Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Konflik Manusia Dan Harimau Merugikan Semua Pihak

Padang (10/5/2017). Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) mengadakan pertemuan Analisa Konflik Manusia-Harimau dilaksanakan di Hotel Grand Zuri Padang pada tanggal 10 Mei 2017. Didalam pertemuan tersebut dibahas bahwa konflik manusia-harimau tidak dapat dihindarkan sebagai akibat dari penggunaan sumberdaya yang sama. Pada banyak kasus, harimau yang terlibat konflik dibunuh oleh warga masyarakat karena telah melukai atau membunuh manusia dan hewan peliharaan. Konflik manusia dan harimau bukan hanya berhubungan dengan keselamatan manusia, tetapi juga harimau itu sendiri. Upaya pencegahan dan penanganan telah dilakukan bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan beserta mitra. Pemerintah telah mengatur dalam Permenhut No.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia dan Satwa Liar. Peraturan tersebut mengatur bagaimana cara menanggulangi maupun bertindak dalam konflik. Terbitnya Permenhut No.48/Menhut-II/2008 merupakan realisasi komitmen pemerintah terhadap upaya dalam melestarikan harimau terakhir yang dimiliki Indonesia ini dan dituangkan dalam dokumen “Strategi Konservasi dan Rencana Aksi Harimau Sumatera 2007-2017”. Dalam pertemuan tersebut, dilakukan Forum Group Discussion (FGD) yang membahas 2 tema yaitu mengenai penyebab konflik serta masalah penanganan konflik dan pasca konflik. Hal ini ditujukan untuk menyamakan persepsi akan kondisi konflik manusia-harimau, sehingga dapat memperoleh solusi bersama dalam mencegah dan menanggulangi konflik tersebut. Berdasarkan hasil FGD mengenai tema penyebab konflik, terdapat beberapa isu-isu yang perlu diperhatikan antara lain beberapa daerah yang belum memiliki SK gubernur untuk penanggulangan konflik, apabila sudah ada pun masih belum berjalan optimal; keterbatasan pemda untuk mengalokasikan dana untuk pengelolaan tumbuhan dan satwa liar; Permenhut No.48 yang belum mengakomodir UU No.23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Terkait dengan konflik dan pasca konflik, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu pihak-pihak yang terkait dalam penanganan konflik; dana penanganan konflik; tim penanganan konflik; skema kompensasi terhadap kerugian yang disebabkan karena konflik; serta pelaporan dan monitoring pasca konflik. Mengenai skema kompensasi, masih belum adanya acuan besarnya biaya pergantian untuk setiap kerugian maupun pihak-pihak yang perlu berkontribusi dalam kompensasi tersebut. Oleh karena itu, dari diskusi yang dilakukan, perlu adanya review dan peningkatan status hukum Permenhut No. 48 yang disesuaikan dengan kebijakan dan peraturan perundangan yang baru. Diharapkan selanjutnya juga dapat ditetapkan mengenai SOP untuk penanganan konflik serta pelaporan dan monitoring pasca konflik dengan alur yang jelas berdasarkan peraturan pemerintah dan pedoman praktis yang ada. Pertemuan ini merupakan salah satu langkah agar pencegahan dan penanganan kasus konflik manusia-harimau dapat dilakukan secara seragam dan terstandarisasi di Sumatera. Sehingga, diharapkan penanganan konflik manusia-harimau dapat berjalan dengan lebih baik ke depannya. Turut hadir dalam pertemuan ini unsur pemerintah seperti Kepala Balai Taman Nasional Kerinci-Seblat, Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, perwakilan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar KSDA Riau, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leusur, Balai KSDA Aceh, Balai KSDA Sumatera Selatan, Balai KSDA Jambi, Balai Taman Nasional Berbak Sembilang, serta unsur LSM, dan mitra dalam konservasi Harimau Sumatera.
Baca Berita

TN Aketajawe Lolobata “2018 Menuju Kedaulatan Rakyat”

