Rabu, 15 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Partisipasi aktif Taman Nasional Aketajawe-lolobata pada HKAN 2017

Sofifi, 7 Agustus 2017. Kesekian kalinya hari konservasi Alam Nasional di rayakan.Pada tahun 2017 HKAN di laksanakan secara Nasional terpusat di Kabupaten Situbondo,Jawa Timur, tepatnya di Taman Nasional Baluran. HKAN merupakan perayaan Hari Konservasi di Indonesia. Kegiatan ini merupakan upaya kampanye kepada masyarakat akan pentingnya menjaga hutan dan lingkungan bagi kesejahteraan masyarakat. Dalam perayaan HKAN tahun ini, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata juga ikut berpartisipasi dan mengutus anggota masyarakat yang dinilai aktif dalam upaya pelestarian alam di Maluku Utara untuk mengikuti dan ambil bagian dalam agenda Tahunan ini. Selain itu TNAL juga memperkenalkan potensi sumberdaya alam di Taman Nasional Aketajawe lolobata melalui publikasi film pendek berjudul "Jejak Alfred Wallace di Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Film yang disutradari M.Sofyan Ansar ini berhasil keluar sebagai juara 3 tingkat Nasional. " itu adalah lomba yang diselenggarakan oleh Direktorat Pemanfatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, papar staf pengelola database dan promosi BTNAL. Selanjutnya kata beliau, " Masih ada beberapa film yang juga ikut lomba film Dokumenter Taman Nasional di acara HKAN 2017 yang diselenggarakan oleh panitia yaitu Welcome to Aketajawe lolobata National park dan wisata susur gua di resort Binagara”. Kaitan dengan pengiriman masyarakat penggiat konservasi alam, Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe-lolobata Bapak Sadtata Noor Adirahmanta S,Hut.MT mengatakan "Dengan ikut sertanya masyarakat penggiat konservasi alam pada HKAN 2017 di Baluran, saya berharap teman teman makin yakin bahwa berkarya di bidang konservasi kita tidak sendirian. Banyak teman dan sahabat di seluruh Indonesia yang berjuang untuk konservasi alam. Dan mereka adalah orang orang hebat yang tulus mencintai alam Indonesia”. Keberangkatan 2 orang masyarakat penggiat konservasi terbaik Taman Nasional Aketajawe-lolobata saat ini yakni mahroji dari wisata alam binagara dan Jamal Adam dari wisata Alam tayawi yang di dampingi oleh Bapak Ikhlas Pangaribowo S.Hut.MSE.MA. "Peserta diharapkan dapat meningkatkan ketrampilan, pengatahuan dan wawasan berdasarkan spesialisasi dan disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi di Taman Nasional Aketajawe-lolobata saat ini”,Tutur beliau di sela sela kesibukannya. Sumber : Jamal Adam (Anggota Forum komonikasi kader konservasi Maluku utara)
Baca Berita

PELATIHAN PEMBUATAN ECOBRICKS DAN HIDROPONIK di Bank Sampah Binaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Cianjur, 7 Agustus 2017. Balai Besar TNGGP bekerjasama dengan Komunitas Penjelajah Inspiratif telah melaksanakan kegiatan “Pengenalan dan Pelatihan Pembuatan Ecobrick dan Hidroponik” di Bank Sampah As Salam Binaan TNGGP, Desa Nyalindung, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur (Resort Sarongge, Seksi Wilayah II Tegalega, PTN Bidang Wilayah I Cianjur). Komunitas Penjelajah Inspiratif merupakan komunitas yang mempunyai misi traveling sambil melakukan aksi sosial dan lingkungan, seperti saling belajar dan berbagi antara masyarakat di sekitar destinasi wisata. Dalam kegiatan kali ini komunitas penjelajah inspiratif memberikan pengenalan terkait ecobricks, fungsi, dan cara pembuatannya, kepada masyarakat anggota bank sampah As-Salam. Pembuatan ecobricks merupakan salah satu solusi untuk mengurangi sampah plastik. Pengolahan sampah plastik menjadi ecobricks pertama kali digagas di Filipina oleh Mr. Russell dengan tujuan utama untuk membuat pengganti bata konvensional. Penggunaan bata generasi baru ini, lebih praktis, dapat disusun menjadi tempat duduk, meja, atau fungsi lainnya. Cara pembuatannya sangat sederhana, yaitu dengan memasukan plastik bekas ke dalam botol plastik kemudian dipadatkan hingga sekeras bata. Alat dan bahan pembuatan ecobricks juga sangat mudah didapat, dengan memanfaatkan botol bekas air mineral 600 ml, plastik kresek, sampah kemasan plastik, tongkat bambu, gunting, dan lem silicon/ lem kaca beserta gun-nya. Selain memberikan pelatihan terkait ecobricks di Bank Sampah Binaan TNGGP penjelajah inspiratif juga memberikan pelatihan cara pembuatan hidroponik sederhana dengan memanfaatkan peralatan bekas. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan anggota Bank Sampah As-Salam dalam memanfaatkan sampah yang selama ini hanya dibuat barang–barang kerajinan tangan tetapi bisa juga dengan membuat ecobriks dan hidroponik. Diharapkan pula anggota Bank sampah As-Salam bisa menularkan ilmu dan keterampilan yang telah didapat ke masyarakat sekitar. Sebagai kelanjutan program, Komunitas Penjelajah Inpiratif, rencananya akan mengunjungi kembali Bank Sampah As-Salam untuk melihat progres hasil pelatihan yang telah dilaksanakan. Di samping itu akan memberikan pelatihan bagi murid sekolah–sekolah di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Oleh: Febriyani, S.Hut. – Penyuluh Muda Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Ekspedisi Merah Putih Di Bukit Idat TN. Maras

