Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Dirjen KSDAE Ikuti “Biodiversity Artnival di Titik Nol Malioboro

Yogyakarta (23/7/2017). Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bertugas melaksanakan pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, dan Taman Wisata Alam, serta konservasi tumbuhan dan satwa liar di dalam dan di luar kawasan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu strategi Balai KSDA Yogyakarta dalam mewujudkan tujuannya adalah dengan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai konservasi, potensi keanekaragaman hayati dan informasi lain untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya alam dan ekosistemnya. Bentuk penyampaian informasi dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan Kampanye keanekaragaman hayati. Kampanye Keanekaragaman Hayati (Kehati) dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas akan keberadaan keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Diharapkan dengan pengetahuan yang mereka miliki, akan mampu menyadarkan dan menggerakkan mereka untuk turut membantu dalam upaya pelestariannya. Kampanye kehati sendiri merupakan even tahunan BKSDA. Pada Kampanye Kehati tahun 2017 mengusung tema ‘Biodiversity Artnival” dikemas dalam bentuk pawai/ karnaval dengan beberapa atribut keanekaragaman hayati diantaranya costum satwa liar seperti jenis burung, mamalia dan masih banyak lagi. Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan hari Anak Nasional pada bulan Juli/ Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) pada tanggal 10 Agustus. Pawai ini juga diiringi aksi teatrikal serta diiringi musik tradisional gamelan. Peserta kegiatan Kampanye Kehati terdiri dari Kader Konservasi/Kelompok Pecinta Alam binaan Balai KSDA Yogyakarta, perwakilan Pelajar, LSM, perwakilan dari UPT Lingkup KLHK di Yogyakarta, Perwakilan dari Fakultas Kehutanan UGM, perwakilan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan D.I.Yogyakarta dan saka wanabakti. Pawai diawali dari komplek parkir Abu bakar Ali – jalan Malioboro dan finish di titik Nol kilometer. Turut Hadir GKR Mangkubumi, Dirjen KSDAE Kemen LHK Ir. Wiratno, M.Sc, Kepala Dishutbun DIY, Kapolda DIY yang akan berorasi dan diakhiri dengan pelepasliaran burung. Sumber : BKSDA Yogyakarta
Baca Berita

Rhino Trail Jungle Marathon Indonesia - Road Map To HKAN 2017

Tamanjaya, 23 Juli 2017. Rhino Trail Jungle Marathon Indonesia, lomba lari alam di hutan Taman Nasional Ujung Kulon. Untuk kedua kalinya dilaksanakan pada Minggu, 23 Juli 2017. Gelaran tahunan trail running melewati rute Desa Tamanjaya - Pos Cilintang - pantai Karang Ranjang, hingga pantai Cibandawoh yang meliputi dua kategori Putra-Putri 25 Km & 42 Km. Rhino trail 2017 diikuti oleh 31 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Ekaterina dari Russia dan Gabriellempeserta asal New York, Amerika Serikat berhasil menjadi juara 1 kategori putri dengan jarak 42 kilometer. Gabrielle menuturkan bahwa hutan Tamam Nasional Ujung Kulon sangat menantang dan menyenangkan sehingga memotivasinya untuk menyelesaikan lomba dengan catatan waktu hanya 5 jam 20 menit. Semua peserta merasa terkesan dengan keindahan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang menyuguhkan berbagai medan trail running mulai dari hutan bakau, hutan hujan tropis dan melintasi Pantai Tereleng yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Bukan sekedar lari di alam bebas, para peserta juga diajak untuk lebih peduli dengan masyarakat desa ujung kulon dengan aksi sosial santunan kepada anak - anak desa Tama Jaya dan memerhatikan keberlangsungan fauna, terlebih terhadap Badak Jawa, hewan endemik Taman Nasional Ujung Kulon yang semakin langka. Tahun depan Rhino trail - Jungle Marathon Indonesia akan kembali di laksanakan tanggal 26 Agustus 2018 bersama Balai Taman Nasional Ujung Kulon, On Design Adventure, Komunitas lari alam " Trail Maniak". Sumber Info : Balai TN Ujung Kulon
Baca Berita

Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL BBKSDA Jabar Kembali Beraksi

