Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Peringati Global Tiger Day, Balai TNBT Berkampanye Konservasi di Tingkat Tapak dan Komunitas Urban

Rengat, 29Juli 2017 -- Peringatan Hari Harimau Internasional atau Global Tiger Day (GTD) merupakan peringatan tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan harimau dan habitatnya. Peringatan ini disepakati pada Konferensi Tingkat Tinggi dalam Tiger Summit di Saint Petersburg Russia pada tanggal 29 Juli 2010 yang dilandasi oleh kritisnya jumlah populasi harimau di alam liar di seluruh dunia. GTD telah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 2013 di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa dengan melibatkan lembaga-lembaga penggiat konservasi melalui Tiger Heart (Forum Harimau Kita), mahasiswa dan masyarakat umum. Selain itu, peringatan GTD didasari juga oleh Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 45 tahun 2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera, dimana salah satu aksinya melalui peningkatan dukungan masyarakat terhadap upaya konservasi Harimau Sumatera. Tema peringatan GTD tahun ini, yaitu: “Saatnya untuk Berkomitmen Melestarikan Harimau”. Terdapat sembilan subspesies harimau (Phantera tigris) di dunia yang tersebar di Asia mulai dari Turki, Rusia, India, China, Indo china, semenanjung malaya dan Indonesia. Pada saat ini hanya tersisa enam subspesies saja di dunia dan tiga subspesies lainnya sudah punah. Di Indonesia satu-satunya subspesies harimau yang tersisa adalah harimau sumatera (Phantera tigris sumatrae). Saudaranya, harimau bali (Phantera tigris balica) dan harimau jawa (Phantera tigris sondaica) telah punah. Jumlah harimau sumatera diperkirakan hanya sekitar 400 ekor yang tersebar di habitatnya, mulai dari ujung sumatera di Lampung, sampai bagian atas Sumatera di Aceh. Sementara ukuran populasi harimau sumatera di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) diperkirakan 50 individu yang termasuk pada kategori populasi menengah. Ukuran populasi tersebut juga mengindikasikan bahwa populasi harimau sumatera di TNBT bisa bertahan di habitatnya. Agar bisa bertahan dalam suatu bentang alam, populasi minimal harimau harus mencapai 35 ekor. Balai TNBT yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, salah satu fungsinya menyelenggarakan pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar beserta habitatnya serta melaksanakan penyuluhan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. Oleh karena itu, sebagai bentuk pelaksanaan salah satu mandat tersebut, Balai TNBT bersama Yayasan Penyelamatan Konservasi Harimau Sumatera (Yayasan PKHS) menyelenggarakan kampanye pelestarian satwa liar dan tumbuhan alam dalam rangka memperingati GTD. Rangkaian kegiatan diawali dengan Sapu Jerat Harimau di kawasan TNBT melalui kegiatan patroli pada tanggal 18-25 Juli 2017, Visit to Vilages di Desa Siambul Kecamatan Batang Gansal dan Desa Keritang pada tanggal 26 Juli 2017, Street Campaign di Tugu Patin, Pematang Reba serta puncak acara peringatan GTD pada tanggal 29 Juli 2017 di Obyek Wisata Danau Raja. Selain itu, Balai TNBT melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tebo Tengah, berpartisipasi juga dalam puncak peringatan GTD tingkat nasional di Kota Jambi. Partisipasi dilakukan dalam bentuk penyebaran informasi upaya konservasi harimau sumatera dalam bentuk leaflet dan ikut serta dalam dialog publik dengan topik : “Jambi Siaga Perburuan Harimau Sumatera” . Puncak peringatan GTD yang diselenggarakan oleh Balai TNBT bersama Yayasan PKHS serta didukung oleh Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu, WWF Program Riau, Frankfurt Zoological Society (FZS) Jambi, PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik Field dan Bank Mandiri Cabang Rengat diisi dengan berbagai kegiatan, yaitu jalan santai, senam sehat, harimau expo, lomba menggambar dan mewarnai tingkat anak-anak serta penandatanganan komitmen untuk melestarikan harimau sumatera. Puncak peringatan dihadiri sekitar 600 orang yang terdiri atas undangan dari berbagai instansi lingkup Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu, Polres Indragiri Hulu, instansi vertikal lainnya serta pelajar, komunitas sepeda dan masyarakat umum. Kegiatan diawali dengan laporan pelaksanaan oleh Kepala Balai TNBT (Darmanto, SP, MAP) dan dilanjutkan dengan sambutan Bupati Indragiri Hulu yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Indragiri Hulu (Ir. H. Hendrizal, M.Si) dan kemudian berkenan menandatangani spanduk komitmen untuk melestarikan harimau yang diikuti tamu undangan lainnya. Jalan santai dilepas oleh Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu dan didampingi Kepala Balai TNBT, peserta jalan santai membawa atribut kampanye berupa topeng satwa, poster, dan spanduk konservasi harimau melalui jalan protokol Kota Rengat yang mengitari obyek wisata Danau Raja. Setelah peserta kembali ke lokasi kegiatan, acara dilanjutkan dengan senam sehat yang diikuti oleh tamu undangan, panitia dan seluruh peserta dengan antusias. Kegiatan dilanjutkan orasi konservasi yang disisipi dengan pengundian doorprize utama berupa dua unit sepeda gunung persembahan mitra Balai TNBT. Orasi disampaikan oleh perwakilan Yayasan PKHS, WWF Program Riau, FZS dan Polres Indragiri Hulu yang diwakili Kabag Sumda (KompolAmril). Peserta yang beruntung mendapatkan doorprize utama, yaitu Nurul Habibi warga Rengat dan Agus pelajar SMK Negeri 1 Rengat. Di penghujung acara, setiap peserta diminta untuk menandatangani spanduk yang berisi komitmen bersama melestarikan harimau. Menurut Kepala Balai TNBT, puncak peringatan GTD terbilang sukses dan berjalan lancar, terlihat para tamu undangan dan peserta berkenan mengikuti acara dengan antusias dari awal sampai akhir. Pada sore harinya, dilaksanakan Street Campaign di Kecamatan Rengat Barat yang berpusat di Simpang Tugu Patin, Pematang Reba dengan membentangkan spanduk dan membagikan leaflet himbauan untuk ikut melestarikan harimau sumatera beserta habitatnya. Balai TBNT, berharap melalui rangkaian kegiatan peringatan GTD melalui kampanye pelestarian satwa liar dan tumbuhan alam dapat menciptakan kesadaran di kalangan masyarakat luas mengenai pentingnya konservasi harimau. Mari bersinergi demi harimau sumatera tetap lestari. Sumber: Balai TN Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Indeks Pembangunan Manusia Rendah, Tekanan TN. Kerinci Seblat Tinggi

