Sabtu, 30 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pengembangan Kemitraan Dengan Masyarakat di Zona Tradisional TNBT

Riau, 12/04/2017, Salah satu target Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) periode 2015 s.d 2019 adalah terlaksananya kemitraan dengan masyarakat di dalam kawasan seluas 25 hektar. Hasil identifikasi kelompok masyarakat di dalam kawasan pada tahun 2016, dipilih dua dusun yang mewakili, yaitu Dusun Tualang, Desa Siambul dan Dusun Siamang, Desa Rantau Langsat yang berada di wilayah Resort Siambul, SPTN Wilayah 2 Belilas Riau dan secara administratif berada di Kec. Batang Gansal, Kab. Indragiri Hulu Riau. Pertimbangan dipilih dusun tersebut karena aksesibilitas yang relatif mudah dijangkau dibandingkan dusun yang lain. Kedua dusun ini berada di sepanjang aliran Sungai Batang Gansal dengan mayoritas penduduknya suku tradisional talang mamak. Berdasarkan identifikasi potensi diperoleh kesamaan obyek pengelolaan, yaitu budidaya tanaman rotan dari jenis rotan jernang dan rotan kelukup. Rotan merupakan hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dianggap memiliki prospek cukup tinggi dan keberadaannya mulai sulit ditemukan di hutan. Pada tahun 2017, Balai TNBT melanjutkan proses pengembangan kemitraan di zona tradisional dengan melakukan sosialisasi, pembentukan kelompok masyarakat, penandatanganan perjanjian kerjasama dan pemberian bantuan pengembangan kemitraan di zona trasional. Kelompok yang terbentuk, yaitu kelompok Tualang Sejahtera (Dusun Tualang) dan Jelemu Bengayauan (Dusun Siamang). Bantuan usaha ekonomi akan diarahkan untuk mengoptimalkan produktivitas getah rotan dengan memberikan sarana produksi antara lain berupa 1 unit alat produksi getah rotan dan 2000 bibit rotan. Tahapan selanjutnya akan dilakukan penandatanganan naskah perjanjian kerjasama yang disepakati oleh kedua pihak, yaitu Kepala BTNBT dan ketua kelompok masyarakat. Kegiatan ini diharapkan tepat sasaran dan tepat guna dalam mengembangkan dan melestarikan potensi sumber daya alam di dalam kawasan TNBT.???? (Nur Hajjah, S.Hut) Sumber: BTN Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

Kebakaran Hutan di TN Bukit Tigapuluh Berhasil Dipadamkan Tim Gabungan

Riau, 10 April 2017. Kebakaran hutan memberi dampak negatif bagi kelestarian kawasan maka dari itu upaya penanggulangan perlu sesegera mungkin dilakukan. Berdasarkan pantauan satelit Terra/Aqua terdapat hotspot (HS) 9 April 2017 terdapat sebanyak 4 HS di Kab. Indragiri Hulu, 3 titik berada di luar kawasan dan 1 titik berada di dalam kawasan TNBT. Pada Senin, 10 April 2017, Tim Gabungan yang terdiri dari Satuan Tugas Brigade Dalkarhut TNBT, Polsek Batang Gansal dan Petugas Resort Talang Lakat segera dikerahkan untuk melakukan ground check dan pemadaman langsung agar api tidak menjalar lebih luas. Dari hasil cek lapangan, koordinat lokasi kebakaran berada di dalam kawasan TNBT tepatnya koordinat 0.84908 - 102.55792 , sekitar 400 meter dari pantauan HS dengan luas sekitar 2 ha. Lokasi tersebut berada di Resort Talang Lakat, SPTN Wilayah 2 Belilas, Riau. Dengan menggunakan peralatan yang telah dibawa antara lain jet shooter, petugas gabungan secara bersatu-padu memadamkan api dan menyisir lokasi areal kebakaran untuk memastikan api tidak menjalar ke areal berhutan. Pantang pulang sebelum padam menjadi slogan dan pulang cepat tanpa asap menjadi penyemangat. Sumber Info : Balai TN Bukit Tigapuluh
Baca Berita

