Jumat, 17 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Konferensi Internasional Ekosistem Mangrove Berkelanjutan

Bali, 18 April 2017. Dalam rangka pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan untuk mencapai pengelolaan hutan lestari serta menindaklanjuti World Forest Congress tahun 2015 di Durban, Afrika Selatan, Kementerian LHK bersama ITTO dan ISME menyelenggarakan Konferensi Internasional Ekosistem Mangrove Berkelanjutan (International Conference on Sustainable Mangrove Ecosystem) di Bali, tanggal 18-21 April 2017. Tujuan konferensi ini yaitu mempromosikan pengelolaan ekosistem mangrove dengan membangun pembelajaran dari banyak inisiatif dan proyek-proyek dari dalam dan luar negeri yang telah dilakukan untuk perlindungan, restorasi, pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove dan jasa ekosistem serta mengidentifikasi cara-cara meningkatkan mata pencaharian masyarakat sekitar hutan mangrove untuk kesejahteraan. Pertemuan ini membahas kebijakan dan praktek terbaik, pengalaman, peluang dan tantangan yang berkaitan dengan perlindungan, pemulihan dan pengelolaan ekosistem mangrove dan jasa ekosistem untuk mencapai pengelolaan hutan lestari, dalam konteks target 2030 Agenda Pembangunan Berkelanjutan khususnya SDGs artikel 14 Hidup Dibawah Air, dan Artikel 15 Kehidupan di tanah serta Pasal 5.2 Perjanjian Paris : mendorong pelaksanaan dan dukungan REDD+, dan pendekatan bersama aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Peserta yang ambil bagian pada konferensi ini berjumlah sekitar 200 peserta, dari perwakilan 19 negara yaitu Indonesia dan negara Asia Pasifik, Afrika dan Amerika Latin yang berasal dari berbagai pemangku kepentingan seperti pembuat kebijakan, peneliti dan akademisi, masyarakat sipil, sektor swasta, organisasi regional dan internasional yang terlibat dalam perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan hutan mangrove dan ekosistem serta pemulihan hutan mangrove terdegradasi. Selain itu, peserta akan diajak untuk mempersiapkan poster dari beberapa negara terkait praktek pengelolaan ekosistem mangrove yang akan diselenggarakan selama Konferensi. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada sambutan pembukaan menyampaikan bahwa Atlas Mangrove Dunia 2010 yang diterbitkan oleh International Society for Mangrove Ecosystem (ISME), International Timber Trade Organization (ITTO) serta mitra lainnya memperkirakan luas hutan mangrove di dunia mencapai 15 juta ha yang tersebar di 123 negara, termasuk Indonesia yang memiliki luas mangrove 3,7 juta Ha (25% dari total mangrove dunia). Saat ini, hutan mangrove menurun akibat manajemen yang buruk serta pembangunan sosial-ekonomi yang meningkat pesat di banyak negara tropis. Turunnya jumlah luasan mangrove di dunia selama beberapa dekade terakhir terutama disebabkan oleh konversi kawasan mangrove untuk pembangunan perkotaan dan industri, serta budidaya pertambakan (52%) pada masa lampau yang menyisakan bencana. Pembelajaran dari Indonesia terkait pengelolaan ekosistem mangrove mungkin berguna untuk negara lain. Pembelajaran penting tersebut diantaranya pelaksanaan program silvofisheries, ekowisata, restorasi, program pengelolaan mangrove terpadu, dan penanaman yang melibatkan masyarakat lokal, akademisi, dan sektor swasta. Akhir kata Bu Menteri menyampaikan harapan bahwa konferensi ini dapat menghasilkan sebuah Program Aksi tentang bagaimana masyarakat internasional harus maju bersama untuk mempertahankan hutan mangrove dan ekosistemnya yang berharga di dunia serta adanya perhatian dari donor funding untuk mempercepat perbaikan dan tercapainya pengelolaan ekosistem mangrove yang berkesinambungan. Informasi lebih lanjut penyelenggaraan Konferensi Internasional Ekosistem Mangrove Berkelanjutan diposting di http://www.itto.int/mangrove2017/ SbtMenteriLHK Konference Mangrove 18 April 2017 Sumber Info : Direktorat BPEE
Baca Berita

