Jumat, 17 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Ditjen KSDAE Mendorong Pembentukan Kawasan Ekosistem Esensial Labiyan Leboyan

Kapuas Hulu, 15 April 207. Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial yang dipimpin oleh Rasyidah, SP., M. Si (Kepala Seksi Koridor Hidupan Liar), Rudiono dan Roy Darmawan melakukan diskusi dan kunjungan lapangan dengan para mitra seperti KOMPAKH (Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu), Forum DAS Labiyan-Leboyan dan ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil) pada hari Kamis - Sabtu tanggal 13 - 15 April 2017. Rombongan didampingi oleh Sarwono, S. Hut (Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum) KOMPAKH yang merupakan NGO lokal telah konsisten dalam memajukan pariwisata di Kapuas Hulu. Pengembangan destinasi dan media pemasaran ekowisata berbasis masyarakat di kawasan penyangga TNBK dan TNDS sebagai upaya pengembangan alternatif ekonomi di Kabupaten Kapuas Hulu merupakan program yang sudah dikerjakan KOMPAK di Dusun Meliau, Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar dan Dusun Sadap, Desa Menua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu, Kapuas Hulu cukup berhasil. Forum DAS Labiyan-Leboyan bersama masyarakat sudah merestorasi pinggiran DAS Labian-Leboyan di sepanjang Desa Sungai Ajung dan Desa Labian berbasis masyarakat, dengan melakukan pembangunan kebun bibit seluas 0.03ha untuk pengadaan bibit di 100 ha dan telah melakukan penanaman di lahan seluas 96 hektar. Sedangkan ASPPUK fokus dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu melalui pelestarian tumbuhan pewarna yang berperspektif gender dan berkelanjutan di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Kami berkesempatan untuk mengunjungi Desa Binaan ASPPUK di Rumah Betang Klawik Desa Mensiau, Kec. Batang Lupar, Kab. Kapuas Hulu. Masyarakat sudah melakukan penanaman tanaman yang digunakan sebagai pewarna alami disekitar Rumah Betang supaya dapat berkelanjutan. Pewarna alami ini kaya akan jenis warna dan menghasilkan warna yang cukup tajam. Pak S. Berasap selaku Kepala Desa Mensiau sudah dapat membuat pewarna alami tingkat dasar, namun ingin belajar lagi teknik membuat warna tingkat lanjutan, sehingga berharap ada mitra yang memfasilitasi keinginan tersebut saat diskusi hangat di Rumah Betang Klawik. Ibu Rasyidah sangat mengapresiasi para mitra dan masyarakat yang sudah banyak berkontribusi dalam menjaga kelestarian koridor TNBK dan TNDS. Meningat pentingnya koridor TNBK dan TNDS bagi kelestarian flora dan fauna serta masyarakat maka diharapkan kawasan dapat ditetapkan menjadi kawasan ekosistem esensial. Kalau kawasan sudah ditetapkan menjadi kawasan ekosistem esensial maka pemerintah pusat dan daerah dapat mengalokasikan anggaran untuk pengelolaan pungkasnya. Kabuaten Kapuas Hulu merupakan kabupaten konservasi yang terletak di bagian timur Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten yang memiliki luas 31.162,75 KM2 dan lebih dari setengahnya merupakan kawasan hutan. Secara umum Kabupaten Kapuas Hulu memanjang dari arah Barat ke Timur yang terdiri dari 23 kecamatan. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Koridor Labiyan-Leboyan antara Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) yang merupakan kawasan strategis kabupaten dari sudut kepentingan lingkungan. KSK Koridor Labiyan-Leboyan antara TNBK dan TNDS ini sedang dirancang menjadi Peraturan Daerah Kabupaten Kapuas Hulu. Diharapkan dengan terbitnya perda akan memperkuat status hukum dan kelola KSK tersebut. Sungai Labiyan yang berhulu di bawah ujung barat kawasan TNBK dan mengalir menuju TNDS merupakan penyuplai utama danau sentarum. Sungai dengan panjang sekira 171 km melintasi 8 desa dan 20 kampung ini memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat. Selain kebutuhan pokok akan air masyarakat sekitar memanfaatkan sungai ini sebagai tempat mencari ikan. Fauna yang terdapat di Koridor Labiyan-Leboyan antara TNBK dan TNDS ini juga cukup banyak dan beberapa dilindungi seperti Orangutan (Pongo pygmaeus pygmeaus) sedangkan Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) yang dianggap sakral bagi Suku Dayak Tamambaloh. Sedangkan flora yang terdapat dikoridor ini cukup beragam, diantaranya dimanfaatkan oleh masyarakat dayak sebagai pewarna alami seperti Rengat padi (Indigofera tinctoria), Rengat Akar (Unident), Jangau (Aporosa lunata(Miq.) Kurz), Mengkudu (Morinda citrifolia), Empait (Clerodendum sp), Engkerbai (Srylocoryne spp), Engkerbai Laut (Asystasia gangetica (L.) Anderson). Pewarna alami ini biasanya digunakan untuk mewarnai kerajinan tangan seperti Baju, Syal, Tas, Dompet dan Gelang. Sumber Info : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Workshop Pengelolaan Pendakian Gunung Merapi

