Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Magang GIS, Direktorat PIKA Menghasilkan 159 Peta Arahan Pengelolaan

Bogor, 19 Mei 2017. Magang GIS di Direktorat Pemolaan Informasi Konservasi Alam (PIKA) merupakan terobosan dalam penguatan fungsi pengelolaan kawasan konservasi dan pencapaian program nasional Percepatan Kebijakan Satu Peta. Terbukti berhasil membuat 159 Peta Arahan Pengelolaan Kawasan Konservasi, melalui pendekatan Aplikasi Model Analisa Spasial. Program magang GIS Dit. PIKA dimulai tanggal 13 Maret 2017 dan telah berakhir pada tanggal 19 Mei 2017. Kegiatan yang dibagi dalam enam angkatan yang masing-masing berlangsung lima hari, diikuti oleh 58 peserta yang berasal dari dari 20 UPT KSDA, 4 UPT Taman Nasional dan 6 UPTD Tahura. “Kami sampaikan apresiasi kepada para peserta yang tekun mengikuti kegiatan magang dan berhasil membuat peta arahan pengelolaan, dan bagi UPT diharuskan segera menindaklanjuti hasil magang tersebut” pesan Direktur PIKA, Ibu Listya Kusumawardhani menanggapi berakhirnya program magang GIS. Peta Arahan dapat diubah sesuai kebijakan pengelolaan UPT masing-masing dengan cara pencermatan lebih lanjut oleh para pimpinan dan tim teknis, untuk menampung kegiatan yang menjadi prioritas pengelolaan, misalnya pengembangan wisata dan pemanfaatan jasa lingkungan lainnya. Terhadap hasil peta arahan, dapat pula dilakukan penghalusan/smothing hasil overlay misalnya disesuaikan bentuknya berdasarkan kontur, tutupan lahan dan bentuk lahan. Setelah melalui konsultasi publik, penilaian Tim Pusat dan pengesahan menjadi Peta Zonasi/Blok Pengelolaan Kawasan Konservasi. Daftar Peta Arahan Pengelolaan KK Dit PIKA Sumber Info : Direktorat Pemolaan Informasi Konservasi Alam
Baca Berita

Upaya Memperkuat Peran Hukum Adat dalam Pelestarian Danau Sentarum

Semitau, 18 Mei 2017. Penguatan hukum adat nelayan yang mendukung kelestarian kawasan tentunya dapat membantu keberhasilan pengelolaan taman nasional secara partisipatif. Hal itulah yang melandasi Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS) dan LSM Riak Bumi, kembali melaksanakan Lokakarya Penguatan Hukum Adat dalam Pengelolaan Taman Nasional Danau Sentarum Secara Partisipatif dalam bentuk Pertemuan Nelayan DAS Tawang. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2017 di Resort Wisata Tekenang, SPTN Wilayah VI Semitau, BPTN Wilayah III Lanjak. Kegiatan ini merupakan wujud kontinuitas kegiatan yang sama, yang pernah dilaksanakan pada tahun 2011 dan 2015. Perwakilan masyarakat desa yang diundang adalah aparat desa, ketua adat, ketua rukun nelayan, ketua periau (petani madu hutan), dan perwakilan perempuan dari 8 kampung di sepanjang DAS Tawang. Peserta mencermati dua isu utama untuk menjamin ketersediaan ikan dan madu, yakni kerjasama masyarakat dengan TNBKDS dan pihak lain, serta penguatan peraturan nelayan/adat. Kesepakatan yang dicapai dalam lokakarya tersebut antara lain anakan ikan toman dari alam di bawah ukuran 5 cm di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum tidak boleh diambil untuk tujuan budidaya; sepakat menolak masuknya introduksi spesies ikan bukan asli kawasan; pelarangan membakar hutan; dan pelarangan merusak vegetasi pada lokasi pemasangan tikung dan lalau (sarang lebah). Penerapan sanksi bagi pelanggar introduksi spesies ikan asing berupa penyitaan dan pemusnahan ikan serta denda Rp.100.000,- per ekor. Sedangkan denda perusakan vegetasi di lokasi pemasangan tikung dan lalau Rp.100.000,- per pohon. Seluruh upaya ini memiliki tujuan akhir terjaganya kelestarian Danau Sentarum, the exotic wetland ecosystem, bagi keberlanjutan penghidupan masyarakat. Taman Nasional Danau Sentarum memiliki keunikan dan tantangan sendiri dalam pengelolaannya karena secara sejarah masyarakat sudah mendiami kawasan eksotis ini ratusan tahun yang lalu. Sebagian besar penduduk di dalam kawasan mengandalkan sektor perikanan terutama tangkapan dari Danau Sentarum dan daerah aliran sungai (DAS) di sekitarnya, sebagian lainnya merupakan petani madu alam. Kualitas dan kelestarian Danau Sentarum signifikan mempengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal di dalamnya, sehingga penting sekali terus mendorong kesadaran mereka akan pentingnya sustainability Danau Sentarum. Secara turun-temurun mayarakat di dalam kawasan Danau Sentarum sudah memiliki instrumen sendiri yakni kearifan lokal dan hukum adat nelayan dalam upaya melindungi sumber mata pencaharian utama mereka tersebut. Uniknya masing-masing wilayah rukun nelayan memiliki peraturan sendiri dalam melindungi kelestarian wilayah kerja mereka, meskipun secara umum ketersediaan ikan dan madu secara keberlanjutan menjadi general agreement bagi seluruh kelompok/rukun nelayan.@mrp Sumber Info : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Penyegaran Polhut BBTN Betung Kerihun Dan Danau Sentarum Di Markas Komando Batalyon Infanteri Rider Khusus 644/Walet Sakti Putussibau

