Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Peringatan Hari Bumi TN Wakatobi

Kaledupa, 22 April 2017. SPTN Wilayah II Taman Nasional Wakatobi (TNW) peringati hari bumi dengan melakukan kegiatan penanaman 3.000 pohon, kegiatan direncanakan selama 3 hari, dimana pada hari pertama dilakukan kegiatan persiapan dan bersih pantai, acara jalan sehat dan kampanye konservasi. Kegiatan ini dipandu oleh Kepala SPTN Wilayah II (La Fasa, S.Sos., M.H.). Kegiatan penanaman pohon akan dilaksanakan di Kecamatan Kaledupa di bantaran kali Desa Lefuto dan di Kecamatan Kaledupa Selatan di Desa Tampara, kegiatan akan dihadiri Bapak Bupati Wakatobi/Wakil Bupati, masyarakat para pelajar, Kelompok Pecinta Alam (KPA), FORKANI (LSM Lokal), WWF dan para kepala jawatan. Diharapkan dengan terbangun pemahaman yang sama dalam menjaga lingkungan pada semua lapisan masyarakat, pemerintah, dan stakeholder lainnya akan terwujud lingkungan TNW yang lestari, harmonis dan mendatangkan manfaat bagi semua. Sumber Info : Balai TN Wakatobi
Baca Berita

BKSDA Sumsel Rayakan Hari Bumi

Lahat, 22 April 2017. Memperingati Hari Bumi tanggal 22 April 2017, Balai KSDA Sumatera Selatan (Sumsel) Seksi Konservasi Wilayah 2 Lahat bekerja sama dengan komunitas seni Arkha Ruang Kreatif Kota Lahat dan pecinta alam Garis Milang Lahat mengadakan kegiatan lomba foto instagram, lomba lukis tong sampah antar komunitas dan stage on the street dengan tema "Earth for Future". Kepala BKSDA Sumsel Genman S Hasibuan yg dihubungi via telepon menyatakan bahwa "Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk SKW 2 lahat BKSDA Sumsel dalam mengkampanyekan perlindungan TSL dan penyuluhan kepada masyarakat khususnya kaum muda di Kabupaten Lahat". Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Indonesia menjadi tuan rumah Asian Elephant Range States Meeting

Jakarta, April 2017 – 12 negara Asia yang memiliki populasi gajah berkumpul pada acara “The Asian Elephant Range States Meeting (AsERSM)” yang diselenggarakan pada tanggal 18-20 April 2017 di Hotel Shangrila Jakarta. Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjadi tuan rumah pertemuan AsERSM ke-2 setelah pada tahun 2006 pertemuan yang sama dilaksanakan di Kualalumpur, Malaysia. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kerjasama antar negara-negara di Asia untuk melestarikan gajah di Asia. Kondisi gajah liar di berbagai negara masih terus mengalami tekanan dengan berkurangnya habitat, fragmentasi habitat, perburuan dan perdagangan gading gajah. Status seluruh spesies gajah di dunia tergolong dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada tahun 1990. Indonesia merupakan negara yang memiliki dua sub-spesies gajah Asia sekaligus yaitu Kalimantan dan Sumatera. Populasi saat ini diperkirakan tersisa 1724 individu (FKGI,2014) menurun sekitar 28% dari tahun 2007 yang tercatat sekitar 2400-2800 individu. Pada tahun 2011, gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) statusnya telah menjadi Critically Endangered (CR), dikarenakan jumlah populasi yang menurun kurang lebih 80% selama lebih dari 3 generasi. Selain itu, lebih dari 69% habitat gajah sumatera yang potensial telah berkurang dalam 25 tahun terakhir. Pertemuan multilateral ini diikuti oleh delegasi dari 12 negara yaitu Bangladesh, Bhutan, Cambodia, China, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Sri Lanka, Thailand dan Vietnam akan membicarakan dan berdiskusi mengenai beragam topik yang terkait dengan pelestarian gajah diantaranya pengelolaan populasi gajah, konflik antara manusia dengan gajah, perburuan dan perdagangan gading dan bagian tubuh gajah. Kegiatan yang dikoordinasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI difasilitasi oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) - Species Survival Commission (SSC), Asian Elephant Specialist Group (AsESG), dan didukung oleh Asian Elephant Conservation Fund of the U.S. Fish and Wildlife Service. Dukungan lain juga diberikan oleh Yayasan Resolusi Gajah Indonesia (Regain), International Elephant Foundation (IEF), and The European Union Indonesia Office. Pertemuan AsERSM akan ditutup dengan penandatangan “The Jakarta Declaration for Asian Elephant Conservation” pada tanggal 20 April 2017 yang merupakan salah satu bentuk komitmen negara negara Asia yang memiliki populasi gajah untuk bersama-sama melestarikan gajah di Asia. Sumber Info : Direktorat KKH
Baca Berita