BKSDA Aceh Evakuasi Buaya Muara Sepanjang 4,9 Meter

Aceh, 11 April 2017, Petugas BKSDA Aceh melakukan penyitaan buaya muara yang ditangkap masyarakat Desa Rantau Gedang Kec. Singkil dengan cara dipancing. Buaya muara berukuran panjang 4,9 meter dengan lingkar perut 2,4 meter tersebut, ditangkap warga pada hari jumat, 8 april 2017 karena dianggap membahayakan warga. Selanjutnya buaya tersebut dievakuasi ke Banda Aceh untuk dilakukan tindakan pencabutan mata pancing yang menancap di kerongkongan secara manual. Untuk sementara buaya tersebut dipelihara di kandang transit BKSDA Aceh untuk memulihkan kondisi dan selanjutnya akan direlease atau dititipkan ke Lembaga Konservasi atau penangkaran terdekat. Sumber: BKSDA Aceh
Baca Berita

Gelaran Festival Pesona Tambora 2017

Mataram, 11 April 2017. April merupakan bulan yang memiliki nilai penting bagi Taman Nasional Tambora, dimana setiap tahun pada bulan April diselenggarakan kegiatan Festival Tambora. Tahun ini merupakan tahun ketiga penyelenggaraan festival tambora sebagai wujud pelaksanaan amanat Presiden RI saat puncak peringatan “Dua Abad Tambora Menyapa Dunia” pada tanggal 11 April 2015 lalu di lapangan Doro Ncanga dimana festival tambora menjadi festival tahunan masyarakat NTB khususnya Kabupaten Dompu dan Bima. Tiga tahun lalu tepatnya 11 April 2015 saat puncak peringatan “Dua Abad Tambora Menyapa Dunia” menjadi tahun bersejarah bagi Taman Nasional Tambora. Pada puncak peringatan “Dua Abad Tambora Menyapa Dunia” Presiden RI meresmikan Cagar Alam, Suaka Margasatwa dan Taman Buru Tambora seluas 71.645,64 Ha menjadi taman nasional. Peresmian Taman Nasional Tambora oleh Presiden RI tersebut merupakan salah satu kegiatan monumental ketika itu. Tahun 2017 ini Taman Nasional Tambora bersama Pemerintah Daerah kembali mengelar “Festival Pesona Tambora 2017”. Festival Pesona Tambora tahun ini yang di launching di Hotel Dharmawangsa Jakarta pada tanggal 23 Maret 2017 mengusung tema “Investasi Guna Mendorong Pertumbuhan Pariwisata Pulau Sumbawa”. Balai Taman Nasional Tambora sebagai penyelenggara festival pesona tambora menyelenggarakan kegiatan seperti Wana Trail Tambora (WTT) mulai dari tanggal 19 sd 21 Maret 2017, Jambore Konservasi Pesona Tambora (JKPT) yang dilaksanakan sejak tanggal 8 sd 13 April 2017 diikuti 500 peserta perwakilan anggota pramuka se-NTB, Jelajah Alam Pesona Tambora yang merupakan aktivitas melintasi hutan kawasan Taman Nasional Tambora dengan berjalan kaki secara ber-regu, Sapu Gunung Pesona Tambora yang merupakan ajang kepedulian terhadap lingkungan. Berikut beberapa kegiatan yang diselenggarakan sebagai rangkaian festival pesona tambora 2017. Kegiatan tersebut antara lain : Sumber Info : TU Balai TN Tambora
Baca Berita

Dua Orang Warga Diterkam Beruang Madu

Batanghari, 10 April 2017. Tim Balai KSDA Jambi bersama Polsek Pemayung dan masyarakat berhasil melakukan penanganan konflik beruang madu di Desa Teluk Ketapang Kec. Pemayung Kab. Batanghari. Kegiatan ini terjadi pada hari Senin 10 April 2017 dengan korban 2 (dua) orang an. Sdr. Sahrun Basri dan Sdr. Hasan Basri usia masing-masing 38 tahun asal Desa Teluk Ketapang. Lokasi kejadian pada kawasan areal penggunaan lain, lahan kebun masyarakt tanaman kebun karet. Dari hasil keterangan korban, pada hari Senin 10 April 2017 sekitar pukul 12.30 WIB, korban yang sedang bekerja mengolah kayu untuk kebutuhan dapur pondok mendengar suara seperti anak kancil, lalu kedua korban mendekati tempat kejadian perkara (TKP) karena diketahui pada lokasi tersebut ada pemasangan jerat babi (jerat babi tersebut dipasang oleh orang dari luar desa). Sampai di TKP kedua korban langsung didekati dan dicakar 2 (dua) ekor Beruang besar. Sdr. Hasan Basri mengalami luka putus jari kaki kanan dua buah dan Sdr. Sahrun Basri mengalami luka cakar pada betis. TKP tersebut merupakan habitat beruang madu, dan konflik (penyerangan) terjadi karena anak Beruang besar tersebut kena jerat. Tim kemudian memasang perangkap untuk beruang di lokasi kejadian dan pengawasannya bekerjasama dengan masyakat sekitar. Sumber Info : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Davina Veronica menghadiri Rapat Konsolidasi Pelaksanaan Kegiatan KSDAE 2017