Putussibau, 18 Mei 2017. Untuk meningkatkan kapasitas kemampuan dan keterampilan Polisi Kehutanan, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) bekerja sama dengan Batalyon Infanteri Rider Khusus 644/Walet Sakti mengadakan kegiatan Kesamaptaan dan Penyegaran Polisi Kehutanan yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari dari tanggal 17 s/d 18 Mei 2017 di Markas Komando Batalyon Infanteri Rider Khusus/644 Walet Sakti di Putussibau. Peserta dalam kegiatan ini terdiri dari: Polhut sebanyak 23 orang dan Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya (TPHL) sebanyak 4 orang. Wakil Komandan Batalyon Infanteri Rider Khusus 644/Walet Sakti, Mayor Infanteri Hendra Sukarna menyambut baik kegiatan ini dan berharap materi-materi yang diberikan oleh instruktur dapat terserap dengan baik dan dapat dipraktekan di lapangan. Materi dalam kegiatan ini dibagi menjadi 2 yaitu materi kelas dan materi lapangan, meliputi: Kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di bidang perlindungan hutan, penyegaran fisik, teknik intelijen, Pelatihan Baris Berbaris (PBB), halang rintang, teknik penangkapan, penggeledahan, pengawalan dan pengamanan tersangka. Kasat Polhut Balai Besar TNBKDS, Ade Arief, A. Md cukup senang dapat berlatih di Markas Komando Batalyon Infanteri Rider Khusus 644/Walet Sakti karena mendapatkan ilmu dan meningkatkan kekompakan tim, selain itu mendapatkan pengalaman baru, terutama saat praktek teknikhalang rintang, penangkapan, penggeledahan, pengawalan dan pengamanan tersangka cukup menegangkan sehingga harus membutuhkan kekompakan tim. Sedangkan Kepala Balai Besar TNBKDS, Ir. Arief Mahmud, M.Si. sangat mengapresiasi kegiatan kesamaptaan dan penyegaran Polhut ini dan berharap Polhut yang tersebar di resort-resort dapat bekerja maksimal. Kelompok Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) BBTNBKDS yang sudah dibentuk dapat dioptimalkan untuk membantu tugas-tugas Polhut di masing-masing wilayah sehingga tugas perlindungan dan pengamanan dapat semakin ringan. Senada dengan Kepala Balai Besar TNBKDS, Kepala Bidang Teknis Konservasi TN, Ahmad Munawir, S. Hut., M. Si saat menutup acara kegiatan, merasa senang kegiatan kesamaptaan dan penyegaran Polhut berjalan lancar, dan akan selalu medukung penuh kegiatan-kegiatan perlindungan dan pengamanan. Kawasan TNBK dan TNDS kaya akan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar kawasan yang keberadaannya harus dijaga dan dimanfaatkan secara lestari, untuk itu Polhut dan masyarakat harus bersama sama menjaga kedua taman nasional tersebut, “pungkasnya. Sumber Info : Sarwono - Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Pelepasliaran Owa Jawa di CA Gunung Tilu "Ukong dan Aom Akhirnya Berjodoh...!!!

Bandung (18/5/2017). Pada tanggal 17 Mei 2017, sebanyak 4 (empat) ekor Owa Jawa dilepasliarkan di Cagar Alam Gunung Tilu, tepatnya di Blok Cikakapa (2 ekor) dan di Blok Cimencek (2 ekor). Pelepasliaran tersebut dihadiri oleh Kepala Resor Gunung Tilu, SKW III Soreang, Bidang KSDA Wil. II Soreang, perwakilan dari The Aspinall Foundation, dan Kepala Cabang Indonesia Power Pelengan. Sebelumnya, keempat ekor Owa Jawa ini telah menjalani serangkaian proses rehabilitasi yang dilaksanakan oleh lembaga konservasi binaan Balai Besar KSDA Jawa Barat, yaitu The Aspinall Foundation. Sampai akhirnya dinyatakan siap untuk dilepasliarkan ke habitat aslinya. Keempat ekor Owa Jawa tersebut masing-masing adalah: Hal yang menarik adalah Ukong dan Aom yang sebelumnya sakit dan sempat dirawat kembali di The Aspinall Foundation, akhirnya berjodoh. Keduanya dilepasliarkan kembali di lokasi yang sama di CA Gunung Tilu. Semoga dari perjodohan mereka dapat terlahir Owa Jawa-Owa Jawa baru yang dapat meningkatkan populasi Owa Jawa di CA Gunung Tilu Sumber: BBKSDA Jabar
Baca Berita

Kunjungan Kerja Sekditjen KSDAE Ke TN Bogani Nani Wartabone.