Bandung (23/7/2017). Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Balai Besar KSDA Jawa Barat kembali beraksi. Kali ini, Tim Gugus Tugas dari Bidang KSDA Wil. I Bogor dan SKW II Bogor pada hari Jum’at, tanggal 21 Juli 2017 telah menerima penyerahan secara sukarela satwa liar, baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi sebanyak 5 (lima) ekor dalam keadaan hidup. Satwa liar tersebut diserahkan oleh seorang warga Kota Bogor bernama Ricky Erawan, SE yang berprofesi sebagai karyawan swasta. Adapun jenis satwa yang diserahkan tersebut terdiri atas: Menurut pengakuan Ricky, satwa yang diserahkan tersebut berasal dari pemberian teman-temannya yang sudah bosan memelihara satwa. Ricky juga menuturkan bahwa alasannya memelihara satwa liar tersebut semata-mata karena ketidaktahuannya bahwa kegiatan tersebut dapat mengancam kelestarian satwa liar di alam serta melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Namun, setelah mendapatkan informasi dari website Balai Besar KSDA Jawa Barat dan penjelasan dari Tim Gugus Tugas bahwa apa yang dilakukannya tersebut mengancam kelestarian satwa liar di alam serta melanggar undang-undang dengan ancaman pidana 5 tahun penjara dan denda sebesar 100 juta, pada akhirnya Ricky menyadari kekeliruannya hingga secara sukarela menyerahkan satwa-satwa liar tersebut. Saat ini, satwa-satwa liar tersebut telah dititiprawatkan ke Lembaga Konservasi untuk keperluan cek kesehatan serta identifikasi jenis. Selanjutnya satwa-satwa tersebut akan menjalani program rehabilitasi, hingga pada saatnya nanti akan dilepasliarkan ke habitat aslinya. Kejadian ini sekali lagi membuktikan bahwa penyebarluasan informasi menjadi salah satu kunci penting yang bisa mendongkrak kesadartahuan masyarakat karena ternyata masih banyak masyarakat yang belum memahami sepenuhnya tentang konsekuensi memelihara satwa liar dilindungi, baik secara ekologi maupun secara hukum. Oleh karena itu, Tim Gugus Tugas terus berupaya menyebarluaskan informasi tersebut secara massive melalui media online, media sosial, maupun kampanye/sosialisasi secara langsung kepada masyarakat. Terkait dengan kampanye/sosialisasi secara langsung kepada masyarakat, dalam waktu dekat ini Tim Gugus Tugas akan memenuhi undangan dari masyarakat di Kota Baru Parahyangan, Kab. Bandung Barat, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat di sana tentang pentingnya menjaga kelestarian satwa liar dilindungi. (RK/Humas BBKSDA Jabar)
Baca Berita

Patroli Karhutla BKSDA Yogyakarta Bersama Balai PPI dan Karhutla Jabalnur

Yogyakarta(22/7/2017). Balai KSDA Yogyakarta bersama dengan Balai PPI dan Karhutla Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara melakukan kegiatan patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah kerja Balai KSDA Yogyakarta pada tanggal 18 - 22 Juli 2017. Kegiatan dilaksanakan di Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulonprogo. Rangkaian kegiatan patrol pencegahan diawalai melalui koordinasi dengan Kepala Desa dan Muspika setempat . Patroli dimulai dari kantor desa menuju lahan masyarakat di sekitar kawasan hingga ke dalam kawasan. Kepada masyarakat yang dijumpai di lokasi patroli, personel pelaksana memberikan penyuluhan/ sosialisasi tentang bahay kebakaran hutan dan lahan. Untuk titik-titik yang rawan terjadi kebakaran, dilakukan pencatatan titik koordinat lokasi. Dalam pelaksanaan patroli ini, juga dilakukan uji remas seresah untuk mengetahui sejauh mana tingkat kerawaan kebakarannya. Hasil patrol menunjukkan kawasan berada pada kondisi yang relative aman dari ancaman karhutla dengan tidak ditemukannya hotspot, dan tidak terjadinya karhutla. Untuk melengkapi informasi pencegahan karhutla, dilakukan pencatatan terhadap sumber air yang dijumpai. Langkah antisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah kerja Balai KSDA Yogyakarta akan ditindak lanjuti dengan Kegiatan Pertemuan Aparat Tingkat Desa yang akan dilaksanakan di hotel Neo Yogyakarta pada tanggal 25 Juli 2017, dengan peserta yang terdiri dari unsur MUSPIKA setempat di 3 (tiga) kabupaten dan Kepala Resort Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Provinsi Yogyakarta. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

BKSDA Kalteng Release 6 Orangutan

Pangkalan Bun, 22 Juli 2017. Seksi Konservasi Wilayah ll Pangkalan Bun BKSDA Kalteng bersama Orangutan Foundation International (OFI) dan PT. SMART merelease satwa orangutan berjumlah 6 (enam) individu di camp Rimba Raya yang merupakan area konsesi PT. Rimba Raya Conservation (RRC) di desa Telaga Pulang Kecamatan Danau Sembuluh Kabupaten Seruyan pada hari Sabtu tanggal 22 Juli 2017. Orangutan yang direlease adalah orangutan yang selama ini berada di pusat reintroduksi dan karantina orangutan OFI. Orangutan yang dilepasliarkan terdiri dari : 1. Diane, betina, 15 tahun tanggal masuk pusat rehabilitasi 13/7/2004 2. Parker, betina, 18 tahun, tanggal masuk pusat rehabilitasi 10/3/2003 3. Putri, betina, 14,5 tahun, tanggal masuk rehabilitasi 25/9/2003 4. Chanel, betina 15,5 tahun, tanggal masuk pusat rehabilitasi 3/6/20035.Brad, jantan, 15 tahun, tgl masuk pusat rehabilitasi 24/3/2003 6. Yotri, jantan, 13 tahun masuk pusat rehabilitasi 21/4/2004 Sumber Info : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Lagi, Satu Ekor Burung Endemik Maluku Utara Telah Menetas

