Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

KLHK Pantau Langsung Kebakaran di Aceh

SIARAN PERS Nomor : SP. 154/HUMAS/PP/HMS.3/07/2017 Jakarta, Biro Humas Kementerian LHK, Jumát, 28 Juli 2017. Menindaklanjuti status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Aceh, Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang dipimpin oleh Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL), Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), memantau langsung perkembangan kejadian karhutla di Aceh pada hari Jumát (28/07/2017). Berdasarkan hasil pemantauan Tim KLHK, beberapa lokasi kebakaran masih ditemukan di Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan. Sampai saat ini, kegiatan pemadaman melalui darat giat dilakukan oleh Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdalkarhutla), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, KLHK bersama Manggala Agni Daops Sibolangit, dan Kodim Aceh Barat. Sejumlah 20 orang personel dikerahkan untuk memadamkan kebakaran tersebut, dengan didukung empat unit mobil, satu pompa air lengkap, delapan pompa punggung, dan dibantu Water Bombing oleh dua unit helikopter BNPB, dengan total kapasitas tiga ton air. Sampai saat ini, jumlah titik api menurun cukup signifikan, dan kabut asap sudah berkurang. Turunnya hujan di lokasi juga turut membantu upaya pemadaman. Sebagai bentuk penguatan koordinasi, Direktur PKHL, Raffles B. Panjaitan, sebelumnya melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah untuk membahas langkah teknis dan strategis jangka pendek dan jangka panjang upaya pengendalian karhutla di Aceh. Dari hasil pertemuan tersebut, disepakati bahwa upaya pencegahan kebakaran sedini mungkin merupakan hal yang paling penting, karena upaya pemadaman akan sangat sulit dilakukan dan menimbulkan kerugian sosial ekonomi yang sangat besar. Saat ini Pemerintah Provinsi Aceh telah membentuk tujuh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), dengan jumlah tenaga sumber daya manusia (SDM) sebanyak masing-masing 100 orang. Mengingat beberapa KPH merupakan lokasi rawan karhutla, Raffles menyarankan agar Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan(Brigdalkarhutla) dibentuk di setiap KPH. “Dari pembentukan KPH tersebut, kami menyarankan agar Pemprov Aceh membentuk Brigdalkarhutla untuk masing-masing KPH, dengan dukungan sarana dan prasaranaakan dari Direktorat PKHL, KLHK, termasuk dalam peningkatan kapasitas”, ujar Raffles menanggapi permintaan Pemprov Aceh, untuk membentuk satuan Manggala Agni baru di Aceh. Sejalan dengan Peraturan Menteri LHK Nomor. 32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Nova menyampaikan bahwa Pemprov Aceh telah menerbitkan Peraturan Gubernur Aceh Nomor. 20 Tahun 2016 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Aceh, dengan prioritas kegiatan berupa pencegahan. “Kami (Gubernur dan Wakil Gubernur) sangat mendukung penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan, dan sudah meminta aparat penegak hukum di Aceh untuk lebih proaktif”, tegas Nova. Selain itu, Nova juga berkomitmen akan melakukan pengawasan terhadap pemegang ijin konsesi kehutanan dan perkebunan, dan memantau karhutla di Provinsi Aceh setiap jam. (*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Berita

Area Seluas 10 Hektar di Taman Wisata Alam Cimanggu Berhasil Disterilkan dari Penggarap

