Sabtu, 30 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Merangkai Mitra Memberdayakan Masyarakat Sekitar Kawasan TN Gunung Gede Pangrango

Bogor, 5 April 2017. Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango mengadakan acara “Launching Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Pasir Buncir” pada hari Rabu, 5 April 2017. Acara launching ini merupakan rangkaian kegiatan Restorasi Ekosistem di Resort PTN Bodogol dalam rangka pelaksaanaaan program kerjasama antara Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan Conservational International (CI). Setelah dilakukan penanaman pohon sebanyak 8.000 pohon di Blok Ciruntah, masyarakat eks. penggarap diarahkan untuk pengembangan usaha ekonomi produktif dalam rangka mengurangi tingkat ketergantungan terhadap hutan. Berdasarkan hasil identifikasi potensi SDA dan wilayah, maka masyarakat berkeinginan untuk mengembangkan usaha budidaya ikan lele. Masyarakat eks. penggarap dari Desa Pasir Buncir tersebut tergabung dalam suatu Kelompok Tani Hutan (KTH) Tunas Harapan, yang dibentuk pada Bulan Maret 2017 berdasarkan Berita Acara Pembentukan Kelompok dan Surat Kepala Desa Pasir Buncir. KTH Tunas Harapan diketuai oleh Bapak Royani dan beranggotakan 10 (sepuluh) orang. Pada kenyataan eks penggarap tersebut ada juga yang termasuk warga masyarakat Desa Cinagara, karena Desa Pasir Buncir berbatasan dengan Desa Cinagara. Pihak TNGGP dalam hal ini Bidang PTN Wilayah III Bogor menegaskan kepada masyarakat bahwa bantuan yang diberikan tersebut berupa bantuan pinjaman yang akan digulirkan kepada kelompok lainnya. Bantuan usaha ekonomi yang diberikan kepada KTH Tunas Harapan, berupa 2.800 ekor bibit ikan lele (dengan ukuran bibit 5 - 6 cm) dan pakannya (pellet). Kegiatan launching diisi dengan sambutan dari Manager Program CI, Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor, dan Camat Caringin. Pada kesempatan tersebut, Bapak Anton Ario selaku manager Program CI menyampaikan bahwa kegiatan ini belajar dari filosofi air dan pentingnya keberadaan air bagi kebutuhan manusia dan makhluk lainnya. Salah satu potensi air juga dimanfaatkan oleh KTH Tunas Harapan untuk budidaya ikan lele. Untuk itu, dengan manfaat yang kita rasakan dari salah satu SDA dari hutan maka penting bagi kita menjaga hutan. Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor menyampaikan untuk menjaga hutan konservasi diperlukan dukungan dari berbagai pihak baik lembaga pemerintah daerah maupun lembaga swadaya masyarakat. Camat Caringin juga menyampaikan bahwa dengan adanya hutan konservasi, masyarakat mendapatkan manfaat yang sangat besar dengan segala potensi. Potensi yang ada di Desa Pasir Buncir harus terus dijaga dan dimanfaatkan secara seimbang. Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan oleh Kepala Desa Pasir Buncir dan Camat Caringin kepada Ketua KTH Tunas Harapan yang disaksikan oleh pihak TNGGP dan CI. Penebaran bibit ikan lele di kolam dipandu oleh Penyuluh Perikanan dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor. Sumber Info : Ratih Mayangsari, S.Hut. – Penyuluh Kehutanan Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Tim Balai KSDA Kalbar Kembali Evakuasi Orangutan dari Masyarakat