Sofifi, 22 Juli 2017. Beberapa saat lalu sekitar bulan Juni 2017 setelah di temukan sarang dan telur burung Pitta maxima di Resort Binagara, desa Ake Jawi, kecamatan Wasile Selatan, saat ini kembali ditemukan sarang dan bayi burung tersebut tidak jauh dari sarang yang sebelumnya. “Anakan Pitta maxima ini sudah berumur 4 (empat) hari sejak menetas pada tanggal 18 Juli 2017”, kata Mahroji, tenaga teknis Resort Binagara. “Pertumbuhan burung ini sangat cepat, karena baru 3 (tiga) hari sudah tumbuh bulu-bulu yang lebat”, tukasnya. Pitta maxima atau Paok Halmahera merupakan burung endemik Maluku Utara. Habitatnya berada dilantai hutan, sesekali terbang ke dahan atau ranting pohon yang tidak terlalu tinggi. Memiliki warna bulu yang menarik, putih, hitam merah dan hijau. Makanannya berupa cacing tanah maupun serangga lainnya yang terdapat di kayu-kayu lapuk. Paok Halmahera hanya memiliki satu telur setiap bersarang. Oleh karena itu, petugas Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) selalu mengingatkan kepada tenaga teknis agar turut menjaga sampai telur tersebut berhasil menetas dan bebas di alam. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Viral di Medsos, Begini Penampakan Air Terjun Baru di TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 22 Juli 2017. Setelah dipublikasikan melalui akun media sosial oleh salah satu tenaga teknis Resort Tayawi, air terjun Goshimo menjadi viral di facebook khususnya di Maluku Utara. Ditemukan oleh Roland Hady beserta anggota tim kegiatan lapangan di Resort Tayawi sekitar tanggal 20 Juli 2017 lalu, air terjun ini akan dijadikan salah satu atraksi wisata di Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Air terjun Goshimo terletak sekitar 2 km dari kantor Resort Tayawi, desa Koli, kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. Menurut Rolan Hady bahwa ketinggian air terjun Goshimo kurang lebih 20 meter dan memiliki kolam dibawahnya seluas sekitar 35 m2 dengan kedalaman 3 – 5 meter. Sebelum mencapai air terjun, terlebih dulu kita berjalan menyusuri sungai kecil yang diapit oleh dinding-dinding kars yang unik. Terdapat tiga tiang pohon hidup yang sangat pas untuk melakukan swafoto. Kolam yang luas dan dalam menjadi tambahan atraksi air terjun yang sangat mengasikkan untuk kegiatan berenang. Pengunjung juga bisa melakukan loncat indah saat akan berenang di kolam air terjun, karena dinding kars bisa dipanjat kemudian melompat dari atas dinding kars. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

BBKSDA Jabar Menyiapkan Sumber Daya Manusia Pengendali Drone

Bandung, 22 Juli 2017. Drone adalah pesawat tanpa awak (Unmanned Aerival Vehicle/UAV) yaitu mesin terbang yang dikendalikan dari jarak jauh oleh pilot atau dapat mengendalikan dirinya sendiri. Dahulu mungkin orang mengenal drone atau pesawat tanpa awak digunakan oleh militer untuk memata-matai musuh di daerah konflik. Tapi kini Drone non militer menjadi hobi baru, penggunanya juga sangat beragam mulai dari anak sekolah hingga profesional. Penggunaan drone saat ini sedang nge-trend terutama dalam keperluan jurnalistik dan fotografi, antara lain untuk memotret, merekam video dan pengumpulan data. Ini dikarenakan drone mempunyai kelebihan dalam kemampuan mengambil gambar yaitu mampu mengambil foto atau merekam video dari ketinggian sehingga mampu menghasilkan gambar yang lebih indah dengan sudut pandang yang sulit dijangkau. Melihat perkembangan dan kelebihan teknologi ini, Balai Besar KSDA Jawa Barat pun tertarik untuk ikut memanfaatkannya. Dengan 50 Unit Kawasan Konservasi (KK) yang dikelola dan dengan keterbatasan jumlah SDM di lapangan, maka untuk membantu tugas pengelolaan KK tersebut tentunya sangatlah membutuhkan sentuhan-sentuhan teknologi, antara lain untuk melakukan identifikasi areal gangguan kawasan (perambahan, penebangan liar, kebakaran hutan), informasi spasial kawasan, dokumentasi potensi Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW); fungsi drone sangatlah sesuai. Sedikitnya 20 petugas Seksi Konservasi Wilayah lingkup BBKSDA Jawa Barat pada tanggal 22 Juli 2017 telah dibekali pelatihan dalam penggunaan drone, dengan materi antara lain : pengenalan bagian-bagian dari drone dan fungsinya, cara menerbangkan drone dan cara pengambilan foto atau video dengan drone. Pelatihan ini dilaksanakan di 2 (dua) tempat, yaitu : untuk teori di kantor BBKSDA Jabar dan untuk praktek di lapangan upacara BBKSDA Jabar serta pelataran lapangan sepakbola Gelora Bandung Lautan Api. BBKSDA Jabar, saat ini telah memiliki 4 (empat) unit drone yang akan didistribusikan ke Bidang KSDA Wilayah lingkup BBKSDA Jabar dan 1 (satu) unit ditempatkan di kantor BBKSDA Jabar untuk back-up. Dengan pelatihan ini diharapkan pengelolaan KK lingkup BBKSDA Jabar dapat lebih ditingkatkan baik dari aspek perlindungan maupun identifikasi potensi KK sebagai bahan publikasi. Sumber Info : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Biogas Untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat dan Kelestarian Hutan TN Betung Kerihun