Sofifi, 10 Mei 2017. Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) kembali bersiap untuk mencapai semangat “kedaulatan rakyat” seperti yang telah dilakukan di Taman Nasional Gunung Cermai (TNGC). Melaui rapat perencanaan kegiatan tahun 2018 yang dilaksanakan selama empat hari mulai tanggal 7 s/d 10 Mei 2017 di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II di Maba, rencana kegiatan difokuskan untuk sebesar-besarnya mencapai kemandirian masyarakat sekitar. Menempuh perjalanan kurang lebih enam jam dari Sofifi menuju Maba Kabupaten Halmahera Timur, tim rapat yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai TNAL Bapak Sadtata Noor Adirahmanta kembali mengusung konsep touring. Menggunakan mobil dinas menuju Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur tim berisirahat di tengah perjalanan di desa Subaim, SPTN wilayah III. Terdapat tiga sesi dalam agenda rapat. Sesi pertama dimulai dengan presentasi hasil kunjungan kerja ke Taman Nasional Gunung Cermai oleh Kepala SPTN Wilayah II, Bapak Birawa. Dalam paparannya beliau menjelaskan konsep tentang kedaulatan rakyat yang telah dilaksanakan oleh TNGC. Sesi kedua tentang evaluasi kegiatan pada tahun sebelumnya. Masing-masing seksi pengelolaan diberikan kesempatan menyampaikan evaluasi kegiatan yang telah dilakukan. Sesi ketiga merupakan sesi pemaparan rencana kegiatan yang diusulkan oleh masing-masing seksi pengelolaan yang merupakan usulan dari masing-masing anggota SPTN. Pada sesi ini semua SPTN memberikan kegiatan sepenuhnya menganut asas manfaat bagi masyarakat sekitar kawasan. Kegiatan rapat ditutup dengan acara ramah tamah yang diikuti dengan bakar ikan dan jagung bersama. Pagi ini tim kembali ke Sofifi dengan membawa hasil untuk masyarakat. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Wisata Malam di TN Bantimurung Bulusaraung, Mengamati Perilaku Tarsius

Hutan Primer Karaenta dapat ditempuh 30 menit dari Kantor Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Bantimurung, hutan tersebut merupakan lokasi pengamatan si satwa bermata besar, Tarsius yang tepatnya di Resort Pattunuang. Tarsius hidup berkelompok seperti primata pada umumnya dengan anggota kelompok antara 2 sampai 5 ekor. Tarsius memiliki perilaku menjauh dari kelompoknya saat mendapatkan makanan. Di dunia mereka tak ada istilah berbagi makanan. Harus mencari dan menikmati sendiri hasil buruannya. Menjelang malam hari sebagian besar aktivitasnya digunakan untuk mencari makanan. Wilayah jelajah tarsius bisa mencapai 20 sampai 30 kilometer persegi (Badriyah 2016). Primata ini hanya memiliki ukuran tubuh 10-15 cm, sebesar kepalan tangan orang dewasa. Ekornya lebih panjang dari ukuran tubuhnya, 20-27 cm. Tubuhnya dilapisi oleh rambut yang umumnya berwarna coklat keabu-abuan. Sehingga tak heran masyarakat lokal di sekitar taman nasional menjulukinya “balao cengke” alias tikus jongkok. Ini karena masyarakat saat menjumpainya menyerupai tikus yang jongkok jika tampak dari belakang. Dengan mata besar ia bisa melihat mangsanya dengan jelas di malam hari. Karena bentuk matanya seperti itu dia tak bisa melirik kiri atau ke kanan. Jika ada ancaman atau mangsa di sisi kiri atau kanan, Tarsius mampu memutar kepalanya hingga 180 derajat. Jangankan sisi kiri atau kanan, sesuatu di belakangnya pun dia bisa pantau. Tak banyak yang tahu satwa asli Sulawesi ini, apalagi melihatnya langsung. Selain jarang ditemukan, tak banyak usaha budidaya di luar habitat aslinya. Satwa ini memiliki nama latin Tarsius fuscus. Sebarannya bersifat endemik. Jenis ini hanya ada di Sulawesi Selatan, di daerah lain seperti halnya di TWA Tangkoko, Sulawesi Utara sudah berbeda jenis. Ada 11 jenis tarsius di dunia dan 9 jenis dapat dijumpai di Pulau Sulawesi. Satwa ini termasuk 25 satwa prioritas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Mari mengenal dan mencintai potensi kita. Ayo ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sumber Info : Taufiq Ismail, PEH Pertama Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Balai Besar KSDA NTT Amankan 1 Ekor Buaya Betina