Yogyakarta, 15 April 2017. Pendakian gunung saat ini tidak hanya sebuah kegiatan hobi maupun olahraga, melainkan sudah menjadi destinasi wisata alam yang sangat menjanjikan Salah satu destinasi pendakian gunung adalah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Bahkan potensi TNGM ini diwadahi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2011 menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional pada tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional Tahun 2010 – 2025. Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) merupakan kawasan yang memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata nasional yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan. Balai TNGM tahun ini akan membuka jalur pendakian baru, yakni jalur Sapuangin di sisi tenggara Gunung Merapi, yang secara administrasi terletak di Desa Tegalmuyo, Kec. Kemalang, Kab. Klaten, Prov. Jawa Tengah. Selain menyuguhkan sisi lain dari panorama Gunung Merapi, juga dimaksudkan untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pendaki pada saat peak season aktivitas pendakian gunung, seperti : Pasca erupsi Merapi tahun 2006 dan 2010, jalur pendakian yang resmi hanya tersisa satu jalur yaitu jalur Selo, di Desa Lencoh, Kab. Boyolali, dari semula sebanyak 5 (lima) jalur pendakian, yaitu jalur pendakian Kinahrejo (sisi selatan), jalur pendakian Babadan (sisi barat laut), jalur pendakian Sapuangin (sisi tenggara), jalur pendakian Lendong (sisi timur), dan Selo (sisi utara). Berdasarkan data statistik Balai TN Gunung Merapi tahun 2016, peningkatan jumlah pengunjung selama 5 tahun (2011-2015) yang mendaki melalui jalur Selo tercatat 12,85% per tahun, belum termasuk pendaki yang masuk melalui jalur ilegal. Hal inilah yang menjadi latar belakang Balai TN Gunung Merapi melakukan kajian selama lebih kurang 3 (tiga) tahun secara bersama-sama dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), MAPALA Silvagama Fak. Kehutanan UGM Yogyakarta, SAR Kabupatem Klaten dan masyarakat setempat. Dalam perencanaan TN. Gunung Merapi, jalur pendakian Sapuangin ini telah diakomodir menjadi zona pemanfaatan sesuai Keputusan Dirjen KSDAE Nomor : SK.37/KSDAE/Set/KSDAE.0/2/2016 tanggal 11 Februari 2016. Kegiatan Workshop Pengelolaan Pendakian Gunung Merapi ini, merupakan rangkaian pembukaan jalur pendakian Sapuangin yang rencana dibuka pada bulan Mei 2017. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring masukan para pihak terkait dengan penyempurnaan draft prosedur standar (SOP) pengelolaan pendakian Gunung Merapi yang telah disusun oleh TIM Balai TN. Gunung Merapi. Masukan dari berbagai pihak yang hadir pada acara ini sangat diharapkan mengingat Gunung Merapi ini merupakan salah satu gunung api teraktif di dunia. Pokok-pokok pikiran dari para peserta diharapkan dapat memberikan bahan masukan dan motivasi bagi kita semua untuk bersama-sama menjadikan Pengelolaan Pendakian Gunung Merapi dapat dilakukan secara kompeten dan profesional tanpa mengesampingkan keselamatan pengunjung dan tetap menjaga kelestarian alam. Pengelolaan ini menjadi tanggungjawab Balai TN. Gunung Merapi selaku pemangku kawasan, namun pelibatan dengan para pihak dan masyarakat pecinta dan peduli kegunungapian diharapkan dapat mempercepat terwujudnya Manajemen Pengelolaan Pendakian yang “keren”. Sumber Info : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Lebih Dari 300 Pengunjung di Booth TN Aketajawe Lolobata Pada Hari ke 3 Indogreen

Jakarta, 15 April 2017. Jumlah pengunjung booth Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) di pameran Indogreen di JCC Jakarta sampai hari ke-3 mencapai lebih dari 300 pengunjung baik dari kalangan siswa sekolah, mahasiswa maupun umum. Saat pintu pameran dibuka pukul 10:00 WIB, banyak siswa sekolah antri untuk mengikuti agenda lomba menggambar dan mewarnai. Booth TNAL dianggap sangat menarik oleh sebagian pengunjung. Berlatarkan burung Bidadari Halmahera dan air terjun yang sangat indah, selalu digunakan pengunjung sebagai tempat ber-selfie­. Kegiatan pemberian kuis bagi pengunjung yang berkunjung juga dilaksanakan. Petugas memberikan hadiah bagi pengunjung yang bisa menjawab pertanyaan yang dipilih. Petugas booth juga memberikan penyuluhan tentang pentingnya mencintai lingkungan sekitar agar tetap lestari dan memberikan informasi tentang taman nasional yang ada di Indonesia beserta fungsinya. Ayo Ke Taman Nasional!!! Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Talkshow Interaktif TN Aketajawe Lolobata Pada Hari ke 2 Indogreen