Putussibau, 21 Juli 2017. Program Biogas di Dusun Sadap Desa Manua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu menggunakan bahan baku utama kotoran babi. Kegiatan ini mulai diinisiasi pada tahun 2015 atas kerjasama antara Balai Besar TN Betung Kerihun dengan International Tropical Timber Organization (ITTO), melalui program “Promoting Biodiversity Conservation in Betung Kerihun National Park (BKNP) as the Trans-boundary Ecosystem between Indonesia and Sarawak State of Malaysia (Phase III)”. Kurung waktu 1,5 tahun merupakan proses pembelajaran, trial and eror, dan yang paling penting adalah proses penyiapan masyarakat (cara pandang/pola fikir/motivasi) terhadap suatu perubahan untuk kemajuan dan kesejahteraan mereka. Saat ini, masyarakat Rumah Panjang (Betang) Dusun Sadap sudah siap untuk membangun kampungnya, meningkatkan kesejahteraan warganya melalui pemanfaatan Biogas. Masyarakat secara sukarela bergotong royong membangun kandang babi, membangun tempat penampungan gas dari kotoran babi (degester), membangun kandang sapi dan ruang/aula tempat mereka akan memanfaatkan biogas bagi kehidupan ekonominya. Atas gotong rotong dan kerjasama semua pihak, saat ini gas dari kotoran babi telah digunakan untuk memasak, menghidupkan lampu penerangan, menghidupkan pompa air dan menghidupkan genset untuk membuat sampan/perahu, dll. Atas keberhasilan tersebut, maka mereka menganggap penting untuk mensyukurinya melalui acara adat. Untuk menghasilkan gas, masyarakat secara sukarela memasukkan babi-babi peliharaan mereka ke dalam kandang-kandang yang sudah disiapkan, sampai saat ini telah ada sebanyak 25 ekor babi dari kapasitas kandang untuk 28 ekor babi. Sedangkan untuk kandang sapi tersedia kapasitas untuk 4 ekor sapi, yang nantinya sapi tersebut akan dibelikan oleh pihak Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) dan ITTO. Untuk berbagi rasa syukuran dan bahagia, masyarakat Dusun Sadap mengundang berbagai pihak dalam dalam acara sukuran antara lain, pihak BBTNBKDS, ITTO, Camat, Beberapa Desa dan dusun, tokoh-tokoh adat dari Rumah Betang disekitar mereka. Acara syukuran dimulai dengan Upacara Pedarak, yaitu upacara adat dalam rangka pemberkatan untuk memperoleh berkah dari Tuhan Yang Maha Esa agar Biogas yang sudah dibangun dapat bermanfaat bagi warga Betang Dusun Sadap sehingga nantinya warga Betang Dusun Sadap dapat lebih sejahtera. Upacara adat ini dipimpin langsung oleh Tumenggung Dayak Iban Betang Dusun Sadap yakni Bapak Janggau. Setelah upacara Pedarak, dilanjutkan dengan demonstrasi atau peragaan pemanfaatan Biogas, yakni menghidupkan kompor, lampu strongking, dan generator unit (genset) untuk menghidupkan mesin ketam kayu. Bahkan menurut pengakuan dari salah satu warga yaitu Bpk. Fransiskus Jua, selama biogas ini dioperasikan sudah menghasilkan 1 (satu) buah perahu atau body speed dimana seluruh bahan perahu tersebut diketam dengan menggunakan genset biogas. Dengan demikian tidak perlu bahan bakar minyak (BBM) lagi. Sebagai perbandingan, selama ini masyarakat harus mengeluarkan biaya BBM untuk ketam satu buah sampan sekurang-kurangnya Rp. 250.000,- dengan adanya Biogas dari kotoran babi, mereka tidak perlu lagi mengeluarkan uang. Ketua kelompok pengelola Biogas “Moses Bungkong” dalam laporannya menyampaikan rasa terimakasih kepada pihak BBTNBKDS dan ITTO atas fasilitasi dan pendampingannya sehingga program Biogas ini bisa berjalan dengan baik. Selanjutnya Moses Bungkong juga menyampaikan harapannya agar tetap ada program lanjutan kaitannya pemanfaatan Biogas untuk ekonomi masyarakat seperti, pelatihan pembuatan kripik singkong, kripik rebung, lempok durian, emping jagung, asinan labu, pemanfaatan kompos, pembuatan kerajinan, dll. Kepala Balai Besar TNBKDS yang diwakili oleh Kepala Bidang Teknis Konservasi “Ahmad Munawir, S.Hut, M.Si” dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga Rumah Panjang (Betang) Dusun Sadap atas semangat gotong royong dan motivasi yang tinggi sehingga program Biogas dapat berjalan dengan baik yang saat ini telah mulai diarasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Tujuan utama Program Biogas bukanlah untuk menghasilkan api dan listrik, tapi lebih jauh adalah melalui sarana Biogas masyarakat dapat membangun ekonominya untuk kesejahteraannya melalui usaha-usaha produktif. Buatlah usaha yang pasarnya memang sudah tersedia, coba lihat apa yang dijual di pasar-pasar/toko yang bahan baku utamanya ada di kampung kita, maka cobalah buat produk tersebut. Karena kita masih berada di wilayah perbatasan dengan Serawak (Malaysia) maka buatlah produk/kerajian yang laku di pasar mereka. Untuk mutu dan kualitas, pihak BBTNBKDS dan ITTO bersedia memfasilitasi untuk mendatangkan tenaga-tenaga ahli di bidang yang akan dikembangkan oleh masyarakat. Diujung sambutannya Ahmad Munawir menitip pesan kepada tokoh adat, Kepala Dusun dan Kepala Desa serta Camat Embaloh Hulu agar senantiasa bersinergi dengan BBTNBKDS. Apabila ada hal-hal terkait pengelolaan TN Betung Kerihun di wilayah kecamatan Embaloh Hulu, khususnya Dusun Sadap agar dapat dikomunikasikan dan dibicarakan dengan pihak BBTNBKDS sehingga hubungan baik yang selama ini telah terbangun tetap dapat dipertahankan, dan paling penting adalah kita tetap bersama-sama menjaga kelestarian sumberdaya alam di dalam kawasan TN Betung Kerihun untuk masa depan anak cucu kita, ucapnya. Sumber Info : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi 12 Jenis Pohon Langka Indonesia Regional Kalimantan

