 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP. No. 7 Th, 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa . (gie_dki) Sumber: BKSDA DKI Jakarta
Baca Berita

Pemusnahan Barang Bukti 8.000 Ketam Tapal Kuda

Palembang, 22 Maret 2017. Sebagai upaya tindak lanjut penangkapan tersangka kejahatan penyelundupan ribuan ekor ketam tapal kuda awal Maret 2017 lalu, Balai KSDA Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama dengan POLAIR POLDA SUMSEL dan Kejaksaan Tinggi SUMSEL, pada hari Rabu tanggal 22 Maret 2017 telah melakukan pemusnahan Barang Bukti sejumlah 8.000 ekor karkas (bangkai) Ketam Tapal Kuda di Markas POLAIR POLDA SUMSEL. Kepala Balai KSDA Sumsel Genman Hasibuan ketika dihubungi via telepon menjelaskan bahwa “Kegiatan pemusnahan barang bukti ini merupakan wujud keseriusan pemerintah dan penegak hukum dalam memberantas perdagangan satwa liar dilindungi secara illegal”. Selanjutnya Genman berharap agar pemusnahan barang bukti ini juga dapat memberikan efek jera bagi pemburu satwa liar sehingga populasi satwa liar dihabitat alaminya tidak menurun akibat perburuan liar. Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Gabung Yuk di “Merbabu National Orienteering Competition”

Boyolali - 22/03/2017, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu bekerjasama dengan Unit Pelestari Lingkungan Merbabu akan menyelenggakan “Merbabu National Orienteering Competition” pada hari Sabtu-Minggu tanggal 25-26 Maret 2017 di Basecamp Jalur Pendakian Tekelan, Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu mengadakan Lomba Orienteering ini bermaksud untuk mengkampanyekan kegiatan naik gunung bagi mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum dengan tetap menjaga hutan dan alam agar tetap lestari serta memperkenalkan objek wisata secara umum dan wisata pada Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu dan sekitarnya. Lomba Orienteering ini adalah salah satu olahraga yang tidak hanya digemari oleh kalangan backpakers, traveller akan tetapi masyarakat umum dan pengunjung tempat area pariwisata begitu antusias menerima perlombaan ini, karena mereka mendapatkan suatu pengalaman baru serta tantangan disaat berwisata sekaligus berlomba. Kegiatan Lomba ini mengharuskan semua peserta mendatangi pos-pos atau titik point di lapangan yang tergambar di peta untuk mendapatkan point, sehingga semakin banyak mereka datang ke pos maka kemungkinan juara akan semakin besar. Dalam perlombaan ini juga dihitung waktu perlombaan, sehingga peserta diharuskan menempuh waktu yang telah di tentukan. Perlombaan akan diikuti oleh Masyarakat Umum dari seluruh Indonesia khususnya Kalangan Backpaker, Traveller dan Mahasiswa Pecinta Alam. Dalam perlombaan ini terdapat 3 (tiga) kategori, kategori Putra, Putri dan Pelajar. Target peserta lomba orienteering ini adalah 75 Tim yang masing-masing tim terdiri dari 2 (dua) orang. Hadiah bagi pemenang lomba yaitu trofi dan uang pembinaan dengan total Rp. 20.000.000,-. Ayo teman-teman semua untuk ikut bagian dalam “Merbabu National Orienteering Competition” Sumber: BTN Gunung Merbabu
Baca Berita