Kotamobagu (18/52017). Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem pada tanggal 17 – 18 Mei 2017 melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (RTNBNW). Kunjungan tersebut mempunyai agenda untuk mengunjungi lokasi pembinaan habitat Maleo (Sanctuary Maleo). Sanctuary Maleo Tambun, berada di Desa Pinonobatuan Barat, Kec. Dumoga Timur, Kab. Bolaang Mongondow. Lokasi Tambun berada di wilayah SPTN II Doloduo, yang kurang lebih bisa ditempuh perjalanan darat selama 1 jam dari Kantor BTNBNW. Bersama rombongan ikut hadir Kepala Bagian Kepegawaian dan Ortala Setditjen KSDAE, Kepala BKSDA Sulut, Pak Agus dan Kepala BTNBNW, Polres Bolaang Mongondow, Kodim 1303 Bolaang Mongondow, WCS-IP Sulawesi, E-PASS Bogani, beberapa Camat dari Keb Bolaang Mongonodow, beberapa Kepala Desa di Kec. Dumoga Timur, Masyarakat Mitra Polhut, Masyarakat Peduli Api, Kader Konservasi, Kelompok Pecinta Alam dan Saka Wanabhakti. Dalam kunjungannya ke sanctuary Maleo Sekditjen KSDAE secara simbolis melepasliarkan Maleo dewasa ke alam liar, melakukan penanaman pohon serta meninjau informasi centre. Selain itu untuk memperlancar kegiatan di santuary, Sekditjen KSDAE menyerahkan kendaraan operasional sanctuary.
Baca Berita

Darurat Kondisi Badak Sumatera Di Kalimantan, Direktorat KKH Bersama Para Expert Merumuskan Solusi

Jakarta (18/5/2017). Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati bersama WWF Indonesia menyelenggarakan “International Workshop Capture and Translocation Indonesian Rhinos” pada tanggal 17-18 Mei 2017 di Hotel Aviary, Bintaro. Workshop ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Kalimantan Timur, perwakilan UPT lingkup Ditjen KSDAE yang memiliki habitat badak, perguruan tinggi, LSM dan para expert konservasi badak dari dalam maupun luar negeri. Workshop ini berlatarbelakang karena kondisi dan keberadaan badak sumatera di Kalimantan berpotensi mendapat tekanan yang lebih berat di masa yang akan datang. Ancaman yang dialami di habitat badak di Kalimantan adalah tekanan dari rencana operasional tambang batubara disekitar habitat, penebangan liar dan konsesi operasional perkebunan kelapa sawit dan ancaman ini terus berlanjut hingga saat ini. Sebagai akibat rencana operasional tambang, masyarakat setempat juga mengklaim area/lahan yang menjadi habitat badak untuk dijual kepada perusahaan. Hal ini menyebabkan situasi habitat badak terutama di kantong tiga mengalami tekanan dan ancaman yang tinggi. Workshop ini mendiskusikan situasi dan kompleksitas ancaman yang dihadapi badak sumatera baik di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Menyepakati solusi terbaik dan langkah-langkah yang menjadi prioritas untuk dilaksanakan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Peran serta dari berbagai pihak menjadi kunci utama keberhasilan upaya penangkapan dan pemindahan badak sumatera. Peran serta dan dukungan berbagai pihak tersebut perlu ditunjang oleh perencanaan yang matang mulai dari penentuan lokasi prioritas untuk penyelamatan, tim expert yang sudah terlatih serta SOP penangkapan dan pemindahan yang disusun dan disepakati bersama. Upaya penangkapan dan pemindahan badak sumatera perlu dilakukan dalam waktu dekat. Meskipun, belajar dari pengalaman hal tersebut selama ini tidak mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu, untuk menanggulangi kendala yang terjadi pada saat penangkapan dan pemindahan badak sumatera, diperlukan sharing pengalaman dan masukan dari para expert baik dari dalam maupun luar negeri melalui workshop ini. Selama ini Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) di TN Way Kambas telah membuktikan mampu menjadi lokasi sanctuary dan pembiakan semi alami badak sumatera. Oleh karena itu, apabila berencana melakukan pembangunan sanctuary di Kalimantan maka setiap badak yang ditangkap harus dipelihara dalam fasilitas dengan desain serupa. Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) diketahui keberadaanya melalui camera trap yang dipasang oleh tim survey dari WWF pada tahun 2013, di wilayah Kalimantan yaitu di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Mahakam Hulu di Provinsi Kalimantan Timur. Habitat badak yang ada di Kalimantan berada di hutan produksi yang dikelilingi oleh area pertambangan. Populasi di dua kantong yang ada kurang lebih hanya 23 ekor. Di Pulau Sumatera, populasi badak sumatera hanya tersisa sekitar 100 ekor. Populasinya tersebar di tiga kawasan Taman Nasional dan area sekitarnya yaitu TN Gunung Leuser, TN Bukit Barisan Selatan dan TN Way Kambas. Perburuan untuk diperdagangkan culanya menjadi faktor penyebab turunnya populasi satwa ini. Selain itu, ancaman utama yang dialami oleh badak sumatera adalah berkurangnya luasan hutan yang menjadi habitat badak, fragmentasi habitat, aktifitas masyarakat di sekitar habitat badak, perburuan dan aktifitas illegal lainnya, degradasi kualitas habitat.
Baca Berita

