Sabtu, 30 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

TN Aketajawe Lolobata Masuk Dalam Agenda Tour Daihatsu

Sofifi, 11 Juli 2017. Salah satu anggota Kelompok Kerja (Pokja) Database Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), yaitu Sofyan Ansar mendapatkan informasi bahwa Daihatsu akan mengadakan tour keliling Maluku Utara. Perjalanan dengan tajuk “Tours Itinerary Terios 7 Wonders 2017” akan dimulai pada tanggal 13 Juli 2017 di Ternate. Kunjungan ke TNAL diagendakan pada tanggal 15 Juli 2017. Kawasan yang menjadi tujuan adalah wilayah kerja Resort Tayawi di desa Koli, kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. Sofyan juga menambahkan bahwa acara tersebut akan diikuti langsung oleh Bos Besar Daihatsu Jepang dan Direktur Daihatsu Indonesia dengan jumlah total anggota tour sebanyak 15 orang termasuk dari Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara. Agenda yang akan dilaksanakan oleh Tim Daihatsu adalah mengunjungi beberapa destinasi wisata alam yang unik di provinsi Maluku Utara mulai dari Ternate, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Barat dan sampai ke pulau Morotai. Kegiatan selama didalam kawasan TNAL adalah pengamatan burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii) dan memberikan bantuan CSR kepada Masyarakat Tobelo Dalam (MTD) atau biasa disebut dengan suku Togutil. Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah I Weda (SPTN I) diberikan tugas oleh Kepala Balai sebagai leader dalam penyambutan dan pemanduan tim dari Daihatsu. Sampai berita ini ditulis, Kepala SPTN I, Bapak Raduan, SH beserta Kepala Resort Tayawi, Sdr. Habibi melakukan gladi bersih di kantor Resort yang direncanakan sebagai tempat menginap. Bapak Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut., MT Kepala Balai TNAL langsung memerintahkan kepada pegawai TNAL agar segera melakukan konsolidasi terkait jadwal tersebut dan akan dilaporkan ke Dirjen KSDAE dan PJLHK. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Dirjen KSDAE Kunjungi Ratu dan Delilah di TN Way Kambas

Way Kambas (10/7/17), Minggu 9 Juli 2017 hari kedua kunjungan Bapak Ir. Wiratno, MSc, Direktur Jenderal Konservasi Alam Sumber Daya Alam dan Ekositem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama rombongan di TN Way Kambas. Minggu pagi yang cerah di Suaka Rhino Sumatera (SRS) TN Way Kambas, ditemani suasana keriuhan suara hutan, sepertinya alam sekitar SRS tahu bahwa ada sosok penting disini yaitu Bapak Ir. Wirantno, MSc, Dirjen KSDAE Kementerian LHK yang hadir mengunjunginya. Bersama-sama rombongan bergerak meninjau lokasi penting di sekitaran SRS ini, pertama yang mendapat perhatian adalah prasati salah satu tokoh penting pendiri SRS, Nico van Strien (alm) yang ada di depan gerbang masuk kandang badak, kemudian dengan diantar kendaraan rombongan yang dipandu langsung oleh Direktur Eksekutif YABI Bapak Drs. Widodo S. Ramono, rombongan melihat badak-badak yang ada di area konservasi badak sumatera ini. SRS saat ini dihuni oleh 7 ekor badak sumatera, dimana terdapat 2 ekor anak badak sumatera yang merupakan bukti nyata keberhasilan dalam upaya pengembangbiakan/breeding secara alami di SRS yang dikelola semi in-situ. Di kandang badak Ratu dan Delilah (induk dan anak) pada pagi hari ini sedang dilakukan perawatan, saat yang tepat untuk melihat aktifitas perawatan badak oleh keeper dan dokter hewan-nya. Badak Delilah yang lahir 12 Mei 2016 lalu kini tingginya sudah hampir sama dengan induknya Ratu, sementara beratnya sudah lebih dari 300 kg pada usia setahun lebih, secara umum kondisinya sangat sehat. Setelah melihat-lihat Ratu dan Delilah, Dirjen KSDAE dan rombongan di sekitar kandang badak melakukan penanaman pohon sebagai bentuk kepedulian dan perhatian akan upaya konservasi badak sumatera di TN Way Kambas khususnya dan di Indonesia secara umum. Saat kini status konservasi badak sumatera diharapkan dapat menjadi prioritas penting pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, selain keberadaan populasinya di alam yang sudah sangat sedikit, dibawah 100 (seratus) ekor, juga sebarannya hanya tinggal di 3 kawasan konservasi saja, salah satunya TN Way Kambas. Sangat diperlukan upaya nyata untuk membangun SRS-SRS yang lain, sebagai upaya percepatan peningkatan populasi dan juga pusat pengetahuan badak sumatera di Indonesia.
Baca Berita

