Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Mahasiswa IPB Mengeksplorasi Potensi Cagar Alam Leuweung Sancang

Leuweung Sancang, sebuah kawasan yang terletak di selatan Garut ini menyimpan begitu banyak potensi keanekaragaman hayati. Tidak mengherankan jika karena kekhasan tumbuhan dan satwa liar yang berada di dalamnya, pada tahun 1978 Leuweung Sancang ditetapkan sebagai salah satu cagar alam di Jawa Barat dengan luas sekitar 2.157 ha. Perairan pantai di seputaran CA Leuweung Sancang seluas 1.150 ha ditunjuk sebagai cagar alam laut pada tahun 1990 karena memiliki terumbu karang dengan kondisi masih cukup baik. Tidak hanya pemandangannya saja yang eksotis, kawasan ini juga menyimpan potensi flora yang beraneka ragam. Dengan tipe vegetasi yang digolongkan ke dalam hutan dataran rendah, hutan mangrove, dan hutan pantai, di dalam kawasan ini terdapat beberapa jenis flora seperti palahlar (Dipterocarpus sp) yang merupakan satu-satunya jenis dari family Dipterocarpaceae yang masih asli dan tumbuh alami di Pulau Jawa; kaboa (Lumnitzera racemosa), yaitu tumbuhan yang khas di Sancang; serta warejit (Excoecoria ocha) yang mengandung racun dan berbahaya bagi manusia. Tentunya, flora yang paling dicari adalah Rafflesia patma, flora parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar. Satwa langka khas Jawa, yaitu owa jawa (Hylobates moloch) masih dapat dijumpai di kawasan ini. Demikian pula dengan satwa dilindungi lainnya seperti macan tutul jawa (Panthera pardus), merak (Pavo muticus), rusa (Cervus timorensis), dan jenis satwa lainnya. Di samping itu, di bagian perairan dapat ditemukan beberapa fauna terumbu karang seperti Spongia sp., Leptosens sp., Favia sp., serta beberapa jenis ikan hias seperti Chaetodon sp. dan Labroides sp. Rupanya potensi keanekaragaman hayati di Leuweung Sancang telah menarik minat para mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk datang ke kawasan konservasi yang juga sering dihubungkan dengan mitos seputar Prabu Siliwangi ini. Sejak tanggal 30 Juli 2017, para mahasiswa IPB tersebut mencoba mengeksplorasi potensi keanekaragaman hayati di Leuweung Sancang dalam sebuah kegiatan yang bertajuk Praktek Kerja Lapangan. Rombongan mahasiswa yang terdiri atas 90 orang ini juga didampingi oleh beberapa orang dosen pembimbing dari IPB. Tim mahasiswa tersebut dibagi menjadi 8 (delapan) kelompok yang masing-masing kelompok memiliki tugas untuk menggali potensi keanekaragaman hayati di Leuweung Sancang melalui kegiatan identifikasi maupun inventarisasi tumbuhan dan satwa liar. Di samping itu, mereka juga berencana untuk melakukan praktek di hutan kemasyarakatan dan melakukan wawancara dengan masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa tersebut selalu didampingi oleh para petugas Resor Leuweung Sancang yang selain berperan sebagai guide, juga untuk memastikan keamanan dan keselamatan mahasiswa selama melakukan kerja praktek lapangan. Sampai berita ini diturunkan, para mahasiswa masih melakukan kerja praktek di Leuweung Sancang. Pada akhirnya, diharapkan kerja praktek lapangan yang dilakukan oleh Mahasiswa IPB tersebut dapat memberikan bekal dan pengalaman tersendiri bagi para mahasiswa dalam mengeksplorasi potensi keanekaragaman hayati di sebuah kawasan. Di sisi lain, hasil kerja praktek lapangan mahasiswa IPB ini nantinya akan semakin memperkaya data dan informasi potensi kawasan pada Balai Besar KSDA Jawa Barat. (RK/Humas BBKSDA Jabar) Sumber: BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Efektivitas Pengelolaan TN Bukit Tigapuluh Dengan Peniliaian METT