Bengkulu, 31 Juli 2017. Ada korelasi antara indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan tekanan terhadap Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang menjadi bagian Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS). Masyarakat di daerah yang memiliki IPM rendah cenderung melakukan perambahan, illegal logging dan perburuan illegal. Oleh karena itu, upaya peningkatan kesejahteraan masyarkat sekitar TNKS menjadi sangat penting dalam upaya pelestarian TNKS. Demikian salah satu point penting yang dikemukakan Kepala Balai Besar TNKS Ir. M. Arief Toengkagie dalam paparannya “Langkah-Langkah Strategis Balai Besar TNKS Dalam Pelestarian dan Penguatan TRHS untuk Peningkatan Kesejahteraan Rakyat” dalam Rapat Koordinasi Penguatan Ruang Dialog Ketahanan Budaya di Kawasan Warisan Alam TRHS dalam rangka Pemantapan Seni dan Budaya sebagai Perekat Bangsa, pada hari Senin (31/7/2017) di Bengkulu. “IPM rendah, Perambahan tinggi” kata Ir. M. Arief Toengkagie. Balai Besar TNKS telah membangun kerjasama dengan Pemda dan melakukan pemberdayaan masyarakat desa Sekitar Kawasan TNKS untuk berkontribusi dalam perkembangan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Memfasilitasi pengurusan perizinan pemanfaatan Air untuk PDAM di Kerinci, pemanfaatan wisata di Lubuklinggau dan melakukan pemberdayaan Masyarakat di 39 Desa merupakan sedikit contohnya. “Salah satunya Kelompok Konservasi Mandiri, Bangun Rejo yang merupakan Desa penyangga TNKS di Kabupaten Solok Selatan yang diberdayakan sejak 2007. Desa penyangga ini menjadi percontohan ,”kata Ir. M. Arief Toengkagie. Dalam melakukan pemberdayaaan, Balai Besar TNKS didukung oleh Pemda Provinsi/Kabupaten dan LSM. Bantuan yang diberikan antara lain bibit kopi, sapi dan modal simpan pinjam. Pada slide presentasi Ir. M. Arief Toengkagie, disebutkan jasa lingkungan Balai Besar TNKS sangat penting bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat, dan potensi yang bisa dimanfaatkan untuk membantu perkembangan perekonomian daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kawasan TNKS merupak Hulu Air 3 DAS utama si Sumatera yang menjadi Sumber Air bagi 10 Juta Ha lahan pertanian dan 5 juta penduduk. Dikawasan TNKS juga terdapat 35 air terjun, 8 sumber air panas, 8 gunung, puluhan bukit, 2 rawa, 10 Danau dan 8 goa, potensi geothermal atau panas bumi, pemabngkit listrik tenaga mikro hydro (PLTMH) serta flora dan fauna. Setidaknya terdapat 604jenis tumbuhan dari 63 famili, 85 dari 199 jenis mamalia sumatera (5 endemik sumatera) dan 371 jenis burung (termasuk 17 dari 22 endemik sumatera). Menurut Ir. M. Arief Toengkagie, upaya mensinergikan Konservasi TNKS dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat penting dan strategis untuk dilakukan dalam upaya pelestarian dan penguatan TRHS untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Di beberapa tempat juga telah membuktikan hal tersebut berhasil. Cerita tentang perambah berubah menjadi pengelolaan sekaligus pelestarian Kawasan Taman Nasional mulai menjadi pemberitaan Media. Sumber Info : Balai Besar TN Kerinci Seblat
Baca Berita

