Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pemindahan Buaya Ke Kandang Baru Balai Besar KSDA NTT

Kupang, 4 Agustus 2017. Buaya memiliki sifat 'homing instinc' (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Buaya), Steve Irwin "crocodyle hunter" telah membuat penelitian sederhana untuk membuktikannya. Unit Penanganan Satwa BBKSDA NTT menemukan kenyataan yang sama, bukan melalui sebuah penelitian. Dari pengalaman sekitar 7 kali merelokasi buaya yang ditangkap pada area publik (tambak, muara, pantai wisata) di Kota Kupang ke lokasi lain yang merupakan habitat buaya di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan, 1 ekor diantaranya diketahui kembali ke sekitar lokasi ditangkap, menempuh jarak lebih dari 100 km. Hal tersebut diketahui dari tag yang ditemukan saat masyarakat menangkap dan membedah buaya yang menyergap seorang siwa SD di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Itulah sebabnya, terhadap buaya khususnya yang berukuran lebih dari 3 meter yang ditangkap dari area publik, sejak tahun 2015 tidak pernah dilakukan pelepasliaran kembali. Data Unit Penanganan Satwa BBKSDA NTT, sejak 2011 40 orang telah meninggal di NTT akibat serangan buaya. Sedangkan CrocBITE Worldwide Crocodilian Attack Database, sebuah organisasi internasional yang melakukan pendataan Human and Crocodyle Conflict, sejak 2006 di NTT 58 orang telah meninggal dunia dan 32 lainnya menjadi korban non fatal (tidak meninggal). Dilematis memang, kita harus siap menanggung beban untuk menampungnya. Sementara belum ada pihak penangkar maupun Lembaga Konservasi di luar NTT yang siap menerimanya sebagai indukan maupun tambahan koleksi, pada tingkat lokal di NTT belum ada pula investor yang siap menanamkan modalnya untuk membangun penangkaran buaya. Sebagai solusi jangka pendek, tahun 2017 BBKSDA NTT membangun sebuah kandang penampungan seluas 110 m2. Jumat 4 Agustus 2017, untuk tahap pertama, 4 ekor buaya yang rata-rata berukuran 3,5 meter dipindahkan ke kandang baru tersebut. Sisanya akan dipindahkan setelah melihat proses adaptasi. Kandang buaya yang terletak di Kota Kupang ini, diharapkan bukan hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara, tetapi juga diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan dan stimulan bagi calon investor penangkaran buaya. Proses menangkap dan melepas buaya dilakukan dengan tahapan sesuai Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur yang teruji dan personil terlatih untuk melakukannya guna menghindari resiko fatal, baik bagi anggota tim maupun buaya yang ditangan. Sumber Info : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

BBTNBKDS Padamkan 77,46 Ha Kebakaran Hutan di Danau Sentarum

Jum’at, 4 Agustus 2017 Tim gabungan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) serta Manggala Agni Daops Semitau telah berhasil memadamkan kebakaran hutan seluas total 77,46 Ha di wilayah Taman Nasional Danau Sentarum. Kebakaran hutan terjadi pada dua titik yang berbeda yakni di wilayah Dusun Kenelang Resort Tengkidap, dan kampung nelayan Pengulan Resort Tekenang. Kedua lokasi tersebut masuk ke dalam wilayah SPTN VI Semitau, Bidang PTN Wilayah III Lanjak, BBTNBKDS. Penyebab kebakaran hutan di Kenelang merupakan rambatan dari kebakaran hutan sekitar 1,5 Km di luar kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Cuaca kering mempercepat api merambat masuk ke dalam kawasan. Sedangkan kebakaran hutan di Pengulan diperkirakan adanya unsur kelalaian masyarakat dalam mencari ikan di Danau Sentarum sambil menyalakan perapian. Kebakaran pertamakali terdeteksi hotspot pada tanggal 29 Juli 2017. BBTNBKDS langsung menurunkan tim untuk melakukan ground check keesokan harinya. Setelah dinyatakan positif kebakaran, BBTNBKDS melalui SPTN Wilayah VI Semitau berkoordinasi dengan Manggala Agni Daops Semitau untuk melakukan pemadaman dini. Sebanyak 40 personil gabungan yang terbagi kedalam dua tim diturunkan untuk memadamkan api. Kondisi air sungai dan danau yang surut cukup menyulitkan tim, karena jalur air merupakan satu-satunya akses menuju lokasi kebakaran. Diperlukan sedikitnya 5 jam perjalanan mengangkut personil dan peralatan pemadaman menuju Pengulan. Upaya pemadaman dan pengerahan personil lebih ditekankan di Pengulan mengingat lokasi kebakaran merupakan areal bergambut dengan ketebalan 300-600 cm dan untuk mencegah merembetnya api ke zona inti dengan lapisan gambut yang lebih dalam. Berdasarkan catatan pemadaman sebelumnya, pemadaman kebakaran hutan dapat memakan waktu berminggu-minggu apabila telah memasuki areal gambut dalam. Api berhasil dipadamkan pada tanggal 3 Agustus 2017 untuk lokasi kebakaran hutan di Kenelang, dengan total areal terbakar 33,97 Ha. Sedangkan kebakaran hutan di Pengulan dapat dipadamkan keesokan harinya dengan total areal terbakar 43,49 Ha. Diperlukan waktu yang lebih lama untuk memadamkan api di Pengulan mengingat jauhnya jarak sumber air ke kepala api (0,58-1,5 Km), serta terbatasnya jumlah air. Tim pemadam beberapa kali mundur ke hilir untuk mencari sumber air baru serta menghindari terjebaknya speedboat di hulu sungai dan cekungan danau yang kering. Sumber Info : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Blok Pengelolaan CA/TWA Gunung Gamping dan CA Imogiri