Bandung (28/7/2017). Setelah menuai kesuksesan pada kegiatan bertajuk “Penertiban dan Pemulihan Ekosistem Kawasan Berbasis Partisipasi Masyarakat” tahap pertama yang dilaksanakan di Blok Kancah Nangkub dan Batu Ireng, Cagar Alam (CA) Gunung Simpang, Kabupaten Cianjur pada medio Juli 2017 lalu, Balai Besar KSDA Jawa Barat kembali melaksanakan kegiatan yang sama di kawasan konservasi lain. Kali ini, kawasan konservasi yang menjadi target adalah Taman Wisata Alam (TWA) Cimanggu, Kabupaten Bandung. Puncaknya, pada tanggal 27 Juli 2017 dilakukan penanaman secara simbolis sekitar 200 bibit tanaman endemik (seperti puspa, rasamala, jamuju dan baros) dari target 4000 bibit tanaman yang akan ditanam pada area eks penggarapan tersebut. Kegiatan penanaman itu disaksikan oleh Camat Rancabali, Danramil Ciwidey, Kapolsek Ciwidey, Kepala Balai PPH Kemen LHK, Kepala Divisi Produksi non Kayu Perum Perhutani, para pemegang IPPA dan Pengelola Wisata sekitar TWA Cimanggu, Kepala Desa Patengan dan Alam Endah, petugas Balai Besar KSDA Jabar, Perum Perhutani, Anggota SPORC Brigade Elang, tokoh masyarakat, serta masyarakat eks penggarap berjumlah 115 orang. Kegiatan ini juga disertai dengan penyerahan secara simbolis surat pernyataan dari salah seorang penggarap kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat yang berisi kesediaan mereka untuk meninggalkan lahan garapan di TWA Cimanggu. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ir. Sustyo Iriyono, M.Si. menyatakan bahwa kegiatan “Penertiban dan Pemulihan Ekosistem Kawasan Berbasis Partisipasi Masyarakat” ini merupakan sebuah langkah awal untuk mengembalikan kawasan konservasi yang dirambah/diokupasi kepada fungsi sesungguhnya hingga terwujud keseimbangan alam hayati dan ekosistemnya di kawasan konservasi tersebut. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini berbasis partisipasi masyarakat yang mengandung arti bahwa masyarakat tidak hanya dijadikan sebagai obyek saja, tetapi terlibat secara langsung dalam kegiatan. Oleh karena itu, semangat yang dibangun dalam kegiatan ini adalah semangat kebersamaan sehingga yang dikedepankan adalah pendekatan-pendekatan persuasif, jauh dari pola-pola represif. Masyarakat setempat diajak berdialog sambil terus diberikan pemahaman-pemahaman yang mendasar tentang kawasan konservasi. Dengan demikian, diharapkan tidak ada gejolak sosial setelah kegiatan berakhir. Di samping itu, komunikasi dan koordinasi juga dilakukan dengan berbagai stakeholder mulai dari aparat desa, aparat Kecamatan, pemerintah daerah, Polda, Polres, Polsek, LSM, tokoh masyarakat, dan lembaga/instansi lainnya guna mendukung kegiatan ini. Sumber: BBKSDA Jabar
Baca Berita

Jumat Sehat Bersama TN Ujung Kulon

Banten, 28 uli 201 - Setiap hari jumat, Balai TN Ujung Kulon secara rutin mengadakan senam bersama untuk menjaga kesehatan yang bertempat dihalaman kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Tapi lain halnya pada hari Jumat 28 Juli 2017, pegawai Balai TN Ujung Kulon mengadakan kegiatan “Jumat Sehat Bersama” dengan beberapa kegiatan diantaranya jalan santai, balap lari, senam dan ditutup dengan makan-makan. Jalan santai dimulai dari kantor balai TN Ujung Kulon menuju pantai Caringin. Tidak hanya jalan santai, Kepala Balai TN. Ujung Kulon dan para pegawai juga melakukan balap lari di pesisir pantai dengan penuh semangat. Kemudian para pegawai mengikuti senam yang di pimpin oleh salah satu instruktur dari tim sanggar senam Labuan. Senam pun berjalan dengan lancar dan penuh semangat. Setelah kegiatan dipantai selesai, Kepala Balai TN Ujung Kulon dan para pegawai kurang lebih berjumlah 30 orang kembali ke kantor untuk makan bersama (babacakan). Kegiatan “Jumat Sehat Bersama” ini bertujuan untuk menjaga silaturahmi dan meningkatkan kekompakan seluruh pegawai balai Taman Nasional Ujung kulon serta menambah kebugaran dan kesehatan badan. Sumber: BTN Ujung Kulon
Baca Berita

FGD Penyusunan Masterplan Pemberdayan Masyarakat Daerah Penyangga TWA Gunung Selok

Semarang, 28 Juli 2017. Balai KSDA Jawa Tengah kembali melakukan kegiatan penyusunan masterplan pemberdayaan masyarakat Daerah Penyangga TWA Ginung Selok di Desa Karangbenda, Kec.Adipala, Kab. Cilacap. Bertempat di Aula Balai Desa Karangbenda, kegiatan ini dilakukan melalui FGD (Focus Group Discussion) dalam rangka persiapan dan entry meeting kepada para pihak dalam rangka menyusun rencana program pemberdayaan masyarakat di Desa Karangbenda selama periode 5 tahun (2017-2021). Dalam kegiatan FGD ini Balai KSDA Jateng menyampaikan bahwa "arah kedepan dalam pemberdayaan masyarakat di desa penyangga sekitar Kawasan Konservasi, saat ini Balai KSDA baru bisa mendampingi 3 desa sebagai Desa Konservasi (desa binaan) dari 52 desa penyangga yang ad di 33 kawasan konservasi BKSDA Jateng . Saat ini masih banyak kendala dalam kegiatan pemberdayaan di Balai KSDA Jateng, diataranya belum adanya rencana kegiatan jangka panjang yang runtut, kurangnya pendampingan dan bantuan yang diberikan tidak sesuai dengan kondisi/potensi desa dan kebutuhan masyarakat setempat. Kondisi seperti ini yang kemudian mengharuskan adanya sebuah Masterplan pemberdayaan masyarakat." Dalam kegiatan FGD merupakan tahap awal dalam menyusun masterplan dan diharapkan nantinya dokumen yang dihasilkan bisa menjadi acuan yang bisa dijadikan pegangan masyarakat yang diakui oleh para pihak. dalam penyusunan ini ide, gagasan dan strategi bersumber dari masyarakat sendiri, hal ini diharapkan kegiatan pemberdayaan masyarakat harus berbasis ekonomi dengan mengoptimalkan potensi desa yang ada tanpa merusak dan mengancam kelestarian hutan. FGD ini dihadiri oleh stakeholders terkait diantaranya Pemerintah Desa Karangbenda, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Daerah (OPD), Perhutani, tokoh masyarakat, perwakilan KTH,MPA dan MMP. Hasil dari FGD ini nantinya akan ditindaklanjuti dengan kegiatan sosialisasi draft materplan untuk mendapatkan dokumen finalnya. Sumber Info : Ikwan Prianto, S.Hut - Balai KSDA Jawa Tengah
Baca Berita