Sintang, 5 April 2017. Seekor Orangutan jantan berumur ± 3 tahun kembali diamankan oleh Tim Gugus Tugas TSL Seksi II Sintang Balai KSDA Kalimantan Barat pada pukul 11.12 WIB Jum’at (04/03/2017) di Desa Kebong Kecamatan Kelam Kabupaten Sintang. Bapak Muksan selaku pemilik Orangutan tersebut diberikan penyuluhan/ sosialisasi oleh Tim Gugus Tugas TSL tentang peraturan Undang-Undang No. 5 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. Selanjutnya Tim berkoordinasi dengan SOC (Sintang Orangutan Center) untuk menitiprawatkan satwa tersebut agar satwa tersebut kembali memiliki sifat liar sebelum kemudian dapat dilepas liarkan kembali ke habitatntya. Pengamanan satwa liar ini berawal dari laporan masyarakat yang mengatakan bahwa ada satwa liar yang dilindungi oleh Undang-Undang yang dipelihara oleh seorang warga, Tim gugus TSL segera menindak lanjuti laporan tersebut dan melakukan pengecekan ke lokasi untuk membuktikan kebenaran atas laporan yang dimaksud. Sumber Info : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Lokasi Baru Rafflesia Rochussenii di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Bodogol, 5 April 2017. Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ditemukan satu jenis rafflesia yaitu Rafflesia rochussenii. Penemuan lokasi baru yaitu di Resort PTN Bodogol, penemuan lokasi baru ini semakin melebarkan persebaran Rafflesia rochussenii di TNGGP yang keseluruhannya berada di lereng Gunung Pangrango. Lokasi penemuan baru ini berada di ketinggian 1.350 mdpl yang menjadi lokasi tertinggi perjumpaan selama dilakukannya monitoring Rafflesia rochussenii oleh TNGGP. Persebaran Rafflesia rochussenii di TNGGP selama ini hanya dijumpai di 2 lokasi yaitu di Resort PTN Cimande dan Resort PTN Tapos. Perjumpaan baru Rafflessia rochussenii didapat saat dilakukannya survey Feasibility Study (FS) Skyline Pangrango – Bodogol oleh petugas TNGGP dan tim survey pada tanggal 21 Oktober 2016. Permasalahan yang ada di lokasi baru ini adalah lokasi yang sangat sulit untuk didatangi karena berada sekitar 1 hari perjalanan dari Bodogol dengan medan yang cukup berat, sehingga menyulitkan untuk dilakukan pemantauan/ monitoring yang berkelanjutan. Saat ditemukan pertama kalinya (Oktober, 2016), rafflesia di Resort PTN Bodogol ada beberapa knop yang sudah busuk dan hanya ada satu Rafflesia rochussenii yang mekar. Vegetasi pada lokasi perjumpaan Rafflesia rochussenii di Resort PTN Bodogol cukup beragam seperti puspa (Schima wallichii), pasang (Lithocarpus sundaicus/ Quercus sundaica), huru (Litsera spp.), rasamala (Altingia excels), kitambaga (Eugenia operculata), manglid (Manglieta glauca), janitri (Elaeocarpus ganitrus), kihujan (Engelhardti spicata), dan jirak (Symplocos javanica) dengan tinggi pohon berkisar antara 20 – 40 m. Kondisi tumbuhan inang juga terlihat masih bagus. Permasalahan terhadap terjaganya kelestarian Rafflessia rochussenii adalah populasi R. rochussenii di TNGGP belum secara pasti diketahui. Diduga mengalami penurunan yang diakibatkan oleh pembusukan knop, gangguan manusia, dan gangguan satwa. Marga rafflesia merupakan salah satu keluarga flora yang menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati Indonesia, dan hampir semuanya menjadi tumbuhan endemik. Kelestarian rafflesia menjamin kelestarian hutan yang menjadi habitatnya dan kelestarian mahluk hidup lainnya (Susmianto & Widyatmoko, 2015). Disamping rafflesia, ditemukan jenis Rizanthes sp., menurut Heywood (1978) rhizanthes merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang satu famili dengan rafflesia, namun untuk jenis ini belum dilakukan penelitian yang mendalam, data yang diperoleh sementara bahwa rizanthes ini tumbuh pada inang yang sama dengan Rafflesia rochussenii yaitu pada liana jenis Tetrastigma sp. “Salam Konservasi – Semangat Konservasi”. Sumber Info : Robi Rizki Zatnika, A.Md. – PEH Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Ratusan Burung Migran Alami Sakit Lumpuh

Jambi - Tim Balai KSDA Jambi beserta Wakil Bupati Tanjung Jabung Timur, Asisten Bupati, Ka. SKPD Budparpora, Ka. SKPD Litbang, BLHD Kab. Tanjung Jabung Timur, Dinas Keswan dan Perkebunan, Camat Sadu, Kepala desa Cemara, Kepala Desa Air Hitam Laut dan TN. Berbak Sembilang melakukan pengecekan Burung jenis Kedidi Besar (Calidris tenuirostris) (7/3/2017). Burung-burung tersebut terkena sakit lumpuh kaki dan sayap serta lemas bergerak sehingga dapat ditangkap dengan tangan di pinggir pantai. Jumlah burung – burung tersebut diperkirakan berkisar 100 ekor. Burung yang tidak dapat diselamatkan sekitar 75 ekor sedangkan 25 ekor dapat diselamatkan oleh warga dalam kondisi hidup. Hasil penanganan awal di lapangan disinyalir gejala penyakit ini tidak membahayakan sebab tidak ada burung yang langsung mati tetapi melalui proses lumpuh, lemas dan mati sedangkan sebagian dimakan elang, babi dan sebagainya. Adapun ciri-ciri burung yang mati itu dari paruhnya keluar air liur. Penanganan bagi burung yang masih hidup sudah dilakukan di Ds. Cemara dan sudah diberikan arahan pengobatan dan pemulihan fisik satwa oleh dokter hewan serta perawatannya. Pada Tgl. 12 Maret 2017 Balai KSDA Jambi Beserta Tim Pemda terkait kembali melakukan pengecekan ke Ds. Cemara. Pada Proses perawatan, burung –burung tersebut diberikan cairan minum infus dan makanan ikan dan udang kecil yang diblender halus karena satwa burung tidak bisa menelan atau sampai berbunyi seperti tersedak-sedak karena diperkirakan sakit di tenggorokan Burung yang sakit dan dirawat oleh Saudara Herman, hanya tersisa 7 ekor yang hidup dan sudah terbang kembali ke pantai tempat kelompoknya berada. Sumber Info: BKSDA Jambi
Baca Berita