Sosialisasi Pariwisata oleh BBTN Cenderawasih

Sorong (17/5/2017). Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih melalui Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah II wasior bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata pemuda dan Olahraga Raga Kabupaten Teluk Wondama dan Universitas Papua (UNIPA) mengadakan kegiatan Pengembangan, Sosialisasi dan Penerapan serta Pengawasan Standarisasi Sadar Wisata bagi masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan di Distrik Roon dan Distrik Teluk Duairi pada tanggal 15-16 mei 2017 diikuti oleh 40 orang peserta perwakilan dari masing-masing kampung di kedua Distrik tersebut. Tujuan sosialisasi ini adalah untuk bisa mendongkrak perkembangan wisata di kawasan TNTC. Dikatakan oleh Kepala Dinas Parwisata, Frans E.N Mosmafa bahwa “kegiatan ini merupakan salah satu langkah untuk mewujudkan Kabupaten Teluk Wondama sebagai destinasi wisata bahari di Papua Barat”. Potensi wisata alam di Taman Nasional Teluk Cenderawasih memang perlu dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat, tentunya dengan kaidah pemanfaatan secara lestari serta menghindari pencemaran lingkungan baik genetika, jenis, maupun ekosistem. Kerja sama peningkatan dan pengembangan wisata di kawasan TNTC telah tertuang dalam perjanjian kerja sama kedua bela pihak untuk dapat memanfaatkan jasa lingkungan melalui pariwisata. Pentingnya pengembangan kepariwisataan dalam rangka mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan secara berkelanjutan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih disambut baik oleh BBTNTC selaku pengelola kawasan, “Dengan ada dukungan Pemda kabupaten Teluk Wondama melalui Kerjasama Program ini diharapkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai Sadar Wisata, sehingga memiliki kesadaran untuk menjaga objek wisata yang ada di kawasan TNTC”, demikian yang dikatakan oleh Manerep Siregar, Kepala Seksi SPTN IV Roon.
Baca Berita

Bimbingan Teknis Pemulihan Ekosistem Di Balai Taman Nasional Ujung Kulon

Labuan (17/5/2017). Direktorat Kawasan Konservasi untuk kesekian kalinya melaksanakan bimbingan teknis/ pemantapan pemulihan ekosistem di BTN Ujung Kulon (TNUK). Sesuai dengan SK Dirjen KSDAE Nomor SK. 18/KSDAE/KK/KSDAE.1/1/2016, bahwa Taman Nasional Ujung Kulon menjadi salah satu target RPJP 2015 – 2019 yang lokasinya perlu untuk dipulihkan seluas 8.200 ha Tujuan Bimtek pemulihan ekosistem sendiri adalah meningkatkan kapasitas pengelola, menyamakan persepsi dalam pelaksanaan pemulihan ekosistem dan memonitor progress pencapaian IKK PE oleh UPT. Bimbingan Teknis Pemulihan Ekosistem di Balai TN Ujung Kulon dihadiri oleh staf pengelola Taman Nasional Ujung Kulon baik dari Balai maupun dari seksi wilayah. Bimtek dibuka oleh Kepala Balai TN Ujung Kulon (Dr. Mamat Rachmat), dalam arahannya beliau menyampaikan “Pemulihan ekosistem di ujung kulon lebih difokuskan bagaimana memenuhi kecukupan pakan badak sebagai salah satu satwa endemik yang menjadi mandat pengelolaan TN Ujung Kulon”. Dalam diskusi yang berkembang beberapa hal yang disampaikan oleh peserta bimtek diantaranya adalah Di akhir sesi Bimtek, bahwa untuk memulihkan TN UK, Balai TN UK akan merangkul berbagai mitra yang ada serta Balai TN UK berkomitmen akan segera menyelesaikan dokumen Rencana Pemulihan Ekosistem sebagai dasar pemulihan ekosistem di TN UK. Kontributor : RESI DINIYANTI (PEH Muda pada Direktorat Kawasan Konservasi)
Baca Berita