BBKSDA Jabar Berhasil Ungkap Perdagangan Illegal Satwa Dilindungi

Bandung, 21 April 2017. Di awal tahun 2017 ini, Balai Besar KSDA Jawa Barat kembali mengamankan pelaku pelanggaran Undang Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa beserta barang buktinya. Pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku ANDI WAHYUDIN alias ANDI BABAY terkait dengan pasal 21 ayat (2) huruf a Undang Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dimana yang bersangkutan telah dengan sengaja memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa liar yang dilindungi Undang-undang dalam keadaan hidup berupa 14 ekor kukang (Nycticebus caucang) dan 2 ekor alap–alap tikus (Falconidae) hal ini berdasarkan hasil simpulan gelar perkara yang dilakukan di Bidang KSDA Wilayah III Ciamis pada 18 April 2017 yang dihadiri oleh Kanit Tipidter Polresta Tasikmalaya, Tim Gugus Tugas dan Penyidik BBKSDA Jawa Barat dan Tim Penyidik Ditjen Penegakan Hukum dan dinyatakan bahwa pelaku yang baru berumur 27 tahun tersebut statusnya dinaikan menjadi Tersangka. Pelaku beserta satwa dan barang bukti lainnya berupa 4 buah kandang dan 1 handphone berhasil diamankan oleh Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Seksi Wilayah VI Tasikmalaya yang bekerjasama dengan Kesatuan Unit Reserse Kriminal Kepolisian Resort Tasikmalaya di dua tempat yang berbeda yaitu Desa Cihaur dan Desa Batu Sumur, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya pada tanggal 9 April 2017. Penangkapan di dua desa tersebut, merupakan hasil kegiatan Pulbaket yang dilakukan oleh Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Seksi Wilayah VI Tasikmalaya selama 2 bulan (Februari s/d Maret 2017). Terhadap barang bukti kukang untuk sementara akan dititip rawat di Yayasan IAR di Bogor, sedangkan barang bukti alap-alap akan di titip rawat di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) Garut. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka oleh PPNS Kementerian LHK (BBKSDA Jawa Barat dan Ditjen Gakkum) di Kantor SKW VI Tasikmalaya. Sumber Info : Humas Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Petugas Patroli BTN Bantimurung Bulusaraung Temukan Puluhan Kayu Jabon

Maros – 21 April 2017, Petugas Patroli SPTN Wilayah II Balai Taman Nasonal Bantimurung Bulusaraung temukan kayu olahan sebanyak 44 batang dengan ukuran 10x20x4 cm jenis kayu Jabon. Barang bukti ditemukan diwilayah Resort Pattunuang dan pada pukul 02.00 dini hari sebagian telah di amankan di Kantor Balai. Petugas telah berkoordinasi dengan pihak Polsek dan Pemerintah Desa Samangki untuk mencari pelaku. Sumber Info: BTN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Let’s Go to Taman Nasional Gunung Gede Pangrango and Lovely Cianjur