Dukungan Percepatan Pengembangan TN Tambora dari Kemenko PMK

Jakarta, 11 Juli 2017. Kementerian Koordinator Bidangn Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko.PMK) komitmen mendorong perkembangan Taman Nasional Tambora. Komitmen tersebut diwujudkan melalui rencana pembentukan kelompok kerja (POKJA) percepatan pengembangan kawasan Tambora. Rapat koordinasi pembentukan POKJA percepatan pengembangan kawasan Tambora yang terselenggara pada hari selasa 11 Juli 2017 di Ruang Rapat Kemenko PMK yang merupakan tindaklanjut rapat koordinasi sebelumnya (14 Juni 2017). Rapat koordinasi yang difasilitasi Kemenko. PMK tersebut dipimpin langsung Asisten Deputi Pemeberdayaan Kawasan Strategis dan Khusus(Wijanarko Setyawan). Rakor tersebut dihadiri perwakilan dari beberapa kementerian terkait, antara lain : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Kementerian Pariwisata, Kementerian Pertanian, Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), Kementerian Desa PDTT, Kementerian Pekerjaan Umum dan Panataan Ruang (PUPR) serta Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Dalam kesempatan tersebut, pihak Balai Taman Nasional Tambora mengapresiasi upaya Kemenko PMK untuk mempercepat pengembangan kawasan Tambora. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan Balai Taman Nasional Tambora untuk memaparkan rencana pengembangan Taman Nasional Tambora. Sesuai masterplan pengembangan pariwisata alam Taman Nasional Tambora akan dikembangkan wisata pendakian yang unggul dan kompetitif melalui upaya penyediaan sarana pengelolaan dan sarana wisata yang memadai dilengkapi dengan atraksi wisata edukasi dan wisata tirta yang cukup menarik. Selain itu, pada kesempatan tersebut Kementerian PUPR berkomitmen untuk mendukung pengembangan infrastrutur pendukung dalam rangka pengembangan kawasan Tambora melalui koordinasi yang intensif antara Kementerian PUPR, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perhubungan. Tim percepatan pengembangan kawasan Tambora memiliki peran mensinergikan program/kegiatan antar kementerian lembaga yang diarahkan untuk pengembangan kawasan Tambora. Selanjutnya tim percepatan ini akan melakukan rapat lanjutan yang akan memahas terkait identifikasi rencana program/kegiatan yang akan dikembangkan sesuai tata waktu yang disepakati. Rapat lanjutan tersebut dijadwal akan diselenggarakan pada minggu ke 4 bulan Juli 2017. “The Sound From Caldera’ Sumber Info : Balai TN Tambora
Baca Berita

Bupati Lampung Timur Ajak Gubernur Bouira Aljazair Ke TN Way Kambas

Way Kambas, 11 Juli 2017. Setelah melakukan kunjungan kerja ke Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur, Gubernur Popinsi Bouira, Aljazair, M. Cherifi Moulod beserta rombongan diajak Bupati Lampung Timur, Chusnunia Chalim, berwisata ke Pusat Latihan Gajah (PLG) TN Way Kambas. “Dengan mempromosikan secara langsung Pusat Latihan Gajah TN Way Kambas, diharapkan objek-objek wisata di Lampung Timur akan lebih dikenal di manca negara”, demikian ujar Ibu Nunik panggilan akrab Ibu Bupati Lampung Timur, yang juga menjadi nama anak gajah yang lahir 27 Mei 2017 yang lalu dari induk gajah Pleno (37 tahun) di PLG TN Way Kambas. Sementara sebelumnya pada hari yang sama, Selasa 11 Juli 2017, juga telah berkunjung ke TN Way Kambas, Komandan Korem 043/Garuda Hitam, Kolonel Infantri Hadi Basuki, S,Sos, MM beserta rombongan. Didampingi oleh Kepala Seksi Pengelolaan TN (Ka SPTN) Wilayah I Way Kanan, Aripin Nur, SH, Danrem beserta rombongan berkesempatan melihat badak sumatera di Suaka Rhino Sumatera (SRS) TN Way Kambas. Sumber Info : Balai TN Way Kambas
Baca Berita

Dengan E-Kinerja Balai TN Gunung Merbabu Menuju Peningkatan Reformasi Birokrasi

Boyolali, 10 Juli 2017. Sosialisasi penerapan E-Kinerja ASN Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Balai Taman Nasional Gunung Merbabu dilaksanakan pada hari Senin, 10 Juli 2017 di Ruang Rapat Balai Taman Nasional Gunung Merbabu. Sosialisasi ini diikuti seluruh pegawai di lingkup Balai Taman Nasional Gunung Merbabu baik dari SPTN dan Resort. Sosialisasi e-kinerja ini disampaikan dari Bagian Kepegawaian dan Ortala Biro Kepegawaian, Bapak Apri Harlian Rudanto, S.Sos. Dari hasil reformasi Birokrasi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait penetapan kinerja individu dan kinerja organisasi antara lain hasil penilaian masih rendah, terdapat pegawai yang belum membuat SKP, belum dilakukan evaluasi kinerja individu dan organisasi, pengukuran kinerja belum dilakukan secara periodik, penilaian kinerja individu belum dijadikan dasar untuk pembayaran tunjangan kinerja. Atas dasar ini untuk meningkatkan dan menjalankan reformasi birokrasi pada tahun 2018 mendatang (mulai 1 Januari 2018) akan diterapkan e-kinerja untuk seluruh pegawai lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dengan e-kinerja ini mewajibkan seluruh pegawai menyusun SKP tahunan, menyusun kegiatan bulanan, dan melaporkan kegiatan hariannya. E-kinerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat diisi melalui website :http://ekinerja.menlhk.go.id/ . Untuk masa percobaan akan dilakukan secara bertahap mulai bulan ini. Sumber Info : Balai TN Gunung Merbabu
Baca Berita