Pengambilan Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil Balai Taman Nasional Ujung Kulon Tahun 2017

Labuhan (17/5/2017). Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengadakan Pengambilan Sumpah / Janji Pegawai Negeri Sipil terhadap 16 PNS yang terdiri dari 11 orang formasi K2 dan 5 orang dari formasi umum. Pengambilan sumpah/janji PNS dilakukan di Ruang Audio Visual Balai TN. Ujung Kulon, yang dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan para kepala urusan lingkup Balai TN. Ujung Kulon. Pengambilan sumpah/janji dibimbing oleh petugas dari Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang. Dalam sambutannya, Kepala Balai TN. Ujung Kulon menyampaikan tentang 6 (enam) nilai budaya kerja diantaranya disiplin, jujur, ikhlas, profesional, tanggung jawab dan kerjasama yang harus di terapkan pada Pegawai Negeri Sipil. Kegiatan pengambilan sumpah/janji diakhiri dengan pembacaan doa. Dari rangkaian kegiatan tersebut diharapkan Pegawai Negeri Sipil yang telah disumpah dapat menerapkan nilai budaya kerja PNS dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Sumber: BTN Ujung Kulon
Baca Berita

Bimbingan Teknis Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi di TN. Ujung Kulon

Labuan, 17 Mei 2017. Pada hari Rabu, 17 Mei 2017, telah dilaksanakan Bimbingan Teknis Pemantapan Pemulihan Pemulihan Ekosistem, khususnya untuk kegiatan pemulihan ekosistem di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Bimbingan teknis di sampaikan oleh pejabat fungsioal PEH Muda dari Direktorat Kawasan Konservasi, Resi Diniyati, SP. Kegiatan pemulihan ekosistem dimaksudkan untuk mengembalikan atau mendekati kondisi ekosistem ke bentuk semula. Pemulihan ekosistem dilakukan melalui 3 cara, yaitu mekanisme alam, rehabilitasi dan restorasi. Pemulihan ekosistem di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, berdasarkan SK Dirjen KSDAE No. 18/KSDAE/KK/KSDAE.1/1/2016 ditetapkan lokasi pemulihan ekosistem di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon seluas 8.200 Ha. Beberapa kegiatan yang merupakan bagian dari pemulihan ekosistem antara lain : penanaman, reintroduksi, pembinaan habitat, serta pengendalian tumbuhan invasif langkap. Bimbingan teknis di sampaikan oleh pejabat fungsioal PEH Muda dari Direktorat Kawasan Konservasi, Resi Diniyati, SP, dan dihadiri oleh 15 staf Balai TN. Ujung Kulon yang terdiri dari fungsional PEH, penyuluh dan Kepala Resort lingkup Balai TN. Ujung Kulon. Sumber Info : Balai TN Ujung Kulon
Baca Berita

Release Penyu Oleh BBKSDA Sulsel

Bulukumba (16/5/2017). BBKSDA Sulawesi Selatan melaksanakan kegiatan rilis Penyu hijau Chelonia mydas bersama Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Dan Laut Dari Dirjen Pengelolaan Ruang Laut di Pulau Liukang Leo Desa Bira, Kabupaten Bulukumba pada tanggal 16 Mei 2017. Satwa sebanyak 7 ekor tersebut adalah satwa sitaan hasil putusan pengadilan tahun 2016 yang kemudian dititipkan di kampung penyu, Desa Bira Bulukumba. Dalam kegiatan ini pihak BBKSDA Sulawesi Selatan diwakili oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Santiago Pereira,. SP didampingi petugas Resort TB/SM Ko’mara dalam kegiatan pelepas liaran satwa tersebut. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Dody Wahyu Karyanto MM berharap perlindungan TSL kedepannya dapat lebih ditingkatkan dengan koordinasi para pihak untuk menekan tindak pidana sejenis, sehingga satwa yang dilindungi oleh UU no. 5 Tahun 1990, PP no.7 tahun 1999 dan masuk dalam kategori I dalam appendiks CITES ini dapat terjaga kelestariannya.
Baca Berita

Penyerahan Kukang Oleh Masyarakat ke BKSDA Jabar

Bandung - 16 Mei 2017 pukul 13.30 WIB, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL BBKSDA Jawa Barat menerima penyerahan secara sukarela 1 (satu) ekor satwa dilindungi jenis Kukang (Nycticebus sp) dari sdr. Muhamad Amir dengan alamat di Jl. Cibangkong No. 53, Batununggal, Kota Bandung. Berdasarkan informasi dari yang bersangkutan bahwa Kukang tersebut pemberian dari temannya dan sudah dipelihara selama 1 (satu) minggu. Yang bersangkutan baru mengetahui bahwa satwa tersebut merupakan satwa yang dilindungi Undang-undang setelah melihat berita pelepasliaran kukang di TN G. Ciremai oleh Sekjen Kemen LHK di media Televisi. Saat ini, satwa tersebut diamankan di kandang transit kantor BBKSDA Jabar, sambil menunggu pemeriksaan kesehatan dan identifikasi jenis satwa, serta akan direhabilitasi di YIARI. Kenyataan tersebut diatas, memperlihatkan bahwa peran media mempunyai peran dan dampak yang cukup signifikan dalam membentuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi khususnya konservasi tumbuhan dan satwa liar. Sumber Info: BBKSDA Jabar
Baca Berita