Bertepatan dengan Hari Kartini tanggal 21 April dan Hari Bumi tanggal 22 April 2017, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menyelenggarakan Festival Gede Pangrango dalam rangka Peringatan HUT TNGGP ke-37 (rangkaian acara tanggal 6 Maret 2017). Acara ini didukung oleh Pemerintah Daerah Cianjur beserta jajarannya. Bupati Cianjur, Dr. Irvan Rivano Muchtar membuka acara dan dalam sambutannya beliau mengutarakan, “Festival Gede Pangrango dalam rangka HUT Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ke-37 pertama kali dapat dilaksanakan bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur. Dari perlombaan yang diselenggarakan dapat terlihat potensi-potensi yang dapat dipublikasikan sebagai potensi pariwisata. Harapannya TNGGP ke depan dapat lebih maju dan dapat mensejahterakan masyarakat sekitarnya”. Festival Gede Pangrango merupakan salah satu upaya dan bentuk nyata keterpaduan program untuk meningkatkan aktivitas wisata di dalam kawasan TNGGP maupun di Kabupaten Cianjur melalui program sosialisasi, penyuluhan, pendidikan konservasi, dan pemberdayaan masyarakat dengan harapan dapat mewujudkan masyarakat yang sadar dan secara sukarela berperan aktif dalam upaya konservasi. Peran aktif masyarakat dalam upaya konservasi kawasan TNGGP ini perlu dibina, dipertahankan, dan ditingkatkan. Acara dimeriahkan dengan berbagai lomba: lomba Mars TNGGP, lomba lukis, lomba masak dengan bahan utama “Tauco Cianjur”, selain itu diadakan juga sarasehan dengan tema “Cita-Cita dan Harapan Pariwisata Cianjur” dengan narasumber dari Balai Besar TNGGP dan Dinas Pariwisata Kabupaten Cianjur yang dihadiri para investor dan pelaku yang bergerak di bidang pariwisata. Hari berikutnya tanggal 22 April 2017 dilanjutkan dengan acara jalan santai peduli lingkungan yaitu jalan dengan mengambil sampah-sampah di sepanjang rute merupakan kegiatan pertama kali dilakukan di Kabupaten Cianjur. Selain mengambil sampah yang ada di sepanjang rute, peserta jalan santai memberikan penyuluhan tentang lingkungan kepada masyarakat Kabupaten Cianjur. Hasil yang ingin dicapai dari kegiatan ini, yaitu: Upaya menjaga kelestarian Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem merupakan tanggungjawab seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat yang berada di sekitar kawasan. Oleh karena itu masyarakat perlu memiliki kesadaran dari individu masing-masing untuk berperan aktif dalam upaya konservasi karena sumber daya alam sangat penting bagi kehidupan. Kegiatan Festival Gede Pangrango dalam rangka Peringatan HUT TNGGP ke-37 di tahun 2017 sekaligus dalam rangka menjaga hubungan sinergitas kerjasama yang baik dengan budayawan, pengusaha, dan para pemangku kepentingan. Kami menyadari bahwa hanya dengan kerja keras dan bantuan dari semua pihak serta ridho dari Allah SWT, semua yang kami cita-citakan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan harapan. Teks: Poppy Oktadiyani – Penyuluh Balai Besar TNGGP Dokumentasi: Randi – Staf Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Sinergi Pengelolaan TN Kep. Togean dengan StakeholderTerkait