Membangun Kesepahaman Zona Pengelolaan TN Kelimutu Bersama Masyarakat Adat

Ende, 18 April 2017. Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu membuka kegiatan Sosialisasi Zona Taman Nasional Kelimutu pada tanggal 18 April 2017 di Hotel Satarmese Kabupaten Ende. Kegiatan ini dihadiri oleh peserta perwakilan dari Bapeda Kabupaten Ende, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ende, Dinas LH, Pertamanan dan Kebersihan Kabupaten Ende, BPN Kabupaten Ende. Universitas Flores Ende, Satker PPK Jalan Negara, KPH Kabupaten Ende, Yayasan Tana Nuwa Kecamatan Lingkup Kabupaten Ende, Desa sekitar TN Kelimutu dan Mosalaki sekitar TN Kelimutu. Zonasi Taman Nasional Kelimutu yang telah disusun dan disahkan oleh Direktur Jenderal KSDAE pada tahun 2016. Sosialisasi Zona Taman Nasional Kelimutu ditujukan untuk menyebarkan luaskan informasi zona dan kegiatan kegiatan yang dapat dilakukan dikawasan TN Kelimutu serta mensinergikan oleh instansi terkait dan masyarakat sekitar di Taman Nasional Kelimutu. Disampaikan pula dari Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) yang diwakili oleh Sri Lestari Indriani S.Hut, M.M( Kepala Seksi Penataan KSA TB) bahwa “Zona pengelolaan Taman Nasional merupakan mandat regulasi dalam pengelolaan kawasan dimana dijadikan sebagai pedoman dan alat startegi konservatif dalam rangka mewujudkan tujuan mandat pengelolaan kawasan konservasi. Dalam pengelolaan kawasan konservasi harus pula melibatkan masyarakat dan stakeholder terkait karena pengelolaan Taman Nasional perlu dukungan dari semua pihak untuk mencapai pengelolaan kawasan konservasi yang efektfi dan efisien. Untuk itu masyarakat dan instansi terkait harus mengetahui zona Taman Nasional Kelimutu yang telah disusun dan disahkan” Masyarakat desa dan adat sekitar Taman Nasional Kelimutu menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Sosialisasi Zona Taman Nasional Kelimutu. Mereka siap mendukung pengelolaan Taman Nasional dalam menjaga kelestarian ekosistemnya dan kemajuan pariwisata. Diharapkan dengan tersebarluaskannya Zona Taman Nasional Kelimutu ini dapat membangun kesepahaman berbagai pihak dalam mewujudkan tujuan konservasi dan pengelolan kawasan Taman Nasional Kelimutu untuk kelestarian dan kesejaterahaan masyarakat. Sumber Info : Direktorat PIKA
Baca Berita

TN Alas Purwo Kembali Menjadi Stand Terbaik di Majapahit Travel Fair 2017

Surabaya, 17 April 2017. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) kembali menjadi Juara 1 Stand Terbaik Kategori Stand Kecil dalam ajang Majapahit Travel Fair (MTF) 2017. Pada gelaran tahun sebelumnya, TNAP juga meraih Juara 1 untuk kategori yang sama. Apresiasi disampaikan dalam rangkaian acara penutupan MTF 2017. MTF merupakan ajang pameran wisata terbesar di Indonesia timur. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provionsi Jawa Timur. Berlangsung pada 13 – 16 April 2017, kegiatan ini digelar di Grand City Convention and Expo Surabaya. Mengangkat tema “East Java Adventure Tourism”, kegiatan ini memadukan minat berwisata berbasis alam dan petualangan sebagai upaya menganekaragamkan daya tarik wisata. Rangkaian kegiatan dalam MTF 2017 antara lain: travel exchange (travex), pameran wisata, talkshow, famtrip, pentas seni dan lomba. Pada MTF 2017 ini TNAP mengangkat wisata Teluk Banyubiru. Teluk Banyubiru merupakan salah satu destinasi wisata yang sedang dikembangkan bersama masyarakat. Teluk ini memiliki air yang jernih berwarna kebiruan menjadikannya salah satu spot snorkling yang diminati di Banyuwangi. Masyarakat kelompok binaan TNAP telah merintis pengembangan paket wisata dan transportasi ke Teluk Banyubiru. Diantaranya adalah Pokmaswas Gemuruh (Gerakan Muncar Rumahku) dan BSS (Bahari Setail Sejahtera). Selain Teluk Banyubiru, TNAP juga mengenalkan destinasi unggulan lainnya. Beberapa destinasi wisata alam antara lain Savana Sadengan, Pantai Plengkung, Pantai Triangulasi, Pantai Pancur, Ngagelan dan Mangrove Bedul. Destinasi wisata spiritual seperti Pura Luhur Giri Salaka, Situs Kawitan, Makam Gandrung dan Goa Istana. MTF 2017 berlangsung meriah. Pengunjung membludak terutama pada sore sampai malam hari. Semua anggota tim pameran TNAP terjun untuk memberikan pelayanan informasi yang optimal bagi pengunjung. Pada penutupan acara, penyelenggara memberikan penghargaan bagi para peserta pameran. TNAP mendapatkan Juara 1 Stand Terbaik kategori stand kecil bersama Provinsi Jawa Barat (Juara 2) dan Kabupaten Lamongan (Juara 3). Pada Kategori Stand Besar, Juara 1 diraih oleh Kabupaten Blitar, Juara 2 kota Makasar dan Juara 3 DKI Jakarta. Sedangkan Kusuma Agro dan Kabupaten Malang masing-masing Juara Harapan 1 dan 2. Juara Favorit diraih oleh Kementerian Pariwisata. TNAP berterimakasih kepada keluarga besar TN Alas Purwo dan seluruh puhak yang telah mendukung. Semoga apresiasi ini menjadi tambahan semangat bagi TNAP untuk terus berkarya, melestarikan kekayaan alam dan memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat. Ayo ke Taman Nasional Alas Purwo ! “Destinasi Edukasi dan Spiritual” Sumber Info : Balai TN Alas Purwo
Baca Berita