Konsorsium Konservasi Badak Sumatera

Jakarta, 16 Mei 2017. Bertempat di Ruang Rimbawan I Gedung Manggala Wanabakti telah dilaksanakan kegiatan Konsorsium Konservasi Badak Sumatera sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan kesadaran dan membangun advokasi dengan masyarakat Indonesia terhadap upaya konservasi Badak Sumatera. Konsorsium Konservasi Badak Sumatera adalah kelanjutan dari keberhasilan akan upaya bersama pada Suaka Rhino Sumatera di Taman Nasional Way Kambas, Lampung di Sumatera, yang telah sukses membiakan dua Badak Sumatera dalam 4 tahun, seekor Badak Sumatera jantan bernama Andatu dan Delilah seekor Badak Sumatera betina. Kelahiran Andatu dan Delilah memberikan harapan akan masa depan Badak Sumatera, mengingat betapa sulitnya kelahiran pada spesies Badak Sumatera dan Andatu merupakan kelahiran dalam penangkaran pertama yang berhasil setelah 124 tahun. Salah satu inisiatif konsorsium ini adalah dengan meluncurkan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat, kegiatan dan penggalan dana bertajuk #KadoUntukDelilah Widodo Ramono, Ketua Yayasan Badak Indonesia (YABI) mengatakan, "Badak sumatera sekarang sangat langka. Di habitat aslinya, kita tidak mengetahui jumlah pastinya karena metode kamera pengintai jarang mereka, sehingga kita tidak tahu secara pasti. Perambahan dan perburuan manusia untuk tanduk mereka juga merajalela. Sangat penting bahwa kita harus melindungi mereka di alam bebas dan mengumpulkan populasi Badak Sumatera yang diketahui untuk dibiakkan bila segeranya bila memungkinkan" Konsorsium Konservasi Badak Sumatera, terdiri dari Yayasan Badak Indonesia (YABI), World Wide Fund for Nature Indonesia (WWF), Wildlife Conservation Society Indonesia (WCS), Forum Konservasi Leuser (FKL), Leuser International Foundation (LIF) dan didukung oleh International Rhino Foundation (IRF), dengan kontribusi dari The Walt Disney Company, sepakat bermitra dalam mencapai tujuan bersama untuk menyelamatkan Badak Sumatera dari kepunahan. Tahun ini Tim Badak, panggilan untuk Konsorsium Konservasi Badak Sumatera dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan beberapa aktivitas termasuk penelitian, upaya pembiakan, workshop, perencanaan strategi, perlindungan aktif dan rencana relokasi hingga kampanye komunikasi publik. “Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan terus melakukan berbagai upaya dan melaksanakan program untuk menjaga kelestarian flora dan fauna Indonesia. Peresmian Taman Nasional Way Kambas tahun lalu sebagai Asean Heritage Park ke 36 menjadi salah satu upaya kami untuk melindungi habitat hewan-hewan asli Indonesia, termasuk Gajah Sumatera, Harimau Sumatera dan Badak Sumatera. Kami menyambut baik inisatif terbentuknya konsorsium konservasi badak sumatera dan kami akan bekerja sama serta mendukung agar program-program yang terbentuk dapat berjalan lancar demi menjaga Badak Sumatera dari kepunahan,” dikatakan Ibu Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar M.Sc, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Sebagai bagian dari kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat dalam upaya untuk menyelamatkan Badak Sumatera, Konsorsium Konservasi Badak Sumatera mendorong seluruh masyarakat Indonesia untuk bergabung bersama #TimBadak dan mengundang mereka untuk ikut berkontribusi dalam kampanye #KadoUntukDelilah. Kampanye ini, selain bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, tetapi juga membangun advokasi melalui berbagai aktivitas dan saluran, termasuk social media dengan Delilah sebagai simbolnya. Delilah adalah Badak Sumatera termuda di Suaka Rhino Sanctuarry yang namanya berarti “hadiah dari tuhan”, dan diberikan oleh Presiden Joko Widodo. Nama kampanye ini, #KadoUntukDelilah dipilih sebagai panggilan untuk seluruh masyarakat Indonesia dan berkontribusi memberikan hadiah berupa harapan bagi Delilah sehingga dia dapat mempunyai teman dan saudara-saudara lainnya untuk bermain, dengan cara melindungi dan membiakan lebih banyak Badak Sumatera untuk menghindari kepunahan. Masyarakat Indonesia diundang untuk berpartisipasi dengan mengkuti @BadakDelilah di Twitter, Facebook, Instagram dan YouTube dan mengirimkan ucapan selamat yang kreatif untuk Delilah dengan #KadoUntuKDelilah. Kedepannya, kampanye ini akan melakukan kolaborasi dengan berbagai macam pihak, termasuk penggalangan dana pada platform terpilih agar dapat memberikan perlindungan, perawatan dan upaya konservasi terbaik untuk Badak Sumatera. “Delilah adalah harapan kami untuk menambah jumlah Badak Sumatera di Indonesia dan di dunia, Kami berharap masyarakat akan mengikuti kampanye ini sehingga kita dapat memastikan program pembiakan dan konservasi yang berhasil. Kampanye ini akan memperkenalkan program-program lainnya kepada publik selama setahun penuh. Badak Sumatera merupakan bagian dari warisan hewan Indonesia, berada dalam ancaman kepunahan. Badak Sumatera dapat dibedakan dengan cula yang kecil dan badan yang berbulu, dipercaya hanya mempunyai populasi kurang dari 100 ekor di alam bebas dan tersebar di tiga taman nasional Sumatera; Taman Nasional Bukit Barisan, Taman Nasional Gunung Leuser, dan Taman nasional Way Kambas, serta di hutan Kalimantan Timur. Sumber Info : Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati
Baca Berita