Jakarta, 14 April 2017. Hari ke-2 pameran Indogreen, Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) mendapat undangan dari panitia pameran untuk mengisi acara talk show dan kunjungan ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Agenda talk show pertama dilaksanakan pada pukul 15:00 dan talk show ke-dua pukul 17:00. Sedangkan kunjungan ke TNGHS dilaksanakan pada pukul 06:00 sampai selesai. Talk show “business matching” ini dipandu langsung oleh Direktur PJLHK Ir. Is Mugiono, MM. dan sebagai narasumber antara lain David Makes (Ketua Asosiasi Pengelola Wisata Alam Indonesia), Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia, Wakil Bupati Kabupaten Pangkep, Pendiri Komunitas Sebumi dan Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, MT (Kepala Balai TNAL). Bapak Direktur PJLHK mengawali talk show dengan menceritakan bahwa slogan atau jargon wisata KLHK “Ayo Ke Taman Nasional” pertama kali disampaikan oleh Ibu Menteri LHK pada bulan Desember 2015 dan target kunjungan wisatawan nusantara adalah sebesar 20 juta sampai tahun 2019. Dalam kesempatan itu, Kepala Balai TNAL juga menyampaikan bahwa kegiatan wisata alam di kawasan taman nasional memang berdampak bagi ekologi, tetapi kegiatan tersebut merupakan salah satu pilihan sebagai jalan tengah agar kebutuhan masyarakat dan konservasi terpenuhi sehingga dengan sendirinya masyarakat akan menjaga “barang dagangannya” (hutan) untuk dijual kepada para wisatawan. Talk show ke-dua di hadiri oleh Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Taman Nasional Matalawa dan TNAL. Moderator talk show adalah Kepala Bidang Biro Humas KLHK Kuswandono, S.Hut, MP. Dalam acara ini, Bapak Kuswandono mengajak kepada para peserta talk show untuk bertanya sebanyak mungkin tentang potensi wisata di masing-masing taman nasional karena akan diberikan hadiah yang menarik. Dalam paparannya, TNAL yang diwakili oleh Akhmad David Kurnia Putra menyatakan bahwa, pengelolaan wisata alam Balai TNAL berbasis masyarakat, TNAL juga sedang mengembangkan program wisata “Nyantrik”, yaitu wisatawan akan ikut merasakan kegiatan pengelolaan taman nasional seperti patroli, monitoring, inventarisasi dan kegiatan lainnya. Kegiatan kunjungan ke TNGHS, peserta dari TNAL diwakili oleh Aep Gun Gun Wigandi menyatakan bahwa kunjungan ke sanctuary elang sangat bagus sebagai salah satu referensi dalam pengelolaan Suaka Burung Paruh Bengkok di TNAL. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Pencanangan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Penyu Kabupaten Lombok Barat