PONTIANAK (21/7/2017) – Sejumlah pakar dan pemerhati konservasi pohon langka Indonesia berkumpul guna membahas tentang rancangan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) pohon langka Indonesia pada tanggal 20-21 Juli 2017 di Hotel Mercure, Pontianak. Semakin tingginya ancaman terhadap keberadaan pohon hutan alam dari waktu ke waktu dalam bentuk alih fungsi lahan dan degradasi habitat dipandang sejumlah pihak – baik lembaga pemerintah, non-pemerintah, swasta maupun profesional pemerhati konservasi pohon langka di Indonesia – perlu untuk segera dibahas langkah-langkah konservasi pohon langka tersebut. Saat ini, setidaknya terdapat sekitar 373 jenis pohon Indonesia yang terancam punah dan masuk dalam Daftar Merah IUCN. Sayangnya, upaya konservasi terhadap pohon langka dan terancam di Indonesia belum mendapat perhatian serius dari banyak pihak. Kondisi ini ditambah dengan terbatasnya informasi ilmiah mengenai keberadaan, populasi dan biologi dari jenis-jenis pohon langka. Acara ini secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Marius Marcellus TJ. Di dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa upaya konservasi pohon langka memerlukan sinergi dari berbagai pihak, pemerintah provinsi Kalimantan Barat mendukung upaya perlindungan pohon langka yang diwujudkan salah satunya melalui FGD penyusunan dokumen SRAK Pohon Langka Indonesia ini. Di dalam sambutan yang disampaikan oleh Kasubdit Pengewetan Jenis, Ir. Puja Utama, M.Sc, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati manyampaikan bahwa pertemuan para pihak di tingkat Regional Kalimantan kali ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi terkini sekaligus masukan awal terkait status konservasi dari tiap jenis pohon langka yang tersebar di Kalimantan. Informasi ini lah yang kemudian digunakan untuk menyusun SRAK yang efektif dan tepat sasaran bagi kelestarian jenis pohon langka di Indonesia. Pertemuan ini merupakan rangkaian pembahasan penyusunan SRAK setelah sebelumnya telah dilakukan pertemuan para pihak di Regional Jawa pada tanggal 30 Juni 2017 di Bogor. Informasi yang diharapkan terkait identifikasi lokasi yang dijumpai jenis pohon langka – baik secara historis maupun saat ini, pola sebaran masing-masing jenis pada setiap lokasi, dan perkiraan ukuran masing-masing jenis di setiap lokasi.Selain tujuan di atas, pertemuan tingkat regional ini juga sebagai upaya untuk mengarusutamakan isu konservasi pohon langka Indonesia di tiap regional yang hingga kini masih kurang diperhatikan. Sebanyak 12 ditetapkan sebagai jenis prioritas konservasi pohon langka Indonesia setelah melalui rangkaian pertemuan Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), dikoordinir oleh LIPI dan KKH-KLHK. Enam (6) jenis diantaranya tersebar di Kalimatan, antara lain dua jenis durian, belian/ulin, kapur, mersawa, dan tengkawang. “Forum ini khusus berupaya untuk mencegah kepunahan jenis-jenis pohon langka, memastikan manfaatnya bagi manusia dalam jangka panjang, kelestarian hidup alam liar dan aspek lingkungan yang lebih luas. Menuju kearah tersebut, salah satu gerakan yang dilakukan adalah penyusunan SRAK bagi jenis-jenis prioritas pohon terancam punah,” Ketua FPLI, Prof. Tukirin Pemanenan kayu hutan yang tidak terkendali juga menyebabkan beragam jenis pohon hutan alam menjadi langka dan terancam punah. Kondisi tersebut yang kemudian mendorong banyak pihak untuk bergerak cepat dalam melestarikan jenis-jenis pohon langka, salah satunya melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di tingkat regional sebagai langkah untuk mewujudkan SRAK Nasional. “Salah satu target yang ingin dicapai dalam pertemuan di region Kalimantan ini adalah dapat teridentifikasinya ancaman utama penyebab kepunahan dan yang sedang dihadapi 7 jenis pohon langka pada suatu lokasi, termasuk teridentifiikasinya berbagai faktor pengendali,” tambah Manajer Program Kalimantan Barat, WWF-Indonesia, Albertus Tjiu. Selanjutnya akan dilaksanakan pertemuan Regional Sumatera untuk mengumpulkan informasi terkini para pihak mengenai jenis pohon langka prioritas di Sumatera. Dengan adanya dokumen SRAK Pohon Langka Indonesia, upaya konservasi pohon langka di Indonesia dapat terimplementasi sesuai dengan strategi yang ditetapkan bersama. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Kulim (Scorodocarpus borneensis) masih dijumpai di kawasan TN. Tesso Nilo