Penggunaan Drone dalam Penyusunan Rencana Pemulihan Ekosistem (RPE) di Tandulajangga oleh Balai TN MATALAWA

Waingapu (15/5/2017). Tim Rencana Pemulihan Ekosistem (RPE) Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN MATALAWA) serta dibantu masyarakat lokal pada tanggal 9-15 Mei 2017 turun kelapangan untuk melakukan kajian awal disalah satu calon lokasi RPE yaitu blok hutan Kunjur dan Tanabaru yang masuk dalam Resort Tandulajangga SPTN Wilayah III Matawai Lapau. Sebelum Tim RPE terjun kelapangan terlebih dahulu mendapat briefing dan arahan terkait masalah teknis dari Kepala Balai TN MATALAWA, Maman Surahman, S.Hut.,M.Si. Data dan informasi dari lapangan nantinya akan dianalisis dan menjadi dasar penyusunan Rencana Pemulihan Ekosistem. Tim RPE menerbangkan drone untuk mengambil foto dan video lokasi RPE di Tandulajangga, hal ini diperlukan guna membantu menganalisis pemilihan lokasi secara lebih detail yang akan berguna dalam pengambilan keputusan selanjutnya, keuntungan lainnya dengan penggunaan drone ini dapat mengantisipasi lokasi yang sulit dijangkau seperti kondisi permukaan yang curam dan hal teknis lainnya yang berpotensi menghambat pelaksanaan kegiatan di lapangan. Pemakaian aplikasi Avenza Maps yang dapat didownload gratis secara online juga cukup membantu grup Anveg, Biofisik dan Pamhut dalam menentukan lokasi karena aplikasi tersebut dapat berjalan secara offline dengan menggunakan peta dengan format pdf. Dalam pelaksanaan kegiatan ini Tim RPE mengecek calon lokasi PE di Tandulajangga seluas 279,60 Hektar. Rekomendasi sementara yang dapat dilaporkan diantaranya; lokasi yang sudah clear and clean adalah seluas 202,38 Hektar. Secara keseluruhan kegiatan kajian penyusunan dokumen RPE dapat berjalan dengan baik, diharapkan setelah semua data dan informasi lokasi calon RPE dikumpulkan dapat dihasilkan dokumen kajian RPE yang komprehensif serta mengakomodir berbagai kepentingan dan dapat menjawab berbagai masalah yang terjadi saat pengecekan langsung dilapangan. Sumber : Balai TN MATALAWA
Baca Berita