Pantai Kuranji – Lombok Barat, 14 April 2017. Dalam rangkaian Hari Ulang Tahun ke – 59 Kabupaten Lombok Barat di Pantai Kuranji Kabupaten Lombok Barat telah dilakukan Pencanangan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Penyu Kabupaten Lombok Barat oleh Setda Kab. Lombok Barat H. Moh. Taufiq bersama dengan Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial Ditjen KSDAE Kementerian LHK (Ir. Antung Deddy Radiansyah, MP) dan Kepala BKSDA NTB (Dr. Ir. Widada, MM) serta SKPD Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan ini sebagai tindak lanjut terbitnya Surat Keputusan Bupati Lombok Barat Nomor : 345/6/DLH/2017 tanggal 23 Maret 2017 tentang Penetapan Kawasan Ekosistem Esensial Koridor Penyu Kabupaten Lombok Barat. Pencanangan tersebut secara simbolis ditandani dengan penanaman cemara dan pelepasan lebih kurang 50 anak penyu (tukik) jenis penyu hijau ke pantai Kuranji, penyu tersebut merupakan hasil penetasan di lokasi penetasan semi alami oleh kelompok masyarakat “ Kerabat Penyu Lombok ”.Kelompok tersebut merupakan kelompok pelestari penyu Desa Kuranji Kabupaten Lombok Barat binaan BKSDA NTB. BKSDA NTB dan Pemerintah Kabupeten Lombok Barat menganggap bahwa keberadaan pantai di sebelah barat dan selatan Kabupaten Lombok Barat merupakan kawasan penting tersebut ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial, sehingga ada perhatian dan intensitas pengelolaan lebih dalam rangka upaya pelestarian dan konservasi penyu. Beberapa tahapan yang telah dilakukan dalam mendorong terbentuknya Kawasan Ekosistem Esensial Korindor Penyu tersebut adalah : (1). Komunikasi dan Koordinasi dengan BLH dan Stakeholders, (2). Identifikasi dan Inventarisasi Wilyah / Areal Pendaratan Penyu di Kabupaten Lombok Barat, (3). Pembentukan Forum Komunikasi Pelestari Penyu, (4). Penyusunan Rencana Aksi dan (5) Penetapan Kawasan Ekosistem Esensial Koridor Penyu melalui SK. Bupati Lombok Barat. Kawasan yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dengan luas 27.137,54 (Dua Puluh Tujuh Ribu Seratus Tiga Puluh Tujuh koma Lima Puluh Empat) hektar terdiri dari atas wilayah perairan yaitu Kecamatan Batulayar, Kecamatan Labuapi, Gerung dan Lembar dan Pantai Sekotong. Pencanangan ini sebagai wujud keseriusan dan dukungan Pemerintah Lombok Barat terhadap perlindungan ekosistem penting dan konservasi jenis satwa liar yang dilindungi khususnya penyu. Penyu adalah satwa liar yang dilindungi oleh Undang Undang, dan termasuk jenis langka yang populasinya semakin menurun. Secara internasional jenis penyu tergolong dalam jenis endangered species sebagai spesies langka yang beresiko tinggi mengalami kepunahan dan dalam CITES termasuk satwa appendix I, atau spesies yang dilarang diperdagangkan. Saat ini sebagian besar hidupnya berada di luar kawasan konservasi yang secara status kawasannya tidak dilindungi oleh pemerintah. Koridor hidupan liar mempunyai fungsi sebagai habitat penghubung dua atau lebih habitat dari spesies hidupan liar yang dilindungi dan memungkinkan terjadinya pergerakan atau pertukaran individu antar populasi hidupan liar sehingga mencegah isolasi populasi di habitatnya. Sumber Info : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Pelepasliaran Buaya Hasil Konflik Dengan Masyarakat Oleh BKSDA Jambi

Jambi, 14 April 2017. Tim BKSDA Jambi Seksi Konservasi Wilayah III bersama Zoological Society of London (ZSL) Indonesia pada tanggal 14 April 2017 melepasliarkan buaya hasil konflik dengan masyarakat dari Desa Pandan Lagan Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Buaya tersebut memiliki panjang 3,8 meter yang dilepasliarkan di Cagar Alam Hutan Bakau pantai Timur Nipah Panjang. Sumber Info : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Promosi TN Wakatobi Pada Pameran Indogreen di Jakarta

Jakarta, 13 April 2017. Untuk lebih mengenalkan Taman Nasional Wakatobi (TNW) secara luas, TNW ikut serta pada pameran Indogreen, pameran ini akan berlangsung selama 4 hari dari tanggal 13 s.d 16 April 2017. TNW akan mempromosikan potensinya baik melalui leaflet, poster-poster, banner dan juga produk-produk lokal yang memiliki nilai daya tarik sebagai souvenir. TNW juga memiliki paket-paket wisata seperti paket wisata jasa pemanduan dari dive operator masyarakat setempat binaan TNW, ini merupakan wujud pemberdayaan masyarakat lokal dalam peranannya untuk mendukung dan memajukan kegiatan ekowisata di TNW. Apabila ada pelaku ekowisata yang berminat dapat berhubungan langsung dengan dive operator/jasa pemanduan oleh masyarakat lokal dengan mengambil paket wisata yang diinginkan. Pada pameran ini juga disampaikan peraturan memasuki kawasan konservasi bagi kegiatan pendidikan serta penelitian yang akan dilaksanakan di kawasan konservasi khususnya pada TNW, sehingga nantinya akan memudahkan pengunjung untuk mengetahui secara gamblang tatacara serta persiapan yang harus dipenuhi dalam rangka tertib administrasi sebelum masuk kawasan TNW. Selain itu terdapat pesan-pesan terkait potensi kawasan TNW baik spot-spot penyelaman terbaik, potensi daya tarik wisata budaya dan daya tarik pariwisata yang ada di daratan. Pengunjung diharapkan mendapat informasi yang lengkap dan tertarik untuk datang ke TNW, TNW juga semakin dikenal secara luas dari segala potensi, aksesibilitas serta sarana pengunjung lainnya. Sehingga mampu meningkatkan minat pengunjung yang datang ke TNW baik untuk melakukan ekowisata, ilmu pengetahuan, pendidikan dan mengetahui segala peraturan terkait memasuki kawasan konservasi, hal ini akan membuat TNW semakin berkembang dan mandiri. Acara pameran ini dihadiri juga oleh Bapak Kepala Balai TNW, sehingga pengunjung yang datang ke booth TNW bisa mendapatkan informasi langsung dari Bapak Kepala Balai tentang informasi kawasan TNW secara keseluruhan. Sumber Info : Balai TN Wakatobi
Baca Berita