Maras, 7 Agustus 2017 - Peringati hari konservasi alam nasional 2017, RKW X Bangka bersama Kader Konservasi yang telah dibentuk bulan April lalu dan Kelompok Pecinta Alam Bangka Flora Sociaty (BFS), mengadakan “Ekspedisi Merah Putih Sahabat Alam” di Bukit Idat Taman Nasional Maras tanggal 05 – 06 Agustus 2017. Kegiatan diikuti sebanyak 30 (tiga puluh) peserta yang berasal dari pelajar setingkat SMA, Mahasiswa/i Univesitas Bangka Belitung dan pemuda Desa Dalil. Kegiatan dimulai dengan berkumpul di Kantor Desa Dalil pukul 15.00 Wib dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Bukit Idat selama kurang lebih 3 (tiga) jam perjalanan. Perjalanan masuk kawasan TN.Maras menyusuri jalan setapak yang telah dibuat oleh warga desa, dengan tegakan yang masih baik sepanjang perjalanan. Pada pukul 18.15 Wib, tim ekspedisi sampai di bukit Idat dan mendirikan tenda untuk bermalam. Bukit Idat berada pada ketinggian sekitar 400 Mdpl dan memiliki objek pemandangan yang indah dengan batu menjulang sehingga digunakan sebagai tempat berswa foto, vegetasi yang tumbuh dominan adalah jenis tumbuhan Idat (Cratocxylon arborescens Bl) itulah kenapa dikenal dengan nama Bukit Idat, yang menarik dari areal ini adalah seragam dan meratanya penyebaran tumbuhan Idat ini pada punggung bukit seluas 2 kali lapangan volly. Kegiatan dimalam hari diisi dengan diskusi dengan anggota tim lainnya, topik diskusi adalah menumbuhkan motivasi untuk generasi muda anggota tim agar lebih semangat dan tidak mudah menyerah dalam kegiatan mencintai alam. Pembicara terdiri dari Ibu Ir.Dian Rossana Anggraini (peraih kalpataru tahun 2015) menekankan bahwa mencintai alam harus dilakukan dengan sepenuh hati, jangan terpengaruh oleh omongan orang lain yang mencela kegiatan kita, dari RKW X Bangka diisi oleh Dedi Susanto memberi penjelasan penetapan status fungsi Taman Nasional dan memberi motivasi anggota tim untuk lebih kreatif dalam berkegiatan. Kegiatan diskusi tersebut disiarkan langsung melalui media RRI Bangka Pro 2 FM. Keesokan pagi pukul 06.00 tim telah mulai bergerak, diisi dengan pengenalan vegetasi sekitar areal perkemahan dan berlanjut menyusuri jalur lain, vegetasi flora yang berhasil diidentifikasi antara lain : kantong semar (Rinwardthiana) yang tersebar merata di punggung hingga lereng bukit, tumbuhan Idat, Pelangkis (beringin), Meranti, Pelawan merah, Anggrek Boulbuphilum, Anggrek merpati, Medang, pohon Semangkok, matras, Mahang. Potensi alam lainnya adalah sumber air terjun bukit Idat dan air terjun Bolang, air terjun Bolang ini telah diliput oleh Trans 7 dalam program Si Bolang. Sembari menyusuri jalan pulang tim ekspedisi melakukan ”Operasi Semut” yaitu operasi memungut sampah sepanjang jalan yang dilalui untuk dibuang pada tempat sampah Desa Dalil. Ekspedisi Tim Merah Putih sampai di Desa Dalil pukul 16.00 dengan selamat dan berhasil memberikan motivasi kepada anggota tim yang masih muda agar lebih mencintai alam dengan sebaiknya, terbukti tim tidak meninggalkan sampah sepanjang perjalanan bahkan melakukan pemungutan sampah sepanjang jalan yang dilalui. Semoga program ini dapat terus menjalar ke semua generasi muda bangka. *) Dedi Susanto (PEH Pertama) BKSDA Sumsel
Baca Berita