Yogyakarta, 4 Agustus 2017. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Blok Pengelolaan CA/TWA Gunung Gamping dan CA Imogiri selama 2 hari tanggal 3 – 4 Agustus bertempat di Hotel Santika, Yogyakarta. Konsultasi publik ini dimaksudkan sebagai media komunikasi dengan para pihak terkait untuk dapat mencapai kesepakatan bersama terkait penetapan blok pengelolaan yang disusun oleh Balai KSDA Yogyakarta. Acara dihadiri oleh para pihak terkait pengelolaan kawasan CA/TWA Gunung Gamping dan CA Imogiri yang meliputi unsur instansi pemerintah (Dinas Kehutanan, Bappeda, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Camat, Kepala Desa, Kepolisian, Koramil) dan masyarakat sekitar kawasan. Sebagai narasumber pada kegiatan ini hadir Kepala Seksi Penataan KSA dan Taman Buru – Direktorat PIKA, Kementerian LHK; Akademisi; Bappeda Kabupaten dan BKSDA Yogyakarta. Penataan blok pengelolaan kawasan konservasi ini sangat penting karena menjadi salah satu dasar dalam perencanaan pengelolaan dan pengembangan kawasan. Secara teknis penataan kawasan konservasi tersebut dilakukan dengan membagi kawasan ke dalam blok pengelolaan yang sesuai dengan kriteria yang ada dan didasarkan pada hasil inventarisasi potensi kawasan, kajian kondisi kawasan, pertimbangan pada nilai penting kawasan serta prioritas pengelolaan kawasan yang ditetapkan. Hasil konsultasi publik telah menyepakati Blok Pengelolaan CA Gunung Gamping terdiri atas 2 Blok yang meliputi Blok Perlindungan serta Blok Religi, Sejarah dan Budaya. Blok Pengelolaan TWA Gunung Gamping terdiri atas 4 Blok yang meliputi Blok Perlindungan, Blok Tradisional, Blok Pemanfaatan dan Blok Rehabilitasi. Sedangkan Blok Pengelolaan CA Imogiri terdiri atas 4 Blok yang meliputi Blok Perlindungan, Blok Khusus, Blok Religi dan Blok Rehabilitasi. Sumber Info : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Kerja Bakti Bersama Masyarakat Membersihkan Alur Sungai Sebangau Dari Rasau

Palangka Raya, 04 Agustus 2017. Balai Taman Nasional Sebangau bersama masyarakat Kereng Bangkirai melaksanakan kerja bakti membersihkan alur Sungai Sebangau dari rumpun rasau yang membendung di badan sungai. Hal tersebut dapat terlaksana dengan dana swadaya yang bersumber dari Balai TN Sebangau, mitra kerja WWF-Id Kalteng dan pihak swasta. Sedikitnya 40 orang masyarakat ikut terlibat bersama Polhut TN sebangau dalam kegiatan pembersihan alur sungai. Rimbunnya rumpun rasau yang hidup di tepian sungai yang terkadang menjalar sampai ke tengah sungai menyebabkan jalur transportasi air di Sungai Sebangau speed boat tidak dapat melewati jalan. Dengan menggunakan parang, tambang dan perlengkapan lainnya tim membersihkan rasau dengan cara mencacah rumpunan rasau dan diikat menggunakan tali kemudian ditarik hingga dapat mengalir terbawa arus. Sungai Sebangau masih aktif digunakan sebagai jalur transportasi oleh masyarakat, meskipun transportasi umum sudah tidak seramai dulu namun masyarakat masih sangat bergantung pada sungai ini untuk aktivitas mencari ikan misalnya. Selain itu saat ini kawasan Dermaga Kereng Bangkirai di Sungai Sebangau telah berkembang menjadi kawasan wisata, masyarakat setempat juga memanfaatkan Sungai Sebangau sumber penghasilan dengan menyediakan jasa wisata seperti sewa perahu, sepeda air, bola air dan berbagai jenis wisata lainnya. Bagi TN Sebangau, Sungai Sebangau merupakan jalur yang sangat penting karena sebagian besar akses memasuki kawasannya melalui jalur ini sehingga sangat bergantung pada kelancaran jalur transportasi sungai dalam pelaksanaan kegiatan patroli rutin maupun kegiatan lain. Begitu pun dengan mitra kerja WWF-Id Kalteng yang aktif melakukan berbagai macam kegiatan di kawasan TN Sebangau. Permasalahan transportasi air di Sungai Sebangau terjadi pada saat memasuki musim kemarau, hal ini disebabkan air semakin surut sehingga rasau yang terbawa arus dari hulu mengendap ditengah badan sungai dan mengganggu jalur transportasi sungai. Sebenarnya rasau bukanlah tanaman pengganggu karena masih memiliki nilai manfaat sebagai bahan baku anyaman, tempat berpijahnya ikan sungai, sumber pakan primata dan tempat bersarangnya burung-burung sungai. Akan tetapi jumlahnya yang sangat melimpah menyebabkan transportasi air terganggu. Oleh sebab itu perlu dipikirkan bersama solusi pemanfaatan rasau yang tumbuh subur di Sungai Sebangau menjadi alternatif yang lebih bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Sumber Info : Balai TN Sebangau
Baca Berita

Orangutan TN Gunung palung Menjadi Bagian Episode Seven World Asia-BBC Natural History