Lokakarya Dukungan Kegiatan IJ-REDD+ dalam Rencana Kerja TN Gunung Palung 2017

Ketapang, 13 April 2017. Bertempat di Hotel Aston Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung bersama IJ-REDD+ telah menyelenggarakan Lokakarya Dukungan Kegiatan IJ-REDD+ dalam Rencana Kerja TNGP 2017 pada tanggal 13 April 2017 yang dihadiri oleh Pejabat Eselon III dan IV lingkup Balai TNGP, Kepala Urusan Informasi, Pengawetan, Ka SPCP, Urusan Program dan Perencanaan, Urusan Humas dan Kerjasama, Urusan Data dan Informasi, Urusan Pemberdayaan Masyarakat, Tim Data Base, Tim Kehati, Kepala Resort lingkup BTNGP dan IJ-REDD+. Kegiatan ini dilatar belakangi pertemuan Joint Coordination Committee/Project Steering Committee ketiga pada tanggal 16 November 2016 telah disepakati Plan Operation/Annual Work Plan IJ REDD+. Kegiatan-kegiatan yang disepakati tersebut termasuk juga kegiatan-kegiatan untuk mencapai Output 2 : Dikembangkannya Model REDD+ di TNGP dan Bentang Alamnya. Balai TNGP telah menyusun Rencana Kerja TNGP 2017. Rencana ini disusun berdasarkan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang TNGP 2016-2025 yang telah memuat unsur-unsur REDD+ di dalam pengelolaan TNGP. PO/AWP keluaran 2 IJ-REDD+ yang telah disusun dalam JCC/PSC dimaksudkan untuk memperkuat pengelolaan TNGP. Dengan demikian, diperlukan sebuah mekanisme yang direncanakan bersama antara Balai TNGP dan IJ-REDD+ untuk memastikan bahwa kegiatan IJ-REDD+ terintegrasi kedalam pengelolaan TNGP. Dalam lokakarya ini disampaikan presentasi pengembangan model REDD+ konservasi IJ-REDD+ di TNGP oleh Project Manager IJ-REDD+ dan presentasi Rencana Kerja TNGP 2017 oleh Kepala Balai TNGP dilanjutkan dengan diskusi kelompok dukungan kegiatan IJ-REDD+ dalam Renja TNGP 2017 dan diskusi mekanisme implementasi, monitoring dan pelaporan. Lokakarya ini menghasilkan rencana kerja bersama kegiatan IJ-REDD+ yang terintegrasi dalam rencana pengelolaan Balai TNGP dan mekanisme implementasi, monitoring dan pelaporan kegiatan IJ_REDD+ di TNGP. Sumber Info : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

Anak Orangutan Berhasil Dievakuasi Tim BKSDA Aceh

Gayo Lues, 13 April 2017. Tim Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Aceh dibantu WCU (wildlife crime unit) dan OIC (orangutan information center) pada hari kamis, 13 April 2017, telah melakukan penyitaan 1 (satu) individu orangutan berjenis kelamin betina dengan umur 1,5 tahun yang dipelihara seorang warga di Desa Lesten, Kec Pining, Kab Gayo Lues. Menurut pengakuan yang bersangkutan, anak orangutan ditemukan terlantar di hutan dan telah dipelihara selama 1 tahun. Yang bersangkutan diberikan pembinaan oleh petugas tentang konservasi satwa liar. Saat ini anak orangutan telah dibawa ke Pusat Rehabilitasi OU di Batumbelin, Sibolangit, Sumatera Utara. Sumber Info : Sapto Aji – Kepala Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Kunjungan ‘Sporter’ Australia ke TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 13 April 2017. Bagaikan pertandingan piala dunia, hanya saja Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) yang menjadi tuan rumahnya. Saat ini para “sporter” dari Australia sudah berada di TNAL dan sekitarnya di Maluku Utara. “Sporter” tersebut adalah burung Kirik-kirik Australia (Merops ornatus) dan Tiong Lampu Biasa (Eurystomus orientalis). Burung asal Australia ini mulai berdatangan ke Maluku Utara dan ke TNAL sekitar pada pertengahan bulan Maret sampai bulan Agustus setiap tahunnya. Makanan utama adalah lebah dan serangga-serangga. Kirik-kirik Australia yang juga disebut Rainbow Bee Eater, berukuran ± 20 cm dengan warna dominan hijau dan pelangi serta memiliki satu bulu ekor yang memanjang kebawah. Burung ini memiliki atraksi manuver yang luar biasa beragam dan indah. Sedangkan Tiong Lampu Biasa berukuran lebih besar dari Kirik-kirik Australia. Memiliki warna biru gelap kehijau-hijauan dan paruh berwarna orange. Kirik-kirik Australia selalu berkelompok. Lebih menyukai bertengger dipohon-pohon kering atau mati karena memiliki banyak serangga disekitarnya. Jadi, jika ingin berkunjung menikmati keindahaan kedua burung ini sekaligus menikmati atraksi wisata lainnya seperti pengamatan burung Bidadari Halmahera, susur goa, wisata budaya Masyarakat Tobelo Dalam dan air terjun bisa dimulai bulan ini sampai Agustus. Ayo Ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Foto oleh : Farid_Resort Tayawi (Tiong Lampu Biasa)
Baca Berita