Pelatihan Pemandu Wisata Oleh BTN Kep. Seribu

Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, 15 Mei 2017. Ruang rapat Kelurahan kedatangan tiga puluh orang pemandu wisata. Ketiga puluh orang ini merupakan pemandu wisata yang berasal dari Pulau Harapan, Pulau Kelapa, dan Pulau Kelapa Dua. Wajah mereka tampak bersemangat sambil sesekali menenggak air putih dari botol minum yang dibagikan oleh panitia sebagai pengganti air dalam kemasan. Mereka yang hadir sebagai peserta Pelatihan Pemandu Wisata Ekowisata Bahari yang diadakan oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu adalah pemandu wisata yang sedang dalam proses pengajuan Ijin Usaha Penyedia Jasa Wisata Alam (IUPJWA) di Taman Nasional Kepulauan Seribu kategori Pramuwisata. Acara pelatihan ini berjalan padat lancar selama empat hari. Peserta mendapat kesempatan melihat paparan dan mendengarkan penjelasan serta berdiskusi mengenai Taman Nasional Kepulauan Seribu dan peran pemandu wisata dalam pengembangan wisata di Kepulauan Seribu bersama Kepala SPTN Wilayah II Pulau Harapan mewakili Kelapa Balai dan Kepala Sudin Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Selanjutnya, peserta belajar dan berdiskusi secara serius tapi santai di tepi pantai bersama tim pengajar dari Bogor Eco and Sustainable Tourism (BEST) dan RAKATA Solusi. Suasana belajar dan diskusi yang asyik ini justru menarik bagi peserta sehingga materi seperti prinsip ekowisata, teknik interpretasi, pembuatan bahan interpretasi, kode etik pemandu wisata, public speaking, membangun jejaring, team building dan teknik dasar penyelamatan di laut dapat dipahami dengan mudah. Selain belajar, peserta dan tim pengajar juga mendapat kesempatan melakukan pelepasliaran 300 ekor tukik penyu sisik di Pulau Perak. Melalui sesi team building, peserta menyadari pentingnya pemandu wisata di lingkup Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua dan Pulau Harapan untuk bersatu dan membangun visi bersama untuk memajukan pemandu wisata dan melestarikan alam laut yang menjadi modal utama kegiatan wisata di Kepulauan Seribu. Melalui fasilitasi diskusi dengan teknik ORID, didapat keputusan dari mereka untuk bersatu dan membentuk kelompok pemandu wisata dengan nama Bintang Harapan. Pada hari terakhir pelatihan, peserta mengadakan field trip ke kawasan Kota Tua dan Museum dengan didampingi oleh pemandu wisata anggota HPI dari Museum Sejarah. Para peserta mendapat kesempatan menyaksikan pemandu wisata professional beraksi dan mengambil pelajaran dari mereka. Melalui pelatihan ini, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu menyiapkan pemandu yang berwawasan dan berperilaku sesuai prinsip ekowisata sehingga usaha wisata yang berlangsung di Taman Nasional Kepulauan Seribu menjadi alat mencapai kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan dan berkeadilan. Kegiatan ini menjadi setapak langkah untuk dilanjutkan dengan penguatan kelembagaan kelompok dan peningkatan kapasitas pemandu wisata di berbagai bidang keahlian dan keterampilan. Yuniar Ardianti TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

BTN Kep. Seribu Raih Peringkat I di Pameran Gebyar Wisata dan Budaya Nusantara 2017

Jakarta, 15 Mei 2017. Balai TN Kepulauan Seribu berpartisipasi dalam ajang Pameran Gebyar Wisata dan Budaya Nusantara (GWBN) 2017 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Senayan pada tanggal 11 -14 Mei 2017. Berbekal desain stand yang menarik dan sesuai dengan suasana liburan, materi yang lengkap, sapaan hangat dan ramah dari pemandu stand serta jumpah pengunjung yang senatiasa ramai di tiap hari penyelengaraan, Taman Nasional Kepulauan Seribu dinobatkan sebagai Juara I stand terbaik kategori Industri Pariwisata dalam Pmeran GWBN 2017. Pameran GWBN 2017 yang diikuti oleh 150 peserta dari pemerintah provinsi, kabupaten dan kota biro perjalanan wisata, hotel, resort, taman wisata dan industri penunjang wisata ini bertujuan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke destinasi wisata di seluruh Indonesia. Dalam pameran ini ditawarkan beragam obyek wisata, fasilitas akomodasi, ragam cendermata dan kuliner khas, serta penjualan paket wisata. Stand Taman Nasional Kepulauan Seribu tampil dengan desain bertema Liburan di Pulau. Atribut desain seperti payung, kursi pantai, dan gubuk menggambarkan tampilan suasana liburan di pulau yang menarik. Materi pameran yang ditampilkan terdiri dari Lightboard informasi utama 10 Sumber Daya Penting (SDP) target konservasi dan peta, booklet dan leaflet mengenai Taman Nasional Kepulauan Seribu serta paket wisata dari calon pemegang dan pemegang ijin usaha jasa wisata alam. Selain itu, disediakan media foto selfie untuk memuaskan Pengunjung yang datang di stand kurang lebih mencapai 1000 orang dari berbagai kalangan antara lain pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, pegawai dan umum. Pengunjung dengan antusias menanyakan informasi mengenai paket wisata dan lokasi terbaik untuk dikunjungi di Taman Naasional Kepulauan Seribu. Pengunjung kebanyakan mencari lokasi dengan laut yang masih bersih, biru, dan pantai berpasir. Jarak Taman Nasional Kepulauan Seribu yang dekat dengan Jakarta menjadi daya tarik penting selain godaan pesona keindahan laut dan pulau. Yuniar Ardiati Sumber: Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu

Menampilkan 10.593–10.608 dari 11.141 publikasi