Kampanye Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar BKSDA Maluku

Ambon, 17 April 2017. Balai KSDA Maluku dalam beberapa waktu terakhir semakin gencar melakukan berbagai kampanye penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar Maluku dan Maluku Utara melalui kegiatan pameran di tingkat daerah maupun nasional. Pertama pada perhelatan Festival Legu Gam Moloku Kie Raha yang dilaksanakan di Ternate Maluku Utara, BKSDA Maluku turut serta mengambil bagian selama 22 hari pameran tanggal 25 Maret 2017 sampai 15 April 2017 dengan lokasi pameran yaitu di Lapangan Ngalaramo Kota Ternate. Stand dengan ukuran 6x6 m dipadati pengunjung dari berbagai kalangan usia maupun golongan. Pengunjung yang datang tertarik dengan keberadaan beberapa satwa yang dibawa ke stand seperti Monyet Ekor Hitam Sulawesi/Kera Bacan (Macaca nigra), berbagai jenis reptil, Kasturi Ternate (Lorius garrulus), Kakatua Putih (cacatua alba), Nuri Bayan (Eclectus roratus), Kakatua Jambul Kuning (cacatua galerita) serta Kakatua Jambul Oranye (Cacatua moluccensis). Semua satwa tersebut merupakan satwa sitaan dan temuan yang berada di Kandang Transit SKW I Ternate. Selain mengenalkan tumbuhan dan satwa liar, pengunjung juga diperkenalkan dengan kawasan konservasi terutama yang berada di Maluku Utara. Jumlah pengunjung di stand pameran mencapai 578 pengunjung. Pameran kedua yang dikuti BKSDA Maluku yaitu Indogreen Environment dan Forestry Expo 2017 yang berlangsung pada tanggal 13-16 April 2017 di Jakarta Convention Center. Promosi potensi Taman Wisata Alam serta keanekaragaman hayati yang berada di wilayah kerja BKSDA Maluku menjadi poin penting dalam kegiatan tersebut. Turut berkunjung ke stand BKSDA Maluku, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya Bakar pada hari penutupan pameran tanggal 16 April 2017. Jumlah pengunjung di stand pameran mencapai 500-an pengunjung, berasal dari berbagai kalangan. Kedua kegiatan pemeran yang berjalan dengan baik, diharapkan dapat menjadi ajang promosi juga upaya penyadartahuan. 29 kawasan konservasi yang tersebar di Maluku dan Maluku Utara dengan potensi keanekaragaman hayati yang tinggi menjadi kekayaan bagi Indonesia pada umumnya dan masyarakat Maluku, Maluku Utara pada umumnya. Upaya promosi dan penyadartahuan yang dilakukan kiranya dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian seluruh pihak akan pentingnya kekayaan, karena Konservasi Bermula dari Peduli. Sumber Info : Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Seekor Bayi Tarsius fuscus Lahir lagi di TN Bantimurung Bulusaraung

Induk Tarsius fuscus memapah anaknya yang baru lahir. Sang bayi telah memiliki bulu yang cukup lebat namun belum bisa melihat dengan jelas, sehingga tak bisa jauh dari induknya. Foto : Taufiq Ismail Camba, 17 April 2017. Tarsius yang berada pada Dome pengamatan di Pattunuang ada yang melahirkan lagi. Pada hari Senin, 17 April 2017, seekor bayi Tarsius fuscus lahir di kandang atau dome pengamatan semi permanen lainnya, yang berada di Resort Pattunuang, SPTN Wilayah II Camba, Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul). Betapa senang pegawai TN Babul mendengar kabar ini. Bayi mungil ini lahir pada pagi hari tepat Pukul 07.53 WITA, berdasarkan hasil pantauan CCTV yang terpasang dalam dome pengamatan. Dome pengamatan Tarsius yang dibangun sejak tahun 2012 ini merupakan hasil kerjasama antara Balai TN Babul dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar untuk penelitian perilaku Tarsius fuscus di dome pengamatan. Kehamilan induk tarsius ini telah diketahui pawang tarsius TN Babul, Pado dan penelitinya, Indra sejak awal bulan Februari 2017 lalu. “Secara kasat mata perut induk Tarsius ini sedikit membesar dari biasanya sehingga perlu dipantau secara intensif untuk melihat langsung proses kelahirannya” tutur Pado saat kami bertemu awal Februari lalu. “Beberapa jam berselang, setelah dapat kabar gembira ini kami, Tim PEH TN. BABUL melihat langsung kelokasi. Anak dan induk tarsius tampak sehat” ucap Usman, Pengendali Ekosistem Hutan TN Babul. Ini adalah kelahiran kedua tahun ini, setelah kelahiran pertama pada awal Februari 2017 yang lahir di dome pengamatan kedua yang letaknya terpisah dari dome kelahiranTarsius sebelumnya. “Kelahiran ini sangat penting bagi TN Babul, mengingat satwa ini termasuk salah satu dari 25 satwa prioritas target kinerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang akan ditingkatkan populasinya secara nasional” tutur Sahdin Zunaidi, Kepala Balai TN Babul. Satwa primata ini juga termasuk jenis endemik dan dilindungi undang-undang sehingga perlu mendapat perhatian termasuk konservasi insitu (sanctuary) dan eksitu jika memungkinkan, tambahnya. (mael/tnbabul) Sumber Info : Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Pemerintah RI Bersama Yayasan BOS Memulangkan Satu Bayi Orangutan Dari Kuwait

Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kementerian Luar Negeri, bersama Yayasan BOS memulangkan satu bayi orangutan jantan dari Kuwait kembali ke Indonesia. Jakarta, 17 April 2017. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) pada hari ini kembali bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dalam hal ini Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuwait dan Yayasan BOS mengembalikan satu orangutan yang diselundupkan masuk ke negara tersebut. Petugas keamanan setempat menemukan bayi jantan berusia 2 tahun bernama Taymur, saat dibawa berkendara oleh pemiliknya, seorang warga Kuwait. Pihak Kedutaan Besar Indonesia di Kuwait segera merespon temuan ini dengan berkoordinasi dengan Kemlu dan KLHK, yang mengajak Yayasan BOS untuk terlibat dalam proses pemulangan Taymur ke tanah air. Sebagai lembaga yang berfokus pada upaya penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran orangutan, Yayasan BOS memiliki kemampuan dan pengalaman yang cukup dalam membantu memulangkan orangutan seperti Taymur. Yayasan BOS terlibat aktif dalam pemulangan Puspa dan Moza dari Kuwait tahun 2015 lalu. Kedua orangutan itu, bersama beberapa orangutan lain dari Thailand menjadi korban penyelundupan dan perdagangan ilegal satwa. Untuk memastikan Taymur berada dalam kondisi kesehatan yang baik selama di perjalanan, serta panduan protokol terinci (SOP) dijalankan dengan semestinya, seorang dokter hewan berpengalaman dari Yayasan BOS berangkat untuk mendampingi Taymur. Pesawat yang mengangkut Taymur bertolak dari Kuwait menuju Jakarta dengan transit di Amsterdam yang membuat lama penerbangan mencapai lebih dari 30 jam. PLT Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dr. Ir. Bambang Hendroyono, MM., mengatakan, “Pemerintah Indonesia telah memiliki data orangutan liar yang diselundupkan secara ilegal ke luar negeri dan akan melakukan segala upaya untuk memulangkan mereka kembali ke Indonesia. Sesuai peraturan internasional, satwa liar yang dilindungi, termasuk orangutan, yang diselundupkan ke luar negeri harus dikembalikan ke negara asalnya. Begitu mereka siap, kita kembalikan ke habitat alaminya. Itu sebabnya kami mengajak Yayasan BOS sebagai lembaga yang berpengalaman dalam berbagai kegiatan penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran orangutan membantu proses pemulangan Taymur. Semoga Taymur kelak bisa kita lepasliarkan kembali ke hutan.” Perdagangan ilegal satwa liar merupakan ancaman terbesar setelah kerusakan habitat dan perburuan. Tindak pidana terkait lingkungan, termasuk perdagangan ilegal satwa liar berada di urutan 4 tindak pidana terbesar di dunia, di bawah narkoba, pemalsuan uang, dan perdagangan manusia (Global Risk Insights, 2017). Untuk itu, komitmen dan tindakan nyata aparat penegak hukum sangat dibutuhkan dalam wujud pencegahan jangka panjang dan pengusutan berbagai tindakan terkait tindak pidana yang melibatkan perdagangan satwa liar dan tindak pidana korupsi terkait. Seluruh pemangku kepentingan juga perlu terlibat aktif dalam hal ini. Orangutan sangat membutuhkan bantuan kita semua! CEO Yayasan BOS, Dr. Ir. Jamartin Sihite, mengatakan, “Dirjen KSDAE kembali mengundang kami di Yayasan BOS untuk berpartisipasi mengembalikan Taymur dari Kuwait. Ini sudah pernah terjadi di negara yang sama. Hal ini harus bisa kita hentikan sekarang juga. Upaya menyelundupkan bayi orangutan yang nota bene seukuran bayi manusia lewat bandara di tanah air harusnya bisa diketahui dan dicegah. Penyelundupan narkoba saja bisa diketahui dan distop, kenapa satwa liar hidup tidak bisa? Kami menyerukan upaya pengawasan yang lebih ketat terhadap barang-barang yang dibawa keluar negeri ini. Kami dengan senang hati membantu pemerintah dalam memulangkan orangutan yang diselundupkan ke luar negeri, tapi di sisi lain, kita juga harus bisa menghentikan upaya penyelundupan. Pemerintah perlu menempatkan petugas-petugas yang jujur dan profesional dalam jumlah yang cukup untuk mengawasi seluruh pintu perbatasan negara kita, seperti bandara dan pelabuhan laut. Pemerintah juga wajib menerapkan tindakan tegas terhadap pelanggar hukumnya. Kita tidak bisa mengabaikan betapa besar nilai kerusakan alam yang mereka timbulkan, apalagi biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pemulangan ini tidak sedikit. Dan setiap kali memulangkan orangutan, selalu tersisa pertanyaan yang tidak terjawab, seperti ‘apakah pelakunya sudah diseret ke pengadilan atau belum?’ Itu adalah pekerjaan rumah kita semua.” Yayasan BOS yang mencanangkan tahun 2017 sebagai tahun kebebasan orangutan atau #OrangutanFreedom merasa terhormat membantu Taymur memperoleh kebebasannya. Orangutan tidak dilahirkan untuk tinggal di kandang atau sebagai hewan peliharaan. Mereka wajib hidup liar dan bebas di habitatnya, di hutan. Yayasan BOS juga berterima kasih atas dukungan moral dan material dari BOS Jerman dan BOS Swiss sebagai organisasi konservasi mitra yang peduli atas usaha pelestarian orangutan di Indonesia. Yayasan BOS sangat mengharapkan komitmen dan aksi nyata seluruh pemangku kepentingan untuk melindungi orangutan. Orangutan adalah spesies payung yang berperan penting dalam regenerasi hutan dan menjadi satwa kebanggaan Indonesia. Sudah saatnya semua pihak lebih peduli terhadap konservasi orangutan. Karena selain melindungi orangutan dari ancaman kepunahan, melestarikan habitat orangutan berarti berupaya mewujudkan kualitas hidup yang layak dan kesejahteraan bersama. Sumber Info : Direktorat KKH
Baca Berita