Satwa Siamang Hasil Patroli TSL Balai KSDA Jambi

Jambi (10/7/2017). Penyelamatan satwa oleh Balai KSDA Jambi yang dilaksanakan dari tanggal 17 Juni s/d 21 Juni 2017 telah membuahkan hasil. Berkat penyadaran masyarakat, telah diserahkan 1 (satu) ekor siamang (syimphalangus syndactylus) secara sukarela. Balai KSDA Jambi mempertimbangkan bahwa Satwa Siamang selama ini terpelihara dan telah melakukan rehabilitasi di pusat penelitian Kalaweit Solok Sumatra Barat. Satwa siamang telah diserahkan melalui Balai KSDA Sumbar tanggal 21 Juni 2017 sekitar pukul 11.30 WIB dan langsung dibawa ke pusat rehabilitasi Satwa Kalaweit Solok Sumatra Barat dengan harapan bisa berkembang biak dan kembali pada habitatnya.
Baca Berita

Satu Lagi, Orangutan Hasil Rescue Di Translokasi Ke TN Sebangau

Palangka Raya, 10 Juli 2017. Translokasi Orangutan ke kawasan TN Sebangau kembali dilakukan pada Sabtu Pagi tanggal 08 Juli 2017. Kegiatan tersebut dapat terlaksana berkat kerjasama Tim Rescue Reaksi Cepat (TRRC) dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I BKSDA Kalimantan Tengah dengan BOS Foundation Nyarumenteng serta Balai Taman Nasional Sebangau. Lokasi yang dipilih untuk melepasliarkan kera besar tersebut adalan wilayah Resort Sebangau Hulu, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I. Orangutan yang berhasil di rescue oleh TRRC SKW I BKSDA Kalimantan Tengah bersama BOS Foundation merupakan hasil evakuasi dari kebun buah milik warga Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau pada hari jum’at 7 Juli 2017. Berdasarkan hasil pengecekan kesehatan, kondisi Orangutan yang diberi nama Julio tersebut dalam keadaan sehat dengan perkiraan umur 12 tahun dan berjenis kelamin jantan. Bapak Ir. Anggodo MM, Kepala Balai TN Sebangau turut serta dalam kegiatan translokasi Orangutan tersebut. Didampingi oleh KSBTU, Kepala Resort Sebangau Hulu serta Tim RRC BKSDA dan BOSF Nyarumenteng tim menuju lokasi pelepasliaran di Hulu Sungai Sebangau pada sabtu pagi. Dari Dermaga Kereng Bangkirai membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk menuju lokasi penanaman garuda tempat Orangutan akan dilepasliarkan. Tidak jauh dari tepi kanal, Orangutan yang masih terkurung dalam kandang besi dibawa oleh tim masuk ke dalam hutan untuk dilepaskan. Secara simbolis Orangutan dilepasliarkan oleh Bapak Doni Maja Perdana, S.Hut KSBTU Balai TN Sebangau. Orangutan jantan tersebut langsung bergerak keluar ketika tutup kandang dibuka, dengan sigap ia memanjat pohon dan masuk ke dalam hutan. Satwa liar hasil rescue perlu segera dilepasliarkan ke habitatnya yang layak, hal ini dilakukan untuk menghindari satwa tersebut kehilangan sifat liarnya ataupun tertular penyakit. Tentunya sebelum dilepasliarkan satwa harus melalui proses pemeriksaan kesehatan oleh tim medis, setelah dinyatakan sehat satwa tersebut dapat ditranslokasi ke habitat barunya. Orangutan merupakan salah satu satwa liar dilindungi yang masuk dalam kategori terancam punah, populasinya terus menurun karena habitat alami yang semakin berkurang. Taman Nasional Sebangau sebagai habitat bagi Orangutan terus berupaya menjaga kelestarian dan meningkatkan populasi kera besar ini. Semoga Orangutan yang baru saja dilepasliarkan di TN Sebangau dapat hidup dan berkembang dengan baik di habitat barunya. (Sumber Informasi : Tatang Suwardi, S.Hut , Susana, A.Md Balai TN Sebangau, BKSDA Kalimantan Tengah dan BOSF Nyarumenteng). Sumber Info : Balai TN Sebangau
Baca Berita

Balai Besar KSDA Jawa Barat Siap Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2017