ITTO Dukung Pelestarian Biodiversity dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Jantung Kalimantan

13 April 2017. Selama empat hari (8 - 11 April 2017) kunjungan Mr. Kenneth Sato (Outreach And Communication, ITTO) bersama Dr. Hiras Sidabutar (National Coordinator Project ITTO PD 617/11 Rev.4 (F)) di Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Betung Kerihun, telah mengunjungi beberapa lokasi yang menjadi tempat pelaksanaan proyek ITTO PD 617/11 Rev.4 (F). Disampaikan oleh Sato bahwa kunjungan kali ini bertujuan untuk mendokumentasikan hasil-hasil pelaksanaan proyek ITTO di Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Betung Kerihun dan selanjutnya akan mempublikasikannya di media-media internasional khususnya yang dikelola oleh ITTO. Beberapa program Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) yang didukung oleh proyek ITTO yang sempat dikunjungi adalah Renovasi Jembatan Kayu di Resort Wisata Bukit Tekenang - TN Danau Sentarum, Program Biogas di Dusun Sadap dan Rumah Pohon di Tekelan – TN Betung Kerihun. Program Biogas dengan bahan baku utama berupa kotoran babi dan limbah dari manusia sudah berjalan selama ± 2 tahun. Program ini bertujuan menciptakan energi yang dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar minyak dan kayu bakar, mewujudkan pola peternakan yang bersih dan peningkatan reproduksi ternak serta yang paling penting adalah mendorong tumbuhnya industri rumah tangga dengan dukungan bahan bakar Biogas. Sepanjang perjalanannya, Sato tidak henti-hentinya mengungkapkan ketertarikan dan kekagumannya melihat indahnya TN. Danau Sentarum dan hijaunya alam liar belantara TN Betung Kerihun yang berada di jantung Kalimantan (the Heart of Borneo). Sato berterimakasih kepada pemerintah Indonesia khususnya kepada Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum yang telah menjaga dan melestarikan alam yang begitu indah sehingga semua orang dari berbagai negara dapat menikmatinya baik dalam sisi ekoturisme, penelitian maupun mitigasi perubahan iklim. Ir. Arief Mahmud, M.Si, selaku kepala Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum kepada Sato dan Dr. Hiras menyampaikan bahwa walaupun proyek ITTO PD 617/11 Rev.4 (F) akan berakhir di akhir tahun 2017 agar pihak ITTO tetap mendukung pengelolaan TNBK dan TNDS. Lebih jauh Ir. Arief Mahmud berharap Dr. Hiras dapat membantu dan bersama-sama dengan pihak BBTNBKDS menyusun proposal baru ke ITTO dengan program utama Biodiversity Conservation, Ecotourism dan Community Development. Harapan ini disambut baik oleh Sato dan Dr. Hiras dan menyatakan bersedia mendukung demi kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat di Jantung Kalimantan (The Heart of Borneo)…@AM. Sumber Info : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Jelang Kemarau Balai TN TamboraMembentuk Masyarakat Peduli Api