Rengat, 02 Agustus 2017--Kawasan Konservasi (KK) memiliki peran yang tidak tergantikan sebagai benteng terakhir perlindungan spesies dan konservasi keanekaragaman hayati. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengalokasikan 27,2 hektar KK di Indonesia yang terdiri dari Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata Alam, Taman Hutan Raya, Taman Buru, Taman Nasional dan kawasan yang masih berstatus KSA/KPA. Fakta menunjukan bahwa banyak kendala dalam pengelolaan KK di Indonesia yang dipicu oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Pihak pengelola pada umumnya menyadari permasalahan yang dihadapi dalam mengelola kawasan konservasinya, namun kesulitan untuk mengidentifikasi prioritas permasalahan, prioritas alokasi sumber daya, serta mengetahui keefektifan pengelolaannya. Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) merupakan salah satu Kawasan Pelestarian Alam yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6407/Kpts-II/2002 tanggal 21 Juni 2002 dengan luas “temu gelang” 144.223 ha. Secara administratif, kawasan ini terletak di Provinsi Riau (Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir) dan Provinsi Jambi ( Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tebo ). TNBT merupakan salah satu rangkaian pegunungan dengan potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa yang tinggi dan endemik serta merupakan habitat Harimau sumatera (Phantera tigris sumatrae), tapir (Tapirus inducus), lutung (Presbytis melalopos), Cendawan Muka Rimau (Rafflesia hasseltii) dan berbagai jenis rotan disamping peranannya dalam kelestarian hidro-orologis DAS Kuantan Indragiri. Tujuan pengelolaan kawasan merupakan tujuan dari setiap misi yang telah ditetapkan oleh Balai TNBT, antara lain: 1) menjamin keberlangsungan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam di TNBT, 2) memelihara proses ekologi yang dapat menunjang kelangsungan dan mutu kehidupan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, 3) meningkatkan nilai pemanfaatan potensi sumber daya alam TNBT serta meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP),4) meningkatkan taraf hidup/ kesejahteraan masyarakat di dalam dan sekitar TNBT dan peran serta/partisipasi dalam pengelolaan kawasan, dan 5) meningkatkan kualitas kelembagaan dan menyediakan dukungan manajemen pada satker Balai TNBT dalam rangka pencapaian visi dan misi. Dalam rangka mengetahui sejauhmana pengelolaan yang telah dilakukan Balai TNBT dalam kerangka mencapai tujuan dan sekaligus mengetahui perolehan nilai efektivitas dalam pengelolaannya, maka dilakukan evaluasi penilaian. Perangkat evaluasi yang digunakan adalah Management Effectiveness Tracking Tool (METT),perangkat ini telah digunakan lebih dari 100 negara pada ribuan kawasan konservasi.Elemen penilaian yang digunakan sebagai indikator antara lain konteks, input, perencanaan, proses, output dan outcome. Prinsip penilaian antara lain objektif, transparan, partisipatif, reguler, independen, introspeksi dan sharing knowledge.Balai TNBT melakukan penilaian awal pada tahun 2015 dengan nilai sebesar 58%, nilai tersebut menjadi baseline penilaian METT dan diharapkan meningkat minimal 70% pada tahun 2019. Hal itu sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : SK.234/KSDAE-KK/2015 tanggal 12 Oktober 2015 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Prioritas Untuk Peningkatan Nilai Indeks Efektivitas Pengelolaan Sebesar 70%.Menurut referensi, nilai efektivitas pengelolaan dibagi dalam tiga kategori, yaitu: <33% : pengelolaan kawasan kurang memadai (tidak efektif), 33 % – 67% : pengelolaan kurang memadai (kurang efektif) dan > 67% : pengelolaan kawasan cukup baik (efektiv). Berdasarkan penilaian METT tahun 2015, pengelolaan TNBT dapat dikategorikan kurang memadai (kurang efektif). Untuk memantau efektivitas pengelolaan TNBT, maka diselenggarakan kegiatan penilaian METT TNBT Tahun 2017 pada tanggal 1 s.d 2 Agustus 2017 di Wisma Five Boys, Pematang Reba, Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau.Kegiatan ini melibatkan para pihak, antara lain instansi lingkupPemerintah Kabupaten Indragiri Hulu, Pemerintah Kecamatan Batang Gansal dan Batang Cenaku, Polsek Batang Gansal dan Batang Cenaku, Pemerintah Kecamatan Kemuning dan Bappeda Kab. Indragiri Hilir. Selain itu, hadir juga satu orang dosen Universitas Jambi, WWF Program Sumatera Tengah dan Yayasan PKHS (Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera). Acara dibuka secara resmi oleh Plh. Kepala Balai TNBT, Lukman Hery P.,S.Hut.,M.Eng dan dilanjutkan penyampaian materi Kebijakan Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi menggunakan METT oleh Wenda Yandra Komara, S.Si.,M.Si selaku fasilitator dari Direktorat Kawasan Konservasi Direktorat Jenderal KSDAE. Penilaian METT dilakukan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dimana setiap peserta merupakan narasumber yang memiliki argumen, pengalaman dan pemahaman dari sudut pandang masing-masing, sehingga terbentuk persepsi untuk menentukan nilai. Nilai ini ditentukan dari kesepakatan bersama dari persepsi mana yang dapat diterima oleh semua, tetapi tetap berdasarkan bukti berupa data dan informasi serta dokumen legal yang dimiliki Balai TNBT. Pada hari pertama pelaksanaan METT, belum semua peserta aktif dalam berpendapat, selanjutnya pada hari kedua satu-persatu peserta mulai aktif dan suasana mulai terjalin akrab, hal ini tidak lepas dari kemampuan fasilitator Wenda dalam menghidupkan suasana dan mendorong peserta untuk lebih aktif. Adapun total perolehan nilai METT Balai TNBT adalah 69 point dengan uraian Konteks 100%, Perencanaan 89%, Input 67%, Proses 57%, Output 67 %, Outcome 89 % dengan nilai akhir efektivitas pengelolaan kawasan sebesar 70%. Nilai ini masuk dalam standar minimum yang ditetapkan Dirjen KSDAE. Tercapainya nilai METT sebesar 70 % ini diharapkan Balai TNBT dapat meningkatkan efektivitas pengelolaannya menjadi lebih baik khususnya dari indikator input, proses dan output. Sumber Info : Balai TN Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Kembalinya Bakti Dan Monic Ke Alam Bebas