Dalam rangka akselerasi pelaksanaan program tahun 2017, Direktorat Jenderal mengadakan Rapat Konsolidasi yang dihadiri oleh seluruh elemen Pimpinan KSDAE. Acara ini dilaksanakan pada Senin 10 April 2017 di Hotel Menara Peninsula Jakarta Barat. Dalam kesempatan ini Rapat yang dibuka dan dipimpin langsung oleh Plt Direktur Jenderal KSDAE Dr. Ir. Bambang Hendroyono, MM. menekankan bahwa pentingnya manajemen pengelolaan kawasan baik teknis maupun administratif. Untuk sisi administrasi, diharapkan seluruh Pimpinan Satker (Direktur / Kepala Balai Besar/ Kepala Balai) untuk segera mengakselerasi pelaksanaan kegiatan pada tahun 2017 ini. Anggaran yang baru terserap sebesar 15,52% untuk triwulan pertama, walaupun sudah melebihi rata-rata Kementerian LHK yaitu 14%, akan tetapi harus lebih dipercepat dalam pelaksanaannya, terlebih lagi pagu alokasi anggaran KSDAE tertinggi dibandingkan dengan eselon I yang lain. Hal tersebut penting, karena pada waktu yang tidak terlalu lama lagi Presiden sudah memberikan aba-aba persiapan untuk penghematan anggaran dengan sasaran utama adalah Belanja Barang. Disampaikan juga selain permasalahan administrasi oleh Plt. Direktur Jenderal KSDAE penyelesaian masalah strategis di masing-masing UPT juga harus tetap diprioritaskan. Setiap Kepala UPT hendaknya harus datang membawa solusi untuk permasalahan-permasalahan di wilayahnya, tidak hanya sekedar melaporkan kepada Direktur Jenderal/Sekretaris Direktorat Jenderal/Para Direktur. Pada kesempatan ini, hadir juga Duta Konservasi Indonesia: Davina Veronica yang juga turut serta untuk berbagi pengalamannya dalam upaya-upaya konservasi di Indonesia utamanya untuk konservasi Orangutan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Davina menerangkan awal mulanya jatuh cinta dengan upaya konservasi satwa liar hingga sekarang masih terlibat aktif dalam upaya konservasi khususnya orangutan bersama-sama dengan BOS Foundation di Kalimantan Tengah. Pada Sesi siang hingga sore, para peserta rapat mendapat pencerahan dari Ir. Wahjudi Wardojo, M.Sc. yang merupakan salah satu konservasionis dan pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal PHKA dan Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan. Beliau saat ini merupakan Penasehat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada paparannya beliau dengan tema: "Konservasi: Kemarin, Hari Ini dan Esok" menjelaskan mengenai World Conservation Strategy (WCS) dimana terdapat 3 (tiga) prinsip konservasi yaitu: Provision of Life Support System, Preservation, dan Sustainable Use yang diterjemahkan sebagai 3 P di Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 Acara ditutup dengan ramah tamah serta diskusi antara Plt Direktur Jenderal KSDAE dengan para peserta untuk menyelesaikan masalah strategis lingkup Direktorat Jenderal KSDAE. (wed/pe) Bahan materi/paparan dapat diunduuh di link sebagai berikut: Arahan Plt DJ KSDAE pada acara Konsolidasi Pelaksanaan Kegiatan 2017 WW-Ditjen KSDAE-2017
Baca Berita