Valuasi Karbon di Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Rengat, 4 April 2017. Kegiatan valuasi karbon atau inventarisasi karbon di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) merupakan tindak lanjut kerjasama antara Balai TNBT dan WWF Indonesia. Kegiatan ini didasarkan pada perjanjian kerjasama No. PKS. 213/BTNBT-1/2016 dan No. 2630/wwf-pku/ADM/VI2016 tanggal 27 Juni 2017 tentang Perlindungan dan Pembinaan Habitat Harimau Sumatera dan Valuasi Potensi Karbon di TNBT. Kegiatan valuasi karbon dilakukan sebanyak 12 klaster di hutan SPTN II Belilas dari total 17 klaster hutan keseluruhan kawasan TNBT yang telah dijadwalkan dari September 2016 sampai April 2017. Pelaksanaan inventarisasi 5 klaster lainnya yang terdiri dari 1 klaster hutan wilayah SPTN 2 Belilas dan 4 cluster hutan wilayah SPTN I Tebo Jambi akan dilaksanakan minggu 1 dan 3 bulan April 2017. Kegiatan dilaksanakan secara kolaboratif yang melibatkan pejabat fungsional PEH, Polhut dan konsultan WWF. Kegiatan valuasi karbon ini menerapkan metode plot petak purposive sampling dan direkam menggunakan aplikasi MimS. Pelaporan hasil berupa data cadangan karbon akan dilakukan setelah tercapai 17 klaster atau 100%. Sumber Info : Balai TN Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Polhut BKSDA Maluku Sita Puluhan Satwa Liar

Maluku, 04/04/2017, Polhut Resot Dobo Seksi Konservasi Wilayah 3 Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku dan anggota Polres Dobo Kabupaten Maluku Tenggara Barat, menyita 24 ekor kakatua jambul kuning, 13 ekor ular kuning, 2 ekor biawak dan 5 ekor toke. Barang bukti sementara diamankan di kantor Resort Dobo dan pelaku diamankan di kantor Polres Dobo untuk dilakukan proses lebih lanjut. Sumber Info: BKSDA Maluku
Baca Berita

TNAL Ikut Meramaikan Kemah Konservasi di Lampung

Sofifi, 5 April 2017. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaksanakan Puncak Acara Hari Bhakti Rimbawan Ke-34 tahun 2017 dan Hari Hutan Internasional di Sekolah Usaha Perikanan Menegah (SUPM) Kota Agung Kabupten Tanggamus Provinsi Lampung pada tangal 31 Maret s/d 2 April 2017 berupa Kemah Konservasi. Hadir dalam acara adalah Menteri LHK Ibu Dr. Siti Nurbaya Bakar beserta jajarannya, UPT KSDAE seluruh Indonesia, termasuk Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata yang diwakili oleh Raduan (Kepala SPTN I), Kader Konservasi binaaan Balai Besar Taman Nasioan Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) dan stakeholder terkait. Acara diawali dengan atraksi dari Marching Band Corps Oktopus Taruna SUPM Negeri Kota Agung yang sangat meriah, tari-tarian adat di bawah binaan Bpk. Ir. Timbul Batubara MSi (Kepala BBTNBBS).Kegiatan tersebut dikuti oleh Agenda yang dilaksanakan antara lain bersih pantai dan penanaman mangrov, pelepasan benih udang, pelepasan satwa 2 ekor burung Elang Brontok (Spizaetus cirhatus) dari Pusat Konservasi Elang Kamojang Garut, 2 ekor elang Simpai dan 2 Ekor Musang dari PPS Lampung BKSDA Bengkulu, Kegiatan Bina Cinta Alam, Organisasi dan Wadah Pencinta Alam, P3k dan SAR, Ekologi Sosial dalam Penanggulangan bencana, Dasar Dasar Umum Ekologi, The Outstanding Universal Value TNBBS (TRHS), Penyusunan Deklarasi Kader Konservasi, Penyusunan Rencana Kerja dan Pelaporan Kader Konservasi, pengenalan flora fauna, dll. Dalam sambutanya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengajak seluruh peserta turut serta menjaga lingkungan dan melestarikan Hutan dan ekosistemnya khususnya wilayah Sumatera. Sebagai contoh adalah satwa yang menjadi perhatian dunia internasional saat ini. Satwa tersebut adalah Badak, Gajah dan Harimau. Selain itu Ibu Menteri juga memberikan perhatian yang besar terhadap kelestarian flora fauna di Indonesia yang ada di seluruh Taman Nasional. Pada kesempatan itu, Menteri LHK memberikan beberapa izin dan bantuan kepada masyarakat. Diantarnya Izin Pemanfaatan Air, Izin Usaha Penyedian Jasa Wisata Alam bagi Koperasi, Izin Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Damar Matakucing dan penyerahan secara simbolis bantuan Pengembangan usaha Konservasi bagi Pekon Pakunegara (dalam bentuk Perlengkapan Pengembangan Wisata Alam). Kegiatan tersebut terlaksana dengan baik dan tentunya membawa manfaat bagi tuan rumah. Kiranya kegiatan serupa dapat diadakan di Balai TNAL untuk memperkenalkan lebih dekat potensi keanekaragaman hayati khas Maluku Utara sekaligus pengenalan Suaka Paruh Bengkok. Sumber Info : Raduan – Kepala SPTN Wilayah I Weda Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kemah Konservasi Lampung 2017 : Tindakan Nyata Aksi Bersama