Penyegaran Polhut Balai TN Bukit Tigapuluh

Pekanbaru, 17 April 2017. Diklat Penyegaran bagi Polhut Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dilaksanakan pada tanggal 17 s.d 22 April 2017 di Balai Diklat LHK Pekanbaru. Diklat tersebut dibuka oleh Kepala Balai Diklat LHK Ibu Puji Iswari, S.Hut, M.Si. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut sebanyak 26 orang polhut, dengan 54 jam pelajaran, meliputi 22 jam pelajaran materi teori dan 32 materi praktek. Materi meliputi pelatihan, ESQ, kebijakan bidang perlindungan dan pengamanan hutan dan penanganan pertama tipihut dan kesamaptaan. Pemateri berasal dari Widyaiswara Balai Diklat LHK, Dirjen Gakkum, Binmas Polda Riau dan Brimobda Riau. Kegiatan tersebut merupakan hasil penandatanganan MoU antara Balai TN Bukit Tiga Puluh dengan Balai Diklat LHK Pekanbaru, dengan No. PKS. 124/BTNBT/TU/04/2017 dan SPK. 302/BDLHK-2/2017 tentang Diklat Penyegaran Bagi Polisi Kehutanan Balai TNBT. Sumber Info : Balai TN Bukit Tigapuluh
Baca Berita

TN Betung Kerihun Dan TN Danau Sentarum Di Nominasikan Menjadi Asean Heritage Park