Forum Sahabat Gunung Palung Bahas Upaya Pencegahan Karhutla

Ketapang, 31 Juli 2017. Dalam pertemuan forum Sahabat Gunung Palung (SAGUPA) yang dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2017 di Kantor Besar PT. Kayung Agro Lestari (PT.KAL), Laman Satong, Ketapang, diperoleh pemahaman bersama bahwa pencegahan kebakaran hutan dan lahan dengan fokus kepada perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan api dianggap lebih efektif, namun untuk mencapai keberhasilan diperlukan sensitivitas atas beberapa isu termasuk kondisi sosial (adat istiadat) dan ekonomi masyarakat. Pertemuan yang dihadiri 29 orang perwakilan dari Staf Ahli Bupati Kabupaten Ketapang, Bappeda Kabupaten Ketapang, KPH Ketapang Selatan, Dinas Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang, Kepala Desa Laman Satong, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), PT. BGA Group, Yayasan ASRI, Tropenbos Indonesia (TBI), Yayasan Palung, IJ-REDD+ dan rekan-rekan dari PT. KAL. Pertemuan dibuka dengan kata pengantar dari Bapak Bambang Hari Trimarsito, sebagai perwakilan dari Balai TNGP yang menyampaikan sejarah singkat proses Forum Sahabat Gunung Palung, dilanjutkan oleh kata sambutan dari Bapak Ridwan Damanik sebagai perwakilan dari PT. KAL yang menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus membuka pertemuan. Juga dilakukan pemaparan protokol keamanan di PT. KAL dan pemaparan tentang Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla di PT. KAL. Sesi diskusi yang berlangsung setelah pemaparan, membahas upaya-upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan di bentang alam yang merupakan wilayah kerja forum SAGUPA. Termasuk di antara pembahasan adalah keberadaan Tim Pendamping Desa Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Berbasis Masyarakat di 21 desa dalam 4 kecamatan di Kabupaten Ketapang yang merupakan salah satu keluaran dari IJ-REDD+ Project. Pendekatan ekonomi masyarakat untuk mempengaruhi perilaku penggunaan api, merupakan fokus dari beberapa kegiatan yang direncanakan oleh TBI, PT. KAL dan PT.BGA Group. Termasuk diantaranya akan dilaksanakan pelatihan enterpreneurship bagi masyarakat desa Laman Satong pada tanggal 21-26 Agustus 2017 oleh PT. KAL bekerja sama dengan TBI dimana PT. BGA Group dan Yayasan ASRI akan turut terlibat. Juga akan diadakan pertemuan lanjutan untuk mensinergikan rencana kegiatan dari masing-masing institusi/lembaga terkait upaya pencegahan kebakaran karhutla. Terakhir, Bappeda Ketapang menyarankan agar kiranya kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya terpusat di satu lokasi/desa saja, namun juga mempertimbangkan lokasi-lokasi lain yang ada di bentang alam. Pertemuan kemudian diakhiri dengan kunjungan ke gudang Damkar PT. KAL yang terletak tidak jauh dari Kantor Besar PT. KAL. Sumber Info : Balai TN Gunung Palung Foto : IJ-REDD+ Project, Tropenbos Indonesia
Baca Berita

Penyuluhan TSL oleh BKSDA Kalimantan Barat

Wajok Hilir, 31 Juli 2017. Penyuluhan tentang tumbuhan dan satwa liar (TSL) di lindungi dilaksanakan pada senin tanggal 31 Juli 2017 oleh Tim Gugus Tugas TSL Balai KSDA Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) berkolaborasi bersama WWF Region Kalbar di Kantor Balai Desa Wajok Hilir. Kegiatan Penyuluhan dihadiri oleh para Kepala Dusun Desa Wajok Hilir, Babinsa, Kapolsek Wajok Hilir serta masyarakat setempat. Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan metode dua arah dimulai dari pengenalan tupoksi gugus tugas evakuasi dan penyelamatan TSL BKSDA Kalbar, penyadartahuan masyarakat tentang tumbuhan dan satwa liar dilindungi di daerah setempat, dan Potensi Penyebaran Zoonosis dari Satwa liar. Penyuluhan ini penting dilakukan sebagai penyadartahuan masyarakat tentang Tumbuhan dan Satwa liar dengan semboyan ' Mari Kita Jaga dan Lesatarikan Tumbuhan dan Satwa Liar di Kalimantan Barat'. Sumber Info : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Menanam Mangrove Bersama Kader Konservasi Taman Nasional Alas Purwo

Banyuwangi, 30 Juli 2017. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) diperingati setiap tanggal 10 Agustus. Pada 2017 ini, Kader Konservasi Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) melaksanakan serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati HKAN. Salah satunya Jelajah dan Penanaman mangrove di Panorama Kili-kili, Desa Wringinputih, Kacamatan Muncar, Banyuwangi. Sebelumnya telah dilaksanakan Temu Kader pada tanggal 16 Juli 2017 di Visitor Center Kantor SPTN Wilayah I Tegaldlimo. Kegiatan Jelajah dan Penanaman Mangrove ini dilaksanakan bersama siswa-siswi sekolah di sekitar kawasan, Pramuka Saka Wana Bakti, organisasi pecinta alam Banyuwangi dan mahasiswa KKN UGM. Penanaman dilaksanakan setelah sambutan dari Kepala SPTN Wilayah II Muncar dan Pengelola Wisata Mangrove Panorama Kili-kili. Bibit Rhizophora mucronata yang ditanam berasal dari persemaian masyarakat. Setelah penanaman, peserta diajak menjelajahi hutan mangrove di Panorama Kili-kili. Di sini peserta dikenalkan dengan berbagai jenis pohon dan satwa yang ada di hutan mangrove. Panorama Kili-kili sendiri merupakan obyek wisata alam yang dikelola oleh kelompok masyarakat yang baru diresmikan pada 11 Juli 2017. Pengelolaan hutan mangrove sebagai obyek wisata alam merupakan salah satu bentuk pemanfaatan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya konservasi oleh masyarakat. Pelaksanaan kegiatan ini salah satunya bertujuan mewujudkan peran kader sebagai ujung tombak upaya konservasi sumberdaya alam di masyarakat. Selain itu dari kegiatan ini diharapkan muncul kesadaran bahwa upaya konservasi tidak hanya melestarikan lingkungan tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat termasuk dari segi ekonomi. Bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab individu namun tanggung jawab kita bersama. Konservasi alam, konservasi kita. Sumber: Balai TN Alas Purwo
Baca Berita