Balai TN. Kayan Mentarang Lepas Kukang Hasil Penyerahan dari Warga

Malinau, 28 Juli 2017. Balai TN. Kayan Mentarang (TNKM) menerima satwa liar dilindungi berupa kukang (Nycticebus coucang) sebanyak 2 (dua) ekor hasil penyerahan dari warga yang bernama Karama, seorang Petani yang beralamat di Desa Malinau Hulu Kecamatan Malinau Kota Kabupaten Malinau. Berdasarkan penuturan Karama, bahwa satwa tersebut ditemukan di sekitar kebunnya (23/07/2017) ketika membersihkan kebunnya di daerah Sembuayo Desa Pulau Betung malinau. Pihaknya mengaku sempat memelihara satwa dalam beberapa waktu sehingga kemudian baru bisa diserahkan ke BTN. Kayan Mentarang pada Jum’at (28/07/2017) pukul 09.00 wib. Sebelumnya, Tim Rescue TSL BTNKM mengetahui adanya informasi kepemilikan satwa liar yang dilindungi Undang-uandang tersebut dan telah mendatangi serta memberikan sosialiasi kepada yang bersangkutan tentang larangan untuk memelihara jenis TSL yang lindungi dan yang bersangkutan bersedia menyerahkan secara sukarela. Sebagai upaya konservasi Insitu, mengingat satwa tersebut baru ditemukan masyarakat sehingga masih kuat sifat liar dan agresifitasnya. Balai TN. Kayan Mentarang melakukan rilis ke habitatnya dan disaksikan oleh pihak Dinas Kehutanan Propinsi Kaltara, Dosen Universitas Unmul Samarinda dan WWF Project Kayan Mentarang. Lokasi Pusat Bina Cinta Alam TNKM KM. 8 dipilih sebagai lokasi lepas liar mengingat lokasi ini relatif aman dari gangguan dan ketersediaan pakan satwa yang cukup Sumber Info : Tim Publikasi Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

Kelahiran Bayi Orangutan di Jatim Park

Batu, 27 Juli 2017. Seekor Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Lembaga Konservasi PT. Bunga Wangsa Sedjati (Jawa Timur Park) Kota Batu – Jawa Timur melahirkan satu ekor anak pada hari Senin, 24 Juli 2017 pukul 02.00 Wib dengan berat 1,6 kg. Bayi Orangutan tesebut dilahirkan dari pasangan indukan bernama Bontang (?) dan Toti (?). Induk dan bayi orangutan dalam kondisi kesehatan yang baik setelah proses melahirkan. Saat ini bayi orangutan tersebut belum diberi nama. Perkembangan terakhir kondisi bayi orangutan tersebut pada dua hari ini induknya tidak mau menyusui, pihak Jatim Park masih berupaya agar induk orangutan tersebut mau menyusuinya. Sumber Info : Balai Besar KSDA Jawa Timur dan Biro Humas KLHK
Baca Berita