17 April 2017. Salah satu hasil pertemuan Pertemuan ASEAN Working Group on Nature Conservation and Biodiversity (AWGNCB) ke 27 pada tanggal 14-15 Maret 2017 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam adalah disepakatinya Taman Nasional Kepulauan Seribu dan Taman Nasional Wakatobi sebagai ASEAN Heritage Park (AHP). Pertemuan juga membahas untuk menominasikan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) untuk menjadi AHP. Sampai saat ini Indonesia telah memiliki 6 kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai AHP yaitu ; Taman Nasional Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, TN Lorentz, TN Way Kambas, TN Kepulauan Seribu, dan TN Wakatobi. ASEAN Heritage Park didefenisikan sebagai kawasan dilindungi yang penting dengan nilai konservasi yang tinggi yang menggambarkan spectrum lengkap keterwakilan ekosistem di kawasan negara-negara ASEAN. Sebagaimana kriteria yang telah ditetapkan oleh Asean Center For Biodiversity (ACB) selaku sekretariat AHP, kawasan TNBK dan TNDS memenuhi beberapa kriteria antara lain ; kelengkapan ekologis, keterwakilan berbagai variasi ekosistem, kealamian, nilai konservasi tinggi, merupakan habitat bagi flora fauna yang terancam punah, memiliki keunikan serta berada di wilayah lintas batas. Nominasi TN Betung Kerihun dan TN Danau Sentarum sebagai AHP dimaksudkan untuk lebih meningkatkan penyadartahuan, kebanggaan, apresiasi dan upaya konservasi terhadap kekayaan warisan alam yang terdapat di dalam kawasan TNBK dan TNDS serta untuk meningkatkan kolaborasi pengelolaan kawasan TNBK dan TNDS pada level ASEAN. Saat ini pihak Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) telah menindaklanjuti proses nominasi dengan menyusun proposal nominasi. Selanjutnya Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati selaku Focal Point pengelolaan kawasan AHP di Indonesia bersama dengan Direktorat Kawasan Konservasi, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan menindaklanjuti dengan menyempurnakan proposal untuk selanjutnya disampaikan ke ACB selaku sekretariat AHP. @AM. Sumber Info : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Karang Hias Tanpa Dokumen Sah Ditemukan BKSDA NTB

Lombok Barat, 17 April 2017. Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Polair POLDA NTB, KP3 Lembar dan Balai Karantina Ikan mengadakan pemeriksaan rutin dalam rangka pengawasan dan antisipasi peredaran hasil hutan dan hasil perikanan illegal. Fokus pemeriksaan di Pelabuhan Poto Tano Sumbawa Barat dan Pelabuhan Lembar Lombok Barat. Dalam kegiatan tersebut tim berhasil mengamankan karang hias sebanyak 10 koli yang tidak dilengkapi dokumen yang sah serta1 unit truk dengan Nopol EA 8503 SZ beserta supir dan kondekturnya. Kronologis kejadian yaitu truk berangkat dari Kabupaten Bima dengan membawa jagung, sampai di Kabupaten Sumbawa dititipkan 10 koli barang yang diinformasikan berisi ikan dengan tujuan Malang, Jawa Timur. Di Pelabuhan Poto Tano Sumbawa Barat saat supir mengurus surat layak jalan, petugas melakukan pemeriksaan, dan berdasarkan pemeriksaan ditemukan. Balai Karantina Ikan Sumbawa kemudian mengamankan karang hias tersebut dan untuk proses penanganan lebih lanjut truk, supir dan kondektur diamankan di Kantor Polair POLDA NTB di Mataram. Sumber Info : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Penemuan Gading Gajah oleh BKSDA Jambi

Jambi, 17 April 2017. Tim Balai KSDA Jambi, Gakkum, dan Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jambi pada hari senin tanggal 17 April 2017 pukul 13.30 WIB berhasil menemukan 1(satu) buah gading gajah dengan panjang lebih kurang 108 cm dan berat 8kg. Temuan gading gajah ini didapat setelah Tim menerima informasi bahwa telah terjadi tindak pidana dibidang KSDAE dan atas informasi tersebut maka Tim mendatangi tkp di depan Bank Mandiri Jelutung Kota Jambi. Pelaku menggunakan 1 (satu) unit isuzu panther antacite grey (hijau tua) dengan nopol BH 1572AF. Dari temuan tersebut, pelaku yang bernama Arvin Hendarno dan barang bukti di amankan di Mapolda Jambi.P Sumber Info : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

TN Kepulauan Seribu Raih Peringkat 2 Stan Terbaik di IndoGreen 2017

Jakarta, 16 April 2017. Balai TN Kepulauan Seribu meraih peringkat kedua stan terbaik untuk kategori UPT Taman Nasional di ajang Pameran IndoGreen Environment & Forestry Expo (IEFE) 2017 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Senayan pada tanggal 13-16 April 2017. Pada ajang pameran lingkungan hidup dan kehutanan terbesar di Indonesia tersebut, stan Balai TN Kepulauan Seribu menampilkan informasi utama 10 Sumber Daya Penting (SDP) target konservasi. 10 SDP yaitu Penyu Sisik, Elang, Mamalia laut, Moluska, Burung Air, Ikan Ekonomis Penting, Terumbu karang, hutan pantai, Lamun, Mangrove dikemas dalam bentuk infografis agar pengunjung mudah mendapatkan informasi. Selain itu juga ditampilkan program daur ulang sampah plastik menjadi aneka produk bernilai ekonomis dari Sentra Penyuluhan Konservasi Pedesaan (SPKP) Samo-samo, stik cumi dari SPKP Bintang Laut dan paket wisata dari calon pemegang dan pemegang ijin usaha jasa wisata alam. Untuk menarik minat pengunjung disediakan media foto selfie dan wahana kuis “roda nasib”. Pada permainan “roda nasib” pengunjung akan memutar roda permainan yang didalamya sudah disediakan pilihan hadiah dan pertanyaan. Pengunjung yang datang di stand kurang lebih mencapai 1000 orang dari berbagai kalangan antara lain pelajar dan mahasiswa, pegawai negeri, swasta dan umum. Kalangan pejabat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang datang mengunjungi stan Balai TN Kepulauan Seribu antara lain Menteri LHK, Sekretaris Jenderal, Kepala Biro Humas, Kepala BPSDM, Staf Ahli Menteri, Kepala Balai KSDA/TN. Sumber Info : Balai TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