Road to HKAN 2017 : BKSDA Bali Selenggarakan Buyan Jungle Run II

PRESS RELEASE BALAI KSDA BALI – BUYAN JUNGLE RUN II 06 AGUSTUS 2017 Buyan Jungle Run II adalah sebuah perlombaan lari lintas hutan konservasi dalam rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2017 dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72. HKAN 2017 yang bertema “Konservasi Alam – Konservasi Kita” merupakan peringatan yang digelar tiap tanggal 10 Agustus sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009. HKAN diadakan sebagai upaya kampanye gerakan konservasi alam Indonesia demi mendapatkan peran nyata publik dalam rangka menyelamatkan keanekaragaman hayati, kawasan hutan konservasi, dan lingkungan hidup di Indonesia. Buyan Jungle Run II merupakan ajang lari lintas alam kedua yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali (Balai KSDA Bali) dan termasuk ke dalam agenda Road to HKAN 2017. Sekitar 200 peserta Buyan Jungle Run II menempuh jarak 10 kilometer di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Danau Buyan-Danau Tamblingan, tepatnya di sekitar Danau Buyan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Peserta Buyan Jungle Run II berasal dari berbagai kalangan Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing yang telah disaring melalui proses pendaftaran dan verifikasi. Dengan berlari melintasi hutan konservasi, peserta lomba tidak hanya melakukan aktivitas olahraga pada umumnya, tetapi sekaligus menikmati keindahan alam hutan dengan kesegaran udara yang tidak mudah ditemukan saat berlari di areal perkotaan. Peserta lomba diharapkan dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai konservasi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu melalui upaya-upaya yang dapat menjaga kelestarian hutan dan lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organik dan anorganik, hemat energi air dan listrik, menggunakan barang yang mudah didaur ulang (Reduce, Reuse, Recycle), menghindari penggunaan kantong plastik, menanam pohon, dan hal-hal lain yang menjaga kelestarian hutan dan lingkungan. Peserta lomba disamping melakukan aktivitas jasmani, diharapkan dapat memahami pesan-pesan konservasi tentang peran aktif semua pihak untuk secara sadar dan gembira melaksanakan kegiatan konservasi dalam tiap aktivitas dengan segala latar belakang keilmuan, etnis, dan juga budaya. Buyan Jungle Run bukan sekedar peristiwa olahraga semata, melainkan merupakan peristiwa budaya dan tradisi yang baru tentang bagaimana masyarakat secara bahagia berperan aktif dalam kegiatan konservasi. Diharapkan dengan Buyan Jungle Run, masyarakat sekitar kawasan hutan konservasi makin merasa memiliki dan merasakan manfaat serta keberadaan kawasan hutan konservasi. Sumber Info : Balai KSDA Bali
Baca Berita

Dieng Culture Festival 2017

Dieng, 6 Agustus 2017. Dieng memiliki warisan kebudayaan yang tinggi. Peninggalan sejarah berupa ragam candi berikut artefak yang ada menunjukan Dieng pada masa lalu adalah pusat peradaban kebudayaan. Dieng disebut juga Di Hyang (Taman Dewa/Negeri Para Dewa). Sebagai pusat peradaban masa lalu, leluhur masyarakat Dieng meninggalkan warisan kebudayaan berikut tatanan nilai yang telah dibangun sebagai paugeran (aturan) tatanan kehidupan umat Hindu waktu itu. Sejumlah peninggalan purbakala berupa bangunan candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke-7 pada masa Dinasti Sanjaya itu membuktikan adanya peradaban yang telah dibangun diketinggian 2.200 mdpl. Dieng Culture Festival - DCF sebagaimana namanya merupakan Festival Budaya dengan konsep sinergi antara unsur Budaya Masyarakat, Potensi Wisata Alam Dieng serta Pemberdayaan masyarakat lokal. Agenda Pesta Budaya ini digelar setiap Tahun di Dieng Plato, Gelar DCF yang ke-8 Tahun 2017 ini bertemakan The Spirit Of Culture dan dilaksanakan pada tanggal 4 - 6 Agustus 2017, dengan agenda utamanya adalah Prosesi Ruwat Rambut Gembel. Sumber Info : Balai KSDA Jawa Tengah
Baca Berita