Kotaagung, 3 April 2017. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya melaksanakan Kunjungan Kerja (Kunker) menghadiri Kemah Konservasi Tahun 2017 Provinsi Lampung, di Sekolah Usaha Menengah Perikanan (SUPM) Kotaagung, pada Hari Minggu tanggal 2 April 2017. Penyelenggaraan kegiatan Kemah Konservasi merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Bhakti Rimbawan ke-34 serta Hari Hutan Internasional Tahun 2017 Provinsi Lampung. Kemah Konservasi dimaksudkan sebagai wahana peningkatan pemahaman masyarakat terutama generasi muda, tentang pentingnya pelestarian hutan bagi modal kehidupan dan harga diri bangsa Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017 ini diikuti oleh 319 Kader Konservasi yang berasal dari 90 masyarakat / pemuda-pemudi dan 229 Pramuka (Saka Wanabakti; Saka Bahari; Saka Kalpataru; Saka Bakti Husada, dll). Pada puncak acara Kemah Konservasi, dengan disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Plt. Dirjen KSDAE menyerahkan Izin Pemanfaatan Air pada 4 kelompok yang terdiri dari Pemanfaatan Air Batu Intan; Pemanfaatan Air Menangungan; Pemanfaatan Air Penayuh; Pemanfaatan Air Seputih Balak; serta Izin usaha Jasa Wisata Alam untuk Koperasi Pakor Makmur dan Izin Usaha Jasa Wisata Perorangan sebanyak 3 izin. Pada Rapat Evaluasi Hasil Pelaksanaan Kemah Konservasi Provinsi Lampung Tahun 2017, Senin 3 April 2017, bertempat di Kantor Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Kotaagung, Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Timbul Batubara, M.Si menyampaikan bahwa dalam rangkaian kegiatan Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam hal ini Balai Besar TNBBS, bersama Mitra Kerja dan stake holder di Lampung, telah melakukan aksi nyata konservasi bersama masyarakat /pemuda-pemudi. Ir. Timbul Batubara M.Si mengatakan : “Kemah Konservasi ini telah melahirkan 319 pejuang – pejuang konservasi dan pendekar lingkungan yang langsung dikukuhkan oleh Ibu Menteri KLHK, dan melakukan Tindakan Nyata Aksi Bersama antara lain : Pembersihan sampah Pantai Way Gelang sepanjang 1 km dengan total sampah yang berhasil dikumpulkan sebanyak 1,074 Ton; Penanaman 10.000 batang pohon terdiri dari 3.000 batang jenis Mangrove, 6010 jenis MPTS dan 990 jenis kayua – kayuan; Melakukan pelepas liaran satwa yang diserahkan oleh BKSDA Bengkulu Lampung pada rangkaian Kegiatan Kemah Konservasi, terdiri dari 4 Ekor Elang Brontok, 2 ekor simpai dan 2 ekor Musang. Pelepas liaran dilakukan di Resort Sukaraja SPTN I Sukaraja, dengan didampingi oleh Tim KSDA Bengkulu Lampung; Ibu Menteri KLHK ikut dalam aksi penanaman 10.000 bibit tanaman”, ujar Ir. Timbul Batubara, M.Si. “Yang perlu kita perhatikan adalah tindak lanjut dari Kegiatan Kemah Konservasi kemarin. Kita berterimakasih pada Ibu Menteri KLHK yang berkenan hadir serta mengapresiasi apa yang telah kita lakukan, dan tentu saja hal ini menambah semangat kita bersama untuk berbuat yang lebih baik lagi demi konservasi Lampung dan Indonesia” tambah Ir. Timbul Batubara, M.Si. Sumber Info : Humas Balai BesarTN Bukit Barisan Selatan 2017
Baca Berita

Deklarasi Tiga April Wakatobi

Wangi-Wangi, 3 April 2017. Menyikapi dinamika pembangunan serta permasalahan pesisir dan pulau-pulau kecil di Wakatobi dalam rangka mendukung agenda SDGs (Sustainable Development Goals), maka forum stakeholders (Pemerintah dan masyarakat Wakatobi), sepakat mengeluarkan Deklarasi Wakatobi, dimana deklarasi ini sebagai rekomendasi agenda aksi bersama untuk mengajak semua pihak agar secara sinergis terlibat aktif dalam gerakan masyarakat menuju pembangunan Wakatobi yang berkelanjutan. Deklarasi Tiga April Wakatobi ditandatangani oleh 15 (lima belas) deklarator antara lain (1) Seluruh Masyarakat Mola Raya (2) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (3) Pemda Wakatobi (4) Balai Taman Nasional Wakatobi (5) Polres Wakatobi (6) Pos TNI AL Wakatobi (7) Sara Mandati (8) Kerukunan Keluarga Bajo (9) Lembaga Pariwisata Mola (10) Komanangi (11) WWF-ID SESS (12) DFW-Indonesia (12) PKH Bersinar Mola Raya (13) ISKINDO (14) KAMELIA (15) ISAKAPALA Deklarasi Tiga April Wakatobi berisi: Demikian deklarasi Wakatobi ini disepakati bersama dan akan dievaluasi setiap enam bulan sejak tanggal dikeluarkan. Menjadi kewajiban semua pihak untuk berpartisipasi melaksanakan Deklarasi Wakatobi agar memberikan hasil nyata bagi masyarakat Bajo Mola Raya pada khususnya dan Wakatobi secara umum. Mola Raya, 3 April 2017 Sumber Info : Balai TN Wakatobi
Baca Berita