Bandung (10/7/2017). Kebakaran hutan dan lahan masih menjadi permasalahan yang seringkali datang menghampiri setiap menjelang pergantian musim, dari musim hujan ke musim kemarau. Kekhawatiran semakin bertambah ketika prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa akan terjadi fenomena El Nino. Fenomena El Nino tersebut semakin memperbesar potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan karena musim kemarau akan terjadi lebih panjang dari biasanya. Dampak El Nino juga sempat dirasakan oleh kawasan konservasi yang dikelola Balai Besar KSDA Jawa Barat. Pada tahun 2015, ketika fenomena El Nino melanda Indonesia, sedikitnya seluas 2.321,41 ha kawasan konservasi yang dikelola Balai Besar KSDA Jawa Barat terbakar dan menjadi rekor luas kebakaran hutan tertinggi sepanjang sejarah berdirinya UPT Balai Besar KSDA Jawa Barat. Empat kawasan konservasi dari total 50 (lima puluh) kawasan konservasi yang dikelola Balai Besar KSDA Jawa Barat, yaitu Suaka Margasatwa Cikepuh, Taman Buru Masigit Kareumbi, Cagar Alam Kamojang, dan Cagar Alam Papandayan menjadi kawasan dengan intensitas dan luasan kebakaran hutan tertinggi. Guna mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2017 ini yang berpotensi El-Nino, Balai Besar KSDA Jawa Barat telah melakukan beberapa langkah sebagai berikut. Kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan selain dilakukan pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, juga perlu dilakukan pada tingkat unit/kesatuan pengelolaan hutan. Oleh karena itu, agar kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan dapat berjalan secara efektif dan efisien dengan hasil optimal, maka perlu dibentuk Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Bridgalkarhutla) Non Daops lingkup kerja Balai Besar KSDA Jawa Barat. Susunan Keanggotaan Regu Bridgalkarhutla Non Daops lingkup kerja Balai Besar KSDA Jawa Barat telah ditetapkan melalui SK Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat Nomor: SK. 178/K.1/Bidtek.2/KSA/3/2017 tanggal 17 Maret 2017. Mengacu pada SK tersebut, anggota regu melaksanakan tugas pengendalian kebakaran hutan dan lahan mulai dari penyelenggaraan perencanaan, pencegahan, penanggulangan, dan penanganan pasca kebakaran, serta koordinasi kerja. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 2017 dihadiri oleh 40 (empat puluh) orang peserta yang berasal dari Balai Besar KSDA Jawa Barat, unsur pemerintah pusat (Direktorat PKHL, Kementerian LHK), unsur pemerintah daerah (Dinas Kehutanan Prov. Jawa Barat, BPBD Prov. Jawa Barat, dan Dinas Lingkungan Hidup Prov. Jawa Barat), aparat kecamatan, unsur kepolisian (Polda, Polres, Polsek, dan Bhabinkamtibmas), dan unsur TNI (Kodam, Korem, Kodim, Koramil,dan Babinsa). Rapat koordinasi ini dilakukan mengingat pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat semata, perlu keterlibatan berbagai pihak yang dapat saling bersinergi sehingga pengendalian kebakaran hutan dan lahan dapat berjalan efektif dan efisien. Pendirian Posko siaga kebakaran hutan dan lahan merupakan bagian dari mekanisme deteksi dini terjadinya kebakaran hutan dan lahan karena dengan adanya posko ini diharapkan informasi mengenai hotspot/kebakaran hutan dapat tersampaikan secara cepat. Dengan demikian kejadian kebakaran hutan dapat tertangani secara lebih dini. Posko dibuat secara berjenjang mulai dari tingkat balai, tingkat bidang, tingkat seksi, tingkat resor dan desa (untuk 4 kawasan konservasi yang rawan kebakaran hutan, yaitu SM Cikepuh, CA Kamojang, TB Masigit Kareumbi, dan CA Leuweung Sancang). Upaya deteksi dini kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan melalui monitoring hotspot. Saat ini, monitoring hotspot dapat dilakukan dengan mengakses “Si Pongi” yang menyediakan data hotspot dari satelit AQUA/TERRA (LAPAN), NPP (LAPAN), AQUA/TERRA (NASA), dan NOAA (ASMC). Sedangkan data-data terkait dengan cuaca/iklim diakses dari Stasiun Klimatologi Klas I Darmaga Bogor. Ground check hotspot merupakan bagian dari upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Dalam hal ini, hotspot yang telah terdeteksi melalui satelit, dicek secara langsung di lapangan. Sampai dengan pertengahan bulan Juli 2017, telah terdeteksi sebanyak 4 (empat) hotspot, kemudian ditindaklanjuti dengan ground check oleh petugas lapangan Balai Besar KSDA Jawa Barat. Berdasarkan hasil ground check 1 (satu) hotspot berada di dalam kawasan konservasi (SM Cikepuh), sedangkan 3 (tiga) hotspot lainnya berada di areal penggunaan lainnya, bahkan salah satu hotspot yang terdeteksi adalah tempat pembakaran sampah. Hotspot yang terdeteksi seluruhnya dapat dikendalikan sehingga tidak menyebabkan kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas. No. Lokasi Status Lahan Tanggal Kejadian 1 Blok Kolam Pasir Parahu, SM Cikepuh, Kab. Sukabumi kawasan konservasi 4 Juli 2017 2 Dusun Sumurjaya, Desa Sidajaya, Kec. Cipunagara, Kab. Subang areal penggunaan lainnya 8 Juli 2017 3 Desa Kertajaya, Kec. Simpenan, Kab. Sukabumi areal penggunaan lainnya 8 Juli 2017 4 Desa Sangra Wayang, Kec. Simpenan, Kab. Sukabumi areal penggunaan lainnya 8 Juli 2017 Sumber : BBKSDA Jabar
Baca Berita