Sekditjen KSDAE Membuka Kegiatan Evaluasi Laporan Kinerja di Malang

Malang, 16 April 2017. Bertempat di Hotel Aria Gajayana, Malang pada hari ini Minggu 16 April 2017 pukul 20.00 - 23.00 dilakukan pembukaan kegiatan Evaluasi Dokumen Laporan Kinerja (LKj) Satker lingkup Ditjen KSDAE. Pembukaan dilaksanakan oleh Sekditjen KSDAE dan dihadiri Kababes TN Bromo Tengger Semeru (BTS), Tim Evaluator Ditjen KSDAE, seluruh pejabat struktural BTS dan Kepala Resort lingkup BTS. Evaluasi atau reviu dokumen LKj ini didasarkan pada kriteria perencanaan kinerja, pengukuran dan evaluasi kinerja, pelaporan kinerja dan lain-lain Kegiatan ini akan dilaksanakan s.d. tanggal 19 April dengan menilai 80 dokumen yang berasal dari 6 satker pusat, 48 satker TN dan 26 satker KSDA. Sekditjen KSDAE pada pembukaan kegiatan tersebut memberikan arahan kepada jajaran pejabat struktural, kepala resort dan fungsional TN BTS “Agar semua petugas lapangan menguasai wilayah kerjanya, melakukan delineasi, dokumentasi dan melaporkan pekerjaan secara lengkap, petakan pekerjaan”. Sekditjen KSDAE menambahkan “Petugas agar menguasai potensi dan permasalahan kondisi sosial ekonomi dan psikologis di sekitar kk dan dapat dituangkan serta dipetakan dalam suatu peta rumah konservasi”. Sekditjen KSDAE juga meminta agar masyarakat di sekitar kawasan konservasi (kk) dijadikan mitra dan komponen pendukung kk serta berhati hati dalam melakukan kemitraan karena kemitraan harus bermanfaat untuk kk yang dikelola. Jangan sampai kemitraan hanya dijadikan alat oleh mitra untuk mendapatkan manfaat dengan mengabaikan kk dan pengelola kk. Sebagai penutup, Sekditjen mengucapkan selamat bekerja kepada Tim Evaluator dan kepada para Panglima Lapangan kawasan konservasi agar tetap dan selalu semangat. Cepat Kerja, Kerja Cepat, Kerja Baik, Kerja Ikhlas. Bravo KSDAE Sumber Info : Nandang Prihadi – Kabag Program & Evaluasi Setditjen KSDAE
Baca Berita

Dugong Terjerat Kembali ke Laut oleh BKSDA Sumsel

Bangka Tengah, 16 April 2017. Balai KSDA Sumatera Selatan (Sumsel) mendapatkan laporan dari Sdr. Kahari pada tanggal 16 april 2017 karena telah menemukan satwa laut dugong yang terperangkap jaring yang dipasang di laut untuk menangkap ikan. Sdr. Kahari adalah seorang nelayan asal Desa Jelutung Kab. Bangka Tengah Prov. Bangka Belitung. Kronologis kejadian beberapa nelayan membawa dugong ke tempat pelelangan ikan di Desa Kurau. Petugas perikanan yang ada di lokasi langsung memberikan penjelasan dan pemahaman kepada para nelayan bahwa dugong adalah hewan laut yang dilindungi sehingga disarankan untuk dilepaskan kembali ke laut. Akan tetapi para nelayan tersebut meminta ganti rugi, kondisi ini membuat petugas perikanan melaporkan kepada petugas Resort Bangka BKSDA Sumsel untuk dilakukan pengecekan ke TKP. Petugas Resort BKSDA Sumsel berkoordinasi dengan Kapolres dan Pemda setempat untuk meminta bantuan agar memberikan pemahaman terhadap para nelayan sehingga secara sukarela menyerahkan satwa tersebut untuk dilepasliarkan kembali ke laut. Pada akhirnya para nelayan tersebut secara sukarela menyerahkan dugong ke Resort Bangka BKSDA Sumsel dan bersama aparat terkait melepasliarkan satwa tersebut ke laut. Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Untuk Ketiga kalinya, BBKSDA Jawa Barat Jawara di IndoGreen 2017