Bandung, 2 Agustus 2017. Dua ekor Owa Jawa (Hylobates moloch) bernama Bakti (jantan berumur 4 tahun) dan Monic (betina berumur 6 tahun) kembali menghirup udara bebas setelah sekian lama menjalani proses rehabilitasi di The Aspinall Foundation. Kedua ekor owa jawa tersebut dilepasliarkan di Blok Gambung, Cagar Alam (CA) Gunung Tilu, Kab. Bandung disaksikan oleh unsur Balai Besar KSDA Jawa Barat, The Aspinall Foundation, Perkebunan Teh Dewata, dan wartawan media cetak/elektronik. Sebelumnya, Bakti yang berasal dari hasil penyerahan sukarela warga Kp. Sukabakti Cianjur kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat telah menjalani proses rehabilitasi sejak 9 Juni 2014. Sementara Monic yang merupakan satwa hasil penegakan hukum Balai KSDA DKI Jakarta telah menjalani proses rehabilitasi sejak 26 Mei 2016. Kedua owa jawa tersebut dilepasliarkan setelah memperlihatkan tanda-tanda adaptasi dan perilaku sosial yang baik. Bakti dan Monik menjadi bagian dari total 20 (dua puluh) ekor owa jawa yang telah dilepasliarkan di kawasan CA Gunung Tilu. Berdasarkan hasil monitoring, saat ini terdapat sepasang owa jawa yang dilepasliarkan tersebut telah memiliki anak. Kabar menggembirakan tersebut tentunya menunjukkan bahwa program rehabilitasi dan pelepasliaran owa jawa sejauh ini sudah dapat dikatakan berhasil. Kawasan CA Gunung Tilu sendiri dipilih sebagai tempat pelepasliaran owa jawa dengan pertimbangan bahwa kawasan tersebut merupakan habitat yang baik untuk owa jawa karena masih memiliki ketersediaan pakan yang cukup banyak. Dengan kegiatan pelepasliaran ini, diharapkan dapat menstimulus peningkatan populasi owa jawa di CA Gunung Tilu. Seperti diketahui owa jawa merupakan salah satu primata yang dilindungi undang-undang. Keberadaannya saat ini di alam semakin langka sehingga tidak mengherankan jika The IUCN Red List of Threatened Species mengelompokkan owa jawa ke dalam endangered species atau satwa langka. Oleh karena itu, program rehabilitasi maupun pelepasliaran owa jawa perlu terus didukung guna menjaga kelestarian satwa langka yang terkenal setia pada pasangannya ini di habitat aslinya. Sumber Info : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Partisipasi TN Ujung Kulon di Hari Lingkungan Hidup

Jakarta, 2 Agustus 2017. Peringatan Pekan Hari Lingkungan Hidup (HLH) tahun 2017 dilaksanakan di halaman Gedung Manggala Wana Bhakti pada tanggal 02-04 Agustus 2017. Peringatan Pekan Hari Lingkungan Hidup (HLH) tahun 2017 dimeriahkan dengan kegiatan Kemah Generasi Lingkungan untuk Konversi, Rakernas dan Pekan Nasional Perubahan Iklim (PNPI). Dalam acara ini Presiden RI membuka langsung kegiatan Kemah Generasi Lingkungan untuk Konversi, Rakernas dan Pekan Nasional Perubahan Iklim (PNPI). Selain itu, Presiden menyaksikan pemberian empat jenis penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup kepada perorangan, kelompok, kepala daerah serta sekolah yang turut berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan. Ada empat penghargaan yang diberikan, yakni Kalpataru, Adipura, Adiwiyata dan Nirwasita Tantra. Pada Rakernas Hari Lingkungan Hidup 2017 sendiri, Presiden berpesan supaya mengelola hutan dengan penuh terobosan demi kemaslahatan rakyat Indonesia. Adapun Tema Hari Lingkungan Hidup 2017 ini sendiri adalah "Connecting People to Nature". Melalui tema ini, pemerintah ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya isu lingkungan dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam perlindungan lingkungan. Presiden RI melakukan penanaman pohon di Arboretum Lukito Aryadi secara simbolik dalam rangka pencanangan Landmark Hutan Indonesia. Pohon yang akan ditanam oleh Presiden RI yaitu Pohon Jati, sementara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menanam Pohon Pala. Taman Nasional Ujung Kulon ikut serta dalam acara tersebut dengan partisipasi melalui Pameran Pekan Nasional Perubahan Iklim (PNPI). Booth Balai TN. Ujung Kulon menampilkan informasi mengenai upaya konservasi Badak Jawa yang sudah dilakukan dii TN. Ujung Kulon. Selain itu dalam pameran juga menghadirkan boneka mascot Badak Jawa yang menarik minat pengunjung untuk berfoto bersama. Sumber Info : Balai TN Ujung Kulon
Baca Berita