RS Gajah Pertama di Asia Tenggara Dikunjungi Dirjen KSDAE

Way Kambas, 11 Juli 2017. Setelah kunjungan di Suaka Rhino Sumatera kini giliran Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang mendapat perhatian Bapak Ir. Wiratno, MSc, (Dirjen KSDAE Kementerian LHK) bersama rombongan di TN Way Kambas pada Minggu 9 Juli 2017. Rumah Sakit Gajah (RSG) Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaya, yang merupakan rumah sakit gajah pertama di Indonesia bahkan Asia Tenggara ini, didirikan dari sumber dana hibah lembaga konservasi dunia Australian Zoo bersama Taman Safari Indonesia. Sejak didirikan tahun 2012 hingga sekarang RSG sudah dapat melayani satwa-satwa khususnya gajah yang sakit, korban bencana atau konflik. Pada kunjungan kali ini Dirjen KSDAE berkesempatan melihat langsung fasilitas dan sarana prasarana yang ada. Dijelaskan oleh drh. Dedi Candra bahwa untuk penanganan gajah sakit, RSG Rubini Atmawijaya secara umum sudah mampu dan baik, kendala yang ada adalah sulitnya pengadaan obat-obatan untuk satwa khususnya di Indonesia, karena sebagian obat-obatan harus membeli dari luar negeri, seperti dari Australia dan India. Selain meninjau RSG, Koordinator Pusat Konservasi Gajah TN Way Kambas Ibu Elisabeth Devi Krismurniati, SSi, ME, mengajak Dirjen KSDAE dan rombongan menengok perawatan anak gajah korban jerat sehingga putus belalainya, yang diberi nama Erin dan anak gajah Nunik yang lahir di Pusat Konservasi Gajah TN Way Kambas pada tanggal 27 Mei 2017 dari induk bernama Pleno (37 Tahun) dan nama Nunik adalah pemberian dari Bupati Lampung Timur. Setelah melihat langsung Pusat Konservasi Gajah TN Way Kambas, Dirjen KSDAE berpesan agar menjadi perhatian kita semua adalah hal-hal yang berkaitan dengan kebersihan, fasilitas, gedung, pelayanan pengunjung untuk lebih ditingkatkan lagi, sehingga lokasi konservasi gajah pertama di Indonesia ini dapat menjadi contoh keberhasilan upaya konservasi gajah dan kegiatan wisata khusus di Indonesia. Sumber Info : Balai TN Way Kambas
Baca Berita

Kerjasama Dodoku Dive Center dan Balai TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 8 Juli 2017. Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) dalam rangka membangun jaringan kerja dan pengembangan promosi wisata di Maluku Utara, akan melakukan kerjasama dengan pihak pengelola Dodoku Dive center dibidang pariwisata, mengingat Maluku Utara memiliki potensi jasa lingkungan berupa wisata alam dan wisata minat khusus baik di laut maupun di hutan yang tidak kalah menawan dengan daerah lain dan layak untuk dipromosikan sebagai destenasi wisata unggulan di Indonesia. Menurut Sadtata Noor Adirahmanta Kepala Balai TNAL,Rencana kerja sama ini sangat penting untuk membangun jaringan promosi di Maluku Utara.Beliau juga memerintahkan kepada tim promosi TNAL agar segera mengkaji seberapa jauh kita bisa kerjasama khususnya dalam hal promosi dan pengembangan pariwisata (paket wisata yg terkoneksi). Markas besar Dodoku dive center terletak di Desa Kastela Kecamatan Pulau Ternate. Tepat pada bulan Juni 2017 kemarin telah diresmikan dan acara seremoni peresmian dive center di apresiasi dan mendapat pujian dari tamu yg hadir. Berbagai atraksi kebudayaan seperti tarian soya soya dan permainan barangmasueng/bambu gila di pertontonkan dalam rangkaian acara tersebut. Selain tamu dari club diving dan berbagai komunitas anak muda di Kota Ternate serta tim promosi dari Taman Nasional Aketajawe Lolobata juga diundang dalam acara ini. Hadir juga tamu dari luar Ternate (dari Jakarta) bahkan ada juga tamu yang berasal dari Jepang. Letak lokasi base camp dive center ini sangat starategis karna berada persis di tempat Wisata pantai kastela. Diluar kegiatan dive, markas Dodoku dive center ini juga memiliki panorama alam yang luar biasa indahnya. Selain itu atraksi yang bisa kita nikmati di pantai ini yaitu dapat melihat secara langsung terbenamnya matahari/sunset. Sumber Info : M.Sofyan Ansar - Polhut Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Ramah Tamah Dirjen KSDAE bersama Staf BTN Way Kambas

Way Kambas, 10 Jul 2017. Bapak Ir. Wiratno, MSc, selaku Direktur Jenderal Konservasi Alam Sumber Daya Alam dan Ekositem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tiba bersama rombongan di Suaka Rhino Sumatera (SRS) TN Way Kambas Sabtu tanggal 8 Juli 2017 pukul 22.00 WIB. Agenda kunjungan kerja di TN Way Kambas diawali dengan pertemuan bersama seluruh Pegawai Negeri Sipil TN Way Kambas dalam rangka Pembinaan Pegawai dan juga seluruh karyawan Yayasan Badak Indonesia (YABI) untuk Sosialisasi Perluasan SRS. Acara dimulai dengan paparan tentang TN Way Kambas oleh Kepala Balai TNWK, Bapak Subakir, SH, MH. Yang kemudian dilanjutkan paparan oleh Direktur Eksekutif YABI, Bapak Drs, Widodo S. Ramono tentang Sosialisasi Perluasan SRS. Serta acara inti Pembinaan Pegawai oleh Dirjen KSDAE Bapak Ir. Wiratno, MSc. Pada kesempatan ini beliau menyampaikan nilai penting dan tugas mulia yang diemban oleh kita sebagai “tamu di bumi tercinta” ini, dimana salah satunya adalah menjaga dan menyelamatkan hutan beserta segala isinya. Betapa diperlukannya rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan di dalam menjalankan tugas mulia ini, sebagai wujud nyata perlu dibangun rasa saling percaya, keterbukaan, serta komunikasi yang aktif. Yang juga tidak kalah paling penting adalah semangat yang harus terus menerus dibangun agar tumbuh motivasi dan rasa optimis yang tinggi akan keberhasilan tugas. Dipenghujung acara, dimana waktu sudah semakin larut malam, Bapak Dirjen KSDAE berkomunikasi langsung kepada pegawai yang hadir di Suaka Rhino Sumatera ini, beberapa pegawai TN Way Kambas berkesempatan menyampaikan perlunya ketersediaan sarana prasarana dalam menjalankan tugas patroli di hutan, kesejahteraan pegawai, serta juga ucapan terimakasih karena telah bekerja sebagai pawang gajah. Akhir acara ditutup dengan ramah tamah. Sumber Info : Balai TN Way Kambas
Baca Berita