Serah Terima Pengelolaan Gajah Sumatera Balai TN Tesso Nilo dan BBKSDA Riau

Pekanbaru, 20 Maret 2017. Balai TN. Tesso Nilo dan BBKSDA Riau telah melakukan penandatanganan berita acara serah terima pengelolaan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) pada hari senin, tanggal 20 Maret 2017 di kantor Balai Besar KSDA Riau, Jln. HR. Soebrantas Km 8,5 Pekanbaru. Penandatanganan dilakukan antara Kepala Balai Besar KSDA Riau, Dr. Ir. Mahfudz, M.P dengan Kepala Balai TN. Tesso Nilo, Supartono, S.Hut, M.P. Serah terima ini disaksikan oleh Kabag TU BBKSDA Riau Setyo Utomo, S.H., M.Si., Kasi P3 BBKSDA Ujang Holisudin, S.Hut. dan Ka. Seksi SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga Taufiq Haryadi, S.P. Gajah sumatera yang diserahkan tersebut sejumlah 7 ekor, yang terdiri dari 4 jantan dan 3 betina. Gajah tersebut merupakan bagian dari tim Flying Squad yang bertempat di wilayah SPTN Wilayah I. Lubuk Kembang Bunga. Flying squad adalah tim patroli yang terdiri dari gajah-gajah terlatih bersama dengan pawangnya. Tim ini secara rutin, berpatroli dengan mengendarai gajah ke daerah yang berbatasan dengan Taman Nasional Tesso Nilo. Tim ini dilatih untuk selalu siaga menggiring gajah liar yang masuk ke perkebunan masyarakat atau perusahaan untuk kembali ke hutan. Dengan pengelolaan gajah dan tim Flying Squad oleh pihak Balai TN. Tesso Nilo ini diharapkan pengoperasian tim flying squad menjadi lebih efektif dan efisien sehingga mampu memberikan hasil maksimal terhadap kegiatan mitigasi konflik gajah dan manusia di kawasan TN Tesso Nilo. Sumber Info : Balai TN Tesso Nilo dan BBKSDA Riau
Baca Berita

Balai KSDA Sultra Menerima Buaya Hasil Penyerahan Masyarakat

Kendari (21/3/2017). Balai KSDA Sulawesi Tenggara (BKSDA Sultra) menerima Buaya hasil penyerahan masyarakat yang ditangkap sekitar pukul 01.00 WITA dinihari. Buaya tersebut merupakan tangkapan masyarakat disekitar Kampus Baru Universitas Haluoleo, Kendari. Kepala Balai KSDA Sultra (Sri Wiwenang) menyatakan" Panjang buaya tersebut lebih kurang 4,38 meter dengan lingkar perut sebesar 80 cm dan untuk sementara Buaya tersebut di tempatkan di depan Kantor Resort". Pihak Balai KSDA Sutra akan berkoordinasi dengan pihak penangkar/LK setempat untuk penanganan lebih lanjut serta penitipan sementara. Setelah dievaluasi dan ditemukan lokasi, buaya tersebut akan dilepasliarkan kembali. Sumber Info : Balai KSDA Sulawesi Tenggara
Baca Berita