Kemah Bakti Sakawanabakti BBTNBKDS Untuk Lingkungan dan Masyarakat

Batang Lupar, 6 Agustus 2017. Menyambut Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2017, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dikemas dalam kegiatan kemah bakti konservasi bertempat di bumi perkemahan SMA 1 Batang Lupar pada tanggal 4-6 Agustus 2017. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan jiwa corsa/kebersamaan, kemandirian dan kepedulian terhadap lingkungan. Peserta dari kemah ini adalah anggota sakawanabakti dari Putussibau 10 orang, kecamatan Embaloh Hulu 30 orang dan kecamatan Batang Lupar 30 orang serta melibatkan pendamping dari sekolah masing-masing. Diharapkan dengan melibatkan berbagai sekolah dapat semakin memperluas jaringan dan mampu menyebarkan virus konservasi kepada teman-temannya. Dalam kemah bakti ini, kegiatannya dibagi menjadi dua tema besar, yaitu bakti lingkungan dan bakti sosial. Kegiatan bakti lingkungan dilakukan dengan membersihkan sungai dan melaksanakan penanaman pohon di SMA 1 serta SMP 1 Batang Lupar, sedangkan bakti sosial berupa bersih tempat ibadah dilaksanakan di gereja dan masjid. Selain berbagai kegiatan tersebut, tentunya juga ada materi yang tak kalah pentingnya mengenai bina cinta alam, kader konservasi, outbound, serta pengenalan keanekaragaman hayati. Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum dalam sambutan dan pembukaannya menyatakan bahwa diharapkan dalam kegiatan ini para peserta dapat enjoy dan menikmati seluruh rangkaian kegiatan, sehingga ilmu yang diperoleh dapat ditularkan kepada teman lainnya. Keceriaan terpancar dari setiap peserta sejak diberangkatkan dari domisili mereka dan upacara pembukaan/pelepasan peserta. Mereka sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Kegembiraan juga terlihat karena mereka mendapatkan saudara-saudara baru dari berbagai sekolah. Bahkan dalam acara pentas seni yang diadakan Sabtu malam 5 agustus 2017, masing-masing secara perseorangan maupun kelompok berlomba-lomba menampilkan kesenian terbaiknya. Kegiatan ini sangat diapresiasi oleh berbagai pihak baik itu sekolah asal peserta dan lokasi tempat kegiatan, pemerintah daerah dan muspika serta masyarakat sekitar. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat sering dilaksanakan dan melibatkan lebih banyak peserta, tentunya juga mempertimbangkan sumber daya yang ada. Namun yang paling penting, kepedulian terhadap lingkungan dapat tersebar luas sesuai dengan semangat peringatan Hari Konservasi Alam Nasional. (zm) Sumber Info : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Belajar sambil bersenang-senang ala Kelas Iklim di SPTN Wilayah III Pulau Pramuka Balai TN Kepulauan Seribu

Pulau Pramuka, 6 Agustus 2017. Petugas Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu memberikan materi serta praktek langsung pembibitan tanaman SUKUN (Artocarpus atilis) kepada peserta “kelas iklim”. Kelas Iklim adalah sebutan dari program Muatan Lokal Pendidikan Konservasi Tingkat Dasar yang disusun oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Awalnya pendidikan konservasi tingkat dasar dalam bentuk Muatan Lokal ini sasarannya sekolah MIN 17 Kampus B Pulau Tidung di Pulau Panggang, pada Tahun 2015 berdasarkan inisiatif dan kerjasama dengan Sentra Penyuluh Konservasi Pedesaan (SPKP) Samo-samo dan Volunteer Variabel Bebas, maka dibuatlah program bersama dalam bentuk kelas Iklim dengan sasaran seluruh sekolah se-tingkat Sekolah Dasar (SD) atau sederajat yang terdapat di wilayah kerja SPTN Wilayah III Pulau Pramuka. Sasaran dari kelas Iklim ini adalah siswa/i kelas 4 dan 5 di SDN 01 di Pulau Panggang, SDN 02 di Pulau Pramuka, SDN 03 di Pulau Panggang dan MIN 17 kampus B pulau Tidung yang berada di Pulau Panggang. Kurikulum yang digunakan, yaitu kurikulum muatan lokal yang berasal dari Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu dan diperkaya tambahan materi-materi praktis di bidang lingkungan dan pertanian. Metode pengajaran yang dilakukan, berupa teori dan lebih banyak praktek sambil bermain di alam bebas berlokasi di Hutan Eduwisata yang merupakan pengembangan SPKP Samo-samo dan Variabel Bebas. Kelas iklim ini memiliki motto “belajar sambil bersenang-senang”. Kegiatan pada kelas iklim dilakukan rutin setiap hari Minggu pukul 09.00 sd 10.00 WIB, dengan para siswa/i nya membawa sendiri minuman nya serta makannya. Kelas iklim tidak dipungut biaya apapun. Para pengajar nya selain dari Staff Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu SPTN Wilayah III Pulau Pramuka, volunter Variabel Bebas, pengurus SPKP Samo-samo, dan Mahasiswa/i yang sedang melakukan KKN atau praktek kerja lapang di wilayah kerja SPTN Wilayah III Pulau Pramuka. Kegiatan praktek pagi ini adalah praktek langsung pembibitan tanaman Sukun (Artocarpus atilis). Metode pembibitan yang dilakukan dengan cara stek akar. Siswa-siswi Kelas Iklim diajak untuk mengenal manfaat pohon sukun, mengetahui bagian-bagian dari pohon yang bisa dikembangkan menjadi tanaman baru serta melakukan sendiri pembibitan tersebut mulai dari pembuatan media tanam, sampai dengan cara pemotongan akar dan perendaman bibit pada zat peransang akar berbasis organik bukan kimiawi. Setelah selesai melakukan pembibitan, siswa/i yang ikut kelas iklim mendengarkan materi dari mahasiswa/i Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Semarang (UNS) tentang bahaya gadget. Dipandu dengan gambar-gambar anak se-usia mereka, diharapkan melalui metode cerita sederhana siswa/i peserta kelas iklim dapat memahami bahayanya gadget,seperti: tidak ada interaksi sesama mereka dan menjadi malas belajar karena terlalu sibuk dengan gadget. Diharapkan dengan Kelas Iklim Pulau Pramuka, siswa dan siswi dapat belajar dan saling berinterkasi berinteraksi untuk membangun masa depan Kepulauan Seribu ke arah yang lebih baik. Salam Konservasi. Sumber : BTN Kepulauan Seribu
Baca Berita