60 Siswa SMP dan SMA Ikuti Kemah Konservasi TN Tesso Nilo 2017

Lubuk Kembang Bunga, 27 April 2017. Balai TN. Tesso Nilo melaksanakan kegiatan kemah konservasi tahun 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Bumi perkemahan TN. Tesso Nilo, SKW Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Resort Air Hitam Bagan Limau. Kegiatan berlangsung selama 3 hari yaitu 24 April s.d 26 April 2017. Peserta kemah konservasi TN. Tesso Nilo 2017 berjumlah 60 siswa dan siswi yang berasal dari 6 sekolah setingkat SMP dan SMA di sekitar kawasan TN. Tesso Nilo. Berbagai agenda kegiatan bertemakan konservasi menjadi menu dari kemah konservasi TN. Tesso Nilo ini. Agenda tersebut diantaranya: Kegiatan-kegiatan tersebut dipandu dan dibimbing oleh kakak-kakak dari Ka Balai TN. Tesso Nilo, Supartono, S.Hut, MP, Ka SPW I LKB, Penyuluh, PEH dan Polhut Balai TN. Tesso Nilo, Pembina Kwarran Ukui, TIM Tiger WWF Riau dan Tim Flying Squad. Dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan tersebut diharapkan pesan-pesan konservasi dapat dipahami dan disadari peserta dan nantinya menyebar kepada masyarakat sekitar. Sumber Info : Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Balai TN Tesso Nilo Dan Masyarakat Mitra Polhut Musnahkan Jembatan Perambah

Air Sawan (LKB), 27 Juli 2017. Aksi para perambah di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) semakin berani dan membabi buta. Perambahan baru makin hari bertambah luasnya, terutama terjadi pada lokasi Sungai Air Sawan. Oknum masyarakat yang diduga kuat melakukan kejahatan ini adalah para aktor dari Dusun Toro Jaya Desa Lubuk Kembang Bunga. Saat ini perambahan baru kembali terjadi pada tegakan hutan yang masih tersisa. Informasi dilapangan bahwa saat ini para oknum penjual lahan dari Toro Jaya terkesan tidak punya rasa takut sama sekali. Hutan dibuka lalu dijual pada orang-orang berduit. Pembukaan hutan aksesnya dimulai dari Toro Jaya menuju Sungai Sawan. Untuk mempermudah akses menyeberangi Sungai Sawan tersebut mereka mulai berani membangun jembatan kayu yang bukan hanya biaa dilewati oleh manusia tapi juga dengan kendaraan roda 2. Informasi dibangunnya jembatan itu cepat terlacak oleh BTNTN, sehingga Kepala Balai dengan segera menurunkan tim untuk melakukan pengecekan kelokasi (TKP). 4 (empat) orang personil BTNTN kemudian dibantu oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Desa Lubuk Kembang Bunga bergerak pada hari Kamis tanggal 27 Juli 2017. Perjalanan diawali dari kantor SPW I LKB pada pukul 08.00 Wib. Menuju lokasi dengan berjalan kaki, hampir 4 jam melakukan perjalanan tim sampai di lokasi jembatan yang sudah dibangun sejak 1 (satu) minggu yang lalu tersebut. Kontruksi jembatan dibangun berbahan kayu setinggi 4 meter dari sungai dan panjang sekitar 20 meter, lebar 1,5 meter. Setelah dilakukan pengambilan dokumentasi tim segera bertindak memusnahkan jembatan tersebut dengan cara memotong tiang-tiang, kayu rangka dan lalu merobohkan. Setelah itu sebagian potongan jembatan dihanyutkan di dalam Sungai Sawan. Pembangunan jembatan ini adalah kejadian yang pertama kali ditemukan di dalam kawasan TNTN. Hal ini tentu membuktikan bahwa ancaman terhadap hutan yang masih tersisa semakin tinggi. Para pemain penjual lahan masih berkeliaran mengambil keuntungan pribadi. Pergerakan mafia-mafia semakin masif dan terorganisir. Andaikan kejahatan kehutanan ini di TNTN bisa disebut Extra-Ordinary Crime tentu penanganan dan pemberantasannya juga dibutuhkan tindakan yang extra. Harapannya selaku abdi negara level rendah kehadiran Negara untuk mengambil keputusan tegas tentu sungguh-sungguh dinanti. Semoga... Sumber Info : Ahmad Gunawan - Polhut BTN. Tesso Nilo
Baca Berita

Aksi Edukasi Konservasi Balai KSDA Sumsel di Besemah Expo 2017

Pagar Alam, 27 Juli 2017. Besemah Expo 2017 merupakan pameran yang diselenggarakan oleh Pemkot Pagar Alam pada tanggal 26-30 Juli 2017. Besemah Expo rutin dilakukan per tahun dimana penyelenggaraan kali ini untuk kedua kalinya Seksi Konservasi Wilayah 2 Lahat (SKW 2 Lahat) BKSDA Sumatera Selatan berpartisipasi mengikutinya. Namun hal berbeda kami lakukan pada keikutsertaan kali ini yang mana selain meyampaikan nilai penting konservasi dan aktivitas konservasi yang dilakukan BKSDA Sumatera Selatan, mengedukasi anak-anak sebagai generasi masa depan menjadi pilihan utama yang mendominasi aktivitas stand SKW 2 Lahat. Lomba mewarnai, pemutaran film bertema konservasi, dan bercerita tentang kekayaan alam dan peran pentingnya bagi kehidupan manusia menjadi sarana untuk mengedukasi anak-anak yang setiap hari selalu memenuhi stand SKW 2 Lahat yang berdasarkan data sebanyak 139 anak yang mengunjungi dan beraktivitas dan kami edukasi tentang konservasi. Kami selalu berupaya untuk melakukan edukasi kepada anak-anak melalui kegiatan kampanye dan pameran sebagai media penyampaiannya dengan harapan dapat menanamkan rasa kecintaan terhadap alam karena merekalah generasi yang akan menentukan masa depan konservasi. Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Mengenal Lebih Jauh Masyarakat Desa-Desa Penyangga di Sumsel