Hari Terakhir Deep And Extreme 2017 Balai TN Aketajawe Lolobata

Jakarta, 2 April 2017. Hari terakhir pameran Deep and Extreme di JCC Jakarta, Tim pameran Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) membuka stan “Tagi Togumua” pukul 09:00 WIB dengan membawa bahan promosi lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Sesaat setelah pameran dibuka, pengunjung yang didominasi pasangan muda mulai berdatangan di stan pameran TNAL. Tak sedikit pasangan muda yang bertanya tentang lokasi wisata, akses dan akomodasi di TNAL yang merupakan daerah jelajah Russel Alfred Wallace ini. Petugas pameran TNAL menjelaskan seluruh pertanyaan pengunjung dan menunjukkan paket wisata yang tercantum di brosur. Jumlah total pengunjung di booth taman nasional selama pameran sebanyak 260 pengunjung. Bahkan beberapa pengunjung masih tetap berdatangan di stan taman nasional walaupun jadwal pameran sudah berakhir. Beberapa wisatawan sudah mengagendakan kunjungannya ke TNAL. Bahkan, tahun 2018 salah satu travel menyatakan berencana membawa pengunjung sebanyak 300 orang ke lokasi wisata Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Selama mengikuti pameran, tim TNAL mendapatkan banyak masukan dan pengalaman yang sangat berguna bagi pengelolaan wisata alam dikawasan. Antara lain pembuatan sanitasi yang baik, bersih dan sehat, pembuatan jadwal acara/event tahunan, dan lainnya. Tim pameran yang merupakan tim promosi (database) TNAL terdiri dari anggota Polisi Kehutanan, yaitu Dikdik PN (Ketua Pameran), Akhmad David KP (desain dan penulis), Pankratius Ajo WB (administrator), M. Sofyan Ansar (videographer) dan Fidin M (desain grafis). Tim Database juga menyampaiakn terima kasih kepada seluruh teman-teman di TNAL Sofifi, karena telah memberikan dukungan dan semangat kepada tim. Tahun 2017 ini TNAL memiliki beberapa kegiatan terkait wisata alam, yaitu pembangunan jembatan, menara pengamatan dan pembuatan dokumen Detail Engineering Design (DED). Dalam pembuatan dokumen DED akan dilaksanakan sebaik mungkin agar dapat memenuhi semua harapan penunjung dalam pameran Deep and Extreme. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Partisipasi TN Ujung Kulon pada Deep and Extreme Indonesia 2017

Jakarta, 3 April 2017. Pameran Deep and Extreme Indonesia 2017 adalah pameran Internasional bertemakan “EKOWISATA, EXTREME SPORT, OUTDOOR ADVENTURE DAN WISATA PETUALANGAN” yang diselenggarakan dalam rangka mendorong pelaku industri dan usaha terkait untuk turut berperan aktif dan bersama-sama dengan pemerintah mengembangkan destinasi wisata sekaligus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan untuk kawasan-kawasan wisata alam. Pameran yang sudah menginjak tahun kesembilan ini akan diselenggarakan bersamaan dengan pameran Deep and Extreme Indonesia 2017, pameran Internasional bertemakan “DIVING, WATER SPORT, OUTDOOR ADVENTURE DAN WISATA BAHARI” yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pecinta bahari, penyelam dan penggiat olah raga air lainya. Melalui kedua pameran yang sudah menjadi agenda Internasonal ini diharapkan para pelaku industri memiliki kesempatan besar untuk melakukan transaksi dan pengembangan jaringan pasar dengan para pengunjung pameran yang sebagian besar adalah masyarakat pelaku wisata alam, para penyelam, para petualang alam, pelaku bisnis wisata bahari dan petualangan outdoor atau wisata rekreasi dan hobi, masyarakat peduli konservasi dankomunitas-komunitas yang terkait aktifitas selam, olahraga air dan olahraga selam. Sehubungan dengan hal tersebut, Taman Nasional Ujung Kulon membuka stand yang menampilkan keanekaragaman hayati serta ekosistem yang ada di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 30 Maret sampai dengan 02 April 2017 bertempat di Assembly Hall, Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC). TIDAK ADA BADAK TIDAK BAGUS… Sumber Info : Balai TN Ujung Kulon
Baca Berita