Mataram, 13 April 2017. Menjelang masuknya musim kemarau Balai Taman Nasional Tambora bersama Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara melalukan beberapa persiapan dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan khususnya di kawasan Taman Nasional Tambora yang mungkin terjadi. Selain membantu peralatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan Balai PPIKHL juga membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) pada tanggal 13 April 2017. Pembentukan MPA tahun ini difokuskan di Kecamatan Sanggar Wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Kore. Jumlah masyarakat yang tergabung dalam pembentukan MPA tersebut + 30 orang. Anggota MPA ini diharapkan menjadi ujung tombang pengendalian dan pemadaman kebakaran hutan Taman Nasional Tambora. Dalam pembentukan MPA tersebut ada beberapa materi yang tersampaikan, antara lain : teknik dasar pencegahan kebakaran hutan dan lahan, teknik dasar pemadaman kebakaran hutan dan lahan, teknik pembukaan lahan tanpa bahan bakar. Selain itu, peserta juga melakukan praktek dan simulasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan termasuk praktek pembukaan lahan tanpa bakar. Tersampaikannya materi dan praktek tersebut diharapkan mampu menambah kemampuan masyarakat dalam melakukan pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Bekal keterampilan tersebut akan menjadi modal utama kelompok MPA dalam menjaga kawasan Taman Nasional Tambora dari bahaya kebakaran hutan. Terbentuknya kelompok MPA ini akan menjadi embrio pencegahan dan pengamanan kawasan Taman Nasional Tambora dari kebakaran hutan melalui pola kerjasama dan kemitraan bersama masyarakat. Sangat besar harapan yang kami gantungkan kepada anggota MPA yang telah dibentuk dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan. Kawasan Taman Nasional Tambora dengan komposisi ekosistem 70 % berupa savana dan hutan musim luruh daun mengakibatkan kawasan taman nasional ke-51 ini sangat rawan terbakar. Potret pengalaman sebelumnya hampir setiap tahun kawasan Taman Nasional Tambora mengalami kebakaran. Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tambora umumnya disebabkan faktor alam karena suhu yang tinggi dan tersedianya bahan bakar yang melimpah dimusim kemarau. Selain itu, kebakaran yang dialami setiap tahun juga disebabkan kelalaian manusia seperti membuang puntung rokok sembarangan dan kelalaian para pencari madu yang tidak memadamkan api setelah melakukan aktivitasnya. Ketika : Satwa Terakhir Telah Punah Pohon Terakhir Telah Tumbang Sungai Terakhir Telah Kering Manusia Baru Sadar Bahwa Uang Bukan Segalanya Sumber Info : TU Balai TN Tambora
Baca Berita

Partisipasi TN Aketajawe Lolobata Di Indogreen Hari ke 1

Jakarta, 13 April 2017. Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) ikut meramaikan pameran Indogreen yang dilaksanakan mulai tanggal 13 – 16 April 2017 di JCC Jakarta. Pameran yang diikuti oleh lebih dari 25 peserta dari UPT KSDAE ini dibuka oleh Plt. Direktur Jenderal KSDAE Dr. Ir. Bambang Hendroyono, MM. mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. TNAL masih mengusung tema dan dekorasi stan yang sama pada saat pameran Deep and Extreme satu minggu yang lalu. “Heaven Of Birds” masih menjadi unggulan TNAL. Setelah acara pembukaan, stan TNAL dikunjungi oleh Bapak Bambang Hendroyono beserta rombongannya. Dalam kunjungannya, Beliau mengajak masyarakat untuk berkunjung ke TNAL. Pengunjung pameran hari pertama adalah siswa sekolah dan media. Pengenalan konservasi sejak dini kepada siswa sekolah banyak disampaikan oleh UPT-UPT peserta pameran termasuk TNAL. Booth TNAL juga dikunjungi oleh media televisi CNN yang kemudian meliput stan TNAL dan melakukan wawancara dengan Kepala Balai TNAL. Agenda hari ke-2 tanggal 14 April nanti adalah talk show tentang Taman Nasional dimana TNAL akan ikut serta menjadi narasumber dalam acara tersebut. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

BKSDA Maluku Menerima Puluhan Satwa Liar Hasil Sitaan TNI-AL

Maba, 13 April 2017. Balai KSDA Maluku menerima puluhan satwa liar hasil sitaan TNI-AL, Kamis 13 April 2017 di Pos Jaga TNI-AL, Maba Kabupaten Halmahera Timur. BKSDA Maluku diwakili oleh Alim Mahmud, Polhut Penyelia di Seksi Konservasi Wilayah I, menerima satwa sitaan Kasturi Ternate (Lorius garrulus) sebanyak 13 ekor dan Nuri Kalung Ungu (Eos squamata) sebanyak 16 ekor dari pihak TNI-AL yang diwakili oleh KOPDA Amran. Barang bukti selanjutnya dibawa ke Kantor Seksi Konservasi Wilayah I Ternate guna pemeriksaan klinis dari Badan Karantina Pertanian Kelas II Ternate dan menjalani proses rehabilitasi di Kandang Transit SKW I Ternate. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, petugas mengamankan tiga (tiga) orang berinisial KM bertindak sebagai penjual burung di Maba, HB (40) sebagai pembeli dari Palopo Sulawesi Selatan dan MHA (31) merupakan pembeli dari Tobang. Menunggu proses pemeriksaan selanjutnya, ketiga orang tersebut telah mendatangani surat pernyataan bersedia bekerjasama untuk memberikan keterangan yang diperlukan untuk kelancaran proses hukum. Barang Bukti ditahan di Pelabuhan Jetty Haltim Mining, Maba, Halmahera Timur pada Rabu, 12 April 2017 pukul 12.30 WIT oleh pihak TNI-AL. Selanjutnya pihak TNI AL menghubungi pihak Seksi Konservasi Wilayah I Ternate, untuk melaporkan adanya kejadian tersebut serta langkah-langkah penanganan selanjutnya. Kasus ini merupakan kali kedua digagalkannya penyelundupan satwa liar endemik Maluku Utara ke daerah lainnya pada tahun 2017. Melalui kerjasama dan koordinasi yang dibangun bersama seluruh instansi terkait, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sarana Prasarana (Sarpras) dapat diminimalisir. Sumber Info : Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Kepala Balai TN Aketajawe Lolobata - Untuk Siapa Kita Menjaga Hutan?