Palembang (27/72017). Pengelolaan kawasan konservasi tidak mungkin hanya dilakukan oleh pengelola kawasan mengingat keterbatasan jumlah petugas terhadap luasan kawasan yang dikelola. Salah satu mitra pengelolaan yang memiliki peran penting terutama dalam aktivitas perlindungan dan pengamanan kawasan adalah masyarakat desa-desa penyangga kawasan konservasi. Mengingat akan peran penting tersebut terlintas sebuah pertanyaan seberapa jauh pengelola kawasan mengenal masyarakat desa-desa penyangga yang dikatakan memiliki peran penting terhadap perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi. Kegiatan pendataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat desa-desa penyangga yang dilakukan di Desa Perangai (penyangga Suaka Margasatwa Isau-Isau) dan di Desa Pagarjati (penyangga Hutan Suaka Alam Kawasan Gumai Tebing Tinggi) merupakan kegiatan yang dilakukan selain untuk lebih mengenal kondisi masyarakat juga mengumpulkan data sebagai bahan kajian tingkat perekonomian masyarakat yang berdampingan dengan kawasan konservasi sehingga berdampak tekanan terhadap kawasan. Kegiatan pendataan kondisi sosial ekonomi dan tekanan masyarakat dalam kawasan dilakukan di Desa Perangai, Kec. Merapi Selatan, Kab. Lahat dan Desa Pagarjati, Kec. Kikim Selatan, Kab. Lahat dilakukan oleh seluruh personil RKW V Isau-Isau dan RKW VI Tebing Tinggi pada tanggal 17 sd 21 bulan Juli 2017. Kegiatan dilakukan untuk mendata jumlah keluarga per kepala keluarga (nama, usia, dan jenis kelamin), tingkat pendidikan, pekerjaan utama, pendapatan per bulan, pembukaan kebun dalam kawasan (jumlah, luasan, dan lokasi), dan mengambil titik koordinat setiap rumah yang didata sehingga dapat terpetakan kondisi sosial ekonomi masyarakat desa-desa penyangga. Pendataan tekanan masyarakat dalam kawasan melalui data pembukaan kebun dalam kawasan dapat menjadi kajian seberapa jauh tingkat tekanan masyarakat desa-desa penyangga yang apabila dikaitkan dengan data kondisi perekonomiannya akan terlihat tekanan terhadap kawasan tersebut apakah untuk kebutuhan primer saja atau sudah untuk investasi bahkan perluasan wilayah tempat tinggal dikarenakan laju pertumbuhan penduduk. Selain itu data yang terambil dalam kegiatan ini dapat memetakan prosentase tekanan kawasan oleh masyarakat desa-desa penyangga dan masyarakat di luar desa-desa penyangga sebagai bahan untuk strategi pengelolaan masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi. Sebuah catatan bahwa mengenal masyarakat desa-desa penyangga bukan hanya sekedar data fisik keberadaan desa tetapi upaya untuk mengenal kondisi sosial dan ekonominya menjadi penting supaya kita lebih peduli dan memahami alasan masyarakat desa-desa penyangga melakukan tekanan dalam kawasan konservasi untuk sebuah solusi perlindungan dan pengamanan kawasan dengan mengelola masyarakat desa-desa penyangga. Sumber Info : Itok Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Pendidikan Konservasi Bagi Anak Usia Dini SD Pantai Maloba