Program 'NYANTRIK' BTN Aketajawe Lolobata ke BTN Gunung Ciremai

Mengingat segala keterbatasan akan sumber daya yang dimiliki pemerintah, khususnya dalam mengelola kawasan konservasi secara efektif, baik keterbatasan dalam hal ketersediaan anggaran maupun sumberdaya manusia, maka pilihan yang paling memungkinkan di masa datang adalah dengan menggerakkan kekuatan masyarakat untuk mampu mengelola kawasan konservasi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata memiliki visi kemitraan dalam pengelolaannya yakni masyarakat dilibatkan sebagai 'pengelola aktif' dalam tugas-tugas pemangkuan kawasan. Tantangan utama dalam mewujudkan visi tersebut adalah dibutuhkan nya sebuah model pengelolaan yang secara nyata mampu menjaga kelestarian ekosistem sekaligus memberikan ruang maksimal bagi masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan dan memperoleh keuntungan dan manfaat langsung untuk kesejahteraan hidupnya. Untuk itu, maka dijalankan lah program 'nyantrik' Balai TNAL ke Balai TNGC. Kegiatan ini direncanakan akan dilaksanakan selama 7 (tujuh) hari dari tanggal 6 s.d. 12 April 2017 dan diikuti oleh 8 (delapan) orang personil Balai TNAL yang terdiri dari Kepala Balai, KSBTU, 3 orang Kaya SPTN, Koordinator Polhut, Koordinator Penyuluh dan Koordinator PEH. Melalui konsep 'kedaulatan rakyat' nya Balai TNGC menyuguhkan semangat baru dalam pengelolaan kawasan konservasi dengan banyak terobosan pola pikir tanpa mengabaikan kebijakan dan peraturan yang berlaku. Nilai-nilai dan semangat yang diperoleh dari kegiatan ini diharapkan dapat diadopsi, diduplikasi dan dimodifikasi untuk diterapkan dalam pengelolaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Pada kesempatan ini, bertepatan dengan kunjungan bapak Irjen Kementerian LHK dan beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada pengelola TNGC atas upaya mewujudkan kedaulatan rakyat dalam pengelolaan kawasannya dan juga kepada tim Balai TNAL yang memiliki semangat untuk belajar demi suksesnya pengelolaan kawasan bersama masyarakat. Adapun masyarakat sekitar TNGC sendiri secara antusias menyampaikan banyak hal positif atas adanya inisatif pemangku kawasan untuk menerapkan kedaulatan rakyat dalam pengelolaan kawasannya. (Sadtata Noor Adirahmanta (Kepala Balai TN Aketajawe Lolobata)) Sumber Info : BTN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Cuka Kayu Produk Binaan BKSDA Sumsel

Palembang, 6 April 2017. Kelompok Sumber Rejeki yang merupakan pemberdayaan masyarakat binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel). Kelompok ini bersama dengan kelompok Ibu PKK dan karang taruna Desa Sebokor berpartisipasi dalam pameran tingkat Kecamatan Air Kumbang- Banyuasin pada tanggal 6 April 2017. Dalam pameran tersebut, desa binaan BKSDA Sumsel melaunching produk cuka kayu sebagai salah satu usaha kelompok yang sedang dikembangkan. Dalam aplikasinya, kelompok mulai melakukan eksperimen penggunaan cuka kayu sebagai pupuk cair dalam kegiatan pertanian dan membantu mempercepat penggumpalan getah karet. Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Sosialisasi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial

Banten, Kamis, 06 April 2017, Dinas lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Banten mengadakan Kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial, acara tersebut didakan di Sofyan Inn Altama Hotel dibuka oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten. Dalam kegiatan tersebut, hadir para undangan yang diantaranya dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pandeglang, Bappeda Kabupaten Pandeglang, Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Lembaga Swadaya Masyarakat, penyuluh kehutanan serta para kader konservasi. Dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon diundang sebanyak 8 (delapan) orang yang terdiri dari 1 (satu) orang narasumber, 2 (dua) orang staff dan 5 (lima) orang kader konservasi, yang berasal dari masyarakat daerah penyangga Taman Nasional Ujung Kulon. Sosialisasi ini disampaikan secara langsung dari pemateri (narasumber) kepada tamu undangan (peserta) dengan memberikan materi melalui paparan serta diskusi (tanya jawab) antara pemateri dan peserta sosialisasi. Adapun beberapa narasumber yang memberi materi antara lain, Bapak Kemih Kurniadi,SP (Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pandeglang, Ibu Ir. Cherryta Yunia, MM (Kasubdit Konservasi Lahan Basah dan Taman Kehati), Bapak Ir.Tedi Sutedi, MSc (Kasubdit Pemolaan dan Pemetaan Kawasan Ekosistem Esensial) Serta Aris Budi Pamungkas, S.Hut (Taman Nasional Ujung Kulon). Materi yang di bahas yaitu mengenai Pengelolaan Ekosistem Esensial di Indonesia serta Potensi Kawasan Ekosistem Esensial di Kabupaten Pandeglang. Sumber: BTN Ujung Kulon
Baca Berita