Ketapang 20 Juli 2017, telah datang 3 orang jurnalis dari BBC Natural History ke kantor Balai Taman Nasional Gunung Palung dengan tujuan untuk memfilmkan kehidupan Orangutan di Taman Nasional Gunung Palung, yang direncanakan berlangsung selama satu bulan dimulai tanggal 21 Juli sampai dengan 21 Agustus 2017. Film tentang kehidupan Orangutan di Taman Nasional Gunung Palung tersebut akan menjadi bagian dari episode “Seven World” yang menampilkan 10-12 film kehidupan satwa liar dari berbagai belahan benua seperti Walrus di Rusia, Panda di China, dan Orangutan di Kalimantan, Indonesia. Pembuatan film oleh BBC Natural History tersebut dilaksanakan disekitar kawasan hutan penelitian Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Melalui film tersebut akan ditampilkan berbagai aspek tentang perilaku Orangutan dalam beradaptasi di habitat alaminya seperti kemampuan mencari makan, membuat sarang, melindungi anaknya, mempertahankan teritorinya, dll. Dalam pembuatan film tersebut, BBC Natural History dilengkapi dengan peralatan kamera yang canggih, dan personil yang sudah sangat berpengalaman dibidangnya, sehingga diharapkan menghasilkan film berkualitas yang dapat menampilkan kehidupan Orangutan yang menakjubkan, serta keindahan hutan tropis di Taman Nasional Gunung Palung. Dengan masuknya film tentang Orangutan di TNGP dalam episode “Seven World of Asia”di harapkan dapat membantu mempromosikan keindahan alam dan keanekaragaman hayati Indonesia ke mancanegara. Sumber Info : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

Kunjungan Kerja Komisi II DPRD Kab. Pangandaran Ke Balai Besar KSDA Jawa Barat

Bandung, 3 Agustus 207. Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung Pangandaran sudah lama menjadi primadona para pelancong. Obyek wisata yang terletak di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran ini memiliki daya tarik wisata yang begitu menggoda. Suasana pantai yang indah dibalut gemuruh ombak yang tiada henti dapat menjadi penghilang rasa penat dan obat penurun ‘tensi’ setelah menjalani rutinitas yang membosankan di perkotaan, apalagi sambil menikmati sunset atau sunrise. Potensi wisata TWA Pananjung Pangandaran yang mempesona tersebut, rupanya tak luput dari perhatian wakil rakyat setempat yang ingin menjadikan TWA Pangandaran sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pangandaran. Oleh karena itu, pada tanggal 3 Juli 2017 Ketua dan Wakil Ketua Komisi II DPRD Kab. Pangandaran beserta 7 (tujuh) orang anggota Komisi II, Kepala Desa Pangandaran, dan tokoh masyarakat Pangandaran melakukan kunjungan kerja ke Kantor Balai Besar KSDA Jawa Barat. Kedatangan rombongan Komisi II DPRD Kab. Pangandaran tersebut disambut secara langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ir. Sustyo Iriyono, M.Si. beserta jajarannya. Pada kesempatan tersebut dilakukan pertemuan yang membahas tentang TWA Pangandaran dengan hasil antara lain sebagai berikut. Kunjungan Komisi II DPRD Kab. Bandung ini semakin membuktikan bahwa dalam upaya pelestarian kawasan konservasi seperti TWA Pananjung Pangandaran ini, Balai Besar KSDA Jawa Barat tidak berjalan sendiri. Masih banyak pihak-pihak lain yang peduli dan memberikan dukungan secara nyata agar kawasan konservasi dapat senantiasa lestari. Sumber Info : Humas Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Mahasiswa ITB Presentasi Akhir Praktek Kerja Lapang Di TN Sebangau

Palangka Raya, 3 Agustus 2017. Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Rekayasa Kehutanan baru saja mempresentasikan hasil kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) di Ruang rapat Balai TN Sebangau pada hari Kamis 03 Agustus 2017. Dua orang Mahasiswa yang bernama Diani Nafitri dan Oriz A Putera melakukan kegiatan PKL selama satu bulan, sejak tanggal 03 Juli s.d 02 Agustus 2017. Acara presentasi akhir PKL dipimpin oleh Bapak Doni Maja Perdana, S.Hut selaku Kepala Sub Bagian Tata Umum (KSBTU) Balai TN Sebangau yang menjadi pembimbing kerja praktek mahasiswa ITB tersebut. Peserta dihadiri oleh staf Balai TN Sebangau dan mahasiswa praktek PKL dari Institut Pertanian STIPER Yogyakarta. Dalam presentasinya dipaparkan hasil kegiatan PKL selama mengikuti kegiatan rutin dikantor dan di lapangan. Kegiatan rutinitas dikantor Balai antara lain melakukan bedah dokumen Humas dan Kerjasama serta bedah dokumen Evaluasi dan Pelaporan. Untuk kegiatan lapangan mereka mengikuti kegiatan patroli rutin pengamanan kawasan bersama Polhut Balai TN Sebangau ke Resort Sebangau Hulu di SPTN Wilayah I. sedangkan kegiatan lapangan lainnya mahasiswa tersebut ikut serta dalam kegiatan monitoring sekat kanal di Resort Muara Bulan SPTN Wilayah III, monitoring populasi orangutan dan pengamatan fenologi pohon di Punggualas, Resort Baun Bango SPTIN Wilayah III. Dalam kegiatan PKL, mereka juga melakukan mini riset yang berlokasi di Punggualas dengan dua judul berbeda. Judul pertama mini riset yang dilakukan oleh Diani adalah “Perbedaan Keragaman Vegetasi Akibat Perbedaan Tinggi Muka Air pada Hutan Rawa Gambut” dan mini riset yang kedua dilakukan oleh Oriz berjudul “Analisis Vegetasi pada Hutan Rawa Gambut Pasca Kebakaran”. Mini riset tersebut menghasilkan saran untuk pengelolaan gambut di TN Sebangau yakni untuk bahan informasi manajemen hidrologi sebagai acuan upaya rehabilitasi dan restorasi. Perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait pertumbuhan dan adaptibilitas jenis jenis tumbuhan yang dapat tumbuhan pada lahan tergenang berdasarkan kelas tinggi muka air tertentu. Pembahasan dari kegiatan mini riset Mahasiswa ITB sangat informatif dan menarik untuk dijadikan kegiatan penelitian lebih lanjut. pada saat diskusi banyak masukan dan saran yang diberikan kepada mereka, bahkan Bapak KSBTU berharap kedua Mahasiswa tersebut dapat melanjutkan penelitian skripsinya di TN Sebangau. Sumber Info : Balai TN Sebangau
Baca Berita