Masyarakat Serahkan Satwa Dilindungi Kukang ke SKW III BKSDA Kalimantan Tengah

Palangka Raya, 01 Agustus 2017, Tim Rescue SKW III, telah menerima penyerahan seekor satwa jenis kukang berjenis kelamin jantan umur sekitar 6 bulan. Satwa tersebut diserakan dari masyarakat Desa Pendreh A.n. Subandi. Awalnya, Tim Rescue menerima informasi dari anggota kader konservasi desa Pendreh yang melaporkan adanya warga masyarakat yg memelihara satwa kukang. Kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan pengecekan kerumah warga tersebut. Secara persuasif, Tim Rescue menginformasikan bahwa Kukang tersebut adalah satwa yang dilindungi dan selanjutnya untuk dilakukan proses serah terima satwa. Untuk sementara satwa tersebut berada dikandang transit SKW III menunggu pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan senbelum dilakukan pelepasliaran ke Cagar Alam Pararawen di Kabupaten Barito Utara. Sumber: BKSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Balai TN Kutai Menerima Penyerahan Kukang

Bontang Utara, 2 Agustus 2017. Pukul 17.30 WITA Balai Taman Nasional Kutai kembali menerima satwa liar berupa 1 ekor Kukang (Nycticebus caucang). Kukang berjenis kelamin jantan dengan berat ± 900 gram dalam kondisi sehat tersebut diserahkan oleh Agus Andrianto salah satu warga JL. Mulawarman, RT. 23 Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang dan diterima langsung oleh staf Balai Taman Nasional Kutai Bapak Edy Purwanto, S. Hut dan Bapak Damang Rubendi. Menurut keterangan yang diberikan oleh masyarakat yang menyerahkan kukang, kukang ini pertama kali terlihat berada di halaman rumah Agus Andrianto. Kira-kira pukul 15.30 WITA anak – anak berkumpul menyaksikan kejadian kemunculan kukang di tempat itu, selanjutnya Sdr. Agus menangkap kukang tersebut menggunakan selembar kain, setelah kukang tertangkap ia berinisiatif menyerahkan ke kantor Balai Taman Nasional kutai, dengan membuatkan kandang kecil terlebih dahulu. Dari informasi yang diberikan warga tersebut, dan pengamatan staf Balai TN Kutai terhadap kukang yang diserahkan, diduga bahwa kukang tersebut merupakan kukang yang sebelumnya telah dipelihara karena kuku kukang sendiri terlihat sangat bersih karena telah dipotong. Selain itu kukang terlihat sudah tidak liar lagi. Kukang yang diterima rencana akan dilepasliarkan didalam kawasan Taman Nasional Kutai oleh Bupati Kutai Timur bertepatan dengan kegiatan Kutai Wana Rally XI (KWR XI) TN Kutai Tahun 2017 yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Agustus 2017 di Objek Wisata Alam Sangkima Jungle Park Taman Nasional Kutai. Sumber Info : Balai TN Kutai
Baca Berita

Perobohan Pondok di Talang Tiat Seribu oleh BKSDA Sumatera Selatan

Lahat 1 Agustus 2017. Talang Tiat Seribu merupakan salah satu target patroli fungsional di Hutan Suaka Alam Kawasan Hutan Gumai Tebing Tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Seksi Konservasi Wilayah 2 Lahat, BKSDA Sumatera Selatan pada tanggal 26-29 Juli 2017 menargetkan perobohan pondok yang secara fisik dapat dikategorikan semi permanen sehingga berpotensi menjadi area terkonsentrasinya aktivitas penggunaan kawasan non prosedural. Untuk mencegah gejolak sosial dan upaya penyadaran masyarakat maka sebelum dilakukan kegiatan ini telah diawali dengan pengikatan kesepakatan dengan perangkat desa dalam upaya perlindungan hutan dan hasil hutan juga surat pernyataan oleh pemilik pondok bahwa mereka sadar akan kesalahaannya dan bersedia untuk tidak beraktivitas lagi di kawasan. Patroli fungsional yang di laksanakan di Talang Tiat Seribu (grid Ak14) pada ketinggian 465 mdpl ini secara administratif masuk dalam wilayah Desa Muara Cawang, Kec. Pseksu, Kab.Lahat. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh 13 orang personil yang terdiri dari 1 orang dari balai, 11 orang dari RKW VI Tebing Tinggi dan 1 orang perwakilan masyarakat dari Desa Muara Cawang. Hasil pelaksanaan kegiatan ini tim berhasil melakukan tindakan perobohan pondok sebanyak 10 pondok dimana 1 pondok dirobohkan oleh petugas bersama pemilik pondok, 4 pondok dirobohkan petugas, dan 5 pondok dirobohkan dengan sukarela oleh pemilik pondok. Hal tersebut menunjukkan bahwa upaya penyadaran masyarakat yang dilakukan secara intensif pada tatanan perangkat desa dan pemilik pondok sebelum perobohan setidaknya memberi harapan bahwa masyarakat yang menggunakan kawasan secara non prosedural bisa disadarkan untuk menyadari akan kesalahannya sehingga perobohan pondok tidak berdampak terjadinya gejolak sosial bahkan mereka secara sukarela merobohkan pondoknya. Sebuah pembelajaran bahwa pendekatan dan komunikasi yang intensif dan terstruktur oleh petugas terhadap perangkat desa dan pemilik pondok dalam kawasan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa penggunaan kawasan secara non prosedural yang mereka lakukan melanggar hukum. Kondisi tersebut dapat mencegah potensi gejolak sosial yang mungkin terjadi bahkan pemilik pondok secara sukarela merobohkan pondoknya yang berada dalam kawasan. Sumber: BKSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