Ampana-Jumat, 21 April 2017. Balai TN Kepulauan Togean (TNKT) mengadakan kegiatan Rapat Koordinasi Pengamanan Kawasan Bersinergi dengan stakeholder terkait. Kegiatan dibuka oleh Wakil Bupati Kabupaten Tojo Una-Una dan dihadiri oleh Kepala Balai TNKT dan tim, Kepala Kepolisian Resort Tojo Una-Una, Kepala Kejaksaan Negeri Tojo Una-Una, Asisten II Setda kabupaten Tojo Una-Una, Kepala BP4D Kab. Tojo Una-Una, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Tojo Una-Una, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tojo Una-Una, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan LH Kab. Tojo Una-Una, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Sivia Patuju, Danramil Ampana Kota, Komandan POS AL Tojo Una-Una, Himpunan Pramuwisata Indonesia Kabupaten Tojo Una-Una dan Himpunan Pramuwisata Indonesia Sulawesi Tengah. Wakil Bupati mengatakan bahwa Jika TNKT lebih banyak manfaatnya dari mudaratnya, maka Wakil Bupati merupakan orang pertama yang mendukung keberadaaannya, namun jika TN lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya maka beliau adalah orang pertama yang akan menolaknya. Tujuan rapat ini adalah penyamaan persepsi terkait TNKT dan pengamanan kawasan TNKT sehingga apabila ada yang datang mengunjungi Wabup dan Asisten II serta pejabat Teras di Pemda akan sama penjelasannya terkait pengelolaan TNKT, ujarnya. Pemateri dalam acara ini antara lain Ir. Bustang (Kepala Balai TNKT), Kapolres Tojo Una-Una dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Tojo Una-Una. Dalam materinya Ir. Bustang mengatakan bahwa "Gangguan kawasan TNKT antara lain illegal logging, illegal fishing dan illegal occupation yang diduga terjadi sejak tahun 2008. Pelaku diduga berasal dari oknum masyarakat dan perusahaan”, ujarnya. Ir. Bustang juga mengatakan "Balai TNKT akan membangun sistem kolaborasi pengelolaan TNKT bersinergi dengan semua stakeholder terkait". Rapat Koordinasi Pengamanan Kawasan TNKT Tahun 2017 menghasilkan rumusan yang ditandatangani oleh stake holder terkait. Rumusan tersebut antara lain: Sumber Info : Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

“Habis Gelap Terbitlah Terang” Aming Dan Cleo Kembali Ke Alam Bebas

Sukaraja, 21 April 2017. Bertepatan dengan hari Kartini tanggal 21 April 2017, Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan (TNBBS) bersama Balai KSDA Bengkulu Lampung; Direktorat KKH; Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK); RPU YABI TNBBS; WCS – IP; WWF BBS; Unila Pili; serta Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus melaksanakan pelepas liaran 2 ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus). Pelepas liaran dilaksanakan di Resort Sukaraja atas SPTN I Sukaraja Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kedua ekor Elang Brontok (diberi nama Aming dan Cleo) diserahterimakan kepada Balai Besar TNBBS pada rangkaian kegiatan Kemah Konservasi Lampung 2017, dan disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ibu Siti Nurbaya Bakar tanggal 2 April 2017 lalu. Sebelum diserah terimakan, kedua satwa ini dibawah pengawasan Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK). Bersamaan dengan kegiatan pepepasliaran satwa (Aming dan Cleo), diadakan sarasehan mengenai pelestarian satwa Elang, yang dikuti para mitra kerjasama dan masyarakat sekitar kawasan hutan TNBBS. Pusat Konservasi Elang Kamojang berfungsi sebagai pusat rehabilitasi bagi elang-elang hasil sitaan dan serahan masyarakat, sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya, PKEK juga berfungsi sebagai media pendidikan lingkungan hidup dan penyadartahuan kepada masyarakat mengenai nilai penting keberadaan elang dan habitatnya di Indonesia Pasca proses pelepasliaran, Aming dan Cleo akan terus dimonitoring secara intensif selama 2 minggu untuk menilai tingkat kemampuannya bertahan hidup, mencari pakan, terbang dan daya jelajah terbangnya. Proses monitoring dilakukan dengan menggunakan penanda yang dipasang ditubuh satwa berupa microchip dan wing marker kuning PKEK 18 (Aming) dan microchip dan wing marker kuning PKEK 17 (Cleo). Upaya menjaga dan melestarikan kekayakan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi diperlukan keterlibatan para pihak dari berbagai kalangan masyarakat. Semoga kegiatan yang telah dilakukan ini menjadi “Triger” bagi upaya konservasi elang dan habitatnya di sumatera sehingga dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kepedulian, komitmen untuk melindungi, memperbaiki serta memanfaatkan lingkungan hidup secara bijaksana, turut menciptakan pola perilaku baru yang bersahabat dengan lingkungan hidup, mengembangkan etika lingkungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup. Sumber Info : Humas Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Seekor Individu Surili Jawa Kembali Diserahkan Masyarakat ke BBKSDA Jawa Barat