TN Bukit Baka Bukit Raya Menuju Efektivitas Pengelolaan dengan METT

Sintang, 08 Juli 2017 - Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dengan dukungan dari USAID Lestari pada awal bulan Juli ini telah berhasil melaksanakan dengan sukses dua kegiatan sekaligus yaitu “Internal Review Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Periode 2017 – 2026 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya” pada tanggal 5 – 6 Juli 2017 dan “Workshop Penilaian Efektifitas Pengelolaan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Secara Partisipatif Tahun 2017” pada tanggal 7 – 8 Juli 2017 bertempat di Meeting Room Jasmine Venue Hotel My Home Sintang Kalimantan Barat. Pada acara “Internal Review Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Periode 2017 – 2026 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya” dibuka dan dipimpin langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Bapak Ir. Heru Raharjo, MP., dihadiri oleh Bapak Didik Surjanto (Socio Economic Development Coordinator LESTARI Central Kalimantan) dan Bapak Anwar Purworto (Consultant Programme). Diikuti oleh pejabat struktural, pejabat non struktural dan pejabat fungsional Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Kegiatan ini menghasilkan Draft Dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Periode 2017 – 2026 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya yang didalamnya memuat Visi baru pengelolaan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya yaitu “Terwujudnya Pemantapan Pengelolaan TNBBBR untuk pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam secara lestari dan kolaboratif, selaras kearifan lokal serta berlandaskan IPTEK”. Draft ini selanjutnya akan dibahas di dalam Tim Revisi RPJP sebagai bahan konsultasi publik yang direncanakan akan dilaksanakan di akhir Juli 2017di Kab. Kasongan Kalimantan Tengah dan awal Agustus 2017 di Kab. Sintang dan Kab. Melawi Kalimantan Barat. “Workshop Penilaian Efektifitas Pengelolaan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Secara Partisipatif Tahun 2017” pada tanggal 7 – 8 Juli 2017. Workshop ini merupakan langkah evaluasi dua tahunan yang dilakukan untuk melihat sejauh mana pengelolaan TNBBBR telah dilakukan secara efektif dalam mancapai tujuan yang ditetapkan yang sebelumnya sudah tertuang dalam dokumen penilaian METT tahun 2015. Evaluasi ini juga dimaksudkan untuk menjaring masukan dari berbagai pihak sebagai bahan perbaikan pengelolaan yang perlu dilakukan dimasa depan. Workshop dihadiri oleh pihak Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, BAPPEDA dari Kabupaten Sintang, Perwakilan Mitra (YIARI Indonesia, Lembaga Penelitian Dan Pengembangan Sumber Daya Dan Lingkungan Hidup), Perwakilan Masyarakat Desa sekitar kawasan. Workshop difasilitasi oleh Usaid Lestari, dgn fasilitator sdr. Munawar Kholis dan sdr. Ali Imron. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan dalam workshop ini diketahui telah terdapat peningkatan nilai efektifitas pengelolaan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya untuk Tahun 2016-2017 sebesar 74% dari nilai sebelumnya sebesar 64 %. Sumber Info : Balai TN Bukit Baka Buki Raya
Baca Berita