Survey Parameter Demografi dan Populasi Panenan Reptil Oleh BKSDA Kalteng

Palangkaraya, Pada Bulan Juni 2017 BKSDA Kalimantan Tengah telah menyelesaikan survey Parameter Demografi dan Populasi Panenan untuk Reptil jenis Kura-kura, Ular dan Labi-labi. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui Sex Ratio, massa dan ukuran Reptil ditingkat Pengumpul serta keberadaannya di Habitat Aslinya sehingga didapat data tentang Karakteristik habitat dan Estimasi panenan Reptil di tingkat pengumpul. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode wawancara dengan pengumpul reptil di 2 (dua) kabupaten yaitu Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kab. Kotawaringin Timur. Sumber: BKSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Balai TN. Tesso Nilo peringati Global Tiger Day 2017 dan kampanye konservasi TSL di Pekanbaru

Riau, 29 Juli 2017 - Dalam rangka mengkampanyekan tentang Konservasi tumbuhan dan satwa liar, Balai Taman Nasional Tesso Nilo bekerjasama Warehouse Container Coffee dan Gigie Art menggelar acara dengan tema Global Tiger Day 2017 pada hari/ tanggal : Sabtu, 29 Juli 2017 di Warehouse Container Coffee Pekanbaru. Beberapa rangkaian acara yang diantaranya: Sebagai penutup acara dalam mengkampanyekan satwa liar yang dilindungi, para pengunjung diberikan cinderamata berupa Gelang Rajutan dari bahan tanaman resam (fern) yang dibuat oleh masyarakat desa sekitar Taman Nasional Tesso Nilo. Harapan dari Taman Nasional Tesso Nilo kepada para pengunjung agar generasi muda semakin peduli dan mempunyai semangat untuk menyelamatkan satwa kharismatik yaitu Harimau Sumatera yang menjadi kebanggaan bangsa ini. Oleh : M. Ilham Gobel (TN. Tesso Nilo)
Baca Berita

Aksi Balai KSDA Jambi Peringati Global Tiger Day

Jambi, 30 Juli 2017. Peringatan Hari Harimau Sedunia (Global Tiger Day) diperingati pada tanggal 29 Juli tiap tahunnya. Dalam peringatan tahun 2017 ini Balai KSDA Jambi didukung Forum Harimau Kita menyelenggaraan peringatan dengan kegiatan Walk Tiger (jalan santai), sapu jerat harimau, dan pemusnahan barang serta dialog publik tentang “Jambi Siaga Perburuan Harimau Sumatera”. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi juga bekerja sama dengan Balai Gakkum LHK Wilayah II Sumatera dan POLDA Jambi berhasil mengungkap belasan kasus perburuan dan perdagangan satwa liar. Dari belasan kasus tersebut setidaknya ada lebih dari 30 tersangka yang berhasil diamankan. Beberapa jenis satwa liar baik hidup maupun mati berhasil diamankan dari kasus-kasus tersebut, diantaranya kulit Harimau Sumatera sejumlah 8 (delapan) buah, taksidermi (offset) Harimau Sumatera sejumlah 3 (tiga) buah, taksidermi kepala berbagai jenis rusa dan satwa lainnya sebanyak 7 (tujuh) buah, 1 (satu) set tulang belulang Harimau Sumatera, dan 3 (tiga) buah Gading Gajah Sumatera. Satwa-satwa tersebut diamankan dari operasi tangkap tangan di beberapa wilayah Provinsi Jambi antara lain Muara Bungo, Sengeti, Muaro Tebo, Bangko, Sarolangun, Muara Bulian dan Kota Jambi. Untuk satwa liar yang sudah dalam keadaan mati, sudah dimusnahkan pada bulan Januari 2017, sedangkan untuk satwa liar yang disita dalam keadaan hidup sudah dilepasliarkan di beberapa kawasan konservasi yang ada di Provinsi Jambi. Penanganan kasus hukum ini juga turut bekerjasama dengan Kepolisian wilayah terkait serta Kejaksaan dan Pengadilan Negeri setempat. Kasus dengan barang bukti terbesar tercatat sebanyak 3 (tiga) kasus. Kasus pertama pada 2 Agustus 2016 di kota Jambi dengan tersangka a/n Muhammad Nasution dengan nilai total kerugian Negara mencapai 1 miliar rupiah. Kasus kedua yakni pada tanggal 18 Oktober 2016 dengan tersangka a/n Edi Kumala dan Burhanudin alias Aliang dengan total kerugian negara mencapai 1,5 miliar rupiah. Kasus ketiga yakni pada tanggal 27 Oktober 2016 dengan tersangka a/n Whiel Musarifin bin Ramli; Siman 2 Mahudi dan Yeow Kong Yuleh alias Alung dengan total kerugian negara mencapai 2,2 miliar rupiah. Hingga Juli 2017, vonis terendah yang dijatuhkan majelis hakim untuk kasus satwa liar adalah 40 hari penjara dan denda sebesar Rp 500.000,- subsider kurungan 1 bulan yang telah dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Jambi pada tahun 2015. Sementara untuk vonis tertinggi yakni 2 tahun penjara dan denda sebesar Rp 10.000.000,- subsider kurungan 2 bulan telah dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Jambi pada 2016. Variasi vonis yang dijatuhkan hakim menunjukkan bahwa proses penegakan hukum dan proses peradilan untuk kasus satwa liar sudah berjalan pada jalur yang tepat. Hanya saja, peran aktif masyarakat dan NGO diharapkan dapat ditingkatkan untuk bersama-sama saling menjaga dan mengawasi kinerja pemerintah maupun aparat penegak hukum, agar kasus-kasus yang sudah diproses dapat menghasilkan vonis yang setimpal. Pada peringatan hari harimau se-dunia tahun 2017 ini, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Ditjen KSDAE KLHK RI mengintensifkan kegiatan patroli sapu jerat serentak di semua kawasan konservasi di Pulau Sumatera. Sejumlah temuan jerat di Provinsi Jambi dan Riau turut dimusnahkan dalam kegiatan pemusnahan ini. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia melalui BKSDA Jambi dan Balai PHLHK Wilayah II Sumatera berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan upaya konservasi dan penyelamatan satwa liar di habitatnya dengan metode-metode yang sesuai dengan perkembangan zaman. Serta tentunya melakukan peningkatan dengan berbagai macam cara untuk memerangi perburuan dan perdagangan satwa liar di wilayah propinsi Jambi. Aktivitas perburuan dan perdagangan satwa liar memiliki kecenderungan meningkat, baik ditinjau dari aspek jumlah kasus ataupun jumlah barang bukti yang diamankan. Hal ini menandakan bahwa masih minimnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kelangsungan hidup satwa liar sebagai penopang ekosistem kita. BKSDA Jambi juga senantiasa melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar tercipta upaya konservasi yang sinergis dan berkesinambungan di wilayah propinsi Jambi. Sumber Info : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Aksi Bersih - Bersih TWA Lejja