Best Booth Awards for Best Informasion and Services Untuk Direktorat PJLHK

Bogor, 6 April 2017. Usai sudah gelaran Deep and Extreme Indonesia 2017, yang telah berlangsung pada tanggal 30 Maret – 2 April 2017 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Jakarta. Dengan mengusung tema Tujuh Taman Nasional Laut di Indonesia, booth Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mendapat penghargaan sebagai Best Booth for Best Information and Services. Penghargaan ini, adalah untuk ke lima kalinya diperoleh, semenjak Direktorat PJLHK mengikuti pameran Deep and Extreme Indonesia pada 2011. Tema booth memang selalu menjadi perhatian utama oleh Direktorat PJLHK saat akan tampil untuk publik. Tema tersebut mewarnai dekorasi booth, materi baik cetak maupun elektronik yang disajikan untuk pengunjung dan layoutnya pada booth. Selain itu, penampilan dan pelayanan para pemandu pun tidak luput dari perhatian. Kemenangan itu tentunya bukan menjadi target utama. Ada hal yang lebih prioritas yaitu lebih dikenalnya taman nasional sebagai bagian dari kawasan konservasi beserta potensi-potensi obyek wisata alam di dalamnya, oleh masyarakat luas. Selanjutnya, masyarakat diharapkan lebih paham bahwa pada zona pemanfaatan yang salah satunya di tujukan untuk wisata alam, masyarakat dapat berkunjung dan melakukan aktivitas-aktivitas wisata alam yang menarik, mulai dari ativitas ringan hingga ekstrim. Kawasan taman nasional yang terdiri dari daratan dan perairan, menawarkan aktivitas petualangan alam seperti pendakian, jelajah hutan, susur gua, kemping, pengamatan tumbuhan dan satwa liar, penyelaman, snorkeling, dan lain sebagainya. Ajang pameran ini juga menjadi media efektif untuk menyampaikan pesan-pesan edukasi terutama terkait dengan prinsip-prinsip berwisata yang bertanggung jawab yaitu wisata alam yang tetap mengedepankan kaidah-kaidah konservasi. Karena dalam berwisata alam, potensi keindahan obyek wisata alam lah yang menjadi daya tarik utama. Jika obyek tersebut rusak, maka aktivitas wisata alam pun akan terganggu. Untuk itu, setiap pengunjung taman nasional wajib mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pengelola taman nasional. Diantaranya, tidak membuang sampah sembarangan, bahkan sebisa mungkin membawa kembali sampah yang dibawa ke rumah dan membuangnya pada tempat yang telah disediakan, tidak memberi makan satwa dan menyentuhnya, tidak mengambil tumbuhan dan satwa yang dijumpai, dan lain sebagainya. Penghargaan ini menjadi cambuk bagi Direktorat PJLHK untuk berkarya dengan lebih baik lagi. Hormati alam dan berwisatalah dengan bijak. Ayo ke Taman Nasional!! Sumber Info : Direktorat PJLHK
Baca Berita