Banten - Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar Seksi Konservasi Wilayah I Serang kembali menerima 1 ( satu ) ekor satwa yang dilindungi dari bangsa primata yang hampir punah yaitu berupa Surili Jawa (Presbytis comata). Penyerahan dilakukan oleh Gojali seorang penduduk Pematangkupa Desa Luwuk Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Serang – Banten pada hari Kamis, tanggal 20 April 2017, sekitar pukul 08.00 wib. Surili yang dipelihara dari bayi oleh Gojali diperkirakan saat ini telah berumur 2 (dua) tahun. Untuk menghilangkaan sifat dosmestikasi yang telah dibentuk oleh Gojali, saat ini satwa tersebut dirawat oleh sebuah Lembaga Konservasi Animal Sanctuary Trust Indonesia ( ASTI ) yang berlokasi di Jl. Raya Gadog, Ds. Suka Karya, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor Untuk selanjutnya akan dimasukkan ke dalam program pelepasliaran. Sumber Info: BBKSDA Jabar
Baca Berita

Bimbingan Teknis Inventarisasi Potensi Konservasi Alam di TN MaTaLaWa

Kamis, 20 April 2017. Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MaTaLaWa) bersama dengan Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) Ditjen KSDAE. Melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Inventarisasi Potensi Konservasi Alam, yang dilaksanakan di Aula Kantor Balai TN. MaTaLaWa. Kegiatan Bimtek ini diikuti oleh 35 orang peserta, yang terdiri atas pejabat struktural dan pejabat fungsional lingkup TN. MaTaLaWa. Kegiatan Bimtek ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TN. MaTaLaWa, Maman Surahman, S.Hut.,M.Si, dalam sambutannya beliau menceritakan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh satu-satunya kawasan konservasi di Pulau Sumba ini berikut nilai penting kawasan TN. MaTaLaWa dalam mendukung keberlangsungan hidup masyarakat di Pulau Sumba. Taman Nasional MaTaLaWa memiliki posisi strategis sebagai benteng terakhir kehidupan di Pulau Sumba, TN. MaTaLaWa setidaknya memiliki 9 (sembilan) Hulu DAS Utama yang berasal dari dalam Kawasan Taman Nasional. Upaya inventory dan monitoring merupakan langkah yang terus dilaksanakan pengelola kawasan guna melengkapi sekaligus memperbaharui data dan informasi terkait Kawasan Konservasi ini. Berkenaan dengan hal tersebut, beliau sangat menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan Bimtek Inventarisasi Potensi Konservasi Alam yang digagas oleh Direktorat PIKA Ditjen KSDAE, sebagai upaya peningkatan kapasitas SDM pengelola kawasan konservasi. Dalam Pelaksanaannya terdapat 2 (dua) materi yang disampaikan oleh kedua Narasumber yang berasal dari Direktorat Pika, Sofyan Qudus HBD., S.Hut dan Akademisi Universitas Gajah Mada, Dr. M. Ali Imron, S.Hut.,M.Sc. Materi pertama yang disampaikan oleh Sofyan Qudus HBD, S.Hut, yaitu arahan kebijakan nasional terkait pengelolaan data konservasi alam, KLHK saat ini menerapkan kebijakan satu peta (One Map Policy). Dampak dari kebijakan ini adalah data lapangan terkait potensi dan permasalahan yang terdapat didalam kawasan konservasi menjadi hal yang mutlak untuk dipenuhi oleh setiap pengelola kawasan sebagai landasan pengambilan kebijakan-kebijakan strategis. Sedangkan Dr. M. Ali Imron, S.Hut.,M.Sc, dalam kesempatan pemberian materi kedua, beliau menyampaikan pentingnya penggunaan Metode Monitoring dan Inventory potensi satwa liar yang tepat dan sesuai dengan karakter kawasan sekaligus mempertimbangkan factor SDM dan pendanaan dalam hal pengelolaan kawasan konservasi. Akademisi yang sudah malang melintang dibidang inventarisasi satwa liar ini sangat jelas dan lugas menerangkan satu persatu metode inventory dan pemantauan satwa. Hal ini disambut dengan antusias oleh peserta yang hadir, kesempatan yang jarang ini dimanfaatkan dengan baik oleh Staf TN. MaTaLaWa untuk berdiskusi, sharing pengalaman dan tanya jawab seputar metode inventarisasi, analisis data dan pertimbangan teknis terkait pengelolaan kawasan TN. MaTaLaWa, hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan oleh peserta kegiatan Bimtek, terkait pemilihan metode serta efektivitas metode inventory yang telah diterapkan selama ini. Diharapkan melalui kegiatan ini, kapasitas SDM Pengelola kawasan TN. MaTaLaWa terkait Inventory dan Monitoring potensi Konservasi Alam, dan dampak secara langsung data dan informasi terkait keanekaragaman hayati di kawasan konservasi TN. MaTaLaWa dapat terpenuhi. Sumber Info : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Visit Media Field Trip - Rangkaian Persiapan Bonn Challenge di SM Padang Sugihan, Sumatera Selatan