Hari ke-3 Deep And Extreme 2017 Balai TN Aketajawe Lolobata

Jakarta, 1 April 2017. Pukul 09:00 WIB, tim pameran yang ditugaskan mulai membuka stan nomor E7, stan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Pameran Deep and Extreme yang dibuka pukul 10:00 di JCC Jakarta sudah mulai dipadati pengunjung untuk antri membeli tiket masuk. Tim pameran yang ditugaskan berjumlah 5 (lima) orang dari Pokja Database Balai TNAL. Pengunjung pameran pada hari Sabtu melebihi 2 hari sebelumnya, dengan total pengunjung di stan Balai TNAL tercatat dibuku tamu sebanyak 200 pengunjung. Akan tetapi pengunjung stan yang tidak sempat menulis dibuku tamu juga tidak kalah banyak. Pengunjung yang berdatangan rata-rata membawa keluarga. Alasan kedatangan pengunjung selain belanja perlengkapan berlibur adalah memilih tempat berlibur pada saat liburan tahun ini. Pameran Deep and Extreme menyajikan bermacam-macam tempat wisata. Terutama wisata bahari atau penyelaman. Walaupun menyajikan atraksi wisata terestrial, booth TNAL memiliki jumlah pengunjung yang tidak kalah banyak. Atraksi yang disajikan adalah pengamatan burung Bidadari Halmahera, wisata budaya Masyarakat Tobelo Dalam (MTD), wisata petualangan goa dan panorama alam. Banyak permintaan dari pengunjung yang datang di stan TNAL, antara lain permintaan paket wisata, waktu terbaik untuk kunjungan, informasi penelitian dan lainnya. Tidak kalah penting adalah rencana peliputan potensi wisata TNAL dari salah satu media televisi. Booth taman nasional juga menjadi sponsor lomba dalam pameran dengan memberikan hadiah berupa souvenir. Tidak sedikit dari pengunjung yang mengapresiasi desain booth TNAL dan menyatakan bahwa Indonesia itu indah. Permintaan informasi tersebut sudah tercantum di leaflet yang disediakan oleh tim pameran. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Doc.Deep&ExtremeIndonesia2017-edit
Baca Berita

“RASAU” PANDAN RAWA GAMBUT SEBAGAI MAKANAN ALTERNATIF BEKANTAN

Kasongan, 31 Maret 2017. Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan salah satu satwa terancam punah di kawasan TN Sebangau, untuk mengetahui peningkatan species satwa terancam punah maka dilakukan monitoring populasi bekantan sehingga didapatkan data series jumlah individu setiap tahun. Kegiatan monitoring bekantan ini dilaksanakan pada tanggal 25 s.d 31 Maret 2017 di wilayah kerja Resort Muara Bulan SPTN Wiayah III Kasongan dimana ditemukan ±154 (seratus lima puluh empat) individu. Kejadian kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015 telah merusak habitat bekantan sehingga pohon pakan bagi bekantan semakin berkurang. Keberadaan tanaman rasau yang berada di sepanjang pinggir sungai kebanyakan tidak ikut terbakar karena posisinya yang berdekatan dengan air sehingga umbut tanaman rasau berlimpah dan banyak dikonsumsi oleh bekantan. Lapisan yang lebih tebal pada tangan dan kaki bekantan membuatnya tahan terhadap duri-duri tanaman rasau yang tajam. Bekantan akan mengupas dan mencabut daun paling muda untuk dikonsumsi hal ini membuat ujung tumbuhan rasau menjadi rusak, namun akan tumbuh tunas dan cabang-cabang baru beberapa bulan kemudian pada ujung batang rasau yang rusak tersebut. Sampai dengan saat ini pemanfaatan tanaman rasau masih sangat sedikit, sebagian kecil orang memanfaatkan daunnya untuk dibuat semacam tikar kasar, namun tidak begitu populer karena sifatnya yang kurang awet. Meskipun kurang begitu populer ternyata pucuk daun rasau atau dalam bahasa lokal disebut “umbut” merupakan salah satu makanan alternatif favorit bekantan dan orangutan. Rasau (Pandanus helicopus) adalah tumbuhan sejenis pandan yang biasa hidup di tepian sungai dan danau di kawasan rawa gambut. Habitat alami tumbuhan rasau berada pada daerah rawa gambut yang memiliki karateristik air unik berwarna hitam seperti air teh namun sangat jernih dan tidak berbau. Rasau berkembang biak melalui tunas dan tumbuh secara menggerombol di tempat-tempat berair dalam seperti di tepi sungai, danau dan rawa, karena sifatnya yang mudah tumbuh tidak jarang pula rasau menjadi tumbuhan pengganggu karena dapat tumbuh rapat hingga menutupi aliran air. Pertumbuhan rasau dapat mencapai tinggi hingga 6 m, setelah tinggi batang lebih dari 2 m batang akan bercabang satu atau lebih. Daun-daunnya mengumpul di ujung, tersusun spiral dalam tiga baris; helaian daun berbentuk pita dan ditumbuhi duri yang sangat tajam disepanjang tepiannya; daun muda berwarna keputihan hingga kekuningan sedangkan daun yang sudah tua akan berwarna hijau tua. Malai bunga berwarna putih dan berbau harum semerbak sedangkan buahnya bulat sampai lonjong dan terlihat sangat menggiurkan karena hampir mirip buah nangka atau cempedak namun buah rasau tidak dapat dikonsumsi. Sumber Info : Balai TN Sebangau
Baca Berita