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari masyarakat, pada tanggal 9 Mei 2017 pukul 21.10 WITA Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mengamankan 1 ekor buaya betina sepanjang 155 cm. Tim BBKSDA NTT beberapa hari sebelumnya mendapat laporan dari masyarakat bahwa terdapat sebuah group penjual obat yang beroperasi di beberapa lokasi secara berpindah-pindah di seputaran Kota Kupang, Provinsi NTT dengan menggunakan satwa liar buaya dan ular untuk menarik massa agar berkerumun. Pimpinan Unit Penanganan Satwa BBKSDA NTT dengan anggota Kepolisian setempat melakukan pengumpulan keterangan dan langkah persuasif terhadap rombongan yang dipimpin oleh Rahmad Amrin (40) yang menurut pengakuannya merupakan warga Kecamatan Palu Barat Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah tersebut setelah acara selesai. Setelah dilakukan pengarahan terkait Undang-undang Konservasi, kasus diselesaikan melalui langkah pembinaan. Pimpinan rombongan bersedia menyerahkan satwa buaya tersebut dan membuat pernyataan untuk tidak mengulangi aktifitas tersebut. Satwa buaya selanjutnya diamankan di kantor BBKSDA NTT. Sumber Info : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Kolaborasi TNI - Polri dalam Pelatihan Menembak bagi Polhut Balai TN Bukit Tigapuluh

Indragiri Hulu, 8 Mei 2017. Pelatihan menembak yang terselenggara atas kerjasama Balai TN Bukit Tigapuluh (TNBT) dengan Polres Indragiri Hulu dan Kompi Senapan B 132 Lirik dilaksanakan pada hari Senin, 8 Mei 2017 bertempat di lapangan Kompi Senapan B 132 Lirik, Kecamatan Lirik Kabupaten Indragiri Hulu. Pelatihan ini merupakan Kegiatan rutin tahunan untuk mengasah keterampilan Polhut dalam menggunakan senjata api. Melalui pelatihan ini diharapkan Polhut TNBT mampu menggunakan senjata api sesuai prosedur sehingga dapat mendukung tupoksi pengamanan kawasan. Kegiatan illegal masyarakat ke dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) merupakan ancaman yang menuntut kewaspadaan petugas Polisi Kehutanan (Polhut). Kecenderungan penggunaan senjata tajam dan senjata api rakitan oleh masyarakat dengan dalih sebagai perlindungan diri patut menjadi perhatian serius mengingat penggunaan senjata api rakitan sudah menyalahi aturan. Perlengkapan senjata api bagi Polhut sendiri merupakan hal wajib yang dalam penggunaannya memerlukan pengetahuan dan keterampilan. Sumber Info : Balai TN Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Untuk Masyarakat, TN Aketajawe Lolobata Kirim Peserta Pelatihan Goa

Sofifi, 8 Mei 2017. Untuk mewujudkan pengelolaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) yang mandiri oleh masyarakat, Balai TNAL mengirimkan anggota masyarakat dalam rangka mengikuti pelatihan pemetaan goa atau ilmu speleologi. Kegiatan ini berlangsung di Yogyakarta selama 7 hari mulai tanggal 7 s/d 13 Mei 2017. Jumlah peserta pelatihan yang diselenggarakan oleh ASC (Acintyacunyata Speleological Club) sebanyak 45 peserta dari seluruh Indonesia, karena kegiatan terbuka untuk umum. Dari TNAL mengirimkan dua orang, yaitu Mario sebagai Polisi Kehutanan dan Nikson dari warga desa Tomares. Kepala Balai TNAL berharap masyarakat memiliki kemampuan yang dapat “dijual” untuk kepentingan konservasi dan meningkatkan ekonomi masyarakat, salah satunya dibidang pemanduan wisata alam. Pak Nis sudah biasa mengikuti kegiatan lapangan termasuk susur goa bersama taman nasional. Oleh karena itu Pak Nis yang memiliki potensi pecinta goa dikirim untuk meningkatkan kapasitas sebagai ahli goa dan sekaligus menjadi salah satu pemandu wisata goa di TNAL. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Geliat Promosi TN Aketajawe Lolobata dan Dishut Provinsi Malut di PENAS Aceh

Aceh, 8 Mei 2017. Sudah hari ke-3 Pentas Nasional (PENAS) ke-XV di Stadion Harapan Bangsa, Aceh berlangsung. Acara tersebut dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia dan langsung dilanjutkan dengan acara talk show. Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara membawatujuh produk unggulan binaan mereka. Produk-produk tersebut adalah Teh Samama, Madu Trigona, Teh Kayu Harum, Kerajinan Bambu, Kerajinan Limbah Alam, Wisata Hutan Mangrove dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa getah damar. Sedangkan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) yang diundang Dishut untuk bergabung di stand tetap memasarkan produk jasa lingkungan berupa wisata alam di kawasan TNAL. Teh Samama yang berbentuk teh celup dibuat dari kulit pohon Samama merah yang dikeringkan, memiliki khasiat yang dipercaya sebagai penambah stamina, penyubur kandungan dan lainnya. Penyajiannya seperti menyeduh teh biasa. Sedangkan kerajinan limbah alam merupakan kerajinan berbahan dasar dari buah, biji, ranting, daun atau apapun yang terdapat di hutan yang kemudian dirangkai menjadi burung, lampu dinding, pin, gantungan kunci dan lainnya. Tak lupa TNAL kembali menjual produk wisata pengamatan burung dan petualangan. Jika ingin mendapatkan souvenir unik dan keterangan produk lainnya silahkan kunjungi stan Dishut yang tergabung di stan Provinsi Maluku Utara. Sumber Info : Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Puyuh Jayawijaya