School Visit di Resort Wisata Mandalawangi

Cianjur, 21 Maret 2017. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP)melakukan pengembangan model pendidikan konservasi dan lingkungan hidup bagi masyarakat di sekitarnya melalui kunjungan anak sekolah ke taman nasional (school visit), kunjungan personil TNGP ke sekolah (visit to school), kemah konservasi, dan lain-lain. Pada hari Selasa tanggal 21 Maret 2017, BBTNGGP melalui Bidang PTN Wilayah I Cianjur melaksanakan kegiatan School Visit di Resort Wisata Mandalawangi, dengan peserta sebanyak 30 orang pelajar SD Negeri Gunung Batu Cipanas. Peserta difasilitasi enam mentor (tiga orang mentor utama dan tiga orang mentor pembantu). Materi yang disampaikan adalah pengenalan kawasan konservasi, pengenalan keanekaragaman potensi hutan, dan pengenalan ekosistem perairan. Semua materi disampaikan dalam bentuk permainan (games). Permainan yang dilaksanakan dalam kegiatan ini antara lain valet warna, peta suara, transek sungai, dan lain-lain. Menurut ketua panitia pelaksanaan school visit, Agay “kegiatan ini perlu, school visit ini idealnya dilakukan sebanyak 25 kali per bulan. Namun karena berbagai keterbatasan baru bisa dilakukan 5 kali per tahun, satu kegiatan didanai DIPA, selebihnya berswadaya atau bekerjasama dengan mitra”. Agay juga berharap partisipasi aktif dari para pihak untuk membantu kelancaran pelaksanaan pendidikan konservasi lingkungan, sehingga upaya penyadarpedulian akan lebih intensif dan masyarakat akan peduli dengan upaya konservasi sumber daya alam. Kegiatan ini didasarkan dengan semakin tingginya jumlah penduduk dan semakin majunya teknologi, menyebabkan laju kerusakan lingkungan hidup semakin cepat, termasuk di dalamnya kerusakan sumber daya alam. Dampak dari kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup ini sudah lama dirasakan antara lain dengan timbulnya pemanasan global, terjadinya krisis air bersih, udara yang kotor, timbulnya berbagai penyakit dan lain-lain. Kerusakan sumber daya alam, tidak disebabkan kemajuan teknologi, namun karena ulah manusia yang kurang selaras dengan alam. Oleh karena itu untuk mengatasi kerusakan perlu disertai penyadarpedulian masyarakat akan upaya konservasi. Sumber Info : Andie Martien Kurnia - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Penyelamatan Macan Tutul Balai TN Gunung Halimun Salak

Kebandungan (19/3/2017). Balai TN Halimun Salak bersama petugas PPS Cikananga berhasil melakukan penyelamatan Macan Tutul (panthera pardus) yang terkena jerat yang dipasang pemburu babi di blok Cimarsi, Resort Gunung Bedil SPTN Wilayah 1 Lebak Balai TN Gunung Halimun Salak (TNGHS). Keberadaan macan tutul yang kena jerat didapat dari laporan masyarakat. Setelah menemukan Macan Tutul yang terjerat, Tim langsung melakukan upaya pembiusan dengan cara disumpit, kemudian melepaskan tali sling dari kaki kiri Macan dan melakukan pemeriksaan terhadap macan serta melakukan pengobatan. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan, Macan Tutul yang berumur sekitar 3-4 tahun tersebut tidak terluka parah (hanya lecet) dan tidak perlu direhabilitasi. Macan Tutul yang sudah diobati dilepaskan kembali di puncak Gunung Engang. Upaya tindak lanjut dari kegiatan ini, akan dilakukan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas di blok Cimarsi Resort Gunung Bedil, keberadaan Macan Tutul di blok Cimarsi Resort Gunung Bedil akan dipantau selama 3 (tiga) hari serta investigasi terhadap pelaku pemasangan jerat Babi untuk mencegah terulangnya kembali peristiwa Macan terjerat. Sumber Info : Balai TN Gunung Halimun Salak
Baca Berita

Peringatan HHI di TWA Gunung Tunak

Selasa, 21 Maret 2017. Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Tenaga Bhakti Rimbawan dan masyarakat sekitar kawasan melakukan penanaman pohon lokal di TWA Gunung Tunak dalam rangka memperingati Hari Hutan Intenasional (HHI) tahun 2017 pada tanggal 21 Maret 2017. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Balai KSDA NTB dan diikuti seluruh staf Balai. Jenis pohon yang ditanam antara lain Beringin, Kelicung, Sawo Kecik dengan jumlah sekitar 200 bibit. Sumber Info : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Evakuasi Satwa Dilindungi Dari Rumah Bupati Barito Selatan