Kuningan, 12 April 2017. Kunjungan lapangan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) di Balai Taman Nasional Gunung Cermai (BTNGC) sudah berakhir. Dimulai pada tanggal 6 – 12 April 2017, kunjungan BTNAL berlangsung dengan baik dan sesuai harapan. TNGC dipilih untuk dikunjungi karena memiliki pengelolaan berbasis masyarakat yang sangat baik dan berhasil. Memiliki visi atau slogan “Menuju Manajemen Paripurna Pengelolaan Untuk Kedaulatan Rakyat”. Kepala Balai TNAL memberikan renungan sekaligus motivasi kepada seluruh pegawai TNAL, yaitu : “Sebenarnya untuk siapa kita menjaga hutan? Jangan-jangan kita hanya sekedar Petugas yang dibayar negara untuk bekerja di hutan? Artinya kita bekerja semata-mata untuk negara... Tidak sepenuhnya salah! Tapi kemudian rakyat kita dapat apa? Kalau rakyat kita belum merasakan manfaat ‘langsung’ dari kelestarian hutan yang kita jaga bisa jadi selama ini sebenarnya belum bekerja apa-apa! Mari kita perbaiki niat kita....kita selaraskan langkah.... Hutan lestari dan masyarakat sejahtera bukan hanya slogan. Tapi akan kita wujudkan menjadi fakta.” Tidak lupa segenap tim kunjungan lapangan dari BTNAL juga mengucapkan terima kasih atas semua ilmu baru dan sambutan TNGC yang telah diberikan. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Pengembangan Kemitraan Dengan Masyarakat di Zona Tradisional TNBT

Riau, 12/04/2017, Salah satu target Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) periode 2015 s.d 2019 adalah terlaksananya kemitraan dengan masyarakat di dalam kawasan seluas 25 hektar. Hasil identifikasi kelompok masyarakat di dalam kawasan pada tahun 2016, dipilih dua dusun yang mewakili, yaitu Dusun Tualang, Desa Siambul dan Dusun Siamang, Desa Rantau Langsat yang berada di wilayah Resort Siambul, SPTN Wilayah 2 Belilas Riau dan secara administratif berada di Kec. Batang Gansal, Kab. Indragiri Hulu Riau. Pertimbangan dipilih dusun tersebut karena aksesibilitas yang relatif mudah dijangkau dibandingkan dusun yang lain. Kedua dusun ini berada di sepanjang aliran Sungai Batang Gansal dengan mayoritas penduduknya suku tradisional talang mamak. Berdasarkan identifikasi potensi diperoleh kesamaan obyek pengelolaan, yaitu budidaya tanaman rotan dari jenis rotan jernang dan rotan kelukup. Rotan merupakan hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dianggap memiliki prospek cukup tinggi dan keberadaannya mulai sulit ditemukan di hutan. Pada tahun 2017, Balai TNBT melanjutkan proses pengembangan kemitraan di zona tradisional dengan melakukan sosialisasi, pembentukan kelompok masyarakat, penandatanganan perjanjian kerjasama dan pemberian bantuan pengembangan kemitraan di zona trasional. Kelompok yang terbentuk, yaitu kelompok Tualang Sejahtera (Dusun Tualang) dan Jelemu Bengayauan (Dusun Siamang). Bantuan usaha ekonomi akan diarahkan untuk mengoptimalkan produktivitas getah rotan dengan memberikan sarana produksi antara lain berupa 1 unit alat produksi getah rotan dan 2000 bibit rotan. Tahapan selanjutnya akan dilakukan penandatanganan naskah perjanjian kerjasama yang disepakati oleh kedua pihak, yaitu Kepala BTNBT dan ketua kelompok masyarakat. Kegiatan ini diharapkan tepat sasaran dan tepat guna dalam mengembangkan dan melestarikan potensi sumber daya alam di dalam kawasan TNBT.???? (Nur Hajjah, S.Hut) Sumber: BTN Bukit Tiga Puluh

Menampilkan 10.721–10.736 dari 11.140 publikasi