Puyuh Pegunungan Salju atau disebut juga Puyuh Jayawijaya dalam bahasa latin dikenal dengan (Anurophasis monorthonyx), juga dikenal sebagai The Snow Mountains Quail merupakan burung endemik Papua yang berada di Taman Nasional Lorentz tepatnya di daerah Danau Habema dan sekitarnya, informasi ini berdasarkan survey habitat Burung Puyuh Jayawijaya tahun 2015 yang di lakukan oleh Tim Balai Taman Nasional Lorentz . Burung ini termasuk dalam famili Phasianidae, genus Anurophasis dan termasuk dalam daftar species terancam menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Burung ini termasuk burung endemik yang tidak umum dan pemalu. burung ini merupakan spesies alpine, yakni berada di daerah pegunungan dengan ketinggian 3200-3800 mdpl, menghuni padang rumput alpine juga sering terlihat di tepi alpine yang bersemak lebat dengan pohon dan belukar. Terbang secara tiba-tiba ketika merasa terganggu, bersuara ribut dengan kemiringan arah terbang yang sangat tajam, memanggil-manggil, kemudian hinggap sekitar 50-100 m jauhnya. Biasa terlihat berkelompok yang terdiri dari dua atau tiga burung. Ciri dari burung puyuh salju ini berukuran besar seperti ayam hutan (25-28 cm), bertubuh gemuk, kokoh dan berekor pendek. Jantan: coklat tua dengan coret bungalan dan merah-karat, terkesan berpalang melintang sangat banyak. Tubuh bagian bawah coklat kadru dengan dada bagian atas sampai perut berpalang gelap, sampai ke bawah sisi tubuh dan penutup ekor bawah. Sisi muka dan leher, dagu, tenggorokan, dan dada bagian atas terang, tidak bertanda kayu manis. Paruh kokoh, tungkai dan kaki kuning. Betina mirip tetapi tubuh bagian bawah lebih pucat di bandingkan dengan burung jantan. Dan memiliki suara memekik “queeU” atau “queeah” keras, sering diulang empat hingga lima kali ketika ada ganguan dan bahaya di sekitarnya. Meningkatnya aktifitas pembangunan jalan trans papua yang melintasi di sekitar kawasan Taman Nasional Lorentz ini membuat spesies burung ini terancam dan juga perubahan iklim merupakan ancaman jangka panjang bagi populasi spesies burung ini. Alam Papua memang luar biasa kaya akan keanakeragaman hayatinya. Namun jika hutan rusak maka kekayaan alam termasuk burung-burung yang ada di dalamnya akan hanya tinggal cerita saja. Semoga lestari. Sumber Info : Balai Taman Nasional Lorentz; Pratt, T.K., Beehler, B.M., 2015. Birds of New Guniea, Second Edition. Princeton University Press, Princeton, NJ, USA Foto oleh : M. Abdul Hakim K.W. (Balai Taman Nasional Lorentz)
Baca Berita