Sosialisasi Kebijakan Keamanan Hayati Dalam Pengelolaan Keanekaragaman Hayati

Bandung, 31 Maret 2017. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat telah mengadakan Sosialisasi Kebijakan Keamanan Hayati Dalam Pengelolaan Keanekaragaman Hayati kepada berbagai instansi terkait, LSM, Perguruan Tinggi, Kelompok Adat serta Media yang berada di Provinsi Jawa Barat pada tanggal 31 Maret 2017 bertempat di Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat. Acara ini dibuka oleh Direktur Konservasi Kenakeragaman Hayati, Ir. Bambang Dahono Aji, MM, MSi. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kepedulian semua pihak dalam penerapan kebijakan keamanan hayati yaitu terkait pengelolaan dan penanganan jenis asing invasif, produk rekayasa genetik dan zoonosis bersumber satwa liar. Dalam kesempatan ini, bertindak sebagai pembicara adalah Kasubdit Keamanan Hayati, Dra. Daisy Joyce Djohor, M.Eng yang mengupas kebijakan dalam pengaturan produk rekayasa genetika, Dr. drh. Ligaya Ita Tumbelaka, Msc, SP.MP yang memberikan materi tentang zoonosis di Indonesia dan Dr. Soekisman Tjitrosoedirjo, M.Sc yang berbagi ilmu tentang penyebaran jenis invasif di Indonesia. Selain itu dalam pengalaman penanganan isu ini di lapangan, turut menjadi pembicara adalah dari pihak BBKSDA Jawa Barat dan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat. Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah kontinuitas sosialisasi yang berjenjang secara vertikal dari tingkat pemerintah hingga masyarakat, peningkatan koordinasi dan kerjasama antar pihak terkait secara integral dan menyeluruh, serta penguatan regulasi dalam rangka penanganan jenis invasif dan zoonosis bersumber satwa liar di Indonesia serta produk rekayasa genetika yang akan dilepas ke lingkungan. Indonesia telah meratifikasi Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati atas Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati dan menandatangani Protokol Nagoya tentang Akses dan Pembagian Keuntungan terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Genetik. Pengelolaan produk rekayasa genetika ini, regulasi penting yang perlu diperhatikan adalah UU No. 21 tahun 2004 tentang ratifikasi Protokol Cartagena yang mengatur tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (PRG). Pentingnya protokol ini di ratifikasi karena adanya pendekatan kehati-hatian (precautionary approach) untuk menjamin keamanan dari perpindahan lintas batas sehingga tidak menimbulkan kerugian terhadap konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati.. regulasi ini penting untuk menhilangkan kekhawatiran akan adanya risiko terhadap keamanan hayati, kesehatan manusia dan sosial budaya dari penggunaan produk rekayasa genetik. Penanganan Jenis Asing Invasif (JAI) ke Indonesia, KLHK bersama dengan K/L terkait, telah meluncurkan dokumen Strategi Nasional dan Arahan Rencana Aksi Pengelolaan Jenis Asing Invasif di Indonesia. Selain itu telah diterbitkan Peraturan Menteri LHK No. P.94/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2016 tentang Jenis Invasif yang diharapkan dapat dirujuk oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengawasan lalu lintas tumbuhan dan satwa baik dari luar negeri masuk ke Indonesia maupun lintas wilayah di Indonesia dan zoonosis bersumber satwa liar merupakan ancaman lain terhadap keanekaragaman hayati Indonesia. Tercatat kurang lebih 1800-an jenis tumbuhan asing dan beberapa jenis satwa asing yang telah diintroduksi dan harus dikaji sifat invasifnya. Regulasi ini diterbitkan untuk membatasi berbagai jenis hewan dan tumbuhan asing yang masuk ke Indonesia sebagai hewan peliharaan dan tumbuhan hias maupun untuk kegunaan lain. Dikhawatirkan penyebaran JAI secara tidak terkendali dapat secara cepat menghilangkan jenis-jenis tertentu di suatu ekosistem yang dapat berakibat berubahnya komposisi dan struktur ekosistem tersebut. Regulasi ini diharapkan kasus introduksi enceng gondok serta keong mas yang telah menjadi hama pengganggu yang merugikan di banyak daerah di Indonesia, serta introduksi acasia di Taman Nasional Baluran yang mengganggu habitat banteng (Bos javanicus) tidak terjadi kembali. Untuk isu zoonosis ini, hal yang disampaikan dalam acara sosialisasi ini adalah satwa liar diketahui sering menjadi reservoir penyakit yang tidak diketahui (new emerging infectious diseases) dan dapat juga menjadi sumber re-emerging zoonosis yang telah dikendalikan sebelumnya. Beberapa zoonosis telah dikenal di Indonesia dan beberapa lagi darinya sangat ditakuti karena dapat menyebabkan kematian seperti flu burung (avian influenza), antrax, rabies, hepatitis, TBC dan ebola. Faktor lain yang menjadikan zoonosis sangat penting adalah kenyataan bahwa zoonosis seperti rabies dan flu burung bersifat sangat mematikan dan penyebaran penyakit ini melalui perantara satwa. Berdasarkan hasil penelitian bahwa penyebab utama munculnya zoonosis bersumber satwa liar adalah perilaku manusia dalam pemanfaatan habitat alami dari satwa liar, seperti perubahan lahan atau kawasan hutan menjadi lahan pertanian, perdagangan satwa liar, perilaku manusia berupa konsumsi makanan eksotis, pengembangan ekowisata, akses ke kebun binatang, dan kepemilikan hewan peliharaan eksotis. Untuk mengurangi risiko emerging zoonosis bersumber satwa liar, masyarakat harus dididik mengenai risiko yang terkait dengan pemanfaatan atau pengelolaan serta pelaksanaan sistem surveilans yang tepat terhadap satwa liar. Sumber Info : Direktorat KKH
Baca Berita