Waibakul, 26 Juli 2017. Bertempat di Sekolah Dasar (SD) Pantai Maloba, Desa Konda Maloba Kecamatan Katikutana Selatan Kabupaten Sumba Tengah - NTT, Tim SPTN Wilayah I Waibakul Taman Nasional MaTaLaWa melaksanakan Kegiatan Sosialisasi Konservasi ke Sekolah, sebagai wujud penyadartahuan akan pentingnya konservasi sejak usia dini. Lokasi sekolah yang berbatasan langsung dengan kawasan TN MaTaLaWa dan Desa Konda Maloba merupakan salah satu desa penyangga kawasan konservasi yang cukup terisolir, merupakan salah satu pertimbangan dalam pemilihan lokasi kegiatan. Kegiatan Sosialisasi Konservasi ke Sekolah diikuti oleh 50 Siswa/i kelas 5 (lima) yang berasal dari SD Pantai Maloba, sedangkan tim pendamping dari TN Matalawa dipimpin langsung oleh Kepala SPTN I Waibakul (Abdul Basit Nasriyanto, S.Hut.,M.Sc) dibantu 3 (tiga) orang staf SPTN I Waibakul. Adapun bentuk pelaksanaan kegiatan sosialisasi diantaranya ; Sambutan Pihak Sekolah, kampanye lingkungan hidup, lomba mewarnai, penutupan dan foto bersama. Pihak Sekolah yang diwakili oleh Bpk. Simon Siwa Balla (Kepala Sekolah) mengucapkan terima kasih atas kunjungan TN MaTaLaWa, serta berharap apa yang disampaikan kepada anak didiknya dapat dipahami dan diikuti oleh siswa/i SD Pantai Maloba. Kepala SPTN I Waibakul, mengutarakan hal yang sama atas sambutan dan kesediaan pihak sekolah memfasilitasi kegiatan sosialisasi ini. Selain itu, beliau berharap siswa/i SD Pantai Maloba dapat ikut berpartisipasi dalam upaya menjaga dan melestarikan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, membakar padang dan ikut memburu satwa yang berada didalam kawasan TN MaTaLaWa. Sumber Info : Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Pemusnahan Pondok Di Bukit Belawang oleh BKSDA Sumsel

Lahat, 26 Juli 2017. Bukit Belawang dengan ketinggian 1.226 mdpl merupakan hutan primer yang memiliki peran penting sebagai daerah tangkapan air yang saat ini ditekan secara masif oleh masyarakat yang berasal bukan dari desa-desa penyangga dimana hal tersebut menjadikan Bukit Belawang menjadi salah satu target patroli fungsional. Kegiatan patroli fungsional dilaksanakan pada tanggal 22-25 Juli 2017 di kawasan HSA Gumai Tebing Tinggi dengan target Bukit Belawang yang secara administratif masuk dalam wilayah Desa Bandu Agung, Kec. Muara Payang, Kab. Lahat. Sasaran kegiatan adalah perobohan pondok dan pemusnahan tanaman kopi bukaan baru yg kondisi tersebut diketahui berdasarkan kegiatan patroli rutin tahun 2017. Pelaksana sebanyak 14 personil BKSDA Sumatera Selatan yaitu 3 orang personil dari Balai, 10 orang personil dari RKW IV Gumai dan 1 orang personil dari RKW VI Tebing Tinggi. Hasil pelaksanaan kegiatan yaitu pemusnahan pondok sebanyak 9 pondok, penghancuran alat dan bahan pembuatan pondok, dan pemusnahan tanaman kopi beserta bibit penyemaian kopi. Pondok yang dimusnakan merupakan bagian dari aktivitas pembukaan baru dengan kondisi belum ditanami dan ada yang telah ditanami tanaman kopi. Estimasi luasan dimana setiap pondok terdapat pembukaan lahan seluas 1,5 s.d. 2 ha sehingga kisaran luasan 13,5 sd 18 ha. Hutan Suaka Alam Kawasan Hutan Gumai Tebing Tinggi membentang seluas 46.122,60 yang secara administratif mencakup 13 kecamatan yang terdiri dari 29 desa-desa penyangga di Kabupaten Lahat Sumatera Selatan. Dengan ketinggian bervariasi antara 150 mdpl sampai dengan 1.750 mdpl menjadikan kawasan tersebut memiliki peran penting sebagai daerah tangkapan air yang alirannya banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar kawasan. Tekanan terhadap kawasan mulai berdampak terhadap bencana banjir yang pernah menerjang 5 kecamatan di sekitar kawasan yaitu Kecamatan Kikim Selatan,Pseksu,Gumai Talang, Jarai, dan Muara Payang pada tahun 2015 yang mana kondisi tersebut merupakan dampak dari tingginya aktivitas penggunaan kawasan non prosedural. Terbesit sebuah tanya apakah bencana yang akan kita wariskan kepada anak cucu kelak dimana kehancuran kawasan konservasi yang dititipkan kepada kita untuk dijaga menjadikan fungsi kawasan sebagai penopang kehidupan menjelma menjadi penghancur kehidupan. Sebuah usaha dalam upaya menjaga kawasan konservasi untuk dapat kita kembalikan kepada anak cucu kita dengan lestari. Hal tersebut karena kawasan konservasi merupakan titipan anak cucu kita. Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Kematian Eva, Kabar Duka dari Tangkahan