TN Gunung Palung Diminati Menjadi Tempat Pendidikan Lingkungan Dan Kegiatan Bina Cinta Alam

Sukadana, 2 Agustus 2017. Bertempat di Obyek Wisata Lubuk Baji, Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), Yayasan Planet Indonesia melaksanakan kegiatan pendidikan lingkungan dengan membawa siswa sejumlah 17 orang. Siswa-siswa yang mengikuti pendidikan lingkungan berasal dari 3 sekolah yaitu SMA 1 Ambawang, Pontianak, SMA 1 Kubu Raya dan SMA 4 Kubu Raya. Kegiatan Pendidikan Lingkungan mengambil lokasi kegiatan di Obyek Wisata Lubuk Baji Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Kegiatan dilakukan selama 4 hari 3 malam dari tanggal 21 – 24 Juli 2017. Kegatan pendidikan lingkungan yang dilakukan meliputi : trekking, pengamatan satwa siang dan malam, dan penyampaian materi mengenai konservasi. Selama pengamatan satwa banyak jenis-jenis satwa yang dijumpai sehingga memberi tambahan pengetahuan pengenalan satwa liar bagi para siswa. Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan adalah Yayasan Planet Indonesia, Balai TNGP dan masyarakat sekitar kawasan. Adanya kegiatan pendidikan lingkungan di Obyek Wisata Lubuk Baji berdampak bagi masyarakat sekitar dan menjadi salah satu upaya pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan TNGP. Selanjutnya bertempat di Gunung Peramas, tepatnya di Tebing Penage, Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Sispala GENTA SMKN I Ketapang melakukan kegiatan bina cinta alam. Kegiatan bina cinta alam diikuti oleh 17 orang siswa yang semuanya berasal dari siswa-siswa SMKN I Ketapang. Kegiatan bina cinta alam dilakukan dari tanggal 29 – 31 Juli 2017. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi ; penyampaian materi konservasi, panjat tebing, mountaineering, survival, caraka malam, pengukuhan sispala, penanaman pohon dan aksi bersih-bersih sampah di kawasan TNGP. Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan bina cinta alam meliputi : SMKN I Ketapang, Yayasan Palung dan Balai TNGP. Kegiatan yang sudah dilaksanakan dapat meningkatkan kepedulian dan kecintaan para siswa pada pentingnya melestarikan kawasan TNGP. Sumber Info : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

Rayakan Hari Lingkungan Hidup 2017, KLHK Berikan 65 Penghargaan untuk Masyarakat, Sekolah dan Pemerintah Daerah