Mantan Wagub Jabar Serahkan Satwa Liar Dilindungi ke BBKSDA Jabar

Bandung, 6 April 2017. Para pejabat negara yang ada di Republik ini sudah selayaknya meneladani sikap Nu’man Abdul Hakim, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat 2003 – 2008. Betapa tidak, mantan anggora DPR-RI ini secara sukarela telah menyerahkan 2 (dua) ekor satwa liar kepada Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL BBKSDA Jawa Barat pada hari Kamis, 6 April 2017. Menurut penuturannya, satwa liar yang terdiri atas satu ekor elang brontok (Spizaetus cirrhatus) dan satu ekor elang bondol (Haliastur Indus) tersebut, merupakan hasil pemberian dan telah dipelihara selama satu tahun. Saat ini, kedua satwa tersebut diamankan di kandang transit kantor BBKSDA Jawa barat, untuk selanjutnya akan dititiprawatkan di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) Kab. Garut untuk direhabilitasi. Peristiwa ini sekali lagi membuktikan bahwa kampanye penyelamatan TSL secara massive dengan dukungan berbagai pihak, utamanya media massa, telah berhasil menggugah sebagian masyarakat untuk turut serta melestarikan TSL dilindungi undang-undang. Sumber Info : Humas Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Rapat Persiapan Kegiatan Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Sofifi, 6 April 2017. Agenda rapat persiapan kegiatan adalah pembahasan kegiatan kunjungan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) ke Balai Taman Nasional Gunung Cermai (BTNGC), persiapan pameran Indogreen, penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) dan sekilas tentang kunjungan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Rapat dilaksanakan di gedung Pusat Informasi BTNAL di Sofifi pada tanggal 6 April 2017. Rapat dipimpin langsung oleh Kepala Balai TNAL, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, MT. Dihadiri oleh seluruh pejabat struktural, koordinator fungsional dan tim pameran Indogreen. Kepala Balai menyampaikan beberapa arahan, yaitu 1). Tim pameran harus memiliki strategi khusus agar dapat melakukan pemanduan di stan pameran dengan baik; 2). Terkait kunjugan ke BTNGC seluruh pegawai yang berangkat harus “mengosongkan” kembali pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dan mulai belajar apa yang didapat di BTNGC; 3). Kegiatan METT bulan Mei nanti perlu dikonsep dengan baik dengan melibatkan banyak pihak. Informasi lainnya terkait peresmian Suaka Burung Paruh Bengkok yang rencananya turut mengundang Ibu Menteri LHK, bahwa kemungkinan besar akan terlaksana. Tim studi banding ke BTNGC terdiri dari pejabat struktural dan koordinator fungsional berangkat 6 April 2017. Sedangkan jadwal pameran Indogreen akan dilaksanakan tanggal 13 – 16 April 2017 di JCC Jakarta. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Pelantikan Pengurus Saka Wanabakti Kwarcab Lampung Timur

Labuhan Ratu, Rabu 5 April 2017, Ketua Kwartir Cabang Pramuka Lampung Timur, kak Mardiyo, pagi ini jam 10.00 WIB bertempat di aula TN Way Kambas melantik Pengurus Pramuka Saka Wanabakti Kwartir Cabang Lampung Timur yang berpangkalan di kantor Balai Taman Nasional Way Kambas masa bakti tahun 2017-2022. Pelantikan Majelis Pembimbing Saka Wanabakti, sebagai Ketua Subakir, S.H, M.H, (Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas), Wakil Ketua, Hermawan, S.Hut (Ka. SBTU), Anggota Aripin, S.H, (Ka. SPTN Wilayah I Way Kanan), Drs. Patris Salim (Ka. SPTN Wilayah II Bungur), Nopriyanto, S.P, MiL, (Ka. SPTN Wilayah III Kuala Penet). Untuk Pengurus Saka Wanabakti Ketua kak Sumardi, S.P, (PEH Lanjutan TN Way Kambas) beserta Pamong, Instruktur, dan anggota berjumlah 25 orang. Sebelumnya pada kegiatan Kemah Konservasi Lampung 2017 yang dilaksanakan tanggal 1-2 April 2017 di Kotaagung Tanggamus Lampung, Saka Wanabakti Cabang Lampung Timur turut berpartisipasi dan mendapat trophy Juara II dalam acara Pentas Seni. Kemah Konservasi dalam rangka Hari Bhakti Rimbawan ke-34 dan Hari Hutan Internasional 2017 tingkat Propinsi Lampung ini dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ibu Siti Nurbaya, jajaran Pemerintah Daerah Propinsi Lampung, Kabupaten Tanggamus, dan sebagai pelaksana Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan. Dengan dihadiri para Pramuka dan Kader Konservasi sekitar 300 orang. Sumber : BTN Way Kambas
Baca Berita