Barito Selatan, 21 Maret 2017. Balai KSDA Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng) telah mengevakuasi sejumlah satwa liar dilindungi dari rumah jabatan Bupati Kabupaten Barito Selatan Provinsi Kalteng. Satwa tersebut terdiri dari sepasang Beruang Madu (Helarctos malayanus), sepasang Binturong (Arctictis binturong) dan 1 (satu) ekor Bangau Tontong (Leptoptilos javanicus). Penyerahan satwa tersebut sebagai bentuk penyadaran dan pembelajaran bagi masyarakat Barito Selatan dan masyarakat luas pada umumnya untuk tidak memelihara, menangkap atau memiliki satwa yang dilindungi. Polisi Kehutanan (Polhut) SKW III BKSDA Kalteng yang menerima langsung penyerahan satwa tersebut sangat mengapresiasi langkah pemerintah Kabupaten Barito Selatan untuk menyerahkan satwa-satwa dilindungi tersebut. Edi Kristanto, ST selaku Sekda Kabupaten Barito Selatan yang menyerahkan secara langsung satwa dilindungi tersebut mengatakan bahwa tidak seharusnya satwa-satwa dilindungi tersebut berada di rumah jabatan Bupati, apalagi satwa tersebut sudah hampir 10 tahun berada di rumah jabatan Bupati. Hal ini berawal dari hobi dan kepedulian Bupati terdahulu terhadap satwa - satwa seperti Beruang, Binturong maupun Burung Bangau. Selanjutnya satwa tersebut akan ditempatkan sementara di kandang transit BKSDA Kalteng sampai proses evaluasi lokasi pelepasliaran kedalam habitatnya di kawasan konservasi Provinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan PP No 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, ketiga jenis satwa yang dievakuasi merupakan jenis-jenis satwa yang dilindungi. Dan berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya pasal 21 ayat 2 (a) “Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperjualbelikan satwa liar yang dilindungi”. Pelanggaran terhadap pasal 21 UU No 5 tahun 1990 tersebut akan dikenakan pidana penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah. Sumber Info : Seksi Konservasi Wilayah III - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah
Baca Berita

Visit To School Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Subaim, 21 Maret 2017. Visit To School (VTS) Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) kembali dilaksanakan. Kali ini dilaksanakan di SMP 12 Halmahera Timur di desa Dodaga oleh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah III Subaim. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pentingnya pelestarian alam dan lingkungan pada siswa sekolah. Secara umum materi yang disampaikan oleh tenaga teknis lapangan SPTN III, Raibuldi A. Hady dan Eko Nuryadi berisi tentang fungsi dan manfaat TNAL. Disampaikan bahwa sebagai generasi muda kita harus mampu dan ikut serta dalam menjaga keutuhan kawasan agar tidak rusak dan punah sehinga alam kita dapat dinikmati dari generasi ke genarasi yang akan datang. Dalam setiap kegiatannya, TNAL selalu melibatkan masyarakat dan bersentuhan langsung dengan mereka. Harapan kedepannya adalah masyarakat dengan sendirinya akan mengelola kawasannya secara lestari. Sumber Info : Adriel L. Muda - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Pelaku Ilegal Logging Diamankan Tim Patroli BKSDA Aceh

Aceh, 21 Maret 2017. Tim Patroli SKW II Singkil Balai KSDA Aceh pada tanggal 21 Maret 2017 berhasil mengamankan pelaku illegal logging di Teluk Rumbia, Resort Singkil kawasan SM Rawa Singkil. Pelaku bernama Muriadi alias Dragon, 35 tahun, yang diamankan bersama anaknya umur 16 tahun, warga Rantau Gedung Kecamatan Singkil. Pelaku diamankan dengan barang bukti berupa papan 9 (Sembilan) lembar dengan jenis Rengas, Balok dengan ukuran 5x5x4 m sebanyak 3 (tiga) batang dan 1 buah kapak. Saat ini Tim membawa pelaku ke Polres Singkil untuk pemeriksaan dan pengembangan lebih lanjut. Sumber Info : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Secercah Harapan dari Blok Lebak Ciherang (LBC) - Resort Tapos