Kemah Konservasi Lampung 2017

Kotaagung, 31 Maret 2017. Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017 dibuka oleh Kepala Balai Besar TNBBS tanggal 31 Maret 2017, pukul 14.30 WIB. Pada saat membuka Kegiatan Kemah Konservasi, Ir. Timbul Batubara, M.Si menyampaikan bahwa Kemah Konservasi ini merupakan konsep model kemah yang baru pertama kali di Indonesia, karena akan dihadiri oleh Menteri LHK saat puncak acara. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antar stakeholder termasuk Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten khususnya dengan SUPM Kotaagung yang menjadi tempat acara. Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017 diselenggarakan di Sekolah Usaha Perikananan Menengah (SUPM) Kotaagung, dalam rangka memperingati Bakti Kehutanan ke 34 dan Hari Hutan Internasional. Peserta berjumlah 300 orang, terdiri dari 90 orang Kader Konservasi dan 210 orang Pramuka (Saka Wanabakti, Saka Bahari, Saka Kalpataru, dll). Materi yang akan diberikan pada peserta terdiri dari Leader Of Consevation (Ir. Timbul Batubara, M.Si); Kegiatan Bina Cinta Alam di TNBBS; Ekologi Sosial Dalam Penanggulangan Bencana; Dasar – Dasar Umum Ekologi; Pemanfaatan Kawasan Konservasi Berbasis Wisata Oleh Masyarakat; dll. Dalam Kegiatan Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017, para peserta akan melakukan aksi nyata dalam kegiatan konservasi, seperti penanaman 6.000 bibit pohon (bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Gubernur Lampung); Pelpas liaran satwa Elang Brontok; Aksi Bersih Pantai. “Diharapkan para peserta Kemah Konservasi akan menjadi Pejuang – Pejuang Konservasi dan Pendekar – Pendekar Lingkungan” kata Ir. Timbul Batubara, M.Si, disela acara Pembukaan Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017, saat wawancara dengan TVRI, sesaat setelah menyampaikan materi pada Peserta mengenai Leader of Conservation. Sumber Info : Humas Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Hari ke-2 Deep And Extreme 2017 Balai TN Aketajawe Lolobata

Jakarta, 31 Maret 2017. Antusias pengunjung hari ke-2 pameran Deep and Extreme di JCC Jakarta khusunys di booth Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), tercatat pada buku tamu sebanyak lebih dari 100 pengunjung. Ini karena hari pertama diperuntukkan bagi para agen travel, investor dan pelaku bisnis perjalanan wisata, sedangkan hari kedua calon visitor datang dari berbagai kalangan. Selain didatangi calon wisatawan, booth yang bertajuk “Heaven Of Bird” ini juga dikunjungi oleh Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK), Ir. Ismugiono, MM. Saat kunjungan, beliau dipandu langsung oleh Kepala Balai TNAL, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut., MT dengan menunjukkan atraksi wisata alam di TNAL, yaitu atraksi burung Bidadari Halmahera. Pada saat pemanduan, Direktur PJLHK sangat antusias dan bertanya apakah burung tersebut ada atau tidak. Dan dijelaskan bahwa burung tersebut ada dan terjaga dengan baik oleh TNAL. Dalam kunjungannya Direktur PJLHK berpesan agar teman-teman di TNAL tetap semangat dan selalu sukses dalam bekerja serta memuji desain booth pameran Balai TNAL. Selanjutnya Kepala Balai TNAL memberikan souvenir kepada Bapak Direktur. Kunjungan lainnya oleh Ibu Susanti, salah satu Kepala Seksi di Direktorat PJLHK. Beliau juga memberikan motivasi dengan mengajak teman-teman TNAL untuk memberikan tulisan-tulisan dan video promosi TNAL kepada PJLHK. Stan pameran PJLHK berhadapan dengan stan pameran TNAL, sehingga bisa dengan mudah untuk melakukan pertukaran informasi-informasi terkait wisata alam. Tidak lupa Kepala Balai TNAL juga memberikan souvenir kepada Ibu Kasie. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Menampilkan 10.753–10.768 dari 11.141 publikasi