Pangkalan kerinci, Juni 2017. Kegiatan Enumerasi plot sampel permanen (PSP) dilakukan oleh personil Balai TN. Tesso Nilo tanggal 13 s.d 22 Juni 2017. Monitoring flora difokus kan pada daerah yang masih berhutan di kawasan TN. Tesso Nilo, tepatnya Resort Onangan Nilo, SPW II Baserah. Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah untuk memonitor keberadaan flora di kawasan TN. Tesso Nilo sehingga data yang diperoleh dapat digunakan untuk sumber rujukan dan rencana pengelolaan kawasan. Kegiatan enumerasi PSP tersebut menemukan masih terdapat berbagai jenis pohon langka diantaranya pohon kulim (Scorodocarpus borneensis). Pohon kulim khususnya di provinsi Riau merupakan jenis yang keberadaannya semakin langka. Penyebab kelangkaan tersebut karena pemanfaatan kayunya namun belum ada upaya budidaya. Kawasan TN. Tesso Nilo masih menyimpan potensi indukan pohon kulim. Hasil enumerasi PSP yang dilakukan menemukan beberapa individu berukuran diameter 70 s.d 100 cm dan juga di jumpai anakan kulim tersebar disekitarnya. Keberadaan pohon pohon langka seperti kulim di kawasan TN. Tesso Nilo membuatnya menjadi semakin penting untuk dijaga dan dilindungi. Sumber: TN Tessonilo
Baca Berita

Menjalankan Amanah Menjaga Keutuhan Kawasan dan Meningkatkan PNBP Dari Pariwisata Alam

Gilimanuk, 21 Juli 2017. Taman Nasional Bali Barat merupakan Kawasan Pelestarian Alam yang seluas 19.026.000 Ha terdiri dari daratan dan perairan, secara administrasi pemerintahan berada di Kabupaten Jembrana dan Buleleng, Provinsi Bali. Kekayaan pulau Bali yang sudah mendunia dan tidak perlu diragukan lagi baik di sisi keindahan alam, kekayaan adat istiadat dan budaya serta keramahan penduduknya memberikan nilai plus untuk julukan sebagai Pulau Dewata. Nilai eksotisme Pulau Bali yang mendunia juga ikut bergema sampai ke Bali sisi barat, dimana terdapat satu-satunya Taman Nasional di Provinsi Bali. Keindahan lanskap panorama alam dan juga kekayaan fauna seakan berpadu untuk menyambut para wisatawan berkunjung dan menikmati untuk waktu yang lama. Mulai dari pantai lovina, Pulaki, Taman Laut Pemuteran, Mata air panas banyuwedang hingga keindahan bawah laut Pulau Menjangan merupakan sedikit dari banyaknya destinasi yang potensial untuk dikembangkan. Pulau Menjangan merupakan bagian dari perairan Taman Nasional Bali Barat, selain itu juga ada obyek wisata alam lainnya yang juga potensial dikembangkan seperti wisata safari tour di savana semenanjung Prapat Agung, treking di hutan Teluk Terima hingga atraksi burung-burung pada paket bird watching. Bersama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, TN. Bali Barat masuk dalam rayon 2 untuk penetapan tarif atas jasa PNBP sesuai PP 12 tahun 2014. Pada high season di TN. Bali Barat mulai bulan Juli – September, aktivitas turis mancanegara bisa dikatakan sangat luarbiasa, hasil pendataan pada tahun 2016 (high season) jumlah kunjungan mencapai mendekati 40.000 orang, dan puncaknya ialah pada bulan Agustus yaitu mencapai 18.000 orang untuk aktivitas berwisata saja. Namun tentunya keutuhan ekosistem perlu dijaga dengan pengawasan yang ketat terhadap dampak dari kunjungan seperti sampah plastik, menginjak karang dan mungkin mengambil tumbuhan dan satwa liar. Untuk itu pada saat-saat ini perhatian petugas TNBB dalam pengawasan aktivitas kunjungan wisata sangat ekstra selain juga tetap menjalankan rutinitas dan tupoksi pelaksanaan pengelolaan TN. Bali Barat. Setiap harinya pengawasan di pintu-pintu masuk lokasi wisata alam serta di lokasi wisata alam dilakukan oleh petugas di lapangan untuk meminimalisir kebocoran dan permainan tiket yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tentunya terkait harga 1 lembar tiket masuk untuk wisatawan mancanegara mencapai Rp. 200.000,00/orng/hari. Sumber Info : Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Lokakarya Insepsi Forest Programme III – Sulawesi