Tapos, 21 Maret 2017. Kawasan hutan di Blok Lebak Ciherang (LBC) – Resort Tapos, berdasarkan keterangan dari Kepala Resort Tapos Bapak Edi Subandi, “Alhamduillah penggarap di Blok LBC sudah ke luar semua dari kawasan mulai dari tahun 2015 sebanyak 22 orang melalui proses yang cukup panjang sejak pengalihan pengelolaan kawasan dari Perum Perhutani ke Balai Besar TNGGP tahun 2003. Namun, lebih sulit lagi kami selaku pengelola lapangan tingkat resort untuk dapat mempertahankan keberhasilan ini. Bagaimana agar eks penggarap tidak lagi kembali ke dalam kawasan sedangkan kondisi pendapatan mereka jauh lebih sedikit dibandingkan saat masih menggarap di dalam kawasan bahkan ada yang belum mendapatkan pekerjaan tetap”. Pada tahun 2015 pengelola TNGGP melakukan program proses pengeluaran penggarap di Blok LBC – Resort Tapos dengan kompensasi pemberian Kambing (1 orang penggarap yang ke luar mendapat 1 ekor Kambing) untuk dapat diternakan/ digulirkan. Sampai saat ini Kambing yang diberikan sebagian besar masih bertahan namun hasilnya dalam rentang waktu 2 tahun ini belum banyak dirasakan (baru menghasilkan anakan 2 – 3 ekor dan ada juga yang indukannya sudah mati). Sedangkan masyarakat eks penggarap perlu mempertahankan hidupnya. Pada kenyataannya hasil yang didapat dari kompensasi (pemberian bibit Kambing) jauh lebih rendah dari penghasilannya sebagai penggarap dalam kawasan. Eks para penggarap terus mendapat bimbingan dan pendampingan dari pengelola TNGGP. Pada tahun 2016 dibentuk Kelompok Tani Hutan LBC Lestari. Duduk sebagai ketua kelompok Bapak Madjid. Pak Madjid atau lebih dikenal dengan nama “Kajew” sebagai ketua kelompok yang eks penggarap di Blok LBC menuturkan harapan-harapannya, “Abdi mah sangat satuju lamun di LBC ieu mau dikembangkan menjadi tempat wisata tapi jangan lupa melibatkan para eks penggarap. Kami siap untuk dilibatkan dalam pengelolaan wisata LBC. Yang dirasakan eks penggarap saat ini terkait pendapatan jauh lebih sedikit dibandingkan saat masih menggarap dalam kawasan. Kalau ada kegiatan lain seperti wisata alam LBC dengan melibatkan eks penggarap akan membantu perekonomian kami sebagai eks penggarap”. Banyak potensi yang masih tersimpan untuk pengembangan wisata alam dari Blok LBC seperti Air Terjun Cikamar dan “Sang Elang Hitam” yang meliuk-liuk naik turun di sela-sela pohon Pinus. Pohon-pohon Pinus tersebut tumbuh sampai pinggiran Sungai Ciherang sebagai penanda batas kawasan TNGGP. Selain potensi sumber daya alam yang bisa dikembangkan untuk kegiatan wisata alam, potensi pengunjung pun sudah tampak terlihat. Setiap hari libur mulai banyak pengunjung yang datang ke lokasi Blok LBC untuk sekedar ber-selfie, menikmati suasana udara segar dan panorama, serta “botram” (makan bersama keluarga atau teman). Manfaat dari adanya kegiatan kunjungan ke Blok LBC ini sudah dapat dirasakan masyarakat sekitar terutama eks penggarap. Namun sayangnya pengunjung masih kurang memperhatikan kebersihan, masih banyak sampah berserakan terutama di titik-titik pinggiran jalan yang ada tembok sebagai pembatas jalan. Pengunjung banyak duduk di pinggiran jalan tersebut sambil membawa makanan. Melihat Blok LBC dari kronologis pengelolaan Perum Perhutani ke TNGGP, proses keluarnya penggarap dari dalam kawasan, berlokasi pada zona pemanfaatan, potensi SDA yang dimiliki, dan potensi pengunjung yang sudah ada dapat dijadikan sebagai potensi untuk pengembangan wisata alam dengan melibatkan masyarakat eks penggarap. Upaya ini sebagai salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan manfaat ekonomi masyarakat sekitar (terutama eks penggarap) agar tidak kembali lagi ke dalam kawasan. Sehingga pengelola kawasan perlu persiapan menuju pengembangan wisata alam LBC dengan melakukan penataan ruang melalui penyusunan desain tapak yang selama ini belum dilaksanakan. Sumber Info : Poppy Oktadiyani & Ade Bagja Hidayat - BBTN Gunung Gede Pangrango Dok: Eko Sutejo
Baca Berita