Pemutaran Film Konservasi Bagi Masyarakat Baliloku

Waingapu, 5 Agustus 2017. Baliloku merupakan salah satu desa penyangga kawasan konservasi yang berada di pesisir laut selatan samudera Indonesia, tepatnya di kecamatan Wanokaka kab. Sumba barat . Desa Baliloku berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Matalawa, berada di wilayah kerja Resort Waimanu SPTN I Waibakul. Upaya konservasi yang dilakukan pihak pengelola kawasan TN Matalawa tidak hanya mutlak kegiatan perlindungan, namun juga terdapat kewajiban memberikan pemahaman terkait pengelolaan kawasan konservasi bagi Masyarakat. Salah satu bentuk kegiatan edukatif yang diberikan pihak pengelola kawasan TN Matalawa bagi masyarakat melalui kegiatan sosialisasi pengelolaan terkait perlindungan kawasan, zonasi dan kebakaran hutan. Guna mendukung terlaksananya kegiatan tersebut maka dibutuhkan dukungan SDM yang berasal dari pejabat fungsional Penyuluh dan Polisi Kehutanan. Berlokasi di Desa Baliloku Kecamatan Wanokaka, SPTN Wilayah I Waibakul melaksanakan kegiatan penyadartahuan bagi masyarakat Baliloku. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2017, dimulai sejak pukul tujuh malam hingga selesai. Bentuk kegiatan yang dilakukan pada kegiatan ini meliputi pemutaran film konservasi dan penyampaian materi. Dalam pelaksnaannya kegiatan tersebut mendapat respon positif baik dari pemerintah desa dan masyarakat, hal itu diliat dari antusias masyarakat yang hadir berjumlah kurang lebih 100 (seratus) orang. Disela-sela pemutaran film, kegiatan diselingi dengan penyampaian pesan konservasi akan penting menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dan kehutanan oleh kepala SPTN I Waibakul (A. Basit Nasriyanto, S.Hut.,M.Sc). Beliau berpesan agar masyarakat Desa Baliloku turut menjaga kawasan TN Matalawa dengan tidak berburu, menebang pohon dan membakar padang. Sedangkan pihak Desa Baliloku, diwakili Kepala Desa Baliloku (Umbu Duang) sangat mengharapkan kegiatan bisa dilaksanakan kembali. Beliau juga menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan sosialisasi pengelolaan TN Matalawa dan siap mendukung tupoksi Taman Nasional dalam menjaga kelestarian ekosistem, memajukan pariwisata dan menyejahterakan masyarakat. Sumber Info : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Uji Kompetensi Pejabat Fungsional lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Yogyakarta, 5 Agustus 2017. Dalam rangka standarisasi kualitas Sumber Daya Manusia pejabat fungsional, Pusat Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia BP2SDM Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengadakan uji kompetensi pejabat fungsional. yang mengikuti ujian kompetensi 4 hari mulai tanggal 3 – 6 Agustus 2017 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Aparatur Sipil Negara (ASN) yang akan naik pangkat dalam jabatan fungsional tersebut harus telah lulus uji kompetensi. Peserta Uji Kompetensi pada kesempatan ini diikuti dua jabatan fungsional dari Polisi Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan dari tingkat terampil dan ahli. Kegiatan ini diikuti dari Unit Pelaksana Teknis KLHK antara lain Balai KSDA Yogyakarta 6 orang , BKSDA Jawa Tengah 1 orang, Balai TN Gn Merapi 3 orang, BPKH XI 4 orang, BPDAS SOP 1 orang, BTN Karimunjawa 7 orang, BTN Gn. Merbabu 3 orang dan Direktorat pengelolaan Ekosistem Esensial 1 orang dengan total peserta uji kompetensi 26 Orang. Dari pusrenbang SDM dihadiri oleh Kepala Bidang Pusat Perencaaan Pengembangan Sumber Daya Manusia Dr. Ir. Sri Rejeki Winangsasih, M.Si dan Kepala Balai KSDA Yogyakarta diwakili Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Yogyakarta Ir. Thomas Suryoutomo dan tim assessor yang handal. Pelaksanaan uji kompetensi ini terdiri dari beberapa sesi diantaranya tes tertulis (kompetensi Manajerial dan teknis), Pengecekan dokumen portofolio, tes wawancara, kesamaptaan bagi Polisi Kehutanan, simulasi / demo dan pemberkasan dokumen uji. Sumber Daya Manusia (SDM) pejabat fungsional merupakan factor yang penting dalam pengelolaan suatu organisasi. Pejabat Fungsional berperan sebagai penggerak roda organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, sehingga dengan adanya uji kompetensi ini pejabat fungsional dapat berperan dalam menentukan produktivitas organisasi dan mempengaruhi roda pembangunan. Sumber Info : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di BKSDA Kalimantan Tengah