Lejja, 30 Juli 2017. Kepala Seksi Konservasi Wilayah III dan personil Resort TWA Lejja Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan melaksanakan pertemuan untuk membahas solusi penanganan sampah yang timbul dari kegiatan pariwisata dalam kawasan konservasi pada tanggal 30 Juli 2017 di Taman Wisata Alam Lejja dalam rangka penanganan sampah. Hasil pertemuan ini adalah berupa tahapan penanganan sampah dimulai dengan pendataan pedagang yang berada didalam kawasan yang kemudian diberikan sosialisasi agar menyediakan tempat sampah sebagai bentuk peran serta menjaga kebersihan kawasan, dilanjutkan dengan aksi bersih - bersih sampah non-organik pada hari itu juga yang melibatkan pedagang, masyarakat mitra polhut dan petugas Resort TWA Lejja serta petugas dari Dinas Pariwisata setempat. Kegiatan bersih-bersih bersama ini sebagai bentuk sinergi semua pihak dalam pengelolaan TWA Lejja, yang kedepan pelaksanaannya disepakati secara rutin sebanyak 1-2 kali dalam sebulan.dalam kegiatan ini Masyarakat Mitra Polhut dan petugas TWA Lejja juga membuat papan informasi tempat pembuangan sampah secara swadana. Sumber Info : Michael Roydi - Polhut Pelaksana pada Resort TWA Lejja Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Road To HKAN 2017 : BKSDA Yogyakarta Akan Lepasliarkan Elang Dan Landak Di TN Baluran

Kulon Progo, 30 Juli 2017. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta yang dihadiri langsung oleh Kepala Balai KSDA Yogyakarta Ir. Junita Parjanti, MT mengadakan Press Release terkait rencana pelepasliaran satwa Elang dan Landak pada Puncak Peringatan HKAN yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2017 di TN Baluran. Balai KSDA Yogyakarta bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) serta PT Pesona Natasha Gemilang (Natasha Skin Care Clinic Center) akan mendukung kegiatan pelepasliaran satwa hasil sitaan dan penyerahan masyarakat berupa 1 (satu) ekor Elang Brontok (Nisaetus chirhatus) ; 4 (empat) ekor Elang Alap Jambul (Accipiter trivirgatus) serta 2 (dua) ekor Landak Raya (Histrix brachiura). Sejumlah satwa liar tersebut didapat dari sejumlah operasi yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Mabes Polri dan adapula yang merupakan serahan langsung dari masyarakat yang dititipkan dan direhabilitasi ke Lembaga Konservasi YKAY dalam kurun 2012 – 2015 lalu. Dari hasil penilaian kesehatan dan perilaku sosial ke tujuh satwa liar tersebut dalam kondisi yang layak baik dari sisi kesehatan dan perilaku. “Semuanya yang akan dikirim ke Baluran kondisi baik. Makan bagus, respon terhadap mangsa bagus, perilaku liarnya juga bagus, sehingga kami nyatakan layak untuk lepasliar”, papar drh. Randy Kusuma dari YKAY. Jenis raptor yang akan dilepasliarkan juga dilakukan morfometri dan tagging berupa microchip sebagai tahapan akhir sebelum proses habituasi dan pelepasliaran. Kegiatan pelepasliaran satwa ini juga didukung sektor swasta, yaitu PT Pesona Natasha Gemilang (Natasha Skin Care Clinic Centre) yang berpusat di Yogyakarta. Dikatakan oleh pimpinan PT Pesona Natasha Gemilang – dr. Fredi Setyawan bahwa dukungan dari Natasha Skin Care Clinic Center ini merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial dari group Natasha terhadap upaya konservasi di Indonesia. “Kami ingin mendukung secara nyata upaya dan kerja keras teman-teman yang bergerak di bidang konservasi. Kegiatan HKAN Tahun 2017 terdiri dari Road to HKAN yang dilaksanakan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia dan Puncak Peringatan HKAN Tahun 2017 akan dilaksanakan di Taman Nasional Baluran Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur. Kegiatan Road to HKAN di wilayah D.I. Yogyakarta dilaksanakan melalui Kegiatan : Sumber Info : Andie Chandra - PEH Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