Palembang, 20 April 2017. The 1st Asian Bonn Challenge High Level Meeting yang rencananya dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 9 - 10 Mei 2017 akan diikuti 34 negara. Sebagai rangkaian persiapan acara Bonn Challenge, telah dilaksanakan Visit Media Field Trip yang telah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 20 april 2017 di Sub Pusat pelatihan Gajah (PLG) Jalur 21 Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan dengan tema peluang ekowisata berbasis gajah di Sumatera Selatan. Kegiatan ini dihadiri oleh 10 media lokal dan nasional serta 3 blogger, Camat dan Kepala Desa Muara Padang, Camat dan Kepala Desa Muara Padang, Kordinator Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Sungai Lumpur Dishut Provinsi Sumatera Selatan dan Diskominfo Sumatera Selatan. Bonn Challenge mempunyai tujuan utama sebagai upaya global untuk mengurangi laju deforestasi seluas 150 juta hektar lahan hutan hingga tahun 2020, dan 350 juta hektar sampai dengan tahun 2030. Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Deklarasi Jakarta Untuk Melestarikan Gajah Asia

Jakarta April 20, 2017 – Perwakilan pemerintah dari 12 negara di Asia telah berkumpul dalam acara “Asian Elephant Range States Meeting”, yaitu pertemuan Negara Negara yang memiliki populasi gajah Asia. Akhir dari pertemuan tersebut telah dihasilkan sebuah “Deklarasi Jakarta” sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kerjasama regional maupun bilateral untuk melestarikan gajah Asia. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Siti Nurbaya, menjadi tuan rumah acara gala dinner dan penandatanganan deklarasi yang dinamakan “The Jakarta Declaration of Asian Elephant Conservation”. Ibu menteri dalam pidatonya yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan “Jejaring dan kerjasama yang baik dibutuhkan dalam upaya pelestarian gajah di Asia, karena populasi manusia terus bertumbuh dan kita hidup dan berbagi ruang yang sama. Pembangunan harus mempetimbangkan kebutuhan satwa liar untuk bertahan hidup dan menciptakan keharmonisan dan ko-eksistensi antara manusia satwa liar dan lingkungan hidup. Sejak tanggal 17 sampai 20 April 2017, 12 negara Asia yang memiliki populasi gajah telah melaksanakan pertemuan dan diskusi terkait upaya upaya yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh masing masing Negara pemilik populasi gajah untuk melestarikan gajah yang ada. Indonesia dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjadi tuan rumah pertemuan tersebut dengan difasilitasi oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) - Species Survival Commission (SSC), Asian Elephant Specialist Group (AsESG), dan didukung oleh Asian Elephant Conservation Fund of the U.S. Fish and Wildlife Service. Dukungan lain juga diberikan oleh Yayasan Resolusi Gajah Indonesia (Regain), International Elephant Foundation (IEF), and the European Union Indonesia Office. Negara Bangladesh, Bhutan, Cambodia, China, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Sri Lanka, Thailand and Viet Nam telah berkomitmen dalam menjalankan strategi dan rencana aksi yang tercermin dari penandatangan “The Jakarta Declaration for Asian Elephant Conservation”. Kesepakatanan ini menekankan bahwa krisis yang dihadapi oleh gajah di Asia melampaui kemampuan lokal di daerah bahkan tak jarang membutuhkan insitative lintas Negara. Tak lain, bahwa melestarikan gajah adalah tantangan global, para delegasi menyerukan diperkuatnya kerjasama antar pemeritnah dan beragam pemangku kepentingan lainya. Ke 12 negara yang memiliki populasi gajah Asia telah bersepakat untuk meningkatkan kerjasama international, meningkatkan kajian keilmuan untuk melindungi habitat dan koridor lintas Negara, dan membasmi praktek perburuan, perdagangan gading dan bagian tubuh gajah lainnya serta memastikan kesejahteraan satwa gajah yang ada di captive. Sumber Info : Direktorat KKH
Baca Berita