Langkat, Juli 2017. Berita duka datang dari Tangkahan. Eva, satu dari tujuh gajah dewasa di kawasan ekowisata yang bb berada di kabupaten Langkat ini mati karena sakit. Eva menghembuskan nafas terakhir pada hari Senin (24 Juli 2017) jam delapan pagi. Gajah betina yang berumur ± 60 tahun ini menderita sakit selama beberapa bulan dengan gejala lemah dan nafsu makan ko turun. Eva diisolasi ke lokasi yang jauh dari tempat tinggalnya selama ini di CRU Tangkahan. Pengobatan secara intensif dilakukan Vesswic selama 3 bulan, termasuk uji laboratoriumnya. Kematian Eva diperkirakan karena infeksi saluran pernafasan kronis. Kondisi umur Eva pun mempengaruhi lambatnya proses pemulihan dari sakit yang ia derita. Eva berasal dari Aceh Timur. Gajah liar yang sejak tahun 1983 dikelola oleh Sub Balai KSDA Aceh pada waktu , mengalami beberapa kali pindah lokasi akibat konflik di Aceh. Sepanjang hidupnya Eva ikut dalam beberapa operasi pengamanan hutan bahkan penyelesaian konflik gajah di Sumatera Utara. “Kematian Eva meninggalkan duka mendalam bagi Taman Nasional Gunung Leuser. Eva telah turut andil dalam mengembangkan wisata dan patroli gajah di Tangkahan”, ujar Kepala BPTN Wilayah III Stabat, Ardi Andono. Kejadian yang menyita perhatian penggiat konservasi dan masyarakat ini memerlukan upaya tindak lanjut dari berbagai pihak terkait konservasi Gajah Sumatera. Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TNGL, Rahmad Saleh mengutarakan,” Penting untuk melakukan peningkatan pemeriksaan kesehatan gajah dan mahout (pawang gajah) secara berkala”. Semoga gajah-gajah di Tangkahan sehat dan terus berkontribusi dalam upaya pelestarian kawasan dan pengembangan ekowisata di Tangkahan. Selamat jalan, Eva! Sumber Info : Balai Besar TN Gunung Leuser Foto Ardi andono
Baca Berita

Lampu LED Hijau Untuk Mitigasi Tangkapan Sampingan Penyu di Kepulauan Selayar.

Selayar, 26 Juli 2017. Bertempat di Aula Pertemuan Kantor Balai, Balai Taman Nasional Taka Bonerate melaksanakan Workshop Mini Pelatihan dan Uji coba lampu LED Hijau untuk mitigasi tangkapan sampingan Penyu di Kepulauan Selayar. Dimana diketahui Kepulauan Selayar merupakan salah satu wilayah yang memiliki armada penangkapan ikan skala kecil / artisanal dengan jumlah yang cukup besar. Terdapat interaksi bycatch penyu yang tinggi pada aktifitas penangkapan ikan menggunakan jaring insang. Jumah penyu yang sangat banyak di perairan Selayar, membuat nelayan lokal beranggapan bahwa penyu merupakan hama. Hal ini disebabkan karena tertangkapnya penyu pada jaring dapat merusak jaring nelayan, (WWF-ID, 2015). Selain itu Kepulauan Selayar merupakan 1 dari 12 lokasi prioritas peneluran penyu di Indonesia dengan potensi perikanan gillnet yang cukup tinggi. Tingginya jumlah armada gillnet ini berdampak pada jumlah hewan ETP khususnya penyu yang tertangkap secara tidak sengaja. Berdasarkan data tersebut maka WWF-Indonesia dalam hal ini juga merupakan mitra Balai TN. Taka Bonerate mengadakan Ujicoba teknologi lampu LED ini. Dwi Ariyoga Gautama selaku Bycatcth and sharks Conservation coordinator WWF-ID juga menambahkan jika Ujicoba berhasil ini diharapkan kedepan mengurangi tangkapan bycatch penyu pada nelayan diatas kapal dan cara penanganannya. Workshop mini ini akan dilaksanakan hingga 4 hari kedepan, dihadiri 23 orang peserta terdiri dari NGO Lokal, BPSPL Makassar, DKP SulSel, DKP Kab. Kepulauan Selayar, Penyuluh Perikanan Kab. Kepulauan Selayar, Balai TN. Taka Bonerate, LC EAFM UNHAS, WWF-ID, Observe UNHAS, Tenaga Pendamping UNHAS, perwakilan Desa yg ditunjuk sebagai lokasi sampel data. Dibuka oleh Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Ir. MAKKAWARU) : beliau menyampaikan siap mengadopsi metode ini jika kedepan Ujicoba ini berhasil demi kepentingan nelayan dan kelestarian Penyu. Adapun lokasi pengambilan sampel data adalah Perairan desa bontolebang, Parak dan Barugaia. Sumber Info : Balai TN Takabonerate
Baca Berita