Jakarta, 16 April 2017. IndoGreen Environment & Forestry Expo (IEFE) merupakan Pameran Lingkungan dan Kehutanan terbesar di Indonesia, sejak tahun 2009, yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Dengan tujuan untuk mensosialisasikan prestasi pemerintah pusat dan daerah dalam implementasi program pemerintah 2014-2019 di bidang Kehutanan. Selain itu pameran ini sebagai sarana promosi kawasan wisata di seluruh Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan dan Pemerintah Daerah di Indonesia sebagai daerah tujuan wisata juga sebagai ajang untuk mensosialisasikan sumbangsih sektor industri dalam turut menjaga kelestarian lingkungan hidup dan kawasan hutan. Pamran ini juga sekaligus rangkaian peringatan Hari Hutan Internasional dan Hari Bhakti Rimbawan Ke-33 Kesempatan baik ini tidak pernah dilewatkan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat sebagai ajang promosi dan sosialisasi tentang kekayaan potensi keanekaragaman hayati, keunikan daya tarik kawasan wisatanya serta keragaman industri yang bersumber dari hasil penangkaran tumbuhan dan satwa liar. Tak ketinggalan pesan edukasi yang ditanamkan kepada pengunjung khususnya para pelajar dari mulai sekolah dasar hingga mahasiswa sebagai generasi muda untuk mengetahui dan mencintai beragam jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi melalui kuis seputar pengenalan pengunjung tentang Tumbuhan dan Satwa Liar yang ada di Indonesia, tentunya pengetahuan mereka diapresiasi dengan cinderamata yang layak. Untuk Ketiga kalinya di Tahun 2017, BBKSDA Jawa Barat berhasil menyandang Juara I untuk Stand Terbaik dari Kategori Balai/Besar KSDA se Indonesia. Sumber Info : Humas Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

TNAL Juara Terbaik ke-3 Taman Nasional di Hari Terakhir Indogreen

Jakarta, 16 April 2017. Hadir perdana dalam pameran Indogreen di JCC Jakarta, Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) berhasil meraih juara terbaik ke-3 kategori taman nasional. Pengumuman tersebut dibacakan setelah acara penutupan pameran oleh Kepala Biro Humas KLHK. Hari terakhir pameran dimeriahkan oleh finalis-finalis lomba akustik, busana dan cerita dari artis Ibu Kota Dik Doank. Pada kesempatan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ibu Siti Nurbaya melakukan kunjungan ke setiap stan pameran. Saat tiba di stan TNAL, Ibu Menteri dijelaskan tentang maket Suaka Burung Paruh Bengkok (SBP) yang sedang dibangun oleh TNAL. Taman Nasional Aketajawe Lolobata merupakan peserta perdana dalam pameran Indogreen. Segala persiapan pameran sudah dilaksanakan bersamaan dengan persiapan pameran Deep And Extreme beberapa hari yang lalu. Dalam pelaksanaannya, konsep yang disuguhkan berupa souvenir dan pemanduan oleh Tim pameran TNAL belum secara maksimal diterapkan. Hal ini dikarenakan pameran Indogreen memiliki porsi lebih banyak terhadap pendidikan lingkungan untuk pelajar dan mahasiswa daripada penjualan paket wisata bagi para petualang yang menjadi konsep utama TNAL dalam mengikuti pameran ini. Tim yang ditugaskan mengikuti pameran Indogreen adalah Akhmad David Kurnia Putra (desain), Pankratius Ajo WB (administrator), Aep Gun Gun W (perlengkapan), Adriel L Muda (dokumenter) dan drh. Lilis Fitriyani (perlengkapan) yang semuanya merupakan fungsional Polisi Kehutanan. Tim pameran sangat bangga karena mendapatkan penghargaan dan berterima kasih kepada keluarga besar TNAL yang telah mendukung kegiatan tersebut. Ayo Ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata, KEREN!!! Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Pelatihan Pemandu Selam TN Takabonerate

Selayar, 16 April 2017. Balai TN Taka Bonerate bekerjasama dengan pihak Universitas Hasanuddin Makassar mengadakan pelatihan selam yang berorientasi ke masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 16 - 20 April 2017 dengan peserta berasal dari masyarakat 6 (enam) Desa di Kawasan TN Taka Bonerate. Setiap Desa mengutus 3 (tiga) peserta calon pemandu selam. Tujuan kegiatan ini untuk mendukung pelaksanaan kepariwisataan khususnya di dalam kawasan TN Taka Bonerate itu sendiri. Lebih lanjut Kepala Balai Ir. Jusman menyatakan “Kedepannya diharapkan para peserta akan menjadi pemandu wisata yang professional dan siap menerima kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Taka Bonerate yang setiap tahun semakin meningkat”. Taman Nasional Taka Bonerate dengan segala potensi yang ada menjadi salah satu tujuan wisata di dunia yang patut diperhitungkan. Berbagai upaya dilakukan untuk pengembangan wisata di kawasan ini. Pemandu wisata juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan mengingat kurangnya SDM terkhusus untuk pemandu selam. Sumber Info : Balai TN Takabonerate

Menampilkan 10.705–10.720 dari 11.140 publikasi