Pangkalan Bun, 5 Agustus 2017, BKSDA Kalimantan Tengah menjadi salah satu narasumber dalam Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Desa Tanjung Putri, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Pangkalan Bun), Kalimantan Tengah. Kegiatan yang digagas oleh Orangutan Foundation ini dihadiri sekitar 70 orang warga desa. Selain BKSDA, narasumber juga berasal dari Manggala Agni Daops III Pangkalan Bun, Polres Kotawaringin Barat, Kodim 1014 Pangkalanbun, dan KPHP Kotawaringin Barat. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak dan diharapkan dari kegiatan ini agar kesadaran masyarakat semakin meningkat untuk menjaga dan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Sumber : BKSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Bangkitkan Jiwa Konservasi Pelajar melalui Program Kemah Konservasi (Kemkon)

Cianjur, 04 Agustus 2017. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) kembali melakukan pengembangan model pendidikan konservasi lingkungan hidup bagi masyarakat di sekitarnya, kali ini melalui kegiatan kemah konservasi (kemkon) tingkat SLTA se-Kabupaten Cianjur yang dilaksanakan selama 2 hari 1 malam, yaitu pada tanggal 25 sampai dengan 26 Juli 2017. Kemah konservasi adalah salah satu metoda pendidikan konservasi lingkungan yang mengajak peserta untuk mengeksplorasi potensi kawasan TNGGP melalui kegiatan lapangan yang dikemas secara rekreatif edukatif. Materi disampaikan dalam bentuk permainan sehingga kegiatan lebih menyenangkan. Dengan metode penyampaikan yang rekreatif edukatif, diharapkan akan lebih menyentuh ranah afektif dan kognitif peserta. Materi yang disampaikan adalah pengenalan kawasan konservasi, pengenalan keanekaragaman potensi hutan, dan pengenalan ekosistem. Penyajiannya dikemas dalam bentuk analisa vegetasi, panduan senja, menyongsong fajar, eksplorasi sungai, taman nasional mini, serta adanya sistem evaluasi pre test dan post test bagi seluruh peserta. Untuk lancarnya kegiatan, difasilitasi 6 mentor (tiga orang mentor utama dan tiga orang asisten mentor). Kegiatan kemah konservasi kali ini dilaksanakan oleh Bidang PTN Wilayah I Cianjur di Resort Wisata Mandalawangi, dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang pelajar SLTA, terdiri dari 15 orang peserta putra dan 15 orang peserta putri. Peserta merupakan peserta hasil seleksi sekolahnya masing-masing, dimana setiap sekolah mengirimkan peserta 6 orang, 3 putra dan 3 putri. Sekolah yang berpartisipasi mengirim peserta adalah SMKN 1 Cipanas, SMKN 2 Pacet, MAN 2 Cianjur, SMK Putera Pertiwi Indonesia, dan SMAN 1 Warungkondang. Menurut ketua panitia pelaksanaan kemah konservasi, Zainuddin “karena kegiatan ini memberikan pengalaman yang menyenangkan, banyak peserta yang merasa waktu kegiatan perlu diperpanjang”. Hal ini menunjukkan adanya motivasi atau minat peserta untuk mencintai alam lingkungannya, minimal peserta memiliki pengetahuan tentang arti pentingnya keberadaan kawasan TNGGP. Balai Besar TNGGP setiap tahun rutin melaksanakan kemah konservasi, hal ini tidak cukup untuk dapat membangkitkan jiwa konservasi pada kalangan pelajar sekitar kawasan TNGGP. Sehingga perlu partisipasi aktif para pihak untuk membantu meningkatkan kelancaran pelaksanaan pendidikan konservasi lingkungan. Dengan demikian upaya penyadarpedulian terhadap konservasi sumber daya alam bisa berjalan lebih baik. Kegiatan ini secara tidak langsung juga membantu meminimalkan gangguan hutan. Semakin tingginya jumlah penduduk dan semakin majunya teknologi, menyebabkan laju kerusakan lingkungan hidup semakin cepat, termasuk di dalamnya kerusakan sumber daya hutan. Bentuk kegiatan seperti penyuluhan, pemanduan, interpretasi dinilai harus terus dibantu dengan kegiatan lain yang lebih menarik, sehingga sejak tahun 1995 TNGGP mulai mencoba kegiatan pendidikan konservasi lingkungan seperti kemah konservasi, school visit, visit to school, goes to campus, goes to pesantren yang ditujukan bagi para pelajar/ generasi muda, sehingga diharapkan ketika generasi mudanya sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan maka akan terjadi perubahan perilaku, sikap yang lebih mencintai alam lingkungannya. Oleh: Andie Martien Kurnia, SP. – PEH Pertama Balai Besar TNGGP
Baca Berita