Translokasi Bekantan Di Sungai Koran TN Sebangau

Palangka Raya, 8 Mei 2017. Pada hari Sabtu 06 Mei 2017 Tim Rescue Reaksi Cepat (TRRC) dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I BKSDA Kalimantan Tengah bersama BOS Foundation Nyarumenteng serta Balai Taman Nasional Sebangau melakukan kegiatan translokasi seekor Bekantan jantan ke wilayah Sungai Koran, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I. Satwa liar tesebut merupakan hasil rescue TRRC SKW I BKSDA Kalimantan Tengah bersama BOS Foundation yang berhasil di evakuasi dari pemukiman warga di Jalan Sakan 10 Kota Palangka Raya. Kondisi satwa dalam keadaan sehat dengan perkiraan umur 7 tahun dan berat badan sekitar 20 kg. Sebelum pelepasliaran, BKSDA Kalteng telah berkoordinasi dengan Balai TN Sebangau untuk melakukan translokasi. Untuk menghindari satwa tersebut kehilangan sifat liarnya ataupun tertular penyakit sehingga kegiatan translokasi harus dilakukan dengan segera setelah melalui pengecekan kesehatan oleh tim medis dan dinyatakan sehat maka satwa segera dilepasliarkan ke habitatnya. Kronologis satwa liar yang berada di pemukiman warga diketahui dari laporan seorang warga bernama Bapak Yongki yang melaporkan kepada tim BKSDA bahwa ada seekor Bekantan besar berkeliaran di lahan pemukiman dekat rumahnya pada hari Jum’at 05 Mei 2017. Laporan tersebut segera ditindaklanjuti dengan melakukan investigasi pengecekan lapangan oleh TRRC SKW I BKSDA Kalteng bersama BOSF. Berdasarkan hasil investigasi harus segera dilakukan tindakan penyelamatan untuk mengevakuasi satwa tersebut. Kepedulian masyarakat terhadap hidupan satwa liar patut diapresiasi, dengan melaporkan kejadian kasus satwa yang berkeliaran di pemukiman atau lahan penduduk dapat membantu tim Rescue melakukan penyelamatan satwa dari ancaman perburuan maupun konflik yang berujung pada pembunuhan satwa. Bekantan merupakan satwa liar dilindungi yang masuk dalam kategori terancam punah, Semoga pendatang baru di TN Sebangau tersebut dapat beradaptasi dan hidup dengan baik di habitatnya. Sumber Info : Tatang Suwardi, S.Hut , Susana, A.Md Balai TN Sebangau, BKSDA Kalimantan Tengah dan BOSF Nyarumenteng
Baca Berita

Satu Lagi Lokasi Yang Disukai Penyu Untuk Bertelur di Wilayah BBKSDA Jawa Barat

Suaka Margasatwa Cikepuh dan Suaka Margasatwa Sindangkerta bukanlah satu satunya kawasan di wilayah kerja BBKSDA Jawa Barat yang menjadi lokasi persinggahan penyu untuk bertelur. Satu lagi ditemukan kawasan yang memiliki habitat yang disukai penyu untuk meneruskan generasinya. Terhitung sejak dua bulan terakhir sebanyak 877 butir telur penyu berhasil ditemukan oleh petugas Resort Konservasi Wilayah II TWA Pulau Sangiang Seksi Konservasi Wilayah I Serang Bidang KSDA Wilayah I Bogor. Taman Wisata Alam Pulau Sangiang terletak di Provinsi Banten, tepatnya di tengah-tengah Selat Sunda, TWA ini memiliki daya tarik tersendiri yang dapat memikat penyu untuk mendarat. Lokasi pantai yang masih jarang pengunjung serta landai menjadi lokasi pilihan sebagai lokasi bertelur. Memiliki daerah berpasir yang mudah digali pada blok Batu Raden, seekor Penyu Sisik (Eretmocheyls imbricate) ini berhasil menggali lubang sedalam 20-30 cm sebagai tempat bertelur pada tanggal 7 Mei 2017. Sejumlah 165 telur berhasil dikeluarkan dalam rentang waktu 25 menit. Dengan menggunakan tungkai belakang satwa tersebut berhasil melindungi telurnya dengan pasir sebelum akhirnya kembali lagi ke laut. Untuk melindungi telur – telur tersebut dari predator ataupun dari manusia yang tidak bertanggungjawab, petugas memindahkan seluruh telur ke blok Tembuyung untuk ditetaskan dengan sistem semi alami sebelum dilepasliarkan. Telur ditanam dengan kedalaman 30-50 cm menyerupai kondisi sarang alaminya dengan ukuran dan bentuk lubang dibuat sedemikian rupa menyerupai sarang aslinya. Ukuran diameter mulut sarang penyu sekitar 20 cm, jarak penanaman sarang telur satu dengan lainnya + 50 cm. (vlh) Sumber Info : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