Sosialisasi Peluncuran Taman Nasional Gandang Dewata

Mamasa, 5 April 2017. Irjen Pol Drs. Carlo Brix Tewu, Pejabat Gubernur Sulawesi Barat meresmikan acara Sosialisasi Peluncuran Taman Nasional Gandang Dewata di Aula GTM Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat Rabu (5/4/2017). Turut hadir dalam Rombongan Gubernur tersebut, Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Listiya Kusumawardhani, M. Sc, Tim Desk Penanganan Keamanan Gangguan dalam Negeri (PKGDN) Kemenko Polhukam masing-masing; Asisten Deputi Penanganan Konflik Brigjen Pol. Bambang Sugeng, Kepala Pusat Keteknikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Drh. Indra Explotasia, Kabid Penanganan Konflik Kolonel Jus Marisal, Wakapolda Sulawesi Barat, dan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) Ir. Dody Wahyu Karyanto, MM serta Pejabat Eselon II dan III lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dan Para Kepala KPHL dan KPHP Kabupaten Mamasa. Dalam Acara yang dihadiri oleh sekitar 450 orang yang terdiri Bupati Mamasa, Wakil Bupati serta jajaran pejabat pemerintahan Kabupaten Mamasa, Ketua DPRD Mamasa, Camat, Kepala Desa,Tokoh Adat serta Pengurus AMAN Kondosapata Pitu Uluna Salu Mamasa. Bupati Mamasa Ramlan Badawi mengatakan "Bahwa Taman Nasinal Gandang Dewata memiliki keanekaragam yang tinggi, serta keindahan yang dapat dijadikan lokasi wisata serta sebagai daerah tangkapan air yang perlu dijaga kelestariannya". Gandang Dewata menjadi Taman Nasional yang ke 53 di Indonesia yang lokasinya berada di Kabupaten Mamasa, Mamuju Tengah dan Mamuju Provinsi Sulawesi Barat sebagai upaya untuk melindungi kawasan dengan tingkat keberagaman, keaslian, dan keunikan yang sangat tinggi. Penelitian LIPI pada 2013 lalu menunjukkan bahwa Gandang Dewata adalah habitat bagi sejumlah spesies burung endemik, bahkan ditemukan sejumlah spesies baru yang perlu terus dijaga. “Kawasan Taman Nasional Gandang Dewata diperoleh melalui perjalanan panjang dengan mempertimbangkan beberapa aspek dan pada akhirnya ditetapkan melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor: SK.773/MENLHK/SETJEN/PLA.2/10/2016 tanggal 3 oktober 2016” ucap Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Listya Kusumawardhani. Carlo mengucapkan terima kasih kepada Obed Nego Depparinding (Mantan Bupati Mamasa sekaligus Ketua AMAN Mamasa) yang pada masa jabatannya yaitu tahun 2009 telah memberikan rekomendasi persetujuan sebagian Hutan Lindung di Kabupaten Mamasa menjadi Taman Nasional. “Hutan memberikan manfaat besar bagi kelangsungan hidup manusia. Penetapan kawasan Gunung Gandang Dewata sebagai Kawasan Taman Nasional adalah anugerah bagi masyarakat kabupaten Mamasa. Oleh karena itu segenap komponen masyarakat harus menjaga kelestarian dan ekosistem Taman Nasional ini” ucap Carlo Brix Tewu. Pejabat Gubernur juga meminta kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk segera membentuk balai tersendiri untuk mengelola Taman Nasional Gandang Dewata. Setelah membuka acara Bapak Gubernur Sulawesi Barat dan Rombongan menyaksikan stand pameran Balai Besar KSDA Sulsel yang menampilkan potensi keanekaragaman Hayati Taman Nasional Gandang Dewata serta kunjungan ke stand Dinas Pariwisata kab Mamasa serta melepaskan berbagai macam burung sebagai tanda upaya pentingnya menjaga fauna yang ada di Taman Nasional Gandang Dewata. Sebagai dukungan para pihak, telah ditanda tangani Maklumat yang berisi antara lain ; Yang pada prinsipnya agar terbangun keserasian antara upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan kesejahteraan masyarakat. Sumber Info: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Pemangsa Muda Dari Pasir Datar