Seminar Fungsional BKSDA Yogyakarta Tahun 2017

Yogyakarta, Selasa (21/03/2017). Balai KSDA Yogyakarta melaksanakan kegiatan Seminar Fungsional Tahun 2017 di The Sahid Rich Jogja Hotel. Acara dihadiri oleh tamu undangan yang berasal dari Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di DIY yang meliputi Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY, Balai Besar Penelitian Bioteknologi Pemuliaan Tanaman Hutan, Balai Pengelolaan DAS Serayu Opak Progo, Balai Taman Nasional Gunung Merapi, dan Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI Jawa – Madura, Pusat Pengendalian Ekoregion Jawa dan diikuti oleh 91 peserta yang berasal dari instansi kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan lingkup DIY dan Jawa Tengah. Acara diawali dengan Laporan Ketua Panitia, Ilmi Kurniawati, S.Si, MPA, dilanjutkan pembukaan oleh Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Ir. Junita Parjanti, MT. Kemudian presentasi dan diskusi serta pembahasan oleh narasumber terkait yang berasal dari Akademisi, Instansi Pemerintah maupun LSM yang berkompeten. Dalam sambutannya, Ir. Junita Parjanti, MT menyampaikan “Dalam pelaksanaan kinerja jabatannya, salah satu kendala dialami oleh pejabat fungsional adalah terkait pengumpulan angka kredit untuk penyusunan DUPAK yang jika tidak diantisipasi dengan baik akan berdampak terhadap terhambatnya proses kenaikan pangkat para pejabat fungsional.” Kegiatan Seminar Fungsional merupakan kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahun yang dimaksudkan sebagai wadah bagi pejabat fungsional untuk mengembangkan kemampuan teknisnya terkait apa saja yang menjadi hasil kegiatan yang telah dilaksanakan selama satu tahun kinerjanya. Melalui seminar ini diharapkan para pejabat fungsional dapat mengembangkan diri untuk dapat menyampaikan hasil kegiatannya di depan forum. Seminar fungsional terbagi dalam tiga sesi paparan dengan masing-masing tema yang meliputi Potensi Keanekaragaman hayati DIY, Pengelolaan Daerah Penyangga Kawasan Konservasi DIY dan Pengawasan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar di DIY. Setiap sesi paparan menampilkan pejabat fungsional lingkup Balai KSDA Yogyakarta yang terdiri atas Pengendali Ekosistem Hutan, Penyuluh Kehutanan dan Polisi Kehutanan sebagai pematerinya. Sebagai pembahas dalam kegiatan ini dihadirkan narasumber yang kompeten dibindangnya yang berasal dari Fakultas Kehutanan UGM, Fakultas Biologi UGM, Fakultas Teknobiologi Universitas Atmajaya, Kasubdit TIPITER Polda DIY serta LSM Swara Owa, Yogyakarta Primate Study Group. Sumber Info : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Wana Trail Tambora 2017 “Selamatkan Hutan dan Lingkungan Melalui Ekspedisi Keliling Taman Nasional Tambora”