Selamat Datang Tukik Hasil Penetasan Semi Alami TN Wakatobi

Tomia, 20 April 2017. Tepat 2 pukul 21.44 WITA telah menetas tukik jenis penyu hijau (Chelonia mydas) sebanyak 125 ekor pada demplot penetasan semi alami spesies penyu SPTN Wilayah III Taman Nasional Wakatobi (TNW), telur penyu berasal dari Pulau Anano yang merupakan habitat penyu Hijau dan penyu sisik di TNW. Terdapat 5 pulau pendaratan penyu untuk bertelur di TNW, ketika dilakukan monitoring pendaratan penyu dan menjumpai penyu bertelur atau sarang yang terancam, maka telur tersebut akan dipindah pada demplot penetasan semi alami TNW. Telur yang dipindah biasanya kondisi sarang yang berada pada batas pasang surut air laut/terancam sehingga apabila dibiarkan kemungkinan besar telur akan terendam air laut, telur menjadi rusak dan tidak akan menetas, atau kondisi sarang yang terancam dari pencurian telur penyu oleh orang yang tidak bertanggungjawab maka telur tersebut akan dipindahkan pada demplot penetasan semi alami dan menetas dengan baik. Tukik yang telah menetas pada demplot penetasan semi alami TNW, langsung dirawat oleh petugas TNW pada bak pembesaran, tukik ini juga dapat menjadi obyek pendidikan bagi para pelajar sekitar untuk lebih dekat mengenal biota ini dan kesempatan untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar tentang pentingnya menjaga biota laut jenis penyu ini agar tidak punah di alam, karena penyu merupakan bagian dari ekosistem dan mempunyai peran yang sangat penting, sehingga jika punah maka tidak dapat digantikan perannya oleh biota lain. Juga menjadi daya tarik para pengunjung yang datang ke TNW untuk menikmati secara langsung biota laut yang terancam punah ini. Setelah dianggap cukup kuat dan dapat beradaptasi di alam bebas, maka tukik-tukik hasil penetasan semi alami pada demplot akan dilepasliarkan pada habitat aslinya di 5 Pulau pendaratan penyu TNW. Semoga dengan berbagai upaya pelestarian maka jenis penyu ini akan terus ada. Sumber Info : Balai TN Wakatobi
Baca Berita

BBKSDA Jabar Kembali Menerima Penyerahan “Sang Predator”