SIARAN PERS Nomor : SP. 164 /HUMAS/PP/HMS.3/08/2017 Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rabu, 2 Agustus 2017. Sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat, sekolah, dan para Pemerintah Daerah atas aksi nyata pelestarian lingkungan hidup dan hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan lima jenis penghargaan bidang LHK pada Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2017 di Jakarta (02/08/2017). Penghargaan tersebut terdiri dari 10 Kalpataru, 16 Adipura, 6 Adipura Kencana, 24 Adiwiyata, dan 9 Nirwasita Tantra. Dalam kesempatan ini, penghargaan disampaikan langsung oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya, disaksikan oleh Presiden RI. Joko Widodo. Pemberian penghargaan pertama kali diberikan kepada 24 sekolah penerima Adiwiyata Mandiri oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya (daftar sekolah penerima Adiwiyata Mandiri terlampir). Sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2016, jumlah sekolah Adiwiyata di seluruh Indonesia berjumlah 7.278 sekolah, yang menyebar di seluruh provinsi di Indonesia dari sekolah umum, sekolah kejuruan dan madrasah. Selain 24 penerima Adiwiyata Mandiri, piala dan piagam Adiwiyata juga akan diberikan kepada 89 sekolah lainnya. Selanjutnya, Menteri LHK memberikan penghargaan Nirwasita Tantra kepada 3 (tiga) orang Gubernur, Bupati dan Walikota yang memiliki kepemimpinan yang terbaik dalam meningkatkan kualitas lingkungan hidup di daerahnya. Khusus untuk yang terpilih sebagai terbaik kesatu selain diberikan penghargaan tetap juga diberikan penghargaan (trophi) bergilir. Kesembilan penerima Nirwasita Tantra tersebut adalah Gubernur Jawa Timur, Gubernur Sumatera Barat, Gubernur DKI Jakarta, Bupati Malang,Bupati Dharmasraya, Bupati Sukoharjo, Walikota Surabaya, Walikota Balikpapan, dan Walikota Bukittingi. Khusus untuk Provinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya telah mendapatkan penghargaan selama dua tahun berturut-turut, dan Kabupaten Malang mulai tahun ini memperoleh piala bergilir. Penghargaan Adipura juga disampaikan oleh Menteri LHK kepada kepada 16 Kabupaten/Kota yang dianggap mampu mewujudkan kota yang bersih, teduh, sehat dan berkelanjutan dengan menerapkan prinsip tata kepemerintahan yang baik (good governance). Keenam belas penerima Adipura tersebut adalah Walikota Depok, Bupati Magelang, Bupati Ogan Komering Ulu, Bupati Bangka Selatan, Bupati Barito Kuala, Bupati Subang, Bupati Bangka Tengah, Bupati Kuantan Singingi, Bupati Bungo, Bupati Pekalongan, Bupati Kapuas, Bupati Bone Bolango, Bupati Banggai, Walikota Padang, Walikota Sawahlunto, dan Bupati Lampung Utara. Di samping itu, bagi para tokoh masyarakat yang berhasil dalam pelestarian lingkungan melalui prakarsanya sendiri, Menteri LHK memberikan penghargaan 10 Kalpataru dengan kategori perintis, pengabdi, penyelamat, dan pembina. Dua perintis tersebut yaitu Anuar (Sumatera Utara) dan Agus Bei (Kalimantan Timur), sedangkan dua orang pengabdi adalah Mahariah (DKI Jakarta), Heri Supriyatna (Jawa Barat). Empat kelompok penyelamat lingkungan yang diberi Kalpataru yaitu Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih Desa Peracak (Bali), Kelompok Nelayan Samudera Bakti (Jawa Timur), Kelompok Masyarakat Pengawas Danau Lindung (Kalimantan Barat), dan Kelompok Pencinta Alam Isyo Hill’sRepang Muaif (Papua). Sedangkan dua penerima lainnya adalah pembina lingkungan yaitu SaptonoTanjung (DI Yogyakarta) dan Lefrand Adam Singai (Kalimantan Utara). Sejak tahun 1980 sampai dengan 2017, sebanyak 357 penghargaan Kalpataru telah diberikan, yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara itu, 6 penghargaan Adipura Kencana disampaikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution dengan didampingi oleh Menteri LHK, sebagai penghargaan Adipura tertinggi bagi kabupaten/kota yang telah meraih Adipura minimal tiga kali berturut-turut. Keenam penerima Adipura Kencana tersebut yaitu Walikota Surabaya, Walikota Tangerang, Walikota Balikpapan, Walikota Malang, BupatiKudus, dan Bupati Jombang. Selain 65 penerima penghargaan tersebut, sebanyak 101 sertifikat dan plakat juga diberikan untuk kota-kota yang memperlihatkan peningkatan kinerja lingkungan hidup yang paling baik (best effort). Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan bahwa para penerima penghargaan ini merupakan salah satu yang telah memberikan inspirasi dalam pembangunan kehutanan, khususnya untuk kesejahteraan masyarakat. “Hutan Indonesia untuk rakyat diinspirasi para tokoh masyarakat dan penggiat lingkungan termasuk artis-artis pecinta lingkungan, serta para penggiat media sosial, dan semua pihak yang kami pahami tiada henti memperjuangkan hutan untuk kesejahteraan. Hutan indonesia untuk rakyat, itulah yang terefleksikan dari kebijakan-kebijakan Bapak Presiden dalam upaya terus menerus membangun ekonomi yang berkeadilan”, pesan Siti Nurbaya. Tidak ketinggalan, Presiden Joko Widodo berkesempatan untuk mengucapkan selamat kepada seluruh penerima penghargaan. Presiden berharap, para penerima penghargaan dapat terus konsisten dalam mengabdikan hidupnya untuk pelestarian lingkungan dan mewujudkan pengelolan Hutan untuk Rakyat dengan penuh semangat.(*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Berita

Road To HKAN 2017 : Kerjasama Bersama Sukseskan Kutai Wana Rally (KWR) XI

Bontang, 2 Agustus 2017. Balai Taman Nasional Kutai bekerjasama dengan Mitra TN Kutai akan menyelenggarakan lomba lintas alam “Kutai Wana Rally XI (KWRke XI) yang akan dilaksanakan tanggal 5 Agustus 2017 di Objek Wisata Alam Sangkima Jungle Park Taman Nasional Kutai dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional yang jatuh pada tanggal 10 Agustus. Bertempat di kantor Balai Taman Nasional Kutai, dilakukan rapat persiapan final lomba Kutai Wana Rally XI tersebut. Rapat ini merupakan pembahasan dan pematangan rencana pelaksanaan kegiatan tahap akhir sebelum pelaksanaan lomba yang akan dibuka oleh Bapak Bupati Kutai Timur. Rapat finalisasi persiapan pelaksanaan lomba KWR XI membahas mengenai kesiapan panitia dalam melaksanakan tugasnya di lapangan pada masing-masing pos penjurian dan penjagaan di rute lomba, kesiapan kelengkapan lomba, konsumsi, transportasi, hadiah, piala, dan sebagainya. Pertemuan panitia diharapkan menjadi tonggak kerjasama yang baik dalam setiap kegiatan konservasi di Taman Nasional Kutai. Rapat final persiapan KWR XI dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat yang tersusun dalam kepanitiaan KWR XI seperti BNPB, RAPI, RSUD Kota Bontang, Kader Konservasi, Saka Wana Bhakti, PMI, Tim SAR Indominco. Dalam struktur kepanitiaan pelaksanaan KWR XI melibatkan berbagai elemen masyarakat. Hal ini menunjukkan kepedulian untuk ikut mempromosikan dan melestarikan Taman Nasional Kutai khususnya objek wisata alam Sangkima Jungle Park. Sumber Info : Balai TN Kutai
Baca Berita