Palu, 21 Juli 2017. Forest Programme III (FP III) merupakan sebuah proyek dibawah Kementerian LHK dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Ekonomi dan Pengembangan Kerjasama pemerintah Federal Jerman (BMZ) melalui Kreditanstalt für Wiederaufbau/ Entwicklungsbank (KfW). Berdasarkan Keputusan Sekretaris Jenderal Kementerian LHK Nomor SK. 95/Setjen-ROKLN/2015 tanggal 6 Oktober 2015 tentang Penunjukan Executing Agency Proyek Kerjasama Luar Negeri Lingkup Kementerian LHK, Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) Ditjen KSDAE sebagai Project Executing Agency (PEA) FP III. Dalam implementasi kegiatannya, konsorsium konsultan yang terdiri dari AHT GROUP AG (AHT), PT Hatfield Indonesia (PTHI), dan Swisscontact ditunjuk untuk mendampingi proyek FP III di Sulawesi Tengah. Untuk Kementerian LHK ada 3 Programme Implementation Unit (PIU), yaitu Ditjen KSDAE (Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu), Ditjen PDASHL (Balai PDASHL Palu Poso) dan Ditjen PSKL (Balai PSKL Sulawesi). Proyek ini juga didukung oleh proyek EPASS (Enhancing Protected Area System in Sulawesi) yang sudah lebih dulu dimulai dan ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh FORCLIME GIZ. Dengan tujuan untuk membangun kesepahaman bersama, melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap strategi implementasi, memperkuat sinergitas, kerjasama, koordinasi dan nilai-nilai bersama antar pemangku kepentingan, dan membangun mekanisme monitoring dan evaluasi bersama terhadap pelaksanaan proyek FP III, Konsultan bersama PEA, PIU dan para pihak melaksanakan kegiatan Lokakarya Insepsi FP III – Sulawesi yang dilaksanakan pada tanggal 19 s.d 21 Juli 2017 di Hotel Santika, Palu. Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur PIKA, Kepala Balai Besar TNLL, Kepala Balai PSKL Wilayah Sulawesi, Kepala Balai Pengelolaan DAS Palu Poso, CTA FP III, Senior Adviser for Biodiversity, Focal Point for the KfW-Forest Programme III and Provincial Coordinator Central Sulawesi dan fasilitator desa yang ditunjuk untuk implementasi proyek. Hasil yang diharapkan dari terselenggaranya kegiatan ini adalah terbangunnya strategi pelaksanaan program FP III yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan di lapangan, terbangunnya kerjasama, koordinasi, dan komunikasi baik internal maupun eksternal FP III, dan terbangunnya mekanisme monitoring dan evaluasi atas dasar dialog/komunikasi baik untuk tujuan pelaporan maupun proses yang konstruktif. Sumber Info : Humas Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Aksi Bersih Sampah Balai Taman Nasional Bunaken