Rabu, 19 April 2017 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat melalui Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar Seksi Wilayah II Bogor kembali menerima seekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus). Kali ini penyerahan dilakukan oleh B. Agus Nugroho Jati, seorang warga depok yang beralamat di depok estate blok J no.9 rt/rw 001/022 kelurahan Depok Kecamatan, Pancoran Mas, Kota Depok. Tingginya intesitas pemberitaan terkait penyerahan satwa dilindungii melalui media, menghantarkan Agus Nugroho Jati untuk menyerahkan satwa yang diperoleh dari rekannya dan telah dipelihara selama setahun kepada BBKSDA Jawa Barat. Sampai menunggu tindakan selanjutnya yaitu proses rehabilitasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) yang berada Kabupaten Garut satwa tersebut sementara di rawat di Bidang KSDA wilayah I Bogor. Sumber Info : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Temuan Tengkorak Gajah BKSDA Jambi

Jambi, 19 April 2017. Tim BKSDA Jambi (seksi konservasi wilayah 2) melakukan kegiatan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) terkait penemuan tengkorak gajah oleh tim patroli PT. Lestari Asri Jaya (LAJ). Kegiatan pulbaket temuan tengkorak satwa gajah ini ditemukan di Desa Pemayungan Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo dengan tim yang terdiri dari BKSDA Jambi dan Frankfurt Zoological Society (FZS) pada tanggal 19 April 2017. Tim mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) pada areal penggunaan lain (APL) 500 meter dari konsesi PT. LAJ blok IV Desa Pemayungan Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo. Di TKP didapat hasil pulbaket dari keterangan masyarakat setempat bahwa tidak ada yang mengetahui adanya gajah mati. Gajah mati diperkirakan sekitar 6 bulan yang lalu dengan jenis kelamin jantan, gading dan gigi yang sudah hilang. GPS collar sudah dipasang di Gajah Freda yang terdiri dari 13 individu gajah. Keterangan dari masyarakt setempat banyak pemburu dari Sumatera Selatan menggunakan senjata api untuk memburu gajah. BKSDA Jambi bersama Polda Jambi baru - baru ini telah melakukan penangkapan terhadap pelaku 1 (satu) buah gading gajah asal dari Sumatera Selatan. Untuk memastikan dugaan adanya keterkaitan gajah mati di Tebo dengan gading yang di tangkap oleh BKSDA Jambi dan Polda, maka perlu dilakukan tes DNA ke Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Jakarta dengan bahan/sampel dua bagian tulang dan gading tersebut. Sumber Info : BKSDA Jambi
Baca Berita

Pembinaan Penyelam Kompressor oleh TN Wakatobi

Wangi-wangi, 19 April 2017 pukul 11.30 WITA, Tim patroli perairan TN Wakatobi bersama KKP Wakatobi menjumpai penyelam kompressor di lokasi Shark Point Sombu yang merupakan salah satu site menyelam bagi wisatawan di Wangi-wangi. Mereka merupakan masyarakat mola nelayan bakti kecamatan Wangi-wangi Selatan dan dari hasil pengakuan mereka diketahui mereka telah menangkap gurita. Oleh Tim,kegiatan mereka dihentikan dan dilakukan pembinaan serta diberi pemahaman agar tidak melakukan pengambilan hasil laut dengan menggunakan kompressor pada lokasi penyelaman, selain membahayakan diri karena udara yang dihirup kotor, dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Pengambilan hasil laut dengan menggunakan kompressor juga bisa menyebabkan pengambilan hasil laut secara berlebih dan juga bisa terindikasi dengan penggunaan racun baik potassium maupun tuba. Selain itu, akan merugikan nelayan lain yang mengambil hasil laut dengan cara tradisional, mereka akan kesulitan mendapatkan hasil dan dimungkinkan akan terjadi konflik antar nelayan dalam mencari hasil laut jika hal ini terus berlarut. Penggunaan kompressor merupakan salah satu cara penangkapan yang merusak lingkungan. Tim juga mengarahkan nelayan agar memanfaatkan pada lokasi yang telah ditetapkan, tidak melakukan aktifitas pada lokasi penyelaman wisatawan sehingga diharapkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan terjadi peningkatan ekonomi dengan pemanfaatan jasa lingkunganyang tidak melulu memanfaatkan sumberdaya alamnya secara langsung. Sumber Info : Balai TN Wakatobi

Menampilkan 10.689–10.704 dari 11.141 publikasi