HUT RI, TN. Aketajawe Lolobata Adakan Paket Wisata Upacara di Alam

Sofifi, 4 Agustus 2017. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan negara kita, Republik Indonesia. Salah satunya adalah uparaca bendera seperti yang akan dilaksanakan oleh petugas Resort Tayawi, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Berbeda dengan upacara formal biasanya, Resort Tayawi akan melaksanakan upacara bendera di alam, di Bumi Perkemahan Goshimo, desa Koli, kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. Hal menarik lainnya adalah upacara tersebut dikemas dalam suatu paket wisata. Peserta yang mendaftarkan diri selain dapat memperingati HUT tanah air juga akan mendapatkan beraneka atraksi wisata, diantaranya Burung Bidadari Halmahera, air terjun Havo, air terjun Goshimo, pemukiman Masyarakat Tobelo Dalam (MTD) dan tentunya panorama kars dan susur sungai Tayawi. “Ini adalah awal dari paket-paket wisata unik di TNAL, sesuai arahan dari Kepala Balai TNAL”, papar David anggota tim promosi TNAL. Peserta yang mendaftar akan diberikan fasilitas tenda, hammock (terbatas), konsumsi selama kegiatan dan tentunya karcis masuk kawasan. Kegiatan akan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari, mulai tanggal 16-18 Agustus 2017. Harga paket wisata dimulai Rp 700.000,- jika jumlah peserta sebanyak 5 (lima) orang. Semakin banyak peserta yang mendaftar maka semakin berkurang harga paket wisatanya. Tunggu apalagi, siapkan fisik dan perlengkapan kemah untuk mengikuti acara kami. Jangan lupa kameranya. Sumber Info : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

BKSDA Aceh Sita Orangutan Sumatera Yang Dipelihara Masyarakat

Aceh Timur, 4 Agustus 2017. Tim Balai KSDA Aceh dibantu tim OIC (Orangutan Information Center) telah menyita 1 (satu) individu Orangutan Sumatera berjenis kelamin betina dengan usia 6 tahun. Tim menyita dari seorang warga Dusun Reformasi, Desa Aya Ketapang, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Aceh Timur bernama Mursalin (37 tahun) yang berprofesi sebagai petani. Orangutan tersebut telah dipelihara yang bersangkutan selama 2 tahun dalam kondisi cukup memprihatinkan karena terus menerus dirantai. Tim yang dipimpin Suparman, Polhut Resort KSDA Langsa, berjalan kaki sejauh 5 km dibawah guyuran hujan dan kegelapan malam untuk dapat mencapai lokasi. Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan awal, orangutan tersebut kemudian dikirim ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Sumatera di Sibolangit, Sumatera Utara untuk menjalani rehabilitasi. Sumber Info : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

30 Daerah Raih Penghargaan Program Kampung Iklim

SIARAN PERS Nomor : SP. 170/HUMAS/PP/HMS.3/07/2017 Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jum’at, 4 Agustus 2017. Sebagai bentuk apresiasi dalam pelaksanaan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim), yang terdiri dari ProKlim Utama dan Apresiasi Pembinaan ProKlim, pada hari kedua pelaksanaan Pekan Nasional Perubahan Iklim (PNPI) Tahun 2017 di Jakarta (03/08/2017). Sebanyak 30 Dusun/Jorong/RW/Kampung/Dukuh dan Desa/Kelurahan/Lembang/Nagari/ Kepenghuluan, yang tersebar di 26 Kabupaten/Kota pada 11 provinsi, menerima penghargaan Proklim Utama (daftar terlampir). Sementara itu, Apresiasi Pembinaan ProKlim diraih oleh 10 kepala daerah, Gubernur Banten, Gubernur Riau, Gubernur Sumatera Selatan, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Jawa Timur, Walikota Palembang, Walikota Jakarta Utara, Bupati Dharmasraya, Bupati Solok, dan Bupati Bone. Penghargaan ProKlim disampaikan langsung oleh Menteri LHK Siti Nurbaya, kepada pelaksana ProKlim yang juga melakukan pengembangankelembagaan di tingkat lokal dan kerjasama mendukung ProKlim yang berkesinambungan. Sedangkan penerima Apresiasi Pembinaan ProKlim,diberikan kepada kepala daerah yang dinilai telah berhasil membina wilayahnya, menjadi ProKlim secara berkelanjutan. Sejak tahun 2012-2017, telah tercatat 1.375 pengusulan lokasi ProKlim yang tersebar pada 27 provinsi di Indonesia. Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), Nur Masripatin, dilakukan verifikasi terhadap lokasi-lokasi pengusulan ProKlim. “Verifikasi ini bertujuan untuk melihat langsung aksi mitigasi dan adaptasi yang dilakukan, serta dukungan keberlanjutan kegiatan pada lokasi yang diusulkan”, jelas Nur Masripatin. Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri LHK No. 84/MENLHK-SETJEN/KUM.1.11/2016, tentang Program Kampung Iklim, aksi adaptasi pada ProKlim antara lain berupa pengendalian kekeringan, banjir, dan longsor; peningkatan ketahanan pangan; pengendalian penyakit terkait iklim; serta penanganan atau antisipasi kenaikan muka laut, rob, intrusi air laut, abrasi, ablasi atau erosi akibat angin, gelombang tinggi. Sedangkan aksi mitigasi yang dimaksud meliputi pengelolaan sampah, limbah padat dan cair; pengolahan dan pemanfaatan air limbah;penggunaan energi baru terbarukan, konservasi dan penghematan energi; budidaya pertanian; peningkatan tutupan vegetasi; dan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Nur Masripatin juga menyampaikan, bahwa sejak tahun lalu ProKlim telah ditetapkan sebagai program strategis gerakan nasional pengendalian perubahan iklim berbasis masyarakat. “Pemberian penghargaan ini merupakan salah satu upaya memperkuat implementasi ProKlim, selain kegiatan pendampingan kepada Pemerintah Daerah dalam membangun kampung iklim”, Nur Masripatin menambahkan. Mendukung hal ini, Ditjen PPI telah menerbitkan Pedoman Pelaksanaan ProKlim melalui Peraturan Dirjen PPI No. P.1/PPI/SET/KUM.1/2/2017. (*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Berita