Sosialisasi Pemberantasan dan Pengendalian Tumbuhan Invasif Kirinyuh di TN Kelimutu

Ende, 3 Agustus 2017. Balai Taman Nasional Kelimutu mengadakan kegiatan sosialisasi pemberantasan dan pengendalian tumbuhan invasif spesies Kirinyuh (Chromolaena odorata) di Aula Balai Taman Nasional Kelimutu. Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh pegawai Taman Nasional Kelimutu dan mengundang para stakeholder terkait, yaitu Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ende, KPH Kabupaten Ende, Kepala Desa di daerah penyangga, Tokoh adat, Yayasan Tananua, Masyarakat Mitra Polhut. “Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memahami apa itu kirinyuh, mendapatkan alternatif solusi pemberantasan Kirinyuh, solusi pemanfaatan Kirinyuh dan merencanakan program penanganan bersama masyarakat “ kata Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Persada Agussetia Sitepu,S.Hut.,M.Si. Sebagai Narasumber Kegiatan sosialisasi pemberantasan dan pengendalian tumbuhan invasif spesies Kirinyuh (Chromolaena odorata) adalah Ir.Ragil SB Irianto,M.Sc Peneliti dari Pusat Litbang Hutan Bogor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan memaparkan “ Pengendalian Kirinyuh (Chromolaena odorata) secara terpadu (IPM Integrated Pest Management). Secara garis besar ada enam kegiatan yang bersinergi yaitu : Narasumber ke dua Ir.Priyo Soetedjo,M.Sc.Ph.D dari Universitas Nusa Cendana Kupang memaparkan “ Potensi Kirinyuh (Chromolaena odorata) dan Bagian Tanaman Sebagai Sumber Pupuk Organik dan Pestisida Nabati Dalam Mendukung Pengelolaan Lahan Ramah Lingkungan”. Secara garis besar Ir.Priyo Soetedjo,M.Sc.Ph.D menerangkan bahwa kirinyuh banyak manfaatnya baik batang maupun daunnya dapat digunakan menjadi pupuk cair, biogas dan pestisida nabati hanya dengan menggunakan teknologi yang sederhana. Sumber Info : Balai TN Kelimutu
Baca Berita

Balai TN Gunung Palung Lakukan Pemadaman Kebakaran Hutan

Sukadana, 3 Agustus 2017. Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) beserta Manggala Agni Daops Ketapang, Babinsa Sukadana, Polres KKU dan masyarakat lakukan pemadaman kebakaran didalam kawasan TNGP tepatnya di Dusun Sei.Mengkuan Desa Pangkalan Buton. Berawal dari adanya laporan masyarakat setempat yang melihat adanya kobaran api di bukit Peramas yang merupakan kawasan TNGP. Berbekal informasi tersebut petugas SPTN Wilayah I Sukadana berkoordinasi dengan Manggala Agni Daops Ketapang yang berada di Sukadana dan petugas Seksi I BTNGP bersama-sama menuju lokasi yang dimaksud, petugas lainnya berkoordinasi dengan Polres KKU, Babinsa Sukadana dan Aparat Desa Pangkalan Buton. Tepat pada pukul 20.55 WIB tim tiba dilokasi yang berjarak 200 m dari pemukiman masyarakat, tim menemukan adanya sumber api yang berasal dari satu pohon besar yang sudah mati jenis Ficus sp tipe kebakaran atas dan bawah. Dengan peralatan pompa mesin dan manual petugas bersama-sama memadamkan titik api tersebut agar tidak meluas, hingga berita ini diturunkan belum diketahui asal dari sumber api tersebut. Titik api sudah dipadamkan dan estimasi luas yang terbakar sekitar 400 M2, dengan kesigapan petugas dan koordinasi yang baik dengan instansi lain sehingga kebakaran hutan tidak meluas. Petugas TNGP akan memantauan pasca terjadinya kebakaran hutan. Sumber : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