26 Negara Peserta, Ikuti Lari Lintas Alam Rinjani 100

Mataram – 8 Mei 2017, Upaya mendorong peningkatan kunjungan dan kalender event Sport Tourism di Nusa Tenggara Barat (NTB), Dinas Pariwisata NTB bersama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang dimulai tanggal 5 Mei 2017 sampai dengan 7 Mei 2017 menggelar event Lari Lintas Alam (LA) RINJANI 100 di kawasan TNGR. Event LA RINJANI 100 tahun ini merupakan event ke 2. Dimana tahun sebelumnya digelar LA RINJANI 100 yang diikuti sekitar 400 lebih peserta dari 20 negara. Di tahun 2017 ini jumlah peserta meningkat 40 % atau menjadi 550 peserta dr 26 negara. LA RINJANI 100 di nilai sebagai lomba terekstrem di Asia Tenggara. Event Rinjani 100 yang menempuh jarak 100 Km, masuk dalam agenda tahunan Dispar Prov. NTB untuk mempromosikan wisata di NTB. Selain sebagai atraksi Sport Tourism sekaligus mendorong masyarakat NTB khususnya di lingkar Gunung Rinjani untuk menjaga TNGR agar lebih baik, dari pengelolaannya maupun kondisinya. Sumber: BTN Gunung Rinjani
Baca Berita

Patroli Pengamanan Peredaran TSL oleh BKSDA Maluku

Ternate, 8 Mei 2017. Patroli Pengamanan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh BKSDA Maluku, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ternate. Pada tanggal 6-8 Mei 2017, patroli dilaksanakan di Kota Ternate dengan dipimpin langsung oleh Kepala SKW I Ternate, Lilian Komaling, S.Hut. Beranggotakan 6 orang POLHUT, patroli dilaksanakan dengan menyusuri ruang publik dan pemukiman warga. Patroli berjalan lancar tanpa hambatan dengan hasil patroli ditemukan beberapa kepemilikan satwa liar baik dilindungi maupun tidak dilindungi tanpa izin yang dimanfaatkan juga untuk menjadi sumber penghasilan tambahan. Adapun temuan hasil patroli yang dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut terdiri dari : 24 ekor Kasturi Ternate (Lorius garrulus), 8 ekor Nuri Bayan (Eclectus roratus), 2 ekor Kakatua Putih (Cacatua alba), serta 1 ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus). Dalam patroli tersebut, Polsek Ternate Selatan terlibat dengan ditemukannya 23 ekor Kasturi Ternate, 3 ekor Nuri Bayan dan 2 ekor Kakatua Putih di Pelabuhan Ferry Bastiong dimana pemiliknya tidak diketahui. Hasil temuan dibawa ke Kantor Polsek Ternate Selatan kemudian diserahkan lagi ke BKSDA Maluku. Sedangkan, 5 ekor Nuri Bayan dan 1 ekor Kasturi Ternate ditemukan di rumah warga yang tersebar di Kota Ternate. Kepada pemilik satwa diberikan pembinaan yang terkait dengan Pelestarian tumbuhan dan Satwa liar serta peraturan kepemilikan satwa liar, kemudian pemilik menyerahkan satwa. Adapun 1 (satu) ekor Buaya Muara, ditemukan di Terminal Gamalama dalam sebuah pertunjukkan. Buaya tersebut diikat mulutnya kemudian dipertontonkan kepada masyarakat bersama dengan beberapa pertunjukkan keahlian lainnya. Menurut keterangan yang diberikan, Buaya tersebut telah dipelihara selama 8 tahun dan diikutkan dalam atraksi di berbagai daerah mulai dari Mamuju, menyusur Sulawesi hingga Manado kemudian ke Ternate dan ditahan oleh POLHUT. Semua satwa temuan saat ini sudah dibawa ke Kantor Seksi Konservasi Wilayah I Ternate untuk selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan klinis oleh Dokter Hewan dari Badan Karantina Pertanian Kelas II Ternate. Satwa-satwa tersebut akan direhabilitasi di Kandang Transit SKW I Ternate dengan tujuan akhir pelepasliaran. Kepala SKW I Ternate dalam arahannya mengatakan bahwa, “Patroli Pengamanan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) harus tetap dilakukan secara terus-menerus karena hal tersebut merupakan TUPOKSI dari pejabat fungsional POLHUT, tetapi juga harus diikuti dengan upaya penyadartahuan kepada masyarakat luas tentang pentingnya Pelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar dilindungi maupun tidak dilindungi." Semoga dengan adanya kegiatan patrol yang dilaksanakan sejalan dengan upaya penyadartahuan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa satwa liar itu harusnya berada di alam bukan berada di rumah-rumah warga ataupun menjadi bahan pertunjukkan. Sumber Info : Balai KSDA Maluku
Baca Berita