Manado, Jumat 21 Juli 2017. Balai Taman Nasional Bunaken mengadakan Aksi Bersih Pantai, Laut, Muara Sungai dan Pulau yang melibatkan masyarakat dan Instansi terkait. Aksi bersih ini terlaksana atas kerjasama Balai Taman Nasional Bunaken dengan beberapa Instansi antara lain Sekretaris Daerah Provinsi Silawesi Utara melalui Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Provinsi Sulawesi Utara, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Utara, POLDA Sulawesi Utara, KODAM XIII MERDEKA, Badan Penangulangan Bencana Daerah Sulawesi Utara, Camat di lokasi aksi bersih, Lembaga Swadaya Masyarakat, Saka Wanabakti Provinsi Sulawesi Utara dan masyarakat di sekitar lokasi aksi bersih. Lokasi aksi besih dilaksanakan di enam titik antara lain: Muara Sungai Terminal Malalayang dan pantai sekitarnya, Muara Sungai Bahu dan patai sekitarnya, Mura Sungai Sario dan patai sekitarnya, Muara Sungai Tondano (Kali Jengki sampai dengan Pantai Sindulang), Muara Sungai Tumumpa dan pantai sekitarnya, serta Pulau Bunaken dan pantai sekitarnya. Peserta aksi di masing-masing lokasi mencapai lima puluh sampai seratus orang. Sampah yang berhasil di bersihkan mencapai lima ratus karung plastik. Aksi Bersih Pantai, Laut, Muara Sungai dan Pulau kali ini mengusung beberpa tema antara lain : Tema sengaja menggunakan bahasa lokal tujuannya mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Ir. Ari Subiantoro, MP. dalam memimpin apel di areal Marina Plaza mengatakan bahwa tujuan aksi bersih ini adalah untuk membersihkan sampah di lokasi aksi dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat disekitar lokasi aksi untuk sadar lingkungan dengan tidak buang sampah di sungai dan pantai. Dalam kesempatan aksi bersih ini Balai Taman Nasional Bunaken menyerahkan tempat sampah kepada pemerintah Kelurahan di lokasi aksi bersih. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Chandra Putra, SP. Selaku Ketua Tim Pelaksana Aksi Bersih Balai Taman Nasional Bunaken, di sela-sela kegiatan mengatakan bahwa persolan sampah menjadi masalah yang klasik di Taman Nasional Bunaken, sampah selalu ada dikarenakan letak geografis lima pulau yang ada di Taman Nasional Bunaken berada di sekitar Teluk Manado yang terdapat setidaknya lima muara sungai di dalamnya. Sampah di Taman Nasional Bunaken sebagian besar merupakan sampah kiriman dari sungai yang bermuara di Teluk Manado dan beberapa sungai yang bermuara di pantai Klasey Kabupaten Minahasa sampai dengan Pantai Popareng Kabupaten Minahasa Selatan, selain itu dari beberapa sungai dan pantai di Desa Tiwoho sampai dengan Desa Wori kabupaten Minahasa Utara. Di saat angin barat dalam musim hujan yang terjadi pada periode bulan-bulan diakhir tahun, sampah yang masuk ke kawasan Taman Nasional Bunaken tidak terkendali. “baru dibersihkan jam delapan pagi, belum kering keringat di badan sampah sudah datang lagi” Sumber Info : Pandu Wijaya - POLHUT SPTN Wil. I Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

BKSDA Jateng Menerima Elang Brontok Dari Warga

Surakarta (21/7/2017) – Balai KSDA Jawa Tengah menerima penyerahan satu ekor Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) oleh seorang warga yang bernama Anwar berdomisili di Tawangsari, Sukoharjo. Anwar menyelamatkan Elang Brontok tersebut dan sempat merawatnya selama Dua Minggu sebelum akhirnya diserahkan ke Balai KSDA Jawa Tengah, dan diterima oleh Seksi Konservasi Wilayah I di Surakarta. Adapun kondisi Elang Brontok cukup sehat, meskipun ada bekas luka tembak di sayap bagian kiri. Elang Brontok tersebut langsung dititipkan ke Lembaga Konservasi terdekat yaitu Taman Satwa Taru Jurug yang berlokasi di Jalan Ir. Sutami 40, Solo, Jawa Tengah, Slamet Riyadi, Solo. Burung elang brontok mempunyai habitat mulai dari padang rumput, kebun, sumber air yang dikelilingi pohon, perkebunan teh, hutan dekat perkampungan, bahkan hingga di pinggir perkotaan. Umumnya hidup di daerah berketinggian di bawah 1.500 m dpl meskipun terkadang ditemukan juga hingga di ketinggian 2.200 m dpl. Daerah sebaran burung elang brontok cukup luas. Selain di Indonesia rajawali ini hidup juga di Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia sendiri elang brontok atau sang rajawali ini tersebar mulai dari pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Sumber: BKSDA Jateng
Baca Berita

BKSDA Kalteng Bina Kelompok Pecinta Alam

Palangka Raya, 21 Juli 2017 - Untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan Kelompok Pencinta Alam dalam tugasnya sebagai mitra bina cinta alam, BKSDA Kalteng mengadakan Pembinaan Kelompok Pencinta Alam. Kegiatan dilaksanakan tgl 6-7 juli 2017 di TN Tanjung Puting dan TWA Tanjung Keluang di Kotawaringin Barat. diikuti oleh KPA dari Palangka Raya dan Pangkalan Bun. yaitu Sispala Linggar Enggang (MAN Model P. Raya), D Nava (SMAN 1 P.Bun) Ever Green (SMAN 2 P.Bun), D'Kloser (SMAN 3 P.Bun), Salim Salam (SMKN 1 P.Bun) dan Pondok Ranting Hijau (Umum) dengan total peserta 30 org. Para peserta diajak camping di TWA Tanjung Keluang, kunjungan ke Taman Nasional Tanjung Puting untuk melihat rehabilitasi orangutan, belajar materi navigasi dan perpetaan, rehabilitasi kawasan, konservasi penyu, penanaman, patroli penyu, tracking dan survival. Sumber: BKSDA Kalimantan Tengah

Menampilkan 10.337–10.352 dari 11.141 publikasi