Adakan Clean Up, Balai TN Bali Barat Berhasil Angkut 9,1 Ton Sampah

Gilimanuk, 8/7/2017 - Sampah saat ini merupakan permasalahan yang terjadi dimana-mana, tak terkecuali di kawasan konservasi Taman Nasional Bali Barat. Di kawasan ini, kebanyakan material sampah berasal dari laut. Sampah tersebut merupakan sampah dari berbagai tempat yang terbawa arus hingga akhirnya terdampar di pantai-pantai dalam kawasan. Sebagian lagi merupakan sampah yang berasal dari pemukiman sekitar maupun sampah yang dibawa oleh pengunjung. Sebagai destinasi yang sering dikunjungi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, tentunya Balai TN Bali Barat berpikir keras bagaimana caranya mengatasi sampah tersebut. Mulai bulan Februari hingga saat ini, Balai Taman Nasional Bali Barat sangat gencar melakukan aksi clean up untuk mengangani sampah, terutama sampah anorganik. Tak kurang dari 50 kegiatan bersih sampah telah dilakukan selama lima bulan terakhir ini. Rata-rata bisa 10 kali dalam satu bulan di berbagai lokasi di dalam kawasan yang menjadi titik konsentrasi sampah anorganik. Sampah yang sudah dikumpulkan ditimbang dan dicatat sebelum diangkut ke tempat pembuangan akhir sampah. Dalam aksi bersih sampah, petugas Balai TN Bali Barat mengajak masyarakat dan berbagai pihak turut berperan aktif dalam upaya penanggulangan sampah anorganik di dalam kawasan taman nasional. Dari data yang tercatat, aksi clean up tahun 2017 yang di mulai pada tanggal 19 Februari s.d 29 Juni 2017 berhasil mengangkut sampah anorganik seberat 9.170,5 kg atau sekitar 9,1 ton. Sampah terbanyak berasal dari pantai di seputaran Pulau Menjangan dan Labuan Lalang, yaitu seberat 5.135,5 kg. Sisanya berasal dari pantai di belakang kantor Balai TNBB seberat 766 kg, dari sekitar pemukiman di kelurahan Gilimanuk dan Pantai Karangsewu seberat 2.469 kg, serta di seputaran Pantai Prapat Agung dan daerah Sumber Rejo, seberat 800 kg. Jenis sampah yang terkumpul antara lain berupa plastik kresek, stereofom, bungkus makanan, botol plastik, pampers, kaleng, dan lain-lain. Kegiatan clean up di TN Bali Barat tidak hanya di lakukan di pantai dan daratan saja. Namun aksi bersih juga dilakukan di dasar laut dengan melakukan penyelaman bersama para pelaku usaha wisata/dive operator di seputaran Bali dan Jawa Timur. Kegiatan ini dikemas khusus dengan nama "diving for conservation and underwater clean up". Harapannya, dari semua aksi bersih yang telah dilakukan dapat mengurangi jumlah sampah anorganik di kawasan Taman Nasional Bali Barat. Tujuannya supaya kelestarian ekosistem tetap terjaga. Selain itu, dengan mengajak masyarakat berpartisipasi aktif, dimaksudkan untuk membangun kesadaran akan arti pentingnya kebersihan lingkungan serta kelestarian kawasan konservasi khususnya Taman Nasional Bali Barat. Sumber: Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Silaturahim dan Halal bi Halal dengan PKBSI

Jakarta, 7 Juli 2017. Telah diselenggarakan silaturahim dan halal bi halal bersama dengan Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) di Senayan Residence, Jakarta Pusat. Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Ir. Herry Subagiadi, M.Sc. Di dalam sambutannya yang bertema “Membangun Masa Depan Pengelolaan Satwa Lembaga Konservasi di Indonesia”, beliau menyampaikan bahwa upaya konservasi keanekaragaman hayati terutama satwa di Indonesia perlu didukung dengan peningkatan kualitas pengelolaan satwa di eksitu dalam hal ini lembaga konservasi. Lembaga Konservasi sebagai salah satu bentuk pengelolaan keanekaragaman hayati diluar habitat alaminya memiliki fungsi utama untuk pengembangbiakan terkontrol dan/atau penyelamatan tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Selain itu, memiliki fungsi tambahan sebagai tempat pendidikan, peragaan, penitipan sementara, sumber indukan dan cadangan genetik untuk mendukung populasi in-situ, sarana rekreasi yang sehat serta penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Untuk itu diharapkan seluruh lembaga konservasi mampu mewujudkan fungsi-fungsi tersebut. Kebijakan lembaga konservasi bertujuan mendorong partisipasi aktif masyarakat melakukan investasi konservasi spesies di luar habitatnya (konservasi ex-situ). Investasi bidang Lembaga konservasi sangat mendukung terhadap penciptaan ruang hijau, upaya konservasi spesies, penyadaran dan edukasi publik, relevan dengan Go Green Program, serta berorientasi pada pro growth, pro poor, pro job dan pro environment. Dalam rangka peningkatan kualitas pengelolaan lembaga konservasi termasuk kegiatan peragaan satwa, beberapa upaya yang strategis akan dilakukan kedepan meliputi: Turut hadir dalam acara ini Zulkifli Hasan, Ketua MPR-RI, Duta Besar Georgia, Perwakilan Pusat Biologi LIPI, Perwakilan Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dan Pimpinan Lembaga Konservasi anggota PKBSI. Sumber Info : Direktorat KKH
Baca Berita