MMP Desa Bagan Limau dan TN. Tesso Nilo Lahirkan 2 (Dua) Program Prioritas

Bagan Limau, 26 Juli 2017. Pembentukan masyarakat mitra polhut (MMP) yang dilakukan oleh BTNTN tanggal 19-20 Juli 2017 sudah menunjukkan hasil. Semangat masyarakat untuk berkarya dan berkontribusi membantu BTNTN untuk menjaga serta melindungi kawasan mulai terlihat. Pembuktian atas semangat itu dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan. Mereka tanpa diminta dan diperintah mulai bekerja, berpatroli kedalam kawasan TNTN meskipun secara administrasi dan operasional BTNTN belum bisa mempersipkan dengan maksimal. Melihat pola ini tentunya diharapkan ada respon yang cepat bagi BTNTN dalam upaya menjaga dan mempertahankan semangat MMP ini. Ada tanggungjawab moral rasanya bagi pemerintah lebih memperkuat keberadaan MMP agar komitmen mereka dalam berkontribusi positif selalu meningkat. Dalam diskusi antara petugas lapangan SPW I LKB dengan MMP Desa Bagan Limau mengalir sebuah komitmen yang muncul dari MMP sendiri. Sehingga sampai pada kesimpulan bahwa MMP Desa Bagan Limau siap dan bersepakat melahirkan 2 program priotas untuk 1 tahun kedepan yaitu, 1. Zero Fire Spot, dan 2. Zero Perambahan baru. 2 (dua) program priotitas ini tentu perlu diapresiasi secara nyata bagaimana BTNTN melahirkan kebijakan dan strategi agar program itu bisa dicapai. Mengingat persoalan kebakaran hutan di TNTN yang tak kunjung usai lalu muncul sebuah komitmen dari maayarakat untuk menjaga kawasan TNTN sesuai dengan wilayah desanya tentunya sulit mencari alasan BTNTN (pemerintah) untuk tidak meresponnya. Program prioritas ini bisa diiringi dengan membagi para Polhut untuk menjadi pembina/pengawas bagi masing-masing desa yang ada di sekitar TNTN, utamanya yang sudah ada MMP nya. Jika sudah demikian, masing-masing Polhut bersama dengan MMP nya diwajibkan untuk menguasai wilayah beserta permasalahannya. Dengan begitu diyakini Zero Fire Spot dan Zero Perambahan Baru akan terwujud menuju pengelolaan bidang pencegahan, perlindungan dan pengamanan akan jauh lebih efektif. Oleh: Ahmad Gunawan (BTN. Tesso Nilo)
Baca Berita

Percepat Penanganan Karhutla, TN Matalawa Lakukan Groundcheck

Waibakul, 29 Juli 2017. Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) melakukan groundcheck data hotspot kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Pulau Sumba. Personil TN Matalawa yang melakukan groundchek sebanyak 16 petugas yang dibagi kedalam 3 tim wilayah agar mempercepat penanganan dan tindakan yang harus di ambil. Petugas menemukan tiga titik api yaitu di wilayah SPTN I Waibakul dengan lokasi hotspot berada di luar kawasan TN Matalawa dengan Status Area Penggunaan Lain (APL), tepatnya di desa Wailawa, Kec. Katikutana, Kab. Sumba Tengah dengan luasan terbakar seluas ±2 Ha. Yang kedua di wilayah SPTN II Lewa dengan lokasi hot spot berada di luar kawasan TN Matalawa dengan Status APL, tepatnya di desa Ngadu Olu, Kec. Umbu Ratunggay, Kab. Sumba Tengah dengan luasan terbakar seluas ±25 Ha selain itu kejadian kebakaran hutan juga terjadi diblok hutan Kangeli dengan luas ± 10 Ha. Lokasi titik hotspot yang ketiga di wilayah SPTN III Matawai Lapau yang berada di dalam kawasan TN Matalawa yang berada di blok hutan Mahaniwa, Kab. Sumba Timur dengan luasan terbakar seluas ±3 Ha. Lahan yang terbakar keseluruhannya berupa semak dan padang alang – alang. Penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumba adalah kebiasaan masyarakat Pulau Sumba yang melakukan pembakaran lahan untuk menstimulir rumput baru bagi pakan ternak yang digembalakan secara liar di padang savana. Sumber Info : Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (Matalawa)
Baca Berita