Bogor, 5 April 2017. Petugas (PEH, POLHUT, dan JFU) Bidang PTN Wilayah II Sukabumi menjumpai individu muda baru yang teramati sedang soaring saat monitoring elang jawa di site monitoring Cimungkad (Pasir Datar) pada tanggal 30 Maret 2017. Kehadiran burung pemangsa muda di Pasir Datar ini terasa spesial karena merupakan daerah yang pernah ditinggali oleh sang penemu elang jawa, namun dibalik itu kelestarian jenis raptor (burung pemangsa) ini masih dirasa cukup rawan karena maraknya perdagangan liar. Salah satu cara pengamanan elang jawa adalah dengan melakukan pengamanan di sarangnya karena di sarang ini yang paling rawan untuk diambil oleh para pemburu anakan elang jawa. Dengan penemuan individu muda baru ini merupakan kabar gembira bagi pengelola TNGGP, selain individu baru yang dijumpai di Pasir Datar juga teramati 3 individu baru di wilayah Resort PTN Bodogol, Resort PTN Cimande dan Resort PTN Cisarua yang teramati oleh PEH Bidang PTN Wilayah III Bogor. Pengelolaan elang Jawa di TNGGP dilaksanakan dalam bentuk pembinaan habitat dan monitoring populasi untuk mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU), berdasarkan SK Direktur Jenderal PHKA nomor: SK.132/IV-KKH/2011 tanggal 8 Juli 2011 untuk 14 spesies satwa prioritas dengan target peningkatan populasi 3 % selama 2010 - 2014 dan SK Dirjen PHKA No. 200/IV/KKH/2015 untuk 25 spesies satwa prioritas dengan target peningkatan populasi 10 % selama 2015 - 2019. Status konservasi elang jawa yang endemik jawa ini termasuk kategori endangered (terancam punah) dalam daftar IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resource) dan tercantum dalam Appendix 1 CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Dalam lingkup nasional, elang jawa termasuk satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Undang-Undang No. 5 tahun 1990. Kelestarian elang jawa di habitatnya merupakan tanggung jawab bersama, lebih bijak jika tidak menjadikan elang jawa sebagai hewan peliharaan, sehingga akan mengurangi jumlah permintaan elang Jawa di perdangangan satwa illegal. Pasir Datar mengingatkan kepada keluarga Bartels dari negeri “kincir angin” Belanda yang dikenal sebagai penemu elang jawa (Nisaetus bartelsi). Keluarga Bartels yaitu Max Eduard Gottlieb Bartels/ MEG Bartels (24 januari 1871 – 7 April 1936) dan Dr. Max Bartels (7 Juni 1902 – 6 Oktober 1943) telah menemukan 21 spesies baik berupa burung, kelelawar, dan tikus (Andono, 2012). Elang jawa menjadi satwa nasional sejak tahun 1993 dan dikenal sebagai “Sang Garuda” yang merupakan lambang negara kita Indonesia. Sumber Info : Robi Rizki Zatnika, A.Md. – PEH Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Pulau Pra-Pelepasliaran Orangutan Balai KSDA Kalteng

Pulang Pisau, 5 April 2017. Salah satu mitra BKSDA Kalimantan Tengah yaitu Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) kembali memindahkan 12 (duabelas) orangutan ke lokasi pra pelepasliaran di Pulau Salat Desa Pilang Kecamatan Jabiren Raya Kabupaten Pulang Pisau. Keduabelas orangutan yang terdiri dari 9 betina dan 3 jantan dengan umur berkisar antara 10-16 tahun merupakan orangutan yang diselamatkan atau disita hasil kerja sama BKSDA Kalimantan Tengah dengan Yayasan BOSF. Kegiatan pra-pelepasliaran ini diikuti oleh BKSDA Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau, Yayasan BOSF, dan PT. Sawit Sumbermas Sarana Tbk. Untuk mengelola lahan berhutan seluas 2.100 hektar, Yayasan BOSF bermitra dengan PT. Sawit Sumbermas Sarana Tbk. Lahan ini diperkirakan dapat menampung ratusan orangutan untuk tahap pra-pelepasliaran. Sebelum memasuki tahapan ini, orangutan menjalani proses rehabilitasi yang mencapai tujuh tahun dimulai dari Baby School dan naik ke sejumlah tingkatan di Sekolah Hutan, mirip sekolah manusia. Pulau pra-pelepasliaran ini harus memiliki lingkungan yang menyerupai habitat hutan, memiliki sumber pakan alami yang cukup, terjaga namun terpantau perkembangan proses adaptasinya. Setelah orangutan dapat beradaptasi dengan baik di pulau tersebut, mereka dinyatakan siap untuk dilepasliarkan di hutan. Sumber Info : Balai KSDA Kalimantan Tengah

Menampilkan 10.737–10.752 dari 11.141 publikasi