Road to HKAN 2017 : BKSDA Yogyakarta Translokasi Satwa Serta Habituasi Elang dan Landak

Baluran, 4 Agustus 2017. Translokasi satwa dilindungi dari Yogyakarta akhirnya tiba di Taman Nasional Baluran pada tanggal 4 Agustus 2017. Beberapa Raptor antara lain 1 ekor Elang Brontok, 4 ekor Elang Alap Jambul dan 2 ekor Landak sekarang sedang menyesuaikan diri dengan kandang habituasi di sekitar savana Bekol, Taman Nasional Baluran, Situbondo Jawa Timur. Untuk selanjutnya satwa akan menjalani proses habituasi selama 7 hari kedepan. Proses habituasi sendiri merupakan tahapan akhir sebelum kegiatan pelepasliaran. Acara seremonial pelepasliaran direncanakan pada tanggal 10 Agustus 2017 bertepatan dengan Puncak Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2017. Balai KSDA Yogyakarta berterima kasih untuk semua mitra yang membantu atas kerja sama dan atensinya, Balai Taman Nasional Baluran, Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, sektor swasta Natasha Skin Care Clinic Center dan volunteer yang turut peduli kegiatan ini. Semoga satwa-satwa tersebut akan kembali menikmati kebebasannya di alam dan tentunya bisa survive di Taman Nasional Baluran. Sumber Info : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Pemindahan Buaya Ke Kandang Baru Balai Besar KSDA NTT

Kupang, 4 Agustus 2017. Buaya memiliki sifat 'homing instinc' (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Buaya), Steve Irwin "crocodyle hunter" telah membuat penelitian sederhana untuk membuktikannya. Unit Penanganan Satwa BBKSDA NTT menemukan kenyataan yang sama, bukan melalui sebuah penelitian. Dari pengalaman sekitar 7 kali merelokasi buaya yang ditangkap pada area publik (tambak, muara, pantai wisata) di Kota Kupang ke lokasi lain yang merupakan habitat buaya di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan, 1 ekor diantaranya diketahui kembali ke sekitar lokasi ditangkap, menempuh jarak lebih dari 100 km. Hal tersebut diketahui dari tag yang ditemukan saat masyarakat menangkap dan membedah buaya yang menyergap seorang siwa SD di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Itulah sebabnya, terhadap buaya khususnya yang berukuran lebih dari 3 meter yang ditangkap dari area publik, sejak tahun 2015 tidak pernah dilakukan pelepasliaran kembali. Data Unit Penanganan Satwa BBKSDA NTT, sejak 2011 40 orang telah meninggal di NTT akibat serangan buaya. Sedangkan CrocBITE Worldwide Crocodilian Attack Database, sebuah organisasi internasional yang melakukan pendataan Human and Crocodyle Conflict, sejak 2006 di NTT 58 orang telah meninggal dunia dan 32 lainnya menjadi korban non fatal (tidak meninggal). Dilematis memang, kita harus siap menanggung beban untuk menampungnya. Sementara belum ada pihak penangkar maupun Lembaga Konservasi di luar NTT yang siap menerimanya sebagai indukan maupun tambahan koleksi, pada tingkat lokal di NTT belum ada pula investor yang siap menanamkan modalnya untuk membangun penangkaran buaya. Sebagai solusi jangka pendek, tahun 2017 BBKSDA NTT membangun sebuah kandang penampungan seluas 110 m2. Jumat 4 Agustus 2017, untuk tahap pertama, 4 ekor buaya yang rata-rata berukuran 3,5 meter dipindahkan ke kandang baru tersebut. Sisanya akan dipindahkan setelah melihat proses adaptasi. Kandang buaya yang terletak di Kota Kupang ini, diharapkan bukan hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara, tetapi juga diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan dan stimulan bagi calon investor penangkaran buaya. Proses menangkap dan melepas buaya dilakukan dengan tahapan sesuai Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur yang teruji dan personil terlatih untuk melakukannya guna menghindari resiko fatal, baik bagi anggota tim maupun buaya yang ditangan. Sumber Info : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur

Menampilkan 10.225–10.240 dari 11.140 publikasi