Bersatu Padu Mengatasi Kebakaran Hutan dan Lahan

Bandung, 29 Juli 2017. Penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dilakukan secara single fighter. Sehebat apapun sebuah institusi dalam menangani kebakaran hutan dan lahan, tetap saja memerlukan kolaborasi dengan pihak lain. Memang, dampak kebakaran hutan dan lahan yang massive sehingga menyentuh ranah ekologi, ekonomi, kesehatan, bahkan sosial budaya dan politik, mau tidak mau menuntut adanya kerja sama lintas stakeholder. Dalam skala lokal, kerja sama lintas stakeholder dalam upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan telah ditunjukkan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat dengan stakeholder lain seperti Masyarakat Peduli Api (MPA), aparat TNI, aparat Kepolisian, maupun aparat kecamatan/desa. Hal tersebut mencerminkan bahwa komitmen para stakeholder sebagaimana disepakati pada “Rapat Koordinasi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan” tanggal 5 Juni 2017 lalu di Bandung telah mulai muncul. Sebagai contoh, masyarakat yang tergabung dalam MPA (Masyarakat Peduli Api), aparat Koramil, serta aparat kecamatan/desa bersama petugas Balai Besar KSDA Jawa Barat telah beberapa kali bahu membahu dalam melakukan ground check hotspot sekaligus dalam mengendalikan hotspot yang muncul tersebut sehingga tidak menimbulkan kebakaran hutan dan lahan yang massive. Lebih jauh lagi, kerja sama tersebut sampai sejauh ini mampu meminimalisir luasan kebakaran hutan seperti yang terjadi di SM Cikepuh, sebuah kawasan konservasi yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi kawasan konservasi di Jawa Barat dengan luas kebakaran tertinggi. Pada kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Sukabumi tersebut telah terjadi 3 (tiga) kali kejadian kebakaran hutan, namun berkat kerja sama para pihak kebakaran hutan dapat dikendalikan sehingga hanya 1,5 ha saja kawasan SM Cikepuh yang terbakar. Kerja sama yang dilakukan juga tidak mengenal ‘pengkotakan’ kawasan. Selama peristiwa kebakaran hutan dan lahan terjadi di wilayah Provinsi Jawa Barat, maka para pihak akan saling membantu mencegah dan mengendalikan kebakaran tersebut. Salah satu buktinya adalah ketika ada hotspot di Taman Nasional Gunung Ciremai, petugas Balai Besar KSDA Jawa Barat juga diturunkan untuk mengecek hotspot tersebut bersama-sama dengan petugas Balai TNGC, masyarakat, maupun mitra Balai TNGC (Sumitomo/JICS). Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ir. Sustyo Iriyono, M.Si. menyatakan bahwa kerja sama yang telah dijalin dengan berbagai pihak yang berasal dari unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Kepolisian, TNI, maupun masyarakat agar terus ditingkatkan sehingga pengendalian kebakaran hutan dan lahan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Lebih jauh lagi, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat mengingatkan kepada seluruh jajarannya agar senantiasa meningkatkan kewaspadaannya karena potensi terjadinya hotspot maupun kebakaran hutan dan lahan akan semakin besar seiring dengan telah datangnya musim kemarau. Oleh karena itu, Posko Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan yang dibentuk sebagai bagian dari mekanisme deteksi dini agar dapat dioptimalkan fungsinya sehingga informasi mengenai hotspot/kebakaran hutan dapat tersampaikan secara cepat. Dengan demikian kejadian kebakaran hutan dapat tertangani secara lebih dini. Sumber Info : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Kerja Keras Tim Satgas Karhutla Padamkan Kebakaran di Aceh

SIARAN PERS Nomor : SP. 155/HUMAS/PP/HMS.3/07/2017 Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sabtu, 29 Juli 2017. Titik panas (hotspot) mulai menurun, berdasarkan pantauan per tanggal 28 Juli 2017 pukul 20.00 WIB, Satelit NOAA menunjukkan bahwa terdapat tiga hotspot, yang tersebar di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan data Terra/Aqua (LAPAN) confidence level ≥80% menunjukkan 15 hotspot di seluruh wilayah Indonesia, data Terra/Aqua (LAPAN) confidence level 30-≤79% sebanyak 72 hotspot, dan data Terra/Aqua (LAPAN) confidence level ≤29% sebanyak 8 hotspot. Pada hari sebelumnya per tanggal 27 Juli 2017 pukul 20.00 WIB terpantau sebanyak 4 hotspot pantauan satelit NOAA dan 47 hotspot menurut pantuan satelit TERRA/AQUA. Total hotspot berdasarkan satelit NOAA per 1 Januari - 28 Juli 2017 dilaporkan sebanyak 976 titik. Jumlah ini menurun dibandingkan pada tahun 2016 untuk periode yang sama, yaitu sebanyak 1.107 titik Hal ini berarti terdapat penurunan sebanyak 131 titik atau sebesar 11,83%. Sementara total hotspot per 1 Januari - 28 Juli 2017 Terra/Aqua confidence level ≥80% sebanyak 157 titik. Pada periode yang sama tahun 2016 terdapat hotspotsebanyak 2.093 titik, maka saat ini terjadi penurunan jumlah hotspot sebanyak 1.936 titik atau sebesar 92,49%. Kedua data hotspot tersebut terus dipantau dengangroundcheck ke lapangan oleh Tim Satgas Karhutla. Berdasarkan laporan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Direktorat Jenderal KSDAE, Sapto Aji Prabowo, saat ini dua lokasi kebakaran di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh telah berhasil dipadamkan, yaitu di Kecamatan Meurebo dan Kecamatan Johan Pahlawan, dengan total luas kurang lebih 36 Ha. Sebelumnya, diketahui luas kebakaran sebesar 79 Ha yang tersebar di enam Kecamatan. Sementara itu, Kepala Biro Humas KLHK, Djati Witjaksono Hadi menyampaikan bahwa total luas kebakaran hutan dan lahan yang telah ditangani oleh Manggala Agni sampai saat ini (28/07/2017) adalah 3.053, 111 Ha. “Pemadaman di Aceh Barat telah dilakukan oleh Manggala Agni Daops Sibolangit, BKSDA Aceh, dengan menurunkan 20 personel serta gabungan personel dari BNPB dan Kodim Aceh Barat. Sampai saat ini Tim Satgas Karhutla terus melakukan pemanatauan dan upaya pemadaman di beberapa lokasi lainnya”, Djati menjelaskan. Selain upaya pemadaman, dalam rangka optimalisasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Djati juga menyampaikan bahwa KLHK proaktif dalam memantau langsung ke lapangan, dan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten setempat, untuk membahas langkah-langkah tenis dan strategis penanganan karhutla.(*) Sumber Info : Biro Humas KLHK & BKSDA Aceh
Baca Berita