Antara yang “Mati” dan Awal Kebebasan

Selasa, 1 Agustus 2017; Balai Besar KSDA Jawa Barat melalui Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL kembali menerima 1 buah opsetan burung cendrawasih (Paradise sp.) dari seorang dokter yang bernama Yono Hadi Agusni yang bertempat tinggal di Jl. Bukit Indah I blok Q no. 9 Rt.01 Rw.01 Keluarahan Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat pada tanggal 1 Agustus 2017. Dari penuturan Yono opsetan tersebut diterimanya dari seorang kurir yang mengantar ke lokasi prakteknya di Jalan Merdeka No. 68 Kota Bandung dengan kondisi terbungkus koran pada tanggal 27 Juli 2017 lalu. Setelah mengetahui bahwa kiriman yang diterima merupakan opsetan satwa yang dilindungi undang-undang yang tidak disertai dengan dokumen serta alamat si pengirim yang tidak jelas, segera Yono mencari informasi untuk menyerahkan opsetan tersebut ke Balai Besar KSDA Jawa Barat. Saat ini opsetan tersebut diamankan di Kantor BBKSDA Jawa Barat. Penyerahan sukarela ini jelas menunjukan meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa yang Dilindungi Undang-undang dan meningkatnya kepatuhan masyarakat terhadap undang-undang. Dalam hari yang sama, tepatnya pada pukul 10.00 hingga 16.15 WIB, 11 (sebelas) ekor Kukang (Nycticaebus sp.) mengawali kebebasannya di blok Awi lega SM. Gunung Sawal yang berada di Desa Tanjungsari Kecamatan Sadananya Kabupaten Tasikmalaya, setelah Resort Wilayah XX SM. Gunung Sawal melakukan kegiatan pelepasliaran. Sebelas kukang yang telah dilepasliarkan kukang tersebut merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan oleh Yayasan IAR . Sumber: BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Road To HKAN 2017 : Balai TN Bunaken Laksanakan Kegiatan Transplantasi Karang

Bunaken, 2 Agustus 2017. Balai Taman Nasional Bunaken kembali melaksanakan kegiatan transplantasi karang yang sebelumnya dilaksanakan di Desa Popareng, kali ini dilaksanakan di Pulau Bunaken Dive Spot Fukui. Dalam zonasi taman nasional bunaken, Dive Spot Fukui masuk dalam zona pariwisata. Pada Dive Spot ini terdapat kima raksasa dan juga menjadi habitat Dugong yang sering tampak melintas atau bermain di lokasi tersebut. Sehingga lokasi ini cukup ramai dikunjungi wisatawan. Terinspirasi dari bintang laut, modul/media penanaman karangnya dibentuk menyerupai bintang dengan tujuan agar tahan terhadap terjangan arus laut yang memang lokasi penanamannya merupakan sebuah tanjung yang cukup berarus. Sebanyak 10 modul diturunkan yang memuat kurang lebih 500 anakan karang. Diharapkan dengan adanya kegiatan transplantasi karang ini, ekosistem terumbu karang tetap terjaga, begitu juga organisme lain yang menggantungkan hidupnya pada terumbu karang. Sumber Info : Humas Balai TN Bunaken.
Baca Berita

Seorang Pendaki Asal Jakarta Hilang di Gunung Rinjani

Jakarta, 1 Agustus 2017 - Kejadian adanya pengunjung yang hilang diterima oleh petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Resort Sembalun pada hari Minggu (30/07) sekitar pukul. 18.00 Wita. Laporan yang berasal dari petugas Polhut BTNGR, L. Wira Jaya yang sedang melaksanakan tugas pemantauan pengunjung di Pelawangan Sembalun. Laporan tersebut diterima oleh Kepala Resort Sembalun,Zainuddin. Kemudian Tim Evakuasi dipersilahkan dan berangkat menuju lokasi sekitar pukul 20.00 Wita dengan jumlah petugas 10 orang. Tim tiba dilokasi pada hari Senin 31 Juli 2017 sekitar pkl. 14.00 WITA. Informasi yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Evakuasi dari rekan-rekan korban, bahwa mereka merupakan pengunjung group yang berjumlah 28 orang berasal dari Jakarta dan masuk melakukan pendakian melalui Sembalun pada hari Jumat (28/7). Rombongan tersebut pada hari pertama bermalam di Pos 3 dan kemudian pada hari Sabtu pagi (29/7) menuju Pelawangan Sembalun dan bermalam. Pada hari Minggu dini hari (30/7)Sekitar pukul 02.00 WITA rombongan muncak/summits dan kembali ke pelawangan sembalun pada pukul 09.00 WITA. Pada saat track turun di letter "S" korban izin kepada temannya untuk buang air besar. Barang-barang korban berupa HP, tas dan dompet dititipkan pada rekan korban. Korban yang bernama Siti Mariam (p)/29 th. Alamat Cakung Jakarta Timur setelah 1 jam tidak juga kembali dari buang hajatnya. Sehingga rekan korban mencari namun tidak ditemukan. Kemudian dilakukan pencarian oleh rekan-rekan korban lain namun tidak ditemukan. Pada saat melakukan pendakian tersebut, korban mengenakan pakaian warna merah marun, sweater abu-abu bertuliskan backpacker Jakarta, jilbab warna pink. Informasi terakhir, Tim Evakuasi menemukan jejak dilokasi dimana terakhir kali korban izin untuk buang hajat. Berdasarkan jejak kaki diperkirakan korban jatuh dan dari baju yang terlihat korban jatuh ke jurang dengan kedalaman sekitar 100 meter lebih. Karena kondisi cuaca, Tim akan kembali melakukan pencarian dengan membawa peralatan untuk evakuasi. Saat ini 25 orang rekan korban sudah turun menuju Sembalun dan 2 orang termasuk pelapor juga sudah berada di Sembalun. Sumber: Balai TN Gunung Rinjani
Baca Berita