Lahirnya Para Penghuni Baru Di Kebun Binatang Bandung

Bandung, 3 Agustus 2017. Kebun Binatang Bandung kini punya penghuni baru. Dalam 3 (tiga) bulan terakhir ini, sedikitnya 7 (tujuh) ekor satwa dari 5 (lima) spesies berbeda, lahir di lembaga konservasi binaan Balai Besar KSDA Jawa Barat ini. Tiga spesies di antaranya merupakan satwa yang dilindungi undang-undang, yaitu rusa timor (Cervus timorensis), binturong (Arctictis binturong), dan tapir (Tapirus indicus). Sementara sisanya merupakan satwa yang tidak dilindungi undang-undang, yaitu burung pelikan (Pelecanus conspiculatus) dan harimau benggala (Panthera tigris tigris). Berikut ini deskripsi detail mengenai satwa-satwa yang lahir di Kebun Binatang Bandung dalam rentang waktu Mei – Juli 2017. Seekor rusa timor berjenis kelamin jantan lahir pada tanggal 3 Mei 2017 dari perkawinan alami antara indukan bernama Warsih dengan pejantan anonim. Proses kelahiran berjalan secara alami dengan berat anak rusa sekitar 3 kg pada saat dilahirkan. Saat ini, anak rusa timor tersebut tumbuh dengan sehat dan normal, serta nafsu makan baik. Hasil pemeriksaan feses pada tanggal 1 Agustus 2017 menunjukkan bahwa anakan tersebut tidak terinfeksi endoparasit. Pada tanggal 25 Mei 2017 seekor burung pelikan (Pelecanus conspiculatus) lahir dengan jenis kelamin yang belum diketahui. Awalnya, induk pelikan bertelur sebanyak 2 butir, namun 1 butir gagal menetas karena pecah/rusak. Ini merupakan kelahiran yang pertama dalam 1 tahun ini, setelah beberapa kali bertelur namun gagal menetas karena musim hujan yang berkepanjangan dan sehu lingkungan terlalu dingin. Saat ini umur anak pelikan adalah 2 bulan 8 hari dengan kondisi yang sehat. Pada tanggal 25 Juni 2017, dua ekor harimau benggala berjenis kelamin jantan dan betima lahir di Kebu Binatang Bandung. Kedua anak harimau benggala tersebut merupakan buah dari perkawinan antara harimau benggala jantan bernama Sahru Khan (15 tahun) dan induk betina bernama Sylla (9 tahun). Pada usia 39 hari, berat badan anak harimau jantan adalah ±4,5 kg, sementara anak harimau betina berberat badan ±3,9 kg. Pada saat berusia 1 bulan, anak harimau ini mulai dijemur di bawah sinar matahari sekitar pukul 08.00 – 09.00 WIB selama 1 jam untuk dikembalikan lagi ke induknya untuk disusui. Dua ekor binturong berjenis kelamin betina lahir pada tanggal 11 Juli 2017, hasil perkawinan induk betina dengan pejantan bernama Turbo. Pada hari ke-10 setelah kelahirannya, anakan binturong diambil dari induknya dan dirawat secara hand-raeared selama 1,5 bulan penuh dengan memberinya susu formula pertiga jam. Saat ini anak binturong sudah memasuki usia 22 hari dan tampak sehat serta aktif. Seekor tapir berjenis kelamin jantan lahir pada hari Jumat 28 Juli 2017. Anak tapir tersebut lahir dalam keadaan sehat dan disusui oleh induknya. Pada awal kelahiran, anak tapir tersebut menyusu sebanyak 4 (empat) kali dalam sehari dengan lama menyusu sekitar 20 menit. Untuk memantau kesehatan anak tapir tersebut, telah dilakukan piket malam selama 5 hari. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ir. Sustyo Iriyono, M.Si. menyatakan bahwa kelahiran satwa-satwa tersebut merupakan sebuah prestasi yang ditorehkan oleh pengelola Kebun Binatang Bandung setelah beberapa bulan terakhir diterpa pemberitaan viral di media sosial yang negatif. Kelahiran satwa koleksi Kebun Binatang Bandung tersebut juga mengindikasikan bahwa pengelola Kebun Binatang Bandung telah memperlihatkan kinerja yang semakin profesional terkait aspek manajemen, penerapan animal welfare, dan tentunya dalam peningkatan pelayanan pengunjung. Semua ini merupakan buah hasil kerja sama semua pihak dalam melakukan pembinaan terhadap Kebun Binatang Bandung. Sumber Info : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

TN Kepulauan Seribu Berpartisifasi Pada Acara Kemah Generasi Lingkungan Untuk Konservasi

Jakarta , 2 Agustus 2017 Bertempat di Gedung Manggala Wanabakti Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu diundang ikut bagian dalam acara Kemah Generasi Lingkungan untuk Konservasi mengisi materi dan berbagi pengalaman dalam mengelola kawasan konservasi laut kepada adik-adik gerakan pramuka yang ikut pada acara tersebut. Acara Kemah Generasi Lingkungan untuk Konservasi dilaksanakan tanggal 1 sampai dengan 2 Agustus 2017 yang sekaligus memperingati acara puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi. Pada Acara Kemah ini diikuti oleh seluruh Gerakan Pramuka Satuan Karya (SAKA) Wanabhakti sebagai Pelestari Alam serta SAKA Kalpataru sebagai pelestari Lingkungan KWARDA Propinsi DKI Jakarta dari seluruh tingkatan baik Siaga, Penggalang dan Penegak. Tim Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu memaparkan informasi tentang ekosistem pesisir seperti ekosistem hutan pantai, Mangrove, Lamun, dan Terumbu Karang, serta pengenalan Scuba. Tim Taman Nasional Kepulauan Seribu pada acara ini dibantu oleh teman-teman dari AKKI, serta mahasiswa UIN Jakarta. Pos konservasi laut adalah sebutan untuk pos yang ditempatin oleh Tim Taman Nasonal Kepulauan Seribu yang menampilkan contoh Bibit Sukun, Bibit Bakau jenis Rhizopora mucronata dan Rhizophora stylosa, serta beberapa jenis Lamun dan perlengkapan alat selam untuk membantu monitoring dan inventarisasi potensi perairan di Kepulauan Seribu. Penulis : Wira Saut P. Simanjuntak (Penyuluh Kehutanan)
Baca Berita

Pendaki Gunung Rinjani yang Hilang Ditemukan Dalam Keadaan Selamat

Seorang pendaki Gunung Rinjani bernama Siti Mariam (29) alamat Cakung Jakarta Timur yang sempat dinyatakan hilang, Minggu (30/7/2017), ditemukan dalam keadaan selamat pada hari Rabu tanggal 2 Agustus 2017 sekitar pukul 07.00 WITA. Korban ditemukan oleh salah seorang pengembala sapi bernama Suhaldi asal desa Sembalun Lawang. Sebelumnya Korban dinyatakan hilang setelah mengalami musibah jatuh di track letter “S” ketika turun dari puncak Rinjani (summit). Pada saat ditemukan korban dalam keadaan lemah dan pucat karena menurut pengakuan korban sudah tidak makan dan minum sejak hari Minggu. Menurut keterangan dari Suhaldi, lokasi ditemukannya korban di daerah Abangan Sembalun kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang posisinya berada 1.5 Km dari jalur pendakian Desa Sembalun ke arah selatan. Saat ini korban telah mendapatkan pertolongan dari petugas Balai TNGR Resort Sembalun Seksi Pengelolaan Wilayah II dan Tim Evakuasi Edelweis Medical Help Center (EMHC) serta dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap korban Siti Maryam. Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Puskesmas Sembalun, korban dalam keadaan sehat hanya mengalami cedera ringan dan trauma akibat musibah yang dialami. Sumber: BTN Gunung Rinjani
Baca Berita