BBKSDA Sumut Berhasil Selamatkan Harimau dari Jeratan

Medan – 5 Mei 2017, BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Sumatera Utara bersama masyarakat berhasil merescue 1 ekor harimau yang terjerat di Desa Parmonangan Kecamatan. Panribuan Kabupaten. Simalungun. Harimau diinapkan 1 malam di Taman Hewan Siantar dan hari Sabtu malam telah dipindahkan ke Sanctuary Harimau Barumun. Harimau ukuran tinggi 1 meter dengan panjang 1,5 meter, berat 150 kg perkiraan umur 7 tahun dan jenis kelamin jantan ini dirawat untuk luka bekas jeratan di kaki. Lokasi ditemukan di desa Parmonangan sekitar 1 km dibelakang kebun pinus Balai Litbang Aek Nauli. Harimau tersebut dinamai "Monang" untuk mengingatkan tempat dia ditemukan. Dengan adanya kejadian penemuan harimau tersebut Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara berharap perlu adanya pemetaan ulang tentang keberadaan harimau di Sumatera Utara. Sumber: BBKSDA Sumatera Utara
Baca Berita

TN Kerihun Dan Danau Sentarum Bersama Mitra Fasilitasi Pembentukan Kelompok Pengelolaan Wisata

Datah Dian, 7 Mei 2017. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS), bermitra dengan Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (KOMPAKH), WWF Indonesia, beserta Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata bekerja sama memfasilitasi pembentukan Kelompok Pengelola Pariwisata di Desa Datah Dian. Dalam kesempatannya di pertemuan tanggal 7 Mei 2017 di Rumah Adat Ma’ Suling Desa Datah Dian, masing-masing perwakilan fasilitator dari BBTNBKDS, KOMPAKH, WWF Indonesia, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata menyatakan pembentukan Kelompok Pengelolaan Pariwisata di Desa Datah Dian sangat dibutuhkan mengingat kini objek-objek / destinasi wisata di dalam kawasan Taman Nasional mulai gencar dipromosikan oleh stakeholder tersebut diatas. BBTNBKDS mendorong percepatan kegiatan pariwisata dengan menyediakan beberapa fasilitas pendukung seperti camping ground, jalur interpretasi, dan penentuan jalur body rafting sepanjang 600 m di Sungai Mentibat. Menurut M. Seban (perwakilan Dinas Olahraga, Pariwisata dan Pariwisata) mengatakan selain fasilitas di Taman Nasional dan objek alam yang bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata,masyarakat juga dapat menjadikan Upacara Dange dan tari – tarian sebagai atraksi yang bisa dijual ke wisatawan. Sektor wisata ini juga dapat dibarengi dengan pelibatan kaum perempuan di Desa Datah Dian untuk pembuatan souvenir serta penyedia jasa penginapan dan konsumsi. Namun harus diperhatikan juga mengenai keamanan pengunjung sehingga mereka merasa nyaman dan dapat ikut merekomendasikan destinasi wisata di Mendalam kepada rekan-rekan atau keluarganya. Sesuai dengan UU no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, fungsi Taman Nasional adalah sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman satwa dan tumbuhan serta ekosistemnya dan pemanfaatan secara lestari satwa dan tumbuhan serta ekosistemnya. Untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut tentu saja Taman Nasional tidak dapat melakukannya sendiri dibutuhkan mitra-mitra yang bisa bekerja sama untuk mewujudkannya. Masyarakat adalah salah satu komponen terpenting dalam hal ini. Fungsi Pemanfaatan perlu ditonjolkan sebagai upaya persuasif ke masyarakat untuk mewujudkan dua fungsi lainnya. (Eks/ AL) Sumber Info : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Uji Kompetensi Pejabat Fungsional Lingkup Balai TN MaTaLaWa