Sedang Berlangsung, Inilah Metode TN Aketajawe Lolobata dalam Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi

Sofifi, 1 Agustus 2017. Hari ke-2 Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi atau METT Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dilaksanakan di Cafe Double M di Sofifi, Maluku Utara. Metode ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan salah satunya adalah memberikan suasana baru bagi peserta rapat yang selalu “formal” agar bisa lebih santai. Koordinator acara, Rolan BH menyampaikan bahwa “TNAL harus beda dengan yang lain, memberikan suasana baru dalam rapat-rapat formal yang biasa dilaksanakan”. Sampai berita ini ditulis, kegiatan masih berlangsung dengan diskusi yang bersahabat. Kita tunggu berapa sih nilai METT (Management Effectiveness Tracking Tools) yang akan didapat oleh Balai TNAL? Oleh: Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Hari Pertama Penilaian METT, Kasubdit “Peninalaian METT TN Aketajawe Lolobata Sudah Melibatkan Semua Unsur”

Sofifi, 31 Juli 2017. Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi atau yang biasa di sebut dengan METT (Management Effectiveness Tracking Tools) Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) sedang berlangsung. Penilaiaan ini dilaksanakan mulai tanggal 31 Juli sampai 2 Agustus 2017. Peserta yang diundang oleh Balai TNAL antara lain mencakup unsur Pemerintah Daerah setempat, LSM, NGO, civitas akademika dan juga perwakilan desa-desa sekitar kawasan. Taman nasional juga mengundang narasumber dan fasilitator dari Direktorat Kawasan Konservasi yang diwakili oleh Kepala Subdit Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Konservasi, Ir. Dyah Murtiningsih, M.Hum, dan Kepala Seksi Suaka Alam, Ibu Dewi. “Dalam penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi bisa saja dilakukan osendiri oleh pengelola kawasan, tetapi Balai TN Aketajawe Lolobata sudah melibatkan semua unsur untuk menilai efektivitas pengelolaan”, kata Ibu Dyah. Kepala Balai TNAL menambahkan bahwa “kegiatan ini (METT) akan dilaksanakan dalam suasana yang berbeda, suasana yang santai tapi produktif dan besok proses penilaiannya akan dilaksanakan di cafe”. Oleh: Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Patroli MPA : Pencegahan Kebakaran Habitat Monyet Hitam dan Tarsius

Manado, 1 Agustus 2017. Mencegah terjadinya kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bunaken, Balai Taman Nasional Bunaken melaksanakan patroli bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) di Pulau Manado Tua. Kegiatan ini bertujuan untuk penyadar tahuan kepada masyarakat sekitar agar tidak membakar lahan menjelang datangnya musim kemarau serta mengecek dan memetakan lahan-lahan yang berpotensi menjadi sumber kebakaran hutan. Pulau Manado Tua berbentuk gunung dengan ketinggian mencapai kurang lebih 800 mdpl dan kemiringan antara 25° - 45°. Salah satu keunikan yang dimiliki pulau ini adalah terdapat hutan hujan tropis di puncak Manado Tua yang menjadi tempat tinggal Macaca nigra (yaki/monyet hitam) dan tarsius (Tarsius sp). Dalam zonasi Taman Nasional Bunaken Puncak Manado Tua merupakan zona inti karena kekayaan flora dan fauna yang ada di sana. Di bagian bawah gunung berbatasan dengan perkebunan Pala dan Kelapa sedangkan pada dataran Pulau Manado Tua yang berbatasan dengan laut terdapat pemukiman. Dilansir dari Manado Ekspress pada tahun 2015, Energi el-nino, merambah Sulawesi Utara. Ribuan hektar hutan dan lahan, membara. Kebakaran hebat terpantau di kawasan hutan Gunung Lokon, Gunung Soputan dan Gunung Klabat. Tiga gunung ini terlihat ganas dengan balutan ‘Si Jago Merah’. Nyiur Melambai genting. Sekitar 1927 hektar (ha) lahan dan hutan di Sulut terbakar. Sumber: BTN Bunaken

Menampilkan 10.257–10.272 dari 11.141 publikasi