Gelar Eksotika Bromo dalam Rangkaian Yadnya Kasada di TN Bromo Tengger Semeru

Malang, 7 Juli 2017. Acara “Eksotika Bromo” yang digelar pada 7-8 Juli atau dua hari menjelang upacara Yadnya Kasada resmi dibuka pada sore hari tanggal 7 Juli di Lautan Pasir, Cemorolawang, TN Bromo Tengger Semeru. Pembukaan acara yang mengusung tema “Penghargaan Akan Hidup, Penghargaan Akan Alam yang menghidupi” ini dihadiri oleh Dirjen KSDAE Kementerian LHK, Bupati Probolinggo beserta Muspida Pemerintah Probolinggo, Mantan Menteri Pendidikan Wardiman Djoyonegoro, Pimpinan Bank Jatim, serta Sesepuh dan tokoh adat masyarakat Tengger. Acara ini berlangsung sangat meriah dengan suguhan Art Performance yang memukau, dengan suguhan tarian Jaranan Slining dari Lumajang, Jaranan Wahyu Tunas Budaya, musik tradisional Jegog Suar Agung dari Jembrana Bali, Sendratari kolosal Kidung Tengger, Puisi Kidung Tengger yang dibacakan aktris Ayushita, , Grup Singo Ulung dari Bondowoso, Perkusi Daul Madura dan Tari Mahameru. Dalam sambutannya Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari memberikan apresiasi terhadap event yang baru pertama kali digelar dan melibatkan ratusan seniman dari berbagai daerah di Indonesia. Bahwa acara ini melibatkan masyarakat Tengger sebagai masyarakat adat yang kesehariannya menyatu dengan Bromo. Bupati mengharapkan agar acara ini dapat berlanjut pada tahun-tahun mendatang dengan lebih baik, senantiasa melibatkan masyarakat Tengger dan bekerjasama dengan berbagai pihak. Dalam acara pembukaan ini, Dirjen KSDAE berkesempatan membacakan Memori Tengger (200 Tahun Sejarah Tanah Jawa Thomas Stamford Rafless 1817-2017). Sebelum membacakan Memori Tengger, Dirjen KSDAE melakukan sujud syukur di atas laut pasir Kaldera Bromo dengan penuh penghayatan bahwa manusia harus lebih banyak bersyukur, bersujud kepada Tuhan sebagai khalifahNya di muka bumi yang bertugas menjaga semesta dengan tidak membuat kerusakan di dalamnya. Dalam Memori Tengger, diceritakan bahwa Rafless sangat mengagumi semesta dan tata nilai budaya Wong Tengger, bahwa masyarakat Tengger hidup dalam suasana damai, tertib, teratur, rajin bekerja, jujur dan selalu tampak riang gembira zonder kejahatan-kejahatan lainnya yang sama sekali tidak ditemukan. Inilah cerminan sikap yang berbudaya yang dimiliki leluhur yang dapat dijadikan ketauladanan sebagai modal kebang kitan bagi bangsa Indonesia dalam meneguhkan revolusi mental. Masyarakat Tengger meyakini bahwa Gunung Bromo adalah janji hidup sebagai ritual dan laku religious manusia gunung. Bromo mengingatkan kita tentang kisah tentang kesederhanaan dan kasih sayang. Bromo membawa kita berkontemplasi, menjelma sebagai kisah kebudayaan dan peradaban manusia di bumi yang menarasikan tentang penghargaan akan alam yang menghidupi. Kehadiran Taman Nasional TNBTS bukan untuk membatasi, bahkan sebaliknya adalah untuk menjaga, merawat, memberdayakan untuk bersama menyemai dan menumbuhkan nilai luhur, merawat nyanyian gunung masyarakat Tengger melalui kisah Roro Anteng dan Joko Seger dengan segenap cinta, gigih dan teguh meraih cita-cita meski banyak gangguan dan tantangan. Dari legenda inilah kita semua belajar dari masyarakat Tengger yang selalu menyirami batinnya untuk selalu bersilaturahmi dengan alam, berikrar untuk menjadi penerus patriot kusuma, meneguhkan hati, bahwa bumi Tengger mengajarkan tentang konsistensi antara ucapan dan tindakan. Dari kawasan Bromo tengger Semeru ini kita belajar, bahwa hiduplah untuk memberi yang sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Begitu pula tehadap alam semesta, sudah waktunya kita memberikan penghargaan terhadap alam, jaga kelestariannya dan jaga stabilitas semestanya. Sumber Info : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Pelepasliaran Burung Hasil Sitaan Polhut BKSDA NTB di TWA Kerandangan

Lombok Barat, 7 Juli 2017. Di TWA Kerandangan telah dilakukan pelepasan burung-burung hasil sitaan Polhut BKSDA NTB bersama aparat penegak hukum lain di Pelabuhan Lembar, Kab. Lombok Barat. Burung yg terdiri dari 10 jenis dengan jumlah total 2.491 ekor tersebut disinyalir akan dibawa ke Bali atau Pulau Jawa. Diperkirakan burung tersebut berasal dari Pulau Sumbawa. Kesepuluh jenis burung tersebut adalah : Punglor kepala hitam (Zoothera doherty), kepodang (Oriolus chinensis), Sesap madu australia (Lichmera indistincta), Kacamata laut (Zoosterops chloris), gelatik batu kelabu (Parus major), cinenen jawa (Orthotomus sepium), opior paruh tebal (Heleia cassirostris), apung (Anthus sp), bondol hijau dada merah (Erithrea hyperthura), dan cica kopi melayu (Pomatorius montanus). Semua burung tersebut kemudian dibawa dan dipelihara sementara di kandang habituasi untuk dikondisikan agar bisa menyesuaikan diri dengan habitat alam. Kandang habituasi yang terletak lebih kurang 300 meter dr pondok kerja tersebut selesai dibangun pada Maret 2017. Kandang tersebut berukuran 10 x 6 meter dengan dinding dari jalanet. Mengingat banyaknya burung, pelepasan burung ke dalam kandang habituasi dilakukan secara bertahap. Begitu dilepaskan du dalam kandang, burung yang masih sehat dan segar akan langsung bertengger di tenggeran bagian atas. Burung yg masih sehat ini kemudian dilepaskan dengan cara membuka dinding penutup kandang bagian atas. Burung yg kurang sehat akan tertinggal di kandang dan selanjutnya dipelihara lebih dahulu sampai sehat. Pelepasliaran ini dimaksudkan untuk mengembalikan burung-burung tersebut ke habitat alaminya. Selain BKSDA NTB, pelepasan burung juga dihadiri oleh Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK wilayah Jabalnusra, Polres Lombok Barat, KP3 Lembar dan Balai Karantina Pertanian Mataram. Pelepasan langsung di habitat alam setelah penyitaan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa selang waktu antara penangkapan dari alam sampai proses penyitaan burung tidak terlalu panjang. Dengan pelepasliaran di habitat alam ini diharapkan populasi burung di alam kembali normal dan sehat. Sumber Info : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat

Menampilkan 10.417–10.432 dari 11.141 publikasi