Sukses, Nilai METT TN Aketajawe Lolobata Tahun 2017 Meningkat

Sofifi, 2 Agustus 2017. Berlangsung selama dua hari,dari tanggal 31 Juli sampai 1 Agustus 2017, kegiatan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi atau biasa disebut dengan METT (Management Effectiveness Tracking Tools) Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) berjalan dengan baik. Acara pembukaan dilaksanakan di ruang rapat Bidadari kantor Balai TNAL sedangkan acara inti, penilaian kuisioner dilaksanakan di cafe DoubleM di Sofifi, Maluku Utara. Metode penilaian (informal) ini dipilih agar para peserta merasa nyaman dan tidak jenuh dalam proses penilaian yang biasanya terjadi pada acara-acara rapat formal. Diselingi dengan aktivitas lain, seperti hiburan karaoke, pemesanan camilan dan tentunya minuman kopi layaknya pengunjung kafe, para peserta pun menikmati kegiatan penilaian METT sampai selesai. Kebanyakan dari peserta menyatakan sangat berkesan dengan sistem pertemuan yang santai seperti ini, bahkan salah satu peserta menyatakan bahwa mereka akan tetap ikut kegiatan walaupun berlangsung selama satu minggu. Fasilitator yang memberikan arahan dan penjelasan selama penilaian berlangsung adalah Kepala Seksi Perencanaan Pengelolaan KSA TB, Ibu Dewi. “Kegiatan ini berjalan dengan sangat baik, suasana yang mencair (santai) menjadikan peserta tidak segan-segan dalam menyampaikan pendapat” papar Ibu Dewi. Beliau juga menambahkan bahwa “Hasil penilaian METT di TNAL merupakan hasil yang murni, karena berasal dari penilaian sendiri oleh para peserta dan bukan arahan atau paksaan dari fasilitator maupun pihak TNAL”. Hasil penilaian METT oleh peserta yang berasal dari berbagai pihak didapatkan bahwa nilai METT Balai TNAL sebesar 76%. Nilai tersebut melebihi nilai yang ditargetkan oleh Balai TNAL. Pada tahun 2015 nilai METT Balai TNAL sebesar 61%, jadi mengalami kenaikan sebesar 15%. Kepala Balai TNAL, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut. MT memberikan apreisiasi setinggi-tingginya kepada panitia penilaian METT atas terselenggaranya acara dengan sukses. “Apa Saya bilang, anda (staf TNAL) itu mobil Ferrari..maka larilah 200 km/jam...hajar bleh” pungkas Pak Tata. Oleh: Akhmad David Kurnia Putra - Polhut Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Hari Lingkungan Hidup 2017: Tegaskan Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Rakyat