Balai KSDA Kalimantan Timur Evakuasi Monyet Hitam Sulawesi

Tenggarong, 25 Juli 2017. Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong berhasil melakukan evakuasi Monyet Hitam Sulawesi (Macaca nigra) yang diserahkan dari warga yang bernama Pak Ben. Monyet Hitam yang telah dipelihara warga selama ± 17 tahun ini dibelinya dari seseorang pada saat monyet hitam ini berusia masih sangat kecil ketika ia berlayar ke Sulawesi Utara Selama dalam pemeliharaan monyet pernah terlepas dari kandang namun masih bisa ditangkap kembali, namun seiring berjalannya waktu, Monyet Hitam ini pun tumbuh semakin besar dan timbul kekhawatiran akan resiko dan bahaya yang akan ditimbulkan jika Monyet Hitam ini kembali terlepas, khususnya bagi warga sekitar, maka Pak Ben mencari informasi instansi yang khusus menangani satwa liar yang dilindungi Undang-undang. Setelah mendapat informasi, ia pun segera melapor ke BKSDA Kaltim Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong (Ir. Tarsisius Krisdiyanto) bersama petugas bergegas lokasi, setibanya di lokasi petugas melakukan pemeriksaan terhadap kondisi monyet tersebut. Tim terpaksa melakukan evakuasi dengan cara pembiusan karena Monyet Hitam Sulawesi ini sangat besar, memiliki gigi yang tajam dan berjenis kelamin Jantan serta tidak bisa melihat orang asing. Setelah beberapa menit dilakukan pembiusan Monyet Hitam tersebut pun berhasil dievakuasi dan diamankan ke Kantor Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong. Monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) merupakan primata asli Pulau Sulawesi, monyet ini masuk dalam jajaran satwa langka di dunia, dari penelitian yang dilakukan oleh Juan-Fran Gallardo tahun 2010 diketahui populasi monyet ini tidak sampai 5.000 ekor saja. Sumber Info : Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Berita

Focus Group Discussion Masyarakat Desa Penyangga Cagar Alam Gunung Celering

Semarang, 25 Juli 2017. Dalam proses penyusunan pemberdayaan masyarakat Desa Penyangga Cagar Alam Gunung Celering, Balai KSDA Jawa Tengah sedang menyelenggarakan konsultasi antar pihak dan Focus Group Discussion (FGD). Saat ini BKSDA Jawa Tengah sedang menyusun masterplan rencana pembinaan desa binaan yang nantinya digunakan sebagai dokumen acuan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Seperti sebelumnya telah disampaikan Kepala Balai BKSDA Jawa Tengah, Ir.Suharman, MM pada kegiatan sosialisasi masterplan pemberdayaan masyarakat di Desa Kebongede bulan Juni 2017 yg lalu, menyatakan bahwa saat ini Balai KSDA Jawa Tengah concern melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di 3 desa, yaitu Desa Kebongede Kabupaten Pemalang (sudah menyusun masterplan), Desa Blingo Kabupaten Jepara (saat ini sedang diadakan FGD) dan Desa Karangbenda Kabupaten Cilacap. Konsultasi para pihak dan FGD ini bertujuan untuk menyusun rencana program pembinaan daerah penyangga selama 5 tahun (2017-2021). Sebelumnya tim telah menyusun profil desa penyangga melalui identifikasi sosial ekonomi dan potensi desa dan pembentukan kelompok tani. Dengan FGD ini diharapkan tim mendapatkan kesepakatan terkait penyusunan rencana kegiatan pemberdayaan masyarakat berdasarkan profil/potensi desa dan kebutuhan masyarakat setempat. FGD ini dihadiri sebanyak 30 orang yang terdiri dari Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Daerah/SKPD, Perhutani, tokoh masyarakat dan Kelompok Tani Hutan (KTH). Ada beberapa masukan, klarifikasi dan saran terkait kegiatan tersebut baik dari masyarakat maupun SKPD yang terlibat dalam pendampingan di Desa Blingoh sebagai desa penyangga Cagar Alam Gunung Celering. Masukan ini sangat penting karena menjadi input untuk melakukan pendalaman kembali mengenai draft masterplan yang telah disusun sebagai tahap awal dalam rangka kegiatan pemberdayaan masyarakat di Daerah Penyangga Cagar Alam Gunung Celering Desa Blingoh Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara. Kegiatan serupa ini selanjutanya akan dilaksanakan di Desa Karangbenda Kabupaten Cilacap yg merupakan desa penyangga TWA Gunung Selok pada akhir bulan Juli ini. Sumber Info : Ikwan Prianto, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Muda BKSDA Jawa Tengah

Menampilkan 10.305–10.320 dari 11.141 publikasi