Koleksi Satwa di Taman Satwa Cikembulan Garut Bertambah

Setelah beberapa waktu yang lalu 2 (dua) lembaga konservasi binaan Balai Besar KSDA Jawa Barat, yaitu Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor dan Kebun Binatang Bandung mampu menambah jumlah satwa melalui kelahiran beberapa individu baru dari hasil breeding satwa koleksinya, rupanya lembaga konservasi binaan Balai Besar KSDA Jawa Barat lainnya, yaitu Taman Satwa Cikembulan (TSC) juga tidak mau kalah. Dalam rentang waktu Maret – Mei 2017, di lembaga konservasi yang terletak di Garut ini telah lahir 4 (empat) ekor satwa berasal dari 3 (tiga) spesies berbeda, yaitu satu ekor rusa timor (Cervus timorensis), 2 (dua) ekor kijang (Muntiacus muntjac), dan satu ekor merak hijau (Pavo muticus). Tidak hanya itu, pada tanggal 27 Juli 2017, koleksi kangguru tanah di TSC bertambah setelah seekor anak kangguru tanah dilahirkan. Terakhir, pada tanggal 29 Juli 2017, seekor anak rusa totol (Axis axis) lahir di kebun binatangnya Kota Garut ini. Dengan demikian, sampai dengan bulan Juli 2017 jumlah koleksi satwa di TSC bertambah sebanyak 6 (enam) ekor yang berasal dari 5 (lima) spesies berbeda. Berdasarkan hasil monitoring Tim dari Seksi Konservasi Wilayah V Garut, seluruh satwa penghuni baru TSC tersebut dalam kondisi sehat. Sebagai contoh, kondisi anakan kijang saat ini sudah stabil dan sudah bisa bergaul dengan kelompoknya. Sementara anakan kangguru tanah saat ini masih menyusui dan dipantau secara intensif oleh keeper-nya, seperti halnya anakan rusa tutul yang masih dalam pengawasan karena baru beberapa hari dilahirkan. Bertambahnya jumlah satwa di TSC ini menunjukkan bahwa program pengawetan yang dilaksanakan secara eksitu di lembaga konservasi telah cukup berhasil. Sumber : RK/ Humas BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Balai KSDA Bengkulu Dan Tim Gabungan Tebang Ribuan Batang Sawit Di Cagar Alam

Bengkulu – 29 Juli 2017. Untuk mewujudkan spirit KSDAE Kembali ke lapangan, Balai KSDA Bengkulu bersama Tim Gabungan melakukan pemusnahan 1.143 batang sawit di Cagar Alam Air Seblat dan Air Rami, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu. Tim gabungan terdiri dari Ditjen Gakkum, kepolisian daerah, TNI, serta unsur pemerintah daerah. Operasi gabungan dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 26 – 28 Juli 2017. Tak kurang dari 20 hektar kawasan konservasi telah berhasil dikuasai kembali. Kegiatan operasi gabungan ini juga merupakan salah satu strategi yang ditempuh Balai KSDA Bengkulu untuk menangani permasalahan keterlanjuran pemanfaatan kawasan non-prosedural. Alih fungsi kawasan konservasi menjadi perkebunan sawit merupakan salah satu bentuk pemanfaatan kawasan secara ilegal yang banyak terjadi di Povinsi Bengkulu, terutama di kawasan Bengkulu Bagian Utara. Selanjutnya, Balai KSDA Bengkulu akan melakukan restorasi ekosistem di lokasi pemusnahan tanaman sawit ini. Kegiatan pemulihan ekosistem merupakan tahapan penting untuk mengembalikan fungsi ekologi kawasan sebagai habitat dari berbagai jenis flora dan fauna khas hutan hujan dataran rendah dan ekosistem pantai. Sumber Info : Balai KSDA Bengkulu

Menampilkan 10.289–10.304 dari 11.141 publikasi