NTB - 19/03/2017, Kepala Balai Taman Nasional Tambora Budhy Kurniawan pada hari Minggu 19 Maret 2017 secara resmi membuka dan melepas kegiatan “Wana Trail Tambora (WTT) 2017” di halaman kantor Balai Taman Nasional Tambora. WTT 2017 merupakan kegiatan yang diselenggarakan Balai Taman Nasional Tambora dalam rangka membangun jiwa kebersamaan dalam menumbuhkan rasa kepedulian untuk menyelamatkan lingkungan dan menjaga kelestarian Taman Nasional Tambora. WTT 2017 ini diikuti kurang lebih 50 peserta yang berasal dari berbagai unsur seperti LSM pemerhati lingkungan, perwakilan club terabas Kabupaten Dompu dan Bima, perwakilan TNI dan Kepolisian termasuk pegawai Balai Taman Nasional Tambora. WTT 2017 ini merupakan bagian dari kegiatan hari bakti rimbawan yang dirangkaikan dengan Hari Kehutanan Sedunia dan Hari Hutan Internasional yang dirayakan Balai Taman Nasional Tambora. WTT 2017 berlangsung selama tiga hari mulai dari tanggal 19 sd 21 Maret 2017. Kegiatan ini membawa misi “penyelamatan lingkungan melalui kebersamaan”. Peserta Wana Trail Tambora 2017 mengelilingi Taman Nasional Tambora dengan melintasi 12 desa dan 4 kecamatan lingkar Taman Nasional Tambora dengan total panjang rute + 237 Km. WTT 2017 Taman Nasional Tambora ini akan terbagi menjadi beberapa etape, yaitu: Etape I : Kantor Balai Taman Nasional Tambora – Desa Kore dan Piong Etape II : Desa Piong – Desa Kawindato’i Etape III : Desa Kawindato’I – Desa Pekat (Dusun Pancasila) Etape IV : Desa Pekat (Dusun Pancasila) – Resort Doro Ncanga (Desa Soritatanga) Etape V : Resort Doro Ncanga (Desa Soritatanga) – Desa Kempo Etape VI : Desa Kempo – Kota Dompu Dalam setiap etape peserta akan melalukan interaksi dengan masyarakat desa sekitar untuk melalukan kegiatan penanaman 1.000 sd 2.000 bibit, bakti lingkungan pada beberapa fasilitas umum (kantor kecamatan, puskemas pembantu, sekolah, tempat ibadah dan lain-lain) di sepanjang rute yang dilalui serta melalukan sosialisasi akan pentingnya menjaga kawasan hutan Taman Nasional Tambora. Misi WTT 2017 Taman Nasional Tambora ini diharapkan mampu menjadi media yang efektif dalam mensosialisasikan keberadaan Taman Nasional Tambora sebagai taman nasional ke-51 yang berusia kurang dari dua tahun. Peserta bermalam di Dusun Pancasila dimana malamnya peserta akan melakukan kegiatan sosialisasi dengan masyarakat sekitar kawasan melalui pemuteran film tentang Taman Nasional Tambora. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa disekitar mereka ada Taman Nasional Tambora yang memiliki potensi yang luar biasa titipan Yang Kuasa yang harus dijaga dan dilestarikan bersama. Pada tanggal 20 Maret 2017, peserta WTT akan melanjutkan perjalanan menyusuri jalan lingkar Taman Nasional Tambora menuju Resort Doro Ncanga. Selain melalukan kegiatan bakti lingkungan atau bakti sosial peserta melakukan “Ekspedisi Sapu Gunung Tambora” mulai dari pintu pendakian Doro Ncanga sampai Pos 3 yang merupakan pos pendakian terakhir sebelum menuju puncak Gunung Tambora. Peserta WTT selanjutnya bermalam dan beristirahat di Resort Doro Ncanga dimana untuk keesokan harinya melanjutkan misi lingkungan ke Desa Kempo dilanjutkan ke Kota Dompu yang merupakan akhir dari Event Wana Trail Tambora 2017. Sumber: BTN Tambora

Menampilkan 10.801–10.816 dari 11.141 publikasi