SIARAN PERS Nomor : SP. 165/HUMAS/PP/HMS.3/08/2017 Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rabu, 2 Agustus 2017. Setelah berbagai kegiatan memperingati Hari Lingkungan Hidup (HLH) Tahun 2017 dilaksanakan sejak bulan Juni lalu, kini puncak acara peringatan HLH Tahun 2017 dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus 2017 oleh Kementeriann Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di kompleks Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Acara puncak HLH 2017 dihadiri oleh Presiden RI. Joko Widodo, sekaligus menyaksikan pemberian penghargaan bidang lingkungan hidup dan kehutanan oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya. Pada kesempatan ini pula, Presiden Joko Widodo juga menandatangani Sampul/Perangko Hari Pertama, Seri Lingkungan Hidup Tahun 2017, dengan didampingi Menteri LHK dan Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara. Pembukaan HLH secara resmi dipimpin oleh Presiden Joko Widodo, sekaligus membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LHK Tahun 2017, Pekan Nasional Perubahan Iklim (PNPI), dan Kemah Generasi Lingkungan untuk Konservasi, yang dilaksanakan secara bersamaan pada tanggal 2-4 Agustus 2017. Dalam arahannya, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa, sangat penting untuk melakukan sebuah strategi besar pembangunan hutan yang memiliki dimensi ekonomi dan lingkungan. “Harus ada koreksi besar, agar ada sebuah terobosan yang baru yang harus dilakukan, sehingga pengelolaan hutan lebih baik. Jangan berfikir linier dan monoton, sehingga dalam sekian tahun ini, mohon maaf, pengelolaan hutan kita berada pada posisi yang tidak ada pembaruan", tutur Presiden Joko Widodo. Presiden Joko Widodo juga berpesan, dengan adanya Rakernas LHK Tahun 2017, agar dapat dirumuskan pemikiran baru, sehingga pengelolaan hutan menjadi sebuah pengelolaan yang secara konsisten dapat terus dikerjakan, dan memperoleh hasil yg baik. Pengelolaan ini menurut Presiden Joko Widodo, dapat mencontoh negara lain seperti Swedia dan Finlandia, dimana 70-80 persen perekonomiannya berasal dari sektor kehutanan. “Kita tidak usah sulit, tinggal dicopy dan nanti diaplikasikan ke negara kita. Kita harus contoh dan melihat bagaimana pengelolaan hutan dan lingkungan bisa jalan sama-sama, ekonomi dapat, lingkungan juga”, pesan Presiden Joko Widodo. Berkenaan dengan kegiatan rutinitas bidang lingkungan hidup dan kehutanan, Presiden Joko Widodo berharap hal tersebut dapat diperbaiki dan fokus. Begitu pula halnya dengan konflik permasalahan yang umum terjadi, Presiden Joko Widodo berharap dapat segera diselesaikan dengan baik. "Jangan lagi ada program-program atau rencana yang berorientasi proyek. Arahnya harus fokus dan konsentrasi pada daerah diisolir, dan agar dapat menjadi contoh untuk yang lain. Selain itu, dibutuhkan jiwa-jiwa mulia dari rimbawan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan konkrit dan riil di lapangan, sehingga mana yang dilindungi, mana yang konsesi, mana yang untuk Perhutanan Sosial itu jelas", Presiden Joko Widodo menegaskan. Sementara itu, Presiden Joko Widodo juga menegaskan, agar berhati-hati dalam pelaksanaan kegiatan perijinan, dan pentingnya aksi koreksi upaya perlindungan gambut. “Aksi koreksi dalam pengelolaan gambut harus betul-betul kita rubah, baik moratorium dan pelestarian harus betul-betul dilihat”, tukas Presiden Joko Widodo. Dalam kesempatan ini, Presiden Joko Widodo juga mengapresiasi kinerja dari Badan Restorasi Gabut (BRG), dan diharapkan ke depannya dapat memberikan hasil konkret yang besar, terutama dalam menjaga hutan primer di Indonesia. Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan pentingnya kontribusi hutan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitarnya. “Jangan sampai hutan tidak memberikan apa-apa kepada rakyat. Kenapa hutan di negara lain dapat memakmurkan rakyat, kenapa hutan kita tidak? Itu harus dikoreksi, hutan harus memberikan manfaat bagi lingkungan”, tutur Presiden Joko Widodo. Berbagai bentuk pengelolaan hutan, seperti agroforestry dan silvopastur, menurut Presiden Joko Widodo, selama ini belum optimal, sehingga ke depannya perlu dilakukan lebih serius, untuk mewujudkan ketahanan pangan dan ketahanan energi terbarukan, serta memberikan manfaat ekonomi kepada rakyat. Adapun, terkait tema HLH Tahun 2017 yaitu “Menyatu dengan Alam”, menurut Presiden Joko Widodo sangat tepat dengan budaya Indonesia yang tidak bisa lepas dengan alam, sehingga tema ini mengingatkan agar orang Indonesia tidak boleh lupa dengan alam. Senada dengan arahan Presiden Joko Widodo, Menteri LHK sebelumnya juga menyampaikan bahwa kebijakan ekonomi berkeadilan, dengan formulasi diantaranya peran sumberdaya lahan, masyarakat dan kesempatan yang diberikan atau akses masyarakat, terus diaktualisasikan oleh KLHK, melalui pengakuan hutan adat secara resmi, aktivitas aktual hutan-hutan desa di berbagai wilayah di Indonesia, serta Hutan Tanaman Rakyat yang sedang terus menggeliat. “Langkah corrective measures, kebijakan, implementasi, praktek dan pendekatan, terus menerus diperbaiki bagi kepentingan rakyat banyak. Implementasinya harus terus menerus berkesinambungan, agar tujuan nasional bisa dicapai dan cita-cita nasional bisa diwujudkan, yaitu untuk masyarakat sejahtera, demikian yang ditekankan Bapak Presiden kepada kami dan Menteri lainnya”, tutur Menteri LHK Siti Nurbaya menutup sambutannya dalam puncak peringatan HLH 2017. Sebagai Landmark Hutan untuk Rakyat Indonesia, dalam acara ini dilakukan penanaman pohon pohon Jati (Tectona grandis) oleh Presiden Joko Widodo, dan Menteri LHK Siti Nurbaya menanam pohon Pala (Myristica fragrance), di Arboretum Lukito Aryadi. Selanjutnya, Presiden Joko Widodo juga melakukan penandatanganan prasasti Landmark Hutan untuk Rakyat Indonesia, pada fosil kayu Jati yang ditemukan di Provinsi Lampung, pada bulan Juli 2014, 12 meter di bawah tanah. Sebanyak 10 Kalpataru, 16 Adipura, 6 Adipura Kencana, 24 Adiwiyata, dan 9 Nirwasita Tantra telah disampaikan oleh Menteri LHK Siti Nurbaya didampingi Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution. Sebelum acara berakhir, Presiden Joko Widodo berkesempatan melakukan dialog dengan penerima penghargaan Kalpataru asal Sumatera Utara dan Papua. Adapun seruan untuk terus menjaga dan melindungi lingkungan dan hutan kepada semua stakehoder, menjadi pesan penutup Presiden Joko Widodo kepada seluruh peserta HLH Tahun 2017. (*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Berita