Waingapu, 7 Mei 2017. Kelompok Jabatan Fungsional binaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang terdiri diri Polisi Kehutanan (POLHUT), Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan Penyuluh Kehutanan diwajibkan memiliki kompetensi sesuai bidang dan keahliannya. Uji kompetensi merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang akan menduduki jabatan fungsional tertentu ataupun naik kejenjang jabatan satu tingkat lebih tinggi, hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (MaTaLaWa), Maman Surahman, S.Hut.,M.Si dalam sambutannya pada acara pembukaan uji Kompetensi Pejabat Fungsional lingkup TN MaTaLaWa. Kegiatan Uji Kompetensi Pejabat Fungsional Lingkup TN MaTaLaWa dilaksanakan di Aula Pertemuan Kantor Balai TN MaTaLaWa dan Lapangan Kodim 1601 Sumba Timur pada tanggal 4 s.d. 7 Mei 2017. Tim penguji berasal dari Pusat Perencanaan dan Pengembangan SDM KLHK, terdiri atas 2 (dua) orang Asesor dan 1 (satu) orang Pendamping Asesor. Adapun peserta uji kompetensi diikuti 14 pejabat fungsional lingkup TN MaTaLaWa, dengan rincian 5 (lima) Pejabat Fungsional POLHUT, 8 (delapan) Pejabat Fungsional PEH, dan 1 (satu) Pejabat Fungsional Penyuluh Kehutanan. Rangkaian uji kompetensi Pejabat Fungsional Lingkup TN MaTaLaWa diawali dengan acara pembukaan sekaligus arahan teknis pelaksanaan uji kompetensi, Penyusunan Portofolio, Ujian Tertulis, Ujian Lisan (Wawancara), Demo/Praktek, Uji Kesamaptaan (Khusus Pejabat Fungsional Polhut), pengecekan dan pemberkasan dokumen uji serta penutupan. Pada ujian kesamaptaan yang diikuti oleh pejabat fungsional polhut TN MaTaLaWa, kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan oleh dr. Inda Tasha Bastaman selaku dokter internship di Puskemas Kota Waingapu – Sumba Timur. Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan, kegiatan dilanjutkan dengan ujian fisik. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kebugaran fisik dan kesiapan POLHUT dalam melaksanakan tugas ditingkat lapangan. Melalui kegiatan ini diharapkan para pejabat fungsional lingkup TN MaTaLaWa memiliki standar kompetensi yang mengacu pada prosedur/aturan yang telah ditetapkan. Sehingga mampu melaksanakan tupoksi dan selanjutnya mampu memberikan masukan/rekomendasi guna pengambilan kebijakan pengelolaan kawasan TN MaTaLaWa, sebagaimana disampaikan oleh Tri Wiyanto, S.Hut selaku Kepala Subbag Tata Usaha dalam sambutannya pada penutupan uji kompetensi pejabat fungsional lingkup TN MaTaLaWa. Sumber Info : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (MaTaLaWa)
Baca Berita

Hari Air Sedunia, Mahasiswa Trisakti Peduli Pelestarian Ekosistem Air di TN Kepulauan Seribu

Pulau Harapan, 7 Mei 2017. “Ekosistem yang baik berasal dari Air” merupakan tema kegiatan yang diusung oleh Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Trisakti “Aranyacala Trisakti” dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia tahun 2017. Taman Nasional Kepulauan Seribu SPTN Wilayah II Pulau Harapan menjadi lokasi kegiatan yang dilakukan oleh 132 mahasiswa Universitas Trisakti sejak tanggal 5 sampai dengan 7 Mei 2017. Berlandas pada pemikiran peran vital air bagi kehidupan di bumi bagi keberlangsungan sistem kehidupan yang ada dalam ekosistem dan interaksi antar ekosistem darat dan perairan laut, kegiatan peringatan Hari Air Sedunia oleh mahasiswa Trisakti ini berfokus pada upaya pelestarian ekosistem yang ada di perairan laut, yaitu mangrove dan terumbu karang. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai aksi nyata peran mahasiswa Universitas Trisakti dalam melestarikan alam khususnya di Kepulauan Seribu. Kegiatan utama yang mereka lakukan terdiri dari penanaman mangrove, penanaman karang, pelepasan tukik, dan bersih lingkungan. Sebanyak 149 ekor tukik penyu sisik dilepasliarkan di Pulau Bulat. Melalui pelepasliaran tukik penyu sisik yang didampingi oleh petugas SPTN Wilayah II Pulau Harapan ini, para peserta kegiatan mendapat pemahaman mengenai peran penyu sisik dalam ekosistem di laut. Aksi mereka berlanjut dengan menanam 300 batang bakau (Rhizopora stylosa) di sebelah timur Pulau Harapan dan 105 pcs karang jenis Acropora sp di perairan sebelah utara Pulau Harapan. Penanaman mangrove yang dilakukan adalah dengan metode rumpun berjarak dan penanaman karang dengan metode rak behel besi. Taman Nasional Kepulauan Seribu mengapresiasi upaya mahasiswa Universitas Trisakti ini dalam berkontribusi untuk pelestarian jenis dan ekosistem di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Generasi muda seperti merekalah yang akan meneruskan perjuangan menjaga negeri, melestarikan alam, dan merawat bumi. Bagi mereka, kegiatan ini menjadi satu langkah untuk menapakkan jejak dasar pengabdian mereka, generasi muda, bagi negeri dan alam. Sumber Info : Yuniar Ardianti – Balai TN Kepulauan Seribu

Menampilkan 10.625–10.640 dari 11.140 publikasi