Mitra Taman Nasional Kepulauan Seribu Penerima Kalpataru Tahun 2017

Jakarta, 2 Agustus 2017. Mahariah, sosok perempuan asli Pulau Panggang Kepulauan Seribu, hari ini dinobatkan sebagai penerima Kalpataru tingkat Nasional Tahun 2017 untuk kategori Pengabdi Lingkungan. Bu Mahariah atau bu Mamah, begitu perempuan berusia 47 tahun ini biasa dipanggil oleh kami dan anak didiknya di MIN 17 Pulau Panggang, merupakan seorang guru. Kiprahnya yang aktif tidak hanya dalam pendidikan formal, namun juga dalam bidang lingkungan, membuat ia terpilih sebagai Ketua Sentra Penyuluhan dan Kehutanan Pedesaan (SPKP) Kelurahan Pulau Panggang yang bernama SPKP Samo-samo. Sejak tahun 2006, Bu Mahariah melalui kelembagaan SPKP Samo-samo telah menjadi mitra terdekat Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pergerakan Bu Mahariah bersama pengurus dan anggota dalam mengelola SPKP Samo-samo di Kelurahan Pulau Panggang telah menghasilkan beberapa program. Program yang sampai saat ini terus dilakukan dan dikembangkan adalah persemaian dan penanaman mangrove, bank sampah, pemberdayaan ibu rumah tangga untuk membangun ketahanan pangan melalui Forum Rumah Hijau dan pengolah sampah kemasan plastik menjadi produk fungsional melalui Rumah Daur Ulang, pembuatan kompos, pembuatan lubang biopori, serta edukasi konservasi alam dengan sasaran utama pelajar tingkat dasar dan menengah. Satu kata penting dari semua program itu adalah edukasi. Bu Mahariah memiliki kepedulian tinggi untuk merubah perilaku masyarakat Kelurahan Pulau Panggang agar menjadi lebih ramah lingkingan melalui edukasi yang tidak kenal henti. Program-program tersebut tidak hanya didukung semata oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu. Mengingat keterbatasan lembaga, maka Bu Mahariah aktif membangun jejaring dan kerjasama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, perusahaan swasta, komunitas maupun lembaga swadaya masyarakat. Penghargaan Kalpataru Tingkat Nasional tahun 2017 ini merupakan bentuk apresiasi negara Indonesia atas pengabdian Bu Mahariah dalam bidang lingkungan. Tapi, diakui oleh beliau, perolehan penghargaan ini merupakan hasil kerja bersama Bu Mahariah dengan anggota kelompok masyarakat kelurahan Pulau Panggang yang memiliki komitmen dan upaya tinggi untuk menjaga kelestarian alam dan pulau mereka. Teruslah mengabdi untuk lingkungan, bu Mahariah. Sumber Info : Yuniar Ardianti - Penyuluh Kehutanan Balai TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

Widia Wisata Pelajar Dari Jambi Ke Taman Nasional Sebangau

Palangka Raya, 2 Agustus 2017. Taman Nasional Sebangau kedatangan pelajar SMA dari Provinsi Jambi dalam rangka kegiatan widia wisata pada hari Selasa 01 Agustus 2017. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama antara Balai TN Sebangau dengan CV Ant Republic sebagai Even Organizer pelaksana kegiatan. Kunjungan siswa-siswi tersebut merupakan satu kegiatan dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 yang diselenggarakan oleh kementerian BUMN. Program “BUMN Hadir Untuk Negeri” dengan salah satu kegiatannya adalah “Siswa Mengenal Nusantara” mengajak pelajar SMA berprestasi di Jambi yang terpilih untuk berwisata ke Taman Nasional Sebangau di Provinsi Kalimantan Tengah. Rangkaian kegiatan widia wisata dimulai dengan briefing kegiatan di Dermaga Kereng Bangikrai, serta penjelasan singkat dari Kepala Resort Sebangau Hulu tentang sejarah dan pengelolaan TN Sebangau. kemudian pelajar yang didampingi oleh Guru dan dipandu oleh staf TN Sebangau dibagi dalam kelompok kecil untuk menaiki kelotok menuju Sungai Koran. Sungai Koran yang berada di wilayah kerja Resort Sebangau Hulu menjadi lokasi kegiatan widia wisata karena aksesnya yang cukup terjangkau hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menuju Sungai Koran dari dermaga. Adapaun kegiatan yang diikuti oleh pelajar adalah wisata susur Sungai Sebangau, belajar tentang gambut, pelestarian hutan, Hidrologi dan penanaman pohon. Para pelajar dan Guru pendamping sangat antusias ketika mendengarkan penjelasan mengenai sejarah dan potensi hutan gambut TN Sebangau. Dijelaskan oleh penyuluh kehutanan Balai TN Sebangau bahwa hutan gambut di TN Sebangau sebagian telah mengalami kerusakan, hal ini disebabkan kawasan hutan gambut sebangau sebelum ditunjuk menjadi taman nasional merupakan hutan produksi. Selain itu kejadian illegal logging yang pernah marak di era tahun 2000an juga turut menyumbangkan kerusakan hutan, tak luput dari kebakaran hutan yang sering terjadi di kawasan hutan gambut juga menjadi salah satu faktor rusaknya hutan gambut. Meskipun demikian TN Sebangau masih memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi terutama sebagai habitat satwa endemik seperti orangutan dan bekantan, untuk itu sejak tahun 2004 TN Sebangau ditunjuk menjadi taman nasional dengan tujuan utama mengembalikan hutan gambut yang rusak dengan restorasi ekosistem. TN Sebangau saat ini telah melakukan berbagai upaya untuk memulihkan fungsi hutan gambut yang rusak sebagai pengatur hidrologi dan penyimpan karbon. Lebih lanjut lagi dijelaskan mengenai apa saja yang telah dilakukan oleh Balai TN Sebangau dalam kegiatan restorasi, diantaranya adalah penanaman pohon dengan jenis asli, penabatan atau pembuatan sekat kanal, pembinaan habitat dan suksesi alami, perlindungan kawasan serta pencegahan pengendalian kebakaran hutan. Pelajar pun diajak tracking di plot permanen untuk melihat potensi hutan yang dimiliki TN Sebangau, setidaknya pengunjung dari Pulau Sumatera tersebut merasa puas dapat melihat langsung sarang orangutan, berbagai jenis burung dan satwa lainnya. Mereka pun senang dapat belajar mengenai sekat kanal yang ada di TN Sebangau, belajar mengukur tingkat keasaman dan kelembaban gambut dengan menggunakan alat soil tester. Pada sesi terakhir rombongan melakukan penanaman di area bekas terbakar jenis bibit belangeran. Semoga dengan terlaksananya kegiatan ini dapat menambah wawasan bagi generasi muda untuk lebih mengenal serta mencintai alam dan lingkungannya demi terjaganya kelestarian hutan. Sumber Info : Balai TN Sebangau

Menampilkan 10.241–10.256 dari 11.141 publikasi